Anda di halaman 1dari 15

Studi Kasus Tindak Pidana Penganiayaan oleh TNI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang

TNI merupakan organisasi yang berperan sebagai alat ertahanan Negara. untuk dapat
melaksanakan peran tersebut,setiap prajurit TNI diharapkan mampu memelihara tingkat
profesionalismenya yaitu sebagai bagian dari komponen utama kekuatan pertahanan Negara dalam
rangka menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI Untuk memelihara tingkat
profesionalisme prajurit TNI agar selalu berada pada kondisi yang diharapkan, salahsatu upaya
alternative yang dilakukan adalah dengan tetap menjaga dan meningkatkan kualitas moral
prajurit melalui pembangunan kesadaran dan penegakan hokum
Konsepsi penyadaran dan penegakan hukum bertujuan untuk membentuk
postur prajurit TNI profesionalisme yang mampu mengembangkan tatanan kehidupan
pribadi dan sosial dalam masyarakat, berbangsa dan bernegara yang lebih demokratis guna mewujudkan
kemampuan profesional sebagai alat pertahanan Negara. adapun sasaran yang diharapkan adalah
tercapainya kadar kesadaran hukum dan penegakan hukum yang mantap, dengan indikator
adanya keserasian dan keseimbangan antara tuntutan hak dan pelaksanaan kewajiban
dikalangan prajurit TNI.Terbentuknya kualitas pribadi prajurit TNI memiliki budaya patuh hukum
sebagai landasan kemampuan profesionalisme dengan indikator rendahnya angka pelanggaran
hukum, baik secara kualitas maupun kuantitas, dan terwujudnya prajurit TNI yang professional
memiliki kesadaran hukum yang cukup mantap dilandasi dengan nilai-nilai kejuangan,
dengan indikator tingkat disiplin yang cukup tinggi di dalam pelaksanaan tugas maupun kehidupan
sehari-hari.
Dengan dasar KUHPM yang ada, ternyata masih tidak sedikit oknum atau anggota TNI yang
melakukan tindak pidana baik antar anggota maupun kepada masyarakat. Dalam makalah ini akan sekilas
diterangkan dan dijelaskan mengenai kasus yang terjadi ditubuh anggota TNI terkait tindak pidana.

B. Rumusan masalah
1. Apa Pengertian Hukum Pidana Militer?
2. Pelanggaran apa yang dilakukan oleh oknum yang terkait?
3. Apa sanksi yang diberikan kepada oknum tersebut?
4. Apa fungsi adanya hokum, Khususnya hokum pidana?

C. Tujuan
Dengan dibuatnya makalah ini yang jauh dari kata sempurna, penulis mencoba
memberikan contoh studi kasus yang ada mengenai tindak pidana yang dilakukan TNI dan
hukuman yang dapat dijatuhkan serta penjelasan terkait Pidana Militer itu sendiri.
D. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan ini yaitu kita dapat mengambil sebuah khazanah
keilmuan yang sekiranya dapat memberikan pencerahan kapada para pembaca agar lebih
mengetahui dan memahami bagaimana upaya perbaikan citra TNI khususnya di mata rakyat
masih juga mengalami berbagai macam hambatan dikarenakan masih adanya oknum-oknum
yang tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan statusnya sebagai anggota Militer untuk
memperlakukan rakyat seperti ibarat zaman orde baru. Serta agar masyarakat sipil tahu
bahwa jikalau ada anggota Militer yang terlibat penganiayaan serta ancaman terhadap
masyarakat sipil, masih ada upaya hukum yang akan dilakukan demi terciptanya asas
equality before the law, sehingga menempatkan anggota Militer sebagai bagian dari elemen
bangsa yang juga tidak kebal hukum serta mempunyai derajat yang sama di mata aturan
hukum yang berlaku di Negara Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Umum
militer adalah kekuatan angkatan perang dari suatu Negara yang diatur dalam suatu
peraturan perundang-undangan yang dalam pandangan luasnya merupakan alat Negara yang
mengemban tugas-tugas tertentu yang telah ditetapkan oleh undang-undang demi
kesejahteraan bersama berbangsa dan bernegara.
Adapun yang dimaksud Prajurit adalah warga Negara yang memenuhi persyaratan
yang ditentukan dalam ketentuan peraturan perundang-undangan dan diangkat oleh pejabat
berwenang untuk mengabdikan diri dalam usaha pembelaan Negara dengan menyandang
senjata, rela berkorban jiwa raga, dan berperan serta dalam pembangunan nasional serta
tunduk dalam hukum militer.
Pengadilan Militer Memeriksa dan memutus pada tingkat pertama, terdakwa
merupakan prajurit berpangkat kapten kebawah diatur dalam Pasal 9 UU No 31 tahun 1997
yang harus diadili pengadilan militer.
Pengadilan Militer Tinggi. Pengadilan ini juga memeriksa, memutus dan
menyelesaikan sengketa tata usaha angkatan bersenjata, juga memeriksa dan memutus tingkat
pertama dan terakhir banding dari pengadilan militer dalam daerah hukumnya.
B. Landasan Teori
Di dalam Undang-undang tentang hukum disiplin prajurit angkatan bersenjata
Republik Indonesia telah di jelaskan bahwasannya, Disiplin Prajurit yaitu ketaatan dan
kepatuhan yang sungguh-sungguh setiap prajurit Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
yang didukung oleh kesadaran yang bersendikan Sapta Marga dan Sumpah Prajurit untuk
menunaikan tugas dan kewajiban serta bersikap dan berperilaku sesuai dengan aturan-aturan
atau tata kehidupan prajurit Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.
Tindak pidana militer murni adalah tindakan-tindakan terlarang atau diharuskan yang
pada prinsipnya hanya mungkin dilanggar oleh seorang militer, karena keadaannya yang

bersifat khusus atau karena suatu kepentingan militer menghendaki tindakan tersebut
ditentukan sebagai tindak pidana.
Tindak pidana militer campuran adalah tindakan-tindakan terlarang atau diharuskan
yang pada pokoknya sudah ditentukan dalam perundangxii undangan lain, akan tetapi diatur
lagi dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Militer karena adanya sesuatu keadaan
yang khas militer atau karena adanya sesuatu sifat yang lain, sehingga diperlukan ancaman
pidana yang lebih berat bahkan mungkin lebih berat dari ancaman pidana pada kejahatan
semula dengan pemberatan tersebut. Untuk menyelesaikan setiap tindak pidana militer yang
terjadi jelas diperlukan juga hukum acara pidana militer yang akan memuat mengenai proses
pemeriksaan suatu perkara pidana militer di dalam suatu pengadilan. Dalam Undang-undang
No.31 Tahun 1997, dikemukakan mengenai kewenangan peradilan militer untuk
menyelesaikan perkara pidana yang dilakukan oleh anggota Angkatan Bersenjata Republik
Indonesia. Peradilan Militer selain itu juga dapat mengadili tuntutan ganti rugi dan sengketa
tata usaha di lingkungan angkatan bersenjata republik indonesia. Pengadilan dalam
lingkungan peradilan militer merupakan badan pelaksana kekuasaan kehakiman dilingkungan
angkatan bersenjata dan berpuncak pada mahkamah agung sebagai pengadilan tertinggi.
Pengadilan ini secara organisatoris dan administrasif berada dibawah pembinaan panglima.
Pembinaan tersebut tidak boleh mengurangi kebebasan hakim dalam memeriksa dan
memutus perkara.

BAB III
PEMBAHASAN

A. Pengertian Hukum Pidana Militer


Hukum Pidana Militer adalah ketentuan hukum yang mengatur seorang militer
tentang tindakan-tindakan mana yang merupakan pelanggaran atau kejahatan atau merupakan
larangan atau keharusan dan diberikan ancaman berupa sanksi pidana terhadap
pelanggarnya.Hukum Pidana Militer bukanlah suatu hukum yang mengatur norma,
melainkan hanya mengatur tentang pelanggaran atau kejahatan yang dilakukan oleh prajurit
TNI atau yang menurut ketentuan undang-undang dipersamakan dengan prajurit TNI.
B. Jenis Hukuman Yang Dapat Diberlakukan Bagi Pelaku Tindak Kejahatan
Hukuman Yang Dapat Diberlakukan Bagi Pelaku Tindak Kejahatan Menurut Pasal 6
KUHPM terbagi atas 2 jenis hukuman, yaitu :
1. Pidana-pidana utama , terdiri atas :Pidana Mati, Pidana Penjara, Pidana Kurungan, Pidana
Tutupan (UU No. 20 Tahun 1946)
2. Pidana-pidana tambahan, terdiri atas :
Ke-1, Pemecatan dari dinas militer dengan atau tanpa pencabutan
haknya untuk memasuki angkatan bersenjata
Ke-2, Penurunan pangkat
Ke-3, Pencabutan hak-hak yang disebutkan pada pasal 35 ayat
pertama pada nomor-nomor ke1, ke-2 dan ke-3 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
Dari beberapa penjelasan mengenai hukuman yang ada diatas, ada satu contoh yang
masuk dalam kategori pidana tambahan dan masuk pada nomor ke-1. adapun contohnya
seperti yang ada pada penjelasan kasus di bawah ini.

Studi Kasus
Menodong, Suntiyanto Dipecat dari TNI
Kamis, 01 Maret 2007

Suara Merdeka, SEMARANG - Prajurit Kepala (Praka) Suntiyanto, pelaku tindak


pidana penodongan, penganiayaan, dan kepemilikan senjata api ilegal, divonis dua tahun
penjara oleh Pengadilan Militer II-10 Semarang, Selasa (28/2).
Dia yang bertugas sebagai tamtama pengemudi di Oditorat Militer Tinggi
III/Surabaya itu juga dipecat dari dinas kesatuan Tentara Nasional Angkatan Darat. Putusan
tersebut lebih berat dibanding tuntutan Oditur Militer Mayor Sus Mukseno, yang meminta
majelis hakim menjatuhkan pidana penjara satu tahun lebih delapan bulan dipotong masa
tahanan.
Vonis dibacakan Ketua Majelis Hakim Kolonel CHK Riza Thalib dan dua hakim
anggota Mayor CHK Muh Mahmud, didampingi Kapten CHK M Suyanto dan panitera
Letnan Satu Joko Trianto.
Majelis hakim menyatakan, Suntiyanto pantas mendapatkan hukuman berat. Itu juga
dapat menjadi cambuk bagi diri terdakwa dan prajurit lainnya agar tidak melakukan tindakan
serupa. Perbuatan terdakwa telah mencoreng citra TNI AD. Karenanya, terdakwa tidak pantas
dipertahankan dari kesatuan TNI AD.
Hal lain yang memberatkan terdakwa adalah, yang bersangkutan pernah dihukum
enam bulan penjara, karena mencuri motor di Jakarta pada 1998, namun tidak juga jera
melakukan pelanggaran hukum.
Ditambah lagi, terdakwa disersi dari dinas sejak Februari 2006, karena lari dari
tanggung jawab dari seorang perempuan asal Surabaya bernama Indah Suci Rahayu asal
Surabaya, yang memintainya menikahi, lantaran dihamili.
Sebelumnya, yang bersangkutan juga pernah menghamili Qolbiyati, warga Cepu,
Blora, pada 2005. Namun dia tidak mau menikahi. Ihwal penodongan dengan senjata ilegal
terjadi pada 3 September 2006.
Ketika itu, terdakwa bertemu dengan Udi Utomo (orang tua Qolbiyati) di pinggir
Jalan Mandan, Desa Peting, Blora. Udi menanyakan keseriusan terdakwa menikahi Qolbiyati.
Mendapat pertanyaan Udi, terdakwa marah dan menghajar Udi. Setelah itu, terdakwa pergi.
Beberapa menit kemudian, dia kembali ke lokasi kejadian pemukulannya terhadap Udi untuk
mengambil slayernyayang ketinggalan.
Di lokasi tersebut, Udi bertemu dengan Wibisono, petugas kepolisian setempat.
Wibisino menyinggung soal pemukulan yang dilakukan terdakwa kepada Udi. Pria yang
tinggal di Jalan Bunderan Tol Waru Surabaya itu justru naik pitam dan mengacungkan pistol
rakitan ke arah Wibisono yang langsung ketakutan.

Sebelum majelis hakim menjatuhkan vonis, Suntiyanto mengatakan, "Mohon saya


diberi kesempatan untuk kembali ke dinas. Karena secara pribadi, saya dipercaya orang tua
untuk bisa membahagiakan mereka sebagai anggota TNI."
Permohonan itu dijawab Ketua Majelis Hakim Kolonel CHK Riza Thalib dengan
pertanyaan, "Apakah untuk bisa membahagiakan orang tua itu harus menjadi anggota TNI?
Kan bisa dengan cara lain. Jadi kamu ini masuk TNI hanya karena ingin membahagiakan
orang tua ya?"
Pria yang ditahan sejak 9 September 2006 itu pun menjawab, alasan tersebut bukanlah
satu-satunya. Masih ada alasan lain, yaitu dirinya ingin mengabdi pada bangsa dan negara.
Penasihat hukumnya, Agus Sasongko SH meminta, majelis hakim agar melepaskan kliennya
dari segala dakwaan dan tuntutan. (H30-46)
Kasus diatas dilakukan oleh seorang Angkatan dengan Melakukan tindakan
penodongan, penganiayaan (Pasal 352 KUHP) dan kepemilikan senjata api illegal (Pasal 145
KUHPM).
Dari kejadian diatas upaya yang dilakukan terdakwa untuk memperingan
hukumannya tidak bermanfaat apapun, tindak pidana yang dilakukannya mencemarkan nama
baik TNI serta disisi lain juga merugikan korban.
Ketaatan terhadap hukum diharapkan guna membangun budaya sadar hukum
khususnya kepada TNI sebagai pengaman bangsa dan negara kiranya lebih ditekankan
mengingat angka tindakan kriminal masih tinggi di indonesia.
C. Peran Hukum Pidana Dalam Membangun Budaya Sadar Hukum
Prajurit TNI adalah bagian dari suatu masyarakat hukum yang memiliki peran sebagai
pendukung terbentuknya budaya hukum dilingkungan mereka. Kesadaran hukum
dilingkungan TNI tidak dapat diharapkan akan tegak jika para prajurit TNI sebagai
pendukung budaya hukum tidak memberikan kontribusi dengan berusaha untuk senantiasa
mentaati segala peraturan yang berlaku serta menjadikan hukum sebagai acuan dalam
berperilaku dan bertindak,Pemahaman tentang kesadaran hukum perlu terus ditingkatkan
sehingga terbentuk perilaku budaya taat hukum dalam diri masing-masing individu prajurit
TNI. Prinsip supremasi hukum yang menempatkan hukum diatas segala tindakan dan
penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia harus terus-menerus disosialisasikan kepada
seluruh prajurit TNI secara meluas sehingga dapat menjadi perilaku budaya baik dalam
kedinasan maupun kehidupan sehri-hari. Peningkatan kesadaran dan penegakan hukum bagi
prajurit TNI perlu dijadikan sebagai prioritas kebijakan dalam pembinaan personil TNI,

karena kurangnya pemahaman hukum dikalangan prajurit TNI merupakan salah satu
penyebab terjadinya pelanggaran hukum disamping pengaruh-pengaruh lainnya, baik yang
bersifat internal maupun eksternal,Penegakan hukum dalam organisasi TNI merupakan fungsi
komando dan menjadi salah satu kewajiban komando selaku pengambil keputusan. Menjadi
keharusan bagi para komandan di setiap tingkat kesatuan untuk mencermati kualitas
kesadaran hukum dan disiplin para prajurit TNI yang berada di bawah wewenang
komandonya.
Perlu juga diperhatikan bahwa konsep pemberian penghargaan dan penjatuhan sanksi
hukuman harus benar-benar diterapkan berkaitan dengan penyelenggaraan fungsi penegakan
hokum, Pemberian penghargaaan haruslah ditekankan pada setiap keberhasilan pelaksanaan
kinerja sesuai bidang tugasnya, bukan berdasarkan aspek lain yang jauh dari penilaian
profesionalisme banyak mengalami kegagalan dalam pelaksanaan tugas, lamban dalam
kinerja, memiliki kualitas disiplin yang rendah sehingga melakukan perbuatan yang
melanggar hukum,maka kepada mereka sangat perlu untuk dijatuhi sanksi
hukuman.Penjatuhan sanksi ini harus dilakukan dengan tegas dan apabila perlu diumumkan
kepada lingkungan tugas sekitarnya untuk dapat dijadikan contoh. Setiap penjatuhan sanksi
hukuman harus memiliki tujuan positif, artinya dapat memberikan pengaruh positif dalam
periode waktu yang panjang terhadap perilaku prajurit TNI yang bersangkutan dan
menimbulkan efek cegah terhadap prajurit TNI lainnya. Rambu-rambu sebagai batasan yang
perlu dipedomani dalam meneruskan kebijakan untuk meningkatkan profesionalisme prajurit
TNI haruslah bersifat dinamis serta peka terhadap perubahan social.
Penyelenggaraan kebijakan dibidang penegakan hukum harus dilaksanakan dengan
berpedoman kepada arah gerak reformasi. Langkah strategis yang harus dilakukan adalah
melalui pembangunan kesadaran dan penegakan hukum sebagai upaya yang diarahkan untuk
meningkatkan kualitas moral dan disiplin prajurit TNI. Konsepsi ini diharapkan akan dapat
mengantisipasi dan menjawab permasalahan yang timbul, yaitu menurunnya profesionalisme
sebagai akibat meningkatnya kualitas dan kuantitas pelanggaran hukum yang dilakukan
prajurit TNI.
Untuk lebih memberi arah terhadap pelaksanaan konsepsi tersebut, maka rumusan
kebijakan perlu diarahkan dengan prioritas sasaran yaitu meningkatnya kesadaran hukum dan
terselenggaranya penegakan hukum yang mantap serta terbentuknya budaya patuh hukum
dikalangan prajurit TNI. TNI merupakan organisasi yang berperan sebagai alat pertahanan
Negara. untuk dapat melaksanakan peran tersebut, setiap prajurit TNI diharapkan mampu
memelihara tingkat profesionalismenya yaitu sebagai bagian dari komponen utana kekuatan

pertahanan Negara dalam rangka menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI. Untuk
memelihara tingkat profesionalisme prajurit TNI agar selalu berada pada kondisi yang
diharapkan, salah satu upaya alternative yang dilakukan adalah dengan tetap menjaga dan
meningkatkan kualitas moral prajurit melalui pembangunan kesadaran dan penegakan
hukum.
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Hukum Pidana Militer adalah ketentuan hukum yang mengatur seorang militer
tentang tindakan-tindakan mana yang merupakan pelanggaran atau kejahatan atau merupakan
larangan atau keharusan dan diberikan ancaman berupa sanksi pidana terhadap pelanggarnya.
Sedangkan dalam studi kasus ini Prajurit Kepala (Praka) Suntiyanto yang bertugas
sebagai tamtama pengemudi di Oditorat Militer Tinggi III/Surabaya itu juga dipecat dari
dinas kesatuan Tentara Nasional Angkatan Darat karena melakukan tindak pidana
penodongan, penganiayaan, dan kepemilikan senjata api ilegal divonis dua tahun penjara oleh
Pengadilan Militer II-10 Semarang, Selasa (28/2).
Putusan tersebut lebih berat dibanding tuntutan Oditur Militer Mayor Sus Mukseno,
yang meminta majelis hakim menjatuhkan pidana penjara satu tahun lebih delapan bulan
dipotong masa tahanan.
Dengan adanya kasus ini, kesadaran akan taat hukum perlu ditanamkan untuk
membangun budaya sadar hukum, Prajurit TNI adalah bagian dari suatu masyarakat hukum
yang memiliki peran sebagai pendukung terbentuknya budaya hukum dilingkungan mereka.
Kesadaran hukum dilingkungan TNI tidak dapat diharapkan akan tegak jika para prajurit TNI
sebagai pendukung budaya hukum tidak memberikan kontribusi dengan berusaha untuk
senantiasa mentaati segala peraturan yang berlaku serta menjadikan hukum sebagai acuan
dalam berperilaku dan bertindak,Pemahaman tentang kesadaran hukum perlu terus
ditingkatkan sehingga terbentuk perilaku budaya taat hukum dalam diri masing-masing
individu prajurit TNI.

Kasus dikaitkan dalam Perkuliahan Hukum Pidana Militer :


- Kasus diatas dilakukan oleh seorang Angkatan dengan berkali-kali mengulang
suatu Tindak Pidana. Diantara yaitu :
a. Melakukan tindak pidana Pencurian dilingkup masyarakat : divonis 6 bulan
penjara (Pasal 362 KUHP)
b. Melakukan tindakan disersi (Pasal 87 KUHPM) dikarenakan lari dari tanggung
jawab menikahi seorang wanita
c. Melakukan tindakan pemukulan yang tergolong dalam tindakan penganiayaan
terhadap orang sipil (Pasal 352 KUHP)
d. Melakukan tindakan penodongan, penganiayaan (Pasal 352 KUHP) dan
kepemilikan senjata api illegal (Pasal 145 KUHPM)
Dengan adanya tindak pidana yang dilakukan berkali-kali oleh seorang angkatan
tersebut maka dia terkena concorsus terhadap semua tindakan pidana yang
dilakukannya.
Sehingga dari putusan pengadilan militer semarang memberikan vonis 2 tahun
penjara untuk tersangka.

Daftar Pustaka
Eric A. Nordlinger. Militer dalam Politik. Rineka Cipta. Jakarta. 1990..
Undang-undang Nomor 34 tahun 2004, tentang TNI
http://www.scribd.com/doc/87702295/pidana-militer-BARU
Undang-undang Republik Indinesia nomor 26 tahun 1997 tentang Hukum Displin Prajurit
Aangkatan Bersenjata Republik Indonesia
http//:Ditulisolehujangfirmansyah/No. 018/SiaranPers/Imparsial/XI/2010. Selasa, 09
November 2010 10:24

Menodong, Suntiyanto Dipecat dari TNI


Kamis, 01 Maret 2007
Suara Merdeka, SEMARANG - Prajurit Kepala (Praka) Suntiyanto, pelaku tindak
pidana penodongan, penganiayaan, dan kepemilikan senjata api ilegal, divonis
dua tahun penjara oleh PengadilanMiliter II-10 Semarang, Selasa (28/2).
Dia yang bertugas sebagai tamtama pengemudi di Oditorat Militer Tinggi
III/Surabaya itu juga dipecat dari dinas kesatuan Tentara Nasional Angkatan
Darat. Putusan tersebut lebih berat dibanding tuntutan Oditur Militer Mayor Sus
Mukseno, yang meminta majelis hakim menjatuhkan pidana penjara satu tahun
lebih delapan bulan dipotong masa tahanan.
Vonis dibacakan Ketua Majelis Hakim Kolonel CHK Riza Thalib dan dua hakim
anggota Mayor CHK Muh Mahmud, didampingi Kapten CHK M Suyanto dan
panitera Letnan Satu Joko Trianto.
Majelis hakim menyatakan, Suntiyanto pantas mendapatkan hukuman berat. Itu
juga dapat menjadi cambuk bagi diri terdakwa dan prajurit lainnya agar tidak
melakukan tindakan serupa. Perbuatan terdakwa telah mencoreng citra TNI AD.
Karenanya, terdakwa tidak pantas dipertahankandari kesatuan TNI AD.
Hal lain yang memberatkan terdakwa adalah, yang bersangkutan pernah
dihukum enam bulan penjara, karena mencuri motor di Jakarta pada 1998,
namun tidak juga jera melakukan pelanggaran hukum.
Ditambah lagi, terdakwa disersi dari dinas sejak Februari 2006, karena lari dari
tanggung jawab dari seorang perempuan asal Surabaya bernama Indah Suci
Rahayu asal Surabaya, yang memintainya menikahi, lantaran dihamili.
Sebelumnya, yang bersangkutan juga pernah menghamili Qolbiyati, warga Cepu,
Blora, pada 2005. Namun dia tidak mau menikahi. Ihwal penodongan dengan
senjata ilegal terjadi pada 3 September 2006.
Ketika itu, terdakwa bertemu dengan Udi Utomo (orang tua Qolbiyati) di pinggir

Jalan Mandan, Desa Peting, Blora. Udi menanyakan keseriusan terdakwa


menikahi Qolbiyati. Mendapat pertanyaan Udi, terdakwa marah dan menghajar
Udi. Setelah itu, terdakwa pergi. Beberapa menit kemudian, dia kembali ke lokasi
kejadian pemukulannya terhadap Udi untuk mengambil slayernyayang
ketinggalan.
Di lokasi tersebut, Udi bertemu dengan Wibisono, petugas kepolisian setempat.
Wibisino menyinggung soal pemukulan yang dilakukan terdakwa kepada Udi. Pria
yang tinggal di Jalan Bunderan Tol Waru Surabaya itu justru naik pitam dan
mengacungkan pistol rakitan ke arah Wibisono yang langsung ketakutan.
Bahagiakan Orang Tua
Sebelum majelis hakim menjatuhkan vonis, Suntiyanto mengatakan, "Mohon
saya diberi kesempatan untuk kembali ke dinas. Karena secara pribadi, saya
dipercayaorang tua untuk bisa membahagiakan mereka sebagai anggota TNI."
Permohonan itu dijawab Ketua Majelis Hakim Kolonel CHK Riza Thalib dengan
pertanyaan, "Apakah untuk bisa membahagiakan orang tua itu harus menjadi
anggota TNI? Kan bisa dengan cara lain. Jadi kamu ini masuk TNI hanya karena
ingin membahagiakan orang tua ya?"
Pria yang ditahan sejak 9 September 2006 itu pun menjawab, alasan tersebut
bukanlah satu-satunya.
Masih ada alasan lain, yaitu dirinya ingin mengabdi pada bangsa dan negara.
Penasihat hukumnya, Agus Sasongko SH meminta, majelis hakim agar
melepaskan kliennyadari segala dakwaan dan tuntutan. (H30-46)

Kasus dikaitkan dalam Perkuliahan Hukum Pidana Militer :


- Kasus diatas dilakukan oleh seorang Angkatan dengan berkali-kali mengulang
suatu Tindak Pidana. Diantara yaitu :
a. Melakukan tindak pidana Pencurian dilingkup masyarakat : divonis 6 bulan
penjara (Pasal 362 KUHP)
b. Melakukan tindakan disersi (Pasal 87 KUHPM) dikarenakan lari dari tanggung
jawab menikahi seorang wanita
c. Melakukan tindakan pemukulan yang tergolong dalam tindakan penganiayaan
terhadap orang sipil (Pasal 352 KUHP)
d. Melakukan tindakan penodongan, penganiayaan (Pasal 352 KUHP) dan
kepemilikan senjata api illegal (Pasal 145 KUHPM)
Dengan adanya tindak pidana yang dilakukan berkali-kali oleh seorang angkatan
tersebut maka dia terkena concorsus terhadap semua tindakan pidana yang
dilakukannya.
Sehingga dari putusan pengadilan militer semarang memberikan vonis 2 tahun
penjara untuk tersangka.

TUGAS ANASIS KASUS HUKUM PIDANA MILITER


Empat Anggota TNI Iskandar Muda Aceh ditahan
Kamis, 29 Maret 2007 | 15:45 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta : Empat anggota Batalyon 113 Jaya Sakti Komando Daerah
Militer Iskandar Muda, ditahan di markas Polisi Militer setempat. Mereka diduga melakukan
penganiayaan terhadap warga Kecamatan Nisam, Aceh Utara, pada 20 Maret lalu.
"Komandan kompinya sudah dinonaktifkan," ujar Kepala Staf Angkatan Darat Jendral Djoko
Santoso, usai pembukaan Apel Komandan Satuan di lingkungan Angkatan Darat di Markas
Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat, Cilodong, Depok, Jawa Barat, Kamis (29/3).
Djoko mengaku sudah memerintahkan Palima Kodam Iskandar Muda untuk menghukum
anggotanya yang melakukan tindakan indisipliner. "Kami juga berharap pihak-pihak lain
yang melakukan tindak kekerasan kepada anggota TNI Angkatan Darat ditindak secara
hukum yang berlaku," ujarnya.
Dalam keterangan terpisah, juru bicara Kodam Iskandar Muda, Mayor Dudi Zulfadli,
mengatakan bahwa insiden terjadi ketika empat anggota TNI Angkatan Darat berpakaian
preman, melakukan pengamanan di sekitar proyek pembangunan Sekolah Dasar Alue II,
Kecamatan Nisam,Aceh Utara.
Dia mengakui kalau keempat tentara itu membawa senjata yang sudah dalam keadaan
terlucuti. "Masyarakat di sana menganggap anggota kami itu adalah petugas intelejen,"
ujarnya ketika dihubungi lewat telepon selularnya.
Kecurigaan masyarakat itu kemudian berbuah pada penangkapan dan pengeroyokan keempat
orang tentara itu. Merasa tak terima dengan perlakukan itu, keesokan harinya, mereka
menyerbu kampung untuk mencari para pengeroyok. Setelah ditemukan, mereka
memukulinya. "Saya berharap kejadian ini adalahyang terakhir," ujar Djoko. (Raden
Rachmadi)
Kasus dikaitkan dalam Perkuliahan Hukum Pidana Militer :
Dalam kasus diatas dapat dikaitkan dengan bahan perkuliahan hokum pidana militer :
- Kasus diatas termasuk didalam tindak pidana umum yang diatur didalam KUHP
dikarenakan didalam KUHPM hanya mengenal penganiayaan terhadap atasan tetapi terhadap
orang sipil, maka angkatan yang melakukan tindak pidana tersebut dijatuhi dengan Pasal 352
KUHP.
- Digunakan Pasal 352 KUHP dikarenakan didalam Pasal 1 KUHPM Untuk penerapan
Kitab UU ini berlaku ketentuan hokum pidana umum, termasuk BAB IX dari Buku Pertama
KUHP, kecuali ada penyimpangan yang ditetapkan UU, yang kemudian dikaitkan dengan
Pasal 103 KUHP yang dimana pasal tersebut untuk menjembatani berlakunya KUHP (Buku
I) terhadap ketentuan pidana diluar KUHP, kecuali telah ditentukan dalam UUlain.