Anda di halaman 1dari 9

HUKUM PERADILAN KONSTITUSI

OLEH :
NAMA

: NI WAYAN PIPIT PRABHAWANTY

NIM

: 1303005067

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2016

1. Mengapa mahkamah peradilan konstitusi dibentuk?


Mahkamah konstitusi dibentuk karena merupakan tuntutan suatu negara hukum terlebih di era
modern ini, terutama yang berkaitan dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Perlu adanya peradilan
Mahkamah Konstitusi agar tercipta perlindungan hukum secara benar yaitu:
a.
b.
c.
d.
e.

Bahwa peradilan konstitusi adalah sebagai tuntutan suatu negara hukum


Peradilan konstitusi sebagai tuntutan era modern
Agar terjamin suatu kepastian hukum
Tidak mengabaikan kemanfaatannya
Terjamin suatu keadilan

Beberapa pertimbangan dibentuknya Mahkamah Konstitusi sebagaimana ditegaskan dalam


Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi adalah:
a. Bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara hukum yang berdasarkan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, bertujuan
untuk mewujudkan tata kehidupan bangsa dan negara yang tertib, bersih, makmur, dan
berkeadilan;
b. Bahwa Mahkamah Konstitusi sebagai salah satu pelaku kekuasaan kehakiman
mempunyai peranan penting dalam usaha menegakkan konstitusi dan prinsip negara
hukum sesuai dengan tugas dan wewenangnya sebagaimana ditentukan dalam UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
c. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 24C ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 perlu mengatur tentang pengangkatan dan pemberhentian
hakim konstitusi, hukum acara, dan ketentuan lainnya tentang Mahkamah Konstitusi;
d. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan
huruf c serta untuk melaksanakan ketentuan Pasal III Aturan Peralihan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, perlu membentuk Undang-Undang
tentang Mahkamah Konstitusi
Komentar:
Menurut saya dengan dibentuknya Mahkamah Konstitusi (MK) agar dapat memberikan
perlindungan secara konstitusionalisme (perlindungan HAM), perlindungan hukum yang
didukung dengan folkgeist bangsa Indonesia sesuai dengan landasan hidup bernegara (UUD
1945) dengan tidak mengabaikan aspek kesejahteraan, kemanfaatan dan keadilan.

2. Bagaimana kompetensi peradilan Mahkamah Konstitusi?


Kompetensi peradilan mahkamah konstitusi adalah:
a. Mahkamah Konstitusi tidak menggunakan upaya hukum dalam memutus
(Dalam hal ini tidak ada banding dan tidak ada kasasi)
b. Keputusan Mahkamah Konstitusi bersifat final
c. Berpengaruh pada recruitment hakim
d. Mengabaikan kedaulatan rakyat
e. Prinsip negara hukum harus dikesampingkan
f. Karakter peradilan konstitusi berbeda dengan peradilan lainnya
Komentar:
Menurut saya Mahkamah Konstitusi bersifat pasif, hanya memutus perkara yang diajukan
kepadanya dan tidak dapat memberikan fatwa selain dalam hubungan dengan putusan perkara
yang diajukan kepadanya sesuai kewenangan yang ditentukan Undang-Undang Dasar 1945.
Pelaksanaan putusan Mahkmah Konstitusi berada ditangan lembaga negara yang dikenai atau
terkait putusan itu

3. Bagaimana kewenangan peradilan Mahkamah Konstitusi?


Yang menjadi wewenang Mahkamah Konstitusi berdasarkan Pasal 24C Undang-Undang Dasar
1945 dan Pasal 10 UU No. 24 Tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi adalah:
a. Menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar
b. Memutus Sengketa kewenangan antara lembaga Negara yang kewenangannya diberikan
oleh Undang-Undang Dasar
c. Memutus sengketa hasil Pemilihan umum
d. Memutus Pembubaran Partai Politik
e. Memberikan Putusan terhadap usulan DPR terhadap dugaan pelanggaran yang dilakukan
oleh kepala negara dan wakil kepala negara
Masalah Sengketa Kewenanan Antar Lembaga Negara :

Objeknya adalah kewenagan dari lembaga negara yang memperoleh kewenangan

menurut UUD 1945.


UUD 1945 tidak memberi batasan pengertian lembaga negara sehingga menurut Jimly
semua lembaga negara yang terdapat dalam UUD 1945 dapat menjadi pihak dan

kewenangannya dapat menjadi objek sengketa.


Terdapat pengecualian yaitu pada Mahkamah Agung, yang tidak dapat menjadi pihak
perkara dalam kasus sengketa kewenangan antar lembaga negara sesuai pasal 65 UU
Mahkamah Konstitusi.

Pembubaran Partai Politik :

Alasan sebuah parpol dibubarkan adalah Pertentangan Ideologi, Asas, Tujuan, Program

dan Kegiatan parpol terhadap UUD 1945.


Pihak yang mengajukan adalah pemerintah wajib menguraikan mengenai hal diatas
(Pasal 68 UU Mahkamah Konstitusi).

Perselisihan Hasil Pemilihan Umum :

Menyangkut penetapan hasil pemilu secara nasional yang dilakukan oleh KPU yang
mempengaruhi angaka perolehan suara terhadap anggota DPD, DPR, DPRD atau
mempengaruhi langkah calon Presiden dan wakil Presiden ke putaran berikutnya atau

menjadi Presiden dan wakil Presiden


Jadi harus benar-benar mempengaruhi {Pasal 74 (2) UU Mahkamah Konstitusi)
a. Terpilihnya calon anggota Dewan Perwakilan Daerah.
b. Penentuan pasangan calon Presiden dan wapres yang masuk putaran kedua serta
terpilihnya Presiden dan wapres.
c. Perolehan kursi parpol peserta pemilu.

Permohonan menunjukan 2 hal pokok yaitu (Pasal 75 UU Mahkamah Konstitusi)


a. Adanya kesalahan perhitungan yang dilakukan oleh KPU
b. Hasil perhitungan yang benar menurut pemohon
Yang dapat menjadi Pemohon adalah (Pasal 74 (1) UU Mahkamah Konstitusi)
a. Perorangan WNI peserta pemilu (calon anggota DPD)
b. Pasangan calon Presiden dan wakil Presiden peserta pemilu
c. Parpol peserta pemilu
Memberikan Putusan Atas Pendapat DPR Atas Dugaan Terjadinya Pelanggaran Oleh Presiden
Dan Wakil Presiden :
Objeknya adalah dugaan DPR bukan presiden dan / atau wapres
Terdapat dalam pasal 24 C (2) UUD 1945, Pasal 10 (2) dan dirinci lebih lanjut dalam
pasal 10 (3) UU Mahkamah Konstitusi.
Komentar:
Menurut saya Mahkamah Konstitusi merupakan salah satu mahkamah yang paling tinggi
bersama Mahkamah Agung , Mahkamah Agung hanya memperhubungkan dengan UndangUndang, dan Peraturan Daerah, sedangkan Mahkamah Konstitusi (Judicial review)
menempatkan UUD 1945, Undang-undang, yang mengkaji Undang-undang dengan UUD 1945.
Agar maksud tersebut bisa dicanangkan maka hendaklah pemerintah seperti Presiden dan/ atau
Wakil Presiden tidak melakukan hal-hal yang membuat kesalahan yang tidak bertanggung jawab
karena Mahkamah Konstitusi akan menindak tegasnya.

4. Bagaimana kontrol peradilan Mahkamah Konstitusi?


Mahkamah Konstitusi telah menerbitkan Peraturan MK No. 2 Tahun 2013 tentang Dewan Etik
Hakim Konstitusi. Peraturan itu memuat tugas dan wewenang, keanggotaan, masa tugas, panitia
seleksi, dan mekanisme kerja Dewan Etik yang memiliki fungsi utama mengawasi perilaku
hakim konstitusi.
Mengacu pada Putusan MK Nomor 005/PUU-IV/2006 perkara pengujian UU Komisi Yudisial
dan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (UUKK) terhadap
UUD 1945. Dalam Putusan MK 005/2006 tersebut, Mahkamah Konstitusi menyatakan bahwa
hakim konstitusi bukan obyek pengawasan Komisi Yudisial dengan alasan hakim konstitusi
bukanlah hakim profesi seperti hakim biasa. Bila hakim biasa tak terikat dengan jangka waktu,
tidak demikian dengan hakim konstiitusi yang diangkat hanya untuk jangka waktu lima tahun.
Dalam sebuah tulisan yang diakses dari laman resmi Mahkamah Kosntitusi dikatakan bahwa
terdapat empat hal penting dalam putusan ini, salah satunya adalah hakim konstitusi tidak
termasuk wilayah pengawasan Komisi Yudisial. Tidak masuknya hakim konstitusi dalam wilayah
pengawasan Komisi Yudisial adalah berdasarkan tinjauan sistematis dan penafsiran original
intent perumusan ketentuan UUD 1945, ketentuan mengenai Komisi Yudisial dalam Pasal 24B
Undang-Undang Dasar 1945 memang tidak berkaitan dengan ketentuan mengenai MK yang
diatur dalam Pasal 24C UUD 1945. Selain itu, dengan menjadikan perilaku hakim konstitusi
sebagai objek pengawasan oleh Komisi Yudisial, maka kewenangan Mahkamah Konstitusi
sebagai pemutus sengketa kewenangan lembaga negara menjadi terganggu dan tidak dapat
bersikap imparsial, khususnya jika ada sengketa kewenangan antara Komisi Yudisial dengan
lembaga lain.
Komentar:
Menurut saya apabila dengan menjadikan perilaku hakim konstitusi sebagai objek pengawasan
oleh Komisi Yudisial, maka kewenangan Mahkamah Konstitusi sebagai pemutus sengketa
kewenangan lembaga negara menjadi terganggu dan tidak dapat bersikap imparsial, khususnya
jika ada sengketa kewenangan antara Komisi Yudisial dengan lembaga lain.

Kesimpulan
Mahkamah konstitusi dibentuk karena merupakan tuntutan suatu negara hukum terlebih di era
modern ini, terutama yang berkaitan dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Perlu adanya peradilan
Mahkamah Konstitusi agar tercipta perlindungan hukum secara benar yaitu: bahwa peradilan
konstitusi adalah sebagai tuntutan suatu negara hukumperadilan konstitusi sebagai tuntutan era
modern, agar terjamin suatu kepastian hukum, tidak mengabaikan kemanfaatannya, terjamin
suatu keadilan.
Kompetensi dari peradilan Mahkamah Konstitusi adalah: Mahkamah Konstitusi tidak
menggunakan upaya hukum dalam memutus (dalam hal ini tidak ada banding dan tidak ada
kasasi), keputusan Mahkamah Konstitusi bersifat final, berpengaruh pada recruitment hakim,
mengabaikan kedaulatan rakyat, prinsip negara hukum harus dikesampingkan, karakter peradilan
konstitusi berbeda dengan peradilan lainnya.
Mahkamah Konstitusi memiliki wewenang yang berdasarkan Pasal 24C Undang-Undang Dasar
1945 dan Pasal 10 UU No. 24 Tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi adalah: menguji
Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar, memutus sengketa kewenangan antara
lembaga Negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar, memutus sengketa
hasil pemilihan umum, memutus pembubaran partai politik, memberikan putusan terhadap
usulan DPR terhadap dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh kepala negara dan wakil kepala
negara.
Kontrol peradilan Mahkamah Konstitusi adalah Dewan Etik Mahkamah Konstitusi. Mahkamah
Konstitusi telah menerbitkan Peraturan MK No. 2 Tahun 2013 tentang Dewan Etik Hakim
Konstitusi. Peraturan itu memuat tugas dan wewenang, keanggotaan, masa tugas, panitia seleksi,
dan mekanisme kerja Dewan Etik yang memiliki fungsi utama mengawasi perilaku hakim
konstitusi.

Buatlah pertanyaan hukum mengenai peradilan konstitusi


1. Apakah Mahkamah Konstitusi boleh mengganti isi UU?
Salah satu wewenang Mahkamah Konsitusi (MK) adalah mengadili pada tingkat pertama
dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang (UU) terhadap
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945). Demikian
diatur dalam Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 dan Pasal 10 ayat (1) huruf a UU No. 24
Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi.
Sehubungan dengan wewenang MK untuk menguji UU terhadap UUD 1945 ( judicial
review) tersebut, amar putusan MK dapat berupa:
menyatakan permohonan tidak dapat diterima dalam hal pemohon dan/atau
permohonannya tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50

dan Pasal 51.


menyatakan permohonan dikabulkan dalam hal:
a. MK berpendapat bahwa permohonan beralasan, atau
b. Pembentukan undang-undang dimaksud tidak memenuhi ketentuan
pembentukan undang-undang berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945
c. Menyatakan permohonan ditolak dalam hal UU dimaksud tidak
bertentangan dengan UUD 1945, baik mengenai pembentukan maupun
materinya sebagian atau keseluruhan. (Lihat Pasal 56 UU 24/2003)

Dalam hal MK menyatakan UU yang diuji bertentangan dengan UUD 1945, baik
mengenai pembentukan maupun materinya sebagian atau keseluruhan, maka akibat
hukumnya adalah:

Materi muatan ayat, pasal, dan/atau bagian uu tersebut tidak mempunyai kekuatan

hukum mengikat; atau


Uu tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat (dalam hal pembentukan
uu dimaksud tidak memenuhi ketentuan pembentukan uu berdasarkan uud 1945).

Putusan MK yang mengabulkan permohonan wajib dimuat dalam Berita Negara dalam
jangka waktu paling lambat 30 hari kerja sejak putusan diucapkan. Demikian diatur
dalam Pasal 57 UU 24/2003.
2. Apakah Mahkamah Konstitusi berwenang membuat norma hukum baru?
Mahkamah Konstitusi (MK) merupakan lembaga negara yang diatur dalam UndangUndang Dasar 1945 (UUD 1945), serta UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah

Konstitusi (UU Nomor 24 Tahun 2003) sebagaimana telah diubah dengan UU No. 8
Tahun 2011 tentang Perubahan atas UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah
Konstitusi (UU Nomor 8 Tahun 2011). Dalam Pasal 24 ayat (2) UUD 1945 menyatakan
bahwa:
Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung
dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan
peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan
peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan
oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.
Berdasarkan isi Pasal 24 ayat (2) UUD 1945 tersebut, jelas dinyatakan bahwa Mahkamah
Konstitusi merupakan lembaga yang menjalankan fungsi kekuasaan kehakiman atau
kekuasaan yudikatif (hal tersebut ditegaskan kembali dalam Pasal 2 UU No. 24 Tahun
2003). Sedangkan, kekuasaan legislatif atau kekuasaan untuk membentuk undang-undang
dipegang oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dengan melibatkan Pemerintah untuk
pembahasan rancangan undang-undang (lihat Pasal 20 ayat [1] dan ayat [2] UUD 1945).
MK memiliki kewenangan untuk mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang
putusannya bersifat final untuk (Pasal 10 ayat [1] UU No. 24 Tahun 2003):
a. Menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945
b. Memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan
oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
c. Memutus pembubaran partai politik, dan
d. Memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.
Hal ini juga pernah ditegaskan Jimly Asshiddiqie pada saat menjabat sebagai Ketua MK.
Dia menyatakan bahwa posisi MK adalah sebagai negative legislator. Artinya, MK hanya
bisa memutus sebuah norma dalam UU bertentangan konstitusi, tanpa boleh memasukan
norma baru ke dalam UU.