Anda di halaman 1dari 2

Potensi kayu karet yang dihasilkan dari peremajaan kebun sekitar 3.344.

500 m 3 per
tahun, suatu nilai yang cukup besar untuk mengurangi defisit kebutuhan bahan baku kayu
nasional. Kayu karet memiliki sifat fisik, kimia dan mekanis yang setara dengan kayu hutan
alam. Sehinnga, produk-produk yang dihasilkan dapat berupa furniture, moulding, kayu lapis,
kayu lamina, papan partikel, papan serat maupun kertas yang tidak kalah dengan produk yang
berbahan baku kayu hutan alam.
Beberapa alasan mengapa kayu karet dapat digunakan sebagai subtitusi kayu hutan alam
dan menjadi andalan dalam memenuhi kayu industri, (1) sifat-sifat dasar kayu karet relative sama
dengan kayu hutan alam ; (2) Potensi ketersediaan kayu karet cukup besar sejalan dengan
peremajaan perkebunan karet rakyat ; (3) nilai ekonomis kayu karet cukup baik. Saat ini kayu
karet yang berwarna khas putih kekuningan dan coraknya seperti kayu ramin, banyak diminati
oleh konsumen maupun luar negeri.
Potensi Kayu Karet di Indonesia
Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas karet Indonesia dapat dilakukan
dengan peremajaan kebun karet rakyat tua yang produktivitasnya rendah. Kriterianya adalah
sebagai berikut ; (1) kondisi tanaman sudah tua dengan umur > 25 tahun atau tidak menggunakan
tanaman unggul ; (2) tingkat kerusakan bidang sadap minimal 60% ; (3) produksi per ha dibawah
batas minimum nilai ekonomis yaitu kurang dari 250 Kg karet/ha/tahun ;dan (4) kerapatan
tanaman kurang dari 100 pohon/ha atau melebihi 800 pohon/ha.
Perolehan Nilai Tambah Petani Karet
Pemanfaatan kayu karet selain dapat membantu mengurangi deficit kebutuhan kayu nasional,
juga dapat memberi nilai tambah bagi pekebun, terutama sebagai tambahan modal dalam
peremajaan perkebunan karet, serta sumber pendapatan asli daerah (PAD) dan devisa Negara.
Karakteristik Kayu Karet
Kerapatan (berat jenis) kayu karet tergolong setengah berat yaitu 0,62-0,65 gr/cm 3 yang setara
dengan akasia 0,61 gr/cm3 , ramin 0,63 gr/cm3, dan mahoni 0,61 gr/cm3, serta hampir sama
dengan kayu jati 0,69 gr/cm3.

Kelemahan kayu karet terletak pada diameter gelondong ( log/kayu bulat) yang umumnya kecil,
bentuk kurang silindris dengan hati kayu yang tidak lurus. Kelemahan lainnya adalah
keawetannya yang rendah yaitu, tergolong kelas awet V atau setara dengan kayu ramin, jabon,
jelutung, kapuk hutan dan sebagainya. Oleh karena itu, dalam kondisi basah dapat terserang
jamur biru atau kumbang bubuk.
Pemanfaatan Kayu Karet dan Limbah Kayu Karet
Pemanfaatan kayu karet dibedakan antara (1) kayu karet gelondong(Log) : dimanfaatkan untuk
pembuatan kayu olahan (komponen meubel atau furniture dan konstruksi bangunan ringan untuk
rumah, moulding) dan kayu gergajian/plywood (dimanfaatkan untuk pembuatan tripleks). Kayu
karet gelondong adalah bagian dari batang yang berdiameter 20cm keatas. (2) kayu karet
limbah : berasal dari limbah kayu penebangan (berupa tunggul,cabang, dan ranting) maupun
limbah pengolahan (berupa sebetan, potongan ujung, tatal, serbuk, sisa pemotongan gelondong,
sisa venir, sisa kupasan, dan sebagainya.) contoh papan partikel yang terbuat dari serpihan kayu
ataupun serbuk gergaji yang dicampur dengan perekat resintetis dan dipress dalam keadaan
panas menjadi lembaran-lembaran keras, bagian pohon yang dimanfaatkan adalah bagian pohon
cabang dan ranting maupun keeping kayu sisa pengelolahan. Papan serat adalah panel kayu
yang terbuat dari serat lignoselulosa berupa serbuk halus kayu yang dikombinasikan dengan
perekat sintetis. Kayu lamina dibuat dari potongan-potongan kecil kayu karet yang direkatkan
dengan perekat sintetis, dimana lapisan kayu yang relative tipis dapat digabungkan dan
direkatkan sedemikian rupa untuk menghasilkan balok kayu dalam berbagai ukuran dan panjang.
Contoh yang lainnya adalah sebagai kerajinan tangan; arang; asap cair; pulp, kertas, dan rayon.

Sumber Pustaka

Towaha, Juniyati & Daras, Usman. (2013). Peluang Pemanfaatan Kayu Karet ( Hevea
brasiliensis ) sebagai Kayu Industri. Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman
Industri.

Diakses

melalui

http://perkebunan.litbang.pertanian.go.id/wp-

content/uploads/2013/11/Perkebunan_KayuKaret.pdf.