Anda di halaman 1dari 4

Puskesmas

Buleleng II

TATALAKSANA KEJANG DEMAM


No.Dokumen
No. Revisi
Halaman
00

SOP/Protap

Tgl. Terbit

Kejang Demam

10 Pebruari

1/4

Ditetapkan

2016

dr. Ni Luh Sustemy


NIP.197205042007012023
Pengertian

Kejang Demam (KD) adalah bangkitan kejang yang


terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal > 38o C)
akibat dari suatu proses ekstra kranial. Kejang
berhubungan dengan demam, tetapi tidak terbukti
adanya infeksi intrakranial atau penyebab lain.

Tujuan

Kode ICD X
Faktor resiko

Stabilisasi pasien
Menghentikan kejang
Oksigenasi
Persiapan pra-rujukan
R56.0 Febrile convulsion

Demam

Usia

Gen

Alat / Bahan

Anamnesis

Tabung O2

Diazepam per rektal

Paracetamol per rectal

Nasal Canule

Keluhan utama adalah kejang. Anamnesis dimulai


dari

riwayat

perjalanan

terjadinya

penyakit

kejang,kemudian

kemungkinan

adanya

faktor

sampai
mencari

pencetus

atau

penyebab kejang. Umumnya kejang demam pada


anak dan berlangsung pada permulaan demam
akut, berupa serangan kejang klonik umum atau
tonik klonik, singkat dan tidak ada tanda-tanda
neurologi post iktal.

Penting

untuk

ditanyakan

riwayat

kejang

sebelumnya, kondisi medis yang berhubungan,


obat-obatan,
Pemeriksaan

trauma,

gejala

infeksi,

keluhan

neurologis, nyeri atau cedera akibat kejang.


Pemeriksaan fisik dimulai dengan tanda-tanda
vital, mencari tanda-tanda trauma akut kepala,
dan adanya kelainan sistemik, terpapar zat
toksik, infeksi, atau adanya kelainan neurologis
fokal.

Bila terjadi penurunan kesadaran diperlukan


pemeriksaan lanjutan untuk mencari faktor

Penegakan

penyebab.
Diagnosis ditegakkan

diagnosa

pemeriksaan fisik.

berdasarkan

anamnesis

Klasifikasi kejang demam terbagi menjadi 2, yaitu:


a. Kejang demam sederhana
1. Kejang generalisata
2

dan

2. Durasi: < 15 menit


3. Kejang tidak disebabkan oleh adanya meningitis,
encephalitis, atau penyakit yang berhubungan
dengan gangguan di otak
4. Kejang tidak berulang dalam 24 jam.
b. Kejang demam kompleks
1. Kejang fokal
2. Durasi: > 15 menit
3. Dapat terjadi kejang berulang dalam 24 jam.
Prosedur

1. Diazepam per rektal (0,5mg/kg) maksimal 20 mg


per dosis (atau bila BB < 10 kg berikan 5 mg; jika
BB > 10 Kg berikan 10 mg per dosis) harus
segera diberikan jika akses intravena tidak dapat
dibangun dengan mudah
2. Pengulangan dilakukan interval 5
menit( Maksimal 2x pengulangan)
3. Cari akses vena
4. Berikan O2 nasal canule 2-3 lpm
5. Berikan paracetamol per rectal (10-15
mg/kgbb/dosis) (atau bila BB < 15 kg berikan
dumin/pamol supp 125 mg, dan bila lebih dari 15
kg berikan 250 mg).

Tindak lanjut
Konseling

6. Rujuk ke RS
Observasi, persiapan untuk rujuk ke RS
Konseling dan edukasi dilakukan untuk membantu
pihak

keluarga

menegangkanakibat

mengatasi
kejang

pengalaman

demam

dengan

memberikan informasi mengenai:


a. Prognosis dari kejang demam.
b. Tidak ada peningkatan risiko keterlambatan sekolah
atau kesulitan intelektual akibat kejang demam.
3

c.

Kejang

demam

kurang

dari

30

menit

tidak

mengakibatkan kerusakan otak.


d. Risiko kekambuhan penyakit yang sama di masa
depan.
e. Rendahnya risiko terkena epilepsi dan kurangnya
manfaat menggunakan terapi obat antiepilepsi dalam
Rujukan

mengubah risiko itu.


Apabila kejang tidak membaik setelah diberikan
obat antikonvulsi

Sumber/Daftar

KDK
Permenkes No V tahun 2014

Pustaka

Buku panduan IDAI

Unit Terkait

Konsensus Kejang Demam IDAI


- Ruang IGD (tindakan)

Dibuat Oleh

Paraf

dr. Raka Mahasadu