Anda di halaman 1dari 8

PENGANTAR AKUNTANSI KEPERILAKUAN &

PERTIMBANGAN DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM


AKUNTANSI KEPERILAKUAN

OLEH: KELOMPOK 1

I GUSTI AGUNG PRAMESTI DWI PUTRI

(1491662026) (7)

A.A PT. AGUNG MIRAH PURNAMA SARI

(1491662027) (8)

NI WAYAN LADY ANDINI

(1491662028) (9)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
2015
1

PENGANTAR AKUNTANSI KEPERILAKUAN

A. DEFINISI DAN RUANG LINGKUP AKUNTANSI KEPERILAKUAN


Akuntansi keperilakuan adalah suatu studi tentang perilaku akuntan atau non-akuntan yang
dipengaruhi oleh fungsi-fungsi akuntansi dan pelaporan akuntansi. Akuntansi keperilakuan
menekankan pada pertimbangan dan pengambilan keputusan akuntan dan auditor, pengaruh dari
fungsi akuntansi, dan fungsi auditing terhadap perilaku.
Menurut Belkoui (1989), akuntansi keperilakuan menekankan pada relevansi dari
informasi akuntansi terhadap pengambilan keputusan individu maupun kelompok yang
disebabkan oleh terjadinya komunikasi diantara mereka. Akuntansi keperilakuan merupakan
cabang ilmu akuntansi yang mempelajari hubungan antara perilaku manusia dengan sistem
informasi akuntansi. Istilah sistem informasi akuntansi yang dimaksud disini dalam arti yang
luas meliputi seluruh desain alat pengendalian manajemen yang meliputi sistem pengendalian,
sistem penganggaran, desain akuntansi pertanggungjawaban, desain organisasi seperti
desentralisasi atau sentralisasi, desain kolektibilitas biaya, penilaian kinerja, serta laporan
keuangan. Ruang lingkup akuntansi keperilakuan meliputi:
a. Mempelajari pengaruh antara perilaku manusia terhadap konstruksi, bangunan, dan
penggunaan sistem informasi akuntansi yang diterapkan dalam perusahaan dan organisasi,
yang berarti bagaimana sikap dan gaya kepemimpinan manajemen memengaruhi sifat
pengendalian akuntansi dan desain akuntansi.
b. Mempelajari pengaruh sistem informasi akuntansi terhadap perilaku manusia, yang berarti
bagaimana sistem akuntansi memengaruhi kinerja, motivasi, produktivitas, pengambilan
keputusan, kepuasan kerja dan kerjasama.
c. Metode untuk menjelaskan dan memprediksi perilaku manusia dan strategi untuk
mengubahnya, yang berarti bagaimana sistem akuntansi dapat dipergunakan untuk
memengaruhi perilaku, dan bagaimana mengatasi resistensi itu.

B. ASPEK-ASPEK PENTING DALAM AKUNTANSI KEPERILAKUAN


1. Teori Perusahaan dan Keperilakuan Manajerial
2

Teori organisasi modern memandang adanya interaksi antar elemen organisasi untuk
mendukung tujuan organisasi. Secara lebih spesifik, teori organisasi modern berkonsentrasi
pada perilaku pengarahan tujuan perusahaan, motivasi, dan karakteristik penyelesaian
masalah. Tujuan organisasi dipandang sebagai hasil dari proses saling memengaruhi dalam
perusahaan, penentuan batas-batas dalam pengambilan keputusan, dan peranan dari
pengendalian internal yang diciptakan oleh perusahaan.
2. Penganggaran dan Perencanaan
Fokus dari area ini adalah formulasi tujuan organisasi dan interaksi perilaku individu.
Keselarasan antara tujuan individu dengan tujuan organisasi menjadi rerangka manajerial
mengembangkan organisasi. Dua isu penting dalam bidang penganggaran dan perencanaan
adalah organizational slack dan budgetary slack.
3. Pengambilan Keputusan
Fokus dalam bidang ini adalah teori-teori dan model-model tentang pengambilan keputusan.
Ada teori normatif, paradoks, dan model deskriptif dalam pengambilan keputusan.
4. Pengendalian
Aspek pengendalian sangat penting dalam organisasi perusahaan. Semakin besar perusahaan,
memerlukan tindakan pengendalian yang semakin intensif. Lingkungan pengendalian
melibatkan banyak aspek keperilakuan di dalamnya. Lingkungan pengendalian berada pada
level dasar dan merupakan prasyarat dari komponen-komponen lainnya.
5. Pelaporan Keuangan
Aspek keperilakuan dalam pelaporan keuangan meliputi perilaku perataan laba dan keandalan
informasi akuntansi dan relevansi informasi akuntansi bagi investor. Perataan laba adalah
bagian dari manajemen laba yang disebabkan oleh pihak manajemen mempunyai informasi
privat untuk kepentingan dirinya. Manajemen laba intinya adalah masalah keperilakuan, yaitu
perilaku manajemen yang mementingkan dirinya sendiri dalam suatu pola keagenan.

PERTIMBANGAN DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM AKUNTANSI


KEPERILAKUAN
A. PERTIMBANGAN DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pengambilan keputusan tidak krusial adalah pengambilan keputusan ringan yang tidak
mempunyai kebermaknaan dan akibat besar. Keputusan krusial adalah keputusan yang
3

mempunyai implikasi luas dan mempunyai spektrum dengan determinasi tinggi. Model
pengambilan keputusan dikembangkan atas dasar asumsi bahwa keputusan didasarkan atas
rasionalitas. Model rasionalitas memandang pengambil keputusan sebagai manusia rasional,
dimana mereka selalu konsisten dalam membuat pilihan pemaksimuman nilai di dalam lingkup
keterbatasan-keterbatasan tertentu. Pengambilan keputusan secara sistematis dipengaruhi oleh
cara penyampaian informasi.
B. ANATOMI SUATU KEPUTUSAN
Suatu keputusan harus dibuat berdasarkan pertimbangan-pertimbangan. Pertimbangan
untuk masing-masing situasi tentunya tidak sama, sebab setiap situasi memiliki masalah yang
berbeda. Masalah yang berbeda akan mempunyai sejumlah alternatif peluang penyelesaiannya
masing-masing. Terdapat enam langkah dalam proses pengambilan keputusan secara rasional,
yaitu:
1. Menentukan Permasalahan
Penting bagi manajer untuk memahami permasalahan yang akan diselesaikan untuk
menghindari potensi menyelesaikan permasalahan yang salah. Langkah-langkah yang
dilakukan untuk mendefinisikan masalah adalah pertama, menentukan permasalahan yang
muncul dalam mencapai tujuan. Kedua, mendiagnosis permasalahan dengan memahami
gejala-gejalanya.
2. Mengidentifikasi Kriterianya
Melalui identifikasi kriteria ini kita dapat mengetahui hal-hal apa saja yang harus dipenuhi
terkait dengan keputusan yang akan dibuat.

3. Mengukur Kinerja
Kriteria yang telah diidentifikasi masing-masing harus ditentukan bobotnya untuk mengetahui
seberapa penting suatu kriteria bagi keputusan yang akan dibuat.
4. Menciptakan Alternatif
Alternatif solusi atas masalah yang akan diselesaikan dibuat bersama-sama dalam tim sebagai
tambahan rencana penyelesaian masalah.
5. Mengukur Nilai Alternatif dari Setiap Kriteria
4

Penilaian alternatif solusi dilakukan dengan seberapa besar solusi dapat memenuhi setiap
kriteria yang telah ditentukan sebelumnya.
6. Menghitung Keputusan yang Terbaik
Setelah

kelima

tahap

dilakukan,

pembuatan

keputusan

dapat

dilakukan

dengan

membandingkan nilai akhir dari setiap alternatif solusi yang telah dibuat. Alternatif yang
memiliki hasil yang optimal yang akan dipilih.
C. BOUNDED RATIONALITY
Pendekatan proses pengambilan keputusan secara rasional sangat sulit dilakukan karena
pada kenyataannya manajer dalam dunia nyata dituntut untuk melakukan pengambilan keputusan
yang cepat, sehingga dalam pengambilan keputusan manajer akan terbatasi oleh waktu, faktor
internal dan eksternal serta sifat alamiah suatu permasalahan yang tidak memungkinkan untuk
dilakukannya suatu analisa menyeluruh terhadap permasalahan tersebut. Hal ini menjadikan
pengambilan keputusan secara rasional menjadi terbatasi (bounded rationality perspective).
Pengambilan keputusan menggunakan pendekatan ini umumnya lebih menekankan pada aspek
intuisi, pengalaman dan penilaian (judgement) dibandingkan dengan langkah-langkah logis.
Intuisi tidak selalu bersifat irasional, karena intuisi didasarkan atas pengalaman bertahun-tahun
dari seorang manajer terhadap pekerjaannya yang telah tersimpan di alam bawah sadarnya.
Intuisi akan menghasilkan keberanian serta firasat mengenai alternatif keputusan mana yang
diperkirakan dapat memecahkan permasalahan, sehingga intuisi akan mempersingkat waktu
dalam pengambilan keputusan.

REVIEW ARTIKEL
1. Judul
The Effect of Justification Type on Agreement with a Decision Aid and Judgement
Performance
2. Latar Belakang

Pembantu pembuat keputusan digunakan untuk meningkatkan konsistensi judgement,


sehingga dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam audit. Hasil dari penelitianpenelitian sebelumnya belum ada yang menggambarkan mengenai pola umum bagaimana
dan kapan pembuat keputusan akan menggunakan bantuan. Penelitian ini meneliti salah satu
karakteristik dari lingkungan keputusan yang dapat dimanipulasi dengan kebijakan
organisasi dan justifikasi dari sebuah keputusan. Selanjutnya peneliti melakukan penelitian
tentang tiga level justifikasi yang dibutuhkan (no justification, unconditional justification,
dan justification of disagreement) untuk menentukan pengaruhnya terhadap kesepakatan
pembuat keputusan dengan pembantu pembuat keputusan dan kinerja dalam pengambilan
keputusan.
Level pertama, yaitu no justification terjadi ketika pembuat keputusan menggunakan
pembantu pembuat keputusan dan membuat justifikasi secara tidak eksplisit (pembenaran
yang tidak jelas) untuk keputusannya. Kedua, unconditional justification terjadi ketika
pembuat keputusan harus secara eksplisit menjustifikasi keputusannya. Ketiga, justification
of disagreement terjadi ketika pembuat keputusan harus secara eksplisit menjustifikasi
keputusannya hanya ketika keputusannya berbeda dari rekomendasi yang diajukan oleh
pembantu pembuat keputusan.
3. Hipotesis
H1:

Untuk kondisi tanpa pembantu pembuat keputusan, kinerja pembuat keputusan


akan lebih baik dengan menggunakan unconditional justification daripada
menggunakan no justification.

H2:

Untuk kondisi dengan pembantu pembuat keputusan, kesepakatan pembuat


keputusan dengan pembantu pembuat keputusan akan lebih baik dengan
menggunakan

justification

of

disagreement

daripada

menggunakan

no

justification atau unconditional justification.


H3:

Untuk kondisi dengan pembantu pembuat keputusan, kinerja dari pembuat


keputusan akan lebih baik dengan menggunakan justification of disagreement
daripada menggunakan no justification atau unconditional justification.

4. Metoda Penelitian
6

Penelitian pada artikel ini menggunakan metoda eksperimen. Partisipan ditugaskan


untuk memilih secara acak salah satu dari lima kondisi eksperimental. Empat kondisi
pertama terdiri dari dua level keputusan bantuan (ada atau tidak ada) disilangkan dengan dua
level dari persyaratan justifikasi (no justification dan unconditional justification). Kondisi
kelima termasuk kehadiran dari bantuan keputusan dan justification of disagreement.
Tugas eksperimen digunakan untuk mengestimasi gaji awal rata-rata lulusan Program
Masters of Business Administration (MBA) di Amerika, dengan menggunakan tiga item
penilaian berdasarkan dari skor Graduate Management Admission Test (GMAT), usia saat
masuk, dan rata-rata waktu belajar per hari. Partisipan merupakan 220 sarjana jurusan bisnis
dari dua universitas di daerah perkotaan. Dua belas partisipan dikeluarkan dari sampel awal
karena kesalahpahaman atau kegagalan untuk mengikuti instruksi dengan benar, menyisakan
sampel yang dapat digunakan sebanyak 208 partisipan. 53 persen dari partisipan adalah
wanita dengan usia rata-rata 28 tahun. Sesi eksperimen berlangsung tiga puluh menit dan
tidak ada tekanan kepada subjek untuk menyelesaikannya. Empat pengukuran dependen
dibangun dari 16 pertimbangan yang dibuat oleh partisipan. Dua digunakan untuk mengukur
kesepakatan dengan keputusan bantuan dan dua lainnya mengukur kinerja.
5. Hasil dan Pembahasan Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa H1 diterima. Hal ini berarti untuk
kondisi tanpa pembantu pembuat keputusan, kinerja pembuat keputusan akan lebih baik
dengan menggunakan unconditional justification daripada menggunakan no justification.
Selanjutnya, justification of disagreement akan meningkatkan kesepakatan keputusan gaji
dengan rekomendasi dari pembantu pembuat keputusan. Hal ini menunjukkan bahwa H2
diterima. Terakhir, justification of disagreement akan meningkatkan kinerja dari para
pengambil keputusan yang menggunakan bantuan keputusan.
6. Keterbatasan Penelitian
Terdapat beberapa keterbatasan dalam penelitian. Penggunaan mahasiswa sebagai
subyek merupakan keterbatasan potensial, namun telah dikurangi dengan menggunakan
tugas yang kemungkinan besar akan mereka hadapi. Keterbatasan lainnya dari penelitian ini
adalah bantuan keputusan merupakan hasil regresi sederhana, dimana kurangnya
7

karakteristik interaktif yang mungkin terjadi di beberapa keputusan bantuan operasional.


Oleh karena itu, hasil ini tidak dapat digeneralisasi.
7. Kemungkinan Replikasi
Penelitian selanjutnya diharapkan untuk memperluas subjek penelitian sehingga diperoleh
sampel yang lebih banyak dan penelitian bisa menjadi lebih akurat.

Anda mungkin juga menyukai