Anda di halaman 1dari 11

KONSEP SECTIO CAESAREA

1. DEFINISI
Sectio caesarea merupakan prosedur bedah untuk pelahiran janin dengan insisi
melalui abdomen dan uterus (Liu, 2007, hal .227). Sectio caesarea adalah suatu persalinan
buatan, dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim
dengan sayatan rahim dalam keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gram (Sarwono,
2005, hal. 133).
Sectio caesarea atau bedah sesar adalah sebuah bentuk melahirkan anak dengan
melakukan sebuah irisan pembedahan yang menembus abdomen seorang ibu (laparotomi)
dan uterus (hiskotomi) untuk mengeluarkan satu bayi atau lebih (Dewi Y, 2007, hal. 1-2).
Sehingga penulis dapat menyimpulkan bahwa sectio caesarea adalah suatu tindakan
operasi yang bertujuan untuk melahirkan bayi dengan jalan pembukaan dinding perut.
2. KLASIFIKASI
Ada dua jenis sayatan operasi yang dikenal yaitu :
a. Sayatan melintang
Sayatan pembedahan dilakukan dibagian bawah rahim (SBR). Sayatan melintang
dimulai dari ujung atau pinggir selangkangan (simphysisis) di atas batas rambut kemaluan
sepanjang sekitar 10-14 cm. keuntunganya adalah parut pada rahim kuat sehingga cukup
kecil resiko menderita rupture uteri (robek rahim) di kemudian hari. Hal ini karna pada masa
nifas, segmen bawah rahim tidak banyak mengalami kontraksi sehingga luka operasi dapat
sembuh lebih sempurna (Kasdu, 2003, hal. 45).
b. Sayatan memanjang (bedah caesar klasik)
Meliputi sebuah pengirisan memanjang dibagian tengah yang memberikan suatu
ruang yang lebih besar untuk mengeluarkan bayi. Namun, jenis ini kini jarang dilakukan
karena jenis ini labil, rentan terhadap komplikasi (Dewi Y, 2007, hal .4).
3. INDIKASI SC
Para ahli kandungan atau para penyaji perawatan yang lain menganjurkan sectio
caesarea apabila kelahiran melalui vagina mungkin membawa resiko pada ibu dan janin.
Indikasi untuk sectsio caesarea antara lain meliputi:
1) Indikasi Medis
Ada 3 faktor penentu dalam proses persalinan yaitu :
a) Power
Yang memungkinkan dilakukan operasi caesar, misalnya daya mengejan lemah, ibu
berpenyakit jantung atau penyakit menahun lain yang mempengaruhi tenaga.
1

b) Passanger
Diantaranya, anak terlalu besar, anak mahal dengan kelainan letak lintang, primi
gravida diatas 35 tahun dengan letak sungsang, anak tertekan terlalu lama pada pintu atas
panggul, dan anak menderita fetal distress syndrome (denyut jantung janin kacau dan
melemah).
c) Passage
Kelainan ini merupakan panggul sempit, trauma persalinan serius pada jalan lahir
atau pada anak, adanya infeksi pada jalan lahir yang diduga bisa menular ke anak,
umpamanya herpes kelamin (herpes genitalis), condyloma lota

(kondiloma sifilitik yang

lebar dan pipih), condyloma acuminata (penyakit infeksi yang menimbulkan massa mirip
kembang kol di kulit luar kelamin wanita), hepatitis B dan hepatitis C. (Dewi Y, 2007)
2). Indikasi Ibu
a) Usia
Ibu yang melahirkan untuk pertama kali pada usia sekitar 35 tahun, memiliki resiko
melahirkan dengan operasi. Apalagi pada wanita dengan usia 40 tahun ke atas. Pada usia
ini, biasanya seseorang memiliki penyakit yang beresiko, misalnya tekanan darah tinggi,
penyakit jantung, kencing manis, darah tinggi, preeklamsia. Eklampsia (keracunan
kehamilan) dapat

menyebabkan ibu kejang sehingga dokter memutuskan persalinan

dengan sectio caesarea.


b) Tulang Panggul
Cephalopelvic diproportion (CPD) adalah ukuran lingkar panggul ibu tidak sesuai
dengan ukuran lingkar kepala janin yang dapat menyebabkan ibu tidak melahirkan secara
alami. Tulang panggul sangat menentukan mulus tidaknya proses persalinan.
c) Persalinan Sebelumnya dengan sectio caesarea
Sebenarnya, persalinan melalui bedah caesar tidak mempengaruhi persalinan
selanjutnya harus berlangsung secara operasi atau tidak. Apabila memang ada indikasi
yang mengharuskan dilakukanya tindakan pembedahan, seperti bayi terlalu besar, panggul
terlalu sempit, atau jalan lahir yang tidak mau membuka, operasi bisa saja dilakukan.
d) Faktor Hambatan Jalan Lahir
Adanya gangguan pada jalan lahir, misalnya jalan lahir yang kaku sehingga tidak
memungkinkan adanya pembukaan, adanya tumor dan kelainan bawaan pada jalan lahir,
tali pusat pendek, dan ibu sulit bernafas.
e) Kelainan Kontraksi Rahim
Jika kontraksi rahim lemah dan tidak terkoordinasi (inkordinate uterineaction) atau
tidak elastisnya leher rahim sehingga tidak dapat melebar pada proses persalinan,
menyebabkan kepala bayi tidak terdorong, tidak dapat melewati jalan lahir dengan lancar.
f) Ketuban Pecah Dini
2

Robeknya kantung ketuban sebelum waktunya dapat menyebabkan bayi harus


segera dilahirkan. Kondisi ini membuat air ketuban merembes ke luar sehingga tinggal
sedikit atau habis. Air ketuban (amnion) adalah cairan yang mengelilingi janin dalam rahim.
g) Rasa Takut Kesakitan
Umumnya, seorang wanita yang melahirkan secara alami akan mengalami proses
rasa sakit, yaitu berupa rasa mulas disertai rasa sakit di pinggang dan pangkal paha yang
semakin kuat dan menggigit. Kondisi tersebut karena keadaan yang pernah atau baru
melahirkan merasa ketakutan, khawatir, dan cemas menjalaninya.

Hal ini bisa karena

alasan secara psikologis tidak tahan melahirkan dengan sakit. Kecemasan yang berlebihan
juga akan mengambat proses persalinan alami yang berlangsung (Kasdu, 2003).
3). Indikasi Janin
a) Ancaman Gawat Janin (fetal distress)
Detak jantung janin melambat, normalnya detak jantung janin berkisar 120-160.
Namun dengan CTG (cardiotography) detak jantung janin melemah, lakukan segera sectio
caesarea segara untuk menyelematkan janin.
b) Bayi Besar (makrosemia)
c) Letak Sungsang
Letak yang demikian dapat menyebabkan poros janin tidak sesuai dengan arah jalan lahir.
Pada keadaan ini, letak kepala pada posisi yang satu dan bokong pada posisi yang lain.
d) Faktor Plasenta
Plasenta previa
Posisi plasenta terletak dibawah rahim dan menutupi sebagian atau selruh jalan lahir.
Plasenta lepas (Solution placenta)
Kondisi ini merupakan keadaan plasenta yang lepas lebih cepat dari dinding rahim
sebelum waktunya. Persalinan dengan operasi dilakukan untuk menolong janin segera lahir
sebelum ia mengalami kekurangan oksigen atau keracunan air ketuban.
Plasenta accreta
Merupakan keadaan menempelnya plasenta di otot rahim. Pada umumnya dialami
ibu yang mengalami persalinan yang berulang kali, ibu berusia rawan untuk hamil (di atas 35
tahun), dan ibu yang pernah operasi (operasinya meninggalkan bekas yang menyebabkan
menempelnya plasenta.
e) Kelainan Tali Pusat
Prolapsus tali pusat (tali pusat menumbung)
Keadaan penyembulan sebagian atau seluruh tali pusat.

Pada keadaan ini, tali

pusat berada di depan atau di samping atau tali pusat sudah berada di jalan lahir sebelum
bayi.
3

Terlilit tali pusat


Lilitan tali pusat ke tubuh janin tidak selalu berbahaya. Selama tali pusat tidak terjepit
atau terpelintir maka aliran oksigen dan nutrisi dari plasenta ke tubuh janin tetap aman.
(Kasdu, 2003, hal. 13-18).
4. Komplikasi
Komplikasi Sectio Caesaria Menurut Farrer (2001) adalah :
a. Nyeri pada daerah insisi,
b. Perdarahan primer sebagai akibat kegagalan mencapai homeostatis karena insisi
rahim atau akibat atonia uteri yang dapat terjadi setelah pemanjangan masa
persalinan,
c. Sepsis setelah pembedahan, frekuensi dari komplikasi ini lebih besar bila sectio
d.
e.
f.
g.
h.
i.

caesaria dilaksanakan selama persalinan atau bila terdapat infeksi dalam rahim,
Cidera pada sekeliling struktur usus besar, kandung kemih yang lebar dan ureter,
Infeksi akibat luka pasca operasi,
Bengkak pada ekstremitas bawah,
Gangguan laktasi,
Penurunan elastisitas otot perut dan otot dasar panggul, dan
Potensi terjadinya penurunan kemampuan fungsional.

5. Resiko jangka panjang dari operasi cesar


Wanita yang memiliki luka pada rahim akibat operasi cesar memiliki resiko jangka
panjang yang sedikit lebih tinggi pada kehamilan berikutnya, antara lain :
Robeknya jaringan luka pada rahim akibat operasi cesar sebelumnya selama proses
persalinan normal pada kehamilan berikutnya.
Placenta previa, pertumbuhan plasenta yang lebih rendah di bawah rahim, sehingga
menghalangi leher rahim. Placenta accreta, placenta increta, atau placenta percreta, yaitu
masalah yang terjadi ketika plasenta tumbuh lebih dalam pada dinding rahim, yang dapat
menyebabkan

pendarahan

hebat

setelah

proses

persalinan

dan

meningkatkan

kemungkinan untuk dilakukannya transfusi darah atau bahkan histerektomi (pengangkatan


rahim) untuk menyelamatkan jiwa ibu. 40% atau lebih wanita yang pernah 3 kali atau lebih
melahirkan melalui operasi cesar akan mengalami komplikasi-komplikasi tersebut Waktu
yang dibutuhkan untuk penyembuhan operasi cesar sebagian besar wanita pulang ke rumah
3 5 hari setelah operasi cesar. Namun butuh waktu 4 6 minggu untuk pulih. Sebaliknya,
wanita yang melahirkan secara normal melalui vagina pulang ke rumah dalam 1 2 hari dan
kembali ke aktivitas normal dalam 1 2 minggu.
Secara umum apa yang harus dilakukan setelah operasi cesar

Klien tidak boleh banyak beraktivitas selama penyembuhan luka insisi. Hindari
mengangkat benda berat. Mintalah bantuan keluarga untuk melakukan pekerjaan
rumah, memasak, dan berbelanja. Anda tidak boleh mengemudi selama 2 minggu,
tidak boleh melakukan latihan fisik selama 4 6 minggu, dan tidak boleh melakukan

hubungan seksual selama 6 minggu.


Anda akan mengalami rasa nyeri di bagian bawah perut dan mungkin membutuhkan

obat-obatan pereda nyeri selama 1 2 minggu.


Anda dapat mengalami pendarahan vagina selama beberapa minggu, gunakan
pembalut untuk mengatasinya.

ASUHAN KEPERAWATAN

PENGKAJIAN
a. Sistem Reproduksi
Uterus
Involusi : Kembalinya uterus ke kondisi normal setelah hamil.
Lochea

Komposisi

Jaringan endometrial, darah dan limfe.


5

Tahap

a. Rubra (merah) : 1-3 hari.


b. Serosa (pink kecoklatan)
c. Alba (kuning-putih) : 10-14 hari
Lochea terus keluar sampai 3 minggu.
Bau normal seperti menstruasi, jumlah meningkat saat berdiri.
Jumlah keluaran rata-rata 240-270 ml.
- Siklus Menstruasi
Ibu menyusui paling awal 12 minggu rata-rata 18 minggu, untuk itu tidak menyusui akan
kembali ke siklus normal.
- Ovulasi
Ada tidaknya tergantung tingkat proluktin. Ibu menyusui mulai ovulasi pada bulan ke-3
atau lebih. Ibu tidak menyusui mulai pada minggu ke-6 s/d minggu ke-8. Ovulasi mungkin
tidak terlambat, dibutuhkan salah satu jenis kontrasepsi untuk mencegah kehamilan.
- Serviks
Segera setelah lahir terjadi edema, bentuk distensi untuk beberapa hari, struktur internal
kembali

dalam

minggu,

struktur

eksternal

melebar

dan

tampak

bercelah.

- Vagina
Nampak berugae kembali pada 3 minggu, kembali mendekati ukuran seperti tidak hamil,
dalam 6 sampai 8 minggu, bentuk ramping lebar, produksi mukus normal dengan ovulasi.
a. Payudara
Payudara membesar karena vaskularisasi dan engorgement (bengkak karena
peningkatan prolaktin pada hari I-III). Pada payudara yang tidak disusui, engorgement
akan berkurang dalam 2-3 hari, puting mudah erektil bila dirangsang. Pada ibu yang
tidak menyusui akan mengecil pada 1-2 hari.
b. Sistem Endokrin
Hormon Plasenta HCG (-) pada minggu ke-3 post partum, progesteron plasma tidak
terdeteksi dalam . Prolaktin serum meningkat terjadi pada 2 minggu pertama, menurun
sampai tidak ada pada ibu tidak menyusui FSH, LH, tidak ditemukan pada minggu I post
partum.
c. Sistem Kardiovaskuler
- Tanda-tanda vital
Tekanan darah sama saat bersalin, suhu meningkat karena dehidrasi pada awal post
partum terjadi bradikardi.
- Volume darah
Menurun karena kehilangan darah dan kembali normal 3-4 minggu Persalinan normal :
200 500 cc, sesaria : 600 800 cc.
- Perubahan hematologic
Ht meningkat, leukosit meningkat, neutrophil meningkat.
- Jantung
Kembali ke posisi normal, COP meningkat dan normal 2-3 minggu.
6

a. Sistem Respirasi
Fungsi paru kembali normal, RR : 16-24 x/menit, keseimbangan asam-basa kembali
setelah 3 minggu post partum.
b. Sistem Gastrointestinal
- Mobilitas lambung menurun sehingga timbul konstipasi.
- Nafsu makan kembali normal.
- Kehilangan rata-rata berat badan 5,5 kg
c. Sistem Urinaria
- Edema pada kandung kemih, urethra dan meatus urinarius terjadi karena trauma.
- Pada fungsi ginjal: proteinuria, diuresis mulai 12 jam.
- Fungsi kembali normal dalam 4 minggu.
d. Sistem Muskuloskeletal
Terjadi relaksasi pada otot abdomen karena terjadi tarikan saat hamil. Diastasis rekti 2-4
cm, kembali normal 6-8 minggu post partum.
e. Sistem Integumen
Hiperpigmentasi perlahan berkurang.
f.

Sistem Imun
Rhesus incompability, diberikan anti RHO imunoglobin.

DIAGNOSA SC a/i Bekas SC


a. Nyeri akut berhubungan dengan trauma pembedahan
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam klien dapat
mengontrol rasa nyerinya
Kriteria hasil : mampu mengidentifikasikan cara mengurangi nyeri, mengungkapkan
keinginan untuk mengontrol nyerinya, dan mampu untuk tidur/istirahat dengan tepat
INTERVENSI
1) Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas,
dan lamanya.
2) Ajarkan dan catat tipe nyeri serta
tindakan untuk mengatasi nyeri.
3). Ajarkan teknik relaksasi
4).Pertahankan
tirah
baring
diindikasikan
5). Berikan obat sesuai indikasi

RASIONAL
1). memberikan informasi untuk membantu
memudahkan tindakan keperawatan.
2) .meningkatkan persepsi klien terhadap
nyeri yang di dalamnya.
3). meningkatkan kenyamanan klien

bila

4). tirah baring diperlukan pada awal selama


fase reteksi akut.
5) Untuk mengurangi nyeri

b. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tindakan pembedahan


Tujuan :setelah dilakukan tindakan 3x24 jam diharapkan integritas kulit dan proteksi
jaringan membaik
Kriteria hasil : tidak terjadi kerusakan integritas kulit, tidak terdapat kemerahan, pus
atau eksudat, bau dan luka kering
Intervensi :
1) Berikan perhatian dan perawatan pada kulit area insisi
Rasional :
2) Lakukan latihan gerak secara pasif
Rasional : meningkatkan sirkulasi, meningkatkan mobilisasi sendi dan mencegah
kontraktur dan atrofi otot.
3) Lindungi kulit yang sehat dari kemungkinan maserasi
4) Jaga kelembaban kulit
c. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan pengeluaran integritas pembuluh
darah, perubahan dalam kemampuan pembekuan darah.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam kekurangan cairan
klien dapat teratasi
Kriteria hasil : adanya tanda-tanda vital yang stabil, palpasi denyut nadi dengan kualitas
baik, turgor kulit normal, membran mukosa lembab, dan pengeluaran urine yang sesuai.
Intervensi :
1) Ukur dan catat pemasukan dan pengeluaran. Tinjau ulang catatan intraoperasi.
Rasional : membantu mengidentifikasi pengeluaran cairan atau kebutuhan
penggantian.
2) Kaji pengeluaran urinarius.
Rasional :mengindikasikan malfungsi atau obstruksi sistem urinarius.
3) Awasi TD, nadi, dan tekanan hemodinamik.
Rasional : hipoteksi, takikardia penurunan tekanan hemodinamik menunjukan
kekurangan cairan.
4) Catat munculnya mual/muntah.
Rasional : mual yang terjadi 1224 jam pascaoperasi dihubungkan dengan anestesi;
mual lebih dari tiga hari pascaoperasi dihubungkan dengan narkotik untuk
mengontrol rasa sakit atau terapi obat-obatan lainnya.
5) Periksa pembalut atau drain pada interval reguler. Kaji luka untuk terjadinya
pembengkakan.
Rasional
:
pendarahan
hipovolemia/hemoragi.

yang

berlebihan

Pembengkakan

lokal

dapat

mengacu

mengindikasikan

kepada
formasi

hematoma/pendarahan.
6) Pantau suhu kulit, palpasi denyut perifer.
Rasional :kulit dingin/lembab, denyut lemah mengindikasikan penurunan sirkulasi
perifer.
7) Pasang kateter urinarius sesuai kebutuhan.
Rasional : memberikan mekanisme untuk memantau pengeluaran urinarius yang
adekuat.
8) Berikan cairan parental, produksi darah dan/ atau plasma ekspander sesuai
petunjuk.
8

Rasional :gantikan kehilangan cairan. Catat waktu penggunaan volume sirkulasi


yang potensial bagi penurunan komplikasi.
9) Awasi pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi.
Hb/Ht
Rasional : menurun karena anemia atau kehilangan darah aktual.
Elektrolit serum dan pH.
Rasional : ketidakseimbangan dapat memerlukan perubahan dalam cairan atau
tambahan pengganti untuk mencapai keseimbangan.
10) Berikan darah atau kemasan SDM bila diperlukan sesuai indikasi.
Rasional :kehilangan pendarahan, penurunan produksi SDM dapat mengakibatkan
anemia berat atau progresif.
d. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan intoleransi aktivitas dan nyeri.
Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam klien dapat
beraktivitas sesuai dengan toleransinya
Kriteria hasil : mempertahankan posisi fungsi dibuktikan tidak adanya kontraktur,
meningkatkan kekuatan bagian tubuh yang sakit/kompensasi, dan mendemonstrasikan
teknik atau perilaku yang memungkinkan melakukan kembali aktivitas.
Intervensi :
1) Kaji fungsi motorik dengan menginstruksikan pasien untuk melakukan gerakan.
Rasional : mengevaluasi keadaan khusus.pada beberapa lokasi trauma
mempengaruhi tipe dan pemilihan intervensi.
2) Catat tipe anestesi yang diberikan pada saat intra partus pada waktu klien sadar.
Rasional : pengaruh anestesi dapat mempengaruhi aktifitas klien.
3) Berikan suatu alat agar pasien mampu untuk meminta pertolongan, seperti bel atau
lampu pemanggil.
Rasional : Membuat pasien memiliki rasa aman, dapat mengatur diri dan mengurangi
ketakutan karena ditinggal sendiri.
4) Bantu / lakukan latihan ROM pada semua ekstremitas dan sendi, pakailah gerakan
perlahan dan lembut.
Rasional : meningkatkan sirkulasi, meningkatkan mobilisasi sendi dan mencegah
kontraktur dan atrofi otot.
5) Anjurkan klien istirahat.
Rasional : mencegah kelelahan.
6) Tingkatkan aktifitas secara bertahap.
Rasional : aktifitas sedikit demi sedikit dapat dilakukan oleh klien sesuai yang
diinginkan, memberikan rasa tenang dan aman pada klien emosional.
e. Resti infeksi berhubungan dengan prosedur invasif, kerusakan kulit, pemajanan pada
patogen.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan selama 3x24 jam kejadian infeksi dapat dicegah
Kriteria hasil : tidak ada tanda-tanda infeksi (rubor, kalor, dolor, tumor dan fungsio
laesa), tanda-tanda vital normal terutama suhu (36-37C), dan pencapaian tepat waktu
dalam pemulihan luka tanpa komplikasi.
9

Intervensi :
1) Monitor tanda-tanda vital.
Rasional : suhu yang meningkat, dapat menunjukkan terjadinya infeksi (color).
2) Kaji luka pada abdomen dan balutan.
Rasional :mengidentifikasi apakah ada tanda-tanda infeksi adanya pus.
3) Menjaga kebersihan sekitar luka dan lingkungan klien, rawat luka dengan teknik
aseptik.
Rasional :mencegah kontaminasi silang/penyebaran organisme infeksius.
4) Catat hemoglobin dan hematokrit. Catat perkiraan kehilangan darah selama
prosedur pembedahan.
Rasional : risiko infeksi pasca melahirkan dan penyembuhan buruk meningkat bila
kadar hemoglobin rendah dan kehilangan darah berlebihan.
5) Berikan antibiotik pada post operasi
Rasional : mencegah terjadinya proses infeksi.

10

DAFTAR PUSTAKA
Cuningham, G., 2005. Obstetri Wiliams Volume 1 Edisi 21. Jakarta : EGC.
Djuanda, adhi. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: Balai Penerbit FKUI
Doenges, Marilyn E. 2010. Rencana Asuhan Keperawatan, Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3. Jakarta: Penerbit
buku kedokteran, EGC.
Doengoes, Marilynn, dkk, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3, alih bahasa : I Made
Kariasa dan Ni Made S.Jakarta: EGC.
Holmes, D. dan Baker, P.N., 2011. Buku Ajar Ilmu Kebidanan. Jakarta : EGC.
Kasdu, D., 2003. Operasi Caesar Masalah dan Solusinya. Jakarta : Puspa Swara.
Llewellyn, D., 2001. Dasar- dasar Obstetri dan Ginekologi Edisi 6. Jakarta : Hipokrates.
Mandal,dkk. 2008. Penyakit Infeksi. Jakarta: Erlangga Medical Series.
Price, Sylvia and Wilson, Lorraine. 1992. Pathophysiology Fourth Edition. Mosby
Year Book. Michigan
Saifuddin, A.B., 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Sinaga, Ezra. 2007. Karakteristik Ibu Yang Mengalami Persalinan Dengan Seksio Sesarea
Yang Dirawat Inap Di Rumah Sakit Umum Daerah Sidikalang Tahun 2007 : USU
Repository 2008
Smeltzer, Bare .2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Ed 8 . Jakarta: EGC
Varney, H., 2008. Buku ajar Asuhan Kebidanan Volume 2 Edisi 4. Jakarta : EGC.
Widoyono.

2005.

Penyakit

Tropis:

Epidomologi,

penularan,

pencegahan,

dan

pemberantasannya.Jakarta: Erlangga Medical Series.


Yudoyono, Ani. 2008. Kejadian Persalinan Sectio Caesarea. Jurnal Penelitian, tanggal 25
November 2008.

11