Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah kekurangan gizi merupakan masalah kesehatan tertinggi di dunia,
terutama di negara negara berkembang. Data statistik dari pada United Nation Foods
and Agriculture Organization (FAO), menyatakan bahwa kekurangan gizi di dunia
mencapai 1,02 milyar orang yaitu kira-kira 15% populasi dunia dan sebagian besar
berasal dari negara berkembang. Anak anak adalah golongan yang sering mengalami
masalah kekurangan gizi. Kira kira setengah daripada 10,9 juta anak yaitu kira-kira 5
juta anak meninggal setiap tahun akibat kekurangan gizi.1
Menurut data dari pada World Hunger Organization, terdapat empat jenis masalah
kekurangan gizi utama dan berpengaruh pada golongan berpendapatan rendah di negara
berkembang. Masalah gizi utama tersebut adalah Kurang Energi Protein (KEP), Anemia
Gizi Besi (AGB), Kurang Vitamin A (KVA) dan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium
(GAKY) (World Hunger Organization,2009). Masalah malnutrisi pada anak usia bawah
lima tahun dapat mengganggu proses tumbuh kembang secara fisikal maupun mental dan
ini dapat memberikan dampak yang negatif pada sumber daya manusia pada masa
mendatang. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (riskesdas) Nasional Departemen
Kesehatan Republik Indonesia tahun 2007 menunjukkan bahwa prevalensi gizi buruk
nasional berdasarkan presentase berat badan per umur (BB/U) pada anak balita mencapai
5,4% dan gizi kurang sebesar 13 (Laporan Riset Kesehatan Dasar Nasional,2007). Data
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, prevalensi balita gizi buruk dan kurang di
Indonesia mencapai 19,6 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan dengan data
Riskesdas 2010 sebesar 17,9 persen dan Riskesdas 2007 sebesar 18,4%.2
Menurut WHO lebih dari 50% kematian bayi dan anak terkait dengan gizi kurang
dan gizi buruk, oleh karena itu masalah gizi perlu ditangani secara cepat dan tepat.Salah
satu cara untuk menanggulangi masalah gizi kurang dan gizi buruk adalah dengan
menjadikan tatalaksana gizi buruk sebagai upaya menangani setiap kasus yang
ditemukan. Pada saat ini seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi tatalaksana
gizi buruk menunjukkan bahwa kasus ini dapat ditangani dengan dua pendekatan. Gizi
1

buruk dengan komplikasi (anoreksia, pneumonia berat, anemia berat, dehidrasi berat,
demam tinggi dan penurunan kesadaran) harus dirawat di rumah sakit, Puskesmas
perawatan, Pusat Pemulihan Gizi (PPG) atau Therapeutic Feeding Center (TFC),
sedangkan gizi buruk tanpa komplikasi dapat dilakukan secara rawat jalan. Penanganan
gizi buruk secara rawat jalan dan rawat inap merupakan jawaban terhadap pelaksanaan
Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Perbaikan Gizi, yaitu setiap anak gizi buruk
yang ditemukan harus mendapatkan perawatan sesuai dengan standar. Untuk melakukan
penanganan anak gizi buruk secara rawat jalan dan rawat inap diperlukan buku pedoman
Pelayanan Anak Gizi Buruk.3

BAB II
2

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Gizi buruk merupakan status kondisi seseorang yang kekurangan nutrisi, atau
nutrisinya di bawah standar rata rata. Status gizi buruk dibagi menjadi tiga bagian,
yaitu gizi buruk karena kekurangan protein disebut kwashiorkor, marasmus, dan
marasmus kwashiorkor. Gizi buruk ini biasanya terjadi pada anak balita bawah lima
tahun dan dapat mengganggu proses tumbuh kembang secara fisikal maupun mental.4,5,6
B. KLASIFIKASI
Terdapat 3 tipe gizi buruk
adalah marasmus, kwashiorkor, dan marasmus
kwashiorkor.4,5,6
1. Marasmus
Marasmus adalah gangguan gizi karena kekurangan karbohidrat. Berikut
adalah gejala pada marasmus adalah:
a. Penampilan wajah sperti orang tua, terlihat sangat kurus.
b. Perubahan status mental.
c. Kulit kering, dingin dan kendur.
d. Rambut kering, tipis dan mudah rontok.
e. Lemak subkutan mengilang sehingga turgor kulit berkurang.
f. Otot atrofi sehingga tulang terlihat jelas.
g. Sering diare atau konstipasi.
h. Kadang terdapat bradikardi.
i. Tekanan darah lebih rendah dibandingkan anak sehat yang sebayanya.
j. Kadang frekuensi pernafasan menurun.
2. Kwashiorkor
Penampilan tipe kwashiorkor seperti anak yang gemuk (suger baby), dietnya
mengandung cukup energi disamping kekurangan protein. Tampak sangat kurus dan
atau edema pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh.
a. Perubahan status mental : cengeng, rewel, kadang apatis
b. Sering dijumpai edema.
c. Atrofi otot.
d. Gangguan sistem gastrointestinal.
e. Perubahan rambut dan kulit.
f. Pembesarah hati.
g. Anemia.
3. Marasmus Kwashiorkor
Gambaran klinis merupakan campuran dari beberapa gejala klinik
kwashiorkor dan marasmus. Makanan sehari hari tidak cukup mengandung
protein dan juga energi untuk pertumbuhan yang normal. Pada penderita demikian
3

disamping menurunnya berat badan < 60% dari normal memperlihatkan tanda
tanda kwashiorkor, seperti edema, kelainan rambut, kelainan kulit, sedangkan
kelainan biokimiawi terlihat pula.
C. PATOFISIOLOGI
Malnutrisi merupakan suatu sindrom yang terjadi akibat banyak faktor. Faktor
aktor ini dapat digolongkan atas tiga faktor penting yaitu ; tubuh sendiri (host), agent
(kuman penyebab), environment (lingkungan). Memang faktor diet makan memegang
peran penting tetapi faktor lain menentukan. Marasmus adalah sebuah mekanisme
adaptasi tubuh terhadap kekurangan energi dalam waktu yang lama. Dalam keadaan
kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan
memenuhi kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan
karbohidrat,

protein dan lemak

merupakan

hal yang

sangat penting

untuk

mempertahankan kehidupan, karbohidrat (glucosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan


tubuh sebagai bahan bakar, tetapi kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat
sangat sedikit. Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan
menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan di ginjal.
Selama kurangnya asupan makanan, jaringan lemak akan dipecah jadi asam lemak,
gliserol dan keton. Setelah lemak tidak mencukupi kebutuhan energi maka otot dapat
mempergunakan asam lemak dan keton sebagai sumber energi kalau kekurangan
makanan. Pada akhirnya setelah semua tidak dapat memenuhi kebutuhan akan energi
lagi, protein akan dipecah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme basal tubuh. Proses
ini berjalan menahun, dan merupakan respon adaptasi terhadap ketidakcukupan asupan
energi dan protein.6,7,8,9
D. FAKTOR GIZI BURUK
Ada 2 faktor penyebab dari gizi buruk adalah sebagai berikut :
1. Penyebab Langsung, kurangnya jumlah dan kualitas makanan yang dikonsumsi,
menderita penyakit infeksi, cacat bawaan dan menderita penyakit kanker.
Anak yang mendapat makanan cukup baik tetapi sering diserang atau demam
akhirnya menderita kurang gizi.
2. Penyebab tidak langsung, ketersediaan pangan rumah tangga, perilaku, pelayanan
kesehatan. Sedangkan faktor kesehatan, ada faktor lainyaitu masalah utama gizi
buruk adalah kemiskinan, pendidikan rendah, ketersediaan pangan dan
kesempatan kerja. Secara garis besar gizi buruk disebabkan oleh karena asupan
4

makanan yang kurang atau anak sering sakit, atau terkena infeksi. Asupan
makanan yang kurang disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain tidak
tersedianya makanan secara adekuat, anak tidak cukup salah mendapat makanan
bergizi seimbang, dan pola makan yang salah. Kekurangan gizi merupakan
suatu keadaan dimana terjadi kekurangan zat zat gizi ensensial, yang bisa
disebabkan oleh asupan yang kurang karena makanan yang jelek

atau

penyerapan yang buruk dari usus (malabsorbsi), penggunaan berlebihan dari


zat zat gizi oleh tubuh, dan kehilangan zat zat gizi yang abnormal melalui
diare, pendarahan, gagal ginjal atau keringat yang berlebihan.6
E. KOMPLIKASI
Keadaan malnutrisi marasmus dapat menyebabkan anak mendapatkan penyakit
penyerta yang terkadang tidak ringan apabila penatalaksanaan marasmus tidak segera
dilakukan. Beberapa keadaan tersebut ialah :6
1. Noma
Noma merupakan penyakit yang kadang kadang menyertai malnutrisi
tipe marasmus kwashiorkor. Noma atau stomatitis gangraenosa merupakan
pembusukan mukosa mulut yang bersifat progresif sehingga dapat menembus
pipi. Noma dapa terjadi pada malnutrisi berat karena adanya penurunan daya
tahan tubuh. Penyakit inimempunyai bau yang khas dan tercium dari jarak
beberapa meter. Noma dapat sembuh tetapi menimbulkan bekas luka yang
idakdapat hilang seperti lenyapnya hidung atautidak dapat menutupnya mata
karena proses fibrosis.
2. Xeroftalmia
Penyakit ini sering ditemukan pada malnutrisi yang berat terutama pada
tipe marasmus kwashiorkor. Pada kasus malnutrisi ini vitamin A serum sangat
rendah sehingga dapat menyebabkan kebutaan. Oleh karena itu setiap anak
dengan malnutrisi sebaiknyadiberikan vitamin A baik secara parenteral maupun
oral, ditambah dengan diet yang cukup mengandung vitamin A.
3. Tuberkulosis
Pada anak dengan keadaan malnutrisi berat, akan terjadi penurunan
kekebalan tubuh yang akan berdampak mudahnya terinfeksi kuman. Salah
satyunya adalah mudahnya anak dengan malnutrisi berat terinfeksi kuman
mycobacterium tuberculosis yang menyebabkanpenyakit tuberkulosis.
4. Sirosis hepatis
5

Sirosis hepatis terjadi karena timbulnya perlemakan dan penimbunan


lemak pada saluran portal hingga seluruh parenkim hepar tertimbun lemak.
Penimbunan lemak ini juga disertai adanya ifeksi pada hepar seperti hepatitis
yang menimbulkan penyakit sirosis hepatis pada anak dengan malnutrisi berat.
5. Hipotermia
Hipotermia merupakan komplikasi serius pada malnutrisi berat tipe
marasmus. Hipotermia terjadi karena tubuh tidak menghasilkan energi yang akan
diubah menjadi energi panas sesuai yang dibutuhkan tubuh. Selain itu lemak
subkutan yang tipis bahkan menghilang akan menyebabkan suhu lingkungan
sangat mempengaruhi tubuh penderita.
6. Hipoglikemia
Hipoglikemia dapat terjadi pada hari hari pertama perawatan anak
dengan malnutrisi berat. Kadar gula darah yang sangat rendah ini sangat
mempengaruhi tingkat kesadaran anak dengan malnutrisi berat sehingga dapat
membahayakanpenderitannya.
7. Infeksi traktus urinarius
Infeksi traktus urinarius merupakan infeksi yang sering terjadi pada anak
bergantung kepada tingkat kekebalan tubuh anak. Anak dengan malnutrisi berat
mempunyai

daya

tahan

tubuh

yang

sangat

menurun

sehingga

dapat

mempermudah terjadinya infeksi tersebut.


8. Penurunan kecerdasan
Pada anak dengan malnutrisi berat, akan terjadi penurunan perkembangan
organ tubuhnya. Organ penting yang paling terkena pengaruh salah satunya ialah
otak. Otak akan terhambat perkembangannya yang diakibatkan karena kurangnya
asupan nutrisi untuk pembentukan sel sel neuron otak. Keadaan ini akan
berpengaruh pada kecerdasan seorang anak yang membuat fungsi afektif dan
kognitif menurun, terutama dalam hal daya tangkap, analisa dan memori.
F. PENILAIAN STATUS GIZI
Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Anak (Standar Antropometri).10
Indeks

Kategori

Ambang Batas

Status Gizi
Berat Badan Menurut Umur (BB/U)
Anak Umur 0 60 bulan

Gizi buruk

<-3 SD

Gizi kurang

-3 SD sampai dengan < -2 SD

Gizi baik

-2 SD sampai dengan 2 SD

Gizi lebih

>2 SD

Panjang Badan Menurut Umur

Sangat

<-3 SD

(PB/U) atau Tinggi Badan Menurut

pendek

Umur (TB/U)
Anak Umur 0 60 bulan

Pendek

-3 SD sampai dengan <-2 SD

Normal

-2 Sd sampai dengan 2 SD

Tinggi

>2 SD

Berat Badan Menurut Panjang

Sangat kurus

<-3 SD

Badan (BB/PB) atau Berat Badan

Kurus

-3 SD sampai dengan <- 2 SD

Menurut Tinggi Badan (BB/TB)


Anak Umur 0 60 bulan

Normal

-2 SD sampai dengan 2 SD

Gemuk

>2 SD

Indeks Massa Tubuh Menurut Umur

Sangat kurus

< -3 SD

(BB/TB)
Anak Umur 0- 60 bulan

Kurus

-3 SD sampai dengan < -2 SD

Normal

-2 SD sampai dengan 2SD

Gemuk

>2 SD

Indeks Massa Tubuh Menurut Umur

Sangat kurus

<-3 SD

(IMT/U)
Anak Umur 5 18 tahun

Kurus

-3 SD sampai dengan < -2 SD

Normal

-2 SD sampai dengan 1 SD

Gemuk

>1 SD sampai dengan 2 SD

Obesitas

>2 SD

G. PENCEGAHAN
Tindakan pencegahan terhadap marasmus dapat dilaksanakan dengan baik bila
penyebabnya diketahui. Usaha usaha tersebut memerlukan sarana dan prasarana
kesehatan yang baik untuk pelayanan kesehatan dan penyuluhan gizi. Beberapa
diantaranya ialah :6
1. Pemberian ASI sampai umur 2 tahun merupakan sumber energi yang paling baik
untuk bayi.
2. Ditambah dengan pemberian makanan tambahan bergizi dan berprotein serta
energi tinggi pada anak sejak umur 6 bulan ke atas.
7

3. Pencegahan penyakit infeksi, dengan meningkatkan kebersihan lingkungan dan


kebersihan perorangan.
4. Pemberian imunisasi.
5. Penyuluhan/pendidikan gizi tentang pemberian makanan yang adekuat merupakan
usaha pencegahan jangka panjang.
6. Pemantauan yang teratur pada anak balita di daerah yang endemis, kurang gizi,
dengan cara penimbangan berat badan tiap bulan.
7. Meningkatkan hasil produksi pertanian agar persediaan makanan mencukupi.
8. Melakukan program transmigrasi ke daerah lain agar terjadi pemerataan
penduduk.
9. Memperbaiki infrastruktur pemasaran dan mensubsidi harga bahan makanan.
10. Meningkatkan hasil produksi pertanian agar persediaan makanan mencukupi.
H. PENATALAKSANAAN
Tujuan pengobatan pada penderita marasmus adalah pemberian diet tinggi kalori
dan tinggi protein serta mencegah kekambuhan. Pederita marasmus tenpa komplikasi
dapat berobat jalan asal diberi penyuluhan mengenai pemberian makanan yang baik,
sedangkan penderita yang mengalami komplikasi serta dehidrasi, syok , asidosis dan lain
lain perlu mendapat perawatan dirumah sakit. Penatalaksanaan yang dirawat di RS
dibagi dalam dua fase.
Fase initial, tujuan yang diharapkan adalah untuk menangani atau mencegah
hipoglikemia, hipotermia, dan dehidrasi. Tahap awal yaitu 24 48 jam pertama
merupakan masa kritis, yaitu tindakan menyelamatkan jiwa, antara lain mengokersi
keadaan dehidrasi atau asidosis dengan pemberian cairan intravena. Cairan yang
diberikan adalah larutan Darrow Glucosa atau Ringger Lactat Dextrose 5%. Cairan
diberikan sebanyak 200 ml/kg BB/hari. Mula mula diberikan 60 ml/kg BB pada 4 8
jam pertama. Kemudian 140 ml sisanya diberikan dalam 16 20 jam berikutnya.
Hipotermia ditandai dengan suhu tubuh yang rendah dibawah 36,0 0C. Pada keadaan ini
anak harus dihangatkan. Cara yang dapat dilakukan adalah ibu atau orang dewasa lain
mendekap anak didadanya lalu ditutupi selimut (metode kanguru). Perlu dijaga agar anak
tetap bernafas.
Semua anak menurut WHO, diberikan antibiotik untuk mencegah komplikasi
yang bersifat infeksi, namun pemberian antibiotik yang spesifik tergantung dari
diagnosis, keparahan, dan keadaan klinis dari anak tersebut. Pada anak diatas 2 tahun
diberikan obat anti parasit sesuai protocol. Tahap kedua yaitu penyesuaian, sebagian
besar penderita tidak memerlukan koreksi cairan dan elektrolit, sehingga dapat langsung
8

dimulai dengan penyesuaianterhadap pemberian makanan. Pada hari hari pertama


jumlah kalori yang diberikan sebanyak 30 60 kalori/kg BB/hari atau rata rata 50
kalori/kg BB/hari, dengan protein 1 1,5g/kg BB/hari. Jumlah ini dinaikan berangsur
angsur tiap 1 2 hari mencapai diet tinggi kalori tinggi protein ini lebih kurang 7 10
hari. Waktu yang diperlukan untuk mencapai diet tinggi kalori tinggi protein 7- 10 hari.
Cairan yang diberikan sebanyak 150 ml/kg BB/hari. Formula yang diberikan dalam tahap
ini adalah F-75 yang mengandung 75 kalori/100 ml dan 0,9 protein/100 ml) yang
diberikan terus menerus setiap 2 jam.
Pemberian vitamin dan mineral yaitu vitamin A diberikan sebanyak 200.000 i.u
peroral atau 100.000 i.u im pada hari pertama kemudian pada hari kedua diberikan
200.000 i.u oral. Vitamin A diberikan tanpa melihat ada atau tidaknya gejala defisiensi
vitamin A untuk mencegah terjadinya xeroftalmia karena pada kasus ini kadar vitamin A
serum sangat rendah. Mineral yang perlu ditambahkan adalah K, sebanyak 1 -2 meq/kg
BB/hari/IV atau dalam bentuk preparat oral 75 100 mg/kg BB/hari dan Mg brupa
MgSO4 50 % 0,25 ml/kg BB/hari atau magnesium oral 30 mg/kg BB/hari. Dapat
diberikan 1 mi vitamin B (IC) dan 1 ml vit.C (IM), selanjutnya diberikan preparat oral
atau dengan diet.
Fase rehabilitasi, dimulai saat nafsu makan anak meningkat dan infeksi yang ada
berhasil ditangani. Formula F-75 diganti menjadi F-100 yang dikurangi kadar gulanya
untuk mengurangi osmolaritasnya. Jenis makanan yang memenuhi syarat untuk penderita
malnutrisi berat ialah susu dan diberikan bergantian dengan F-100. Dalam penilaian jenis
makanan perlu diperhatikan berat badan penderita. Dianjurkan untuk memakai pedoman
BB kurang dari 7 kg diberikan makanan untuk bayi dengan makanan utama ialah susu
formula atau susu yang dimodifikasi, secara bertahap ditambahkan makanan lumat dan
makanan lunak. Penderita dengan BB di atas 7 kg diberikan makanan untuk anak diatas 1
tahun dalam bentuk cair kemudian makanan lunak dan makanan padat. Sepuluh langkah
tatalaksana gizi buruk yaitu :
1. Mencegah dan mengatasi hipoglikemia
2. Mencegah dan mengatasi hipotermia
3. Mencegah dan mengatasi dehidrasi
4. Memperbaiki gangguan keseimbangan elektrolit
5. Mengobati infeksi
6. Memperbaiki zat gizi mikro
7. Memberikan makanan untuk stabilisasi dan transisi
9

8. Memberikan makanan untuk tumbuh kejar


9. Memberikan stimulasi tumbuh kembang
10. Mempersiapkan untuk tindak lanjut di rumah
Pada pasien dengan gizi buruk dibagi 2 fase yang harus dilalui yaitu fase
stabilisasi (hari 1 - 7), fase transisi (hari 8 - 14), fase rehabilitasi (minggu ke 3 - 6),
ditambah fase tindak lanjut (minggu ke 7 - 26). Pada fase tindak lanjut dapat
dilakukandirumah, dimana anak secara berkala (1 minggu/kali) berobat jalan ke
Puskesmas atau Rumah Sakit.6,7,8,9,10
I. PROGNOSIS
Prognosis pada penyakit ini buruk karena banyak menyebabkan kematian dari
penderitanya akibat infeksi yang menyertai penyakit tersebut, tetapi prognosisnya dapat
dikatakan baik apabila malnutrisi tipe marasmus ini ditangani secara tepat dan tepat.
Kematian dapat dihindarkan apabila dehidrasi berat dan penyakit infeksi kronis lain
seperti tuberkulosis atau hepatitis yang menyebabkan terjadinya sirosis hepatis dapat
dihindari. Pada anak yang mendapatkan malnutrisi pada usia yang lebih muda, akan
terjadi penurunan tingkat kecerdasan yang lebih besar dan irreversibel dibandingkan
dengan anak yang mendapat keadaaan malnutrisi pada usia yang lebih dewasa. Hal ini
berbanding terbalik dengan psikomotor anak yang mendapat penanganan malnutrisi lebih
cepat menurut umurnya, anak yang lebih muda saat mendapat perbaikan keadaan gizinya
akan cenderung mendapatkan kesembuhan psikomotornya lebih sempurna dibandingkan
dengan anak yang lebih tua, sekalipun telah mendapatkan penanganan yang sama. Hanya
saja pertumbuhan dan perkembangan anak yang pernah mengalami kondisi marasmus ini
cenderung lebih lambat, terutama terlihat jelas dalam hal pertumbuhan tinggi badan anak
dan pertambahan berat badan anak, walaupun jika dilihat secara ratio berat dan tinggi
anak berada dalam batas normal.6,7

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
Penyakit KEP atau protein energi malnutrition (kekurangan energi dan protein)
merupakan salah satu penyakit gangguan gizi yang penting bagi negara negara yang tertinggal
10

maupun yang berkembang seperti Indonesia dan lainnya. Prevalensi tertinggi terdapat pada anak
anak dibawah umur 5 tahun (balita). Pada kondisi ini ditemukan berbagai macam keadaan
patologis disebabkan kekurangan energi maupun protein dalam tingkat yang bermacam
macam. Akibat dari konsisi tersebut, ditemukan malnutrisi dari derajat yang ringan hingga berat.
Pada keaadaan yang sangan ringan tidak ditemukan kelainan dan hanya didapatkan pertumbuhan
yang kurang sedangkan kelainan biokimiawi dan gejala klinis tidak terlihat. Pada keadaan yang
berat ditemukan dua tipe malnutrisi yaitu marasmus dan kwashiorkor, serta diantara keduanya
terdapat suatu keadaan dimana ditemukan pencampuran ciri ciri kedua tipe malnutrisi tersebut
yang dinamakan marasmus kwashiorkor. Masing masing dari tipe itu mempunyai gejala
gejala yang khas. Pada semua derajat maupun malnutrisi ini mempunyai persamaan bahwa
adanya gangguan pertumbuhan pada penderitanya. Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya
malnutrisi pada anak, terutama adalah peranan diet sehari hari yang kurang mencukupi
kebutuhan gizi seimbang anak pada masa usia pertumbuhan, adanya penyakit penyerta yang
memperburuk keadaan gizi serta peranan sosial ekonomi yang mempunyai peranan tinggi
terutama kemiskinan dalam hal mempengaruhi status gizi seseorang. Gejala klinis yang timbul
kekurangan gizi tipe marasmus mempunyai gambaran yang khas dalam hal membedakannya
dengan kekurangan gizi tipe kwashiorkor. Pada tipe marasmus, gejala klinis yang lebih menonjol
bahwa penderita terlihat wajahya seperti orang tua, dan anak yang sangat kurus karena hilangnya
sebagian besar lemak dan atrofi dari otot ototnya. Sedangkan pada kwashiorkor, gejala klinis
yang lebih terlihat adalah penampilannya yang gemuk disertai adanya edema ringan maupun
berat dan adanya asites dikarenakan kekurangan protein, disamping itu juga terlihat perubahan
warna rambut menjadi merah seperti rambut pada jagung serta mudah dicabut. Pengobatan
marasmus adalah dengan pemberian diet tinggi protein disertai pemberian cairan untuk
menanggulangi dehidrasi jika ada. Selain itu juga diberikan vitamin A untuk mencegah
terjadinya kebutaan pada matanya dan pemberian mineral lain untuk membantu meningkatkan
gizi penerita. Penyakit ini mempunyai komplikasi dari yang ringan seperti infeksi traktus
urinarius hingga yang berat seperti tuberkulosis. Penatalaksanaanya dilakukan secara bersama
sama dengan memperbaiki keadaan gizinya. Walaupun prognosisnya terlihat buruk tetapi dengan
penanganan yang cepat dan tepat dapat menghindarkan penderitanya dari kematian.
SARAN
11

Penyakit marasmus merupakan penyakit kekurangan gizi yang banyak sekali terjadi
diIndonesia dan terutama terjadi pada anak anak. Jika kondisi ini dibiarkan berlarut larut
maka akan banyak sekali anak Indonesia yang terhambat perkembangan dan pertumbuhannya
dalam menatap masa depannya, sehingga diperlukan usaha untuk menanggulangi permasalahan
tersebut, diantaranya adalah :
1. Anak anak dalam masa pertumbuhan dan perkembangan sebaiknya
mendapatkan asupan gizi yang adekuat sesuai gizi seimbang yaitu kecukupan
karbohidrat, lemak , protein, serat, vitamin, mineral dan terutama air.
2. Orang tua harus lebih memperhatikan asupan makanan anak anaknya apakah
makanan yang diberikan sudah mencukupi nutrisi yang dibutuhkandalam masa
perkembangannya, selain itu orang tua harus memeriksakan kesehatan anaknya ke
pusat pelayanan kesehatan seperti posyandu atau puskesmas secara rutin.
3. Pemerintah bersama sama dengan masyarakat melalui posyandu dan puskesma
turut berperan serta aktif sebagai basis terdepan dalam usaha meningkatkan taraf
hidup masyarakat terutama anak anak dalam menuju Indonesia sehat dimasa
yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA
1. World Health Organinization.2008.The Global Nutrition Challenge:Getting a
Healthy Start.The Pacific Health Summit.
2.
3.

Kementerian Kesehatan R.I.2013.Riset Kesehatan Dasar 2013.


Depkes RI.2011. Pedoman Perbaikan Gizi Anak Sekolah Dasar, dan
Madrasah Ibtidaiyah.Jakarta:Direktor Gizi Maryarakat.
12

4. Behrman RE, RM Kliegman, HB Jenson. Food Insecurity, Hunger, and


Undernutrition in Nelson texbook of Pediatric 18 th edition, 2004.
5. Pudjiadi Solihin. Penyakit KEP (Kurang Energi dan Protein) dari Ilmu Gizi
Klinis pada anak Edisi keempat. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
Jakarta : 2005.
6. Tatalaksana Gizi Buruk. http://repository.usu.ac.id
7. Gizi Buruk. http://journal .unhas.ac.id/index.php/mgmi/artikel.
8. Bernal, C. Velasquez, C. Alcaraza&G., Botero, J. 2007. Treatment Of Severe
Malnutrition In Management Of The Child With Serious Infection Or Severe
Malnutition,

World

Health

Guidelines

In

Turbo,

Columbia.http://journals.lww.com
9. Erdy Nicko. Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk. Buku I. Direktorat Bina
Gizi-Direktorat Jenderal Bina Gizi dan KIA. Cetakan keenam 2011.
10. Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Direktorat Bina GiziDirektorat Jenderal Bina Gizi dan KIA. 2011.

13