Anda di halaman 1dari 9

RANGKUMAN

KEMITRAAN DALAM PROMOSI KESEHATAN


Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Promosi Kesehatan

Oleh:
Dika Andria Nursalam
NPM : 34403514037
II B

AKADEMI KEPERAWATAN KABUPATEN CIANJUR


Jl. Pasir Gede Raya No. 19 Tlp. (0263) 270 953
Fax.270953 Cianjur 43216
2014-2015

Indonesia Sehat 2010 yang telah dicanangkan oleh Departemen


Kesehatan, mempunyai visi yang sangat ideal, yakni mesyarakat Indonesia yang
penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat, mampu menjangkau
pelayanan keshatan yang bermutu, adil dan merata, serta memiliki derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya.
Dari visi tersebut ada 3 Prakondisi yang perlu dilakukan untuk mencapai
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, yakni: lingkungan sehat, perilaku sehat,
dan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat.
Lingkungan sehat adalah lingkungan yang kondusif untuk hidup sehat. Perilaku
sehat sehat adlah perilaku masyarakat yang proaktif untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatannya,mencegah risiko terjanya penyakit, melindungi diri
dari penyakit, serta berperan aktif dalam gerakan atau kegiatan-kegiatan kesehatan
masyarakat. Sedangkan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau oleh
masyarakat diartikan masyarakat memperoleh pelayanan dengan mudah dari
tenaga kesehatan yang profesional.
Selanjutnya untuk mewujudkan visi Indonesia Sehat 2010 terlah
ditetapkan 4 misi pembangun kesehatan yang tentunya untuk merealisasikan misi
ini, jelas tidak mungkin hanya dibebankan pada sector kesehatan saja,karena
maslah kesehtan merupakan dampak dari semua sector-sektor pembangunan. Oleh
sebab itu, semua sector pembangunan dalam mengeluarkan kebijakannya harus
berorientasi pada kesehatan. Maslah kesehatan adalah tanggung jawab bersama
setiap individu, masyarakat, pemerintah, dan swasta. Pemerintah dalam hal ini
Departemen Kesehatan memang merupakan sector yang paling depan dalam
bertanggung jawab (Leading sector), namun dalam dalam mengimplementasikan
kebijakan dan program, intervensi harus bersama-sama dengan sector lain, baik
pemerintah maupun swasta. Dengan kata lain, sector kesehatan seyogiannya
merupakan pemrakarsa dalam menjalin kerja sama atau kemitraan (partnership)
dengan sector-sektor terkait.

Dasar Pemikiran Kemitraan.


Kesehatan
adalah hak dan
kewajiban
semua orang

Masalah
kesehatan =
muara dari
semua sector
pembangunan

Kemandirian
dalam bidang
kesehatan

Pemecahan
masalah
kesehatan
adalah
tanggung
jawab
bersama

KEMITRAAN
BIDANG
KESEHATAN

Di Indonesia istilah kemitraan masih relative baru, namun demikian


praktiknya dimsyarakat sebenarnya sudah terjadi sejak zaman dahulu. Misalnya,
sejak nenek moyang kita telah dikenal istilah gotong royong yang sebenarnya
esensiannya adalah kemitraan. Sebab, memalalui kerjasama dari berbagi pihak,
baik secara individual maupun kelompok, mereka membangun jalan, jembatan,
balai desa, pengairan, dan sebaginya. Kemudaian gotong royong sebagai praktik
kemitraan individual ini berkembang menjadi koperasi, koalisi, aliansi, jaringan
(net working), dan sebagainya. Istilah-istilah ini sebenarnya perwujudan dari kerja
sama

antar

individu

atau

kelompok

yang

saling

membantu,

saling

menguntungkan, dan bersama-sama untuk meringankan dalam mencapai suatu


tujuan yang telah disepakati bersama.

Robert Davies, ketua eksekutif The Prince of Wales Bussines Leader


Forum (NS Hasrat jaya Ziliwu, 2007) merumuskan, Partnership is a formal
cross sector relationship between individuals, groups or organization who :

Work together to fulfil an obligation or undertake a specific task

Agree in advance what to commint and what to expect

Review the relationship regulary and revise their agreement as necessary,


and

Share both risk and the benefits


Dari batasan ini dapat ditarik suatu prinsip umum, bahwa: Kemitraan alah
suatu kerja sama yang formal antara individu,kelompok-kelompok atau
organisasi-organisasi untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Dalam kerja sama
tersebut ada kesepakatan tentang komitmen dan harapan masing-masing anggota,
tentang peninjauan kembali terhadap kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuat,
dan saling berbagi baik dalam risiko maupun keuntungan yang diperoleh. Dari
batasan ini terdapat 3 kata kunci dalam kemitraan, yakni:
a. Kerja sama antara kelompok, organisasi, individu.
b. Bersama-sama mecapai tujuan tertentu (yang disepakati bersama).
c. Saling menanggung risiko dan keuntungan.
Mengingat kemitraan alah bentuk kerjasama atau aliansi maka setiap pihak
yang terlibat didalamnya harus ada kerelaan diri untuk bekerja sama, dan
melepaskan kepentingan bersama. Oleh sebab itu, membangun sebuah menitraan,
harusdidasarkan pada hal-hal sebagai berikut:
1. Persyaratan kemitraan:
a. Kesamaan perhatian (common interest) atau kepentingan
b. Saling mempercayai dan saling menghormati
c. Harus saling menyadari pentingnya arti kemitraan
d. Harus ada kesepakatan visi, misi, tujuan, dan nilai yang sama
e. Harus berpijak apada landasan yang sama
f. Kesediaan untuk berkorban
2. Landasalan kemitraan

Dalam membangun kemitraan dengan mitra-mitra atau calon-calon mitra


kesehatan

perlu

dilandasi

dengan

tujuh

(7)

saling,

yakni:

(Havelloc,1967)
a. Saling memahami kedudukan,tugas dan fungsi masing-masing
(structure)
b. Saling memahami kemampuan masing-masing anggota (capacity)
c. Saling menghubungi (linkage)
d. Saling mendekati (proximity)
e. Saling terbuka dan bersedia membantu (openes)
f. Saling mendorong dan saling mendukung (synergy)
g. Saling menghargai (reward)
3. Prinsip-prinsip kemitraan
Kemitraan alah salah satu ber\ntuk kerja sama yang konkret dal solid. Oleh
sebab itu, dalam membangun suatu kemitraan ada 3 prinsip kunci yang
perlu dipahami oleh masing-masing anggota atau kemitraan tersebut,
yakni:
a. Kesetaraan (equity)
b. Keterbukaan (transparency)
c. Saling menguntungkan (mutual benefit)
Dari uraian tentang pengertian dan prinsip kemitraan diatasdapat
disimulkan bahwa secara eksplisit tujuan kemitraan dalam program kesehatan
adalah:
1. Meningkatkan koordinasi untuk memenuhi kewajiban peran masingmasing dalam pembangunan kesehatan.
2. Meningkatkan komunikasi sektoral pemerintah dan swasta tentang
masalah kesehatan.
3. Meningkatkan kemampuan bersama dalam menanggulangi maslah
kesehatan dan memaksimalkan keuntungan semua pihak.
4. Meningkatkan apa yang menjadi komitmen bersama.
5. Tercapainya upaya kesehatan yang efisien dan efektif atau berdaya guna
dan berhasil guna.
Untuk mencapai tujuan-tujuan kemitraan tersebut , perlu langkah-langkah
yang strategis.langkah- langkah pelaksanaan kemitraan ini dapat diuraikan seperti
dibah ini:
a. Penjajakan

b.
c.
d.
e.
f.

Penyamaan persepsi
Pengaturan peran
Komunikasi intensif
Melaksanakan kegiatan
Pemantauan penilaian

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam mengembangkan


kemitraan dibidang kesehatan terdapat 3 institusi utama organisasi atau unsure
pokok yang terlibat didalamnya. Ketiga institusi pokok tersebut adalah:
1. Unsure Pemerintah, di mana unsure ini terdiri dari berbagai sektoral
pemerintah terkait dengan kesehatan,antara lain: kesehatan,sebagai sector
kuncinya, sector pendidikan, pertanian, kehutanan, agama, lingkunga
hidup, industri dan perdagangan dan sebagainya
2. Dunia usaha atau unsure swasta (Private sectors) atau kalangan bisnis,
yakni: dari kalangan pengusaha, industriawan, dan para pemimpin bebagai
perusahaan.
3. Unsure oraganisasi non-pemerintah atau sering di sebut ornop atau non
government organization (NGO), yang meliputi 2 unsur penting:
a. Unsur lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan organisasi
masa (ORMAS) termasuk yayasan-yayasan bidang kesehatan.
b. Organisasi-organisasi profesi seperti IDI, PDGI, LAKMI, PPNI, dan
sebagainya.

Diagram Pilar-Pilar Kemitraan.


DUNIA USAHA
PEMERINTAH
Sektor

LSM/ORMAS

Sektor
kesehatan

lain

Sector

Sector

ORGANISASI
PROFESI

Dari uraian tersebut , dapat diambil kesimpulan bahwa dalam membangun


kemitraan kesehatan secara konsep terdiri dari 3 tahap,yang selanjutnya
merupakan pilarpilar kemitraan bidang kesehatan yakni:
1. Tahap pertama adalah kemitraan lintas program dilingkungan sector
kesehatan sendiri.
2. Tahap kedua adalah kemitraan listas sector di lingkungan institusi
pemerintahan.
3. Tahap ketiga alah membangun kemitraan yang lebih luas, lintas program,
lintas sektoral, lintas bidang, dan lintas organisasi, yang mencakup:
a. Unsure dunia usaha (bisnis)
b. Unsur LSM dan organisasi massa
c. Unsure organisasi profesi
Kemitraan bukanlah sebagai outpu atau tujuan, tetapi juga bakan sebuah
proses, namun suatu system. Artinya, dalam mengembangkan dan sekaligus untuk
mengevaluasi kemitraan dapat menggunakan pendekatan system, yakni:

1. Input
Input sebuah kemitraan adalah semua sumber daya yang dimiliki oleh
masing-masing unsure yang terjalin dalam kemitraan, terutama sumber
daya manusia, dan sumber daya yang lain seperti: dana, system informasi,
teknologi, dan sebagainya. Disamping itu, jumlah atau banyaknya mitra
yang terlibat dalam jaringan kemitraan juga merupakan input.
2. Proses
Proses dalam kemitraan pada hakikatnya adalah kegiatan-kegiatan untuk
membangun kemitraan tersebut. Kegiatan kegiatan untuk membangun

kemitraan antara lain memalui: pertemuan pertemuan,seminar, loka karya,


pelatihan-pelatihan, semiloka, dan sebagainya.
3. Output
Adalah terbentuknya jaringan kerja atau networking,aliansi, forum, dan
sebagainya yang terdiri dari berbagai unsure seperti telah disebutkan di
atas, dan tersusunnya program dan pelaksanaannya masalah kesehatan.
Disamping itu juga tersusunnya urain tugas dan fungsi untuk masingmasing anggota merupakan output kemitraan tersebut.
4. Outcome
Outcome adalah dampak daripada kemitraan terhadap peningkatan
kesehatan masyarakat. Oleh sebab itu, outcome kemitraan dapat dilihat
dari indicator-indikator derajat kesehatan masyarakat, yang sebenarnya
merupakan akumulasi dampak dari upaya-upaya lain disamping
kemitraan. Dengan demikian outcome kemitraan adalah menurunnya
angka atau indicator kesehatan (negative), misalnya menurunnya angka
kesakitan dan atau angka kematian. Atau meningkatnya indicator
kesehatan

(positif),

balita,meningkatnya

misalnya:

meningkatnya

kepemilikan

jamban

status

keluarga,

gizi

anak

meningkatnya

persentase penduduk yang terakses air bersih, dan sebagainya.


Selanjutnya model model kemitraan dapat dikelompokan dari berbagai
pengalaman pengembangan kemitraan di sector kesehatan yang ada, diantaranya:
1. Model I
Model kemitraan yang paling sederhana adalah dalam bentuk
jaringan kerja atau sering disebut juga building linkage. Kemitraan
semacam ini hanya dalam bentuk jaringan kerja saja. Masing-masing mitra
atau

institusi

telah

mempunyai

program

sendiri

mulai

dari

merencanakannya, melaksanakannya dan mengevaluasinya. Oleh karena


adanya persamaan pelayanan atau sasaran pelayanan atau karakteristik yan
lain diantara mereka, maka terbentuklah jaringan kerta. Sifat kemitraan ini
sering juga disebut koalisi, misalnya : koalisi Indonesia Sehat, Forum
Promosi Kesehatan Indonesia.
2. Model II

Kemitraan model ini lebih baik dan solid, dimana masing-masing


anggota mempunyai tanggung jawab yang lebih bersar terhadap program
atau kegiatan bersama. Oleh sebab itu, visi, misi dan kegiatankegiatan
dalam

mencapai

tujuan

kemitraan

tersebut

harus

direncanakan,

dilaksanakan, dan dievaluasi bersama, contoh: Gerakan Terpadu Nasional


(Gerdunas) TB paru, dan Gebrak Malaria )Rollback Malaria). Gerdunas
dan Gebrak malaria adalah suatu program pemberantasan TB paru dan
malaria yang dirancang dan dilaksankan bersama oleh lintas program dan
sector. Didalam penanggulangan Demam Berdarah Dangue (DBDB)
dikembangkan Pokjanal (Kelompok Kerja NAsional) dipusat samapi
kecamatan, yang anggotanya adalah sector terkait: kesehatan, swasta dan
LSM.

RUJUKAN:
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Indonesia Sehat 2010,
Depkes, RI, Jakarta: 1999
Pusat Promosi Kesehatan, Kemitraan dengan Sektor Swasta, Departemen
Kesehatan , RI, Jakarta: 2003.
New Player for New Era, Leading Health Promotion Into 21 st Century,
4th Internasional Confrence on Health Promotion, Jakarta, 21-25 July
1989.
Robert, Davies, Developing Partnership, The Prince of Wales
Bussiness,London, 1998.
Pusat Promosi Kesehatan, Kemitraan dengan Sektor Swasta, Departemen
Kesehatan, RI, Jakarta, Jakarta: 2003

Anda mungkin juga menyukai