Anda di halaman 1dari 2

Dimana obat yang masuk kedalam tubuh harus larut dan di transportasikan oleh cairan tubuh.

Selama proses transportasi tersebut, obat melewati beberapa organ tubuh yang mempengaruhi
proses biofarmasetika seperti membrane plasma, jaringan epitel, mukosa. Bergantung dari
rute pemberian obatnya. Membrane plasma merupakan jaringan yang terdiri dari beberapa
komponen yang sebagian besar merupakan lipid.
Perjalanan obat melewati membran sel dipengaruhi oleh sifat fisika-kimia obat, yaitu
kelarutan molekul obat dalam lipid dan ukuran molekul. Obat yang lebih larut dalam lemak
lebih mudah melewati membran sel daripada obat yang kurang larut dalam lemak/larut dalam
air. Obat yang bersifat elektrolit lemah, misalnya asam/basa lemah, besarnya ionisasi
mempengaruhi laju pengangkutan obat. Obat yang terionisasi mempunyai muatan dan
menjadikannya lebih larut dalam air daripada obat yang tidak terionisasi. Jumlah ionisasi
bergantung pada pKa dan pH medium obat terlarut. Obat yang memiliki molekul yang sangat
kecil (urea) dan ion kecil (Na+, K+, dan Li+) bergerak melewati membran dengan cepat.
Sebaliknya, makromolekul yang sangat besar (protein) akan sulit melewati membran sel atau
dapat melewatinya namun dalam jumlah sangat kecil. Selain kelarutan dan ukuran molekul
ada beberapa factor lain yang dapat mempengaruhi biofarmasetika obat, yaitu:
1. Luas permukaan
Bila suatu obat dikurangi luas permkaannya sampai menjadi partikel-partikel yang
lebih kecil dalam jumlah besar, maka luas permukaan total yang diciptakan akan
meningkat. Untuk zat obat yang sukar larut atau larut dengan perlahan, umumnya
mengakibatkan peningkatan dalam laju disolusi, kelarutan actual dari suatu obat
murni tetap sama.
2. Bentuk obat
3. Bentuk garam

Kelarutan, pH dan absorpsi obat.


Profil pH-Kelarutan merupakan gambaran dari kelarutan obat pada berbagai pH
fisiologik. Informasi tersebut digunakan untuk rancangan formulasi karena sifat pH
lingkungan dari saluran cerna berbeda, dari bersifat asam dalam lambung sampai
bersifat alkali dalam usus halus.
2. Stabilitas, pH dan absorpsi obat.
Profil pH-Stabilitas merupakan gambaran dari tetapan laju reaksi vs pH. Jika
peruraian obat terjadi baik melaui katalis asam/basa maka dapat dibuat perkiraan

untuk kerusakan obat dalam saluran cerna. Dalam suatu media yang bersifat asam
(lambung) peruraian terjadi cepat, sedangkan pada pH netral/alkali obat relatif stabil.
3. Ukuran partikel dan absorpsi obat.
Ukuran partikel yang makin kecil mengakibatkan kenaikan keseluruhan luas
permukaan partikel, memperbesar penetrasi air kedalam partikel, dan menaikkan laju
pelarutan.
4. Kristal polimorf, solvat dan absorpsi obat.
Kristal polomorf memiliki sifat kelarutan dalam air yang lebih rendah dari pada
bentuk amorf, yang menyebabkan suatu produk diabsorpsi tidak sempurna. Selama
penyiapan, beberapa obat berinteraksi dengan pelarut membentuk suatu kristal yang
disebut solvat. Air dapat memebntuk suatu kristal tertentu dengan obat yang disebut
hidrat, yang mempunyai kelarutan berbeda dibandingkan dengan bentuk anhidrat.