Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN DIARE PADA ANAK

Oleh :
KELOMPOK III
Anggota :
Rinny intan (470113042)
Susianawati (470113048)
Wahidatussholikah (470113049)
Wahyu eka W. (470113050)
Wiwik wahyu N. (470113052)
Faizal deni (470113081)

AKADEMI KEPERAWATAN MADIUN


TAHUN AJARAN 2014/2015

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb
Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang
membahas ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN DIARE.
Makalah ini disusun dalam rangka untuk memenuhi tugas terstruktur mata
ajaran Keperawatan Anak.
Dalam penyusunan makalah ini penulis mengalami beberapa hambatan dan
kesulitan, namun atas bantuan serta bimbingan dari beberapa pihak makalah ini dapat
terselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Oleh karena itu, pada kesempatan ini
penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari di dalam makalah ini mungkin terdapat kesalahankesalahan, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun,
guna penyempurnaan makalah ini di kemudian hari.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga makalah ini dapat
bermanfaat untuk kita semua.

Wassalamualaikum Wr.Wb.

Madiun,20 Mei 2015

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sampai saat ini penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan dunia
terutama di negara berkembang. Besarnya masalah tersebut terlihat dari tingginya
angka kesakitan dan kematian akibat diare (Salwan, 2008). Dari tahun ke tahun diare
tetap menjadi salah satu penyakit yang menyebabkan mortalitas dan malnutrisi pada
anak
Diare atau dikenal dengan sebutan mencret memang merupakan penyakit yang
masih banyak terjadi pada masa kanak dan bahkan menjadi salah satu penyakit yang
banyak menjadi penyebab kematian anak yang berusia di bawah lima tahun (balita).
Karenanya, kekhawatiran orang tua terhadap penyakit diare adalah hal yang wajar
dan harus dimengerti. Justru yang menjadi masalah adalah apabila ada orang tua yang
bersikap tidak acuh atau kurang waspada terhadap anak yang mengalami diare.
Menurut data World Health Organization(WHO) pada tahun 2009, diare
adalah penyebab kematian kedua pada anak dibawah 5 tahun. Secara global setiap
tahunnya ada sekitar 2 miliar kasus diare dengan angka kematian 1.5 juta pertahun.
Pada negara berkembang, anak-anak usia dibawah 3 tahun rata-rata mengalami 3
episode diare pertahun. Setiap episodenya diare akan menyebabkan kehilangan nutrisi
yang dibutuhkan anak untuk tumbuh, sehingga diare merupakan penyebab utama
malnutrisi pada anak (WHO, 2009).
Untuk skala nasional berdasarkan data dari Profil Kesehatan Indonesia tahun
2008, penderita diare pada tahun tersebut adalah 8.443 orang dengan angka kematian
akibat diare adalah 2.5%. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya, yaitu 1.7%
dengan jumlah penderita diare adalah 3.661 orang. Untuk tahun 2006, penderita diare
di Indonesia adalah 10.280 orang dengan angka kematian 2.5%.
Sementara dari data Profil Kesehatan Provinsi Sumatra Utara tahun 2008,
diare menduduki urutan kedua dari sepuluh penyebab terbanyak kunjungan ke
puskesmas setelah Influenza dengan tingkat kematian pada penyakit diare mengalami

peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Tahun 2008 Case Fatality Rate (CFR)
akibat diare sebesar 4.78% dengan 10 penderita meninggal dari 209 kasus. Angka ini
naik dari tahun sebelumnya yaitu dengan CFR 1.31% dengan 4 penderita meninggal
dari 304 kasus.
Salah satu langkah dalam pencapaian target Millenium Development Goals/
MDGs (Goal ke-4) adalah menurunkan kematian anak menjadi 2/3 bagian dari tahun
1990 sampai pada 2015. Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT),
Studi Mortalitas dan Riset Kesehatan Dasar dari tahun ke tahun diketahui bahwa
diare masih menjadi penyebab utama kematian balita di Indonesia. Penyebab utama
kematian akibat diare adalah tata laksana yang tidak tepat baik di rumah maupun di
sarana kesehatan. Untuk menurunkan kematian karena diare perlu tata laksana yang
cepat dan tepat (Kemenkes, 2011).
Berbagai faktor mempengaruhi terjadinya kematian, malnutrisi, ataupun
kesembuhan pada pasien penderita diare. Diare disebabkan faktor cuaca, lingkungan,
dan makanan. Perubahan iklim, kondisi lingkungan kotor, dan kurang memerhatikan
kebersihan makanan merupakan faktor utamanya. Penularan diare umumnya melalui
4F, yaitu Food, Fly , Feces, dan Finger. Pada balita, kejadian diare lebih berbahaya
dibanding pada orang dewasa dikarenakan komposisi tubuh balita yang lebih banyak
mengandung air dibanding dewasa. Jika terjadi diare, balita lebih rentan mengalami
dehidrasi dan komplikasi lainnya yang dapat merujuk pada malnutrisi ataupun
kematian.
Oleh karena itu, upaya pencegahan diare yang praktis adalah dengan memutus
rantai penularan tersebut. Sesuai data UNICEF awal Juni 2010, ditemukan salah satu
pemicu diare baru, yaitu bakteri Clostridium difficile yang dapat menyebabkan infeksi
mematikan di saluran pencernaan. Bakteri ini hidup di udara dan dapat dibawa oleh
lalat yang hinggap di makanan. (lifestyle.okezone.com).

B.RUMUSAN MASALAH
1. APA Pengertian Diare anak
2. Apa etiologi diare anak
3. Apa manifestasi klinis diare anak
4. Apa saja pemeriksaan diagnostic pada diare anak
5. Bagaimana pengobatan diare pada anak
6. Apa saja komplikasi diare pada anak
C. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan Pada anak dengan diare
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui Pengertian Diare
b. Untuk mengetahui Etiologi Diare
e. Untuk mengetahui Manifestasi Klinis Diare
f. Untuk Mengetahui Pemeriksaan Diagnostik
g. Untuk mengetahui Pengobatan Diare
h. Untuk mengetahui Komplikasi Diare

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Diare adalah pengeluaran tinja yang tidak normal atau cair (Hipocrates)
Diare adalah buang air besar yang tida nomral dan cair, dengan frekuensi lebih
banyak dari biasanya (Neonatus > 4 kali dan bayi-anak > 3 kali dalam sehari)
(Lab IKA FKUI, 1988).
B. Etiologi
Penyebab diare (Lab IKA FKUA, 1984)
1. Infeksi
a.Infeksi enteral :
Bakteri
Virus
Parasit
b.

: Vibrio, entamoeba coli, salmonella, shigela


: enterovorus, adenovirus, rotavirus, asatrovirus
: cacing, protozoa, jamur

Infeksi parenteral
Infeksi dibagian tubuh lain di luar alat pencernaan ( ISPA, saluran
kemih dan OMA)

2.Malabsorbsi
a. Malabsorbsi karbohidrat (intoleransi laktosa)
b. Malabsorbsi protein
c. Malabsorbsi lemak
3. Faktor makanan
4. Faktor psikologis
C. Derajat Dehidrasi (Lab IKA FKUI, 1988)
1. Kehilangan berat badan
a. 2,5 % tidak ada dehidrasi
b. 2,5-5% Dehidrasi ringan
c. 5-10 % dehidrasi sedang
d. > 10% dehidrasi berat

2. Skor Maurice King


Bagian Tubuh
Yang Diperiksa
Keadaan Umum
Turgor
Mata
UUB
Mulut
Denyut Nadi

0
Sehat
Normal
Nomral
Normal
Normal
Kuat
< 120

N I LAI
1
Gelisah cengeng,
apatis, ngantuk
Sedikit, kurang
Sedikit cekung
Sedikit cekung
Kering
Sedang
(120-140)

2
Mengigau, koma/syok
Sangat kurang
Sangat cekung
Sangat cekung
Kering, sianosis
Lemah
> 140

KETERANGAN :
Skor :
0-2 dehidrasi ringan
3-6 dehidrasi sedang
7-12 Dehidrasi berat
Pada anak-anak Ubun Ubun Besar sudah menutup
Untuk kekenyalan kulit :
1 detik
: dehidrasi ringan
1-2 detik
: dehidrasi sedang
> 2 detik
: dehidrasi berat
D.Menghitung Balance Cairan
Menghitung Balance cairan anak tergantung tahap umur, untuk menentukan Air
Metabolisme, menurut Iwasa M, Kogoshi S dalam Fluid Tehrapy Bunko do (1995)
dari PT. Otsuka Indonesia yaitu:
Usia Balita (1 3 tahun)
: 8 cc/kgBB/hari
Usia 5 7 tahun
: 8 8,5 cc/kgBB/hari
Usia 7 11 tahun
: 6 7 cc/kgBB/hari
Usia 12 14 tahun
: 5 6 cc/kgBB/hari
Untuk IWL (Insensible Water Loss) pada anak = (30 usia anak dalam tahun) x
cc/kgBB/hari
Jika anak mengompol menghitung urine 0,5 cc 1 cc/kgBB/hari
Balance cairan = Intake cairan Output Cairan

E. Cara Memasang Wing Needle

a. Alat dan bahan :


a) Wing needle
b) Kapas
c) Holder
d) alkohol 70%
e) vacum tube
f) tourniquet
b. Kelengkapan perawat:
a) Handscoon
b) Masker
c) Jas Laboratorium
c. Cara Kerja:
1) Persiapkan alat-alat yang akan digunakan untuk pengambilan darah
2) Cek kembali identitas pasien dan pemeriksaan darah apa saja yang
akan dilakukan
3) Pasang torniquet pada lengan, di atas bagian yang akan di tusuk
4) Probandus diminta untuk mengepalkan tangan lalu dipompa (digerakgerakkan lurus menekuk ke atas dan ke bawah)
5) Palpasi dengan telunjuk untuk memastikan bagian yang akan ditusuk
6) Lepaskan torniquet, lalu jarum pasang pada holder
7) Pasang torniquet diatas pengambilan darah vena/lengan bagian atas
8) Disinfeksi permukaan kulit yang akan ditusuk jarum dengan kapas
alkohol 70%
9) Tusukan bagian yang akan diambil darahnya dengan jarum yang telah
dipasang pada holder dengan sudut 15-200
10) Saat indikator darah terlihat dalam jarum maka segera pasang tabung
vacum pada maka darah akan mengalir dengan sendirinya dan
lepaskan tourniquet
11) Setelah darah benar-benar tidak mengalir, maka lepaskan tabung
vakum yang telah berisi darah tersebut
12) Apabila masih memerlukan darah untuk beberapa pemeriksaan maka
masukkan lagi tabung vakum sesuai kebutuhan. Apabila tidak maka

lepaskan jarum yang masih menempel didalam vena dan lepaskan


jarum dari vena perlahan-lahan
13) Plester daerah pengambilan darah tadi
14) Jangan lupa homogenkan sample darah, dalam tabung vacum.
15) Tarik bagian wing pada needle ke bawah,untuk memasukkan jarum,
agar aman, lalu buang ke tempat sampah biohazard.
F. Komplikasi
1. Dehidrasi( ringan, sedang, berat, hipotnik, isotonik, hipertonik).
2. Renjatan Hipovolemik
3. Hipokalemia(meteorismus,hipotoniotot,lemah,bradikardi,perubahan
elektrokardiogram)
4. Hipoglikemia
5. Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defisiensi enzim
lactase.
6. Kejang terjadi pada dehidrasi hipertonik.
7. Malnutrisi energy protein, (akibat muntah dan diare jika lama atau kronik)

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


PENGKAJIAN
A.Identitas
Diare akut lebih sering terjadi pada bayi dari pada anak, frekuensi diare untuk
neonatus > 4 kali/hari sedangkan untuk anak > 3 kali/hari dalam sehari. Status
ekonomi yang rendah merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
terjadinya diare pada nak ditinjau dari pola makan, kebersihan dan perawatan.
Tingkat pengetahuan perlu dikaji untuk mengetahui tingkat perlaku kesehatan dan
komunikasi dalam pengumpulan data melalui wawancara atau interview. Alamat
berhubungan dengan epidemiologi (tempat, waktu dan orang) ( Lab. FKUI, 1988).
B.Keluhan Utama
Keluhan yang membuat klien dibawa ke rumah sakit. Manifestasi klnis berupa
BAB yang tidaknomral/cair lebih banyak dari biasanya (LAN IKA, FKUA, 1984)
C.Riwayat Penyakit Sekarang
Paliatif, apakah yang menyebabkan gejala diare dan apa yang telah dilakukan.
Diare dapat disebabkan oleh karena infeksi, malabsorbsi, faktor makanan dan faktor
psikologis.
Kuantitatif, gejala yang dirasakan akibat diare bisanya berak lebih dari 3 kali
dalam sehari dengan atau tanpa darah atau lendir, mules, muntak. Kualitas, Bab
konsistensi, awitan, badan terasa lemah, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari .
Regional,perut teras mules, anus terasa basah.
Skala/keparahan, kondisi lemah dapat menurunkan daya tahan tubuh dan
aktivitas sehari-hari.
Timing, gejala diare ini dapat terjadi secara mendadak yang terjadi karena
infeksi atau faktor lain, lamanya untuk diare akut 3-5 hari, diare berkepanjangan > 7
hari dan Diare kronis > 14 hari (Lab IKA FKUA, 1984)
D.Riwayat Penyakit Sebelumnya
Infeksi parenteral seperti ISPA, Infeksi Saluran kemih, OMA (Otitis Media
Acut) merupakan faktor predisposisi terjadinya diare (Lab IKA FKUA, 1984)

E.Riwayat Prenatal, Natal dan Postnatal


1.Prenatal
Pengaruh konsumsi jamu-jamuan terutamma pada kehamilan semester
pertama, penyakti selama kehamilan yang menyertai seperti TORCH, DM,
Hipertiroid yang dapat mempengaruhi pertunbuhan dan perkembangan janin di dalam
rahim.
2.Natal
Umur kehamilan, persalinan dengan bantuan alat yang dapat mempengaruhi
fungsi dan maturitas organ vital .
3.Post Natal
Apgar skor < 6 berhubungan dengan asfiksia, resusitasi/hiperbilirubinemia.
Berat badan dan panjang badan untuk mengikuti pertumbuhan dan perkembangan
anak pada usia sekelompoknya. Pemberian ASI dan PASI terhadap perkembangan
daya tahan tubuh alami dan imunisasi buatan yang dapat mengurangi pengaruh
infeksi pada tubuh.
F.Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan dan perkembangan menjadi bahan pertimbangan yang penting
karena setiap individu mempunyai ciri-ciri struktur dan fungsi yang berbeda,
sehingga pendekatan pengkajian fisik dan tindakan harus disesuaikan dengan
pertumbuhan dan perkembangan (Robert Priharjo, 1995)
G.Riwayat Kesehatan Keluarga
1.Penyakit
Apakah ada anggota keluarga yang menderita diare atau tetangga yang
berhubungan dengan distribusi penularan.
2.Lingkungan rumah dan komunitas
Lingkungan yang kotor dan kumuh serta personal hygiene yang kurang
mudah terkena kuman penyebab diare.
3.Perilaku yang mempengaruhi kesehatan
BAB yang tidak pada tempat (sembarang)/ di sungai dan cara bermain anak
yang kurang higienis dapat mempermudah masuknya kuman lewat Fecal-oral.
4.Persepsi keluarga
Kondisi lemah dan mencret yang berlebihan perlu suatu keputusan untuk
penangan awal atau lanjutan ini bergantung pada tingkat pengetahuan dan penglaman
yang dimiliki oleh anggota keluarga (orang tua).

H. Pola Fungsi Kesehatan


1.Pola Nutrisi
Makanan yang terinfeksi, pengelolaan yang kurang hygiene berpengaruh
terjadinya diare, sehingga status gizi dapat berubah ringan samapai jelek dan dapat
terjadi hipoglikemia. Kehilangan Berat Badan dapat dimanifestasikan tahap-tahap
dehidrasi. Dietik pada anak < 1tahun / > 1tahun dengan Berat badan < 7 kg dapat
diberikan ASI / susu formula dengan rendah laktosa, umur > 1 tahun dengan BB > 7
kg dapat diberikan makanan padat atau makanan cair.
2.Pola eliminasi
BAB (frekuensi, banyak, warna dan bau) atau tanpa lendir, darah dapat
mendukung secara makroskopis terhadap kuman penyebab dan cara penanganan lebih
lanjut. BAK perlu dikaji untuk output terhadap kehilangan cairan lewat urine.
3.Pola istirahat
Pada bayi, anak dengan diare kebutuhan istirahat dapat terganggu karena
frekuensi diare yang berlebihan, sehingga menjadi rewel.
4.Pola aktivitas
Klien nampak lemah, gelisah sehingga perlu bantuan sekunder untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari.
I.Pemeriksaan Fisik (Robert Priharjo, 1995).
1.Sistem Neurologi,
Subyektif :Klien tidak sadar, kadang-kadang disertai kejang.
Inspeksi
:Keadaan umum klien yang diamati mulai pertama kali bertemu
dengan klien. Keadaan sakit diamati apakah berat, sedang, ringan
atau tidak tampak sakit. Kesadaran diamati komposmentis, apatis,
samnolen, delirium, stupor dan koma.
Palpasi
:Adakah parese, anestesia,
Perkusi
:Refleks fisiologis dan refleks patologis.
2.Sistem Penginderaan
Subyektif: klien merasa haus, mata berkunang-kunang,
Inspeksi :
Kepala :Kesemetrisan muka, cephal hematoma (-), caput sucedum (-), warna
dan distibusi rambut serta kondisi kulit kepala kering, pada
neonatus dan bayi ubun-ubun besar tampak cekung.
Mata :Amati mata conjunctiva adakah anemis, sklera adakah icterus.
Reflek mata dan pupil terhadap cahaya, isokor, miosis atau
midriasis. Pada keadaan diare yang lebih lanjut atau syok
hipovolumia reflek pupil (-), mata cowong.
Hidung :Pada klien dengan dehidrasi berat dapat menimbulkan asidosis
metabolik sehingga kompensasinya adalah alkalosis respiratorik
untuk mengeluarkan CO2 dan mengambil O2,nampak adanya
pernafasan cuping hidung.

Telinga :Adakah infeksi telinga (OMA, OMP) berpengaruh pada


kemungkinaninfeksi parenteal yang pada akhirnya menyebabkan
terjadinya diare (Lab. IKA FKUA, 1984)
Palpasi:
Kepala :Ubun-ubun besar cekung, kulit kepala kering, sedangkan untuk
anak-anak ubun-ubun besar sudah menutup maximal umur 2 tahun.
Mata, tekanan bola mata dapat menurun,
Telinga :Nyeri tekan, mastoiditis.
3.Sistem Integumen
Subyektif:Kulit kering
Inspeksi :Kulit kering, sekresi sedikit, selaput mokosa kering
Palpasi :Tidak berkeringat, turgor kulit (kekenyalan kulit kembali dalam 1
detik = dehidrasi ringan, 1-2 detik = dehidrasi sedang dan > 2 detik =
dehidrasi berat (Lab IKA FKUI, 1988).
4.Sistem Kardiovaskuler
Subyektif :Badan terasa panas tetapi bagian tangan dan kaki terasa dingin
Inspeksi :Pucat, tekanan vena jugularis menurun, pulasisi ictus cordis (-),
adakah pembesaran jantung, suhu tubuh meningkat.
Palpasi
:Suhu akral dingin karena perfusi jaringan menurun, heart rate
meningkat karena vasodilatasi pembuluh darah, tahanan perifer
menurun sehingga cardiac output meningkat. Kaji frekuensi, irama
dan kekuatan nadi.
Perkusi
:Normal redup, ukuran dan bentuk jantung secara kasar pada kausus
diare akut masih dalam batas normal (batas kiri umumnya tidak
lebih dari 4-7 dan 10 cm ke arah kiri dari garis midsternal pada
ruang interkostalis ke 4,5 dan 8.
Auskultasi :Pada dehidrasiberat dapat terjadi gangguansirkulasi, auskulatasi
bunyi jantung S1, S2, murmur atau bunyi tambahan lainnya. Kaji
tekanan darah.
5.Sistem Pernafasan
Subyektif :Sesak atau tidak
Inspeksi :Bentuk simetris, ekspansi , retraksi interkostal atau subcostal. Kaji
frekuensi, irama dan tingkat kedalaman pernafasan, adakah
penumpukan sekresi, stridor pernafas inspirasi atau ekspirasi.
Palpasi
:Kajik adanya massa, nyeri tekan , kesemitrisan ekspansi, tacti
vremitus (-).
Auskultasi :Dengan menggunakan stetoskop kaji suara nafas vesikuler,
intensitas, nada dan durasi. Adakah ronchi, wheezing untuk
mendeteksi adanya penyakit penyerta seperti broncho pnemonia
atau infeksi lainnya.
6.Sistem Pencernaan
Subyektif :Kelaparan, haus
Inspeksi :BAB, konsistensi (cair, padat, lembek), frekuensilebih dari 3 kali
dalam sehari, adakah bau, disertai lendi atau darah. Kontur
permukaan kulit menurun, retraksi (-) dankesemitrisan abdomen.

Auskultasi :Bising usus (dengan menggunakan diafragma stetoskope),


peristaltik usus meningkat (gurgling) > 5-20 detik dengan durasi 1
detik.
Perkusi
:Mendengar aanya gas, cairan atau massa (-), hepar dan lien tidak
membesar suara tymphani.
Palpasi
:Adakah nyeri tekan, superfisial pemuluh darah, massa (-). Hepar
dan lien tidak teraba.
7.Sistem Perkemihan
Subyektif :Kencing sedikit lain dari biasanya
Inspeksi :Testis positif pada jenis kelamin laki-laki, apak labio mayor
menutupi labio minor, pembesaran scrotum (-), rambut(-). BAK
frekuensi, warna dan bau serta cara pengeluaran kencing spontan
atau mengunakan alat. Observasi output tiap 24 jam atau sesuai
ketentuan.
Palpasi
:Adakah pembesaran scrotum,infeksi testis atau femosis.
8.Sistem Muskuloskletal
Subyektif :Lemah
Inspeksi :Klien tampak lemah, aktivitas menurun
Palpasi
:Hipotoni, kulit kering , elastisitas menurun. Kemudian dilanjutkan
dengan pengukuran berat badan dan tinggi badan , kekuatan otot.
J.Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium (Lab IKA FKUI, 1988)
a. Feces lengkap
b. Makroskopis dan mikroskopis (bakteri (+) mis. E. Coli)
c. PH dan kadar gula
d. Biakan dan uji resistensi
2. Pemeriksaan Asam Basa
Analisa Blood Gas Darah dapat menimbulkan Asidosis metabolik dengan
kompensasi alkalosis respiratorik.
3. Pemeriksaan Kadar Ureum Kreatinin
Untuk mengetahui faali ginjal
4. Serum Elektrolit (Na, K, Ca dan Fosfor)
Pada diare dapat terjadi hiponatremia, hipokalsemia yang memungkinkan
terjadi penuruna kesadaran dan kejang.
5. Pemeriksaan Intubasi Duedenum
Terutama untuk diare kronik dapat dideteksi jasad renik atau parasit secara
kualitatif dan kuantitatif.
6. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi diperlukan kalau ada penyulit atau penyakit penyerta
seperti bronchopnemonia dll seperti foto thorax AP/PA Lateral.

K.Penatalaksanaan (Lab IKA FKUI, 1988 dan FKUA, 1984)


1.Rehidrasi
a).Jenis cairan
Cara rehidrasi oral:
Formula lengkap (NaCl, NaHCO3, KCl dan Glukosa) seperti
oralit,pedyalit setiap kali diare.
Formula sederhana (NaCl dan Sukrosa/KH lain) seperti LGG, tajin
Cairan parenteral:
Usia 0-2 hari dengan BB < 2500 D5%, BB > 2500 (aterm) D10%.
Usia 2 hari-3 bulan d100,18 NS
Usia 3 bulan- 3 tahun D51/4 NS
Usia > 3 tahun D51/2NS
HSD (Half Strength Darrow) D1/2 2,5 NS cairan khusus untuk diare >
usia 3 bulan.
b).Jalan pemberian
Oral (dehidrasi ringan, sedang dan tanpa dehidrasi, anak mau minum
serta kesadaran baik)
Intragastrik (dehidrasi ringan, sedang, tanpa dehidrasi, anak tidak mau
makan dan kesadaran menurun).
IV line bila dehidrasi berat
c).Jumlah cairan
Jumlah cairan yang diberikan tergantung pada :
Defisit (derajat dehidrasi)
Kehilangan sesaat (concurent loss)
Rumatan (maintenance)
d).Jadwal/Kecepatan
Jadwal at kecepatan pemberian cairan tergantung pada tingkat dehidrasi dan
umur. Untuk defisit diberikan 3 jam pertama dan dilanjutkan maintenance.
2.Obat-obatan
a).Obat anti sekresi
Asetosal, 25 mg/hr dengan dosisminimal 30 mg
Klorpromasin, 0,5-1 mg/ kg BB/hr
b).Obat antispasmolitik
Papaverin
Opium
Loperamid

3.Dietetik
a).Anak < 1 tahun atau > 1 tahun denga BB < 7 kg
Susu ASI/ susu formula dengan laktosa rendah
Makanan setengah padat (bubur susu), makana padat
b).Umur > 1 tahun dengan BB > 7 kg
Makanan padat/ maknan cair/susu
c).Dalam keadaan malabsorbsi berat serta allergi protein susu sapi dapat diberikan
elemental/semi elemental formula.
4.Supportif
a) Vitamin A 200.000 iu IM
usia < 1 tahun
b) Vitamin A 100.000 iu IM
usia 1-5 tahun
c) Vitamin A 5000 iu
usia > 5 tahun
d) Vitamin A 2.500 iu po
usia < 1 tahun
e) Vitamin A 5.000 iu po
usia > 1 tahun
f) Vitamin B kompleks, vit C
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan
sekunder terhadap diare.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak
adekuatnya intake dan diare
3. Risiko injuri kulit (area perianal) berhubungan dengan peningkatan frekuensi diare

INTERVENSI KEPERAWATAN
1.Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan
cairan sekunder terhadap diare.
Tujuan : Keseimbangan cairan dan elektrolit dapat dipertahankan secara optimal.
Kriteria :
Tanda-tanda vital dalam batas normal
Tanda-tanda dehidrasi (-), turgor kulit elastis, membran mukosa basah,
haluaran urine terkontrol, mata tidak cowong dan ubun-ubun besar tidak
cekung.
Konsistensi BAB liat/lembek dan frekuensi 1 kali dalam sehari
Pemeriksaan laboratorium serum elektrolit BJ urine 1,008-1,010; BUN dalam
batas normal.
Blood Gas Analysis dalam batas normal
Intervensi :
1. Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan (dehidrasi)
R/ Penurunan volume cairan bersirkulasi menyebabkan kekeringan jaringan dan
pemekatan urine. Deteksi dini memungkinkan terapi pergantian cairan segera
untuk memperbaiki defisit.
2. Pantau intake dan out put
R/ Haluaran dapat melebihi masukan, yang sebelumnya tidak mencukupi untuk
mengkompensasi kehilangan cairan. Dehidrasi dapat meningkatkan laju
filtrasi glomerulus membuat haluaran tak adeguat untuk membersihkan sesa
metabolisme.
3. Timbang BB setiap hari.
R/ Penimbangan BB harian yang tepat dapat mendeteksi kehilangan cairan.
4. Penatalaksanaan rehidrasi :
a. Anjurkan keluarga bersama klien untuk meinum yang banyak (LGG, oralit
atau pedyalit 10 cc/kg BB/mencret.
R/ Kandungan Na, K dan glukosa dalam LGG, oralit dan pedyalit mengandung
elektrolit sebagai ganti cairan yang hilang secara peroral. Bula menyebarkan
gelombang udara dan mengurangi distensi.
b. Pemberian cairan parenteral (IV line) sesuai dengan umur dan penyulit
(penyakit penyerta).
R/ Klien yang tidak sadar atau tingkat dehidrasi ringan dan sedang yang kurang
intakenya atau dehidrasi berat perlu pemberian cairan cepat melalui IV line
sebai pengganti cairan yang telah hilang.
5. Kolaborasi :
a. Pemeriksaan serum elektrolit (Na, K dan Ca serta BUN)
R/ Serum elektrolit sebagai koreksi keseimbangan cairan dan elektrolit. BUN
untuk mengetahui faali ginjal (kompensasi).

b. Obat-obatan (antisekresi, antispasmolitik dan antibiotik)


R/ Antisekresi berfungsi untuk menurunkan sekresi cairan dan elektrolit untuk
keseimbangannya. Antispasmolitik berfungsi untuk proses absrobsi normal.
Antibiotik sebagai antibakteri berspektrum luas untuk menghambat
endoktoksin.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak
adekuatnya intake dan diare
Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria :
Nafsu makan baik
BB ideal sesuai dengan umur dan kondisi tubuh
Hasil pemeriksaan laborat protein dalam batas normal (3-5 mg/dalam)
Intervensi :
1. Diskusikan dan jelaskan tentang pembatasan diet (makanan yang berserat
tinggi, berlemak dan air panas atau dingin)
R/ Makanan ini dapat merangsang atau mengiritasi saluran usus.
2. Timbang BB setiap hari
R/ Perubahan berat badan yang menurun menggambarkan peningkatan
kebutuhan kalori, protein dan vitamin.
3. Ciptakan lingkungan yang menyenagkan selama waktu makan dan bantu
sesuai dengan kebutuhan.
R/ Nafsu makan dapat dirangsang pada situasi releks dan menyenangkan.
4. Diskusikan dan jelaskan tentang pentingnya makanan yang sesuai dengan
kesehatan dan peningkatan daya tahan tubuh.
R/ Makanan sebagai bahan yang dibutuhkan tubuh untuk proses metabolisme dan
katabolisme serta peningkatan daya tahan tubuh terutama dalam keadaan
sakit. Penjelasan yang diterima dapat membuka jalan pikiran untuk mencoba
dan melaksanakan apa yang diketahuinya.
5. Kolaborasi :
a.Dietetik
anak , 1 tahun/> 1 tahun dengan BB < 7 kg diberi susu (ASI atau
formula rendah laktosa), makan setengah padat/makanan padat.
R/ Pada diare dengan usus yang terinfeksi enzim laktose inaktif sehingga
intoleransi laktose.
Umur > 1 tahun dengan BB > 7 kg diberi makan susu/cair dan padat
R/ Makanan cukup gizi dan disesuaikan dengan kondisi kesehatan.
b.Rehidrasi parenteral (IV line)

R/Klien yang tidak sadar atau tingkat dehidrasi ringan dan sedang yang
kurang intakenya atau dehidrasi berat perlu pemberian cairan cepat melalui IV
line sebai pengganti cairan yang telah hilang.
c.Supporatif (pemberian vitamin A)
R/Vitamin merupakan bagian dari kandungan zat gizi yang diperlukan tubuh
terutama pada bayi untuk proses pertumbuhan.
3.Risiko injuri kulit (area perianal) berhubungan dengan peningkatan frekuensi
diare
Tujuan : Injuri kulit tidak terjadi
Kriteria :
Integritas kulit utuh
Iritasi tidak terjadi
Kulittidak hiperemia,atau ischemia
Kebersihan peranal terjaga dan tetap bersih
Keluarga dapat mendemonstrasikan dan melakasnakan perawatan perianal
dengan baik dan benar
Intervensi :
1. Diskusikan dan jelaskan pentingnya menjaga kebersihan di tempat tidur .
R/ Kebersihan mencegah aktivitas kuman. Informasi yang adeguat melalui
metode diskusi dapat memberikan gambaran tentang pentingnya kebersihan
dan keadaran partisipasi dalam peningkatan kesehatan.
2. Libatkan dan demonstrasikan cara perawatan perianal bila basah akibat diare
atau kencing dengan mengeringkannya dan mengganti pakaian bawah. serta
alasnya.
R/ Kooperatif dan partisipati sangat penting untuk peningkatan dan pencegahan
untuk mencegah terjadinya disintegrasi kulit yang tidak diharapkan.
3. Menganjurkan keluarga untuk mengganti pakaian bawah yang basah.
R/ Kelembaban dan keasaman faeces merupakan faktor pencetus timbulnya
iritasi. Untuk itu pengertian akan mendorong keluarga untuk mengatasi
masalah tersebut.
4. Lindungi area perianal dari irtasi dengan pemberian lotion.
R/ Sering BAB dengan peningkatan keasaman dapat dikurangi dengan menjaga
kebersihan dan pemberian lotion dari iritasi.
5. Atur posisi klien selang 2-3 jam.
R/ Posisi yang bergantian berpengaruh pada proses vaskularisasi lancar dan
mengurangi penekanan yang lama, sehingga mencegah ischemia dan iritasi.

E. Evaluasi
1. Buang air besar kembali normal
2. Tidak adanya didapatkan tanda tanda dehidrasi

3.
4.
5.
6.

Berat badan kembalinormal


Saluran perkemihan kembali lancer
Nafsu makan meningkat
Anak tidak rewel
BAB III
PENUTUP
I.

KESIMPULAN

Diare Infeksius adalah suatu keadaan dimana anak sering buang air besar
dengan tinja yang encer sebagai akibat dari suatu infeksi.
Diare adalah kehilangan cairan atau elektrolit secara berlebihan yang
terjadi karna frekuesi satu kali atau lebih buang air besar dengan bentuk tinja
yang encer atau cair.

II.

SARAN / KRITIK

Apabila kita memiliki anak / keluarga yang diare maka biasakan memasak
air yang untuk di minum sampai mendidih, biasakan mencucui tangan
menggunakan sabun dan air bersihyang mengalir sebelum menyiapkan
makanan si bayi dan balita, biasakan mencuci alat makanan dngan sabun dan
air bersih serta mebilas dengan air matang sebelum dipakai dan jangan
biarkan anak bermain di tempat kotor.

DAFTAR PUSTAKA

Dian F.2010. Asuhan Keperawatan Anak Dengan Gangguan Diare. (Http:


Natajutena.Blogspot.Com 13/11/2011)
Suparyanto, M.Kes.2010. Asuhan Keperawatan Pada Anak.(http:Intech.
blogspot.com 19/05/2011)
Suriadi, Skp. MSN & Rita Yuliani, Skp. M.Psi. (2010) Asuhan Keperawatan
Pada Anak , Edisi 2. Jakarta : EGC
Doenges, M. E., Moorhouse, M. F. & Geissler, A. C. (2000) Rencana Asuhan
Keperawatan, Jakarta : EGC.
Brunner & Suddart (2002) Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah,
Jakarta : AGC.
http://martha-diana-pizyoko.blogspot.com/2012/03/phlebotomi-wingneedle.html
https://nurkayat.wordpress.com/ratna/menghitung-balance-cairan/
https://rikayuhelmi116.wordpress.com/2012/10/12/asuhan-keperawatan-padaanak-dengan-gangguan-diare/