Anda di halaman 1dari 6

Seputar Jual Beli Batu Bara, Pengertian, Trik, dan Pembahasannya

gambar : kuncibisnis.com
moneygolddiamond - Tulisan ini merupakan rangkuman dari berbagai sumber,
mohon para sahabat semua yang membacanya memberi komentar tambahan
dan masukan jika memang ada dari isi artikel ini yang ingin dikoreksi atau
ditambahkan.
Berdasarkan UU Minerba pihak yang berhak untuk melakukan kegiatan penjualan
batubara tersebut adalah pemegang IUP Operasi Produksi (IUP OP) dan IUPK
Pengangkutan
dan
Penjualan
(IUPK
Trading).
Pihak-pihak yang terkait dalam jual beli batubara, yaitu antara :
1.
2.
3.
4.

Konsumen dengan produsen


Produsen dengan trader
Trader dengan konsumen
Trader dengan trader

Menuru irmadevita. Dari ke empat bentuk perjanjian tersebut, yang harus


diperhatikan
yaitu
mengenai
:
1. Term Of Payment
Jangka waktu dan tata cara pembayaran memang merupakan hal paling sering
menjadi perdebatan dalam perjanjian jual beli. Dalam perjanjian yang berkaitan
dengan jual beli batu bara, masalah term of payment adalah masalah yang
sangat sensitive dan memiliki resiko yang cukup tinggi bagi pihak yang
memberikan prestasi. Hal ini bisa menyebabkan kerugian yang luar biasa bagi
pihak yang terkena dampak dari buruknya pengaturan masalah term of payment
dalam suatu kesepakatan. Oleh karena itu, masing-masing pihak harus dilindungi
dari
resiko
kegagalan
pembayaran.
2. Demurrage
Istilah ini lazim digunakan dalam pengiriman barang yang menggunakan kapal
(vessel) atau tongkang (barge). Saya pernah menerima curhat boss saya yang
mengeluhkan tentang demurrage yang harus dia bayar, sekitar beberapa ratus
juta,
dikarenakan
keterlambatan
tongkang
masuk
ke
pelabuhan.
Demurrage adalah biaya yang dikenakan atas kelewatan waktu kapal berlabuh.
Artinya:
vessel/tongkang disewa dalam waktu 1 minggu. Ternyata penggunaannya lebih
dari 1 minggu sehingga dikenakan denda dikarenakan:

a. kemampuan para pihak tidak mendukungnya,


b. kesalahan penjadwalan,
c. kekurang profesionalan (kurang pengalaman/ketidak tahuan pihak penjual).
demorage tidak hanya terjadi karena kesalahan penjual saja atau pembeli saja,
melainkan bisa jadi juga kesalahan kedua belah pihak.
d. masalah-masalah lainnya yang mengakibatkan terjadinya peristiwa
demurrage
tersebut
3. Reject
Terjadinya reject oleh pihak Konsumen pada saat batu bara tersebut diterima di
pelabuhan yang dituju (Titik Penyerahan) oleh karena spect batu bara yang
diterima tidak sesuai dengan yang diperjanjikan; atau dengan kata lain kwalitas
batu
bara
tidak
sama
dengan
yang
diperjanjikan.
Hal ini bisa saja terjadi karena proses pengiriman selama perjalanan pengiriman,
terjadi perubahan spect karena pengaruh cuaca (panas, hujan dll) yang mana hal
tersebut berpengaruh pada kadar air, kalori, dll.
Dalam hal terjadi reject, kedua belah pihak mengalami kerugian. Walaupun tentu
saja kerugian yang terbesar terjadi pada pihak Penjual atau trader.
Ketiga resiko tersebut merupakan hal paling sensitive yang harus diatur
sedemikian rupa diantara kedua belah pihak, agar tidak terjadi kerugian yang
nilainya miliaran rupiah.
Resiko tersebut di atas dapat diantisipasi sejak awal dan harus dituangkan dalam
klausula Perjanjian.
Dari berbagai resiko tersebut, maka dapat dibuat suatu perjanjian jual beli batu
bara yang berbentuk:
1. Perjanjian tunggal atau perjanjian yang dibuat hanya antara salah satu pihak
saja dan masing- masing berdiri sendiri
2. Perjanjian bertingkat
adalah Perjanjian yang melibatkan yang melibatkan semua pelaku di atas.
contoh yang paling kompleks:
adalah Perjanjian yang dibuat antara Produsen, Konsumen, Trader (yang
beneran) dan trader (yang hanya calo). Objek Perjanjian berupa Spect Batu bara
yang diperjanjikan adalah sama, akan tetapi pihak-pihaknya
berbeda.
Dalam hal kerjasama bertingkat, resiko yang harus diantisipasi sejak awal
adalah: siapa yang bertanggung jawab terhadap terhadap:
a. resiko demorage
b. resiko reject
c. resiko gagal bayar
Contoh Perjanjian yang komplek namun "safe" karena telah mengakomodasi

kepentingan
berbagai
pihak
disyibilmuiractivities.blogspot.com

yang

terlibat,

saya

temukan

I. Proses Penjualan oleh Pihak Perusahaan dengan Pihak Pembeli (Buyers End)
Langkah awal untuk memulai proses dari suatu negosiasi antara Pembeli
(Buyers End) dengan Perusahaan ini adalah diterbitkannya Letter of Intent oleh
Pembeli (Buyers End) kepada Perusahaan ini. Tanpa adanya Letter of Intent
sebagaimana dimaksud, Perusahaan ini tidak akan melayaninya.
Full Corporate Offer (FCO) diterbitkan Perusahaan ini dengan masa berlaku 7 hari
kalender. FCO akan dikirimkan langsung oleh Perusahaan ini kepada Pembeli
(Buyers End).
Pembeli (Buyers End) dalam hal dapat menerima/menyetujui & menanda
tangani FCO dan mengembalikannya ke Perusahaan ini atau menerbitkan
Irrevocable
Corporate
Purchase
Order
(ICPO).
Atas dasar persetujuan FCO atau penerbitan ICPO, Perusahaan ini akan
menyiapkan dan mengirimkan draft Purchase & Sales Agreement (PSAB) antara
Pembeli (Buyers End) dan Perusahaan ini untuk diproses lebih lanjut ketingkat
penanda tanganan atau pengikatan diantara kedua belah pihak.
II. Proses Pembelian oleh Pihak Perusahaan dengan Pihak Penambang (Miners
End)/Contractor
Langkah awal untuk memulai proses dari suatu negosiasi antara Penambang
(Miners End)/Contractor dengan Perusahaan ini adalah diterbitkannya Letter of
Intent (LoI) oleh Perusahaan ini kepada Penambang (Miners End)/Contractor.
Perusahaan ini hanya akan menerbitkan LoI kepada perusahaan tambang yang
telah didaftarkan pada Approved Vendor List (AVL). Lihat keterangan mengenai
AVL tersendiri nantinya.
Penambang (Miners End)/Contractor mengajukan Full Corporate Offer (FCO)
dengan melampirkan Certificate of Analysis (CoA) Certificate of Weight (CoW)
Report of Analysis dari minimal 2 pengiriman terakhir namun bertanggal tidak
lebih dari 120 hari sebelum tanggal FCO dan juga Supply Guarantee atau
Jaminan Supply.
Perusahaan ini memiliki hak untuk melakukan verifikasi CoA tersebut langsung
ke Independent Surveyor yang menerbitkannya.
Apabila FCO diterima dan disetuju oleh Perusahaan ini, maka akan diterbitkan
Irrevocable Corporate Purchase Order (ICPO) kepada Penambang (Miners
End)/Contractor sekaligus draft Purchase & Sales Agreement (PSAM)
Setelah PSAM ditanda tangani kedua belah pihak, maka Perusahaan ini memiliki
opsi untuk melakukan pengambilan sampel dari tambang untuk dilakukan
analisa pada laboratorium milik independent surveyor.
Pembayaran dilakukan oleh Perusahaan ini melalui SKBDN (Local L/C ) yang
diterbitkan oleh BANK terkemuka di Indonesia atau cara lain yang dapat di bahas
untuk kesepakatan bersama. Perusahaan ini mengutamakan pembelian atas
dasar FOB Mother Vessel.

Menurut hukumonline.com, pada dasarnya, perjanjian jual beli batubara


merupakan perjanjian yang sama dengan perjanjian lainnya yang harus
memenuhi unsur dari Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
(KUHPerdata). Namun, khusus untuk perjanjian jual beli batubara terdapat halhal yang harus diperhatikan pada pembuatan perjanjian tersebut yaitu:
1. Lingkup hak izin (IUPK) menentukan
pengangkutan batubara

lingkup wilayah penjualan

dan

Saya pernah baca dari sebuah koran lokal, bahwa dari pihak kementrian akan
menghapus IUPK trading dan pengangkutan batubara, ini adalah hal
menggembirakan dikarenakan banyaknya pungli dan malpraktek di lapangan
yang terjadi di seputaran penjualan dan pengangkutan batubara yang
memanfaatkan keberadaan IUPK ini.
Di dalam IUPK Trading, lingkup izin yang dimiliki oleh pemegang IUPK Trading
tersebut tersebut menngenai cakupan hak atas wilayah penjualan yang dimiliki
oleh pemegang IUPK Trading. Dalam hal IUPK Trading diberikan oleh Menteri,
maka kegiatan penjualan dapat dilakukan lintas provinsi dan negara, kemudian
jika diberikan oleh Gubernur maka kegiatan penjualan batubara dapat dilakukan
lintas kabupaten atau kota, sedangkan jika diberikan oleh Bupati maka kegiatan
penjualan terbatas hanya pada satu kabupaten/kota.
2. status clean and clear
Berdasarkan praktik dalam usaha pertambangan, batubara yang dijual oleh
pemegang IUPK Trading dipersyaratkan diperoleh dari pemegang IUP OP yang
telah terdaftar dalam daftar clean and clear yang dikeluarkan oleh Kementerian
Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang dibuktikan dengan sertifikat
clean and clear.
3. harga batubara
Bagi para pihak yang ingin melakukan jual beli batubara dan akan menentukan
harga batubara harus mengacu kepada Peraturan Menteri ESDM Nomor 17 Tahun
2010 tentang Tata Cara Penetapan Harga Patokan Penjualan Mineral dan
Batubara. Harga batubara akan ditentukan oleh ESDM yang berlaku untuk jangka
waktu tertentu dan ditetapkan berdasarkan peraturan direktorat jenderal.
Penentuan harga patokan batubara ini dimaksudkan sebagai patokan dalam
menentukan besarnya jumlah royalti yang harus dibayarkan oleh para pihak
dalam
perjanjian
tersebut.
Trik -Trik Para Trader
Ada beberapa cara broker batubara di Indonesia dalam melakukan "usaha"nya
menjual batubara, yang bisa disebut dengan trik dagang para broker. Ada artikel
menarik yang diposkan oleh Syam Jr di Kompasiana Ekonomi. Perdagangan
ekspor Indonesia sendiri umumnya menggunakan kondisi penyerahan barang
Free on board (FOB).Harga dengan kondisi Cost and Freight (C&F) akan terpotong
oleh ongkos kapal angkut.
Misalnya untuk ekspor dari pelabuhan muat ( loading port ) Tabuneo bay South
Kalimantan ke pelabuhan bongkar ( discharging port ) di Chennay( India ), freight

pada kisaran USD15.00 /MT ( panamax gearless ). Dengan jenis kapal serupa
untuk tujuan pelabuhan bongkar ke any port of Taiwan mencapai USD12 / MT.
South China USD12.0./MT Thailand USD11.50 / MT, West Coast India ( Mombay)
USD18.50/MT.
Dengan demikian harga ada pada kisaran USD53.5 dikurangi USD15.00 =
USD38.50/MT FOB. Tetapi bukan harga ini yang diterima perusahaan tambang
Indonesia. Pada umumnya coal miner Indonesia menjual produk batubara
mereka kepada trader atau tepatnya broker internasional yang punya sister
company di Indonesia.
Perusahaan coal trader yang membuka kantornya berkedudukan di Singapore,
masuk ke Indonesia melalui perusahaan yang mereka dirikan bersama
( kerennya joint investment ) pedagang atau lebih tepatnya broker local di
Jakarta. Tentu mereka mencari keuntungan dari selisih harga dengan melakukan
penawaran dibawah USD38.5 /MT. Tarohkan mereka ambil untung USD2.0 / MT
maka harga diupayakan kontrak pada kisaran USD36.5 / MT.
Perusahaan nasional yang berkantor di Jakarta ini yang bertindak sebagai
eksportir adalah adik dari perusahaan yang berkantor di Singapore. Jadi si adik
ini awalnya menerima uang modal pertama dari kakak yang di Singapore,
kemudian melalukan kontak bisnis bertindak sebagai buyer kepada
perusahaan tambang batubara di Kalimantan. Mereka para broker inilah yang
petantang petenteng dari lobby ke lobby hotel di Jakarta yang umumnya dikenal
masyarakat
sebagai
pengusaha
batubara.
Jika kontrak sudah terlanjur diteken dengan harga passing away , pak pung,
pas-pasa-an, artinya tidak diperoleh harga masuk maka mereka akan bermain
pada freight kapal. Para broker ini mencari harga freight pada kisaran dibawah
USD15.0/MT misalnya USD13.0. Para broker ini akan cancel seluruh rencana
pengapalan yang telah disepakati dengan alasan belum mendapatkan vessel.
Lebih parah lagi ketika mereka mengirimkan Shipping Instruction ( SI ) seolah
menepati janji bisnis kewajiban sesuai kontrak yaitu menghadirkan kapal,
misalnya pada tangal 1 November 2013. Namun realitas kapal yang disebutkan
dalam SI posisinya sangat jauh, masih di perairan Eropa atau Mediterania dan
tidak mungkin akan sampai ke perairan Indonesia pada tanggal dimaksud. Jadi
Shipping Instruction ( SI ) Cuma sekadar bluffing alias bohong bohongan.
Umumnya marketing batubara orang Indonesia tidak paham akan hal ini.
Akibatnya semua perencanaan marketing professional Indonesia hancur
berantakan dan membutuhkan ongkos tambahan untuk seluruh resiko logistic
persiapan realisasi pengapalan ekspor batubara. Anehnya, gossib yang tersebar
di Singapore selalu saja orang Indonesia dicitrakan sebagai tidak professional.
Jangan coba masuk berbisnis secara langsung. Singapore paling mengetahui
bagaimana cara berbisnis batubara dengan Indonesia.
Para broker ini menunggu kapal yang wajib singgah di Singapore karena
masalah verifikasi dokumen kalaikan berlayar yang habis masa berlakunya
ketika dalam pelayaran ocean going sesuai ketentuan hukum internasional.
Perusahaan shipping bulk carrier yang terjebak kondisi ini tidak mempunyai
posisi tawar yang baik sehingga cenderung menerima muatan batubara dari
loading port Tabuneo Bay, Kalimantan Selatan Indonesia dengan harga miring.

Dengan modal ngomong di lobby hotel para broker bisa kick untung
USD2.0/MT. Boleh coba hitung jika satu kapal dengan kapasitas volume angkut
batubara 60.000 DWT dan sebulan bisa empat kali MV ( mother vessel ) atau
240.000 MT, untungnya pada kisaran USD480,000 per bulan.