Anda di halaman 1dari 115

EJAAN YANG

DISEMPURNAKA
N (EYD)
1

Poltekkes kemenkes Jakarta II jurusan Farmasi

KELOMPO
K4:
Annisa Ayu Utami

Ayu Khairunnisa Muiz

Bagus Atmana Prasetya

Dimas Hermawan
2

APA SIH EYD ITU?


Mengeja adalah kegiatan melafalkan huruf, suku kata,
atau kata, sedangkan ejaan adalah suatu sistem aturan
yang jauh lebih luas dari sekedar masalah pelafalan.
Ejaan mengatur keseluruhan cara menuliskan bahasa.
Ejaan adalah seperangkat aturan tentang tata cara
menuliskan bahasa dengan menggunakan huruf, kata,
dan tanda baca sebagai sarananya. Batasan tersebut
menunjukkan pengertian kata ejaan berbeda dengan
kata mengeja.

PEMAKAIAN
HURUF

Poltekkes kemenkes Jakarta II jurusan Farmasi

pemakaian huruf

Penulisan huruf

RUANG
LINGKU
P EYD

meliputi

penulisan kata

pemakaian tanda baca.

penulisan unsur serapan

PEMAKAIAN HURUF
A. HURUF ABJAD

B. HURUF
VOKAL
C. HURUF
KONSONAN

D. HURUF
DIFTONG
E. GABUNGAN
HURUF
KONSONAN
6

Huruf

A. HURUF ABJAD

Abjad yang digunakan


dalam ejaan bahasa
Indonesia terdiri atas huruf
yang berikut. Nama tiap
huruf disertakan di kolom
ketiga.

Kapital

Kecil

A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
L
M
N
O
P
Q
R
S
T
U
V
W
X
Y
Z

a
b
c
d
e
f
g
h
i
j
k
l
m
n
o
p
q
r
s
t
u
v
w
x
y
z

Nama

a
be
ce
de
e
ef
ge
ha
i
je
ka
el
em
en
o
pe
ki
er
es
te
u
ve
we
eks
ye
zet

Huruf yang
melambangkan vokal
dalam bahasa Indonesia
terdiri atas huruf a, e, i,
o, dan u.

B. HURUF
VOKAL

Huruf
Vokal
a
e*
i
o
u

Contoh Pemakaian dalam Kata


Posisi Awal
ajak
enak
erat
indah
oleh
uji

Posisi
Tengah

Posisi Akhir

raja
petak
retak
tiup
kota
bunyi

lupa
sore
tipe
lari
radio
buku

Untuk keperluan pelafalan kata yang


benar, tanda aksen (') dapat digunakan
jika ejaan kata menimbulkan keraguan.
Contoh:Di mana kcap itu dibuat?
Coba kecap dulu makanan
itu.

C. HURUF
KONSONAN

Huruf
Konsonan

Huruf yang melambangkan


konsonan dalam bahasa Indonesia
terdiri atas huruf huruf b, c, d, f,
g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w,
x, y, dan z.

l
m
n
p
q**
r
s
t
v
w
x**
y
z

Keterangan:
* Huruf k melambangkan bunyi
hamzah.
** Huruf q dan x khusus dipakai untuk
nama diri (seperti Taufiq dan Xerox) dan
keperluan ilmu (seperti status quo dan
sinar x).

b
c
d
f
g
h
j
k

Contoh Pemakaian dalam Kata


Posisi
Posisi
Posisi Awal
Tengah
Akhir
bakar
cabut
adab
cara
baca
dia
kadar
abad
fakir
kafan
maaf
guna
tiga
gudeg
hari
saham
tuah
jalan
manja
mikraj
kami
paksa
politik
rakyat*
bapak*
lekas
alas
akal
maka
kami
diam
nama
tanah
daun
pasang
apa
siap
Quran
status quo
Taufiq
raih
bara
putar
sampai
asli
tangkas
tali
mata
rapat
varia
lava
wanita
hawa
xerox
sinar-x
yakin
payung
zeni
lazim
juz
9

C. HURUF
DIFTONG
Di dalam bahasa Indonesia
terdapat diftong yang
dilambangkan dengan ai, au, dan
oi.

Contoh Pemakaian dalam Kata

Huruf
Diftong

Posisi Awal

Posisi Tengah

Posisi Akhir

ai
au
oi

ain
aula
-

malaikat
saudara
boikot

pandai
harimau
amboi
10

E. GABUNGAN
HURUF
KONSONAN
Gabungan
Huruf
Konsonan
kh
ng
ny
sy

Gabungan huruf
konsonan kh, ng, ny,
dan sy masing masing
melambangkan satu
bunyi konsonan.
Contoh Pemakaian dalam Kata
Posisi Awal

Posisi
Tengah

Posisi
Akhir

khusus
ngilu
nyata
syarat

akhir
bangun
banyak
isyarat

tarikh
senang
arasy
11

PENULISAN
HURUF

12

Poltekkes kemenkes Jakarta II jurusan Farmasi

PENULISAN HURUF
A. HURUF KAPITAL

B. HURUF MIRING
C. HURUF TEBAL
13

A. HURUF KAPITAL
A

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal


kalimat.
Contoh: Kita harus bekerja keras.
Pekerjaan itu akan selesai dalam satu jam.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Contoh: Adik bertanya, "Kapan kita pulang?"
"Kemarin engkau terlambat," katanya.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam kata dan ungkapan
yang berhubungan dengan agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk kata
ganti untuk Tuhan.
Contoh:Yang Maha Pengasih
Islam
Tuhan akan menunjukkan jalan kepada hamba-Nya.

14

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan
keagamaan yang diikuti nama orang.
Contoh: Sultan Hasanuddin
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan,
dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.
Contoh:Dia baru saja diangkat menjadi sultan.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan yang diikuti nama
orang, nama instansi, atau nama tempat yang digunakan sebagai pengganti nama orang
tertentu.
Contoh:Profesor Supomo
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan atau nama instansi yang
merujuk kepada bentuk lengkapnya.
Contoh:Kegiatan itu sudah direncanakan oleh Departemen Pendidikan Nasional.
Sidang itu dipimpin oleh Presiden Republik Indonesia.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak
merujuk kepada nama orang, nama instansi, atau nama tempat tertentu.
Contoh:Berapa orang camat yang hadir dalam rapat itu?
15

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama orang.
Contoh:Dewi Sartika
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama singkatan nama orang yang digunakan
sebagai nama jenis atau satuan ukuran.
Contoh:NNewton
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai
nama jenis atau satuan ukuran.
Contoh:10 volt
Catatan:
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama seperti pada de, van, dan der (dalam nama
Belanda), von (dalam nama Jerman), atau da (dalam nama Portugal).
Contoh:
Vasco da Gama
Dalam nama orang tertentu, huruf kapital tidak dipakai untuk menuliskan huruf pertama kata
bin atau binti.
Contoh: Abdul Rahman bin Zaini
Zaitun binti Zainal

16

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
Contoh:bahasa Indonesia
bangsa Eskimo
suku Sunda
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang
digunakan sebagai bentuk dasar kata turunan.
Contoh:kejawa-jawaan

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari raya.
Contoh:tahun Hijriah
bulan Agustus
hari Galungan
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama peristiwa sejarah.
Contoh:Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak digunakan
sebagai nama.
Contoh:Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia.
17

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama diri geografi.
Contoh:Cirebon
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur unsur nama geografi yang diikuti
nama diri geografi.
Contoh:Jalan Diponegoro
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama diri atau nama diri geografi jika kata
yang mendahuluinya menggambarkan kekhasan budaya.
Contoh:asinan Bogor
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama unsur geografi yang tidak diikuti oleh
nama diri geografi.
Contoh:menyeberangi selat
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama diri geografi yang digunakan
sebagai penjelas nama jenis.
Contoh:pisang ambon

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang
terdapat pada nama lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dokumen resmi,
dan judul karangan.
Contoh:Perserikatan Bangsa-Bangsa

18

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama resmi negara, lembaga
resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi, kecuali kata tugas,
seperti dan, oleh, atau, dan untuk.
Contoh:Republik Indonesia
Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara,
lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan, badan, dan nama dokumen resmi.
Contoh:menurut undang-undang yang berlaku
Catatan:
Jika yang dimaksudkan ialah nama resmi negara, lembaga resmi, lembaga ketatanegaraan,
badan, dan dokumen resmi pemerintah dari negara tertentu, misalnya Indonesia, huruf
awal kata itu ditulis dengan huruf kapital.
Contoh:Pemberian gaji bulan ke 13 sudah disetujui Pemerintah.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata
ulang sempurna) di dalam judul buku, majalah, surat kabar, dan makalah, kecuali kata
tugas seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
Contoh:Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
19

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan
sapaan yang digunakan dengan nama diri.
Contoh:S.H. sarjana hukum

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan,
seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman, yang digunakan dalam penyapaan
atau pengacuan.
Contoh:Surat Saudara sudah saya terima.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan
yang tidak digunakan dalam pengacuan atau penyapaan.
Contoh:Dia tidak mempunyai saudara yang tinggal di Jakarta.

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata Anda yang digunakan dalam
penyapaan.
Contoh:Siapa nama Anda?
20

B. HURUF MIRING
A

Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku,


majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
Contoh:Berita itu muncul dalam surat kabar Suara Merdeka.

Catatan:
Judul skripsi, tesis, atau disertasi yang belum diterbitkan dan dirujuk dalam
tulisan tidak ditulis dengan huruf miring, tetapi diapit dengan tanda petik.

Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau


mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.
Contoh:Bab ini tidak membicarakan pemakaian huruf kapital.
Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata atau
ungkapan yang bukan bahasa Indonesia.
Contoh:Nama ilmiah buah manggis ialah Garcinia mangostana.
Ungkapan asing yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia
penulisannya diperlakukan sebagai kata Indonesia.
Contoh:Negara itu telah mengalami empat kali kudeta.

21

C. HURUF TEBAL
A

Huruf tebal dalam cetakan dipakai untuk menuliskan judul buku, bab,
bagian bab, daftar isi, daftar tabel, daftar lambang, daftar pustaka, indeks,
dan lampiran.
Contoh:
Judul

HABIS GELAP TERBITLAH TERANG

Bab

BAB I PENDAHULUAN

Bagian bab

1.1 Latar Belakang Masalah


1.2 Tujuan

Daftar, indeks, dan lampiran:


DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMBANG
DAFTAR PUSTAKA
INDEKS
LAMPIRAN

22

C. HURUF TEBAL
B

Huruf tebal tidak dipakai dalam cetakan untuk menegaskan atau


mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata; untuk
keperluan itu digunakan huruf miring.
Contoh:Gabungan kata kerja sama ditulis terpisah.Gabungan kata
kerja sama ditulis terpisah.

Huruf tebal dalam cetakan kamus dipakai untuk menuliskan lema dan
sublema serta untuk menuliskan lambang bilangan yang menyatakan
polisemi.
Contoh:kalah v 1 tidak menang ...; 2 kehilangan atau merugi ...; 3
tidak lulus ...; 4 tidak menyamai
mengalah v mengaku kalah
mengalahkan v 1 menjadikan kalah ...; 2 menaklukkan ...; 3
menganggap kalah ...
terkalahkan v dapat dikalahkan ...
23

PENULISAN
KATA

24

Poltekkes kemenkes Jakarta II jurusan Farmasi

Kata dasar
Kata turunan
Kata ulang
Gabungan kata

PENULIS
AN KATA

meliputi

Kata depan
Partikel
Kata ganti
Singkatan dan akronim

Angka dan lambing


bilangan
Kata si dan sang
25

1. PENULISAN KATA
DASAR
Penulisan kata dasar sering dihadapkan pada penulisan

baku dan tidak baku.


Penulisan

karangan

didokumentasi,

dan

ilmiah,

karangan

surat-menyurat

resmi

yang
harus

menggunakan kata baku.

26

CONTO
H
Benar

Salah

Benar

Salah

Aerobik

Erobik

Apotek

Apotik

Atlet

Atlit

Biaya

Beaya

Objek

Obyek

Kualitias

Kwalitas

Kuitansi

Kwitansi

Proyek

Projek

Praktik

Praktek

Sutera

Sutra

Sistem

Sistim

Jadwal

Jadual

Subjek

Subyek

Teknik

Tehnik

27

2. PENULISAN KATA
TURUNAN
1. a. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan

bentuk dasarnya.
Misalnya:
berjalan,
dipermainkan,
menengok, petani.

gemetar,

kemauan,

lukisan,

b. Imbuhan dirangkaikan dengan tanda hubung jika ditambahkan


pada bentuk singkatan atau kata dasar yang bukan bahasa
Indonesia.
Misalnya:
mem-PHK-kan, di-upgrade

28

2. PENULISAN KATA
TURUNAN
2. Jika bentuk dasarnya berupa gabungan kata, awalan atau
akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti
atau mendahuluinya.
Misalnya:
bertepuk tangan, menganak sungai, sebar luaskan
3. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat
awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis
serangkai.
Misalnya:
dilipatgandakan, menggarisbawahi, menyebarluaskan,
penghancurleburan, pertanggungjawaban

29

2. PENULISAN KATA
TURUNAN
4. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam
kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya:
Adipati, Dwiwarna, paripurna, Aerodinamika, Ekawarna,
poligami, Antarkota, Ekstrakurikuler, pramuniaga, Antibiotic,
Infrastruktur, prasangka
Catatan:
1. Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya huruf
kapital, tanda hubung (-) digunakan di antara kedua unsur itu.
- Misalnya: non-Indonesia, pan-Afrikanisme, pro-Barat.
30

2. PENULISAN KATA
TURUNAN
2. Jika kata maha sebagai unsur gabungan merujuk kepada Tuhan yang
diikuti oleh kata berimbuhan, gabungan itu ditulis terpisah dan unsur
unsurnya dimulai dengan huruf kapital.
Misalnya:
- Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih
- Kita berdoa kepada Tuhan Yang Maha Pengampun.
3. Jika kata maha, sebagai unsur gabungan, merujuk kepada Tuhan dan
diikuti oleh kata dasar, kecuali kata esa, gabungan itu ditulis serangkai.
Misalnya:
- Tuhan Yang Mahakuasa menentukan arah hidup kita.
- Mudah mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.
31

2. PENULISAN KATA
TURUNAN
4. Bentuk bentuk terikat dari bahasa asing yang diserap ke dalam bahasa
Indonesia, seperti pro, kontra, dan anti, dapat digunakan sebagai bentuk
dasar.
Misalnya:
- Sikap masyarakat yang pro lebih banyak daripada yang kontra.
- Mereka memperlihatkan sikap anti terhadap kejahatan.
5. Kata tak sebagai unsur gabungan dalam peristilahan ditulis serangkai
dengan bentuk dasar yang mengikutinya, tetapi ditulis terpisah jika diikuti
oleh bentuk berimbuhan.
Misalnya:
taktembus cahaya, tak bersuara, tak terpisahkan
32

3. PENULISAN KATA
ULANG
Kata

ulang

menggunakan

ditulis
tanda

secara
(-).

lengkap

Bahasan

kata

dengan
ulang

mencakup: gabungan kata dasar, gabungan kata


berimbuhan, gabungan kata dasar berubah bunyi,
dan

penggabung

gabungan

kata

harus

ditulis

berdasarkan pedoman buku sebagai berikut.


33

3. PENULISAN KATA
ULANG

1. Pengulangan kata dasar

Pengulangan kata dasar tidak menggunakan angka dua pada akhir kata,
tetapi menggunakan tanda penghubung.
Contoh :
Benar : cakap-cakap, kota-kota, orang-orang
Salah : cakap2, kota2, orang2
2. Pengulangan gabungan kata
Gabungan kata terdiri atas dua kata atau lebih. Jika gabungan kata itu
diulang, cukup mengulang kata pertama saja.
Contoh :
Benar : buku-buku berkualitas, gedung-gedung tinggi
Salah : buku berkualitas- buku berkualitas, gedung tinggi- gedung tinggi
34

3. PENULISAN KATA
ULANG

3. Pengulangan kata berimbuhan

Pengulangan kata turunan (berimbuhan)


penghubung, tidak menggunakan angka dua.

ditulis

dengan

kata

Contoh :
Benar :
berhubung-hubungan,
melambai-lambai, perlahan-lahan

beramai-ramai,

dipukul-pukul,

Salah : ber-hubung2-an, ber- ramai2, di-pukul2, me-lambai2, perlahan2


4. Pengulangan kata berubah bunyi
Bolak-balik (pengulangan konsonan berubah vokal)
Huru-hura (pengulangan konsonan berubah vokal)
Lauk-pauk (pengulangan konsonan berubah konsonan)
Ramah-tamah (pengulangan konsonan berubah konsonan)

35

4. PENULISAN
GABUNGAN KATA

1. Gabungan kata yang berupa kata majemuk, bagianbagiannya dituliskan terpisah.


Contoh :
Benar

: jasa marga, kereta api, kerja sama, tanggung jawab

Salah : jasamarga, keretaapi, kerjasama, tanggungjawab


2. Gabungan kata serangkai
Gabungan kata yang sudah padu benar, sudah senyawa, tidak
dapat dikembalikan ke bentuk dan maksa asal dituliskan
seangkai.
Contoh :
Benar

: barangkali, bumiputra, daripada, padahal

Salah : barang kali, bumi putra, dari pada, pada hal

36

4. PENULISAN
GABUNGAN KATA

3. Gabungan kata terikat dan kata bebas

Penggabungan kata terikat, yaitu kata yang tidak dapat berdiri sendiri

sebagai satu kata yang bermakna penuh bersama kata bebas, ditulis
serangkai. Misalnya kata : non, tuna, sub, peri, antar, maha, eka, pasca, dwi,
catur, antar, maha, dan lain-lain.

Benar

Salah

Antarkota

Antar kota, antar-kota

Caturwarga

Catur warga, caturwarga

Nonkeuangan

Non-keuangan

Pascapanen

Pasca panen, pascapanen

Subunit

Sub-unit, sub unit


37

Catatan :

4. PENULISAN
GABUNGAN KATA

A. Penggabungan kata terikat dengan kata berhuruf awal


kapital, disisipi tanda
hubung.
Benar
Salah
Non-Asia

Non Asia

Non-Indonesia

Non Indonesia

Non-APBN

Non APBN

B. Khusus penggabungan kata maha + esa yang terkait


dengan sifat Tuhan ditulis terpisah, misalnya : Tuhan Yang Maha
Esa. Kata maha + sifat Tuhan yang tidak diawali dengan
imbuhan pe- ditulis menyatu, misalnya: Tuhan Yang Mahakasih.
Kata maha + sifat Tuhan yang diawali dengan imbuhan peditulis terpisah, misalnya: Tuhan Yang Maha Pengasih.
38

4. PENULISAN
GABUNGAN KATA
C. Gabungan kata dasar _ kata berimbuhan : penggabungan kata + kata
berawalan atau berakhiran, awalan atau akhiran itu dituliskan
serangkai dengan kata terdekat dengannya. Sedangkan kata lain yang
merupakan unsure gabungan dituliskan terpisah, tanpa tanda hubung.
Benar

Salah

Bertanda tangan

Bertandatangan, bertanda-tangan

Hancur leburkan

Hancurleburkan, hancur-leburkan

Menyebar luas

Menyebarluas, menyebar-luas

Sebar luaskan

Sebarluaskan, sebar-luaskan

Tanda tangani

Tandatangani, tanda-tangani

39

4. PENULISAN
GABUNGAN KATA
D. Penggabungan kata dengan konfiks berawalan + berakhiran
sekaligus, ditulis serangkai, tanpa tanda hubung.
Benar
Dibudidayakan

Salah
Dibudi dayakan, dibudidayakan
Ketidakadilan
Ketidak-adilan, ketidak adilan
Mencampuraduk Mencampur adukkan,
kan
mencampur-adukkan
Pertanggungjaw Pertanggung jawaban,
aban
pertanggung-jawaban
40

5. PEMENGGALAN
KATA
1. Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut.
a. Jika di tengah kata ada huruf vokal yang berurutan,

pemenggalannya dilakukan di antara kedua huruf vokal itu.


Misalnya: bu-ah, ma-in, ni-at, sa-at
b. Huruf diftong ai, au, dan oi tidak dipenggal.

Misalnya: pan-dai, au-la, sau-da-ra, am-boi


c. Jika di tengah kata dasar ada huruf konsonan (termasuk
gabungan huruf konsonan) di antara dua buah huruf vokal,
pemenggalannya dilakukan sebelum huruf konsonan itu.
Misalnya: ba-pak, de-ngan, mu-ta-khir, mu-sya-wa-rah.
41

5. PEMENGGALAN
KATA
d. Jika di tengah kata dasar ada dua huruf konsonan yang
berurutan, pemenggalannya dilakukan di antara kedua huruf
konsonan itu.
Misalnya:
Ap-ril, makh-luk, man-di, sang-gup, som-bong, swas-ta
e. Jika di tengah kata dasar ada tiga huruf konsonan atau lebih
yang masing-masing melambangkan satu bunyi,
pemenggalannya dilakukan di antara huruf konsonan yang
pertama dan huruf konsonan yang kedua.
Misalnya: ul-tra, in-fra, ben-trok, in-stru-men
42

Catatan:

5. PEMENGGALAN
KATA

A. Gabungan huruf konsonan yang melambangkan satu


bunyi tidak dipenggal.
Misalnya: bang-krut, bang-sa, ba-nyak, ikh-las, kongres, makh-luk, masy-hur, sang-gup
B. Pemenggalan kata tidak boleh menyebabkan
munculnya satu huruf (vokal) di awal atau akhir baris.
Misalnya:
Itu i-tu
Setia se-ti-a

43

5. PEMENGGALAN
KATA
2. Pemenggalan kata dengan awalan, akhiran, atau partikel
dilakukan di antara bentuk dasar dan imbuhan atau partikel
itu.
Misalnya: ber-jalan, mem-bantu, di-ambil, ter-bawa, per-buat,
makan-an, letak-kan, me-rasa-kan, ke-kuat-an
Catatan:
A. Pemenggalan kata berimbuhan yang bentuk dasarnya
mengalami perubahan dilakukan seperti pada kata dasar
Misalnya: me-nu-tup, me-ma-kai, me-nya-pu, me-nge-cat,
pe-no-long, pe-mi-kir, pe-nga-rang, pe-nye-but, pe-nge-tik
44

5. PEMENGGALAN
KATA
B. Pemenggalan kata bersisipan dilakukan seperti pada kata
dasar.
Misalnya:
ge-lem-bung, ge-mu-ruh, ge-ri-gi, si-nam-bung, te-lun-juk
C. Pemenggalan tidak dilakukan pada suku kata yang terdiri atas
satu vokal.
Misalnya:
Beberapa pendapat mengenai masalah itu telah
disampaikan.
Walaupun cuma cuma, mereka tidak mau ambil makanan itu.
45

5. PEMENGGALAN
KATA
3.
Jika sebuah kata terdiri atas dua unsur atau lebih dan salah satu
unsurnya itu dapat bergabung dengan unsur lain, pemenggalannya
dilakukan di antara unsur-unsur itu. Tiap-tiap unsur gabungan itu dipenggal
seperti pada kata dasar.
Misalnya:
bio-grafi = bi-o-gra-fi
bio-data = bi-o-da-ta
foto-grafi = fo-to-gra-fi
foto-kopi = fo-to-ko-pi
intro-speksi = in-tro-spek-si
4. Nama orang, badan hukum, atau nama diri lain yang terdiri atas dua
unsur atau lebih dipenggal pada akhir baris di antara unsur-unsurnya
(tanpa tanda pisah). Unsur nama yang berupa singkatan tidak dipisahkan.
46

6. PENULISAN KATA
DEPAN
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari

kata yang mengikutinya.


Sedangkan awalan di- dan ke- dituliskan

serangkai dengan kata yang mengiringinya.

47

6. PENULISAN KATA
DEPAN

Kata depan di dan awalan di-

Kata depan di diikuti kata benda (tempat), menyatakan arah


atau tempat, sedangkan awalan di- diikuti kata kerja
Di (kata depan)
1. Di kampus (kata benda)
2. Dapat diubah menjadi dari
kampus atau ke kampus.
3. Tidak
dapat
diubah
menjadi mengampus

Di (awalan)
1. Ditulis (kata kerja)
2. Tidak
dapat
diubah
menjadi dari tulis atau ke
tulis.
3. Dapat
diubah
menjadi
menulis.

Contoh :
Di rumahsakit dari rumah Contoh :
sakit
Dikesampingkan
mengesampingkan

48

6. PENULISAN KATA
DEPAN
Kata depan ke dan awalan keKe (kata depan)
1. Selalu
diikuti
kata
yang
menyatakan arah atau tempat
2. Dapat diganti dari. (misalnya: di
pantai, ke pantai/ dari pantai)
3. Contoh :
. Ke mana saja kamu pergi,
selama ini?
. Tolong pindahkan meja ini ke
ruang tengah.
. Catatan :
Ke pada kata kemari dituliskan
serangkai karena kata itu tidak
dapat diganti menjadi dari mari
atau dimari.

Ke- (awalan)
1. Membentuk kata benda (misalnya
kekasih)
2. Tidak dapat diganti dari
3. Bila berkombinasi akhiran kan
membentuk kata kerja perintah
(misalnya: Kerjakan!)
4. Contoh :
.Benarkah kamu sudah
mempunyai kekasih?
.Tolong kemarikan pekerjaanmu,
akan saya periksa.

49

7. PENULISAN
PARTIKEL
A. Partikel lah, kah, dan tah ditulis serangkai dengan kata yang
mendahuluinya.
Misalnya:
Bacalah buku itu baik-baik!
Apakah yang tersirat dalam surat itu?
Siapakah gerangan dia?
Apatah gunanya bersedih hati?

50

7. PENULISAN
PARTIKEL

B. Partikel pun, ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.


Misalnya:
Apa pun permasalahannya, dia dapat mengatasinya dengan bijaksana.
Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah datang ke

rumahku.
Catatan:
Partikel pun pada gabungan yang lazim dianggap padu ditulis serangkai
dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Adapun sebab sebabnya belum diketahui.
Bagaimanapun juga, tugas itu akan diselesaikannya.
Walaupun sederhana, rumah itu tampak asri.
51

7. PENULISAN
PARTIKEL
C. Partikel per yang berarti demi, tiap, atau mulai ditulis
terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya:
Mereka masuk ke dalam ruang satu per satu.
Harga kain itu Rp50.000,00 per helai.
Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 Januari.

Catatan:
Partikel per dalam bilangan pecahan yang ditulis dengan

huruf dituliskan serangkai dengan kata yang mengikutinya.


52

8. PENULISAN KATA
GANTI

Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang

mengikutinya; -ku, -mu, dan -nya ditulis serangkai dengan


kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Buku ini boleh kau baca.
Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.

Catatan:
Kata kata ganti itu (-ku, -mu, dan -nya) dirangkaikan dengan
tanda hubung apabila digabung dengan bentuk yang berupa
singkatan.
Misalnya:
KTP-mu, SIM-nya, STNK-ku

53

9. PENULISAN SINGKATAN
DAN AKRONIM
A. Singkatan ialah bentuk singkat yang terdiri atas satu huruf

atau lebih.
. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau

pangkat diikuti dengan tanda titik di belakang tiap-tiap


singkatan itu.
Misalnya :
H. Hamid = Haji Hamid, M.Kes. = magister kesehatan
. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan

ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama


dokumen resmi yang terdiri atas gabungan huruf awal
kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan
tanda titik. Misalnya : DPR, PBB, KTP

54

9. PENULISAN SINGKATAN
DAN AKRONIM
a) Singkatan kata yang berupa gabungan huruf diikuti dengan
tanda titik. Misalnya : no. , kpd.
b) Singkatan gabungan kata yang terdiri atas tiga huruf diakhiri
dengan tanda titik. Misalnya : dll. (dan lain lain)
Singkatan gabungan kata yang terdiri atas dua huruf (lazim

digunakan dalam surat-menyurat) masing-masing diikuti oleh


tanda titik. Misalnya : a.n. (atas nama)

Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan,

dan mata uang tidak diikuti tanda dengan titik. Misalnya : Cu


(kuprum), kg (kilogram), Rp (rupiah)

55

9. PENULISAN SINGKATAN
DAN AKRONIM

B. Akronim ialah singkatan dari dua kata atau lebih yang


diperlakukan sebagai sebuah kata.

Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal unsur-

unsur nama diri ditulis seluruhnya dengan huruf kapital tanpa


tanda titik.
Misalnya : SIM (Surat Izin Mengemudi)
Akronim nama diri yang berupa singkatan dari beberapa unsur

ditulis dengan huruf awal kapital.


Misalnya : Bulog (Badan Urusan Logistik)
Akronim bukan nama diri yang berupa singkatan dari dua kata

atau lebih ditulis dengan huruf kecil.


Misalnya : pemilu (pemilihan umum)
56

9. PENULISAN SINGKATAN
DAN AKRONIM
Catatan:
Jika pembentukan akronim dianggap perlu, hendaknya
diperhatikan syarat-syarat berikut.
1) Jumlah suku kata akronim tidak melebihi jumlah suku kata

yang lazim pada kata Indonesia (tidak lebih dari tiga suku
kata).
2) Akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian

kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata


bahasa Indonesia yang lazim agar mudah diucapkan dan
diingat.
57

10. PENULISAN ANGKA DAN


LAMBANG BILANGAN
Bilangan dalam teks yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis

dengan huruf, kecuali jika bilangan itu dipakai secara berurutan seperti dalam
perincian atau paparan.
Misalnya :
Koleksi perpustakaan itu mencapai dua juta buku.
Di antara 72 anggota yang hadir 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan

5 orang tidak memberikan suara.


Bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf, jika lebih dari dua kata,

susunan kalimat diubah agar bilangan yang tidak dapat ditulis dengan huruf
itu tidak ada pada awal kalimat.
Misalnya :
Lima puluh siswa kelas 6 lulus ujian.
Panitia mengundang 250 orang peserta.
58

10. PENULISAN ANGKA DAN


LAMBANG BILANGAN
Angka yang menunjukkan bilangan utuh besar dapat dieja

sebagian supaya lebih mudah dibaca.


Misalnya :

Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 550 miliar rupiah.


Angka digunakan untuk menyatakan (a) ukuran panjang, berat,

luas, dan isi; (b) satuan waktu; (c) nilai uang; dan (d) jumlah.

Misalnya : 0,5 sentimeter, pukul 15.00, Rp5.000,00, 27 orang


Angka digunakan untuk melambangkan nomor jalan, rumah,

apartemen, atau kamar. Misalnya : Jalan Wijaya No. 14

Angka digunakan untuk menomori bagian karangan atau ayat

kitab suci. Misalnya : Surah Yasin: 9

59

10. PENULISAN ANGKA DAN


LAMBANG BILANGAN
Penulisan bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut.
a. Bilangan utuh. Misalnya : dua belas (12)
b. Bilangan Pecahan. Misalnya : setengah ( 1/2)
. Penulisan bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara berikut.
.pada awal abad XX (angka Romawi kapital)
.dalam kehidupan pada abad ke-20 ini (huruf dan angka Arab
.pada awal abad kedua puluh (huruf)
. Penulisan bilangan yang mendapat akhiran an mengikuti cara

berikut.
.lima lembar uang 1.000-an (lima lembar uang seribuan)
.tahun 1950-an (tahun seribu sembilan ratus lima puluhan)
60

10. PENULISAN ANGKA DAN


LAMBANG BILANGAN
Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya

harus tepat.
Misalnya:

Bukti pembelian barang seharga Rp5.000.000,00 (lima juta

rupiah) ke atas harus dilampirkan pada laporan


pertanggungjawaban.
Catatan:
(1) Angka Romawi tidak digunakan untuk menyatakan jumlah.
(2) Angka Romawi digunakan untuk menyatakan penomoran bab
(dalam terbitan atau produk perundang-undangan) dan nomor jalan.
(3) Angka Romawi kecil digunakan untuk penomoran halaman
sebelum Bab I dalam naskah dan buku.
61

11. PENULISAN KATA SI


DAN SANG
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya:
Surat itu dikembalikan kepada si pengirim.
Toko itu memberikan hadiah kepada si pembeli.
Ibu itu membelikan sang suami sebuah laptop.
Siti mematuhi nasihat sang kakak.

Catatan:
Huruf awal si dan sang ditulis dengan huruf kapital jika kata-kata itu diperlakukan

sebagai unsur nama diri.

Misalnya:
Harimau itu marah sekali kepada Sang Kancil.
Dalam cerita itu Si Buta dari Goa Hantu berkelahi dengan musuhnya.
62

PEMAKAIAN
TANDA BACA

63

Poltekkes kemenkes Jakarta II jurusan Farmasi

TANDA
BACA
Merupakan unsur yang penting dalam bahasa

tulis.
Membantu pembaca untuk dapat memahami

jalan pikiran penulisnya.

64

MACAM-MACAM
TANDA BACA

Tanda
Tanda
Tanda
Tanda
Tanda
Tanda
Tanda
Tanda

titik(.)
koma(,)
titik koma(;)
titik dua (:)
hubung(-)
pisah (_)
elipis()
Tanya(?)

Tanda seru(!)
Tanda kurung(())
Tanda kurung
siku([])
Tanda petik
ganda()
Tanda petik
tunggal()
Tanda garis miring(/)
Tanda penyingkat()
65

TANDA TITIK (.)


a. Dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan

atau seruan.
(Ayahku tinggal di Solo.)
b. Dipakai di belakang angka atau huruf pengkodean
suatu judul bab dan subbab.
(III. Departemen Dalam Negeri)

66

TANDA TITIK (.)


Catatan:
Tidak digunakan di belakang angka atau huruf pada pengkodean sistem digit

jika angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam deretan angka atau
huruf sebelum judul bab atau sub bab.
Tidak digunakan di belakang judul yang merupakan kepala karangan, judul

bab dan subbab, kepala ilustrasi, dan tabel. Demikian juga di belakang alamat
pengirim dan tanggal surat, dan di belakang nama dan alamat penerima surat
Benar
Habis Gelap Terbitlah Terang

Salah
Habis Gelap Terbitlah Terang.

1.1 Latar belakang

1.1. Latar belakang

Tabel 2 Frekuensi Kehadiran

Tabel 2 Frekuensi Kehadiran.

Yth. Sdr. Suhartati

Yth. Sdr. Suhartati.

Jalan Jambalang 17

Jalan Jambalang 17.

67

TANDA TITIK (.)


c. Dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang
menunjukan waktu dan jangka waktu.
(Pukul 1. 35. 20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik))
d. Digunakan pada angka yang menyatakan jumlah untuk
memisahkan ribuan, jutaan, dan seterusnya. Sedangkan angka
yang tidak menyatakan jumlah, tidak menggunakan tanda titik.
Benar

Salah

halaman 1250

halaman 1.250

NIP 140232759

NIP 140.232.759

nomor telepon 7690415

nomor telepon 7.690.415

1.500 orang kepala keluarga

1500 orang kepala keluarga

60.500 orang pendaftar

60500 orang pendaftar

68

TANDA TITIK (.)


e. Dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir
dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar
pustaka.
(Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltervreden : Balai
Poestaka.)
f. Penulisan singkatan nama perusahaan dengan huruf capital tidak
disertai titik. Sebaliknya, singkatan gelar akademik dan singkatan nama
orang harus menggunakan titik.
Benar : CV, DKI, DPR, KTP, RI
Benar
Salah
Salah : C.V., D.K.I.,
D.P.R., K.T.P., R.I.

R.M. Purwonagoro

RM Purwonagoro

Harun Alrasyid, S.H.

Harun Alrasyid, SH

69

TANDA TITIK (.)


g. Digunakan pada singkatan kata atau ungkapan umum dengan menggunakan
huruf kecil. Singkatan terdiri dari dua huruf menggunakan titik pada setiap akhir
huruf. Sedangkan singkatan terdiri dari tiga huruf atau lebih diberi satu titik
pada akhir singkatan.
Benar
Salah
a.n. (atas nama)
dll. (dan lain-lain)

a/n, an.
d.l.l.

h. Tidak digunakan di belakang singkatan lambang kimia,


satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang.
Benar

Salah

cm (sentimeter)

cm.

Rp (rupiah)

Rp.

70

TANDA KOMA (,)


Ada dua ketentuan yang menyangkut pemakaian tanda koma dalam
tulisan, yaitu:
(1) tanda koma wajib digunakan dan

(2) tanda koma tidak boleh digunakan.

71

TANDA KOMA (,)


a. Dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu

perincian atau pembilangan.


(Saya membeli kertas, pena, dan tinta.)
b. Dipakai untuk memisahkan kalimat majemuk setara, baik
majemuk setara berlawanan, gabungan, urutan, maupun
pilihan.
Saya ingin datang, tetapi hari hujan.
Dosen menerangkan EYD, dan mahasiswa memperhatikan
materi dengan penuh semangat.
Ia memilih melanjutkan kuliah ke Jerman, kemudian ia
melaporkan pilihannya itu kepada rector di universitasnya.
72

TANDA KOMA (,)


c. Tidak digunakan pada kalimat majemuk
bertingkat yang diawali dengan induk kalimat.
Sebaliknya, kalimat yang diawali dengan anak
kalimat dan diikuti induk kalimat harus
dipisahkan oleh koma.
(Ia membatalkan rencana itu karena harus
menyelesaikan tugasnya.)
. Wajib digunakan untuk memisahkan kata transisi
penghubung antarkalimat, seperti oleh karena itu,
jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.
( Tampaknya, ia sudah sangat prima untuk
bertanding. Tetapi, ia harus bersabar menunggu

73

TANDA KOMA (,)


d. Kata seru (fatis) seperti wah, ah, aduh, kasihan, o,
dan ya harus diikuti koma.
( Wah, bisnis komunikasi 2004 sangat pesat. )
e. Digunakan untuk memisahkan unsur atau bagian
alamat yang ditulis menyamping. Jika ditulis ke bawah,
unsur tersebut tidak diakhiri koma.
(1) Jalan Hang Jebat III, Kebayoran Baru, Jakarta
f. Dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari
bagian lain dari kalimat.
(1) Kata Ibu, Saya gembira sekali.
(2) Saya gembira sekali, kata Ibu, karena kamu
lulus.

74

TANDA KOMA (,)


h. Digunakan di antara nama orang dan gelar
akademik yang mengikutinya untuk
membedakannya dari singkatan nama keluarga
atau marga.
( S. Bagus Santoso, S.Kp., M.Sc. )

i. Dipakai untuk memisahkan bagian nama


yang dibalik susunannya dalam daftar
pustaka.
Alisjahbana, Sultan Takdir. 1949. Tatabahasa Baru
Bahasa Indonesia. Jilid 1 dan 2. Djakarta: PT
Pustaka Rakjat.
75

TANDA KOMA (,)


j. Dipakai untuk mengapit keterangan tambahan dan
keterangan aposisi.
Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, berkunjung ke

Manado.

Semua siswa, baik yang laki-laki maupun yang perempuan,

mengikuti latihan paduan suara.

k. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluh atau


di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan
angka.
(12,5 m) (Rp 12,50)
76

TANDA KOMA (,)


l. Dapat dipakai untuk menghindari salah baca di
belakang keterangan yang terdapat pada awal
kalimat.
(Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita
memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh.)

m. Tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung


dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat
jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda
tanya atau tanda seru.
Di mana Saudara tinggal? tanya Karim.
Berdiri lurus-lurus! perintahnya.
77

TANDA TITIK
KOMA (;)
a. Dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian
kalimat yang sejenis dan setara.
( Malam makin larut; pekerjaan belum selesai juga.)

b. Dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung


untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam
kalimat majemuk.
( Ayah mengurus tanamannya di kebun itu; Ibu sibuk
memasak di dapur; Adik menghapal nama-nama pahlawan
nasional.)

78

TANDA TITIK
KOMA (;)
c. Dipakai untuk memisahkan unsur-unsur dalam
kalimat kompleks yang tidak cukup dipisahkan
dengan tanda koma untuk memperjelas arti kalimat
secara keseluruhan.
Masalah kenakalan remaja bukanlah semata-mata menjadi
tanggung jawab para orang tua, guru, polisi, atau pamongpraja; sebab sebagian besar penduduk negeri ini terdiri atas
anak-anak, remaja, dan pemuda di bawah umur 21 tahun.

79

TANDA TITIK DUA


(:)
a. Dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap
diikuti perincian berupa kata atau frasa.
( Pak Adi mempunyai tiga orang anak: Ardi, Aldi, dan
Asdi. )
b. Tidak digunakan sebelum rincian yang merupakan
pelengkap kalimat yang mengakhiri pernyataan.
(Sifat-sifat sapi yaitu bertulang belakang, berkaki
empat, makan rumput, dan memamah biak)

80

TANDA TITIK DUA


(:)

b. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan


yang memerlukan pemerian.
Ketua
: Moch. Achyar
Sekretaris : Tati Suryati
Bendahara : Noviana Pertiwi

Hari
Tanggal
2012
Waktu

: Jumat
: 2 November
: 13.00 WIB

c. Dipakai di antara jilid atau nomor dan halaman, di antara bab dan ayat
dalam kitab suci, di antara judul dan anak judul suatu karangan, serta
nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.
Jurnal Perempuan (2007), I:28
Surah Yasin: 9
Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi, sudah
terbit.
81

TANDA TITIK DUA


(:)
d. Dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang
menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Misalnya:
Ayah : Karyo, sini kamu!
Karyo: (Datang menghampiri) Ada apa, Pak?
Ayah : Tolong ambilkan sepatu hitam yang di atas
lemari!
82

TANDA TITIK DUA


(:)
e. Harus diganti dengan titik satu pada kalimat
lengkap yang diikuti suatu rincian berupa
kalimat lengkap, dan tanda akhir rincian
diakhiri titik.
Mahasiswa teladan harus memenuhi syaratsyarat ini.
Mahasiswa teladan menghadiri kuliah 90 s.d.
100 persen.
Mahasiswa tersebut mendapatkan IPK tertinggi
di universitasnya.

83

TANDA HUBUNG
(-)
a. Dipakai menyambung suku-suku kata dasar atau

kata berimbuhan yang terpisah oleh pergantian


baris.
Mata kuliah baru yang
ditawarkan tahun i-ni adalah estetika dan .

b. Menyambung awalan dengan bagian kata di


belakangnya atau akhiran dengan bagian kata di
depannya pada pergantian baris.
Senjata itu merupakan alat
pertahan-an yang canggih.
84

TANDA HUBUNG
(-)
c. Menyambung unsur-unsur kata ulang.
( Anak-anak, kupu-kupu, berulang-ulang, kemerah-merahan, mondarmandir.)
d. Menyambung huruf dari kata yang dieja satu-satu dan bagianbagian tanggal, bulan, dan tahun.
(p-a-n-i-t-i-a) (17-08-1945)
e. Dapat dipakai untuk memperjelas hubungan bagian-bagian
ungkapan.
(Tiga puluh dua-pertiga (30 2/3))
(Tiga-puluh-dua pertiga (32/3))
f. Dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur
bahasa asing.
(di-smash, pen-tackle-an)

85

TANDA HUBUNG
(-)
g. Selain digunakan pada kata ulang, tanda hubung digunakan untuk merangkaikan:
Unsur terikat dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital,
Singkatan yang berupa huruf kapital dengan huruf kecil,
Ke- dengan angka, dan
Angka dengan akhiran an.

Benar

Salah

1.000-an

1.000an, 1.000 an

ber-KTP

berKTP, ber KTP

se-Indonesia

seIndonesia, se Indonesia

SIM-nya

SIMnya, SIM nya

86

TANDA PISAH ()
a. Membatasi penyisipan kata atau kalimat yang
memberi penjelasan di luar bangun kalimat.
(Kemerdekaan bangsa itusaya yakin akan tercapai
diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.)
b. Menegaskan adanya keterangan aposisi atau
keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih
jelas.
(Rangkaian temuan inievolusi, teori kenisbian, dan
kini juga pembelahan atomtelah mengubah
konsepsi kita tentang alam semesta.)

87

TANDA PISAH ()
c. Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan atau
kata dengan arti sampai dengan atau sampai ke.
Misalnya:
tanggal 110 Mei 2007
JakartaBandung

88

TANDA ELIPSIS
(...)
a. Dipakai dalam kalimat atau dialog yang terputus-

putus.
(Kalau begitu ... ya, ayo kita berangkat.)
b. Menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau
naskah ada bagian yang dihilangkan.
(... selanjutnya akan di bawa ke pengadilan.
Ibu baru pulang ... pasar.)
89

TANDA TANYA (?)


a. Dipakai pada akhir kalimat tanya.

(Kapan ia berangkat?)
b. Dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan
bagian kalimat yang disangsikan atau kurang dapat
dibuktikan kebenarannya.
Ia dilahirkan pada tahun 1983 (?).
Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.
90

TANDA SERU (!)


a. Dipakai pada akhir kalimat perintah.
Bersihkan kamar itu sekarang juga!
Jangan berisik!
b. Dipakai pada akhir ungkapan atau pernyataan yang
menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan,
ketakjuban, ataupun rasa emosi yang kuat.
Alangkah seramnya peristiwa itu!
Indah sekali pemandangan alam ini!

91

TANDA KURUNG
((...))
a.

Dipakai untuk mengapit tambahan keterangan atau


penjelasan.

Komisi A telah selesai menyusun GBPK (Garis-Garis Besar


Program Kerja) dalam sidang pleno tersebut.

b. Dipakai untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang


bukan bagian integral pokok pembicaraan.
Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan perkembangan

per-ekonomian Indonesia lima tahun terakhir.

92

TANDA KURUNG
((...))
c. Dipakai mengapit angka atau huruf yang memerinci
satu urutan keterangan.
Faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b)

tenaga kerja, dan (c) modal.


d. Mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam
teks dapat dihilangkan.
Kata cocaine diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi
kokain(a).
Pejalan kaki itu berasal dari (daerah) Baduy.
93

TANDA KURUNG
SIKU ([...])
a. Mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi

atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang


ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan
atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli.

Kita jangan hanya mau meng[e]ritik, tetapi juga mau


dikeritik.

b. Mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah


bertanda kurung.
Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di

dalam Bab II [lihat halaman 3538]) perlu dibentangkan di sini.


94

TANDA PETIK (...)


a.

Dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari


pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lainnya.
Saya belum siap, kata Mira, tunggu sebentar!
Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, Bahasa negara ialah bahasa
Indonesia.

b. Dipakai untuk mengapit judul syair, karangan, atau bab buku


yang dipakai dalam kalimat.
Sajak Berdiri Aku terdaapat pada halaman 5 buku itu.
Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul Rapor dan
Nilai Prestasi di SMA diterbitkan dalam harian Tempo.
95

TANDA PETIK (...)


c. Dipakai untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang
dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara trial and error saja.
Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan si Hitam.

d. Dipakai untuk menandai ungkapan atau bagian


kalimat yang tidak mengandung arti yang
sebenarnya.
Dalam pertandingan sepak bola, para pemain depan sering

dimakan oleh lawan.


Menulis surat lamaran pekerjaan pada hakiktnya sama
dengan menjual diri.

96

TANDA PETIK
TUNGGAL (...)
a. Mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan

lain.
Tanya Basri, Kau dengar bunyi kring-kring tadi?
Waktu kubuka pintu depan, kudengar teriak anakku,
Ibu, Bapak pulang, rasa letihku lenyap seketika,
ujar Pak Hamdan.
b. Mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata
atau ungkapan asing.
face-to-face bersemuka
97

TANDA GARIS MIRING


(/)
a. Dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada

alamat dan penandaan masa satu tahun yang


terbagi dalam dua tahun takwim.
No. 12/PK/2005
Jalan Kramat III/10
Masa Bakti 2005/2006

b. Dipakai sebagai pengganti kata atau dan tiap.


Laki-laki/Perempuan = laki-laki atau perempuan
120 km/jam = 120 km tiap jam
98

TANDA PENYINGKAT ATAU


APOSTROF ()
Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian
kata atau bagian angka tahun.
Gunung pun kan kudaki. (kan = akan)
17 Agustus 45 (45 = 1945)

99

PENULISAN
UNSUR
SERAPAN

100

Poltekkes kemenkes Jakarta II jurusan Farmasi

PENULISAN UNSUR
SERAPAN

Kata asing yang sudah diserap sepenuhnya ke dalam bahasa Indonesia.


Contoh:sirsak, iklan, perlu, hadir, badan, waktu, kamar, botol, dan sekolah.

Kata asing yang dipertahankan karena sifat keinternasionalan-nya,


penulisan dan pengucapan masih mengikuti cara asing.
Contoh:shuttle cock, knock out, time out, built up, complete knock down, chip,
server, web, linux, microsoft word, dan gigabyte.

Kata asing yang berfungsi untuk memperkaya peristilahan, ditulis sesuai


dengan EYD.
Contoh:komputer (computer), kalkulasi (calculation), matematika
(mathematic), infiltrasi (infil-tratio), influensa (influenza), dan bisnis
(bussines).

101

102

103

PENYESUAIAN AKHIRAN
ASING

104

PENGGUNAAN DAN
TATA TULIS DALAM
EJAAN YANG
DISEMPURNAKAN
105
Poltekkes kemenkes Jakarta II jurusan Farmasi

PELAFALAN
Kesalahan pelafalan dapat terjadi karena lambang (huruf) diucapkan tidak
sesuai dengan bunyi yang melambangkan huruf tersebut.

Ketentuan pelafalan yang berlaku dalam bahasa Indonesia cukup


sederhana, yaitu bunyi-bunyi dalam bahasa Indonesia harus dilafalkan sesuai
dengan apa yang tertulis.

Contoh:teknik
Lafal yang salah: tehnik
Lafal yang benar: teknik [t e k n i k]

106

PEMBAGIAN
PELAFALAN
1

1. Pelafalan Bahasa Indonesia


Kata atau singkatan dalam bahasa Indonesia dilafalkan menurut pengucapan
dan pendengaran orang Indonesia.

Singkatan

Lafal Baku

Lafal Tidak Baku

DPR

De pe er

Di pi ar

KKN

Ka ka en

Ke ke en

LSM

El es em

El esm

107

PEMBAGIAN
PELAFALAN
1

2. Pelafalan Singkatan Asing


Singkatan
Asing

Lafal Baku

Lafal Tidak
Baku

Unesco

Yu nes ko

Unesko

Unicef

Yu ni sef

Unisef

UNO

Yu en ou

U n o; yu no

WTC

Doubelyu ti
si

We te ce

108

PEMISAHAN SUKU
KATA
Setiap suku kata bahasa Indonesia ditandai oleh sebuah vokal yang
dapat didahului atau diikuti oleh huruf konsonan.
Persukuan

atau

pemisahan

suku

kata

dapat

ditemukan

pada

penggantian baris, yaitu terdapat pada bagian akhir setiap baris tulisan.
Pengguna bahasa tidak boleh melakukan pemotongan kata berdasarkan
kepentingan lain, misalnya mencari kelurusan baris pada pinggir baris
setiap halaman atau hanya untuk memudahkan pengetikan.

109

CONTO
H
Apabila di tengah kata terdapat dua vokal berurutan,
pemisahan dilakukan di antara vokal tersebut.
Contoh: main ma-in

Apabila di tengan kata terdapat dua konsonan berurutan,


pemisahan dilakukan di antara kedua konsonan tersebut.
Contoh : ambil am-bil

Apabila di tengan kata terdapat konsonan di antara dua


vokal pemisahannya dilakukan sebelum konsonan.
Contoh: sulit su-lit

Apabila di tengah kata terdapat tiga atau empat konsonan,


D pemisahannya dilakukan di antara konsonan pertama dan
konsonan kedua.
Contoh: bangkrut bang-krut
110

CONTO
H
Imbuhan termasuk awalan yang mengalami perubahan
E bentuk partikel yang biasanya ditulis serangkai dengan
kata dasarnya, penyukuannyadipisahkan sebagai satu
kesatuan.
Contoh: minuman mi-num-an
Pada akhir baris dan awal baris tidak diperkenankan ada
F huruf yang berdiri sendiri, baik vokal maupun konsonan.
Contoh: buku bu-ku (bukanb-uku)

Tanda pemisah (tanda hubung) tidak diperkenankan


diletakkan dibawah huruf dan juga tidak boleh berjauhan
dengan huruf, tetapi diletakkan di samping kanan huruf.
Contoh: belajar bela-jar (bukan bela jar)

111

THANKS FOR
YOUR
ATTENTION

112

Poltekkes kemenkes Jakarta II jurusan Farmasi

DO YOU HAVE A
QUESTION?
113

Poltekkes kemenkes Jakarta II jurusan Farmasi

PERTANYAAN
Sesi 1
1.Rahma : Judul karya tulis kapital semua termasuk EYD atau bukan
2. Ojan : kenapa satuan ditulsnya dalam huruf kecil (m, cm, dll)
Karena cm, m, ml bukan berasal dari nama penemunya sehingga tetap huruf kecil
3. Septi : - jalan di singkat jln apa jl?
Jalan tidak boleh disingkat
- perbedaan huruf romawi, angka, arab. Kapan dipakainya?
Sesi 2
1. Nuriz : penulisan nama gelar termasuk kedalam peraturan EYD atau tidak?
Ya, termasuk dalam penggunaan huruf kapital dan penggunaan tanda titik.
2. Reza : Tulisan sambung menggunakan EYD atau tidak?
3. Octa : penulisan e dengan aksen harus ditulis atau tidak dalam penulisan karya tulis?
Sesi 3
1. Geul : Setiap rincian harus diawali huruf besar atau tidak?
Diawali huruf kecil
2. Hasna : Setiap singkatan harus diakhiri titik atau tidak, boleh diaplikasikan dimana?
Pada singkatan boleh digunakan pada pembuatan karya seperti KTI atau makalah asalkan
sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam EYD. Digunakan sesuai dengan keadaan dan
porsinya.

114

SOAL
1.Beri tanda benar atau salah pada kalimat dibawah ini
a. Saya belum pernah membaca majalah Bahasa dan Sastra yang diterbitkan oleh pusat
bahasa.
b. Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.
c. Aruspenulisan
sebesar 5kata
Ampere
mengalir
dalam penghantar metal.
2. Pebaiki
berikut
ini.
a. drs. Rahmat, M, Farm. Apt
b. Konsekwen
c. Pak Budi bekerja di Kemanterian
d. Garis-garis besar haluan Negara
e. Mempertanggung jawabkan
f. 20 warga sipil mengalami luka luka
g. Maha kasih
h. Jl. Percetakan Negara III Salemba Jakarta Pusat
i. Nah ini baru benar.
3. Ubah kta serapan inimenurut EYD
a. Cholera
b. Rhombus
c. Sclerosis
115