Anda di halaman 1dari 5

TUGAS

RISET KEPERAWATAN
LATAR BELAKANG PENELITIAN

Di Susun Oleh:
Faizal Deni S
470 113 081
IIB

AKADEMI KEPERAWATAN DR SOEDONO MADIUN


TAHUN PELAJARAN 2014/2015

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Osteoporosis adalah kondisi atau penyakit dimana tulang menjadi rapuh dan
mudah retak atau patah. Osteoporosis sering menyerang mereka yang telah berusia
lanjut dan kondisi ini lebih sering dijumpai pada wanita daripada laki-laki.
Menurut data World Health Organisation (WHO), menunjukan bahwa 1 dari 3
wanita atau sebanyak 67% wanita akan mengalami osteoporosis. Kemungkinan bagi
laki-laki juga relatif besar bagi yang telah berusia tua, perokok, peminum minuman
keras dan bagi yang jarang melakukan olah raga (Yosri, 2001). WHO juga mencatat
pada tahun 2003, lebih dari 75 juta orang di eropa, Amerika Serikat, dan Jepang
menderita pengeroposan tulang (Evi, 2006).
Menurut hasil analisa data yang dilakukan oleh Puslitbang Gizi Depkes pada
14 propinsi pada tahun 2004 menunjukkan bahwa maslah osteoporosis di Indonesia
telah mencapai tingkat yang perlu diwaspadain yaitu 19,7%. Itulah kecenderungan
osteoporosis di Indonesia 6 kali lebih tinggi dibandingkan dengan Negara Belanda.
Lima propinsi dengan resiko osteoporosis yang tinggi adalah Sumatra Selatan
(27,7%), Jawa Tengah (24,02%), DI Jogyakarta (23,5%), Sumatra Utara (22,82%),
Jawa Timur (21,42%) dan Kalimantan Timur (10,5%). Bila dibandingkan dengan di
dunia, Indonesia menempati urutan keempat dunia sebagai Negara yang mempunyai
penduduk lanjut usia paling banyak setelah Cina, India dan Amerika. Sebagai
konsekwensinya, Indonesia menghadapi masalah-masalah penyakit yang ditimbulkan
akibat lanjut usia, salah satunya osteoporosis. (www. Depkes RI,2004).
Penelitian lain di kota Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya dan Medan
pada tahun 2002 juga makin menunjukkan bahwa osteoporosis di Indonesia sudah

seharusnya diwaspadain. Dari 101.161 responden, ternyata 29% diantaranya telah


menderita osteoporosis (Depkes RI,2004).Di Jakarta, sebuah Rumah Sakit swasta
yaitu Rumah Sakit Siaga Raya khusus Orthopaedi manunjukkan dalam tahun 2008
terdapat pasien yang mengalami patah tulang panggul sebanyak 74 orang, dimana
telah dilakukan tindakan operasi maupun konsevatif dengan menggunakan obatobatan.
Menurut Departemen Kesehatan RI, wanita memiliki resiko osteoporosis lebih
tinggi yaitu 21,7%, dibandingkan dengan laki-laki yang hanya berisiko terkena
osteoporosis sebanyak 14,8%. Hal ini dikarenakan wanita mengalami proses
kehamilan dan menyusui serta terjadinya penurunan hormon estrogen pada saat pre
menopause, menopause, dan pasca menopause (Depkes, 2002). Satu dari tiga wanita
mempunyai kecenderungan terkena osteoporosis yang biasanya terjadi pada wanita
paska menopause, sedangkan pada pria insidenya lebih kecil yaitu 1 dari 7 pria.
Osteoporosis menjangkit pada usia di atas 45 tahun. Namun berdasarkan penelitian
lain, wanita usia muda yaitu 23 tahun juga beresiko mengalami osteoporosis. (Depkes
RI,2004).
Penyebab osteoporosis adalah akibat hilangnya sebagian kalsium dalam
tulang. Osteoporosis sering disebut silent disease, karena proses hilangnya kalsium
dari tulang terjadi tanpa tanda-tanda atau gejala. Tubuh selalu kehilangan kalsium
setiap hari melalui kulit-kulit yang mati, pertumbuhan kuku, rambut yang rontok dan
juga keringat. Selain itu kalsium juga terbuang melalui urin dan feses. Menurut
Menteri Kesehatan RI tahun 2004, osteoporosis sering disebut sebagai silent killer
diseases, seperti penyakit kronik lainnya osteoporosis tidak menunjukkan gejala
awal dan tidak dapat terdiagnosa, hingga terjadinya patah tulang (Depkes RI,2004).
Perubahan massa tulang dapat dideteksi dengan pemeriksaan kalsium dalam darah.
Dengan kemajuan teknologi osteoporosis dapat dideteksi dengan cara yang mudah
yaitu dengan menggunakan alat Bone Densito Metry (BDM), bagian yang diukur
adalah lengan bawah, tulang punggung atau tulang panggul. Dari hasil pemeriksaan
tersebut akan menginformasikan kandungan mineral tulang, densitas tulang dan
presentasi massa tulang, sehingga resiko berkembangnya patah tulang dari penderita
dapat dideteksi terlebih dahulu.

Kalsium yang hilang tersebut harus diganti setiap hari melalui makanan. Bila
makanan kita tidak mengandung cukup kalsium, maka tubuh akan mengambilnya dari
cadangan kalsium, yaitu tulang dan gigi. Masyarakat Indonesia masih sangat rendah
dalam mengkonsumsi kalsium yaitu 254 mg perhari, padahal berdasarkan standart
Internasional adalah 1000-1200 mg perhari (Siswono, 2006)
Menurut ahli gizi dr. Rachmad Soegih SpKG, Kalsium merupakan elemen
mineral yang paling banyak terdapat dalam tubuh, kebutuhan kalsium pada usia 1950 tahun sebanyak 1.000 mg/hr, dan 1.200 mg/hr untuk usia 51 tahun keatas.
Hasil penelitian para pakar menunjukkan bahwa tubuh manusia terkandung
sekitar 22 gram kalsium per kilogram berat badan. Dari jumlah tersebut, 99% berada
dalam tulang dan gigi, sedangkan 1% berada di dalam jaringan lain dan cairan tubuh
yang secara luas didistribusikan ke seluruh tubuh (Siswono, 2006). Wanita hamil dan
menyusui membutuhkan kalsium lebih banyak daripada wanita yang tidak hamil,
karena kalsium di gunakan untuk menunjang pembentukan tulang dan gigi serta
persendian janin. Jika ibu hamil kekurangan kalsium, maka kebutuhan kalsium akan
diambil dari cadangan kalsium pada tulang ibu, ini akan mengakibatkan tulang
keropos atau osteoporosis dan tidak jarang ibu hamil yang mengeluh giginya merapuh
atau mudah patah. Keadaan seperti itu cukup sering dialami ibu-ibu hamil yang
konsumsi kalsium (Ca)-nya kurang. Kalsium memang dibutuhkan tubuh sejak janin
dalam kandungan yang pada saat itu diperoleh dari ibu.
Oleh karena itulah ibu hamil perlu mengkonsumsi kalsium yang terdapat
dalam susu, telur keju, kacang-kacangan, atau tablet kalsium yang dapat diperoleh
saat melakukan pemeriksaan kehamilan di Puskesmas atau di Klinik.
Mengkonsumsi kalsium pada saat hamil sangat banyak memberikan manfaat,
1% kalsium yang terkandung di dalam tubuh terdapat dalam darah dan sel-sel saraf,
yang mempunyai fungsi membantu kerja sel-sel saraf untuk kontraksi otot dan proses
penggumpalan darah, menghantar rangsang saraf dan membantu fungsi jantung serta
otot janin, juga mempersiapkan ASI untuk menyusui.
Hasil penelitian Dr. Mc Carron, MD, dari Mc Master University, Ontario,
Kanada, yang melibatkan 2500 ibu hamil menyimpulkan, konsumsi kalsium sekitar

1500-2000 mg sehari bisa menurunkan risiko darah tinggi pada kehamilan sampai
70% dan pre eklampsia hingga 50% .
Hal yang lebih penting lagi, kalsium juga berpengaruh terhadap masa depan
kesehatan bayi. Menurut Sarwono yang mengutip dari hasil penelitian British
Medical Journal melaporkan bahwa pada wanita yang di beri suplemen kalsium
selama masa kehamilan, hasilnya para ibu tersebut akan memiliki anak-anak yang
cukup terlindungi dari risiko hipertensi (Sarwono, 2001).
Dari kesimpulan yang didasarkan oleh latar belakang dan mengingat
pentingnya kalsium pada saat kehamilan, maka penulis tertarik untuk melakukan
penelitian tentang tingkat pengetahuan ibu hamil terhadap kalsium pada saat hamil di
Poli Kandungan RSUD Dr. Soedono Madiun.