Anda di halaman 1dari 10

1

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Proses pertumbuhan merupakan hal yang lazim bagi setiap tumbuhan.
Dalam proses pertumbuhan terjadi pertambahan volume yang signifikan. Seiring
berjalannya waktu pertumbuhan suatu tanaman terus bertambah. Proses tumbuh
sendidri dapat dilihat pada selang waktu tertentu. Dimana setiap pertumbuhan
tanaman akan menunjukkan suatu perubahan dan dapat dinyatakan dalam bentuk
kurva/diagram pertumbuhan (Latunra, 2014).
Besarnya pertumbuhan persatuan waktu disebut laju tumbuh. Laju tumbuh
suatu tumbuhan atau bagiannya berubah menurut waktu. Oleh karena itu, bila laju
tumbuh digambarkan dalam suatu grafik, dengan laju tumbuh pada ordinat dan
waktu pada absisi, maka grafik itu merupakan suatu kurva berbentuk s atau kurva
sigmoid pertumbuhan ini berlaku bagi tumbuhan lengkap, bagian-bagiannya
ataupun sel-selnya (Latunra, 2014).
Di Indonesia, jagung merupakan bahan pangan penting sumberkarbohidrat
kedua setelah beras. Disamping itu, jagung pun digunakan sebagaibahan makanan
kedua setelah beras. Disamping itu jagung pun digunakan sebagaibahan makanan
ternak (pakan) dan bahan baku industri. Penggunaan sebagaibahan pakan sebagian
besar untuk ternak ayam ras menunjukkan tendensimakin meningkat setiap tahun
dengan laju kenaikan lebih dari 20 %(Adisarwanto dan Widyaastuti, 2009).
Jagung

adalah

tanaman

menyerbuk

silang.

Galur

murni

bagi

pengujianadaptasi terhadap cekaman lingkungan tidak tersedia dalam plasma


nutfah alami.Pada pemuliaan jagung bagi adaptasi terhadap tanah masam podsolik

daerahkering, telah dimulai dengan melaksanakan silang puncak dari 15 varietas


bersaribebas (Makmur, 2003).
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan
dari Jagung (Zea maysL.) dan Kacang Hijau () pada kurva sigmoid
Kegunaan Penulisan
Adapun kegunaan dari penulisan ini adalah sebagai salah satu syarat untuk
dapat mengikuti praktikal tes di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Program Studi
Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman Jagung (Zea maysL.)
Adapun klasifikasi dari tanaman Jagung (Zea maysL.) adalah sebagai
berikut ; Kingdom Plantae; Divisio Spermatophyta; Sub Divisio Angiospermae;
Kelas Monocotyledonae;

Ordo Graminae;

FamiliGraminaeae; Genus Zea;

SpesiesZea Mays L.(Rukmana, 2010).


Sistem perakaran tanaman jagung sangat bervariasi yaitu menyebar ke
bawah dan ke samping dengan panjang akar kurang lebih 2 m. Akar utama keluar
dari pangkal batang berjumlah antara 20 sampai dengan 30 buah, sedangkan akar
lateral tumbuh dari akar utama dengan jumlah 20-25 buah. Dari akar lateral
tumbuh akar rambut dengan jumlah yang tidak terhitung. Fungsi akar pada
tanaman jagung digunakan untuk menghisap air dan garam-garam dari dalam
tanah, sebagai penopang tegaknya tanaman dan organ yang menghubungkan
tanaman dengan tanah (Warisno, 1998).
Batang tanaman jagung terdiri dari ruas-ruas dengan jumlah ruas antara 821 ruas dengan rata-rata 14 ruas. Tinggi batang tanaman bagian luar merupakan
jaringan kulit yang keras dan tipis, yang berfungsi agar batang kuat dan kaku.
Dengan diameter batang antara 3-4 cm. Pada setiap buku terdapat satu daun
dengan kelopak daunnya, di mana kelopak daunnya membungkus sebagian atau
seluruh ruas batang pada buku tersebut (AKK, 1993).
Daun terdapat pada setiap batang yang terdiri dari tiga bagian yaitu
kelopak daun, lidah daun, dan helai daun. Letak atau posisi daun berselang-seling
dalam dua barisan pada batang. Jumlah daun tanaman jagung rata-rata 12-18 helai
dalam tiap batang. Tanaman jagung yang berumur genjah memiliki jumlah daun

yang lebih sedikit dibandingkan dengan tanaman jagung yang berumur panjang
(Adisarwanto, 2000).
Tanaman jagung merupakan tanaman berumah satu (monoecious), bunga
jantan dan bunga betina terletak dalam satu tanaman. Bunga jantan terletak pada
ujung tanaman dan bunga betina terletak pada tongkol pada ketiak daun. Bunga
jantan tersusun dalam bentuk malai, sedangkan bunga betina yang bersatu dengan
tongkol membentuk benang sari yang akan muncul keluar dari tongkol jika sudah
siap untuk dibuahi. Penyerbukan dihasilkan dengan bersatunya tepungsari pada
rambut. Lebih kurang 95% dari bakal biji terjadi karena perkawinan sendiri. Biji
tersusun rapi pada tongkol. Pada setiap tanaman jagung ada sebuah tongkol,
kadang-kadang ada yang dua. Biji berkeping tunggal berderet pada tongkol.
Setiap tongkol terdiri atas 10-14 deret, sedang setiap tongkol terdiri kurang lebih
200-400 butir (Suprapto dan Marzuki, 2005).
Syarat Tumbuh
Iklim
Syarat tumbuh bagi tanaman jagung manis yakni cahaya matahari cukup
atau tidak ternaungi, suhu optimum 24 30C, curah hujan merata sepanjang
umur tanaman antara 100 200 mm per bulan, ketinggian tempat optimal hingga
300 mdpl (Emedinta, 2004).
Jagung adalah annual musiman yang tumbuh baik di bawah moderasi
temperatur dan kelembaban. Tetapi ini dikultivasi dibawah lebih kondisi
lingkungan daripada tanaman lain. Sebuah rata-rata temperatur 23 C (73F) atau
diatas, dengan banyak sinar matahari dan 37 sampai 50 cm (15-20 inci) dari hujan
yang turun 3 sampai 5 bulan dapat tumbuh ideal (Decoteau, 2000).

Tanah
Pertumbuhan jagung manis optimal pada tanah lempung berdebu dan
derajat kemasaman 5,0 7,0 serta bebas dari genangan air. Jagung merupakan
tanaman C4 yang memiliki daya adaptasi pada factor faktor pembatas
pertumbuhan seperti intensitas radiasi surya tinggi, suhu siang dan malam yang
tinggi, curah hujan rendah serta kesuburan tanah yang rendah (Emedinta, 2004)
Botani Kacang Hijau (Vigna radiataL.)
Adapun klasifikasi dari tanaman kacang hijau (Vigna radiataL.) adalah
sebagai berikut; Kingdom Plantae; Divisi Spermatophyta; KelasDicotyledoneae;
Ordo Fabales; Famili Fabaceae; Genus Vigna; Spesies Vigna radiataL.
(Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, 2012).
Daun, kacang hijau memiliki daun trifoliate (terdiri dari tiga helaian) dan
letaknya berseling, tangkai daunya cukup panjang, lebih panjang dari
daunnyawarna daun hijau muda sampai hijau tua (Dinas Pertanian Provinsi
Gorontalo, 2012).
Batang, tanaman kacang hijau berbatang tegak dengan tinggi mencapai 53
cm. Cabangnya menyamping pada batang utama, berbentuk bulat dan berbulu.
Warna batang dan cabangnya hijau dan bila suda tua batang akan berubah menjadi
warna coklat gelap (Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, 2012).
Bunga, kacang hijau memiliki bunga warna kuning yang mulai muncul 2833 hari, tersusun dalam tandan, keluar pada cabang serta batang dan dapat
melakukan penyerbukan sendiri (Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, 2012).
Polong, polong kacang hijau berbentuk selindris dengan panjang antara 615 cm dan biasanya berbuluh pendek. Sewaktu muda polong berwarna hijau

setelah tua barwarna hitam atau coklat. Setiap polong berisi 10-15 biji
(Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, 2012).
Biji,biji kacang hijau lebih kecil dibanding kacang- kacangan lain. Warna
bijinya kebanyakan hijau kusam atau hijau mengkilap, beberapa ada yang
berwarna kuning, coklat dan hitam (Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, 2012).
Syarat Tumbuh
Iklim

Berdasarkan indikator didaerah sentrum produsen tersebut keadaan iklim


yang ideal untuk tanaman kacang hijau adalah daerah yang bersuhu 25C-27C
dengan kelembaban udara 50%- 80% curah hujan antara 50 mm -200 mm
perbulan, dan cukup mendapat sinar matahari (tempat terbuka). Jumlah curah
hujan dapat mempengaruhi produksi kacang hijau. Tanaman ini cocok ditanam
pada musim kering (kemarau) yang rata-rata curah hujannya rendah. Didaerah
curah hujan tinggi, pertanaman kacang hijau mengalami banyak hambatan dan
gangguan, misalnya mudah rebah dan terserang penyakit. Produksi tanaman
kacang hijau pada musim hujan umumnya lebih rendah dibandingkan dengan
produksi pada musim kemarau (Rukmana (1997) dalam Liza Khairani (2008)).
Tanah

Hal yang penting diperhatikan dalam pemilihan lokasi untuk kebun kacang
hijau adalah tanahnya subur, gembur banyak mengandung bahan organik (humus)
aerasi dan draenasenya baik, serta mempunyai kisaran pH 5,8-6,5. Untuk tanah
yang ber pH lebih rendah dari pada 5,8 perlu dilakukan pengapuran (liming)
fungsi pengapuran adalah untuk meningkatkan meneralisasi nitrogen organik
dalam sisa-sisa tanaman membebaskan nitrogen sebagai ion ammonium dan nitrat

agar tersedia bagi tanaman, membantu memperbaiki kegemburan serta


meningkatkan pH tanah mendekati netral (Rukmana (1997) dalam Liza Khairani
(2008)).
Lahan pertanaman kacang hijau sebaiknya di dataran yang rendah hingga
500 m dpl. Curah hujan yang rendah cukup di toleransi tanaman ini apalagi pada
tanah yang diairi seperti padi. Tanah yang ideal adalah tanah ber pH5,8 dengan
kandungan fosfor, kalium, kalsium, magnesium, dan belerang yang cukup agar
bisa maksimalkan produksi (Andrianto dan Indarto (2004) dalam Liza Khairani
(2008)).
Unsur hara makro tersedia dalam jumlah optimal pada kisaran pH 6,5-7,5
atau mendekati netral. Seperti unsur fosfor tersedia dalam jumlah banyak pada
kisaran pH 6,5 8 dan 9-10 (Sutejdo (1987) dalam Liza Khairani (2008)).
Kurva Sigmoid
Selama tumbuhan masih mampu untuk bertahan hidup, tumbuhan dapat
tumbuh tidak terbatas karena tumbuhan memiliki jaringan embrionik yang selalu
tersedia yang disebut meristem, pada daerah pertumbuhan. Sel-sel meristematik
membelah terus untuk menghasilkan sel-sel baru. Beberapa produk pembelahan
ini tetap berada pada daerah meristematik untuk menghasilkan lebih banyak lagi
sel, sementara yang lain menjadi terspesialisasi dan digabungkan ke dalam
jaringan dan organ tumbuhan yang sedang tumbuh. Sel-sel yang tetap berfungsi
untuk menghasilkan sel-sel baru di dalam meristem disebut inisial (initial) atau
permulaan. Sel-sel baru yang digantikan dari meristem, terus membelah selama
beberapa saat, sampai sel-sel yang mereka hasilkan mulai mengalami spesialisasi
di dalam jaringan yang sedang berkembang (Campbell, dkk., 2002).

Besarnya pertumbuhan persatuan waktu disebut laju tumbuh. Laju tumbuh


suatu tumbuhan atau bagiannya berubah menurut waktu. Oleh karena itu, bila laju
tumbuh digambarkan dalam suatu grafik, dengan laju tumbuh pada ordinat dan
waktu pada absisi, maka grafik itu merupakan suatu kurva berbentuk s atau kurva
sigmoid pertumbuhan ini berlaku bagi tumbuhan lengkap, bagian-bagiannya
ataupun sel-selnya (Latunra, 2014).
Kurva sigmoid berguna bagi para ahli dalam melakukan penelitianpenelitian lebih lanjut tentang tumbuh dan perkembangan tumbuhan, karena ia
menunjukkan tahap-tahapan perkembangan. Dalam percobaan yang menggunakan
tumbuhan hidup, fase perkembangan tanaman perlu diperhatikan untuk dapat
menganalisa suatu fenomena dengan tepat (Latunra, 2014).
Kurva pertumbuhan berbentuk S (sigmoid) yang ideal. Tiga fase utama
biasanya mudah dikenali: fase logaritmik, fase linier, dan fase penuaan. Pada fase
logaritmik, ukuran (v) bertambah secara eksponensial sejalan dengan waktu (t).
Ini berarti bahwa laju pertumbuhan (dv/dt) lambat pada awalnya, tapi kemudian
meningkat terus. Pada fase linier, pertambahan ukuran berlangsung secara
konstan. Fase penuaan dicirikan oleh laju pertumbuhan yang menurun saat
tumbuhan sudah mencapai kematangan dan mulai menua (Salisbury dan Ross,
1995).

BAHAN DAN METODE


Waktu dan Tempat Percobaan
Adapun praktikum ini dilaksanakan mulai hari Sabtu, 26 September 2015
sampai

selesai,

di

Laboratorium

Fisiologi

Tanaman,

Program

Studi

Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan


Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam percobaan adalah cangkul sebagai alat
untuk mengolah lahan, batu bata sebagai alas polybag, meteran untuk mengukur
lahan yang akan diamati dan mengukur tinggi tanaman, pacak untuk menjadi
penanda batas areal percobaan, gembor sebagai wadah air untuk menyiram
tanaman, buku data untuk menulis hasil pengamatan, ember sebagai alat untuk
mengangkut pasir dan tanah, penggaris sebagai alat untuk mengukur tinggi
tanaman, serta alat tulis yang membantu dalam proses pencatatan hasil
pengamatan.
Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan adalah benih jagung
(Zea maysL.) dan benih kacang hijau () sebagai sampel tumbuhan yang akan
diamati pertumbuhannya, top soil, pasir dan kompos sebagai media tanam dengan
perbandingan 2:1:1, polybag 10 Kg sebagai media tanam, spanduk sebagai
pembatas area lahan percobaan, label nama sebagai identitas tanaman yang akan
diamati, serta air untuk menyiram tanaman.
Prosedur Percobaan

Diolah lahan dengan ukuran 4 x 10 m dengan cangkol


Dipacaki setiap batas lahan
Dicampur tanah top soil, pasir dan kompos (2:1:1)
Dimasuki campuran tanah tersebut ke dalam polybag 10 Kg

10

Diatur letak polybag dalam lahan (4x10 m) dengan skala 10 baris 4

kolom,sehingga diperoleh 40 polybag yang tersusun.


Diletakkan batu bata sebagai alas polybag di lahan
Ditanam benih jagung dengan kedalaman 5 cm
Diamati jumlah daun dan tinggi tanaman jagung setiap minggu
Digambar grafiknya.