Anda di halaman 1dari 22

1

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Proses pertumbuhan merupakan hal yang lazim bagi setiap tumbuhan.
Dalam proses pertumbuhan terjadi pertambahan volume yang signifikan. Seiring
berjalannya waktu pertumbuhan suatu tanaman terus bertambah. Proses tumbuh
sendidri dapat dilihat pada selang waktu tertentu. Dimana setiap pertumbuhan
tanaman akan menunjukkan suatu perubahan dan dapat dinyatakan dalam bentuk
kurva/diagram pertumbuhan (Latunra, 2014).
Di Indonesia, jagung merupakan bahan pangan penting sumberkarbohidrat
kedua setelah beras. Disamping itu, jagung pun digunakan sebagaibahan makanan
kedua setelah beras. Disamping itu jagung pun digunakan sebagaibahan makanan
ternak (pakan) dan bahan baku industri. Penggunaan sebagaibahan pakan sebagian
besar untuk ternak ayam ras menunjukkan tendensimakin meningkat setiap tahun
dengan laju kenaikan lebih dari 20 % (Adisarwanto dan Widyaastuti, 2009).
Besarnya pertumbuhan persatuan waktu disebut laju tumbuh. Laju tumbuh
suatu tumbuhan atau bagiannya berubah menurut waktu. Oleh karena itu, bila laju
tumbuh digambarkan dalam suatu grafik, dengan laju tumbuh pada ordinat dan
waktu pada absisi, maka grafik itu merupakan suatu kurva berbentuk s atau kurva
sigmoid pertumbuhan ini berlaku bagi tumbuhan lengkap, bagian-bagiannya
ataupun sel-selnya (Latunra, 2014).
Jagung

adalah

tanaman

menyerbuk

silang.

Galur

murni

bagi

pengujianadaptasi terhadap cekaman lingkungan tidak tersedia dalam plasma


nutfah alami.Pada pemuliaan jagung bagi adaptasi terhadap tanah masam podsolik

daerahkering, telah dimulai dengan melaksanakan silang puncak dari 15 varietas


bersaribebas (Makmur, 2003).
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan
dari Jagung (Zea maysL.) dan Kacang Hijau () pada kurva sigmoid
Kegunaan Penulisan
Adapun kegunaan dari penulisan ini adalah sebagai salah satu syarat untuk
dapat mengikuti praktikal tes di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Program Studi
Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman Jagung (Zea mays L.)
Adapun klasifikasi dari tanaman Jagung (Zea maysL.) adalah sebagai
berikut ; Kingdom Plantae; Divisio Spermatophyta; Sub Divisio Angiospermae;
Kelas Monocotyledonae;

Ordo Graminae;

FamiliGraminaeae; Genus Zea;

Spesies Zea Mays L.(Rukmana, 2010).


Sistem perakaran tanaman jagung sangat bervariasi yaitu menyebar ke
bawah dan ke samping dengan panjang akar kurang lebih 2 m. Akar utama keluar
dari pangkal batang berjumlah antara 20 sampai dengan 30 buah, sedangkan akar
lateral tumbuh dari akar utama dengan jumlah 20-25 buah. Dari akar lateral
tumbuh akar rambut dengan jumlah yang tidak terhitung. Fungsi akar pada
tanaman jagung digunakan untuk menghisap air dan garam-garam dari dalam
tanah, sebagai penopang tegaknya tanaman dan organ yang menghubungkan
tanaman dengan tanah (Warisno, 1998).
Batang tanaman jagung terdiri dari ruas-ruas dengan jumlah ruas antara 821 ruas dengan rata-rata 14 ruas. Tinggi batang tanaman bagian luar merupakan
jaringan kulit yang keras dan tipis, yang berfungsi agar batang kuat dan kaku.
Dengan diameter batang antara 3-4 cm. Pada setiap buku terdapat satu daun
dengan kelopak daunnya, di mana kelopak daunnya membungkus sebagian atau
seluruh ruas batang pada buku tersebut (AKK, 1993).
Daun terdapat pada setiap batang yang terdiri dari tiga bagian yaitu
kelopak daun, lidah daun, dan helai daun. Letak atau posisi daun berselang-seling
dalam dua barisan pada batang. Jumlah daun tanaman jagung rata-rata 12-18 helai
dalam tiap batang. Tanaman jagung yang berumur genjah memiliki jumlah daun

yang lebih sedikit dibandingkan dengan tanaman jagung yang berumur panjang
(Adisarwanto, 2000).
Tanaman jagung merupakan tanaman berumah satu (monoecious), bunga
jantan dan bunga betina terletak dalam satu tanaman. Bunga jantan terletak pada
ujung tanaman dan bunga betina terletak pada tongkol pada ketiak daun. Bunga
jantan tersusun dalam bentuk malai, sedangkan bunga betina yang bersatu dengan
tongkol membentuk benang sari yang akan muncul keluar dari tongkol jika sudah
siap untuk dibuahi. Penyerbukan dihasilkan dengan bersatunya tepungsari pada
rambut. Lebih kurang 95% dari bakal biji terjadi karena perkawinan sendiri. Biji
tersusun rapi pada tongkol. Pada setiap tanaman jagung ada sebuah tongkol,
kadang-kadang ada yang dua. Biji berkeping tunggal berderet pada tongkol.
Setiap tongkol terdiri atas 10-14 deret, sedang setiap tongkol terdiri kurang lebih
200-400 butir (Suprapto dan Marzuki, 2005).
Syarat Tumbuh
Iklim
Syarat tumbuh bagi tanaman jagung manis yakni cahaya matahari cukup
atau tidak ternaungi, suhu optimum 24 30C, curah hujan merata sepanjang
umur tanaman antara 100 200 mm per bulan, ketinggian tempat optimal hingga
300 mdpl (Emedinta, 2004).
Jagung adalah annual musiman yang tumbuh baik di bawah moderasi
temperatur dan kelembaban. Tetapi ini dikultivasi dibawah lebih kondisi
lingkungan daripada tanaman lain. Sebuah rata-rata temperatur 23 C (73F) atau
diatas, dengan banyak sinar matahari dan 37 sampai 50 cm (15-20 inci) dari hujan
yang turun 3 sampai 5 bulan dapat tumbuh ideal (Decoteau, 2000).

Tanah
Pertumbuhan jagung manis optimal pada tanah lempung berdebu dan
derajat kemasaman 5,0 7,0 serta bebas dari genangan air. Jagung merupakan
tanaman C4 yang memiliki daya adaptasi pada factor faktor pembatas
pertumbuhan seperti intensitas radiasi surya tinggi, suhu siang dan malam yang
tinggi, curah hujan rendah serta kesuburan tanah yang rendah (Emedinta, 2004)
Botani Kacang Hijau (Vigna radiataL.)
Adapun klasifikasi dari tanaman kacang hijau (Vigna radiataL.) adalah
sebagai berikut; Kingdom Plantae; Divisi Spermatophyta; KelasDicotyledoneae;
Ordo Fabales; Famili Fabaceae; Genus Vigna; Spesies Vigna radiataL.
(Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, 2012).
Daun, kacang hijau memiliki daun trifoliate (terdiri dari tiga helaian) dan
letaknya berseling, tangkai daunya cukup panjang, lebih panjang dari
daunnyawarna

daun

hijau

muda

sampai

hijau

tua

(Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, 2012).


Batang, tanaman kacang hijau berbatang tegak dengan tinggi mencapai 53
cm. Cabangnya menyamping pada batang utama, berbentuk bulat dan berbulu.
Warna batang dan cabangnya hijau dan bila suda tua batang akan berubah menjadi
warna coklat gelap (Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, 2012).
Bunga, kacang hijau memiliki bunga warna kuning yang mulai muncul 2833 hari, tersusun dalam tandan, keluar pada cabang serta batang dan dapat
melakukan penyerbukan sendiri (Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, 2012).
Polong, polong kacang hijau berbentuk selindris dengan panjang antara 615 cm dan biasanya berbuluh pendek. Sewaktu muda polong berwarna hijau

setelah tua barwarna hitam atau coklat. Setiap polong berisi 10-15 biji
(Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, 2012).
Biji,biji kacang hijau lebih kecil dibanding kacang- kacangan lain. Warna
bijinya kebanyakan hijau kusam atau hijau mengkilap, beberapa ada yang
berwarna kuning, coklat dan hitam (Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, 2012).
Syarat Tumbuh
Iklim

Berdasarkan indikator didaerah sentrum produsen tersebut keadaan iklim


yang ideal untuk tanaman kacang hijau adalah daerah yang bersuhu 25C-27C
dengan kelembaban udara 50%- 80% curah hujan antara 50 mm -200 mm
perbulan, dan cukup mendapat sinar matahari (tempat terbuka). Jumlah curah
hujan dapat mempengaruhi produksi kacang hijau. Tanaman ini cocok ditanam
pada musim kering (kemarau) yang rata-rata curah hujannya rendah. Didaerah
curah hujan tinggi, pertanaman kacang hijau mengalami banyak hambatan dan
gangguan, misalnya mudah rebah dan terserang penyakit. Produksi tanaman
kacang hijau pada musim hujan umumnya lebih rendah dibandingkan dengan
produksi pada musim kemarau (Rukmana (1997) dalam Liza Khairani (2008)).
Tanah

Hal yang penting diperhatikan dalam pemilihan lokasi untuk kebun kacang
hijau adalah tanahnya subur, gembur banyak mengandung bahan organik (humus)
aerasi dan draenasenya baik, serta mempunyai kisaran pH 5,8-6,5. Untuk tanah
yang ber pH lebih rendah dari pada 5,8 perlu dilakukan pengapuran (liming)
fungsi pengapuran adalah untuk meningkatkan meneralisasi nitrogen organik
dalam sisa-sisa tanaman membebaskan nitrogen sebagai ion ammonium dan nitrat

agar tersedia bagi tanaman, membantu memperbaiki kegemburan serta


meningkatkan

pH

tanah

mendekati

netral

(Rukmana (1997) dalam Liza Khairani (2008)).


Lahan pertanaman kacang hijau sebaiknya di dataran yang rendah hingga
500 m dpl. Curah hujan yang rendah cukup di toleransi tanaman ini apalagi pada
tanah yang diairi seperti padi. Tanah yang ideal adalah tanah ber pH5,8 dengan
kandungan fosfor, kalium, kalsium, magnesium, dan belerang yang cukup agar
bisa

maksimalkan

produksi

(Andrianto dan Indarto (2004) dalam Liza Khairani (2008)).


Unsur hara makro tersedia dalam jumlah optimal pada kisaran pH 6,5-7,5
atau mendekati netral. Seperti unsur fosfor tersedia dalam jumlah banyak pada
kisaran pH 6,5 8 dan 9-10 (Sutejdo (1987) dalam Liza Khairani (2008)).
Kurva Sigmoid
Selama tumbuhan masih mampu untuk bertahan hidup, tumbuhan dapat
tumbuh tidak terbatas karena tumbuhan memiliki jaringan embrionik yang selalu
tersedia yang disebut meristem, pada daerah pertumbuhan. Sel-sel meristematik
membelah terus untuk menghasilkan sel-sel baru. Beberapa produk pembelahan
ini tetap berada pada daerah meristematik untuk menghasilkan lebih banyak lagi
sel, sementara yang lain menjadi terspesialisasi dan digabungkan ke dalam
jaringan dan organ tumbuhan yang sedang tumbuh. Sel-sel yang tetap berfungsi
untuk menghasilkan sel-sel baru di dalam meristem disebut inisial (initial) atau
permulaan. Sel-sel baru yang digantikan dari meristem, terus membelah selama
beberapa saat, sampai sel-sel yang mereka hasilkan mulai mengalami spesialisasi
di dalam jaringan yang sedang berkembang (Campbell, dkk., 2002).

Besarnya pertumbuhan persatuan waktu disebut laju tumbuh. Laju tumbuh


suatu tumbuhan atau bagiannya berubah menurut waktu. Oleh karena itu, bila laju
tumbuh digambarkan dalam suatu grafik, dengan laju tumbuh pada ordinat dan
waktu pada absisi, maka grafik itu merupakan suatu kurva berbentuk s atau kurva
sigmoid pertumbuhan ini berlaku bagi tumbuhan lengkap, bagian-bagiannya
ataupun sel-selnya (Latunra, 2014).
Kurva sigmoid berguna bagi para ahli dalam melakukan penelitianpenelitian lebih lanjut tentang tumbuh dan perkembangan tumbuhan, karena ia
menunjukkan tahap-tahapan perkembangan. Dalam percobaan yang menggunakan
tumbuhan hidup, fase perkembangan tanaman perlu diperhatikan untuk dapat
menganalisa suatu fenomena dengan tepat (Latunra, 2014).
Kurva pertumbuhan berbentuk S (sigmoid) yang ideal. Tiga fase utama
biasanya mudah dikenali: fase logaritmik, fase linier, dan fase penuaan. Pada fase
logaritmik, ukuran (v) bertambah secara eksponensial sejalan dengan waktu (t).
Ini berarti bahwa laju pertumbuhan (dv/dt) lambat pada awalnya, tapi kemudian
meningkat terus. Pada fase linier, pertambahan ukuran berlangsung secara
konstan. Fase penuaan dicirikan oleh laju pertumbuhan yang menurun saat
tumbuhan

sudah

mencapai

kematangan

dan

mulai

menua

(Salisbury dan Ross, 1995).


Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan adalah suplai makanan,
air, oksigen, temperatur (suhu), cahaya, dan hormon-hormon pertumbuhan
(Pandey dan Sinha, 2002).
Suatu hasil pengamatan pertumbuhan tanaman yang paling sering
dijumpai khususnya pada tanaman setahun adalah biomassa tanaman yang

menunjukkan pertambahan mengikuti bentuk S dengan waktu, yang dikenal


dengan nama model sigmoid. Biomassa tanaman mula-mula (pada awal
pertumbuhan) meningkat perlahan, kemudian cepat dan akhirnya perlahan sampai
konstan dengan pertambahan umur tanaman. Liku demikian dapat simetris, yaitu
setengah bagian pangkal sebanding dengan setengah bagian ujung jika titik belok
terletak diantara kedua asimptot (Sitompul dan Guritno, 1995).

10

BAHAN DAN METODE


Waktu dan Tempat Percobaan
Adapun praktikum ini dilaksanakan mulai hari Sabtu, 26 September 2015
sampai

selesai,

di

Laboratorium

Fisiologi

Tanaman,

Program

Studi

Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan


Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam percobaan adalah cangkul sebagai alat
untuk mengolah lahan, batu bata sebagai alas polybag, meteran untuk mengukur
lahan yang akan diamati dan mengukur tinggi tanaman, pacak untuk menjadi
penanda batas areal percobaan, gembor sebagai wadah air untuk menyiram
tanaman, buku data untuk menulis hasil pengamatan, ember sebagai alat untuk
mengangkut pasir dan tanah, penggaris sebagai alat untuk mengukur tinggi
tanaman, serta alat tulis yang membantu dalam proses pencatatan hasil
pengamatan.
Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan adalah benih jagung
(Zea mays L.) dan benih kacang hijau (Phaseolus radiatus L.) sebagai sampel
tumbuhan yang akan diamati pertumbuhannya, top soil, pasir dan kompos sebagai
media tanam dengan perbandingan 2:1:1, polybag 10 Kg sebagai media tanam,
spanduk sebagai pembatas area lahan percobaan, label nama sebagai identitas
tanaman yang akan diamati, serta air untuk menyiram tanaman.
Prosedur Percobaan

Diolah lahan dengan ukuran 4 x 10 m dengan cangkol


Dipacaki setiap batas lahan
Dicampur tanah top soil, pasir dan kompos (2:1:1)
Dimasuki campuran tanah tersebut ke dalam polybag 10 Kg

11

Diatur letak polybag dalam lahan (4x10 m) dengan skala 10 baris 4

kolom,sehingga diperoleh 40 polybag yang tersusun.


Diletakkan batu bata sebagai alas polybag di lahan
Ditanam benih jagung dengan kedalaman 5 cm
Diamati jumlah daun dan tinggi tanaman jagung setiap minggu
Digambar grafiknya.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil
Komoditi

: Jagung (Zea mays L.)

12

Tanggal Tanam

: 26 September 2015

Tabel 1.1 Parameter Tinggi Tanaman Jagung (Zea mays L.)


Waktu
Pengamata
n (MST)
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Tinggi tanaman
Sampel 1 (cm)

Tinggi tanaman
Sampel 2 (cm)

16.2
29.1
33.2
54
89.3
100.5
102.0
102.5
103.1

17.1
30.3
44.1
69.2
80.1
96
97.5
98
98.4

Tinggi
Tanaman Rataan (cm)
16.65
29.7
38.65
61.6
84.7
98.25
99.75
100.25
100.75

Berdasarkan tabel 1.1 dapat diketahui bahwa pada parameter tinggi


tanaman fase logaritmik terlihat pada waktu pengamatan 4-5 MST dengan tinggi
rataan tanaman 61.6 cm dan 84.7 cm, sedangkan fase linear pada waktu
pengamatan 5-6 MST dengan tinggi tanaman 84.7 cm dan 98.25 cm dan fase
penuaan pada pengamatan 7-8 MST dengan tinggi tanaman 145,2 cm dan 149 cm.

120
100
80
60

Tinggi Tanaman Jagung (Zea


mays L.)

40
20
0
1
(cm)

Gambar 1.1 Grafik Tinggi Tanaman Jagung (Zea mays L.)


Berdasarkan grafik 1.1 dapat diketahui bahwa pada parameter tinggi
tanaman fase logaritmik terlihat pada waktu pengamatan 4-5 MST dengan tinggi

13

tanaman 61,6 cm dan 84,7 cm, sedangkan fase linear pada waktu pengamatan 5-6
MST dengan tinggi tanaman 84,7 cm dan 98,25 cm dan fase penuaan pada
pengamatan 7-9 MST dengan tinggi tanaman 99,75 cm dan 100,75 cm.
Tabel 1.2 Parameter Jumlah Daun Tanaman Jagung (Zea mays L.)
Waktu
Pengamata
n (MST)
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Jumlah Daun
Sampel 1 (helai)

Jumlah Daun
Sampel 2 (helai)

2
3
4
5
5
5
7
7
9

2
3
4
5
5
5
7
8
8

Jumlah Daun
Tanaman Rataan
(helai)
2
3
4
5
5
5
7
7,5
8,5

Berdasarkan tabel 1.2 dapat diketahui bahwa pada parameter jumlah daun
tanaman fase logaritmik terlihat pada waktu pengamatan 3-4 MST dengan jumlah
daun tanaman 4 menjadi 5, sedangkan fase linear pada waktu pengamatan 6-7
MST dengan jumnlah daun tanaman 5 menjadi 7 dan fase penuaan pada
pengamatan 8-9 MST dengan jumlah daun tanaman 7,5 menjadi 8,5

14

8
7
6
5
4

Jumlah Daun Jagung


mays L.)

3
2
1
0
1

Gambar 1.2 Grafik Jumlah Daun Tanaman Jagung (Zea mays L.)
Berdasarkan grafik 1.2 dapat diketahui bahwa pada parameter jumlah daun
tanaman fase logaritmik terlihat pada waktu pengamatan 3-4 MST dengan jumlah
daun tanaman 4 dan 5, sedangkan fase linear pada waktu pengamatan 6-7 MST
dengan jumlah daun tanaman 5 menjadi 7 dan fase penuaan pada pengamatan 8-9
MST dengan jumlah daun tanaman 7,5 menjadi 8,5
Komoditi

: Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L.)

Tanggal Tanam

: 26 September 2015

Tabel 1.3 Parameter Tinggi Tanaman Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L.)
Waktu
Tinggi tanaman
Tinggi tanaman
Tinggi
Pengamata
Sampel 1 (cm)
Sampel 2 (cm)
Tanaman Rataan
n (MST)
(cm)
1
10.3
10.6
10.45
2
15.1
16.5
15.8
3
17.7
21.5
19.6
4
21.5
22
21.75
5
39.7
25.1
32.4
6
46.5
29
37.75
7
50.4
37.2
43.8
8
51.8
41.7
46.75
9
52.5
43.2
47.85

(Zea

15

Berdasarkan tabel 1.3 dapat diketahui bahwa pada parameter tinggi


tanaman fase logaritmik terlihat pada waktu pengamatan 4-5 MST dengan tinggi
rataan tanaman 21,75 cm menjadi 32,4 cm, sedangkan fase linear pada waktu
pengamatan 6-7 MST dengan tinggi tanaman 37,75 cm menjadi 43,8 cm dan fase
penuaan pada pengamatan 8-9 MST dengan tinggi tanaman 46,75 cm dan 47,85
cm.
60
50
40
Tinggi Tanaman
Kacang Hijau
(Phaseolus radiatus L.)
Tinggi Tanaman
Kacang Hijau
(Phaseolus radiatus L.)

30
20
10
0
1

Gambar 1.3 Grafik Tinggi Tanaman Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L.)
Berdasarkan grafik 1.3 dapat diketahui bahwa pada parameter tinggi
tanaman fase logaritmik terlihat pada waktu pengamatan 4-5 MST dengan tinggi
rataan tanaman 21,75 cm menjadi 32,4 cm, sedangkan fase linear pada waktu
pengamatan 6-7 MST dengan tinggi tanaman 37,75 cm menjadi 43,8 cm dan fase
penuaan pada pengamatan 8-9 MST dengan tinggi tanaman 46,75 cm dan 47,85
cm.
Tabel 1.4 Parameter Jumlah Daun Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L.)

16

Waktu
Pengamata
n (MST)
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Jumlah Daun
Sampel 1 (helai)

Jumlah Daun
Sampel 2 (helai)

2
3
4
7
9
11
10
9
9

2
3
4
7
8
10
9
8
8

Jumlah Daun
Tanaman Rataan
(helai)
2
3
4
7
8.5
10.5
9.5
8.5
8.5

Berdasarkan tabel 1.4 dapat diketahui bahwa pada parameter jumlah daun
tanaman fase logaritmik terlihat pada waktu pengamatan 3-4 MST dengan jumlah
daun tanaman 4 dan 7 helai , sedangkan fase linear pada waktu pengamatan 5-6
MST dengan jumnlah daun tanaman 8.5 dan 10.5 dan fase penuaan pada
pengamatan 8-9 MST dengan jumlah rataan daun tanaman 8.5
12
10
8
Tinggi Tanaman
Kacang hijau
(Phaseolus radiatus L.)

6
4
2
0
1

Gambar 1.4 Grafik Jumlah Daun Tanaman Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L.)
Berdasarkan grafik 1.4 dapat diketahui bahwa pada parameter jumlah daun
tanaman fase logaritmik terlihat pada waktu pengamatan 3-4 MST dengan jumlah
daun tanaman 4 dan 7 helai , sedangkan fase linear pada waktu pengamatan 5-6

17

MST dengan jumnlah daun tanaman 8.5 dan 10.5 dan fase penuaan pada
pengamatan 8-9 MST dengan jumlah rataan daun tanaman 8.5
Pembahasan
Dari

hasil

pengamatan

dapat

diketahui

bahwa

tanaman

jagung (Zea mays L.) mengalami fase logaritmik, hal ini dapat dilihat pada rataan
tinggi tanaman jagung. Pada 4 MST sampai 5 MST yaitu 61,6 cm menjadi 84,7
cm dan pada rataan daun tanaman jagung dari 4 helai menjadi 5 helai. Fase ini
menunjukkan adanya pertumbuhan ukuran dan jumlah seiring jalannya waktu. Hal
ini sesuai dengan literatur Salibury dan Ross (1995) yang menyatakan bahwa pada
fase logaritmik, ukuran (V) bertambah secara eksponensial sejalan dengan waktu
(t). Ini berarti laju pertumbuhan (dv/dt) lambat pada awalnya dan kemudian akan
meningkat terus.
Pada tanaman jagung (Zea mays L.) di minggu ke 5 sampai minggu ke 6,
perubahan rataan tinggi tanaman jagung dari 61,6 cm menjadi 84,7 cm dan pada
rataan daun tanaman jagung pada saat itu 5 menjadi 7 helai. Fase ini merupakan
fase linier yang dicirikan dengan pertumbuhan konstan. Hal ini sesuai dengan
literatur Salibury dan Ross (1995) yang menyatakan bahwa pada fase linier, akan
menunjukan fase yang konstan biasanya pada laju maksimum selama beberapa
waktu lamanya.
Pada tanaman jagung (Zea mays L.) di minggu ke 7 MST sampai minggu
ke MST tidak mengalami peningkatan tinggi yang berarti yaitu dari 99,75 cm
menjadi 100,75 cm dan perkembangan daun dari 7,5 sampai 8,5 helai. Hal ini
menujukkan bahwa tanaman jagung mengalami fase penuaan, fase penuaan ini
menunjukkan adanya penurunan karena tanaman jagung telah mencapai

18

kematangan. Hal ini sesuai dengan literatur Salisbury dan Ross (1995) yang
menyatakan bahwa fase penuaan laju pertumbuhan yang menurun saat tumbuhan
sudah mencapai kematangan dan mulai meuna
Dari

hasil

pengamatan

terlihat

pada

tanaman

kacang

hijau

(Phaseolus radiatus L.) dapat dilihat bahwa pada 4 MST hingga 5 MST terlihat
pertambahan tinggi yang hebat dari 21,75 cm menjadi 32,4 cm dan jumlah helaian
daun 4 helai menjadi 7 helai dan pada saat itu kacang hijau mengalami fase
logaritmik. Fase ini menunjukkan adanya pertambahan ukuran atau jumlah seiring
berjalannya waktu. Hal ini sesuai dengan literatur Salibury dan Ross (1995) yang
menyatakan bahwa pada fase logaritmik, ukuran (v) bertambah secara
eksponensial sejalan dengan waktu (t). Ini berarti laju pertumbuhan (dv/dt) lambat
pada awalnya dan kemudian akan meningkat terus.
Pada tanaman kacang hijau (Phaseolus radiatus L.) di 6 MST hingga 7
MST, pertambahan tinggi tanaman 37,75 cm menjadi 43,8 cm dengan
pertambahan helaian daun dari 8,5 menjadi 10,5 helai. Fase ini merupakan fase
linier yang dicirikan dengan pertumbuhan konstan. Hal ini sesuai dengan literatur
Salibury dan Ross (1995) yang menyatakan bahwa pada fase linier, akan
menunjukan fase yang konstan. Pertumbuhan ukuran terjadi secara konstan dan
pada fase ini pertumbuhan akan berlangsung lamanya.
Diminggu

ke

MST

dan

ke

MST

pada

tanaman

kacang hijau (Phaseolus radiatus L.) didapati bahwa tinggi tanaman tidak
mengalami penambahan yang berarti, namun pn ada rataadaun mengalami
perubahan yaitu 8,5 helai. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman kacang hijau
mulai mengalami fase penuaan dan fase ini menunjukkan adanya penurunan

19

karena tanaman kacang hijau telah mencapai kematangan . Hal ini sesuai dengan
literatur Salisbury dan Ross (1995) yang menyatakan bahwa fase penuaan laju
pertumbuhan yang menurun saat tumbuhan sudah mencapai kematangan dan
mulai menua.
Faktor-faktor yang

mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan

secara luas dapat dikategorikan dalam faktor eksternal dan internal. Faktor
eksternal berupa cahaya, temperatur, air, panjang hari, angin, bahan organik,
kapasitas tukar kation, pH, bakteri denitrifikasi serta mikhoriza. Faktor internal
berupa ketahanan terhadap tekanan iklim, tanah dan biologis, laju fotosintetik,
respirasi, dan pembagian hasil asimilasi. Hal ini sesuai dengan literatur
Pandey dan Sinha (2002) yang menyatakan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan adalah suplai makanan, air, oksigen, temperatur
(suhu), cahaya, hormon-hormon pertumbuhan, dan lain sebagainya.

KESIMPULAN DAN SARAN

20

Kesimpulan
1. Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa tanaman jagung (Zea mays L.)
mengalami fase logaritmik, hal ini dapat dilihat pada rataan tinggi tanaman
jagung. Pada 4 MST sampai 5 MST yaitu 61,6 cm menjadi 84,7 cm dan pada
rataan daun tanaman jagung dari 4 helai menjadi 5helai.
2. Pada tanaman jagung (Zea mays L.) di minggu ke 5 sampai minggu ke 6,
perubahan rataan tinggi tanaman jagung dari 84,7 cm menjadi 98,25 cm dan
pada rataan daun tanaman jagung pada saat itu 5 sampai 7 helai.
3. Pada tanaman jagung (Zea mays L.) di minggu ke 7 MST sampai minggu ke
9 MST tidak mengalami peningkatan tinggi yang berarti yaitu dari 99,75 cm
menjadi 100,75 cm dan perkembangan daun dari 7,5 sampai 8,5 helai.
4. Pada pengamatan tanaman kacang hijau (Phaseolus radiatus L.) dapat dilihat
bahwa pada 4 MST hingga 5 MST terlihat pertambahan tinggi yang hebat dari
21,75 cm menjadi 32,4 cm dan jumlah helaian daun dari 4 menjadi 7 helai
dan pada saat itu kedelai mengalami fase logaritmik.
5. Pada tanaman kacang hijau (Phaseolus radiatus L.) di 6 MST hingga 7 MST,
pertambahan tinggi tanaman 37,75 cm menjadi 43,8 cm dengan pertambahan
helaian daun dari 8,5 menjadi 10,5 helai.
6. Pada tanaman kacang hijau (Phaseolus radiatus L.) di 8 MST hingga 9 MST,
pertambahan tinggi tanaman 46,75

cm menjadi 47,85 cm dengan

pertambahan rataan helaian daun tetap 8,5 helai


7. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan secara
luas dapat dikategorikan dalam faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal
berupa cahaya, temperatur, dan air. Faktor internal berupa laju fotosintetik,
respirasi, dan pembagian hasil asimilasi.
Saran

21

Sebaiknya pada saat percobaan kurva sigmoid lebih diperhatikan dalam


perawatannya agar unsur hara tidak diserap gulma yang mengakibatkan
pertumbuhan kerdil dan data yang didapat juga akurat.

DAFTAR PUSTAKA
AAK. 1993. Teknik Bercocok Tanam Jagung. Kanisius, Yogyakarta.
Adisarwanto, T. 2000. Meningkatkan Produksi Jagung di Lahan Kering Sawah
dan Pasang Surut. Penebar Swadaya. Jakarta.

22

Adisarwanto dan Widyastuti. 2009. Teknik Bertanam Jagung. Kanisius.


Yogyakarta.
Campbell, N.A. Jane B. Reece and Lawrence G. Mitchell. 2002. Biologi. edisi 5.
jilid 3. Alih Bahasa: Wasman manalu. Erlangga. Jakarta.
Decoteau, D. R. 2000. Vegetable Crops. Prentice Hall Upper Saddle River, United
States of Amerika.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan.2012. Kacang Hijau di Kabupaten
Gorontalo.Gorontalo.
Emedinta, Ardyan. 2004. Pengaruh Taraf Pupuk Organik yang Diperkaya
Terhadap Pertumbuhan Jagung Manis dan Sifat Kimia Tanah pada Latosol
di Darmaga. Skripsi. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Latunra, A.I. 2014. Penuntun Praktikum Struktur Perkembangan Tumbuhan II .
Universitas Hasanuddin. Makassar
Liza, K. 2008
: Respon Pertumbuhan Dan Produksi Kacang Hijau
(Phaseolus radiatus L.) Pada Beberapa Komposisi Lumpur Kering
Limbah Domestik Sebagai Media Tanam. Skripsi.USU.Medan
Makmur. 2003. Pedoman Bercocok Tanam Padi , Jagung , Palawija dan Sayuran.
Jakarta : Badan Pelaksana Bimas
Pandey, S. N., dan B. K. Sinha. 2002. Plant Physiology. Vikas Publishing House
Pvt Ltd, New Delhi.
Rukmana, R., 2010 Usaha Tani Jagung. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Salisbury, F. B., dan C. W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid Satu: Sel: Air,
Larutan, dan Permukaan. Penerbit ITB Bandung, Bandung.
Sitompul, F. B., dan B. Guritno. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Gadjah
Mada University Press, Yogyakarta.
Suprapto, H. S. dan A. R. Marzuki, 2005. Bertanam Jagung. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Warisno. 1998. Jagung Hibrida. Kanisius. Yogyakarta.