Anda di halaman 1dari 13

BAB

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masyarakat Indonesia merupakan suatu masyarakat majemuk yang memiliki keanekaragaman di
dalam berbagai aspek kehidupan. Bukti nyata adanya kemajemukan di dalam masyarakat kita terlihat
dalam beragamnya kebudayaan di Indonesia. Tidak dapat kita pungkiri bahwa kebudayaan merupakan
hasil cipta, rasa, karsa manusia yang menjadi sumber kekayaan bagi bangsa Indonesia.
Tidak ada satu masyarakat pun yang tidak memiliki kebudayaan. Begitu pula sebaliknya tidak akan ada
kebudayaan tanpa adanya masyarakat. Ini berarti begitu besar kaitan antara kebudayaan dengan
masyarakat. Kebiasaan masyarakat yang berbeda-beda di karenakan setiap masyarakat / suku
memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dengan suku liannya.
Masyarakat Batak, adalah salah satu masyarakat Indonesia yang berada di kawasan Sumatra. Setiap
masyarakat pastilah memiliki kebudayaan yang berbeda dengan masyarakat lainnya yang menjadi
penanda keberadaan suatu masyarakat / suku. Begitu juga dengan masyarakat Batak yang memiliki
karekteristik kebudayaan yang berbeda.
Keunikan kharakteristik suku Batak ini tercermin dari kebudayaan yang mereka miliki baik dari
segi agama, mata pencaharian, kesenian dan lain sebagainya. Adat-istiadat seperti upacara kelahiran,
upacara pernikahan, upacara kematian, norma, dan kebiasaan-kebiasaan juga merupakan jati diri suku
bangsa Batak, yang membedakan suku bangsa ini dengan suku bangsa lain.

Suku Batak dengan sekelumit kebudayaannya merupakan salah satu hal yang menarik untuk dipelajari
dalam bidang kajian mata kuliah Pluralitas dan Integritas Nasional yang pada akhirnya akan menjadi
bekal ilmu pengetahuan bagi kita dalam hal kebudayaan.
B. Rumusan Masalah
Untuk memudahkan dalam penulisan dan pemahaman makalah ini, maka kami merumuskan
beberapa hal yang bersangkutan dengan kebudayaan masyarakat Batak, yaitu :
-

Bagaimana keadaan kebudayaan masyarakat Batak ?

Bagaimana masalah sosial yang ada dalam masyarakat Batak?

Bagaimana sistem interaksi dalam masyarakat Batak ?

Bagaimana keadaan agama dalam masyarakat Batak ?

Bagaimana keadaan ekonomi dalam masyarakat Batak ?

C. Tujuan Makalah
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu memberikan pengenalan dan pengetahuan umum
kepada pembaca mengenai kebudayaan masyarakat Batak, dari sejarah, adat istiadat, sisi kehidupan
masyarakat batak (sosial ekonomi), hingga perkembangan masyarakat batak di era modern dalam
beberapa aspek.

BAB
II

PEMBAHASAN

A. Sejarah Suku Batak


Suku / masyarakat Batak hidup di kawasan Sumatra Utara. Sebagian masyarakat yang tinggal di daerah
ini adalah masyarakat Batak. Suku Batak pertama sekali mendiami daerah karo dan kawasan danau
Toba.
Sebagai bagian dari sejarah bangsa, budaya Batak sudah ada sejak berabad-abad tahun yang lalu.
Dimulai dari kerajaan Sisingamangaraja yang pertama (kakek buyut Raja Sisingamangaraja XII,
pahlawan nasional Indonesia), suku Batak tetap eksis sampai saat ini dengan tetap mempertahankan
identitasnya. Pewaris kebudayaan Batak tetap menjaga, memelihara serta melestarikan Budaya Batak
sebagai kebudayaan warisan nenek moyang. Budaya Batak yang bersifat kekeluargaan, gotong royong
dan setia kawan telah mengakar disetiap langkah hidup orang Batak. Budaya Batak sudah menjadi
falsafah hidup bagi warganya di tengah era globalisasi.
Versi sejarah mengatakan si Raja Batak dan rombongannya datang dari Thailand, terus ke
Semenanjung Malaysia lalu menyeberang ke Sumatera dan menghuni Sianjur Mula Mula, lebih kurang
8 Km arah Barat Pangururan, pinggiran Danau Toba sekarang.Versi lain mengatakan, dari India melalui
Barus atau dari Alas Gayo berkelana ke Selatan hingga bermukim di pinggir Danau Toba.
Diperkirakan Si Raja Batak hidup sekitar tahun 1200 (awal abad ke-13). Raja Sisingamangaraja XII salah
satu keturunan si Raja Batak yang merupakan generasi ke-19 (wafat 1907), maka anaknya bernama si
Raja Buntal adalah generasi ke-20. Batu bertulis (prasasti) di Portibi bertahun 1208 yang dibaca Prof.
Nilakantisasri (Guru Besar Purbakala dari Madras, India) menjelaskan bahwa pada tahun 1024 kerajaan
COLA dari India menyerang SRIWIJAYA yang menyebabkan bermukimnya 1.500 orang TAMIL di Barus.
Pada tahun 1275 MAJAPAHIT menyerang Sriwijaya, hingga menguasai daerah Pane, Haru, Padang
Lawas. Sekitar rahun 1.400 kerajaan NAKUR berkuasa di sebelah timur Danau Toba, Tanah Karo dan
sebagian Aceh.
B. Adat
Adat adalah bagian dari pada Kebudayaan, berbicara kebudayaan dari suatu bangsa atau suku bangsa
maka adat kebiasaan suku bangsa tersebut yang akan menjadi perhatian, atau dengan kata lain bahwa
adat lah yang menonjol di dalam mempelajari atau mengetahui kebudayaan satu suku bangsa,
meskipun aspek lain tidak kalah penting seperti kepercayaan, keseniaan, kesusasteraan dan lain-lain .
Orang Batak mengenal 3 (tiga) tingkatan adat yaitu:

1.

Adat Inti,adalah seluruh kehidupan yang terjadi (in illo tempore) pada permulaan penciptaan
dunia oleh Dewata Mulajadi Na Bolon. Sifat adat ini konservatif (tidak berubah).

2. Adat Na taradat,adat yang secara nyata dimiliki oleh kelompok desa, negeri, persekutuan agama,
maupun masyarakat. Ciri adat ini adalah praktis dan flexibel, setia pada adat inti atau tradisi nenek
moyang. Adat ini juga selalu akomodatif dan lugas menerima unsur dari luar, setelah disesuaikan
dengan tuntunan adat yang asalnya dari Dewata.
3. Adat Na niadathon, yaitu segala adat yang sama sekali baru dan menolak adat inti dan adat na
taradat, adat na niadathon ini merupakan adat yang menolak kepercayaan hubungan adat dengan
Tuhan, bahkan merupakan konsep agama baru (Kristen, Islam dll) yang dipandang sebagai adat,
yang justru bertentangan dengan agama asli Batak atau tradisi nenek moyang. (Sinaga 1983).

Berdasarkan ketiga tingkatan adat tersebut di atas. Adat yang sekarang dilakoni orang Batak adalah
Adat tingkat kedua. Namun dibeberapa bagaian kelompok Batak sudah mendekati tingkat ketiga.
Meskipun ini terjadi sadar atau tidak sadar dilakukan.

C. Bahasa dan Aksara


Dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari, orang Batak menggunakan beberapa logat:
1. Logat Karo yang dipakai oleh orang Karo;
2. Logat Pakpak yang dipakai oleh Pakpak;
3. Logat Simalungun yang dipakai oleh Simalungun;
4. Logat Toba yang dipakai oleh orang Toba, Angkola dan Mandailing.

Bahasa Batak bisa dibagi menjadi beberapa kelompok:

1. Bahasa Batak Utara


a. Bahasa Alas
b. Bahasa Karo

2. Bahasa Batak Simalungun

3. Bahasa Batak Selatan


a. Bahasa Angkola-Mandailing
b. Bahasa Pakpak-Dairi
c. Bahasa Simalungun
d. Bahasa Toba

Surat Batak adalah sebuah jenis aksara yang disebut Abugida. Aksara Batak biasanya ditulis di atas
bambu atau kayu, penulisan dimulai dari bawah ke atas dan baris dimulai dari kiri ke kanan. Surat ini
pada zaman dahulu kala digunakan untuk menulis naskah batak. Dalam bahasa batak, buku tersebut
dinamakan Pustaha, ditulis oleh datu (dukun) berisikan penanggalan dan ilmu nujum (hal-hal gaib).

D. Falsafah
Masyarakat Batak memiliki falsafah yang melambangkan sikap hidup dalam bermasyarakat, yaitu yang
disebut Dalihan Natolu. Arti dari falsafah tersebut yaitu satuan tungku yang terdiri dari tiga batu. Istilah
ini diambil dari cara memasak orang batak pada zaman dahulu. Tiga batu tersebut dipakai sebagai
falsafah orang batak dalam hidup bermasyarakat yang meliputi:
1. Marsomba tu hula-hula (Toba), atau Kalimbubu (Karo) atau Mora (Mandailing)
Artinya seorang pria harus menghormati keluarga pihak istrinya.
2. Elek Marboru (Toba) atau Anak Beru (Karo) atau Anak Boru (Mandailing)
Elek Marboru artinya harus dapat merangkul boru (anak perempuan dari satu marga). Hal ini
melambangkan kedudukan seorang wanita dalam lingkungan marganya.
3. Manat Mardongan Tubu (Toba), atau Senina (Karo) atau Kahangi (Mandailing)
Dongan Tobu adalah saudara-saudara semarga, manat mardogan tubu melambangkan hubungan
dengan saudara-saudara semarga. Dalihan natolu ini menjadi pedoman hidup orang batak dalam
kehidupan bermasyarakat. Dalam khasnah Karo saudara semarga ini disebut dengan Senina.
Dalam khasanah Mandailing saudara semarga disebut dengan hahangi.

E. Simbol Budaya pada Rumah Batak


Rumah orang batak karo disebut siwaluh jabu sedang untuk rumah batak toba disebut rumah bolon.
Semua rumah adat dibuat dari kayu.

Simbol dalam budaya Batak ditampilkan dalam rumah suku Batak, yaitu:
1. Pada bagian puncak rumah yang menjulang ke atas dipasang tanduk kerbau melambangkan
kesejahteraan bagi keluarga yang mendiami atau arca muka manusia, dari puncak yang
melengkung membentuk setengah lingkaran (kecuali rumah empat Ayo pada orang batak Karo),
pada rumah Ayo ini ada ornamen geometris dengan warna-warna merah, putih, kuning dan hitam.
2. Pada sisi kanan kiri rumah, kedua mukanya rumah batak memakai lukisan orang atau singa
(kalamakara)
3.

Pada sudut-sudut rumah terdapat hiasan gajah dompak, bermotif muka binatang misalnya kepala
singa mempunyai maksud sebagai penolak bala.

4. Pada bagian depan rumah terdapat hiasan bermotif tempurung kelapa yang disebut adep-adep
melambangkan payudara perempuan yang melambangkan kesuburan kehidupan dan lambang

kesatuan , serta hiasan bermotif cicak melambangkan orang batak dapat hidup di posisi apa saja,
misalnya bisa jadi direktur hingga buruh.
5. Untuk memasuki rumah batak Toba harus menundukkan kepala agar tidak terbentur balok yang
melintang, juga bisa diartikan tamu harus menghormati pemilik rumah.
F. Kekerabatan

Nilai kekerabatan masyarakat Batak utamanya terwujud dalam pelaksanaan adat Dalian Na
Talu, dimana seseorang harus mencari jodoh diluar kelompoknya, orang-orang dalam satu
kelompok saling menyebut Sabutuha (bersaudara), untuk kelompok yang menerima gadis
untuk diperistri disebut Hula-hula. Kelompok yang memberikan gadis disebut Boru.

Kelompok kekerabatan suku bangsa Batak berdiam di daerah pedesaan yang disebut Huta
atau Kuta menurut istilah Karo. Biasanya satu Huta didiami oleh keluarga dari satu marga.Ada
pula kelompok kerabat yang disebut marga taneh yaitu kelompok pariteral keturunan pendiri
dari Kuta. Marga tersebut terikat oleh simbol-simbol tertentu misalnya nama marga. Klen kecil
tadi merupakan kerabat patrilineal yang masih berdiam dalam satu kawasan. Sebaliknya klen
besar yang anggotanya sudah banyak hidup tersebar sehingga tidak saling kenal tetapi mereka
dapat mengenali anggotanya melalui nama marga yang selalu disertakan dibelakang nama
kecilnya.
Stratifikasi sosial orang Batak didasarkan pada tiga prinsip yaitu :
1. Perbedaan tigkat umur,
2. Perbedaan pangkat dan jabatan,
3. Perbedaan sifat keaslian dan Status kawin.

G. Kepemimpinan
Kepemimpoinan dalam masyarakat Batak Karo terpisah menurut tiga bidang yaitu bidang adat, bidang
pemerintahan, dan di bidang keagamaan.

H. Marga dan Tarombo


1. Marga
Adalah sekelompok kekerabatan menurut garis keturunan Ayah (patrilineal). Sistem ini
memutuskan garis keturunan selalu dihubungkan dengan laki-laki. Seorang Batak telah merasa
lengkap jika telah memiliki anak laki-laki yang akan meneruskan marganya. Jumlah seluruh marga
batak sebanyak 416 termasuk warga suku Nias (sebenarnya suku Nias bukan Batak) Setiap orang

batak memiliki nama marga, pemakaian nama marga biasanya dicantumkan di belakang atau di
akhir namanya.
2. Tarombo
Adalah silsilah, asal-usul menurut garis keturunan ayah.

I.

Perkawinan dan Perceraian


Perkawinan pada orang batak merupakan suatu pranata yang tidak hanya mengikat seorang laki-laki
dengan seorang perempuan tetapi juga mengikat dalam suatu hubungan kaum kerabat dari laki-laki
dengan kerabat kaum perempuan. Perkawinan ideal dalam masyarakat batak adalah perkawinan
antara orang-orang rimpal (marpariban, bahasa toba). Pada masa sekarang sudah banyak pemuda
tidak mengikuti adat ini lagi. Inisiatif lamaran diambil dari kaum kerabat laki-laki dengan mengirimkan
suatu utusan resmi ke rumah gadis.
1. Kawin Lari
Perkawinan yang di luar tersebut di atas adalah perkawinan lari (mangalua), hal ini terjadi karena
tidak terdapat kesesuaian antara salah satu pihak atau dua belah pihak kaum kerabat. Pada kawin
lari ini, dalam waktukurang dari satu hari kaum kerabat pihak laki-laki harus mengirimkan pihak
delegasi ke rumah orang tua si gadis untuk memberitahukan bahwa anak gadis mereka telah
dibawa dengan maksud untuk dikawini (diparaja). Selang beberapa lama akan dilakukan upacara
manuruk nuruk untuk minta maaf. Setelah upacara ini dilalui, barulah kemudian disusul dengan
upacara perkawinan secara resmi.
2. Perkawinan Levirat
Adalah perkawinan janda (yang ditinggal mati suaminya) menikah dengan saudara suaminya. Jika
si janda tidak mau, maka ia harus minta diceraikan dulu kepada jabu asal dari suaminya. Adapun
mereka yang berhak menceraikan si janda yang ditinggal mati suaminya adalah anak kandung lakilaki, anak tiri lkaki-laki, cucu laki-laki, kalau mereka tidak ada, maka senina dari almarhum
suaminya dapat bertindak sebagai orag yang akan melepaskan si janda dari ikatannya dari klen
suaminya.
3. Poligini
Pada umumnya masyarakat batak bersifat monogami, walaupun masyarakat tidak melarang
poligami. Norma-norma agama kristen menghambat orang melakukan poligami. Kalau seorang
pada orang batak menjadi istri kedua (manindi) maka ia dan anak-anaknya sama sekali tidak
berhak atas segala harta yang ada. Ia harus mencari nafkah sendiri, kalau tidak kedua keluarga
batih, mereka akan bermusuhan. Penyebab poligami ini adalah antara lain karena kemandulan.
Perceraian dapat terjadi bila:
1. Si istri tidak bisa bergaul dengan keluarga suami,

2. Tidak memperoleh keturunan laki-laki,


3. Selingkuh.

J.

Mata Pencaharian (Ekonomi)


Pada umumnya masyarakat batak bercocok tanam padi di sawah dan ladang. Lahan didapat dari
pembagian yang didasarkan marga. Setiap kelurga mandapat tanah tetapi tidak boleh menjualnya.
Selain tanah ulayat adapun tanah yang dimiliki perseorangan.

Perternakan juga salah satu mata pencaharian suku batak antara lain perternakan kerbau, sapi, babi,
kambing, ayam, dan bebek. Penangkapan ikan dilakukan sebagian penduduk disekitar danau Toba.
Sektor kerajinan juga berkembang. Misalnya tenun, anyaman rotan, ukiran kayu, temmbikar, yang ada
kaitanya dengan pariwisata.

K. Kepercayaan
Pada abad 19 agama islam masuk daerah penyebaranya meliputi batak selatan. Agama kristen masuk
sekitar tahun 1863 yang disiarkan oleh para Missionaris dari Jerman yang bernama Nomensen dan
penyebaranya meliputi batak utara. Walaupun d emikian banyak sekali masyarakat batak di daerah
pedesaan yang masih mempertahankan konsep asli religi penduduk batak. Orang batak mempunyai
konsepsi bahwa alam semesta beserta isinya diciptakan oleh Debeta Mula Jadi Na Balon dan
bertempat tinggal diatas langit dan mempunyai nama-nama sesuai dengan tugasnya dan kedudukanya
Debeta Mula Jadi Na Balon

: bertempat tinggal dilangit dan merupakan maha pencipta;

Siloan Na Balom

: berkedudukan sebagai penguasa dunia mahluk halus.

Menyangkut jiwa dan roh, suku Batak mengenal tiga konsep, yaitu:

Tondi : jiwa atau roh seseorang yang merupakan kekuatan, oleh karena itu tondi memberi nyawa
kepada manusia. Tondi didapat sejak seseorang di dalam kandungan. Bila tondi meninggalkan badan
seseorang, maka orang tersebut akan sakit atau meninggal, maka diadakan upacara mangalap
(menjemput) tondi dari sombaon yang menawannya.

Sahala : jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang. Semua orang memiliki tondi, tetapi tidak
semua orang memiliki sahala. Sahala sama dengan sumanta, tuah atau kesaktian yang dimiliki para
raja atau hula-hula.

Begu adalah tondi orang yang telah meninggal, yang tingkah lakunya sama dengan tingkah laku
manusia, hanya muncul pada waktu malam.

Beberapa begu yang ditakuti oleh orang Batak, yaitu:


Sombaon, yaitu begu yang bertempat tinggal di pegunungan atau di hutan rimba yang gelap dan

mengerikan.
Solobean, yaitu begu yang dianggap penguasa pada tempat tempat tertentu
Silan, yaitu begu dari nenek moyang pendiri hutan/kampung dari suatu marga
Begu Ganjang, yaitu begu yang sangat ditakuti, karena dapat membinasakan orang lain menurut

perintah pemeliharanya.
Ada juga kepercayaan yang ada di Tarutung tentang ular (ulok) dengan boru Hutabarat, dimana boru
Hutabarat tidak boleh dikatakan cantik di Tarutung. Apabila dikatakan cantik maka nyawa wanita
tersebut tidak akan lama lagi, menurut kepercayaan orang itu.
L.

Batak Era Modern

Hingga sekarang ditengah ditengah perubahan dimensi ruang dan dimensi waktu, pola kebudayaan
Dalihan Na Tolu masih bertahan mengikuti zaman. Walaupun begitu derasnya arus globalisasi namun
kebudayaan Batak Dalihan Na Tolu masih tetap dijaga secara turun-temurun dan tidak terpengaruh
budaya asing.

Namun seperti yang telah disebutkan sebelumnya perkembangan teknologi, globalisasi dan era
informasi yang pesat membawa dampak bagi perkembangan budaya Batak juga. Dari berbagai
identitas budaya yang telah diwariskan turun-temurun, ada yang harus disesuaikan dengan kondisi
yang terjadi sekarang. Penyesuaian tersebut dilakukan karena tidak sesuai dengan undang-undang
yang berlaku di Indonesia.

Salah satu contohnya adalah dalam hal sistem pembagian harta warisan. Hukum adat Batak yang
patrilineal tidak mengakui adanya pembagian harta warisan bagi anak perempuan. Semua warisan
dari orangtua diberikan pada anak laki-lakinya yang esensial sebagai penyambung keturunan menurut
garis bapak. Namun dewasa ini sistem hukum adat yang patrilineal yang dianut suku Batak dalam hak
warisan bagi anak laki-laki sedang mendapat ujian berat. Hal ini berkaitan dengan unifikasi hukum
nasional buat seluruh warga negara Indonesia, dimana anak laki-laki dan perempuan memiliki hak
yang sama dalam pembagian warisan. Oleh sebab itu hukum adat Batak tersebut kemudian
disesuaikan. Anak laki-laki dan perempuan adalah sama dalam pembagian warisan.

Walau terjadi unifikasi hukum nasional buat seluruh masyarakat Indonesia, namun budaya Batak tetap
akan dijaga. Walau Sisinga Mangaraja telah gugur namun falsafah hidup Dalihan Na Tolu tidak pernah

hilang. Dan pola Kebudayaan Batak sejak abad XIV hingga kini tidak pernah dapat ditumbangkan oleh
kebudayaan asing. Zaman boleh berubah, teknologi boleh semakin maju, arus globalisasi boleh
semakin deras tapi kebudayaan Batak tetap harus dilestarikan. Budaya Batak akan tetap bertahan dan
berkembang dalam perubahan multi dimensi.
Sejarah Batak modern dipengaruhi oleh dua agama Samawi yakni Islam dan Kristen. Islam makin kuat
pengaruhnya pada saat Perang Padri, melalui aktivitas dakwah yang dilakukan para da'i dari dari negeri
Minang. Perluasan penyebaran agama Islam juga pernah memasuki hingga ke daerah Tapanuli Utara
dibawah pimpinan Tuanku Rao dari Sumatera Barat, namun tidak begitu berhasil. Islam lebih
berkembang di kalangan Mandailing, Padang Lawas, dan sebagian Angkola.

Agama Kristen baru berpengaruh di kalangan Angkola dan Batak (Silindung-Samosir-Humbang-Toba)


setelah beberapa kali misi Kristen yang dikirimkan mengalami kegagalan. Misionaris yang paling
berhasil adalah I.L. Nommensen yang melanjutkan tugas pendahulunya menyebarkan agama Kristen
di wilayah Tapanuli. Ketika itu, masyarakat Batak yang berada di sekitar Tapanuli, khususnya Tarutung,
diberi pengajaran baca tulis, keahlian bertukang untuk kaum pria dan keahlian menjahit serta urusan
rumah tangga bagi kaum ibu. Pelatihan dan pengajaran ini kemudian berkembang hingga akhirnya
berdiri sekolah dasar dan sekolah keahlian di beberapa wilayah di Tapanuli. Nommensen dan penyebar
agama lainnya juga berperan besar dalam pembangunan dua rumah sakit yang ada saat ini, RS Umum
Tarutung dan RS HKBP Balige, yang sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka.

Sementara itu, perkembangan pendidikan formal juga terus berlanjut hingga dibukanya sebuah
perguruan tinggi bernama Universitas HKBP I.L. Nommensen (UHN) tahun 1954. Universitas ini
menjadi universitas swasta pertama yang ada di Sumatra Utara dan awalnya hanya terdiri dari Fakultas
Ekonomi dan Fakultas Theologia.
M. Upacara Adat
Terbagi ke dalam beberapa jenis:
1.

Upacara adat inti


Mencakup seluruh kehidupan yang berkaitan dengan penciptaan dunia oleh sang pencipta debata mulajadi
nabolon. Pelaksanaan adat inti tidak boleh diubah. Karena terikat dengan norma dan aturan yang diturunkan
oelh debata mulajadi nabolon sebelum agama mempengaruhi sikap etnis orang batak toba terhadap
upacara adat.

2.

Upacara adat nataradat


Secara harfiah, adat nataradat adalah undang-undang dan kelaziman yang berupa adat. Adat nataradat
bersifat adaptif dan menerima pergeseran dari adat inti dan bagian adat inilah yang dilaksanakan oleh
pelaku-pelaku adat toba di saat sekarang dengan berpedoman kepada ungkapan cerita rakyat batak toba.

3.

Adat Naniadathon
Adat ini adalah tingkatan pelaksanaan atau upacara adat yang sudah dipengaruhi peradaban yang telah
menjadi kebiasaan baru. Pada adat naniadathon terjadi pergeseran nilai dan perubahan pelaku adat
misalnya upacara adat wisuda, baptisan anak, perayaan ulang tahun, peresmian perusahaan.

4.

Adat Na Soadat
Secara harfiah, adat ini adalah adat yang bukan adat karena tata laksana upacara adat tidak lagi berdasarkan
struktur dan sistematika yang lazimdilaksanakan oleh etnis batak toba. Upacara ini dipandang sekedar
berkumpul dalam bentuk resepsi baik dalam upacara perkawinan, kematian, dan sebagainya. Struktur
kekerabatan dalam dalihan natolu demikian simbol-simbol dalam upacara adat ini disingkirkan.

N. Pakaian Adat
Dikenal dengan ulos, adalah kain tenun khas batak yang berbentuk selendang. Secara harfiah, ulos berarti
selimut, pemberi kehangatan badaniah dari terpaan udara dingin. Menurut pemikiran leluhur batak, ada 3
sumber kehangatan yaitu: matahari, api, ulos. Dari ketiga sumber tersebut, ulos dianggap paling nyaman dan
akrab dengan kehidupan sehari-hari. Dalam perkembangannya ulos juga diberikan kepada orang bukan batak
sebagai penghormatan dan kasih sayang.
Ada beberapa macam ulos, antara lain:
1.

Ulos Ragidup

2.

Ulos Ragihotang

3.

Ulos Sibolang

4.

Ulos Nametmet

5.

Ulos Nabalga

O. Tarian Tradisional
Tortor dilihat dari gerakan badan, dapat dibagi menjadi:

P.

1.

Pangurdot, yang bergerak hanya tumit, kaki hingga bahu,

2.

Pengeal, yang bergerak hnya pinggang, punggung hingga bahu,

3.

Pandenggal, yang bergerak hanya lengan, telapak tangan, hingga jari tangan,

4.

Siangkupna, yang bergerak hanya leher,

5.

Hapunana, yang bergerak hanya wajah.

Lagu Tradisional
Lagu tradisional yang berasal dari suku batak, yaitu:
1.

Ketabo

2.

Sinanggar Tulo

3.

Sigulempong

4.

Dago Inang Sarge

5.

Ungut-ungut

6.

Sitogol

Q. Musik
Jenis musik tradisional batak toba:
1.

Gondang

2.

Sarunebolon, yaitu jenis alat tiup,

3.

Ogung, yaitu sejenis gong yang jumlahnya ada 4 yang mepunyai fungsi masing-masing saat dimainkan

BAB
III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Suku / masyarakat Batak hidup di kawasan Sumatra Utara. Sebagian masyarakat yang tinggal di daerah
ini adalah masyarakat Batak. Suku Batak pertama sekali mendiami daerah karo dan kawasan danau Toba.
Sebagian masyarakat batak bercocok tanam di irigasi dan ladang. Di smping bercocok tanam, pertenakan
juga merupakan suatu mata pencaharian yang penting bagi orang batak umumnya. Di daerah pinggiran
danau toba, biasanya masyarakat Batak menagkap ikan dengan perahu lesung.
Masyarakat Batak pada umumnya beragama kristen dan hanya sedikit yang memeluk agama Islam.

Walaupun demikian masyarakat perdesaan suku Batak tetap memepertahankan agama aslinya. Orang
batak percaya bahwa, yang menciptakan alam semesta ini adalah debata (ompung) mulajadi na bolon.
Dia tinggal diatas langit dan mempunyai nama-nama seseui tugasnya.

Walau terjadi unifikasi hukum nasional buat seluruh masyarakat Indonesia, namun budaya Batak tetap
akan dijaga. Walau Sisinga Mangaraja telah gugur namun falsafah hidup Dalihan Na Tolu tidak pernah
hilang. Dan pola Kebudayaan Batak sejak abad XIV hingga kini tidak pernah dapat ditumbangkan oleh
kebudayaan asing. Zaman boleh berubah, teknologi boleh semakin maju, arus globalisasi boleh semakin
deras tapi kebudayaan Batak tetap harus dilestarikan. Budaya Batak akan tetap bertahan dan
berkembang dalam perubahan multi dimensi.
B. Saran
Kebudayaan yang dimiliki suku Batak ini menjadi salah satu kekayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia
yang perlu tetap dijaga kelestariannya. Dengan membuat makalah bersama presentasi suku Batak ini
diharapkan dapat lebih mengetahui lebih jauh mengenai kebudayaan suku Batak tersebut sekaligus
memperkenalkan kepada pembaca dan dapat menambah wawasan serta pengetahuan yang pada
kelanjutannya dapat bermanfaat dalam dunia kependidikan.