Anda di halaman 1dari 5

Tobat dalam Tasawuf

Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Akhlaq Tasawuf
Dosen Pengampu : Agus Sholeh M.Ag

Disusun :

Fadilla Sukma
Putri Rizqiyah
Khoerussani Nur Fahmi
Ani Rahmawati

(13030760)
(13030760)
(1503076058)
(1503076060)

PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015/2016

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pada dasarnya, manusia hidup di dunia ini hanyalah sementara saja. Bagaikan seorang
musafir yang sewaktu-waktu haus di tengah perjalanan, kemudian singgah di suatu tempat
untuk minum, sampai rasa dahaganya hilang. Dia tidak akan lama singgah di sana. Demikian
pula, dunia adalah ibarat sebuah pasar yang disinggahi para musafir di tengah perjalanan
mereka ke tempat lain. Di sinilah mereka membekali diri dengan berbagai bekalan untuk
perjalanan itu. Namun perjalanan untuk menuju ke sana tidaklah mudah. Pasti melalui jalan
yang berliku-liku dan sulit. Dalam hal ini, dia dituntut untuk selalu tekun, sabar, istiqamah
dan juga tidak mudah putus asa. Banyak jalan dan cara yang ditempuhi seorang sufi dalam
meraih cita-cita dan tujuannya tersebut antara lain adalah dengan cara mendekatkan diri
kepada Allah Oleh karena itu, dalam perjalanan spiritualnya, seorang sufi pasti melalui
beberapa tahapan yang harus dilaluinya, tahapan ini yang disebut maqam. Maqam
yang harus dilalui oleh seorang sufi umumnya terdiri atas : tobat, zuhud,
faqr, fabar, syukur, rela, dan tawakal.

B. Rumusan Masalah
a. Apa pengertan taubat?
b. Apa saja syarat dan prasyarat taubat?
c. Bagaimana menjauhkan diri dari dosa?

BAB II
PENDAHULUAN

A. Pengertian Taubat
Taubat secara etimologi adalah kembali. Orang yang taubat disebut
al-tib. Seorang tib adalah orang yang kembali dari sifat-sifat tercela
menuju sifat-sifat terpuji, orang yang kembali dari sesuatu yang
dilarang Allah menuju apa yang diperintahkan-Nya, orang yang kembali
dari sesuatu yang dibenci Allah menuju sesuatu yang di ridlai-Nya, atau
orang yang kembali kepada Allah setelah berpisah, menuju taat
kepada-Nya, setelah melakukan pelanggaran atau kedurhakaan (almukhlaft).
Dalam perspektif sufistik Taubat dimaknai sebagai kembali dari
segala perbuatan tercela menuju perbuatan terpuji sesuai dengan
ketentuan agama. Al Qusyairi memberi arti taubat secara terminologi,
yaitu kembali dari sesuatu yang dicela oleh syara menuju hal-hal yang
dipuji oleh syara. Al Qusyairi menambahkan uraiannya dengan hadis
Nabi, bahwa menyesal termasuk taubat.

Sedangkan

Qamar Kailani

dalam bukunya Fi At-Tasawuf Al Islami mendefinisikan taubat dengan


rasa

penyesalan

yang

sungguh-sungguh

permohonan ampun serta

dan

mendalam

disertai

meninggalkan segala perbuatan yang

menimbulkan dosa. 1
Melaksankan taubat merupakan keharusan bagi setiap mukmin dan
pelaksanaan harus dilakukan secara langsung tanpa ditunda-tunda. Jika
taubat itu ditunda-tunda maka aka memunculkan kedurhakaan lain
sehingga pelakunya terlambat bertobat karena penundaan itu. Banyak
orang yang biasa menunda-nunda dan berandai-andai sampai akhirnya
tiba waktu bahwa taubatnya ditolak oleh Allah S.W.T. karena ia
melakukannya pada saat terpaksa, dalam keadaan terjepit, dan tidak
ada pilihan lain.
Perintah untuk taubat ini banyak dikemukakan dalam al-Quran,
yang antara lain firman Allah SWT yang artinya: bertaubatlah kamu
1 Totok Jumantoro, Kamus Ilmu Tasawuf, (Wonosobo:Amzah), hlm.268.

semua pada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu


semua menjadi orang-orang yang beruntung (QS. An-Nur:30).
Dikuatkan juga dengan hadist nabi, bahwa Rasulullah bersabda:
Setiap orang diantara kamu sekalian melakukan kesalahan, dan
sebaik-baiknya

orang

yang

melakukan

kesalahan

adalah

yang

bertobat. (HR. Ahmad)


Taubat yang diperintahkan Allah kepada orang-orang mukmin
adalah Taubat nasuha atau taubat yang murni. Dalam tafsir Ibnu
Katsir disebutkan bahwa taubat nasuha mempunyai arti: taubat yang
sebenar-benarnya dan pasti, yang mampu menghapuskan dosa-dosa
sebelumnya,
menghimpun

menguraikan
hatinya

dan

kekusutan

orang

mengenyahkan

yang

bertaubat,

kehinaan

yang

dilakukannya. Muhammad bin Kaab Al Qurthuby menyatakan bahwa


taubatan nasuha mwngandung arti: memohon ampun dengan lisan,
membebaskan diri dari dosa dengan badan, tekad untuk tidak kembali
melakukan lagi dengan sepenuh persaan, dan menghindari pergaulan
yang buruk.2 Manusia yang paling beruntung adalah manusia yang
dicintai Allah yang mengenal dan telah dekat kepada-Nya. Untuk dapat
mencapai tingkat mutu manusia seperti itu manusia haruslah bertobat
terlebih dahulu. Yang jelas taubat yang harus kita lakukan adalah
dengan penuh kesungguhan, penuh penyesalan, dan penuh keikhlasan.
Menurut Dzun Nun Al-Mishri, taubat dibagi dalam tiga tingkatan yaitu :
a. Orang yang bertaubat dari dosa dan keburukannya.
b. Orang yang bertaubat dari kelalaian dan kealfaaan mengingat Allah.
c. Orang yang bertobat karena memandang kebaikan dan ketaatannya.
Taubat merupakan maqam yang pertama yang harus ditempuh untuk
menuju pencapaian

marifat. Karena Allah tidak akan mendekati

hambanya sebelum bertaubat. Dengan taubat, jiwa seorang sufi akan


bersih dari dosa. Dan Allah akan mendekati jiwa seseorang yang suci.
Menurut kaum sufi, taubat dibagi dua macam, yaitu :
1) Taubat inabah
2 Joko Suharto, Menuju Ketenangan Jiwa, (Jakarta:Rineka Cipta), hlm 27.

Yaitu

engkau

takut

kepada

Allah

karena

kekuasaannya

(dapat

menimpakan hukuman kepadamu).


2) Taubat istijabah
Yaitu engkau malu (berbuat dosa) kepada Allah karena dekatnya Allah dari
dirimu.
Sedangkan Al Palembani mengklasifikasikan Taubat menjadi tiga bagian :
a) Taubat bagi orang awam
b) Taubat bagi orang khawash
c) Taubat bagi orang Khawwash Al- Khawwash