Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN KASUS INFEKSI

IDENTITAS PASIEN
Nama

: An. S

Tanggal Lahir/Umur : 15 Maret 2008/ 7 tahun


Jenis kelamin

: Perempuan

Berat Badan

: 23 tahun

Bangsa/suku

: Indonesia / Bugis

Agama

: Islam

Pekerjaan

:-

Alamat

: Manggala dalam 12

Status dalam keluarga : Anak

ANAMNESIS
Keluhan utama

: Batuk

Anamnesis terpimpin

Dialami sejak kurang lebih 2 hari yang lalu , lendir (+), warna kehijauan, sakit
tenggorokan (-), pilek (+) sejak 4 hari yang lalu, sesak (-), demam (-), riwayat demam
(+) dirasakan 4 hari yang lalu, tidak terus menerus, kejang (-), sakit kepala (+).
Riwayat nyeri dada (-). Mual (-), muntah (-). Nafsu makan tidak menurun. Riwayat
alergi (+) cuaca dingin.
BAB = biasa
BAK = lancar
Riwayat penyakit sebelumnya :
1

Riwayat kontak dengan orang yang bergejala sama (+), teman pasien.
Riwayat alergi obat (-)
Riwayat penyakit keluarga :
Riwayat hipertensi (-)
Riwayat hiperkolesterol/hiperlipidemia (-)
Riwayat penyakit saluran pencernaan (-)
Riwayat diabetes mellitus (-)
Riwayat penyakit jantung (-)
Riwayat alergi (-)

PEMERIKSAAN FISIS
Tanda vital :
Tekanan darah

: 100/60 mmHg

Nadi

: 90 x/menit

Pernapasan

: 26 x/menit

Suhu

: 36,90C

Kepala
Anemis

: (-)

Sianosis

: (-)

Ikterus

: (-)

Injektio konjungtiva

: (-)

Mulut

Lidah kotor

: (-)

Tonsil

: T2-T2 Hiperemis (-)

Leher
Massa Tumor

: (-)

Nyeri Tekan

: (-)

Pembesaran kelenjar

: (-)

Desakan vena sentralis

: R-2cm H2O

Thorax
Inspeksi

: Simetris Kiri = Kanan

Palpasi

: Massa tumor (-), Nyeri Tekan (-),

Perkusi

: sonor

Auskultasi

: Bunyi pernapasan

Vesikuler

Bunyi Tambahan

Rh : -/-, Wh : -/-

Jantung
Inspeksi

: Ictus kordis tidak tampak

Palpasi

: Ictus kordis tidak teraba

Perkusi

: Batas jantung kesan normal

Auskultasi

: Bunyi jantung I/II murni reguler, Bising (-)

Abdomen
Inspeksi

: Datar , ikut gerak napas,

Palpasi

: Massa tumor (-), Nyeri tekan (-)

Perkusi

: Timpani
3

Auskultasi

: Peristaltik (+), kesan normal

Ekstremitas
Edema

: (-)

Peteki

: (-)

Rumple leede

: (-)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan pemeriksaan

DIAGNOSIS
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)

PENATALAKSANAAN
1) Pengobatan farmakologi yang diberikan adalah :

Paracetamol 250 mg

Ambroxol 12 mg

Metyiprednisolon 4mg

Cetirizine 5 mg 2x1

Cefadroxil 2 x 1 tab

Vitamin C 1x1 tab

3x1

2) Pengobatan non farmakologi berupa saran kepada pasien untuk :

1. Makan secara teratur, mengurangi makanan yang bersantan, berbumbu


pedas, dan memperbanyak minum air putih.
2. Menjaga kebersihan rumah, cara penyediaan makanan dan pembelian
makanan dari sumber yang bersih.
3. Menigkatkan

daya

tahan

tubuh,

makan

makanan

bergizi,

dan

mengkonsumsi suplemen bila perlu


4. Mengontrol kesehatan secara teratur.
5. Istirahat yang cukup.

HASIL KUNJUNGAN RUMAH


Kunjungan rumah dilaksanakan untuk melihat keadaan lingkungan sekitar
pasien dan hubungan antara lingkungan dengan penyakit yang diderita. Dengan
demikian pasien dan keluarga dapat memahami bagaimana pengaruh lingkungan
terhadap suatu penyakit dan sebaliknya bagaimana suatu penyakit dapat
mempengaruhi lingkungan.
Kunjungan Rumah (28 November 2015)
1. Keadaan Pasien
Keluhan

: batuk dan pilek (sudah berkurang)

Tanda vital

: Tekanan darah

: 100/60 mmHg

Nadi

: 90 x/menit

Pernapasan

: 26 x/menit

Suhu

: 36,90C

Pemeriksaan Fisis :
Kepala

: anemis (-), sianosis (-), ikterus (-)

Leher

: tidak ada kelainan

Thorax

: vesikuler, Rh -/-, Wh -/-

Cor

: SI/II reguler, murni

Abdomen

: Nyeri tekan (-), Peristaltik (+) kesan normal

Ekstremitas

: Tak ada kelainan

Pengobatan non farmakologi berupa saran kepada pasien untuk :


1. Makan secara teratur, mengurangi makanan yang bersantan, berbumbu
pedas, dan memperbanyak minum air putih.
2. Menjaga kebersihan rumah, cara penyediaan makanan dan pembelian
makanan dari sumber yang bersih.
3. Menigkatkan

daya

tahan

tubuh,

makan

makanan

bergizi,

dan

mengkonsumsi suplemen bila perlu.


4. Mengontrol kesehatan secara teratur.
5. Istirahat yang cukup.
2. Profil Keluarga
Pasien (An. S) adalah seorang anak perempuan yang tinggal bersama ibunya
(Ny. A/ 31 tahun), Ayahnya (Tn.S/34 tahun), dan 1 orang adiknya (An.F/ 2 tahun).

3. Status Sosial dan Kesejahteraan Keluarga


Pasien adalah siswi pada salah satu SD di Makassar. Ibu Pasien (Ny.A) seorang
IRT, ayah Pasien (Tn. S) bekerja sebagai wiraswasta. Penghasilan Tn. S sampai saat
ini dirasa mencukupi kebutuhan keluarganya dan biaya sekolah anak-anaknya.
Pasien ini tinggal di rumah pribadi yang terletak di Manggala Dalam 12 no.III.
Rumah pasien luasnya 7x12 m2 dan dihuni oleh 3 orang. Jumlah kamar yang ada
sebanyak 2 buah kamar tidur. Rumah pasien terdiri dari ruang tamu dan ruang
keluarga yang jadi satu, ruang makan dan dapur yang juga jadi satu. WC terletak
bersebelahan dengan dapur. Rumah tersebut adalah bangunan permanen, dinding
rumah cukup bersih dan sudah dicat. Isi rumah tertata rapi dan cukup bersih.
Memiliki ventilasi dan pencahayaan yang cukup baik. Sumber air diperoleh dari
PDAM. Tn. S memiliki sebuah sepeda motor.
4. Pola Konsumsi Makanan Keluarga
Pola konsumsi keluarga tersebut. Makanan sehari-hari keluarga tersebut cukup
bervariasi terdiri dari nasi, ikan, ayam, tahu, tempe, makanan kaleng, mie instan, dan
sayur.
5. Psikologi Dalam Hubungan Antar Anggota Keluarga
Psikologi hubungan antar anggota keluarga secara umum baik. Keluarga
tersebut sudah terbentuk selama kurang lebih 9 tahun. Ada kasih sayang, perhatian
dan tanggung jawab dan kepemimpinan kepala keluarga dan kebersamaan serta
keakraban sesama anggota keluarga. Suasana yang harmonis terjalin di dalam
keluarga ini.
7

6. Lingkungan
Lingkungan sekitar rumah keluarga sudah cukup baik dan pekarangan rumah
cukup bersih, selokan di depan rumah sedikit tersumbat karena adanya beberapa
sampah yang mengendap. Meskipun demikian, Ny. A rajin membersihkan rumahnya.
Lantai rumah dibersihkan setiap hari sehingga suasana di dalam rumah cukup bersih,
tidak berdebu, walaupun barang-barang di dalam rumah ada belum tertata rapi.
Sampah dibuang di tempat sampah dan kemudian dibawa ke tempat pembuangan
sampah umum. Hubungan dengan masyarakat di lingkungan tempat tinggal baik.
GAMBAR RUMAH PASIEN

Gambar 1. Rumah Ny. N Tampak Depan

Gambar 2. Ruang Tamu dan ruang keluarga

Gambar 3. Dapur dan ruang Makan

Gambar 4. Kamar Mandi

Gambar 6. Kamar Tidur

DISKUSI
Pasien datang ke POLIKLINIK UMUM RS IBNU SINA Makassar dengan
keluhan utama batuk berdahak yang dialami sejak 2 hari yang lalu, lender berwarna
kehijauan, pasien saat ini pilek sejak 4 hari yang lalu. Saat ini pasien tidak demam
namun ada riwayat demam 4 hari yang lalu, tidak terus menerus.
Pasien merasa sakit kepala, tidak mual dan tidak muntah. Nafsu makan pasien
tidak menurun. Pasien tidak merasakan nyeri dada dan sesak. Pasien memiliki riwayat
alergi cuaca dingin. Selama sakit pasien belum mengkonsumsi obat-obatan apapun.
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisis di POLIKLINIK, maka pesien
didiagnosa ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut).
ISPA dapat disebabkan oleh infeksi bakteri amupun virus namun demikian
agen tersering yang menyebabkan ISPA adalah virus atau gabungan virus atau
bakteri. Keluhan pasien berupa batuk produktif dengan sputum yang berwarna hijau
dapat kita jumpai pada beberapa pasien ISPA namun hal ini tidak dapat membedakan
secara spesifik penyebab ISPA tersebut bakteri atau virus. untuk mengetahui lebih
jelas penyebab dari ISPA perlu di lakukan pemeriksaan kultur.
Karena belum adanya pemeriksaan kultur yang dilakukan maka antibiotik yang
diberikan adalah antibiotik spektrum luas. Pasien diberikan cefadroxil yang termasuk
golongan

sefalosporin

generasi

pertama.

Sefalosporin

generasi

pertama

memperlihatkan spectrum antimikroba yang terutama aktif terhadap kuman gram


positif. Streptococus pneumonia

yang termasuk kuman gram positif, di banyak

negara merupakan penyebab paling umum terjadinya ISPA. Sedangkan di Indonesia


10

dalam kepustakaan Pneumonia Komuniti: Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan di


Indonesia tahun 2003 disebutkan bahwa laporan 5 tahun terakhir dari beberapa pusat
paru di Indonesia didapatkan hasil pemeriksaan bahwa Klebsiella pneumonia
menempati urutan pertama penyebab disusul oleh Streptococcus pneumonia.
Dari penelitian dr. Pratiwi Sudarmono PhD di Departemen Mikrobiologi Klinik
FKUI, didapatkan Klebsiella pneumoniae memiliki sensitivitas 95% terhadap
imipenem dan meropenem, 80% terhadap sefepim, 85% terhadap amikasin, dan 6070% terhadap kuinolon. Streptococcus pneumoniae 100% resisten terhadap penisilin,
sefotaksim dan seftriakson; 100% sensitif terhadap sulbenisilin, sefepim, sefuroksim,
gentamisin, ofloksasin, dan levofloksasin; sedangkan untuk antibiotik lainnya
sensitivitasnya berkisar antara 80-95%.
Untuk mengobati batuknya pasien diberi ambroxol. Ambroxol merupakan suatu
metabolit bromheksin yang diduga sama cara kerja dan penggunaannya. Ambroxol
merupakan mukolitik yaitu obat yang dapat mnegencerkan secret saluran napas
dengan jalan memecah benang-benang polisakarida dan mukoprotein dari sputum.
Selain itu pasien juga diberi vitamin C yang berfungsi sebagai antioksidan dan
dapat meningkatkan daya tahan tubuh pasien.
Selain terapi farmakologis, diperlukan terapi non farmakologis berupa saransaran kepada pasien, misalnya menjaga pola hidup sehat, makan dan istirahat yang
cukup.

11

TINJAUAN PUSTAKA
INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT
I.

DEFINISI
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit saluran pernapasan
atas atau bawah, biasanya menular, yang dapat menimbulkan berbagai spektrum
penyakit yang berkisar dari penyakit tanpa gejala atau infeksi ringan sampai penyakit
yang parah dan mematikan, tergantung pada patogen penyebabnya, faktor
lingkungan, dan faktor pejamu.1

II.

INSIDEN
ISPA adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas penyakit menular di

dunia. Hampir empat juta orang meninggal akibat ISPA setiap tahun, 98%-nya
disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan bawah. Tingkat mortalitas sangat tinggi
pada bayi, anak-anak, dan orang lanjut usia, terutama di negara-negara dengan
pendapatan per kapita rendah dan menengah. Begitu pula, ISPA merupakan salah satu
penyebab utama konsultasi atau rawat inap di fasilitas pelayanan kesehatan terutama
pada bagian perawatan anak.1
Populasi yang memiliki risiko tertinggi kematian akibat penyakit pernapasan
adalah pada usia muda dan usia lanjut, serta orang dengan penurunan kekebalan
tubuh. Sementara infeksi saluran pernapasan atas sering terjadi namun tidak
berbahaya, infeksi saluran pernapasan bawah lebih sering menyebabkan kematian. 2

12

Insiden dari infeksi saluran pernapasan akut pada anak-anak di bawah 5 tahun
diperkirakan 29 % dan 5 % kejadian pada anak-anak di negara berkembang dan
industry. Kebanyakan kasus terjadi di India (43 juta kasus), Cina (21 juta kasus),
Pakistan (10 juta kasus), Bangladesh, Indonesia dan Nigeria (masing-masing 56
kasus). 21 % dari seluruh kematian pada anak-anak di bawah lima tahun disebabkan
oleh pneumonia, yang diperkirakan dari setiap 1000 kelahiran hidup, 12-20 akan
meninggal sebelum umur lima tahun.2,3
Menurut Departemen kesehartan Republik Indonesia pada akhit tahun 2000,
diperkirakan kematian akibat pneumonia sebagai penyebab utama infeksi saluran
pernapasan akut di Indonesia mencapoai 6 kasus di antara 1000 bayi dan balita. 1

III.

ETIOLOGI
Bakteri adalah penyebab utama infeksi saluran pernapasan bawah, dan

Streptococcus pneumoniae di banyak negara merupakan penyebab paling umum


pneumonia yang didapat dari luar rumah sakit yang disebabkan oleh bakteri. laporan
5 tahun terakhir dari beberapa pusat paru di Indonesia (Medan, Jakarta, Surabaya,
Malang, Makasar) didapatkan hasil pemeriksaan sputum sebagai berikut Klebsiella
pneumoniae 45,18
viridans 9,21

%,Streptococcus

%, Staphylococcus

pneumoniae 14,04

aureus 9

%, Pseudomonas

%, Streptococcus
aeruginosa 8,56

%, Streptococcus haemoliticus 7.89 %, Enterobacter 5,26 %, dan Pseudomonas


spp 0,9 %.Laporan 5 tahun terakhir dari beberapa pusat paru di Indonesia (Medan,
Jakarta, Surabaya, Malang, Makasar) didapatkan hasil pemeriksaan sputum sebagai

13

berikut Klebsiella
%, Streptococcus
aeruginosa 8,56

pneumoniae 45,18
viridans 9,21

%,Streptococcus

%, Staphylococcus

%, Streptococcus

haemoliticus 7.89

aureus 9

pneumoniae 14,04
%, Pseudomonas

%, Enterobacter 5,26

%,

dan Pseudomonas spp 0,9 % .Namun demikian, patogen yang paling sering
menyebabkan ISPA adalah virus, atau infeksi gabungan virus-bakteri. Respiratory
Synctial Virus (RSV) merupakan penyebab penyakit yang serius pada anak-anak.
Selain pada anak-anak, RSV juga memiliki peranan penting penyebab penyakit pada
orang tua dan orang dewasa. Hampir semua infeksi RSV simptomatik dan cenderung
menyebabkan morbiditas dan mortalitas serta penggunaan pelayanan kesehatan. 2,4

IV.

FAKTOR RESIKO
Terjadinya ISPA tertentu bervariasi menurut beberapa faktor. Penyebaran dan

dampak penyakit berkaitan dengan:


1. kondisi lingkungan (misalnya, polutan udara, kepadatan anggota keluarga),
kelembaban, kebersihan, musim, temperatur);
2. ketersediaan dan efektivitas pelayanan kesehatan dan langkah pencegahan
infeksi untuk mencegah penyebaran (misalnya, vaksin, akses terhadap fasilitas
pelayanan kesehatan, kapasitas ruang isolasi);
3. faktor pejamu, seperti usia, kebiasaan merokok, kemampuan pejamu
menularkan infeksi,
status kekebalan, status gizi, infeksi sebelumnya atau infeksi serentak yang
disebabkan oleh

14

4. patogen lain, kondisi kesehatan umum; dan karakteristik patogen, seperti cara
penularan, daya tular, faktor virulensi (misalnya, gen penyandi toksin), dan
jumlah atau dosis mikroba (ukuran inokulum).1
Faktor pejamu yang spesifik juga mempengaruhi risiko infeksi dengan mikroba
spesifik. Misalnya perokok dan penderita PPOK lebih memiliki risiko tinggi
terinfeksi oleh S.pneumoniae, H.influenzae, Moraxella catarrhalis, dan
Legionella.5
V.

KLASIFIKASI ISPA
Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi ISPA sebagai berikut:
1. Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada
kedalam (chest indrawing).
2. Pneumonia, terbagi dua yaitu community acquired pneumonia (pneumonia
komunitas) dan hospital acquired pneumonia (pneumonia nosokomial)
3. Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai
demam, tanpa tarikan dinding dada kedalam. Rinofaringitis, faringitis dan
tonsilitis tergolong bukan pneumonia.6

VI.

GEJALA KLINIK
Gejalanya meliputi demam, batuk, dan sering juga nyeri tenggorok, coryza

(pilek), sesak napas, mengi, atau kesulitan bernapas. Infeksi saluran pernapasan akut
dapat terjadi dengan berbagai gejala klinis. Gejala klinik yang membedakan apakah
penyebab dari ISPA adalah virus atau bakteri sulit dibedakan.6,7

15

VII.

PENGOBATAN
a. Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik parenteral,
oksigendan sebagainya.
b. Pneumonia: diberi obat sesuai dengan organism penyebab.
c. Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotic, terapinya berupa terapi
simptomatik. Diberikan perawatan di rumah, untuk batuk dapat digunakan
obat

batuk

yang

tidak

mengandung

zat

yang

merugikan

seperti

kodein,dekstrometorfan dan, antihistamin. Bila demam diberikan obat


penurun panas yaitu parasetamol. Uji klinik dari manfaat Zinc, Vitamin C, dan
terapi alternative lain tidak mempunyai manfaat yang konsisten untuk terapi.6,7
Pemberian antibiotiK yang tidak sesuai untuk infeksi saluran pernapasan akut
dapat menyebabkan peningkatan prevalensi dari resistensi antibiotic. Lebih dari
setengah dari seluruh pemberian resep antibiotic untuk ISPA tiadk perlu karena
infeksi ini lebih sering disebabkan oleh virus dan tidak memerlukan antibiotic.
Mengetahui apakah ISPA yang terjadi ini karena infeksi bakteri atau virus sangatlah
penting untuk menentukan jenis pengobatan yang akan diberikan nantinya.8
1
Sebelum hasil kultur keluar, maka antibiotic yang dapat diberikan adalah
antibiotic spectrum luas, yang kemudian sesuai hasil kultur diubah menjadi kltur
sempit. Lama pemberian terapi ditentukan berdasarkan adanya penyakit penyerta
dan/atau bakteriemi, beratnya penyakit pada onset terapi dan perjalanan penyakit
pasien. Umumnya terapi diberikan selama 7-10 hari. Ketentuan untuk memberikan
16

makrolid pada pasien pneumonia komunitas berat di daerah Asia perlu penelitian
lebih lanjut. Penelitian di Malaysia terhadap pasien pneumonia komuniatas yang
diberikan makrolod dan tidak diberika makrolid tidak didapta perbedaan manfaat
yang bermakna.Hal ini berkaitan dengan perbedaan jenis dan kepekaan patogen
penyebab pneumonia komunitas.10

VIII. PENCEGAHAN
Landasan pencegahan dan pengendalian infeksi untuk perawatan pasien ISPA
meliputi pengenalan pasien secara dini dan cepat, pelaksanaan tindakan pengendalian
infeksi rutin untuk semua pasien , tindakan pencegahan tambahan pada pasien
tertentu (misalnya, berdasarkan diagnosis presumtif), dan pembangunan prasarana
pencegahan dan pengendalian infeksi bagi fasilitas pelayanan kesehatan untuk
mendukung kegiatan pencegahan dan pengendalian infeksi.
Strategi pencegahan dan pengendalian infeksi di fasilitas pelayanan kesehatan
umumnya didasarkan pada jenis pengendalian berikut ini:1

1. Reduksi dan Eliminasi


Pasien yang terinfeksi merupakan sumber utama patogen di fasilitas pelayanan
kesehatan

dan

penyebaran

agen

infeksius

dari

sumbernya

harus

dikurangi/dihilangkan. Contoh pengurangan dan penghilangan adalah promosi

17

kebersihan pernapasan dan etika batuk dan tindakan pengobatan agar pasien tidak
infeksius. 8
2. Pengendalian administratif
Pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan harus menjamin sumber daya yang
diperlukan

untuk

pelaksanaan

langkah

pengendalian

infeksi.

Ini

meliputi

pembangunan prasarana dan kegiatan pencegahan dan pengendalian infeksi yang


berkelanjutan, kebijakan yang jelas mengenai pengenalan dini ISPA yang dapat
menimbulkan kekhawatiran, pelaksanaan langkah pengendalian infeksi yang sesuai ,
persediaan yang teratur dan pengorganisasian pelayanan (misalnya, pembuatan sistem
klasifikasi dan penempatan pasien). Pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan juga
harus melakukan perencanaan staf untuk mempromosikan rasio pasien-staf yang
memadai, memberikan pelatihan staf, dan mengadakan program kesehatan staf
(misalnya, vaksinasi, profilaksis) untuk meningkatkan kesehatan umum petugas
kesehatan. 8
3. Pengendalian lingkungan dan teknis
Pengendalian ini mencakup metode untuk mengurangi konsentrasi aerosol
pernapasan infeksius (misalnya, droplet nuklei) di udara dan mengurangi keberadaan
permukaan dan benda yang terkontaminasi sesuai dengan epidemiologi infeksi.
Contoh pengendalian teknis primer untuk aerosol pernapasan infeksius adalah
ventilasi lingkungan yang memadai ( 12 ACH) dan pemisahan tempat (>1m) antar
pasien. Untuk agen infeksius yang menular lewat kontak, pembersihan dan disinfeksi

18

permukaan dan benda yang terkontaminasi merupakan metode pengendalian


lingkungan yang penting. 8
4. Alat Pelindung Diri (APD)
Semua strategi di atas mengurangi tapi tidak menghilangkan kemungkinan
pajanan terhadap risiko biologis. Karena itu, untuk lebih mengurangi risiko ini bagi
petugas kesehatan dan orang lain yang berinteraksi dengan pasien di fasilitas
pelayanan kesehatan, APD harus digunakan bersama dengan strategi di atas dalam
situasi tertentu yang menimbulkan risiko penularan patogen yang lebih besar.
Penggunaan APD harus didefinisikan dengan kebijakan dan prosedur yang secara
khusus

ditujukan

untuk

pencegahan

dan

pengendalian

infeksi

(misalnya,

kewaspadaan isolasi). Efektivitas APD tergantung pada persediaan yang memadai


dan teratur, pelatihan staf yang memadai, membersihkan tangan secara benar, dan
yang lebihpenting, perilaku manusianya. 8
Semua jenis pengendalian di atas sangat saling berkaitan. Semua jenis
pengendalian tersebut harus diselaraskan untuk menciptakan budaya keselamatan
kerja institusi, yang menjadi landasan bagi perilaku yang aman. 8

DAFTAR PUSTAKA

19

1) WHO. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)


yang Cenderung Menjadi Epidemi dan Pandemi di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan.2007.
2) WHO. Acute Respiratory Infections (Update Oktober 28). [serial online]. 2015.
[cited 2015 Nov 4]. Available from:
www.who.int/vaccine_research/diseases/ari/en/print.html
3) Wahyono Dj, Hapsari I, Astuti IWB. Pola Pengobatan Infeksi Saluran Napas
Akk Usia Bawah Lima Tahun (Balita) Rawat Jalan di Puskesmas I Purwareja
Klampok Kabupaten Banjarnegara Tahun 2004.[serial online]. 2015. [cited
2015 Nov 2]. Available from: http://mfi.farmasi.ugm.ac.id
4) Falsey, Ann R et al. respiratory Synctial Virus Infection in Elderly and High
Risk Adults. 2015. [cited 2015 Nov 2].Availabele from : www.nejm.org.
5) Goldman, Lee and Aussielo, Dennis. Cecil Medicine 23rd Edition.USA :
Elsevier Inc. 2008.
6) Rasmaliah. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan Penanggulangannya.
2015. [cited 2015 Nov 2].Available from : http://library.usu.ac.id/
7) McPhee, Stephen J and Papadakis, Maxin A. Current Medical Diagnosis &
Treatment 2008. San Fransisco : McGraw Hill.
8) Dahlan Z. Pneumonia. In: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Editors. Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu
Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

20

21