Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH PENDIDIKAN

KEWARGANEGARAAN

Urgensi Integrasi Nasional

Oleh:

KELOMPOK 3
Anggota :

Larasati Puspitaningrum (141610101028)


Ismi Inayatur Yusha
Narita Ajeng L
Arina Nur Rahmah

(141610101030)

oviana

(141610101031)

(141610101032)

Universitas Jember
Tahun Ajar 2015/2016

DAFTAR ISI
BAB 1 Pendahuluan
1.1 Latar belakang........................................................................................ 1
BAB 2 Pembahasan
2.1 Pengertian Integrasi................................................................................ 2
2.2 Faktor Terciptanya Integrasi...................................................................3
2.3. Syarat Integrasi...................................................................................... 4
2.4. Faktor Pendorong Integrasi Nasional......................................................4
2.5. Faktor Penghambat Integrasi Nasional...................................................6
2.6. Jenis-Jenis Integrasi................................................................................11
2.7. Spectrum Integrasi.................................................................................12
2.8. Perkembangan Integrasi Di Indonesia....................................................17
2.9. Pentingnya Integrasi.............................................................................. 21
2.10. Upaya Meningkatkan Integrasi Nasional..............................................23
BAB 3 Kesimpulan.............................................................................................. 27
Daftar pustaka.................................................................................................... 28

BAB 1
PENDAHULUAN
1. 1 LATAR BELAKANG
Integrasi nasional adalah usaha dan proses mempersatukan perbedaan perbedaan yang
ada pada suatu negara sehingga terciptanya keserasian dan keselarasan secara nasional. Masalah
integrasi nasional merupakan persoalan yang dialami hampir semua negara, terutama negaranegara yang usianya masih relatif muda, termasuk Indonesia. Hal ini disebabkan karena
mendirikan negara berarti menyatukan orang-orang dengan segala perbedaan yang ada menjadi
satu entitas kebangsaan yang baru menyertai berdirinya negara tersebut. Begitu juga negara
Indonesia yang usianya masih relatif muda. Sejak proklamasi kemerdekaan sampai sekarang
negara Indonesia masih menghadapi persoalan bagaimana menyatukan penduduk Indonesia yang
di dalamnya terdiri dari berbagai macam suku, memeluk agama yang berbeda-beda, berbahasa
dengan bahasa daerah yang beranekaragam, serta memiliki kebudayaan daerah yang berbeda satu
sama lain, untuk menjadi satu entitas baru yang dinamakan bangsa Indonesia. ]Pengalaman
menunjukkan bahwa dalam perjalanan membangun kehidupan bernegara ini, kita masih sering
dihadapkan pada kenyataan adanya konflik atar kelompok dalam masyarakat, baik konflik yang
berlatarbelakang kesukuan, konflik antar pemeluk agama, konflik karena kesalahpahaman
budaya, dan semacamnya. Hal itu menunjukkan bahwa persoalan integrasi nasional Indonesia
sejauh ini masih belum tuntas perlu terus dilakukan Walaupun harus juga disadari bahwa
integrasi nasional dalam arti sepenuhnya tidak mungkin diwujudkan, dan konflik di antara
sesama warga bangsa tidak dapat dihilangkan sama sekali.

BAB II
PEMBAHASAN

2. 1 PENGERTIAN INTEGRASI
Menurut Kamus Bahasa Indonesia, kata integrasi berarti pembauran hingga menjadi
kesatuan yang utuh dan bulat. Dalam hal ini integrasi bisa terjadi pada beberapa komponen
yakni: Pertama, integrasi bangsa yakni proses penyatuan berbagai kelompok budaya dan sosial
ke dalam kesatuan wilayah dan pembentukan suatu identitas nasional. Kedua, integrasi
kebudayaan yaitu proses penyesuaian antar unsur kebudayaan yang saling berbeda sehingga
mencapai suatu keserasian fungsi dalam kehidupan masyarakat. Ketiga, integrasi kelompok
merupakan proses penyesuaian perbedaan tingka laku warga suatu kelompok bersangkutan.
Keempat, integrasi wilayah yakni pembentukan wewenang kekuasaan nasional pusat diatas unitunit atau wilayah politik yang lebih kecil yang mungkin beranggotakan kelompok budaya atau
sosial tertentu. (Kamus Besar Bahasa Indonesia , 1989)
Istilah integrasi merangkum hubungan-hubungan dan sikap-sikap manusia yang sangat
luas, yaitu; integrasi antara pelbagai kesetiaan kultural, dan pembangunan rasa kebangsaan;
integrasi unit-unit politik kedalam kerangka wilayah bersama, dengan suatu pemerintah dan yang
diperintah; integrasi warga negara kedalam proses politik yang dijalankan bersama; dan terakhir,
integrasi individu-individu ke dalam organisasi-organisasi dengan kegiatan-kegiatan yang
bermanfaat.
Konsep integrasi juga seringkali merujuk pada proses penyatuan yang membutuhkan
penyesuaian. Penyesuaian bisa berupa adaptation atau adjustment, yang diarahkan untuk
mengurangi ketegangan-ketagangan yang timbul dalam kehidupan bersama masyarakat.
Dalam prosesd integrasi, orang memikirkan untuk menerima kultur baru, atau suatu ikatan,
yang oleh para penguasa negara barat disebut sebagai a common citizenship, yaitu asimilasi
baik dalam berbagai pola tingka laku yang berbentuk fisik maupun non-fisik kedalam pola
kultur negeri yang menerima. Hal ini membutuhkan suatu loyalitas dua bidang kehidupan,
yaitu bidang kehidupan pribadi dan kehidupan umum, sehingga dengan demikian kedua

loyalitas itu lebih sering melengkapi daripada saling bersaing atau saling terlibat dalam
konflik.( Koentjaraninggrat, 1993 )

2.2 FAKTOR TERCIPTANYA INTEGRASI


Ada beberapa faktor yang dapat membantu terciptanya integarsi yakni:
a) Pertama, integrasi dapat tercipta jika adanya rasa takut terhadap serangan musuh dari
luar.
b) Kedua, integrasi menyangkaut apa yang disebutnya gaya politik para pemimpin. Bila
mereka ini dapat menerapkan peraturan yang tidak mengistimewahkan salah satu
golongan dalam masyarakatnya, maka mereka dapat mendorong terciptanya integrasi
itu.
c) Ketiga, menekankan pentingnya peranan birokrasi nasional yang sehat, militer
maupuun sipil terutama bila keanggotaannya diangkat berdasarkan pertimbangan
nasional, dan bukannya kedaerahan.
d) Keempat, sistem pendidikan nasional, sistem pendidikan ini dibarengi dengan
penyebaran sarana-sarana komunikasi massa modern seperti surat kabar, radio, televisi
sangat membantu meningkatkan nilai-nilai kesadaran nasional yang baru dan
menyeluruh.
e) Kelima, yang dianggap paling penting adalah kesempatan, bila rakyat diberi
kesempatan

untuuk

mengembangkan

kepentingannya,

maka

mereka

akan

mengembangkan perasaan memiliki yang sungguh-sunggu terhadap negaranya.


Secara umum integrasi nasional mencerminkan proses persatuan orang-orang dari
berbagai wilayah yang berbeda, atau memiliki berbagai perbedaan baik etnisitas, sosial budaya,
atau latar belakang ekonomi, menjadi satu bangsa (nation) terutama karena pengalaman sejarah
dan politik yang relatif sarna (Drake, 1985:16). Selanjutnya, dalam menjalani proses
pembentukan sebagai satu bangsa berbagai suku bangsa ini sebenarnya mencitacitakan suatu
masyarakat baru, yaitu sebuah masyarakat politik yang dibayangkan (imagined political
community) akan memiliki rasa persaudaraan dan solidaritas yang kental, memiliki identitas
kebangsaan dan wilayah kebangsaan yang jelas serta memiliki kekuasaan memerintah
(Anderson, 1983).
5

2.3. Syarat Integrasi


Menurut William F. Ogburn dan Mayer Nimkoff, syarat keberhasilan suatu integrasi sbb:
a) Anggota-anggota masyarakat merasa bahwa mereka berhasil saling mengisi
kebutuhan-kebutuhan satu dengan lainnya.
b) Terciptanya kesepakatan (konsensus) bersama mengenai norma-norma dan nilai-nilai
sosial yang dilestarikan dan dijadikan pedoman
c) Norma-norma dan nilai-nilai sosial dijadikan aturan baku dalam melangsungkan
proses integrasi sosial. (M, Idianto: 2005 )

2.4 FAKTOR PENDORONG INTEGRASI NASIONAL


a.

Pengakuan kebhinekaan apabila homogenitas telah tercapai, dalam arti bahwa setiap anggota
masyarakat mengakui, menerima dan memberikan toleransi yang besar terhadap unsur-unsur
yang berbeda dengan diri dan kelompoknya, maka kelangsungan hidup kelompok akan
terpelihara. Perlu diketahui bahwa integrasi erat hubungannya dengan disorganisasi dan
disintegrasi social karena menyangkut unsur psikologis yang diwujudkan dalam bentuk ikatan
norma sebagai pedoman bersikap dan bagi setiap anggota masyarakat. ( Rusman : 2005).

b.

Adanya kesamaan dalam heterogenitas. Kesamaan dalam heterogenitas timbul karena factor
pengalaman histories atau pengalaman nasib yang sama, persamaan faktor geografis, persamaan
faktor ekologis.

c.

Perasaan saling memiliki apabila setiap anggota masyarakat merasa bahwa mereka berhasil
memenuhi kebutuhannya serta mampu membantu memenuhi kebutuhan orang lain, yakni
kebutuhan material dan nonmaterial (kebutuhan biologis, psikologis, sosiologis), perasaan saling
memiliki akan tumbuh dan berkembang dalam setiap sektor kehidupan.

d.

Tercapainya suatu konsensus mengenai nilai-nilai dan norma sosial. Adanya kesesuaian paham
tentang aturan dan nilai-nilai norma sosial, berarti terdapat kesepakatan di antara anggota
masyarakat tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, bagaimana seharusnya bersikap,
bertindak, dan berinteraksi dengan orang lain dalam mencapai tujuan masyarakat.

e.

Norma-norma masyarakat konsisten dan tidak berubah-ubah. Suatu norma yang tetap atau tidak
berubah-ubah sifatnya mudah diketahui dan dipahami, sehingga proses internalisasi dapat
dilakukan secara optimal. Salah satu norma yang konsisten yaitu norma agama, sebab norma

agama bersifat universal, sehingga norma agama pada umumnya diketahui dan dipahami oleh
pemeluknya terutama pada masyarakat religious.
f.

Pembinaan kesadaran meningkatkan kesadaran tentang arti pentingnya integrasi dan partisipasi,
dapat dilakukan dengan berbagai upaya, diantaranya sebagai berikut:
1.

Menanamkan pengertian dan pemahaman tentang saling ketergantungan antar individu

2.

atau kelompok sehingga timbul kesadaran darii masing-masing pihak.


Mempertahankan dan meningkatkan motivasi setiap kelompok atau golongan untuk

3.

membentuk masyagrakat yang besar.


Memberitahukan atau mensosialisasikan prestasi dan prestise yang telah dicapai kepada

4.

masyarakat, agar kenyakinan untuk bersatu semakin kuat.


Memperkuat dan memperluas kesadaran dalam berpartisipasi aktif bagi seluruh
komponen masyaratkat. (Rusman : 2005).

g.

Pelaksanaan asas keadilan sosial dan subsidiaritas asas keadilan dan subsidiaritas sebernarnya
merupakan asas etika sosial. Asas ini mempunyai pengaruh sosiologis yang kuat. Persatuan dan
kesatuan akan terjalin dengan baik apabila setiap individu atau kelompok merasa di perlakukan
secara adil, sehingga terhindar dari prasangka buruk dan cemburu social. Prinsip supsidiaritas
berlaku pada semua bentuk organisasi. Artinya, segala sesuatu yang dapat dikerjakan oleh
organisasi kecil/ atau rendah hendaknya didelegasikan kepada organisasi tersebut (tidak
dikerjakan oleh organisasi besar), sehingga organisasi kecil atau rendah tidak pasif. Organisasi
besar yang mendelegasikannya tetap melaksanakan pengawasan sebagaimana mestinya.
Contohnya, pengerjaan pembangunan jalan di desa tidak dilaksanakan oleh pemerintahan pusat,
tetapi diberikan kepada pemerintahan tingkat kecamatan atau desa.

h.

Pengawasan sosial dan intensif dalam rangka menciptakan dan memelihara keteraturan sosial,
seluruh komponen masyarakat harus berperan aktif melaksanakan pengawasan sosial, terutama
pengawasan resmi oleh aparat Negara/ pemerintah yang dalam prosesnya didasarkan pada
peraturan/ perundangan yang berlaku. Contohnya, pengawasan sosial di jalan raya oleh polisi
lalu lintas.

i.

Tekanan dari luar solidaritas antar individu dalam suatu kelompok, atau antar kelompok dalam
suatu komunitas yang besar akan semakin bertambah besar/ kuat apabila ada pihak lain yang
mengancam kestabilan kelompok tersebut. Contohnya, kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia
ketika menghadapi agresi militer kaum kolonial pada masa revolusi fisik; perbedaan etnis, ras,
agama, berubah menjadi semangat mempertahankan kemerdekaan yang baru beberapa saat mati.
7

j.

Bahasa persatuan bahasa yang dimengerti oleh seluruh komponen masyarakat merupakan sarana
yang efektif dalaam menggalang kesatuan dan persatuan. Dengan bahasa, segala sesuatu yang
berkaitan deengan tujuan bersamaa dapaat disosialisasikan kepada seluruh anggota masyarakat.
(Rusman : 2005).
2.5 FAKTOR PENGHAMBAT INTEGRASI NASIONAL

Adapun yang menjadi faktor internal yang mengahambat terwujudnya integrasi nasional di
Indonesia adalah sebagai berikut:
1.

Masyarakat

Indonesia

yang

heterogen

(beraneka

ragam)

dalam

faktor-faktor

kesukubangsaan dengan masing-masing kebudayaan daerahnya, bahasa daerah, agama


yang dianut, ras dan sebagainya. (Ahmad : 2006).
Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia yaitu lebih dari
237 juta jiwa dan dari jumlah tersebut terdiri dari 1.128 suku bangsa yang tinggal di
Indonesia.Bukan hanya itu, Indonesia juga memiliki 6 agama resmi yaitu Islam, Khatolik,
Protestan, Hindu, Budha dan Konghucu. Hal itu membuktikan bahwa Indonesia memang kaya
akan keberagamannya.
Untuk mewujudkan integrasi nasional di Indonesia jika dilihat dari faktor internalnya
sangat sulit untuk mencapainya dengan mudah. Karena syarat dari tercapainya integrasi nasional
adalah terciptanya kesepakatan bersama mengenai norma-norma dan nilai-nilai sosial yang
dilestarikan dan dijadikan menjadi suatu pedoman. Dengan beragamnya kebudayaan di
Indonesia sulit juga untuk menyepakati suatu norma dan nilai sosial yang akan dijadikan suatu
pedoman, karena tiap daerah mempunyai kebudayaan, adat dan pandangan hidup masing-masing
yang sulit untuk diubah.
2. Wilayah negara yang begitu luas, terdiri atas ribuan kepulauan yang dikelilingi oleh lautan luas.
Indonesia, adalah negara di Asia Tenggara yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada di
antara benua Asia dan Australia serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia dan
merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 13.466 pulau dengan luas
wilayah lebih dari 1,9 juta Km2. Dengan wilayah yang begitu luas, menjadi salah satu faktor
yang menghambat terwujudnya integrasi nasional di Indonesia karena begitu jauhnyan jangkauan
antar daerah di Indonesia.
3. Kurangnya kesadaran di dalam diri masing-masing rakyat Indonesia terhadap segala ancaman
dan gangguan yang muncul dari luar. (Ahmad : 2006).
8

Masyarakat Indonesia seringkali menyepelekan apa yang terjadi di sekitarnya, karena


pengaruh yang ada tidak berdampak apa-apa pada dirinya, sehingga rasa kebersamaan dan
kekeluargaan semakin lama semakin memudar.
Kurangnya kesadaran di dalam diri masing-masing rakyat Indonesia terhadap segala
ancaman dan gangguan yang muncul dari luar ini akan berdampak pada munculnya disintegrasi
nasional, karena pada zaman sekarang ini bentuk ancaman tidak berupa peperangan fisik ataupun
penjajahan secara fisik, akan tetapi ancaman dan gangguan tersebut adalah dalam bentuk perang
pemikiran dan perang budaya, dimana terjadinya perubahan sosial akibat masuknya budaya luar
yang dapat memecahbelahkan masyarakat Indonesia, mungkin dampaknya bisa berupa tidak
adanya persamaan pandangan mengenai tujuan semula yang ingin dicapai, norma-norma
masyarakat mulai tidak berfungsi dengan baik sebagai alat pengendalian sosial demi mencapai
tujuan bersama, sanksi yang diberikan kepada pelanggar norma tidak dilaksanakan secara
konsekuen, tindakan-tindakan warga masyarakat tidaklagi sesuai dengan norma-norma yang
berlaku dalam masyarakat dan terjadi proses-proses sosial yang bersifat disosiatif.
Maka jika telah terjadi hal demikian, berarti disintegrasi nasional di Indonesia telah ada.
Dan hal tersebut akan mengancam terwujudnya integrasi nasional di Indonesia.
4. Lemahnya nila-nilai budaya bangsa akibat kuatnya pengaruh budaya asing yang tidak sesuai
dengan kepribadian bangsa
Beberapa golongan masyarakat Indonesia ada yang memiliki pandangan bahwa semua
unsur-unsur yang masuk dalam suatu masyarakat dianggap baik dan lebih maju, sehingga perlu
diikuti, terutama unsur-unsur budaya dari dunia barat. Hal ini karena perkembangan ilmu dan
teknologi mereka demikian maju dan cepat perkembangannya.
Keadaan ini membuat sebagian masyarakat lupa bahwa tidak semua yang datang dari
barat merupakan hal-hal yang modern. Proses menerima semua unsur-unsur barat tanpa seleksi
disebut Westernisasi. Semua yang datang dari barat tidak dapat digolongkan modern. Pergaulan
bebas, seks bebas, merupakan kerusakan moral dan tidak sesuai dengan nilai dan norma bangsa
Indonesia.
Modern tidak sama dengan westernisasi. Hal ini berarti tidak semua yang datang dari
Barat itu modern. Westernisasi harus ditolak karena Indonesia bukan negara Barat, tapi Indonesia
memiliki nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial sendiri yang jauh lebih baik dari normanorma sosial yang ada di Barat. Sehingga jika westernisasi terjadi pada masyarakat Indonesia,
9

maka akan semakin sulit terwujudnya integrasi nasional di Indonesia, karena terjadinya
pertentangan antar norma-norma yang ada dalam masyarakat. (Ahmad : 2006).
Berikut ini adalah yang menjadi faktor eksternal penghambat terwujudnya integrasi nasional di
Indonesia:
1. Kurangnya penghargaan terhadap kemajemukan yang memiliki sifat heterogen.
Sebagai Negara yang kaya akan kemajemukan yang dimiliki, Indonesia seharusnya
mampu untuk mengapresiasikan keunikan tersebut. Jika kemajemukan Indonesia ini
diapresiasikan dan diberi pengahargaan, maka masyarakat Indonesia akan merasa bangga
menjadi warga negara Indonesia dan dengan kemajemukan tersebut dianggap sebagai suatu
kelebihan menjadi warga negara yang dapat bersatu bukan sebagai hambatan dalam terwujudnya
integrasi nasional. (Ahmad : 2006).
2. Masih besarnya ketimpangan dan ketidakmerataan pembangunan dan hasil-hasil pembangunan.
Hal ini dapat menimbulkan berbagai rasa tidak puas dan keputusasaan di masalah SARA
(Suku, Agama, Ras, dan Antar-golongan), gerakan separatisme dan kedaerahan, demonstrasi dan
unjuk rasa. Karena pada hakikatnya manusia memiliki sifat yang tidak ingin dibeda-bedakan
dalam perlakuannya, maka begitu pula dengan proses pembangunan di Indonesia. Setiap daerah
atau wilayah di Indonesia memiliki hak dalam penerimaan pembangunan daerah. Jika terjadi
ketidakmerataan pembangunan ini, maka akan sulit terwujudnya integrasi nasional di Indonesia
karena terjadinya kecemburuan sosial disetiap daerahnya.
3. Pembauran Bangsa
Pembauran bangsa merupakan usaha untuk menyatukan suku-suku bangsa dalam
masyarakat bangsa Indonesia menjadi satu kesatuan yang utuh atau pemaduan masyarakatmasyarakat kecil yang banyak jumlahnya menjadi satu bangsa baru, yaitu Indonesia. Bersatu
sebagai satu bangsa tidak hanya berdasarkan atas kesamaan ras, suku, bangsa, bahasa, agama,
kepentingan atau batas-batas geografis, tetapi berdasarkan pada kesaman perasaan, kesamaan
niat yang timbul sebagai akibat pengorbanan yang telah dialami di masa lampau, masa kini, dan
akan dialami bersam-bersama di masa mendatang. Titik rawan dari pembauran bangsa tetap
terletak pada kelompok keturunan. Perhatian khusus diberikan kepada kelompok masyarakat
keturunan Tionghoa, ini disebabkan beberapa hal, yaitu:
a. Jumlah kelompok masyarakat itu cukup besar, sekitar 3,5 juta orang
10

b. Pola hidup mereka secara relatif masih eksklusif; dan


c. Pada umumnya mereka berada dalam kelompok masyarakat ekonomi kuat.
Berdasarkan pada hal itu kita dapat mengatakan bahwa masih ada beberapa hambatan
dalam proses pembauran kelompok keturunan Tionghoa ini antara lain faktor budaya, ekonomi,
dan politik. (Ahmad : 2006).
4. Kerukunan Antar Umat Beragama
Sudah menjadi pendapat umum pada tingkat nasional ataupun tingkat internasional, bahwa
Republik Indonesia adalah negara yang mempunyai penganut Agama Islam terbesar di dunia.
Dari data statistik sering diungkapkan bahwa dari 148 juta penduduk indonesia, 90% menganut
Agama Islam.
Akan tetapi sejak Indonesia merdeka kedudukan islam dalam area politik nasional
seringkali menjadi persoalan yang menimbulkan pertentangan, sehingga mengakibatkan
kemacetan politik, pemberontakan berlatar belakang agama dan kedaerahan, juga pertentangan
sosial lainnya. Di kalangan umat islam dalam kenyataannya terdapat berbagai derajat kaum
muslimin, dari yang saleh sampai mereka yang abangan. Sedangkan di barisan orang-orang saleh
pun terdapat bermacam-macam aliran. Dengan kondisi seperti itu, menjadikan masalah islam di
Indonesia sebagai persoalan yang cukup rumit.
Bersamaan dengan isu Kristianisasi di kalangan umat islam belum kunjung lenyap, dan
belakangan ini muncul isu Islamisasi di kalangan umat kristen. Semua ini menunjukkan betapa
berkembangnya solidaritas sempit yang membawa kemrosotan semangat kebangsaan
Indonesia.Dengan demikian kesadaran untuk menumbuhkan sikap saling pengertian kesulitan
yang dihadapi masing-masing kelompok agama masih sangat rendah.
5. Perubahan Nilai-nilai
Dari mulai Indonesia merdeka sampai sekarang ini, masih terdapat pandangan umum
bahwa ada kesulitan untuk menentukan nilai-nilai Indonesia, akibat adanya kesenjangan yang
bersifat struktural dalam masyarakat. Kesenjangan itu semakin terasa ketika arus budaya barat
masuk dengan deras ke persada Nusantara. Lebih tragis lagi karena ketidaksiapan dan
ketidakmatangan budaya domestik untuk merangkul budaya barat yang disebut budaya modern
itu.
Akibat dari perkembangan teknologi komunikasi juga muncul kelompok masyarakat yang
merasa mandiri, kemudian muncul egoisme, asalkan saya selamat, yang lain masa bodoh. Bila

11

kita sampai pada pemikiran seperti itu akan sampai pada satu bahaya besar, karena akan terjadi
disintegrasi yang tidak tampak. Disintegrasi seperti itu baru akan terlihat bila kita telah
mengalami suatu musibah besar perpecahan politik etau serangan dari luar. Jika ini terjadi,
neragara hanyalah tinggal sebagai kerangka tetapi isinya keropos.
Sekelompok pakar berpendapat bahwa proses pembangunan di negara-negara berkembang
berpotensi untuk menjadi violent-generating process (proses pembentukan kekerasan). Olson
misalnya menyatakan bahwa perubahan secara cepat di dalam teknik produksi dan prilaku
ekonomi akan membawa masyarakat pada situasi anomy yang dicirikan dengan perasaan
hilangnya pijakan dan hilangnya norma-norma. Ironi dari bangsa Indonesia hari ini adalah
rontoknya tradisi meritokrasi dan hilangnya kapasitas visioner yang diiringi dengan
menggejalanya tradisi instan di segala lapisan masyarakat.
Belajar dari pengalaman negara-negara di Amerika Latin, suatu sistem politik yang
didominasi oleh kalkulasi materi dan agenda-agenda politik yang pragmatis, tidaklah memiliki
kemampuan jangka panjang untuk mengantarkan suatu negara bangsa mencapai fase demokrasi
yang terkonsolidasi. Jadi perubahan dalam nilai-nilai bangsa Indonesia ini akan melunturkan
sikap kebengsaan Indonesia dan akan sulitnya terwujud integrasi nasional di Indonesia.
(Sumarsono, S : 2008).
6. Politik.
Masalah politik merupakan aspek yang paling mudah untuk menyulut berbagai
ketidaknyamanan atau ketidaktenangan dalam bermasyarakat dan sering

mengakibatkan

konflik antar masyarakat yang berbeda faham apabila tidak ditangani dengan bijaksana akan
menyebabkan konflik sosial di dalam masyarakat. Selain itu ketidak sesuaian kebijakankebijakan pemerintah pusat yang diberlakukan pada pemerintah daerah juga sering menimbulkan
perbedaan kepentingan yang akhirnya timbul konflik sosial karena dirasa ada ketidak adilan
didalam pengelolaan dan pembagian hasil atau hal-hal lain seperti perasaan pemerintah daerah
yang sudah mampu mandiri dan tidak lagi membutuhkan bantuan dari pemerintah pusat, konflik
antar partai, kabinet koalisi yang melemahkan ketahanan nasional dan kondisi yang tidak pasti
dan tidak adil akibat ketidakpastian hukum.
7. Ekonomi
Krisis ekonomi yang berkepanjangan semakin menyebabkan sebagian besar penduduk hidup
dalam taraf kemiskinan. Kesenjangan sosial masyarakat Indonesia yang semakin lebar antara
12

masyarakat kaya dengan masyarakat miskin dan adanya indikasi untuk mendapatkan kekayaan
dengan tidak wajar yaitu melalui KKN.
8. Sosial Budaya
Pluralitas kondisi sosial budaya bangsa Indonesia merupakan sumber konflik apabila tidak
ditangani dengan bijaksana. Tata nilai yang berlaku di daerah yang satu tidak selalu sama
dengan daerah yang lain. Konflik tata nilai yang sering terjadi saat ini yakni konflik antara
kelompok yang keras dan lebih modern dengan kelompok yang relatif terbelakang.
9. Pertahanan Keamanan
Kemungkinan disintegrasi bangsa dilihat dari aspek pertahanan keamanan dapat terjadi
dari seluruh permasalahan aspek asta gatra itu sendiri. Dilain pihak turunnya wibawa TNI dan
Polri akibat kesalahan dimasa lalu dimana TNI dan Polri digunakan oleh penguasa sebagai alat
untuk mempertahankan kekuasaannya bukan sebagai alat pertahanan dan keamanan negara.
(Sumarsono : 2008).
2.6. JENIS JENIS INTEGRASI
Menurut Suroyo (2002), integrasi nasional mencerminkan proses persatuan orang-orang
dari berbagai wilayah yang berbeda, atau memiliki berbagai perbedaan baik etnisitas, sosial
budaya, atau latar belakang ekonomi, menjadi satu bangsa (nation) terutama karena pengalaman
sejarah dan politik yang relatif sama. Dalam realitas nasional integrasi nasional dapat dilihat dari
tiga aspek yakni aspek politik, ekonomi, dan sosial budaya. Dari aspek politik, lazim disebut
integrasi politik, aspek ekonomi (integrasi ekonomi), yakni saling ketergantungan ekonomi
antardaerah yang bekerjasama secara sinergi, dan aspek sosial budaya (integrasi sosial budaya)
yakni hubungan antara suku, lapisan dan golongan.
1. Integrasi Politik
Dalam tataran integrasi politik terdapat dimensi vertikal dan horisontal. Dimensi yang
bersifat vertikal menyangkut hubungan elit dan massa, baik antara elit politik dengan massa
pengikut, atau antara penguasa dan rakyat guna menjembatani celah perbedaan dalam rangka
pengembangan proses politik yang partisipatif. Dimensi horisontal menyangkut hubungan yang
berkaitan dengan masalah teritorial, antardaerah, antarsuku, umat beragama dan golongan
masyarakat Indonesia .
13

2. Integrasi Ekonomi
Integrasi ekonomi berarti terjadinya saling ketergantungan antar daerah dalam upaya
memenuhi kebutuhan hidup rakyat. Adanya saling ketergantungan menjadikan wilayah dan
orang-orang dari berbagai latar akan mengadakan kerjasama yang saling menguntungkan dan
sinergis. Di sisi lain, integrasi ekonomi adalah penghapusan (pencabutan) hambatan-hambatan
antar daerah yang memungkinkan ketidak lancaran hubungan antar keduanya, misal peraturan,
norma dan prosedur dan pembuatan aturan bersama yang mampu menciptakan keterpaduan di
bidang ekonomi.
3. Integrasi sosial budaya
Integrasi ini merupakan proses penyesuaian unsur-unsur yang berbeda dalam masyarakat
sehingga menjadi satu kesatuan. Unsur-unsur yang berbeda tersebur dapat meliputi ras, etnis,
agama bahasa, kebiasaan, sistem nilai dan lainse bagainya. Integrasi sosial budaya juga berarti
kesediaan bersatu bagi kelompok- kelompok sosial budaya di masyarakat, misal suku, agama dan
ras.
2.7 SPEKTRUM INTEGRASI
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Anharuddin tahun 2005 tentang integrasi
sosio-kultural masyarakat transmigrasi, integritas dapat dibagi dalam beberapa jenis, yakni:
integrasi politik, integrasi bangsa, integrasi wilayah, integrasi nilai, integrasi elit-massa, dan
perilaku integratif.
b Integrasi Bangsa
Orang-orang tidak mengarahkan rasa kesetiaan pada bangsanya sebagai satu
keseluruhan tetapi lebih mementingkan pada kelompok-kelompok kedaerahan, etnis,
keagamaan, bahasa mereka masing-masing oleh karena itu integrasi bangsa ini sangat penting
sebab menyatukan berbagai kelompok sosial budaya dalam satu kesatuan wilayah dan dalam
satu identitas nasional. Apabila,masyarakat itu berupa masyarakat majemuk yang meliputi
berbagai suku bangsa, ras dan agama. Hal ini diperkuat dengan pandangan Howard Wrigings
bahwa Integrasi bangsa berarti menyatukan bagian-bagian yang berbeda-beda dari suatu
masyarakat menjadi suatu keseluruhan yang lebih utuh, atau memadukan masyarakatmasyarakat kecil yang banyak jumlahnya menjadi satu bangsa. (Anharuddin : 2005)
Dalam pengintegrasian bangsa ini beberapa kebijakan pemerintah pusat untuk
14

menyatukan seluruh masyarakat kepada satu negara nasional yakni: pertama, penghapusan
sifat kultural utama dari kelompok minoritas dan mengembangkan semacam kebudayaan
nasional, biasanya kebudayaan kelompok suku bangsa yang dominant dan kebijakan inilah
yang disebut sebagai asimilasi. Kedua, pembentukan nasional tanpa menghapuskan
kebudayaan kelompok kecil. (Anharuddin : 2005)
Di samping kedua jenis integrasi itu, salah satu cara yang revolusional untuk
mengintegrasikan masyarakat agar menyatu dengan negara bangsa adalah dengan cara
kekerasan dan intimidasi militer, tidak sedikit pula negara-negara baru yang otoriter
menggunakan cara ini untuk memaksa rakyat dari suatu masyarakat yang kebanyakan
penduduknya buta huruf itu agar setia kepada negaranya. Negara yang menggunakan cara
kekerasa ini gampang muncul pula benih-benih separatisme sebagai ungkapan kekecewaan
mereka. (Anharuddin : 2005)
Integrasi politik pada masyarakat majemuk bukan hanya kesulitan-kesulitan didalam
mengembangkan kata sepakat mengenai batas-batas territorial dan sosialisasi yang harus
dihadapi oleh masyarakat mejemuk, akan tetapi kesulitan-kesulitan yang jauh lebih besat
didalam mengembangkan system pemerintahan atau aturan main proses-proses politik yang
mapan.Penerimaan Pancasila sebagai satu-satunya asas tunggal bariu sesudah Republik ini
berusia diatas tiga puluhan tahun merupakan satu contoh yang menarik. Menghadapi beragam
kesulitan, sutau masyarakat bangsa yang bersifat majemuk seringkali harus mengambil jalan
pintas mengembangkan suatu sistem politik yang sangat otoritarian, antara lain melalui
birokratisasi dan koorporatisasi hamper semua organisasi kemasyarakatan. (Anharuddin :
2005)
Secara fundamental persoalan yang muncul dalam proses integrasi nasional bersumber
pada terjadinya pergeseran-pergeseran didalam struktur kekuasaan yang diakibatkan oleh
berdirinya suatu negara bangsa. Oleh karena itu integrasi nasional sebenarnya melibatkan
persoalan kedaulatan, terutama menyangkut bagaimana kekuasaan beralih dalam kelompokkelompok masyarakat dan bagaimana mereka membagi menggunakan kekuasaan diantara
mereka. Bila dilihat dari sudut kekuasaan seperti ini maka menurut integrasi politik pada
dasarnya mencakup dua masalah utama: pertama, bagaimana membuat rakyat tunduk dan
patuh kepada negara. Kedua, bagaimana meningkatkan konsensus normatif yang mengatur
tingka laku politik masyarakat atau individu-individu yang ada di dalamnya. (Anharuddin :
15

2005)
Hal yang kedua ini menyangkut perilaku integratif masyarakat yakni kesediaan
masyarakat untuk ikut ambil bagian dan bekerjasama dalam kebijakan politik untuk mencapai
tujuan negara. Dalam hal ini masyarakat harus mengesampingkan kepentingan individu,
perbedaan kelompok dan perbedaan pendapat bahkan persaingan sekalipun. Tidak harus
dipertentangkan dengan kesediaan bekerjasama, sebab bekerjasama yang baik tidak dilandasi
dengan kelemahan individu, keseragaman dan sikap pasrah melainkan dengan kemampuan
individu, perbedaan pendapat, persaingan sehat, dan sikap yang tegar. (Anharuddin : 2005)
Dalam sebuah negara yang otoriter dan meiliteristik perbedaan ini tidak dibenarkan, ia
menggunakan berbagai macam dalil dengan kekerasan, paksaan, intimidasi, dan ultra
hegemoni negara untuk mengbungkam kenyataan diversifitas dalam segala dimensi. Biasanya
cara seperti ini sering digunakan bagi suatu negara yang rakyatnya diintegrasikan secara paksa
kedalam negaranya dan perjalanan selanjutnya rakyat dipaksa untuk menerima simbol-simbol
kenegaraan sekalipun di dalam benaknya menolak atau paksaan itu tetapi ia dengan terpaksa
harus menerimanya. (Anharuddin : 2005)
c Integrasi Wilayah
Penyatuan masyarakat majemuk yang disebut diatas ini, biasanya dapat diikuti dengan
integrasi wilayah dimana wilayah tempat integrasi masyarakat itu secara otomatis akan
menjadi bagian wilayah negara bangsa sehingga pemerintah pusat mempunyai kedaulatan
penuh atas wilayah itu dan berhak mengawasinya dari gangguan dan bahaya dari negara lain.
Integrasi wilayah ini menjadi suatu permasalah yang besar bagi negara-negara yang baru.
Salah satu tantangan yang dihadapi pemerintah khususnya di negara-negara yang baru
merdeka adalah pembentukan suatu pemerintah pusat yang menguasai atas seluruh wilayah
dan penduduk yang tinggal dalam batas-batas wilayah itu. (Anharuddin : 2005)
Integrasi teritorial dalam bidang horizontal yang bertujuan untuk mengurangi
diskontinuitas dan ketegangan kultur kedaerahan dalam proses mewujudkan suatu masyarakat
yang homogen. Dengan lain perkataan integrasi horizontal atau proses pemaduan bangsa tidak
mengenal pembatasan-pembatasan yang ada di dalam bidang vertikal dan horizontal . Dalam
banyak negara, pemerintahan eksekutifnya hampir tidak dapat menerapkan. (Anharuddin :
16

2005)
d Integrasi Elit-Massa
Di dalam suatu negara pasti ada pihak yang memerintah dan yang diperintah. Tidak
pernah ada negara yang tanpa pemerintah dan juga tidak pernah ada pemerintah yang tanpa
masyarakat. Pihak yang memerintah seringkali disebut sebagai kaum elit politik dan pihak
yang diperintah disebut sebagai massa atau masyarakat. Dalam setiap masyarakat terdapat dua
kelas yang menonjol. Pertama, kelas yang memerintah, yang terdiri dari sedikit orang,
melaksanakan fungsi politik, memonopoli kekuasaan, dan menikmati keuntungan-keuntungan
yang ditimbulkan dengan kekuasaan. Kedua, kelas yang diprintah yang berjumlah lebih
banyak, diarahkan dan dikendalikan oleh penguasa dengan cara-cara yang kurang lebih
berdasarkan hukum, semaunya dan paksaan. (Anharuddin : 2005)
Sudah terlalu biasa untuk berbicara tentang jurang pemisah antara pemerintah dan yang
diperintah pada bangsa-bangsa yang baru. Dan secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa
terdapat perbedaan mendasar dalam kebudayaan dan sikap hidup antara kaum elit dan massa.
Kaum elit berfikir sekuler, berbicara dan berpendidikan barat, sedangkan massa masih tetap
berorinetasi kepada nilai-nilai tradisional, pada dasarnya religius dan mereka mulai berbicara
dalam bahasa daerah. Dengan gaya hidup kebat-baratan dan berpendidikan yang jauh lebih
baik, kaum elit yang terdiri dari para birokrat, sipil dan militer, politisi dan pengusaha serta
para pekerja di sektor-sektor swasta merupakan elit kota yang kosmopolitan. Celah perbedaan
antara elit dan massa adalah latar belakang pendidikan perkotaan menyebabkan kaum elit
berbeda dari masyarakat yang berpandangan tradisional dan pedesaan. (Anharuddin : 2005)
Celah vertikal dalam kepolitikan disebabkan oleh seringnya perbedaan antara elit dan
massa terjembatani oleh adanya komunikasi diantara keduanya. Akan tetapi komunikasi ini
tidak hanya menghasilkan output yang integratif melainkan juga output yang berbobot
disintegratif. Di samping komunikasi sebagai jembatan antara kaum elit dan massa ideology
atau ikatan primordialisme juga menghubungkan kaum elit dan massa namun gejala
integrative ini masih juga mengandung bobot yang disintegratif dan sudah tentu ada
bahayanya. Banyaknya pemimpin cenderung untuk memanfaatkan hubungan yang vertical ini
bila perpecahan dalam kubu mereka sendiri berkembang dalam konflik yang tidak dapat
mereka atasi. Sehingga di manapun di dunia ini dalam system politiknya selalu terdapat
17

perbedaan di antara mereka yang memerintah dan yang di perintah. (Anharuddin : 2005)
Untuk menyatukan perbedaan tersebut di atas maka dibutuhkan integrasi dalam elit dan
massa. Menurut Ramlan Surbakti : Integrasi antara Elit dan Massa ialah upaya untuk
menghubungkan antara golongan elit yang memerintah dan khalayak yang diperintah. Lebih
jauh dikatakan bahwa integrasi antara elit dan khalayak tidak berarti bahwa melenyapkan
perbedaan di antara mereka. Kalau integrasi ini dilihat sebagai proses maka integrasi elit dan
khalayak merupakan proses kelembagaan pola hubungan kewenangan antara pemerintah dan
rakyat. Pola kewenangan ini dapat digambarkan bahwa tidak ada masyarakat yang memiliki
permufakatan begitu besar sehingga kewenangan tidak lagi diperlukan dan tidak ada
masyarakat yang pemerintahannya begitu kuat dan secara internal kompak sehingga dapat
bertahan dalam waktu yang lama hanya mengandalkan kekuatan yang kuat dan kompak.
Ketika pada fase awal permulaan pembangunan di mana mulai timbul partisipasi politik secara
besar-besaran sangatlah penting untuk membentuk integrasi elit-massa demi pembuatan pola
hubungan yang baru antara pemerintahdan massa. (Surbakti: 1992)
e Integrasi Nilai
Integrasi nilai ialah persetujuan bersama mengenai tujuan-tujuan dan prinsip-prinsip
dasar politik dan prosedur-prosedur penyelesaian konflik dan permasalahan bersama lainnya.
Dengan demikian integrasi nilai adalah penciptaan suatu sistem nilai (ideologi nasional) yang
dipandang ideal, baik dan adil dengan berbagai kelompok masyarakat. Sistem nilai ini
biasanya dirumuskan ke dalam konstitusi bangsa-negara tersebut. Proses meyakinkan berbagai
kelompok masyarakat untuk menerima ideologi negara bangsa sebagai sistem nilai bersama,
dan proses pemasyarakatan sistem nilai kepada seluruh warga negara merupakan proses
integrasi nilai. Integrasi nilai dalam konteks Indonesia, seluruh dimensi nilai yang terkandung
dalam masyarakat Indonesia harus tunduk dan taat serta terintegrasi diri dalam nilai ideologi
dan simbol-simbol kebangsaan seperti Pancasila. (Anharuddin : 2005)
2.8 PERKEMBANGAN SEJARAH INTEGRASI INDONESIA:
1. Model Imperium Majapahit

18

Secara historis sebenarnya Indonesia pernah memiliki model integrasi nasional yang
meliputi wilayah hampir seluas Negara Republik Indonesia (RI). Yang

pertama adalah

kemaharajaan (imperium) Majapahit (abad XIV-XV). Struktur kemaharajaan yang begitu luas
diperkirakan berbentuk mirip kerajaan Mataram Islam, yaitu struktur konsentris. Dimulai dengan
konsentris pertama yaitu wilayah inti kerajaan (nagaragung): pulau Jawa dan Madura yang
diperintah langsung oleh raja dan saudara-saudaranya, menerapkan sistem pemungutan pajak
langsung untuk biaya hidup keluarga raja. Konsentris kedua adalah wilayah di luar Jawa
(mancanegara dan pasisiran) yang merupakan kerajaan-kerajaan otonom,atau kerajaan tertakluk
yang mengakui hegemoni Majapahit, dengan kebebasan penuh mengatur negeri mereka masingmasing. Kewajiban terhadap negara pusat hanya menghadap maharaja Majapahit dua kali
setahun dengan membawa upeti sebagai pajak. Konsentris ketiga (tanah sabrang) adalah negaranegara sahabat dimana Majapahit menjalin hubungan diplomatik dan hubungan dagang, antara
lain dengan Champa, Kamboja, Ayudyapura (Thailand). Integrasi vertikal dibangun melalui
penguasaan maritim, hubungan pusat dan daerah dibina melalui hubungan perdagangan dan
kunjungan pejabat. Ekspedisi angkatan laut (jaladi) digunakan apabila terjadi pembangkangan,
seperti yang diceritakan dalam Hikayat Raja-raja Pasai. Kewibawaan Majapahit tercermin dalam
berbagai hikayat maupun tradisi lisan dari berbagai daerah di Nusantara, selain dalam
Nagarakertagama (Alfian, 1999; Holben, 1992; Moertono, 1974; Hall, 1985). Disintegrasi
Majapahit terjadi karena pertama, kelemahan di pusat kekuasaan (konflik perebutan takhta).
Kedua, saling pengaruh antara faktor ekonomi, kemakmuran kota-kota pelabuhan, dan faktor
budaya, berkembangnya agama Islam, yang membentuk solidaritas dan integrasi horizontal
kerajaankerajaan pesisir di daerah melawan kekuasaan Majapahit di pusat.
2. Model Integrasi Kolonial
Integrasi nasional kedua, lebih tepat disebut dengan integrasi kolonial, atas wilayah
Hindia Belanda baru sepenuhnya dicapai pada dekade kedua abad XX dengan wilayah yang
terentang dari Sabang sampai Merauke. Pemerintah kolonial mampu membangun integrasi
wilayah juga dengan menguasai maritim, sedang integrasi vertikal antara pemerintah pusat dan
pemerintah daerah dibina melalui jaringan birokrasi kolonial, yang terdiri dari ambtenaarambtenaar (pegawai) Belanda dan pribumi yang tidak memiliki jaringan dengan massa rakyat.
Dengan kata lain pemerintah tidak memiliki dukungan massa yang berarti. Masyarakat kolonial
19

yang pluralistik dan segregatif memisahkan golongan kulit putih, Cina dan pribumi yang
membawa kelemahan pada integrasi sosial budaya. Dengan demikian ketika menghadapi serbuan
tentara Jepang pada masa perang Dunia II, integrasi kolonial Hindia Belanda ini langsung
runtuh, tanpa massa rakyat yang menopangnya.
3. Proses Integrasi Nasional
Hingga akhir abad XIX berbagai kerajaan kesukuan di wilayah yang kini benama
Indonesia berjuang melawan kekuasaan kolonial Belanda dengan menggunakan cara perlawanan
bersenjata. Perlawanan yang dipimpin oleh penguasa kerajaan atau elit lokal bersama rakyat
mereka berakhir dengan kekalahan, hingga seluruh kerajaan-kerajaan tersebut dikuasai
pemerintah kolonial dan menjadi wilayah taklukkan Hindia Belanda (kecuali Aceh yang baru
ditaklukkan tahun 1913). Namun perlawanan skala kecil, sporadis di tingkat akar rumput, dalam
bentuk protes dan perlawanan petani terus berjalan hingga akhir penjajahan (Kartodirdjo, 1973).
Menginjak abad XX, seiring dengan perubahan politik kolonial di dalam negeri untuk
memajukan rakyat jajahan sebagai "balas budi" (Ethische Politiek), maupun pengaruh
perkembangan nasionalisme di luar negeri, perjuangan melawan penjajahan mengalami babak
baru, yaitu menggunakan bentuk-bentuk perjuangan politik dan kultural melalui organisasiorganisasi modern yang dikenal sebagai pergerakan nasional.
Pada awal abad XX "Bangsa Indonesia" masih merupakan kawula (subject) dari negara
kolonial Hindia Belanda. Dalam arti ini perlu dikemukakan bahwa pengertian bangsa (nation)
sebagai konsep politik masih relatif baru. Secara historis ia lahir sebagai anak revolusi rakyat
yang membebaskan diri dari kekuasaan absolut dan mendirikan negara merdeka yang
berkonstitusi.
Faham kebangsaan dipelopori oleh revolusi rakyat Inggris (1654), dilanjutkan revolusi
rakyat Amerika Serikat (1776) dan mencapai puncaknya pada revolusi rakyat Perancis (1789)
(Kohn,1984; Hobsbawn, 1992). Seterusnya faham bangsa dan semangat kebangsaan atau
nasionalisme (semangat mencintai dan membela bangsa) terus tumbuh berkembang dan menjalar
di banyak negara di dunia. Khusus di negara-negara jajahan, faham bangsa dan semangat
kebangsaan menjadi cambuk perjuangan kemerdekaan.
20

4. Kesadaran Berbangsa
Di Indonesia kesadaran berbangsa mulai timbul di kalangan golongan terpelajar mahasiswa
dari kawula Hindia Belanda pada dekade pertama abad XX, justru sebagai "produk sampingan"
dari hasil pendidikan kolonial yang tidak diharapkan oleh pemerintah Kolonial. Para mahasiswa
inilah yang menumbuhkembangkan kesadaran kebangsaan dengan mendirikan organisasi Budi
Utomo pada tahun 1908, dan mereka yang belajar di negeri Belanda mendirikan Indische
Vereniging pada tahun yang sarna (Kartodirdjo, 2001)
Faktor-Faktor Yang Menumbuhkan Kesadaran Berbangsa:
Seperti di negara-negara jajahan yang lain, tumbuhnya kesadaran berbangsa dipengaruhi
sedikitnya tiga faktor, yaitu pendidikan, bahasa rakyat (vernacular), dan media massa.
1. Melalui Pendidikan Forrmal
2. Bahasa Melayu
3. Media Massa
Berkat dukungan ketiga faktor tersebut, kesadaran berbangsa yang ditumbuhkan oleh
organisasi-organisasi pergerakan nasional sejak tahun 1908 semakin menjangkau kalangan yang
lebih luas di lingkungan rakyat pribumi yang terdiri dari berbagai suku, ras, dan keturunan, serta
menyadarkan mereka akan pentingnya bersatu, bersama-sama berjuang untuk kemajuan,
kesejahteraan, dan kemerdekaan. Para pemuda-mahasiswa yang idealis dan militan, mulai dari
Sutomo (Budi Utomo), Tjokroaminoto (Sarekat Islam), Hatta (Indische Vereniging-Perhimpunan
Indonesia), Soekamo (Algemene Studieclub Bandung -PNI), Yamin (Jong Sumatra), Semaoen
(Serikat Buruh VSTP), Misbach (Serikat Tani Insulinde), Marco (Wartawan Doenia Bergerak) ,
adalah contoh dari sekian banyak pemimpin yang mewakili segala lapisan dan golongan yang
menggerakkan rakyat pribumi untuk mendukung perjuangan (Shiraishi, 1990).
Sejak waktu itu proses integrasi terus bergulir seiring dengan perjuangan menuntut
pemerintahan sendiri dan kemerdekaan, meski mengalami tekanan dari pemerintah kolonial yang
semakin represif terhadap gerakan radikal, sejak pemogokan besar-besaran yang dipelopori kaum
Komunis pada tahun 1925/1926. Pemerintah bahkan melarang Partai Komunis Hindia, likuidasi
PNI, dan pembuangan para pemimpin "radikal" ke luar Jawa (Kahin,1961; Ingleson, 1986).
21

Keruntuhan negara kolonial Hindia Belanda pada Perang Dunia II (1942) oleh serbuan
Jepang, dan pendudukan Hindia Belanda oleh Jepang merubah seluruh struktur politik di Hindia
Belanda. Nama Indonesia secara resmi dipakai menggantikan nama wilayah Hindia Belanda,
namun secara politik wilayah Indonesia dipecah menjadi tiga kekuasaan militer Jepang:
Sumatera di bawah Angkatan Darat (Tentara Ke-25), Jawa dan Madura di bawah Angkatan Darat
(Tentara Ke-16), sedang wilayah Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku di bawah Angkatan laut
(Armada Selatan Ke-2). Meskipun di bawah kekuasaan Jepang, Indonesia kembali dijajah.
namun proses integrasi bangsa justru mencapai tonggak yang sangat penting, karena ikrar
Sumpah Pemuda (satu nusa, satu bangsa, satu bahasa) secara faktual diakui oleh pemerintah
militer Jepang, dengan tujuan agar rakyat mendukung peperangannya melawan Sekutu.
Pelarangan bahasa Belanda (dan bahasa Sekutu yang lain) dan penggunaan bahasa Indonesia
(dan bahasa Jepang) secara bebas melalui retorika para pemimpin dan media massa, semakin
meningkatkan rasa kebangsaan dan persatuan. Meski disatu pihak Jepang melancarkan
mobilisasi massa rakyat (pembentukan Peta, Heiho, Seinendan, Keibodan, Romusha) guna
mendukung keperluan perang, baik untuk kebutuhan sumber daya manusia, maupun
pengumpulan bahan makanan dan sandang yang dituntut dari rakyat secara paksa, namun di
pihak lain mobilisasi ini memberikan pengalaman partisipasi rakyat demi kepentingan negara,
yang kelak akan sangat diperlukan negara bangsa (Kurasawa, 1987).
4. Masa Kemerdekaan Indonesia
Berakhirnya Perang Dunia II dengan menyerahnya Jepang kepada Sekutu merupakan
kesempatan emas bagi bangsa Indonesia untuk memerdekakan diri, bebas dari kekuasaan
penjajah siapa pun. Momentum untuk menyatakan kemerdekaan kepada dunia diraih pada
tanggal 17 Agustus 1945, ketika terjadi vacum of legitimate power, karena Jepang yang kalah
tidak lagi sah memerintah, dan Sekutu yang menang belum lagi datang. Saat itu merupakan
tonggak sejarah yang monumental bagi proses integrasi bangsa Indonesia. Secara yuridis formal
bangsa Indonesia dikukuhkan menjadi satu nation pada tanggal 18 Agustus 1945 dengan'
disahkannya Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia. Negara RI dengan dasar
Pancasila yang digali oleh Soekarno, yang kemudian disempurnakan dan disahkan oleh sidang
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), dilengkapi dengan lambang Garuda Pancasila
bertuliskan "Bhinneka Tunggal Ika" adalah perwujudan formal dari integrasi nasional Indonesia
22

(Rahardjo, 2001). la merupakan Imagined Community yang dulu dicita-citakan oleh para
pemuda yang berikrar pada tahun 1928, dan diidam-idamkan oleh seluruh bangsa Indonesia.
Soekarno, salah seorang Bapak Bangsa Indonesia, telah berjasa merumuskan nilai-nilai
kepribadian bangsa ini menjadi dasar negara.
Pancasila dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya berperan sebagai kultur normatif
dan alat pemersatu bangsa. Nilai-nilai Pancasila akan menentukan orientasi tujuan serta sistem
sosiopolitik pada tingkat makro dan menentukan kaidah-kaidah yang mendasari pola kehidupan
individual. Dengan demikian, Pancasila tidak hanya menjadi faktor determinan bagi kehidupan
moral berbangsa, tetapi juga memberikan landasan ideologis bagi pelbagai unsur dalam
masyarakat Indonesia yang bersifat pluralistis itu. Selain itu, Pancasila sebagai ideologi negara
mengandung nilai-nilai yang menjadi komponen dari nasionalisme sebagai dasar untuk
memperjuangkan realisasi dari integrasi nasional Indonesia (Kartodirdjo, 1990).
Revolusi nasional yang terjadi antara tahun 1945 hingga 1949, dan penyatuan ke arah
negara kesatuan RI tahun 1950 adalah batu ujian pertama apakah integrasi nasional yang telah
kita deklarasikan menjadi realitas, atau masih merupakan masyarakat yang imajiner.
2.9 PENTINGNYA INTEGRITAS
Masyarakat yang terintegrasi dengan baik merupakan harapan bagi setiap negara. Sebab
integrasi masyarakat merupakan kondisi yang diperlukan bagi negara untuk membangun
kejayaan nasional demi mencapai tujuan yang diharapkan. Ketika masyarakat suatu negara
senantiasa diwarnai oleh pertentangan atau konflik, maka akan banyak kerugian yang diderita,
baik kerugian berupa fisik materill seperti kerusakan sarana dan prasarana yang sangat
dibutuhkan oleh masyarakat, maupun kerugian mental spiritual seperti perasaan kekawatiran,
cemas, ketakutan, bahkan juga tekanan mental yang berkepanjangan. Disisi lain banyak pula
potensi sumber daya yang dimiliki oleh negara, yang mestinya dapat digunakan untuk
melaksanakan pembangunan bagi kesejahteraan masyarakat, harus dikorbankan untuk
menyelesaikan konflik tersebut. Dengan demikian negara yang senantiasa diwarnai konflik di
dalamnya akan sulit untuk mewujudkan kemajuan. (Sumartana, 2001)

23

Dalam integrasi nasional masyarakat termotivasi untuk loyal kepada negara dan bangsa.
Dalam integrasi terkandung cita-cita untuk menyatukan rakyat mengatasi SARA melalui
pembangunan integral. Integrasi nasional yang solid akan memperlancar pembangunan nasional
dan pembangunan yang berhasil akan memberikan dampak positip terhadap negara dan bangsa
sebagai perwujudan nasionalisme. Dengan

berhasilnya

pembangunan sebagai wujud

nasionalisme, konflik-konflik yang mengarah kepada perpecahan atau disintegrasi dapat diatasi
karena integrasi nasional memerlukan kesadaran untuk hidup bersama dalam mewujudkan
masyarakat yang harmonis. Negara dan bangsa sebagai institusi yang diakui, didukung, dan
dibela oleh rakyat diharapkan mampu mengakomodasikan seluruh kepentingan masyarakat dan
memperjuangkan nasip seluruh warga bangsa. (Sumartana, 2001)
Apabila dipikirkan antara integrasi dan nasionalisme saling terkait. Integrasi memberi
sumbangan terhadap nasionalisme dan nasionalisme mendukung integrasi nasional. Oleh karena
itu, integrasi nasional harus terus dibina dan diperkuat dari waktu ke waktu. Kelalaian terhadap
pembinaan integrasi dapat menimbulkan konflik dan disintegrasi bangsa. Sebagai contoh,
keinginan berpisah beberapa provinsi dari NKRI. Oleh karena itu, diharapkan pemerintah pusat
dapat mengakomodasikan setiap isu yang timbul di daerah. (Sigit, 2009 )
Integrasi masyarakat yang sepenuhnya memang sesuatu yang tidak mungkin diwujudkan,
karena setiap masyarakat disamping membawakan potensi integrasi juga menyimpan potensi
konflik atau pertentangan. Persamaan kepentingan, kebutuhan untuk bekerja sama, serta
konsensus

tentang

nilai-nilai

tertentu

dalam

masyarakat,

merupakan

potensi

yang

mengintegrasikan. Sebaliknya perbedaan-perbedaan yang ada dalam masyarakat seperti


perbedaan suku, perbedaan agama, perbedaan budaya, dan perbedaan kepentingan adalah
menyimpan potensi konflik, terlebih apabila perbedaan-pebedaan itu tidak dikelola dan disikapi
dengan cara dan sikap yang tepat. Namun apapun kondisi integrasi masyarakat merupakan
sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk membangun kejayaan bangsa dan negara, dan oleh karena
itu perlu senantiasa diupayakan. Kegagalan dalam mewujudkan integrasi masyarakat berarti
kegagalan untuk membangun kejayaan nasional, bahkan dapat mengancam kelangsungan hidup
bangsa dan negara yang bersangkutan.
Sejarah indonesia adalah sejarah yang merupakan proses dari bersatunya suku-suku
bangsa menjadi sebuah bangsa. Ada semacam proses konvergensi, baik yang desengaja maupun
24

tidak disengaja, ke arah menyatunya suku-suku tersebut menjadi satu kesatuan negara dan
bangsa. (Sumartana, 2001)
2.10 UPAYA MENINGKATKAN INTEGRASI NASIONAL
1. Meningkatkan integrasi nasional secara vertical (pemerintah dengan masyarakat). Cara-cara
yang dapat ditempuh adalah:
Menerapkan rezim terbaik bagi Indonesia, yaitu rezim yang sebagaimana terdapat dalam
UUD 1945 dan Pancasila. Dimana dalam UUD 1945 dinyatakan 4 tujuan negara yaitu:
melindungi seluruh golongan masyarakat dan seluruh tumpah darah Indonesia,
mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan ikut serta
menciptakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, keadilan dan perdamaian abadi,
dan Pancasila sebagai sumber filsafat negara yaitu: Ketuhanann Yang Mahaesa,
Kemanusiaan yang Adil dan Beradap, persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin
oleh Hikmah ebijaksanaan Permusyawaratan Perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi
Seluruh Rakyat Indonesia. Tujuan ini dipandang maksimal jika rezim didukung secara
struktural dengan bentuk dan susunan negara (negara republic dan kesatuan), karena
struktur pemerintahan cenderung bersifat pembagian kekuasaan daripada pemisahan
kekuasaan, dan jaminan atas hak-hak warga negara, seperti menyampaikan pendapat,

berasosiasi, beragama, dan kesejahteraan. (Surbakti: 1992).


Menciptakan kondisi dan membiasakan diri untuk selalu membangun konsensus.
Kompromi dan kesepakatan adalah jiwa musyawarah dan sesungguhnya juga demokrasi.
Iklim dan budaya yang demikian itu, bagi Indonesia yang amat majemuk, sangat
diperlukan. Tentunya, penghormatan dan pengakuan kepada mayoritas dibutuhkan, tetapi
sebaliknya perlindungan terhadap minoritas tidak boleh diabaikan. Yang kita tuju adalah
harmoni dan hubungan simetris, dan bukan hegemoni. Karena itu, premis yang
mengatakan The minority has its say, the majority has its way harus kita pahami secara

arif dan kontekstual.


Merumuskan kebijakan dan regulasi yang konkret, tegas dan tepat dalam segala aspek
kehidupan dan pembangunan bangsa, yang mencerminkan keadilan semua pihak, semua
wilayah. Kebijakan otonomi daerah, desentralisasi, keseimbangan pusat daerah,
hubungan simetris mayoritas-minoritas, perlindungan kaum minoritas, permberdayaan
putra daerah, dan lain-lain pengaturan yang sejenis amat diperlukan. Disisi lain undang25

undang dan perangkat regulasi lain yang lebih tegas agar gerakan sparatisme, perlawanan
terhadap ideologi negara, dan kejahatan yang berbau SARA tidak berkembang dengan

luluasa, harus dapat kita rumuskan dengan jelas. (Surbakti: 1992).


Upaya bersama dan pembinaan integrasi nasional memerlukan kepemimpinan yang arif
dan efektif. Setiap pemimpin di negeri ini, baik formal maupun informal, harus
memilikim kepekaan dan kepedulian tinggi serta upaya sungguh-sungguh untuk terus
membina dan memantapkan integrasi nasional. Kesalahan yang lazim terjadi, kita sering
berbicara tentang kondisi objektif dari kurang kukuhnya integrasi nasional di negeri ini,
serta setelah itu bermimpi tentang kondisi yang kita tuju (end state), tetapi kita kurang
tertarik untuk membicarakan prose dan kerja keras yang harus kita lakukan.
Kepemimpinan yang efektif di semua ini akhirnya merupakan faktor penentu yang bisa

menciptakan iklim dan langkah bersama untuk mengukuhkan integrasi nasional.


Meningkatkan intergrasi wilayah, dengan membentuk kewenangan nasional pusat
terhadap wilayah atau daerah politik yang lebih kecil. Indonesia membentuk konsep
wilayah yang jelas dalam arti wilayah yang meliputi darat, laut, udara, dan isinya degan
ukuran tertentu. Maupun dengan aparat pemerintah dan sarana kekuasaan untuk menjaga
danmempertahankan kedaulatan wilayah dari penetrasi luar. Namun, kenyataannya masih
banyak wilayah Indonesia yang kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah, sehingga
seringkali diaku oleh negara lain.

b.

Meningkatkan integrasi nasional secara horizontal antar masyarakat Indonesia yang

plural. Cara-cara yang dapat ditempuh adalah:

Membangun dan menghidupkan terus komitmen, kesadaran, dan kehendak untuk bersatu.
Perjalanan panjang bangsa Indonesia untuk menyatukan dirinya, sebutlah mulai
Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan 1945, dan
rangkaian upaya menumpas pemberontakan dan saparatisme, harus terus dilahirkan

dalam hati sanubari dan alam pikiran bangsa Indonesia. (Surbakti: 1992).
Membangun kelembagaan (pranata) di masyarakat yang berakarkan pada nilai dan norma
yang menyuburkan persatuan dan kesatuan bangsa tidak memandang perbedaan suku,
agama, ras, keturunan, etnis dan perbedaan-perbedaan lainnya yang sebenarnya tidak
perlu diperdebatkan. Menyuburkan integrasi nasional tidak hanya dilakukan secara
struktural tetapi juga kultural. Pranata di masyarakat kelak harus mampu membangun
26

mekanisme peleraian konflik (conflict management) guna mencegah kecenderungan

langkah-langkah yang represif untuk menyelesaikan konflik.


Meningkatkan integrasi bangsa adalah penyatuan berbagai kelompok sosial budaya
dalam satu-kesatuan wilayah dan dalam suatu identitas nasional. Diandaikan, masyarakat
itu berupa masyarakat majemuk yang meliputi berbagi suku bangsa, ras, dan agama. Di
Indoonesia integrasi bangsa diwujudkan dengan a) penghapusan sifat kultural utama dari
kelompok minoritas dengan mengembangkan semacam kebudayaan nasional biasanya
kebudayaan suku bangsa yang dominan, atau b) dengan pembentukan kesetiaan nasional
tanpa menghapuskan kebudayaan kelompok kecil. Negara Indonesia menempuh cara b
ini, yakni menangani masalah integrasi bangsa dengan kebudayaan nasional yang
dilukiskan sebagai puncak-puncak (hal yang terbaik) dari kebudayaan daerah, tetapi

tanpa menghilangkan (bahkan mengembangkan) kebudayaan daerah.


Mengembangkan perilaku integratif di Indonesia, dengan upaya bekerja sama dalam
organisasi dan berperilaku sesuai dengan cara yang dapat membantu pencapaian tujuan
organisasi. Kemampuan individu, kekhasan kelompok, dan perbedaaan pendapat bahkan
persaingan sekalipun tidak perlu dipertentangkan dengan kesediaan bekerja sama yang
baik. Perilaku integrative dapat diwujudkan dengan mental menghargai akan perbedaan,

saling tenggang rasa, gotong royong, kebersamaan, dan lain-lain.


Meningkatkan integrasi nilai di antara masyarakat. Integrasi nilai adalah persetujuan
bersama mengenai tujuan-tujuan dalam prinsip dasar politik, dan prosedur-prosedur
lainnya, dengan kata lain integrasi nilai adalah penciptaan suatu system nilai (ideology
nasional) yang dipandang ideal, baik dan adil dengan berbagi kelompk masyarakat.
Integrasi nilai Indonesia ada dalam Pancasila dan UUD 1945 sebagai sistem nilai
bersama. (Surbakti: 1992).

27

BAB III
KESIMPULAN

Integrasi nasional adalan suatu konsep dalam ikatan dengan wawasan kebangsaan dalam
Negara Kesatuan Indonesia yang berlandaskan pada aliran pemikiran atau paham integralistik
dalam usaha dan proses mempersatukan perbedaan-perbedaan yang ada dalam suatu negara
sehingga tercapai keserasian dan keselarasan secara nasional.
Terdapat beberapa faktor yang dapat mendorong terjadinya integrasi nasional yaitu
persamaan sejarah masa lalu, rasa cinta tanah air, keinginan untuk bersatu, dan rela berkorban
untuk kepentingan negara. Sedangkan faktor-faktor yang dapat menghambat integrasi nasional
adalah keterbatasan pengetahuan yang dimiliki tentag sejarah-sejarah Indonesia, hilangnya rasa
cinta tanah air, tidak ada rasa berkorban terhadap sesame, bahkan hilangnya rasa hormat
terhadap symbol-simbol Negara (Garuda pancasila) dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Upaya membanguan integrasi adalah perlu adanya kesadaran dari setiap masyarakat serta
upaya perlunya kesadaran dari setiap masyarakat akan hak dan kewajibannya sebagai warga.

28

DAFTAR PUSTAKA
Anderson, B. 1983. Imagined Communities : Reflection On The Origine And Spread Of
Nationalism. London : Ferso Edition and NLB
Agustina Magdalena Djuliati Suroyo. 2002. Integrasi Nasional dalam Perspektif Sejarah
Indonesia Sebuah Proses yang Belum Selesai. Unifersitas Diponegoro
Anharudin. 2005. Integrasi Sosio-Kultural Masyarakat di Kawasan Transmigrasi.
Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Drake, Christine, 1985. National lntegration in Indonesia. Pattern and Policy. Honolulu:
University of Hawaii Press.
Efendi, Rusman. 2005. Sosiologi 2. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Ingleson, John. 1986. Insert Of Justice. Workers And Unions In Colonial Java, 1908-1926.
Singapore Oxford University Press
Kahin, Goerge. Mc Turnan. 1961. Nationalism And Revolution In Indonesia. Ithaca/New York:
Cornell University Press
Kartodirdjo, Sartono. 2001. Indonesian Historiography. Jogjakarta : Kanisius
Kartodirdjo, Sartono. 1990. Kebudayaan Pembangunan Dalam Perspektif Sejarah. Jogjakarta:
University Press
Kurasawa, Aiko. 1987. Mobilisasi Dan Control, Studi Perubahan Social Dipedesaan Jawa 19421945, Terjemahan Hermawan Sulistiyo. Jakarta : Yayasan Karti Sarana/GRASINDO
Kusrahmad, Sigit Dwi i. 2009. Pentingnya Wawasan Nusantara Dan Integrasi Nasional.
Yogyakarta : Program Sekolah Dasar Guru Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negri
Yogyakarta
M, Idianto. 2005. Sosiologi Untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Erlangga.
Mansur, Ahmad. 2006. Pendidikan Kewarganegaraan. Erlangga : Jakarta.

29

P.J. Bouma., 1982. Sosiologi Fundamental, Jakarta: Jambatan,


Poerwadarminta. 1984. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdiknas
Shiraishi, Takashi. 1990. An Age in Motion. Popular Radicalism in Java, 1912-1926. Ithaca and
London: Cornell University Press, hal. XI
Sumartana,dkk . 2001. Pluralisme, Konflik, dan Pendidikan Agama di Indonesia. Yogyakarta :
Interfidie
Sumarsono, S. 2008. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Surbakti, Ramlan. 1992. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Widya Pustaka Utama.

30

Anda mungkin juga menyukai