Anda di halaman 1dari 78

at

ak

://

tp

ht

s.

bp

b.

ik
a

ob

.id

go

ht

tp

://

ak

at

ob

ik
a

b.

bp

s.

go

.id

Laporan Studi Penyusunan PDRB


Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran
Tahun 2013

Badan Pusat Statistik


Kabupaten Wakatobi

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

LAPORAN STUDI PENYUSUNAN PDRB KABUPATEN WAKATOBI


MENURUT PENGELUARAN TAHUN 2013
Nomor Publikasi
Nomor Katalog
Ukuran Buku
Jumlah Halaman

:
:
:
:

74070.1420
9302009.7407
28 x 21 cm
iv + 50 Hal.

s.

bp

Gambar Kulit :
Seksi Integrasi, Pengolahan, dan Diseminasi Statistik

go

.id

Naskah :
BPS Kabupaten Wakatobi

ik
a

b.

Penyunting :
Seksi Neraca Wilayah dan Analisis

ak

at

ob

Diterbitkan oleh :
Badan Pusat Statistik Kabupaten Wakatobi

tp

://

Dicetak oleh

ht

Boleh dikutip dengan menyebut sumbernya

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

ii

BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN WAKATOBI


Jln.Utudae Samad No.25, Wangi-Wangi Selatan
Wakatobi 93791, Telp (0404) 2220003

KATA PENGANTAR

.id

Publikasi Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi


Menurut
Pengeluaran Tahun 2013 merupakan lanjutan seri publikasi sebelumnya yang diterbitkan
oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Wakatobi

ik
a

b.

bp

s.

go

Data yang disajikan dalam publikasi ini adalah data PDRB atas dasar harga berlaku
dan atas dasar harga konstan 2000 yang mencakup tabel pokok dan tabel turunan. Pada
tabel pokok disajikan nilai nominal PDRB dan tabel turunannya seperti distribusi
persentase, indeks berantai dan indeks implisit. Karena belum lengkapnya data dasar yang
tersedia, maka beberapa angka yang disajikan, terutama untuk tahun 2012 dan 2013 masih
bersifat angka sementara. Sedangkan angka tahun sebelumnya telah menggunakan data
revisi sesuai dengan data terbaru. Olehnya itu disarankan untuk memperhatikan dan
memakai angka terakhir.

Wangi-Wangi, September 2014


Badan Pusat Statistik Kabupaten Wakatobi
Kepala,

ht

tp

://

ak

at

ob

Meskipun publikasi ini telah dipersiapkan sebaik-baiknya, disadari masih ada


kekurangan dan kesalahan yang mungkin terjadi. Untuk itu tanggapan dan saran dari
pemakai data sangat diharapkan untuk penyempurnaannya. Kepada semua pihak yang
telah memberi bantuan hingga terwujudnya publikasi ini diucapkan terima kasih.

La Ode Haris Sumba, SST


NIP. 19670520 199212 1 001

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

iii

DAFTAR ISI

URAIAN

HALAMAN

Halaman Judul

......................................................................................................

ii

....................................................................................................

iii

Daftar Isi

................................................................................................................

iv

Lampiran

Halaman Katalog

go

PENDAHULUAN

s.

BAB I.

.id

Kata Pengantar

1.1 - 1.7

Latar Belakang .............................................................................................

1.2.

Pengenalan SNNI 2010 ....................................................................................

1.4

1.3.

Maksud dan Tujuan .....................................................................................

1.6

ik
a

b.

bp

1.1.

BAB II.

1.2

METODOLOGI ......................................................................................... 2.1 - 2.27

Konsumsi Rumah Tangga ......

2.3

2.2.

Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga ..

2.6

2.3.

Konsumsi Pemerintah ..

2.4.

Penambahan Modal Tambah Bruto ...

2.15

2.5.

Inventori .................................................................................................

2.18

2.6.

Ekspor Impor

2.22

2.12

tp

://

ak

at

ob

2.1.

PEMBAHASAN ... 3.1 3.22

ht

BAB III.
3.1.

Perkembangan PDRB menurut penggunaan ...

3.4

3.2.

Perkembangan komponen PDRB menurut penggunaan .

3.12

LAMPIRAN .... 4.1 4.13

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

iv

DAFTAR TABEL

URAIAN

3.6
3.7
3.8

.id

go

3.6
3.8
3.10
3.13
3.15
3.16
3.18
3.20
3.21

ht

tp

://

ak

at

3.9

s.

3.5

bp

3.4

b.

3.3

ik
a

3.2

Nilai Tambah Bruto PDRB atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga
konstan di Wakatobi, 2011-2013
Distribusi PDRB Atas dasar harga berlaku di Wakatobi, 2011-2013 (Dalam
Persen)
Pertumbuhan PDRB ADHK, dan Sumber Pertumbuhan PDRB, di Wakatobi
2011-2013 (Dalam Persen)
Perkembangan Indikator Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga PDRB
menurut Penggunaan, di Wakatobi, 2011-2013
Perkembangan Indikator Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non-Profit PDRB
menurut Penggunaan, di Wakatobi, 2011-2013
Perkembangan Indikator Pengeluaran Konsumsi Pemerintah PDRB menurut
Penggunaan, di Wakatobi, 2011-2013
Perkembangan Indikator Komponen PMTB PDRB menurut Penggunaan, di
Wakatobi, 2011-2013 .
Perkembangan Indikator Komponen Inventori PDRB menurut Penggunaan,
di Wakatobi, 2011-2013 .
Perkembangan Indikator Komponen Ekspor netto PDRB menurut
Penggunaan, di Wakatobi, 2011-2013.

ob

3.1

HALAMAN

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

DAFTAR GAMBAR

URAIAN

3.5
3.6

.id

go

3.5
3.7
3.8
3.11
3.12
3.12
314

ht

tp

://

ak

at

ob

3.7

s.

3.4

bp

3.3

b.

3.2

Perkembangan PDRB menurut Penggunan Wakatobi atas dasar harga


berlaku dan konstan tahun 2004-2013 (Miliar Rupiah) .
Nilai Peranan komponen terhadap PDRB menurut pengeluaran atas dasar
harga berlaku dan konstan, di Wakatobi, tahun 2013 (miliar rupiah)
Peranan komponen terhadap PDRB menurut pengeluaran atas dasar harga
berlaku dan konstan, di Wakatobi, tahun 2013 (Persen)
Perkembangan Andil Komponen PDRB terhadap pertumbuhan ekonomi
Wakatobi, 2011-2013 (Persen) ..
Peranan komponen pengeluaran terhadap Konsumsi PDRB atas dasar harga
berlaku 2013 (persen) ..
Peranan komponen pengeluaran terhadap Konsumsi PDRB atas dasar
konstan 2013 (persen) ..
Perkembangan Konsumsi Rumah Tangga Menurut Jenis Pengeluran, 20112013 (Rp.Miliar) ..

ik
a

3.1

HALAMAN

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

vi

LAMPIRAN

TABEL

4.8
4.9
4.10
4.11

.id

go

s.

4.2
4.3
4.4
4.5
4.6
4.7
4.8
4.9
4.10
4.11
4.12
4.13

ht

tp

://

4.12

bp

4.7

b.

4.6

ik
a

4.5

ob

4.4

at

4.3

ak

4.2

PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Atas Dasar Harga Berlaku


Tahun 2011-2013 (Juta Rupiah) .
PDRB Kabupaten/Wakatobi Menurut Pengeluaran Atas Dasar Harga Konstan
Tahun 2011-2013 (Juta Rupiah)
Distribusi PDRB Wakatobi Menurut Pengeluaran Atas Dasar Harga berlaku,
2011 - 2013, (Persen) .
Distribusi PDRB Wakatobi Menurut Pengeluaran Atas Dasar Harga Konstan,
2011 - 2013, (Persen) .
Perkembangan PDRB Wakatobi Menurut Pengeluaran Atas Dasar Harga
Berlaku, 2011 - 2013, (Persen) .
Pertumbuhan PDRB Wakatobi Menurut Pengeluaran Atas Dasar Harga
Konstan, 2011 - 2013, (Persen) .
Indeks Berantai PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Atas Dasar
Harga Berlaku Tahun 2010-2012 (Persen)
Indeks Berantai PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Atas
Dasar Harga Konstan Tahun 2011-2013 (Persen)
Indeks Implisit PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran, 2011 2013, (Persen) .
Implisit PDRB Wakatobi Menurut Pengeluaran, 2011 - 2013, (Persen)..
..
Sumber Pertumbuhan PDRB Wakatobi Menurut Pengeluaran, 2011 - 2013,
(Persen) .
Andil Komponen Pengeluaran Terhadap Pertumbuhan PDRB Wakatobi
Menurut Pengeluaran, 2011 - 2013, (Persen)

4.1

HALAMAN

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

vii

.id
go
s.

PENDAHULUAN

ht

tp

://

ak

at

ob

ik
a

b.

bp

BAB I

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

1.1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Pada hakekatnya, pembangunan ekonomi merupakan serangkaian usaha dan
kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, memperluas

.id

lapangan kerja, memeratakan pembagian pendapatan masyarakat, meningkatkan


hubungan ekonomi regional dan mengusahakan pergeseran kegiatan ekonomi dari sektor

go

primer ke sektor sekunder dan tersier. Dengan kata lain, arah dari pembangunan ekonomi

bp

dengan tingkat pemerataan yang sebaik mungkin.

s.

adalah mengusahakan agar pendapatan masyarakat naik secara mantap yang dibarengi
Perubahan paradigma pembangunan dari pembangunan yang berorientasi pada

b.

pertumbuhan ekonomi (growth) ke arah pembanguan yang terpusat pada manusia telah

ik
a

menyebabkan perubahan pola evaluasi pembangunan baik nasional maupun regional. Era
pembangunan yang terpusat pada manusia (human centered development) mensyaratkan

ob

evaluasi pembangunan yang lebih diarahkan pada tingkat ketersentuhan program-program

at

yang telah direalisasikan pada peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di wilayah

ak

bersangkutan.

Berbagai teori mengungkapkan bahwa kata kunci dalam peningkatan kinerja

pembangunan manusia di suatu wilayah adalah peningkatan keterjangkauan (accessibility)

://

masyarakat terhadap seluruh fasilitas, baik kesehatan, pendidikan maupun kegiatan

tp

ekonomi, dan peningkatan respons masyarakat terhadap fasilitas yang ada di wilayah

ht

bersangkutan. Accesibility sangat berkaitan dengan infrastruktur, ketersediaan serta


penyebaran fasilitas (pendidikan, kesehatan dan penunjang perekonomian) yang ada di
suatu wilayah. Sedangkan tingkat respons masyarakat terhadap fasilitas sangat dipengaruhi
oleh daya beli masyarakat. Walaupun suatu wilayah memiliki tingkat keterjangkauan
terhadap fasilitas yang tinggi tanpa didukung oleh respons masyarakat, maka pembangunan
fasilitas-fasilitas tersebut cenderung tidak akan menghasilkan peningkatan kinerja
pembangunan manusia yang optimal di wilayah bersangkutan. Dengan demikian, daya beli
masyarakat juga merupakan hal yang sangat vital dalam mendongkrak kinerja

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

1.2

pembangunan manusia melalui peningkatan responsibilitas masyarakat terhadap fasilitasfasilitas yang tersedia.
Upaya-upaya yang mutlak harus dilakukan untuk meningkatkan daya beli masyarakat
adalah meningkatkan kinerja perekonomian wilayah dengan mengarahkan kebijakankebijakan pada pemberdayaan sumber daya domestik, sehingga hasil-hasil pembangunan,
khususnya di bidang ekonomi terasa di seluruh lapisan masyarakat. Dengan kata lain arah
pembangunan ekonomi dititik-beratkan pada pemerataan dengan pertumbuhan ekonomi
yang berkualitas (redistribution with growth). Dengan demikian, penentuan fokus dalam
mendukung

tujuan

utama

pembangunan,

penentuan

.id

pembangunan khususnya di bidang ekonomi menjadi hal yang sangat penting. Untuk
fokus

tersebut

haruslah

go

mempertimbangkan dua hal penting, yaitu pengembangan sektor-sektor yang banyak

bp

dalam mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi (LPE).

s.

digeluti oleh masyarakat untuk memperbaiki distribusi pendapatan dan efektifitasnya


Produksi barang/jasa di suatu wilayah merupakan respon dari adanya permintaan

b.

akan barang/jasa tersebut diwilayah bersangkutan. Secara makro, pemintaan barang/jasa

ik
a

merupakan gambaran dari berbagai kebutuhan, antara lain kebutuhan input pada proses
produksi barang/jasa lainnya, kebutuhan konsumsi rumahtangga, konsumsi pemerintah,

ob

investasi serta kebutuhan yang berasal dari wilayah lainnya (ekspor). Dalam suatu sistem

at

perekonomian terbuka, pemenuhan permintaan barang/jasa tersebut tidak selalu disuplai

ak

dari produk domestik, namun produk dari luar wilayah (impor) juga ikut memberikan
kontribusi. Dengan demikian, struktur permintaan (demand) dapat merefleksikan sumber-

sumber pertumbuhan ekonomi di suatu wilayah. Tentunya, untuk efektifitas jalannya

://

pembangunan, perlakuan/intervensi yang dilakukan akan sangat berbeda untuk wilayah

tp

dengan sumber pertumbuhan berbeda. Dengan kata lain, akan jauh lebih efektif kebijakan

ht

peningkatan produksi (supply push) yang dilakukan melalui strategi tarikan permintaan
(demand pull). Kebijakan yang hanya memprioritaskan peningkatan produksi tanpa

mempertimbangkan sisi permintaan akan menyebabkan penurunan tingkat harga,


khususnya di tingkat produsen sehingga berdampak pada kelesuan dan akhirnya bermuara
pada melemahnya kembali kinerja yang telah dibangun.
Dari uraian di atas, maka untuk mencapai efektifitas program-program dalam
menstimulus LPE, tentunya tidak hanya dibutuhkan data tentang struktur produksi
barang/jasa per sektor ekonomi (digambarkan oleh data PDRB menurut lapangan usaha),

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

1.3

namun juga informasi tentang struktur penggunaan barang/jasa yang merefleksikan


struktur permintaan di suatu wilayah (digambarkan oleh data PDRB menurut penggunaan).
Pendekatan yang akan disajikan dalam publikasi ini adalah penghitungan PDRB menurut
penggunaan. Data agregat yang dapat diukur dalam penghitungan PDRB menurut
penggunaan adalah konsumsi akhir, pembentukan modal, perubahan inventori dan net
ekspor.

Konsumsi

akhir

menggambarkan

pendapatan

masyarakat/institusi

yang

dibelanjakan untuk mengkonsumsi produk domestik yang dihasilkan, pembentukan modal


merupakan bagian dari suatu proses investasi fisik secara keseluruhan, perubahan inventori

.id

menjelaskan tentang perubahan posisi barang inventori yang bermakna pertambahan atau

go

pengurangan, selanjutnya net ekspor adalah selisih antara angka ekspor dengan impor .

bp

s.

1.2. PENGENALAN SNNI 2010

Produk Domestik Bruto merupakan ukuran kinerja suatu perekonomian selama

b.

kurun waktu tertentu, yang dihitung berdasarkan buku panduan System of National

ik
a

Accounts (SNA) yang berlaku secara internasional. SNA menyajikan aturan dan prinsip
akuntansi secara umum, yang wajib digunakan oleh semua negara dalam menyusun

ob

statistik neraca nasional. Namun di dalam implementasinya, ada beberapa ketentuan

at

yang disesuaikan dengan ketersediaan data dan sistem perstatistikan yang berlaku di

ak

masing-masing negara. Indonesia, secara bertahap telah melakukan penyesuaian yang


dimaksud. SNA yang telah disesuaikan dengan kondisi Indonesia disebut sebagai

Sistem Neraca Nasional Indonesia (SNNI).

://

Selama ini, penghitungan PDB didasarkan pada SNNI versi lama1, yaitu SNNI

tp

yang didasarkan pada SNA 1968 dan SNA 1993. Sejalan dengan program perubahan

ht

tahun dasar PDB (dari tahun 2000 menjadi 2010) dan program implementasi SNA
2008, penghitungan PDB menggunakan SNNI versi baru2. Beberapa penyesuaian yang
dilakukan BPS atas SNA 2008, tertuang di dalam sistem baru ini. Penyesuaian tersebut
bersifat menyeluruh, mencakup penyesuaian dalam hal : konsep, definisi, cakupan,
dan klasifikasi; metode penghitungan; dan sumber data yang digunakan. SNNI versi
baru itu disebut sebagai SNNI 2010.
Produk Domestik Bruto (PDB) merupakan ukuran kinerja untuk perekonomian di
tingkat nasional. Sedangkan untuk tingkat daerah baik Provinsi, Kabupaten dan Kota

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

1.4

ukuran kinerja perekonomian ini disebut sebagai Produk Domestik Regional Bruto
(PDRB). Dengan menggunakan pedoman penyusunan yang sama (SNNI 2010),
diharapkan hasil penghitungan PDB dan PDRB akan konsisten.
Pada dasarnya, seluruh transaksi yang dilakukan oleh pelaku ekonomi (unit
rumahtangga, lembaga non-profit, pemerintah, perusahaan, dan luar negeri) harus
dicatat secara konsisten dan sistematis, dengan menggunakan standar aturan dan
akuntansi yang berlaku secara umum. Khusus untuk penghitungan PDB/PDRB, aturan
dan akuntansi yang perlu diperhatikan adalah bahwa :
Total suplai (produk domestik/impor) dan penggunaan (domestik/ekspor) harus sama

.id

a.

untuk setiap komoditas atau produk

Total output suatu industri harus sama dengan total input (input antara plus

go

b.

Total penerimaan yang tercipta dalam suatu perekonomian domestik harus sama

bp

c.

s.

input faktor)

b.

dengan input faktor yang digunakan dalam aktivitas produksi.

ik
a

Ketiga aturan akuntansi tersebut merupakan dasar dalam penghitungan PDB,


baik yang dilakukan melalui pendekatan produksi (production approach), pendekatan

ob

pengeluaran (expenditure approach), maupun pendapatan (income approach). Dari sisi

at

yang lain, PDB menggambarkan seluruh output perekonomian suatu negara/wilayah

ak

selama kurun waktu tertentu. PDB diukur berdasarkan nilai pasar dari barang dan jasa
yang diproduksi di dalam batas-batas negara atau wilayah pada kurun waktu satu tahun

atau satu triwulan.

://

Data PDB dalam konteks di atas, akan berkorelasi positif dengan standar hidup suatu
sehingga

tp

masyarakat,

sering

digunakan

untuk

mengukur

tingkat

kesejahteraan

ht

masyarakat. Sunguhpun demikian, PDB merupakan ukuran kinerja atau aktivitas


ekonomi, sehingga bukan ukuran yang tepat untuk menggambarkan standar hidup
atau kesejahteraan masyarakat. PDB sebagai ukuran standar hidup banyak dikritisi
oleh berbagai pihak. Untuk itu banyak negara melakukan langkah-langkah alternatif
untuk meningkatkan kualitas data PDB, agar lebih akomodatif terhadap pengukuran
standar hidup dan kesejahteraan masyarakat.
Series PDB/PDRB yang panjang dan konsisten, juga merupakan data yang
dibutuhkan oleh para pengguna data, khususnya para peneliti, statistisi, maupun para

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

1.5

perencana pembangunan. Untuk itu upaya mengkonsistenkan data PDB dengan tahun
dasar yang berbeda, maupun data PDB dengan tiga pendekatan yang berbeda, perlu
dilakukan. Proses konsistensi dan realibilitas series data PDB/PDRB tersebut dilakukan
melalui proses benchmarking dan rebasing. Agar tetap terjaga konsistensinya, proses ini
akan dilakukan oleh BPS secara berkesinambungan.
Proses benchmarking dan rebasing data PDB/PDRB di Indonesia termasuk salah satu
perubahan yang diadopsi di dalam sistem penghitungan yang baru (SNNI 2010). Selama ini
data PDB/PDRB didiseminasi dengan menggunakan tahun dasar dan pendekatan yang

.id

berbeda, sehingga perlu terus diselaraskan dengan menggunakan tahun dasar yang
sama (tahun dasar 20105) di dalam suatu kerangka kerja yang baru (kerangka kerja

s.

go

SNNI 2010).

bp

1.3. MAKSUD DAN TUJUAN

b.

Salah satu indikator makro yang kerap digunakan untuk mengukur kinerja

ik
a

pembangunan ekonomi suatu wilayah adalah data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
Dalam penghitungannya PDRB, ada tiga macam pendekatan yang digunakan yaitu

ob

pendekatan produksi, penggunaan dan pendapatan. PDRB menurut pendekatan produksi

at

mengukur tingkat produktivitas suatu wilayah, sedangkan PDRB menurut penggunaan

ak

mengukur bagian produk regional yang digunakan untuk keperluan konsumsi akhir,
pembentukan modal dan ekspor. Selanjutnya, PDRB menurut pendapatan mengukur balas

jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang dimiliki atau dikuasai oleh penduduk

://

suatu wilayah dalam jangka waktu tertentu.

tp

Indikator-indikator yang dapat diturunkan dari data PDRB yang sering digunakan

ht

untuk menganalisis perekonomian dalam menentukan arah kebijakan serta mengevaluasi


hasil pembangunan antara lain laju pertumbuhan ekonomi, struktur perekonomian,
pendapatan perkapita dan indikator ekonomi lainnya. Di sisi lain, berdasarkan uraian
sebelumnya, maka indikator ekonomi perlu juga dianalisis dari sisi permintaan (demand).
Data yang diperlukan untuk mendapatkan gambaran indikator ekonomi dari sisi demand
tersebut adalah PDRB yang dihitung menurut penggunaan.
Secara garis besar, maksud dan tujuan penulisan publikasi ini adalah meningkatkan
ketersediaan data indikator makro ekonomi dari sisi permintaan.

Ketersediaan data

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

1.6

tersebut adalah usaha untuk mendukung pencapaian visi dan misi pemerintah Kabupaten
Wakatobi yang sangat membutuhkan gambaran tentang ukuran kinerja pembangunan dan
penetapan strategi-strategi yang akan dilakukan sesuai dengan target-target yang telah
ditetapkan. Data PDRB Penggunaan Kabupaten Wakatobi merupakan potret kinerja
pembangunan ekonomi makro di Wakatobi yang dilihat dari sisi permintaan yang terdiri
dari komponen Konsumsi, Investasi dan Ekspor-Impor. Selain itu, PDRB menurut
penggunaan juga dapat digunakan untuk melihat sumber-sumber pertumbuhan di wilayah
Kabupaten Wakatobi yang diharapkan menjadi pijakan kuat untuk alat perencanaan bagi

.id

Pemerintah Daerah serta sebagai bahan kajian yang bermanfaat bagi masyarakat pengguna

ht

tp

://

ak

at

ob

ik
a

b.

bp

s.

go

data pada umumnya.

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

1.7

.id
go
s.
bp
b.
ik
a

METODOLOGI

ht

tp

://

ak

at

ob

BAB II

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

2.1

BAB II
METODOLOGI
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut penggunaan diperoleh dengan
menghitung nilai barang dan jasa yang dipergunakan oleh berbagai golongan masyarakat
untuk konsumsi rumah tangga, konsumsi lembaga swasta yang tidak mencari untung,
konsumsi pemerintah, pembentukan barang modal tetap, perubahan stok dan untuk
ekspor. Karena barang dan jasa yang dipergunakan ada yang berasal dari impor maka faktor

.id

ini harus dikeluarkan. Penghitungan PDRB menurut penggunaan dilakukan secara langsung
pada komponen-komponen yang tercakup. Karena ada kesulitan dalam hal kelengkapan

go

data, ada komponen yang dihitung sebagai sisa (residual) dari hasil penghitungan

s.

berdasarkan sektoral. Dari komponen yang tercakup dalam penghitungan PDRB menurut

bp

penggunaan seperti telah diuraikan di atas, dapat dinotasikan kedalam identitas/


persamaan sebagai berikut :

b.

Y C I f I n E M .(1)

ik
a

dimana :

= Produk Domestik Regional Bruto

= Konsumsi rumah tangga, pemerintah dan lembaga nirlaba

If

= Pembentukan modal tetap bruto

In

= Perubahan inventori

= Ekspor

= Impor

ak

at

ob

tp

://

E M = Ekspor neto

ht

Karena PDRB hanya mencakup produk domestik (pendapatan yang ditimbulkan oleh

daerah sendiri) maka persamaan tersebut dapat diteruskan menjadi :

Y C ( I f I n ) ( E M ) (2)
Atau Y C I ( E M ) (3)
untuk I I

In

Berdasarkan pada persamaan terakhir, PDRB menurut penggunaan digolongkan


menjadi tiga komponen besar yaitu :

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

2.2

a)

Untuk konsumsi mencakup


-

Konsumsi rumah tangga;

Konsumsi lembaga swasta yang tidak mencari untung;

Konsumsi pemerintah serta pertahanan dan keamanan.

b) Untuk pembentukan modal meliputi


Pembentukan modal tetap bruto;

Perubahan stok barang jadi, setengah jadi dan bahan mentah.

Untuk penggunaan di luar wilayah regional


-

Ekspor ke luar negeri dan ke luar wilayah dikurangi dengan penggunaan produk

.id

c)

PENGELUARAN KONSUMSI RUMAH TANGGA

bp

s.

2.1.

go

dari luar wilayah yaitu impor dari luar negeri dan luar wilayah.

Unit institusi dalam suatu perekonomian dikelompokkan ke dalam lima sektor yaitu,

b.

korporasi finansial, korporasi non finansial, pemerintahan umum, rumahtangga dan LNPRT.

ik
a

Sektor rumahtangga mempunyai peranan yang cukup besar dalam perekonomian. Hal ini
dibuktikan dengan besarnya sumbangan nilai konsumsi rumahtangga dalam pembentukan

ob

PDB penggunaan. Disamping berperan sebagai konsumen akhir banrang dan jasa, rumah

at

tangga juga berperan produsen dan penyedia faktor produksi untuk aktivitas produksi yang

ak

dilakukan oleh sektor institusi lain.

2.1.1 Konsep dan definisi

://

Pengeluaran konsumsi rumah tangga (PKRT) merupakan pengeluaran atas barang

tp

dan jasa oleh rumah tangga untuk tujuan konsumsi akhir. Dalam hal ini rumah tangga

ht

berfungsi sebagai pengguna akhir (final demand) dari berbagai jenis barang dan jasa yang
tersedia dalam perekonomian. Rumah tangga didefinisikan sebagai individu atau kelompok
individu yang tinggal bersama dalam suatu bangunan tempat tinggal. Mereka
mengumpulkan pendapatan, memiliki harta dan kewajiban, serta mengkonsumsi barang
dan jasa secara bersama-sama utamanya kelompok makanan dan perumahan.

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

2.3

2.1.2.

Cakupan
PKRT mencakup seluruh pengeluaran barang dan jasa oleh penduduk suatu wilayah,

baik dilakukan di dalam maupun di luar wilayah domestik penduduk yang bersangkutan.
Barang dan jasa yang dikonsumsi antara lain dalam bentuk:
a.

makanan dan minuman, baik bahan makanan maupun makanan jadi termasuk
minuman beralkohol, rokok, dan tembakau;

b.

perumahan dan fasilitasnya, seperti biaya sewa atau kontrak rumah, bahan bakar,
imputasi sewa rumah milik sendiri (owner occupied dwellings);

.id

rekening telepon, listrik, air, biaya pemeliharaan dan perbaikan rumah, termasuk
bahan pakaian, pakaian jadi, alas kaki, dan penutup kepala;

d.

barang tahan lama, seperti mobil, meubeler, perabot dapur, TV, perhiasan, alat olah

go

c.

barang lain, seperti bahan kebersihan (sabun mandi, sampo, dsj.), bahan kecantikan

bp

e.

s.

raga, binatang peliharaan, dan tanaman hias;

(kosmetik, bedak, lipstik, dsj.), obat-obatan, vitamin, buku, alat tulis, surat kabar;
jasa-jasa, seperti jasa kesehatan (biaya rumah sakit, dokter, imunisasi, dsj.), jasa

b.

f.

ik
a

pendidikan (biaya sekolah, kursus, dsj.), ongkos transport, perbaikan kendaraan, biaya
hotel, tiket tempat rekreasi, ongkos pembantu rumah tangga;
barang yang diproduksi dan digunakan sendiri;

h.

pemberian/hadiah dalam bentuk barang yang diterima dari pihak lain;

i.

barang dan jasa yang dibeli secara langsung (direct purchase) oleh penduduk di luar

ak

at

ob

g.

wilayah atau di luar negeri termasuk sebagai konsumsi rumah tangga dan

diperlakukan sebagai transaksi impor; sedangkan pembelian langsung oleh bukan

://

penduduk di suatu wilayah diperlakukan sebagai ekspor dari wilayah yang

ht

tp

bersangkutan.

Pembelian barang yang tidak ada duplikatnya (tidak diproduksi kembali), seperti

barang antik, lukisan, dan hasil karya seni lain diperlakukan sebagai investasi barang
berharga, bukan konsumsi rumah tangga.
Nilai perkiraan sewa rumah milik sendiri karena rumah tangga pemilik dianggap
menghasilkan jasa sewa rumah bagi dirinya sendiri. Imputasi sewa rumah diperkirakan atas
dasar harga pasar meskipun status rumah tersebut milik sendiri. Apabila rumah tangga

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

2.4

benar-benar menyewa, maka yang diperhitungkan adalah ongkos sewa yang dibayar, baik
dibayar penuh maupun tidak karena mendapat keringanan biaya (subsidi atau transfer).
Pengeluaran rumah tangga atas barang dan jasa untuk keperluan biaya antara dan
pembentukan modal di dalam aktivitas usaha rumah tangga tidak termasuk pengeluaran
konsumsi rumah tangga. Contoh pengeluaran yang dimaksud antara lain adalah pembelian
barang dan jasa untuk keperluan usaha, perbaikan besar rumah, dan pembelian rumah.
Demikian halnya pengeluaran rumah tangga untuk keperluan transfer dalam bentuk uang
atau barang, tidak termasuk sebagai pengeluaran konsumsi rumah tangga.

.id

Berbagai jenis barang dan jasa yang dikonsumsi oleh institusi rumah tangga dapat
diklasifikasikan ke dalam 12 (dua belas) kelompok COICOP (Classifications of Individual

go

Consumption by Purpose); yaitu:


Makanan dan minuman tidak beralkohol

b.

Minuman beralkohol, tembakau dan narkotik

c.

Pakaian dan alat kaki

d.

Perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar lainnya

e.

Furniture, perlengkapan rumahtangga dan pemeliharaan rutin

f.

Kesehatan

g.

Angkutan

h.

Komunikasi

i.

Rekreasi/hiburan dan kebudayaan

j.

Pendidikan

k.

Penyediaan makan minum dan penginapan/hotel

l.

Barang dan jasa lainnya

tp

://

ak

at

ob

ik
a

b.

bp

s.

a.

Sumber data

ht

2.1.3.

Sumber data yang digunakan untuk mengestimasi besarnya PKRT adalah :

a.

Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas; BPS), dalam bentuk pengeluaran konsumsi
per kapita seminggu (sebulan) untuk kelompok makanan, dan pengeluaran per kapita
sebulan untuk kelompok bukan makanan,

b.

Banyaknya penduduk tahunan,

c.

Data Sekunder (baik dari BPS maupun luar BPS), dalam bentuk data atau indikator
suplai komoditas dan jenis pengeluaran tertentu.

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

2.5

d.

Indeks Harga Konsumen (IHK). Indikator perubahan harga yang digunakan dalam
penghitungan PDRB Wakatobi meminjam IHK Kota Kendari atau Kota Baubau

2.1.4 Metode Penghitungan


Selama ini, penghitungan PKRT didasarkan pada hasil Susenas. Akan tetapi, karena
hasil estimasi data pengeluaran rumah tangga yang berasal dari Susenas cenderung
underestimate

(terutama untuk kelompok bukan makanan dan kelompok makanan

jadi), maka perlu dilakukan penyesuaian (adjustment). Dalam melakukan adjustment,

.id

digunakan data sekunder dalam bentuk data atau indikator suplay dari berbagai sumber
data di luar Susenas. Setelah diperoleh hasil adjustment, maka yang dilakukan

adalah

(me-replace) hasil Susenas dengan hasil penghitungan yang didasarkan

pada data

sekunder.

dilakukan pada level komoditas, kelompok

s.

Replacement

atau jenis pengeluaran tertentu. Asumsinya, bahwa hasil penghitungan dari

bp

komoditas,

go

mengganti

data sekunder lebih mencerminkan PKRT yang sebenarnya.


penghitungan

di atas menghasilkan

b.

Langkah

besarnya PKRT adh berlaku.

ik
a

Untuk memperoleh PKRT adh konstan 2010, maka PKRT adh berlaku terlebih dahulu
dikelompokan menjadi 12 kategori COICOP. PKRT adh Konstan diperoleh dengan

at

ob

cara deflate PKRT adh Berlaku dengan IHK 12 katagori COICOP

ak

2.2. PENGELUARAN KONSUMSI LEMBAGA NONPROFIT YANG MELAYANI RUMAH

TANGGA (LNPRT)

://

Lembaga Non Profit yang melayani Rumahtangga (LNPRT) adalah pelengkap seluruh

tp

sektor institusi yang memberikan gambaran dari seluruh proses ekonomi dan peran yang

ht

dilakukan oleh beberapa sektor dalam ekonomi. Sektor institusi dalam total ekonomi
dikelompokkan ke dalam lima sektor yaitu, korporasi finansial, korporasi non finansial,
pemerintahan umum, rumahtangga dan LNPRT. LNPRT menyediakan barang dan jasa
kepada anggotanya dan rumahtangga secara gratis atau pada tingkat harga yang tidak
berarti secara ekonomi.

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

2.6

2.2.1.

Konsep dan definisi


LNPRT merupakan bagian dari Lembaga NonProfit (LNP). Sesuai dengan fungsinya

ada LNP yang melayani rumah tangga, dan ada juga yang melayani bukan rumah tangga.
Sedangkan yang dimaksud LNPRT adalah LNP yang khusus melayani rumah tangga.
Klasifikasi unit LNP menurut sektor kelembagaan terlihat dari Tabel 3.1 di bawah.
Karakteristik unut LNP adalah :
a.

LNP umumnya adalah lembaga formal, tetapi terkadang merupakan lembaga informal
yang keberadaannya diakui oleh masyarakat
Pengawasan terhadap jalannya organisasi dilakukan oleh anggota terpilih yang punya

.id

b.

hak sama, termasuk hak bicara atas keputusan lembaga

Setiap anggota mempunyai tanggungjawab tertentu dalam organisasidan tidak berhak

go

c.

s.

menguasai profit atau surplus karena profit yang diterima dari kegiatan usaha
d.

bp

produktif dikuasai oleh lembaga

Kebijaksanaan lembaga diputuskan secara kolektif oleh anggota terpilih, dan kelompok
Istilah nonprofit tidak berarti bahwa lembaga ini tidak dapat menciptakan surplus

ik
a

e.

b.

ini berfungsu sebagai pelaksana dari dewan pengurus

melalui kegiatan produktifnya, namun surplus yang diperoleh biasanya diinvestasikan

at

ob

kembali pada aktivitas sejenis

Jenis LNP

ak

Tabel 2.1. Klasifikasi Jenis LNP Menurut Sektor Kelembagaan


Sektor
Kelembagaan
Korporasi

4. LNP yang menyediakan jasa ke rumahtangga secara gratis atau


dengan harga yang tak-berarti secara ekonomi

LNPRT

ht

tp

://

1. LNP yang menyediakan jasa ke korporasi (biasanya beranggotakan


perusahaan)
2. LNP yang dikontrol pemerintah dan menyediakan jasa (individu atau
kolektif) berbasis non-pasar
3. LNP yang menyediakan barang dan jasa ke rumahtangga dengan
harga yang signifikan secara ekonomi

5. 5. LNP yang menyediakan jasa kolektif secara gratis atau dengan harga
yang tidak berarti secara ekonom

Pemerintahan
Korporasi

LNPRT

LNPRT diperlakukan sebagai sektor institusi (pelaku ekonomi) tersendiri di luar


institusi rumah tangga, pemerintah, korporasi, dan luar negeri atau luar wilayah. Dari

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

2.7

penggolongan di atas dapat dilihat bahwa kegiatan lembaga nonprofit dibagi dalam 2 (dua)
kelompok, yaitu Lembaga nonprofit yang menghasilkan jasa komersial dan lembaga
nonprofit yang menghasilkan jasa non-komersial.
Lembaga Nonprofit yang Menghasilkan Jasa Komersial
LNP pada kelompok ini adalah lembaga yang menjual jasa pada tingkat harga pasar
(komersial), yaitu harga yang ditentukan atas dasar biaya produksi. Jasa yang dihasilkan
oleh lembaga semacam ini secara keseluruhan berpengaruh terhadap persediaan (supply)
a.

.id

jenis jasa yang bersangkutan. Menurut bentuknya LNP ini dibedakan atas:

LNP yang menyediakan jasa bagi masyarakat umum seperti lembaga penyelenggara

go

pendidikan, kesehatan, dan sejenisnya.

s.

b. LNP yang menyediakan jasa bagi kalangan dunia usaha seperti serikat pekerja, asosiasi

bp

bisnis, kamar dagang, dan sejenisnya.

b.

Lembaga Nonprofit yang Menghasilkan Jasa Non-Komersial

ik
a

LNP pada kelompok ini adalah lembaga yang menjual jasa pada tingkat harga
dibawah harga pasar (non-komersial), yaitu harga yang tidak didasarkan pada biaya

ob

produksi atau bahkan jasa diberikan secara cuma-cuma. Menurut bentuknya LNP ini
LNP yang kegiatannya sebagian besar dibiayai pemerintah, baik yang keberadaannya

ak

a.

at

dibedakan atas:

terikat (pada pemerintah) maupun tidak, seperti Palang Merah Indonesia (PMI),

Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas HAM), Dharma Wanita, Korps Pegawai
LNP yang dibentuk dan dibiayai oleh anggota masyarakat. Lembaga semacam ini

tp

b.

://

Republik Indonesia (KORPRI), dll.

ht

disebut sebagai lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT).

Lembaga nonprofit yang termasuk sebagai LNPRT dibedakan atas:


a.

LNP yang menyediakan jasa khususnya untuk anggota, seperti organisasi


kemasyarakatan, organisasi profesi, perkumpulan sosial/kebudayaan/ olahraga/hobi,
lembaga keagamaan, dan sejenisnya.

b.

LNP yang menyediakan jasa bagi kelompok masyarakat yang membutuhkan, seperti
LSM, organisasi sosial, organisasi bantuan kemanusiaan/beasiswa, dan sejenisnya.

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

2.8

Dengan demikian yang dimaksud LNPRT adalah lembaga nonprofit yang


menghasilkan jasa sosial kemasyarakatan non-komersial dengan dana dari masyarakat atau
iuran anggota. Produknya dijual pada tingkat di bawah harga pasar atau bahkan diberikan
secara cuma-cuma pada masyarakat atau anggota lembaga.
Dengan demikian lembaga nonprofit sebagai induk dari LNPRT adalah lembaga yang
keberadaannya bersifat formal ataupun informal yang dibentuk oleh perorangan, kelompok
masyarakat, pemerintah atau dunia usaha dalam rangka menyediakan jasa sosial
kemasyarakatan bagi anggota maupun kelompok masyarakat tertentu tanpa adanya

.id

motivasi untuk memperoleh keuntungan. Tujuan pembentukannya tidak dimaksudkan

Cakupan

s.

2.2.2.

go

sebagai sumber pendapatan ataupun profit bagi unit yang mengontrol dan membiayainya.

bp

Lingkup LNP yang menjadi fokus pembahasan di sini adalah lembaga nonprofit yang
melayani rumah tangga (LNPRT), yang dibagi menjadi 7 (tujuh) bentuk organisasi yaitu:

b.

organisasi kemasyarakatan (Ormas), organisasi sosial (Orsos), organisasi profesi (Orprof),

ik
a

perkumpulan sosial/kebudayaan/olah raga/hobi, lembaga swadaya masyarakat (LSM),


lembaga keagamaan, organisasi bantuan kemanusiaan/beasiswa.
Organisasi Kemasyarakatan (Ormas)

ob

a.

at

Organisasi yang dibentuk oleh anggota masyarakat secara sukarela atas dasar

ak

kesamaan fungsi, dan terdiri dari:

ormas keagamaan, seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, ICMI,

ormas kepemudaan, seperti KNPI, HMI, Pemuda Pancasila,

://

ormas wanita, seperti Fatayat, Kalyana Mitra Wanita, dan

tp

ormas lainnya seperti Kosgoro, Partai Politik, dan Pepabri.


Organisasi Sosial (Orsos)

ht

b.

Organisasi atau perkumpulan sosial yang dibentuk oleh anggota masyarakat baik
berbadan hukum maupun tidak, sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam usaha
kesejahteraan sosial, dan terdiri dari panti asuhan, panti wreda, panti lainnya, seperti
yayasan pendidikan anak cacat (YPAC), panti tuna netra, dan sejenisnya.

c.

Organisasi Profesi (Orprof)

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

2.9

Organisasi yang dibentuk oleh anggota masyarakat dari disiplin ilmu yang sama atau
sejenis, sebagai sarana meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta sebagai
wahana pengabdian masyarakat, dan terdiri dari:

Organisasi profesi dalam bidang Ilmu Sosial, seperti: ISEI, Ikatan Akuntan
Indonesia, dan sejenisnya.

Organisasi profesi dalam bidang Ilmu Pasti, seperti PII, IDI, dan sejenisnya.

d. Perkumpulan Sosial/Kebudayaan/Olahraga/Hobi
Organisasi yang dibentuk oleh anggota masyarakat yang berminat mengembangkan

.id

kemampuan/apresiasi budaya, olahraga, hobi, kegiatan yang bersifat sosial, dan terdiri
dari:

Perkumpulan sosial seperti Perkumpulan Rotari Indonesia, WIC;

Organisasi Kebudayaan seperti Padepokan Seni dan Budaya, Himpunan

s.

go

bp

Penghayat Kepercayaan;

Organisasi Olahraga seperti PSSI, PBSI, Ikatan Motor Indonesia; dan

Organisasi Hobi seperti Ikatan Penggemar Anggrek, ORARI, dan Wanadri.

ik
a

e. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)

b.

Lembaga yang dibentuk oleh anggota masyarakat sebagai wujud kesadaran dan

ob

partisipasinya dalam meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat atas

at

dasar kemandirian atau swadaya, dan terdiri dari:


LSM Penyebar Informasi seperti PKBI, YLKI, Walhi;

LSM Pendidikan dan Pelatihan seperti LP3ES, Yayasan Bina Swadaya;

LSM Konsultasi dan Advokasi seperti YLBHI;

LSM Penelitian dan Studi Kebijakan seperti Lembaga Studi Pembangunan (LSP),

://

ak

tp

Lembaga Pengkajian Strategis Indonesia (LPSI);

ht

f. Lembaga Keagamaan
Lembaga yang dibentuk oleh anggota masyarakat dengan tujuan membina,

mengembangkan, mensyiarkan agama, dan terdiri dari:

Organisasi Islam, seperti Lembaga Dakwah, Remaja Masjid, Majelis Taklim;

Organisasi Kristen/Protestan, seperti PGI, KWI, HKBP;

Organisasi Hindu/Budha seperti Walubi, Parisadha Hindu Dharma;

Perkumpulan Jamaah Masjid;

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

2.10

Perkumpulan Jemaat Gereja/tempat ibadah lain;

Pondok pesantren tradisional, seminari, dan sejenisnya.

g. Organisasi Bantuan Kemanusiaan/Beasiswa


Organisasi yang dibentuk oleh masyarakat dengan tujuan memberikan bantuan
kepada korban bencana atau penerima beasiswa atas dasar kemanusiaan, cinta
sesama, solidaritas, dan terdiri dari:

Lembaga Bantuan Kemanusiaan, seperti Yayasan Kesejahteraan Gotong Royong,


Yayasan Kanker Indonesia, Yayasan Jantung Sehat;
Lembaga Bantuan Pendidikan seperti GNOTA, Yayasan Supersemar;

Lembaga Bantuan Lainnya

go

Sumber Data

s.

2.2.3.

.id

bp

Sumber data untuk menghitung PKLNPRT tahunan adhb terdiri dari:

Rata-rata pengeluaran menurut jenis lembaga dan jenis input pengeluaran.

b.

Data ini berasal dari Survei Khusus Lembaga Non-profit dengan sampling unit LNPRT

ik
a

dan lag survey satu tahun. Survei ini dilaksanakan setiap tahun di beberapa propinsi,
untuk propinsi yang terkena sampel dapat menggunakan data tersebut dalam

ob

penghitungan. Sedangkan untuk propinsi yang tidak terkena sampel, maka dapat

at

digunakan hasil SKLNP propinsi lain yang karakteristik LNPRT- nya mirip.

ak

Populasi LNPRT menurut jenis lembaga.


Populasi LNPRT menurut jenis lembaga dapat diperoleh dari Badan Kesbang setempat,

Dinas Pemuda dan Olahraga, Departemen agama dan kantor lain yang mempunyai

://

informasi mengenai jumlah organisasi di wilayahnya. Untuk propinsi yang terkena

ht

tp

sampel SKLNP dapat menggunakan data hasil up-dating direktori LNPRT.

2.2.4.

Metode Penghitungan

Dengan
produktif,
yang

primer

maka

dikeluarkan

masyarakat,
produksi

asumsi bahwa
nilai

lembaga ini tidak

PK-LNPRT

dalam

sama

rangka

melakukan kegiatan

dengan

output

melakukan

aktivitas

anggota organisasi, atau kelompok


LNPRT

sama

dengan

(kompensasi pegawai,

nilai konsumsi

penyusutan,

dan

atau

biaya
pelayanan

masyarakat
(antara)

pajak

atas

ekonomis
produksi
pada

tertentu. Biaya
ditambah

produksi

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

biaya
lainnya).

2.11

Biaya produksi

adalah

biaya yang

dikeluarkan lembaga

atas penggunaan barang

dan jasa (antara) dan faktor produksi, ditambah nilai barang dan jasa yang berasal dari
produksi sendiri atau pemberian pihak lain (transfer). Jika menggunakan input yang
diperoleh secara cuma-cuma, nilainya diperkirakan sesuai harga pasar yang berlaku.
PK-LNPRT diestimasi

dengan

menggunakan

metode

langsung,

dengan

menggunakan hasil survei khusus lembaga non-profit (SKLNP). Tahapan estimasi PK-LNPRT
adalah sbb :
Menghitung rata-rata pengeluaran menurut jenis lembaga dan input. Ratarata pengeluaran diperoleh
tahun. Sampel tidak

dari hasil SKLNP

meliputi seluruh provinsi,

yang

dilaksanakan

.id

a.

sehingga

setiap

untuk provinsi

go

yang tidak terpilih sampel, dapat menggunakan hasil SKLNP provinsi lain yang

s.

karakterisnya mirip. Angka rata-rata kabupaten dianggap sama dengan angka


b.

bp

provinsinya.

Estimasi PK-LNPRT, setelah nilai rata-rata pengeluaran menurut jenis lembaga,

ik
a

b.

kemudian dikalikan dengan populasi masing-masing jenis lembaga

ob

2.3. PENGELUARAN KONSUMSI PEMERINTAH

at

Dalam perekonomian suatu negara, pemerintah mempunyai peran ekonomi yang

ak

sangat penting yakni sebagai konsumen, produsen dan juga pengatur perekonomian
melalui kebijakan-kebijakan dalam bidang tertentu. Dalam System of National Accounts

(SNA) 1993 disebutkan bahwa pemerintah merupakan unit institusi yang terbentuk melalui

://

proses politik serta mempunyai lembaga legislatif, yudikatif dan eksekutif untuk mengatur

tp

suatu wilayah. Adapun fungsi pemerintah yakni bertanggungjawab atas penyediaan barang

ht

dan jasa kepada sekelompok atau individu rumah tangga, mengelola penarikan pajak atau
pendapatan lainnya, me-redistribusi pendapatan dan kesejahteraan melalui transfer serta
terlibat dalam produksi non-pasar.
Di Indonesia, Pemerintah dibagi menjadi pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Pemerintah pusat menjalankan segala aktivitasnya dengan mengacu pada Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sedangkan Pemerintah Daerah baik Pemerintah
Kabupaten/Kota maupun Pemerintah Provinsi menjalankan segala aktivitasnya dengan
mengacu pada

Anggaran

Pendapatan dan Belanja Pemerintah Daerah (APBD)

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

2.12

Kabupaten/Kota atau Provinsi. Dalam APBN/APBD tersebut dijabarkan pendapatan dan


belanja pemerintah serta transfer dari pemerintah ke rumah tangga dan perusahaan dalam
bentuk transfer sosial dan subsidi.
Mengingat peran pemerintah yang besar dalam perekonomian, maka segala aktivitas
ekonomi pemerintah perlu dicatat dan dianalisis lebih lanjut, terutama untuk pengeluaran
konsumsi pemerintah. Pengeluaran konsumsi pemerintah merupakan salah satu komponen
penyususun indikator kemajuan perekonomian suatu Negara/Daerah yakni Produk

2.3.1.

.id

Domestik Bruto (PDB)/Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut penggunaan.


Konsep Dan Definisi

go

Pemerintah dapat berlaku sebagai produsen dan konsumen. Sebagai konsumen,

s.

pemerintah melakukan kegiatan konsumsi barang/jasa dan dihitung konsumsi akhir.

bp

Sedangkan sebagai produsen, pemerintah melakukan kegiatan produksi barang dan jasa
dan dihitung nilai tambahnya. Pengeluaran konsumsi akhir pemerintah adalah nilai output

b.

akhir pemerintah yang terdiri dari pembelian barang dan jasa yang bersifat rutin,

ik
a

pembayaran upah dan gaji pegawai serta perkiraan penyusutan barang modal pemerintah,
dikurangi dengan nilai penjualan barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit yang

ob

kegiatannya tidak dapat dipisahkan dari kegiatan pemerintah. Definisi di atas sesuai dengan

at

SNA 1968 yang menyebutkan bahwa pengeluaran konsumsi akhir pemerintah equivalen

ak

dengan nilai barang dan jasa yang diproduksi oleh pemerintah untuk dikonsumsi sendiri
Aktivitas unit produksi pemerintah yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan
Kegiatan di instansi pemerintah memproduksi barang sejenis dengan barang yang

://

a.

pemerintah secara umum, mencakup aktivitas:

tp

dihasilkan oleh perusahaan swasta, dan tidak dapat dipisahkan dari kegiatan induknya.

ht

Contoh pencetakan publikasi, kartu pos dan reproduksi dari karya seni, pembibitan
tanaman dari kebun percobaan, serta lainnya. Penjualan barang-barang ini bersifat
insidentil dari fungsi pokok lembaga/departemen tersebut, hasil penjualannya disebut
komoditi yang dihasilkan.

b.

Kegiatan yang bersifat jasa seperti kegiatan rumah sakit, sekolah-sekolah, universitas
pemerintah, museum, perpustakaan, tempat-tempat rekreasi dan tempat-tempat
penyimpanan hasil karya seni, yang dibiayai dari uang pemerintah, dimana pemerintah
memungut pembayaran yang pada umumnya tidak mencapai besarnya biaya yang

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

2.13

dikeluarkan. Pendapatan yang diterima pemerintah dari hasil kegiatan seperti ini
disebut penerimaan non komoditi (pendapatan dari jasa yang diterima).
Pengeluaran konsumsi akhir pemerintah dapat diklasifikasikan menurut beberapa
cara, yaitu:
a.

Berdasarkan apakah barang atau jasa diproduksi oleh produsen pasar atau produsen
non pasar.

b.

Berdasarkan apakah pengeluaran tersebut merupakan pengeluaran kolektif atau

.id

individu.

Berdasarkan fungsi sesuai COFOG (Classification of the Functions of Government).

d.

Berdasarkan jenis barang dan jasa sesuai dengan CPC (Central Product Classification).

s.

go

c.

bp

Selain dihitung dari sisi penggunaan, aktivitas ekonomi pemerintah juga dapat
dihitung dari sisi produksi, sehingga akan dihasilkan PDB/PDRB menurut lapangan usaha.

b.

Dari sisi produksi, yang dihitung adalah nilai tambah bruto (NTB) sektor pemerintah. NTB

ik
a

sektor pemerintah dijabarkan sebagai penjumlahan dari seluruh balas jasa pegawai (belanja
pegawai) dan penyusutan .

ob

Konsep dan definisi yang berkaitan dengan penghitungan PDB/PDRB komponen


Neraca produksi pemerintah adalah suatu neraca/tabel yang memuat transaksi

ak

a.

at

pengeluaran konsumsi akhir pemerintah adalah sebagai berikut:


mengenai aktivitas produksi yang dilakukan pemerintah umum. Neraca produksi

pemerintah terbagi menjadi dua sisi yakni sisi sumber dan sisi penggunaan. Sisi

://

sumber menjelaskan output yang dihasilkan sektor pemerintah. Sedangkan di sisi

tp

penggunaan menjelaskan biaya antara yang digunakan pemerintah untuk menjalankan

ht

aktivitasnya. NTB merupakan item penyeimbang dalam neraca produksi pemerintah.

b.

Output pemerintah adalah output non pasar. Output non pasar adalah output dalam
bentuk barang maupun jasa yang dihasilkan oleh institusi yang tidak berorientasi pada
keuntungan seperti lembaga non profit yang melayani rumah tangga (LNPRT) dan
pemerintah dimana institusi tersebut menyediakan barang dan jasa kepada unit
institusi lain secara gratis atau dengan harga yang tidak signifikan. Output non pasar
dibagi menjadi output non pasar yang dikonsumsi sendiri dan output non pasar untuk
dijual. Output non pasar untuk dijual adalah penjualan barang dan jasa yang dihasilkan

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

2.14

pemerintah, yang disuplai secara gratis atau atas dasar harga yang secara ekonomi
tidak berarti kepada institusi lain atau masyarakat. Sedangkan output non pasar yang
dikonsumsi sendiri adalah output yang dihasilkan oleh pemerintah yang dipergunakan
sendiri oleh pemerintah (konsumsi pemerintah).
c.

Biaya antara adalah pemakaian barang yang tidak tahan lama serta jasa yang
digunakan sebagai input dalam menghasilkan output (SNA, 1993:176). Biaya antara
sektor pemerintah terdiri dari: (1) Belanja barang meliputi belanja barang, belanja
pemeliharaan, dan belanja perjalanan dinas; (2) Belanja bantuan sosial dan (3) Belanja

d.

.id

lain-lain.

NTB sektor pemerintah terdiri dari: Belanja pegawai, Surplus Usaha, Pajak Tak

s.

Cakupan

bp

2.3.2.

go

Langsung Neto, dan Penyusutan

Pengeluaran konsumsi akhir pemerintah daerah di Kabupaten/Kota mencakup

b.

pengeluaran konsumsi akhir pemerintah kabupaten/kota bersangkutan, pengeluaran

ik
a

konsumsi akhir pemerintah daerah provinsi yang merupakan bagian dari pemerintah
kab/kota, pengeluaran konsumsi akhir pemerintah pusat yang merupakan bagian dari

ob

pemerintah Kab/kota, serta pengeluaran konsumsi pemerintah desa/kelurahan/nagari yang

2.3.3.

ak

at

berwilayah di kab/kota tersebut.


Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penghitungan komponen pengeluaran konsumsi

://

akhir pemerintah daerah kabupaten/kota tahunan adalah Realisasi APBN Tahunan, Realisasi

tp

APBD Provinsi Tahunan, dan Realisasi APBD Kabupaten/Kota Tahunan yang dikeluarkan

ht

oleh Kementrian Keuangan. Data pendukung lainnya yakni data jumlah Pegawai Negeri Sipil
(PNS), upah gaji PNS serta Indeks Harga dari BPS.
2.4. PEMBENTUKAN MODAL TETAP BRUTO
Kegiatan investasi merupakan salah satu faktor utama dalam mempengaruhi
perkembangan ekonomi suatu wilayah melalui peningkatan kapasitas produksi. Di dalam

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

2.15

PDB/PDRB, investasi tercermin dalam bentuk investasi fisik yakni Pembentukan Modal
Tetap Bruto (PMTB) dan perubahan inventori.
PMTB erat hubungannya dengan keberadaan aset tetap (fixed asset) yang dimiliki
oleh suatu unit produksi. Secara garis besar aset tetap dapat diklasifikasikan menurut jenis
barang modal seperti: bangunan dan konstruksi, mesin, kendaraan, ternak, tumbuhan, dan
barang modal lainnya.
2.4.1.

Konsep dan definisi

.id

PMTB didefinisikan sebagai penambahan dan pengurangan aset tetap pada suatu
unit produksi. Penambahan barang modal meliputi pengadaan, pembuatan, pembelian

go

barang modal baru dari dalam negeri dan barang modal baru maupun bekas dari luar negeri

s.

(termasuk perbaikan besar, transfer atau barter barang modal). Pengurangan barang modal

bp

meliputi penjualan,transfer atau barter barang modal bekas kepada pihak lain.
PMTB menggambarkan penambahan dan pengurangan barang modal pada periode

b.

tertentu. Barang modal mempunyai usia pakai lebih dari satu tahun serta akan mengalami

ik
a

penyusutan. Istilah brutomengindikasikan bahwa di dalamnya masih mengandung unsur


penyusutan. Penyusutan atau konsumsi barang modal (Consumption of Fixed Capital)

ob

menggambarkan penurunan nilai barang modal yang digunakan pada proses produksi

at

secara normal selama satu periode. Secara umum barang modal diklasifikasikan menurut 4

ak

golongan, yaitu: menurut jenis barang, menurut lapangan usaha, menurut institusi, dan
menurut wilayah asal. Dalam penyusunan PDB/PDRB, PMTB dirinci menurut jenis barang

://
Cakupan

tp

2.4.2.

modal.

ht

Cakupan PMTB terdiri dari:

a.

Penambahan dikurangi pengurangan aset (harta) berwujud baik baru maupun bekas
seperti bangunan tempat tinggal, bangunan bukan tempat tinggal, bangunan lainnya,
mesin & peralatannya, aset yang dibudidayakan (cultivated asset), produk kekayaan
intelektual (intellectual property products), alat transportasi dan lainnya;

b.

Biaya pemindahan kepemilikan atas aset nonfinansial yang tidak diproduksi, seperti
tanah dan aset yang dipatenkan;

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

2.16

c.

Perbaikan besar aset yang bertujuan meningkatkan kapasitas produksi dan usia pakai
aset (antara lain reklamasi pantai, pembukaan hutan, pengeringan dan pengairan
hutan, dan pencegahan banjir dan erosi);

d.

Penambahan dapat terjadi karena pembelian, produksi, barter, transfer, sewa beli
(financial leasing), pertumbuhan aset yang dibudidayakan, dan perbaikan besar aset;

e.

Pengurangan dapat terjadi karena penjualan, barter, transfer atau sewa beli (financial
leasing). Pengecualian kehilangan yang disebabkan oleh bencana alam tidak dicatat

2.4.3.

.id

sebagai pengurangan.
Sumber data

go

Sumber data yang digunakan dalam penghitungan komponen PMTB adalah:


Output sektor bangunan dari PDRB Sektoral Kabupaten, BPS.

b.

Nilai impor menurut 2 digit HS yang merupakan komoditas barang modal dari KPPBC

bp

s.

a.

(Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai) setempat.


Laporan keuangan perusahaan-perusahaan di Kabupaten

d.

Indeks produksi Industri besar sedang (tersedia level provinsi)

e.

Publikasi Statistik Industri Besar dan Sedang (tersedia level provinsi)

f.

Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) dari Stat. Perdagangan Besar.

g.

Statistik Penggalian Dari Dinas Pertambangan

h.

Statistik Listrik & Air Minum dari PLN dan PDAM

i.

Statistik Konstruksi dari Survei konstruksi dan Dinas Pekerjaan Umum

j.

Statistik Perkebunan, hortikultura, dan peternakan dari Dinas Pertanian

k.

Hasil Survei Matriks PMTB, PMTB, SKTIR

tp

://

ak

at

ob

ik
a

b.

c.

Metode penghitungan

ht

2.4.4.

Estimasi nilai PMTB dapat dilakukan melalui metode langsung maupun tidak

langsung, dimana sangat tergantung pada ketersediaan data yang mungkin diperoleh di
wilayah masing-masing. Pendekatan langsung adalah dengan cara menghitung
pembentukan modal (harta tetap) yang dilakukan oleh berbagai sektor ekonomi
produksi (produsen) secara langsung. Sedangkan pendekatan tidak langsung adalah
dengan menghitung berdasarkan alokasi dari total penyediaan produk (barang dan jasa)
yang menjadi barang modal pada berbagai sektor produksi, atau disebut juga sebagai

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

2.17

pendekatan arus komoditas. Penyediaan atau supply barang modal tersebut bisa
berasal dari produk dalam negeri maupun produk luar negeri (impor).
2.5. PERUBAHAN INVENTORI
Dalam kegiatan ekonomi suatu negara keterrsediaan inventori merupakan hal yang
sangat penting. Hal ini karena inventori menjadi salah satu komponen yang dibutuhkan
untuk keberlangsungan proses produksi selain tenaga kerja dan barang modal.

.id

Dalam PDB/PDRB, Perubahan inventori merupakan bagian dari Pembentukan Modal


Bruto atau yang lebih dikenal sebagai investasi fisik yang terjadi dalam suatu wilayah selain

go

Pembentukan Modal Tetap Bruto. Perubahan inventori menggambarkan porsi investasi


Sehingga ketersediaan data perubahan

bp

maupun bahan penolong pada satu periode.

bahan baku

s.

yang direalisasikan dalam bentuk barang jadi, barang setengah jadi,dan

Konsep dan definisi

ik
a

2.5.1.

b.

inventori menjadi penting untuk kebutuhan analisa mengenai investasi.

Pengertian sederhana inventori atau yang lazimnya dikenal sebagai persediaan

ob

merupakan berbagai barang yang dikuasai oleh produsen untuk tujuan diolah lebih lanjut

at

(intermediate consumption) menjadi barang dalam bentuk lain, yang mempunyai nilai

ak

ekonomi maupun nilai guna yang lebih tinggi. Termasuk pula disini persedian barang yang
masih dalam pengerjaan serta barang jadi yang belum dipasarkan yang masih

ditahan/dikuasai oleh pihak produsen.

://

Dalam kerangka PDB ataupun tabel I-O inventori disajikan sebagai bagian dari

tp

komsumsi akhir (final demand), tepatnya terletak pada kuadran II dalam tabel I-O. Selama

ht

ini pada kedua kerangka tersebut inventori diperlukan sebagai komponen residual yang di
dalamnya termasuk pula perbedaan statistik (statistical discrepancy). Kondisi ini

menyebabkan informasi tentang inventori sulit untuk dipahami dan dianalisis lebih jauh.
Secara konsep, inventori yang berbentuk persediaan barang tersebut menggambarkan
tentang bagian dari output domestik maupun impor yang belum digunakan, baik untuk
diproses lebih lanjut, dikomsumsi ataupun untuk tujuan dijual tanpa mengalami proses
lebih lanjut. Inventori tersebut dapat berbentuk bahan baku (raw material) maupun barang
setengah jadi (work in progress) atau barang jadi (finished goods).

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

2.18

Komponen perubahan inventori mulai diperkenalkan bersamaan dengan saat


terjadinya perubahan tahun dasar pada tingkat nasional dari tahun dasar 1993 ke tahun
dasar 2000 yaitu pada triwulan I tahun 2004. Terkait dengan perubahan tahun dasar 2000
ke tahun dasar 2010 maka komponen perubahan inventori perlu dihitung terpisah dengan
statistical discrepancy. Sehingga perubahan inventori/stok tidak diperlakukan sebagai
komponen penyeimbang (balancing item) pada PDB menurut penggunaan karena sudah
dihitung tersendiri.
Inventori merupakan persediaan barang (bahan baku, barang jadi dan barang

.id

setengah jadi) pada unit institusi yang tidak terpakai pada proses produksi atau belum
selesai diproses atau belum terjual, sedangkan perubahan inventori adalah selisih antara

go

nilai inventori pada akhir periode pencatatan dengan nilai inventori pada awal periode

s.

pencatatan. Perubahan inventori menjelaskan tentang perubahan posisi barang inventori

bp

yang bisa bermakna pertambahan (tanda positif) atau pengurangan (bertanda negatif).
Dalam konteks mikro (perusahaan), transaksi inventori menjelaskan informasi

b.

tentang posisi cadangan atau persediaan barang jadi maupun barang dalam pengerjaan

ik
a

(setengah jadi) perusahaan pada satu saat, yang datanya disajikan dalam laporan neraca
akhir tahun, selain itu di dalamnya termasuk juga barang dagangan dan barang dalam

ob

perjalanan. Dalam laporan tersebut inventori dicatat sebagai bagian dari harta lancar

at

(current asset) pada sisi kiri neraca yang merupakan bagian dari aset/kekayaan perusahan.

ak

Lazimnya data tersebut disajikan secara agregat (tidak dirinci menurut jenis inventori)
bersama-sama dengan komponen harta lancar lainnya, di dalamnya termasuk juga nilai

penyisihan atas inventori yang rusak atau usang. Selain produsen (inventory holder)

://

penguasa inventori lainnya adalah sektor perdagangan, pemerintah dan rumah tangga.

tp

Masing-masing pelaku ekonomi tersebut mempunyai kepentingan dan tujuan yang berbeda

ht

dalam melakukan penimbunan barang-barang inventori.


Bagi produsen, keberadaan inventori ini diperlukan untuk menjaga kelangsungan

kegiatan proses produksinya, sehingga diperlukan pencadangan baik dalam bentuk bahan
baku ataupun bahan penolong. Alasan lain karena ketidakpastian pengaruh eksternal juga
menjadi faktor pertimbangan bagi pengusaha untuk melakukan pencadangan (khususnya
bahan baku). Bagi pedagang, pengadaan inventori lebih dipengaruhi oleh unsur spekulatif
dengan harapan untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar. Sedangkan bagi
pemerintah, kebijakan pencadangan khususnya komoditas strategis utamanya ditujukan

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

2.19

untuk menjaga stabilitas ekonomi, politik dan sosial. Karena menyangkut kepentingan
masyarakat luas (publik); komoditas tersebut diantaranya meliputi komoditas beras, terigu,
minyak goreng dan gula pasir. Bagi rumah tangga pengadaan inventori lebih ditujukan
kemudahan dalam mengatur perilaku konsumsinya saja.
Secara makro, di dalam statistik neraca nasional inventori dicakup sebagai bagian
dari pembentukan modal atau dikenal sebagai inventasi fisik di satu wilayah. Tepatnya
inventori tersebut menjelaskan tentang porsi dari investasi yang telah direalisasikan dalam
bentuk barang jadi maupun setengah jadi pada berbagai kegiatan ekonomi produksi.

.id

Karena nyatanya sebagian dari investasi tersebut memang direalisasikan untuk pengadaan
berbagai keperluan bahan baku maupun bahan penolong/pembantu. Dengan demikian

go

maka tersedianya data tentang inventori akan menjadi informasi yang cukup penting bagi

s.

analisis investasi khususnya bagi komponen pembentukan modal, meskipun kontribusinya

Cakupan

b.

2.5.2.

bp

dalam perekonomian tidaklah terlalu besar.

ik
a

Pada prinsipnya inventori merupakan persediaan bahan baku barang setengah jadi
maupun barang jadi yang dikuasai oleh berbagai pelaku ekonomi produksi maupun

ob

konsumsi. Barang-barang inventori ini akan digunakan lebih lanjut dalam proses produksi

at

baik sebagai input antara atau konsumsi akhir. Data tentang jenis-jenis inventori yang

ak

dikuasai oleh perusahaan dicatat secara terpisah pada bagian yang berbeda. Klasifikasi
inventori menurut jenis barang dapat dibedakan atas:
Inventori menurut sektor penghasilnya seperti produk atau hasil dari: perkebunan,

://

kehutanan, perikanan, pertambangan, industri pengolahan, gas kota, air bersih, serta

Berbagai jenis bahan baku & penolong (material & supplies), yaitu semua bahan,

ht

tp

konstruksi/bangunan;

komponen atau persediaan yang diperoleh untuk diproses lebih lanjut menjadi barang

jadi;

Barang jadi, yaitu barang yang telah selesai diproses tapi belum terjual atau belum
digunakan, termasuk barang-barang yang dijual dalam bentuk yang sama seperti pada
waktu dibeli;

Barang setengah jadi, yaitu barang-barang yang sebagian telah diolah atau belum
selesai (tidak termasuk konstruksi yang belum selesai).

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

2.20

Barang dagangan yang masih dikuasai oleh pedagang besar maupun pedagang eceran
untuk tujuan dijual;

Ternak untuk tujuan dipotong;

Pengadaan barang-barang oleh unit perdagangan untuk tujuan dijual atau dipakai
sebagai bahan bakar atau persediaan; dan

Stok pada pemerintah yang mencakup barang-barang strategis, seperti beras, kedelai,
gula pasir, dan gandum.
Sumber data

.id

2.5.3.

Sumber data perubahan inventori:

Data komoditas pertambangan dari publikasi statistik pertambangan dan penggalian;

Data Inventori Publikasi Tahunan Industri Besar Sedang.

Data komoditas perkebunan;

Indeks harga implisit PDB sektoral terpilih, dan

Indeks harga perdagangan besar (IHPB) terpilih.

Data eksternal lainnya seperti data persediaan beras dari Bulog, data semen dari

ik
a

b.

bp

s.

go

ob

Asosiasi Semen Indonesia (ASI), gula dari Dewan Gula Indonesia (DGI), ternak dari

Metode penghitungan

ak

2.5.4.

at

Ditjennak Deptan, dan sebagainya.

Metodologi yang digunakan dalam penghitungan komponen perubahan inventori


sebagai pendekatan

://

komoditas

adalah pendekatan dari sisi korporasi sebagai pendekatan langsung dan dari
tidak

langsung.

Dilihat dari

sisi manfaatnya,

tp

pendekatan secara langsung menghasilkan data yang relatif lebih baik dibanding

ht

pendekatan

tidak langsung. Pendekatan

komoditas

sisi
dengan

hanya dapat dilakukan

jika

data tentang posisi inventori tersedia secara rinci dan berkesinambungan.


Pendekatan Langsung
Dengan menggunakan pendekatan langsung, akan diperoleh nilai posisi inventori di
saat tertentu (umumnya di akhir tahun). Sumber data utama adalah laporan
neraca akhir tahun (balance sheet) perusahaan. Untuk memperoleh nilai perubahan
inventori

atas dasar

harga

berlaku,

diperlukan

data inventori

di tahun

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

yang

2.21

berurutan.

Langkah

penghitungan

perubahan

inventori

dari

laporan

keuangan,

adalah sebagai berikut:

menghitung posisi inventori atas dasar harga konstan dengan mendeflate stok awal
dan akhir persediaan dengan IHPB akhir tahun;

menghitung

perubahan

inventori atas

dasar harga

konstan

dengan

mengurangkan posisi inventori di tahun berjalan dengan tahun sebelumnya;


dan
menghitung perubahan inventori atas dasar harga berlaku dengan menginflate
perubahan

inventori atas dasar harga konstan

dengan data IHPB

.id

go

tahunan.

rata-rata

bp

s.

2.6. EKSPOR DAN IMPOR BARANG DAN JASA

Di era globalisasi dan keterbukaan seperti saat ini, tidak ada satu negarapun di dunia

b.

ini yang tidak menjalin kerjasam dengan negara lain, baik dalam bidang politik, ekonomi,

ik
a

sosial-budaya, hukum, dan sebagainya demi mempertahankan kelangsungan hidup negara


bersangkutan, termasuk Indonesia. Di bidang perekonomian, dalam rangka memenuhi

ob

kebutuhan barang dan jasa di dalam negeri dan juga untuk meningkatkan nilai tambah

at

produk barang/jasa produksi dalam negeri serta untuk kepentingan mendapatkan devisa,

ak

maka perdagangan antar negara/perdagangan internasional menjadi salah satu pilihan


kebijakan yang harus dilakukan. Ekspor impor antar negara sudah tidak terelakkan lagi.

Di dalam pengadaan barang-barang untuk kepentingan publik maupun privat, ada

://

berbagai cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkannya, dengan mempertimbangkan

tp

aspek kualitas, harga, waktu, biaya, teknologi, dan pertimbangan-pertimbangan lain

ht

termasuk politik. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan barang
tersebut adalah melalui ekspor dan impor. Apabila cara ini yang dilakukan, maka banyak hal
yang harus dipertimbangkan, sebab pengadaan barang dengan cara ini akan melibatkan
tidak hanya relasi diantara dua pihak yakni penjual dan pembeli saja, tetapi melibatkan
interaksi dan interrelasi yang lebih kompleks. Dalam kegiatan ekspor dan impor barang,
tidak semata aspek teori atau aspek hukum pasar saja yang menentukan, tetapi sangat
berkaitan dengan berbagai kebijakan negara, tertutama yang berkaitan dengan kebijakan

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

2.22

politik luar negeri dan kebijakan perdagangan internasional atau bahkan lebih luas lagi
aspek ekonomi internasional.
2.6.1.

Konsep dan definisi


Ekspor-impor kabupaten/kota didefiniskan sebagai alih kepemilikan ekonomi

(baik penjualan/pembelian, barter, hadiah ataupun hibah) atas barang dan jasa antara
residen kabupaten/kota dengan non-residen yang berada di luar kabupaten/kota baik
Indonesia maupun luar negeri.

.id

Transaksi ekspor barang didefinisikan sebagai transaksi perpindahan kepemilikan


ekonomi (baik berupa penjualan, barter, hadiah ataupun hibah) atas barang dari residen

go

suatu wilayah Kabupaten/kota terhadap pelaku ekonomi luar negeri (non-resident).

s.

Sebaliknya, impor barang didefinisikan sebagai transaksi perpindahan kepemilikan ekonomi

bp

(mencakup pembelian, barter, hadiah ataupun hibah) atas barang dari pelaku ekonomi luar

Cakupan

ik
a

Cakupan

transaksi ekspor-impor kabupaten/kota

transaksi ekspor-impor

sama

dengan cakupan

nasional ke luar negeri, yang membedakan

hanya mitra

ob

2.6.2.

b.

negeri (non-resident) terhadap residen suatu wilayah Kabupaten/kota.

luar negeri, sedangkan

ekspor-impor

kabupaten/kota

yang

menjadi

ak

residen

at

transaksinya. Dalam ekspor-impor nasional ke luar negeri, yang menjadi mitra adalah
mitra adalah residen kabupaten/kota lain di Indonesia dan residen luar negeri.

Secara ringkas, transaksi ekspor-impor barang ke/dari luar negeri dalam komponen

Ekspor-impor berdasarkan dokumen kepabeanan (General merchandiseInternational

tp

://

PDRB Penggunaan Provinsi mencakup beberapa komponen berikut, yaitu:

ht

Merchandise Trade Statistics/IMTS) yang telah dinilai dalam free on board (fob).
Transaksi ekspor-impor barang tersebut dapat diklasifikasikan menurut kelompok
komoditas Harmonized System (HS), Standard International Trade Classification (SITC).
Transaksi ekspor berdasarkan dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB)
sedangkan impor barang berdasarkan dokumen Pemberitahuan Impor Barang (PIB).

Pembelian Langsung (Direct Purchase), mencakup pembelian barang oleh wisatawan


manca negara (wisman) selama berkunjung ke wilayah Provinsi yang dicatat sebagai
direct purchase exports, serta pembelian barang oleh penduduk Provinsi selama

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

2.23

berkunjung ke luar negeri yang dicatat sebagai direct purchase imports. Pembelian
barang tersebut mencakup baik yang dikonsumsi sendiri selama perjalanan, atau di
tempat lain, ataupun dibawa ke negaranya.

Transaksi ilegal & penyelundupan serta transaksi yang tidak terdokumentasi


(undocumented transactions) lainnya
Sumber data

ekspor- impor

penghitungan

ekspor-impor

kabupaten/kota belum tersedia

konsep SNA. Data

data dasar yang

yang tersedia hanya menunjukkan

tidak diketahui berapa

nilai-nya. Kondisi

ekspor-impor kabupaten/kota sulit

nasional, penghitungan
sesuai

.id

dengan

data ini menyebabkan

dilakukan

secara

dengan

adanya transaksi, namun

go

Berbeda

penghitungan

langsung. Pada

series

s.

2.6.3.

data

bp

PDB/PDRB series 2000=100, sumber data yang tersedia dan digunakan untuk penyusunan
ekspor-impor antar wilayah di tingkat provinsi adalah:

Laporan Simopel, yaitu laporan (bulanan) bongkar muat barang di pelabuhan;

Informasi lalu-lintas barang yang keluar-masuk provinsi di jembatan timbang; dan

Informasi lalu-lintas barang yang keluar-masuk provinsi dari hasil survei.

ob

ik
a

b.

sebagai pendukung

ak

digunakan

at

Dalam menghitung ekspor-impor kabupaten/kota, data yang tersedia tersebut


hasil

penghitungan

dengan

metode

langsung, ditambah dengan informasi dari hasil survei matriks arus


yang menggali

(SMAK)

informasi

tentang

ekspor-impor

tak-

komoditas

antar kabupaten/kota

Struktur permintaan akhir menurut komoditas;

ht

Struktur input;

tp

://

tahun 2010-2012 secara sampel. Data yang digunakan dalam metode tak-langsung adalah:

Nilai tambah bruto adh Berlaku;

Koefisien heterogenitas; dan

IHPB barang dan IHK jasa-jasa (kesehatan; pendidikan, rekreasi dan olah raga; transpor
dan komunikasi, serta jasa keuangan).

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

2.24

2.6.4.

Penghitungan Ekspor/Impor adh Berlaku


Penghitungan

ekspor-impor

kabupaten/kota

dengan

metode

tak-langsung

menggunakan metode cross hauling. Metode ini akan menghasilkan nilai ekspor-impor
barang dan jasa di suatu kabupaten/kota. Metode ini bekerja dengan memanfaatkan
sifat

keseimbangan

permintaan

(demand)

dan

penyediaan

(supply)

setiap

industri/komoditas di suatu perekonomian.


Penghitung ekspor impor dengan metode cross-hauling diawali dengan metode
commodity balance. Metode commodity balance adalah metode penghitungan

.id

ekspor-impor dengan memanfaatkan Tabel Input-Output bayangan. Dalam metode


ini, transksi ekspor-impor dipandang sebagai item penyeimbang (balancing item)
suatu

industri/komoditas

di

suatu

kabupaten/kota

melebihi

s.

supply domestik

go

untuk menuju kondisi demand dan supply yang seimbang di suatu perekonomian. Jika

bp

kebutuhan (permintaan antara dan permintaan akhir), maka kabupaten/kota tersebut


mengalami surplus dan akan melakukan ekspor. Sebaliknya, jika supply domestik

b.

komiditas di suatu kabupaten/kota tidak ada atau kurang, maka kabupaten/kota

ik
a

tersebut akan mengimpor (Kronenberg, 2008).

Asumsi yang digunakan dalam metode commodity balance adalah kelebihan dan

ob

kekurangan supply domestik atas demand, sepenuhnya diselesaikan dengan ekspor dan

at

impor. Jika kelebihan supply domestik, maka akan melakukan ekspor, sedangkan jika

ak

kekurangan supply domestik, maka akan mengimpor. Hal ini membuat penghitungan
ekspor-impor tersebut belum menangkap aspek lain di dalam transaki ekspor-impor,

karena dalam kenyataannya, baik dalam kondisi kelebihan atau kekurangan supply

://

domestik, suatu kabupaten/kota dapat melakukan transaksi ekspor/impor secara

tp

bersama. Untuk mengatasi kelemahan ini, penghitungan ekspor-impor kabupaten/kota

ht

perlu untuk disempurnakan dengan menerapkan metode cross hauling.


Metode cross hauling berusaha mengatasi kelemahan metode commodity

balance, dengan mengakomodir kemungkinan suatu kabupaten/kota melakukan eksporimpor komoditas

secara

bersamaan.

Contoh,

suatu

kabupaten/kota,

selain

mengekspor komoditas pertanian ke luar daerah/luar negeri, juga melakukan impor


komoditas pertanian yang merupakan output dari luar daerah/luar negeri.
Penghitungan ekspor-impor kabupaten/kota menggunakan metode commodity
balance dilakukan dengan cara sbb:

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

2.25

menyusun struktur input masing-masing industri dengan bantuan Tabel I-O yang
tersedia;

mengalikan NTB menurut industri dengan rasio total input/output terhadap NTB;

mengalikan struktur input pada dari poin (1) dengan output daripoin (2). Dari proses
ini dihasilkan biaya antara, NTB, dan total input/output dalam Tabel I-O bayangan;

menyusun struktur komponen permintaan akhir dengan bantuan Tabel I-O yanga ada;

mengalikan masing-masing komponen permintaan akhir dengan struktur dari poin (4);

menghitung nilai ekspor neto (trade balance), yang merupakan selisih output (supply

jika net ekspor bernilai positif, diasumsikan terjadi ekspor, dan jika bernilai

go

.id

domestik) dengan permintaan domestik (antara dan akhir domestik);

negatif diasumsikan terjadi impor;

menjumlahkan nilai ekspor dan impor komoditas dari poin (7) untuk mendapat nilai

s.

bp

ekspor dan impor.

b.

Selanjutnya, untuk menghitung ekspor-impor kabupaten/kota dengan metode cross

ik
a

hauling, dilakukan langkah seperti langkah yang dilakukan dalam metode commodity

ob

balance di atas, namun hanya sampai langkah ke (6). Penyesuaian dilakukan untuk langkah
ke (7), sehingga urutannya menjadi:

melakukan langkah (1) s.d (6) seperti pada metode commodity balance;

menghitung koefisien heterogenitas13 berdasarkan Tabel I-O data yang tersedia, yaitu

ak

at

trade volume dikurangi nilai absolut trade balance. Hasilnya dibagi dengan

menghitung besarnya volume perdagangan (trade volume), yaitu menjumlahkan nilai

://

jumlah output, permintaan antara, dan permintaan akhir domestik;

tp

absolut trade balance dengan hasil perkalian antara koefisien heterogenitas dan

ht

jumlah output, permintaan antara, dan permintaan akhir domestik;

nilai impor setiap komoditas diperoleh dengan mengurangkan trade volume


dengan trade balance, hasilnya dibagi dua;

nilai ekspor setiap komoditas diperoleh dengan menjumlahkan trade balance dan
impor;

menjumlahkan nilai ekspor dan impor per komoditas pada langkah (5) untuk
mendapat nilai ekspor dan impor.

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

2.26

Metode cross hauling mengandalkan stuktur input dan permintaan akhir, nilai
tambah per industri, serta permintaan akhir domestik per komponen, dan koefisien
heterogenitas per komoditas yang didasarkan pada data yang tersedia dan hasil
penghitungan sebelumnya. Penghitungan dengan metode commodty balance ini akan
menghasilkan nilai ekspor-impor provinsi yang lebih rendah dibandingkan dengan
metode cross hauling. Akurasi hasil penghitungan setiap item akan menentukan
akurasi nilai ekspor-impor provinsi. Oleh karena itu diperlukan upaya agar hasil
penghitungan ekspor-impor kabupaten/kota ini berkualitas, dengan menyesuaikan

.id

struktur input dan permintaan akhir serta koefisien heterogenitas yang lebih sesuai
dengan kondisi di Kabupaten/Kota untuk referensi penghitungan, dan melakukan

go

pemeriksaan hasil penghitungan dengan membandingkan dengan berbagai data

ht

tp

://

ak

at

ob

ik
a

b.

bp

s.

sekunder ekspor-impor yang relevan.

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

2.27

.id
go
s.
bp

PEMBAHASAN

ht

tp

://

ak

at

ob

ik
a

b.

BAB III

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

3.1

BAB III
PEMBAHASAN
Sebelum membahas kondisi perekonomian Wakatobi berikut ditampilkan ulasan
perekonomian Indonesia yang disarikan dari berbagai sumber seperti portal Bank
Indonesia, Badan Pusat Statistik, dan portal reksadana.
Secara umum, kondisi perekonomian dunia menghadapi persoalan sejak terjadinya
krisis finansial global di tahun 2008.Bahkan hingga saat ini perekonomian dunia belum

.id

menunjukkan laju pertumbuhan yang berarti. Salah satu indikatonya adalah laporan World
Economic Outlook yang dirilis di bulan Oktober 2013, International Monetary Fund (IMF)

go

merevisi turun tingkat pertumbuhan ekonomi dunia di tahun 2013 menjadi 2,9% untuk

s.

tahun 2013 dan 3,6% untuk tahun 2014 dari proyeksi sebelumnya di bulan Juli 2013 sebesar

bp

masing-masing 3,2% dan 3,8%.

Dalam masa-masa sulit tersebut, Indonesia mampu tumbuh diatas rata-rata

b.

pertumbuhan ekonomi dunia.Badan Pusat Statistik merilis tingkat pertumbuhan ekonomi

ik
a

tahun 2013 sebesar 5,78 persen (yoy). Meskipun lebih rendah dari tahun sebelumnya,
namun angka tersebut merupakan sebuah prestasi.Pasalnya, tekanan pada Neraca

ob

Pembayaran Indonesia (NPI) meningkat, dibarengi dengan pelemahan nilai tukar rupiah.

at

Inflasi pun berada di atas sasaran inflasi yang ditetapkan Bank Indonesia ketika awal tahun

ak

2013 yang lalu yakni di 4,5% 1%. Realisasi inflasi tercatat di angka 8,38% (yoy) sampai akhir
2013.

Hal ini tidak terlepas dari berbagai tekanan yang dihadapi.Pertama, guncangan

://

ekonomi terjadi di pasar keuangan global.Ketidakpastian pasar keuangan global meningkat

tp

sejalan dengan sentimen negatif terhadap rencana pengurangan stimulus moneter alias

ht

tapering off di AS.Sementara kondisi ekonomi global yang menurun akhirnya


mengakibatkan terjadinya guncangan kedua. Guncangan kedua ini adalah tekanan
terhadap NPI tahun 2013. Defisit transaksi berjalan diprakirakan mencapai 3,5% dari Produk
Domestik Bruto (PDB). Lebih tinggi pula dari defisit pada tahun 2012 sebesar 2,8%. Surplus
di sisi transaksi modal dan finansial pun menurun.Tak sampai di situ, nilai tukar rupiah di
tahun 2013 juga terus terdepresiasi disertai volatilitas yang meningkat.Pelemahan rupiah ini
searah dengan pelemahan mata uang di negara kawasan.

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

3.2

Tekanan pada neraca pembayaran salah satunya dipengaruhi penurunan pangsa


ekspor Indonesia.Pelemahan ekspor terjadi akibat turunnya permintaan dari negara-negara
tujuan utama ekspor serta penurunan harga komoditas. Sementara tingkat permintaan
domestik terimbas kenaikan harga BBM dan tingkat suku bunga. Kenaikan harga bensin
premium sebesar 44% dan solar sebesar 22% di pertengahan tahun ini mengakibatkan
kenaikan ongkos transportasi dan tarif listrik. Di bulan September, Bank Indonesia
menurunkan proyeksi pertumbuhan PDB Indonesia dari sebelumnya 5,8-6,2% menjadi 5,55,9%.

.id

Seperti negara-negara berkembang lainnya, Indonesia juga terpukul akibat keluarnya


dana investor seiring dengan meningkatnya ekspektasi bahwa U.S. Federal Reserve akan

go

mulai mengurangi pelonggaran kuantitatifnya dan kemungkinan akan menaikkan suku

s.

bunga lebih cepat dari yang selama ini diperkirakan. Khusus mengenai Indonesia, aliran

bp

dana asing keluar dipicu oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia serta
melebarnya defisit transaksi berjalan (current account deficit), yang pada gilirannya telah

b.

membuat Rupiah terdepresiasi cukup tajam tahun ini.

ik
a

Isu makroekonomi yang paling penting saat ini adalah seputar defisit transaksi
berjalan. Indonesia telah mengalami defisit transaksi berjalan selama 9 kuartal berturut-

ob

turut, mulai dari kuartal keempat 2011. Meski defisit transaksi berjalan yang pada kuartal

at

kedua 2013 sebesar 4,4% dari PDB telah menyempit menjadi 3,8% dari PDB di kuartal ketiga

ak

2013, namun besaran ini masih belum dapat memperbaiki sentimen pasar terhadap
Indonesia. Idealnya, defisit transaksi berjalan dapat dijaga di level maksimum 3% dari PDB.

Terkait pengurangan subsidi BBM yang berujung pada kenaikan harga BBM di

://

pertengahan tahun, laju inflasi Indonesia naik cukup signifikan tahun ini. Meski demikian,

tp

puncak inflasi telah terlihat, di mana dengan dampak kenaikan harga BBM bersubsidi sudah

ht

tercermin dalam inflasi Jun 2013 - Aug 2013 dan harga pangan mulai turun, para ekonom
memperkirakan inflasi akan kembali ke pola normalnya dalam beberapa bulan ke depan,
kembali ke kisaran target inflasi yang ditetapkan Bank Indonesia sebesar 3,5-5,5%.
Kondisi terkini menunjukkan stabilitas ekonomi kembali terkendali.NPI Triwulan IV
2013 membaik ditopang penurunan defisit transaksi berjalan.Inflasi bulanan menurun dan
berada dalam pola normal.Tahun 2014, NPI diperkirakan membaik seiring penurunan defisit
transaksi berjalan. Inflasi pada 2014 dan 2015 diperkirakan juga terkendali dalam kisaran
4,51% dan 4,01%. Pertumbuhan ekonomi pada 2014, diperkirakan mendekati batas

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

3.3

bawah kisaran 5,8-6,2% sejalan proses konsolidasi ekonomi domestik menuju ke kondisi
yang lebih seimbang.
Meskipun tahun 2014 adalah tahun politik bagi Indonesia sehubungan dengan akan
diadakannya pemilihan umum legislatif dan presiden, namun banyak kalangan menilai
kontribusinya terhadap perekonomian Indonesia tidak akan signifikan. Bank Indonesia
memprediksi bahwa kontribusi pemilu 2014 terhadap pertumbuhan ekonomi hanyalah
0,13-0,19% (vs. 0,23-0,26% pada pemilu 2009). Hal ini dikarenakan jumlah partai politik dan
jumlah calon legislatif di pemilu 2014 akan lebih sedikit dibandingkan dengan pada pemilu

.id

2009. Pada pemilu 2014 nanti jumlah calon legislatif adalah 100% jumlah kursi di DPR,
sedangkan pada pemilu 2009 sebesar 120%. Jumlah partai politik peserta pemilu pun

bp

3.1. PERKEMBANGAN PDRB MENURUT PENGGUNAAN

s.

go

berkurang drastis dari 38 pada pemilu 2009 menjadi 12 pada pemilu 2014 nanti.

b.

Produk domestik regional bruto menurut penggunaan dalam siklus tabel input

ik
a

output dianggap sebagai permintaan akhir. Permintaan akhir terdiri dari konsumsi,
pembentukan modal, dan ekspor netto.Permintaan akhir merupakan permintaan yang

ob

langsung habis digunakan atau dikonsumsi.Perkembangan nilai PDRB menurut penggunaan

at

atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan 2000 dalam beberapa tahun terakhir

ak

(2004-2013) disajikan pada gambar 3.1.


PDRB menurut penggunaan dapat dilihat dari 2 hal yaitu capaian nilai PDRB serta

jarak nilai antara PDRB atas dasar harga berlaku dengan konstannya. Menurut capaiannya

://

terlihat nilai PDRB atas dasar harga berlaku dan konstan terus mengalami peningkatan. Hal

tp

ini mengindikasikan peningkatan permintaan akhir yang terdiri dari konsumsi,

ht

pembantukan dan ekspor netto di Wakatobi. Pada disisi lain, terlihat pula semakin lebarnya
jarak antara nilai PDRB berlaku dengan nilai PDRB konstan. Hal ini mengindikasikan
terjadinya kenaikan harga barang dan jasa yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Sebagaimana telah dijelaskan pada bab sebelumnya, bahwa komponen penyusun
PDRB menurut pengeluaran terdiri dari 7 komponen, mulai dari konsumsi rumah tangga,
konsumsi lembaga nirlaba, konsumsi pemerintah, PMTB, invenstori, ekspor dan impor.
Selain itu, menurut lingkupnya PDRB juga dapat diklasifikasikan menjadi tiga komponen
besar, yaitu konsumsi, pembentukan modal dan ekspor netto.Konsumsi mencakup

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

3.4

konsumsi rumah tangga, konsumsi lembaga nirlaba, dan konsumsi pemerintah.Komponen


pembentukan modal meliputi PMTB dan invenstori. Sedangkankomponen penggunaan di
luar regionalmencakup ekspor dan impor.
Gambar 3.1. Perkembangan PDRB menurut Penggunan Wakatobi atas dasar harga berlaku
dan konstan tahun 2004-2013 (Miliar Rupiah)
1400.0

1000.0

.id

1200.0
PDRB ADHB

800.0

go

PDRB ADHK

s.

600.0

bp

400.0

2005

2006

2008

2009

2010

2011 2012* 2013**

ob

Sumber : Olahan Lampiran 1 dan 2

2007

ik
a

2004

b.

200.0

at

Dari gambar 3.1 terlihat bahwa nilai PDRB atas dasar berlaku menunjukan kenaikan

ak

yang bervariasi antar tahunnya. Nilai PDRB tahun 2012 mencapai Rp.1.055,76 miliar atau
naik Rp.123,18 miliar dibandingkan tahun 2011. Sedangkan nilai PDRB tahun 2013

mencapai Rp.1.185,82 miliar atau naik Rp.130,06 miliar.Kenaikan nilai PDRB 2012/2013

://

lebih tinggi dibanding kenaikan PDRB tahun 2011/2012. Peningkatan PDRB atas dasar harga

tp

berlaku ini belum menunjukan kinerja aktualnya karena nilainya masih terkandung

ht

perubahan harga.Komponen PDRB Penggunaan yang mengalami pertumbuhan positif


berarti bahwa ada peningkatan volume dalam pemakaian produk (pendapatan)
yangdigunakan

oleh

masyarakat

baik

itu

sebagai

konsumsi

maupun

untuk

diinvestasikan kembali dalam siklus perekonomian


Selanjutnya, nilai PDRB atas harga konstan 2000 juga terus mengalami peningkatan
berturut-turut adalah Rp.288,98 miliar (tahun 2011), menjadi Rp.316,61 miliar (tahun
2012), hingga di tahun 2013 mencapai Rp.342,06 miliar. Kenaikan ini menunjukan
peningkatan permintaan akhir pada sektor-sektor ekonomi di Wakatobi. Kenaikan PDRB

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

3.5

atas dasar harga konstan merupakan kinerja aktual perekonomian Wakatobi karena tidak
mengikutsertakan perubahan harga.
Tabel 3.1.Nilai Tambah Bruto PDRB atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan
di Wakatobi, 2011-2013
2012

2013

(2)

(3)

(4)

1. Nilai PDRB ADHB (Rp.Miliar)

932,58

1.055,76

1.185,82

1.1. Konsumsi

868,89

1.014,41

1.155,28

1.2. Pembentukan Modal

452,95

533,44

627,32

1.3. Penggunaan di luar Regional

(389,26)

(492,09)

(596,78)

2. Nilai PDRB ADHK (Rp.Miliar)

288,98

316,61

342,06

2.1. Konsumsi

322,45

352,61

377,22

2.2. Pembentukan Modal

183,39

209,20

235,34

(245,19)

(270,50)

go

bp

(1)

.id

2011

s.

Rincian

(216,86)

b.

2.3. Penggunaan di luar Regional

ik
a

Sumber : Olahan Lampiran 1 dan 2

ob

Berdasarkan tabel 3.1 terlihat nilai yang dihasilkan oleh masing-masing komponen
permintaan akhir.Nilai pengeluaran untuk konsumsi dalam arti luas terus mengalami

at

peningkatan setiap tahunnya.Di saat yang bersamaan nilainya masih mendominasi PDRB

ak

menurut penggunaan di Wakatobi. Padatahun 2013, pengeluaran untuk konsumsi

mencapai Rp.1.155,28 miliar atau naik Rp.140,87 miliar dibanding tahun 2012. Kenaikan

://

pengeluaran konsumsi ini merupakan sumbangan dari sektor rumah tangga, pemerintah,

tp

maupun lembaga non-profit dengan porsi yang bervariasi. Kenaikan konsumsi ini dapat
menjadi peluang pembangunan dari sisi supply seperti pertanian dan industri. Nilai tambah

ht

sektor pertanian dan industri lebih rendah dibanding pengeluaran untuk konsumsi. Artinya
pemenuhan kebutuhan konsumsi selain dipasok oleh produksi di wilayah Wakatobi juga
dipasok dari luar wilayah Wakatobi.Hal ini menjadi peluang pengembangan sektor-sektor
penyuplai konsumsi.
Pengeluaran untuk pembentukan modal juga terus menunjukan peningkatan setiap
tahunnya. Hingga tahun 2013, pengeluaran untuk pembentukan modal mencapai
Rp.627,32miliar atau naik Rp.93,89 miliar dibanding tahun 2012. Sedangkan penggunaan di

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

3.6

luar regional selalu negatif atau impor lebih besar dari ekspor sebesar Rp.596,78 miliar
pada tahun 2013.
Gambar 3.2.Nilai Peranan komponen terhadapPDRB menurut pengeluaran atas dasar harga
berlaku dan konstan, di Wakatobi, tahun 2013 (miliar rupiah)

700.0
500.0

100.0
Konspemerintah

PMTB

Invent

s.

Kons- Ruta Kons-LNPRT

Ekspor Netto

bp

-100.0

go

.id

300.0

-500.0

ADHBerlaku

ob

-700.0
Sumber : olahan lampiran 3 dan 4

ik
a

ADHKonstan

b.

-300.0

ak

at

Distribusi PDRBmenurut penggunaan

Sejalan dengan besarnya komponen pengeluaran untuk konsumsi maka peranannya

terhadap PDRB semakin besar pula. Berdasarkan harga berlaku, komponen konsumsi tahun

://

2013 masih mendominasi pembentukan PDRB di Wakatobi sebesar 97,42 persen. Kemudian

tp

disusul komponen pembentukan modal sebesar 52,90 persen. Sedangkan komponen

ht

penggunaan di luar regional atau ekspor netto menarik kebawah peranan dari ke-2
komponen sebelumnya dengan berkontribusi negatif yaitu 50,33 persen.
Sama halnya pada harga berlaku, komponen konsumsi juga dominan dalam
pembentukan PDRB atas dasar harga konstan. Di tahun 2013, komponen konsumsi
berkontribusi sebesar 110,28 persen. Sedangkan penambahan modal dan ekspor netto
berkontribusi sebesar 68,80 persen dan minus 79,08 persen.

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

3.7

Tabel 3.2. Distribusi PDRB Atas dasar harga berlaku di Wakatobi, 2011-2013 (Persen)
Rincian

2011

2012

2013

(2)

(3)

(4)

100,00

100,00

100,00

1.1. Konsumsi

93,17

96,08

97,42

1.2. Pembentukan Modal

48,57

50,54

52,90

(41,74)

(46,61)

(50,33)

(1)
1. Distribusi ADHB (%)

1.3. Penggunaan di luar Regional

.id

Sumber : Olahan Lampiran 3

go

Tanpa mengesampingkan komponen lainnya tetapi peningkatan komponen


penambahan modal berhubungan dengan penyediaan tenaga kerja.Kontribusi penambahan

s.

modal atau investasi yang besar terhadap perekonomian bertolak belakang dengan

bp

rendahnya kontribusi ekspor netto.Hal ini dapat dijelaskan karena penambahan modal yang

b.

dilakukan berasal dari barang impor. Sehingga tingginya impor barang modal akan

ik
a

meningkatkan komponen barang modal di Wakatobi.

ob

Gambar 3.3. Peranan komponen terhadap PDRB menurut pengeluaran atas dasar harga
berlaku dan konstan, di Wakatobi, tahun 2013 (Persen)

at

80

ak

60

tp

://

20

40

Kons- Ruta

Kons-LNPRT

ht

-20

Konspemerintah

PMTB

Invent

Ekspor Netto

-40
-60
-80

ADHKonstan

ADHBerlaku

Sumber : olahan lampiran 3 dan 4

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

3.8

Peranan Konsumsi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Wakatobi


dalam 3 tahun terakhir terus mengalamai peningkatan.Hal ini menggambarkan bahwa
perekonomian Wakatobi masih didrive oleh konsumsi, baik oleh rumahtangga, lembaga non
profit yang melayani rumahtangga maupun oleh pemerintah. Investasi yang menjadi target
utama pengembangan perekonomian wilayah, sudah mampu menjadi penggerak
pertumbuhan ekonomi, serta memberikan hasil yang memuaskan. Berbagai kebijakan
Pemerintah Daerah dan promosi ke berbagai pihak pemilik modal masih terus dilakukan

.id

demi meningkatnya peranan investasi baik investasi fisik maupun non fisik.
Pertumbuhan PDRB menurut penggunaan

go

Untuk menghitung tingkat pertumbuhan ekonomi, digunakan PDRB atas dasar harga

s.

konstan 2000. Dengan menggunakan data atas dasar harga konstan, maka pertumbuhan

bp

PDRB yang diperoleh hanya mencerminkan pertumbuhan output yang dihasilkan


perekonomian pada periode tertentu tanpa adanya pengaruh dari perubahan harga.

b.

Ekonomi Wakatobi tumbuh optimis dalam beberapa tahun terakhir. Optimisme ini

ik
a

terlihat dari besaran pertumbuhan ekonomi Wakatobi yang mencapai 8,04 persen pada
tahun 2013. Pertumbuhan ekonomi Wakatobi bahkan pernah mencatatkan nilai

ob

tertingginya sebesar 13,67 persen pada tahun 2009. Dibandingkan tahun 2011 dan 2012,

at

memang pertumbuhan ekonomi Wakatobi terus mengalami kontraksi.Namun jika dilihat

ak

dari rata-rata selama 5 tahun terakhir, maka pertumbuhan ekonomi Wakatobi masih
terkategori tinggi.

Pertumbuhan ekonomi Wakatobi dilihat dari sisi permintaan akhir atau

://

demandmerupakan kontribusi dari ketiga komponennya. Komponen PDRB dalam beberapa

tp

tahun terakhir mengalami pertumbuhan yang fluktuatif.Komponen penambahan modal

ht

selalu tumbuh lebih tinggi dibanding 2 komponen lainnya. Komponen penambahan modal
tumbuh 14,07 persen di tahun 2012. Kemudian mengalami sedikit perlambatan menjadi
12,50 persen di tahun 2013. komponen konsumsi juga mengalami pertumbuhan poositif
sebesar 9,35 persen di tahun 2012, kemudian mengalami perlambatan menjadi 6,98 persen
di tahun 2013. Sementara itu, pertumbuhan komponen ekspor netto selalu negatif pada
periode 20011/2013.Hal ini berarti bahwa ekspor netto selalu mengoreksi atau menarik
kebawah pertumbuhan ekonomi Wakatobi. Keadaan ini menyebabkan ketidakseimbangan

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

3.9

neraca perdagangan Wakatobi yang dalam jangka panjang dapat menekan pertumbuhan
ekonomi.
Tabel 3.3. Pertumbuhan PDRB ADHK, dan Sumber Pertumbuhan PDRB, di Wakatobi, 20112013 (Persen)
2012

2013

(2)

(3)

(4)

10,38

9,56

8,04

5,00

9,35

6,98

1.2. Pembentukan Modal

13,03

14,07

12,50

1.3. Penggunaan di luar Regional

(4,48)

(13,06)

(10,32)

2. Sumber Pertumbuhan (%)

10,38

9,56

8,04

10,44

7,78

8,93

8,26

(9,80)

(7,99)

1. Pertumbuhan ADHK (%)


1.1. Konsumsi

5,86

2.2. Pembentukan Modal

8,08

bp

2.1. Konsumsi

go

(1)

.id

2011

s.

Rincian

(3,55)

b.

2.3. Penggunaan di luar Regional

ik
a

Sumber : Olahan Lampiran 6 dan 12

ob

Sumber Laju Pertumbuhan Komponen Pengeluran PDRB


Peranan masing-masing komponen PDRB terhadap total laju pertumbuhan PDRB

at

(LPE) diidentifikasikan sebagai sumber laju pertumbuhan (SOG). Tercatat pada tahun 2013,

ak

komponen yang memiliki peranan positif bagi LPE total yaitu konsumsi rumah tangga,

konsumsi pemerintah, konsumsi lembaga non pemerintah, pembentukan Modal Tetap

://

Bruto (PMTB), dan inventori. Sedangkan yang memberikan peran negatif hanya komponen

tp

net ekspor.

Dalam tiga tahun terakhir (2011-2013), komponen penambahan modal selalu

ht

memberikan andil yang tingi dengan persentase yang kian meningkat dalam pertumbuhan
ekonomi Wakatobi.Pada tahun 2011, komponen penambahan modal memberikan andil
sebesar 77,77 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Wakatobi. Selanjutnya andil
komponen ini meningkat menjadi 102,72 persen di tahun 2013. Hal yang sama juga
dihasilkan oleh komponen konsumsi. Pada tahun 2011, komponen konsumsi memberikan
andil sebesar 56,45 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Wakatobi. Kemudian, andil
komponen ini meningkat menjadi 96,73 persen di tahun 2013.

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

3.10

Gambar 3.4. Perkembangan Andil Komponen PDRB terhadap pertumbuhan ekonomi


Wakatobi, 2011-2013 (Persen)
120
90
60
30
2012

2013

.id

2011

(30)

(90)
(120)

P-Modal

P-luar regional

bp

Konsumsi

s.

go

(60)

ik
a

b.

Sumber :Olahan Lampiran 12

Data menunjukan bahwa dalam periode 2011-2013, andil pertumbuhan komponen

ob

PDRB mengalami fluktuasi dengan struktur yang relatif sama.Peranan PMTB yang besar
dalam perkembangan PDRB merupakan preseden yang baik bagi perkembangan

at

perekonomian Wakatobi.Pertumbuhan konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah,

ak

inventori, dan konsumsi LNPRT memberikan pengaruh positf bagi pertumbuhan PDRB

secara keseluruhan.Sementara itu, nilai impor yang lebih besar dari ekspor menjadi faktor

://

pengurang dalam pertumbuhan ekonomi di Wakatobi.Data menunjukan bahwa andil

tp

komponen net ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi di Wakatobi memiliki trend yang
semakin menurun. Hal ini merupakan preseden negatif bagi perekonomian Wakatobi

ht

karena semakin banyaknya uang dari Wakatobi yang dikonsumsikan di daerah lain.

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

3.11

Gambar
3.5.
Peranan
komponen
pengeluaran terhadap Konsumsi PDRB
atas dasar harga berlaku 2013 (persen)

Gambar
3.6.
Peranan
komponen
pengeluaran terhadap Konsumsi PDRB atas
dasar konstan 2013 (persen)

pemeri
ntah
034%

lembag
a nonprofit
000%

b.

bp

s.

go

.id

rumah
tangga
064%

lemba
ga
nonprofit
000%

rumah
tangga
065%

pemeri
ntah
035%

ob

3.2.1. Konsumsi Rumah Tangga

ik
a

3.2. PERKEMBANGAN KOMPONEN PDRB MENURUT PENGGUNAAN

at

Pengeluaran konsumsi rumah tangga mengalami kenaikan sejalan dengan

ak

pertumbuhan penduduk, kenaikan harga barang dan jasa serta perubahan pola konsumsi

masyarakat seiring peningkatan pendapatan.Pada tahun 2011 pengeluaran konsumsi

://

rumah tangga atas dasar harga berlaku tercatat Rp.536,42miliar, di tahun 2012 meningkat
menjadi Rp.650,60 miliar, kemudian pada tahun 2013 meningkat lagi hingga mencapai

tp

Rp.753,75 miliar.

ht

Peranan konsumsi rumah tangga terhadap PDRB terus mengalami peningkatan. Pada

tahun 2011kontribusi konsumsi terhadap PDRB sebesar 57,52 persen, kemudian terus
meningkat menjadi 63,56 persen pada tahun 2013. Pada sisi lain, peranan konsumsi rumah
tangga terhadap komponen konsumsi juga cenderung meningkat. Hingga tahun 2013,
peranan konsumsi rumah tangga terhadap total pengeluaran mencapai 65,24 persen. Atau
ada kenaikan hampir 4 persen dibanding tahun 2011 yang berkontribusi sebesar 61,74
persen.

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

3.12

Jika dilihat laju pertumbuhannya, konsumsi rumahtangga cenderung fluktuatif pada


tahun 2011 laju pertumbuhannya sebesar 5,68 persen, kemudian mengalami percepatan
menjadi 11,56 persen di tahun 2012, namun kemudian melambat menjadi 7,51 persen di
tahun 2013. Bervariasinya pertumbuhan komponen konsumsi rumah tangga berdampak
pada variasi andil konsumsi rumah tangga terhadap pertumbuhan ekonomi Wakatobi. Pada
tahun 2011, pertumbuhan ekonomi Wakatobi sebesar 40,09 persen didorong oleh
pertumbuhan komponen konsumsi.

Rincian

2011
(2)

2012

2013

(3)

(4)

1. Pengeluaran ADH berlaku (milyar)

536,42

650,60

753,75

2. Pengeluaran ADH Konstan (milyar)

bp

s.

(1)

go

.id

Tabel 3.4. Perkembangan Indikator Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga PDRB menurut
Penggunaan, di Wakatobi, 2011-2013

202,83

226,28

243,28

57,52

61,62

63,56

5,68

11,56

7,51

40,09

84,73

66,71

6,73

8,72

7,76

b.

3. Distribusi ADH berlaku (%)


4. Pertumbuhan ADH Konstan (%)

ik
a

5. Andil Pertumbuhan (%)

ob

6. Implisit (%)

at

Sumber : Lampiran 1,2,3,6,10,12

ak

Proporsi konsumsi makanan terhadap total konsumsi mengalami penurunan yaitu

sebesar 53,53 persenpada tahun 2011, terus menurun hingga menjadi 47,67 persenpada

://

tahun 2013. Sebaliknya proporsi konsumsi bukan makanan terhadap total konsumsi

tp

mengalami peningkatan yaitu dari 46,47 persenpada tahun 2011, terus meningkat hingga
menjadi 52,23 persenpada tahun 2013. Laju pertumbuhan konsumsi makanan selama

ht

periode tiga tahun terakhir (2011-2013) mengalami pertumbuhan yang stabil sedangkan
pertumbuhan konsumsi bukan makanan pada periode yang sama mengalami fluktuasi. Laju
pertumbuhan konsumsi makanan pada tahun 2011 sebesar 5,30 persen, mengalami
percepatan pada tahun 2013 menjadi 5,94persen. Sedangkan laju pertumbuhan bukan
makanan pada tahun 2011 sebesar 6,15 persen, kemudian mengalami percepatan menjadi
18,87 persenpada tahun 2012, namun tumbuh melambat menjadi 9,19 persen di tahun
2013.

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

3.13

Gambar 3.7. Perkembangan Konsumsi Rumah Tangga Menurut Jenis Pengeluran, 20112013 (Rp.Miliar)
400.0
300.0

.id

200.0

go

100.0
.0
2012

ik
a

b.

Sumber :Olahan Lampiran 1

Bukan makanan

bp

Makanan

2013

s.

2011

ob

3.2.2. Konsumsi Lembaga Non Profit

at

Bank Dunia mendefinisikan secara khusus Non Government Organization (NGO) atau

ak

kemudian juga diterjemahkan sebagai organisasi swasta yang pada umumnya bergerak
dalam kegiatan-kegiatanpengentasan kemiskinan,mengangkat dan menyuarakan berbagai

kepentingan orang miskin atau pihak yang terpinggirkan, memberikan pelayanan sosial

://

dasar, atau melakukan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Pengertian lembaga

tp

non profit secara umum adalah setiap lembaga nirlaba yang independen dan tidak

ht

terpengaruh oleh institusi pemerintah.


Nilai konsumsi Lembaga non profit yang melayani rumahtangga (LNPRT) juga terus

meningkat baik secara nominal maupun secara riil, walaupun nilainya masih relatif kecil
dibandingkan dengan komponen lainnya. Nilai komponen konsumsi LNPRT pada tahun 2011
mencapai Rp.3,76miliar kemudian meningkat menjadi Rp.4,73miliar pada tahun
2013.Peningkatan konsumsi LNPRT selama tahun 2012-2013 berhubungan dengan
pelaksanaan pesta demokrasi daerah yaitu pemilihan Gubernur Sulawesi Tenggara di tahun
2012 serta persiapan pelaksanaan pileg dan pilpres yang dimulai sejak tahun 2013.

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

3.14

Tabel 3.5. Perkembangan Indikator Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non-Profit PDRB


menurut Penggunaan, di Wakatobi, 2011-2013
Rincian

2011

2013

(2)

(3)

(4)

1. Pengeluaran ADH berlaku (milyar)

3,76

4,18

4,73

2. Pengeluaran ADH Konstan (milyar)

1,47

1,56

1,72

3. Distribusi ADH berlaku (%)

0,40

0,40

0,40

12,88

6,65

9,72

0,62

0,35

0,60

18,15

4,36

3,11

4. Pertumbuhan ADH Konstan (%)


5. Andil Pertumbuhan (%)
6. Implisit (%)

s.

go

Sumber : Lampiran 1,2,3,6,10,12

.id

(1)

2012

bp

Jika dilihat peranannya tampak kontribusi komponen konsumsi LNPRT relatif rendah
dan tidak mengalami perubahan selama periode 2011-2013. Peranan konsumsi LNPRT

b.

terhadap PDRB sebesar 0,40 persen. Selanjutnya, jika dilihat laju pertumbuhan komponen

ik
a

konsumsi LNPRT sangat fluktuatifbahkan cenderung menurun. Pada tahun 2011komsumsi


LNPRT tumbuh sebesar 12,88 persen, kemudian melambat menjadi 6,35 pesen di tahun

ob

2012, namuan kembali meningkat menjadi 9,72 persen di tahun 2013. Perkembangan

at

LNPRT selalu mendapat dukungan dari pemerintah dan berbagai lembaga donor

ak

internasional. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun pemerintah selalu mendukung


kegiatan-kegiatan yang dikembangkan oleh lembaga LNPRT namun perkembangannya

belum mampu mendongkrak perkembangan ekonomi Wakatobi secara agregat jika

tp

://

dibandingkan dengan komponen-komponen PDRB yang lain.

ht

3.2.3. Konsumsi Pemerintah


Pengeluaran konsumsi Pemerintah meliputi konsumsi Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah. Pemerintah Pusat meliputi seluruh instansi negara, baik yang ada di
pusat maupun kantor wilayah (vertikal) nya di daerah. Sedangkan Pemerintah Daerah
meliputi Pemerintah Kabupaten/Kota, dan Pemerintahan Desa beserta perangkat dinasnya
di masing-masing tingkat pemerintahan tersebut. Pengeluaran konsumsi Pemerintah
tingkat kabupaten mencakup konsumsi Pemerintah Desa, Pemerintah Kabupaten/Kota,

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

3.15

ditambah dengan konsumsi Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat yang merupakan
bagian dari konsumsi Pemerintah Kabupaten.
Dalam menjalankan kegiatan sehari-hari pemerintah membutuhkan anggaran yang
digunakan untuk keperluan belanja

rutin pegawai

dan keperluan pembiayaan

pembangunan. Besar kecilnya pengeluaran konsumsi pemerintah dipengaruhi oleh


komponen belanja pegawai, belanja barang dan belanja modal serta bantuan sosialdan
penerimaan dari barang dan jasa yang dijual. Peran yang dimiliki oleh pemerintah ini
digunakan terutama untuk membiayai kegiatan-kegiatan pelayanan yang tidak dapat

.id

dilakukan oleh pihak swasta. Jumlah pengeluaran pemerintah ini merupakan salah satu
komponen penting dari PDRB, karena pengeluaran/belanja pemerintah bisa menjadi

go

stimulus bagi perekonomian Wakatobi.

s.

Kenaikan pengeluaran pemerintah dari tahun 2011 hingga tahun 2013 bertujuan

bp

untuk membiayai kegiatan yang hasil, manfaat dan dampaknya dapat dinikmati oleh
masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengeluaran konsumsi

b.

pemerintah secara nominal selalu semakin membesar dari tahun ke tahunnya sesuai

ik
a

dengan peningkatan pada APBD dan APBN. Pengeluaran pemerintah naik dari Rp.328,72

ob

miliar pada tahun 2011 menjadi Rp.396,80miliar pada tahun 2013.

ak

at

Tabel 3.6. Perkembangan Indikator Pengeluaran Konsumsi Pemerintah PDRB menurut


Penggunaan, di Wakatobi, 2011-2013
Rincian

2011

2012

2013

(2)

(3)

(4)

1. Pengeluaran ADH berlaku (milyar)

328,72

359,63

396,80

2. Pengeluaran ADH Konstan (milyar)

118,15

124,76

132,23

35,22

34,03

33,43

3,75

5,60

5,98

5. Andil Pertumbuhan (%)

15,69

23,91

29,29

6. Implisit (%)

13,75

3,60

4,11

tp

://

(1)

3. Distribusi ADH berlaku (%)

ht

4. Pertumbuhan ADH Konstan (%)

Sumber : Lampiran 1,2,3,6,10,12


Pertumbuhan konsumsi Pemerintah secara riil menunjukan kesamaan dimana
pembiayaan pemerintah relatif stabil. Stabil dalam hal ini adalah proporsi penggunaan dari

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

3.16

hasil wilayah dengan penggunaan yang bersumber dari luar wilayah berimbang. Besarnya
laju konsumsi pemerintah secara riil pada tahun 2011 tercatat sebesar 3,75 persen,
kemudian meningkat menjadi 5,98 persen di tahun 2013.
3.2.4. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB)
Salah satu komponen pengeluaran PDRB adalah Investasi. Investasi diartikan sebagai
suatu kegiatan penanaman modal pada berbagai kegiatan ekonomi (produksi) dengan

.id

harapan untuk memperoleh keuntungan di masa-masa yang akan datang. Secara prinsip,
investasi dibedakan menjadi investasi finansial dan investasi non-finansial.

go

Investasi finansial lebih merupakan investasi dalam bentuk kepemilikan instrumen

s.

finansial seperti uang tunai, tabungan, deposito, modal dan penyertaan surat berharga,

bp

obligasi, dan sejenisnya. Sedangkan investasi non-finansial merupakan investasi yang


direalisasikan dalam bentuk investasi fisik (investasi riil) yang berwujud kapital atau barang

b.

modal, termasuk di dalamnya inventori (persediaan). Meskipun demikian, investasi finansial

ik
a

pada suatu saat juga dapat direalisasikan sebagai investasi fisik.


Kapital diartikan sebagai berbagai bentuk barang modal seperti bangunan, mesin

ob

dan perlengkapannya, sarana atau alat transportasi, serta barang modal lainnya yang
seperti

yang

dijelaskan

dalam

system

of

NationalAccounts

(SNA)

ak

kapital

at

memberikan kontribusi terhadap kelangsungan suatu proses produksi. Pengertian lain dari
adalahPembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Menurut SNA, PMTB identik dengan

besarnya investasi fisik (real investment) yang direalisasikan di suatu negara atau wilayah

://

pada suatu waktu tertentu (physical domestic investment). PMTB disebut sebagai bruto

tp

karena di dalamnya masih terkandung unsur penyusutan, atau nilai barang modal sebelum

ht

diperhitungkan nilai penyusutannya.


Van den Berg (2001) mengemukakan bahwa investasi fisik memiliki eksternalitas

positif yaitu suatu aktifitas yang memberikan dampak positif terhadap aktifitas atau
individu lainnya. Eksternalitas positif tersebut dapat membantu perekonomian mengatasi
diminishing return (suatu kondisi dimana setiap penambahan suatu input, dengan asumsi
bahwa input yang lain adalah konstan, maka akan mengalami pertumbuhan output yang
semakin menurun) dandepreciation (penyusutan).

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

3.17

Letak wilayah Wakatobi yang merupakan pusat segitiga karang dunia memberikan
suatu keistimewaan tersendiri untuk menarik investor baik dari dalam negeri maupun
manca negara. Demikian pula halnya dengan komitmen pemerintah kabupaten Wakatobi
dalam menciptakan iklim yang kondusif bagi keberlangsungan investasi. Salah satu prestasi
yang mengesankan adalah ditetapkannya Kabupaten Wakatobi sebagai kawasan cagar
biosfer dunia. Prestasi tersebut tentunya mampu memperbesar peluang untuk
meningkatkan investasi di Wilayah Wakatobi.

Rincian

2011
(2)

2012

2013

(3)

(4)

1. Pengeluaran ADH berlaku (milyar)

437,56

515,28

605,59

2. Pengeluaran ADH Konstan (milyar)

bp

s.

(1)

go

.id

Tabel 3.7. Perkembangan Indikator Komponen PMTB PDRB menurut Penggunaan,


Wakatobi, 2011-2013

174,81

198,92

223,67

46,88

48,77

51,03

11,23

13,79

12,44

64,84

87,12

97,12

6,86

3,49

4,52

b.

3. Distribusi ADH berlaku (%)


4. Pertumbuhan ADH Konstan (%)

ik
a

5. Andil Pertumbuhan (%)

ob

6. Implisit (%)

di

at

Sumber : Lampiran 1,2,3,6,10,12

ak

Berdasarkan harga berlaku, besaran PMTB selama periode tahun 2011-2013 terus

mengalami peningkatan dari Rp.437,56 milyar pada tahun 2011, naik menjadi Rp.605,59

://

miliar pada tahun 2013. Sedangkan berdasarkan harga konstan nilai PMTB naik dari

tp

Rp.174,81 miliar pada tahun 2011 menjadi RP.223,67 miliar di tahun 2013.
Komponen PMTB mengalami pertumbuhan yang tampak stabil selama 2011-2013.

ht

Pada tahun 2011, PMTB tumbuh sebesar 11,23 persen, sempat mengalami perlambatan di
tahun 2012. Namun kembali meningkat menjadi 12,44 persen di tahun 2013.
Apabila ditinjau dari kontribusinya, komponen PMTB selama periode 2011-2013
mempunyai peranan yang semakin meningkat terhadap total PDRB. Hingga tahun 2013
kontribusi PMTB terhadap PDRB mencapai 51,03 persen. Data tersebut menunjukkan
bahwa investasi mempunyai peranan yang cukup besar dalam struktur perekonomian di
Wakatobi.

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

3.18

Perlu ditekankan bahwa PMTB tidak hanya mencakup investasi fisik (riil) institusi
swasta, namun juga mencakup institusi rumahtangga dan pemerintah sehingga diperlukan
kehati-hatian dalam membandingkan secara langsung antara PMTB dan investasi swasta
PMA dan PMDN. Adapun proporsi terbesar PMTB di Wakatobi selama kurun waktu 20112013 masih didominasi oleh bangunan, disusul kemudian mesin, transportasi, dan
perlengkapan lainnya.

.id

3.3.5. Inventori
Inventori merupakan salah satu pendukung utama dalam proses produksi. Tidak

go

adanya kontrol terhadap inventori dapat menyebabkan berhentinya proses produksi. Di lain

s.

pihak semakin banyak penumpukan inventori akan mengakibatkan tingginya biaya

bp

inventori. Perubahan inventori dapat terjadi sebagai akibat dari peningkatan maupun
penurunan dalam penggunaan bahan baku dan pelepasan barang-barang hasil produksi bila

b.

dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada dasarnya, fungsi inventori di bagi dalam dua
a.

ik
a

bagian sebagai berikut :

Inventori dalam bentuk bahan baku, bahan jadi, bahan setengah jadi serta bahan

ob

penolong. Inventori ini sangat diperlukan tujuannya adalah untuk mengamankan


Inventori yang merupakan sisa produksi yang belum terjual.Dalam ekonomi makro,

ak

b.

at

proses produksi selama jangka waktu tertentu.


inventori ini mengakibatkan kerugian pada suatu perusahaan, tetapi pada ekonomi

mikro, inventori ini diperlukan dan harus dijaga keberadaannya hal ini untuk

tp

://

menghindari kelangkaan barang yang akan berdampak pada kenaikan harga.

ht

Secara nominal, besaran inventori selama periode tahun 2011-2013 mengalami

peningkatan dari Rp.15,39 milyar pada tahun 2011, naik menjadi Rp.21,73 milyar tahun
2013. Sementara itu apabila dilihat secara riil (tanpa pengaruh inflasi), maka laju
pertumbuhan komponen inventori mengalami fluktuasi namun dapat tumbuh pada angka
13,56 persen pada tahun 2013
Apabila ditinjau dari kontribusinya, komponen inventori selama periode 2011-2013
mempunyai peranan yang semakin meningkat terhadap total PDRB. Hingga tahun 2013,
kontribusi inventori sebsar 1,83 persen pada tahun 2013. Data tersebut menunjukkan

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

3.19

bahwa inventori mempunyai peranan yang sangat kecil dalam struktur perekonomian di
Wakatobi.
Tabel 3.8. Perkembangan Indikator Komponen Inventori PDRB menurut Penggunaan, di
Wakatobi, 2011-2013
Rincian

2011

2012

2013

(2)

(3)

(4)

1. Pengeluaran ADH berlaku (milyar)

15,39

18,15

21,73

2. Pengeluaran ADH Konstan (milyar)

8,58

10,28

11,68

1,72

1,83

68,81

19,81

13,56

5. Andil Pertumbuhan (%)

12,86

6,14

5,47

6. Implisit (%)

16,50

(1,51)

5,42

s.

3. Distribusi ADH berlaku (%)

go

1,65

4. Pertumbuhan ADH Konstan (%)

.id

(1)

b.

bp

Sumber : Lampiran 1,2,3,6,10,12

ik
a

3.3.6. Ekspor Impor

ob

Kerjasama perdagangan internasional antar negara baik bilateral maupun


multilateral mempunyai sejarah yang panjang di Indonesia. Kerjasama internasional

at

khususnya dalam bidang perdagangan yaitu dengan keikutsertaan Indonesia dalam

ak

organisasi perdagangan global.

Tidak dapat dipungkiri dampak yang dirasakan dari liberalisasi perdagangan yaitu

://

terbukanya keran impor untuk berbagai jenis barang dan jasa. Antisipasi terhadap

tp

liberalisasi perdagangan diperlukan guna menghindari efek negatif yang mungkin terjadi
terhadap perekonomian nasional. Kebijakan dan strategi perdagangan yang tepat dengan

ht

mengidentifikasi struktur perdagangan khususnya di Wakatobi sangat penting untuk


menentukan langkah strategis yang harus ditempuh.
Sadono Sukirno mengidentifikasi empat benefit dari aktivitas perdagangan yaitu:
a.

Memperoleh barang yang tidak bisa diproduksi di negara sendiri

b.

Memperoleh keuntungan dari spesialisasi

c.

Memperluas pasar dan menambah keuntungan

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

3.20

d.

Transfer teknologi modern. Hal di atas menjelaskan bahwa aktivitas perdagangan


internasional turut memberikan andil dalam peningkatan nilai tambah dalam
perekonomian suatu wilayah.
Jika ditinjau dari letak geografis Wakatobi yang berada di antara kawasan Indonesia

Barat dan Timur. Hal ini memungkinkan wilayah Wakatobi menjadi jalur perdagangan antar
dua wilayah tersebut.

Rincian

2011
(2)

2012

2013

(3)

(4)

s.

(1)

go

.id

Tabel 3.9. Perkembangan Indikator Komponen Ekspor netto PDRB menurut Penggunaan, di
Wakatobi, 2011-2013

(389,26)

(492,09)

(596,78

2. Pengeluaran ADH Konstan (milyar)

(216,86)

(245,19)

(270,50

(41,71)

(46,61)

(50,33)

(4,48)

(13,06)

(10,32

(34,22)

(102,51)

(99,45)

(14,18)

(11,81)

(9,93)

5. Andil Pertumbuhan (%)

ob

6. Implisit (%)

ik
a

4. Pertumbuhan ADH Konstan (%)

b.

3. Distribusi ADH berlaku (%)

bp

1. Pengeluaran ADH berlaku (milyar)

ak

at

Sumber : Lampiran 1,2,3,6,10,12

Perkembangan ekspor dan impor di wilayah Wakatobi menunjukkantendensi yang

meningkat selama tiga tahun terakhir (2011-2013) dengan cakupan perdagangan luar

://

negeri dan antar wilayah. Ekspor netto Wakatobi selalu bernilai negatif yang menunjukan

tp

bahwa nilai ekspornya jauh lebih rendah dibanding nilai impornya. Nilai net ekspor

ht

Wakatobi mencapai minus Rp.596,78 miliar. Selanjutnya, dapat pula diidentifikasi


pertumbuhan net-ekspor yang terjadi pada tahun 2013 mencapai 10,32 persen.
Pertumbuhannya selalu positif mempertegas bahwa nilai impor Wakatobi jauh lebih tinggi
dibanding ekspornya.
Sementara, dari segi peranannya dalam perekonomian Wakatobi, selama tiga tahun
2011-2013 net ekspor memiliki pola yang semakin meningkat dalam arti negatif. Kontribusi
ekspor terhadap perekonomian Wakatobi mengalami trend yang semakin mengecil (nilai
mutlak minusnya semakin besar). Pada tahun 2011 net-ekspor masih memiliki kontribusi

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

3.21

sebesar minus 41,71 persen, namun pada tahun 2013 kontribusi net-ekspor semakin
bertambah minusnya menjadi minus 50,33 persen. Hal ini menunjukan ketidakseimbangan

ht

tp

://

ak

at

ob

ik
a

b.

bp

s.

go

.id

neraca perdagangan Wakatobi.

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

3.22

.id
go
s.
bp
b.
ht

tp

://

ak

at

ob

ik
a

LAMPIRAN

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

4.1

Tabel 4.1. PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Atas Dasar Harga Berlaku Tahun
2011-2013 (Juta Rupiah)
No. Jenis Pengeluaran

2011
(2)

e)

2013

(3)

a. Makanan

287.132,99

b. Bukan makanan

249.289,43

650.601,68

(4)

.id

536.422,42

316.666,42

s.

Pengeluaran Konsumsi
Rumahtangga

e)

753.746,23

359.287,49
394.458,75

4.179,46

4.728,59

328.715,32

359.628,98

396.801,01

437.562,34

515.448,44

605.588,05

15.385,23

18.154,57

21.734,58

b.

bp

333.935,26

Pengeluaran Konsumsi Lembaga


Nirlaba

3.755,13

Pengeluaran Konsumsi
Pemerintah

Pembentukan Modal Tetap


Domestik Bruto

Perubahan Inventori

Net Ekspor

-389.261,25

-492.089,32

-596.776,09

932.579,19

1.055.758,04

1.185.822,38

tp

://

ak

at

ob

ik
a

ht

2012

go

(1)

e)

Produk Domestik Regional Bruto

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

4.2

Tabel 4.2. PDRB Kabupaten/Wakatobi Menurut Pengeluaran Atas Dasar Harga Konstan
Tahun 2011-2013 (Juta Rupiah)
No. Jenis Pengeluaran

2011
(2)

a. Makanan

Konsumsi LNP

Konsumsi Pemerintah

PMTB

Perubahan Inventori

Net Ekspor

226.278,66

243.279,77

110.801,19

116.883,74

123.831,28

92.032,33

109.394,92

119.448,49

1.564,34

1.716,46

124.763,50

132.227,56

174.810,71

198.917,34

223.666,50

8.582,14

10.282,37

11.676,66

(216.864,18)

(245.193,34)

(270.503,62)

288.976,24

316.612,87

342.063,34

1.466,80

ik
a

at

ob

118.147,25

ak

://

(4)

ht

tp

e)

202.833,52

b.

PDRB

(3)

bp

b. Bukan makanan

2013

.id

Konsumsi Rumah tangga

e)

go

2012

s.

(1)

e)

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

4.3

Tabel 4.3. Distribusi PDRB Wakatobi Menurut Pengeluaran Atas Dasar Harga Berlaku,
2011 - 2013, (Persen)
No. Jenis Pengeluaran

2011

(1)

2012

(2)

b. Bukan makanan

26,73

61,62
29,99

0,40

0,40

0,40

35,25

34,06

33,46

46,92

48,81

51,07

1,65

1,72

1,83

(41,74)

(46,61)

(50,33)

100,00

100,00

100,00

s.

33,26

bp

Konsumsi Pemerintah

PMTB

Perubahan Inventori

Net Ekspor

at

://

ak

30,30

31,63

ob

Konsumsi LNP

63,56

b.

30,79

e)

(4)

.id

57,52

a. Makanan

2013

go

Konsumsi Rumah tangga

e)

(3)

ik
a

e)

ht

tp

PDRB

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

4.4

Tabel 4.4. Distribusi PDRB Wakatobi Menurut Pengeluaran Atas Dasar Harga Konstan,
2011 - 2013, (Persen)
No. Jenis Pengeluaran

2011

(1)

2012

(2)

2013

e)

(4)

71,12

71,47

a. Makanan

38,34

36,92

36,20

b. Bukan makanan

31,85

34,55

34,92

0,49

0,50

40,88

39,41

38,66

60,49

62,83

65,39

2,97

3,25

3,41

(75,05)

(77,44)

(79,08)

100,00

100,00

100,00

Konsumsi Pemerintah

PMTB

Perubahan Inventori

Net Ekspor

at

ak

://

go
s.

0,51

b.

Konsumsi LNP

ob

ht

tp

PDRB

.id

70,19

bp

Konsumsi Rumah tangga

e)

(3)

ik
a

e)

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

4.5

Tabel 4.5. Perkembangan PDRB Wakatobi Menurut Pengeluaran Atas Dasar Harga
Berlaku, 2011 - 2013, (Persen)
No. Jenis Pengeluaran

2011

(1)

e)

b. Bukan makanan

15,01

21,29
10,29
33,95

Konsumsi Pemerintah

PMTB

Perubahan Inventori

Net Ekspor

13,14

18,01

9,40

10,34

18,84

17,80

17,53

96,66

18,00

19,72

19,30

26,42

21,27

15,61

13,21

12,32

at
ak

ht

tp

://

18,12

11,30

bp

13,46

33,36

ik
a

Konsumsi LNP

15,85

b.

s.

10,94

e)

(4)

.id

12,80

a. Makanan

2013

(3)

go

Konsumsi Rumah tangga

PDRB

2012

(2)

ob

e)

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

4.6

Tabel 4.6. Pertumbuhan PDRB Wakatobi Menurut Pengeluaran Atas Dasar Harga Konstan,
2011 - 2013, (Persen)
No. Jenis Pengeluaran

2011

(1)

2012

(2)

6,15

5,49

18,87

Konsumsi Pemerintah

PMTB

Perubahan Inventori

Net Ekspor

5,94
9,19
9,72

3,75

5,60

5,98

11,23

13,79

12,44

68,81

19,81

13,56

4,48

13,06

10,32

10,38

9,56

8,04

b.
ik
a

at

ak

7,51

6,65

12,88

bp

Konsumsi LNP

ht

tp

://

11,56

s.

b. Bukan makanan

e)

(4)

.id

5,68
5,30

2013

(3)

a. Makanan

PDRB

e)

go

Konsumsi Rumah tangga

ob

e)

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

4.7

Tabel 4.7. Indeks Berantai PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Atas Dasar
Harga Berlaku Tahun 2011-2013 (Persen)
No. Jenis Pengeluaran

2011
(2)

e)

2013

(3)

e)

(4)

121,29

115,85

a. Makanan

110,94

110,29

113,46

b. Bukan makanan

115,01

133,95

118,12

s.

Konsumsi Pemerintah

PMTB

Perubahan Inventori

Net Ekspor

133,36

111,30

113,14

109,40

110,34

118,84

117,80

117,53

196,66

118,00

119,72

119,30

126,42

121,27

115,61

113,21

112,32

bp

Konsumsi LNP

b.

ik
a

118,01

at

ak

ht

tp

://

PDRB

go

112,80

Konsumsi Rumah tangga

ob

2012

.id

(1)

e)

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

4.8

Tabel 4.8. Indeks Berantai PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Atas Dasar
Harga Konstan Tahun 2011-2013 (Persen)
2011

e)

2013

e)

(2)

(3)

(4)

105,68

111,56

107,51

a. Makanan

105,30

105,94

b. Bukan makanan

106,15

118,87

109,19

Konsumsi Pemerintah

PMTB

Perubahan Inventori

Net Ekspor

112,88

106,65

109,72

105,60

105,98

111,23

113,79

112,44

168,81

119,81

113,56

104,48

113,06

110,32

110,38

109,56

108,04

bp

Konsumsi LNP

b.

ik
a

103,75

at

ak

ht

tp

://

PDRB

105,49

s.

Konsumsi Rumah tangga

ob

2012

go

(1)

e)

.id

No. Jenis Pengeluaran

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

4.9

Tabel 4.9. Indeks Implisit PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran,


2011 - 2013, (Persen)
No. Jenis Pengeluaran

2011
(2)

e)

2013

(3)

e)

(4)

264,46

287,52

309,83

a. Makanan

259,14

290,14

b. Bukan makanan

270,87

305,26

330,23

Konsumsi LNP

Konsumsi Pemerintah

PMTB

Perubahan Inventori

Net Ekspor

275,49

288,25

300,09

250,23

259,04

270,75

179,27

176,56

186,14

179,50

200,69

220,62

322,67

333,45

346,67

ak

at

ob

ik
a

278,23

ht

tp

://

go
267,17

256,01

bp

PDRB

270,92

s.

Konsumsi Rumah tangga

b.

2012

.id

(1)

e)

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

4.10

Tabel 4.10. Implisit PDRB Wakatobi Menurut Pengeluaran, 2011 - 2013, (Persen)
No. Jenis Pengeluaran

2011

(1)

2012

(2)

e)

2013

(3)

e)

(4)
8,72

7,76

a. Makanan

5,36

4,55

7,09

b. Bukan makanan

8,35

go
s.

13,75

3,60

4,11

6,85

3,52

4,52

16,50

(1,51)

5,42

14,18

11,81

9,93

4,74

3,33

3,96

Konsumsi Pemerintah

PMTB

Perubahan Inventori

Net Ekspor

at

ob

b.

bp

18,15

ak

8,18
3,11

Konsumsi LNP

ht

tp

://

12,69

4,36

PDRB

.id

6,73

Konsumsi Rumah tangga

ik
a

e)

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

4.11

Tabel 4.11. Sumber Pertumbuhan PDRB Wakatobi Menurut Pengeluaran, 2011 - 2013,
(Persen)
No. Jenis Pengeluaran

2011

(1)

8,11

2,19

6,01

3,18

0,06

0,03

0,05

1,63

2,29

2,36

6,74

8,34

7,82

1,34

0,59

0,44

(3,55)

(9,80)

(7,99)

10,38

9,56

8,04

Perubahan Inventori

Net Ekspor

b.

PMTB

ik
a

bp

s.

2,04

Konsumsi Pemerintah

at
ak

ht

tp

://

5,37

2,10

b. Bukan makanan

e)

(4)

.id

4,17
2,13

Konsumsi LNP

2013

(3)

a. Makanan

e)

go

Konsumsi Rumah tangga

PDRB

2012

(2)

ob

e)

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

4.12

Tabel 4.12. Andil Komponen Pengeluaran Terhadap Pertumbuhan PDRB Wakatobi


Menurut Pengeluaran, 2011 - 2013, (Persen)
2011

(1)
Konsumsi Rumah tangga

84,83

66,80

22,01
62,82

s.

19,61

Konsumsi Pemerintah

PMTB

Perubahan Inventori

Net Ekspor

39,50
0,60

15,71

23,94

29,33

64,90

87,23

97,24

12,87

6,15

5,48

(34,22)

(102,51)

(99,45)

100,00

100,00

100,00

ik
a
ob

at

ak

27,30

0,35

0,62

bp

Konsumsi LNP

e)

40,13

b. Bukan makanan
2

2013

(4)

20,52

ht

tp

://

e)

(3)

a. Makanan

PDRB

2012

(2)

b.

e)

.id

Jenis Pengeluaran

go

No.

Laporan Studi Penyusunan PDRB Kabupaten Wakatobi Menurut Pengeluaran Tahun 2013

4.13

ht
at

ak

://

tp

s.

bp

b.

ik
a

ob

.id

go