Anda di halaman 1dari 15

EVALUATION OF

ETIOLOGY AND
TREATMENT METHODS
FOR EPISTAXIS
A REVIEW AT A TERTIARY CARE HOSPITAL IN CENTRAL NEPAL

EVALUASI ETIOLOGI
DAN METODE
PERAWATAN
EPISTAKSIS
SEBUAH ULASAN PADA RUMAH SAKIT PERAWATAN TERSIER
DI NEPAL TENGAH

BACKGROUND
Epistaksis merupakan salah satu kedaruratan paling
sering ditemui pada THT
Biasanya hanya membutuhkan tatalaksana konservatif
sederhana tetapi terkadang membutuhkan rawat inap
Insiden sulit dinilai, perkiraan statistika: sekitar 60%
populasi akan mengalami epistaksis disuatu saat dalam
hidupnya, dan sekitar 6% membutuhkan penanganan
medis

PERMASALAHAN
Tidak ada protokol pasti dalam penanganan
epistaksis, walaupun terdapat berbagai macam
cara penanganan
Tidak ada data mengenai macam penggunaan
modalitas terapi berdasarkan etiologi dari epistaksis
Tidak adanya data empiris mengenai etiologi
epistaksis yang membutuhkan hospitalisasi

PERTANYAAN PENELITIAN
Langkah- langkah apakah
penanganan epistaksis?
Apakah
penderita
perempuan?

laki-laki

yang
lebih

patut

dilakukan

banyak

dalam

dibandingkan

Berapakah persentase epistaksis anterior dan posterior?


Berapakah persentase epistaksis berdasarkan etiologi?
Berapakah persentase tatalaksana berdasarkan modalitas terapi
yang digunakan?
Apakah penyebab tersering epistaksis?
Apakah penyebab kedua tersering epistaksis?

HIPOTESIS
Penyebab tersering epistaksis merupakan penyebab idiopatik
(tidak dapat diidentifikasi)
Penyebab tersering kedua epistaksis adalah hipertensi
Tatalaksana konservatif cukup untuk menanggulangi sebagian
besar kasus epistaksis
Epistaksis anterior lebih banyak terjadi dibandingkan
epistaksis posterior

BAHAN DAN CARA


Studi retrospektif
Subjek: pasien yang masuk dengan epistaksis pada bagian THT
Chiwan Medical College Teaching Hospital antara bulan May
2014- April 2015. Pasien berasal dari unit rawat jalan, unit gawat
darurat dan rujukan dari departemen lain. Pasien meliputi seluruh
rentang usia.
Kriteria inklusi: Pasien segala umur, gender apapun, yang
mengalami epistaksis
Kriteria eksklusi: Pasien yang tidak melakukan admisi pada
tempat penelitian selama jangka waktu penelitian

BAHAN DAN CARA

Investigasi rutin meliputi, hitung darah lengkap,


hemoglobin, trombosit, gula darah sewaktu,
elektrolit, ureum/creatinine, urin rutin, golongan
darah.
Faktor koagulasi: PT, APTT, bleeding time, clotting
time,
CT scan kepada pasien tertentu untuk menyingkirkan
kemungkinan neoplasma pada hidung, sinus
paranasal dan nasofaring
ECG, CXR untuk kasus yang membutuhkan operasi
dalam keadaan anesthesia umum

BAHAN DAN CARA


Investigasi awal menggunakan rinoskopi anterior --- site of
bleeding
Pasien dengan perdarahan berulang atau perdarahan di
bagian posterior atau pada rinoskopi anterior tidak
menunjukkan adanya perdarahan dilakukan nasoendoskopi
Penatalaksanaan meliputi konservatif dan pembedahan
Konservatif: nasal drop oxymetazoline atau xylometazoline,
cauterization dari tempat perdarahan secara elektrik maupun
kimiawi, anterior & posterior nasal packing (tampon)
Pembedahan: endoscopic electrocauterization, Endoscopic SPA
ligation

BAHAN DAN CARA


Tatalaksana konservatif dilakukan terlebih dahulu
Pada bagian anterior dengan kauterisasi kimiawi Silver Nitrate 75 % atau
elektrokauterisasi dengan bipolar kauter
Pada bagian posterior dengan elektrokauterisasi terbantu nasoendoskop
Perdarahan diffuse: tampon anterior dengan sponge gelatin atau kain kassa
Perdarahan berulang pada tampon anterior --- dipasang tampon posterior

Tatalaksana bedah jika cara-cara sebelumnya gagal mengatasi


perdarahan

HASIL
84 pasien dengan epistaksis
Rentang usia 5 tahun hingga 86 tahun, 52 laki-laki 32 perempuan
60 (71.42 %) pasien masuk melalui UGD, 18 (21.42%) pasien melalui URJ dan 6
(7.14%) pasien melalui rujukan dari departemen lain
Epistaksis anterior 54 pasien (64.28%) epistaxis posterior 30 pasien (35.71%)
Etiologi: 32 (38.09%) idopatik, 23 pasien hipertensi (27.38%), trauma 13 pasien
(15.47%), koagulopati 7 pasien (8.33%)
Modalitas terapi

79 pasien (94.04%) dengan terapi konservatif: 7 pasien dengan observasi tanpa


intervensi, 44 pasien (52.38%) dengan tampon anterior, kauterisasi kimiawi 12 pasien
(14.28%) kauterisasi elektrik 2 (2.38%) pasien, 14 pasien tampon posterior (16.66%)

5 pasien (6%) menjalani terapi bedah, 2 pasien reseksi tumor, 2 pasien kauterisasi
endoskopik, 1 pasien septoplasty

DISKUSI
Epistaksis sering ditemui pada praktik sehari-hari
Terjadi pada semua rentang umur
Dibagi menjadi anterior dan posterior
Anterior jarang membahayakan karena letaknya
mudah diidentifikasi, sumbernya berasal dari plexus
kiesselbach
Posterior, sulit untuk mengjhentikan perdarahan
karena letaknya yang dalam, sumber berasal dari
plexus Woodruff
Faktor usia berpengaruh terhadap perpanjangan
durasi perdarahan

DISKUSI

Epistaxis lebih sering pada anak-anak usia kurang dari 10 (18


pasien: 21.42 %) tahun dan usia tua lebih dari 60 tahun (24
pasien: 28.57%) sesuai dengan hasil penelitian Pallin et.al
Laki-laki > banyak menderita disbanding perempuan dengan
perbandingan 1:1.6 sesuai dengan penelitian lain (Huang dan
Mgbor), kemungkinan karena pria lebih banyak melakukan
aktivitas luar ruang disbanding perempuan.
Prevalensi yang lebih banyak pada anak-anak kemungkinan
karena kebiasaan mengupil
Prevalensi yang banyak pada usia tua karena adanya
komorbiditas seperti hipertensi dan diabetesmellitus
Etiologi terbanyak pada epistaksis adalah idiopatik, sesuai
dengan studi dari Christensen et.al

DISKUSI
Tatalaksana terbagi dua menjadi pendekatan nonsurgical dan surgical
Non surgical termasuk, kompresi nasal digital,
vasokonstriktor topical, kauterisasi local (kimiawi
maupun elektrikal, tampon anterior atau posterior
Surgikal termasuk: selective arterial embolization,
arterial ligation

KESIMPULAN

Epistaksis merupakan kondisi kedaruratan


yang sering ditemui pada THT, yang bisa
diderita oleh semua kelompok umur. Penyebab
paling sering epistaksis yang dapat
diidentifikasi adalah hipertensi, trauma, dan
koagulopati. Terapi konservatif dibuktikan
efektif untuk menatalaksana epistaksis pada
sebagian besar pasien. Terapi surgical,
dilakkan jika terapi konservatif gagal untuk
mengendalikan epistaksis