Anda di halaman 1dari 51

TUGAS

PERANCANGAN ALAT PROSES


Thickener dan Cyclone

Kelompok 01:
1. Badariah Mauli R.
2. Siti Nadhilah Febrianti
3. Melda Zulfani
4. M. Fahkrurrozi NST
5. Mutiara Rizki Prayesi
6. Ulfa Fitrializa
7. Leonardo R Ginting
8. M. Hanief Ridlo
9. Febri Sandi
10. Nesi Harniwika
11. Vera Dona

(03031181419001)
(03031181419013)
(03031181419047)
(03031181419057)
(03031181419059)
(03031181419061)
(03031281419087)
(03031281419147)
(03031281419153)
(03031181419159)
(03031381419115)

Dosen Pengampu:
Bazlina Dawami Afrah, S.T., M.T., M.Eng.

JURUSAN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2016

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam yang telah memberikan kami kemampuan
dan konsistensi dalam menyelesaikan tugas mata kuliah Perancangan Alat Proses ini.
Shalawat dan salam kami curahkan kepada Nabi Muhammad SAW, seorang reformis sejati
yang menjadi pemimpin dunia sehingga membawa umat manusia ke arah yang benar dan
sebagai Nabi akhir zaman. Tidak lupa pula shalawat serta salam kepada keluarga dan
sahabatnya serta kita sebagai umatnya yang selalu mengharapkan syafaat kelak di yaumil
akhir.
Makalah berjudul Thickener dan Cyclone ini berisikan dua peralatan dalam industri
proses yang mana kedua peralatan yang dimaksud dipergunakan sebagai pemisah untuk fasefase terkait fungsi masing-masing. Disamping itu, definisi, klasifikasi, prinsip kerja dan
beragam variasi informasi lainnya turut disajikan guna menambah wawasan dan pengetahuan
baik bagi penyusun maupun pembaca.
Akhir kata, tiada gading yang tak retak, namun dari keretakan itulah timbul inisiatif
dan motivasi dalam mencapai kesempurnaan. Kami yakin bahwa makalah ini masih memiliki
sejumlah kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun senantiasa kami
harapkan demi perbaikan di masa depan. Terima kasih.
Indralaya, 23 Maret 2016

Tim Penyusun

Page 1 of 51

DAFTAR ISI
Kata Pengantar .................................................................................................................... 1
Daftar Isi.............................................................................................................................. 2
BAB I THICKENER ...........................................................................................................
1.1 Konsep Dasar Pemisahan Liquid-Solid (Solid-Liquid).....................................
1.2 Definisi Thickener............................................................................................
1.3 Desain Thickener .............................................................................................
1.4 Prinsip Kerja Thickener....................................................................................
1.5 Klasifikasi Thickener .......................................................................................
1.6 Peranan Thickener dalam Dunia Industri ........................................................

3
4
5
6
9
12
17

BAB II CYCLONE ..............................................................................................................


2.1 Konsep Dasar Pemisahan Gas-Solid.................................................................
2.2 Definisi Cyclone ..............................................................................................
2.3 Desain Cyclone ................................................................................................
2.4 Prinsip Kerja Cyclone ......................................................................................
2.5 Klasifikasi Cyclone...........................................................................................
2.6 Bentuk-Bentuk Cyclone ...................................................................................
2.7 Performa Cyclone dan Key Parameter Pendukung Lainnya ...........................
2.8 Kelebihan dan Kekurangan Cyclone...............................................................
2.9 Aplikasi Cyclone dalam Dunia Industri............................................................

18
18
19
20
22
23
25
26
31
32

BAB III SIMULASI HYSYS UNTUK CYCLONE ........................................................... 34


Kesimpulan ......................................................................................................................... 49
Daftar Pustaka ..................................................................................................................... 50

Page 2 of 51

BAB I
THICKENER
Proses kimia terdiri dari beragam stage reaksi esensial, yang mana stage-stage reaksi
ini dilengkapi dengan berbagai variasi pemisahan. Proses pemisahan sendiri adalah suatu
proses memisahkan komponen-komponen dalam suatu senyawa dengan tujuan untuk
mendapatkan result dengan kemurnian yang lebih tinggi.
Teknik-teknik utama pada proses pemisahan ditunjukkan pada tabel berikut.
Teknik-Teknik Pemisahan

Pada makalah ini, Bab 1 menjelaskan tentang thickener sebagai alat pemisah liquidsolid (komponen major: liquid) sedangkan Bab 3 menjelaskan tentang cyclone sebagai alat
pemisah gas-solid dan gas-liquid (komponen major: gas). Hydrocyclone yang merupakan
pemisah liquid-solid (atau solid-liquid) diklasifikasikan sebagai salah satu jenis cyclone.

Page 3 of 51

1.1 Konsep Dasar Pemisahan Liquid-Solid (Solid-Liquid)


Pemisahan fase solid dan liquid kemungkinan besar merupakan jenis pemisahan yang
paling sering digunakan pada suatu proses industri. Beberapa teknik yang digunakan untuk
pemisahan kedua fase ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Teknik-teknik pemisahan
pada gambar tersebut didasarkan atas perbedaan densitas atau massa jenis liquid dan solid.
Proses pemisahan ini sendiri adalah dengan menggunakan prinsip gravitasi, sentrifugasi atau
filtrasi, tergantung dari ukuran dan bentuk partikel. Adapun teknik yang paling sesuai untuk
suatu pemisahan akan tergantung pada konsentrasi solid dan laju alir masuk feed, termasuk
didalamnya ukuran dan karakteristik partikel solid.

Teknik Pemisahan Solid-Liquid (Liquid-Solid)

Pemilihan alat untuk pemisahan fase ini akan tergantung pada objektif utamanya:
apakah untuk mendapatkan liquid murni atau produk solid, atau berapakah derajat kekeringan
dari solid yang diinginkan, atau berapakah ukuran dari partikel yang masuk.

Page 4 of 51

Alat-Alat untuk Pemisahan Solid-Liquid berdasarkan Konsentrasi dan Ukuran Partikel


(setelah Dahlstrom dan Cornell, 1971)

1.2 Definisi Thickener


Thickener adalah salah satu jenis alat industri kimia yang berfungsi meningkatkan
konsentrasi suatu suspensi dengan jalan sedimentasi (pengendapan) dan pembentukan zat cair
yang jernih. Hasil luaran dari thickener biasanya langsung masuk ke Filter Press yang
berfungsi untuk menghilangkan air pada sludge hingga dihasilkan limbah berupa padatan.
Tujuan proses thickening adalah untuk:
a. Memekatkan (meningkatkan konsentrasi) padatan
b. Mengurangi volume padatan
Proses sedimentasi terdiri dua subproses utama, yakni thickening dan klarifkasi
(clarification); alat untuk kedua proses ini juga mirip. Yang membedakan keduanya adalah
tujuan utama masing-masing alat. Tujuan utama proses thickening adalah untuk
meningkatkan konsentrasi dari suspended solid (SS) bila kandungannya SS-nya besar
Page 5 of 51

sedangkan tujuan utama klarifikasi adalah untuk memisahkan fine solid yang jumlahnya kecil
sehingga didapatkan effluent liquid jernih. Thickening dan klarifikasi merupakan proses yang
relatif murah ketika digunakan pada pengolahan liquid dengan volume yang besar.
1.3 Desain Thickener
Pemilihan Jenis Thickener
Pemilihan jenis unit thickener tergantung pada optimalisasi pencapaian syarat, biaya
pemasangan dan biaya operasional. Sebagai contoh, thickener berefisiensi tinggi, yang
memaksimalkan konsentrasi padatan underflow, memerlukan tenaga putar yang lebih tinggi
dibanding thickener konvensional.
Kebanyakan manufaktur mempunyai ukuran yang telah sesuai dengan jumlah
maksimum overlap pada bridge-supported,

center-column-supported, dan tipe traction.

Bridge-supported thickener biasanya terpilih untuk garis tengah kurang dari 30 m (100 ft),
center-column mendukung thickener terpilih untuk garis tengah lebih besar, dan unit traction
memiliki harga yang sedikit mahal untuk ukuran lebih dari 75 m (250 ft) untuk kondisi yang
menerapkan dinding topang sesuai untuk membawa beban.
Kondisi khusus mempengaruhi pemilihan jenis thickener. Sebagai contoh, jika suatu
unit harus disesuaikan untuk menjaga panas, jenis bridge-supported mungkin lebih hemat
jika diameter (garis tengah) yang digunakan adalah sampai dengan 45 m (150 ft). Hal ini
menyebabkan 30 m (100 ft) merupakan batas yang ekonomis untuk suatu unit.
Bahan Konstruksi
Ada banyak material yang dapat dipakai untuk tanki. Kebanyakan dibuat dari baja,
selain itu dapat juga dibuat dari kayu, baja tahan-karat, rubber-convered, atau campuran
logam khusus.

Bagian-Bagian Thickener
Page 6 of 51

Bagian-Bagian Thickener

Unit Thickener dengan Mekanisme Bridge-supported (Tampak Atas)

Page 7 of 51

Unit Thickener dengan Mekanisme Bridge-supported (Tampak Depan)

Bentuk thickener tampak luar hampir sama dengan kolam sedimentasi. Namun,
ketinggiannya biasanya lebih tinggi karena thickener biasanya menampung sludge
sedimentasi dan sludge dari kolam lain.
Alat thickener tersusun dari perangkat utama berupa tanki silinder besar dengan
rotating rake (penggaruk berputar) pada dasar tanki. Tanki segiempat juga dapat digunakan.
Namun, tanki silinder biasanya lebih dipilih. Desain tanki sendiri diklasifikasikan
berdasarkan bagaimana rake ditopang dan digerakkan. Sementara itu, desain rake ditentukan
berdasarkan karakteristik (nature) dari solid. Desain dan konstruksi thickener dijelaskan oleh
Dahlstrom dan Cornell (1971).

Page 8 of 51

1.4 Prinsip Kerja Thickener


Sedimentasi atau Pengendapan
Sedimentasi adalah suatu unit operasi untuk menghilangkan materi tersuspensi atau
flok kimia secara gravitasi. Proses sedimentasi pada pengolahan air limbah umumnya untuk
menghilangkan padatan tersuspensi sebelum dilakukan proses pengolahan selanjutnya.
Gumpalan padatan yang terbentuk pada proses koagulasi masih berukuran kecil. Gumpalangumpalan kecil ini akan terus saling bergabung menjadi gumpalan yang lebih besar dalam
proses flokulasi. Dengan terbentuknya gumpalan-gumpalan besar, maka beratnya akan
bertambah, sehingga karena gaya beratnya gumpalan-gumpalan tersebut akan bergerak ke
bawah dan mengendap pada bagian dasar tangki sedimentasi.
Page 9 of 51

Bak sedimentasi dapat berbentuk segiempat atau lingkaran. Pada bak ini, aliran air
limbah sangat tenang untuk memberi kesempatan padatan (suspensi) untuk mengendap.
Kriteria-kriteria yang diperlukan untuk menentukan ukuran bak sedimentasi adalah surface
loading (beban permukaan), kedalaman bak dan waktu tinggal. Waktu tinggal mempunyai
satuan jam, cara perhitungannya adalah volume tangki dibagi dengan laju alir perhari. Beban
permukaan sama dengan laju alir (debit volume) rata- rata perhari dibagi luas permukaan bak,
satuannya m3 per meter persegi perhari.

Proses Sedimentasi (Gravity)

Zona Penebalan

Flotasi (Pengapungan)
Kebalikan dari proses pengendapan, flotasi adalah proses pemisahan padatan-cairan
atau cairan-cairan yang dalam hal ini partikel atau cairan yang dipisahkan mempunyai berat
Page 10 of 51

jenis yang lebih kecil dari pada cairan. Apabila perbedaan berat jenis secara alamiah cukup
untuk dilakukan pemisahan, maka proses flotasi dinamakan flotasi alamiah (natural
flotation). Apabila ditambahkan sesuatu dari luar untuk mempercepat pemisahan partikel,
walaupun secara alamiah berat jenis partikel tersebut lebih ringan dari pada cairan,
dinamakan aided flotation. Istilah flotasi terdorong (induced flotation), diterapkan pada
keadaan berat jenis partikel secara alamiah lebih besar dari pada cairan, namun dibuat agar
berat jenisnya lebih kecil. Sebagai contoh, penggabungan gas-partikel sehingga berat jenisnya
lebih kecil dari cairan.
1. Induce Flotation
Proses induced flotation yang menggunakan gelembung halus atau microbubbles yang
berdiameter 4070 mikron disebut dissolved air flotation (DAF). Teknik yang umum
digunakan untuk menghasilkan microbubble adalah pressurization. Gelembung diperoleh
dengan cara mengekspansi cairan yang telah banyak mengandung udara pada tekanan
beberapa bar. Jenis tekanan yang dilepaskan akan menentukan kualitas gelembung yang
dihasilkan. Cairan yang ditekan dapat air baku (full-flow pressurization) atau recycle air
olahan (recycle pressurization). Pada proses klarifikasi air permukaan atau air industri
digunakan sistem recycle pressurization. Pada kasus pemekatan lumpur, digunakan full-flow
pressurization atau recycle pressurization,
2. Natural Flotation
Flotasi alamiah biasanya diterapkan pada proses pemisahan minyak. Pada flotasi ini
kemungkinan didahului dengan proses penyatuan gelembung (microdroplets menempel satu
dengan yang lain) untuk mencapai ukuran minimum sehingga terjadi pemisahan.
3. Aided Flotation
Flotasi ini adalah flotasi alamiah yang ditingkatkan dengan menyemburkan gelembung
udara. Proses ini biasa diterapkan pada pemisahan lemak yang terdispersi dalam cairan.
Dalam sistem ini terdapat dua daerah; satu daerah untuk pencampuran dan emulsifying; yang
lainnya daerah penenang untuk proses flotasi.

Page 11 of 51

Proses Pengapungan (Flotasi)

Penerapan Flotasi
Penerapan DAF (Dissolved Air Flotation) pada pengolahan air adalah sebagai berikut:
a. Pemisahan flok pada proses klarifikasi atau penjernihan.
b. Pemisahan dan perolehan kembali serat pada efluen pabrik kertas.
c. Pemisahan minyak terflokulasi atau tidak terflokulasi dalam air limbah yang
terdapat pada efluen refinery, airport dan pabrik baja.
d. Pemekatan lumpur dari pengolahan biologi air limbah atau dari proses klarifikasi
air minum.
e. Klarifikasi cairan lumpur aktif.
1.5 Klasifikasi Thickener
Kondisi Operasi
Berdasarkan kondisi operasinya, thickener dibagi menjadi dua jenis: batch thickener
dan continuous thickener.
a. Batch Thickener
Batch thickener beroperasi sama seperti batch sedimentation dimana alatnya berupa
tanki silinder; tanki terdiri dari bukaan masuk umpan untuk slurry dan bukaan keluar untuk
produk. Tanki yang diisi dengan slurry dan padatan akan mengendap di bottom tanki.

Page 12 of 51

Thickener (Proses Batch atau Kontinu)

Batch thickener biasanya terdiri dari sebuah tanki berbentuk silindris dengan dasar
berbentuk kerucut runcing. Setelah proses sedimentasi, zat cair kental yang berada di bawah
dikeluarkan, sedangkan zat cair yang bersih yang berada di atas diambil melalui pipa offtake
pada bagian atas tanki. Biasanya kondisi proses dalam thickener ini mirip dengan tube
sedimentasi yang ada di laboratorium, dan selama tahap awal berlangsung, secara umum
akan terbentuk zona konsentrasi suspensi yang sama nilainya dengan konsentrasi feed. Cara
ini cocok dilakukan untuk skala laboratorium, karena sedimentasi batch paling mudah
dilakukan dan pengamatan terhadap penurunan ketinggian mudah. Mekanisme sedimentasi
batch pada suatu silinder atau tabung dapat dilihat melalui gambar berikut:

Mekanisme Sedimentasi Batch

Keterangan:
A = cairan bening
B = zona konsentrasi seragam
C = zona ukuran butir tidak seragam
D = zona partikel padat terendapkan
Page 13 of 51

Gambar di atas menunjukkan slurry awal yang memiliki konsentrasi seragam dengan
partikel padatan yang seragam di dalam tabung (zona B). Partikel mulai mengendap dan
diasumsikan mencapai kecepatan maksimum dengan cepat. Zona D yang terbentuk terdiri
dari partikel lebih berat sehingga lebih cepat mengendap. Pada zona transisi, fluida mengalir
ke atas karena tekanan dari zona D. Zona C adalah daerah dengan distribusi ukuran yang
berbeda-beda dan konsentrasi tidak seragam. Zona B adalah daerah konsentrasi seragam,
dengan komsentrasi dan distribusi sama dengan keadaan awal. Di atas zona B, adalah zona A
yang merupakan cairan bening.
Selama sedimentasi berlangsung, tinggi masing-masing zona berubah (gambar b, c, d).
Zona A dan D bertambah, sedang zona B berkurang. Akhirnya zona B, C dan transisi hilang,
semua padatan berada di zona D. Saat ini disebut critical settling point, yaitu saat
terbentuknya batas tunggal antara cairan bening dan endapan (Foust, 1980).
b. Continuous Thickener
Continuous thickener adalah alat yang memisahkan slurry untuk berbagai variasi
konsentrasi. Thickener jenis ini melakukan proses sedimentasi untuk zat dengan konsentrasi
yang tinggi. Hal yang paling penting untuk dikonsiderasi pada perhitungan desain continuous
thickener adalah karakteristik pengendapan solid dalam slurry, luas tanki dan tinggi tanki.
Karakteristik spesifik konsentrasi solid pada alat ini adalah bila waktu naik, maka kecepatan
pengendapan akan menurun.

Contoh Aliran pada Thickener

Continuous thickener berdiameter besar dan agak dangkal, tanki tersebut dilengkapi
dengan rake untuk mengumpulkan sludge. Umpan akan masuk ke tengah tanki dan rake akan
mengumpulkan sludge ke tengah, untuk kemudian dikeluarkan.
Page 14 of 51

Tipe Rake pada Continuous Thickener

Pola Aliran dalam Continuous Thickener

Fungsi utama thickener kontinu adalah untuk meningkatkan konsentrasi suatu solid
terlarut dengan bantuan gravitasi sehingga material balance dalam keadaan steady state
tercapai, zat padat ditarik secara kontinu melalui underflow yang di-supply ke feed. Saat
steady state, ketinggian tiap zona akan konstan. Mekanisme sedimentasi kontinu bisa dilihat
pada gambar berikut:

Gambar. Mekanisme Sedimentasi Kontinyu


Keterangan :
A = cairan bening
B = zona konsentrasi seragam
C = zona ukuran butir tidak seragam
D = zona partikel padat terendapkan
Page 15 of 51

Thickener kontinu ini terdiri dari sebuah tanki silinder dengan dasar yang rata. Suspensi
dimasukkan ke tengah dengan kedalaman 0,3-1 m di bawah permukaan cairan; ini ditujukan
untuk membuat sesedikit mungkin gangguan yang terjadi. Cairan kental secara berkala
dipindahkan melalui sebuah outlet pada dasar tanki, dan setiap zat padat (solid) yang terendap
di dasar tanki secara langsung dikeluarkan ke outlet dengan jalan atau mekanisme perputaran
rake dari alat pengering yang terintegrasi dengan tanki. Rake selalu digantung sehingga
lengannya selalu terlipat secara otomatis bila tenaga putarnya melebihi nilai tertentu. Hal ini
mencegah kerusakan yang terjadi bila tanki terisi penuh (overload). Kinerja penggarukan
(raking action) dapat meningkatkan pencapaian derajat pengentalan dalam thickener. Cairan
jernih secara kontinu dipindahkan dari tanki yang kelebihan zat. Zat padat secara kontinu
bergerak turun (mengendap), kemudian mengarah ke dalam outlet cairan kental. Cairan
bergerak ke atas dan secara radial keluar.
Karakteristik Pengendapan
Aturan dasar untuk tahap pemisahan yang efisien adalah partikel tersuspensi
mengendap di daerah laminer. Ini adalah daerah dimana kecepatan liquid yang naik lebih
kecil dibandingkan dengan kecepatan material solid yang mengendap.
Untuk memenuhi persyaratan ini, karakteristik pengendapan relatif dari solid di dalam
liquid diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok dasar, yaitu:
a. Kelompok pertama: pengurangan partikel bebas
Lumpur dengan kandungan solid, mengendap secara bebas tanpa mengganggu partikel
lain meninggalkan bagian yang bening. Kelompok ini mengikuti aturan dasar Stokes sebelum
mencapai titik untuk memasuki zona kompresi.
b. Kelompok kedua: pengurangan partikel melayang
Lumpur dengan suspended solid berada pada beberapa wilayah batas dari berbagai
tingkat kejernihan; sebagian besar lumpur ini tidak menunjukkan interface yang tajam.
Lumpur tersebut sering kali terflokulasi untuk meningkatkan tangkapan terhadap bagian
terhalus, dengan demikian proses pengendapan dapat dipercepat.
c. Kelompok ketiga: pengendapan partikel (mass particle subsidence)
Lumpur dengan kandungan solid yang tinggi mengendap secara bebas pada bagian
awal; tetapi, dengan singkat, kemudian partikel-partikel tersebut memulai gangguan yang
menyebabkan kecepatan pengendapan menjadi menurun seiring dengan peningkatan
Page 16 of 51

konsentrasi (akibat kompresi). Solid pada lumpur tersebut menunjukkan interface yang tajam
antara bagian yang bening dan massa dari solid yang mengendap.
Pemilihan peralatan sebagian besar tergantung pada uji kerja untuk menentukan tipe
kelompok. Sebagai pedoman kasar, kelompok pertama, lumpur mungkin memiliki performa
sesuai dengan pengendapan Lamella. Untuk kelompok kedua, clarifier menangani lumpur
terflokulasi sedangkan kelompok ketiga thickener menangani lumpur konvensional.
1.6 Peranan Thickener dalam Dunia Industri
Pemilihan thickener harus hati-hati terutama karena alasan berikut:
a. Tidak seperti peralatan lainnya thickener tidak memiliki perangkat cadangan (standby), jadi jika thickener gagal bekerja, tidak akan ada sistem by-pass. Akibatnya, jika
kegagalan terjadi, thickener lainnya harus bekerja ekstra (akibat penambahan beban).
Akan tetapi, jika hanya tersedia satu thickener, maka keseluruhan proses produksi
akan terhenti.
b. Untuk memperbaiki thickener yang gagal bekerja, durasi perbaikan akan memakan
waktu yang lama. Hal ini disebabkan ketika akan memperbaiki komponen yang rusak
(seperti blade dan rubber lining), tangki harus dikosongkan terlebih dahulu, kemudian
underflow bed harus dibuang dan diisi kembali. Di samping itu, harus dicari pula
temporary place yang sesuai untuk penyimpanan dan pembuangan liquid dalam
volume besar.
c. Thickener normalnya diposisikan jauh dari pusat plan dan cara pemasukan feed
adalah dengan menggunakan gaya gravitasi (untuk menghemat biaya). Karena sistem
gravitasi inilah, inlet harus dibuat dengan kemiringan (elevasi) tertentu; elevasi inlet
ini dapat mempengaruhi keseluruhan elevasi pabrik.
d. Thickener memakan lahan yang cukup luas sehingga perlu strategi untuk
memaksimalkan lahan industri.

Page 17 of 51

BAB II
CYCLONE
2.1 Konsep Dasar Pemisahan Gas-Solid
Tujuan utama proses pemisahan gas-solid adalah untuk membersihkan udara. Pada
proses ini, dispersed finely divided solid (debu atau dust) dan kabut liquid dipisahkan dari
aliran gas.
Aliran gas proses harus sering dibersihkan dengan alasan sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Mencegah pencampuran atau kontaminasi dengan katalis atau produk hasil


Mencegah terjadinya kerusakan alat, seperti kompressor.
Memenuhi peraturan polusi udara (air-pollution)
Menjaga kebersihan (hygiene)
Memisahkan senyawa beracun (toxic) dan zat berbahaya lainnya
Memenuhi kebutuhan udara bersih-terfiltrasi untuk proses yang menggunakan udara
sebagai bahan baku dan proses yang membutuhkan clean working atmosphere, seperti
industri farmasi dan elektronik
Partikel yang dipisahkan memiliki variasi ukuran mulai dari large molecule berukuran

ratusan mikrometer, coarse dust (debu kasar) yang timbul akibar erosi (attrition) katalis
hingga ke ukuran fly ash yang dihasilkan dari pembakaran serbuk bahan bakar.

Peralatan Pemisah Gas-Solid

2.2 Definisi Cyclone

Page 18 of 51

Cyclone adalah alat yang menggunakan prinsip gaya sentrifugal dan tekanan rendah
(karena adanya perputaran) untuk memisahkan materi berdasarkan perbedaan massa jenis dan
ukuran. Cyclone merupakan alat pemisah, biasanya solid-gas, yang paling sering digunakan.
Alat ini secara umum memiliki desain konstruksi yang sederhana dan dapat dibuat dari
berbagai jenis bahan (biasanya pelat logam) serta dapat didesain untuk operasi dengan
tekanan dan temperatur yang tinggi.
Cyclone cocok untuk digunakan untuk memisahkan partikel dengan diameter >5 m;
partikel kecil dengan ukuran hingga 0,5 m dapat dipisahkan dengan catatan pemisahannya
akan menghasilkan aglomerasi.

Cyclone sering digambarkan sebagai peralatan dengan efisiensi rendah. Namun, dalam
perkembangannya, tercatat bahwa cyclone mampu menghasilkan efisiensi 98% bahkan lebih
untuk partikel yang lebih besar dari 5 microns (Cooper, et al., 1986). Efisiensi lebih dari 98%
juga tercatat pada siklon untuk partikel yang diameternya lebih dari 346 microns (Funk, P.A.,
et al., 2000).
2.3 Desain Cyclone
Umumnya, komponen cyclone atau centrifugal separator terdiri dari tiga bagian inti:
Page 19 of 51

a. Silinder vertikal dengan bagian bawah berbentuk corong (conical).


b. Pipa outlet pada bagian bawah untuk mengeluarkan partikulat.
c. Pipa outlet gas pada bagian atas.
Stairmand mengembangkan dua desain standar untuk gas-solid cyclone: cyclone dengan
efisiensi tinggi dan cyclone dengan throughput tinggi. Desain tersebut dapat dilihat pada
gambar di bawah ini.

Dimensi Cyclone Standar untuk: (a) Cyclone dengan Efisiensi Tinggi dan (b) Cyclone dengan Laju Alir Gas
Tinggi

Desain yang paling umum digunakan adalah reverse-flow cyclone; konfigurasi desain
lainnya digunakan untuk tujuan khusus tertentu. Pada reverse-flow cyclone, gas masuk secara
tangensial melalui chamber atas dan turun secara spiral menuju seksi ujung pada bagian
kerucut; gas kemudian bergerak ke atas ketika mencapai bagian dengan diameter yang lebih
kecil, bergerak spiral dan keluar pada bagian melalui pipa vertical sentral. Solid bergerak
secara radial sehingga menabrak dinding, turun pada sepanjang dinding dan kemudian
dikumpulkan pada bagian bawah cyclone.

Page 20 of 51

Reverse-Flow Cyclone

Prosedur Pendesainan Cyclone secara Umum


1. Pilih jenis cyclone yang ingin dipakai: cyclone ingin efisiensi tinggi atau cyclone
dengan throughput tinggi (sesuai kinerja yang diinginkan).
2. Perkirakan distribusi ukuran partikel atau solid pada aliran gas yang akan diolah.
3. Perkirakan jumlah cyclone parallel yang dibutuhkan.
4. Hitung diameter cyclone untuk kecepatan inlet sebesar 15 m/s (50 ft/s). Lakukan
penyekalaan untuk cyclone lainnya.
5. Kalkulasikan faktor penyekalaan atas (scale-up factor) untuk transposisi.
(Catatan: penyekalaan dan faktor penyekalaan dapat dilihat pada subbab Performa
Cyclone).
6. Hitung kinerja cyclone dan efisiensi total (solid recovery). Jika kurang memuaskan,
cobalah dengan diameter yang lebih kecil.
7. Hitung pressure drop cyclone dan, bila dibutuhkan, pilih blower yang sesuai.
8. Hitung biaya dari system yang dibuat dan optimalkan biaya tersebut dengan cara
mengoptimasi pressure drop sehingga didapat biaya produksi yang lebih rendah.

2.4 Prinsip Kerja Cyclone


Prinsip kerja cyclone adalah sebagai berikut:
Page 21 of 51

a. Gas atau aliran fluida diinjeksikan melalui pipa input.


b. Bentuk kerucut cyclone menginduksikan aliran gas atau fluida untuk berputar,
menciptakan vortex.
c. Partikel dengan ukuran atau kerapatan yang lebih besar didorong ke arah luar
vortex. Gaya gravitasi menyebabkan partikel-partikel tersebut jatuh ke sisi kerucut
menuju tempat pengeluaran.
d. Partikel dengan ukuran atau kerapatan yang lebih kecil keluar melalui bagian atas
dari cyclone melalui pusat yang bertekanan rendah.

Prinsip Kerja Cyclone

e. Cyclone membuat suatu gaya sentrifugal yang berfungsi untuk memisahkan


partikulat dari udara kotor.
f. Gaya sentrifugal timbul saat partikulat di dalam udara masuk ke puncak kolektor
silindris pada suatu sudut dan diputar dengan cepat sehingga mengarah ke bawah
seperti pusaran air.
g. Aliran udara mengalir secara melingkar dan partikulat yang lebih berat mengarah
ke bawah setelah menabrak ke arah dinding cyclone dan meluncur ke bawah.

Page 22 of 51

Konfigurasi Prinsip Kerja Cyclone

2.5 Klasifikasi Cyclone


Terdapat dua jenis cyclone: hidrocyclone dan multicyclone.
a. Hydrocyclone
Hydrocyclone adalah suatu alat yang berfungsi untuk memisahkan padatan atau gas dari
cairan berdasarkan perbedaan gravitasi setiap komponen.

Gambar Hydrocyclone

Page 23 of 51

Hydrocyclone bekerja dengan cara memutar zat yang dimasukkan di dalam ruang yang
berkontur. Material yang lebih berat dialirkan ke bawah melalui jalur spiral di sepanjang
dinding ruangan, sementara material yang lebih ringan diarahkan ke ruang penampung di
bagian atas.

Keunggulan hydrocyclone:
1.

Biaya yang dikeluarkan lebih murah

2.

Tidak memerlukan sumber energi

3.

Biaya perawatan yang murah

4.

Mudah diterapkan dalam berbagai dunia industri

5.

Pemasangan yang cepat

6.

Kemungkinan kesalahan dalam pemasangan relatif kecil

Page 24 of 51

b. Multicyclone
Ketika harus menangani volume gas dalam jumlah besar dan efisiensi tinggi harus
dihasilkan, maka digunakan beberapa cyclone dengan diameter kecil yang biasanya dipasang
bersama membentuk multicyclone.

Gambar Multicyclone dengan Diameter Relatif Kecil

Keuntungan multicyclone adalah tingkat efisiensinya yang lebih tinggi dibandingkan


single-cyclone separator (90-95%). Sebaliknya, kekurangan multicyclone adalah sebagai
berikut:
1. Cenderung terjadi penyumbatan karena diameter yang kecil.
2. Membutuhkan tempat yang lebih besar dibanding single-cyclone.
2.6 Bentuk-Bentuk Cyclone
Dua bentuk utama dari cyclone adalah axial flow cyclone dan tangensial cyclone.
a. Axial Flow Cyclone
Prinsip kerja cyclone jenis ini mirip dengan tangensial cyclone. Pada axial flow cyclone,
materi masuk melalui bagian atas cyclone dan dipaksa bergerak membentuk sudut pada
bagian atas. Axial flow cyclone lebih banyak digunakan daripada tangensial cyclone.

Page 25 of 51

Gambar Axial Flow Cyclone

b. Tangensial Cyclone
Prinsip kerjanya sama dengan axial flow cyclone. Pada tangential cyclones, materi
masuk dari celah pada sisi yang berada pada posisi menyudut dengan badan cyclone.

2.7 Performa Cyclone dan Key Parameter Pendukung Lainnya

Kurva Kinerja (Performa), Kondisi Standar (a) Cyclone dengan Efisiensi Tinggi dan (b) Cyclone dengan
Laju Alir Gas Tinggi

Kurva kinerja (performa) kedua desain ini didapat secara eksperimental di bawah
kondisi standard testing yang ada; kurva kinerja ditunjukkan pada di atas. Kurva ini dapat
digunakan untuk cyclone dengan ukuran dan kondisi operasi lainnya dengan menggunakan
persamaan penyekalaan berikut:

Page 26 of 51

dimana:
d1

= diameter rata-rata partikel pada kondisi standar

d2

= diameter rata-rata partikel pada desain yang diinginkan

D c 1 = diameter cyclone standar

= 8 inchi (203 mm)

D c 2 = diameter cyclone yang diinginkan, mm


Q1

Q2

= laju alir rata-rata:


untuk desain dengan efisiensi tinggi

= 223 m3/h

untuk desain dengan throughput tinggi

= 669 m3/h

= laju alir yang diinginkan, m3/h

= perbedaan densitas solid-fluida pada kondisi standar = 2000 kg/m3

= perbedaan densitas yang diinginkan, kg/m3

= viskositas fluida standar (udara pada 1 atm, 200C


= 0,018 mN/m2

= viskositas fluida yang diinginkan


Kurva kinerja dari desain yang diinginkan dapat digambarkan dengan mengalikan

grade diameter pada kurva kinerja standar dengan, sebagai contoh, 10% kenaikan efisiensi,
dan/atau dengan faktor penyekalaan yang diberikan pada persamaan di atas.

Page 27 of 51

Gambar 2.4 Kurva Kinerja Terskala untuk Cyclone yang Diinginkan

Faktor-faktor yang dapat mengurangi performa (kinerja) cyclone:


1. Kerusakan mekanik dari cyclone.
2. Penyumbatan unit disebabkan endapan debu .
3. Penggunaan yang berlebihan, biasanya disebabkan oleh abrasi.
Untuk cyclone, terdapat beberapa key parameter dalam pemisahan berbagai jenis
materi, yaitu:
a. Pressure drop ( P )
b. Overall efficiency
Pressure Drop ( P )
Penurunan tekanan pada cyclone disebabkan akibat rugi-rugi masuk dan keluar, dan
rugi-rugi energi kinetik dan potensial. Persamaan empiris yand dikembangkan Stairmand
(1949) dapat digunakan untuk memperkirakan nilai pressure drop ini.

dimana:
P = pressure drop cyclone, milibar
f

= densitas gas, kg/m3

u1

= kecepatan aliran masuk, m/s

u2

= kecepatan aliran keluar, m/s


Page 28 of 51

rt

= radius lingkaran dimana garis tengah inlet adalah tangensial, m

re

= radius pipa exit, m

= faktor berdasarkan Gambar 2.5

= parameter berdasarkan Gambar 2.5

fc

= faktor friksi = 0,005 untuk gas

As

= luas permukaan cyclone yang kontak dengan fluid putar, m2

A1

= luas permukaan pipa inlet, m2

Gambar 2.5 Faktor Pressure Drop Cyclone

Page 29 of 51

Persamaan Stairmand adalah untuk gas yang mengalir tanpa solid. Keberadaan solid
biasanya akan menaikkan nilai pressure drop hasil kalkulasi, tergantung jumlah beban solid
yang tersedia.
Efisiensi Cyclone
Efisiensi cyclone dapat ditentukan melalui kemampuannya untuk menangkap dan
menahan partikel debu, dimana penurunan tekanan adalah kekuatan yang diperlukan unit
tersebut agar fungsi ini dapat berjalan.
Efisiensi Cyclone tergantung pada:
1. Ukuran partikel.
Semakin besar ukuran partikel, maka efisiensi cyclone akan semakin meningkat karena
berdasarkan Hukum Stokes, diameter partikel berbanding lurus dengan terminal settling
velocity.
Hukum Stokes:
VtR

2
D p2 g ( p ) Vtan

18

gr

dimana:
VtR

= terminal radial velocity

Dp

= diameter partikel

= konstanta gravitasi

= densitas partikel

= densitas fluida

= viskositas fluida

Vtan

= kecepatan tangensial

= jari-jari cyclone

2. Diamater dari cyclone


Berdasarkan gaya sentrifugal, diameter cyclone berbanding terbalik dengan gayanya,
sehingga semakin kecil diameter cyclone maka semakin besar efisiensinya.
3. Viskositas dari gas
Berdasarkan Hukum Stokes, semakin besar viskositas maka efisiensi cyclone semakin
kecil.
4. Temperatur gas buang
Temperatur gas buang akan mempengaruhi sifat dari fluida.
Page 30 of 51

5. Densitas partikel
Semakin besar densitas partikel maka akan semakin besar efisiensi cyclone.
6. Dust loading
Semakin banyak dust loading, maka akan semakin baik efisiensi karena memungkinkan
terjadinya tumbukan antarpartikel yang semakin besar.
7. Inlet velocity
Semakin besar inlet velocity maka akan semakin besar efisiensi cyclone.

Tabel Efisiensi Cyclone dan Beberapa Alat Lainnya


(Daftar ini digunakan untuk Memilih Alat yang Paling Sesuai dalam Pembuatan Dust Arrestor dan Collector)

Page 31 of 51

2.8 Kelebihan dan Kekurangan Cyclone


Kelebihan cyclone dibandingkan alat pemisah lainnya adalah sebagai berikut:
a. Biaya modal (produksi) rendah
b. Ruang yang dibutuhkan kecil
c. Tidak ada bagian-bagian yang bergerak
Kekurangan cyclone dibandingkan alat pemisah lainnya adalah dibutuhkannya alat
tambahan untuk menggerakkan aliran gas, seperti blower atau alat penyedia tekanan lainnya.

Page 32 of 51

Penggunaan Blower untuk Cyclone

2.9 Aplikasi Cyclone dalam Dunia Industri


Daftar industri yang memakai cyclone adalah sebagai berikut:
a. Industri agrikultural, memisahkan partikel debu emisi dari pengolahan kapas,
pembersihan tepung, traktor, pencampuran tepung, dan mesin-mesin agrikultural
lainnya.
b. Industri makanan:
Memisahkan gumpalan partikel
Memisahkan protein dan zat tepung
Memisahkan butiran pasir dari gula dalam jus kaleng
Pemurnian air yang digunakan untuk membersihkan kentang dalam
industri keripik kentang
c. Industri kilang minyak, untuk memisahkan minyak dan gas.
d. Industri pengolahan batubara, untuk memisahkan komponen-komponen atau
material yang ada pada batubara.
Aplikasi sistem cyclone lainnya adalah pada industri peleburan timah, PB (Particle
Board), pabrik pengolahan kayu dan industri yang menggunakan bahan bakar dari serbuk
kayu.

Page 33 of 51

Page 34 of 51

BAB III
SIMULASI HYSYS UNTUK CYCLONE
Cyclone digunakan untuk memisahkan solid dari suatu aliran gas. Partikel solid yang
akan dipisahkan tersebut berukuran lima mikron atau lebih. Cyclone tersusun dari silinder
vertikal dengan bagian bawah berbentuk kerucut, inlet segiempat di bagian atas dan outlet
untuk solid pada bagian bawah kerucut. Cyclone bekerja berdasarkan prinsip atau gaya
sentrifugasi yang melemparkan partikel ke arah dinding. Partikel yang terlempar lalu
menabrak dinding, turun sepanjang dinding yang dimaksud dan kemudian terpisah dari aliran
gas. Untuk HYSYS, solid yang akan dipisahkan harus terlebih dahulu didefinisikan pada
bagian komponen.
A. MEMULAI HYSYS
1) Buka aplikasi HYSYS melalui Start | Aspen HYSYS 2006.5.

Page 35 of 51

2) Dari menu bar, klik File | New | Case. Perintah ini dapat juga dilakukan dengan
mengklik ikon New Case

di pojok kiri atas atau dengan menekan tombol Ctrl+N.

3) Klik Add pada tab Component. Masukkan fluid package yang dipergunakan (dalam hal
ini Calcium dan Propane).

Page 36 of 51

4) Klik Add pada tab Fluid Pkgs. Masukkan fluid package yang dipergunakan (dalam hal
ini Antoine).

5) Klik Enter Simulation Environment. Jendela kerja HYSYS akan terbuka.


6) Klik ikon Material Stream

pada Pallete Case. Kemudian klik pada lembar kerja

HYSYS, lalu double klik pada ikon material stream pada lembar kerja tersebut.

Page 37 of 51

7) Masukkan data feed sebagai berikut:


Stream Name
Temperature
Pressure
Mass Flow
Composition

Feed
300C
1 atm
10 kg/h
Calcium : 30%
Propane : 70%

Page 38 of 51

B. CYCLONE PROPERTY VIEW


Terdapat dua cara untuk menambahkan alat Cyclone ke dalam simulasi HYSYS.
8) Pilih Flowsheet | Add Operation dari menu bar. Jendela UnitOps kemudian muncul.
Jendela ini juga dapat diakses dengan menekan tombol F12.

Page 39 of 51

9) Dari menu categories, klik Solid Handling. Kemudian, klik Cyclone dari daftar
Available Unit Operations.
10) Klik Add.

ATAU
7) Pilih Flowsheet | Palette dari menu bar. Jendela Object Palette akan muncul. Jendela ini
dapat pula diakses dengan menekan tombol F4.

8) Klik ikon Solid Ops. Solid Operations Palette akan muncul. Klik ikon Cyclone.
Page 40 of 51

9) Klik pada lembar kerja HYSYS.


10) Kemudian double klik Cyclone. Jendela Cyclone Property View akan muncul.

C. TAB DESIGN
Pada tab Design, terdapat lima subtab sebagai berikut:
Connections
Parameters
Page 41 of 51

Solids
User Variables
Notes

Subtab Connections
Bagian ini dimaksudkan untuk mendefinisikan nama operasi, berikut dengan feed,
vapour product dan solid product stream.
11) Isikan data sesuai dengan gambar berikut pada subtab Connection ini.

Subtab Parameters
Pada subtab ini, didefinisikan nilai dan jenis parameter seperti terlihat pada gambar.
12) Isi nilai efisiensi partikel sebesar 75%.
Particle Efficiency

75%

Page 42 of 51

Parameter
Configuration

Efficiency Method

Particle Efficiency

Deskripsi
Pilih salah satu dari High Efficiency, High Output atau
User Defined.
Pilih salah satu metode: Lapple atau Leith/Licht. Metode
kedua adalah untuk perhitungan yang lebih rumit sebab
efek radial mixing turut diperhitungkan.
Persentase recovery dari solid yang diinginkan pada
bottom stream.

Diameter yang tersedia dari komponen atau dari karakteristik partikel dapat
digunakan dalam menentukan nilai efisiensi. Sebagai contoh, jika efisiensi senilai
85% dipilih, 85% solid dari diameter yang telah tersedialah yang akan didapat. Jenis
solid lain akan terpisah sesuai dengan jumlah efisiensi yang tersedia.
Subtab Solids
Karakteristik atau sifat solid ditentukan pada subtab ini. Subtab Solids ini memiliki
dua jenis data, tergantung dari pilihan yang di-tick pada bagian Efficiency Basis.
13) Isi Calcium pada bagian Solid Name.
Solid Name

Calcium
Page 43 of 51

Ketika Single Particle Diameter dipilih,


Parameter

Deskripsi
Pilih salah satu: mengisi pada bagian nama solid seperti

Solid Name

yang telah terdefinisi pada komponen, atau mengisi nilai

Particle Density dan Particle

particle density dan diameter.


Jika komponen (solid) tidak diisi, kedua bagian ini harus

Diameter

diisi.

Ketika Particle Size Distribution dipilih,


Parameter
Solid Name

Particle Density
Particle Diameter

Deskripsi
Pilih salah satu: mengisi pada bagian nama solid seperti
yang telah terdefinisi pada komponen, atau mengisi nilai
particle density dan diameter.
Jika komponen (solid) tidak diisi, Particle Density harus
diisi.
Jika komponen (solid) tidak diisi, Particle Diameter
harus diisi.

Subtab User Variables


Subtab ini memungkinkan user membuat dan mengimplementasikan variabel-variabel
yang diinginkan pada operasi yang ditujukan.

Page 44 of 51

Subtab Notes
Subtab ini menyediakan text editor sehingga user dapat me-record komentar atau
informasi apapun terkait unit operasi tertentu atau simulasi secara umum.

D. TAB RATING
Tab Rating memiliki dua subtab yaitu sizing dan constraints.
Subtab Sizing

Page 45 of 51

Design Mode. Ketika Off dipilih, checkbox Specify Number of Parallel


Cyclones akan muncul. Tick checkbox ini jika ingin meng-input jumlah

parallel cyclone secara manual (berdasarkan flowsheet).


Sizing Ratios. Bagian ini ditampilkan dalam bentuk tabel.
Parameter

Configurations
Inlet Width Ratio
Inlet Height Ratio
Cyclone Height Ratio
Gas Outlet Length
Ratio
Gas Outlet Diameter
Ratio
Total Height Ratio
Solids Outlet
Diameter Ratio

Deskripsi
Pilih High Output, High Efficiency, atau User Defined.
Bagian ini juga tersedia pada Subtab Parameters.
Rasio lebar inlet terhadap diameter (harus antara 0 sampai
1). Nilai bagian ini harus kurang dari Total Height Ratio.
Rasio tinggi inlet terhadap diameter.
Rasio tinggi Cyclone terhadap diameter. Cyclone adalah
seksi kerucut pada bagian bawah keseluruhan operasi.
Rasio panjang gas outlet terhadap diameter.
Rasio diameter gas outlet terhadap diameter (harus antara
0 sampai 1). Nilai bagian ini harus kurang dari Total
Height Ratio.
Rasio tinggi total alat terhadap diameter.
Rasio diameter outlet solid terhadap diameter.
Jika Design Mode berada pada kondisi On, nilai ini akan

Body Diameter

otomatis terisi. Jika Design Mode berada pada kondisi

#Parallel Cyclones

Off, nilai pada bagian ini harus diisi secara manual.


Jika Design Mode berada pada kondisi On, bagian ini
akan menunjukkan jumlah Cyclone parallel (jika ada)
yang tergabung dalam unit operasi. Jika Design Mode
Page 46 of 51

berada pada kondisi Off dan checkbox Specify Number of


Parallel Cyclones di-tick, nilai pada bagian ini harus diisi
secara manual.
Subtab Constraints
Subtab ini digunakan untuk menentukan nilai minimum dan maksimum dari diameter
Cyclone. Subtab ini juga tersedia hanya jika Design Mode berada pada kondisi On.

Jumlah maksimum perubahan tekanan dan jumlah maksimum Cyclone ditentukan


pada subtab ini. Kedua nilai ini digunakan dalam perhitungan untuk menentukan
jumlah minimum Cyclone yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proses pemisahan.
E. TAB WORKSHEET
Tab Worksheet berisi tentang ringkasan informasi terkait seluruh aliran yang ada dalam
proses yang tersedia.
F. TAB PERFORMANCE
Tab Performance menampilkan subtab Results.
Subtab Results
Bagian ini menampilkan hasil kalkulasi dari penurunan tekanan, efisiensi keseluruhan
dan jumlah Cyclone parallel yang digunakan.

Page 47 of 51

G. TAB DYNAMICS
Unit operasi ini saat ini belum tersedia untuk simulasi dinamis.
14) Selesai.

Page 48 of 51

BAB IV
KESIMPULAN
Thickener merupakan alat pemisah liquid-solid untuk industri yang didalamnya terdapat
subplan yaitu pengolahan limbah. Inti dari proses thickener adalah untuk menebalkan
suspense solid yang berukuran kecil, sedang, ataupun besar sehingga dapat dipisah pada pipa
outlet yang berbeda. Thickener harus dirawat sedemikian rupa sehingga tidak terjadi
kerusakan. Apabila kerusakan terjadi, maka bisa menyebabkan industri berhenti total atau
thickener kedua akan menahan beban yang lebih berat dari feed. Sementara itu, cyclone
merupakan alat untuk memisahkan partikel, biasanya solid (> 5 mikron) berdasarkan prinsip
atau gaya sentrifugasi yang melemparkan partikel ke arah dinding. Partikel yang terlempar
lalu menabrak dinding, turun sepanjang dinding yang dimaksud dan kemudian terpisah dari
aliran gas. Secara umum, cyclone diklasifikasikan menjadi hydrocyclone dan multicyclone.

Page 49 of 51

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2005, HYSYS Operations Guide (Cambridge, US: Aspen Technology, Inc).
Chaves, Ivan D. G., et al, 2016, Process Analysis and Simulation in Chemical Engineering
(Switzerland: Springer).
Halberthal, Josh. Tanpa Tahun. Thickeners. Online: http://www.solidliquid-separation.com/
thickeners/thickener.htm (Diakses pada 20 Maret 2016).
Perry, Robert H. dan Green, Don W., 1997, Perrys Chemical Engineers Handbook (US:
McGraw-Hill Companies, Inc).
Richardson, J. F., Harker, J. H., dan Backhurst, J. R., 2002, Coulson & Richardsons Chemical
Engineering: Particle Technology and Separation Processes, Volume 2, Edisi Ke-5
(Oxford, UK: Butterworth Heinemann).
Sinnot, R. K., 2005, Coulson & Richardsons Chemical Engineering Series: Chemical
Engineering Design, Volume 6, Edisi Ke-4 (Oxford, UK: Elsevier ButterworthHeinemann).

Page 50 of 51