Anda di halaman 1dari 19

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan lengkap Biologi Dasar dengan judul Respirasi yang disusun oleh :
Nama

: Np Sriwulandari Alam

Nim

: 1414040002

Kelas

: Pendidikan Biologi

Kelompok

: 2 (Dua)

Telah diperiksa dan disetujui oleh asisten dan kordinator asisten .

Makassar,

Januari 2015

Kordinator Asisten

Asisten

Djumarimanto S.Pd

Ita Puspita
NIM : 1114140033

Mengetahui
Dosen Penanggung Jawab

Drs. H. Hamka L M.si


NIP. 19621231 198702 1 005

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia dapat hidup berminggu minggu tanpa makanan tetapi akan mati
dalam beberapa menit apabila tidak mendapatkan oksigen. Gas yang terdapat
dalam udara di butuhkan untuk proses respirasi (pernapasan). Selain itu
oksigen juga sangat dibutuhkan untuk metabolisme sel, yaitu proses penting
untuk mengubah makanan menjadi energi.
Saat kita tidur di atas kasur yang nyaman, semua aktivitas beratkita
tinggalkan. Belajar, makan, olah raga, semuanya dilupakan. Hanya aktivitas
yang ada dalam tubuh saja yang tetap bekerja. Salah satunya adalah bernapas.
Termasuk juga pada hewan, proses bernapas juga terjadi. Oksigen dari luar
tubuh dihirup saat bernapas, sebaliknya karbondioksida dikeluarkan.
Respirasi adalah proses oksidasi bahan makanan atau bahan organik yang
terjadi di dalam sel yang dapat dilakukan secara aerob dan anaerob. Proses
pengambilan gas pada mahluk hidup ada dua macam yaitu secara langsung
dan tidak langsung. Proses pengambilan gas secara langsung terjadi jika
mahluk

hidup

tersebut

memiliki

alat

pernapasan

khusus

seperti

protozoa,porifera dan lain sebagainya, dimana oksigen berdifusi dari


lingkungan melalui organ tubuh. Sedangkan secara tidak langsung itu terjadi
pada hewan mamalia yang bernapas dengan paru paru. Belalang dengan
trakea dan lain lainnya. Respirasi meliputi semua proses fisika dan kimiawi
dimana mengadakan pertukaran gas gas dengan lingkungan sekelilingnya,
terutama gas O2 dan CO2. Proses repirasi tersebut meliputi ventilasi paru
paru, difusi O2 dan CO2 dan transport O2 dan CO2.
Oleh karena itu, pentingnya dilakukan praktikan untuk membuktikan
bahwa organism membutuhkan oksigen untuk melakukan respirasi dan
membandingkan kebutuhan setiap beberapa organisme dalam organisme
diukur dengan berat.

B. Tujuan
1. Membuktikan bahwa organisme hidup membutuhkan oksigen untuk
respirasinya
2. Membandingkan kebutuhan oksigen beberapa organisme menurut jenis
dan ukuran berat tubuhnya.

C. Manfaat
Mahasiswa telah mengetahui tentang respirasi dan mengetahui kebutuhan
oksigen beberapa organisme menurut jenis dan ukuran berat tubuhnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Respirasi
Respirasi dapat diartikan sebagai proses yang dilakukan oleh
organisme untuk menghasilkan energi dari hasil metabolisme.
Menurut Kimball (1983) Respirasi adalah :
1. Reaksi perombakan zat organic untuk menghasilkan energi
2. Zat organik yang dirombakkan berupa karbohidrat, lemak dan protein
3. Sifat reaksi : eksedgonik dan eksoterm.
Menurut Raven (2005) berdasrkan kebutuhan akan osigen, pernapas
seluler dibagi menajdi pernapasan aerob dan pernapasa anaerob, pernapasan
aerob adalah pernapasan yang memerlukan osigen sedangkan pernapasan
anaerob adalah pernapa yang tidak membutuhkan osigen.
1. Pernapasan aerob
Pernapasan aerob dapat diartikan sebagai serangkain reaksi
enzimatik yang mengubah glukosa secara sempurna menjadi CO2, H2O
dan energi. Reaksi dapat terjadi secara sempurna karena terdapat cukup
oksigen. Energi yang dihasilkan dalam pernapasan aerob adalah 36 ATP.
2. Pernapasan anaerob (fermentasi)
Pernapasan ini dapat diartikan sebagai serangkaian reaksi
enzimatik yang mengubah glukosa secara tidak sempurna karena
kekurangan oksigen. Pada manusia pernapasan anaerob menghasilkan
asam laktat, sedangkan pada tumbuhan, reaksi ini menghasilkan CO2 dan
alcohol. Pernasan anaerob hanya menhasilknya sedikit energi yaitu 2 ATP.
Hewan memerlukan energi yang di dapatnya hadi hasil oksidasi bahan
bahan makanan sehingga oksigen mempunyai kepentingan yang sama
dengan bahan bahan makanan dalam memperthankan kehidupan hewan.
Respirasi meliputi semua proses fisika dan kimiawi dimana hewan
mengadakan pertukaran gas gas dengan lingkungan sekelilingnya,
terutama O2 dan CO2 (said, 2012).

Menurut Said (2012) proses respirasi meliputi :


1. Ventilasi peru, yaitu proses keluar masuknya udara antara organ
pernapasan dengan atmosfer.
2. Difusi O2 dan CO2 antara udara dalam alveoli dan dalam darah
3. Transport O2 dan CO2 di dalam darah atau cairan tubuh ked an dari sel.
Ketiga kelompok diatas, sering dikelompokkam menjadi 2 bagian,
yaitu respirasi internal dan respirasi eksterrnal. Respirasi internal meliputi
pertukaran gas gas yang terjadi di jaringan, yaitu semua proses
pertukaran gas antara sel sel dengan cairan sekelilingnya sedangkan
respirasi eksternal meliputi pertukaran gas gas yang terjadi di paru
paru antara alveoli dengan kapiler (Said, 2012).
Dengan laju lebih rendah sari pada khas bagi hewan. Hanya pada
waktu fotosintesis, dan terdapat volume besar gas yang bertukar, dan
seperti yang akan kita lihat. Setiap daun menyesuaikan diri dengan baik
untuk memlihara kebutuhanna ssendiri selama periode ini. Pada banyak
tanaman tanaman, banyak batangnya berwarna hijau dan melakukn
fotosintesis hampir sepenting seperti daun. Dalam batang batang ini,
mekanisem pertukaran gas sangat mirip seperti pada daun (Kimball,1983).

B. Pertukaran Gas
Untuk memperoleh O2 dan melepaskan CO2 seekor hewan harus
mempunyai satu membrane pernapasa, yaitu suatu permukaan yang tipis dan
permeable dan berhubungan dengan lingkungan yang dapat dilalui gass.
Membrane tersebut dapat berupa permukaan tubuh atau bagian lain dari alat
pernapasan seperti lamella insang, ujung saluran trakea atau alveolus paru.
Selain itu harus ada ssuatu xara untuk menyalurkan gas gas tersebut kedalam
membrane pernapasan, yaitu cara ventilasi permukaan dan cara mengangkut
gas antara membrane dan sel sel tubuh. Berbagai hal diatas berbeda beda
sesuai ukuran tubuh, kebutuhan oksigen dan lingkungan tempat suatu hewan
hidup (Said, 2012).

Pemindahan gas melalui permukaan memban pernapasan masuk dan


keluar sel tubuh selalu dengan cara difusi. Jika gas tidak tersedia dalam air,
gas itu akan larut dalam permukaan membrane yang basah dan melewatinya
menurut gradient konsentrasinya. Karena oksigen itu dipergunakan oleh sel
sel, maka kadarnya dalam sel dan tubuh akan selalu lebih rendah dari pada
dalam lingkungan, baik dalam air maupun diudara. Sebaliknya sel sel itu
akan memproduksi CO2, karena dalam sek dan tubuh gas itu selalu terdapat
dalam jumlah yang lebih besar dari pada dalam media sekitarnya (Said, 2012).
Pada hewan yang berukuran kecil, maka ventilassi permukaan
membrane dan transport gas di dalam tubuh dapat berlangsung dengan secara
difusi, tetapi pada hewan yang bertubuh besar dan aktif, proses difusi saja
tidak cukup , sehingga memerlukan suatu sistem penyaluran dalam jumlah
besar (aliran pukal ) dimana gasi dibwa secara pasif ke dalam cairan yang
bergerak , bak untuk ventilasi permukaan membrane pernapasan maupun tidak
untuk transport gas dalam tubuh (Said,2012).

C. Pernapasan dengan Trakea


Sistem trakea belalang cukup khas seperti yang terdapat pada semua
serangga. Trakea trakea bermuara pada lubang lubang kecil pada
eksoskeleton (kerangka luar ) yang disebut spirakel. Pada segmen pertama dan
ketiga dari toraks (dada) terdapat pada spirakel, masing masing satu pada
setiap sisi. Delapan pasang spirakel lainnya terdapat teratur sebaris pada setiap
sisi abdomen(perut) (Kimball, 1983).
Pada serangga yang lebih kecil atau kurang aktif masuknya oksigen
melalui sistem trakea ialah dengan difusi secara sederhana. Sebaliknya,
serangga yang berukuran besar atau aktif seperti belalang dengan giat
melangsungkan pertukaran udara dalam trakeanya (Kimball,1983).

BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat :


Hari/Tanggal

: Rabu, 14 Januari 2015

Waktu

: Pukul 7.30 s/d 9.10 WITA

Tempat

: Green House of Biology FMIPA UNM

B. Alat dan bahan :


Alat :
a. Respirometer 1 buah
b. Stopwatch/Hp 1 buah
c. Pipet kecil 1 buah
Bahan :
a. Kapas
b. Vaselin
c. KOH Kristal
d. Larutan eosin
e. Kecambah kacang hijau
f. Beberapa jenis hewan (Dissosteira Carolina dan Biatella Asahinai)

C. Cara Kerja
1. Memasukkan Dissosteira Carolina besar ke dalam tabung respirometer
2. Membungkus dengan kapas tipis 2 butir Kristal KOH, kemudian masukkan
/letakkan di leher tabung respirometer.
3. Menututp tabung respirometer dengan penutupnya yang berhubungan
dengan pipa kaca berskala, kemudian letakkan pada sandarannya.
4. Mengolesi vaselin pada sambungan tabung respirometeer dengan
penutupnya untuk mencegah kebocoran
5. Menetesi larutan eosin pada ujung pipa kaca berskala sampai masuk ke
dalam salurannya

6. Mengamati pergeseran sepanjang saluran pipa kaca berskla, kemudian


mencatat berapa jarak mulai dari skala 0,0 setiap 1 menit
7. Malakukan pengamatan sampai eosin ssamapi tidak bergeser lagi atau 5
menit.
8. Membersihkan respirometer yang telah digunakan
9. Dengan tata urutan kerja yang sama pada belalang besar, melakukan
percoban ini dengan menggunakan belalang kecil,kecoa besar,kecoa kecil,
kecambah di kupas dan tidak dikupas.
10. Mencatat hasil pengamatan pada hasil pengamatan.

BAB IV
PEMBAHASAN

A. Hasil pengamatan
Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Hubungan antara Waktu dengan Skala
No

Spesies

Dissosteira Carolina besar

Dissosteira Carolina kecil

Biatella Asahinai besar

Biatella Asahinai kecil

Menit ke-

Skala (mm)

0,37

0,57

0,85

0,94

1,17

0,32

0,39

0,50

0,59

0,64

0,27

0,59

0,67

0,82

1,08

0,28

0,48

0,77

0,94

2,4

Aseolus Radiatus dikupas

Aseolus Radiatus tidak


dikupas

A. Analisis Data
1. Untuk Dissosteira Carolina besar
a. V1 =

b. V2 =

c. V3 =

d. V4 =

e. V5 =

,
,
,
,
,

= 0,37 skala/menit
= 0,285 skala/menit
= 0,283 skala/menit
= 0,235 skala/menit
= 0,234 skala/menit

2. Untuk Dissosteira Carolina Kecil


a. V1 =

b. V2 =

c. V3 =

d. V4 =

e. V5 =

= 0,32 skala/menit
,
,
,
,

= 0,195 skala/menit
= 0,25 skala/menit
= 0,147 skala/menit
= 0,128 skala/menit

3. Untuk Biatella Asahinai Besar


a. V1 =

= 0,27 skala/menit

0,1

0,2

0,33

0,40

0,49

0,16

0,27

0,34

0,40

0,45

b. V2 =

c. V3 =

d. V4 =

e. V5 =

,
,
,
,

= 0,295 skala/menit
= 0,223 skala/menit
= 0,205 skala/menit
= 0,216 skala/menit

4. Untuk Biatella Asahinai kecil


a. V1 =

b. V2 =

c. V3 =

d. V4 =

e. V5 =

,
,
,
,

= 0,28 skala/menit
= 0,24 skala/menit
= 0,256 skala/menit
= 0,235 skala/menit

= 0,48 skala/menit

5. Untuk Aseolus Radiatus dikupas


a. V1 =

b. V2 =

c. V3 =

d. V4 =

e. V5 =

,
,
,
,
,

= 0,10 skala/menit
= 0,1 skala/menit
= 0,11 skala/menit
= 0,1 skala/menit
= 0,098 skala/menit

6. Untuk Aseolus Radiatus tidak dikupas


a. V1 =

b. V2 =

c. V3 =

d. V4 =

e. V5 =

,
,
,
,
,

= 0,16 skala/menit
= 0,135 skala/menit
= 0,113 skala/menit
= 0,1 skala/menit
= 0,09 skala/menit

B. Analisis Grafik
1. Grafik hubungan antara waktu (menit) dengan skala pada Dissosteira
Carolina besar dan Dissosteira Carolina kecil
0.4
0.35
0.3
Skala

0.25
0.2
belalang besar

0.15

belalang kecil

0.1
0.05
0
0

Menit ke -n

2. Grafik hubungan antara waktu (menit) dengan skala pada Biatella


Asahinai besar dan Biatella Asahinai kecil
0.6
0.5

Skala

0.4
0.3
kecoa besar
0.2

kecoa kecil

0.1
0
0

3
Menit ke-n

3. Grafik hubungan antara waktu (menit) dengan skala pada Dissosteira


Carolina dan Biatella Asahinai besar
0.4
0.35
0.3
Skala

0.25
0.2
Belalang besar

0.15

kecoa besar

0.1
0.05
0
0

Menit ke-n

4. Grafik hubungan antara waktu (menit) dengan skala pada Aseolus


Radiatus yang dikupas dan Aseolus Radiatus yang tidak dikupas
0.18
0.16
0.14

Skala

0.12
0.1
0.08

Kecambah dikupas

0.06

Kecambah tidak dikupas

0.04
0.02
0
0

4
Menit ke-n

5. Grafik hubungan antara waktu (menit) dengan skala pada tumbuhan dan
hewan (Dissosteira Carolina besar dan Aseolus Radiatus dikupas)
0.4
0.35
0.3
Skala

0.25
0.2
Belalang besar

0.15

kecambah dikupas

0.1
0.05
0
0

Menit ke-n

C. Pembahasan
Pada percobaan respirasi ini kita menggunakan 2 ekor belalang besar dan
kecil, 2 ekor kecoa, 1 kecoa besar dan kecil, 12 buah kecambah kacang hijau,6
yang dikupas dan 6 yang tidak dikupas. Dissosteira Carolina besar yang
dipakai dalam percobaan ini dalam kondisi yang baik dan tubuhnya utuh dan
adapun hasil percobaannya adalah pada menit ke 1 mencapai skala 0,34, pada
menit ke 2 mencapai skala 0,57, pada menit ke 3 mencapai skala 0,85, pada
menit ke 4 mencapai skala 0,94 dan pada menit ke 5 mencapai skala 1,17.
Untuk Dissosteira Carolina kecil yang dipakai dalam percobaan ini dalam
kondisi yang baik dan tubuhnya utuh dan adapun hasil percobaannya adalah
pada menit ke 1 mencapai skala 0,32, pada menit ke 2 mencapai skala 0,39,
pada menit ke 3 mencapai skala 0,50, pada menit ke 4 mencapai skala 0,59
dan pada menit ke 5 mencapai skala 0,64. Perbandingan grafik antara
Dissosteira Carolina

besar dan kecil adalah semakin besar Dissosteira

Carolina tersebut maka membutuhkan lebih banyak osigen dibandingkan


Dissosteira Carolina kecil.

Biatella Asahinai besar yang dipakai dalam percobaan ini dalam kondisi
yang baik dan tubuhnya utuh dan adapun hasil percobaannya adalah pada
menit ke 1 mencapai skala 0,27 pada menit ke 2 mencapai skala 0,59, pada
menit ke 3 mencapai skala 0,67, pada menit ke 4 mencapai skala 0,82 dan
pada menit ke 5 mencapai skala 1,08.
Sedangkan untuk Biatella Asahinai kecil yang dipakai dalam percobaan ini
dalam kondisi yang baik dan tubuhnya utuh dan adapun hasil percobaannya
adalah pada menit ke 1 mencapai skala 0,28, pada menit ke 2 mencapai skala
0,48, pada menit ke 3 mencapai skala 0,77, pada menit ke 4 mencapai skala
0,94 dan pada menit ke 5 mencapai skala 2,4. Perbandingan grafik antara
Biatella Asahinai besar dan kecil adalah pada menit 1 dan 2 Biatella Asahinai
besar respirasinya lebih cepat dari pada kecoa kecil tetapi pada menit 3,4 dan
5 terjadi penurunan kecepatan respirasi pada kecoa besar tetapi pada Biatella
Asahinai kecil menunjukkan kecepatan pada menit 3,4 dan 5 sehingga
mencapai skala 2,4 dan berbeda pada kecoa besar hanya sampai pada skala
1,08 hal ini mengakibatkan Biatella Asahinai besar terlalu lama tinggal dalam
resirometer sebelum larutan eosin diberikan. Aseolus Radiatus yang dikupas
yang dipakai dalam percobaan ini dalam kondisi yang segar dan adapun hasil
percobaannya adalah pada menit ke 1 mencapai skala 0,10 pada menit ke 2
mencapai skala 0,20, pada menit ke 3 mencapai skala 0,33, pada menit ke 4
mencapai skala 0,40 dan pada menit ke 5 mencapai skala 0,49.
Sedangkan untuk Aseolus Radiatus yang tidak dikupas yang dipakai dalam
percobaan ini dalam kondisi yang segar dan adapun hasil percobaannya adalah
pada menit ke 1 mencapai skala 0,16, pada menit ke 2 mencapai skala 0,27,
pada menit ke 3 mencapai skala 0,34, pada menit ke 4 mencapai skala 0,40
dan pada menit ke 5 mencapai skala 0,45. Perbandingan antara Aseolus
Radiatus yang dikupas dan tidak dikupas adalah Aseolus Radiatus yang
dikupas lebih cepat respirasinya dari paada kacang hijau yang tidak dikupas
dan Aseolus Radiatus yang dikupas pada menit ke 5 mencapai 0,49 skala
sedangkan untuk Aseolus Radiatus yang tidak dikupas pada menit ke 5
mencapai 0,45 skala. Sedangkan untuk hubungan antara Dissosteira Carolina

besar dan Biatella Asahinai besar adalah dapat dilihat pada grafik bahwa
respirasi Dissosteira Carolina besar lebih cepat dari pada Biatella Asahinai
besar. Biatella Asahinai besar pada menit ke 5 mencapai 1,17 sedangkan pada
Biatella Asahinai besar mencapai 1,08. Dan untuk perbandingan respirasi pada
tumbuhan dan hewan, untuk hewan digunakan Dissosteira Carolina besar dan
untuk tumbuhan Aseolus Radiatus yang dikupas adalah dapat dilihat grafik
adanya perbedaan yang terlalu jauh antara pernapasan hewan dan tumbuhan,
pada Dissosteira Carolina besar skala pada menit ke 5 mencapai 1,17
sedangkan untuk Aseolus Radiatus
mencapai 0,49.

yang dikupas skala pada menit ke 5

BAB V
PENUTUP

A.

Kesimpulan
1. Setiap organisme hidup membutuhkan oksigen untuk melakukan
respirasi dengan volume yang berbeda beda demi kelangsungan
hidupnya.
2. Pada organisme yang berbeda maka tingkat kebutuhan oksigen juga
berbeda. Organisme hidup yang besar membutuhkan lebih banyak
oksigen dibandingkan hewan yang berukuran kecil.

B.

Saran
Saran yang dapat saya asumsikan pada praktikum ini adalah
sebaiknya praktikan berhati hati dan teliti dalam melakukan percobaan
jangan sampai merusak alat alat praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Kimball,john W. 1983.Biologi Jilid 2. Jakarta : Erlangga.


Said, Muhammad. 2012. Biologi Umum. Makassar. UIN alauddin.
Tim Dosen UNM . 2014. Penuntun Praktikum Biologi Umum. Makassar
:Jurusan Biologi FMIPA UNM
Raven,P.H. G.B. Johnson, J.B Losos, S.R Singer. 2005. Biology. 7th ed.
Boston. Mcgraw Hill Companies, inc.

Pertanyaan :
1. Apakah fungsi KOH yang dibungkus dengan kapas
Jawaban :
Fungsi KOH yaitu untuk mengikat karbondioksida (CO2) yang dikeluarkan
oleh hewan dan tumbuhan yang ada pada tabung respirometer.
2. Apa fungsi eosin pada percobaan ini? Dapatkah eosin tersebut diganti dengan
cairan yang lain? Jelaskan!
Jawaban :
Eosin pada percobaan ini berfungsi sebagai indicator penunjuk skala yang
tidak ikut bereaksi dalam proses respirasi. Eosin dapat diganti dengan dengan
cairan lain asalkan cairan pengganti tersebut tidak memiliki kandungan yang
dapat mempengaruhi proses respirasi didalam respirometer.
3. Bagaimana mengetahui volume oksigen yang digunakan organisme pada
percobaan diatas?
Jawaban :
Untuk mengetahui volume oksigen yang digunakan oleh organisme tersebut
ialah dengan melihat kecepatan respirasi yang dimiliki oleh setiap
organismenya.
4. Adakah perbedaan jumlah kebutuhan oksigen berdasarkan jenis organisme?
Jelaskan!
Jawaban :
Ada, dapat dilihat pada hasil percobaan ini bahwa jumlah oksigen yang
digunakan oleh belalang berbeda dengan jumlah oksigen yang digunakan oleh
kecoa untuk melakukan proses respirasi.
5. Adakah

perbedaan

jumlah

kebutuhan

oksigen

berdasarkan

ukuraan

organisme? Jelaskan!
Jawaban :
Ada , tetapi ukuran tubuh tidak selamanya mempengaruhi jumlah oksigen
yang digunakan oleh organisme karena ada faktor lain yang mungkin
mempengaruhi kebutuhan oksigen. Seperti pada percobaan ini ada faktor lain
yang juga mempengaruhinya yaitu aktivitas organisme tersebut