Anda di halaman 1dari 47

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN

DENGAN MASALAH SISTEM PENCERNAAN


SEBELUM OPERASI DAN SESUDAH OPERASI HERNIA

DISUSUN OLEH

KELOMPOK 4 :
FRILIAN ERIK JAYADI
RISMAN FIRMANSYAH
SELAMET NURJAMAN
SRI ASTUTI
SOFYAN NURDIN MUCHLIS

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN


POLTEKES YAPKESBI SUKABUMI
2016

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.berkat
karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan penulisan makalah ini yang berjudul ASUHAN
KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN MASALAH HERNIA.
Makalah ini kami susun sesuai dengan kurikulum dan pembahasan perkuliahan sehingga
bisa digunakan sebagai bahan materi untuk membantu kemudahan dalam menerima proses
pembelajaran di dalam kelas.
Dalam penyusunan makalah ini tentu banyak kesalahan kesalahan yang terkandung di
dalamnya baik dari segi isinya maupun kata-katanya bahkan dalam hal penulisan, maka dari itu
kami mohon kritik dan sarannya dari Bapak/Ibu dosen demi perbaikan makalah-makalah kami di
edisi berikutnya.
Terakhir, ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu
dalam pembuatan makalah ini, dan kami ucapkan terima kasih kepada Bapak/Ibu CI atas
bimbingan dan dukungannya selama ini, kami pun mengucapkan terima kasih kepada para
penulis yang tulisannya kami kutip sebagai bahan makalah kami. Kami harap makalah ini dapat
membantu kita semua dalam proses pembelajaran.

Sukabumi, 01 februari 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..
DAFTAR ISI ..
BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang..
1.2. Rumusan Masalah.
1.3.Tujuan Penulisan .
1.4. Manfaat ..
1.5. Sistematika Penulisan ..
BAB II TUJUAN TEORITIS .
2.1. Konsep Dasar .
2.1.1. Pengertian .
2.1.2. Klasifikasi
2.1.3. Etiologi
2.1.4. Anatomi dan Fisiologi ..
2.1.5. Patofisiologis
2.1.6. Komplikasi
2.1.7. Manifestasi Klinis.........
2.2. Konsep Asuhan Keperawatan .
2.2.1. Pengkajian ..
2.2.2. Keperawatan dan Intervensi

BAB III TINJAUAN KASUS


3.1 Pengkajian .
3.2 Analisa Data .
3.3 Daftar Asuhan Keperawatan ..
3.4 Rencana Asuhan Keperawatan
3.5 Pelaksanaan Asuhan Keperawatan .........................................................
3.5 Catatan Perkembangan ..
BAB IV PEMBAHASAN
4.1. Pengkajian
4.2. Diagnosa Keperawatan .
4.3. Perencanaan ..
4.4. Implementasi ..
4.5. Evaluasi ..
BAB V PENUTUP
5.1.Kesimpulan
5.2. Saran .
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pencernaan adalah sebuah proses metabolisme dimana suatu makhluk hidup memproses
sebuah zat dalam rangka untuk mengubah secara kimia atau mekanik sesuatu zat menjadi nutrisi.
Namun, jika proses ini terjadi perubahan maka akan terjadi gangguan pencernaan termasuk
hernia.
Hernia terlihat sebagai suatu tonjolan yang hilang timbul lateral terhadap tuberkulum
pubikum, tonjolan timbul apabila pasien menangis, mengejan, atau berdiri dan biasanya
menghilang secara spontan bila pasien dalam keadaan istirahat atau terlentang.
Insiden hernia pada populasi umum adalah 1%, dan pada bayi prematur 5%.Laki-laki
paling sering terkena (85% kasus).Setengah dari kasus-kasus hernia inguinalis selama kanakkanak terjadi pada bayi di bawah 6 bulan.Hernia pada sisi kanan lebih sering daripada sisi kiri (2:
1).25% pasien menderita hernia bilateral.Sedangkan insiden tertinggi adalah pada masa bayi 9
lebih dari 50%), selebihnya terdapat pada anak-anak yang berusia kurang dari 5 tahun.
Oleh karena itu perlu kiranya mengetahui bagaimana penyakit tersebut sehingga dapat
diputuskan tindakan secara tepat, apalagi insiden yang terjadi pada anak-anak, maka sangat
diperlukan suatu tindakan secara dini dan tepat.
Pada bab selanjutnya akan dibahas lebih detail lagi mengenai hernia meliputi konsep
dasar hernia, pengkajian pada pasien dengan hernia,perumusan diagnosa keperawatan pada
pasien dengan hernia, serta rencana asuhan keperawatan dan implementasi pada pasien dengan
gangguan hernia,

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas , maka penulisan mengambil rumusan masalah sebagai berikut
1. Apa konsep dasar hernia ?
2. Bagaimana pengkajian pada pasien dengan hernia ?
3. Bagaimana merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien dengan gangguan hernia ?

4. Apa rencana asuhan keperawatan dan implementasi pada pasien dengan gangguan hernia?

1.2 Tujuan Penulisan


Dalam penulisan makalah ini, penulis mempunyai tujuan yang terdiri dari tujuan umum
dan tujuan khusus sebagai berikut :

1.2.1 Tujuan Umum


Tujuan umum penulisan makalah ilmiah ini adalah memberikan gambaran mengenai
penerapan asuhan keperawatan pada pasien dengan masalah pencernaan hernia.

1.2.2 Tujuan Khusus


Tujuan khusus penulisan makalah ilmiah ini adalah agar dapat menggambarkan tentang:
1. Konsep dasar hernia,
2. Pengkajian pada pasien dengan hernia
3. Perumusan diagnosa keperawatan pada pasien dengan hernia
4. Rencana asuhan keperawatan dan implementasi pada pasien dengan hernia.

1.4 Manfaat
Makalah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa keperawatan dalam pembelajaran maupun
dalam penerapan asuhan keperawatan di masyarakat.

1.5 Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan dari makalah ini adalah Bab I Pendahuluan terdiri dari :Latar
belakang , rumusan masalah, tujuan penulisan, kegunaan Sistematika penulisan, Bab II Tujuan
Teoritis terdiri dari : Konsep dasar dan konsep asuhan keperawatan, Bab III Tinjauan Kasus, Bab
IV Pembahasan dan Bab V Penutup.

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1

PENGERTIAN
Hernia merupakan protusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian
lemah dari dinding rongga bersangkutan (Sjamsuhidajat, 1997, hal 700).
Hernia adalah penonjolan serat atau ruas organ atau jaringan melalui lubang yang abnormal
(Dorlan, 1994,hal 842)
Hernia adalah keluarnya bagian dalam dari tempat biasanya. Hernia scrotal adalah burut lipat pada
laki-laki yang turun sampai ke dalam kantung buah zakar (Laksman, 2002, hal 153).
Hernia scrotalis merupakan hernia inguinalis lateralis yang mencapai scrotum. ( Sjamsuhidajat,
1997, hal 717 )
Post adalah awalan yang menyatakan setelah atau di belakang. (Dorlan, 1994,hal 1477)
Operasi merupakan pembedahan, setiap tindakan yang dikerjakan oleh ahli bedah, khususnya
tindakan yang memakai alat-alat. (Ramali dan Pamoentjak, 2000, hal 244)
Dextra merupakan istilah yang menyatakan sesuatu yang berada disebelah kanan dari dua struktur
yang serupa atau yang berada disebelah kanan tubuh. (Dorlan, 1994,hal 517)
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa post operasi hernia scrotalis dextra adalah hernia
inguinalis lateralis dimana penonjolan serat atau ruas organ atau jaringan yang melalui defek atau
bagian lemah dari dinding rongga yang bersangkutan mencapai scrotum bagian kanan dan telah
dilakukan tindakan pembedahan oleh ahli bedah.
2.2

KLASIFIKASI
Menurut Sachdeva ( 1996, hal 232-234) menklasifikasikan hernia sebagai berikut ;
1.
Hernia Reponiblis
Hernia yang dapat masuk kembali ketika penderita tidur terlentang atau dapat dimasukkan oleh
penderita atau ahli bedah.
2.
Hernia Ireponiblis
Apabila isinya tidak dapat dikembalikan ke dalam abdomen dan tidak tampak adanya komplikasi.
3.
Hernia Obstruksi
Merupakan hernia ireponiblis yang berisi usus dimana lumennya mengalami onstruksi dari luar
atau adanya gangguan suplai darah dari usus.
4.
Hernia Strangulasi
Hernia akan mengalami strangulasi bila suplai darah terhadap isinya sangat terganggu yang dapat
mengakibatkan gangren.
Adapun tindakan yang digunakan untuk mengatasi hernia ada 2 macam yaitu;
1. Tindakan konservatif
Yaitu tindakan dengan melakukan reposisi dan pemakaian penyangga atau penunjang untuk
mempertahankan isi hernia.
2. Tindakan definitive
Tindakan definitive untuk mengatasi hernia berupa operasi yang dilakukan dibawah anestesi
umum atau spinal. Dengan melakukan insisi pada garis linear di atas kanalis inguinalis yaitu 1 inci
diatas dan sejajar terhadap 2/3 medial ligamentum inguinalis. Adapun prinsip dasar operasi hernia
terdiri dari Herniotomi dan Herniorapi.
a.Herniotomi

Merupakan operasi pemotongan untuk memperbaiki hernia.


b.Herniorapi
Herniorapi yaitu dengan melakukan perbaikan pada dinding posterior tanpa menggunakan bahan
asesoris. Apabila dalam melakukan perbaikan dinding posterior menggunakan bahan asesoris
maka disebut dengan Hernioplasti.

2.3

ETIOLOGI

Hernia scrotalis dapat terjadi karena anomali kongenital atau karena sebab yang didapat
(akuistik), hernia dapat dijumpai pada setiap usia, prosentase lebih banyak terjadi pada pria,
berbagai faktor penyebab berperan pada pembukaan pintu masuk hernia pada anulus internus yang
cukup lebar sehingga dapat dilalui oleh kantung dan isi hernia, disamping itu disebabkan pula oleh
faktor yang dapat mendorong isi hernia melewati pintu yang sudah terbuka cukup lebar tersebut.
Faktor yang dapat dipandang berperan kausal adalah adanya peninggian tekanan di dalam rongga
perut, dan kelemahan otot dinding perut karena usia, jika kantung hernia inguinalis lateralis
mencapai scrotum disebut hernia scrotalis.(Sjamsuhidajat , Jong, 1997, hal 706)
Penyebab lain yang memungkinkan terjadinya hernia adalah:
1.
Hernia inguinalis indirect, terjadi pada suatu kantong kongenital sisa dan prosesus vaginalis.
2.
Kerja otot yang terlalu kuat.
3.
Mengangkat beban yang berat.
4.
Batuk kronik.
5.
Mengejan sewaktu miksi dan defekasi.
6.
Peregangan otot abdomen karena meningkatkan tekanan intra abdomen (TIA) seperti:
obesitas dan kehamilan.
Indikasi pelaksanaan operasi adalah pada semua jenis hernia, hal ini dikarenakan penggunaan
tindakan konservatif hanya terbatas pada hernia umbilikalis pada anak sebelum usia dua tahun dan
pada hernia ventralis. Tindakan operasi dilakukan pada hernia yang telah mengalami stadium
lanjut yaitu;
1.
Mengisi kantong scrotum
2.
Dapat menimbulkan nyeri epigastrik karena turunnya mesentrium.
3.
Kanalis inguinalis luas pada hernia tipe ireponibilis.
Pada hernia reponibilis dan ireponibilis dilakukan tindakan bedah karena ditakutkan terjadinya
komplikasi, sedangkan bila telah terjadi strangulasi tindakan bedah harus dilakukan secepat
mungkin sebelum terjadinya nekrosis usus.
(Sachdeva, 1996, hal 235 236 ; Mansjoer, 2000, hal 315)
2.4 PATOFISIOLOGI
Kanalis inguinalis adalah kanal yang normal pada fetus pada bulan ke-8 kehamilan,
terjadi desensus testis melalui kanal tersebut, akan menarik perineum ke daerah scrotum sehingga
terjadi penonjolan peritoneum yang disebut dengan prosesus vaginalis peritonei, pada bayi yang
baru lahir umumnya prosesus ini telah mengalami obliterasi sehingga isi rongga perut tidak dapat
melalui kanalis tersebut, namun dalam beberapa hal seringkali kanalis ini tidak menutup karena
testis kiri turun terlebih dahulu, maka kanalis inguinalis kanan lebih sering terbuka, bila kanalis

kiri terbuka maka biasanya yang kanan juga terbuka dalam keadaan normal, kanalis yang terbuka
ini akan menutup pada usia 2 bulan.
Bila prosesus terbuka terus (karena tidak mengalami obliterasi) akan timbul hernia inguinalis
lateralis congenital. Pada orang tua kanalis tersebut telah menutup namun karena merupakan lokus
minoris persistence, maka pada keadaan yang menyebabkan tekanan intra abdominal meningkat,
kanalis tersebut dapat terbuka kembali dan timbul hernia inguinalis lateral akuisita. Keadaan yang
dapat menyebabkan peningkatan tekanan intra abdominal adalah kehamilan, batuk kronis,
pekerjaan mengangkat beban berat, mengejan pada saat defekasi, miksi misalnya pada hipertropi
prostate.
Apabila isi hernia keluar melalui rongga peritoneum melalui anulus inguinalis internus yang
terletak lateral dari pembuluh epigastrika inferior kemudian hernia masuk ke dalam hernia kanalis
inguinalis dan jika cukup panjang, menonjol keluar dari anulus inguinalis eksternus, dan bila
berlanjut tonjolan akan sampai ke scrotum yang disebut juga hernia scrotalis.
Tindakan bedah pada hernia dilakukan dengan anestesi general atau spinal sehingga akan
mempengaruhi sistem saraf pusat (SSP) yang berpengaruh pada tingkat kesadran, depresi pada
SSP juga mengakibatkan reflek batuk menghilang. Selain itu pengaruh anestesi juga
mengakibatkan produksi sekret trakeobronkial meningkat sehingga jalan nafas terganggu, serta
mengakibatkan peristaltik usus menurun yang berakibat pada mual dan muntah, sehingga beresiko
terjadi aspirasi yang akan menyumbat jalan nafas.Prosedur bedah akan mengakibatkan hilang
cairan, hal ini karena kehilangan darah dan kehilangan cairan yang tidak terasa melalui paru-paru
dan kulit. Insisi bedah mengakibatkan pertahanan primer tubuh tidak adekuat (kulit rusak, trauma
jaringan, penurunan kerja silia, stasis cairan tubuh), luka bedah sendiri juga merupakan jalan
masuk bagi organisme patogen sehingga sewaktu-waktu dapat terjadi infeksi.Rasa nyeri timbul
hampir pada semua jenis operasi, karena terjadi torehan, tarikan, manipulasi jaringan dan organ.
Dapat juga terjadi karena kompresi / stimulasi ujung syaraf oleh bahan kimia yang dilepas pada
saat operasiatau karena ischemi jaringan akibat gangguan suplai darah ke salah satu bagian, seperti
karena tekanan, spasmus otot atau hematoma.
(Mansjoer, 2000, hal 314 ; Sjamsuhidajat,1997, hal 704 ; Long,1996,
hal 55 82).
2.1.4 ANATOMI DAN FISOLOGI

Otot-otot dinding perut dibagi empat yakni m. rectus abdominis, m. obliqus abdominis internus,
m. transversus abdominis. Kanalis inguinalis timbul akibat descensus testiculorum, dimana testis
tidak menembus dinding perut melainkan mendorong dinding ventral perut ke depan. Saluran ini
berjalan dari kranio-lateral ke medio-kaudal, sejajar ligamentum inguinalis, panjangnya : + 4 cm.
Kanalis ini terbuka di lateral pada anulus inguinalis abdominalis (anulus inguinalis profunda)
berhubungan dengan peritoneum dan di mendial terbuka pada anulus inguinalis superfisialis. Pada
dinding dorsal terdapat lekukan peritoneum, yang terletak sesuai dengan anulus inguinalis
superfisialis yang disebut fovea inguinalis medialis, sedangkan yang dibentuk oleh anulus
inguinalis abdominalis disebut fovea inguinalis lateralis. Di antara kedua fovea ini terdapat
ligamentum yang merupakan penebalan dari fascia transversa. Ini penting untuk membedakan
hernia inguinalis medialis dan lateralis.
Isi kanalis inguinalis pada pria yaitu funiculus spermaticus, dan pada wanita ligamentum teres
uteri.
Kanalis inguinalis dibatasi di kraniolateral oleh anulus inguinalis internus yag merupakan bagian
terbuka dari fasia transversalis dan aponeurosis muskulus transversus abdominis di medial bawah,
di atas tuberkulum pubikum. Kanal ini dibatasi oleh anulus eksternus. Atap ialah aponeurosis
muskulus ablikus eksternus dan didasarnya terdapat ligamentum inguinal. Kanal berisi tali sperma
serta sensitibilitas kulit regio inguinalis, skrotum dan sebagian kecil kulit, tungkai atas bagian
proksimedial.
Dalam keadaan relaksasi otot dinding perut, bagian yang membatasi anulus internus turut kendur.
Pada keadaan itu tekanan intra abdomen tidak tinggi dan kanalis inguinalis berjalan lebih vertikal.
Sebaiknya bila otot dinding perut berkontraksi kanalis inguinalis berjalan lebih transversal dan
anulus inguinalis tertutup sehingga dapat mencegah masuknya usus ke dalam kanalis inguinalis.
Pada orang yang sehat ada tiga mekanisme yang dapat mencegah terjadinya hernia inguinalis yaitu
kanalis inguinalis yang berjalan miring, adanya struktur muskulus oblikus internus abdominis
yang menutup anulus inguinalis internus ketika berkontraksi dan adanya fasia transversal yang
kuat yang menutupi triganum hasselbaeh yang umumnya hampir tidak berotot sehingga adanya
gangguan pada mekanisme ini dapat menyebabkan terjadinya hernia inguinalis.
2.5 MANIFESTASI KLINIK

Pada umumnya keluhan pada orang dewasa berupa benjolan di lipat paha, benjolan
tersebut bisa mengecil dan menghilang pada saat istirahat dan bila menangis, mengejan,
mengangkat beban berat atau dalam posisi berdiri dapat timbul kembali, bila terjadi komplikasi
dapat ditemukan nyeri, keadaan umum biasanya baik pada inspeksi ditemukan asimetri pada
kedua sisi lipat paha, scrotum atau pada labia dalam posisi berdiri dan berbaring pasien diminta
mengejan dan menutup mulut dalam keadaan berdiri palpasi dilakukan dalam keadaan ada
benjolan hernia, diraba konsistensinya dan coba didorong apakah benjolan dapat di reposisi
dengan jari telunjuk atau jari kelingking pada anak-anak, kadang cincin hernia dapat diraba berupa
annulus inguinalis yang melebar.
Pemeriksaan melalui scrotum, jari telunjuk dimasukkan ke atas lateral dari tuberkulum pubikum,
ikuti fasikulus spermatikus sampai ke anulus inguinalis internus pada keadaan normal jari tangan
tidak dapat masuk, bila masa tersebut menyentuh ujung jari maka itu adalah hernia inguinalis
lateralis, sedangkan bila menyentuh sisi jari maka itu adalah hernia inguinalis medialis (Mansjoer,
2000, hal 314 ; Kusala, 2007, http://www.kalbe.co.id/files)
Pada umumnya terapi operatif merupakan terapi satu-satunya yang rasional. Beberapa masalah
yang sering terjadi pada fase post operasi antara lain; kesadaran menurun, sumbatan saluran nafas,
hipoventilasi, hipotensi , aritmi cardiak, shock, nyeri, distensi kandung kencing, cemas, aspirasi isi
lambung.
Tindakan operatif dilakukan dengan melakukan insisi pada tubuh sehingga tubuh memerlukan
waktu untuk penyembuhan luka. Luka bedah karena dilakukan dengan disertai teknik asepsis pada
umumnya penyembuhannya lancar dan cepat.
Ada empat fase penyembuhan luka; fase I penyembuhan luka, lekosit mencerna bakteri dan
jaringan rusak. Fibrin tertumpuk pada gumpalan yang mengisi luka dan pembuluh darah tumbuh
pada luka dari benang fibrin sebagai kerangka. Luka kekuatannya rendah tapi luka yang dijahit
akan menahan jahitan dengan baik. Pasien akan terlihat dan merasa sakit pada fase ini yang
berlangsung selama 3 (tiga) hari.
Fase II berlangsung 3 14 hari setelah pembedahan. Lekosit mulai menghilang, semua lapisan
epitel mulai beregenerasi selengkapnya dalam 1 (satu) minggu. Jaringan baru memiliki sangat
banyak jaringan vaskuler, jaringan ikat berwarna kemerah-merahan karena banyak pembuluh
darah dan mudah terjadi perdarahan, pasien akan terlihat lebih baik. Tumpukan kolagen serabut
protein putih akan menunjang luka dengan baik dalam 6 7 hari. Jadi jahitan diangkat pada waktu
ini, tergantung pada tempat dan luasnya bedah.
Pada fase III kolagen terus bertumpuk. Hal ini akan menekan pembuluh darah baru dan arus darah
menurun. Luka sekarang terlihat seperti berwarna merah jambu yang luas. Pada fase ini yang kirakira berlangsung dari minggu ke dua sampai minggu ke enam post operasi, pasien harus menjaga
agar tidak menggunakan otot yang terkena.
Fase terakhir, fase ke IV berlangsung beberapa bulan post operasi. Pasien akan mengeluh gatal
diseputar luka. Kolagen terus menimbun pada waktu ini, luka menciut dan menjadi tegang. Bila
luka dekat persendian akan terjadi kontraktur.
(Long,1996, hal 70 86)

2.6

KOMPLIKASI

Komplikasi hernia bergantung pada keadaan yang dialami oleh isi hernia. Antara lain
obstruksi usus sederhana hingga perforasi (lubangnya) usus yang akhirnya dapat menimbulkan
abses local, fistel atau peritonitis.
Sedangkan komplikasi operasi hernia dapat berupa cidera vena femoralis, nervus ilioinguinalis,
nervus iliofemoralis, duktus deferens, atau buli-buli bila masuk pada hernia geser. Nervus
ilioinguinalis harus dipertahankan sejak dipisahkan karena jika tidak, maka dapat timbul nyeri
pada jaringan parut setelah jahitan dibuka.
Komplikasi dini setelah operasi dapat pula terjadi, seperti hematoma, infeksi luka, bendungan
vena, fistel urine atau feses, dan residif. Komplikasi lama merupakan atrofi testis karena lesi arteri
spermatika atau bendungan pleksus pampiniformis, dan yang paling penting, terjadinya residif
(kekambuhan). Insiden dari residif begantung pada umur pasien, letak hernia, teknik yang
digunakan dalam pembedahan dan cara melakukannya.
(Sjamsuhidajat, 1997, hal 718-719)

2.9

PATHWAYS KEPERAWATAN

2.2 kosep asuhan keperawatan


2.2.1 Pengkajian Data

Pengkajian dengan Hernia pada klien dewasa, meliputi :

Identitas

Identitas pada klien yang harus diketahui diantaranya: nama, umur, agama, pendidikan,
pekerjaan, suku/bangsa, alamat, jenis kelamin, status perkawinan, dan penanggung
jawab.

Keluhan Utama

.Keluhan utama yang dikatakan klien.

Riwayat penyakit sekarang

Pengkajian ringkas dengan PQRST dapat lebih memudahkan perawat dalam melengkapi
pengkajian.

Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi faktor penyebab


nyeri, apakah nyeri berkurang apabila beristirahat?

Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan
klien, apakah rasa nyeri seperti tertusuk-tusuk?

Region: di mana rasa yang dirasakan?

Severity of Pain: seberapa skala nyeri klien yang dirasakan?

Time: berapa lama rasa nyeri berlangsung, kapan, bertambah buruk pada malam hari atau
siang hari, apakah gejala timbul mendadak, perlahan-lahan atau seketika itu juga, apakah
timbul gejala secara terus-menerus atau hilang timbul (intermitten), apa yang sedang

dilakukan klien saat gejala timbul, lama timbulnya (durasi), kapan gejala tersebut
pertama kali timbul (onset).

Riwayat Penyakit Dahulu

Pengkajian yang mendukung adalah dengan mengkaji apakah sebelumnya klien pernah
menderita Hernia, keluhan pada masa kecil, hernia dari organ lain, dan penyakit lain yang
memperberat Hernia seperti diabetes mellitus. Tanyakan mengenai obat-obat yang biasa
diminum oleh klien pada masa lalu yang relevan, obat-obat ini meliputi obat OAT dan
antitusif. Catat adanya efek samping yang terjai di masa lalu. Kaji lebih dalam tentang
seberapa jauh penurunan berat badan (BB) dalam enam bulan terakhir. Penurunan BB
pada klien dengan Hernia berhubungan erat dengan proses penyembuhan penyakit serta
adanya anoreksia dan mual yang sering disebabkan karena meminum OAT.

Riwayat Penyakit Keluarga

Secara patologi Hernia tidak diturunkan, tetapi perawat perlu menanyakan apakah
penyakit ini pernah dialami oleh anggota keluarga lainnya sebagai faktor predisposisi di
dalam rumah.

Pengkajian Psiko-sosio-spiritual

Pengkajian psikologis klien meliputi beberapa dimensi yang memungkinkan perawat


untuk memperoleh persepsi yang jelas mengenai status emosi, kognitif, dan perilaku
klien.

2.2.2 Keperawatan dan Intervensi


Keperawatan
1. Keadaan Umum dan Tanda-tanda Vital

Keadaan umum pada klien dengan Hernia dapat dilakukan secara selintas pandang dengan
menilai keadaaan fisik tiap bagian tubuh. Selain itu, perlu di nilai secara umum tentang
kesadaran klien yang terdiri atas compos mentis, apatis, somnolen, sopor, soporokoma, atau
koma.
Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital pada klien dengan Hernia biasanya didapatkan peningkatan
suhu tubuh secara signifikan, frekuensi napas meningkat apabila disertai sesak napas, denyut
nadi biasanya meningkat seirama dengan peningkatan suhu tubuh dan frekuensi pernapasan, dan
tekanan darah biasanya sesuai dengan adanya penyulit seperti hipertensi.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi daerah Inguinal dan femoral.
Meskipun Hernia dapat didefinisikan sebagai setiap penonjolan Viskus, atau sebagian
daripadanya, melalui lubang normal atau abnormal, 90% dari semua Hernia ditemukan di daerah
Inguinal. Biasanya, impuls Hernia lebih jelas dilihat dari pada diraba. Ajak pasien memutar
kepalanya ke samping dan batuk atau mengejan. Lakukanlah inspeksi daerah Inguinal dan
Femoral untuk melihat timbulnya benjolan mendadak selama batuk, yang dapat menunjukkan
Hernia. Jika terlihat benjolan mendadak, mintalah pasien untuk batuk lagi dan bandingkan
impuls ini dengan impuls pada sisi lainnya. Jika pasien mengeluh nyeri selama batuk,
tentukanlah lokasi nyeri dan periksalah kembali daerah tersebut.
b. Palpasi Hernia Inguinal
Palpasi Hernia Inguinal dilakukan dengan meletakkan jari telunjuk kanan memeriksa didalam
skrotum diatas testis kiri dan menekan kulit skrotum kedalam. Harus ada kulit skrotum yang
cukup banyak untuk mencapai cincin inguinal eksterna. Jari harus diletakkan dengan kuku
menghadap keluar dan bantalan jari kedalam. Tangan kiri pemeriksa dapat diletakkan pada

pinggul kanan pasien untuk sokongan yang lebih baik. Telunjuk kanan pemeriksa harus
mengikuti korda spermatika dilateral masuk kedalam kanal inguinal sejajar dengan ligamentum
inguinal dan digerakkan ke atas ke arah cincin inguinal eksterna, yang terletak superior dan
lateral dari tuberkulum pubikum. Cincin eksterna dapat diperlebar dan dimasuki oleh jari tangan.

Dengan jari telunjuk ditempatkan pada cincin eksterna atau di dalam kanal inguinal, mintalah
pasien untuk memutar kepalanya ke samping dan batuk atau mengejan. Seandainya ada Hernia,
akan terasa impuls tiba-tiba yang menyentuh ujung atau bantalan jari pemeriksa. Jika ada Hernia,
suruh pasien berbaring terlentang dan perhatikanlah apakah Hernia itu dapat direduksi dengan
tekanan yang lembut dan terus menerus pada masa itu. Jika pemeriksaan Hernia dilakukan
dengan kulit skrotum yang cukup banyak dan dilakukan dengan perlahan-lahan, tindakan ini
tidak menimbulkan nyeri. (dr. Jan. Tambayong, Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta :
EGC,2000)

Uraian tentang ciri-ciri Hernia akan dibahas setelah memeriksa sisi kiri, prosedur ini diulangi
dengan memakai jari telunjuk kanan untuk memeriksa sisi kanan. Sebagian pemeriksa lebih suka
memakai jari telunjuk kanan untuk memeriksa sisi kanan pasien, dan jari telunjuk kiri untuk
memeriksa sisi kiri pasien. Jika ada massa skrotum berukuran besar yang tidak tembus cahaya,
suatu Hernia Inguinal indirek mungkin ada didalam skrotum. Auskultasi massa itu dapat dipakai
untuk menentukan apakah ada bunyi usus didalam skrotum, suatu tanda yang berguna untuk
menegakkan diagnosis Hernia Inguinal indirek.
Tes Diagnostik yang dilakukan seperti:
a.

Foto Rontgen Spinal

b.

Elektromiograf

c.

Venogram epidural

d.

Scan CT

e.

MRI

f.

Mielogram

g.

Kolaborative Care
3. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menguraikan respon actual atau potensial pasien
terhadap masalah kesehatan yang perawat mempunyai izin dan berkompeten untuk
mengatasinya. Respon actual dan potensial pasien didapatkan dari data dasar pengkajian,
tinjauan literatur yang berkaitan, catatan medis pasien masa lalu, dan konsultasi dengan
professional lain. Adapun diagnosa keperawatan yang timbul pada pasien dengan post
Herniotomy menurut Doengoes E. Marilynn 2000, adalah :
1.

Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan (usus terjepit)

2.

Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan post-op (insisi bedah)

3.

Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan

hemorargi.
4.

Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan

pertahanan primer.
5.

Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan

tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan.


6.

Ansietas/ketakutan berhubungan dengan perubahan status kesehatan.

7.

Intoleransi aktifitas berhubungan dengan respon tubuh akibat luka

post-op.
8.

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum.

2.2.2 KONSEP INTERVENSI KEPERAWATAN

BAB III
TINJAUAN KASUS
I. Identitas Klien
Nama : Tn.s
Umur : 57 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Cisungsang, Banten
Tanggal Masuk : 01 februari 2016
No. CM : 23717
Pekerjaan : pengajar di sekolah dasar
Diagnosa medis : Hernia inguinalis dextra

2. Identitas Penanggung Jawab


Nama : Ny.s
Umur : 40 tahun
Jenis kelamin : perempuan
Alamat : Cisungsang, Banten

Hubungan dengan klien : keluarga (istri)

Keluhan Utama : Nyeri pada benjolan di lipat paha kanan

Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien masuk ke rumahsakit dengan keluhan terdapat benjolan di lipat paha kanan berdiameter
sekitar 3 cm. Benjolan terlihat terutama jelas saat pasien batuk, bersin, mengedan dan bila
diberdirikan. Tapi saat pasien berbaring, benjolan tersebut hilang atau tidak nampak, ada rasa
nyeri pada benjolan dengan skala 6 dari (0-10) nyeri hanya di rasakan pada daerah benjolan.

D. Riwayat Penyakit Dahulu :

- Riwayat penyakit Jantung tidak ada


- Riwayat penyakit Paru tidak ada
- Riwayat penyakit Saluran Pencernaan tidak ada
- Riwayat penyakit Genitalia tidak ada
- Riwayat Pembedahan tidak ada

E. Riwayat Penyakit Keluarga :

- Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama dengan pasien.

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum : klient lemah


Kesadaran : Composmentis
Tekanan darah : 120/70 mmHg
Nadi : 84 x/menit
Respirasi : 20 x/menit
Suhu : 36,8 c
Berat badan : 51 kg
1. Kepala : setelah dilkukan inspeksi bentuk kepala klien terlihat Simetris, kebersihan kulit
kepala agak kotor, distribusi rambut banyak ,hitam dan tidak mudah rontok.
Setelah dilakukan palpasi tidak ada benjolan/edema di kepala.

2. Mata : setelah dilakukan inspeksi Konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik , pupil bulat isokor,
pupil merangsang cahaya mengecil, reflek mengedip menutup saat di instruksikan menutup,
reflek klopak mata membuka saat di instuksikan membuka.

3.Hidung : setelah di lakukan inspeksi septum nasal ada, lubang hidung ada dua, bentuk hidung
simetris, produksi sputum tidak mengganggu jalan nafas.

4. Telinga: setelah di lakukan inspeksi telinga kanan dan telinga kiri Simetris, kebersihan
nampak tidak kotor, setelah dilkukan palpasi tidak ada nyeri tekan pada tragus.

5. Mulut: setelah dilakukan inspeksi Mukosa tidak hiperemis, bibir tidak kering, keberishan
lidah agak kotor, mulut terlihat simetris, kebersihan gigi agak kotor, ada lubang pada beberapa
gigi belakang.

6. Leher: setelah dilakukan inspeksi Trakea simetris di tengah, refleks menelan bergerak
keatas.tidak pembesaran vena jugularis.

7. Thorax
- Paru-paru
Setelah dilakukan Inspeksi : ,kedalaman retraksi tidak ada, ketinggalan gerak tidak ada
Setelah dilakukan Palpasi : Vokal fremitus paru kanan sama dengan kiri
Setelah dilakukan Perkusi : Sonor seluruh lapangan paru.
Setelah dilakukan Auskultasi : Suara dasar vesikuler, suara tambahan tidak ada.
- Jantung
Setelah dilakukan Auskultasi : S1 > S2 reguler, bising tidak ada, gallop tidak ada.

8. Abdomen
Setelah dilakukan Inspeksi : ada benjolan di bagian kuadran 3 perut bawah (di atas
selangkangan), bentuk perut simetris, kebersihan kulit tidak kotor, umbilikus tidak kotor,
distribusi bulu perut ada.
Setelah dilakukan Palpasi : nyeri tekan pada benjolan di kuadran 3 perut bawah.
Setelah dilakukan Perkusi : tidak ada kembung, turgor kulit perut 2 detik.

Setelah dilakukan tindakan Auskultasi : Bising usus 2 x / menit


B. Status Lokalis
Regio Inguinalis Dextra
Stelah dilakukan Inspeksi : - Terlihat benjolan sebesar kelereng di daerah Inguinalis Dextra,
diameter 1 cm.
- Saat pasien dibaringkan benjolan dapat masuk sendiri
- Warna kulit sama dengan daerah sekitarnya
Setelah dilakukan Palpasi : - Teraba benjolan, bentuk lonjong, sebesar kelereng, konsistensi
kenyal, nyeri tekan ada
- Benjolan dapat didorong masuk dengan jari kelingking dalam posisi pasien berbaring
- Finger test : Benjolan diraba dengan ujung jari
- Bila anulus inguinalis ditekan keluar benjolan

NO

JENIS KEGIATAN

POLA DI RUMAH

POLA DI RUMAH
SAKIT

NUTRISI
Makan

2-3 x / hari

1x/hari

Jenis makanan

Nasi + sayur/ kadang daging

bubur+tempe+sayuran

Minum

5-6 gelas / hari

6-8 gelas/ hari

Jenis minuman
ELIMINASI

Air putih
.

Air putih

BAB

1-2 x /hari

Tidak ada

Karakter feses

Lembek, kuning

Tidak ada

Keluhan

Tidak ada

Susah BAB

BAK

2-3x/hari

1-2x/hari

Warna

Kuning

bening

Keluhan
PERSONAL HYGINE

Tidak ada

agak susah BAK

Mandi

2-3x/hari

Tidak ada

Gosok gigi

2x/hari

Tidak ada

Keramas
ISTIRAHAT / TIDUR

2-3x/hari

Tidak ada

Siang hari

2-3jam/hari

3-4 jam/hari

Ganguan

Nyeri pada benjolan

Nyeri pada benjolan

Malam hari

6-8 jam/hari

4-5 jam/hari

Gangguan

Tidak ada

Terasa sakit pada benjolan

Pemeriksaan Diagnostik
Laboratorium
Tanggal spesemen sample di ambil : 01 februari 2016
Jenis pemeriksaan : satuan
Hemoglobin : 13.1 g/dl
Leukosit :

11.300

nilai normal
13 -17

4000 10.000

Hematokrit : 39%

40 - 54

Eritrosit :

4.1 juta/ L

4.4 - 60

Trombosit :

237.000 L

TERAPI OBAT

150.000 450.000

Keterolax : 2 x 1 amp : (iv)


Ranitidine : 2 x 1 amp : (iv)
Ceftriaxcon : 2 x 1 vial : (iv)

Pemeriksaan penunjang
- EKG : nadi dan irama jantung regular
- poto rontgen : pemeriksaan radiologi yaitu nampak hernia inguinalis lateralis
dextra.

Analisa Data
No

Data

Etiologi

Masalah

Terjadinya gangguan aliran darah

Nyeri berhubungan
dengan trauma jaringan

Pasien mengatakan nyeri di perut

di usus yang terjepit

kanan bawah dan ada benjolan di

Menyebabkan kematian jaringan

Pre Operasi
1.
DS:

atas selangkangan.

(Nekrosis)

DO:
-

ada benjolan pada

kemaluan
S: 36, 4C
N: 84 x/mnt
RR: 20x/mnt
TD: 120/70 mmHg,

Menimbulkan Perforasi.

(usus terjepit)

2.

Cemas Rencana pembedahan


karena
Kurang pengetahuan rencana
tindakan pembedahan

Ansietas berhubungan
dengan kurangnya
pengetahuan tindakan
pembedahan

Ds: klien mengeluh cemas dengan


rencana penbedahan
Do :
-

.
ada benjolan pada

kemaluan
-

S: 36, 4C

N: 84 x/mnt

RR: 20x/mnt

TD: 120/70 mmHg,

-Terapi infus rl/ 500 ml/20tpm


Di tnagan kanan

Post Operasi
DS:
Pasien mengeluh nyeri bagian
luka post-op dan pusing di kepala

Terputusnya kontuinitas jaringan

Nyeri berhubungan

kulit pada post-op

dengan trauma jaringan

Menstimulasi saraf nyeri

(insisi bedah)

Menimbulkan rasa nyeri

DO:
-

lemah

kesadaran CM

pasien tampak meringis

kesakitan
-

berhati-hati saat bergerak.

S: 36C

N: 80 x/mnt

RR: 24 x/mnt

TD: 130/70 mmHg

BAB tidak ada

BAK ada kuning jernih


-

DS: Pasien mengatakan nyeri


bagian operasi berkurang, namun
pasien merasa mual dan lemas.
DO:
-

Pasien telihat lemas.

S: 37C

N: 82 x/mnt

RR 32 x/mnt

TD: 130/70 mmHg

ada mual

ada platus

tidak ada muntah

BAK ada kuning jernih.

Efek luka operasi

Menimbulkan rasa mual

Memicu terjadinya intoleransi

Intoleransi aktifitas
berhubungan dengan
respon tubuh akibat luka

aktifitas

Terhadap respon tubuh.

post-op.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
No
1.

Diagnosa Keperawatan
Nyeri berhubungan dengan

Tanggal

Tanggal

Nama

Ditemukan
01-02-2016

Teratasi
02-02-2016

Jelas

02-02-2016

02-02-2016

trauma jaringan (usus terjepit).

2.

Ansietas berhubungan dengan


rencana tindakan pembedahan

3.

Nyeri berhubungan dengan

02-02-2016

03-02-2016

02-02-2016

03-02-2016

trauma jaringan post-op (insisi


bedah)

Intoleransi aktifitas
berhubungan dengan respon
tubuh akibat luka post-op.

RENCANAAN ASUHAN KEPERAWATAN


n

Diagnosa

Tujuan dan kriteria hasil

o
1

keperawatan

Intervensi

Nyeri berhubungan Tujuan: Nyeri berkurang/hilang 1.


dengan
jaringan
terjepit).

trauma (1-2 hari)

dan

tanda-tanda Untuk

nyeri pasien.

(usus Kriteria Hasil: Pasien tampak 2.


rileks

Mengkaji

rasional

keluhan

berkurang/hilang

Mengajarkan

nyeri relaksasi.
3.

tehnik rencana
tindakan

Memberi posisi semi menghilangkan

fowler.
4.

menentukan

nyeri.
Memberi

informasi Membantu klien

yang akurat untuk mengurangi mengurangi


rasa sakit.

rasa nyeri.

5.

Kolaborasi

dalam Mempermudah

pemberian terapi.

kontraksi dada.
Mengurangi
cemas klien

Cemas

Tujuan

: Setelah dilakukan a.

berhubungan

tidakan keperawatan penurunan prosedur tidakan kepada klien

rencana

kecemasan

pembedahan

keperawatan

selama
cemas

Jelaskan seluruh

proses dan perasaan yang mungkin


dapat muncul pada saat melakukan

hilang/berkurang

tindakan.

Kriteria hasil :

b.

a.

Monitor intensitas dan reaksi fisik pada tingkat

kecemasan.
b.

(takikardi,

verbal).

Menurunkan stimulasi c.

lingkungan ketika cemas.


d.

kecemasan

Mencari informasi untuk takipnea, ekspresi cemas non

menurunkan cemas.
c.

Kaji tingkat kecemasan

Temani pasien untuk

mendukung

keaman

dan

Menyingkirkan tanda menurunkan rasa takut.

kecemasan.

d.
untuk

Instruksikan pasien
menggunakan

relaksasi.

teknik

Nyeri berhubungan Tujuan: Nyeri berkurang/hilang Mengkaji pengalaman nyeri Untuk


dengan

trauma (1- 5 hari)

jaringan

post-op Kriteria Hasil: Keluhan nyeri 1.

(insisi bedah)

pasien

menentukan
Tentukan tingkat nyeri rencana

berkurang, pasien rileks, dan yang dialami.


skala nyeri 0.

2.

tindakan

Memantau

keluhan menghilangkan

nyeri.
3.

nyeri.
Mengjarkan

tehnik Membantu klien

relaksasi.

mengurangi

4.

rasa nyeri.

Menganjurkan

mobilisasi dini.

Mempermudah

Kolaborasi dalam pemberian kontraksi dada.


terap

Mengurangi
cemas klien

ntoleransi aktifitas Tujuan:


berhubungan
dengan

Aktifitas

maksimal terjadi.

dapat 1.

Menjelaskan

batasan Mengurangi

aktifitas pasien sesuai kondisi.

respon Kriteria Hasil: Memperlihatkan 2.

Meningkatkan

aktifitas Melatih

tubuh akibat luka kemajuan aktifitas s.d mandiri secara bertahap.


post-op.

dan ada respon positif terhadap 3.


aktifitas.

tubuh

Merencanakan

Memotivasi

otot
akibat

waktu tirah baring.

istirahat sesuai jadwal.


4.

resiko cedera.

Mengontrol

peningkatan aktifitas sesuai

dan beri penghargaan pada kebutuhan.


kemajuan yang telah dicapai.

D. PELAKSANAAN KEPERAWATAN
Tanggal/Waktu

No.
DK

Tindakan Keperawatan

(S.O.A.P)

Tanda

HARIAN

tangan

01/02/2016
10.00 WIB
10.45 WIB
10.50 WIB

1.
a.
b.
c.
d.

Tindakan:
Kaji tanda-tanda nyeri (0-10)
Ajarkan tehnik relaksasi.
Berikan posisi semi fowler.
Berikan informasi yang akurat untuk

mengurangi rasa sakit.


e. Kolaborasi dalam pemberian terapi.

11.00 WIB

S : klien mengatakan nyeri


berkurang (skala 5)
O : pasien tampak rileks
Td: 120/80 mmHg
R : 19
N : 78
S : 36,4 C
A : masalah teratasi sebagian
P : intervensi dilanjutkan
mengatur posisi semi powler dan
menggunakan tehnik relaksasi

02 februari 16

2. a.

10.00 WIB
b.

menjelaskan seluruh prosedur tidakan

S : pasien mengatakan sudah

kepada klien dan perasaan yang mungkin

mengerti tentang tindakan

muncul pada saat melakukan tindakan.


mengkaji tingkat kecemasan dan reaksi

pembedahan yang akan dilakukan

10.20 WIB

O : pasien tampak rileks


fisik pada tingkat kecemasan (takikardi,
Td: 120/80 mmHg
c.

13.45 WIB

takipnea, ekspresi cemas non verbal).


menemani pasien untuk mendukung

keaman dan menurunkan rasa takut.


d.
meninstruksikan pasien untuk

R : 19
N : 78
S : 36,4 C

menggunakan teknik relaksasi


A : masalah teratasi sebagian
P : intervensi dilanjutkan
menggunakan tehnik relaksasi

02 pebruari
2016

3.T
tindakan:
a. Kaji pengalaman nyeri pasien, dan

S : klien mengatakan bisa


menahan nyeri skala : 5 namun

17.30 WIB

mendorong tingkatkan istirahat


b. Memonitor intake nutrisi
c. menetukan tingkat nyeri yang dialami.
b.
Pantau keluhan nyeri.
c.
Ajarkan tehnik relaksasi.
d. Anjurkan mobilisasi dini.
e.
Kolaborasi dalam pemberian terapi.

19.00 WIB

masih merasa sedikit pusing


O : klien terlihat sedikit lemas
-

S: 36C

N: 80 x/mnt

RR: 24 x/mnt

TD: 130/70 mmHg

A : masalah teratasi sebagian


P : intervensi dilanjutkan :
tingkatkan istirahat dan monitor
03 februari
2016

Tindakan:
a.
Jelaskan batasan aktifitas pasien

intake nutrisi
S : Klien mengatakan sudah dapat
melakukan BAK sendiri Keluhan

05.30 WIB

sesuai kondisi.
b. Tingkatkan aktifitas secara
bertahap.
c.
Rencanakan waktu istirahat sesuai

nyeri 3.
O : kliaen tampak rileks
Td : 120 / 90 mmHg

jadwal.
d.
Berikan motivasi peningkatan dan

N : 75 x /menit

memberi penghargaan pada kemajuan

R : 18 x / menit

yang telah dicapai.

S : 36.1 C
A : malasah teratasi
P : intervensi di hentikan (klien di
izinkan pulang)

EVALUASI (CATATANPENGEMBANGAN)
DK
1

Tgl/Jam

Evaluasi Hasil (SOAP)

01 februari 2016

S: Pasien datang dengan keluhan ada rasa nyeri di perut

14.00 WIB

kanan bawah.
O: Pasien tampak meringis kesakitan, ada benjolan pada
kemaluan
S: 37C
N: 72x/mnt
R

R: 34x/mnt
TD: 120/90 mmHg

A: Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan (usus


terjepit).
a. Mengkaji tanda-tanda nyeri pasien.
b.

Mengajarkan tehnik relaksasi.

c.

Memberikan posisi semi fowler.

d.

Memberikan informasi yang akurat untuk


mengurangi rasa sakit.

02 februari 2016

e.
Kolaborasi dalam pemberian terapi.
S: a.
menjelaskan seluruh prosedur tidakan kepada

10.30 WIB

klien dan perasaan yang mungkin muncul pada saat


melakukan tindakan.
b.

mengkaji tingkat kecemasan dan reaksi fisik pada

Paraf dan Nama jelas

tingkat kecemasan (takikardi, takipnea, ekspresi


cemas non verbal).
c.

menemani pasien untuk mendukung keaman dan


menurunkan rasa takut.

d.

meninstruksikan pasien untuk menggunakan


teknik relaksasi

02 februari 2016

T
S: Pasien mengeluh nyeri bagian luka post-op.

17.30 WIB

O: Keluhan lemah, kesadaran CM, pasien tampak


meringis kesakitan, berhati-hat saat bergerak.
S: 36C , N: 80 x/mnt , RR: 34 x/mnt TD: 160/70
mmHg, oedeme (-), BAB (-), BAK (+) kuning
jernih, Flatus (-)
A: Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan post-op
(insisi bedah)
P:
a.

Mengkaji pengalaman nyeri pasien,


dan menetukan tingkat nyeri yang dialami.
b.

Memantau keluhan nyeri.

c.

Mengajarkan tehnik relaksasi.

d.

Menganjurkan mobilisasi dini.

e.

Kolaborasi dalam pemberian terapi.

03 februari 2016

Pasien mengatakan rasa nyeri sudah berkurang,

19.00 WIB

namun ada rasa lemas, dan mual.


O: Pasien telihat lemas.
S: 37C, N: 82 x/mnt , RR 32 x/mnt, TD: 130/70
mmHg, ada mual,tidak ada muntah, ada flatus, BAB
tidak ada, BAK ada kuning jernih.
A: Intoleransi aktifitas berhubungan dengan respon
tubuh akibat luka post-op.
a.

Menjelaskan batasan aktifitas pasien sesuai


kondisi.

b.

Meningkatkan aktifitas secara bertahap.

c.

Merencanakan waktu istirahat sesuai jadwal.

d.

Memotivasi peningkatan dan memberi


penghargaan pada kemajuan yang telah dicapai.

BAB IV
PEMBAHASAN
A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN

Berdasarkan pengkajian tanda dan gejala yang ada pada teori telah ditemukan pada kasus Tn.s
adalah mual, muntah, dan tidak ada nafsu makan. Hal ini dikarenakan pada saat pengkajian,
pasien masih dalam pengaruh anastesi yang berefek pada tubuh dan sistem pencernaannya.
Pasien masih terlihat lemas dan berhati-hati saat bergerak.

Hernia adalah kelemahan dinding otot abdominal yang melewati sebuah segmen dari perut atau
struktur abdominal yang lain yang menonjol. Hernia dapat juga menembus melewati beberapa
defect yang lain di dalam dinding abdominal, melewati diafragma, atau melewati struktur lainnya
di rongga abdominal. (Ignatavicius, Donna, et.All. Medical Surgical Nursing. Philadelphia: W.B
Saunders Company,2000)

Hernia adalah masuknya organ kedalam rongga yang disebabkan oleh prosesus vaginalis
berobliterasi (paten). (Mansjoer, Arief, Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1. Jakarta,2000). Hernia
adalah suatu benjolan diperut dari rongga yang normal melalui lubang congenital atau didapat.

Penyebab penyakit Hernia dapat diakibatkan beberapa hal seperti: Kongenital, Obesitas Pada Ibu
hamil, Mengedan juga dapat menyebabkan peningkatan tekanan intra-abdomen. Dan terlalu
seringnya mengangkat beban berat.

Komplikasi yang disebabkan dari Hernia Inguinalis adalah Hernia berulang, Kerusakan pada
pasokan darah, testis dan saraf, Pendarahan yang berlebihan / infeksi luka bedah, Luka pada usus
(jika tidak hati-hati), Setelah Herniografi dapat terjadi Hematoma, Fostes urin dan feses, Residip,

dan Komplikasi lama merupakan atropi testis karena lesi. (Oswari E. Bedah dan Perawatannya.
Jakarta: PT Gramedia,1993).

Pembedahan diindikasikan bila diagnosa Hernia telah ditegakkan. Antibotik diberikan sampai
pembedahan dilakukan. Analgetik juga dapat diberikan setelah diagnosa ditegakkan. Dalam
melakukan pengkajian penulis tidak menemukan hambatan yang berarti, sedangkan faktor
pendukung yang mempermudah penulis mendapatkan data adalah kerjasama yang baik antara
penulis dengan pasien disebabkan karena pasien yang sangat kooperatif dan terbuka dalam
mengemukakan keluhan yang dirasakannya, selain itu adanya bantuan dari perawat ruangan yang
membantu memberikan informasi pada penulis, juga tersedianya alat-alat pemeriksaan fisik.
(Syamsul Hidayat R. dan Wim De Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi Revisi. Jakarta: EGC, 2005)

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pada tahap ini, penulis membedakan kesenjangan antara diagnosa teoritis dengan yang
ditemukan pada kasus menurut Doenges, Marilynn E. (Rencana Asuhan Keperawatan edisi 3.
Jakarta : EGC,2000).
Dari Diagnosa menurut Doenges, Penulis mengemukakan bahwa diagnosa yang sesuai dengan
kasus yang dialami Tn.S, yaitu:
1. Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan (usus terjepit)
2. Ansietas berhubungan dengan rencana tindakan pembedahan
3. Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan post-op (insisi bedah)

4. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan respon tubuh akibat luka post-op.


Diagnosa keperawatan ini muncul karena kurangnya pengetahuan tentang perawatan dan penyakit
berhubungan dengan status kesehatan Tn.s tentang batasan tolerasi aktifitas pasien.

C. PERENCANAAN KEPERAWATAN
Dalam menyusun rencana keperawatan pada pasien dengan Herniatomi, penulis membuat sesuai
dengan tujuan dan kriteria hasil, sehingga tujuan yang telah ditetapkan tercapai seperti
perencanaan yang terdapat pada kasus dan tidak berbanding terbalik dengan teoritis yang
dikemukakan para ahli.
1. Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan (usus terjepit).
Rencana Keperawatan:
a.

Mengkaji tanda-tanda nyeri pasien.

b. Mengajarkan tehnik relaksasi.


c.

Memberikan posisi semi fowler.

d. Memerikan informasi yang akurat untuk mengurangi rasa sakit.


e.

Kolaborasi dalam pemberian terapi.

2. Ansietas berhubungan dengan rencana tindakan pembedahan


Rencana tindakan keperawatan :

a.

Jelaskan seluruh prosedur tidakan kepada klien dan perasaan yang mungkin muncul pada saat
melakukan tindakan.

b.

Kaji tingkat kecemasan dan reaksi fisik pada tingkat kecemasan (takikardi, takipnea, ekspresi
cemas non verbal).

c.

Temani pasien untuk mendukung keaman dan menurunkan rasa takut.

d.

Instruksikan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi.

3. Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan post-op (insisi bedah)


Rencana Keperawatan:
a.

Mengkaji pengalaman nyeri pasien, tentukan tingkat nyeri yang dialami.

b. Memantau keluhan nyeri.


c.

Mengajarkan tehnik relaksasi.

d. Menganjurkan mobilisasi dini.


e.

Kolaborasi dalam pemberian terapi.

4. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan respon tubuh akibat luka post-op.


Rencana Keperawatan:
a.

Menjelaskan batasan aktifitas pasien sesuai kondisi

b. Meningkatkan aktifitas secara bertahap.


c.

Merencanakan waktu istirahat sesuai jadwal.

d. Memotivasi peningkatan dan beri penghargaan pada kemajuan yang telah dicapai.

D. PELAKSANAAN KEPERAWATAN
Pelaksanaan tindakan keperawatan mengacu pada perencanaan yang telah disusun dalam
perencanaan keperawatan. Pada tahap ini penulis melakukan tindakan berdasarkan prioritas
masalah yang ditetapkan. Semua intervensi yang direncanakan telah dilakukan, dalam
melakukan implementasi, pasien dan keluarga sangat antusias dalam membantu terlaksananya
proses pelaksanaan, sehingga tercapainya tujuan yang diharapkan.

Pada diagnosis nyeri berhubungan dengan trauma jaringan (usus terjepit), telah dilakukan
tindakan keperawatan, yaitu: Mengkaji tanda-tanda nyeri pasien, mengajarkan tehnik relaksasi,
memberikan posisi semi fowler, memberikan informasi yang akurat untuk mengurangi rasa sakit,
dan kolaborasi dalam pemberian terapi.

Pada diagnosis ansietas beerhubungan dengan rencana pembedahan telah dilakukan tindakan
keperawatan yaitu: menjelaskan seluruh prosedur tidakan kepada klien dan perasaan yang
mungkin muncul pada saat melakukan tindakan,mengkaji tingkat kecemasan dan reaksi fisik
pada tingkat kecemasan (takikardi, takipnea, ekspresi cemas non verbal), menemani pasien untuk
mendukung keaman dan menurunkan rasa takut ,Instruksikan pasien untuk menggunakan teknik
relaksasi.

Pada diagnosis nyeri berhubungan dengan trauma jaringan post-op (insisi bedah), telah dilakukan
tindakan keperawatan, yaitu: Mengkaji pengalaman nyeri pasien, dan menetukan tingkat nyeri
yang dialami, memantau keluhan nyeri, mengajarkan tehnik relaksasi, menganjurkan mobilisasi
dini dan kolaborasi dalam pemberian terapi.

Pada diagnosis Intoleransi aktifitas berhubungan dengan respon tubuh akibat luka post-op, telah
dilakukan tindakan keperawatan, yaitu: Menjelaskan batasan aktifitas pasien sesuai kondisi,
meningkatkan aktifitas secara bertahap, merencanakan waktu istirahat sesuai jadwal, memotivasi
peningkatan dan memberi penghargaan pada kemajuan yang telah dicapai.

E. EVALUASI KEPERAWATAN
Evaluasi keperawatan merupakan tahap akhir dari Asuhan Keperawatan yang meliputi
pengkajian, diagnosa, perencanaan dan tindakan keperawatan. Pada tahap ini, penulis akan
mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilakukan. Dari ketiga diagnosa tersebut, akan penulis
paparkan penjelasan tentang hasil evaluasi pada kasus Tn.S.

Diagnosa nyeri berhubungan dengan trauma jaringan (usus terjepit), masalah teratasi sebagian,
karena pasien mengatakan rasa nyeri telah berkurang pada luka insisi pembedahan. Hasil
evaluasi: pasien terlihat lebih rileks dan keluhan nyeri berkurang.
Diagnosa ansietas berhubungan dengan rencana pembedahan masalah teratasi karena pasien
mengatakan pasien telah mengerti tentang apa yang akan dilakukan kepada klien dengan pasien
mengatakan siap untuk melakukan tindakan pembedahan

Diagnosa nyeri berhubungan dengan trauma jaringan post-op (insisi bedah) masalah sudah
teratasi, karena pada saat dilakukan perawatan, luka tampak luka bersih, tidak terdapat
perdarahan dan pembengkakan, serta daerah di sekitar luka operasi tidak terjadi
kemerahan/infeksi, tanda-tanda vital dalam batas normal. Hasil evaluasi: Skala nyeri sedang,
keluhan nyeri berkurang, dan pasien dapat istirahat dengan tenang.

Diagnosa intoleransi aktifitas berhubungan dengan respon tubuh akibat luka post-op, masalah
telah teratasi. Karena pada hari kedua setelah post-op pasien sudah mampu duduk dan
melakukan aktifitas eliminasi sendiri. Pada hari ketiga pelaksanaan asuhan keperawatan pasien
sudah dapat berjalan dan diizinkan untuk pulang. Hasil evaluasi: Pasien lebih rileks, dan keluhan
nyeri 0.

BAB V
EVALUASI
A. KESIMPULAN
Setelah mendalami dengan teliti melalui pembandingan antara konsep medik dan konsep
pemberian asuhan keperawatan pada pasien Herniatomi dengan kenyataan kasus yang penulis
hadapi, maka ada beberapa hal yang dapat penulis simpulkan, diantaranya sebagai berikut.

Hernia adalah menonjolnya suatu organ atau struktur organ dari tempatnya yang normal melalui
sebuah defek Kongenital atau yang didapat. Hernia adalah defek dalam dinding abdomen yang
memungkinkan isi abdomen (seperti Peritoneum, lemak, usus atau kandung kemih) memasuki
defek tersebut, sehingga timbul kantong berisikan materi abnormal. (dr. Jan Tambayong.
Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta : EGC,2000.)
Penyebab penyakit Hernia dapat diakibatkan beberapa hal seperti :
1.

Kongenital disebabkan kelemahan pada otot merupakan salah satu faktor resiko yang
berhubungan dengan faktor peningkatan tekanan intra abdomen. Kelemahan otot tidak dapat
dicegah dengan cara olahraga atau latihan-latihan.

2.

Obesitas adalah salah satu penyebab peningkatan tekanan intra-abdomen karena banyaknya
lemak yang tersumbat dan perlahan-lahan mendorong peritoneum. Hal ini dapat dicegah dengan
pengontrolan berat badan.
3. Pada Ibu hamil biasanya ada tekanan intra-abdomen yang meningkat terutama pada daerah
rahim dan sekitarnya.
4. Mengedan juga dapat menyebabkan peningkatan tekanan intra-abdomen.
5. Dan terlalu seringnya mengangkat beban berat.

Menurut Oswari E. Bedah dan Perawatannya. Jakarta: PT Gramedia,1993. Komplikasi yang


dapat terjadi dari Hernia Inguinalis adalah Hernia berulang, Kerusakan pada pasokan darah,
testis dan saraf, Pendarahan yang berlebihan / infeksi luka bedah, Luka pada usus (jika tidak
hati-hati), Setelah Herniografi dapat terjadi Hematoma, Fostes urin dan feses, Residip, dan
Komplikasi lama merupakan atropi testis karena lesi.
Melihat perkembangan penyakit Hernia dan masalah yang ditimbulkan, perlu deteksi dini untuk
mendapatkan tindakan yang tepat agar tidak terjadi komplikasi. Salah satu tindakan yang tepat
adalah pembedahan, karena pembedahan akan menyingkirkan atau mengurangi gejala dari
komplikasi.
Lingkungan dan pola hidup serta aktifitas pasien juga mendukung timbulnya penyakit yang ada
hubungannya dengan resiko timbulnya Hernia. Ini diperlukan peningkatan pengetahuan tentang
penyakit, perawatan dan pengobatan kepada pasien untuk dapat membantu proses penyembuhan
penyakit.
Hernia kongenital disebabkan oleh penutupan struktural cacat atau yang berhubungan dengan
melemahnya otot-otot normal. Hernia diklasifikasikan menurut lokasi di mana mereka muncul.
Sekitar 75% dari hernia terjadi di pangkal paha. Ini juga dikenal sebagai hernia inguinalis atau
femoralis. Sekitar 10% adalah hernia ventral atau insisional dinding abdomen, 3% adalah Hernia
umbilikalis. Jenis lain dapat mencakup hiatus hernia dan diafragmatik Hernia.

B. SARAN
Berdasakan kesimpulan diatas maka penulis mengajukan beberapa saran sebagai bahan
pertimbangan yang ada kaitannya dengan masalah Hernia. Adapun saran yang penulis sampaikan
adalah:
a.

Bagi pasien:
Diharapkan agar pasien melatih penguatan otot yang mungkin dapat membantu menjaga berat
badan normal, sehat secara fisik, dan menggunakan teknik mengangkat yang tepat dapat
mencegah Herniasi. Karena awal pengkajian dan diagnosis Herniasi sangat membantu dalam
pencegahan tercekik. Setelah Herniasi terjadi, individu harus mencari perhatian medis dan
menghindari mengangkat dan tegang, yang berkontribusi pada cekikan.

b.

Bagi perawat dan tenaga kesehatan:


Selalu mengingatkan pasien tentang cara-cara membatasi terjadinya kontribusi cekikan yang
memperparah kondisi pasien.

c.

Bagi siswa:
Memberikan informasi yang benar kepada lingkungan sekitar tentang batasan-batasan
mengangkat beban yang berat, mengedan dan faktor-faktor ain yang dapat menimbulkan Hernia.

DAFTAR PUSTAKA
Darmawan Kartono,dkk. 1995. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta: Binarupa Aksara.
Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan edisi 3. Jakarta : EGC
dr. Jan Tambayong, 2000. Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta : EGC.
dr. Taufan Nugroho, 2011. Kumpulan Asuhan Keperawatan Maternitas, Anak, Bedah dan
Penyakit Dalam. Jakarta:
Hand out. 2007. hospitalisasi. Prodi keperawatan, Semarang.

http:// nugealjamela.blogspot.com, diakses 12 agustus 2010


Ignatavicius,

Donna,

et.All.

2000.

Medical

Surgical

Nursing.

Philadelphia:

W.B

SaundersCompany.
John L. Cameron. 1997. Current Surgical Therapy. Jakarta: Binarupa Aksara.
LeMone, and Burke, M.K. 2000. Medical Surgical Nursing:Critical Thinking in ClientCare.
Second Edition. New Jersey: Prentie-Hall,Inc.
Lewis, Heitkemper, Dirksen. 2000. Medical Surgical Nursing: Assessment and Management of
Clinical Problem. Volume 2. Fifth Edition. Mosby.
Lewis, Heitkemper, Dirksen. 2000. Medical Surgical Nursing: Assessment and Management of
Clinical Problem. Volume 2. Fifth Edition. Mosby.
Long C, Barbara, 1996. Perawatan Medikal Bedah, Jilid 2. Jakarta: EGC
Mansjoer, Arief, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1. Jakarta: EGC
Oswari E. 1993. Bedah dan Perawatannya. Jakarta: PT Gramedia.
Seymour I. Schwartz, et.All 2000. Principles of Surgery. Companion handbook. Jakarta: EGC.
Syamsuhidayat, et.al. 2002. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta : EGC.
Syamsul Hidayat R. dan Wim De Jong, 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi Revisi. Jakarta: EGC
Tambayong, dr. Jan.2000. Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta : EGC
Wong,

2004.

Wongs

nursing

care

of

infant

and

children. St.

Louis.