Anda di halaman 1dari 8

GANGGUAN GASTROINTESTINAL

DISPEPSIA

A. Kasus
NY. NR (33 th) dating ke apotek dewaruci dengan keluhan rasa panas di
ulu hati, pusing dan pegal. NY. NR memiliki riwayat penyakit maag kronis.
Sebulan terakhir NY. NR mengkonsumsi rebamipide dan omeprazole. NY. NR
memiliki kebiasaan minum teh dan kopi setiap hari. Beliau memiliki alergi
terhadap amoksisilin dan udang.
B. Dasar Teori
1. Patofisiologi Dispepsia
Dispepsia adalah gangguan perut sebelah atas, tengah (bukan sisi kiri
atau kanan) ditandai dengan rasa penuh, kembung nyeri, beberapa dengan
mual-mual, perut keras, bahkan sampai muntah. ada dua macam dispepsia:
1.1. Ulcus like dyspepsia (nyari timbul bila terlambat makan/tak ada makanan)
1.2. Dismotility like dyspepsia (rasa cepat penuh/kenyang, nyaeri setelah
makan walau tidak banyak)
Walaupun mempunyai tanda yang berbeda, kedua dispepsia ini penyebabnya
sama yakni adanya ketidakseimbangan antara faktor defensif (mukus,
bikarbonat, prostaglandin dan gastrin) dengan faktor agresif (HCl lambung).
Dalam keadaan fisiologi normal, di dalam lambung terdapat asam lambung
HCl yang diperlukan oleh tubuh salah satunya sebagai desinfektan terhadap
kuman yang masuk bersama makanan dan minuman. Kadar HCl lambung
dijaga oleh penetralnya yang sifatnya basa/alkali yakni adanya mukus (cairan
kental yang disekresi/dikeluarkan oleh sel dalam lambung) bikarbonat
(bersifat basa). Selain itu, adanya senyawa pelindung sel-sel mukosa dan epitel
lambung yang disebut prostaglandin. Prostaglandin juga diproduksi oleh salah
satu reseptor dalam lambung (sel parietal). Masih ditambah adanya gastrin
yang bersifat sitoprotektif (Puspitasari, 2010).
Namun ada banyak hal yang memicu naiknya produksi HCl lambung
seperti makanan yang terlalu asam, pedas, dingin, stres, obat bersifat asam
(ibuprofen, aspirin, asam mefenamat, diklofenak). Sementara itu, mukus,
bikarbonat, prostaglandin dan gastrin yang diproduksi lambung tidak mampu
menjaga kadar HCl normal sehingga timbullah gangguan ketidaknyamanan di

lambung yang disebut dispepsia. Dispepsia yang tidk segera diobati akan
berlanjut menjadi gastritis (peradangan di lambung) yang diperparah dengan
hadirnya bakteri yang hidup di pylori (bagian unung bawah lambung) disebut
Helicobacter pylori (H. Pylori) tidak menutup kemungkinan makin parahnya
peradangan mengakibatkan ulkus, baik d lambung maupun usus (berdarah,
borok) dan memicu munculnya kanker lambung (Puspitasari, 2010).
2. Guideline terapi
Menurut Miwa et al. (2015) dalam artikelnya yang berjudul Evidencebased clinical practice guidelines for functional dyspepsia dalam jurnal
Gastroenterol, konsep dasar terapi untuk dyspepsia yaitu:

Untuk memperoleh penyembuhan gejala dyspepsia secara memuaskan

merupakan terapi objektif yang penting


Membangun hubungan dengan pasien yang baik merupakan cara yang efektif

untuk mengontrol gejala dyspepsia pada pasien.


Pemberian anjuran gaya hidup dan diet yang baik merupakan terapi yang
efektif untuk dyspepsia.

Artikel tersebut juga menyebutkan terapi pertama untuk dyspepsia yaitu:

Penekan asam (acid suppressants) merupakan terapi yang efektif untuk

pasien dyspepsia.
Proton Pump Inhibitors (PPIs) dan histamine tepe 2 receptor antagonist
(H2RAs) menunjukkan level efikasi yang sama dan keduanya merupakan

terapi yang efektif untuk dyspepsia.


Prokinetik efektif untuk mengontrol gejala pada pasien dyspepsia.
Terapi pemusnahan H. pylori efektif pada pasien dyspepsia positif H.
pylori.
Terapi kedua (second line therapy) untuk dyspepsia jika terapi pertama

gagal juga disebutkan dalam artikel ini, yaitu:

Beberapa obat herbal merupakan terapi yang efektif untuk pasien


dyspepsia. Obat herbal dapat menurunkan kekacauan motilitas pada

gastrointestinal. Tetapi terapi ini masih didiskusikan lebih lanjut.


Beberapa antidepressants dan anxiolytics juga merupakan terapi yang
efektif untuk pasien dyspepsia.

Terapi alternative yang dianjurkan jika terapi pertama atau terapi kedua tidak
berhasil pada artikel ini yaitu:

Efikasi antacid, analog prostaglandin (misoprostol) dan agen gastroprotective


(sukralfat dan rebamipide) untuk terapi dyspepsia belum terbukti. Pada
review Cochrane tercatat tidak ada efek dari analog prostaglandin dan agen
gastroprotective. Setelah review tersebut, efikasi rebamipide diperkirakan di
double-blinded, placebo-controlled studies. Namun demikian, satu penelitian
dari USA diakhiri sebelum tercapai ukuran sampel yang diperkirakan, dan
satu penelitian dari jepang menunjukkan tidak ada efek, dapat disimpulkan

bahwa efektifitas obat ini belum jelas.


Terapi obat kombinasi kadang-kadang digunakan untuk mengontrol gejala
dyspepsia pada pasien, meskipun data pendukung masih kurang. Penelitian

lebih lanjut dibutuhkan pada permasalahan ini.


Terapi menyadarkan pada pasien akan pentingnya gaya hidup efektif untuk

mengontrol gejala dyspepsia pada pasien.


Belum ada fakta yang pasti tentang efikasi pelatihan autogenic untuk system

saraf otonom pada pengobatan untuk pasien dyspepsia.


Hypnotherapy efektif dan direkomendasikan untuk dyspepsia.

C. Penatalaksanaan Kasus dan Pembahasan


1. Data pasien
Nama
Umur
Jenis kelamin
Keluhan
Riwayat penyakit
Riwayat obat
Riwayat alergi
Diagnosa

: NY. NR
: 33 th
: Perempuan
: Rasa panas di ulu hati, pusing, pegal-pegal
: Maag Kronis
: Rebamipide dan Omeprazole
: Obat amoksisilin dan udang
: Dispepsia

2. Objective
3. Assesment
Diagnosa pasien
: Dispepsia
Problem medik pasien: -

Assessment Problem Medik pada pasien


Tgl

Subjektif

Objektif

Assessment

Paparan

Rekomendasi

Problem
16

Rasa

Diagnosa :

Mengalami

Lansoprazole

panas di

Dispepsia

rasa panas

30 mg 1 kali

ulu hati,

dengan

di ulu hati

sehari

pusing dan

sindrom

yang

sebelum

pegal-

dispepsia

disebabkan

makan

konsumsi

selama 8

makanan

minggu

pegal

pedas dan
stres

4. Plan
4.1. Tujuan terapi

Mengatasi dispepsia
Memberikan terapi non-farmakologis pada pasien disertai KIE

4.2. Terapi non-farmakologis


Survei menunjukkan bahwa pola makan yang buruk, stres dan
mengkonsumsi kafein dianggap sebagai penyebab paling umum dari GI,
Sehingga pasien disarankan untuk menghilangkan stres psikologis, berhenti
merokok dan mengurangi konsumsi kafein serta alkohol, dan direkomendasi
pasien untuk gaya hidup sehat. Jika pasien telah melakukan langkah-langkah
diet ekstrim, maka pasien harus didorong untuk mengikuti diet seimbang
untuk meminimalkan risiko kekurangan gizi (Scottish Intercollegiate
Guidelines Network, 2003).
4.3. Terpi farmakologis

Menurut algoritma terapi tersebut, pasien tidak mengalami gejala


perdarahan atau pengurangan berat badan, sehingga alur terapi mengikuti
penelusuran penggunaan NSAID. Pasien bukan pengguna NSAID maka perlu
tes H.pilory, tapi tes ini tidak dilakukan sehingga diasumsikan negatif. Terapi
yang disarankan menurut algoritma tersebut yaitu H2RAs atau PPI. Masa
penyembuhan untuk PPI lebih cepat daripada H2RAs (PPI 4 minggu, H2RAs
6-8 minggu) sehingga terapi yang disarankan yaitu PPI (Dipiro dkk, 2008).
Berdasarkan jurnal Miwa et al. (2015), penggunaan rebamipide tidak
terbukti memberikan efektifitas terhadap dyspepsia jadi terapi yang disarankan
yaitu menggunakan obat golongan PPI. Penggunaan obat golongan H2 blocker
tidak direkomendasikan karena efektifitasnya lebih rendah daripada golongan
PPI. Perbandingan antar obat-obat PPI pada gastric ulcer sangat terbatas
(McDonagh et al., 2006). Jadi dapat disimpulkan bahwa antar obat-obat
golongan PPI tidak ada perbedaan efektifitas yang signifikan. Obat golongan
PPI yang disarankan yaitu Lansoprazole karena bioavaliabilitas lansoprazole
lebih tinggi daripada PPI yang lain yaitu 80-90%, serta harga lansoprazole
lebih murah untuk penggunaan jangka panjang. Penggunaan lansoprazole juga
lebih meningkatkan kepatuhan pasien karena hanya diberikan sekali sehari.

4.4. KIE
KIE untuk keluarga pasien
Cara minum obat dan frekuensinya
Nama obat

Jadwal

Jumlah Manfaat

minum

Hal yang
perlu
diperhatikan

Lansoprazole Pagi

Mengatasi Kapsul

satu

kapsul, dispepsia

tidak boleh

jam

30 mg

dibuka dan

KIE

sebelum

digerus

untuk

makan

granulnya

pasien

Memberikan jadwal minum obat pada pasien seperti yang diberikan pada
keluarganya
Motivasi untuk melaksanakan diet tinggi protein dan diet makanan pedas,
kafein, dan alkohol untuk mencegah ulkus peptik kambuh kembali

4.5. Monitoring
Hal yang perlu dimonitoring dari pengobatan adalah :

Obat
Lansoprazole

D. Kesimpulan

Monitoring
Keberhasilan
ESO
Nyeri perut
Konstipasi, Diare,
dan rasa
Mulut Kering, Sakit
panas di ulu
Kepala, Mual,
hati
Muntah, Ruam Kulit

Target
Keberhasilan
Nyeri perut dan
rasa panas di ulu
hati mereda dan
tidak kambuh
kembali

1. Problem medik pasien sesuai diagnosa adalah dyspepsia


2. Penatalaksanaan terapi farmakologis untuk mengatasi ulkus peptik adalah dengan
pemberian obat lansoprazole 1 kali sehari 1 kapsul 30 mg di minum pagi satu jam
sebelum makan. Terapi non farmakologis yang disarankan adalah mengurangi atau
menghilangkan stress psikologi, merokok, dan penggunaan NSAID non selektif
(termasuk aspirin), menghindari makanan pedas, minuman yang mengandung
kafein.
Daftar Pustaka
Anonim. 2012. MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi Ed 12. PT. Bhuana Ilmu
Populer, Jakarta.
Chubineh, S and Birk, J, 2012. Proton Pump Inhibitors: The Good, The Bad,
and The Unwanted. Southern Medical Journal. Vol 105(11): 613-618.
Departemen Farmakologi dan Terapeutik, 2012, Farmakologi dan Terapi Edisi
5, Jakarta. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Dipiro, J.T., et.al., 2008, Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach.
Seventh Edition, Mc-Graw Hill.
McDonagh, M, Carson S, and Thakurta S, 2006, Drug Class Review Proton
Pump Inhibitors Final Report Update 5, regon Health & Science
University, Portland, Oregon
Miwa, H., Kusano M., Arisawa T., Oshima T., Kato M., Joh T., et al., 2015,
Evidence-based clinical practice guidelines for functional dyspepsia,
Journal Gastroenterol, 50:125-139.
Puspitasari, Ika, 2010, Jadi Dokter untuk Diri Sendiri, B First, Yogyakarta.
Scottish Intercollegiate Guidelines Network, 2003,. Dyspepsia: A national
clinical guideline. Royal College of Physicians. Edinburgh.