Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK PENGENDALIAN KOROSI

KOROSI GALVANIK
Dosen Pembimbing : Ir. Gatot Subiyanto, MT.

Kelompok / Kelas

: 7 / 3A

Nama

: 1. Sahara Tulaini

NIM 131411025

2. Shofia Wardah Nabilah

NIM 131411026

3. Sifa Fuzi Allawiyah

NIM. 131411027

4. Siti Nurjanah

NIM.131411028

Tanggal Praktikum

: 8 Oktober 2015

Tanggal Pengumpulan Laporan

: 16 Oktober 2015

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
TAHUN 2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Korosi merupakan proses rusaknya logam (degradasi material) secara alamiah yang tidak
dapat dicegah, tetapi dikendalikan. Proses korosi pada material terjadi melalui suatu reaksi
elektrokimia dan berlangsung dengan sendirinya. Korosi adalah salah satu dari berbagai
kegagalan mekanis yang sering menjadi pengganggu utama pekerjaan di dunia teknik,
bersama sama dengan bruckling creep, fatigue, fracture, impact, dan lain sebagainya.
Dalam istilah umum, korosi merupakan oksidasi elektrokimia dari logam dalm reaksinya
dengan senyawa oksidan seperti oksigen. Yang paling umum adalah peristiwa perkaratan
besi, yaitu terbentuknya oksida besi berwarna kemerahan diatas besi yang disebut karat besi.
Proses perkaratan umumnya memperlemah kekuatan logam dan menjadikannya rapuh,
sehingga perlu dilakukan pengendalian terhadap korosi secara tepat, misalnya dengan
mengendalikan nilai potensial sel galvaniknya.
1.2 Tujuan Percobaan
1. Mahasiswa dapat menjelaskan prinsip korosi galvanik
2. Mahasiswa dapat menentukan logam yang berperan sebagai katodik dan anodik pada
peristiwa galvanik
3. Mahasiswa dapat menghitung laju korosi logam dalamlingkungan yang berbeda

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi korosi


Korosi merupakan proses kerusakan suatu material karena pengaruh lingkungan yang
korosif. Lingkungan yang korosif merupakan bagian dari alam. Korosi tidak bisa dicegah
keberadaannya, akan tetapi korosi dapat dikendalikan keberadaannya sehingga kita dapat
menunda datangnya korosi yang membuat material jadi tahan lebih lama terhadap korosi.
Korosi merupakan suatu perusakan atau degradasi material yang terjadi secara alamiah.
Material diambil dari bumi dan akan kembali secara alamiah pula dengan proses korosi.
Dalam perjalanan penggunaan material khususnya logam berbagai masalah akan dapat
timbul yang disebabkan antara lain oleh :
1) Pemilihan material yang salah
2) Kondisi operasi yang tidak sesuai dengan desain kondisi operasinya
3) Perawatan yang kurang baik
4) Proses manufaktur yang kurang baik
Bentuk-bentuk korosi dapat berupa korosi merata, korosi galvanik, korosi sumuran,
korosi celah, korosi retak tegang (stress corrosion cracking), korosi retak fatik (corrosion
fatique cracking) dan korosi akibat pengaruh hidogen (corrosion induced hydrogen), korosi
intergranular, selective leaching, dan korosi erosi.
2.2 Korosi galvanik
Korosi galvanik disebut juga sebagai korosi logam tak sejenis atau korosi dwilogam.
Korosi ini terjadi jika 2 buah logam atau logam paduan yang berbeda dalam suatu lingkungan
yang sama dan saling berhubungan. Hal ini terjadi karena dihasilkan suatu beda potensial
diantara logam tesebut.
Prinsip korosi galvanik sama dengan prinsip elektrokimia yaitu terdapat elektroda (katoda
dan anoda), elektrolit dan arus listrik. Logam yang berfungsi sebagai anoda adalah logam
yang sebelum dihubungkan bersifat lebih aktif atau mempunyai potensial korosi lebih
negatif. Pada anoda akan terjadi reaksi oksidasi atau reaksi pelarutan sedangkan pada katoda
terjadi reaksi reduksi logam atau tidak terjadi reaksi apa-apa dengan cara proteksi katodik.

Deret galvanik adalah suatu daftar harga-harga potensial korosi untuk berbagai logam
paduan yang berguna dalam kehidupan. Selain itu deret galvanik juga mencantumkan hargaharga potensial korosi untuk logam-logam murni.
Jenis korosi ini dapat diketahui dengan baik karena adanya dua logam yang kontak secara
elektrik dan tercelup dalam larutan air membentuk sel elektrokimia. Dimana salah satu logam
yang relatip kurang mulia akan mengalami korosi dan logam yang lebih mulia tidak akan
terjadi korosi. Dasar timbulnya mekanisme reaksi korosi jenis ini karena adanya perbedaan
potensial sistem logam dimedia larutan berair yang lebih dikenal dengan deret tegangan
logam Sebagai contoh atap seng gelombang yang mengalami korosi pada lapisan sengnya
terlebih dahulu, logam baja tidak akan terkorosi selama masih ada lapisan seng dan secara
elektrik masih terinteraksi.
2 .3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Korosi Galvanik
Terdapat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap korosi galvanik yaitu diantaranya:
1) Lingkungan
2) Jarak
3) Luas Penampang

2.3.1 Lingkungan
Tingkatan korosi galvanik tergantung pada keagresifan dari lingkungannya. Pada
umumnya logam dengan ketahanan korosi yang lebih rendah dalam suatu lingkungan
berfungsi sebagai anoda. Biasanya baja dan seng keduanya akan terkorosi akan tetapi
jika keduanya dihubungkan maka Zn akan terkorosi sedangkan baja akan terlindungi.
Pada kondisi khusus, sebagai contoh dalam lingkungan air dengan temperatur
1800F, terjadi hal sebaliknya yaitu baja mengalami korosi sedangkan Zn terlindungi.
Rupanya dalam kasus ini produk korosi pada Zn bertindak sebagai permukaan yang
lebih mulia terhadap baja. Menurut Haney, Zn menjadi kurang aktif dan potensialnya
menjadi kebalikannya jika ada ion-ion penghalang seperti nitrat, bikarbonat atau
karbonat dalam air.

Menurut penelitian dibeberapa macam kondisi lingkungan, dapat ditarik


kesimpulan bahwa:
1) Zn bersifat anodik terhadap baja pada semua kondisi
2) Al sifatnya bervariasi
3) Sn selalu bersifat sebagai katodik
4) Ni selalu bersifat sebagai katodik
Korosi galvanik tidak terjadi jika kedua logam benar-benar kering karena tidak ada
elektrolit yang memindahkan arus dintara anoda dan katoda.
2.3.2 Jarak
Laju korosi pada umumnya paling besar pada daerah dekat pertemuan kedua
logam. Laju korosi berkurang dengan makin bertambahnya jarak dari pertemuan kedua
logam tersebut. Pengaruh jarak ini tergantung pada konduktivitas larutan dan korosi
galvanik dapat diketahui dengan adanya serangan korosi lokal pada daerah dekat
pertemuan logam.
2.3.3 Luas Penampang
Yang dimaksud dengan luas penampang elektroda terhadap korosi galvanik
adalah pengaruh perbandingan luas penampang katodik terhadap anodik. Jika luas
penampang katodik jauh lebih besar dari pada katoda. Makin besar rapat arus pada
daerah anoda mengakibatkan laju korosi makin cepat pula.. Korosi di daerah anodik
akan menjadi 100-1000 kali lebih besar jika dibandingkan dengan keseimbangan luas
penampang anodik dan katodik.
Contoh lain luas penampang elektroda adalah ratusan tangki penyimpanan yang
besar dipasang pada bagian utama pabrik yang mengalami program ekspansi. Tangkitangki yang pertama digunakan adalah terbuat dari baja karbon dan permukaan
dalamnya dilapisi atau dilindungi oleh cat phenolik. Tangki-tangki ini dapat digunakan
dengan baik untuk beberapa tahun. Akan tetapi lama kelamaan lapisan cat bagian
bawah rusak dan menyebabkan terjadinya kontaminasi.
Oleh karena itu tangki-tangki yang baru, bagian bawahnya dilengkapi dengan
stainless steel yang melindungi baja karbon (stainless steel-clad carbon steel) untuk

pemakaian yang lebih baik dan mengurangi biaya perawatan. Kemudian cat pelapis
pheonik juga diberikan diseluruh permukaan-permukaan dinding tangki sedangkan
bagian bawah tangki yang dilapisi stainless steel tidak diberi lapisan cat karena
mempunyai sifat ketahanan korosi yang baik. Namun setelah beberapa bulan
dioperasikan, mulai terlihat adanya kebocoran di dinding tangki yaitu di atas
penyambung logam/las-lasnya.
2.4 Cara Pengendalian Korosi
Terdapat beberapa cara pengendalian yang umum dilakukan untuk mengendalikan korosi
galvanik., yaitu antara lain :
1) Pemilihan material yang tepat. Pemilihan material dengan perbedaan potensial dari kedua
material agar sekecil mungkin
2) Menghindarkan penggunaan 2 jenis logam yang saling berhubungan dalam suatu
kontruksi.
3) Melakukan penggunaan lapis lindung. Jika harus menggunakan lapis lindung maka
gunakan lapis lindung pada katoda.
4) Menghindari kombinasi luas penampang material dengan anoda kecil sedangkan luas
penampang katoda besar.
5) Menambahkan inhibitor untuk mengurangi keagresifan lingkungan.
6) Merancang dengan baik agar dapat mengganti bagian-bagian anoda yang rusak dengan
menggunakan bahan-bahan yang siap pakai atau buatlah anodik yang lebih tebal agar
lebih tahan lama.
2.5 Kerugian Akibat Korosi
Ditinjau dari segi kerugian akibat korosi dapat digolongkan menjadi tiga jenis yaitu
kerugian dari segi biaya korosi itu sangat tinggi atau mahal, kerugain dari segi pemborosan
sumber daya mineral yang sangat tinggi dan kerugian dari segi keselamatan jiwa manusia
juga sangat membahayakan.

1) Kerugian Ekonomi Akibat Korosi


Menurut sumber dari biro Klasifikasi indonesia pada tahun 1997 mengatakan bahwa
pada umumnya biaya pengendalian korosi di Indonesia berkisar antara 2 hingga 3,5 %
dari GNP ( Growth National Produk ). Biaya pengendalian korosi adalah semua biaya
yang timbul untuk menanggulangi korosi mulai dari desain sampai dengan proses
pemeliharaan.
2) Pemborosan Sumber Daya Alam
Pada dasarnya proses korosi dapat juga didefinisikan sebagai proses kembalinya
logam teknis ke bentuk asalnya di alam. Bentuk asalnya logam di alam adalah senyawasenyawa mineral yang abadi di perut bumi. Pada umumnya senyawa-senyawa mineral
logam tersebut merupakan ikatan kimia antara unsur logam dengan unsur logam dengan
unsur halogen misalnya oksigen dan belerang. Dengan adanya proses korosi pada struktur
bangunan di tempat-tempat yang tersebar di seluruh dunia, mengakibatkan sumber daya
mineral yang semula berbentuk logam teknis telah berubah menjadi produk korosi yang
tersebar tanpa bisa didaur ulang untuk dijadikan logam teknis kembali.
3) Korosi Dapat Membahayakan Jiwa Manusia
Korosi dapat menimbulkan kecelakaan yang menelan puluhan korban bahkan ratusan
korban jiwa atau mencederai manusia disebabkan karena kegagalan dari konstruksi
bangunan akibat korosi. Di dunia pelayaran, korban manusia yang meninggal akibat
kapal tenggalam jumlahnya sudah sangat banyak.
4) Estetika Menurun
Korosi dapat menurunkan nilai estetika suatu material. Hal ini karena korosi dapat
merusak lapisan permukaan material.

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


Tabel 3.1 Alat, Spesifikasi, dan Jumlah
Alat

Spesifikasi

Jumlah

250 mL

6 buah

Multimeter

1 set

Indikator pH

6 buah

Elektroda SCE

1 buah

Timbangan elektrik

1 set

Penggaris

30 cm

1 buah

Kawat penghubung

10 cm

6 buah

Isolasi

10 cm

12 buah

Gelas Plastik

Tabel 3.2 Bahan, Spesifikasi dan Jumlah


Bahan

Spesifikasi

Jumlah

Logam besi

6 buah

Logam seng

3 buah

Logam tembaga

3 buah

Larutan NaCl 3,56 gpl

250 mL

2 buah

Larutan HCl 1 M

250 mL

2 buah

Air Kran

250 mL

2 buah

3.2 Skema Kerja


Logam Besi

Logam Tembaga

Logam Seng

Amplas
Bersihkan Lemak
Timbang
Larutan NaCl

Larutan HCl

Air Kran

Ukur potensial sel setiap logam dan pH larutan


Pasangkan kawat penghubung pada setiap logam
Fe-Zn dan Fe-Cu (masing-masing 3 buah)
Tutup bagian logam penghubung dengan isolasi
Ukur luas logam yang tidak terisolasi
Mediakorosif
Larutan NaCl

Larutan HCl
Ukur potensial sel setiap logam
terhubung pada setiap SCE yang tercelup
Diamkan rangkaian selama 7 hari
Ukur potensial sel setiap logam terhubung pada
setiap SCE yang tercelup dan pH larutan
Bersihkan logam
Timbang logam

Air Kran

BAB IV
HASIL PRAKTIKUM DAN PEMBAHASAN
4.1 HasiL Praktikum
4.1.1 Data Pengamatan
Tabel 4.1 Data Pengamatan
Larutan
NaCl

Awal
Larutan
tidak
berwarna

Setelah 7 Hari
Larutan menjadi keruh oleh endapan
berwarna merah kecokelatan, jumlah
endapan berwarna merah kecokelatan

Logam
Fe

Setelah 7 Hari
Seluruh
permukaan
besi
menjadi
berwarna
hitam
kecokelatan

sangat banyak

Cu

Warna merah kecokelatan


sedikit memudar menjadi
lebih pucat

Larutan menjadi keruh oleh endapan


berwarna merah kecokelatan, jumlah
endapan berwarna merah kecokelatan
tidak terlalu banyak

Fe

Seluruh
permukaan
besi
menjadi
berwarna
hitam
kecokelatan

Zn

Fe
Larutan tidak berwarna, kawat
penghubung menjadi berwarna hijau
Cu

Warna merah kecokelatan


sedikit memudar menjadi
lebih pucat

Fe

Hampir seluruh permukaan


besi menjadi berwarna merah
kecokelatan, besi terkikis pada
bagian terdekat dengan kawat
penghubung

Zn

Hampir seluruh permukaan


seng menjadi berwarna hitam
kecokelatan, seng terkikis
hingga berlubang

Fe

Terdapat lapisan berwarna


merah
kecokelatan
pada
sedikit permukaan besi

Cu

Warna merah kecokelatan


sedikit memudar menjadi
lebih pucat

Fe

Terdapat lapisan berwarna


merah
kecokelatan
pada
seluruh permukaan besi

Zn

Hampir seluruh permukaan


seng menjadi berwarna hitam

Larutan
tidak
berwarna

HCl

Larutan tidak berwarna, kawat


penghubung menjadi berwarna hijau

Air Kran

4.1.2

Larutan
tidak
berwarna

Larutan menjadi keruh oleh endapan


berwarna merah kecokelatan, jumlah
endapan berwarna merah kecokelatan
cukup banyak
Larutan menjadi keruh oleh endapan
berwarna merah kecokelatan, jumlah
endapan berwarna merah kecokelatan
cukup banyak

Seluruh permukaan seng


menjadi berwarna hitam dan
kecoklatan
Seluruh
permukaan
besi
menjadi
berwarna
hitam
kecokelatan, besi terkikis pada
bagian terdekat dengan kawat
penghubung

Data Pengukuran
Tabel 4.2 Data Pengukuran

Larutan

NaCl
HCl

pH

7
1

Logam
Fe
Cu
Fe
Zn
Fe

E
Logam
(V) /
SCE
-0.277
-0.127
-0.159
-0.880
-0.506

Panjang Lebar
(mm)
(mm)
38
29
38
29
32

20
23
19
13
13

E sel (V) / SCE


Awal

Akhir

-0.435

-0.460

-0.756

-0.682

-0.469

-0.528

Berat (gram)
Awal

Akhir

Hilang

10.18
7.91
10.32
0.82
9.30

10.09
7.9
10.26
0.8
8.9

0.09
0.01
0.06
0.02
0.4

Air
Keran

4.1.3

Cu
Fe
Zn
Fe
Cu
Fe
Zn

-0.267
-0.526
-0.533
-0.119
-0.355
-0.135
-0.158

21
66
18
30
21
39
24

22
20
19
19
19
20
10

-0.551

-0.508

-0.196

-0.503

-0.543

-0.724

7.60
10.12
0.65
10.46
6.69
9.83
0.81

7.59
9.56
0.49
10.42
6.68
9.81
0.79

Laju Korosi Logam


Laju korosi (r) =
Dimana:
m = berat yang hilang (g)
A = luas permukaan (cm2)
t = waktu (jam)
= densitas logam (g/cm3)
r = laju korosi (mpy)
Tabel 4.3 Laju Korosi masing-masing Logam
Larutan
NaCl

HCl

Air
Kran

Logam
Fe
Cu
Fe
Zn
Fe
Cu
Fe
Zn
Fe
Cu
Fe
Zn

A (cm2)
7.6
6.67
7.22
3.77
4.16
4.62
13.2
3.42
5.7
3.99
7.8
2.4

m (gram)
0.09
0.01
0.06
0.02
0.4
0.01
0.56
0.16
0.04
0.01
0.02
0.02

(gram/cm3)

7.85
8.93
7.85
7.135
7.85
8.93
7.85
7.135
7.85
8.93
7.85
7.135

t (jam)
168
168
168
168
168
168
168
168
168
168
168
168

r (mpy)
30.97
3.45
21.73
15.26
251.45
4.98
110.94
134.60
18.35
5.76
6.71
23.98

4.3 Pembahasan
Pada praktikum Korosi kali ini berjudul Korosi Galvanik. Korosi Galvanik
merupakan korosi yang terjadi jika 2 buah logam atau logam paduan yang berbeda saling
dihubungkan dalam suatu lingkungan yang sama. Korosi ini terjadi karena dihasilkan suatu

0.01
0.56
0.16
0.04
0.01
0.02
0.02

beda potensial diantara logam tesebut. Praktikum ini bertujuan untuk mengaplikasikan
prinsip korosi galvanik, menentukan logam yang berperan sebagai katodik dan anodik pada
peristiwa galvanik, serta menghitung laju korosi logam dalam lingkungan yang berbeda.
Prinsip dari korosi galvanik sama dengan prinsip elektrokimia yaitu terdapat elektroda
(katoda dan anoda), elektrolit dan arus listrik. Logam yang berfungsi sebagai anoda adalah
logam yang sebelum dihubungkan bersifat lebih aktif atau mempunyai potensial korosi lebih
negatif. Pada anoda akan terjadi reaksi oksidasi atau reaksi pelarutan sedangkan pada katoda
terjadi reaksi reduksi logam atau tidak terjadi reaksi apa-apa dengan cara proteksi katodik.
Pada praktikum ini digunakan 2 jenis pasangan logam yaitu Fe-Zn dan Fe-Cu,
dimana masing-masing logam didiamkan dalam lingkungan larutan HCl 1M, NaCl 3,56
gr/L, dan Air Keran, masing-masing didiamkan selama 7 hari atau selama 168 jam.
Langkah pertama adalah mengampelas logam-logam yang akan digunakan untuk
membersihkan pengotor maupun korosi yang sudah terjadi pada logam karena pada saat
praktikum diperlukan logam dengan kondisi awal sebelum mengalami korosi untuk
pengamatan dan untuk mengetahui laju korosi logam tersebut. Selanjutnya semua logam
ditimbang untuk diketahui berat awalnya, berat awal ini diperlukan dalam perhitungan laju
korosi logam. Bersamaan dengan itu, larutan HCl 1M, NaCl 3,56 gr/L dan Air Keran
disiapkan sebanyak 200mL masing-masing dalam dalam 6 buah gelas plastik ukuran
250mL. Kemudian masing-masing logam diukur potensialnya menggunakan elektroda
standar Cu/CuSO4 untuk diketahui potensial awal. Setiap pasangan logam selanjutnya
dihubungkan oleh kabel tembaga. Setelah kabel tembaga menghubungkan pasangan logam,
serat kabel tembaga yang mengikat logam diisolasi dengan selotip plastik untukmencegah
kabel tembaga bereaksi dengan logam yang dihubungkan. Pengukuran panjang dan lebar
masing-masing logam yang tidak tertutupi isolasi kemudian dilakukan untuk mengetahui
luas logam yang mengalami proses korosi. Kemudian masing-masing pasangan logam
direndamkan dalam larutan-larutan yang telah disiapkan, logam didiamkan dalam larutan
tersebut selama 7 hari atau selama 168 jam.
Setelah 168 jam dikorosikan, diperoleh bahwa HCl 1 M memiliki nilai pH sebesar 1,
sebesar larutan NaCl 3,56 g/L 6, dan air keran sebesar 6. Hasil perhitungan laju korosi pada
tabel 4.3 menunjukkan bahwa semakin kecil nilai pH (tabel 4.2), maka semakin cepat laju

korosinya, laju korosi tercepat yaitu pada lingkungan HCl 1M. Tetapi untuk laju korosi pada
air keran dibandingkan dengan laju korosi pada larutan NaCl 3,56 g/L, meskipun pH air
keran sama dengan pH larutan NaCl 3,56 g/L, laju korosi logam pada air keran lebih kecil
daripada laju korosi logam pada larutan NaCl 3,56 g/L. Hal ini dikarenakan keberadaan
elektrolit di dalam larutan NaCl 3,56 g/L. Selain pH, konsentrasi elektrolit juga merupakan
salah satu faktor umum yang mempengaruhi laju korosi. Keberadaan elektrolit pada larutan
NaCl dapat mempercepat laju korosi.
Pada sistem besi-seng (Fe-Zn), hasil pengukuran potensial masing-masing logam di
setiap lingkungan pada tabel 4.2 menunjukkan bahwa nilai potensial besi selalu lebih besar
dari nilai potensial seng. Oleh karena itu pada permukaan seng terjadi reaksi anodik. Sel
galvanik ini menyebabkan seng terkorosi dan melepaskan elektron. Elektron mengalir dari
anoda seng ke katoda besi. Kemudian pada permukaan katoda besi elektron habis digunakan
dalam reaksi katodik. Reaksi anodik dan katodik yang terjadi pada system Besi-Seng adalah
sebagai berikut:
Reaksi Anodik
: Zn Zn2+ + 2eReaksi Katodik :H+ + e- H
Pada sistem besi-tembaga (Fe-Cu), hasil pengukuran potensial masing-masing logam
di setiap lingkungan pada tabel 4.2 menunjukkan bahwa nilai potensial tembaga selalu lebih
besar dari nilai potensial besi. Oleh karena itu pada permukaan besi terjadi reaksi anodik,
yaitu sebagai berikut:
Fe Fe2+ + 2eSel galvanik ini menyebabkan besi terkorosi. Pada permukaan tembaga terjadi reaksi
katodik antara elektron dengan ion hidrogen sesuai reaksi berikut :
H+ + e - H
Katoda akan terpolarisasi oleh kehadiran ion-ion hidrogen yang menghasilkan lapisan
film dan menutupi permukaan katoda. Lapisan film ini mempengaruhi laju korosi sehingga
reaksi katodik menjadi lambat. Reaksi antara elektron dengan ion hidrogen yang terlarut pun
menjadi lambat. Di dalam larutan HCl 1 M, ion hidrogen akan teradsorpsi pada permukaan
katoda dan membentuk gas hidrogen yang meninggalkan permukaan katoda sesuai reaksi
berikut :
2H H2
Reaksi ini mampu menyebabkan terjadinya korosi yang berkelanjutan. Reaksi
pembentukan gas hidrogen di katoda berjalan terus dan akan diikuti dengan reaksi pelepasan

ion logam di daerah anoda sehingga jika reaksi pembentukan gas hidrogen terjadi, maka
korosi terjadi.

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan
Berikut merupakan simpulan yang dapat diambil melalui praktikum korosi galvanik kali ini :
1) Prinsip dari korosi galvanik sama dengan prinsip elektrokimia yaitu terdapat elektroda
(katoda dan anoda), elektrolit dan arus listrik. Logam yang berfungsi sebagai anoda
adalah logam yang sebelum dihubungkan bersifat lebih aktif atau mempunyai potensial
korosi lebih negatif. Pada anoda akan terjadi reaksi oksidasi atau reaksi pelarutan
sedangkan pada katoda terjadi reaksi reduksi logam atau tidak terjadi reaksi apa-apa
dengan cara proteksi katodik.
2) Nilai potensial logam yang lebih rendah dari logam lain, maka logam tersebut lebih
mudah terkorosi dan pada permukaan logam tersebut terjadi reaksi anodik, maka pada
permukaan logam dengan potensial lebih tinggi terjadi reaksi katodik.
- Pada sistem Fe-Zn reaksi anodik terjadi pada permukaan Zn, dan reaksi katodik
terjadi pada permukaan Fe. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
Zn

Zn2+ + 2e-

Reaksi Anodik

Reaksi Katodik

: 2H+ + e- H2

Pada sistem Fe-Cu, reaksi anodik terjadi pada permukaan Fe, dan reaksi katodik
terjadi pada permukaan Cu. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
Fe Fe2+ + 2e-

Reaksi Anodik

Reaksi Katodik

: 2H+ + e- H2

3) Nilai laju korosi yang terjadi adalah sebagai berikut :


Larutan

pH

NaCl

HCl

HCl

Air
Keran

Logam
Fe
Cu
Fe
Zn
Fe
Cu
Fe
Zn
Fe
Cu
Fe
Zn

r (mpy)
30.97
3.45
21.73
15.26
251.45
4.98
110.94
134.60
18.35
5.76
6.71
23.98

5.2 Saran
Saran yang diberikan untuk praktikum korosi galvanik selanjutnya adalah sebagai berikut :
1) Lebih teliti pada saat pengukuran pH menggunakan indikator pH.
2) Serat pada kabel tembaga yang akan digunakan diampelas hingga bersih terlebih dahulu
untuk mencegah kurang maksimalnya penghubungan logam.

Daftar Pustaka

Anonim.2009. Korosi Galvanik dalam https://brownharinto.blogspot.com/. Diunduh 15


Oktober 2015.
Indarti, Retno. Korosi Galvanik Modul Praktikum Teknik Pengendalian Korosi, Teknik Kimia.
Politeknik Negeri Bandung.

LAMPIRAN

Pengamatan berat awal logam-logam

Pengamatan setelah 7 hari (168 jam)

Pengamatan setelah 7 hari (168 jam)