Anda di halaman 1dari 20

PERCOBAAN III

IMOBILISASI ENZIM SECARA PENGIKATAN ION


I. Tujuan Percobaan
Mempelajari cara imobilisasi enzim protease dan amilase secara pengikatan ion
menggunakan bahan pengamobil resin penukar ion.
II. Tinjauan Pustaka
Amobilisasi enzim adalah enzim yang secara fisik dibatasi geraknya atau
ditempatkan pada suhu ruang untuk mempertahankan katalitiknya dan dapat
digunakan secara berulang-ulang (Chibata, 1978).
Enzim amobilisasi adalah enzim yang terikat atau tertutup oleh medium yang
tidak terlarut atau molekul enzim yang telah disilangkan dengan yang lain tanpa
kehilangan aktivitas katalitiknya (Palmer, 1991).
Teknik amobilisasi enzim adalah teknik yang digunakan agar enzim tidak
bergerak, baik melalui pengikatan pada padatan pendukung maupun penjebakan
pada matriks. Tujuan amobilisasi enzim adalah untuk meningkatkan aktivitas
enzim dan menggunakan enzim amobil tersebut untuk fermentasi ulang secara
batch maupun fermentasi kontinyu (Panji, 1998).
Enzim teramobilisasi adalah enzim yang diikatkan ke dalam bahan yang sifatnya
inert sehingga pergerakannya dalam ruang telah dibatasi seluruhnya atau hanya
pada daerah tertentu saja. Tujuan utamanya adalah untuk menciptakan daya
katalitik enzim yang berkesinambungan (Muchtadi dkk, 1992).
Menurut Fardiaz (1988), teknik amobilisasi enzim, sel mikrobia sel tanaman
maupun sel hewan pada prinsipnya hampir sama dan dapat dikelompokkan
menjadi tiga kelompok yaitu:

1. Metode ikatan dengan matriks


Metode ini merupakan metode amobilisasi pertama yang ditemukan. Metode ini
didasarkan pada pengikatan enzim langsung pada matriks yang tidak larut dalam
air dan dapat dibedakan lagi atas tiga macam berdasarkan cara pengikatannya,
yaitu adsorbsi fisik, ikatan ionik, dan ikatan kovalen. Matriks yang dapat
digunakan untuk amobilisasi dengan sistem ikatan diantaranya polisakarida tidak
larut air (selulosa, dekstran, dan turunan agarosa), protein (gelatin dan albumin),
polimer sintetik (resin ion exchange dan gel poliakrilamida), bahan organik (gelas
berpori, silica, ion metal dan tanah alkali). Pemilihan teknik ini tergantung pada
enzim itu sendiri. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan adalah ukuran partikel,
luas permukaan, rasio molar termasuik hidrolfilik atau hidrofobik dan komposisi
kimia.
2. Metode ikatan silang
Metode ikatan silang didasarkan atas pembentukan ikatan kimia, seperti pada
metode ikatan kovalen, tetapi tidak menggunakan matriks yang tidak larut.
Amobilisasi enzim terjadi melalui komponen bi-atau multifungsional. Sebagai
komponen pengikat dapat digunakan gluraldehida, turunan bis-diazobenzidin, dan
lain-lain. Enzim yang diamobilisasi dengan metode ini sering bersifat gel
sehingga sukar ditangani. Enzim dapat diamobilisasi sebagai bagian dari suatu
kopolimerisasi dengan anhidrida maleat dan etilen yang sebelumnya telah
direaksikan dengan etilendiamin.
3. Metode penjebakan
Metode penjebakan dapat dibedakan atas 2 macam yaitu

Penjebakan di dalam kapsul (mikroenkapsulasi); Pemasukan enzim ke dalam


membran polimer semipermeabel. Hasil mikroenkapsulasi umumnya
mempunyai ukuran yang bervariasi mulai dari satu mikron sampai beberapa

mikron. Kondisi ini dapat mencegah enzim keluar dari kapsul, sedangkan

substrat dengan berat molekul kecil dapat mencapai enzim.


Penjebakan di dalam matriks polimer; Enzim yang diamobilisasi dijerat di
dalam polimer sintetik atau alami. Metode yang telah terbukti sangat
memuaskan untuk amobilisasi enzim adalah penjebakan.

Faktor-faktor yang harus diperhatikan untuk amobilisasi enzim adalah matriks


yang digunakan dan terjadinya ikatan antara enzim dan matriks. Berdasarkan
komposisi kimianya, matriks ini dapat digolongkan menjadi polimer alami dan
sintetik. Beberapa jenis matriks dapat digolongkan sebagai gel. Pemakaian gel
sebagai matriks pengamobil dapat digunakan baik untuk sistem penjeratan
(entraping) maupun pengikat, apabila memilih permukaan yang luas terutama
pada bagian internalnya. Keuntungan yang dapat diperoleh dari penggunaan gel
ini adalah bentuk sesuai dengan konformasi yang diinginkan seperti bentuk
membran atau bentuk partikel. Bahan yang paling banyak digunakan sebagai
matriks dalam amobilisasi adalah polisakarida, terutama dari algae, dan selulosa.
Keduanya digunakan dalam metode penjebakan (seperti alginat, poliakrilamida
dan karagenan) (Fardiaz, 1988).
Menurut Goel (1994), enzim yang diamobilkan mempunyai beberapa kelebihan
dan kelemahan. Kelebihannya antara lain:

Enzim akan menjadi lebih stabil

Enzim dapat digunakan secara berulang ulang.

Memudahkan pemisahan enzim dari produk

Kualitas produk enzim yang dihasilkan terjaga

Proses dapat berjalan secara berkesinambungan

Memudahkan kontrol reaksi

Reaksi dapat berjalan tanpa kontaminasi (misalnya oleh protein lain)


Sifat dari enzim amobil berbeda dengan enzim yang terdapat bebas dalam larutan
dan tergantung dari metode immobilisasi dan carier alami yang tidak terlarut.
Penurunan pada aktivitas spesifik muncul saat enzim diamobilisasi sebagian
proses kimia dilibatkan saat kondisi mungkin menyebabkan denaturasi. Sebagai
contoh, karakteristik enzim dapat berubah jika sisi aktif mengalami perubahan
konformasi sebagai hasil interaksi antara enzim dan carier. Carier dapat
mempengaruhi karakteristik enzim dengan membentuk rintangan sterik dengan
pencegahan difusi bebas dari substrat ke semua molekul enzim atau dengan
memebentuk interaksi elektrostatik dengan molekul substrat atau produk (Palmer,
1991).

III.

Metodologi
III.1. Waktu dan Tempat

Percobaan ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 15 Maret 2016 pukul 01.00
sampai selesai di Laboratorium kimia Organik Jurusan kimia Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Tadulako Palu.
III.2. Alat dan Bahan
III.2.1.Alat
Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu erlenmeyer 100 mL, gelas
ukur 10 mL dan 100mL, gelas kimia 100 mL, neraca analitik, neraca ohaus,
batang pengaduk, corong kaca, pipet tetes, kaca arloji, botol semprot, stopwatch,
statif klem, tabung reaksi, rak tabung reaksi, neraca ohaus, dan penangas air.
III.2.2.Bahan
Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu santan kelapa, getah
biduri, resin penukar kation, kertas saring dan aquadest.
III.3. Prosedur Kerja

III.3.1.Imobilisasi Enzim Protease dari Getah Biduri


Mengambil 10 gram enzim protease getah tanaman biduri, kemudian
memasukkan ke dalam erlenmeyer 100 ml dan menambahkan aquadest sebanyak
50 ml, kemudian mengocok hingga enzim larut. Kemudian menyiapkan corong
kaca yang bersih, lalu mengisi dengan resin penukar kation dan mencuci dengan
aquadest hingga bersih. Kemudian memasukkan larutan enzim sedikit demi
sedikit ke dalam corong kaca yang berisi resin penukar ion, dan menampung
cairan yang keluar dari corong kaca (eluat). Lalu memasukkan cairan yang keluar
dari corong kaca memasukkan ulang hingga 3 kali, kemudian mengeluarkan
enzim protease amobil yang dihasilkan untuk mengetahui beratnya. Menghitung
rendemen enzim protease amobil yang dihasilkan menggunakan persamaan (1),
menyimpan untuk dilakukan pengujian aktivitas dan retensi aktivitas protease
amobil yang dihasilkan.

III.3.2. Penentuan Aktivitas Protease


Mengambil 5 ml larutan santan kelapa kemudian memasukkan ke dalam tabung
reaksi yang berkode A dan B. Kemudian menambahkan 1 gram enzim protease
hasil ekstraksi dari getah biduri pada tabung A, dan menambahkan 2 gram
protease amobil pada tabung B, mengocok kedua tabung reaksi selama 10 menit,
kemudian memasukkan ke dalam penangas air dengan suhu 60 C dan mengamati
waktu yang diperlukan terbentuknya penggumpalan protein pada santan kelapa.
Menentukan

aktivitas

protease,

yaitu

waktu

yang

diperlukan

terjadi

penggumpalan protein santan kelapa.

Retensi aktivitas enzim amobil =


100%

waktu yangdiperlukanuntuk enzim bebas


waktu yangdiperlukanuntuk amobil

IV.

Hasil dan Pembahasan

4.1. Hasil Pengamatan


4.1.1. Imobilisasi Enzim Protease dari Getah Biduri

No.

Perlakuan

Hasil

1.

+ 10 gr protease getah biduri

2.

+ 50 ml akuades (dikocok)

Enzim berwarna putih


Enzim melarut
Terdapat endapan putih

3.

+ Campuran disaring

dan filtrate bening


1,647

4.

Berat endapan

IV.1.1. Penentuan Aktivitas Protease


No

Perlakuan
1. + 5 ml santan kelapa
+ 1 gr enzim protease getah
biduri
-Dikocok 10 menit
- Dipanaskan pada suhu 60OC
- Waktu
Santan kelapa
+ 2 gr protease amobil
- dikocok 10 menit
2.- dipanaskan pada suhu 60OC
Waktu

Hasil
berwarna putih
Enzim berwarna putih
Enzim bercampur
Terjadi penggumpalan
124 sekon

berwarna putih
berwarna putih
enzim bercampur
terjadi penggumpalan
290 sekon

IV.2. Analisa Data


Dik: berat enzim protease

: 10 gr

berat enzim protease amobil : 1,647 gr


Dit : rendemen dan retensi aktivitas enzim amobil ?
Penyelesaian:
a

Rendemen

% Rendemen =

beratenzim protease amobil


berat enzim protease
1,647 gr
10 gr

X 100%

X 100%

= 16,47%
b

Retensi aktivitas enzim amibil

Retensi aktivitas enzim amobil =

waktu yangdiperlukanuntuk enzim bebas


waktu yangdiperlukanuntuk amobil

100%

124 Sekon
290Sekon

X 100%

= 42,75 %

IV.3. Pembahasan
Imobilisasi enzim secara pengikatan ion termasuk salah satu teknik imobilisasi
enzim kelompok pengikatan enzim pada pembawa tidak larut air. Teknik ini juga
termasuk teknik yang sederhana seperti halnya imobilisasi enzim secara
penyerapan fisik. Perbedaanya hanya terdapat pada bahan pengamobil. Dalam
bahan pengamobil secara fisik menggunakan bahan senyawa organik sedangkan
bahan pengamobil secara pengikatan ion menggunakan bahan carier. Beberapa
jenis bahan pengamobil yang dapat digunakan antara lain resin penukar kation dan
anion, karboksimetil dan sefadeks.
Pada percobaan ini bertujuan untuk mempelajari cara imobilisasi protease dan
amilase secara pengikatan ion menggunakan bahan pengamobil resin penukar ion.
Resin penukar ion dapat digunakan dalam metode pemisahan atau pemekatan
dengan menggunakan penukaran kesetaraan. Resin penukar ion merupakan
polimer tinggi organik yang mengandung gugus fungsional ionik, resin ada
umumnya adalah polimer berupa butiran dengan berbagai ukuran. Pembuatan
resin adalah dengan cara memasukkan gugus yang diionisasi ke dalam matriks
polimer organik, yang paling umum adalah polistirena yang bertindak sebagai
adsorben.
Prinsip amobillisasi dengan teknik ini adalah enzim akan terikat secara ionik pada
pembawa yang mengandung residu penukar ion. Polisakarida sintesis memiliki
pusat penukar ion yang dapat digunakan sebagai pembawa. Pengikatan ionik

antara enzim dengan pembawa mudah dilakukan jika dibandingkan dengan


pengikatan enzim sacara kovalen. Amobilisasi enzim dengan pengikatan ionik
dapat mengakibatkan terjadinya sedikit perubahan konformasi dan sisi aktif
enzim.
Metode pengikatan ion dalam pembuatan enzim amobil memiliki banyak
kelebihan diantaranya bahan pengamobil dapat direkoveri atau digunakan
berulang dan ikatan antara bahan pengamobil dengan molekul protein enzim
cukup kuat karena melibatkan adanya ikatan kimia (ikatan ion) selain itu dilihat
dari molekul resin yang berupa bahan padat memungkinkan adanya molekul
enzim yang teradsorpsi dipermukaan molekul resin sehingga metode ini lebih
maksimal untuk membentuk enzim amobil jika dibandingkan dengan metode
penyerapan fisik. Sedangkan kekurangan dari imobilisasi enzim secara pengikatan
ion yaitu mudah bocor.
Mengambil 10 gram enzim protease getah tanaman biduri, kemudian
memasukkan ke dalam erlenmeyer 100 ml dan menambahkan aquadest sebanyak
50 ml, kemudian mengocok hingga enzim larut. Menurut Sperber dan Torrie
(1982), fungsi atau peran enzim protease yakni berperan sebagai proses proteolitik
yang esensial. Menurut Suhartono (1992), dalam kerja beberapa golongan enzim
protease memerlukan aktivator dari kation-kation divalen untuk aktivitas enzim.
Aktivator yang dapat digunakan sebagai pengaktivasi enzim protease yakni
aquadet. Hal ini dikarenakan aquadest memiliki sifat kovalen yang baik dalam
membentuk ion-ion. Kemudian menyiapkan corong kaca yang telah diisi kertas
saring lalu mengisi dengan resin penukar kation dan mencuci dengan aquadest
hingga bersih. Fungsi dari pencucian eluat menggunakan aquadest yakni untuk
mengaktivasi kembali yang masih belum teraktivasi enzim protease dari getah
biduri. Kemudian memasukkan larutan enzim sedikit demi sedikit ke dalam
corong kaca yang berisi resin penukar ion, dan menampung cairan yang keluar
dari corong kaca (eluat). Fungsi dari penyaringan enzim protease yakni untuk
memisahkan antara residu enzim protease dengan filtrat enzim protease dari getah
biduri yang sebelumnya telah ditambahkan aquadest sebagai larutan yang tidak

akan melarutkan residu enzim protease. Kemudian, memasukkan cairan yang


keluar dari corong kaca memasukkan ulang hingga 3 kali. Fungsi pengulangan
yakni untuk mengoptimalkan hidrolisis filtrat pada residu enzim protease yang
masih bercampur.
Selanjutnya, menentukan aktivitas protease dengan mengambil 5 ml larutan
santan kelapa kemudian memasukkan ke dalam tabung reaksi yang berkode A dan
B. Dalam penentuan aktivitas protease berfungsi untuk mengukur kemampuan
enzim menghidrolisis atau menguraikan protein menjadi asam-asam amino.
Menurut Soda dan Agustini (2013), aktivitas proteolitik suatu enzim sangat
dipengaruhi oleh pH, suhu, kekuatan ionik, konsentrasi subtrat, konsentrasi enzim,
adanya reduktor ataupun oksidator dan buffer. Kemudian menambahkan 1 gram
enzim protease hasil ekstraksi dari getah biduri pada tabung A, dan menambahkan
2 gram protease amobil pada tabung B, mengocok kedua tabung reaksi selama 10
menit, kemudian memasukkan ke dalam penangas air dengan suhu 60 C dan
mengamati waktu yang diperlukan terbentuknya penggumpalan protein pada
santan kelapa. Fungsi dari santan kelapa yakni untuk bahan yang dihidrolisis oleh
enzim protease. Hal ini dikarenakan menurut Srihari et al.(2010), kandungan pada
santan kelapa mengandung tiga nutrisi utama yaitu lemak sebesar 88,3%, protein
sebesar 6,1%, dan karbohidrat sebesar 5,6%. Sehingga kandungan protein dalam
santan kelapa akan membentuk asam amino atau peptida yang berantai pendek
sebagai substrat akibat adanya enzim protease. Menentukan aktivitas protease,
yaitu waktu yang diperlukan terjadi penggumpalan protein santan kelapa. Menurut
Hardi (2014), suhu optimal pada enzim protease dari getah biduri yakni pada suhu
50oC. Menurut Susanti (2005), suhu optimum enzim protease dalam getah biduri
adalah 55oC dengan aktivitas enzim sebesar 0,077 unit aktivitas/ mg protein
enzim. Sedangkan daya tahan enzim terhadap panas dapat bertahan pada suhu
60oC dan diatas suhu 80oC enzim mengalami inaktivasi.
Dari hasil percobaan ini, didapatkan rendemen enzim protease yakni sebesar
16,47% dan retensi aktivitas enzim amobil yakni sebesar 42,75%. Menurut
Alviyulita et al.(2014), rendemen enzim protease pada getah biduri dengan

penambahan garam amonium sulfat yakni sebesar 18,81%. Menurut Seidman and
Mowery (2006), senyawa garam ditambahkan dalam larutan enzim protease, maka
sebagian besar molekul air akan berikatan dengan ion garam yang selanjutnya
akan menurunkan air pada larutan enzim protease sehingga enzim protease dapat
mengendap secara maksimal. Jika membandingkan dengan literatur maka
rendemen yang dihasilkan pada percobaan ini tidak sesuai dengan literatur. Hal ini
dapat disebabkan adanya pengaruh penambahan senyawa garam pada enzim
protease dari getah biduri hasil penelitian Alviyulita et al.(2014). Menurut
Alviyulita et al.(2014), retensi aktivitas enzim protease yakni sebesar 70,27%
(unit/ aktivitas enzim protease). Jika melihat dari hasil percobaan ini dan
membandingkan dengan hasil literatur maka hasil percobaan ini tidak sesuai
dengan literatur. Menurut Askurrahman (2010), semakin lama waktu reaksi
enzimatik maka semakin banyak produk yang dihasilkan dan aktivitanya semakin
besar.

V. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa:
1

Enzim protease merupakan enzim penghidrolisis protein yakni enzim yang


memutuskan ikatan peptida pada rantai protein sehingga dihasilkan asam

amino atau peptida berantai pendek.


Prinsip amobillisasi dengan teknik pengikatan ion adalah enzim akan terikat
secara ionik pada pembawa yang mengandung residu penukar ion sehingga
akan mengakibatkan terjadinya sedikit perubahan konformasi dan sisi aktif

enzim.
Rendemen dan retensi aktivitas enzim protease yakni sebesar 16,47% dan
42,75%. Menurut Alviyulita et al.(2014), rendemen enzim protease pada
getah biduri dengan penambahan garam amonium sulfat yakni sebesar
18,81% dan retensi aktivitas enzim protease yakni sebesar 70,27% (unit/
aktivitas enzim protease).

DAFTAR PUSTAKA
Alviyulita, Mitha., Hasibuan, P. R. M. dan Hanum, Farida. 2014. Pengaruh
Penambahan Ammonium Sulfat (NH4)SO4 dan Waktu Perendaman Buffer
Fosfat Terhadap Perolehan Crude Papain Dari Daun Pepaya (Carica
Papaya, L). Jurnal Teknik Kimia USU. Medan
Askurrahman, Tesis. 2010. Isolasi Karekterisasi Linamarase Hasil Isolasi dari
Umbi Singkong (Manihot esculenta, C). Jurusan Teknologi Industri
Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo.
Chibata, I. 1978. Immobilized Enzymes Research and Development. Halsted Press.
Kadansha. Tokyo
Fardiaz, S. 1988. Fisiologi Fermentasi. PAU IPB. Bogor
Goel, M. K. 1994. Immobilized Enzymes. http://www.rpi.edu/dept/chemeng/Biotech-Environ/IMMOB/Immob.htm, diakses tanggal 18 Maret
2016. Palu
Hardi, Jaya. 2014. Penggunaan Protease dari Getah Biduri dalam Produksi
Flavor Udang Windu (Penaeus monodon). Online Jurnal of Natural
Science. Jurusan Kimia FMIPA UNTAD. Palu

Muchtadi, D.N., S. Palupu dan M. Astawan. 1992. Enzim Dalam Industri Pangan.
Institut Pertanian Bogor. Bogor
Palmer, T. 1991. Understanding Enzymes Ed ke-3. Ellis Horwood. New York
Panji, T. 1998. Fermentasi Kontinyu Lendir Biji Kakao menggunakan
Trichoderma harzianum. J. Bioteknologi Pertanian. Vol. 3 No.2
Seidman, L. and Mowery, J. 2006. Salting Out Ammonium Sulfate Precipitation.
The Biotechnology Project. Illonois State University
Soda, Fransiska N dan Agustini, Rudiana. 2013. Pengaruh Penambahan Ion
Logam K+ Terhadap Aktivitas Enzim Papain. UNESA Journal of
Chemistry. Surbaya
Sperber, I dan Torrie, J. H. 1982. Requirement of Clostridium botulinum for
Growthand Toxin Production. J Food Tech., 36(1), 89-97
Srihari, Endang., Linggangningrum, F. Sri., Farid, Hervita, Rossa, Wijaya, S. dan
Helen. 2010. Pengaruh Penambahan Maltodekstrin Pada Pembuatan
Santan Kelapa Bubuk. UNDIP Journal of Chemistry. Semarang
Susanti, Soffahmi P. 2005. Karakterisasi Enzim Protease dari Getah Tanaman
Biduri (Calotropis gigantea) Hasil Ekstraksi Menggunakan Amonium
Sulfat. Universitas Jember Journal of Chemistry. Jember

Laporan Praktikum
IMOBILISASI ENZIM DAN SEL
PERCOBAAN III
IMOBILISASI ENZIM SECARA PENGIKATAN ION

Disusun Oleh:

Nama

: Novaldi

Stambuk

: G 301 13 010

Kelompok

: II (Dua)

Asisten

: Ulfa Mustika Sari

LABORATORIUM KIMIA ORGANIK DAN BIOKIMIA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSTAS TADULAKO
PALU
2016
LEMBAR ASISTENSI

Nama

: Novaldi

Stambuk

: G 301 13 010

Asisten

: Ulfa Mustika Sari

Hari/ta
n
g
g
a
l

Perbaikan

Paraf