Anda di halaman 1dari 29

METODE HARGA POKOK PESANAN

Oleh :
Tim STIE AL-ANWAR Mojokerto

Bahan kajian
Disampaikan pada pelatihan dalam rangka sertifikasi
Guru smk- akutansi
Desember 2007

JUDUL
METODE HARGA POKOK PESANAN

1. TUJUAN KEGIATAN :
Menjelaskan karakteristik metode harga pokok
pesanan,
Mengungkapkan kembali hubungan antara kegiatan
perusahaan manufaktur dengan aliran biaya
produksi,
Mempresentasikan prosedur akutansi biaya pada
metode harga pokok pesanan,
Menjelaskan fungsi kartu harga pokok pasanan,
Mengerjakan prosedur akutansi biaya metode harga
pokok pesanan.

2. MATERI :
KARAKTERISTIK METODE HARGA POKOK PESANAN
Merupakan salah satu metode pengumpulan biaya produksi (harga pokok
produk) yang memiliki karakteristik sebagai berikut :
1. Tujuan produksi, untuk melayani pesanan pembeli.
2. Bentuk produk yang dihasilkan, bervariasi (heterogen) tergantungpada
spesifikasi pemesanan.
3. Sifat produksi terputus-putus dan setiap pesanan dapat dipisahkan
identitasnya secara jelas.
4. Biaya produksi dikumpulkan untuk setiap pesanan dengan tujuan dapat
dihitung harga pokok pesanan dengan relatif teliti dan adil.

5. Sistem pembebanan biaya menganut normal cost system, artinya biaya


yang dibebankan kepada produk , metode harga pokok pesanan
menggunakan : (a) harga pokok histiris untuk biaya bahan baku dan biaya
tenaga kerja langsung, dan (b) untuk ketelitian dan keadilan,pembebanan
biaya overhead pabrik harus digunakan tarif biaya yang ditentukan dimuka
(predetermined rates). Dalam metode harga pokok pesanan dapat pula
digunakan sistem harga pokok yang ditentukan dimuka untuk seluruh
elemen biaya produksi (pre-determined cost system).
6. Harga pokok pruduk pesanan dihitung, pada saat pesanan yang
bersangkutan selesai dikerjakan, dengan menjumlahkan seluruh elemen
biaya produksi yang dibebankan kepada pesanan yang bersangkutan.
7. Pesanan yang sudah selesai dikerjakan dinipdahkan ke gudang barang jadi
dan biasanya segera diserahkan (dijual) kepada pihak pemesan, sesuai
dengan saat/taggal pesanan harus diserahkan.
8. Perusahaan industri yang mengatur prosedur akutansi biaya metode harga
pokok pesanan, diantaranya : industri pesawat terbang, industri kereta api,
industri kapal.
HUBUNGAN KEGIATAN PERUSAHAAN MANUFAKTUR DAN ALIRAN
HARGA POKOK PRODUK
Aliran harga pokok produk (flow of cost) menunjukkan aliran biaya produksi
dalam rangka kegiatan pengelolahan baha baku menjadi barang jadi, yang
selanjutnya dijual, oleh karena itu aliran harga pokok produk akan dipengaruhi
atau tergantung kepada aliran kegiatan (flow of actifity) perusahaan industri
dalam mengolah bahan baku menjadi bahan jadi dan menjualnya.
Kegiatan perusahaan manufaktur dalam mengolah bahan baku menjadi
barang jadi yang kemidian dijual adalah sebagai berikut :
1. Pengadaan (procurement):
Merupakan kegiatan untuk memperoleh atau mengadakan barang dan jasa
yang akan dikomsumsi dalam kegiatan produksi, dapat dikelompokkan ke
dalam (a) Pembelian, penerimaan, dan penyimpanan bahan baku, bahan
penolong, suplies pabrik dan elemen (barang) lainnya yang akan
dikomsumsi dalam kegiatan produksi, (b) Perolehan jasa dan tenaga kerja
langsung, tenaga kerja tidak langsung dan jasa yang akan dikomsumsi dalam
kegiatan produksi.
2

2. Produksi (production) :
Produksi adalah kegiatan mengolah bahan baku menjadi bahan jadi. Pada
kegiatan tersebut akan dikmsumsi bahan baku, tenaga kerja langsung, barang
dan jasa lainnya yang dikelompokkan dalam biaya overhead pabrik.
3. Penyimpanan produk selesai (Warehousing of finish goods) :
Produk yang telah selesai diproduksi, dari pabrik akan dipindahkan ke dalam
gudang barang jadi dan menunggu saat dijual atau diserahkan kepada
pemesan.
4. Penjualan produk selesai (Selling of finish product):
Produk yang terjual dikeluarkan dari gudang barang jadi dan dikirim kepada
pembeli, selanjutnya perusahaan mencatatnya sebagai piutang usaha atau kas
dan pengakuan atas harga pokok penjualan.
Aliran Kegiatan
Perusahaan
Manufaktur

Aliran Biaya
Produksi

1
Pengadaan
Barang & Jasa
Pengadaan
Bahan

Pembebanan
Biaya Bahan

Gaji dan
Upah

Pembebanan
Gaji & Upah

Persediaan Bh Baku
XX

XX

XX

XX

XX

XX

BDP Biaya Tenaga


Kerja Langsung
XX

XX

XX

Harga Pokok
Barang Jadi

Harga Pokok
Penjualan

BDP Biaya Bh Baku

XX

Biaya Overhead Pabrik

Penjualan
Barang Jadi

Pengadaan
Bahan

Biaya Gaji & Upah


XX

Penyimpanan
Barang Jadi

Produksi

Biaya
Overhead Pab

Aliran Biaya
Dalam
Rekening Buku
Besar

Persediaan Barang Jadi


XX

XX

XX

BDP Biaya Overhead


Pabrik
XX

XX

Gambar 1 : Hubungan Aliran Kegiatan Perusahaan Manufaktur


dengan Aliran Biaya Produksi dan Rekening Buku Besar

Harga Pokok
Penjualan
XX

XX

Selain digunakan rekening buku besar dalam akutansi biaya perlu


diselenggarakan buku besar pembantu (subsidiary ledgers) yang berfungsi untuk
merinci lebih lanjut rekening buku besar tertentu sesuai dengan informasi yang
diinginkan oleh manajemen. Rekening buku besar biaya yang memerlukan rekening
buku besar pembantu disebut rekening kontrol biaya (cost control account), dalam hal
ini Kartu Biaya Produksi atau Kartu Harga Pokok Pesanan.
PROSEDUR AKUTANSI BIAYA PADA METODE HARGA POKOK PESANAN
Prosedur akutansi biaya pada metode harga pokok pesanan meliputi
organisasi formulir, catatan-catatan dan laporan-laporan yang terkoordinasi dalam
rangka melaksanakan kegiatan untuk melayani pesanan dan menyajikan informasi
biaya bagi manajemen. Dalam hal ini prosedur akutansi biaya dapat dikelompokkan
sebagai berikut :
1. Prosedur akutansi biaya bahan dan suplies.
2. Prosedur akutansi biaya tenaga kerja.
3. Prosedur akutansi biaya overhead pabrik.
4. Prosedur akutansi barang jadi dan barang dalam proses akhir periode.
5. Prosedur akutansi penjualan dan penyerahan produk kepada pemesan.
Berikut ini akan dibahas setiap prosedur tersebut :
Prosedur Akutansi Biaya Bahan Dan Suplies
Prosedur akutansi biaya bahan dan suplies meliputi prosedur pembelian
sampai dengan pemakaian bahan dan suplies di dalam pabrik. Agar supaya
jumlah persediaan bahan dapat diketahui

setiap saat umumnya perusahaan

manufaktur menggunakan metode persediaan perpetual (perpetual inventory


method). Tahap-tahap prosedur akutansinya sebagai berikut :
a. Pembelian Bahan dan suplies
Pembelian bahan dan suplies dimulai dari pembuatan pesanan pembelian
(purchases order) oleh Bagian Pembelian dan mengirimkannya kepada suplier.
Apabila bahan dan suplies yang dipesan datang, oleh Seksi Gudang Bahan
dibuatkan dokumen berupa bukti penerimaan barang setelah diperiksa
kecocokan jumlah dan dokumen kualitas barang yang dibeli. Faktur pembelian
dan suplier bersama pesanan pembalian dan bukti penerimaan barang
diberikan pada Departemen Akutansi untuk dibuat jurnal dan memasukkan
kedalam rekening buku besar pembantu yaitu Kartu Persediaan.
4

Jurnal pembelian bahan dan suplies secara kredit sebagai berikut :


Persediaan Bahan Baku
Persediaan Bahan Penolong
Persediaan Suplies Pabrik
Hutang Usaha

Rp xx
Rp xx
Rp xx
Rp xx

Apabila pembelian bahan dan suplies secara tunai rekening buku besar yang
dikredit adalah kas.
b. Pengembalian (Return) Bahan dan Suplies yang Dibeli kepada Suplier
Apabila bahan dan suplies yang dibeli tidak sesuai dengan yang dipesan,
maka perusahaan dapat mengembalikan kepada suplier dengan dibuatkan
dokumen yang disebut nota debit (debit memorandum) atau Laporan
Pengiriman Pengembalian Pembelian. Dan nota debit oleh Departemen
Akutansi dibuatkan jurnal dan dimasukkan ke dalam rekening buku besar
pembantu persediaan sesuai dengan bahan dan suplies yang dikembalikan
kepada suplier. Jurnal pengembalian bahan dan suplies kepada suplier adalah
sebagai berikut
Hutang Usaha
Rp xx
Persediaan Bahan Baku
Rp xx
Persediaan Bahan Penolong
Rp xx
Persediaan Suplies Pabrik
Rp xx
Jika harga bahan dan suplies yang dikembalikan sudah dibayar sebelumnya
oleh perusahan, maka akan didebit Kas.
c. Potongan Pembelian (Tunai) atas Pembelian Bahan dan Suplies
Seringkali dalam pembelian bahan dan suplies diperoleh potongan
pembelian, apabila diaplasikan, maka potongan tunai mengurangi harga
perolehan bahan dan suplies, oleh karena itu dari Bukti Kas Keluar akan
dibuat jurnal dan dimasukkan ke dalam Kartu Persediaan. Jurnalnya sebagai
berikut :
Hutang Usaha
Rp xx
Persediaan Bahan Baku
Rp xx
Persediaan Bahan Penolong
Rp xx
Persediaan Suplies Pabrik
Rp xx
Kas
Rp xx
Perlakuan tersebut diatas sesuai dengan prinsip akutansi, akan tetapi perlakuan
ini dapat berakibat tidak praktis, yaitu apabila harga perolehan satuan menjadi
pecahan misalmya dari Rp 10,00 menjadi Rp 9,8999 akan mempersulit
perhitungan harga pokok persediaan dan harga pokok bahan yang dipakai. Oleh
karena itu potongan pembelian dapat diperlakukan sebagai penghasilan lain-lain
5

(other income). Metode ini tidak sesuai dengan prinsip akuntansi karena
seharusnya penghasilan timbul dari kegiatan penjualan barang atau jasa yang
dilakukan perusahaan kepada pihak lain dan bukan dari kegiatan pembelian.
Jurnal potongan. Pembelian apabila diperlukan sebagai penghasilan lain-lain
tampak sebagai berikut :
Hutang Usaha
Penghasilan Lain-lain
Kas

Rp xx
Rp xx
Rp xx

d. Pemakain bahan dan supiles


Atas dasar perintah produksi, Departemen Produksi yang memerlukan
mengisi dokumen Bon Permintaan Bahan kepada Seksi Gudang untuk
meminta bahan baku, bahan penolong, suplies pabrik dan barang lainnya yang
diperlukan untuk mengolah produk yang dipesan pembeli.
Bon Permintaan Bahan untuk meminta bahan baku akan menunjukkan
bagian yang meminta, elemen, dan jumlah satuan bahan baku yang diminta,
serta pesanan yang memerlukan bahan baku tersebut. Dokumen ini akan
dikirimkan pada Departemen Akutansi oleh Seksi Akutansi Biaya dokumen
Bon Permintaan Bahan tersebut akan diisi harga perolehan satuan dan jumlah
totalnya untuk dasar pembuatan jurnal dan memasukkan ke dalam Kartu
Persediaan Bahan Baku dan Kartu Harga Pokok Pesanan yang bersangkutan.
Jurnal pemakaian bahan baku adalah sebagai berikut :
Barang Dalam Proses Biaya Bahan Baku......
Persediaan Bahan Baku .....................................

Rp xx
Rp xx

Bon Permintaan Bahan untuk bahan penolong aka menunjukkan bagian


yang meminta, serta elemen dan jumlah bahan penolong yang diminta.
Dokumen ini dikirimkan ke Departemen Akutansi untuk diisi harga perolehan
dan jumlahnya oleh Seksi Akutansi Biaya untuk dasar pembuatan jurnal dan
memasukkan kedalam Kartu Persediaan Bahan Penolong dan Kartu Biaya
Overhead Pabrik.
Dalam metode harga pokok pesanan, biaya overhead pabrik dibebankan
pada pesanan atas dasar tarif yang ditentukan dimuka, oleh karena itu
perusahaan akan menyelenggarakan rekening buku besar Biaya Overhead
Pabrik (BOP) Sesungguhnya untuk menampung biaya yang sesungguhnya
dan rekening Biaya Overhead Pabrik (BOP) Dibebankan untuk
menampung biaya yang dibebankan kepada pemesan.
Jurnal pemakaian bahan penolong sebagai berikut :
6

Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya


Persediaan Bahan Penolong

Rp xx
Rp xx

Prosedur pemakaian suplies pabrik sama dengan prosedur pemakaian


bahan penolong, setelah dokumen tersebut dilengkapi oleh Seksi Akutansi
Biaya data harga perolehan satuan dan total, akan dibuat jurnal dan
dimasukkan ke dalam Kartu Persediaan Suplies Pabrik dan Kartu Biaya
Overhead Pabrik.
Jurnal pemakaian suplies pabrik sebagai berikut :
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya
Persediaan Suplies Pabrik

Rp xx
Rp xx

e. Pengembalian Bahan Baku dari Pabrik ke Gudang Bahan


Dapat pula timbul pengembalian bahan baku dan pabrik ke gudang
bahan. Misalnya terjadi kelebihan bahan baku yang diminta dengan bahan
baku yang dipakai sesungguhnya oleh pesanan tertentu, agar bahan baku tudak
rusak di pabrik maka bahan baku tersebut dikembalikan ke gudang bahan.
Atas bahan baku yang dikembalikan tersebut dibuatka dokumen yang disebut
Laporan

Pengembalihan Bahan oleh Departemen Produksi dikirimkan ke

Seksi Gudang dan tembusannya di Departemen Akutansi untuk membuat


jurnal dan memasukkan ke Kartu Persediaan Bahan Baku dan Kartu Harga
Pokok Pesanan.
Jurnal yang dibuat sebagai berikut :
Persediaan Bahan Baku
Barang Dalam Proses Biaya Bahan Baku

Rp xx
Rp xx

Secara ringkas prosedur akutansi bahan dan suplies pabrik dapat digambarkan
sebagai berikut :
Transaksi dan Dokumen Dasar
Pembelian Bahan Dan Suplies
Faktur Pembelian

Jurnal Transaksi
Persed.Bahan Baku Rp xx
Persed.Bahan Penolong xx

Buku Besar Pembantu


Kartu Persediaan
Bahan Baku

Buku Penerimaan Barang


Pesanan Pembelian

Persed.Suplies Pabrik
Hutang Usaha

xx
Rp xx

Bahan Penolong
Suplies Pabrik

Pengembalian Pembelian
Debit Memorandum
Laporan Pengiriman
Pengembalian Pembelian

Hutang Usaha
Rp xx
Persed.Bahan Baku
Rp xx
Persed.Bahan Penolong
xx
Persed.Suplies Pabrik
xx

Kartu Persediaan
Bahan Baku
Bahan Penolong
Suplies Pabrik

Potongan Tunai Pembelian :


Bukti Kas Keluar

Hutang Usaha
Rp xx
Persediaan Bahan Baku
Rp xx
Persediaan Bahan Penolong
xx
Persediaan Suplies Pabrik
xx
Kas
Atau :
Hutang Usaha
Rp xx
Penghasilan Lain-Lain
Rp xx
Kas
xx

Kartu Persediaan
Bahan Baku
Bahan Penolong
Suplies Pabrik

Pemakaian Bahan Baku :


Bon Permintaan Bahan

Barang Dalam Proses


Biaya Bahan Baku
Rp xx
Persediaan Bahan Baku
Rp xx

Kartu Persediaan :
Bahan Baku
Kartu Harga Pokok Pesanan

Pemakaian Bahan Penolong :


Bon Permintaan Bahan

Barang Overhead Pabrik


Sesungguhnya
Rp xx
Persediaan Bahan Penolong Rp xx

Pemakaian Bahan Penolong :


Bon Permintaan Bahan

Barang Overhead Pabrik


Sesungguhnya
Persed. Suplies Pabrik

Pengembalian Bahan Baku Dari


Pabrik Ke Gudang Bahan :
Laporan Pengembalian Barang

Persediaan Bahan Baku


Rp xx
Barang dan Proses Biaya
Bahan Baku
Rp xx

Kartu Persediaan :
Bahan Penolong
Kartu Biaya
Overhead Pabrik
Kartu Persediaan :
Suplies Pabrik
Kartu Biaya
Overhead Pabrik
Kartu Persediaan :
Bahan Baku
Kartu Harga Pokok Pesanan

Rp xx
Rp xx

Prosedur Akutansi Biaya Tenaga Kerja


Prosedur akutansi biaya tenaga kerja meliputi prosedur : (a) terjadinya gaji
dan upah, (b) pembayaran gaji dan upah, dan (c) distribusi gaji dan upah untuk
semua karyawan perusahaan baik produksi maupun non produksi,baik karyawan
yang gajinya tetap per bulan maupun yang ditentukan oleh jam kerjanya. Tahaptahap transaksi biaya tenaga kerja adalah sebagai berikut :
a. Penentuan Besarnya Gaji Dan Upah
Cara penentuan basarnya gaji dan upah karyawan dapat dikelompokkan
menjadi dua yaitu :
(1) Gaji dan Upah karyawan besarnya tergantung pada lamanya waktu
kerja (jam kerja) atau jumlah produk yang dihasilkan.
Apabila karyawan dibayar atas dasar lamanya waktu kerja, umumnya sistem
ini untuk tenaga kerja langsung, untuk menentukan besarnya upah
diperlukan dokumen Daftar Hadir (Kartu Presensi) yang menunjukkan data
jumlah jam kerja karyawan setiap hari dalam jangka waktu tertentu
(mingguan, bulanan) sesuai dengan jangka waktu pembayaran upah.
8

Untuk mengetahui penggunaan waktu kerja karyawan di pabrik dalam


mengerjakan pesanan atau jumlah produk yang dihasilkan digunakan Kartu
Jam Kerja Karyawan (Job Time Ticket), manfaat kartu ini yaitu untuk
memasukkan biaya tenaga kerja langsung pada setiap harga pokok pesanan.
Untuk pengawasan tenaga kerja, jumlah jam dalam Daftar Hadir harus sama
dengan jumlah jam pada Kartu Jam Kerja Karyawan.
Dari Daftar Hadir akan disusun Daftar Upah Karyawan yang menunjukkan
data jumlah gaji dan upah kotor, potongan atas gaji dn upah misalnya pajak
pendapatan, serta gaji dan upah bersih yang akan dibayarkan kepada
karyawan.
(2) Gaji dan Upah karyawan tetap per bulan
Untuk karyawan tetap per bulan, fungsi Daftar Hadir untuk mengetahui
kedisiplinan karyawan apakah sering datang terlambat dan pulang lebih
cepat atau datang dan pulang pada waktu yang tepat. Umumnya sistem ini
dipakai untuk pimpinan, staf, karyawan perusahaan yang tidak termasuk
tenaga kerja langsung di bagian produksi.
Setiap menjelang akhir bulan disusun Daftar Gaji Karyawan yang
menunjukkan data jumlah gaji kotor yaitu gaji pokok ditambah tunjangantunjangan, potongan-potongan atas gaji, serta gaji bersih yang akan
dibayarkan kepada karyawan.
Jurnal untuk mencatat terjadinya gaji dn upah baik untuk karyawan tetap
maupun karyawan berdasar lamanya waktu kerja, adalah sebagai berikut :
Biaya Gaji dan Upah
Rp xx
Hutang Pajak Pendapatan (P.Pd)
Hutang Dana Pensiun (D.Pn)
Hutang Asuransi Tenaga Kerja (Astek)
Hutang Asuransi Han Tua (As.HT)
Pihutang Karyawan
Hutang Gaji Dan Upah

Rp xx
Rp xx
Rp xx
Rp xx
Rp xx
Rp xx

a. Pembayaran Atas Gaji Dan Upah


Menjelang tanggal pembayaran gaji dan upah. Kasir membayarkan gaji dan
upah kepada Juru Bayar Gaji dengan menggunakan dokumen Bukti Kas Keluar.
Pada saat gaji dibayarkan, Juru Bayar Gaji meminta karyawan untuk
menghitung kesesuaian gaji dan upahnya serta mendatangani Daftar Gaji dan
Upah. Jurnal pembayaran gaji dan upah sebagai berikut :
Hutang Gaji dn Upah
Kas

Rp xx
Rp xx

b. Distribusi Biaya Gaji dan Upah


9

Melalui dokumen perintah jurnal, biaya gaji dan upah didistribusikan sesuai
dengan fungsi perusahaan yang menikmati manfaat gaji dan upah yaitu fungsi
produksi, fungsi pemasaran, dan fungsi administrasi dan umum. Biaya gaji dan
upah untuk produksi dikelompokkan ke dalam biaya tenaga kerja langsung dan
biaya tenaga kerja tidak langsung yang merupakan elemen biaya overhead
pabrik sesungguhnya. Biaya tenaga kerja langsung akan dimasukkan ke dalam
rekening Barang Dalam Proses Biaya Tenaga Kerja Langsung (BTKL) dan
Kartu Harga Pokok Pesanan, sedangkan elemen gaji dan upah lainnya ke Kartu
Biaya yang bersangkutan. Jurnal distribusi gaji dan upah sebagai berikut :
Barang Dalam Proses BTKL
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya
Biaya Pemasaran
Biaya Administrasi dan Umum
Biaya Gaji dan Upah

Rp xx
Rp xx
Rp xx
Rp xx
Rp xx

c. Beban atas Gaji dan Upah Yang Ditanggung Perusahaan


Pada perusahaan tertentu seringkali perusahaan ikut menanggung sebagian
beban atas gaji dan upah yang berupa pajak pendapatan, dana pensiun, asuransi
hari tua, atau

asuransi tenaga kerja karyawan Beban yang ditanggung

perusahaan merupakan elemen biaya, bebean yang berhubungan dengan


karyawan pabrik diperlakukan sebagai elemen biaya overhead pabrik
sesungguhnya karena sifat biaya ini tidak dapat diidentifikasikan pada produk
tertentu, beban yang berhubungan dengan karyawan pemasaran masuk elemen
biaya pemasaran, beban yang berhubungan dengan karyawan administrasi dan
umum masuk elemen biaya administrasi dan umum.
Besarnya beban atas gaji dan upah dibuatkan dokumen Daftar Sumbangan
Gaji dan Upah, atas dasar tersebut dibuat jurnal dan dimasukkan Kartu Biaya.
Jurnal transaksi tersebut adalah sebagai berikut :
Biaya Overhead Sesungguhnya
Biaya Pemasaran
Biaya Administrasi dan Umum
Hutang Pajak Pendapatan
Hutang Dana Pensiun
Hutang Asuransi Tenaga Kerja
Hutang Asuransi Hari Tua

Rp xx
xx
xx
Rp xx
xx
xx
xx

d. Penyetoran Potongan dan Beban atas Gaji dan Upah kepada Badanbadan yang Berhak
Dokumen bukti kas keluar digunakan untuk menyetorkan potongan dan
beban atas gaji dan upah pada badan-badan yang berhak, jurnal yang dibuat
sebagai berikut :
10

Hutang Pajak Pendapatan


Hutang Dana Pensiun
Hutang Asuransi Tenaga Kerja
Hutang Asuransi Hari Tua
Kas

Rp xx
xx
xx
xx
Rp xx

Secara ringkas prosedur akutansi biaya tenaga kerja adalah sebagai berikut :
Transaksi dan Dokumen Dasar
Penentuan Gaji dan Upah :
- Daftar Hadir
- Kartu Jam Kerja
- Daftar Gaji dan Upah

Pembayaran Gaji dan Upah :


Buku Kas Keluar
Distribusi Gaji dan Upah :
Perintah Jurnal

Beban atas Gaji dan Upah :


Daftar Sumbangan atas Gaji dan
Upah

Penyetoran Atas Potongan dan


Beban Gaji dan Upah
Bukti Kas Keluar

Jurnal Transaksi
Biaya Gaji dan Upah
Rp xx
Hutang P.Pd
Rp xx
Hutang D.Pn
xx
Hutang Astek
xx
Hutang AsHT
xx
Pihutang Karyawan
xx
Hutang Gaji dan Sabar
xx
Hutang Gaji dan Upah Rp xx
Kas
Rp xx
Barang Dalam ProsesBiaya Tenaga Kerja
Langsung
Rp xx
Biaya Overhead Pabrik
Sesungguhnya
Rp xx
Biaya Pemasaran
Rp xx
Biaya Administrsi
Rp xx
Biaya Administrsi dan
Umum
Rp xx
Biaya Gaji dan Upah
Rp xx
Biaya Overhead
Sesungguhnya
Rp xx
Biaya Pemasaran
xx
Biaya Administrasi
Umum
xx
Hutang P.Pd
Rp xx
Hutang D.Pn
xx
Hutang Astek
xx
Hutang AsHT
xx
Hutang P.Pd
Hutang D.Pn
Hutang Astek
Hutang AsHT
Kas

Buku Besar Pembantu

Kartu Harga Pokok Pesanan


dan Kartu Biaya
Overhead Pabrik
Pemasaran
Administrasi dan Umum

Kartu Biaya :
Overhead Pabrik
Pemesaran
Administrasi dan Umum

Rp xx
xx
xx
xx
Rp xx

Prosedur Akutansi Biaya Overhead Pabrik


Biaya overhead pabrik merupakan biaya paling komplek, untuk keadilan dan
ketelitian pembebanan harus digunakan tarip biaya overhead pabrik yang
ditentukan di muka. Alasan pemakaian tarip pembebanan adalah sebagai
berikut :
1. Adanya biaya overhead yang timbul setelah aktivitas berlalu. Misalnya
reparasi aktiva tetap disebabkan pemakaian masa lalu, maka apabila
pembebanan pada pesanan dilakukan saat terjadinya biaya, berakibat
menjadi tidak teliti dan adil.
11

2. Adanya biaya yang baru dapat dihitung pada akhir periode. Misalnya
penyusutan, biaya listrik PLN. Biaya ini apabila dibebankan pada
pesanan saat dapat dihitung berakibat menjadi tidak teliti dan adil.
3. Adanya biaya ynag terjadi hanya pada interval waktu tertentu misalnya
PBB, setahun dibayar sekali atau dicicil dua kali. Biaya ini apabila
dibebankan pada pesanan saat terjadinya, berakibat menjadi tidak teliti
dan adil karena manfaat PBB dinikmati selama satu tahun.
Dari uraian tersebut jelas bahwa biaya overhead yang sesungguhnya baru
dapat dihitung pada akhir periode, padahal harga pokok pesanan harus dihitung
saat pesanan selesai tanpa menunggu akhir periode, jadi untuk membebankan
biaya overhead pabrik kepada pesanan harus digunakan tarip yang ditentukan di
muka. Rumus perhitungan tarip biaya overhead pabrik adalah sebagai berikut.
Dimana :

T=

B
K

T = Tarip biaya overhead pabrik


B = Budget biaya overhead pabrik periode tertentu
K = Budget kapasitas pembebana untuk periode yang bersangkutan.
Apabila tarip biaya overhead pabrik sudah ditentukan, prosedur akuntansi
biaya overhead pabrik selanjutnya sebagai berikut :
a.

Prosedur Pembebanan Biaya Overhead Pabrik pada Pesanan


Suatu pesanan akan dibebani biaya overhead pabrik sesuai dengan kapasitas
sesungguhnya yang dinikmati oleh pesana yang bersangkutan dikalikan dengan
tarip biaya overhead yang ditentukan di muka. Atas dasar dokumen Perintah
Jurnal dibuat jurnal pembebanan dan dimasukkan ke dalam Kartu Harga Pokok
Pesanan. Jurnal pembebana sebagai berikut:
Barang Dalam Proses Biaya Overhead Pabrik
Biaya Overhead Pabrik Dibebankan

Rp xx
Rp xx

Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya


Hutang P.Pd.
Hutang D.Pn.
Hutang Astek
Hutang As.HT.

Rp xx
Rp xx
Rp xx
Rp xx

Rp xx

(1) Biaya Penyusutan Dan Amortisasi Aktiva Tetap Pabrik

12

b.

Pada akhir periode dibuat dokumen Printah Jurnal Prosedur Akuntansi


Pengumpulan Biaya Overhead Pabrik yang Sesungguhnya.
Biaya overhed pabrik yng sesungguhnya terjadi dalam periode yng
bersangkutan akan ditampung dalam rekening Biaya Overhead Pabrik.
Sesungguhnya dan dimasukkan ka dalam Kartu Pembantu Biaya Overhead Pabrik,
berikut ini dibahas jurnal setiap elemen biaya overhead pabrik.
(2) Biaya Bahan Penolong
Prosedur ini telah dibahas pada prosedur akuntansi bahan dan suplies pada bab
ini, dan Bon Permintaan Bahan Penolong dijurnal:
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya
Persediaan Bahan Penolong

Rp xx

Rp xx

(3) Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung


Prosedur ini telah dibahas pada prosedur akuntansi tanaga kerja pada bab ini,
dan Daftar Gaji dan Perintah Jurnal dibuat jurnal.
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya
Biaya Gaji dan Upah

Rp xx
Rp xx

Beban atas gaji dan upah yang ditanggung perusahaan dengan dokumen Daftar
Sumbangan Gaji dan Upah dijurnal.
untuk mencatat biaya penyusutan dan amortisasi aktiva tetap pabrik, dan
dibbuat junal sebagai berikut :
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp xx
Akumulasi Penyusutan Masin
Akumulasi Penyusutan Bangunan
Akumulasi Penyusutan Peralatan
Persediaan Suku Cadang
Amortisasi Hak Paten

Rp xx
Rp xx
Rp xx
Rp xx
Rp xx

(4) Biaya Reparasi Dan Pemeliharaan Aktiva Tetap Pabrik


Biaya reparasi dan peemeliharaan dapat timbul dan reparasi dan pemeliharaan
yang dilakukan sendiri oleh karyawan perusahaan. Dalam hal ini biaya yang
timbul adalah biaya pemakaian suplies dan suku cadang, biaya tenaga kerja
tidak langsung dan penyusutan peralatan reparasi dan pemeliharaan. Untuk
biaya suplies, tenaga kerja tidak langsung dan penyusutan paralatan jurnalnya
telah dibuat pembahasan dimuka, jurnal untuk pemakaian suku cadang sebagai
berikut :
Saat dibeli :
Persediaan Suku Cadang
Hutang Dagang atau Kas

Saat dipakai :
13

Rp xx
Rp xx

Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya


Persediaan Suku Cadang

Rp xx
Rp xx

Biaya reparasi dapat pula timbul dan pembelian jasa reparasi dan
pemeliharaan kepada pihak luar, dan dokumen Bukti Kas Keluar untuk yang
sudah dibayar atau dokumen Faktur Pembelian Jasa dan Perintah Jurnal untuk
yang belum dibayarr dibuat jurnal :
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya
Kas
Hutang Biaya

Rp xx
Rp xx
Rp xx

(5) Biaya Listrik dan Air untuk Pabrik


Listrik PLN dan air PAM yang dikonsumsi perusahaan dan sudah dibayar
digunakan dokumen Bukti Kas Ke luar, yang belum dibayar dibuat dokumen
Perintah Jurnal, akan dibuat jurnal sebagai berikut :
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya
Kas
Hutang Biaya

Rp xx
Rp xx
Rp xx

(6) Biaya Asuransi Pabrik


Biaya ini umumnya timbul dan berakhirnya ( expired ) sebagaian persekot
asuransi, pada saat persekot asuransi dibayar digunakan dokumen Bukti Kas
Keluar,pada saat diperhitungkan biaya digunakan dokumen Perintah Jurnal.
Jurnal dan persekot asuransi dan biaya asuransi sebagai berikut :
Terjadinya pemboyaran persekot asuransi :
Pesekot Asuransi
Kas

Rp xx
Rp xx

Persekot asuransi menjadi biaya :


Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya
Pesekot asuransi

Rp xx
Rp xx

(7) Biaya Overhead Lain-lain


Elemen biaya yang dapat dimasukkan pada golongan biaya di atas dimasukkan
di dalam biaya overhead pabrik lain-lain, rekening yang dikredit tergantung
dan penyebab timbulnya biaya tersebut. Misalnya sebagian biaya overhead
lain-lain sudah dibayar dan sebagian masih terhitung dibuat jurnal :
Biaya overhead Pabrik Sesungguhnya
Kas
Hutang Biaya

Rp xx
Rp xx
Rp xx

c. Prosedur Akuntansi Perhitungan dan Perlakuan Selisih Biaya Overhead Pabrik

14

Pada akhir periode akuntansi akan dihitung besarnya selisih biaya overhead
pabrik yang sesungguhnya dengan yang dibebankan kepada pesanan, dengan
Perintah Jurnal akan dibuat jurnal sebagai berikut :
(1) Jurnal menutup Biaya Overhead Pabrik Dibebankan ke Biaya Overhead Pabrik
Sesungguhnya.
Biaya Overhead Pabrik Dibebankan
Rp xx
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp xx

(2) Jurnal untuk menutup Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya dan menghitung
selisih sebagai berikut :
Apabila Biaya Overhead Sesungguhnya lebih besar dibanding Biaya
Overhead Dibebankan ( selisih tidak menguntungkan atau unfavorable
variance atau under applied factory overhead ) :
Selisih Biaya Overhead Pabrik
Rp xx
Biaya Overhead Pabrik Sesungguhnya Rp xx

(3) Salah satu perlakuan selisih yaitu masuk ke rekening Rugi Laba Jurnalnya
sebagai berikut :
Selisih tidak menguntungkan :
Rugi-Laba
Selisih Biaya Overhead Pabrik

Rp xx
Rp xx

Selisih menguntungkan :
Selisih Biaya Overhead Pabrik
Rugi-laba

Rp xx
Rp xx

Secara ringkas prosedur akuntansi biaya overhead pabrik adalah sebagai berikut :
15

Transaksi dan Dokumen Dasar


Pembebanan BOP:
- Dasar Pembebanan
- Perintah Jurnal
Pengumpulan BOP Sesungguhnya:
- Pemakaian Bahan Penolong
- Biaya Tenaga Kerja Tak Langs
- Penyusutan Aktiva Tetap
- Biaya Pemeliharaan Mesin
- BOP lain-lain yang terutang

Perhitungan & Perlakuan Selisih BOP :


Menutup BOP Dibebankan
(Perintah Jurnal) :
Pengakuan Selisih BOP
- Jika Bop Dibebankan < BOP Ses
- Jika Bop Dibebankan > Bop Ses

Perlakuan Selisih BOP ke Rekening


Rugi/Laba :
Dokumen Perintah Jurnal :
- Jika Selisih BOP Tdk Menguntungkan
- Jika Selisih BOP Menguntungkan

Jurnal Transaksi
Barang Dalam Proses BOP Rp xx
BOP Dibebankan
Rp xx

Buku Besar Pembantu


Kartu Harga Pokok Pesanan

BOP Sesungguhnya
Rp xx
Persed. Bahan Penolong
Rp xx
BOP Sesungguhnya
Rp xx
Gaji dan Upah
Rp xx
BOP Sesungguhnya
Rp xx
Akum Penyustn Mesin
Rp xx
Akum Penyusrn Bangunan
Rp xx
Akum Penyustn Peralatan
Rp xx
Amortisasi Hak Paten
Rp xx
BOP Sesungguhnya
Rp xx
Kas
Rp xx
Hutang Biaya
Rp xx
BOP Dibebankan
Rp xx
BOP Sesungguhnya
Rp xx

Kartu Biaya Overhead


Pabrik

Selisih BOP
BOP Sesungguhnya

Rp xx
Rp xx

BOP Sesungguhnya
Selisih BOP

Rp xx
Rp xx

Rugi / Laba
Selisih BOP

Rp xx
Rp xx

Selisih BOP
Rugi / Laba

Rp xx
Rp xx

Prosedur Akutansi Barang Jadi dan Barang Dalam Proses Akhir Periode
Pada metode harga pokok pesanan setiap ada pesanan yang selesai
dipindahkan dan Departemen Produksi ke Seksi Gudang Produk Selesai dan
harus dihitung harga pokoknya, jumlah harga pokok pesanan yang selesai dapat
dihitung dengan merekam Kartu Harga Pokok Pesanan dan selanjutnya
memindahkan kartu tersebut dan fungsinya sebagai rekening pembantu Barang
Dalam Proses ke fungsi yang baru sebagai pembantu rekening Persediaan
Barang Jadi. Atas dasar dokumen Bukti Pemindahan Barang Jadi dan Perintah
Jurnal dibuat jurnal :
Persediaan Barang Jadi
Rp xx
Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku
Barang Dalam Proses-Biaya tenaga kerja langsung
Barang Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik

Rp xx
Rp xx
Rp xx

Sedangkan apabila pada akhir periode masih ada pesanan dalam proses,
maka Kartu Harga Pokok Pesanan yang bersangkutan fungsinya berubah dari
rekening pembantu barang Dalam Porses menjadi rekening pembantu
Persediaan Barang Dalam Proses. Atas dasar Perintah Jurnal harga pokok
produk dalam proses dipindahkan ke rekening Persediaan Produk Dalam Proses
dengan jurnal sebagai berikut :
Persediaan Barang Dalam Proses
Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku

16

Rp xx
Rp xx

Barang Dalam Proses-Biaya Tenaga Kerja Langsung


Barang Dalam Proses-Biaya Overhead Pabrik

Rp xx
Rp xx

Prosedur Akutansi Penjualan atau Penyerahan Barang Jadi kepada Pemesan


Dari Seksi Gudang Barang Jadi pesanan dikirimkan kepada pemesan, dan
dibuatkan dokumen Faktur Penjualan. Jurnal yang dibuat sebagai berikut :
Pihutang Usaha
Kas
Penjualan

Rp xx
Rp xx
Rp xx

Pihutang Usaha didebit sebesar harga jual yang belum diterima, kas didebit
harga jual yang telah diterima tunai. Penjual dikredit sebesar harga jual pesanan
yang diserahkan.
Setiap pesanan diserahkan, maka Kartu Harga Pokok Pesanan yang semula
berfungsi sebagai rekening pembantu Persediaan Barang Jadi dipindahkan
fungsinya sebagai rekening pembantu Harga Pokok Penjualan. Jurnal yang
dibuat untuk mengakui Harga Pokok Penjualan adalah sebagai berikut :
Harga Pokok Penjualan
Persediaan Barang Jadi

17

Rp xx
Rp xx

Dari uraian prosedur akutansi metode harga pokok pesanan secara sederhana dapat disusun
aliran biaya produksi pada gambar 2 berikut ini :
Gambar 2 :
Hubungan Aliran Harga Pokok Dalam Rekening Buku Besar
Bahan
Persediaan Bahan
Baku
1

xx

Produksi
Barang Dalam Proses
Bahan Baku
2

Barang Dalam Proses


Tenaga Kerja Langsung

Biaya Gaji dan Upah


3

xx

xx

xx

xx

Barang Dalam Proses


BOP Dibebankan
BOP Sesungguhnya
BOP
9
5

xx xx

xx xx

xx

xx
Selisih BOP

xx

xx

18

xx

10

Penjualan

Harga Pokok
Penjualan

11

Persediaan Barang
Dalam Proses

xx

Persediaan

Persediaan Barang
Jadi

xx

KARTU HARGA POKOK PESANAN


Kartu Harga Pokok Pesanan dan Kartu Biaya Produksi :
Kartu Harga Pokok Pesanan disebut pula sebagai Kartu Biaya Produksi Pesanan,
berfungsi sebagai alat pencatat (perekam) setiap elemen biaya produksi (biaya bahan
buku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik) yang dibebankan
kepada setiap produk pesanan yang berbeda. Jika pesanan berjumlah 50 buah, maka
disiapkan kartu biaya produksi sejumlah 50 buah pula.
Kartu biaya produksi memiliki fungsi yang berubah-ubah sesuai dengan
kepentingannya, yaitu : (a) sebagai buku pembantu perkiraan Barang Dalam Proses
saat produksi sedang berjalan, (b) sebagai buku pembantu perkiraan Barang Jadi saat
barang dalam proses tersebut dinyatakan sebagai produk yang selesai dikerjakan, dan
(c) sebagai Buku Pembantu perkiraan Harga Pokok Penjualan saat Barang Jadi yang
bersangkutan dijual dan diserahkan kepada pemesan. Berikut ini contoh format
sederhana kartu harga pokok.
KARTU HARGA POKOK PESANAN
No. Pesanan
Tgl Pesanan
Tgl Selesai
Tgl

: .
: .
: .
Biaya Bahan
Baku

Nama Pemesan
Kode Pesanan
Unit Dipesan
Upah
Langsung

19

BOP

: .
: .
: .
Jumlah

MENGERJAKAN PROSEDUR AKUTANSI METODE


HARGA POKOK PESANAN
Contoh Kasus :
PT. Jayakarya Printing, Surabaya per 1 Januari 2007 mempunyai saldo-saldo
perkiraan buku besar berikut ini :
Persediaan Bahan Baku dan Pembantu ....................................... Rp 1.375.000,Persediaan Barang Dalam Proses..............................................*)
3.635.000,Persediaan Barang Jadi (Pesanan RX-99)....................................
1.895.000,*) Untuk barang dalam proses terinci pada kartu harga pokok
pesanan sebagai berikut :
AX-01
AX-04
AX-05
Biaya Bahan Baku......................... Rp 525.000,Rp 325.000,Rp 475.000,Biaya Tenaga Kerja Langsung...... Rp 420.000,Rp 400.000,Rp 500.000,Biaya Overhead pabrik.................. Rp 315.000,Rp 300.000,Rp 375.000,Pada bulan Januari 2007 terdapat transaksi sbb :
a) Dibeli bahan baku dan pembantu seharga
Rp 4.275.000,b) Dipakai bahan baku dan pembantu sebesar
Rp 4.750.000,- dengan rincian,
sebanyak Rp 250.000,- untuk bahan pembantu, sisanya untuk bahan baku dengan
alokasi : pes AX-01 = 20%, pes AX-04 = 25%, AX-05 = 15% dan AX-06 = 40%.
c) Dari daftar gaji dan upah diketahui bahwa Gaji dan Upah yang akan dibayar
berjumlah Rp 5.650.000,d) Dari daftar gaji dan upah yang akan dibayar, dirinci sbb
Upah langsung .....................................................Rp 3.600.000,Upah tak langsung................................................Rp 350.000,Gaji bagian pemasaran..........................................Rp 1.000.000,Gaji bagian administrasi.......................................Rp 700.000,Dari bagian produksi diketahui bahwa upah langsung dialokasikan sbb :
Pes AX-01=20%, pes, AX-04=25%, AX-05=15% dan AX-06=40%.
e) Biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk atas dasar tarip yang ditentukan
dimuka, yaitu sebesar 75% dari Upah Langsung dengan alokasi yang sama.
f) BOP yang sesungguhnya lainnya yang telah terjadi, diantaranya meliputi:
- Biaya pemeliharaan mesin.Rp 250.000,- Biaya asuransi pabrik.Rp 200.000,- Biaya listrik & air...RP 500.000,- Penyusutan mesin...Rp 1.000.000,- BOP Rupa-rupa..Rp 300.000,g) Pesanan AX-01,AX-04 dan AX-05 dinyatakan selesai, sedangkan AX-06 masih
dalam proses.
h) Pesanan RX-99,AX-01 dan AX-05 diserahkan kepada pemesan dengan mengakui
laba sebesar 40% dari harga pokok produksi, pembayaran secara tunai.
Berdasarkan data tersebut, diminta :
1) Membuat Jurnal transaksi yang terjadi selama Januari 2007.
2) Menyusun kartu harga pokok pesanan.
3) Aliran biaya dalam rekening buku besar.

20

JAWABAN KASUS :
1. Jurnal Transaksi :
PT. Jayanata Printing
Jurnal Umum
Bulan: Januari 2007
No.

Nama Rekening dan Keterangan

Jumlah

BOP Biaya Bahan Baku


BOP Biaya Tenaga Kerja
BOP Overhead Pabrik
Persediaan barang dalam proses
(Membuat Jurnal Pembalikan,
adanya barang dalam proses awal)
Persediaan Bahan Baku & BP
Hutang Uasaha
(Mencatat pembelian bahan baku
dan bahan penolong)
BDP BBB
BOP Sesungguhnya
Pesediaan bahan baku & BP
(Mencatat pemakaian bahan baku
dan pembantu, dengan rincian pes :
AX-01=20%= Rp 900.000,AX-04=25%= Rp 1.125.000,AX-05=15%= Rp 600.000,AX-06=40%= Rp 1.800.000,Gaji dan Upah
Hutang Gaji dan Upah
(Pengakuan hutang gaji dan upah
yang akan dibayar)
BDP Biaya Tenaga Kerja Langsg
BOP Sesungguhnya
Gaji Bag Pemasaran
Gaji Bag Administrasi
Gaji dan Upah
(Pendistribusian biaya gaji dan upah,
dan alokasi BTKL,untuk pes:
AX-01=20%= Rp 720.000,AX-04=25%= Rp 900.000,AX-05=15%= Rp 540.000,AX-06=40%= Rp 1.440.000,-

21

D
Rp 1.325.000,Rp 1.320.000,Rp 990.000,-

Rp 3.635.000,Rp 4.275.000,Rp 4.275.000,Rp 4.500.000,Rp 250.000,Rp 4.750.000,-

Rp 5.650.000,Rp 5.650.000,Rp 3.600.000,Rp 350.000,Rp 1.000.000,Rp 700.000,Rp 5.650.000,-

f1

f2

f3

f4
g

BDP-Biaya Overhead Pabrik


Rp 2.700.000,BOP-Dibebankan
(Mencatat pembebanan BOP dengan
rincian sbb):
AX-01=20%= Rp 540.000,AX-04=25%= Rp 675.000,AX-05=15%= Rp 405.000,AX-06=40%= Rp 1.080.000,BOP-Sesungguhnya
Rp 2.250.000,Biaya Pemeliharaan Mesin
Biaya Asuransi Pabrik
Biaya Listrik & Air
Penyusutan Mesin
BOP Rupa-rupa
(Mencatat pengumpulan BOP
sesungguhnya)
BOP-Dibebankan
Rp 2.700.000,BOP-Sesungguhnya
(Menutup rekening BOP
dibebankan)
Selisih BOP
Rp 150.000,BOP-Sesungguhnya
(Pengakuan selisih BOP yang tidak
menguntungkan)
Rugi-Laba
RP 150.000,Selisih BOP
(Perlakuan selisih BOP)
Persediaan barang jadi
Rp10.115.000,BDP-B.Bahan Baku
BDP-B.Tenaga Kerja Langsg
BDP-B.Overhead Pabrik
(Mencatat barang adi yang masuk
gudang)
Persediaan Produk dalam Proses
Rp 4.320.000,BDP-B.Bahan Baku
BDP-B.Tenaga Kerja Langsg
BDP-B.Overhead Pabrik
(Mencatat barang dalam proses akhir
periode)
Kas
Rp 11.536.000,Penjualan
Harga Pokok Penjualan
Persediaan Barang Jadi
(mencatat harga jual dan harga
pokok penjualan barang)

Rp 2700.000,-

Rp 250.000,Rp 200.000,Rp 500.000,Rp 1.000.000,Rp 300.000,-

Rp 2.700.000,-

Rp 150.000,-

Rp 150.000,Rp 4.025.000,Rp 3.480.000,Rp 2610.000-

Rp 1.800.000,Rp 1.440.000,Rp 1.080.000,-

Rp 11.536.000,-

Rp 8.240.000,Rp 8.240.000,-

22

2. Kartu Harga Pokok Pesanan


KARTU HARGA POKOK PESANAN
No. Pesanan
Tgl Pesanan
Tgl Selesai
Tgl
0
b
d
e

: .
: .
: .
Biaya Bahan
Baku

Nama Pemesan
Kode Pesanan
Unit Dipesan

Upah Langsung

: .
: AX-01
: .

BOP

Jumlah

Rp 525.000,Rp 900.000,-

Rp 420.000,Rp 720.000,-

Rp 315.000,Rp 540.000,-

Rp 1.260.000,Rp 900.000,Rp 720.000,Rp 540.000

Rp 1.425.000,-

Rp 1.140.000,-

Rp 855.000,-

Rp 3.420.000,-

KARTU HARGA POKOK PESANAN


No. Pesanan
Tgl Pesanan
Tgl Selesai

: .
: .
: .

Tgl

Biaya Bahan
Baku

0
b
d
e

Rp 325.000,Rp 1.125.000,Rp 1.450.000,-

Nama Pemesan
Kode Pesanan
Unit Dipesan

Upah Langsung

: .
: AX-04
: .

BOP

Jumlah

Rp 400.000,Rp 900.000,-

Rp 300.000,Rp 675.000,-

Rp 1.025.000,Rp 1.125.000,Rp 900.000,Rp 675.000

Rp 1.300.000,-

Rp 975.000,-

Rp 3.725.000,-

23

KARTU HARGA POKOK PESANAN


No. Pesanan
Tgl Pesanan
Tgl Selesai
Tgl
0
b
d
e

: .
: .
: .
Biaya Bahan
Baku

Nama Pemesan
Kode Pesanan
Unit Dipesan

Upah Langsung

: .
: AX-05
: .

BOP

Jumlah

Rp 475.000,Rp 675.000,-

Rp 500.000,Rp 540.000,-

Rp 375.000,Rp 405.000,-

Rp 1.350.000,Rp 675.000,Rp 540.000,Rp 405.000

Rp 1.150.000,-

Rp 1.040.000,-

Rp 780.000,-

Rp 2.970.000,-

KARTU HARGA POKOK PESANAN


No. Pesanan
Tgl Pesanan
Tgl Selesai

: .
: .
: .

Tgl

Biaya Bahan
Baku

b
d
e

Rp 1.800.000,Rp 1.425.000,-

Nama Pemesan
Kode Pesanan
Unit Dipesan

Upah Langsung

: .
: AX-06
: .

BOP

Jumlah

Rp 1.440.000,-

Rp 1.080.000,-

Rp 1.800.000,Rp 1.440.000,Rp 1.080.000,-

Rp 1.140.000,-

Rp 885.000,-

Rp 4.320.000,-

3. Aliran Biaya Produksi dalam Rekening Buku (lihat pada lembar tambahan
setelah halaman ini).
5. KEGIATAN PEMBELAJARAN
A. Pendekatan pembelajaran yang digunakan model kooperatif.
B. Kegiatan Inti:
a. Penyampaian beberapa informasi dan tujuan penting
b.Peserta dibagi dalam 4 kelompok
c.Presentasi hasil kerja kelompok

24

LEMBAR TUGAS
PT. Bola Priting, Surabaya per 1 Juli 2007 mempunyai saldo-saldo perkiraan buku
besar berikut ini:
Persediaan Bahan Baku dan Pembantu ..........................................Rp 2.500.000,Persediaan Barang Dalam Proses ...................................................Rp 4.578.000,Pesediaan Barang Jadi (Pesanan BB-17) .......................................Rp 2.750.000,*) Untuk barang dalam proses terrinci pada kartu harga pokok
Pesanan sebagai berikut:
BC-11

BC-12

BC-13

Biaya Bahan Baku ...................... Rp 600.000,-

Rp 450.000,-

Rp 540.000,-

Biaya Tenaga Kerja Langsung.... Rp 560.000,-

Rp 500.000,-

Rp 600.000,-

Biaya Overhead Pabrik .............. Rp 448.000,-

Rp 400.000,-

Rp 480.000,-

Pada Bulan Juli 2007 terdapat transaksi sbb:


a) Dibeli bahan baku dan pembantu seharga

Rp 6.500.000,-

b) Dipakai bahan-bahan dan pembantu sebesar Rp 7.650.000,- dengan rincian,


sebanyak Rp 450.000 untuk bahan pembantu, yang lain untuk bahan baku dengan
alokasi : pes BC-11=30%, BC-12=20%,BC-13=35% dan BC-14=15%.
C) Dari daftar gaji dan upah diketahui bahwa Gaji dan Upah yang akan dibayar
berjumlah Rp 6.725.000,d) Dari daftar gaji dan upah yang akan dibayar,dirinci sbb:
Upah langsung ....................................................... Rp 4.800.000,Upah tak langsung ................................................. Rp

450.000,-

Gaji bagian pemasaran .......................................... Rp

925.000,-

Gaji bagian administrasi ....................................... Rp 550.000,Dari bagian produksi diketahui bahwa upah langsung dialokasikan sbb:
Pesanan BC-11=30%, BC-12=20%, BC-13=35%, dan BC-14=15%.
e) Biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk atas dasar tarip yang ditentukan
dimuka, yaitu sebesar 80% dari Upah Langsung dengan alokasi yang sama.
f) BOP yang sesungguhnya lainnya yang telah terjadi,diantaranya meliputi:
- Biaya Pemeliharaan Mesin.................................. Rp 425.000,- Biaya Asuransi Pabrik ........................................ Rp 370.000,25

- Biaya Listrik & Air............................................. Rp 625.000,- Penyusutan Mesin .............................................. Rp 1.100.000,- BOP Rupa-rupa .................................................. Rp

360.000,-

g) Pesanan BC-11, BC-12, dan BC-13 dinyatakan selesai, sedangkan BC-14 masih
dalam proses.
h) Pesanan BB-17, BC-11, BC-12 diserahkan kepada pemesan dengan mengakui laba
sebesar 45% dari harga pokok produksi, pembayaran secara kredit.
Berdasarkan data tersebut,diminta:
1) Membuat Jurnal transaksi yang terjadi selama Juli 2007.
2) Menyusun kartu harga pokok pesanan.
3) Aliran biaya dalam rekening buku besar.

26

27

3. Aliran Biaya Produksi Dalam Rekening Buku Besar :

Pengadaan

Penyimpanan

Produksi

Penjualan
Harga Pokok Penjualan

Persd Bahan Baku


1.375.000
4.275.000

4.750.000

Gaji dan Upah


5.650.000

5.650.000

BOP Sesungguhnya

BDP-Biaya Bahan Baku


1.325.000
4.500.000

10.070.000 8.240.000
4.025.000
1.800.000

BDP-BTKL

Persd BDP

1.320.000 3.480.000
3.600.000 1.440.000

4.320.000

BDP BOP

250.000 2.700.000
990.000
350.000
150.000
2.700.000
2.250.000
BOP Dibebankan
2.700.000

Persd Barang Jadi

2.700.000

2.565.000
1.080.000
Selisih BOP
150.000

8.240.000

Anda mungkin juga menyukai