Anda di halaman 1dari 14

BAB I

TINJAUAN TEORI

A. PENGERTIAN
Istilah hernia berasal dari bahasa Latin, yaitu herniae, yang berarti penonjolan isi
suatu rongga melalui jaringan ikat tipis yang lemah pada dinding rongga. Dinding rongga
yang lemah itu membentuk suatu kantong dengan pintu berupa cincin. Gangguan ini
sering terjadi di daerah perut dengan isi yang keluar berupa bagian dari usus (Giri Made
Kusala, 2009).
Menurut Syamsuhidayat (2004), hernia adalah prostrusi atau penonjolan isi suatu
rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga yang bersangkutan. Pada
hernia abdomen, isi perut menonjol melalui defek atau bagian lemah dari lapisan
muskulo aponeurotik dinding perut. Hernia terdiri atas cincin, kantong, dan isi hernia.
Hernia adalah kelemahan dinding otot abdominal yang melewati sebuah segmen dari
perut atau struktur abdominal yang lain yang menonjol. Hernia dapat juga menembus
melewati beberapa defect yang lain di dalam dinding abdominal, melewati diafragma,
atau melewati struktur lainnya di rongga abdominal. (Ignatavicius, Donna, et.All.
Medical Surgical Nursing. Philadelphia: W.B SaundersCompany,2000)
Hernia adalah menonjolnya suatu organ atau struktur organ dari tempatnya yang
normal melalui sebuah defek Kongenital atau yang di dapat. Hernia adalah defek dalam
dinding abdomen yang memungkinkan isi abdomen (seperti Peritoneum, lemak, usus
atau kandung kemih) memasuki defek tersebut, sehingga timbul kantong berisikan materi
abnormal. (dr. Jan Tambayong, Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta : EGC,2000)
Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian
lemah dari dinding rongga bersangkutan yang terdiri atas cincin, kantong, dan isi Hernia.
(Syamsul Hidayat R. dan Wim De Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi Revisi. Jakarta:
EGC,2005)

B. ETIOLOGI

Menurut Giri Made Kusala (2009), hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya hernia
adalah :
a. Umur
Penyakit ini dapat diderita oleh semua kalangan tua, muda, pria maupun wanita. Pada
Anak anak penyakit ini disebabkan karena kurang sempurnanya procesus vaginalis
untuk menutup seiring dengan turunnya testis. Pada orang dewasa khususnya yang telah
berusia lanjut disebabkan oleh melemahnya jaringan penyangga usus atau karena adanya
penyakit yang menyebabkan peningkatan tekanan dalam rongga perut (Giri Made
Kusala, 2009).
b. Jenis Kelamin
Hernia yang sering diderita oleh laki laki biasanya adalah jenis hernia Inguinal.
Hernia Inguinal adalah penonjolan yang terjadi pada daerah selangkangan, hal ini
disebabkan oleh proses perkembangan alat reproduksi. Penyebab lain kaum adam lebih
banyak terkena penyakit ini disebabkan karena faktor profesi, yaitu pada buruh angkat
atau buruh pabrik. Profesi buruh yang sebagian besar pekerjaannya mengandalkan
kekuatan otot mengakibatkan adanya peningkatan tekanan dalam rongga perut sehingga
menekan isi hernia keluar dari otot yang lemah tersebut (Giri Made Kusala, 2009).
c. Penyakit penyerta
Penyakit penyerta yang sering terjadi pada hernia adalah seperti pada kondisi
tersumbatnya saluran kencing, baik akibat batu kandung kencing atau pembesaran
prostat, penyakit kolon, batuk kronis, sembelit atau konstipasi kronis dan lain-lain.
Kondisi ini dapat memicu terjadinya tekanan berlebih pada abdomen yang dapat
menyebabkan keluarnya usus melalui rongga yang lemah ke dalam kanalis inguinalis.
d. Keturunan
Resiko lebih besar jika ada keluarga terdekat yang pernah terkena hernia.
e. Obesitas
Berat badan yang berlebih menyebabkan tekanan berlebih pada tubuh, termasuk di
bagian perut. Ini bisa menjadi salah satu pencetus hernia. Peningkatan tekanan tersebut
dapat menjadi pencetus terjadinya prostrusi atau penonjolan organ melalui dinding organ
yang lemah.
f. Kehamilan
Kehamilan dapat melemahkan otot di sekitar perut sekaligus memberi tekanan
lebih di bagian perut. Kondisi ini juga dapat menjadi pencetus terjadinya hernia.
g. Pekerjaan
Beberapa jenis pekerjaan yang membutuhkan daya fisik dapat menyebabkan
terjadinya hernia. Contohnya, pekerjaan buruh angkat barang. Aktivitas yang berat dapat
mengakibatkan peningkatan tekanan yang terus-menerus pada otot-otot abdomen.

Peningkatan tekanan tersebut dapat menjadi pencetus terjadinya prostrusi atau


penonjolan organ melalui dinding organ yang lemah.
h. Kelahiran prematur
Bayi yang lahir prematur lebih berisiko menderita hernia inguinal daripada bayi
yang lahir normal karena penutupan kanalis inguinalis belum sempurna, sehingga
memungkinkan menjadi jalan bagi keluarnya organ atau usus melalui kanalis inguinalis
tersebut. Apabila seseorang pernah terkena hernia, besar kemungkinan ia akan
mengalaminya lagi.(Giri Made Kusala, 2009).
C. PATOFISIOLOGI
Menurut Long C, Barbara, Perawatan Medikal Bedah, Jilid 2,1996. Hernia
diklasifikasikan menurut lokasi di mana mereka muncul. Sekitar 75% dari Hernia terjadi
di pangkal paha. Ini juga dikenal sebagai Hernia Inguinalis atau Femoralis. Sekitar 10%
adalah Hernia Ventral atau insisional dinding abdomen, 3% adalah Hernia Umbilikalis.
Hernia Inguinalis dibagi lagi menjadi Hernia direct dan Hernia indirect. Hernia
Inguinalis indirect yang paling jenis umum dan biasanya mempengaruhi laki-laki. Hernia
Inguinalis indirect disebabkan oleh penutupan saluran yang berkembang sebagai testis
turun ke dalam skrotum sebelum kelahiran. Sebuah kantung yang berisi peritoneum,
usus, atau omentum muncul melalui cincin Inguinalis dan mengikuti spermatika kabel
melalui Kanalis Inguinalis. Sering turun ke dalam skrotum. Meskipun tidak langsung
Hernia inguinalis cacat bawaan, mereka seringkali tidak menjadi jelas sampai dewasa,
ketika peningkatan tekanan intra-abdomen dan pelebaran dari cincin inguinalis
memungkinkan isi perut untuk memasuki saluran tersebut.
Hernia Inguinalis direct selalu cacat yang diperoleh hasil dari kelemahan dinding
Inguinal posterior. Hernia Inguinalis langsung terjadi lebih sering pada orang dewasa
yang lebih tua. Hernia Femoral cacat juga diperoleh di mana kantung peritoneal
menonjol melalui cincin femoral. Hernia ini biasanya terjadi pada obesitas atau wanita
hamil.
Hernia Inguinalis seringkali tidak menghasilkan gejala dan ditemukan selama
pemeriksaan fisik rutin. Hanya mungkin menghasilkan benjolan, bengkak, atau tonjolan
di selangkang, terutama dengan mengangkat atau tegang. Pasien laki-laki biasanya
terdapat pengalaman baik nyeri atau rasa nyeri yang memancar\Collaborative Care ke
dalam skrotum, meskipun hanya dapat dirasakan dengan peningkatan tekanan intra-

abdomen (seperti yang terjadi selama batuk) dan dalam vagina dari skrotum ke arah
cincin inguinal.
Jika Hernia Inguinalis dapat dikembalikan, isi kantung kembali ke rongga perut,
baik secara spontan sebagai tekanan intra-abdomen berkurang (seperti dengan berbaring)
atau dengan tekanan manual. Beberapa komplikasi yang terkait dengan Hernia direduksi.
Bila isi hernia tidak dapat dikembalikan ke rongga perut, itu dikatakan dapat
diminimalkan atau dipenjara. Isi Hernia yang dipenjara terjebak, biasanya dengan leher
yang sempit atau membuka ke hernia. Penahanan meningkatkan risiko komplikasi,
termasuk obstruksi dan cekikan. Obstruksi terjadi ketika lumen usus yang terkandung
dalam hernia menjadi tersumbat, sangat mirip dengan Crimping dari sebuah selang.
Jika suplai darah ke isi Hernia terganggu, hasilnya adalah Hernia terjepit.
Komplikasi ini dapat mengakibatkan infark usus yang terkena bencana dengan rasa sakit
yang parah dan perforasi dengan kontaminasi dari rongga peritoneal. Perwujudan dari
sebuah Hernia terjepit meliputi nyeri dan distensi perut, mual, muntah, takikardia, dan
demam.
Pembedahan sering dilakukan terhadap Hernia yang besar atau terdapat resiko
tinggi untuk terjadi inkarserasi. Suatu tindakan Herniorrhaphy terdiri atas tindakan
menjepit defek di dalam Fascia. Akibat dan keadaan post operatif seperti peradangan,
edema dan perdarahan, sering terjadi pembengkakan skrotum. Setelah perbaikan Hernia
Inguinal indirek. Komplikasi ini sangat menimbulkan rasa nyeri dan pergerakan apapun
akan membuat pasien tidak nyaman, kompres es akan membantu mengurangi nyeri
(Long C, Barbara, Perawatan Medikal Bedah, Jilid 2,1996)

D.PATHWAY HERNIA

Adanya tekanan

Aktivitas berat

Hernia

Hernia umbilikalis
konginetal

Hernia para
umbilikalis

Hiatus
Hernia

Hernia
Insisional

Hernia
Inguinalis

Kantung hernia
Keluar
melalui umbilikalis

Kantung
Hernia
Melewati
Dinding
Abdomen

Kantung
hernia
memasuki
rongga
thorak

Kantung
hernia
memasuki
celah bekas
insisi

Kantung hernia
memasuki celah
inguinal
Terdorong lewat
Dinding posterior
Canalis inguinal
Yg lemah
Benjolan pd regio
Inguinal
Diatas ligamentum
Inguinal mengecil
Bila berbaring

Pembedahan
Insisi bedah
Resti perdarahan
Resti infeksi

Asupan gizi kurang

Mual

Terputusnya
Jaringan
Syaraf

Peristaltik usus
Menurun

Nafsu makan
Menurun

Nyeri

Intake maknan
inadekuat
G3 eliminasi

G3 rasa nyaman

Nutrisi kurang
dari kebut.tubuh

E. MANIFESTASI KLINIK
Menurut Arief Mansjoer (2004), manifestasi klinis dari hernia adalah sebagai berikut :
1. Adanya benjolan (biasanya asimptomatik)
Keluhan yang timbul berupa adanya benjolan di daerah inguinal dan atau skrotal
yang hilang timbul. Timbul bila terjadi peningkatan tekanan intra peritoneal misalnya
mengedan, batuk-batuk, tertawa, atau menangis. Bila klien tenang, benjolan akan hilang
secara spontan.
2. Nyeri
Keluhan nyeri pada hernia ini jarang dijumpai, kalaupun ada dirasakan di daerah
epigastrium atau para umbilikal berupa nyeri viseral akibat regangan pada mesenterium
sewaktu satu segmen usus halus masuk ke dalam kantung hernia (Jennifer, 2007). Bila
usus tidak dapat kembali karena jepitan oleh anulus inguinalis, terjadi gangguan
pembuluh darah dan gangguan pasase segmen usus yang terjepit. Keadaan ini disebut
hernia strangulata. Secara klinis keluhan klien adalah rasa sakit yang terus menerus.
3. Gangguan pasase usus seperti abdomen kembung dan muntah
Tanda klinik pada pemeriksaan fisik bergantung pada isi hernia. Pada Inspeksi :
saat klien mengedan dapat dilihat hernia inguinalis lateralis muncul sebagai penonjolan
diregio ingunalis yang berjalan dari lateral atas ke medial bawah. Palpasi: kantong
hernia yang kosong dapat diraba pada funikulus spermatikus sebagai gesekan dari dua
lapis kantong yang memberikan sensasi gesekan dua permukaan sutera. Tanda ini
disebut tanda sarung tangan sutera, tetapi umumnya tanda ini sukar ditentukan. Kalau
kantong hernia berisi organ maka tergantung isinya, pada palpasi mungkin teraba usus,
omentum ( seperti karet ), atau ovarium.Dengan jari telunjuk atau jari kelingking pada
anak kecil, dapat dicoba mendorong isi hernia dengan menonjolkan kulit skrotum
melalui annulus eksternus sehingga dapat ditentukan apakah isi hernia dapat direposisi
atau tidak. Apabila hernia dapat direposisi, pada waktu jari masih berada dalam annulus
eksternus, klien diminta mengedan. Kalau hernia menyentuh ujung jari, berarti hernia
inguinalis lateralis, dan kalau samping jari menyentuh menandakan hernia inguinalis
medialis. Isi hernia pada bayi wanita yang teraba seperti sebuah massa yang padat
biasanya terdiri dari ovarium.
F. KOMPLIKASI
a. Hernia berulang,

b. Kerusakan pada pasokan darah, testis atau saraf jika pasien laki-laki,
c. Pendarahan yang berlebihan / infeksi luka bedah,
d. Luka pada usus (jika tidak hati-hati),
e. Setelah Herniografi dapat terjadi Hematoma,
f. Fostes urin dan feses,
g. Residip,
h. Komplikasi lama merupakan atropi testis karena lesi.
G. KLASIFIKASI
a. Menurut Tofografinya/letaknya : Hernia Inguinalis, Hernia Umbilikalis, Hernia
Femoralis dan sebagainya.
b. Menurut isinya: Hernia usus halus, Hernia omentum, dan sebagainya.
c. Menurut terlibat/tidaknya: Hernia eksterna (Hernia ingunalis, Hernia serofalis dan
sebagainya).
d. Hernia inferna tidak terlihat dari luar (Hernia Diafragmatika, Hernia Foramen Winslowi,
Hernia Obturatoria).
e. Causanya : Hernia Kongenital, Hernia Traumatika, Hernia Visional dan sebagainya.
f. Keadaannya: Hernia responsibilis, Hernia irreponibilis, Hernia inkarserata, Hernia
skrotalis dan Hernia strangulata.
H. PENATALAKSANAAN
a. Pada Hernia Femoralis tindakan operasi kecuali ada kelainan lokal atau umum. Operasi
terdiri atas Herniatomi disusul dengan Hernioplastik dengan tujuan menjepit Anulus
femonialis. Bisa juga dengan pendekatan krural, Hernioplastik dapat dilakukan dengan
menjahitkan Ligamentum Inguinale ke ligamentum cooper. Tehnik Bassini melalui
region Inguinalis, ligamentum inguinale di jahitkan keligamentum lobunase
Gimbernati.
b. Hernia Inguinalis Responsibilis yaitu Herniatomi berupa ligasi Plofesis vaginalis,
soproksimal mungkin dilakukan secara efektif namun secepat mungkin kaena resiko
terjadinya inkarserata.
c. Hernia Inguinalis inkarserata: Pada keadaan ini pasien dipuasakan, pasang NGT, infus
dan disuntik sedaiba sampai pasien tertidur dalam posisi trendelenburg dengan tertidur
tekanan intra peritoneal. (Arif Mansjoer, Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1,2000)

I. TERAPI
a. Pra Operasi:
1. Beri posisi semi-fowler (Hernia Diafragmatik), terlentang (Hernia Femoralis)
2. Lakukan perawatan rutin jalur IV. Puasakan.
3. Hindari melakukan tindakan sendiri.
4. Jaga agar kantong atau Visera tetap lembab.
5. Gunakan tindakan kenyamanan.
b. Pasca Operasi:
1. Lakukan perawatan dan observasi secara rutin
2. Berikan tindakan kenyamanan
3. Dukungan keluarga. (Wong, Wongs nursing care of infant and children. St.
Louis,2004)
Menurut Oswari E. Bedah dan Perawatannya. Jakarta: PT Gramedia,1993. Yaitu:
a. Herniatomi: Melakukan dengan segera bila terdapat Hernia inkarserata, elektif bila
Hernia responibilis. Operasi dengan cara ini dilakukan dengan
pembebasan kantung Hernia sampai kelehernya, kantung dibuka dan isi
Hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian direposisi. Kantung
Hernia di jahit-ikat setinggi mungkin lalu di potong.
b.Herniorrhaphy : Membuang kantong Hernia disertai tindakan bedah plastik untuk
memperkuat dinding perut bagian bawah di belakang Kanalis Inguinalis.

BAB II
KONSEP PERAWATAN

A. Pengkajian
a. Pengumpulan data
1). Identitas klien
Meliputi nama, unsure, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekrjaan, no register,
diagnosa medis, dan tanggal MRS.
2) Keluhan utama
Adanya benjolan di inguinalis masuk bila klien tidur dan klien mengejar, menangis,
berdiri, mual mual, muntah. Bila adanya komplikasi ini menciptakan gejala klinis
yang khas pada penderita HIL
3). Riwayat kesehatan lalu
Biasanya kx dengan HIL akan mengalami penyakit kronis sebelumnya. Missal : adanya
batuk kronis, gangguan proses kencing (BPH).

Kontipasi kronis, ascites yang

semuanya itu merupakan factor predis posisi meningkatnya tekanan intra abdominal.
4). Riwayat kesehatan sekarang
Pada umunya penderita mengeluh merasa adanya benjolan di selangkangan / di daerah
lipatan pada benjolan itu timbul bila penderita berdiri lama, menangis, mengejar waktu
defekasi atau miksi mengangkat benda berat dsb, sehingga ditemukan rasa nyeri pada
benjolan tersebut. Selain itu juga di dapatkan adanya gejala lain seperti mual dan
muntah akibat dari peningkatan tekanan intra abdominal.
5). Riwayat kesehatam keluarga
Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit HIL atau penyakit menular lainnya.
6). Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
Kesadaran, GCS, Vital sigh, bb dan Tb
7). Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
- Analisah slarah, untuk mengetahui jumlah darah seluruhnya Hb faal hemostasis,
dan jumlah lekosit.

-Analisah urin untuk mengetahui adanya infeksi saluran kencing.


b. Pemeriksaan penunjang
- foto thorax, untuk mengetahui keadaan dari jantung dan paru.
- Pemeriksaan ECG, dilakukan pada pasien yang berusia 45 th.

B. Diagnosa Keperawatan
1.
2.
3.
4.

Gangguan rasa nyaman (nyeri) b.d terjepitnya hernia.


Nutrisi kurang dari kebutuhan b.d anoreksia.
Intoleransi aktivitas b. d Kelemahan umum
Ansietas b.d proses pembedahan.

C. Intervensi
1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) b.d terjepitnya hernia.
Tujuan : setelah dilakukan proses keperawatan selama 3 x 24 jam nyeri klien hilang,
erkurang atau terkontrol.
Kriteria Hasil :
TTV normal : (TD : :110/70 120/ 90 mmHg, RR : 16- 20 x/mn, N : 60100x/mnt, S : 36,5- 37,50.C )
klien mengungkapkan rasa nyeri berkurang.
Klien mampu mengendalikan nyeri dengan teknik relaksasi dan distraksi.
Skala nyeri berkurang
Wajah klien tidak meringis kesakitan.
Intervensi :
a).Kaji nyeri secara komprehensif Lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas
dan faktor presipitasi. R : Untuk mengetahui skala nyeri
b).Observasi TTV. R : Untuk mengetahui keadaan umum klien
c).Observasi reaksi nonverbal dari ketidak nyamanan. R : Untuk mengetahui seberapa
nyeri yang dirasakan klien
d). Berikan lingkungan yang tenang. R : Meringankan nyeri dan member rasa tenang
e). Ajarkan teknik non farmakologis (relaksasi, distraksi dll) untuk mengetasi nyeri.
R : Memberikan rasa nyaman pada saat nyeri
f). Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi misalnya morfin , metadon dll. R :
Untuk mempercepat hilangnya nyeri.
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan b.d anoreksia.
Tujuan : Setelah dilakukan proses keperawatan selama 5x24 jam nutrisi terpenuhi.
Kriteria Hasil :
Nafsu makan meningkat
Porsi makan habis
BB Naik
Intervensi :

a). Pastikan pola diet biasa klien, yang disukai atau tidak disukai. R : Membantu
dalam mengidentifikasi kebutuha nutrisi.
b). Awasi masukan dan pengeluaran dan berat badan secara periodi. R : Berguna
dalam mengukur keefektifan pemasukan nutrisi dan dukungan cairan.
c). Dorong makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi kalori dan tinggi
karbohidrat. R : Memaksimalkan masukan nutrisi tanpa kelemahan yang tak
perlu/kebutuhan energi dari makanan banyak dan menurunkan iritasi gaster
d). Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian nutrisi yang dibutuhkan oleh klien.
R : Untuk memenuhi nutrisi dan gizi sesuai dengan kebutuhan klien.
3. Intoleransi aktivitas b. d Kelemahan umum.
Tujuan: Dalam 3 x 24 jam klien mampu melakukan aktivitas seperti biasa.
Kriteria hasil :
Klien nampak berjalan normal
Klien mampu melakukan aktivitas secara mandiri.
Intervensi:
a).Kaji kemampuan untuk berpartisipasi pada aktifitas yang diinginkan atau
dibutuhkan. R : mengidentifikasi kebutuhan individual dan membantu pemilihan
intervensi.
b). Observasi tanda tanda vital sebelum dan sesudah melakukan aktivitas. R : untuk
mengetahui keadaan saat ini klien.
c).Catat respon-respon emosi/perilaku pada mobilisasi. Berikan aktivitas yang
disesuaikan dengan klien. R : immobilitas yang dipaksakan dapat memperbesar
kegelisahan. Aktivitas pengalihan membantu dalam memfokuskan kembali
perhatian klien dan meningkatkan koping dengan keterbatasan tersebut.
d). Anjurkan klien untuk tetap ikut berperan serta dalam aktivitas sehari- hari. R :
partisipasi klien akan meningkatkan kemandirian klien dan perasaan kontrol
terhadap diri.
e). Bantu klien dalam melakukan aktivitas. R : keterbatasan aktivitas bergantung pada
kondisi yang khusus tetapi biasanya berkembang dengan lambat sesuai toleransi.
4. Ansietas b.d proses pembedahan
Tujuan : Setelah dilakukan proses keperawatan selama 1x24 jam Kecemasan klien
berkurang.
Kriteria Hasil :
TTV normal : ( TD : 110/70 120/ 90 mmHg, RR : 16- 20 x/mnt, N : 60-100x/mnt,
S : 36,5- 37,50.C )
Klien mampu menggambarkan ansietas dan pola kopingnya.
Klien mengerti tentang tujuan perawatan yang diberikan
Klien memahami tujuan operasi, pelaksanaan operasi, pasca operasi, prognosisnya
(bila dilakukan operasi).
Intervensi :

a). Kaji tingkat ansietas : ringan, sedang, berat, panik. R : Untuk mengetahui sampai
sejauh

mana

tingkat

kecemasan

klien

sehingga

memu-dahkan

penanganan/pemberian askep se-lanjutnya.


b). Observasi TTV. R : Untuk mengetahui keadaan umum klien.
c). Berikan penjelasan mengenai prosedur perawatan,perjalanan penyakit & prognosisnya. R : Agar klien mengetahui/memahami bahwa ia benar sakit dan perlu
dirawat.
d). Berikan/tempatkan alat pemanggil yang mudah dijangkau oleh klien. R : Agar
klien merasa aman dan terlindungi saat memerlukan bantuan.
e). Kolaborasi dengan tim medis. R : Obat dapat menurunkan tingkat kecemasan klien.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner, dkk. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Volume 2. Jakarta : Buku
Kedokteran EGC
Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan edisi 3. Jakarta : EGC
dr. Jan Tambayong, 2000. Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta : EGC.
dr. Taufan Nugroho, 2011. Kumpulan Asuhan Keperawatan Maternitas, Anak, Bedah dan
Penyakit Dalam. Jakarta:
Hand out. 2007. hospitalisasi. Prodi keperawatan, Semarang.
http:// nugealjamela.blogspot.com, diakses 12 agustus 2010
Ignatavicius, Donna, et.All. 2000. Medical Surgical Nursing. Philadelphia: W.B
SaundersCompany.
John L. Cameron. 1997. Current Surgical Therapy. Jakarta: Binarupa Aksara.
LeMone, and Burke, M.K. 2000. Medical Surgical Nursing:Critical Thinking in ClientCare.
Second Edition. New Jersey: Prentie-Hall,Inc.
Lewis, Heitkemper, Dirksen. 2000. Medical Surgical Nursing: Assessment and Management
of Clinical Problem. Volume 2. Fifth Edition. Mosby.
Lewis, Heitkemper, Dirksen. 2000. Medical Surgical Nursing: Assessment and Management
of Clinical Problem. Volume 2. Fifth Edition. Mosby.
Long C, Barbara, 1996. Perawatan Medikal Bedah, Jilid 2. Jakarta: EGC
Mansjoer, Arief, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1. Jakarta: EGC
Oswari E. 1993. Bedah dan Perawatannya. Jakarta: PT Gramedia.
Seymour I. Schwartz, et.All 2000. Principles of Surgery. Companion handbook. Jakarta:
EGC.
Syamsuhidayat, et.al. 2002. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta : EGC.

Syamsul Hidayat R. dan Wim De Jong, 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi Revisi. Jakarta:
EGC
Tambayong, dr. Jan.2000. Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta : EGC
Wong, 2004. Wongs nursing care of infant and children. St. Louis.

Anda mungkin juga menyukai