Anda di halaman 1dari 18

MENTERr KESEHATAN

REPUBLIK iNDONESiA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 92 TAHUN 2014
TENTANG
PENYELENGGARAAN KOMUNIKASI DATA
DALAM SISTEM INFORMASI KESEHATAN TERINTEGRASI
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI KESEHATAN RE-PUBLIK INDONESIA,
Menimbang

a. bahwa untuk mengoptimalkan aliran data dari


kabupaten/kota dan provinsi ke Kementerian
Kesehatan untuk menyediakan data dan informasi
yang akurat, tepat, dan cepat, perlu diselenggarakan
sistem informasi kesehatan terintegrasi melalui
komunikasi data;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan
Peraturan Menteri Kesehatan tentang
Penyelenggaraan Komunikasi Data Dalam Sistem
Informasi Kesehatan Terintegrasi;

Mengingat

1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang


Informasi dan Tansaksi Elektronik (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 58,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4843);
2.

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang


Keterbukaan Informasi Publik (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 61,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4846);

3.

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang


Kg/:sehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tah'un 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5063);

4. Peraturan Pemerintah . . .

MEN -TEF<.1. KESPHATA!\:


REPUBLK

-24.

Pera turan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang


Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah,
Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan
Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik
Iridonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);

5.

Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2014 tentang


Sistem Informasi Kesehatan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2014 Nomcr 126,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5542);

6.

Keputusan
Menteri
Kesehatan
Nomor
837/Menkes/SK/VII/2007 tentang Pengembangan
Jaringan Komputer Online Sistem Informasi
Kesehatan Nasional (SIKNAS ONLINE);

MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MENTERI KESEHATAN TENTANG
PENYELENGGARAAN KOMUNIKASI DATA DALAM
SISTEM INFORMASI KESEHATAN TERINTEGRASI.

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1. Sistem Informasi Kesehatan adalah seperangkat tatanan yang
meliputi data, informasi, indikator, prosedur, perangkat, teknologi,
dan sumber daya manusia yang saling berkaitan dan dikelola secara
terpadu untuk mengarahkan tindakan atau keputusan yang berguna

dalam mendukung pembangunan. kesehatan.

2. Sistem . .

MENTERLKESPHATAN

REPUBLIK INDONS;A

-32.

Sistem Informasi Kesehatan Terintegrasi adalah 'Sistem Informasi


Kesehatan yang ada telah mampu menyediakan mekanisme saling
hubung antar subsistem informasi dengan berbagai cara yang sesuai
dengan yang dibutuhkan, sehingga data dari satu sistem atau
subsistem secara rutin dapat melintas, menuju atau diambil oleh
satu atau lebih sistem atau subsi.stem yang lain.

3.

Data Kesehatan adalah angka dan fakta kejadian berupa keterangan


dan tanda-tanda yang secara relatif belum bermakna bagi
pembangunan kesehatan.

4.

Muatan Data adalah sekumpulan-,data yang dipertukarkan antara


dinas kesehatan kabupaten/kota, dinas kesehatan provinsi, dan
Kementerian dalam penyelenggaraan Komunikasi Data.

5.

Informasi Kesehait/an adalah Data Kesehatan yang telah diolah atau


diproses menjadi bntuk yang mengandung nilai dan makna yang
berguna untuk meningkatkan pengetahuan dalam mendukung
pernbangunan kesehatan.

6.

Komunikasi Data adalah tukar-menukar data atau data transfer


secara online untuk mengoptimalkan aliran data dari dan ke
kabupaten/kota dan provinsi ke pusat, sehingga di tingkat pusat
tersedia Data Kesehatan prioritas dan Data Kesehatan tertentu
lainnya untuk memenuhi kebutuhan pimpinan dan pengelola
program kesehatan.

7.

Aplikasi Komunikasi Data adalah suatu aplikasi Sistem Informasi


Kesehatan yang digunakan untuk tukar rnenukar data dalam rangka
konsolidasi/integrasi Data Keseh atan prioritas yang dikirimkan dari
dinas kesehatan kabupaten/kota dan/ atau dinas kesehatan provinsi
dalam rangka penyelenggaraan Sistem Informasi Kesehatan
Terintegrasi.

8.

Jaringan Sistem Informasi Kesehatan Nasional yang selanjutnya


disebut Jaringan SIKNAS adalah jaringan komputer WAN untuk
menghubungkan kantor dinas kesehatan kabupaten/kota, kantor
dinas kesehatan provinsi, dan institusi kesehatan lainnya, serta
kantor Kementerian Kesehatan yang digunakan dalam
penyelenggaraan Komunikasi Data.

9.

Pemerintah Daerah adalah gubernur, bupati, atau walikota, dan


perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.

10. Pemerintah . . .

REPUBLK

-410.

Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah adalah


Presiden Repubf;ik Indonesia yang memegang kekuasaan
pemerintahan negaya. Republik Indonesia sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945.

11.

Kementerian Kesehatan yang selanjutnya disebut Kementerian adalah


perangkat Pemerintah yang membidangi urusan kesehatan dalam
pemerintahan.
Pasal 2-

F'engaturan Penyelenggaraan Komunikasi Data Dalam Sistem Informasi


Kesehatan Terintegrasi bertujuan untuk:
a.

menjamin ketersediaan, kualitas, dan akses Data Kesehatan prioritas


dan Muatan Data lainnya;

b.

mengoptirnalkan aliran Data Kesehatan dari kabupaten/kota


dan/atau provinsi ke Kementerian atau sebaliknya; dan

c.

mewujudkan penyelenggaraan Sistem Informasi Kesehatan yang


terintegrasi.
Pasal 3

Lingkup pengaturan Penyelenggaraan Komunikasi Data Dalam Sistem


Informasi Kesehatan Terintegrasi meliputi:
a.
Muatan Data;
b.

penyelenggaraan Komunikasi Data;

c.

pengorganisasian;

d.

perangkat Komunikasi Data;

e.

pengernbangan Komunikasi Data;

f.

pendanaan penyelenggaraan Komunikasi Data; dan


pembinaan dan pengawasan.

g.

BAB II
MUATAN DATA
Pasal 4
(1) Muatan Data dalam penyelenggaraan Komunikasi Data terdiri atas:
a. Data Kesehatan prioritas; dan
b. Muatan Data lainnya.
(2) Muatan . . .

MENTERr KESEHATAN
REPUBLK NDONES1A

-5(2) Muatan Data sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan


Muatan Data dari Aplikasi Komunikasi Data.
Pasal 5
(1)

Data Kesehatan prioritas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat


(1) huruf a bersumber dari dinas kesehatan kabupaten/kota.

(2)

Dinas kesehatan kabupaten/kota memperoleh Data Kesehatan


pri.oritas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dari puskesmas,
rurnah sakit, dan/ atau instarisi terkait lainnya melalui
penyelenggaraan Sistem Inform asi Kesehatan Daerah (SIKDA)
kabupaten/ kota.

(3)

Muatan Data lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1)


huruf b bersumber dari fasilitas pelayanan kesehatan, dinas
kesehatan kabupaten/kota, dan dinas kesehatan provinsi.

Pasal 6
(1)

Data Kesehatan prioritas merupakan sekumpulan data kesehatan


yang rnenjadi prioritas kebutuhan informasi bidang kesehatan
berdasarkan kriteria tertentu serta sesuai indikator strategis nasional
dan global bidang kesehatan.

(2)

Kriteria tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan


keterkaitan antar elemen data dan antar program kesehatan.

(3)

Data Kesehatan prioritas sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


merupakan bagian dari sekumpulan data kesehatan provinsi dan
sekumpulan data kesehatan kabupaten/kota.
Pasal 7

(1) Data Kesehatan prioritas terdiri atas sejumlah elemen data yang
dikelompokkan menjadi:
a. data derajat k6ehatan;
b. data upaya keseriatan;
c. data sumber daya kesehatan; dan
d. data determinan kesehatan atau terkait lainnya.
(2) Jumlah elemen data dalam Data Kesehatan prioritas sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dapat berkembang sesuai dengan
perkernbangan kebutuhan informasi bidang kesehatan.
(3) Elemen . . .

MENTER. KESEHATAN
REPUBL:K

-6(3)

Elemen data sebagaimana dimaksud pada ayat (1) difetapkan dengan


Keputusan Menteri.
Pasal 8

(1)

Muatan Data lainnya sebagaimana dirnaksud dalam Pasal 4 ayat (1)


huruf b merupakan sekumpulan Data Kesehatan dan data - terkait
kesehatan yang menjadi muatan Aplikasi Komunikasi Data selain
Data Kesehatan prioritas.

(2)

Muatan Data lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan


dengan Keputusan Menteri.

BAB III
PENYELENGGARAAN KOMUNIKASI DATA
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 9
(1)

Sumber data wajib menyampaikan Muatan Data melalui


penyelenggaraan I6munikasi Data.

(2)

Penyelenggaraan Komunikasi Data sebagaimana dimaksud pada ayat


(1) terdiri atas kegiatan:
a. pengumpulan, pengisian, dan pelaporan Muatan Data;
b. pengelolaan database dan
c penggunaan data dan informasi.

Bagian Kedua
Pengumpulan, Pengisian, dan Pelaporan Muatan Data
Pasal 10
(1)

Pengumpulan Da.ta Kesehatan prioritas dilakukan oleh dinas


kesehatan kabupaten/ kota.

(2)

Pengisian dan pengajuan Data Kesehatan prioritas ke dalam Aplikasi


Komunikasi Data dilakukan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota.

(3) Pengisian . .

MENTERI KESE!-!K-AN
REPUBLIK INDONESA

-7(3 ) Pengisian dan pengajuan Data Kesehatan prior'itas sebagaimana


dimaksud pada ayat (2) dilakukan paling lambat:
a. tanggal 10 pada bulan berikutnya untuk pelaporan data bulanan;
b. tanggal 10 pada bulan pertama triwulan berikutnya untuk
pelaporan data triwulanan; atau
c. tanggal 10 pada bulan pertama tahun berikutnya untuk pelaporan
data tahunan.
Pasal 11
(1) Data Kesehatan i prioritas yang- telah diisi ke dalam Aplikasi
Komunikasi Data rharus divalidasi dan diverifikasi.
(2) Validasi Data Kesehatan prioritas sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan oleh dinas kesehatan provinsi untuk melihat kualitas
Muatan Data dalam rangka menyetujui atau tidak menyetujui.
(3)

Validasi Data Kesehatan prioritas dilakukan paling lambat:


a. tanggal 15 pada bulan berikutnya untuk pelaporan data bulanan;
b. tanggal 15 pada bulan pertama triwulan berikutnya untuk
pelaporan data triwulanan; atau
c. tanggal 15 pada bulan pertama tahun berikutnya untuk pelaporan
data tahunan.

(4) Dalam hal validasi Data Kesehatan prioritas disetujui, Data


Kesehatan prioritas akan tersimpan dalam server
database
Kementerian.
(5) Dalam hal validasi Data Kesehatan prioritas tidak disetujui, dinas
kesehatan kabupaten/kota melakukan perbaikan Data Kesehatan
prioritas.
(6) Perbaikan Data Kesehatan prioritas sebagaimana dimaksud pada ayat
( 5) dilakukan untuk memperbaiki ketidakakuratan,
ketidakkonsistenan, dan/atau kesalahan lain dari Muatan Data yang
telah diajukan dalarn Aplikasi Komunikasi Data.
(7)

Perba.ikan Data Kesehatan prioritas dapat dilakukan sebelum atau


sesudah validasi oleh dinas kesehatan provinsi.
Pasal 12

(1) Verifikasi Data Kesehatan prioritas dilaku.kan oleh pengelola program


kesehatan di Kementerian.

(2) Verifikasi . . .

ME-NTERI KESE!..4:ATAN
REPUBLIK

-8(2) Verifikasi Data Kesehatan prioritas dilakukan paling lambat:


a. tanggal 18 pada bulan berikutnya untuk pelaporan data bulanan;
b. tanggal 18 pada bulan pertama triwulan berikutnya untuk
pelaporan data triwulanan; atau
c. tanggal 18 pada bulan pertama tahun berikutnya untuk pelaporan
data tahunan.
(3) Dalam hal verifikasi Data Kesehatan prioritas yang telah disetujui,
Data Kesehatan prioritas menjadi data resmi Kementerian.
(4) Dalam hal verifikasi Data Kesehatan prioritas tidak disetujui, dinas
kesehatan kabupaten/kota melakukan perbaikan Data Kesehatan
prioritas.

Pasal 13
(1)

Kegiatan pengumpulan, pengisian, dan pelaporan Data Kesehatan


prioritas dilakukan secara rutin sesuai periodisasi pelaporan data.

(2)

Periodisasi pelaporan Data Kesehatan prioritas sebagaimana


dirnaksud pada ayat (1) terdiri atas bulanan, triwulanan, dan
tahunan.
Pasal 14

Ketentuan mengenai pengumpulan, pengisian, dan pelaporan Muatan


Data lain.nya ditetapkan dengan Keputusan Menteri.

Bagia.n Ketiga
Pengelolaan Database
Pasa.1 15
(1)

IVIodel arsitektur database yang dikembangkan dalam Aplikasi


Komunikasi Data adalah sentralisasi database.

(2)

Sentralisasi database sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


merupakan database untuk menampung data yang dikelola Aplikasi
Komunikasi Data terpusat pada server database di Kementerian.

Pasal 16 . . .

KESEHATAN
R~p ISUK !NDONEcz!A

-9Pasal 16
(1)

Pengelolaan database dari Aplikasi Komunikasi Data dilakukan


melalui:
a. updating;
b. kompilasi atau rekapitulasi;
c. penyiapan data aktif (data update/ mutakhir) yang mudah
diakses; dan
d. pemeliharaan database.

(2) Pemeliharaan database sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d


dilakukan dengan cara:
a. membuat cadangan data atau melakukan back-up data secara
rutin; dan
b. menjaga keamanan dan integritas data.
Bagian Keempat
Penggunaan Data dan Informasi
Pasal 17
(1)

Muatan Data dapat digunakan secara terbuka dan tertutup.

(2)

Muatan Data yang dapat digunakan secara terbuka sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) merupakan data yang telah diolah dan dapat
diakses oleh masyarakat.

(3)

Muata.n Data yang dapat digunakan secara tertutup sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) merupakan data mentah yang hanya dapat
diakses oleh Kementerian, dinas kesehatan provinsi dan dinas
kesehatan kabupaten/kota;

(4)

Da.lam keadaan tertentu, Muatan Data yang dapat digunakan secara


tertutup sebagairnima dimaksud pada ayat (3) dapat digunakan oleh
masyarakat setelah i'nendapat izin dari pengelola Komunikasi Data di
Kementerian dengan mempertimbangkan aspek kerahasiaan
informasi dan kepentingan bagi pengguna data.

(5)

Izin penggunaan. Muatan Data tertutup sebagaimana dimaksud pada


ayat (4) dapat diberikan setelah pengguna data mengajukan surat
permohonan resmi ke pengelola Komunikasi Data di Kementerian
denga.n menjelaskan alasan kebutuhan penggunaan data.

Pasal 18 . . .

ViENTER:-KESE.--W'"AN
REPUSJIK

- 10 Pasal 18
(1)

Dalam rangka meningkatkan penggunaan data dan informasi yang


berasal dari Aplikasi Komunikasi Data, dibangun modul penyajian
data dan informasi.

(2)

Modul penyajian data dan informasi sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) merupakan bagian dari sistem pendukung keputusan.
Pasal 19

(1)

Penggunaan informasi oleh publik yang bersumber dari Muatan Data


harus mencantumkan sumber data.

(2)

Penggunaan informasi oleh publik yang bersumber dari Muatan Data


harus menaati ketentuan mengenai kerahasiaan informasi dan hak
atas kekayaan intelektual, sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
BAB IV
PENGORGANISA SIAN
Bagian Kesatu
Penyelenggara Komunikasi Data
Pasal 20

(1)

Penyelenggara Komunikasi Data di kabupaten/kota adalah dinas


kesehatan kabupaten/kota.

(2)

Dalam rangka penyelenggaraan Komunikasi Data, Kepala Dinas


Kesehatan Kabupaten/Kota membentuk tim pengelola Komunikasi
Data tingkat kabupaten/kota.

(3)

Tim pengelola Komunikasi Data tingkat kabupaten/kota sebagaimana


dimaksud pada ayat (2) terdiri atas:
a.

penanggung jawab adalah Kepala Dinas Kesehatan


Kabupaten/ Kota;

b.

koordinator adala.h sekretaris/kepala bagian/kepala. bidang dinas


kesehatan kabupaten/kota yang memiliki tugas dan fungsi
pengelolaan data dan informasi;

c. sekretaris . . .

MENTEi KESEHATAN
REPUBLIK INDONESA

c.

pada
kepala
subbagian/ subbidang
adalah
sekretaris
bagian/bidang dinas kesehatan kabupaten/kota yang memiliki
tugas dan fungsi pengelolaan data dan informasi; dan

d.

anggota:
1. unsur teknis adalah staf yang berasal dari masing-masing
bagian/bidang pada dinas kesehatan kabupaten/kota; dan
2. 2 (dua) orang operator yang terdiri dari staf yang berasal dari
masing-maising bagian/bid ang pada dinas kesehatan
kabupaten/lmta.
.

(4) Tim pengelola Komunikasi Data tirigkat kabupaten/kota sebagaimana


dimaksud pada ayat (3) memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai
berikut:
a.

penanggung jawab bertugas dan bertanggung jawab atas


keseluruhan penyelenggaraan Komunikasi Data di tingkat
kabupaten / kota;

b.

koordinator bertugas dan bertanggung jawab dalam


dan
mengendalikan
mengoordinasikan
penyelenggaraan
Komunikasi Data di tingkat kabupaten/kota;

c.

sekretaris bertugas dan bertanggung jawab dalam memberikan


dukungan administrasi penyelenggaraan Komunikasi Data; dan

d.

anggota:
1. unsur teknis bertugas dan bertanggung jawab dalam
menyiapkan data, melakukan pengolahan, dan analisis data,
serta telaahan hasil analisis; dan
2. operator bertugas dan bertanggung jawab dalam melakukan
pengisian dan mengunduh data.
Pasal 21

Penyelenggara Komunikasi Data di provinsi adalah dinas kesehatan


provinsi.
Dalam rangka penyelenggaraan Komunikasi Data, Kepala Dinas
Kesehatan Provinsi membentuk tim pengelola Kornunikasi Data
tingkat provinsi.
Tim pengelola Komunikasi Data tingkat provinsi sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) terdiri atas:
a. penanggung jawab adalah Kepala Dinas Kesehatan Provinsi;

b. koordinator . . .

KESE'r:ATAN:
REPJ=3LIK IN3ONES!A

- 12 b.

koordinator adalah kepala bagian/bidang dinas kesehatan


kabupaten/kota yang memiliki tugas dan fungsi pengelolaan data
dan informasi;

c.

pada
kepala
subbagian/ subbidang
adalah
sekretaris
bagian/bidang dinas kesehatan kabupaten/kota yang memiliki
tugas dan fungsi pengelolaan terhadap data dan informasi; dan

d.

anggota:
1. unsur teknis adalah staf yang berasal dari masing-masing
bagian/bidang pada dinas kesehatan provinsi; dan
2. 2 (dua) orang operator yang terdiri dari staf yang berasal dari
masing-masing bagian/bidang pada dinas kesehatan provinsi.

(4) Tim pengelola Komunikasi Data tingkat provinsi dengan tugas dan
tanggung jawab sebagai berikut:
a. penanggung jawab bertugas dan bertanggung jawab atas
keseluruhan penyelenggaraan Komunikasi Data di tingkat
provinsi;
dalam
b. koordinator bertugas dan bertanggung jawab
penyelenggaraan
mengendalikan
dan
mengoordinasikan
Komunikasi Data di tingkat provinsi;
c.

sekretaris bertugas dan bertanggung jawab dalam memberikan


dukungan administrasi penyelenggaraan Komunikasi Data; dan

d.

anggota:
1. unsur teknis bertugas dan bertanggung jawab dalam
menyiapkan data, melakukan pengolahan dan analisis data
serta telaahan hasil analisis; dan
2. operator bertugas dan bertanggung jawab melakukan
pengisian dan mengunduh data.
Pasal 22

(1)

Penyelenggaraan Komunikasi Data di Kementerian dikoordinasikan


dan difasilitasi oleh satuan kerja di Kementerian yang bertanggurig
jawab dalam pengelolaan data dan informasi.

(2)

Penyelenggaraan Komunikasi Data di Kementerian sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) didukung oleh seluruh pengelola program
kesehatan di Kementerian sesuai dengan peran dan tanggung
jawabnya masing-masing.

Pasal 23 . . .

MENTER: KESEHATAN,
REPURLK

- 13 Pasal 23
(1)

Untuk rneningkatkan kompetensi tenaga operator Komunikasi Data


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (4) huruf d angka 2 dan
Pasal 21 ayat (4) huruf d angka 2, dilakukan pelatihan.

(2)

Pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan


sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bagian Kedua
Tanggung Jawab Penyelenggara Komunikasi Data
Pasal 24

Dinas kesehatan kabupaten/kota bertanggung jawab sebagai berikut:


a.

membentuk tim pengelola Komunikasi Data tingkat kabupaten/kota;

b.

menyusun dan menetapkan mekanisme kerja tim pengelola


Komunikasi Data di internal dinas kesehatan kabupaten/kota;

c.

menyediakan dukungan pembiayaan untuk penyelenggaraan


Komunikasi Data;

d.

melakukan sosialisasi dan advokasi internal kepada para pimpinan di


dinas kesehatan kabupaten/kota, rumah sakit, unit pelaksana teknis
daerah lainnya, dan puskesmas di wilayah kerjanya, serta melakukan
sosialisasi dan advokasi. eksternal kepada jajaran pemerin.tah
kabupaten/kota termasuk sektor lain;

e.

melakukan pembinaan pengumpulan data kepada fasilitas pelayanan


kesehatan;

f.

melakukan pengelolaan data di tingkat kabupaten/kota mulai dari


pengumpulan, penisian, dan pengajuan data, serta perbaikan data;

g.

mengoperasikan dan memelihara infrastruktur jaringan komputer dan


peralatan pendukung lainnya; dan

h.

mengoptimalkan pemanfaatan Jaringan SIKNAS.


Pasal 25

Dinas Kesehatan Provinsi bertanggung jawab dalam hal:


a.

membentuk tim pengelola Komunikasi Data tingkat provinsi;

b.

rrienyusun dan menetapkan mekanisme kerja tim pengelola


Komunikasi Data di internal dinas kesehatan provinsi;

c. menyediakan . . .

MENT.Ri KESEF-ATAN
REPUBLIK ENDONES!A

- 14 c.

menyediakan dukungan pembiayaan untuk penyeleng -garaan


Komunikasi Data;

d.

melakukan sosialisasi dan advokasi internal kepada para pimpinan di


dinas kesehatan provinsi, rumah sakit, unit pelaksana teknis daerah
lainnya, dan dinas kesehatan kabupaten/kota di wilayahnya, serta
melakukan sosialisasi dan advokasi eksternal kepada jajaran
pemerintah provinsi termasuk sektor lain utamanya yang berkaitan
dengan sumber data di tingkat provinsi;

e.

melakukan pelatihan bagi petugas pengelola Komunikasi Data dinas


kesehatan kabupaten/kota;

f.

mengoperasikan dan memelihara infrastruktur jaringan komputer dan


peralatan pendukung lainnya;

g.

melakukan pengelolaan data di tingkat provinsi berupa validasi,


umpan balik, dan pemantauan/monitorin.g pengelolaan data di tingkat
kabupaten / kota;

h.

melakukan bimbingan tekni.s kepada kabupaten/kota di wilayah


fl
kerj anya; dan

i.

mengoptimalkan pemanfaatan Jaringan SIKNAS.


Pasal 26

Satuan kerja di Kementerian yang bertanggungjawab dalam pengelolaan


data dan informasi bertanggung jawab:
a.

menyusun rencana pengembangan Komunikasi Data dan Jaringan


SIKNAS;

b.

rnembangun dan mengembangkan Komunikasi Data dan Jaringan


SIKNAS; dan

c.

menyelenggarakan Komunikasi Data.


Pasal 27

Pengelola program kesehatan di Kementerian bertanggung jawab:


a. merumuskan Muatan Data untuk Komunikasi Data;
b.

melakukan verifikasi dan umpan balik data yang diisi ke dalam


Aplikasi Komunikasi Data;

c.

melakukan pembinaan dan pengawasan kepada pengelola prograrn


kesehatan di provinsi dan kabupaten/kota sesuai jenis program
kesehatan yang menjadi binaannya;

d. melakukan . . .

MENT.ERI-KESEHATTAN
REPUBUK iNDONES:A

- 15 d.

melakukan analisis data sesuai dengan tugas dan furigsinya; dan

e.

melakukan koordinasi dengan unit terkait.


BAB V
PERANGKAT KOMUNIKASI DATA
Pasal 28

(1)

Penyampaian Muatan Data dalam penyelenggaraan Komunikasi Data


menggunakan sarana atau perangkat teknologi informasi.

(2)

Sarana atau perangkat teknologi informasi sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) terdiri atas perangkat keras dan perangkat lunak.
Pasal 29

(1)

Perangkat keras sebagaimana dirnaksud dalam Pasal 28 ayat (2)


berupa perangkat komputer dan jaringan Komunikasi Data/Jaringan
S1KNAS.

(2)

Jaringan SIKNAS sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


menghubungkan kantor dinas kesehatan kabupaten/kota, kantor
dinas kesehatan provinsi, dan institusi kesehatan lainnya, serta
kantor Kementerian.

(3)

Jaringan SIKNAS sebagaimana dimaksud pada ayat (2) difasilitasi


oleh Kementerian.
Pasal 30

(1)

Perangkat lunak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2)


adalah Aplikasi Komunikasi Data.

(2)

Aplikasi Komunikasi Data dapat diakses melalui alamat


www.komdat.kemkes. go .id .
BAB VI
PENGEMBANGAN KOMUNIKASI DATA
Pasal 31

(1) Untuk meningkatkan penyelenggaraan Komunikasi Data, dilakukan


pengembangan Komunikasi Data yang berdasarkan evaluasi dan
kajian.
(2) Pengembangan . .

m
REPUSL.K

- 16 (2) Pengembangan Komunikasi Data sebagaimana dimaksud pada ayat


(1) meliputi pengembangan infrastruktur dan aplikasi, tenaga
pengelola, prosedur penyelenggaraan, dan hal lain yang terkait.
BAB VII
PENDANAAN PENYELENGGARAAN KOMUNIKASI DATA
Pasal 32
(1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab terhadap
pendanaan penyelenggaraan Komunikasi Data.
(2) Alokasi dana untuk Penyelenggaraan Komunikasi Data sebagaimana
dirnaksud pada ayat (1) digunakan untuk pembangunan,
pengembangan, operasional, dan pemeliharaan Komunikasi Data.
(3) Alokasi dana pembangunan dan pengembangan Komunikasi Data
sebagairnana dima.ksud pada ayat (2) meliputi dana untuk
penyusunan sistem, pengadaan perangkat, pengembangan tenaga
pengelola, dan kegiatan lainnya yang terkait.
(4) Alokasi dana opera.sional Sistem Informasi Kesehatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) meliputi dana operasional untuk
pengumpulan, pengolahan, analisis data, penyajian dan diseminasi
data dan informasi, dan biaya operasional untuk Komunikasi Data.
(5)

Alokasi dana pemeliharaan Kornunikasi Data sebagaimana dimaksud


pada ayat (2) meliputi dana untuk pemeliharaan data, pemeliharaan
perangkat, dan kegiatan pemeliharaan lainnya yang terkait.
Pasal 33

(1)

Pendanaan penyelenggaraan Komunikasi Data yang dikelola oleh


Kemeriterian bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara dan/atau sumber lain yang sah sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

(2)

Pendanaan penyelenggaraan Komunikasi Data yang dikelola oleh


dinas kesehatan kabupaten/kota dan dinas kesehatan provinsi
bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan/atau
sumber lain yang
sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.

BAB VIII . . .

MENTE.R".
R.EPI.J9,1_!K 1N3ONES;A

- 17 BAB VIII
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Pasal 34
(1) Menteri, Gubernur, dan Bupati/Walikota melakukan pembinaan dan
pengawasan terhadap penyelenggaraan Komunikasi Data sesuai
tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing.
(2) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditujukan untuk:
a. meningkatkan mutu penyelenggaraan Komunikasi Data; dan
b. mengembangkan Komunikasi Data yang efisien dan efektif.
( 3 ) Pembina.an dan pengawasan sebagaimana dirnaksud pada ayat (1)
dilaksanakan melalui:
a. advokasi dan sosialisasi;
b. pendidikan dan pelatihan; dan/atau
c. pemantauan dan evaluasi.
Pasal 35
(1)

Dalam melakukan pembinaan dan pengawasan sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 34, Menteri dapat memberikan sanksi
administratif.

(2)

Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat


berupa:
a. teguran lisan; dtajz
b. teguran tertulis.
BAB IX
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 36

F'ada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, penyelenggaraan sistem


pelaporan atau Komunikasi Data yang dilakukan oleh dinas kesehatan
k:abupaten/kota, dinas kesehatan provinsi, da . n Kementerian harus
menyesuaikan dengan ketentuan Peraturan .Menteri ini paling lambat 2
(dua) tahun sejak Peraturan Menteri ini diundangkan.

Pasal 37 . . .

MENTER KESP:-':ATAN
RE.P. UBLK ;NDON-S!A

- 18 Pasal 37

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.


Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara
Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 1 Desember 2014

itret

KESEHATAN
'INDONESIA,

ji \1

OELOEK

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 23 Desember 20 4
MENTERI HUKUM DAN H
REPU IK I DO >4E

- A MANUSIA

Y 0 NA H. LAOLY

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2014 NOMOR 1.954