Anda di halaman 1dari 15

KEDOKTERAN KELUARGA

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DAN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
LAPORAN KASUS
November 2015

ISPA
(INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT)

OLEH :
NURNANINGSI T

110 210 0038

RESKI HIDAYAT

110 210 0145

PEMBIMBING :
dr. Hj. Dahlia, MARS

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


KEDOKTERAN KELUARGA PADA BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
DAN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2015

LAPORAN KASUS INFEKSI


IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. AM

Umur

: 40 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Bangsa/suku

: Indonesia / Bugis

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Pegawai

Alamat

: Perum Puri Patene Permai Blog C1

Status dalam keluarga : Istri


ANAMNESIS
Keluhan utama

: Batuk

Anamnesis terpimpin

Dialami sejak kurang lebih 2 hari yang lalu , lendir (+), warna hijau, sakit
tenggorokan (-), pilek (+) sejak 5 hari yang lalu. Sesak (-). Demam (-), riwayat
demam (+) dirasakan 3 hari yang lalu, tidak terus menerus, lebih tinggi pada malam
hari. Sakit kepala (+). Riwayat nyeri dada (-). Mual (-), muntah (-). NUH (-), nafsu
makan di rasakan berkurang.
BAB = biasa
BAK = lancar
Riwayat penyakit sebelumnya :
Riwayat kontak dengan orang yang bergejala sama (-).
Riwayat alergi obat (-)
Riwayat penyakit keluarga :
Riwayat hipertensi (-)
Riwayat hiperkolesterol/hiperlipidemia (-)
1

Riwayat penyakit saluran pencernaan (-)


Riwayat diabetes mellitus (-)
Riwayat penyakit jantung (-)
Riwayat alergi (-)
PEMERIKSAAN FISIS
Tanda vital :
Tekanan darah

: 110/70 mmHg

Nadi

: 80 x/menit

Pernapasan

: 20 x/menit

Suhu

: 36,90C

Pemeriksaan fisis
Kepala

: anemis (-), sianosis (-), ikterus (-)

Leher

: Tidak ada kelainan

Thorax

: vesikuler, Rh -/-, Wh -/-

Cor

: SI/II reguler, murni

Abdomen

: Nyeri tekan (-)


Peristaltik (+) kesan normal

Ekstremitas

: Tidak ada kelainan

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan pemeriksaan
DIAGNOSIS
ISPA

PENATALAKSANAAN
1.

2.

Pengobatan farmakologi yang diberikan adalah :

Cefadroksil 500 mg 2 x 1

Ambroxol 3 x 1

Seloxy C 1 x 1

Pengobatan nonfarmakologi berupa saran kepada pasien untuk :


1. Makan secara teratur, mengurangi makanan yang bersantan, berbumbu
pedas,dan memperbanyak minum air putih.
2. Menjaga kebersihan rumah, cara penyediaan makanan dan pembelian
makanan dari sumber yang bersih.
3. Menigkatkan daya tahan tubuh dengan cara olahraga teratur, makan makanan
bergizi, dan mengkonsumsi suplemen bila perlu
4. Mengontrol kesehatan secara teratur.
5. Istirahat yang cukup.

HASIL KUNJUNGAN RUMAH


Kunjungan Rumah (3 November 2015)
Keluhan

: batuk dan pilek

Tanda vital

Tekanan darah

: 110/80mmHg

Pernapasan

: 22 x/mnt

Nadi

: 80 x/mnt

Suhu

: 36,7 0C

Pemeriksaan Fisis :
Kepala

: anemis (-), sianosis (-), ikterus (-)

Leher

: tidak ada kelainan

Thorax

: vesikuler, Rh -/-, Wh -/-

Cor

: SI/II reguler, murni

Abdomen

: Nyeri tekan (-), Peristaltik (+) kesan normal

Ekstremitas

: Tak ada kelainan

Penatalaksanaan nonfarmakologis yang diberikan berupa saran untuk :


1.

Makan secara teratur dan mengonsumsi makanan yang mengandung serat


tinggi serta vitamin.

2.

Menjaga kebersihan rumah, serta mengkonsumsi atau membeli makanan


dari sumber yang bersih.

3.

Mengontrol kesehatan secara teratur.

4.

Istirahat yang cukup.

KEADAAN PASIEN :
1.

Profil Pasien
Ny. AM tinggal bersama suami dan 2 orang anaknya, yang pertama
berumur 11 tahun dan sedang sekolah di kelas V SD, sedangkan anak kedua
masih berumur 4,5 tahun.

2.

Status Sosial dan Kesejahteraan Keluarga


Pekerjaan sehari-hari pasien adalah seorang pegawai. Pasien ini
tinggal di rumah pribadi yang terletak di perumahan puri patene permai blok
C 1. Rumah pasien dalam kondisi baik dan cukup luas, tertata rapi serta
terawat. Rumah terdiri dari 3 kamar dan 1 kamar mandi. Ventilasi di rumah
baik, sirkulasi udara baik. Peralatan rumah tangga lengkap, dan terdapat
sebuah kendaraan bermotor berupa sepeda motor yang sering dipakai pasien
bila ingin ke tempat kerja.

3.

Riwayat Penyakit Keluarga


Dari penuturan Ny.AM diketahui dia tidak memiliki riwayat saluran
pernapasan yang cukup berat. Demikian pun dengan keluarganya.

2.

Pola Konsumsi Makanan


Pola konsumsi keluarga tersebut cukup baik sesuai dengan kebutuhan
asupan gizi.

3.

Psikologi dalam Hubungan antara anggota keluarga


Pasien memiliki hubungan yang baik dengan sesama anggota keluarga
yang lainnya, baik yang tinggal didalam rumah maupun yang tidak. Dengan
seluruh anggota keluarga, terjalin komunikasi yang baik dan cukup lancar.

4.

Lingkungan
Lingkungan pemukiman keluarga bersih dan tertata dengan baik.
Sampah tersimpan pada tempatnya, demikian juga dengan tata letak peralatan
dan perlengkapan rumah. Hubungan dengan masyarakat di lingkungan tempat
tinggal baik.

Gambar tampak depan rumah Ny.AM

INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT


DEFINISI
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit saluran pernapasan
atas atau bawah, biasanya menular, yang dapat menimbulkan berbagai spektrum
penyakit yang berkisar dari penyakit tanpa gejala atau infeksi ringan sampai penyakit
yang parah dan mematikan, tergantung pada patogen penyebabnya, faktor
lingkungan, dan faktor pejamu.1
INSIDEN
ISPA adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas penyakit menular di
dunia. Hampir empat juta orang meninggal akibat ISPA setiap tahun, 98%-nya
disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan bawah. Tingkat mortalitas sangat tinggi
pada bayi, anak-anak, dan orang lanjut usia, terutama di negara-negara dengan
pendapatan per kapita rendah dan menengah. Begitu pula, ISPA merupakan salah satu
penyebab utama konsultasi atau rawat inap di fasilitas pelayanan kesehatan terutama
pada bagian perawatan anak.1
Populasi yang memiliki risiko tertinggi kematian akibat penyakit pernapasan
adalah pada usia muda dan usia lanjut, serta orang dengan penurunan kekebalan
tubuh. Sementara infeksi saluran pernapasan atas sering terjadi namun tidak
berbahaya, infeksi saluran pernapasan bawah lebih sering menyebabkan kematian. 2
Insiden dari infeksi saluran pernapasan akut pada anak-anak di bawah 5 tahun
diperkirakan 29 % dan 5 % kejadian pada anak-anak di negara berkembang dan
industry. Kebanyakan kasus terjadi di India (43 juta kasus), Cina (21 juta kasus),
Pakistan (10 juta kasus), Bangladesh, Indonesia dan Nigeria (masing-masing 56
kasus). 21 % dari seluruh kematian pada anak-anak di bawah lima tahun disebabkan
oleh pneumonia, yang diperkirakan dari setiap 1000 kelahiran hidup, 12-20 akan
meninggal sebelum umur lima tahun.2,3

Menurut Departemen kesehartan Republik Indonesia pada akhit tahun 2000,


diperkirakan kematian akibat pneumonia sebagai penyebab utama infeksi saluran
pernapasan akut di Indonesia mencapoai 6 kasus di antara 1000 bayi dan balita. 1
ETIOLOGI
Bakteri adalah penyebab utama infeksi saluran pernapasan bawah, dan
Streptococcus pneumoniae di banyak negara merupakan penyebab paling umum
pneumonia yang didapat dari luar rumah sakit yang disebabkan oleh bakteri. laporan
5 tahun terakhir dari beberapa pusat paru di Indonesia (Medan, Jakarta, Surabaya,
Malang, Makasar) didapatkan hasil pemeriksaan sputum sebagai berikut Klebsiella
pneumoniae 45,18
viridans 9,21

%,Streptococcus

%, Staphylococcus

pneumoniae 14,04

aureus 9

%, Pseudomonas

%, Streptococcus
aeruginosa 8,56

%, Streptococcus haemoliticus 7.89 %, Enterobacter 5,26 %, dan Pseudomonas


spp 0,9 %.Laporan 5 tahun terakhir dari beberapa pusat paru di Indonesia (Medan,
Jakarta, Surabaya, Malang, Makasar) didapatkan hasil pemeriksaan sputum sebagai
berikut Klebsiella

pneumoniae 45,18

%, Streptococcus
aeruginosa 8,56

viridans 9,21

%,Streptococcus

%, Staphylococcus

%, Streptococcus

haemoliticus 7.89

aureus 9

pneumoniae 14,04
%, Pseudomonas

%, Enterobacter 5,26

%,

dan Pseudomonas spp 0,9 % .Namun demikian, patogen yang paling sering
menyebabkan ISPA adalah virus, atau infeksi gabungan virus-bakteri. Respiratory
Synctial Virus (RSV) merupakan penyebab penyakit yang serius pada anak-anak.
Selain pada anak-anak, RSV juga memiliki peranan penting penyebab penyakit pada
orang tua dan orang dewasa. Hampir semua infeksi RSV simptomatik dan cenderung
menyebabkan morbiditas dan mortalitas serta penggunaan pelayanan kesehatan. 2,4
FAKTOR RESIKO
Terjadinya ISPA tertentu bervariasi menurut beberapa faktor. Penyebaran dan
dampak penyakit berkaitan dengan:

kondisi lingkungan (misalnya, polutan udara, kepadatan anggota keluarga),


kelembaban, kebersihan, musim, temperatur);

ketersediaan dan efektivitas pelayanan kesehatan dan langkah pencegahan


infeksi untuk mencegah penyebaran (misalnya, vaksin, akses terhadap fasilitas
pelayanan kesehatan, kapasitas ruang isolasi);

faktor pejamu, seperti usia, kebiasaan merokok, kemampuan pejamu


menularkan infeksi,
status kekebalan, status gizi, infeksi sebelumnya atau infeksi serentak yang
disebabkan oleh

patogen lain, kondisi kesehatan umum; dan karakteristik patogen, seperti cara
penularan, daya tular, faktor virulensi (misalnya, gen penyandi toksin), dan
jumlah atau dosis mikroba (ukuran inokulum).1

Faktor pejamu yang spesifik juga mempengaruhi risiko infeksi dengan mikroba
spesifik. Misalnya perokok dan penderita PPOK lebih memiliki risiko tinggi
terinfeksi oleh S.pneumoniae, H.influenzae, Moraxella catarrhalis, dan
Legionella.5
KLASIFIKASI ISPA
Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi ISPA sebagai berikut:

Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada
kedalam (chest indrawing).

Pneumonia, terbagi dua yaitu community acquired pneumonia (pneumonia


komunitas) dan hospital acquired pneumonia (pneumonia nosokomial)

Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai
demam, tanpa tarikan dinding dada kedalam. Rinofaringitis, faringitis dan
tonsilitis tergolong bukan pneumonia.6

GEJALA KLINIK
Gejalanya meliputi demam, batuk, dan sering juga nyeri tenggorok, coryza
(pilek), sesak napas, mengi, atau kesulitan bernapas. Infeksi saluran pernapasan akut
dapat terjadi dengan berbagai gejala klinis. Gejala klinik yang membedakan apakah
penyebab dari ISPA adalah virus atau bakteri sulit dibedakan.6,7
PENGOBATAN

Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik parenteral,


oksigendan sebagainya.

Pneumonia: diberi obat sesuai dengan organism penyebab.

Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotic, terapinya berupa terapi


simptomatik. Diberikan perawatan di rumah, untuk batuk dapat digunakan obat
batuk

yang

tidak

mengandung

zat

yang

merugikan

seperti

kodein,dekstrometorfan dan, antihistamin. Bila demam diberikan obat penurun


panas yaitu parasetamol. Uji klinik dari manfaat Zinc, Vitamin C, dan terapi
alternative lain tidak mempunyai manfaat yang konsisten untuk terapi.6,7
1

Pemberian antibiotic yang tidak sesuai untuk infeksi saluran pernapasan akut

dapat menyebabkan peningkatan prevalensi dari resistensi antibiotic. Lebih dari


setengah dari seluruh pemberian resep antibiotic untuk ISPA tiadk perlu karena
infeksi ini lebih sering disebabkan oleh virus dan tidak memerlukan antibiotic.
Mengetahui apakah ISPA yang terjadi ini karena infeksi bakteri atau virus sangatlah
penting untuk menentukan jenis pengobatan yang akan diberikan nantinya.8
2

Sebelum hasil kultur keluar, maka antibiotic yang dapat diberikan adalah
antibiotic spectrum luas, yang kemudian sesuai hasil kultur diubah menjadi kltur
sempit. Lama pemberian terapi ditentukan berdasarkan adanya penyakit penyerta
dan/atau bakteriemi, beratnya penyakit pada onset terapi dan perjalanan penyakit
pasien. Umumnya terapi diberikan selama 7-10 hari. Ketentuan untuk memberikan

makrolid pada pasien pneumonia komunitas berat di daerah Asia perlu penelitian
lebih lanjut. Penelitian di Malaysia terhadap pasien pneumonia komuniatas yang
diberikan makrolod dan tidak diberika makrolid tidak didapta perbedaan manfaat
yang bermakna.Hal ini berkaitan dengan perbedaan jenis dan kepekaan patogen
penyebab pneumonia komunitas.10
PENCEGAHAN
Landasan pencegahan dan pengendalian infeksi untuk perawatan pasien ISPA
meliputi pengenalan pasien secara dini dan cepat, pelaksanaan tindakan pengendalian
infeksi rutin untuk semua pasien , tindakan pencegahan tambahan pada pasien
tertentu (misalnya, berdasarkan diagnosis presumtif), dan pembangunan prasarana
pencegahan dan pengendalian infeksi bagi fasilitas pelayanan kesehatan untuk
mendukung kegiatan pencegahan dan pengendalian infeksi.
Strategi pencegahan dan pengendalian infeksi di fasilitas pelayanan kesehatan
umumnya didasarkan pada jenis pengendalian berikut ini:1
Reduksi dan Eliminasi
Pasien yang terinfeksi merupakan sumber utama patogen di fasilitas
pelayanan kesehatan dan penyebaran agen infeksius dari sumbernya harus
dikurangi/dihilangkan. Contoh pengurangan dan penghilangan adalah promosi
kebersihan pernapasan dan etika batuk dan tindakan pengobatan agar pasien tidak
infeksius. 8
Pengendalian administratif
Pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan harus menjamin sumber daya yang
diperlukan

untuk

pelaksanaan

langkah

pengendalian

infeksi.

Ini

meliputi

pembangunan prasarana dan kegiatan pencegahan dan pengendalian infeksi yang


berkelanjutan, kebijakan yang jelas mengenai pengenalan dini ISPA yang dapat
menimbulkan kekhawatiran, pelaksanaan langkah pengendalian infeksi yang sesuai ,
persediaan yang teratur dan pengorganisasian pelayanan (misalnya, pembuatan sistem
klasifikasi dan penempatan pasien). Pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan juga
10

harus melakukan perencanaan staf untuk mempromosikan rasio pasien-staf yang


memadai, memberikan pelatihan staf, dan mengadakan program kesehatan staf
(misalnya, vaksinasi, profilaksis) untuk meningkatkan kesehatan umum petugas
kesehatan. 8
Pengendalian lingkungan dan teknis
Pengendalian ini mencakup metode untuk mengurangi konsentrasi aerosol
pernapasan infeksius (misalnya, droplet nuklei) di udara dan mengurangi keberadaan
permukaan dan benda yang terkontaminasi sesuai dengan epidemiologi infeksi.
Contoh pengendalian teknis primer untuk aerosol pernapasan infeksius adalah
ventilasi lingkungan yang memadai ( 12 ACH) dan pemisahan tempat (>1m) antar
pasien. Untuk agen infeksius yang menular lewat kontak, pembersihan dan disinfeksi
permukaan dan benda yang terkontaminasi merupakan metode pengendalian
lingkungan yang penting. 8
Alat Pelindung Diri (APD)
Semua strategi di atas mengurangi tapi tidak menghilangkan kemungkinan
pajanan terhadap risiko biologis. Karena itu, untuk lebih mengurangi risiko ini bagi
petugas kesehatan dan orang lain yang berinteraksi dengan pasien di fasilitas
pelayanan kesehatan, APD harus digunakan bersama dengan strategi di atas dalam
situasi tertentu yang menimbulkan risiko penularan patogen yang lebih besar.
Penggunaan APD harus didefinisikan dengan kebijakan dan prosedur yang secara
khusus

ditujukan

untuk

pencegahan

dan

pengendalian

infeksi

(misalnya,

kewaspadaan isolasi). Efektivitas APD tergantung pada persediaan yang memadai


dan teratur, pelatihan staf yang memadai, membersihkan tangan secara benar, dan
yang lebihpenting, perilaku manusianya. 8
Semua jenis pengendalian di atas sangat saling berkaitan. Semua jenis
pengendalian tersebut harus diselaraskan untuk menciptakan budaya keselamatan
kerja institusi, yang menjadi landasan bagi perilaku yang aman. 8
11

DISKUSI
Pasien datang ke POLIKLINIK UMUM RS IBNU SINA Makassar dengan
keluhan utama batuk berdahak yang dialami sejak 2 hari yang lalu, lender berwarna
kehijauan, pasien saat ini pilek sejak 5 hari yang lalu. Saat ini pasien tidak demam
namun ada riwayat demam 3 hari yang lalu dan demam dirasakan terus menerus dan
lebih tinggi dirasakan pada malam hari.
Pasien merasa sakit kepala, tidak mual dan tidak muntah. Nafsu makan pasien
dirasakan berkurang. Paseien tidak merasakan nyeri dada dan sesak. Sejak kemarin
anak laki-lakinya pun mengalami hal yang

sama. Selama sakit pasien belum

mengkonsumsi obat-obatan apapun.


Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisis di POLIKLINIK, maka pesien
didiagnosa ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut).
ISPA dapat disebabkan oleh infeksi bakteri amupun virus namun demikian
agen tersering yang menyebabkan ISPA adalah virus atau gabungan virus atau
bakteri. Keluhan pasien berupa batuk produktif dengan sputum yang berwarna hijau
dapat kita jumpai pada beberapa pasien ISPA namun hal ini tidak dapat membedakan
secara spesifik penyebab ISPA tersebut bakteri atau virus. untuk mengetahui lebih
jelas penyebab dari ISPA perlu di lakukan pemeriksaan sputum.
Karena belum adanya pemeriksaan kultur yang dilakukan maka antibiotik yang
diberikan adalah antibiotik spectrum luas. Pasien diberikan cefadroksil yang termasuk
golongan

sefalosporin

generasi

pertama.

Sefalosporin

generasi

pertama

memperlihatkan spectrum antimikroba yang terutama aktif terhadap kuman gram


positif. Streptococus pneumonia

yang termasuk kuman gram positif, di banyak


12

negara merupakan penyebab paling umum terjadinya ISPA. Sedangkan di Indonesia


dalam kepustakaan Pneumonia Komuniti: Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan di
Indonesia tahun 2003 disebutkan bahwa laporan 5 tahun terakhir dari beberapa pusat
paru di Indonesia didapatkan hasil pemeriksaan bahwa Klebsiella pneumonia
menempati urutan pertama penyebab disusul oleh Streptococcus pneumonia.
Dari penelitian dr. Pratiwi Sudarmono PhD di Departemen Mikrobiologi Klinik
FKUI, didapatkan Klebsiella pneumoniae memiliki sensitivitas 95% terhadap
imipenem dan meropenem, 80% terhadap sefepim, 85% terhadap amikasin, dan 6070% terhadap kuinolon. Streptococcus pneumoniae 100% resisten terhadap penisilin,
sefotaksim dan seftriakson; 100% sensitif terhadap sulbenisilin, sefepim, sefuroksim,
gentamisin, ofloksasin, dan levofloksasin; sedangkan untuk antibiotik lainnya
sensitivitasnya berkisar antara 80-95%.
Untuk mengobati batuknya pasien diberi ambroxol. Ambroxol merupakan suatu
metabolit bromheksin yang diduga sama cara kerja dan penggunaannya. Ambroxol
merupakan mukolitik yaitu obat yang dapat mnegencerkan secret saluran napas
dengan jalan memecah benang-benang polisakarida dan mukoprotein dari sputum.
Selain itu pasien juga diberi vitamin C yang berfungsi sebagai antioksisdan dan
dapat meningkatkan daya tahan tubuh pasien.
Selain terapi farmakologis, diperlukan terapi non farmakologis berupa saransaran kepada pasien, misalnya menjaga pola hidup sehat, makan dan istirahat yang
cukup.

13

DAFTAR PUSTAKA
1) WHO. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Saluran Pernapasan Akut
(ISPA) yang Cenderung Menjadi Epidemi dan Pandemi di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan.2007.
2) WHO. Acute Respiratory Infections (Update Oktober 28). [serial online].
2015. [cited 2015 Nov 4]. Available from:
www.who.int/vaccine_research/diseases/ari/en/print.html
3) Wahyono Dj, Hapsari I, Astuti IWB. Pola Pengobatan Infeksi Saluran
Napas Akk Usia Bawah Lima Tahun (Balita) Rawat Jalan di Puskesmas I
Purwareja Klampok Kabupaten Banjarnegara Tahun 2004.[serial online].
2015. [cited 2015 Nov 2]. Available from: http://mfi.farmasi.ugm.ac.id
4) Falsey, Ann R et al. respiratory Synctial Virus Infection in Elderly and
High Risk Adults. 2015. [cited 2015 Nov 2].Availabele from :
www.nejm.org.
5) Goldman, Lee and Aussielo, Dennis. Cecil Medicine 23rd Edition.USA :
Elsevier Inc. 2008.
6) Rasmaliah.

Infeksi

Saluran

Pernapasan

Akut

(ISPA)

dan

Penanggulangannya. 2015. [cited 2015 Nov 2].Available from :


http://library.usu.ac.id/
7) McPhee, Stephen J and Papadakis, Maxin A. Current Medical Diagnosis
& Treatment 2008. San Fransisco : McGraw Hill.
8) Dahlan Z. Pneumonia. In: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Editors.
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen
Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

14