Anda di halaman 1dari 21

TEORI KEPENDUDUKAN, SUMBER DATA KEPENDUDUKAN DAN

JENIS PENDATAAN STATISTIK KEPENDUDUKAN

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup
Yang dibina oleh Ibu Susilowati dan Metri Dian Insani

Oleh Kelompok 3
Ahshaina Ramadhaningtiyas

130351615574

Itsna Yunida Al Husna

130351615568

Rahma Amalia Pramudika

130351615601

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PRODI PENDIDIKAN IPA
September 2015

TEORI KEPENDUDUKAN, SUMBER DATA KEPENDUDUKAN DAN


JENIS PENDATAAN STATISTIK KEPENDUDUKAN

1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Pertumbuhan penduduk dunia mengalami peningkatan sangat cepat mulai
tahun 1960.Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi di beberapa belahan dunia
telah menyebabkanpeningkatan jumlah penduduk dengan cepat. Gejala ini diikuti
munculnya fenomenakemiskinan dan kekurangan pangan yang melanda beberapa
tempat di dunia. Hal ini menjadikeprihatinan beberapa ahli, sehingga mereka
tertarik mencari faktor-faktor penyebabkemiskinan tersebut dengan harapan dapat
mengatasi masalah ini di kemudian hari.
1.2

Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah teori pertumbuhan penduduk ?
2. Bagaimanakah sumber dan jenis data statistic kependudukan ?

1.3

Tujuan
1. Untuk mendeskripsikan teori pertumbuhan penduduk.
2. Untuk mendeskripsikan sumber dan jenis data statistic kependudukan
3.

2. Pembahasan
2.1 Teori Pertumbuhan Penduduk
2.1.1 Aliran Malthusian
Aliran ini dipelopori oleh Thomas Robert Malthus,. Pada permulaan tahun
1798 lewat karangannya yang berjudul Essai on Principle of Populations as it
Affect the Future Improvement of Socienty, with Remarks on the Specculations of
Mr.Godwin, M. Condorcet,and Other Writers, menyatakan bahwa penduduk
(seperti juga tumbuh-tumbuhan dan binatang) apabila tidak ada pembatasan, akan
berkembang biak dengan cepat dan memenuhi dengan cepat beberapa bagian dari
permukaan bumi ini.
Tingginya pertumbuhan penduduk ini disebabkan karena keinginan biologis
manusia yang ingin memiliki pasangan dan keturunan sangat tinggi. Disamping
itu Malthus berpendapat bahwa manusia untuk hidup memerlukan bahan
makanan, sedangkan laju pertumbuhan bahan makanan jauh lebih lambat
dibandingkan dengan laju pertumbuhan penduduk. Apabila tidak diadakan
pembatasan terhadap pertumbuhan penduduk, maka manusia akan mengalami
kekurangan bahan makanan. Inilah sumber dari kemelaratan dan kemiskinan
manusia. Untuk dapat keluar dari permasalahan kekurangan pangan tersebut,
pertumbuhan penduduk harus dibatasi. Dalil yang dikemukakan Malthus yaitu
bahwa jumlah penduduk cenderung untuk meningkat secara geometris (deret
ukur), sedangkan kebutuhan hidup riil dapat meningkat secara arismatik (deret
hitung).
Menurut Malthus pembatasan, dapat dilaksanakan dengan dua cara yaitu:
1. Preventive checks
Yaitu faktor-faktor yang dapat menghambat jumlah kelahiran yang
lazimnya dinamakan moral restraint. Termasuk didalamnya antara
lain : (1) Penundaan masa perkawinan (2) Mengendalikan hawa nafsu
(3) Pantangan kawin.
2. Positive checks
Yaitu faktor-faktor yang menyebabkan bertambahnya kematian,
termasuk di dalamnya antara lain : (1) Bencana Alam (2) Wabah
penyakit (3) Kejahatan (4) Peperangan. Positive checks biasanya dapat
menurunkan kelahiran pada negara-negara yang belum maju.
Teori yang dikemukakan Malthus terdapat beberapa kelemahan antara lain :

a. Malthus tidak yakin akan hasil preventive cheks.


b. Ia tak yakin bahwa ilmu pengetahan dapat mempertinggi produksi bahan
makanan dengan cepat.
c. Ia tak menyukai adanya orang-orang miskin menjadi beban orang-orang
kaya.
d. Ia tak membenarkan bahwa perkembangan kota-kota merugikan bagi
kesehatan dan moral dari orang-orang dan mengurangi kekuatan dari
Negara.
Pendapat Malthus banyak mendapat tanggapan para ahli dan menimbulkan
diskusi yang terus menerus. Pada umumnya gagasan yang dicetuskan Malthus
dalam abad ke-18 pada masa itu dianggap sangat aneh. Asumsi yang mengatakan
bahwa dunia akan kehabisan sumber daya alam karena jumlah penduduk yang
selalu meningkat, tidak dapat diterima oleh akan sehat. Dunia baru (Amerika,
Afrika, Australia dan Asia) dengan sumber daya yang berlimpah, baru saja
terbuka untuk para migran dari dunia lama (misalnya Eropa Barat). Mereka
memperkirakan bahwa sumber daya alam di dunia baru tidak akan dapat
dihabiskan.
Beberapa kritik terhadap teori Malthus adalah sebagai berikut:
a) Malthus tidak memperhitungkan kemajuan-kemajuan transportasi yang
menghubungkan daerah satu dengan yang lain sehingga pengiriman
bahan makanan ke daerah-daerah yang kekurangan pangan mudah
dilaksanakan.
b) Dia tidak memperhitungkan kemajuan yang pesat dalam bidang
teknologi, terutama dalam bidang pertanian. Jadi produksi pertanian
dapat pula ditingkatkan secara cepat dengan mempergunakan teknologi
baru.
c) Malthus tidak memperhitungkan usaha pembatasan kelahiran bagi
pasangan-pasangan yang sudah menikah. Usaha pembatasan kelahiran ini
telah dianjurkan oleh Francis Place pada tahun 1822.
d) Fertilitas akan menurun apabila terjadi perbaikan ekonomi dan standar
hidup penduduk dinaikkan. Hal ini tidak diperhitungkan oleh Malthus.
Pengikut-pengikut teori Malthus antara lain :
1) Francis Flace (1771 1854)
Pada tahun 1882 menulis buku yang berjudul Illustration and Proofs of
the population atau penjelasan dari bukti mengenai asas penduduk. Ia
berpendapat bahwa pemakaian alat kontrasepsi tidak menurunkan

martabat keluarga, tetapi manjur untuk kesehatan. Kemiskinan dan


penyakit dapat dicegah.
2) Richard Callihie (1790 1843)
Ia menulis buku yang berjudul What Is Love, apakah cinta itu
menurut dia - Mereka yang berkeluarga tidak perlu mempunyai jumlah
anak yang lebih banyak dari pada yang dapat dipelihara dengan baik.
- Wanita yang kurang sehat tidak perlu menghadapi bahaya maut karena
kehamilan.
- Senggama dapat dipisahkan dari ketakutan akan kehamilan.
3) Any C. Besant (1847-1933)
Ia menulis buku yang berjudul Hukum Penduduk, akibatnya dan
artinya terhadap tingkah laku dan moral manusia.
4) dr. George Drysdale (1825 1904)
Ia berpendapat bahwa keluarga berencana dapat dilakukan tanpa
merugikan kesehatan dan moral. Menurut anggapannya kontrasepsi
adalah untuk menegakkan moral masyarakat.
2.1.2

Aliran Neo-Malthusian (Garreth Hardin & Paul Ehrlich)


Pada abad 20 teori Malthus mulai diperdebatkan kembali. kelompok ini

menyokong aliran Malthus, akan tetapi lebih radikal lagi dan aliran ini sangat
menganjurkan untuk mengurangi jumlah penduduk dengan menggunakan caracara Preventif Check yaitu menggunakan alat kontrasepsi.
Tahun 1960an dan 1970an foto-foto telah diambil dari ruang angkasa
dengan menunjukkan bumi terlihat seperti sebuah kapal yang berlaya dengan
persediaan bahan bakar dan bahan makanan yang terbatas. Pada suatu saat kapal
ini akan kehabisan bahan bakar dan bahan makanan tersebut sehingga akhirnya
malapetaka menimpa kapal tersebut.
Tahun 1871 Ehrlich menulis buku The Population Bomb dan kemudian
direvisi menjadi The Population Explotion yg berisi:
a. Sudah terlalu banyak manusia di bumi ini.
b. Keadaan bahan makanan sangat terbatas.
c. Lingkungan rusak sebab populasi manusia meningkat.
Analisis ini dilengkapi oleh Meadow (1972), melalui buku The Limit to
Growth ia menarik hubungan antara variabel lingkungan (penduduk, produksi
pertanian, produksi industri, sumber daya alam) dan polusi. Tapi walaupun begitu,
melapetaka tidak dapat dihindari, hanya manusia cuma menunggunya, dan
membatasi pertumbuhannya sambil mengelola alam dengan baik.

Kritikan terhadap Meadow umumnya dilakukan oleh sosiolog yang


menyindir Meadow karena tidak mencantumkan variabel sosial-budaya dalam
penelitiannya. Karena itu Mesarovic dan Pestel (1974) merevisi gagasan Meadow
dan mencantumkan hubungan lingkungan antar kawasan.
2.1.3

Aliran Marxist
Aliran ini dipelopori oleh Karl Marx dan Friedrich Engels. Marx dan Engels

tidak sependapat dengan Malthus yang mengatakatan bahwa apabila tidak


diadakan pembatasan terhadap pertumbuhan penduduk, maka manusia akan
kekurangan bahan makanan.
Menurut Marx tekanan penduduk yang terdapat disuatu negara bukanlah
tekanan penduduk terhadap bahan makanan, tetapi tekanan penduduk terhadap
kesempatan kerja. Kemelaratan terjadi bukan disebabkan karena kesalahan
masyarakat itu sendiri seperti yang terdapat pada negara-negara kapitalis, tetapi
karena kaum kapitalis mengambil sebagian dari pendapatan mereka. Jadi menurut
Marx dan Engels sistem kapitalislah yang menyebabkan kemelaratan tersebut,
dimana mereka menguasai alat-alat produksi. Untuk mengatasi hal-haltersebut
maka struktur masyarakat harus diubah dari sistim kapitalis ke sistem sosialis.
Selanjutnya dia berpendapat bahwa semakin banyak jumlah manusia semakin
tinggi produksi yang dihasilkan, jadi dengandemikian tidak perlu diadakan
pembatasan pertumbuhan penduduk.
Pendapat Aliran Marxist :
a. Populasi manusia tidak menekan makanan, tapi mempengaruhi
kesempatan kerja.
b. Kemeralatan bukan terjadi karena cepatnya pertumbuhan penduduk, tapi
karena kaum kapitalis mengambil sebagian hak para buruh.
c.

Semakin

tinggi

tingkat

populasi

manusia,

semakin

tinggi

produktifitasnya, jika teknologi tidak menggantikan tenaga manusia


sehingga tidak perlu menekan jumlah kelahirannya, ini berarti ia
menolak teori Malthus tentang moral restraint untuk menekan angka
kelahiran.
2.1.4

Teori Kependudukan Kontemporer

1) Teori Fisiologi dan sosial ekonomi


a. John Stuart Mil
John Stuart Mill, seorang ahli filsafat dan ahli ekonomi berkebangsaan
Inggris dapat menerima pendapat Malthus mengenai laju pertumbuhan penduduk
melampaui laju pertumbuhan bahan makanan sebagai suatu aksioma. Namun
demikian dia berpendapat bahwa pada situasi tertentu manusia dapat
mempengaruhi perilaku demografinya. Selanjutnya ia mengatakan apabila
produktivitas seorang tinggi ia cenderung ingin memiliki keluarga kecil. Dalam
situasi seperti ini fertilitas akan rendah. Jadi taraf hidup (standard of living)
merupakan determinan fertilitas. Tidaklah benar bahwa kemiskinan tidak dapat
dihindarkan (seperti dikatakn Malthus) atau kemiskinan itu disebabkan karena
sistem kapitalis (seperti pendapat Marx) dengan mengatakan The niggardline of
nature, not the injustice of society is the cause of the penalty attached to
everpopulation.
Kalau suatu waktu di suatu wilayah terjadi kekurangan bahan makanan,
maka keadaan ini hanyalah bersifat sementara saja. Pemecahannya ada dua
kemungkinan yaitu : mengimpor bahan makanan, atau memindahkan sebagian
penduduk wilayah tersebut ke wilayah lain.
Memperhatikan bahwa tinggi rendahnya tingkat kelahirann ditentukan oleh
manusia itu sendiri, maka Mill menyarankan untuk meningkatkan tingkat
golongan yang tidak mampu. Dengan meningkatnya pendidikan penduduk maka
secara rasional maka mereka mempertimbangkan perlu tidaknya menambah
jumlah anak sesuai dengan karier dan usaha yang ada. Di sampan itu Mill
berpendapat bahwa umumnya perempuan tidak menghendaki anak yang banya,
dan apabila kehendak mereka diperhatikan maka tingkat kelahiran akan rendah.
b. Arsene Dumont
Arsene Dumont seorang ahli demografi bangsa Perancis yang hidup pada
akhir abad ke-19. Pada tahun 1980 dia menulis sebuah artikel berjudul
Depopulation et Civilization. Ia melancarkan teori penduduk baru yang disebut
dengan teori kapilaritas sosial (theory of social capilarity). Kapilaritas sosial
mengacu kepada keinginan seseorang untuk mencapai kedudukan yang tinggi di
masyarakat, misalnya: seorang ayah selalu mengharapkan dan berusaha agar
anaknya memperoleh kedudukan sosial ekonomi yang tinggi melebihi apa yang

dia sendiri telah mencapainya. Untuk dapat mencapai kedudukan yang tinggi
dalam masyarakat, keluarga yang besar merupakan beban yang berat dan
perintang. Konsep ini dibuat berdasarkan atas analogi bahwa cairan akan naik
pada sebuah pipa kapiler.
Teori kapilaritas sosial dapat berkembang dengan baik pada negara
demokrasi, dimana tiap-tiap individu mempunyai kebebasan untuk mencapai
kedudukan yang tinggi di masyarakat. Di negara Perancis pada abad ke-19
misalnya, dimana system demokrasi sangat baik, tiap-tiap orang berlomba
mencapai kedudukan yang tinggi dan sebagai akibatnya angka kelahiran turun
dengan cepat. Di negara sosialis dimana tidak ada kebebasanuntuk mencapai
kedudukan yang tinggi di masyarakat, system kapilaritas sosial tidak dapat
berjalan dengan baik.
c. Emili Durkheim
Emile Durkheim adalah seorang ahli sosiologis Perancis yang hidup pada
akhir abad ke-19. Apabila Dumont menekankan perhatiannya pada faktor-faktor
yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk, maka Durkheim menekankan
perhatiannya pada keadaan akibat dari adanya pertumbuhan penduduk yang
tinggi. Ia mengatakan, akibat dari tingginya pertumbuhan penduduk, akan timbul
persaingan diantara penduduk untuk dapat mempertahankan hidup. Dalam
memenangkan persaingan tiap-tiap tiap-tiap orang berusaha untuk meningkatkan
pendidikan dan keterampilan, dan mengambil spesialisasi tertentu, keadaan seperti
ini jelas terlihat pada kehidupan masyarakat perkotaan dengan kehidupan yang
kompleks.
Apabila dibandingkan antara kehidupan masyarakat tradisional dan
masyarakat perkotaan, akan terlihat bahwa pada masyarakat tradisional tidak
terjadi persaingan dalam memperoleh pekerjaan, tetapi pada masyarakat industri
akan terjadi sebaliknya. Hal ini disebabkan ada masyarakat industri tingkat
pertumbuhan dan kepadatan penduduknya tinggi. Tesis dari Durkheim ini
didasarkan atas teori evolusi dari Darwin dan juga pemikiran dari Ibn Khaldun.
d. Michael Thomas Sadler dan Doubleday

Kedua ahli ini adalah penganut teori fisiologis. Sadler mengemukakan,


bahwa daya reproduksi manusia dibatasi oleh jumlah penduduk yang ada di suatu
wilyah atau negara. Jika kepadatan penduduk tinggi, daya reproduksi manusia
akan menurun, sebaliknya jika kepadatan penduduk rendah, daya reproduksi
manusia akan menungkat.
Thomson (1953) meragukan kebenaran teori ini setelah melihat keadaan di
Jawa, India dan Cina dimana penduduknya sangat padat, tetapi pertumbuhan
penduduknya juga tinggi. Dalam hal ini Malthus lebih konkret argumentasinya
dari pada Sadler. Malthus mengatakan bahwa penduduk disuatu daerah dapat
mempunyai tingkat fertilitas yang tinggi, tetapi dalam pertumbuhan alaminya
rendah karena tingginya tingkat kematian. Namun demikian, penduduk tidak
dapat mempunyai fertilitas tinggi, apabila tidak mempunyai kesuburan
(fecunditas) yang tinggi, tetapi penduduk dengan tingkat kesuburan tinggi dapat
juga tingkat fertilitasnya rendah.
Teori Doubleday hamper sama dengan teori Sadler, hanya titik tolaknya
berbeda. Kalau Sadler mengatakan bahwa daya reproduksi penduduk berbanding
terbalik dengan tingkat kepadatan penduduk, maka Doubleday berpendapat bahwa
daya reproduksi penduduk berbanding terbalik dengan bahan makanan yang
tersedia. Jadi kenaikan kemakmuran menyebabkan turunnya daya reproduksi
manusia.

Jika

suatu

jenis

makhluk

diancam

bahaya,

mereka

akan

mempertahankan diri dengan segala daya yang mereka miliki. Mereka akan
mengimbanginya dengan daya reproduksi yang lebih besar.
Menurut Doubleday, kekurangan bahan makanan akan merupakan
perangsang bagiu daya reproduksi manusia, sedang kelebihan pangan justru
merupakan faktor penegkang perkembangan penduduk. Dalam golongan
masyarakat yang berpendapatan rendah, seringkali terdiri dari penduduk dengan
keluarga besar, sebaliknya orang yang mempunyai kedudukan yang lebih baik
biasanya jumlah keluarganya kecil.
Rupanya teori fisiologis ini banyak diilhami dari teori aksi dan reaksi dalam
meninjau perkembangan penduduk suatu negara atau wilayah. Teori ini dapat
menjelaskan bahwa semakin tinggi tingkat mortalitas penduduk semakin tinggi
pula tingkat produksi manusia.

e. Herman Khan
Pandangan yang suram dan pesimis dari Mlthus beserta penganutpenganutnya ditentang keras oleh kelompok teknologi. Mereka beranggapan
manusia dengan ilmu pengetahuannya mampu melipatgandakan produksi
pertanian. Mereka mampu mengubah kembali (recycling) barang-barang yang
sudah habis dipakai, sampai akhirnya dunia ketiga mengakhiri masa transisi
demografinya.
Ahli futurology Herman Kahn (1976) mengatakan bahwa negara-negara
kaya akan membantu negara-negara miskin, dan akhirnya kekayaan itu akan jatuh
kepada orang-orang miskin. Dalam beberapa decade tidak akan terjadi lagi
perbedaan yang mencolok antara umat manusia di dunia ini.
Dengan tingkat teknologi yang ada sekarang ini mereka memperkirakan
bahwa dunia ini mampu menampung 15 milliun orang dengan pendapatan
melebihi Amerika Serikat dewasa ini. Dunia tidak akan kehabisan sumber daya
alam, karen seluruh bumi ini terdiri dari mineral-mineral. Proses pengertian dan
recycling akan terus terjadi dan era ini disebut dengan era substitusi. Mereka
mengkritik bahwa The Limit to Growth bukan memcahkan masalah tetapi
memperbesar permasalahan tersebut.
Kelompok Malthus dan kelompok teknologi mendapat kritik dari kelompok
ekonomi, karena kedua-duanya tidak memperhatikan masalah-masalah organisasi
sosial dimana distribusi pendapatan tidak merata. Orang-orang miskin yang
kelaparan, karena tidak meratanya distribusi pendapatan di negara-negara
tersebut. Kejadian seperti ini di Brasilia, dimana Pendapatan Nasional (GNP)
tidak dinikmati oleh rakyat banyak adalahsalah satu contoh dari ketimpangan
organisasi sosial tersebut.
2) Teori Teknologi
Kelompok ini muncul untuk menolak pandangan Malthus yang pesimis
dalam melihat perkembangan dunia. Teori ini dimotori oleh Herman Khan, ia
berpendapat bahwa kemiskinan yang terjadi di negara berkembang akan dapat
diatasi jika negara maju dapat membantu daerah miskin, sehingga kekayaan dan
kemampuan daerah hidup itu akan didapatkan oleh orang-orang miskin. Ia

beranggapan bahwa teknologi maju akan mampu melakukan pemutaran ulang


terhadap nasib manusia pada suatu masa yang disebut Era Substitusi.
Ahli futurologi Herman Karn (1976) mengatakan bahwa negara-negara kaya
akan membantu negara-negara miskin, dan akhirnya kekayaan itu akan jatuh
kepada orang-orang miskin. Dalam beberapa dekade tidak akan terjadi lagi
perbedaan yang mencolok diantara umat manusia di dunia ini. Dengan tingkat
teknologi yang ada sekarang ini mereka memperkirakan bahwa duniaini dapat
menampung 15 miliun orang dengan pendapatan melebihi Amerika Serikat
dewasaini. Dunia tidak akan kehabisan sumber daya alam, karena seluruh bumi ini
terdiri darimineral-mineral. Proses pengertian dan recycling akan terus terjadi dan
era ini disebut era substitusi. Mereka mengkritik bahwa The Limit to Growth
bukan memecahkan masalah tetapi memperbesar permasalahan tersebut.
Kelompok Malthus dan kelompok teknologi mendapat kritik dari kelompok
ekonomi, karena kedua-duanya tidak memperhatikan masalah-masalah organisasi
sosial di mana distribusi pendapatan tidak merata. Orang-orang miskin yang
kelaparan, karena tidak meratanya distribusi pendapatan di negara-negara
tersebut. Kejadian seperti di Brasilia, dimana pendapatan nasional (GNP) tidak
dinikmati oleh rakyat banyak adalah salah satu contoh dariketimpangan organisasi
sosial tersebut.
2.1.5

Teori Transisi Kependudukan

Tahap Peralihan keadaan demografis:


1. Tingkat kelahiran dan kematian tinggi. Penduduk tetap/naik sedikit.
anggaran kesehatan meningkat. Penemuan obat obatan semakin maju.
Angka kelahiran tetap tinggi.
2. Angka kematian menurun,tingkat kelahiran masih tinggipertumbuhan
penduduk meningkat. Adanya Urbanisasi., usia kawin meningkat.
,Pelayanan KB > Luas., pendidikan meningkat.
3. Angka kematian terus menurun, angka kelahiran menurun - laju
pertumbuhan penduduk menurun.
4. Kelahiran dan kematian pada tingkat rendah pertumbuhan penduduk
kembali seperti kategori I - mendekati nol. Keempat kategori ini akan
didialami oleh negara yang sedang melaksanakan pembangunan ekonomi.

Penerapan Transisi kependudukan yang mencerminkan kenaikan taraf hidup


rakyat di suatu negara adalah besarnya tabungan dan akumulasi kapital dan laju
pertumbuhan penduduknya. Laju pertumbuhan yang sangat cepat di banyak
negara sedang berkembang nampaknya disebabkan oleh fase atau tahap transisi
demografi yang dialaminya. Negara-negara sedang berkembang mengalami fase
transisi demografi di mana angka kelahiran masih tinggi sementara angka
kematian telah menurun. Kedua hal ini disebabkan karena kemajuan pelayanan
kesehatan yang menurun angka kematian balita dan angka tahun harapan hidup.
Ini terjadi pada fase kedua dan ketiga dalam proses kependudukan. Umumnya ada
empat tahap dalam proses transisi, yaitu:

Tahap 1: Masyarakat pra-industri, di mana angka kelahiran tinggi


dan angka kematian tinggi menghasilkan laju pertambahan

penduduk rendah.
Tahap 2: Tahap pembangunan awal, di mana kemajuan dan
pelayanan kesehatan yang lebih baik menghasilkan penurunan angka

kelahiran tak terpengaruh karena jumlah penduduk naik.


Tahap 3: Tahap pembangunan lanjut, di mana terjadi penurunan
angka kematian balita, urbanisasi, dan kemajuan pendidikan
mendorong banyak pasangan muda berumah tangga menginginkan
jumlah anak lebih sedikit hingga menurunkan angka kelahiran. Pada
tahap ini laju pertambahan penduduk mungkin masih tinggi tetapi

sudah mulai menurun.


Tahap 4: Kemantapan dan stabil, di mana pasangan-pasangan
berumah tangga melaksanakan pembatasan kelahiran dan mereka
cenderung bekerja di luar rumah. Banyaknya anak cenderung hanya
2 atau 3 saja hingga angka pertambahan neto penduduk sangat
rendah atau bahkan mendekati nol.

2.2 Sumber dan Jenis Data Statistic Kependudukan


Sumber-sumber data kependudukan yang pokok adalah sensus penduduk,
registrasi penduduk dan penelitian (survei). Secara teoritis data registrasi
penduduk lebih lengkap dari pada sumber-sumber data yang lain karena
kemungkinan tercecernya pencatatan peristiwa-peristiwa kelahiran, kematian, dan

mobilitas penduduk sangat kecil. Namun demikian di negara-negara yang sedang


berkembang, misalnya Indonesia, data-data kependudukan dari hasil registrasi
masih jauh dari memuaskan. Hal ini disebabkan karena banyaknya kejadiankejadian vital (kelahiran dan kematian) yang tidak tercatat sebagaimana mestinya.
2.2.1 Sensus Penduduk
Sensus penduduk merupakan suatu proses keseluruhan dari pada
pengumpulan, pengolahan, penilaian, penganalisaan dan penyajian data
kependudukan yang menyangkut antara lain: ciri-ciri demografi, sosial, ekonomi,
dan lingkungan hidup. Kedudukan sensus penduduk menjadi amat penting
terutama bagi negara-negara yang tidak atau belum tersedia sumber data lain
seperti registrasi atau survei. Agar hasil sensus penduduk dapat dibandingkan
antara beberapa negara, maka dapat disepakati untuk melaksanakan sensus
penduduk tiap 10 tahun sekali yaitu pada tahun yang berakhiran dengan angka
nol.
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia telah melaksanakan cacah jiwa
lima kali yaitu pada tahun 1961, 1971, 1980, 1990, 2000, dan 2010. Maksud dan
diadakannya sensus adalah melakukan proses keseluruhan dan pengumpulan,
pengelolaan, penyajian dan penilaian data penduduk yang menyangkut antara
lain ; cirri-ciri demografi, social ekonomi, dan lingkungan hidup
Adapun ruang lingkup sensus penduduk mencakup seluruh wilayah
geografis suatu negara dan seluruh penduduknya. Pelaksanaan sensus penduduk
pada tahun 1980 di Indonesia misalnya, mencakup seluruh wilayah geografis
Indonesia dan mencakup seluruh golongan umur penduduk baik yang bertempat
tinggal tetap maupun yang tidak mempunyai tempat tinggal. Dan luas data yang
dicakup dalam suatu sensus tergantung pada tujuan yang ingin dicapai.
Kegitan sensus penduduk dilaksanakan untuk mengatur penempatan penduduk
yang meliputi :
1. Penyebaran penduduk yang padat wilayahnya untuk pemanfaatan sumber
daya alam.
2. Persebaran penduduk di wilayah yang lama ditempati dan padat ke
wilayah yang jarang penduduknya.
3. Persebaran penduduk untuk pemerataan pekerjaan

Sensus peduduk memiliki ciri yang khas dibanding dengan metode penelitian
yang lain,yaitu:
1. Bersifat individu yang berarti informasi demografi dan sosial ekonomi
yang dikumpulkn bersumber dari individu baik sebagai anggota rumah
tangga maupun anggota masyarakat.
2. Bersifat universal yang berarti pencacahan bersifat menyeluruh.
3. Pencacahan diadakan serentak di seluruh Negara.
4. Sensus penduduk dilaksanakan secara periodic yaitu tiap tahun yang
berakhiran nol (0).
Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan bahwa informasi kependudukan
minimal yang harus ada dalam tiap-tiap sensus penduduk agar data hasil sensus
penduduk dari beberapa Negara dapat diperbandingkan sebagai berikut:
1. Geografi dan Migrasi Penduduk
2. Rumah Tangga
3. Karakteristik Sosial dan demografi
4. Kelahiran dan kematian
5. Karakteristik pendidikan
6. Karakteristik ekonomi
Informasi geografi meliputi lokasi daerah pencacahan, jumlah penduduk
yang bertempattinggal di suatu daerah tersebut berupa jumlah de jure (penduduk
yang berdomisili resmi didaerah tersebut) dan de Facto (penduduk yang bertempat
tinggal di suatu tempat tertentu dantidak terdata secara resmi di lokasi tersebut).
Kegiatan sensus penduduk dilaksanakan 30 Juni pada tahun yang berakhiran
angka nol. Kegiatan ini memiliki tugas yang berat karena harus menyajikan data
yang valid, maka dari ituagar mendapatkan hasil yang maksimal pihak yang
bersangkutan (Badan Pusan Statistik) melakukan kegiatan pra pelaksanaan, hari
pelaksanaan dan pasca pelaksanaan.
1. Pra pelaksanaan
a) Sebelum melaksanakan sensus, pihak BPS melakukan pelatihan
terhadap petugas sensus untuk mewawancarai kepala rumah tangga dan
anggota

dengan

menggunakan

daftar

pertanyaan

yang

sudah

dipersiapkan, hal ini dilakukan untuk meminimalkan kesalahan.


b) Membagi wilayah dalam wilayah pencacahan). Luas pencacahan
berbeda-beda tergantung pada kemampuan petugas sensus untuk
melaksanakan tugasnya dalam satu hari, yaitu pada hari pelaksanaan.
Suatu wilayah bias terdiri dari satu blok sensus, bias saja terdiri dari
beberapa blok sensus, hal ini dilakukan untuk mempermudah,
memperingan dan meminimalkan kesalahan cakupan ( error of

converage, kesalahan laporan (error of content) dan kesalahan ketepatan


laporan (estimating error).
2. Hari pelaksanaan
Dalam pelaksanaan sensus 1 (satu) hari selesai yaitu tanggal 30 Juni,
pencacahan dilaksanakan system aktif, artinya petugas sensus aktif
mendatangi rumah tangga untuk mendapatkan data demografi, sosial
ekonomi dari masing-masing rumah tangga dan anggotanya, tetapi
sebelum hari H semua kuisioner sudah dibagikan dan yang telah diadakan
penyesuaian ditakutkan ada kelahiran, kematian, ada pendatang baru dan
ada anggota rumah tangga yang pindah ke provinsi lain selama periode
pencacahan.
3. Pasca pelaksanaan
Data hasil pencacahan dari petugas sensus di olah oleh Badan Pusat
Statistik. Konsep yang digunakan:
a) Penduduk yang dicacah
Cara pencacahan yang dipakai dalam sensus penduduk adalah
kombinasi de jure dan de facto. Bagi mereka yang bertempat tinggal
tetap dipakai cara de jure, dicacah dimana mereka tinggal secara resmi,
sedangkan untuk yang bertempat tinggal tidak tetap dicacah secara de
facto, di tempat dimana mereka ditemukan oleh petugas lapangan. Bagi
mereka yang mempunyai tempat tinggal tetap, tetapi sedang bertugas di
luar wilayah lebih dari 6 bulan, tidak dicacah di tempat tinggalnya dan
begitu sebaliknya.
b) Blok Sensus
Adalah wilyah kerja bagi pencacah agar beban kerja setiap pencacah
homogeny. Selanjutnya Blok Sensus ini dapat dijadikan kerangka
sampel untuk survei-survei dengan pendekatan rumah tangga.
c) Klasifikasi daerah perkotaan/pedesaan
Klasifikasi daerah perkotaan/pedesaan didasarkan pada skor yang
dihitung dari kepadatan penduduk, prosentase rumah tangga, yang
bekerja di bidang pertanian, dan akses terhadap fasilitas kota seperti
sekkolah, rumah sakit, jalan aspal, telepon, dan sebagainya. Untuk lebih
dapat menggambarkan tingkat perkotaan yang lebih konkret, dicoba
pula membagi perkotaan menjadi tigakelas, yaitu perkotaan besar,
perkotaan sedang dan perkotaan kecil.
d) Bangunan

Bangunan fisik adalah tempat perlindungan tetap sementara yang


mempunyai dinding, lantai dan atap baik digunakan untuk tempat
tinggal atau bukan tempat tinggal. Bangunan sensus adalah sebagian
atau seluruh bangunan fisik yang mempunyai pintu keluar/masuk
sendiri dan merupakan satu kesatuan penggunaan.
e) R u m a h t a n g g a
Rumah tangga biasa adalah seseorang atau sekelompok orang yang
mendiami sebagian atau seluruh bangunan fisik/sensus, dan
biasanya tinggal bersama serta makan dari satu dapur. Rumah
tangga khusus terdiri dari:
Orang yang tinggal di asrama
Orang yang tinggal di lembaga pemasyarakatan,
p a n t i a s u h a n , r u m a h tahanan, dsb.
Sepuluh orang atau lebih yang mondok dengan makan (indekost)
f) Anggota rumah tangga
Adalah semua orang yang biasanya bertempat di suatu rumah tangga
baik yang berada di rumah pada waktu pencacahan maupun yang
sementara tidak ada.
Data yang dikumpulkan saat sensus (sesuai kebutuhan setiap negara), antara lain :
1. Karakteristik sosial ekonomi demografi :
Jenis kelamin
Umur/tanggal lahir
Tempat Lahir
Tempat tinggal sekarang
Agama
Hubungan dengan KK
Status perkawinan
Pekerjaan
Tingkat Pendidikan
Suku bangsa
Kewarganegaraan atau kebangsaan, dll
2. Kelahiran dan Kematian :
Anak lahir hidup
Anak masih hidup
Bayi lahir (sampai 12 bulan sebelum hari sensus)
Meskipun jauh sebelum hari H pelaksanaan sensus sudah diadakan
persiapan, namun tidak dapat dipungkiri hambatan-hambatan masih terjadi,
hambatan dalam pelaksanaan sensus, antara lain :

Faktor Intern

Hambatan yang terjdi dari dalam organisasi adalah factor financial, hal
ini sangat berpengaruh dalam kegiatan pelaksanaan di lapangan maupun

pengelolaan data
Faktor Eksternal
Factor yang terjadi/akibat dari luar sehingga mempengaruhi kebenaran
cakupan, kebenaran isi pelaporan dan ketepatan laporan adalah
a) Luasnya Wilayah
Meskipun dalam pra pelaksanaan atau perencanaan sudah dibagi
dalam masing-masing wilayah karena luasnya wilayah tetap masih
mengalami kesalahan.
b) Objek/Responden
Dari pihak responden sering kali terjadi kesalahan pelaporan data,
missal suatu rumah tangga mempunyai 8 anggota terdiri dari suami,
istri dan 6 anak, suatu rumah tangga mempunyai 8 anggota terdiri
dari suami, tetapi melaporkan 3 anak, dan dari topic lain kuesioner

yang sudah dibagikan.


Mengelompokan kesalahan dalam mengumpulkan data menjadi tiga
kelompok, yaitu kesalahan cakupan (error coverage), kesalahan isi pelaporan
(error of content) dan kesalahan ketepatan laporan (estimating error).
Kesalahan cakupan adalah kesalahan dimana tidak seluruh penduduk
tercacah dan bagi yang tercacah ada sebagian dari mereka tercacah dua
kali. Hal ini biasanyaterjadi pada Negara-negara yang memiliki
mobilitas penduduk tinggi. Akibat kesalahan cakupan diatas, maka
sensus penduduk tidak dapat menyajikan jumlah penduduk yang tepat
pada hari sensus penduduk dilaksanakan

Kesalahan isi pelaporan (error or converage), meliputi

kesalahan pelaporan dari responden, misalnya kesalahan


pelaporan tentang umur. Umumnya di Negara-negara sedang
membangun (berkembang) responden tidak mengetahui u m u r
mereka

dengan

pasti,

dan

untuk

pencatatan

p e t u g a s s e n s u s h a n y a memperkirakan umur mereka.

umur

Kesalahan ketepatan pelaporan (estimating error) terjadi karena


kesalahan petugas sensus atau kesalahan responden sendiri. Contoh
jenis kelamin responden adalah laki-laki tetapi terdapat informasi
jumlah anak yang dilahirkan adalah 3 orang. Atau responden adalah
perempuan berumur 15 tahun tetapi jumlah anak yang dilahirkan
sepuluh orang. Hal-hal seperti ini yang menyulitkan untuk menganalisis
hasil sensus penduduk

2.2.2 Regristasi Penduduk


Registrasi penduduk merupakan suatu sistem registrasi yang dilaksanakan
oleh petugas pemerintahan setempat yang meliputi pencatatan kelahiran,
kematian, perkawinan, perceraian, perubahan tempat tinggal dan perubahan
pekerjaan. Sistem registrasi penduduk telah dimulai sejak abad ke-16, terutama
dilaksanakan oleh gereja-gereja Kristen di Inggris dan negara-negara lain di
Eropa. Disamping di Inggris, registrasi juga telah dilaksanakan di Finlandia
(1628), Denmark (1646), Norwegia (1685), dan Swedia (1686). Di luar Eropa
registrasi penduduk dilaksanakan di Cina kemudian menjalar ke Jepang pada abad
ke-17. Sistem registrasi penduduk ini akhirnya menjalar juga ke negara-negara
Asia dan Afrika dan diperkenalkan oleh negara-negara yang menjajahnya.
2.2.3 Survei Penduduk
Survei adalah cara pengumpulan data yang dilaksanakan melalui
pencacahan sampel dari suatu populasi untuk memperkirakan karakteristik objek
pada saat tertentu. Hasil sensus penduduk dan registrasi penduduk mempunyai
keterbatasan. Mereka menyediakan data statistik kependudukan dan kurang
memberikan informasi tentang

sifat dan prilaku penduduk tersebut. Untuk

mengatasi keterbatasan ini, perlu dilaksanakan survei penduduk yang sifatnya


lebih terbatas dan informasi yang dikumpulkan lebih luas dan mendalam.
Biasanya survei kependudukan ini dilaksanakan dengan sistem sampel atau dalam
bentuk studi kasus. Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengadakan survei-survei
kependudukan, misalnya :
Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS)

Susenas merupakan kegiatan survei yang diselengggarakan oleh Badan


pusat

Statistik

untuk

mengumpulkan

informasi/data

di

bidang

kependudukan, kesehatan, pendidikan, Keluarga Berencana, perumahan,


serta konsumsi dan pengeluaran. Susenas bertujuan untuk menghasilkan
data sosial ekonomi penduduk berupa data kor (pokok) dan modul (rinci)
pada aspek sosial ekonomi dan pemenuhan kebutuhan hidup seperti
sandang,

pangan,

papan,

pendidikan,

kesehatan,

keamanan

dan

kesempatan kerja. Susenas pertama kali dilaksanakan pada tahun 1963.


Dalam dua dekade terakhir, sampai dengan tahun 2010, pengumpulan data
Susenas dilakukan setiap tahun.
Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS)
Merupakan survei khusus untuk mengumpulkan data ketenagakerjaan.
Pengumpulan data ketenagakerjaan melalui SAKERNAS mempunyai tiga
tujuan utama. Ketiga tujuan tersebut adalah untuk mengetahui :
Kesempatan kerja, dan kaitannya dengan pendidikan, jumlah jam kerja,
jenis pekerjaan, lapangan pekerjaan dan status pekerjaan; Pengangguran
dan setengah pengangguran; Penduduk yang tercakup dalam kategori
bukan angkatan kerja yaitu, mereka yang sekolah, mengurus rumah tangga
dan melakukan kegiatan lainnya.
Survei Antar Sensus (SUPAS)
Survei Penduduk Antar Sensus bertujuan untuk menjembatani data dari
dua sensus, mengingat periode sensus yang panjang yaitu sepuluh tahun
sekali. Survei ini dilaksanakan oleh BPS pada tahun-tahun yang berakhiran
dengan 5. Survey petama dilaksanakan pada tahun 1976.
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI)
SDKI adalah sebuah survei yang dilaksanakan BKKBN bekerja sama
dengan Kementerian Kesehatan RI dan Badan Pusat Statistik (BPS) secara
berkala setiap 5 tahun sekali. SDKI telah diselenggarakan sebanyak 7 kali,
yaitu tahun 1987 (masih berupa Survei Prevalensi Indonesia atau SPI),
1991, 1994, 1997, 2002-2003, 2007, dan 2012. SDKI adalah survei yang

dilaksanakan untuk mengumpulkan data kelahiran, kematian, prevalensi


KB, dan kesehatan (khususnya reproduksi).
Hasil-hasil survei ini melengkapi informasi yang didapat dari Sensus
Penduduk dan Registrasi Penduduk.
Jenis survei penduduk:
1. Single round survey (survei bertaraf tunggal)
Petugas mengajukan beberapa pertanyaan mengenai kejadian atau
peristiwa demografi yang dialami seseorang di masa lalu dalam periode
tertentu.
2. Multi round survey (survei bertaraf ganda)
Petugas melakukan kunjungan rumah berulang kali dengan interval waktu
tertentu. Misal: petugas survei mengunjungi penduduk setiap 2 tahun
sekali. Kelemahannya:

Petugas dan responden bisa sama-sama bosan hingga timbul error

data
Kualitas kerja petugas tidak selalu konstan setiap waktu
Kualitas kerja antar petugas bisa berbeda, karena petugas tidak

selalu sama (mungkin ada pergantian petugas antar waktu)


3. Kombinasi metode Singgle round survey dan Multi round survey atau
kombinasi salah satu metode dan registrasi.

3. Penutup
3.1 Kesimpulan
Teori-teori kependudukan di

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.

2013.

Sumber-sumber

Data

Kependudukan.

(online).

(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20201/3/Chapter%20II.pdf)
di akses pada tanggal 12 September 2015
BPS. 2013. Survey. (online).
(http://microdata.bps.go.id/mikrodata/index.php/catalog/234) di akses pada
tanggal 17 september 2015