Anda di halaman 1dari 118

ANALISIS BEBAN KERJA KARYAWAN

PADA DIVISI PRODUKSI


(STUDI KASUS PT. PERKEBUNAN NUSANTARA VIII GUNUNG MAS, BOGOR)

Oleh
SITI HANIFAH SUFIATI
H24103101

DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008

ABSTRAK
Siti Hanifah Sufiati. H24103101. Analisis Beban Kerja Karyawan Pada Divisi
Produksi (Studi Kasus PT. Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas, Bogor). Di
bawah bimbingan Sjafri Mangkuprawira.
Persaingan yang semakin kompetitif, menuntut setiap perusahaan untuk
lebih meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (SDM) yang dimiliki.
Tantangan yang dihadapi perusahaan saat ini tidak hanya terkonsentrasi pada
kepuasan (customer satisfaction) tetapi lebih berorientasi pada nilai (customer
value). PT. Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas, sebagai perusahaan
penghasil teh berupaya terus menerus untuk meningkatkan kualitas SDM yang
dimiliki. Berkaitan dengan hal tersebut, perusahaan perlu menghitung tingkat
beban kerja dengan kesesuaian jumlah karyawan yang dimiliki, sehingga adanya
keseimbangan antara beban kerja dengan jumlah karyawan yang efektif dan
efisien.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dan mengidentifikasi
permasalahan pada tiap unit di divisi produksi, menganalisis kesesuaian antara
beban kerja dengan karyawan yang tersedia pada tiap unit di divisi produksi, dan
memberikan rekomendasi alternatif solusi bagi pemecahan masalah mengenai
beban kerja pada tiap unit di divisi produksi PT. Perkebunan Nusantara VIII
Gunung Mas. Penelitian dilakukan selama enam bulan yaitu dari MaretSeptember 2007. Jenis data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data
sekunder. Teknik pengambilan sampel adalah total sampling sedangkan metode
analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan Pengukuran Beban Kerja I
(PBK I), PBK II, PBK III.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Permasalahan pada unit meber
yaitu pelaksanaan tugas yang tidak sesuai dengan tanggung jawab masing-masing
karyawan dan pelatihan mengenai pembeberan pucuk daun teh yang belum rutin
dilaksanakan sedangkan permasalahan pada unit pelayuan yaitu kurangnya
perhatian dari atasan dan insentif atas kerja lembur yang belum memadai.
Permasalahan pada unit penggilingan dan oksidasi enzymatis yaitu kurangnya
pelatihan untuk pemeliharan mesin serta kondisi kerja yang bising. Sedangkan
pada unit pengeringan, permasalahan yang dihadapi yaitu kondisi kerja yang
panas dan bising. Adapun permasalahan bagi unit sortasi yaitu kurangnya
pelatihan dan insentif yang kecil. Pada unit pengepakan permasalahan yang
dihadapi yaitu pelatihan mengenai pengepakan dan penempatan karyawan yang
tidak sesuai dengan kemampuan dan keahlian; 2) Berdasarkan hasil perhitungan
PBK, jumlah karyawan yang efisien untuk unit meber yaitu sebanyak lima orang,
unit pelayuan empat orang, unit penggilingan dan oksidasi enzymatis dua orang,
unit pengeringan empat orang, unit sortasi lima orang, dan unit pengepakan
sebanyak tujuh orang; 3) Rekomendasi yang dapat diberikan kepada PT.
Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas adalah memperbanyak pelatihan
berdasarkan unit kerja, memberikan insentif yang sesuai dengan jam kerja,
menempatkan karyawan sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki
serta memberikan perhatian yang lebih dari atasan sehingga dapat lebih
meningkatkan kinerja karyawan.

ANALISIS BEBAN KERJA KARYAWAN


PADA DIVISI PRODUKSI
(STUDI KASUS PT. PERKEBUNAN NUSANTARA VIII GUNUNG MAS, BOGOR)

SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

SARJANA EKONOMI
pada Departemen Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor

Oleh
SITI HANIFAH SUFIATI
H24103101

DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008

INSTITUT PERTANIAN BOGOR


FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
DEPARTEMEN MANAJEMEN
ANALISIS BEBAN KERJA KARYAWAN
PADA DIVISI PRODUKSI
(STUDI KASUS PT. PERKEBUNAN NUSANTARA VIII GUNUNG MAS, BOGOR)

SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar
SARJANA EKONOMI
pada Departemen Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor

Oleh
SITI HANIFAH SUFIATI
H24103101
Menyetujui,

Januari 2008

Prof. Dr. Ir. Tb. Sjafri Mangkuprawira


Dosen Pembimbing
Mengetahui,

Dr. Ir. Jono Mintarto Munandar, M.Sc


Ketua Departemen

Tanggal Ujian : 25 September 2007

Tanggal lulus

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Siti Hanifah Sufiati, dilahirkan di Bogor 17 November


1984. Merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara pasangan H. Pepen Supendi,
MM dan Titim Fatimah.
Penulis telah menyelesaikan pendidikan di TK Kenanga Bogor tahun 1990
sampai 1991, Sekolah Dasar Negeri Gunung Batu I Bogor pada tahun 1991
sampai 1997, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama 4 Bogor tahun 1997 sampai
2000, Sekolah Menengah Umum Negeri 5 Bogor pada tahun 2000 sampai 2003.
Lalu penulis diterima di Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan
Manajemen, Institut Pertanian Bogor melalui jalur penerimaan USMI.
Selama menjalani perkuliahan, penulis berpartisipasi dalam organisasi
Koperasi Mahasiswa (Kopma) IPB. Penulis juga aktif mengikuti beberapa
kegiatan seminar dan juga pelatihan.

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT
atas rahmat dan karunia-Nya, skripsi penelitian yang berjudul Analisis Beban
Kerja Karyawan Pada Divisi Produksi (Studi Kasus PT. Perkebunan
Nusantara VIII Gunung Mas, Bogor) telah dapat diselesaikan. Skripsi ini
merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana, guna memenuhi
syarat kelulusan pada Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor.
Pengukuran beban kerja bertujuan untuk menetapkan jumlah karyawan
berdasarkan beban kerja yang dibebankan pada setiap unit sehingga dapat tercapai
efisiensi dan efektivitas kerja, dengan menggunakan metode pengukuran beban
kerja ini akan berguna bagi manajemen pada bagian produksi PT. Perkebunan
Nusantara VIII Gunung Mas untuk mengetahui kesesuaian jumlah beban kerja
dengan karyawan yang tersedia.
Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ungkapan terima kasih
kepada :
1. Prof. Dr. Ir. TB. Sjafri Mangkuprawira selaku pembimbing skripsi yang
telah meluangkan waktu dengan penuh kesabaran dalam membimbing,
memberikan motivasi, ilmu, saran dan pengetahuan kepada penulis dalam
penyelesaian skripsi ini.
2. Ratih Maria Dhewi, SP, MM. selaku assisten pembimbing skripsi yang
telah meluangkan waktu, memberikan saran, kritik, motivasi dan
pengarahan yang sangat berarti bagi penulis.
3. Dr. Ir. Abdul Kohar Irwanto dan Ir. Anggraeni Sukmawati, MM. atas
kesediaannya meluangkan waktu untuk menjadi dosen penguji dan
memberikan masukan, saran dan kritik sebagai penyempurnaan skripsi ini.
4. Pak Dedi selaku sinder PT. Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas, Ibu
Eni, Pak Ujang, Pak Dede, Mas Wawan dan terima kasih kepada seluruh
karyawan pada divisi produksi yang telah meluangkan waktu untuk
wawancara dan memberikan informasi kepada penulis.

5. Pak Acep, Mba Dina, Mas Hadi, Mas Yadi, Mas Dedi, Mas Iwan dan
seluruh staf Departemen Manajemen yang telah membantu kelancaran
administrasi.
6. Rekan satu bimbingan (Melly, Imel, Betty, Sansa, Gema, Elang) untuk
kerjasama dan motivasi selama bimbingan dan konsultasi skripsi.
7. Sahabat-sahabat terbaik (Pasus, Uci, Yayuk, Ety, Else, Rinrin, Ami, Ulfa,
Irwan, Ruslan, Adit, Dika, Iyan, Trisna, Irma, Indras, Fuad, Wicak, Raj)
untuk dukungan dan kebersamaannya selama ini, dan rekan-rekan
Manajemen 40 untuk persahabatan selama 4 tahun di masa perkuliahan.
8. Pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah ikut
membantu selama penyusunan skripsi ini.
Semoga skripsi ini bermanfaat.

Bogor, Januari 2008

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ........................................................................ iii
KATA PENGANTAR ...................................................................................... iv
DAFTAR ISI ..................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL ............................................................................................ ix
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ x
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xi
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ....................................................................................... 1
1.2. Perumusan Masalah .............................................................................. 2
1.3. Tujuan Penelitian .................................................................................. 6
1.4. Manfaat Penelitian ................................................................................ 7
1.5. Ruang Lingkup Penelitian ..................................................................... 7
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Manajemen Sumber Daya Manusia ...................................................... 8
2.2. Analisis Pekerjaan ................................................................................. 9
2.2.1. Deskripsi Pekerjaan ..................................................................... 9
2.2.2. Spesifikasi Pekerjaan .................................................................. 11
2.3. Pengukuran Beban Kerja ....................................................................... 12
2.4. Perencanaan Sumber Daya manusia ..................................................... 12
2.4. Tinjauan Studi Terdahulu ...................................................................... 13
III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian ............................................................. 15
3.1.1. Kerangka Pemikiran Konseptual ................................................. 15
3.1.2. Kerangka Pemikiran Operasional ................................................ 17
3.2. Waktu dan Lokasi Penelitian ................................................................ 19
3.3. Metode Penelitian ................................................................................. 19
3.3.1. Pengumpulan Data ...................................................................... 19
3.3.2. Pengolahan dan Analisis Data ..................................................... 19
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Perusahaan................................................................ 25
4.1.1. Sejarah Perusahaan....................................................................... 25
4.1.2. Visi dan Misi Perusahaan............................................................. 26
4.1.3. Tujuan dan Sasaran Perusahaan .................................................. 26
4.1.4. Sumber Daya Manusia ................................................................ 27
4.1.5. Struktur Organisasi ..................................................................... 28
4.2. Uji Validitas dan Reliabilitas ................................................................. 29

4.2.1. Hasil Uji Validitas........................................................................ 29


4.2.2. Hasil Uji Reliabilitas .................................................................... 30
4.3. Karakteristik Responden ........................................................................ 30
4.3.1. Karakteristik Berdasarkan Jenis Kelamin .................................... 31
4.3.2. Karakteristik Berdasarkan Usia.................................................... 31
4.3.3. Karakteristik Berdasarkan Tingkat Pendidikan ........................... 31
4.3.4. Karakteristik Berdasarkan Masa Kerja ........................................ 32
4.3.5. Karakteristik Berdasarkan Golongan Jabatan .............................. 32
4.4. Unit Meber ............................................................................................. 32
4.4.1. Persepsi Responden Terhadap Analisis Pekerjaan....................... 33
4.4.2. Persepsi Responden Terhadap Kondisi Kerja .............................. 34
4.4.3. Persepsi Responden Terhadap Kinerja Pekerjaan........................ 35
4.4.4. Analisis Permasalahan yang Dihadapi Unit Meber ..................... 35
4.4.5. Pengukuran Beban Kerja I ........................................................... 36
4.4.6. Pengukuran Beban Kerja II.......................................................... 38
4.4.7. Pengukuran Beban Kerja III......................................................... 38
4.5. Unit Pelayuan ......................................................................................... 39
4.5.1. Persepsi Responden Terhadap Analisis Pekerjaan....................... 40
4.5.2. Persepsi Responden Terhadap Kondisi Kerja .............................. 41
4.5.3. Persepsi Responden Terhadap Kinerja Pekerjaan........................ 41
4.5.4. Analisis Permasalahan yang Dihadapi Unit Pelayuan ................. 42
4.5.5. Pengukuran Beban Kerja I ........................................................... 42
4.5.6. Pengukuran Beban Kerja II.......................................................... 43
4.5.7. Pengukuran Beban Kerja III......................................................... 43
4.6 Unit Penggilingan dan Oksidasi Enzymatis............................................ 44
4.6.1. Persepsi Responden Terhadap Analisis Pekerjaan....................... 45
4.6.2. Persepsi Responden Terhadap Kondisi Kerja .............................. 46
4.6.3. Persepsi Responden Terhadap Kinerja Pekerjaan........................ 47
4.6.4. Analisis Permasalahan yang Dihadapi Unit Oksidasi
Enzymatis .................................................................................... 47
4.6.5. Pengukuran Beban Kerja I ........................................................... 48
4.6.6. Pengukuran Beban Kerja II.......................................................... 49
4.6.7. Pengukuran Beban Kerja III......................................................... 49
4.7. Unit Pengeringan.................................................................................... 50
4.7.1. Persepsi Responden Terhadap Analisis Pekerjaan....................... 50
4.7.2. Persepsi Responden Terhadap Kondisi Kerja .............................. 51
4.7.3. Persepsi Responden Terhadap Kinerja Pekerjaan........................ 52
4.7.4. Analisis Permasalahan yang Dihadapi Unit Pengeringan............ 52
4.7.5. Pengukuran Beban Kerja I ........................................................... 53
4.7.6. Pengukuran Beban Kerja II.......................................................... 53
4.7.7. Pengukuran Beban Kerja III......................................................... 53
4.8. Unit Sortasi ............................................................................................ 54
4.8.1. Persepsi Responden Terhadap Analisis Pekerjaan....................... 55
4.8.2. Persepsi Responden Terhadap Kondisi Kerja .............................. 55
4.8.3. Persepsi Responden Terhadap Kinerja Pekerjaan........................ 56
4.8.4. Analisis Permasalahan yang Dihadapi Unit Sortasi..................... 57
4.8.5. Pengukuran Beban Kerja I ........................................................... 57
4.8.6. Pengukuran Beban Kerja II.......................................................... 58

4.8.7. Pengukuran Beban Kerja III......................................................... 58


4.9. Unit Pengepakan .................................................................................... 59
4.9.1. Persepsi Responden Terhadap Analisis Pekerjaan....................... 59
4.9.2. Persepsi Responden Terhadap Kondisi Kerja .............................. 60
4.9.3. Persepsi Responden Terhadap Kinerja Pekerjaan........................ 60
4.9.4. Analisis Permasalahan yang Dihadapi Unit Pengepakan............. 61
4.9.5. Pengukuran Beban Kerja I ........................................................... 61
4.9.6. Pengukuran Beban Kerja II.......................................................... 62
4.9.7. Pengukuran Beban Kerja III......................................................... 62
5.1 Implikasi Manajerial ............................................................................... 63
5.1.1. Permasalahan Pada Unit Meber .................................................... 63
5.1.2. Beban Kerja Unit Meber ............................................................... 65
5.1.3. Jumlah Karyawan yang Efisien di Unit Meber ............................. 65
5.1.4. Permasalahan Pada Unit Pelayuan ................................................ 65
5.1.5. Beban Kerja Unit Pelayuan........................................................... 67
5.1.6. Jumlah Karyawan yang Efisien di Unit Pelayuan......................... 67
5.1.7. Permasalahan Pada Unit Penggilingan dan Oksidasi.................... 67
5.1.8. Beban Kerja Unit Penggilingan dan Oksidasi............................... 69
5.1.9. Jumlah Karyawan yang Efisien di Unit Penggilingan
dan Oksidasi .................................................................................. 69
5.1.10. Permasalahan Pada Unit Pengeringan......................................... 69
5.1.11. Beban Kerja Unit Pengeringan.................................................... 70
5.1.12. Jumlah Karyawan yang Efisien di Unit Pengeringan ................. 71
5.1.13. Permasalahan Pada Unit Sortasi.................................................. 71
5.1.14. Beban Kerja Unit Sortasi ............................................................ 72
5.1.15. Jumlah Karyawan yang Efisien di Unit Sortasi .......................... 72
5.1.16. Permasalahan Pada Unit Pengepakan ......................................... 72
5.1.17. Beban Kerja Unit Pengepakan .................................................... 73
5.1.18. Jumlah Karyawan yang Efisien di Unit Pengepakan .................. 74
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan .......................................................................................... 75
2. Saran..................................................................................................... 76
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 77
LAMPIRAN ...................................................................................................... 78

DAFTAR TABEL
Nomor

Halaman

1. Data produksi teh Januari - Maret 2007........................................................ 3


2. Data produksi teh April - Juni 2007.............................................................. 4
3. Data produksi teh tahun 2002 - 2006 ........................................................... 5
4. Nilai jawaban responden ............................................................................... 22
5. Nilai skor rataan ............................................................................................ 22
6. Jumlah karyawan PT.PN.VIII Gunung Mas ................................................. 28
7. Uji reliabilitas ............................................................................................... 30
8. Karakteristik berdasarkan jenis kelamin ....................................................... 31
9. Karakteristik berdasarkan usia ...................................................................... 31
10. Karakteristik berdasarkan tingkat pendidikan............................................... 31
11. Karakteristik berdasarkan masa kerja ........................................................... 32
12. Karakteristik berdasarkan golongan jabatan ................................................. 32
13. Persepsi responden terhadap analisis pekerjaan unit Meber ......................... 33
14. Persepsi responden terhadap kondisi kerja ................................................... 34
15. Persepsi responden terhadap kinerja pekerjaan............................................. 35
16. Pengukuran beban kerja I.............................................................................. 37
17. Pengukuran beban kerja III ........................................................................... 39
18. Persepsi responden terhadap analisis pekerjaan unit Pelayuan..................... 40
19. Persepsi Responden terhadap kondisi kerja .................................................. 41
20. Persepsi Responden terhadap kinerja pekerjaan ........................................... 42
21. Pengukuran beban kerja I.............................................................................. 43
22. Pengukuran beban kerja III ........................................................................... 44
23. Persepsi responden terhadap analisis pekerjaan unit Oksidasi Enzymatis.... 45
24. Persepsi responden terhadap kondisi kerja .................................................. 46
25. Persepsi responden terhadap kinerja pekerjaan............................................. 47
26. Pengukuran beban kerja I.............................................................................. 48
27. Pengukuran beban kerja III ........................................................................... 50
28. Persepsi responden terhadap analisis pekerjaan unit Pengeringan ............... 51
29. Persepsi responden terhadap kondisi kerja ................................................... 51
30. Persepsi responden terhadap kinerja pekerjaan............................................. 52
31. Pengukuran beban kerja I.............................................................................. 53
32. Pengukuran beban kerja III ........................................................................... 54
33. Persepsi responden terhadap analisis pekerjaan unit Sortasi ........................ 55
34. Persepsi responden terhadap kondisi kerja ................................................... 56
35. Persepsi responden terhadap kinerja pekerjaan............................................. 56
36. Pengukuran beban kerja I.............................................................................. 57
37. Pengukuran beban kerja III ........................................................................... 58
38. Persepsi responden terhadap analisis pekerjaan unit Pengepakan ................ 59
39. Persepsi responden terhadap kondisi kerja ................................................... 60
40. Persepsi responden terhadap kinerja pekerjaan............................................. 61
41. Pengukuran beban kerja I.............................................................................. 62
42. Pengukuran beban kerja III ........................................................................... 63

DAFTAR GAMBAR
Nomor
1.
2.
3.
4.
5.

Halaman

Data produksi teh bulan Januari Maret 2007 ............................................. 4


Data produksi teh bulan April Juni ............................................................ 4
Data produksi teh tahun 2002 2006 .......................................................... 5
Alur kerangka pemikiran konseptual ........................................................... 16
Alur kerangka pemikiran operasional .......................................................... 18

DAFTAR LAMPIRAN
Nomor
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Halaman

Lembar kuesioner ......................................................................................... 78


Hasil uji realibilitas dengan teknik cronbach ............................................... 91
Hasil pengukuran beban kerja II .................................................................. 97
Peta lokasi penelitian ................................................................................... 108
Peta kebun Gunung Mas I ............................................................................ 109
Peta kebun Gunung Mas II ........................................................................... 110
Peta kebun Cikopo Selatan ........................................................................... 111
Struktur organisasi PT Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas ............... 112

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kebutuhan sumberdaya manusia (SDM) semakin meningkat baik dari
segi kualitas maupun kuantitas. Untuk mendapatkan SDM yang sesuai
dengan kebutuhan perusahaan maka dibutuhkan pengukuran beban kerja
sehingga karyawan dapat optimal dalam menjalankan pekerjaannya.
Pengukuran beban kerja diperlukan untuk menetapkan waktu bagi seorang
karyawan yang memenuhi persyaratan (qualified) dalam menjalankan
pekerjaan tertentu pada tingkat prestasi yang telah ditetapkan. (Menteri
Aparatur Pendayagunaan Negara No. 20/1990) Pengukuran beban kerja
diperlukan untuk menganalisis waktu efektif yang diperlukan dalam
menyelesaikan satu produk atau pekerjaan. Pengukuran beban kerja juga
dapat digunakan untuk menghitung jumlah kebutuhan karyawan berdasarkan
standar waktu kerja efektif per tahun.
Untuk menghadapi persaingan yang semakin kompetitif perusahaan
membutuhkan kualitas SDM yang memiliki kompetensi tinggi. Tantangan
yang dihadapi setiap perusahaan saat ini terfokus pada pelayanan kebutuhan
konsumen dan pelanggan, yang terkonsentrasi tidak hanya pada kepuasan
(customer satisfaction) tetapi lebih berorientasi pada nilai (costumer value).
Berdasarkan hal tersebut perusahaan harus mampu memberikan tanggapan
yang cepat terhadap perubahan kebutuhan dan tuntutan konsumen. Oleh
karena itu diperlukan perencanaan SDM yang sesuai dengan kebutuhan
perusahaan. Beberapa faktor yang dapat dijadikan tolak ukur untuk
menghadapi persaingan yang semakin kompetitif adalah kompetensi bidang
tugas yang dapat dipenuhi oleh SDM, kemampuan profesionalisme dan
komitmen karyawan terhadap tuntutan yang diinginkan perusahaan.
Indonesia merupakan salah satu penghasil teh dengan konsumsi yang
cukup tinggi. Salah satu perusahaan penghasil teh yang berhasil mengekspor
teh dari Indonesia ke mancanegara, antara lain India, Pakistan, Irak, Amerika,
Inggris, dan Belanda yaitu PT. Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas, yang
berada di daerah puncak, Bogor, Jawa Barat. Terletak pada daerah yang sejuk

di ketinggian 800 meter sampai 1200 meter diatas permukaan laut dengan
suhu rata-rata 12C sampai 22C. PT. Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas
memiliki area perkebunan teh yang memiliki luas sekitar 1703,65 Ha dan
didukung oleh proses higienis serta mesin-mesin yang canggih, menjadikan
PT. Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas salah satu perusahaan yang telah
mencapai standar Internasional dengan produknya yang berupa teh hitam
(Black tea) bermutu tinggi.
PT. Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas telah memenuhi standar
operasional Internasional atau yang lebih dikenal dengan ISO (International
Organization for Standarization). Pemberian standarisasi oleh pihak
Internasional menunjukkan bahwa PT. Perkebunan Nusantara VIII Gunung
Mas dengan produknya berupa teh telah diterima oleh masyarakat
Internasional. Tentunya berdasarkan atas berbagai persyaratan yang mutlak
diperlukan oleh perusahaan yang telah memasuki pasar Internasional, salah
satu syarat yang menjadi standar ISO yaitu didukung oleh sistem manajerial
yang baik dengan adanya keseimbangan antara beban kerja yang diberikan
kepada setiap karyawan sehingga hasil (output) tiap karyawan mampu
mencapai target yang telah ditetapkan perusahaan.
Pencapaian target PT. Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas tidak
terlepas dari pasokan bahan baku yang tersedia, karena bahan baku berupa
daun teh yang sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor alam seperti cuaca
maupun adanya gangguan hama tanaman, maka akan berdampak pada volume
beban kerja dan kebutuhan karyawan pada tiap unit. Oleh karena itu,
dibutuhkan suatu analisis yang mengukur beban kerja pada tiap unitnya
sehingga dapat diketahui seberapa banyak karyawan yang dibutuhkan dengan
jumlah beban kerja pada tiap unitnya. Hal tersebut dapat berimplikasi terhadap
produktivitas kerja karyawan serta keefektifan penggunaan mesin maupun
waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu produksi pengolahan daun
teh.
1.2. Perumusan Permasalahan
SDM merupakan aset penting bagi perusahaan. Untuk itu harus dapat
dipertahankan dan diberdayakan sehingga dapat terus memberikan kontribusi

bagi perusahaan. Setiap unit dalam suatu divisi tentunya memiliki beban kerja
yang berbeda-beda. Begitu pula dengan kemampuan dan keterampilan
karyawan yang berbeda, diperlukan suatu pengukuran beban kerja untuk
setiap masing-masing unit sehingga dapat diketahui tingkat pekerjaan yang
dapat diselesaikan oleh setiap unit.
Berdasarkan pra survey yang dilakukan pada PT. Perkebunan
Nusantara VIII Gunung Mas dengan cara wawancara kepada sinder pabrik,
mandor pelayuan, mandor penggilingan, mandor pengepakan serta tiga orang
karyawan pada bulan April 2007 di unit produksi, diperoleh bahwa triwulan
pertama tahun 2007 yaitu dari bulan Januari sampai dengan bulan Februari
2007, turunnya produksi teh berkaitan dengan adanya penurunan jumlah
bahan baku daun teh yang disebabkan oleh perubahan cuaca yang
menyebabkan sebagian perkebunan terserang hama, proses gilir pemetikan
yang belum merata, kurangnya kadar kandungan pupuk dan kurangnya
penggemburan tanah. Sedangkan pada bulan Maret 2007 terjadi peningkatan
hasil produksi walaupun masih berada di bawah target perusahaan. Hal ini
dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Data Produksi Teh (kg) Bulan Januari - Maret 2007
No
Bulan
Target Produksi Hasil Produksi
Gap produksi
(kg)
(kg)
(kg)
1. Januari
96.000
67.450
28.550
2. Februari
90.000
61.527
28.473
3. Maret
106.000
85.372
20.628
Berdasarkan tabel di atas dapat terlihat bahwa penurunan hasil
produksi pada bulan Januari dari target produksi yang telah ditetapkan yaitu
sebesar 28.550 kg. Penurunan hasil produksi juga terjadi pada bulan Februari.
Hasil produksi tidak memenuhi target produksi sebesar 28.473 kg sedangkan
pada bulan Maret terjadi peningkatan hasil produksi dari bulan sebelumnya
yaitu sebesar 23.845 kg. Namun hasil produksi pada bulan Maret tetap berada
di bawah target produksi yaitu sebesar 20.628 kg. Berdasarkan data di atas
dapat diketahui bahwa dari bulan Januari sampai Maret 2007 terjadi Gap
antara target produksi dengan hasil produksi. Untuk lebih jelas, data tersebut
dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Data Produksi Teh (kg) Bulan Januari - Maret 2007


120000
100000
80000
Jumlah
Produksi

60000

Hasil Produksi

40000

Target Produksi

20000
0
Januari

Februari

Maret

Bulan

Sumber: PT. Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas


Tabel 2. Data Produksi Teh (kg) Bulan April - Juni 2007
No
Bulan
Target Produksi Hasil Produksi
(kg)
(kg)
1.
April
149.000
77.922
2.
Mei
137.000
71.971
3.
Juni
124.000
64.410

Gap Produksi
(kg)
71.078
65.029
59.590

Tabel 2 menunjukkan data produksi teh pada triwulan kedua yaitu


bulan April sampai Juni 2007. Berdasarkan tabel di atas dapat terlihat bahwa
penurunan hasil produksi pada bulan April dari target produksi yang telah
ditetapkan yaitu sebesar 71.078 kg. Penurunan hasil produksi juga terjadi pada
bulan Mei. Hasil produksi tidak memenuhi target produksi sebesar 65.029 kg.
Hasil produksi pada bulan Juni tetap berada di bawah target produksi yaitu
sebesar 59.590 kg. Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa dari bulan
April sampai Juni 2007 terjadi Gap antara target produksi dengan hasil
produksi. Untuk lebih jelas, data tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Data Produksi Teh (kg) Bulan April - Juni 2007
160000
140000
120000
Jumlah
Produksi

100000
80000

Hasil Produksi

60000

Target Produksi

40000
20000
0
April

Mei

Juni

Bulan

Sumber: PT. Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas

Penurunan jumlah produksi ternyata telah dialami selama kurun waktu


lima tahun sampai pada periode triwulan yang berlangsung pada tahun 2007.
Berikut disajikan tabel produksi dari tahun 2002 sampai dengan 2006.
Tabel 3. Data Produksi Teh (kg) Tahun 2002 - 2006
No
Tahun
Target Produksi Hasil Produksi
(kg)
(kg)
1.
2002
970.000
953.942
2.
2003
1.030.000
1.189.251
3.
2004
1.191.000
1.185.845
4.
2005
1.315.000
931.133
5.
2006
1.200.000
634.857

Gap Produksi
(kg)
16.058
159.251
5.155
383.867
565.143

Berdasarkan tabel di atas dapat terlihat bahwa pada tahun 2002 terjadi
penurunan hasil produksi dari target yang telah ditetapkan yaitu sebesar
16.059 kg, sedangkan pada tahun 2003 terjadi peningkatan hasil produksi dari
target produksi sebesar 159.251 kg. Penurunan hasil produksi dari target
produksi terjadi pada tahun 2004 yaitu sebesar 5.155 kg. Pada tahun 2005
terjadi pula penurunan hasil produksi dari target produksi yaitu sebesar
383.867 kg. Penurunan cukup drastis antara hasil produksi dengan target
produksi terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 565.143 kg sehingga hasil
produksi pada tahun 2006 dapat dijadikan acuan untuk perbaikan ditahun
selanjutnya. Untuk lebih jelas, data tersebut dapat dilihat pada gambar di
bawah ini.
Gambar 3. Data Produksi Teh (kg) Tahun 2002 - 2006
1400000
1200000
1000000
Jum lah
Produksi

800000
600000

Hasil Produksi

400000

Target Produksi

200000
0
2002

2003

2004

2005

2006

Tahun

Sumber: PT. Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas

Pengolahan daun teh dengan penggunaan mesin CTC (Cutting,


Tearing, Curling) yaitu memotong, menyobek dan menggulung adapun
optimalisasi tenaga kerja berjumlah 42 orang yang terdiri dari 31 KHT
(Karyawan Harian Tetap) dan 11 KHL (Karyawan Harian Lepas). Dengan
adanya penurunan jumlah bahan baku dari target yang ditetapkan oleh
perusahaan maka hanya digunakan satu mesin CTC. Penggunaan satu mesin
CTC yaitu bila bahan baku berada pada kisaran di bawah target perusahaan
yaitu rata-rata bahan baku teh yang dihasilkan sebesar 12.000 kg per hari.
Pengurangan bahan baku akan menyebabkan adanya pengurangan jumlah
karyawan pada tiap unitnya, karyawan yang dipakai yaitu KHT sedangkan
untuk KHL untuk sementara waktu diliburkan sampai menunggu produksi
daun teh meningkat kembali. Hal ini tentunya akan berdampak pada volume
beban kerja serta jumlah karyawan yang digunakan.
Berdasarkan

uraian

tersebut

maka

permasalahan

yang

dapat

dirumuskan adalah sebagai berikut.


1. Masalah apa yang terdapat pada tiap unit yang berkaitan dengan beban
kerja pada bagian produksi PT. Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas?
2. Berapa beban kerja dan jumlah karyawan yang efektif pada setiap unit
bagian produksi PT. Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas?
3. Bagaimana solusi alternatif untuk pemecahan masalah mengenai beban
kerja pada unit divisi PT. Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas?
1.3. Tujan Penelitian
Berdasarkan

latar

belakang

dan

permasalahan

yang

telah

dikemukakan, maka penelitian ini bertujuan:


1. Mengetahui dan mengidentifikasi permasalahan pada tiap unit divisi
Produksi di PT. Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas
2. Menganalisis kesesuaian antara beban kerja dan kebutuhan tenaga kerja
yang tersedia pada tiap unit di divisi produksi PT. Perkebunan Nusantara
VIII Gunung Mas
3. Memberikan rekomendasi alternatif solusi bagi pemecahan masalah
mengenai beban kerja pada tiap unit divisi produksi PT. Perkebunan VIII
Gunung Mas

1.4. Manfaat Penelitian


kegunaan penelitian ini adalah:
1. Bagi penulis, penelitian ini berguna untuk menambah wawasan
permasalahan dalam sumber daya manusia pada praktek di bidang kerja
2. Bagi para peneliti lain, yang ingin mengembangkan ide serta permasalahan
yang berkaitan mengenai pengukuran beban kerja
3. Bagi perusahaan, dapat dijadikan sebagai acuan dalam meningkatkan
produktivitas tenaga kerja
4. Bagi para pembaca pada umumnya, agar dapat menambah wawasan dan
ilmu pengetahuan.
1.5. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini yaitu untuk mengetahui tingkat beban
kerja karyawan dan kebutuhan karyawan pada tiap unit. Penelitian ini
dilakukan hanya pada divisi produksi yang membawahi 6 unit kerja yaitu unit
pembeberan, unit pelayuan, unit penggilingan dan enzymetis, unit
pengeringan, unit sortasi, dan unit pengepakan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Manajemen Sumber Daya Manusia


Manajemen sumberdaya manusia (MSDM) merupakan unsur penting
dalam kemajuan dan pengembangan sebuah organisasi atau perusahaan. Hal
itu terkait dengan manusia sebagai faktor penggerak dalam pencapaian
tujuan organisasi atau perusahaan. Sebagai unsur manusia yang harus selalu
dikembangkan dan dikelola yaitu cipta, rasa, dan karsa yang kemudian
berkembang menjadi bagian dari ilmu manajemen yang disebut MSDM
(Arep dan Tanjung, 2003).
Sebagai suatu bagian bidang manajemen, MSDM khusus mempelajari
hubungan dan peran manusia dalam perusahaan, karena unsur utama dalam
MSDM adalah manusia itu sendiri yang merupakan unsur utama dalam
pencapaian tujuan perusahaan. MSDM memiliki peran penting untuk
memberdayakan, mengembangkan, dan mempertahankan karyawan dalam
perusahaan agar mampu memberikan kontribusi secara optimal terhadap
pencapaian tujuan perusahaan berdasarkan keahlian, pengetahuan, dan
kemampuan yang dimiliki. MSDM merupakan suatu kegiatan pengelolaan
yang meliputi pendayagunaan, pengembangan, penilaian, pemberian balas
jasa bagi manusia sebagai individu anggota organisasi atau perusahaan
(Samsudin, 2005)
Menurut Hasibuan (2001) MSDM adalah ilmu dan seni yang
mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien
membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat.
Keragaman karakteristik setiap individu memerlukan suatu perhatian
khusus, seperti terdapatnya perbedaan pikiran, sifat, keinginan dan latar
belakang yang heterogen. Untuk dapat menyamakan persepsi dan tujuan
perusahaan maka diperlukan MSDM yang memiliki fungsi-fungsi dalam
pengaturan peranan manusia dalam sebuah perusahaan.
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa MSDM
berkaitan dengan cara pengelolaan sumberdaya manusia dalam perusahaan
dan lingkungan yang mempengaruhinya agar mampu memberikan

kontribusi yang optimal bagi pencapaian tujuan organisasi. Oleh karena itu,
penelitian ini akan sangat berguna bagi pihak manajemen PT. Perkebunan
Nusantara VIII Gunung Mas agar lebih optimal mengelola sumberdaya
manusia sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai.
2.2. Analisis Pekerjaan
Perusahaan merupakan sistem manajerial yang menuntut pola
hubungan manajerial yang produktif. Hal tersebut berkaitan dengan upaya
memberdayakan secara efektif orang-orang pada jabatannya, kejelasan
tugas, kewajiban dan tanggung jawab.
Analisis pekerjaan merupakan kegiatan pengumpulan data tentang
pekerjaan yang dilakukan oleh perusahaan dan kemudian dianalisis untuk
berbagai keperluan (Mangkuprawira, 2003). Dalam melakukan analisis
pekerjaan dibutuhkan pengetahuan dan kemampuan serta pengalaman dari
seorang analis. Adapun syarat-syarat teknis analisis pekerjaan yang
diperlukan meliputi:
1. Harus dinamis sejalan dengan perubahan-perubahan lingkungan eksternal
dan internal
2. Prosedurnya harus dapat diaplikasikan dan dikelola secara akurat, absah
dan efisien serta objektif
3. Pelaksana

analisis

jabatan

memiliki

pengetahuan,

keahlian

dan

pengalaman yang memadai


4. Melibatkan semua komponen karyawan dan pimpinan secara aktif
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa analisis
pekerjaaan tidak terlepas dari dua hal yang saling berkaitan yaitu uraian
pekerjaan dan spesifikasi pekerjaan. Oleh karena itu, penelitian ini akan
berguna bagi pihak manajemen PT. Perkebunan Nusantara VIII Gunung
Mas untuk mengetahui sejauh mana keefektifan antara tugas, kewajiban dan
tanggung jawab dengan kualifikasi pengetahuan, kemampuan, dan keahlian
yang dimiliki.
2.2.1. Deskripsi Pekerjaan
Deskripsi pekerjaan (job description) diketahui serta disusun
berdasarkan informasi yang telah dihasilkan oleh analisis pekerjaan.

Deskripsi pekerjaan biasanya digunakan untuk tenaga operasional.


Deskripsi pekerjaan harus ditetapkan secara jelas untuk setiap jabatan,
supaya pejabat tersebut mengetahui tugas dan tanggung jawab yang
harus dilakukan. Deskripsi pekerjaan memberikan standar tugas yang
harus dicapai oleh masing-masing pemegang jabatan tersebut.
Menurut Arep dan Tanjung (2003) deskripsi pekerjaan adalah
informasi tertulis yang menguraikan tugas dan tanggung jawab,
kondisi pekerjaan, hubungan pekerjaan dan aspek-aspek pekerjaan
pada suatu jabatan tertentu dalam organisasi. Deskripsi pekerjaan
harus diuraikan secara jelas agar persepsinya mudah dipahami,
menurut Hasibuan (2001) deskripsi pekerjaan menguraikan hal-hal
berikut :
1. Identifikasi pekerjaan atau jabatan, yakni memberi nama jabatan,
pada tiap-tiap karyawan yang memiliki jabatan seperti manajer dan
direktur.
2. Hubungan tugas dan tanggung jawab, yakni perincian tugas dan
tanggung jawab secara nyata diuraikan secara terpisah agar jelas
diketahui.
3. Standar wewenang dan pekerjaan, yakni kewenangan dan prestasi
yang harus dicapai oleh setiap pejabat harus jelas.
4. Syarat kerja harus diuraikan dengan jelas, seperti alat-alat, mesinmesin, dan bahan baku yang akan dipergunakan untuk melakukan
pekerjaan tersebut.
5. Ringkasan pekerjaan suatu jabatan, hendaknya menguraikan
bentuk umum pekerjaan dengan hanya mencantumkan fungsifungsi dan aktivitas utamanya.
6. Penjelasan tentang jabatan di bawah dan di atasnya, yaitu harus
dijelaskan jabatan mana petugas tersebut dipromosikan dan ke
jabatan mana petugas tersebut akan dipromosikan.
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa
deskripsi pekerjaan merupakan suatu pernyataan tertulis yang
menguraikan berbagai segi suatu pekerjaan, sehingga terdapat

kejelasan atas apa yang harus dikerjakan, mengapa dikerjakan, dimana


dikerjakan dan bagaimana mengerjakan. Oleh karena itu, penelitian ini
akan berguna bagi karyawan pada bagian produksi PT. Perkebunan
Nusantara VII Gunung Mas sebagai panduan untuk melaksanakan
pekerjaan.
2.2.2. Spesifikasi Pekerjaan
Spesifikasi pekerjaan (job specification) disusun berdasarkan
deskripsi pekerjaan yang telah dibuat perusahaan yang menunjukkan
persyaratan orang yang akan direkruit dan menjadi dasar untuk
melaksanakan seleksi sehingga dapat mencegah penempatan karyawan
yang tidak sesuai dengan kemampuan, pengetahuan dan keahlian yang
nantinya

dapat

menyebabkan

rendahnya

produktivitas

kerja.

Spesifikasi pekerjaan menyebutkan pengetahuan, keterampilan dan


kemampuan individu yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan
dengan memuaskan (Mathis dan Jackson, 2001)
Menurut Arep dan Tanjung (2003) spesifikasi pekerjaan adalah
uraian persyaratan kualitas minimum orang yang bisa diterima dalam
menjalankan suatu jabatan dengan baik dan kompeten. Menurut
Hasibuan (2001) Spesifikasi pekerjaan memberikan uraian mengenai
hal-hal berikut:
1.

Tingkat pendidikan karyawan

2.

Jenis kelamin karyawan

3.

Keadaan fisik karyawan

4.

Pengetahuan dan kecakapan karyawan

5.

Batas umur karyawan

6.

Minat karyawan

7.

Status karyawan

8.

Emosi dan temperamen karyawan

9. Pengalaman karyawan
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa
spesifikasi pekerjaan merupakan uraian mengenai ciri, karakteristik,
pendidikan dan yang lainnya dari orang yang akan melaksanakan

pekerjaan tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini akan berguna bagi
manajemen PT. Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas dalam
menentukan karyawan yang akan dipekerjakan sehingga dapat
terjaring karyawan yang berkompeten pada bidangnya.
2.3. Pengukuran Beban Kerja
Pengukuran Beban Kerja (PBK) merupakan salah satu kegiatan yang
dilakukan di berbagai instansi negeri maupun swasta. Berdasarkan
keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara N0. 20/1990, beban
kerja diperlukan untuk menetapkan waktu bagi seorang pekerja yang
memenuhi persyaratan (qualified) dalam menyelesaikan pekerjaan tertentu
pada suatu tingkat prestasi yang telah ditetapkan.
Beban kerja merupakan suatu proses penentuan jumlah jam kerja
orang (man hour) yang dipergunakan atau yang diperlukan untuk
menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu dalam waktu tertentu (Panggabean,
2004). Jumlah jam kerja setiap karyawan akan menunjukkan jumlah tenaga
kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan sehingga produktivitas kerja dapat
optimal sesuai dengan tujuan perusahaan.
Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa
pengukuran beban kerja bertujuan untuk menetapkan jumlah karyawan
berdasarkan beban kerja yang dibebankan pada setiap unit sehingga dapat
tercapai efisiensi dan efektivitas kerja. Oleh karena itu, penelitian ini akan
berguna bagi manajemen pada bagian produksi PT. Perkebunan Nusantara
VIII Gunung Mas untuk mengetahui kesesuaian jumlah beban kerja dengan
karyawan yang tersedia.
2.4. Perencanaan Sumber Daya Manusia
Perencanaan SDM merupakan langkah awal dalam menyiapkan
SDM yang berkompeten pada bidangnya yang diharapkan tercipta efisiensi
dan efektifitas kerja sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai.
Perencanaan SDM atau perencanaan tenaga kerja adalah sebagai
proses menentukan kebutuhan tenaga kerja dan berarti mempertemukan
kebutuhan tersebut agar pelaksanaannya berintegrasi dengan rencana
organisasi (Sikula dalam Mangkunegara, 2003). Menurut Alwi (2001)

perencanaan SDM adalah perencanaan yang disusun pada tingkat


operasional yang ditujukan untuk memenuhi permintaan sumberdaya
manusia dengan kualifikasi tersebut.
Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa
perencanaan SDM merupakan suatu cara untuk menentukan kualitas dan
kuantitas karyawan yang akan mengisi semua jabatan dalam perusahaan.
Oleh karena itu, penelitian ini akan berguna bagi manajemen PT.
Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas untuk dapat meningkatkan daya
guna SDM dalam upaya mencapai tujuan perusahaan berdasarkan kualitas,
kuantitas, dan penempatan karyawan tepat sesuai kebutuhan.
2.5. Tinjauan Studi Terdahulu
Menurut Kokom Komariah dalam skripsinya yang berjudul Analisis
Beban Kerja Tenaga Penunjang di Lingkungan Institut Pertanian Bogor
(Studi Kasus pada Fakultas Kehutanan IPB) menyatakan bahwa berdasarkan
hasil penelitian terhadap beban kerja yang dilakukan di TU Fakultas, terlihat
bahwa jenis kegiatan yang paling tinggi beban kerjanya adalah Urusan
Rumah Tangga (URT) sebesar 13010 beban kerja dan yang paling sedikit
adalah beban kerja Komisi Praktek Lapang yaitu sebesar 1405 beban kerja.
Berdasarkan rincian tugas jumlah beban kerja yang dapat dilihat,
beban unit kerja bendahara Fakultas yaitu sebesar 4217 beban kerja
sebenarnya memerlukan pegawai sebanyak tiga orang, tetapi pegawai yang
ada dua orang berarti kekurangan satu orang, sedangkan untuk unit yang
banyak kelebihan pegawai adalah Urusan Rumah Tangga (URT) dengan
beban kerja sebesar 13010 sebenarnya cukup dengan sembilan orang, tetapi
pegawai yang ada sebanyak 17 orang, dan berdasarkan hasil pengamatan
yang dilakukan di unit Departemen Manajemen Hutan, secara keseluruhan
memiliki kelebihan pegawai sebanyak lima orang dan belum terjadinya
pemerataan dalam penempatan pegawai di unit pendidikan dengan jumlah
beban kerja 11295 dengan delapan orang pegawai tetapi jumlah yang ada 14
orang, demikian juga dengan bagian kemahasiswaan dan petty cash masingmasing kekurangan satu orang pegawai.

Berdasarkan penelitian Apoh Ibrahim Saragih dalam skripsinya yang


berjudul Analisis Beban Kerja, Kompensasi dan Kepuasan Kerja Karyawan
Puskesmas (Studi Kasus Puskesmas Bogor Timur) menyatakan bahwa
beban kerja karyawan dilihat dari waktu standar hariannya secara
keseluruhan untuk seluruh karyawan melebihi waktu kerja puskesmas, dan
adanya karyawan yang bertanggung jawab terhadap lebih dari satu unit
pelayanan sehingga beban waktu standar hariannya bertambah.
Penerapan kompensasi di Puskesmas berdasarkan beban kerja pada
tiap karyawan. Penerapan kompensasi berasal dari dana hasil tindakan di
Puskesmas yang sesuai dengan beban kerja yang ditetapkan pada tiap-tiap
karyawan. Rangking jabatan karyawan yang ditetapkan menjadi dasar
pembagian dana yang diperoleh dari hasil tindakan tersebut, sedangkan
hubungan antara beban kerja dan kompensasi tergolong sedang, untuk
hubungan beban kerja dengan kepuasan kerja tergolong rendah dan tidak
berpengaruh nyata, dan untuk hubungan antara kompensasi terhadap
kepuasan kerja tergolong rendah dan tidak berhubungan nyata.
Berdasarkan penelitian Suryanti Gunadi dalam tesisnya yang berjudul
Studi Tentang Beban Kerja Perawat di Unit Rawat Inap Penyakit Dalam
Lantai III Rumah Sakit Tebet menyatakan bahwa jenis kegiatan pelayanan
keperawatan yang dikerjakan oleh tenaga perawat digolongkan menjadi
kegiatan langsung yang meliputi komunikasi dan memberikan terapi dan
kegiatan tidak langsung yaitu administrasi pasien, menyiapkan terapi,
pergantian shift dan interaksi profesi, sedangkan yang terakhir yaitu
kegiatan pribadi yang terdiri dari kegiatan yang diperkenankan meliputi
makan, minum, sembahyang, ke kamar mandi dan kegiatan non produktif
antara lain membaca koran, mengobrol dan menelepon untuk urusan pribadi.

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Kerangka Pemikiran


3.1.1. Kerangka Pemikiran Konseptual
Perkebunan Gunung Mas merupakan salah satu unit usaha PT.
Perkebunan Nusantara VIII yang memiliki visi, misi dan tujuan yang
jelas sehingga mencapai efisiensi dan efektivitas organisasi. SDM
merupakan salah satu faktor penting yang harus dioptimalkan dalam
mencapai tujuan perusahaan. PT. Perkebunan Nusantara VIII Gunung
Mas memiliki tujuan divisi dan tujuan unit yang merupakan turunan
dari tujuan perusahaan.
Dalam upaya untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan
perencanaan SDM yang merupakan salah satu faktor penentu
keberhasilan perusahaan. Perencanaan sumberdaya manusia dapat
diartikan sebagai suatu proses penentuan kebutuhan tenaga kerja
berdasarkan peramalan pengembangan, pengimplementasian, dan
pengendalian kebutuhan yang berintegrasi dengan perencanaan
organisasi agar tercipta jumlah pegawai, penempatan pegawai yang
tepat dan bermanfaat secara ekonomis (Mangkunegara, 2003).
Proses perencanaan sumberdaya manusia dalam penelitian ini
dilakukan dengan analisis pekerjaan yang salah satu fungsinya adalah
menghasilkan deskripsi pekerjaan dan spesifikasi pekerjaan (Tanjung
dan Arep, 2003). Disamping itu, digunakan pula analisis beban kerja
yang menghasilkan jumlah beban kerja dan analisis kebutuhan tenaga
kerja yang menghasilkan jumlah tenaga kerja. Kebutuhan tenaga kerja
bertujuan agar setiap pegawai pada semua unit organisasi mendapatkan
pekerjaan yang sesuai dengan tugas dan wewenang tanggung jawabnya
(Mangkunegara,
menghasilkan

2003).
efisiensi

Perencanaan
dan

SDM

efektivitas

yang

kerja

tepat

akan

sehingga

dapat

meningkatkan produktivitas kerja dan pada akhirnya tujuan PT.

Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas dapat tercapai. Alur kerangka


konseptual tersebut terdapat pada Gambar 4.

VISI, MISI DAN TUJUAN PT. PN VIII


(RENCANA STRATEGIS)

TUJUAN MANAJEMEN
SUMBERDAYA MANUSIA

TUJUAN DIVISI

TUJUAN UNIT
PERENCANAAN
SDM

DESKRIPSI PEKERJAAN
SPESIFIKASI PEKERJAAN

JUMLAH BEBAN KERJA


JUMLAH TENAGA KERJA

ANALISIS
PEKERJAAN

ANALISIS BEBAN KERJA DAN


KEBUTUHAN TENAGA KERJA

EFISIENSI DAN EFEKTIVITAS


TENAGA KERJA

PRODUKTIVITAS
KERJA

Gambar 4. Alur Kerangka Pemikiran Konseptual

3.1.2. Kerangka Pemikiran Operasional


Persaingan

yang

semakin

kompetitif

dalam

industri

perkebunan khususnya untuk komoditi teh menuntut perusahaan


produsen teh untuk mengoptimalkan semua sumber daya yang
dimiliki. SDM adalah aset perusahaan yang merupakan salah satu
faktor penting yang harus dioptimalkan dalam mencapai tujuan
perusahaan. Untuk mampu bersaing dalam pasar Internasional,
perusahaan produsen teh harus mampu menghasilkan teh dengan
kualitas tinggi. Kualitas produk yang dihasilkan tidak terlepas dari
peranan SDM yang dimiliki. Komitmen karyawan untuk bekerja
dengan giat mutlak diperlukan selain kemampuan dan keterampilan
dalam menghasilkan produk yang berkualitas.
Perusahaan harus mampu mengidentifikasi tugas-tugas yang
akan dilaksanakan oleh setiap tenaga kerja sehingga tugas yang
diberikan dapat diselesaikan dengan baik dan sesuai dengan target
perusahaan. Beban kerja yang ditetapkan harus cukup dalam hal ini
tidak terlalu ringan ataupun terlalu berat, karena dapat berdampak pada
hasil pekerjaan. Pada setiap unit kerja masing-masing pegawai
memiliki beban kerja yang berbeda. Sehingga dapat terlihat kesesuaian
jumlah karyawan dengan beban kerja yang diberikan pada tiap unitnya.
Bila terdapat ketidaksesuaian antara beban kerja yang diberikan
dengan jumlah karyawan yang ada maka perlu dilakukan penambahan
atau pengurangan jumlah karyawan.
Tujuan penelitian ini tidak terlepas dari perencanaan SDM.
Langkah awal yaitu dengan menganalisis deskripsi pekerjaan dan
spesifikasi pekerjaan dengan menyebarkan kuesioner pada tiap unit,
kemudian dianalisis dengan menggunakan skala likert. Langkah
selanjutnya yaitu dengan menganalisis jumlah beban kerja dan
kebutuhan tenaga kerja dengan menggunakan metode analisis
Pengukuran Beban Kerja (PBK) I, II dan III. Hasil analisis tersebut

dapat diketahui jumlah beban kerja pada tiap unit serta jumlah
karyawan yang dibutuhkan. Sehingga terjadi kesesuaian jumlah beban
kerja dengan jumlah karyawan yang pada akhirnya dapat dijadikan
rekomendasi kepada pihak manajemen sebagai bahan perencanaan
SDM. Alur kerangka operasional terdapat pada Gambar 5.

Tujuan Divisi Produksi


PT. Perkebunan Nusantara VIII

Tujuan Unit

Pembeberan

Pelayuan

Penggilingan dan
oksidasi enzimatis

Pengeringan

Sortasi

Pengepakan

Perencanaan SDM

Deskripsi Pekerjaan
Spesifikasi Pekerjaan

Analisis Pekerjaan

- Analisis
PBK I
PBK II
PBK III
- Analisis Deskriptif

Jumlah Beban Kerja


Jumlah Tenaga Kerja
Analisis Beban Kerja &
Kebutuhan Tenaga Kerja

Rekomendasi

Gambar 5. Alur Kerangka Pemikiran Operasional

3.2. Waktu dan Lokasi Penelitian


Penelitian ini dilakukan di PT. Perkebunan Nusantara VIII Gunung
Mas, yang beralamat di Jl. Raya PuncakKotak Pos 6 Cisarua, Bogor.
Pemilihan lokasi ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa PT. Perkebunan
Nusantara merupakan produsen teh hitam yang telah memiliki ISO 9001.
Penelitian ini dilakukan selama 6 bulan, mulai dari bulan Maret sampai
dengan September 2007.
3.3. Metode Penelitian
3.3.1. Pengumpulan Data
1. Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini bersifat kuantitatif dan
kualitatif.
a. Data Primer
Mengumpulkan data tentang hal-hal yang berhubungan dengan
karyawan, langsung dari perusahaan yang bersangkutan
maupun dari hasil pengisian kuesioner dan tanya jawab dengan
responden
b. Data Sekunder
Mengumpulkan data tentang pengukuran beban kerja melalui
buku-buku, skripsi dan berbagai literatur yang berkaitan
dengan pokok permasalahan.
2. Pengambilan sampel
Responden yang dipilih adalah para karyawan pada bagian
produksi. Teknik pengambilan contoh yang digunakan adalah total
sampling, yaitu mengambil sampel dari seluruh populasi yaitu
seluruh karyawan pada bagian pengolahan yang berjumlah 42
orang karyawan.
3.3.2. Pengolahan dan Analisis Data
1. Uji Validitas
Uji validitas menunjukkan sejauh mana alat pengukur itu mampu
menjawab tujuan yang diinginkan (Ancok, 1995). Uji validitas

digunakan untuk mendapatkan pertanyaan yang valid dari sejumlah


pertanyaan yang sudah terlebih dahulu diberikan kepada responden,
jumlah pertanyaan yang valid (setelah yang gagal dihilangkan)
kemudian diuji kembali dengan metode realibilitas (Umar, 2004)
Menurut Ancok (1995) adapun langkah-langkah dalam menguji
validitas kuesioner adalah sebagai berikut :
a. Mendefinisikan secara operasional konsep yang akan diukur, yaitu
dengan cara :
1. Mencari definisi dan rumusan konsep dan literatur, jika sudah
ada rumusan yang cukup rasional, maka rumusan tersebut
dapat langsung dipakai, apabila rumusan tersebut belum
operasional, maka peneliti harus merumuskannya seoperasional
mungkin.
2. Jika dalam literatur tidak diperoleh definisi atau rumusan
konsep yang akan diukur, peneliti harus mendiskusikan dengan
para ahli lain. Pendapat para ahli lain ini kemudian dirumuskan
dalam bentuk rumusan yang operasional.
3. Bertanya

langsung

kepada

calon

responden

penelitian

mengenai aspek-aspek konsep yang akan diukur. Dari jawaban


yang diperoleh peneliti membuat kerangka konsep dan
membuat pertanyaan operasional.
4. Bertanya

langsung

kepada

calon

responden

penelitian

mengenai aspek-aspek konsep yang menyusun pertanyaan yang


operasional.
b. Melakukan uji coba skala pengukuran minimal terhadap 30
responden.
c. Mempersiapkan tabel tabulasi jawaban.
d. Menghitung korelasi antara masing-masing pertanyaan atau
pernyataan dengan skor total dengan menggunakan rumus Product
Moment, yaitu :
r =

N ( XY ) ( X Y )

.................................. (1)

( N X2- ( X2 )) (N Y2 ( Y )2

Dimana:
N = Jumlah responden
X = Skor masing-masing pertanyaan dari tiap-tiap responden
Y =

Skor total semua pertanyaan dari tiap responden

2. Uji Reliabilitas
Uji

reliabilitas

bertujuan

untuk

mengetahui

kekonsistenan,

keterandalan dan kestabilan alat ukur di dalam mengukur gejala yang


sama (Umar, 2002). Keterandalan ditentukan dengan menggunakan
rumus alpha cronbach, yaitu:
2
k 1
=
1
.. (2)
t2
k 1

Dimana:

= Koefisien alpha cronbach

= Butir pertanyaan yang valid

t2

2
1

= Jumlah varians butir pertanyaan yang valid


= Varians skor total

Perhitungan koefisien alpha cronbach diperoleh dari penggunaan


program SPSS 11.5 for windows.

=
2
t

) ( x)
n

.(3)

n
3. Skala Likert
Menurut (Riduan, 2005) skala Likert digunakan untuk mengukur
sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang
tentang kejadian atau gejala sosial. Skala Likert digunakan untuk
mengubah data kualitatif dalam kuesioner menjadi data kuantitatif.
Cara penilaian terhadap hasil jawaban kuesioner dengan skala likert
dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Bobot Nilai Jawaban Responden


Jawaban Responden
Sangat Setuju
Setuju
Cukup Setuju
Tidak Setuju
Sangat Tidak Setuju

Bobot Nilai
5
4
3
2
1

Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif untuk menjelaskan data dari


hasil sebaran kuesioner secara umum dengan menggunakan persentase dan
rataan skor.
Rs =

(m 1)
.............................................. (4)
m

dimana m adalah jumlah alternatif jawaban tiap item


Rs =

(5 1)
5

Rs = 0,8
Nilai skor rataan dihasilkan dari perkalian antara bobot nilai jawaban
berdasarkan skala dengan jumlah jawaban responden, kemudian dibagi
dengan jumlah responden. Berdasarkan nilai skor rataan tersebut, maka
posisi keputusan penilaian memiliki rentang, dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Nilai Skor Rataan
Skor Rataan
1,0 1,8
1,8 2,6
2,6 3,4
3,4 4,2
4,2 5,0

Penilaian
Sangat Tidak Setuju
Tidak Setuju
Cukup setuju
Setuju
Sangat Setuju

Interpretasi untuk tiap-tiap skor rataan yaitu bila terdapat pada rentang 1,0
sampai 1,8 maka dikatakan sangat tidak baik dan skor rataan yang terdapat
pada rentang 1,8 sampai 2,6 dikatakan tidak baik. Sedangkan nilai skor
rataan pada rentang 2,6 3,4 dikatakan cukup baik. Penilaian baik terdapat
pada rentang 3,4 sampai 4,2 dan penilaian sangat baik terdapat pada rentang
4,2 sampai 5,0.

4. Format Pengukuran Beban Kerja (PBK)

Untuk mendapatkan data dan informasi yang valid, dapat dipercaya


dan relevan, maka prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini
dilakukan melalui penyiapan instrumen Pengukuran Beban Kerja
(PBK) I, II, dan III.
Instrumen disusun berdasarkan ketetapan SK Menpan No. 20. tahun
1999 yang meliputi pengolahan data yang terdiri dari:
a. Formulir pengumpulan data terdiri dari PBK I, PBK II, PBK III.
Formulir ini digunakan untuk mendapatkan data-data yang
diperlukan untuk pengukuran beban kerja yang bersangkutan,
seperti:
1)

Data produk atau hasil kerja dari setiap rincian tugas unit
kerja jabatan terendah pada unit kerja yang akan di ukur

2)

Data

proses

atau

prosedur

yang

dilakukan

untuk

menghasilkan setiap produk


3)

Data frekuensi atau beban kerja setiap produk selama satu


tahun

b. Formulir pengolahan data terdiri dari:


1)

Formulir inventarisasi produk (Form Pengukuran Beban


Kerja I). Formulir ini digunakan untuk menginventarisasi
data tentang produk atau hasil kerja dari satu unit kerja
berdasarkan tugas dan fungsi serta rincian tugas unit kerja
yang bersangkutan.

2)

Formulir rincian proses atas prosedur (Form Pengukuran


Beban

Kerja

II).

Formulir

ini

digunakan

untuk

menginventarisasi dan merinci proses atau prosedur yang


dilakukan untuk mendapatkan satu produk atau hasil kerja.
Pada formulir ini juga terdapat kolom atau lajur untuk
menginventarisasi jumlah beban kerja, standar waktu, serta
isi kerja untuk setiap jabatan atau petugas yang terlibat
dalam setiap proses atau prosedur.

3)

Formulir rekapitulasi perhitungan beban kerja (Form


Pengukuran Beban Kerja III). Formulir ini digunakan untuk
menginventarisasi seluruh isi kerja setiap produk serta
karyawan yang terlibat dalam menghasilkan semua produk.
Jumlah seluruh isi kerja yang ada pada unit kerja tersebut
dinamakan beban kerja. Berdasarkan beban kerja ini,
akan dapat dihitung jenis dan jumlah pemegang jabatan
yang layak pada setiap unit kerja.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Perusahaan


4.1.1. Sejarah Perusahaan

Perkebunan Gunung Mas merupakan salah satu unit usaha PT.


Perkebunan Nusantara VIII (Persero) yang terletak di Kecamatan
Cisarua Kabupaten Bogor. Pada awalnya terdapat dua perkebunan
yaitu Goenoeng Mas Francoise Nederlandise de Culture et de
Commerce yang didirikan oleh maskapai Perancis pada tahun 1910
dan perkebunan NV. CULTURE MY TJIKOPO ZSUID yang
didirikan oleh perusahaan Jerman pada tahun 1992.
Pada tahun 1949 Perkebunan NV. CULTURE MY TJIKOPO
ZSUID diambil alih oleh Pemerintahan Belanda karena Pemerintah
Jerman mengalami kekalahan dalam Perang Dunia ke II, sedangkan
pengelolaannya diserahkan kepada Pusat Perkebunan Negara. Pada
tahun 1954 pengelolaan Perkebunan Goenoeng Mas Francoise
Nederlandise de Culture et de Commerce diserahkan kepada
Perusahaan Belanda, yaitu NV TIEDEMAN E. VAN KERCHEM
(TVK) yang memiliki kantor pusat di Bandung.
Pada tahun 1958 ke dua perkebunan tersebut diambil alih oleh
Pemerintah Republik Indonesia (dinasionalisasi) dan dimasukkan
dalam PPN Baru kesatuan Jabar II. Pada Tahun 1963 dilakukan
reorganisasi perusahaan dan Perkebunan Gunung Mas dimasukkan
dalam PPN Antan VII. Hanya berlangsung tujuh tahun untuk
selanjutnya dengan kebijaksanaan Pemerintah Perusahaan Negara
menjadi PNP XII
Sejak tanggal 1 Agustus 1971 status PNP XII berubah lagi
menjadi PT. Perkebunan Nusantara VIII (Persero). Kemudian
terhitung mulai tanggal 11 Maret 1996 diadakan penggabungan
(merger) tiga PTP (PTP XI, PTP XII dan PTP XIII) menjadi PT.
Perkebunan Nusantara VIII yang meliputi Wilayah Provinsi Jawa
Barat dan Banten, sehingga Perkebunan Gunung Mas ada di bawah

manajemen PT. Perkebunan Nusantara VIII yang berkantor pusat di


Jalan Sindangsirna No. 4 Bandung.
PT. Perkebunan Nusantara VIII didirikan berdasarkan Akta
Notaris Harun Kamil, SH No. C2/8336 HT.01.01 TH. 1996 tanggal 8
Agustus 1996. Hal ini merupakan tindak lanjut dari Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia No. 13 Tahun 1996 tentang peleburan
Perusahaan Perseroan (Persero). PT. Perkebunan Nusantara VIII
Gunung Mas merupakan salah satu unit usaha dari PT. Perkebunan
Nusantara VIII yang bergerak dalam perkebunan teh, terdiri dari 3
perkebunan utama yaitu Gunung Mas I, Gunung Mas II, dan Cikopo
Selatan.
4.1.2. Visi dan Misi Perusahaan

PT. Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas sebagai suatu


organisasi telah menetapkan suatu visi atau pandangan ke depan dan
misi sebagai penjabaran dari visi tersebut. Adapun rumusan visi
tersebut adalah menjadi BUMN yang tangguh dalam bidang agribisnis
dan agroindustri untuk memuaskan stakeholder (pelanggan, pemilik
saham dan karyawan) serta peduli dan berwawasan lingkungan.
Sedangkan misi yang diemban oleh PT. Perkebunan Nusantara VIII
Gunung Mas, yaitu:
A. Sebagai BUMN, PT. Perkebunan Nusantara VIII Gunung mas
memiliki tugas utama mengelola perkebunan berdasarkan Tri
Dharma Perkebunan.
B. Memberikan kontribusi dalam:
1. Pembangunan nasional yang berkelanjutan dan berwawasan
lingkungan
2. Meningkatkan pendapatan nasional serta kesejahteraan bangsa.
4.1.3. Tujuan dan Sasaran Perusahaan

PT. Perkebunan VIII selaku BUMN memiliki tujuan yang telah


ditetapkan, yaitu turut melaksanakan dan menunjang kebijakan dan
program pemerintah dibidang ekonomi dan pembangunan nasional
pada umumnya, khususnya di subsektor kehutanan atau perkebunan

dalam arti seluas-luasnya dengan tujuan memupuk keuntungan


berdasarkan

prinsip-prinsip

perusahaan

yang

sehat

dengan

sumbangan

bidang

berlandaskan azas Tri Dharma Perkebunan Plus, yaitu:


b. Mempertahankan

dan

meningkatkan

perkebunan bagi pendapatan nasional yang diperoleh dari hasil


produksi dan pemasaran beberapa jenis komoditi atau produk
untuk keperluan ekspor dan konsumsi dalam negeri.
c. Memperluas lapangan kerja untuk meningkatkan kesejahteraan
rakyat pada umumnya dan meningkatkan taraf hidup petani pada
khususnya.
d. Memelihara kekayaan alam, khususnya menjaga kelestarian dan
meningkatkan kesuburan tanah, sumber dan tata air.
e. Sebagai Agent of Development (wahana pembangunan).
Sasaran perusahaan yang ingin dicapai oleh PT. Perkebunan
Nusantara VIII

antara lain mencapai produktivitas tanaman dan

sumber daya lainnya yang optimal, mencapai tingkat harga jual ratarata dan volume penjualan yang tinggi, memperoleh sumber daya
yang terampil dan profesional, memiliki likuiditas dan rentabilitas,
meningkatkan kesejahteraan pegawai, mendorong pengembangan
golongan pengusaha kecil dan koperasi, terutama yang menjadi
binaan PT. Perkebunan Nusantara VIII agar dapat mandiri dan
berkembang dengan baik.
4.1.4. Sumber Daya Manusia

Sumberdaya manusia merupakan faktor penting dalam proses


suatu produksi. PT. Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas
membutuhkan

karyawan

berkualitas

yang

memiliki

keahlian,

keterampilan, dan disiplin kerja yang tinggi disetiap unit kerja


sehingga dapat meningkatkan produktivitas kerja karyawan dan
tercapainya tujuan perusahaan.
PT. Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas memiliki dua jenis
karyawan yaitu Karyawan Harian Tetap (KHT) dan Karyawan Harian

Lepas (KHL). Adapun jumlah karyawan PT. Perkebunan Nusantara


VIII dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Jumlah Karyawan PT. Perkebunan Nusantara VIII Gunung
Mas Tahun 2007
Bagian
Karyawan Tetap
Karyawan Lepas
(orang)
(orang)
Kantor Induk
49
7
Wisata Agro
63
25
Produksi
31
11
Teknik
46
18
Gunung Mas I
196
105
Gunung Mas II
151
77
Cikopo Selatan
184
85
Staf atau Pimpinan
11
Jumlah
731
328
Sumber: PT.Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas, Juni 2007
4.1.5. Struktur Organisasi

Perkebunan Gunung Mas dipimpin oleh seorang administratur


yang bertanggung jawab kepada direksi PT. Perkebunan Nusantara
VIII. Administratur dibantu oleh sinder kepala, sinder pabrik, Sinder
Tata Usaha Kantor (TUK), Sinder Wisata Agro dan Sinder teknik.
Sinder Kepala bertugas untuk mengelola segala pekerjaan baik
teknis maupun administrasi meliputi perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan dan pengawasan terhadap kegiatan yang menyangkut
tanaman

teh

sesuai

kebijakan

administratur.

Sinder

kepala

membawahi tiga kepala bagian, yaitu:


2. Kepala bagian kebun (Sinder Afdeling) Gunung Mas I
3. Kepala bagian kebun (Sinder Afdeling) Gunung Mas II
4. Kepala bagian kebun (Sinder Afdeling) Cikopo Selatan
Sinder Afdeling bertugas mengoperasikan dan mengatur
seluruh kegiatan di lapangan meliputi kegiatan persemaian,
penanaman, pemeliharaan dan pemetikan. Sinder Afdeling dibantu
oleh mandor besar rawat dan mandor besar petik. Mandor besar rawat
bertugas merawat tanaman mulai dari pembibitan, penanaman,
penanggulangan hama dan penyakit, pemupukan, dan pemangkasan.
Sedangkan mandor besar petik bertugas mengawasi pekerjaan

karyawan secara langsung di lapangan serta melaporkan hasilnya


kepada mandor besar.
Sinder pabrik bertugas melaksanakan kebijakan administrator
yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan
pengawasan terhadap perkerjaan dan persoalan yang berkaitan dengan
pengolahan teh dan pengendalian kualitas teh. Sinder pabrik dibantu
oleh mandor besar basah, mandor besar kering, kepala urusan CTC,
kepala urusan tea bag (teh celup), juru tata usaha, mandor pelayuan,
mandor penggilingan, mandor fermentasi, mandor pengeringan,
mandor sortasi, dan mandor pengepakan.
Sinder

TUK

berkewajiban

menyelenggarakan

dan

menyelesaikan hal-hal yang berhubungan dengan persoalan keuangan


dan pergudangan. Sinder TUK dibantu oleh kepala urusan umum,
kepala urusan TU, kepala urusan keuangan, dan kepala urusan
keselamatan.
Sinder Teknik bertanggung jawab terhadap persoalan-persoalan
teknik

meliputi

mesin

pengolahan,

penerangan

atau

listrik,

perumahan, pengairan, dan kendaraan.


Sinder Wisata Agro melaksanakan tugas dan kebijaksanaan
Administratur dalam hal pariwisata perkebunan serta mengelola secara
fisik operasional bagian wisata agro baik segi peencanaan,
pelaksanaan maupun pengawasan sesuai ketentuan yang berlaku.
Untuk lebih jelas gambar struktur organisasi PT. Perkebunan
Nusantara VIII Gunung Mas dapat dilihat pada Lampiran 8.
4.2. Uji Validitas dan Reliabilitas
4.2.1. Hasil Uji Validitas Kuesioner

Uji Kuesioner dilakukan untuk menunjukkan sejauh mana


kuesioner mengukur hal yang akan dikaji dalam penelitian.
Berdasarkan uji validitas ini akan diketahui apakah pertanyaan yang
terdapat dalam kuesioner memenuhi syarat sah untuk dijadikan dalam
penelitian.

Kuesioner disebarkan kepada 42 responden. Kuesioner yang


dibagikan terdiri dari dua bagian. Bagian pertama berisikan pertanyaan
mengenai identitas responden dan bagian kedua berisikan pertanyaan
mengenai aspek-aspek yang diamati yaitu analisis pekerjaan, kondisi
kerja dan kinerja, dengan total 30 pertanyaan. Pertanyaan tersebut
terdiri dari 12 pertanyaan mengenai analisis pekerjaan, delapan
pertanyaan mengenai kondisi kerja dan 10 pertanyaan mengenai
kinerja.
Berdasarkan hasil uji validitas dengan korelasi Product Moment
dan menggunakan Software SPSS 11 for Windows. Semua pertanyaan
valid dan memenuhi syarat untuk diolah lebih lanjut karena r hitung>r
tabel, dengan r tabel sebesar 0,36 dan sebesar 0,05 (5%). Hasil uji
validitas ini selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 2.
4.2.2. Hasil Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui sejauh mana hasil


pengukuran dapat dipercaya atau diandalkan. Pengujian reliabilitas
menggunakan metode Alpha Cronbach. Tingkat reliabilitas metode
Alpha Cronbach diukur berdasarkan suatu konstruk variabel dikatakan
baik jika alpha>0,6 (Nugroho,2005). Hasil uji reliabilitas ini
selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 2.
Tabel 7. Tingkat Reliabilitas Metode Alpha Cronbach
Alpha
Tingkat Reliabilitas
00,00 0,20
Kurang reliabel
> 0,20 0,40
Agak reliabel
> 0,04 0,06
Cukup reliabel
> 0,06 0,08
Realiabel
> 0,80 1,00
Sangat Reliabel
4.3. Karakteristik Responden

Penelitian ini melibatkan 42 responden yang merupakan karyawan


bagian produksi pada PT. Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas. Peneliti
menggunakan variabel demografi untuk mengelompokkan responden. Dalam
penelitian ini variabel yang digunakan meliputi jenis kelamin, usia, tingkat
pendidikan, masa kerja dan golongan jabatan.

4.3.1. Karakteristik Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan jenis kelamin, responden yang berjenis kelamin


pria sebanyak 40 orang atau 95% dari 42 orang responden, sedangkan
5% atau dua orang responden lainnya berjenis kelamin wanita.
Tabel 8. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin
Responden (Orang)
Pria
40
Wanita
2
JUMLAH

42

4.3.2. Karakteristik Berdasarkan Usia

Pengelompokan

responden

berdasarkan

jenis

kelamin,

memberikan hasil sebagai berikut : responden yang berusia kurang


dari sampai dengan 30 tahun berjumlah 13 orang atau (31%),
responden yang berusia antara 31 tahun sampai 40 tahun berjumlah
25 orang atau (60%), responden yang berusia antara 41 tahun sampai
50 tahun berjumlah empat orang atau (9%) dan responden yang
berusia lebih dari 50 tahun tidak ada atau (0%).
Tabel 9. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
Usia (Tahun)
Responden (Orang)
= < 30
13
31 40
25
41 50
4
> 50
0
JUMLAH
42
4.3.3. Karakteristik Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Dilihat tingkat pendidikan yang telah diselesaikan, 35 orang


responden atau (83%) tamatan SD, lima orang responden atau (12%)
tamatan SMP, dua orang responden atau (5%) tamatan SMA, tamatan
Diploma tidak ada atau (0%) dan tamatan Sarjana juga tidak ada.
Tabel 10. Berdasarkan Karakteristik Tingkat Pendidikan
Tingkat Pendidikan
Responden (Orang)
Tamat SD
35
Tamat SMP
5
Tamat SMA
2
Tamat Diploma
0
Tamat Sarjana
0
JUMLAH
42

4.3.4. Karakteristik Berdasarkan Masa Kerja

Dilihat dari masa kerja karyawan pada bagian produksi tiga


orang responden atau (7%) memiliki masa kerja kurang dari satu
tahun, 11 orang responden atau (26%) memiliki masa kerja antara
satu sampai lima tahun, empat orang responden atau (10%) memiliki
masa kerja antara enam sampai 10 tahun, dua orang atau (5%)
memiliki masa kerja antara 11 sampai 15 tahun, tiga orang atau (7%)
memiliki masa kerja antara 16 sampai 20 tahun dan 19 orang atau
(45%) memiliki masa kerja lebih dari 20 tahun.
Tabel 11. Karakteristik Berdasarkan Masa Kerja
Masa Kerja (Tahun)
Responden (Orang)
<1
3
15
11
6 10
4
11 15
2
16 20
3
> 20
19
JUMLAH
42
4.3.5. Karakteristik Berdasarkan Golongan Jabatan

Berdasarkan golongan jabatan karyawan sebanyak 35 orang


responden atau (83%) memiliki golongan IA, lima orang responden
atau (12%) memiliki golongan IB dan dua orang responden atau (5%)
memiliki golongan ID.
Tabel 12. Karakteristik Berdasarkan Golongan Jabatan
Golongan Jabatan
Responden (Orang)
IA
35
IB
5
ID
2
JUMLAH
42
4.4. Unit Meber

Tugas dari unit meber yaitu melakukan pembeberan yang merupakan


proses awal dari pelayuan. Pucuk teh dibeberkan di atas Withering Trough
(WT). Pada tahap pembeberan, dialirkan angin yang berasal dari fan (kipas
angin). Tebal hamparan pucuk daun teh segar dalam WT 30 cm, sehingga
tingkat kelayuan pada daun teh dapat merata.

4.4.1. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Analisis Pekerjaan

Persepsi responden terhadap permasalahan pada analisis


pekerjaan di unit meber diwakili oleh 12 pertanyaan. Tabel 13
menunjukkan permasalahan analisis pekerjaan di unit meber dinilai
telah baik. Permasalahan yang dihadapi karyawan dan atasan dapat
diatasi dengan baik. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari skor rataan
semua penilaian berindikasi baik dengan rata-rata nilai 3,6.
Tabel 13. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Analisis
Pekerjaan di Unit Meber
Indikator Permasalahan
Pedoman atau petunjuk kerja telah ada
Pedoman kerja sudah jelas
Tugas dan tanggung jawab kerja sudah jelas
Pedoman kerja telah sesuai dengan
pengetahuan, kemampuan dan keahlian
Atasan telah memberikan bimbingan dalam
melaksanakan pekerjaan
Tugas dan tanggung jawab telah sesuai
dengan kemampuan dan keahlian
Tugas dan kewajiban telah dilaksanakan
sesuai dengan pedoman kerja
Kemampuan dan keterampilan telah sesuai
dengan pekerjaan
Pengetahuan dan pendidikan yang dimiliki
sudah memenuhi kualifikasi pekerjaan
Kemampuan untuk menangkap adanya
penyimpangan atau hambatan dengan
segera mengambil keputusan
Pelatihan dan kursus telah rutin dilakukan
Pelatihan dan kursus telah sesuai dengan
tugas dan pekerjaan
Rata-rata

Skor Rataan
3,6
3,6
4
3,6

Penilaian
Setuju
Setuju
Setuju
Setuju

3,6

Setuju

3,6

Setuju

3,6

Setuju

3,8

Setuju

3,6

Setuju

3,6

Setuju

3,6
3,6

Setuju
Setuju

3,6

Setuju

Karyawan menilai pedoman kerja yang mengatur tugas-tugas


yang harus dikerjakan sudah jelas. Selain itu, tugas dan tanggung jawab
yang diberikan dinilai baik dan sesuai dengan kemampuan dan
keterampilan karyawan. Berdasarkan hasil wawancara dengan mandor
meber diketahui bahwa pembagian tugas untuk masing-masing
karyawan belum jelas walaupun pedoman kerja yang diberikan telah
memuat tugas, fungsi dan tanggung jawab masing-masing karyawan.
Namun kenyataannya masih ada karyawan yang melaksanakan tugas
diluar dari tanggung jawabnya.

4.4.2. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Kondisi Pekerjaan

Tabel 14 menunjukkan persepsi responden terhadap permasalahan


kondisi pekerjaan di unit meber dinilai telah baik. Karyawan menilai
kelengkapan sarana kerja telah memadai, kondisi dan lingkungan kerja
mendukung pekerjaan dan hubungan kerjasama antara karyawan dengan
atasan terjalin dengan baik. Hal tersebut ditunjukkan dengan skor rataan
tertinggi yang bernilai empat.
Tabel 14. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Kondisi
Pekerjaan di Unit Meber
Indikator Permasalahan
Kelengkapan sarana telah memadai
Kondisi dan lingkungan kerja
mendukung pekerjaan dan tugas
yang dilakukan
Lembur dilakukan jika produksi
meningkat
Rotasi pekerjaan antar karyawan
telah sesuai
Jumlah karyawan telah sesuai
Pada saat produksi meningkat
diperlukan tambahan karyawan
Penempatan kerja telah sesuai
dengan kemampuan, keahlian dan
pendidikan
Hubungan kerjasama antara
karyawan dengan atasan telah
dilakukan dengan baik
Rata-rata

Skor Rataan
4
3,8

Penilaian
Setuju
Setuju

3,6

Setuju

3,6

Setuju

3,6
3,6

Setuju
Setuju

3,6

Setuju

Setuju

3,7

Setuju

Kondisi dan lingkungan kerja dinilai baik oleh karyawan


merupakan suatu proses yang telah lama dilakukan sehingga untuk halhal seperti mengangkat pucuk daun teh dari truk ke WT (Withering
Trough) yang dapat menyebabkan karyawan menjadi bungkuk bila
dilakukan terus menerus karena harus memikul beban sebanyak 25
kg/karung pucuk daun teh. Namun hal tersebut dirasakan oleh karyawan
unit meber sebagai hal yang biasa. Oleh karena itu, rataan penilaian
kondisi kerja pada unit meber berindikasi baik.

4.4.3. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Kinerja

Persepsi responden terhadap permasalahan kinerja dilakukan


untuk mengevaluasi kinerja karyawan. Penilaian mengenai kinerja
karyawan disajikan pada tabel berikut:
Tabel 15. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Kinerja di Unit
Meber
Indikator Permasalahan
Jam kerja telah sesuai dengan
beban kerja
Tugas dan pekerjaan telah
dilaksanakan dengan baik sesuai
dengan pedoman
Atasan telah puas terhadap
penyelesaian tugas
Beban kerja telah sesuai dengan
kemampuan
Evaluasi beban kerja telah
dilakukan
Kemampuan adaptasi terhadap
perubahan dan ide-ide baru
Evaluasi pekerjaan rutin dilakukan
Kemampuan mengenali masalah
dan mencari solusi
Ketelitian dalam menjaga kualitas
pekerjaan
Kemampuan membuat keputusan
yang tepat dalam bekerja
Rata-rata

Skor Rataan
3,6

Penilaian
Setuju

Setuju

3,6

Setuju

3,8

Setuju

3,8

Setuju

3,6

Setuju

3,8
3,4

Setuju
Setuju

3,6

Setuju

3,6

Setuju

3,68

Setuju

Hasil perhitungan, skor rataan persepsi responden terhadap


permasalahan kinerja dapat dilihat pada Tabel 15, karyawan menilai
beban kerja telah sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang
dimiliki. Hal tersebut sangat berkaitan dengan pengalaman yang
dimiliki,

karena

kebanyakan

karyawan

masih

ada

hubungan

kekerabatan dengan karyawan lainnya.


4.4.4. Analisis Permasalahan Yang Dihadapi Unit Meber

Berdasarkan persepsi responden terhadap permasalahan di unit


meber, tidak terdapat masalah yang dapat menghambat pelaksanaan
pekerjaan. Kegiatan atau tugas yang harus dilakukan di unit meber
dapat dilaksanakan dengan baik sesuai dengan pedoman kerja.

Walaupun tugas, fungsi dan tanggung jawab dari masing-masing


karyawan masih belum dilaksanakan dengan baik.
4.4.5. Pengukuran Beban Kerja I

Untuk menganalisis ketersediaan karyawan, jumlah beban kerja


dibagi kedalam satu tahun jam kerja sehingga dihasilkan jumlah
karyawan yang ditetapkan atau dibutuhkan di unit kerja masing-masing.
Untuk mendapatkan waktu efektif satu tahun digunakan enam hari
kerja

dengan

perhitungan

berpedoman

pada

Bagian

Umum

Kepegawaian PT. Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas dengan


rincian sebagai berikut :
1 Tahun

= 365 hari

Cuti Tahunan

= 12 hari (-)
353 hari

Hari Senin

52 hari (-)
301 hari

Hari Libur Resmi =

11 hari (-)
290 hari

Waktu kerja

= 48 jam/minggu

Waktu kerja 1 Hari

= 48 = 8 jam/hari
6

Waktu Efektif kerja 1 hari = 8-1 (jam istirahat) =7 jam/hari


Waktu Efektif 1 Tahun

= 290 x 7 jam/hari = 2030 jam/tahun

Catatan : Tidak termasuk hari izin dan keperluan penting atau sakit
Berdasarkan rincian di atas didapatkan jumlah jam kerja selama
satu tahun sebesar 2030 jam/tahun. PT. Perkebunan Nusantara VIII
Gunung Mas menetapkan hari senin sebagai hari libur untuk divisi
produksi. Bila terdapat hari libur resmi, maka tidak semua karyawan
diliburkan melainkan secara bergantian atau dapat digantikan dihari lain
mengingat proses produksi harus terus berjalan.
Pemilihan hari senin sebagai hari libur, karena para pemetik
pada hari minggu diliburkan sehingga tidak terdapat kegiatan
pemetikan. Proses produksi tetap berjalan pada hari minggu karena

proses pada hari minggu merupakan pengolahan pucuk teh pada hari
sebelumnya yaitu hari sabtu.
PT. Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas menerapkan
sistem shift pada unit pelayuan karena proses pelayuan berlangsung
selama 14 jam dengan pembagian tugas yaitu masing-masing tujuh
jam kerja.
Tabel 16. Pengukuran Beban Kerja I
No
Rincian Tugas
1.
2.

3.

Menjalankan kipas
Withering Through (WT)
Mengeluarkan pucuk dari
kontainer untuk diatur
pengisiannya ke dalam
WT
Mengerjakan tugas
pembeberan pucuk sesuai
dengan standar

4.

Membuang benda-benda
asing

5.

Menjaga kebersihan lantai


disekitar WT dari pucuk
yang berceran
Bertanggung jawab
kepada Mandor meber

6.

Produk/Hasil
Menghasilkan angin
dari fan
Pemindahan pucuk
dari truk ke WT

Frekuensi
dalam 1
Tahun
2900 kali
580 kali

Hamparan pucuk
daun teh dalam WT
sesuai dengan
standar
Membersihkan daun
dari ulat, batangbatang, dan daundaun tua
Menjaga WT agar
tetap bersih

580 kali

Laporan kepada
Mandor meber

580 kali

580 kali

870 kali

Pengamatan dilakukan berdasarkan hasil rataan selama dua tri


wulan yaitu dari bulan Januari sampai dengan Juni 2007. Rataan
tersebut menghasilkan sebanyak 71.442 kg/bulan hasil teh kering. Bila
dirata-ratakan berarti dalam sehari menghasilkan 2.381,4 kg dengan
asumsi pembagi sebesar 30 hari per bulan. Diketahui pula bahwa ratarata produksi basah daun teh yang dihasilkan selama dua tri wulan
sebanyak 320.125 kg/bulan. Untuk mengetahui rata-rata produksi basah
per hari maka hasil rata-rata tersebut dibagi dengan asumsi satu bulan
sebanyak 30 hari. Maka rata-rata produksi basah per hari menjadi
10.670,833 kg/hari Hal tersebut jauh dari harapan PT. Perkebunan
Nusantara VIII Gunung Mas yang memprediksi rata-rata target basah
per hari sebanyak 20.000 kg/hari.

Pada unit meber terdapat lima orang karyawan dengan tugas


berdasarkan uraian pekerjaan yang tertera pada tabel 16. karyawan
menjalankan kipas sebanyak dua kali. Hal ini berdasarkan datangnya
daun teh dari kebun sebanyak dua kali yaitu pada antara jam 10.0012.00 WIB dan antara jam 14.00-15.00 WIB. sedangkan Withering
Through (WT) yang digunakan pada kondisi 10 kg hanya 10 WT
dengan kapasitas masing-masing WT sebanyak 1000 kg.
4.4.5. Pengukuran Beban Kerja II

Pengukuran beban kerja II (PBK II) merupakan form yang


merinci proses dari suatu unit kerja. PBK II menjelaskan bagaimana
proses terjadinya suatu produksi mulai dari tahap awal sampai tahap
akhir berdasarkan job description yang telah ditetapkan. Proses yang
terjadi pada unit meber yaitu mulai dari menjalankan mesin WT
sebanyak 10 kali karena ada 10 WT yang digunakan pada produksi
daun teh basah sebesar 10.670,833 kg/hari. Selanjutnya mengeluarkan
pucuk dari truk dilakukan sebanyak dua kali karena berdasarkan
datangnya truk pengangkut pucuk daun teh dari kebun, lalu mengamati
jalannya mesin WT. Untuk menghindari kerusakan tiba-tiba pada mesin
sehingga akan mengganggu kerataan layuan maka jalannya mesin WT
harus selalu diamati. Setelah itu membuang benda-benda asing yang
terdapat dalam hamparan pucuk daun teh. Menjaga kebersihan ruangan
dan alat setiap kali proses pembeberan, karena banyak daun yang
berserakan dan laporan tanggung jawab kepada mandor pembeberan.
Untuk data yang lebih rinci mengenai waktu penyelesaian kerja pada
PBK II dapat dilihat pada Lampiran 3.
4.4.5. Pengukuran Beban Kerja III

Form Pengukuran Beban Kerja III, merinci waktu yang


diselesaikan oleh masing-masing karyawan sekaligus menghitung
berapa jumlah karyawan yang efisien berada pada unit kerja tersebut.
Untuk menghitung karyawan yang efisien dilakukan dengan membagi
jumlah beban kerja dengan waktu produktif yang dikerjakan selama
satu tahun, dengan rumus sebagai berikut:

Jumlah karyawan = Beban kerja karyawan selama satu tahun .......(5)


Efektif dan efisien
Waktu produktif dalam satu tahun
Unit meber memiliki delapan orang karyawan. Terdiri dari lima
orang Karyawan Harian Tetap (KHT) dan tiga orang Karyawan Harian
Lepas (KHL) berdasarkan perhitungan jumlah PBK III maka unit meber
memiliki 10.854,7 beban kerja per tahun. Untuk menghitung jumlah
karyawan yang efisien maka dilakukan perhitungan sebagai berikut:
Unit Meber = 10.854,7 = 5,34
2030
Berdasarkan

perhitungan

tersebut

dilakukan

pembulatan

menjadi lima. hal ini berarti bahwa jumlah karyawan pada unit meber
yang efektif dan efisien berdasarkan jumlah rata-rata produksi basah
10.670,833 kg/hari berjumlah lima orang. Dalam artian unit meber
memiliki kelebihan karyawan sebanyak tiga orang. Untuk melihat hasil
analisis PBK III dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel. 17. Pengukuran Beban Kerja III
No.
Produk/
Hasil
Menghasilkan angin dari fan
1.
Pemindahan pucuk dari truk ke
2.
Withering Through (WT)
Hamparan daun teh dalam WT sesuai
3.
dengan standar
Membersihkan daun dari ulat,
4.
batang-batang dan daun-daun tua
Menjaga WT agar tetap bersih
5.
Laporan kepada mandor meber
6.
Jumlah

Beban Kerja
493
986
4060
2900
2175
240,7
10854,7

4.5. Unit Pelayuan

Pelayuan merupakan tahap awal dimana pucuk dipersiapkan untuk


diolah lebih lanjut. Pelayuan bertujuan untuk menurunkan kadar air pucuk
daun teh menjadi 68% hingga 74%. Pelayuan akan menyebabkan perubahan
senyawa-senyawa kimia yang terkandung di dalam daun. Pelayuan
berlangsung selama 10 sampai 14 jam.

Proses pelayuan dihentikan apabila kerataan tingkat kelayuan telah


mencapai 90% ditandai dengan lemasnya daun dan jika digenggam tidak
menimbulkan patah pada tangkai maupun daun.
4.5.1. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Analisis Pekerjaan

Persepsi responden terhadap permasalahan analisis dan kondisi


pekerjaan di unit pelayuan dinilai telah baik. Tabel 18 dan 19
menunjukkan hasil perhitungan skor rataan persepsi responden terhadap
permasalahan analisis dan kondisi pekerjaan
Tabel 18. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Analisis
Pekerjaan di Unit Pelayuan
Indikator Permasalahan
Skor Rataan
Penilaian
Pedoman atau petunjuk kerja telah ada
Pedoman kerja sudah jelas
Tugas dan tanggung jawab kerja sudah
jelas
Pedoman kerja telah sesuai dengan
pengetahuan, kemampuan dan keahlian
Atasan telah memberikan bimbingan
dalam melaksanakan pekerjaan
Tugas dan tanggung jawab telah sesuai
dengan kemampuan dan keahlian
Tugas dan kewajiban telah dilaksanakan
sesuai dengan pedoman kerja
Kemampuan dan keterampilan telah
sesuai dengan pekerjaan
Pengetahuan dan pendidikan yang
dimiliki sudah memenuhi kualifikasi
pekerjaan
Kemampuan untuk menangkap adanya
penyimpangan atau hambatan dengan
segera mengambil keputusan
Pelatihan dan kursus telah rutin dilakukan
Pelatihan dan kursus telah sesuai dengan
tugas dan pekerjaan
Rata-rata

3,69
3,31
3,69

Setuju
Cukup setuju
Setuju

3,31

Cukup setuju

3,15

Cukup setuju

3,38

Cukup setuju

3,38

Cukup setuju

3,46

Setuju

3,46

Setuju

3,46

Setuju

3,53
3,53

Setuju
Setuju

3,68

Setuju

Karyawan menilai atasan kurang memberikan bimbingan


kepada bawahan. Hal tersebut berindikasi pada penilaian cukup baik
yaitu sebesar 3,15 yang merupakan nilai terendah. Seringnya
komunikasi antara atasan dan bawahan akan meningkatkan motivasi
kerja karyawan.

4.5.2. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Kondisi Pekerjaan

Kondisi kerja pada unit pelayuan telah dinilai baik. Responden


menilai kelengkapan sarana kerja telah memadai. Hal tersebut
berdasarkan

penilaian

tertinggi

persepsi

responden

terhadap

permasalahan kondisi kerja yaitu sebesar 3,76.


Tabel 19. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Kondisi
Pekerjaan di Unit Pelayuan
Indikator Permasalahan
Kelengkapan sarana telah memadai
Kondisi dan lingkungan kerja mendukung
pekerjaan dan tugas yang dilakukan
Lembur dilakukan jika produksi
meningkat
Rotasi pekerjaan antar karyawan telah
sesuai
Jumlah karyawan telah sesuai
Pada saat produksi meningkat diperlukan
tambahan karyawan
Penempatan kerja telah sesuai dengan
kemampuan, keahlian dan pendidikan
Hubungan kerjasama antara karyawan
dengan atasan telah dilakukan dengan
baik
Rata-rata

Skor Rataan
3,76
3,69

Penilaian
Setuju
Setuju

3,2

Cukup setuju

3,46

Setuju

3,46
3,62

Setuju
Setuju

3,31

Cukup setuju

3,62

Setuju

3,73

Setuju

Penilaian terendah terdapat pada insentif kerja lembur yang


dirasa kurang oleh karyawan. Hal tersebut menjadi keluhan karyawan
pada saat kerja lembur.
4.5.3. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Kinerja

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari skor rataan Tabel 20,


semua penilaian berindikasi pada penilaian cukup baik. Persepsi
responden terhadap permasalahan kinerja dinilai cukup baik. Karyawan
menilai telah melaksanakan tugas dan pekerjaan dengan baik sesuai
dengan pedoman kerja walaupun pada saat pelaksanaannya tugas untuk
masing-masing karyawan masih belum jelas. karyawan menilai bahwa
jam kerja tidak sesuai dengan beban kerja kondisi ini terjadi pada saat
permintaan konsumen sedang meningkat.

Tabel 20. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Kinerja di Unit


Pelayuan
Indikator Permasalahan
Jam kerja telah sesuai dengan beban kerja
Tugas dan pekerjaan telah dilaksanakan
dengan baik sesuai dengan pedoman
Atasan telah puas terhadap penyelesaian
tugas
Beban kerja telah sesuai dengan
kemampuan
Evaluasi beban kerja telah dilakukan
Kemampuan adaptasi terhadap perubahan
dan ide-ide baru
Evaluasi pekerjaan rutin dilakukan
Kemampuan mengenali masalah dan
mencari solusi
Ketelitian dalam menjaga kualitas
pekerjaan
Kemampuan membuat keputusan yang
tepat dalam bekerja
Rata-rata

Skor Rataan
3,15
3,46

Penilaian
Cukup setuju
Setuju

3,31

Cukup setuju

3,38

Cukup setuju

3,38
3,38

Cukup setuju
Cukup setuju

3,38
3,31

Cukup setuju
Cukup setuju

3,38

Cukup setuju

3,38

Cukup setuju

3,35

Cukup setuju

4.5.4. Analisis Permasalahan yang Dihadapi Unit Pelayuan

Pada unit pelayuan diperlukan ketelitian karyawan dalam


melaksanakan pekerjaannya. Karyawan harus mengetahui tingkat
kelayuan daun sehingga hasil pelayuan sesuai dengan standar yang
telah ditetapkan. Disamping itu, karyawan juga harus melakukan
proses pelayuan dengan benar agar kelayuan daun merata sehingga
dapat dihasilkan teh dengan kualitas yang baik. Hubungan komunikasi
yang kurang, insentif lembur yang kecil, dan tidak sesuainya jam kerja
dengan beban kerja merupakan permasalahan yang terdapat pada
bagian pelayuan.
4.5.5. Pengukuran Beban Kerja I

Hamparan daun yang terdapat pada unit pelayuan sama dengan


pada unit pemeberan karena WT digunakan selain sebagai tempat
hamparan daun teh juga digunakan untuk pelayuan. Berdasarkan
waktu pada dilakukannya penelitian terdapat 10 hamparan atau 10 WT
(Withering Trough). Pembalikan daun teh dilakukan hanya satu kali
untuk meratakan kadar air yang terdapat dalam daun. Rincian deskripsi

pekerjaan dan rincian produk serta frekuensi selama satu tahun dapat
dilihat pada Tabel 21.
Tabel. 21. Pengukuran Beban Kerja I
No.
Rincian Tugas
1.
2.

3.
4.

5.

Menurunkan kadar air pada


daun segar sehingga hasil
pelayuan sesuai standar
Membalikkan pucuk
dengan cara yang benar
sesuai dengan standar
perlakuan pelayuan
Menjaga kebersihan WT,
alat-alat dan ruangan
Mencapai persentase
kerataan layuan minimal
90% dan MC layuan sesuai
standar
Bertanggung jawab kepada
Mandor pelayuan

Produk/Hasil
Daun menjadi layu

Frekuensi
dalam
1 Tahun
870 kali

Kelayuan daun merata

290 kali

Menjaga hygienitas alatalat dan ruangan


Daun menjadi lemas dan
jika digenggam tidak
menimbulkan patah pada
tangkai maupun daun
Laporan kepada mandor
pelyuan

290 kali
290 kali

580 kali

4.5.6. Pengukuran Beban Kerja II

Rincian proses pada unit pelayuan mulai dari mengambil sampel


daun sehingga dapat diketahui apakah daun yang telah dilayukan telah
mencapai standar kelayuan yaitu sebesar 68 hingga 78%. Selanjutnya
daun tersebut dibalikkan untuk mencapai kerataan layuan. Proses
membalikkan daun tidak terlepas dari pucuk daun yang berceceran
untuk itu kebersihan daerah sekitar WT perlu diperhatikan untuk
menjaga hygienitas teh yang akan dihasilkan. Tugas yang terakhir
untuk unit pelayuan yaitu memberikan laporan kepada mandor
pelayuan. Laporan dilakukan sebanyak tiga kali per hari yaitu laporan
kadar air awal sebelum dilayukan, kadar air ketika akan dibalikkan dan
setelah dibalikkan. Untuk mengetahui hasil analisis PBK II dapat
dilihat pada Lampiran 3.
4.5.7. Pengukuran Beban Kerja III

Unit pelayuan memiliki jumlah karyawan sebanyak delapan


orang karyawan dengan jumlah KHT sebanyak enam orang dan KHL
sebanyak dua orang. Berdasarkan hasil perhitungan PBK III, diketahui

bahwa unit pelayuan memiliki jumlah beban kerja sebanyak 7540.


Berikut perhitungan jumlah karyawan yang efektif dan efisien.
Unit Pelayuan = 7540 = 3,714
2030
Hasil perhitungan tersebut selanjutnya dilakukan pembulatan
menjadi empat. Hal ini berarti pada unit pelayuan jumlah karyawan
yang efektif dan efisien sebanyak empat orang dan unit pelayuan
memiliki kelebihan karyawan sebanyak empat orang. Rincian PBK III
mengenai waktu proses pengerjaan dapat dilihat pada Tabel 22.
Tabel 22. Pengukuran Beban Kerja III
No.
Produk/
Hasil
Pucuk daun teh menjadi layu
1.
Kelayuan daun merata
2.
Menjaga hygienitas alat-alat dan
3.
ruangan
Daun menjadi lemas jika
4.
digenggam, tidak menimbulkan
patah pada tangkai maupun daun
Laporan kepada mandor pelayuan
5.

Beban Kerja

Jumlah

2175
1450
1450
2030
435
7540

4.6. Unit Penggilingan dan Oksidasi Enzymatis

Pada unit penggilingan dan oksidasi enzymatis sebagian besar


dilakukan dengan menggunakan mesin mulai dari pucuk yang layu
dicurahkan melalui sebuah lubang persegi empat ke dalam Green Leaf Sifter
(GLS). GLS berfungsi untuk memisahkan pucuk dari benda asing dengan
cara diayak. Setelah pucuk bebas dari benda asing, lalu pucuk dihancurkan
dan dipotong oleh mesin Barbara Leaf Conditioner (BLC) dengan ukuran
masih kasar. Hasil gilingan dari BLC diteruskan ke mesin Crushing Tearing
Curling (CTC) yang berfungsi untuk memotong, menyobek, dan menggulung
daun. CTC terdiri atas tiga mesin CTC I, CTC II, CTC III.
Proses oksidasi enzimetis membuat teh yang telah digiling dari mesin
CTC mengalami perubahan warna dari hijau tua menjadi coklat tua. Setelah
itu bubuk teh dihamparkan pada mesin Fermenting Unit (FU) dengan tebal
hamparan 6 cm sampai 10 cm. FU dilengkapi dengan spiral yang berfungsi

untuk meratakan ketebalan hamparan dan agitator untuk mengangkat dan


membalik bubuk teh agar proses oksidasi merata.
Lama proses oksidasi enzimetis ditentukan oleh Green Dhool Test yaitu
suatu pengujian untuk menilai rasa, aroma, dan warna air seduhan sebagai
penentu lama proses yang optimal. Proses oksidasi enzimatis berlangsung
selama 60 menit sampai 100 menit dengan hasil akhir menunjukkan
perubahan pada warna bubuk teh dari hijau berangsur menjadi coklat
kehitaman.
4.6.1. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Analisis Pekerjaan

Sebagian besar persepsi responden pada unit penggilingan dan


oksidasi enzymatis terhadap permasalahan analisis pekerjaan, kondisi
kerja dan kinerja menunjukkan penilaian cukup baik. Hal ini dapat
dilihat pada Tabel 23, 24 dan 25.
Tabel 23. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Analisis
Pekerjaan di Unit Penggilingan dan Oksidasi Enzymatis
Indikator Permasalahan
Pedoman atau petunjuk kerja telah ada
Pedoman kerja sudah jelas
Tugas dan tanggung jawab kerja sudah jelas
Pedoman kerja telah sesuai dengan
pengetahuan, kemampuan dan keahlian
Atasan telah memberikan bimbingan dalam
melaksanakan pekerjaan
Tugas dan tanggung jawab telah sesuai
dengan kemampuan dan keahlian
Tugas dan kewajiban telah dilaksanakan
sesuai dengan pedoman kerja
Kemampuan dan keterampilan telah sesuai
dengan pekerjaan
Pengetahuan dan pendidikan yang dimiliki
sudah memenuhi kualifikasi pekerjaan
Kemampuan untuk menangkap adanya
penyimpangan atau hambatan dengan
segera mengambil keputusan
Pelatihan dan kursus telah rutin dilakukan
Pelatihan dan kursus telah sesuai dengan
tugas dan pekerjaan
Rata-rata

Skor Rataan
4
4,13
3
3

Penilaian
Setuju
Setuju
Cukup setuju
Cukup setuju

3,38

Cukup setuju

Cukup setuju

Cukup setuju

3,13

Cukup setuju

3,63

Setuju

Cukup setuju

3
3

Cukup setuju
Cukup setuju

3,27

Cukup setuju

Pelatihan dan kursus untuk unit penggilingan dan oksidasi


enzymatis pada tahun 2007 baru dilakukan satu kali yaitu pelatihan
penyegaran (internal) pada bulan Februari yang berkaitan dengan Good

Manufacturing Practice (GMP) dan Hazard Analysis Critical Control


Point

(HACCP).

Pelatihan

penyegaran

dimaksudkan

untuk

mengevaluasi kembali tugas, wewenang dan tanggung jawab untuk


masing-masing karyawan.
4.6.2. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Kondisi Pekerjaan

Persepsi

responden

terhadap

kondisi

kerja

pada

unit

penggilingan dan oksidasi enzymatis dinilai cukup baik. Hal tersebut


berdasarkan rata-rata nilai skor rataan yaitu sebesar 3,21. Rincian nilai
skor rataan dapat dilihat pada Tabel 24.
Tabel. 24. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Kondisi
Pekerjaan di Unit Penggilingan dan Oksidasi Enzymatis
Indikator Permasalahan
Kelengkapan sarana telah memadai
Kondisi dan lingkungan kerja mendukung
pekerjaan dan tugas yang dilakukan
Lembur dilakukan jika produksi meningkat
Rotasi pekerjaan antar karyawan telah sesuai
Jumlah karyawan telah sesuai
Pada saat produksi meningkat diperlukan
tambahan karyawan
Penempatan kerja telah sesuai dengan
kemampuan, keahlian dan pendidikan
Hubungan kerjasama antara karyawan
dengan atasan telah dilakukan dengan baik
Rata-rata

Skor Rataan
3,75
3,5

Penilaian
Setuju
Setuju

3
3
2,88
2,63

Cukup setuju
Cukup setuju
Cukup setuju
Cukup setuju

3,88

Cukup setuju

Setuju

3,21

Cukup setuju

Berdasarkan hasil nilai skor rataan nilai terendah terdapat pada


kurangnya jumlah karyawan pada saat produksi meningkat yang
mengharuskan karyawan kerja lembur. Walaupun sebagian besar
pekerjaan dilakukan oleh mesin namun karena kendala teknologi mesin
yang belum begitu canggih, sehingga masih perlu dilakukan
pengawasan terhadap mesin setiap saat. Pengawasan dilakukan setiap
jam dengan cara gilir jaga masing-masing karyawan mendapat giliran
jaga sebanyak dua jam secara bergantian, karena kondisi ruangan yang
tidak memungkin karyawan dalam waktu lama berada di dalam ruangan
yang bising. Dengan adanya gilir jaga diharapkan produktivitas kerja
karyawan tetap optimal.

4.6.3. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Kinerja

Tabel 25. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Kinerja di Unit


Penggilingan dan Oksidasi Enzymatis
Indikator Permasalahan
Jam kerja telah sesuai dengan beban kerja
Tugas dan pekerjaan telah dilaksanakan
dengan baik sesuai dengan pedoman
Atasan telah puas terhadap penyelesaian
tugas
Beban kerja telah sesuai dengan kemampuan
Evaluasi beban kerja telah dilakukan
Kemampuan adaptasi terhadap perubahan
dan ide-ide baru
Evaluasi pekerjaan rutin dilakukan
Kemampuan mengenali masalah dan mencari
solusi
Ketelitian dalam menjaga kualitas pekerjaan
Kemampuan membuat keputusan yang tepat
dalam bekerja
Rata-rata

Skor Rataan
2,5
3

Penilaian
Tidak setuju
Cukup setuju

2,38

Tidak setuju

3
3,75
3

Cukup setuju
Setuju
Cukup setuju

3,5
3

Setuju
Cukup setuju

3
3

Cukup setuju
Cukup setuju

3,01

Cukup
setuju

Skor rataan menunjukkan penilaian karyawan terhadap jam


kerja tidak sesuai dengan beban kerja karyawan. Pada unit penggilingan
proses produksi dijalankan dengan mesin yang setiap saat harus selalu
dalam pengawasan agar tidak terjadi kendala atau kerusakan mesin
yang dapat menghambat pengolahan teh. Sedangkan kondisi pabrik
berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara kepada mandor
penggilingan dan oksidasi enzymatis, karyawan merasakan kondisi
kerja sangat bising karena sebagian besar pekerjaan dijalankan oleh
mesin.
4.6.4. Analisis Permasalahan yang Dihadapi Unit Penggilingan dan
Oksidasi Enzymatis

Sebagian besar pekerjaan pada unit penggilingan dan oksidasi


enzymatis dilakukan oleh mesin. Kondisi tersebut menyebabkan
suasana kerja yang kurang nyaman bagi karyawan, karena adanya
suara bising dari mesin, sehingga karyawan merasa beban kerjanya
cukup berat. Pada unit ini diperlukan karyawan yang memiliki
kemampuan mengoperasikan dan pengetahuan tentang mesin sehingga
proses oksidasi dapat berjalan dengan baik.

4.6.5. Pengukuran Beban Kerja I

Pada unit penggilingan dan oksidasi enzymatis sebagian besar


pekerjaan dilakukan oleh mesin sehingga karyawan hanya bertugas
untuk mengawasi jalannya mesin agar dapat berjalan sebagaimana
mestinya. Pada saat bahan baku diatas standar minimum rata-rata yaitu
kurang dari 12.000 kg maka digunakan dua line mesin sedangkan
untuk produksi dibawah 12.000 kg hanya digunakan satu line mesin.
Berdasarkan rata-rata produksi basah dua triwulan pertama pada tahun
2007 maka mesin yang digunakan yaitu satu line mesin. Hal tersebut
dengan memperhitungkan jumlah kapasitas bahan bakar (ADO) yang
digunakan mesin yaitu sebesar 250 kg basah per 60 liter. Maka untuk
mengoptimalkan penggunakan mesin maka digunakan satu line mesin
dengan demikian efektifitas kerja karyawan akan juga akan optimal.
Rincian mengenai deskripsi pekerjaan pada unit penggilingan dan
oksidasi enzymatis dapat dilihat pada Tabel 26.
Tabel. 26. Pengukuran Beban Kerja I
No
Rincian Tugas
1.

2.

3.

4.
5.

Mengoperasikan mesin
penggilingan sesuai dengan
skema giling yang telah
ditetapkan
Melaksanakan pekerjaan
penggilingan, pengayakan
dan oksidasi enzymatis
sesuai dengan skema giling
yang ditetapkan agar
diperoleh firing order yang
tepat
Menjaga, memelihara,
merawat mesin dan fasilitas
giling serta memelihara
kebersihan dan hygienitas
ruang dan alat
Menangani limbah diruang
giling sesuai dengan
standar
Bertanggung jawab kepada
Mandor penggilingan dan
oksidasi enzymatis

Produk/Hasil
Mesin dapat berjalan
sebagaimana harusnya

Frekuensi
dalam
1 Tahun
290 kali

Menghasilkan daun teh


yang sesuai dengan
standar

2030kali

Mesin, ruang dan alat-alat


menjadi bersih

290 kali

Ruangan terhindar dari


limbah debu

2030 kali

Laporan kepada mandor


penggilingan dan oksidasi
enzymatis

1160 kali

4.6.6. Pengukuran Beban Kerja II

Rincian proses penggilingan dan oksidasi enzymatis mulai dari


memeriksa mesin penggilingan dan oksidasi enzymatis sebanyak satu
kali dalam satu hari, mengoperasikan mesin satu kali per hari,
mengamati jalannya proses penggilingan dan oksidasi enzymatis
sebanyak tujuh kali per hari berarti setiap saat mesin harus selalu
diawasi, mengambil sampel hasil penggilingan untuk diserahkan kepada
bagian uji mutu teh sebanyak tiga kali per hari, menjaga kebersihan
ruangan, alat dan mesin sebanyak sebanyak satu kali per hari yaitu
setelah proses penggilingan dan oksidasi enzymatis selesai, menangani
limbah debu yang dapat mencemari proses hygienitas enzymatis setiap
jam per hari serta laporan tanggung jawab kepada mandor penggilingan
dan oksodasi enzymatis sebanyak empat kali per hari yaitu laporan
sampel bubuk teh dan laporan akhir atas keseluruhan jumlah produksi
pada unit penggilingan dan oksidasi enzymatis. Rincian tersebut dapat
dilihat pada Lampiran 3.
4.6.7. Pengukuran Beban Kerja III

Unit penggilingan dan oksidasi enzymatis memiliki lima


karyawan yang terdiri dari empat KHT dan satu KHL. Berdasarkan
perhitungan PBK III maka dapat diketahui jumlah beban kerja pada
unit penggilingan dan oksidasi enzymatis yaitu sebesar 4750.
Berdasarkan jumlah beban kerja tersebut maka dapat diketahui jumlah
karyawan yang efektif dengan perhitungan sebagai berikut:
Unit Penggilingan dan Oksidasi Enzymatis = 4750 = 2,33
2030
Nilai 2,33 dilakukan pembulatan menjadi dua. hal tersebut
berarti bahwa pada unit penggilingan dan oksidasi enzymatis jumlah
karyawan yang efektif dan efisien sebanyak dua orang. Oleh karena itu
unit penggilingan dan oksidasi enzymatis memiliki kelebihan
karyawan sebanyak tiga orang. Rincian mengenai beban kerja dapat
dilihat pada Tabel 27.

Tabel 27. Pengukuran Beban Kerja III


No.
Produk/
Hasil
1. Mesin dapat berjalan dengan baik
2. Menghasilkan bubuk daun teh yang
sesuai dengan standar
3. Mesin, ruang dan alat-alat menjadi
bersih
4. Ruangan terhindar dari limbah debu
5. Laporan kepada mandor
penggilingan dan oksidasi
enzymatis
Jumlah

Beban Kerja
870
1015
1740
1015
110

4750

4.7. Unit Pengeringan

Unit pengeringan bertujuan untuk menghentikan proses oksidasi


enzimatis, membunuh mikroorganisme, dan menurunkan kadar air hingga
2,5% sampai 3%. Proses pengeringan dilakukan selama 15 menit sampai 18
menit menggunakan mesin Fluidized Bed Dryer (FBD) yang memiliki tujuh
seksi dengan enam tray dan satu cooling fan (kipas pendingin). Udara panas
dialirkan masuk ke dalam tray dengan suhu antara 100C sampai 120 C
sedangkan suhu yang keluar dari FBD (outlet) berkisar antara 80C sampai
105C.
Mesin lain yang digunakan pada proses pengeringan adalah Heat
Exchanger (HE) yang berfungsi menghasilkan udara panas bersih yang
bercampur dengan udara segar dari ruangan. Udara kotor dibuang melalui
ducting (lorong). Bubuk teh hasil pengeringan berwarna hitam mengkilat,
kering dan tidak menggumpal serta memiliki aroma yang khas.
4.7.1. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Analisis Pekerjaan

Persepsi responden terhadap permasalahan analisis pekerjaan di


unit pengeringan menunjukkan skor rataan pada penilaian cukup baik.
Hal tersebut berdasarkan pada penilaian skor rataan sebesar 3,22. nilai
skor rataan dapat dilihat pada Tabel 28. Penilaian terendah terdapat
pada kurangnya pengetahuan, kemampuan dan keahlian karyawan
karena pelatihan yang tidak rutin dilakukan. Hal tersebut akan
berdampak pada tugas dan tanggung jawab kerja karyawan yang belum
dapat dilaksanakan dengan baik.

Tabel 28. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Analisis


Pekerjaan di Unit Pengeringan
Indikator Permasalahan
Pedoman atau petunjuk kerja telah ada
Pedoman kerja sudah jelas
Tugas dan tanggung jawab kerja sudah jelas
Pedoman kerja telah sesuai dengan
pengetahuan, kemampuan dan keahlian
Atasan telah memberikan bimbingan dalam
melaksanakan pekerjaan
Tugas dan tanggung jawab telah sesuai
dengan kemampuan dan keahlian
Tugas dan kewajiban telah dilaksanakan
sesuai dengan pedoman kerja
Kemampuan dan keterampilan telah sesuai
dengan pekerjaan
Pengetahuan dan pendidikan yang dimiliki
sudah memenuhi kualifikasi pekerjaan
Kemampuan untuk menangkap adanya
penyimpangan atau hambatan dengan
segera mengambil keputusan
Pelatihan dan kursus telah rutin dilakukan
Pelatihan dan kursus telah sesuai dengan
tugas dan pekerjaan
Rata-rata

Skor Rataan
3,67
4
3
3

Penilaian
Setuju
Setuju
Cukup setuju
Cukup setuju

3,33

Cukup setuju

Cukup setuju

Cukup setuju

3,67

Setuju

Cukup setuju

Cukup setuju

3
3

Cukup setuju
Cukup setuju

3,22

Cukup setuju

4.7.2. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Kondisi Pekerjaan

Tabel 29.

Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Kondisi


Pekerjaan di Unit Pengeringan

Indikator Permasalahan
Kelengkapan sarana telah memadai
Kondisi dan lingkungan kerja mendukung
pekerjaan dan tugas yang dilakukan
Lembur dilakukan jika produksi meningkat
Rotasi pekerjaan antar karyawan telah
sesuai
Jumlah karyawan telah sesuai
Pada saat produksi meningkat diperlukan
tambahan karyawan
Penempatan kerja telah sesuai dengan
kemampuan, keahlian dan pendidikan
Hubungan kerjasama antara karyawan
dengan atasan telah dilakukan dengan baik
Rata-rata

Skor Rataan
3
2

Penilaian
Cukup setuju
Tidak setuju

3
3

Cukup setuju
Cukup setuju

3
2,3

Cukup setuju
Tidak setuju

Cukup setuju

3,67

Setuju

2,87

Cukup setuju

Pada persepsi responden terhadap permasalahan kondisi


pekerjaan, karyawan menilai kondisi dan lingkungan kerja tidak
mendukung karena mesin pengeringan mengeluarkan suhu udara yang
cukup panas. Begitu pula terhadap penambahan jumlah karyawan pada

saat produksi meningkat, dirasakan tidak perlu karena pada unit


pengeringan sebagian besar pekerjaan dilakukan oleh mesin.
4.7.3. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Kinerja

Tabel 30. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Kinerja di Unit


Pengeringan
Indikator Permasalahan
Jam kerja telah sesuai dengan beban kerja
Tugas dan pekerjaan telah dilaksanakan
dengan baik sesuai dengan pedoman
Atasan telah puas terhadap penyelesaian
tugas
Beban kerja telah sesuai dengan
kemampuan
Evaluasi beban kerja telah dilakukan
Kemampuan adaptasi terhadap perubahan
dan ide-ide baru
Evaluasi pekerjaan rutin dilakukan
Kemampuan mengenali masalah dan
mencari solusi
Ketelitian dalam menjaga kualitas
pekerjaan
Kemampuan membuat keputusan yang
tepat dalam bekerja
Rata-rata

Skor Rataan
2,67
3

Penilaian
Cukup setuju
Cukup setuju

Cukup setuju

3,67

Setuju

3
3

Cukup setuju
Cukup setuju

4
3

Setuju
Cukup setuju

3,33

Cukup setuju

Cukup setuju

3,17

Cukup setuju

Karyawan menilai jam kerja belum sesuai dengan beban kerja.


Hal tersebut berkaitan pula dengan kondisi kerja yang tidak nyaman
sehingga karyawan merasa beban kerjanya berat walaupun sebagian
besar pekerjaan dilakukan oleh mesin. Kondisi pada unit pengeringan
hampir sama dengan unit penggilingan dan oksidasi enzymatis dimana
karyawan merasa beban kerja yang diberikan cukup berat karena
pengaruh kondisi teknologi mesin yang masih belum cukup canggih.
4.7.4. Analisis Permasalahan yang Dihadapi Unit Pengeringan

Penggunaan mesin-mesin pada unit pengeringan menyebabkan


kondisi kerja tidak nyaman dan tidak sehat bagi karyawan karena pada
unit pengeringan mesin mengeluarkan suara bising dan suhu udara
yang panas sehingga karyawan merasa beban kerjanya cukup berat.
Kondisi demikian menyebabkan kinerja karyawan tidak optimal dan
tujuan perusahaan dapat terhambat.

4.7.5. Pengukuran Beban Kerja I


Tabel. 31. Pengukuran Beban Kerja I
No
Rincian Tugas
1.

2.
3.
4.
5.

Memasukkan teh oksidasi


enzymatis ke mesin
pengering,
mengumpulkan dan
mengirimkan hasil
keringan ke bagian sortasi
Mengendalikan
temperatur inlet dan outlet
Menjaga kebersihan dan
hygienitas mesin atau
alat-alat dan ruangan
Menangani limbah debu
pengeringan sesuai
dengan standar
Bertanggung jawab
kepada Mandor
pengeringan

Produk/Hasil

Menghentikan proses
oksidasi enzymatis,
membunuh
mikroorganisme dan
menurunkan kadar air
2,5-3%
Mengatur udara panas
yang akan dialirkan
Menghasilkan bubuk teh
yang hygienis dan
berkualitas baik
Ruangan terhindar dari
limbah debu
Laporan kepada mandor
pengeringan

Frekuensi
dalam
1 Tahun
870 kali

870 kali
290 kali
870 kali
2030 kali

Unit selanjutnya setelah unit penggilingan dan oksidasi yaitu


unit pengeringan. Di unit pengeringan daun teh akan mengalami
beberapa proses, diantaranya yaitu dihentikannya proses oksidasi
enzymatis, membunuh mikroorganisme dan menurunkan kadar air
2,5% sampai 3%. Proses ini dilakukan oleh mesin dalam suhu 100C
hingga 120 C hingga tercapai standar mutu teh yang baik.
4.7.6. Pengukuran Beban Kerja II

Rincian pada proses pengeringan mulai dari proses mengamati


jalannya mesin pengeringan sebanyak tiga kali per hari, mengendalikan
temperatur inlet dan outlet tiga kali per hari, menjaga kebersihan dan
hygienitas ruangan, alat-alat dan mesin sebanyak satu kali per hari
sesudah proses produksi. Menangani limbah debu dari proses
pengeringan sebanyak tiga kali per hari serta bertanggung jawab kepada
mandor pengeringan sebanyak tujuh kali per hari, rincian PBK II
terdapat pada Lampiran 3.
4.7.7. Pengukuran Beban Kerja III

Unit pengeringan memiliki jumlah karyawan sebanyak lima


orang yang terdiri dari tiga KHT dan dua KHL. Untuk mengetahui

berapa jumlah efektif dan efisien karyawan bagian unit pengeringan


maka dilakukan perhitungan sebagai berikut :
Unit Pengeringan = 8120 = 4
2030
Berdasarkan beban kerja sebanyak 8120 maka dapat diketahui
bahwa

jumlah karyawan yang efektif dan efisien sebanyak empat

orang. Berarti unit pengeringan memiliki kelebihan jumlah karyawan


sebanyak satu orang. Rincian PBK III terdapat pada tabel berikut.
Tabel. 32. Pengukuran Beban Kerja III
No.
Produk/
Hasil
1. Menghentikan proses oksidasi
enzymatis, membunuh
mikroorganisme dan menurunkan
kadar air 2,5-3%
2. Mengatur udara panas yang akan
dialirkan
3. Menghasilkan bubuk teh yang
berkualitas baik
4. Ruangan terhindar dari limbah debu
5. Laporan harian
Jumlah

Beban Kerja
2610
2175
1450
870
1015
8120

4.8. Unit Sortasi

Pada unit sortasi bertujuan memisahkan bubuk teh berdasarkan berat


dan ukuran pertikel sehingga diperoleh jenis teh yang memiliki ukuran dan
bentuk yang seragam. Alat yang pertama digunakan dalam proses sortasi
adalah midleton yang berfungsi untuk memisahkan fraksi kasar dan halus.
Midleton memiliki dua jenis mesh, yaitu mesh 12 dengan ayakan berukuran 5
mm. bubuk teh polos pada mesh ini, masuk jalur A. mesh yang kedua yaitu
mesh 12 dengan ayakan 8 mm. bubuk teh yang lolos pada mesh ini, masuk ke
lajur B. kapasitas midleton antara 400 sampai 450 kg.
Pada lajur A, teh diterusakan ke mesin Vibro Blank yang berfungsi
untuk memisahkan serat dari bubuk teh kering. Vibro Blank memiliki empat
corong tempat pengeluaran bubuk teh, tetapi bubuk teh yang keluar belum
memiliki nama jenis. Kemudian bubuk teh masuk ke Vibro Mesh untuk
dipisahkan partikel tiap jenis.

4.8.1. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Analisis Pekerjaan

Tabel 33.

Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Analisis


Pekerjaan di Unit Sortasi

Indikator Permasalahan
Pedoman atau petunjuk kerja telah ada
Pedoman kerja sudah jelas
Tugas dan tanggung jawab kerja sudah jelas
Pedoman kerja telah sesuai dengan
pengetahuan, kemampuan dan keahlian
Atasan telah memberikan bimbingan dalam
melaksanakan pekerjaan
Tugas dan tanggung jawab telah sesuai dengan
kemampuan dengan pekerjaan
Tugas dan kewajiban telah dilaksanakan sesuai
dengan pedoman kerja
Kemampuan dan keterampilan telah sesuai
dengan kemampuan
Pengetahuan dan pendidikan yang dimiliki
sudah memenuhi kualifikasi pekerjaan

Skor Rataan
3,87
3
3
3

Penilaian
Setuju
Cukup setuju
Cukup setuju
Cukup setuju

2,88

Cukup setuju

Cukup setuju

3,5

Setuju

Cukup setuju

3,63

Setuju

Kemampuan untuk menangkap adanya


penyimpangan atau hambatan dengan segera
mengambil keputusan
Pelatihan dan kursus telah rutin dilakukan
Pelatihan dan kursus telah sesuai dengan tugas dan
pekerjaan
Rata-rata

Cukup setuju

2,75
3

Cukup setuju
Cukup setuju

3,14

Cukup setuju

Penilaian analisis permasalahan yang dihadapi unit sortasi


sebagian besar berindikasi pada penilaian cukup baik. Tabel 33.
menunjukkan karyawan telah melaksanakan tugas dan tanggung jawab
sesuai dengan pedoman kerja. Selain itu, karyawan menilai
pengetahuan dan pendidikan yang dimiliki sudah memenuhi kualifikasi
pekerjaan sekarang. Penilaian terendah terdapat pada pelatihan kerja
karyawan karena pelatihan hanya dilakukan pada dua kali dalam satu
tahun yaitu pelatihan penyegaran (internal) dan pelatihan in house
training (internal).
4.8.2. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Kondisi Pekerjaan

Responden pada unit sortasi menilai bahwa kondisi kerja pada


unit sortasi berindikasi cukup baik berdasarkan nilai skor rata-rata
sebesar 2,94. Nilai terendah terdapat pada kerja lembur. Berdasarkan
wawancara dengan mandor sortasi, adanya lembur pada saat produksi

meningkat sering dikeluhkan oleh karyawan karena jumlah insentif


yang diberikan menurut karyawan sangat kecil.
Tabel 34. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Kondisi
Pekerjaan di Unit Sortasi
Indikator Permasalahan
Kelengkapan sarana telah memadai
Kondisi dan lingkungan kerja mendukung
pekerjaan dan tugas yang dilakukan
Lembur dilakukan jika produksi meningkat
Rotasi pekerjaan antar karyawan telah sesuai
Jumlah karyawan telah sesuai
Pada saat produksi meningkat diperlukan
tambahan karyawan
Penempatan kerja telah sesuai dengan
kemampuan, keahlian dan pendidikan
Hubungan kerjasama antara karyawan
dengan atasan telah dilakukan dengan baik
Rata-rata

Skor Rataan
3
3

Penilaian
Cukup setuju
Cukup setuju

2,63
3
3
2,75

Cukup setuju
Cukup setuju
Cukup setuju
Cukup setuju

3,13

Cukup setuju

Cukup setuju

2,94

Cukup
setuju

4.8.3. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Kinerja

Permasalahan kinerja pada unit sortasi dinilai cukup baik. Hal


tersebut terlihat dari nilai tertinggi yaitu pada ketelitian karyawan dalam
bekerja. Nilai skor rataan mengenai permasalahan kinerja dapat dilihat
pada Tabel 35.
Tabel 35. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Kinerja di Unit
Sortasi
Indikator Permasalahan
Jam kerja telah sesuai dengan beban kerja
Tugas dan pekerjaan telah dilaksanakan
dengan baik sesuai dengan pedoman
Atasan telah puas terhadap penyelesaian
tugas
Beban kerja telah sesuai dengan
kemampuan
Evaluasi beban kerja telah dilakukan
Kemampuan adaptasi terhadap perubahan
dan ide-ide baru
Evaluasi pekerjaan rutin dilakukan
Kemampuan mengenali masalah dan
mencari solusi
Ketelitian dalam menjaga kualitas
pekerjaan
Kemampuan membuat keputusan yang
tepat dalam bekerja
Rata-rata

Skor Rataan

Penilaian

3
3,5

Cukup setuju
Setuju

3,13

Cukup setuju

Cukup setuju

3,5
3

Cukup setuju
Cukup setuju

3
3

Cukup setuju
Cukup setuju

3,63

Setuju

Cukup setuju

3,18

Cukup setuju

4.8.4. Analisis Permasalahan yang Dihadapi Unit Sortasi

Pada unit sortasi diperlukan ketelitian karyawan dalam


melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan pedoman yang telah
ditetapkan. Disamping itu, pada unit ini diperlukan karyawan yang
memiliki kemampuan mengoperasikan mesin sortasi sehingga mesin
dapat berjalan sebagaimana mestinya. Oleh karena tuntutan hal tersebut,
terdapat beberapa permasalahan yang perlu ditangani oleh pihak PT.
Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas yaitu kurangnya pelatihan,
insentif yang kecil, serta kurangnya koordinasi antara atasan dan
bawahan.
4.8.5. Pengukuran beban Kerja I

Pada unit sortasi dapat diketahui bebagai macam jenis teh


berdasarkan tingkat kualitas jenis teh. Hampir semua pekerjaan
dilakukan oleh mesin. Bubuk teh yang telah dipisahkan berdasarkan
jenisnya, dari mesin akan masuk ke botong yaitu seperti drum yang
fungsinya menampung bubuk teh untuk selanjutnya dilakukan
penimbangan dan diteruskan ke bagian pengepakan. Rincian deskripsi
pekerjaan pada unit sortasi dapat dilihat pada Tabel 36.
Tabel. 36. Pengukuran Beban Kerja I
No
Rincian Tugas
1.
2.

3.

4.
5.
6.

7.

Mengoperasikan mesin
sortasi
Melaksanakan sortasi teh
kering sesuai dengan
skema sortasi yang
ditetapkan
Menyerahkan hasil sortasi
kepada mandor sortasi
dan mandor besar untuk
diperiksa dan ditimbang
Menyimpan hasil sortasi
kedalam peti miring
Menjaga hygienitas mesin
atau alat-alat dan ruangan
Menangani debu dan
bubuk hasil sortasi agar
tidak mencemari
lingkungan
Bertanggung jawab
kepada Mandor sortasi

Produk/Hasil

Mesin berjalan
sebagaimana harusnya
Memisahkan fraksi
kasar dan halus,
memisahkan serat dan
bubuk teh
Mengetahui jumlah
total bubuk teh
berdasarkan jenis
masing-masing
Menyiapkan bubuk teh
yang akan di pak
Menjaga agar bubuk
teh tetap baik
Menghindari
pencemaran
lingkungan
Laporan kepada
mandor sortasi

Frekuensi dalam
1 Tahun
870 kali
870 kali

2030 kali

2320 kali
290 kali
870 kali

290 kali

4.8.6. Pengukuran Beban Kerja II

Sortasi merupakan proses pemilihan jenis teh berdasarkan


mutu masing-masing. Adapun rincian proses sortasi mulai dari
mengoperasikan mesin sortasi tiga kali dalam satu hari, mengamati
jalannya mesin sortasi tiga kali per hari dengan perhitungan dua jam
satu kali, menyerahkan laporan kepada mandor besar hasil timbangan
untuk diperiksa kembali tujuh kali per hari, menyimpan hasil sortasi ke
peti miring delapan kali per hari, menjaga hygienitas rungan, mesin,
dan alat-alat sortasi delapan kali per hari, menangani limbah debu
sebanyak tiga kali per hari serta memberikan laporan kepada mandor
Sortasi sebanyak satu kali per hari. Rincian PBK II dapat dilihat pada
Lampiran 3.
4.8.7. Pengukuran beban Kerja III
Tabel. 37. Pengukuran Beban Kerja III
No.
Produk/
Hasil
1. Mesin dapat berjalan dengan baik
2. Memisahkan fraksi kasar dan halus
serta memisahkan serat dan bubuk teh
3. Mengetahui jumlah total bubuk teh
berdasarkan jenis masing-masing
4. Menyiapkan bubuk teh yang akan di
pak
5. Menjaga agar bubuk teh tetap baik
6. Menghindari pencemaran lingkungan
7. Laporan harian
Jumlah

Beban Kerja
652,5
2610
2375,1
2320
1450
217,5
95,7
9720,8

Berdasarkan PBK III diketahui bahwa jumlah beban kerja pada


unit sortasi sebanyak 9720,8 beban kerja. Dengan rincian jumlah
karyawan yang ada pada bagian sortasi yaitu sebanyak delapan orang
dengan enam orang KHT dan dua orang KHL maka, untuk mengetahui
jumlah karyawan yang efektif dan efisien dilakukan perhitungan
sebagai berikut :
Unit Sortasi = 9720,8 = 4,78
2030

Hasil perhitungan tersebut merupakan jumlah karyawan yang


efektif dan efisien untuk unit sortasi. Berdasarkan pembulatan maka
karyawan yang efektif dan efisien sebanyak lima orang. Berarti terjadi
kelebihan karyawan sebanyak tiga orang. Rincian lampiran PBK III
dapat dilihat pada tabel berikut.
4.9. Unit Pengepakan

Proses pengepakan merupakan proses akhir dalam suatu produksi.


Proses pengepakan teh diawali dengan mengeluarkan kelas mutu teh yang
dipilih dari tea bins (peti piring), kemudian dengan bantuan belt conveyer
dimasukkan ke dalam tea bulker, setelah keluar dari tea bulker, teh siap
dikemas dengan paper sack (kantong kertas). Lalu dipadatkan dengan tea bag
packer dan dipress dengan bag shaver hingga mencapai ketebalan 20 cm.
4.9.1. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Analisis Pekerjaan

Tabel 38. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Analisis


Pekerjaan di Unit Pengepakan
Indikator Permasalahan
Pedoman atau petunjuk kerja telah ada
Pedoman kerja sudah jelas
Tugas dan tanggung jawab kerja sudah jelas
Pedoman kerja telah sesuai dengan
pengetahuan, kemampuan dan keahlian
Atasan telah memberikan bimbingan dalam
melaksanakan pekerjaan
Tugas dan tanggung jawab telah sesuai
dengan kemampuan dan keahlian
Tugas dan kewajiban telah dilaksanakan
sesuai dengan pedoman kerja
Kemampuan dan keterampilan telah sesuai
dengan pekerjaan
Pengetahuan dan pendidikan yang dimiliki
sudah memenuhi kualifikasi pekerjaan
Kemampuan untuk menangkap adanya
penyimpangan atau hambatan dengan
segera mengambil keputusan
Pelatihan dan kursus telah rutin dilakukan
Pelatihan dan kursus telah sesuai dengan
tugas dan pekerjaan
Rata-rata

Tabel

38.

Menunjukkan

Skor Rataan
4
3
3,2
3

Penilaian
setuju
Cukup setuju
Cukup setuju
Cukup setuju

3,2

Cukup setuju

Cukup setuju

3,8

Setuju

Cukup setuju

3,6

Setuju

Cukup setuju

2,8
3

Cukup setuju
Cukup setuju

3,22

Cukup Setuju

persepsi

responden

terhadap

permasalahan analisis pekerjaan di unit pengepakan berindikasi pada

penilaian cukup baik. Sama halnya pada unit sortasi penilaian terendah
untuk permasalahan mengenai analisis pekerjaan terdapat pada
kurangnya pelatihan mengenai pengepakan.
4.9.2. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Kondisi Pekerjaan

Tabel 39. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Kondisi


Pekerjaan di Unit Pengepakan
Indikator Permasalahan
Kelengkapan sarana telah memadai
Kondisi dan lingkungan kerja mendukung
pekerjaan dan tugas yang dilakukan
Lembur dilakukan jika produksi meningkat
Rotasi pekerjaan antar karyawan telah sesuai
Jumlah karyawan telah sesuai
Pada saat produksi meningkat diperlukan
tambahan karyawan
Penempatan kerja telah sesuai dengan
kemampuan, keahlian dan pendidikan
Hubungan kerjasama antara karyawan
dengan atasan telah dilakukan dengan baik
Rata-rata

Skor Rataan
3
2,8

Penilaian
Cukup setuju
Cukup setuju

3,6
3
3
3,6

Setuju
Cukup setuju
Cukup setuju
Setuju

2,8

Cukup setuju

Cukup setuju

3,1

Cukup setuju

Persepsi responden terhadap permasahan kondisi kerja pada unit


pengepakan yaitu kondisi dan lingkungan kerja yang kurang nyaman,
dan penempatan kerja yang masih belum sesuai dengan kemampuan,
keahlian dan pendidikan karyawan. Rincian nilai skor rataan untuk
permasalahan kondisi perkerjaan pada unit pengepakan dapat dilihat
pada Tabel 39.
4.9.3. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Kinerja

Persepsi responden terhadap permasalahan kinerja di unit


pengepakan dinilai cukup baik. Karyawan menilai cara kerja saat ini
telah baik dan ketelitian dalam menjaga kualitas pekerjaan juga dinilai
telah baik. Hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 39.

Tabel 39. Persepsi Responden Terhadap Permasalahan Kinerja di Unit


Pengepakan
Indikator Permasalahan
Jam kerja telah sesuai dengan beban kerja
Tugas dan pekerjaan telah dilaksanakan
dengan baik sesuai dengan pedoman
Atasan telah puas terhadap penyelesaian
tugas
Beban kerja telah sesuai dengan
kemampuan
Evaluasi beban kerja telah dilakukan
Kemampuan adaptasi terhadap perubahan
dan ide-ide baru
Evaluasi pekerjaan rutin dilakukan
Kemampuan mengenali masalah dan
mencari solusi
Ketelitian dalam menjaga kualitas
pekerjaan
Kemampuan membuat keputusan yang
tepat dalam bekerja
Rata-rata

Skor Rataan

Penilaian

3
3,6

Cukup setuju
Setuju

Cukup setuju

Cukup setuju

3
3

Cukup setuju
Cukup setuju

3,6
3

Setuju
Cukup setuju

3,8

Setuju

Cukup setuju

3,2

Cukup setuju

4.9.1. Analisis Permasalahan yang Dihadapi Unit Pengepakan

Pengepakan merupakan proses akhir dalam suatu produksi.


Keahlian, ketelitian, dan keterampilan karyawan dalan proses
pengepakan sangat penting. Pada akhirnya, dengan kemasan yang baik
dan menarik akan menentukan tingkat penjualan teh. Peningkatan
mutu dapat berhasil bila dilakukan pelatihan yang rutin namun pada
unit pengepakan pelatihan masih khusus untuk pengepakan masih
kurang, begitu pula dengan kondisi kerja yang dirasa kurang nyaman
karena bersatu dengan gudang penyimpanan sementara teh yang sudah
dikemas. Berdasarkan hasil wawancara dengan mandor pengepakan
dan seorang karyawan bagian pengepakan yaitu kurangnya perhatian
dari pihak atasan dan juga masih rendahnya gaji bagi karyawan.
4.9.5. Pengukuran Beban Kerja I

Unit pengepakan merupakan unit terakhir dalam proses


produksi. Pada unit pengepakan terdapat beberapa tahapan yang harus
dilakukan sebelum sampai pada tahap penyusunan paper sack di
gudang. Tahapan tersebut terdapat pada Tabel. 40.

Tabel. 40. Pengukuran Beban Kerja I


No
Rincian Tugas
1.
2.
3.
4.

5.
6.

Mempersiapkan paper sack


atau karung sesuai dengan
rencana pengepakan
Mempersiapkan teh dalam
bulker siap untuk dipak
Mengoperasikan mesin
pengepakan dan mengambil
teh untuk contoh
Menyusun paper sack atau
karung hasil pengepakan
sesuai aturan penyimpanan
papersack atau karung yang
ditetapkan
Menjaga dan memelihara
mesin atau alat-alat dan
ruangan pengepakan
Bertanggung jawab kepada
mandor pengepakan

Produk/Hasil
Paper sack yang sesuai
dengan standar

Frekuensi
dalam
1 Tahun
2320 kali

Teh siap untuk di pak

2900 kali

Teh siap untuk diberi


kode berdasarkan
kualitas teh
Memudahkan
pengambilan teh
berdasarkan kualitas
dari gudang

2320 kali

Menjaga hygienitas
teh yang telah di pak

870 kali

Laporan kepada
mandor pengepakan

290 kali

2320 kali

4.9.6. Pengukuran Beban Kerja II

Proses pengepakan terdiri dari beberapa job description yang


telah ditetapkan. Adapun rincian dari unit pengepakan antara lain yaitu
mulai dari memilih paper sack untuk menghindari kebocoran atau
sobekan pada paper sack sebanyak delapan kali dalam satu hari,
menyiapkan teh dalam bulker 100 kali per hari, mengoperasikan mesin
pengepakan delapan kali per hari, menyusun paper sack yang telah di
cap sesuai dengan jenis mutu teh ke dalam gudang delapan kali per hari,
menjaga dan memelihara kebersihan mesin dan alat-alat pengepakan
tiga kali per hari, serta bertanggung jawab kepada mandor pengepakan
satu kali per hari. Rincian PBK II dapat dilihat pada Lampiran 3.
4.9.7. Pengukuran Beban Kerja III

Unit pengepakan memiliki delapan orang karyawan yang terdiri


dari enam KHT dan dua KHL. Berdasarkan perhitungan PBK III,
diketahui bahwa jumlah beban kerja pada unit pengepakan yaitu sebesar
14.064 beban kerja. Untuk mengetahui jumlah karyawan yang efektif
dan efisien dilakukan perhitungan sebagai berikut:

Unit Pengepakan = 14.064 = 6,92


2030
Berdasarkan perhitungan tersebut maka dapat diketahui bahwa
karyawan yang efektif dan efisien bagi unit pengepakan yaitu sebanyak
tujuh orang. Hal ini berarti bahwa unit pengepakan kelebihan satu
karyawan agar dapat mengoptimalkan pekerjaannya. Rincian PBK III
dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel. 41. Pengukuran Beban Kerja III
No.
Produk/
Hasil
1. Memilik paper sack yang sesui
dengan standar
2. Teh siap untuk di pak
3. Teh diberi kode berdasarkan
kualitas masing-masing
4. Memudahkan pengambilan teh
dari gudang
5. Menjaga hygienitas teh yang
telah di pak
6. Laporan harian
Jumlah

Beban Kerja
185,6
1450
393,4
9280
2610
145
14064

5.1. Implikasi Manajerial

Pembahasan mengenai persepsi responden untuk mengetahui berbagai


permasalahan yang berkaitan dengan analisis pekerjaan, kondisi kerja dan
kinerja pada masing-masing unit divisi produksi PT Perkebunan Nusantara
VIII Gunung Mas. Selain untuk mengetahui permasalahan pada tiap unit divisi
produksi juga memberikan solusi sebagai bahan pertimbangan bagi PT.
Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas untuk meningkatkan produktivitas
kerja karyawan.
5.1.1. Permasalahan pada Unit Meber

Berdasarkan hasil dari pembahasan permasalahan pada unit Meber


dapat diperoleh solusi sebagai berikut:
a. Analisis pekerjaan. Permasalahan yang berkaitan dengan analisis
pekerjaan pada unit meber berdasarkan penelitian diketahui dalam
hal ini hampir tidak terjadi permasalahan yang berat. Karyawan
menilai pedoman kerja, tugas dan tanggung jawab, dinilai baik

karena telah sesuai dengan kemampuan dan keterampilan masingmasing karyawan. Analisis juga dilakukan dengan wawancara
kepada mandor unit meber dan diketahui bahwa walaupun deskripsi
pekerjaan yang diberikan sudah jelas namun masih ada karyawan
yang mengerjakan lebih dari satu macam pekerjaan diluar tanggung
jawabnya. Adapun solusi untuk permasalahan tersebut adalah
mengevaluasi ulang pelaksanaan kerja dengan memisahkan tugas
dan tanggung jawab masing-masing karyawan sehingga tidak terjadi
tumpang tindih pekerjaan dengan menghitung beban kerja dan
kemudian membagi beban kerja secara merata sesuai dengan
kompetensi karyawan.
b. Kondisi kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi kerja
pada unit meber dinilai baik. Berbagai kelengkapan sarana kerja,
lingkungan kerja, dan hubungan sesama rekan kerja maupun atasan
telah dinilai baik. Kondisi kerja yang telah berlangsung lama
merupakan suatu kebiasaan yang dinilai tidak ada permasalahan.
Padahal bila ditelusuri lebih lanjut seperti tugas mengangkat pucuk
daun teh dari truk ke WT (Withering Through) dapat menyebabkan
permasalahan

bagi

fisik

karyawan

tersebut.

Solusi

untuk

permasalahan tersebut adalah menyediakan alat untuk memindahkan


pucuk daun teh dari truk ke WT sehingga tidak memerlukan banyak
tenaga manusia.
c. Kinerja. Persepsi responden menunjukkan bahwa pada unit meber
permasalahan kinerja hampir tidak ada karena berdasarkan persepsi
responden kinerja pada unit meber telah dinilai baik. Walaupun
demikian tidak menutup kemungkinan bagi perusahaan untuk terus
meningkatkan kinerja karyawannya dengan mengadakan berbagai
pelatihan yang dilaksanakan secara rutin baik yang diselenggarakan
oleh perusahaan sendiri maupun oleh pihak luar. Pelatihan yang
diharapkan rutin dilaksanakan yaitu in house training (internal)
mengenai pengolahan teh dan pelatihan ESQ untuk meningkatkan
motivasi kerja karyawan

5.1.2. Beban Kerja Unit Meber

Pekerjaan yang efisien dan efektif dapat meningkatkan kinerja


karyawan. Hal tersebut tidak terlepas dari beban kerja yang diberikan
oleh pihak perusahaan. Berdasarkan persepsi responden karyawan
unit meber dan wawancara dengan mandor meber diketahui bahawa
pada saat kondisi hasil produksi pucuk daun teh basah rata-rata
10.670,833 kg/hari, beban kerja di unit meber dinilai ringan, karena
nilai tersebut jauh dari target perusahaan yaitu sebesar 20.000
kg/hari. Untuk pemecahan masalah tersebut yaitu perusahaan harus
mengevaluasi ulang target perusahaan dan peramalan permintaan
konsumen yang telah ditetapkan sebelumnya.
5.1.3. Jumlah karyawan yang efisien di Unit Meber

Optimalisasi kerja dapat dilakukan bila jumlah karyawan sesuai


dengan jumlah beban kerja. Berdasarkan hasil perhitungan
menggunakan Pengukuran Beban Kerja I ( PBK I), PBK II, dan PBK
III, diketahui bahwa jumlah karyawan yang efisien untuk unit meber
yaitu sebanyak lima orang karyawan dari delapan orang karyawan
yang sudah ada. Hal tersebut berarti pada unit meber memiliki
kelebihan jumlah karyawan sebanyak tiga orang. Solusi untuk
permasalahan tersebut adalah meliburkan Karyawan Harian Lepas
(KHL) sampai menunggu hasil produksi kembali meningkat. KHL
merupakan karyawan tidak tetap yang bekerja berdasarkan kontrak
kerja. KHL hanya akan dipekerjaan bila produksi meningkat.
Berdasarkan kondisi dilapangan banyak KHL yang bekerja walaupun
produksi teh sedang menurun. Untuk itu diperlukan ketegasan dari
pihak atasan untuk mengoptimalkan jumlah karyawan berdasarkan
tingkat produksi yang sedang berlangsung.
5.1.4. Permasalahan pada Unit Pelayuan

a. Analisis pekerjaan. Sama halnya dengan unit meber pada unit


pelayuan tidak terdapat permasalahan yang berat hal tersebut
diketahui berdasarkan skor rataan yang tertinggi yaitu pedoman,

tugas, dan tanggung jawab karyawan telah baik. Walaupun secara


umum permasalahan pada unit pelayuan hampir tidak ada,
perusahaan harus tetap memberikan motivasi bagi peningkatan
kinerja karyawannya. Bila dilihat berdasarkan nilai yang terendah
yaitu

atasan

yang

kurang

memberikan

bimbingan

dalam

melaksanakan pekerjaan, maka perusahaan dalam hal ini atasan dari


karyawan unit pelayuan mulai dari sinder sebagai kepala pabrik,
mandor unit pelayuan dan mandor besar basah perlu untuk lebih
memberikan bimbingan kepada bawahan sehingga terjadinya
hubungan yang baik antara karyawan dengan atasannya. Hubungan
komunikasi yang kurang antara atasan dan bawahan karena shift
kerja yang ditetapkan pada unit pelayuan sehingga tidak semua
karyawan dapat berinteraksi langsung dengan atasannya, untuk itu
perlu dilakukan evaluasi ulang mengenai shift jam kerja.
b. Kondisi Pekerjaan. Persepsi responden terhadap kondisi kerja pada
unit pelayuan berdasarkan skor rataan dinilai baik. Namun bila
dilihat dari skor yang terendah yaitu adanya lembur jika produksi
meningkat dinilai cukup baik. Berkaitan dengan hal tersebut, peneliti
melakukan wawancara kepada pihak mandor pelayuan, atas
penilaian terhadap waktu lembur. Ternyata diketahui bahwa pada
saat produksi meningkat dan dilakukan kerja lembur, insentif yang
diberikan kurang memadai. Oleh karena itu, solusi yang berkaitan
dengan kerja lembur yaitu adanya penyesuaian insentif dengan
waktu kerja lembur yang dilakukan.
c. Kinerja. Pembahasan mengenai kinerja berdasarkan rata-rata skor
rataan pada unit pelayuan dinilai baik. Skor rataan nilai terendah
berada pada permasalahan jam kerja dengan beban kerja yang dinilai
cukup baik. Pada saat kondisi beban kerja meningkat karyawan harus
lebih meningkatkan kinerja karena terkait dengan jam kerja yang
diberikan maupun dengan jumlah pesanan teh yang harus segera
dipenuhi. Solusi untuk permasalahan tersebut yaitu, adanya

penyesuaian antara beban kerja dengan waktu yang diberikan


perusahaan untuk menyelesaikan pekerjaan.
5.1.5. Beban Kerja Unit Pelayuan

Dalam hal tempat kerja pada unit meber dan unit pelayuan
berada pada satu tempat yang sama. Hal yang membedakannya yaitu
jam kerja. Karyawan unit pelayuan akan bekerja setelah unit
pemeberan selesai melaksanakan tugasnya. Karyawan unit pelayuan
dapat bekerja di luar jam biasa karyawan bekerja, mulai dari malam
hari sampai pada keesokan harinya. Hal tersebut karena proses
pelayuan yang memakan waktu hingga 14 jam. Meskipun demikian
waktu efektif bekerja untuk masing-masing karyawan tetap tujuh
jam per hari, karena hanya pada unit pelayuan dilakukan shift kerja.
Berdasarkan hasil persepsi responden dan perhitungan beban kerja,
maka diketahui bahwa beban kerja unit pelayuan dinilai ringan. Oleh
karena itu, pihak manajemen harus tetap memotivasi karyawan agar
terus meningkatnya kinerjanya walaupun kondisi produksi sedang
menurun.
5.1.6. Jumlah karyawan yang efisien di Unit Pelayuan

Jumlah karyawan pada unit pelayuan sebanyak delapan orang.


enam diantaranya Karyawan Harian Tetap (KHT) dan dua orang
Karyawan Harian Lepas (KHL). Berdasarkan hasil perhitungan
jumlah karyawan yang efesien untuk unit pelayuan yaitu sebanyak
empat orang, berarti unit pelayuan memiliki kelebihan karyawan
sebanyak empat orang untuk mengoptimalkan jumlah karyawan
maka dua orang KHL harus diliburkan dan dua orang KHT
dimutasikan untuk sementara waktu ke divisi lain, seperti divisi
afdeling (perkebunan), divisi teknik, divisi TUK maupun divisi agro.
5.1.7. Permasalahan pada Unit Penggilingan dan Oksidasi Enzymatis

a. Analisis pekerjaan. Berdasarkan hasil pembahasan mengenai


permasalahan analisis perkerjaan dinilai cukup baik. Tidak sesuainya
kompetensi karyawan dengan tuntutan perusahaan menyebabkan

kurang optimalnya output yang diharapkan oleh perusahaan. Solusi


untuk permasalahan tersebut adalah dilakukan pelatihan in house
training (internal) khusus mengenai teknik pemecahan permasalahan
yang berkaitan dengan mesin penggilingan dan oksidasi enzymatis
karena pada ini hampir sebagian besar pekerjaan dilakukan oleh
mesin.
b. Kondisi kerja. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa permasalahan
pada unit penggilingan dan oksidasi enzymatis dinilai cukup baik.
Nilai terendah berada pada kurangnya jumlah karyawan pada saat
produksi meningkat karena mesin penggilingan dan oksidasi
enzymatis yang masih belum canggih sehingga harus selalu diawasi
setiap saat untuk menghindari kerusakan selama berjalannya proses
produksi. Solusi untuk hal tersebut yaitu membagi waktu untuk tiap
karyawan dalam mengawasi mesin. Untuk mengetahui permasalahan
kondisi kerja juga dilakukan wawancara kepada salah satu karyawan
bagian unit penggilingan dan oksidasi enzymatis, berdasarkan
wawancara tersebut ada hal lain yang menunjukkan permasalahan
pada bagian unit ini yaitu bisingnya suara mesin. Sehingga sebagian
karyawan yang berada pada unit penggilingan dan oksidasi
enzymatis cenderung meninggalkan tempat kerja, walaupun hanya
beberapa saat. Padahal mesin harus selalu diawasi setiap saat. Solusi
untuk permasalahan tersebut adalah memberikan peredam suara (ear
protection) sehingga suara mesin tidak terdengar bising. Walaupun
fasilitas ear protection sudah ada namun karyawan pada unit
penggilingan dan oksidasi enzymatis tidak menggunakannya. Hal
tersebut tidak terlepas dari kebiasaan karyawan yang tidak pernah
menggunakan peredam suara untuk mengurangi suara bising dari
mesin.
c. Kinerja. Permasalahan yang berkaitan dengan kinerja dinilai cukup

baik. Bila dilihat dari nilai yang terendah maka permasalahan pada
unit penggilingan dan oksidasi enzymatis yaitu belum sesuainya jam
kerja dengan beban kerja yang diberikan. Hal tersebut tidak terlepas

dari kondisi yang tidak nyaman sehingga karyawan merasa beban


kerjanya berat, walaupun produksi sedang menurun. Solusi untuk
permasalahan tersebut yaitu menciptakan kondisi kerja yang nyaman
dengan berbagai fasilitas yang memadai sehingga karyawan dapat
terus meningkatkan kinerjanya.
5.1.8. Beban Kerja Unit Penggilingan dan Oksidasi Enzymatis

Responden karyawan unit penggilingan dan oksidasi enzymatis


menilai beban kerja pada kondisi produksi teh basah saat ini sangat
ringan karena sebagian besar pekerjaan dilakukan oleh mesin.
Karyawan akan merasa beban kerjanya berat bila terjadi kerusakan
pada mesin. Oleh karena itu, perusahaan perlu memberikan pelatihan
mengenai pemeliharaan dan perbaikan mesin, sehingga bila terjadi
kerusakan sewaktu-waktu karyawan dapat mengatasi dengan cepat.
Pelatihan in house training mengenai tata cara pengolahan teh yang
baik harus rutin dilakukan minimal tiga kali dalam setahun dan
diikuti oleh seluruh karyawan pada bagian pengolahan.
5.1.9. Jumlah karyawan yang efisien di unit Penggilingan dan oksidasi
enzymatis

Berdasarkan hasil perhitungan jumlah karyawan yang efisien di


unit penggilingan dan oksidasi enzymatis adalah sebanyak dua
orang. Berarti terjadi kelebihan jumlah karyawan sebanyak tiga
orang karena jumlah karyawan saat ini berjumlah lima orang yang
terdiri dari empat orang KHT dan satu orang KHL. Oleh karena itu,
pihak manajemen harus meliburkan satu karyawan KHL dan
memindahkan dua orang KHT ke divisi lain.
5.1.10. Permasalahan pada Unit Pengeringan

a. Analisis pekerjaan. Berdasarkan hasil pembahasan mengenai


permasalahan yang terjadi pada unit pengeringan memiliki nilai ratarata cukup baik. Hal tersebut terlihat dari nilai skor rataan tertinggi
terdapat pada tugas atau pedoman kerja telah ada begitu pula pada
kemampuan dan keterampilan telah sesuai dengan pekerjaan.

Meskipun demikian motivasi kerja karyawan perlu terus ditingkatkan


karena kondisi kerja yang kurang memadai. Solusi untuk
peningkatan

kemampuan

kerja

karyawan

yaitu

memberikan

pelatihan yang sesui dengan bidang kerja pada bagian pengeringan.


b. Kondisi kerja. Sama halnya dengan unit penggilingan dan oksidsi
enzymatis responden menilai kondisi kerja dan lingkungan tidak
nyaman karena mesin-mesin pengeringan mengeluarkan suhu udara
yang cukup panas. Sehingga sebagian besar karyawan tidak berada
ditempat untuk mengawasi jalannya mesin maupun mengatur suhu
mesin. Padahal seharusnya mesin-mesin tersebut harus selalu
diawasi setiap saat. Solusi untuk permasalahan tersebut adalah
dilakukannya shift untuk mengatur jumlah karyawan yang harus
selalu berada di tempat.
c. Kinerja. Permasalahan pada unit pengeringan mengenai kinerja
berdasarkan hasil pembahasan dinilai cukup baik. Berdasarkan skor
nilai terendah terdapat pada jam kerja dengan jumlah beban kerja.
Walaupun pada unit pengeringan tidak diperlukan penambahan
karyawan karena sebagian besar pekerjaan dilakukan oleh mesin
namun karyawan merasa beban kerjanya berat karena dipengaruhi
oleh kondisi lingkungan kerja yang tidak nyaman. Oleh karena itu
perusahaan perlu memberikan fasilitas pelindung kerja bagi
karyawan unit pengeringan yaitu bagi karyawan harus menggunakan
baju anti panas sehingga pengawasan terhadap mesin-mesin
pengeringan maupun pengaturan suhu inlet dan outlet dapat terus
berjalan walaupun dalam suasana kerja yang kurang mendukung
karena teknologi yang digunakan masih belum canggih.
5.1.11. Beban Kerja Unit Pengeringan

Sama seperti unit penggilingan dan oksidasi enzymatis. Pada


unit pengeringan sebagian besar pekerjaan dilakukan oleh mesin.
Berdasarkan persepsi dan perhitungan beban kerja pada unit
pengeringan dinilai ringan, namun pada kondisi dilapangan tugas

pada unit pengeringan dirasakan berat karena bekerja pada kondisi


lingkungan yang panas dan bising sehingga tugas utama dari unit
pengeringan yaitu mengatur kendali suhu inlet (udara panas masuk)
dan outlet (udara panas keluar) kurang optimal.
5.1.12. Jumlah karyawan yang efisien di Unit Pengeringan

Unit pengeringan memiliki jumlah karyawan sebanyak lima


orang. tiga KHT dan dua KHL. Hasil perhitungan menunjukkan
bahwa jumlah karyawan yang efisien untuk unit pengeringan
sebanyak empat orang. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pada
unit pengeringan terjadi kelebihan karyawan sebanyak satu orang
orang. Oleh karena itu, satu orang KHL harus diliburkan.
5.1.13. Permasalahan pada Unit Sortasi

a. Analisis pekerjaan. Permasalahan mengenai analisis pekerjaan pada


unit sortasi yaitu kurangnya pelatihan, bahkan berdasarkan
wawancara yang dilakukan pada karyawan sortasi pelatihan yang
yang rutin dilakukan setahun sekali yaitu pelatihan penyegaran
(internal) ketika akan dilakukan audit HACCP. Namun pelatihan
tersebut hanya bersifat umum, bukan pada bidang tugas masingmasing unit. Solusi untuk permasalahan tersebut yaitu memberikan
pelatihan secara rutin mengenai pengolahan teh yang baik dan benar
sehingga karyawan dapat lebih meningkatkan kemampuan kerjanya.
b. Kondisi kerja. Responden pada unit sortasi menilai bahwa kondisi
kerja pada unit sortasi cukup baik. Berdasarkan nilai skor rataan
penilaian terendah ada pada kerja lembur. Berdasarkan wawancara
yang dilakukan kepada mandor sortasi, adanya lembur pada saat
produksi meningkat sering dikeluhkan oleh karyawan unit sortasi,
karena jumlah insentif tidak sesuai dengan jam kerja lembur. Solusi
untuk permasalahan tersebut adalah mengevaluasi kembali jam kerja
lembur dengan uang insentif yang harus diberikan.
c. Kinerja. Permasalahan kinerja pada unit sortasi dinilai cukup baik.
Hal tersebut terlihat dari nilai tertinggi yaitu pada ketelitian

karyawan dalam bekerja sedangkan nilai terendah ada pada kepuasan


atasan atas penyelesaian kerja oleh karyawan. Solusi untuk nilai
terendah yaitu adanya koordinasi yang baik antara atasan dan
bawahan sehingga dapat meningkatkan kinerja karyawan.
5.1.14. Beban Kerja Unit Sortasi

Deskripsi pekerjaan unit sortasi paling banyak diantara unitunit yang lain, mulai dari mengoperasikan mesin sortasi,
melaksanakan sortasi teh kering sesuai dengan skema sortasi yang
ditetapkan, menyerahkan hasil sortasi kepada mandor sortasi dan
mandor besar untuk diperiksa dan ditimbang, menyimpan hasil
sortasi kedalam peti miring, menjaga hygienitas mesin atau alat-alat
dan ruangan, menangani debu dan bubuk hasil sortasi agar tidak
mencemari lingkungan dan bertanggung jawab kepada Mandor
sortasi. Namun demikian, untuk produksi basah di bawah 12.000
kg, beban kerja dirasakan ringan. Oleh karena itu, perusahaan harus
terus meningkatkan kinerja karyawan sehingga bila produksi telah
selesai sebelum jam kerja berakhir. Karyawan masih dapat
melakukan tugas yang lain sehingga efektifitas kerja karyawan dapat
optimal.
5.1.15. Jumlah karyawan yang efisien di Unit Sortasi

Unit sortasi memiliki jumlah karyawan sebanyak delapan


orang. enam orang KHT dan dua orang KHL. Perhitungan PBK III,
menunjukkan bahwa unit sortasi memiliki kelebihan karyawan
sebanyak tiga orang. Untuk mengefisiensikan jumlah karyawan
maka

perusahaan

harus

meliburkan

dua

orang

KHL

dan

memindahkan satu karyawan KHT ke divisi lain, seperti divisi


teknik, divisi TUK, divisi afdeling maupun divisi agrowisata.
5.1.16. Permasalahan pada Unit Pengepakan

a. Analisis pekerjaan. Permasalahan pada unit pengepakan berdasarkan


skor rataan telah dinilai cukup baik. Berdasarkan nilai terendah
berada pada pelatihan dan kursus yang telah dilakukan. Karyawan

merasa perlu dilakukan lebih banyak pelatihan karena keterampilan,


kemampuan dan pengetahuan masih terbatas. Seperti diketahui
bahwa rata-rata pendidikan pada divisi produksi yaitu SD (Sekolah
Dasar). Solusi untuk permasalahan tersebut yaitu harus dilakukannya
pelatihan

maupun

kursus-kursus

sehingga

kemampuan

dan

keterampilan karyawan dapat meningkat. Pelatihan yang harus rutin


dilakukan yaitu in house training untuk meningkatkan kemampuan
kerja karyawan dan bila dimungkinkan karyawan yang pendidikan
terakhirnya SD dilakukan sekolah kejar paket B.
b. Kondisi kerja. Berdasarkan nilai skor rataan terendah permasalahan
pada unit pengepakan adalah kondisi dan lingkungan pekerjaan yang
dirasakan masih kurang dan penempatan kerja yang masih belum
sesuai dengan kemampuan, keahlian, dan pendidikan karyawan.
Solusi

untuk

permasalahan

tersebut

yaitu

perlu

dilakukan

peningkatan atas fasilitas kerja dan juga dilakukan rekruitmen secara


profesional dalam mencari karyawan baru bukan berdasarkan adanya
orang dalam.
c. Kinerja. Permasalahan yang ada pada unit pengepakan mengenai
kinerja dinilai cukup baik. Hasil wawancara yang dilakukan kepada
mandor dan seorang karyawan bagian pengepakan yaitu kurangnya
perhatian dari pihak atasan dan juga masih rendahnya gaji bagi
karyawan. Solusi untuk permasalahan tersebut yaitu atasan
memberikan perhatian yang lebih kepada karyawannya dengan lebih
banyak berinteraksi serta berkomunikasi dengan bawahannya
sehingga karyawan dapat meningkatkan kinerjanya.
5.1.17. Beban Kerja Unit Pengepakan

Berdasarkan hasil pembahasan mengenai beban kerja hampir


semua unit pada divisi produksi menilai bahwa beban kerja pada saat
kondisi produksi teh basah 10.670,833 kg/hari berindikasi ringan.
Oleh karena itu, pihak perusahaan harus memberikan solusi untuk
mengefektifkan karyawan pada saat jumlah produksi menurun.

Perusahaan juga perlu melakukan perputaran kerja antar karyawan,


sehingga tidak terjadi kejenuhan kerja yang dapat menurunkan
kinerja karyawan.
5.1.18. Jumlah karyawan yang efisien di Unit Pengepakan

Karyawan pada unit pengepakan yang efisien berdasarkan


perhitungan yaitu sebanyak tujuh orang. Oleh karena itu, unit
pengepakan memiliki kelebihan karyawan sebanyak satu orang
karena jumlah seluruh karyawan pada saat ini berjumlah delapan
orang. Enam orang KHT dan dua orang KHT. Perusahaan harus
meliburkan salah satu orang KHL sehingga jumlah kinerja karyawan
akan optimal.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


1. Kesimpulan

1. Permasalahan yang terjadi pada unit meber yaitu karyawan belum


melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab masing-masing.
Permasalahan lain yaitu belum rutinnya pelatihan mangenai pembeberan
pucuk daun teh, dikarenakan pengalaman kerja yang telah berlangsung
secara turun-temurun sehingga pelatihan untuk peningkatan pengetahuan
maupun keterampilan kerja karyawan belum optimal.
2. Permasalahan pada unit pelayuan yaitu kurangnya bimbingan dari atasan
dikarenakan shift kerja yang berbeda antara mandor dengan karyawan,
sedangkan insentif lembur yang belum memadai dikarenakan proses
produksi pada bagian pelayuan yang memerlukan waktu cukup lama.
3. Permasalahan pada unit penggilingan dan oksidasi enzymatis yaitu
pelaksanaan in house training yang belum rutin dilakukan. Adapun
permasalahan lain yaitu kondisi lingkungan kerja yang kurang nyaman,
dalam hal ini dikarenakan suara bising dari mesin. Walaupun perusahaan
telah menyediakan pelindung kerja seperti peredam kerja (ear protection)
namun karyawan pada unit penggilingan dan oksidasi enzymatis tidak
menggunakan alat pelindung kerja tersebut.
4. Permasalahan unit pengeringan yaitu kondisi lingkungan kerja yang panas
dan bising disebabkan oleh kondisi mesin yang sudah tua.
5. Permasalahan

unit

sortasi

yaitu

kemampuan,

keterampilan

dan

pengetahuan yang terbatas disebabkan oleh kurangnya pelatihan mengenai


pengolahan teh atau in house training.
6. Permasalahan unit pengepakan yaitu, pelatihan mengenai proses
pengepakan yang terbatas hanya pada beberapa orang karyawan sehingga
berdampak pada belum optimalnya kerja karyawan dan penempatan
karyawan yang tidak sesuai dengan kemampuan dan keahlian dapat
menghambat proses produksi teh.

7. Terdapat keragaman jumlah kelebihan karyawan. Hal tersebut berdasarkan


jumlah produksi yang menurun. Jumlah produksi yang menurun
dikarenakan jumlah pucuk daun the berkurang yang disebabkan oleh
faktor cuaca, gilir pemetikan, kesuburan tanah dan pemberantasan hama
yang tidak merata sehingga terjadi kelebihan karyawan pada masingmasing unit. Kelebihan karyawan disebabkan oleh tidak dilaksanakannya
pengurangan jumlah Karyawan Harian Lepas (KHL) ketika produksi
pucuk daun teh mengalami penurunan. Hasil penelitian menunjukkan pada
unit meber terdapat kelebihan karyawan sebanyak tiga orang, sedangkan
pada unit pelayuan terdapat kelebihan karyawan sebanyak empat orang.
Unit penggilingan dan oksidasi enzymatis terdapat kelebihan karyawan
sebanyak tiga orang, unit pengeringan kelebihan karyawan sebanyak satu
orang, unit sortasi kelebihan karyawan sebanyak tiga orang dan unit
pengepakan kelebihan satu orang karyawan.
8. Semua unit memiliki kelebihan karyawan, ketidaksesuaian antara jumlah
karyawan dengan beban kerja dikarenakan jumlah produksi bahan baku
yang menurun di bawah standar target perusahaan. Dalam artian jumlah
bahan baku yang menurun akan berdampak pada semakin ringannya beban
kerja karyawan sehingga jumlah karyawan yang ada tidak dioptimalkan
karena karyawan kekurangan beban kerja.
2. Saran

i.

Peneliti tidak hanya pada divisi produksi tetapi pada divisi lain yang ada di
PT. Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas.

2.

Perlu penelitian dengan menggunakan alat analisis lain yang digunakan


untuk perencanaan sumberdaya manusia. Alat analisis tersebut diantaranya
teknik matrik peluang, teknik delphi maupun analisis trend.

ii.

Perlu evaluasi untuk menganalisis faktor-faktor yang dapat mempengaruhi


beban kerja.

DAFTAR PUSTAKA

Arep, I dan Hendri Tanjung. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia.


Universitas Trisakti, Jakarta.
Alwi, S. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia Strategi Keunggulan
Kompetitif. BPFE, Yogyakarta.
Dessler, G. 1997. Edisi B. Indonesia Manajemen Sumber Daya Manusia. PT.
Prenhallindo. Jakarta.
Gunadi, S. 1997. Studi Tentang Beban Kerja di Unit Rawat Inap Penyakit Dalam
Lantai III Rumah Sakit Tebet. Tesis. Jurusan Kajian Administrasi Rumah
Sakit. Universitas Indonesia, Jakarta.
Hasibuan, M. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bumi Aksara, Jakarta.
Herujito, Y. 1996. Dasar-dasar Manajemen. Jurusan ilmu-ilmu sosial ekonomi
pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Komariah, K. 2006. Analisis Beban Kerja Tenaga Penunjang di Lingkungan
Institut Pertanian Bogor. Skripsi. Jurusan Manajemen. Sekolah Tinggi
Ilmu Ekonomi. Pandu Madania. Bogor.
Mawawi, H. 2001. Perencanaan Sumber Daya Manusia untuk Organisasi Profit
Yang Kompetititf. Gajah Mada, Yogyakarta.
Mangkunegara, A. 2003. Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia.
PT. Refika Aditama, Bandung.
Mangkuprawira, S. 2003. Manajemen Sumber Daya Manusia Strategik. PT.
Ghalia Indonesia, Jakarta.
Nazir, M. 1999. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia, Jakarta.
Saragih, A. 2004. Analisis Beban Kerja, Kompensasi dan Kepuasan Kerja
Karyawan Puskesmas (Studi Kasus Puskesmas Bogor Timur Kota Bogor).
Skripsi. Jurusan Manajemen. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut
Pertanian Bogor.
Stoner, J, dkk. 1996. Edisi B. Indonesia. Manajemen. PT. Prenhallindo, Jakarta.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Kuesioner Penelitian

KUESIONER PENELITIAN

ANALISIS PENGUKURAN BEBAN KERJA KARYAWAN


PADA DIVISI PRODUKSI
(Studi Kasus PT. Perkebunan Nusantara VIII Gunung Mas Bogor)

PETUNJUK UMUM

1. Kuesioner ini hanya untuk kepentingan penelitian semata dan jawaban


yang diberikan tidak akan berpengaruh terhadap penilaian kinerja dan
karier Bapak/Ibu/Saudara.
2. Kuesioner ini terdiri dari identitas responden dan pertanyaan seputar beban
kerja.
3. Saya mengharapkan kejujuran anda supaya hasil penelitian saya ini lebih
akurat.
4. Atas perhatian dan partisipasi Bapak/Ibu/Saudara, Saya sampaikan rasa
terimakasih.

Nama
Nrp
Fakultas
PT

: Siti Hanifah Sufiati


: H24103101
: Ekonomi dan Manajemen
: Institut Pertanian Bogor

IDENTITAS RESPONDEN
Berilah tanda silang (X) pada jawaban yang anda anggap sesuai!

1. Berapakah umur Anda? (pilih selang angka yang sesuai)


a. Kurang atau sama dengan 30 th
c. 41-50 th
b. 31-40 th
d. Lebih dari 50 th
2. Apakah jenis kelamin Anda?
a. Laki-laki

b. Perempuan

Lanjutan Lampiran 1

3. Apakah tingkat pendidikan terakhir Anda?


a. SD/Iptidaiyah
d. Diploma
b. SMP/Sanawiyah
c. SMA/Kejuruan/Madrasah Aliyah

e. Sarjana
f . Pasca Sarjana

4. Berapa lamakah Anda bekerja di perusahaan ini?


a. <1 th
d. 11-15 th
b. 1-5 th
e. 16-20 th
c. 6-10 th
f. >20 th
5. Pada unit apakah Anda bekerja?
a. Pembeberan
b. Pelayuan
c. Penggilingan dan enzymatis

f. Pengeringan
g. Sortasi
h. Pengepakan

6. Apakah golongan jabatan Anda?


a. I A
b. II A
c. III A
d. IV A
e. I B
f. II B
g. III B
h. IV B

i. I C
j. II C
k. III C
l. IV C
m. I D
n. II D
o. III D
p. IV D

Lanjutan Lampiran 1

Berilah tanda silang pada kotak jawaban yang anda anggap paling sesuai!
Keterangan :
STS : Sangat Tidak Setuju
TS
: Tidak Setuju
CS
: Cukup Setuju
S
: Setuju
SS
: Sangat Setuju

No
1.

2.
3.
4.

5.
6.

7.

ANALISIS PEKERJAAN
Pertanyaan
STS
TS
Saya mengetahui adanya
pedoman atau petunjuk kerja
Saya memahami dengan jelas
pedoman kerja tersebut
Menurut saya tugas dan
tanggungjawab pekerjaan yang
harus dilakukan sudah jelas
Pedoman kerja yang dibuat telah
sesuai dengan pengetahuan,
kemampuan dan keahlian yang
saya miliki
Atasan saya telah
membimbing saya dalam
melaksanakan tugas
Menurut saya tugas dan tanggung
jawab yang diberikan telah sesuai
dengan kemampuan dan keahlian
saya
Saya sudah melaksanakan tugas
dan kewajiban dengan baik sesuai
dengan pedoman kerja

8.

Kemampuan dan keterampilan


yang saya miliki telah sesuai
dengan pekerjaan saya sekarang

9.

Pengetahuan dan pendidikan yang


saya miliki sudah memenuhi
kualifikasi pekerjaan

CS

SS

Lanjutan Lampiran 1

No
10.

ANALISIS PEKERJAAN
Pertanyaan
STS
TS
Saya memiliki kemampuan untuk
menangkap adanya
penyimpangan/hambatan dalam
palaksanaan tugas di unit kerja
saya dan dengan segera
mengambil tindakan pencegahan

11.

Perusahaan rutin memberikan


pelatihan dan kursus untuk
karyawannya

12.

Pelatihan dan kursus yang


diberikan telah sesuai dengan
tugas dan pekerjaan saya

No.
1.

Pertanyaan
Menurut saya
kelengkapan sarana
kerja telah memadai

2.

Kondisi dan lingkungan


kerja mendukung
pekerjaan dan tugas
saya

3.

Perusahaan
mengadakan lembur
jika produksi
meningkat
Perusahaan telah
melakukan rotasi
karyawan antar unit
kerja

4.

5.

Jumlah karyawan pada


bagian unit saya sudah
mencukupi untuk
penyelesaian perkerjaan

KONDISI KERJA
STS
TS

CS

CS

SS

SS

Lanjutan Lampiran 1
No.
4.

5.

6.

Pertanyaan
Perusahaan telah
melakukan rotasi
karyawan antar unit
kerja

Jumlah karyawan pada


bagian unit saya sudah
mencukupi untuk
penyelesaian perkerjaan
Perusahaan telah
melakukan tambahan
karyawan pada saat
produksi meningkat

6.

Perusahaan telah
melakukan tambahan
karyawan pada saat
produksi meningkat

7.

Menurut saya
penempatan di unit
kerja sekarang ini telah
sesuai dengan
kemampuan, keahlian
dan pendidikan saya

8.

Saya dapat bekerjasama


baik dengan rekan
sekerja maupun dengan
atasan

STS

TS

CS

SS

Lanjutan Lampiran 1
KINERJA KERJA
No.
Pertanyaan
STS
TS
1. Menurut saya jam kerja telah
sesuai dengan beban kerja
yang saya jalankan

2.

Saya sudah melaksanakan


tugas dan pekerjaan dengan
baik sesuai pedoman yang
diberikan

3.

Atasan saya sudah puas


terhadap tugas yang telah
saya selesaikan
Beban kerja sehari-hari
sudah sesuai dengan
kemampuan saya

4.

5.

Perusahaan telah
mengevaluasi kesesuaian
beban kerja yang diberikan
dengan jumlah karyawan
yang ada

6.

Saya sudah mampu


beradaptasi terhadap
perubahan dan selalu terbuka
untuk ide-ide baru

7.

Menurut saya perusahaan


telah melakukan evaluasi
pekerjaan di setiap unit kerja

8.

Saya sudah mampu


mengenali masalah dan
mencari solusi yang terbaik

9.

Saya sudah teliti dalam


menjaga kualitas hasil
pekerjaan

10.

Saya sudah mampu membuat


keputusan yang tepat dalam
bekerja

CS

SS

Lanjutan Lampiran 1
Dimohon kerja samanya untuk mengisi uraian pertanyaan berikut :

1. Apa yang Anda butuhkan agar Anda dapat bekerja dengan baik dari
kinerja Anda sekarang ?
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
2. Bagaimana pendapat Anda jika terjadi ketidaksesuaian antara beban kerja
dengan jumlah karyawan (misalnya, di unit kerja Anda kelebihan tenaga
kerja sedangkan di unit lain membutuhkan banyak karyawan pada saat
beban kerja meningkat). Apa yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasi
masalah tersebut ?
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
3. Permasalahan apa saja yang Anda ketahui di unit kerja Anda yang
berhubungan dengan beban kerja ? Jelaskan !
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
4. Alternatif solusi apa saya yg sudah dilakukan perusahaan untuk mengatasi
permasalahan beban kerja dengan jumlah karyawan di setiap unit kerja
yang Anda ketahui ?
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................
.......................................................................................................................

BAGIAN MEBER PT. PERKEBUNAN NUSANTARA VIII GUNUNG MAS


Jawablah pertanyaan-pertanyaan yang ada di bawah ini sesuai dengan persepsi Anda
Keterangan

No

Persepsi Anda Tentang Pekerjaan Anda


Sangat Ringan Ringan Sedang Berat Sangat Berat

Alasan

Frekuensi Rata-Rata Waktu


Per Hari Penyelesaian Per Hari

Alasan

Frekuensi Rata-Rata Waktu


Per Hari Penyelesaian Per Hari

1 Menjalankan kipas Withering Trough (WT)


2 Mengeluarkan pucuk dari kontiner untuk
diatur pengisiannya ke dalam WT
3 Mengerjakan tugas pembeberan pucuk
sesuai dengan standar
4 Membuang benda-benda asing
5 Menjaga kebersihan lantai disekitar WT
dari pucuk yang berceceran
6 Bertanggung jawab kepada mandor meber

BAGIAN PELAYUAN PT. PERKEBUNAN NUSANTARA VIII GUNUNG MAS


Jawablah pertanyaan-pertanyaan yang ada di bawah ini sesuai dengan persepsi Anda
No

Keterangan

Persepsi Anda Tentang Pekerjaan Anda


Sangat Ringan Ringan Sedang Berat Sangat Berat

1 Menurunkan kadar air pada daun segar


sehingga hasil pelayuan sesuai dengan
standar
2 Membalikkan pucuk dengan cara yang
benar sesuai dengan standar perlakuan
pelayuan
3 Menjaga kebersihan WT, alat-alat
pembantu dan ruangan
4 Mencapai persentase kerataan layuan
minimal 90 %dan MC layu sesuai standar
5 Bertanggung jawab kepada mandor
pelayuan

BAGIAN PENGGILINGAN DAN OKSIDASI ENZYMATIS PT. PERKEBUNAN NUSANTARA VIII GUNUNG MAS
Jawablah pertanyaan-pertanyaan yang ada di bawah ini sesuai dengan persepsi Anda
Keterangan

No

1 Mengoperasikan mesin penggilingan sesuai


dengan skema giling yang telah ditetapkan
2 Melaksanakan pekerjaan penggilingan,
penganyakan dan oksidasi enzymatis
sesuai dengan skema giling yang telah
yang telah ditetapkan agar diperoleh firing
order yang tepat
3 Menjaga, memelihara, merawat mesin dan
fasilitas giling serta memelihara kebersihan
dan hygienitas ruang dan alat
4 Menangani limbah di ruang giling sesuai
dengan standar
5 Bertanggung jawab kepada mandor
penggilingan dan oksidasi enzymatis

Persepsi Anda Tentang Pekerjaan Anda


Sangat Ringan Ringan Sedang Berat Sangat Berat

Alasan

Frekuensi Rata-Rata Waktu


Per Hari Penyelesaian Per Hari

BAGIAN PENGERINGAN PT. PERKEBUNAN NUSANTARA VIII GUNUNG MAS


Jawablah pertanyaan-pertanyaan yang ada di bawah ini sesuai dengan persepsi Anda
No

Keterangan

Persepsi Anda Tentang Pekerjaan Anda


Sangat Ringan Ringan Sedang Berat Sangat Berat

Alasan

Frekuensi Rata-Rata Waktu


Per Hari Penyelesaian Per Hari

Alasan

Frekuensi Rata-Rata Waktu


Per Hari Penyelesaian Per Hari

Alasan

Frekuensi Rata-Rata Waktu


Per Hari Penyelesaian Per Hari

1 Memasukkan teh hasil oksidasi enzymatis


ke mesin pengering, mengumpulkan dan
mengirimkan hasil keringan ke bagian
sortasi
2 Mengendalikan temperatur inlet dan outlet
3 Menjaga kebersihan dan hygienitas mesin/
alat-alat dan ruangan
4 Menangani limbah debu pengeringan sesuai
standar
5 Bertanggung jawab kepada mandor
pengeringan

BAGIAN SORTASI PT. PERKEBUNAN NUSANTARA VIII GUNUNG MAS


Jawablah pertanyaan-pertanyaan yang ada di bawah ini sesuai dengan persepsi Anda
No

Keterangan

Persepsi Anda Tentang Pekerjaan Anda


Sangat Ringan Ringan Sedang Berat Sangat Berat

1 Mengoperasikan mesin sortasi


2 Melaksanakan sortasi teh kering sesuai
dengan skema sortasi yang ditetapkan
3 Menyerahkan hasil sortasi kepada mandor
sortasi dan mandor besar untuk diperiksa
dan ditimbang ke dalam peti miring
4 Menjaga kebersihan dan hygienitas mesin/
alat-alat dan ruangan
5 Menangani limbah debu dan bubuk hasil
sortasi agar tidak mencemari lingkungan
6 Menjaga agar tidak terjadi pencemaran
lingkungan dari ruang sortasi
7 Bertanggung jawab kepada mandor sotasi

BAGIAN PENGEPAKAN PT. PERKEBUNAN NUSANTARA VIII GUNUNG MAS


Jawablah pertanyaan-pertanyaan yang ada di bawah ini sesuai dengan persepsi Anda
No

Keterangan

1 Mempersiapkan paper sack atau


karung sesuai dengan rencana pengepakan
2 Mempersiapan teh dalam bulker siap untuk
dipak
3 Mengoperasikan mesin pengepakan dan
mengambil teh untuk contoh
4 Menyusun paper sack atau karung hasil
pengepakan sesuai aturan penyimpanan
yang ditetapkan
5 Menjaga dan memelihara mesin/alat-alat
dan ruang
6 Melaksanakan tugas pengepakan,
pengambilan contoh dan penyimpanan
paper sack atau karung sesuai dengan
aturan yang ditetapkan
7 Bertanggung jawab kepada mandor
pengepakan

Persepsi Anda Tentang Pekerjaan Anda


Sangat Ringan Ringan Sedang Berat Sangat Berat

Lampiran 2. Reliabilitas

Warnings

The covariance matrix is calculated and used in the analysis

Case Processing Summary

%
100.0
.0
100.0

30
0
30

Cases Valid
Excludeda
Total

a. Listwise deletion based on all


Variables in procedure

Reliability Statistics

Cronbachs
Alpha

Cronbachs
Alpha Based
on
Standarized
Items

.979

N of Items

.984

Item Statistics

Mean
VAR00001
VAR00002
VAR00003
VAR00004
VAR00005
VAR00006
VAR00007
VAR00008

3.23
3.20
3.13
3.13
3.13
3.17
3.13
3.20

Std. Deviation
.504
.484
.346
.346
.346
.461
.346
.407

N
30
30
30
30
30
30
30
30

Lanjutan lampiran 2

Inter-Item Correlation Matrix


VAR00001 VAR00002 VAR00003 VAR00004 VAR00005 VAR00006 VAR00007 VAR00008
VAR00001
VAR00002
VAR00003
VAR00004
VAR00005
VAR00006
VAR00007
VAR00008

1.000
.933
.805
.805
805
.865
.805
.942

.933
1.000
.865
.865
.865
.927
.865
.840

.805
.865
1.000
1.000
1.000
.937
1.000
.784

.805
.865
1.000
1.000
1.000
.937
1.000
.784

.805
.865
1.000
1.000
1.000
.937
1.000
.784

.865
.927
.937
.937
.937
1.000
.937
.735

.805
.865
1.000
1.000
1.000
.937
1.000
.784

.942
.840
.784
.784
.784
.735
.784
1.000

The covariance matrixis calculated and used in the analysis

Mean
25.33

Scale Statistic
Variance
Std. Deviation
9.402
3.066

Alpha = 0,979
Kesimpulan > 0,80-1,00 (sangat reliabel)

N of Items
8

Lanjutan lampiran 2

Warnings

The covariance matrix is calculated and used in the analysis

Case Processing Summary

Cases

N
30
0
30

Valid
Excludeda
Total

%
100.0
.0
100.0

a. Listwise deletion based on all


Variables in procedure

Reliability Statistics

Cronbachs
Alpha

Cronbachs
Alpha Based
on
Standarized
Items

.987

N of Items

.987

10

Item Statistics

Mean
VAR00001
VAR00002
VAR00003
VAR00004
VAR00005
VAR00006
VAR00007
VAR00008
VAR00009
VAR000010

3.13
3.20
3.13
3.17
3.17
3.13
3.17
3.10
3.13
3.13

Std. Deviation
.346
.407
.346
.379
.379
.346
.379
.305
.346
.346

N
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30

Lanjutan lampiran 2

Inter-Item Correlation Matrix


VAR00001 VAR00002 VAR00003 VAR00004 VAR00005 VAR00006 VAR00007 VAR00008 VAR00009 VAR000010
VAR00001
VAR00002
VAR00003
VAR00004
VAR00005
VAR00006
VAR00007
VAR00008
VAR00009
VAR000010

1.000
.784
.1000
.877
877
.1000
.877
.850
1.000
1.000

.784
1.000
.784
.894
.894
.784
.894
.667
784
784

1.000
.784
1.000
.877
.877
1.000
.877
..850
1.000

.877
.894
.877
1.000
1.000
.877
1.000
.745
.877
.877

.877
.894
.877
1.000
1.000
.877
1.000
.745
.877
.877

1.000
.784
.1000
.877
877
.1000
.877
.850
1.000
1.000

.877
.894
.877
1.000
1.000
.877
1.000
.745
.877
.877

.850
.667
.850
.745
.745
.850
.745
1.000
.850
.850

1.000
.784
.1000
.877
877
.1000
.877
.850
1.000
1.000

The covariance matrixis calculated and used in the analysis

Mean
31.47

Scale Statistic
Variance
Std. Deviation
11.499
3.391

Alpha = 0,987
Kesimpulan > 0,80-1,00 (sangat reliabel)

N of Items
10

1.000
.784
.1000
.877
877
.1000
.877
.850
1.000
1.000

Lanjutan lampiran 2

Warnings

The covariance matrix is calculated and used in the analysis

Case Processing Summary

Cases

N
30
0
30

Valid
Excludeda
Total

%
100.0
.0
100.0

a. Listwise deletion based on all


Variables in procedure

Reliability Statistics

Cronbachs
Alpha

Cronbachs
Alpha Based
on
Standarized
Items

.965

N of Items

.971

12

Item Statistics

Mean
VAR00001
VAR00002
VAR00003
VAR00004
VAR00005
VAR00006
VAR00007
VAR00008
VAR00009
VAR000010
VAR000011
VAR000012

3.70
3.17
3.27
3.13
3.17
3.17
3.13
3.20
3.10
3.13
3.13
3.13

Std. Deviation
.446
.379
.521
.346
.379
.461
.346
.484
.305
.346
.346
346

N
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30

Lanjutan lampiran 2
Inter-Item Correlation Matrix
VAR00001 VAR00002 VAR00003 VAR00004 VAR00005 VAR00006 VAR00007 VAR00008 VAR00009 VAR000010VAR000011VAR000012
VAR00001
VAR00002
VAR00003
VAR00004
VAR00005
VAR00006
VAR00007
VAR00008
VAR00009
VAR000010
VAR000011
VAR000012

1.000
.098
.341
.257
.293
.241
.257
.275
.218
.257
.257
.257

.098
1.000
.640
.614
.760
.822
.877
.751
.745
.877
.877
.877

.341
.640
1.000
.753
.815
.814
.753
.875
.694
753
.753
753

.257
.614
.753
1.000
.614
721
.712
.865
.850
.712
.712
.712

.293
.760
.815
.614
1.000
.822
.877
.751
.745
.877
.877
.877

.241
.822
.814
.721
.822
1.000
.937
.927
.858
.937
.937
.937

.257
.877
.753
.712
.877
.937
1.000
.865
.850
1.000
1.000
1.000

.275
.751
.875
.865
.751
.927
.865
1.000
.793
.865
.865
865

.218
.745
.694
.850
.745
.858
.850
.793
1.000
.850
.850
850

The covariance matrixis calculated and used in the analysis

Mean
38.43

Scale Statistic
Variance
Std. Deviation
16.530
4.066

Alpha = 0,965
Kesimpulan > 0,80-1,00 (sangat reliabel)

N of Items
12

.257
.877
.753
.712
.877
.937
1.000
.865
.850
1.000
1.000
1.000

.257
.877
.753
.712
.877
.937
1.000
.865
.850
1.000
1.000
1.000

.257
.877
.753
.712
.877
.937
1.000
.865
.850
1.000
1.000
1.000

Lampiran 3. Hasil Pengukuran Beban Kerja II


FORMULIR PBK II
PROSEDUR/RANGKAIAN PROSES
UNIT MEBER
1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi
No
PROSES

1.

Menjalankan mesin WT
sehingga angin dihasilkan
oleh kipas WT yang
berada di bawah
hamparan daun
Jumlah

1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi
No
PROSES

1.

Pucuk daun teh diangkut


dari truk dipindahkan ke
WT untuk selanjutnya
dilakukan pemeberan
Jumlah

1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi
No
PROSES

1.

Mengamati jalannya
mesin WT dan
mengaturan pemeberan
daun teh ke dalam WT
hingga ketebalan 30 cm
sesuai dengan standar
Jumlah

: Menjalankan kipas Withering Through (WT)


: Menghasilkan angin dari fan
: 2900 kali/tahun
Frekuensi
Norma
Isi Kerja Jabatan Pemroses
(Frekuensi X Norma
Kerja
Waktu
Waktu)
2900

0,17

493

493
: Mengeluarkan pucuk dari kontainer untuk diatur
pengisiannya ke dalam WT
: Pemindahan pucuk dari truk ke WT
: 580 kali/tahun
Frekuensi
Norma
Isi Kerja Jabatan Pemroses
Kerja
Waktu
(Frekuensi X Norma
Waktu)
580

1,7

986

986
: Mengerjakan tugas pemeberan pucuk sesuai
dengan standar
: Hamparan daun teh dalam WT sesuai dengan standar
: 580 kali/tahun
Frekuensi
Norma
Isi Kerja Jabatan Pemroses
Kerja
Waktu
(Frekuensi X Norma
Waktu)
580

4060

4060

Lanjutan lampiran 3
1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi
No
PROSES

1.

Memeriksa daun teh yang


telah dihamparkan di WT
agar ulat, batang-batang
dan daun-daun tua tidak
ikut terbawa dalam proses
selanjutnya
Jumlah

1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi
No
PROSES

1.

Pada saat pemeberan


dilakukan pembersihan
lantai dari pucuk yang
berceceran dengan
menyapu lantai
Jumlah

1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi
No
PROSES

1.
2.

Melaporkan daun teh


yang turun dari truk
Melaporkan hasil akhir
kepada mandor meber
atas kerataan pembeberan
sehingga sesuai dengan
standar pembeberan
Jumlah

: Membuang benda-benda asing


: Membersihkan daun dari ulat, batang-batang dan
daun-daun tua
: 580 kali/tahun
Frekuensi
Norma
Isi Kerja Jabatan Pemroses
(Frekuensi X Norma
Kerja
Waktu
Waktu)
580

2900

2900
: Menjaga kebersihan lantai disekitar WT dari
pucuk yang berceceran
: Menjaga Withering Trough agar tetap bersih
: 870 kali/tahun
Frekuensi
Norma
Isi Kerja Jabatan Pemroses
kerja
Waktu
(Frekuensi X Norma
Waktu)
870

2,5

2175

45
: Bertanggung jawab kepada Mandor Meber
: laporan kerja
: 580 kali/tahun
Frekuensi
Norma
Isi Kerja Jabatan Pemroses
(Frekuensi X Norma
Kerja
Waktu
Waktu)
290

0,33

95,7

290

0,5

145

240,7

Lanjutan lampiran 3
FORMULIR PBK II
PROSEDUR/RANGKAIAN PROSES
UNIT PELAYUAN
1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi
No
PROSES

1.

Mengambil sampel ditiaptiap WT secara acak


untuk mengetahui apakah
kadar air telah mencapai
68-78%
Jumlah

1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi
No
PROSES

1.

Daun teh yang telah


dihamparkan di WT,
dibalik sehingga kelayuan
teh merata
Jumlah

1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi
No
PROSES

1.

Membersihkan WT, alatalat dan ruangan setiap


kali akhir proses pelayuan
Jumlah

1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi

: Menurunkan kadar air pada daun teh sehingga


hasil pelayuan sesuai standar
: Daun menjadi layu
: 870 kali/tahun
Frekunsi
Norma
Isi Kerja Jabatan Pemroses
(Frekuensi X Norma
Kerja
Waktu
Waktu)
870

2,5

2175

2175
: Membalikkan pucuk dengan cara yang benar
sesuai dengan standar perlakuan pelayuan
: Kelayuan daun merata
: 290 kali/tahun
Frekuensi
Norma
Isi Kerja Jabatan Pemroses
Kerja
Waktu
(Frekuensi X Norma
Waktu)
290

1450

1450
: Menjaga kebersihan WT, alat-alat dan ruangan
: Menjaga hygienitas alat-alat dan ruangan
: 290 kali
Frekuensi
Norma
Isi Kerja Jabatan Pemroses
(Frekuensi X Norma
Kerja
Waktu
Waktu)
290

1450
1450

: Mencapai persentase kerataan layuan minimal


90% dan MC layuan sesuai standar
: Daun menjadi lemas jika digenggam, tidak
menimbulkan patah pada tangkai maupun daun
: 290 kali/tahun

Lanjutan lampiran 3
No

PROSES

Frekuensi
kerja

Norma
Waktu

Isi Kerja Jabatan Pemroses


(Frekuensi X Norma
Waktu)

1.

Mengamati pelayuan
berlangsung selama 14
jam sehingga dapat
mencapai kerataan layuan
minimal 90%
Jumlah

290

2030

1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi
No
PROSES

1.
2..

Melaporkan tingkat
kelayuan daun teh
Melapokan hasil akhir
jumlah daun teh yang
telah layu
Jumlah

2030
: Bertanggung jawab kepada mandor pelayuan
: Laporan kerja
: 580 kali/tahun
Frekuensi
Norma
Isi Kerja Jabatan Pemroses
(Frekuensi X Norma
Kerja
Waktu
Waktu)
290

0,5

145

290

290
435

FORMULIR PBK II
PROSEDUR/RANGKAIAN PROSES
UNIT PENGGILINGAN DAN OKSIDASI ENZYMATIS
1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi
No
PROSES

1.

Sebelum dijalankan
mesin-mesin diperiksa
terlebih dahulu sehingga
mengurangi kendala pada
saat mesin dijalankan
Jumlah

1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi

: Mengoperasikan mesin penggilingan sesuai


dengan skema giling yang telah ditetapkan
: Mesin dapat berjalan sebagaimana seharusnya
: 290 kali/tahun
Frekuensi
Norma
Isi Kerja Jabatan Pemroses
Kerja
Waktu
(Frekuensi X Norma
Waktu)
290

870

870
: Melaksanakan pekerjaan penggilingan, pengayakan,
dan oksidasi enzymatis sesuai dengan skema giling
yang ditetapkan agar diperoleh firing order yang tepat
: Menghasilkan bubuk daun teh yang sesuai dengan
standar
: 2030 kali/tahun

Lanjutan lampiran 3
No

PROSES

Frekuensi
Kerja

Norma
Waktu

Isi Kerja Jabatan Pemroses


(Frekuensi X Norma
Waktu)

1.

Mengamati proses
jalannya penggilingan dan
oksidasi sehingga sesuai
dengan standar
penggilingan dan oksidasi
Jumlah

2030

0,5

1015

1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi
No
PROSES

1.

Setelah proses
penggilingan dan oksidasi
enzymatis karyawan
kebersihan harus selalu
membersihkan mesin, alat
dan ruangan
Jumlah

1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi
No
PROSES

1.

Limbah debu yang


berserakan dibersihkan
dengan cara disemprotkan
oleh kompresor yang
bertekanan tinggi
Jumlah

1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi

1015
: Menjaga, memelihara, merawat mesin, fasilitas
giling serta memelihara kebersihan dan hygienitas
ruang dan alat
: Mesin, ruang dan alat-alat menjadi bersih
: 290 kali/tahun
Frekuensi
Norma
Isi Kerja Jabatan Pemroses
(Frekuensi X Norma
Kerja
Waktu
Waktu)
290

1740

1740
: Menangani limbah di ruang giling sesuai dengan
standar
: Ruangan terhindar dari limbah debu yang dapat
mengganggu pekerjaan karyawan
: 2030 kali/tahun
Frekuensi
Norma
Isi Kerja Jabatan Pemroses
(Frekuensi X Norma
Kerja
Waktu
Waktu)
2030

0,5

1015

1015
: Bertanggung jawab kepada Mandor Penggilingan dan
oksidasi enzymatis
: Laporan kerja
: 580 kali/tahun

Lanjutan lampiran 3
No

PROSES

Frekuensi
Kerja

Norma
Waktu

Isi Kerja Jabatan Pemroses


(Frekuensi X Norma
Waktu)

1.

Melaporkan hasil sampel


kepada mandor
penggilingan dan oksidasi
enzymatis
Melaporkan hasil
penggilingan dan oksidasi
enzymatis
Jumlah

30

90

20

20

2.

110

FORMULIR PBK II
PROSEDUR/RANGKAIAN PROSES
UNIT PENGERINGAN
1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi
No
PROSES

1.

Mengamati jalannya
mesin pengeringan
Fluidized Bed Dryer
(FBD) yang memiliki 7
seksi dengan 6 tray dan 1
cooling fun (kipas
pendingin)
Jumlah

1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi
No
PROSES

1.

Mengendalikan udara
panas yang akan dialirkan
masuk ke dalam (inlet)
dengan suhu udara 100
120 C, sedangkan suhu
yang keluar dari (outlet)
berkisar antara 80-105 C
Jumlah

: Memasukkan teh oksidasi enzymatis ke mesin


pengering, mengumpulkan dan mengirim hasil keringan
ke bagian sortasi
: Menghentikan proses oksidasi enzymatis, membunuh
mikroorganisme dan menurunkan kadar air 2,5 3 %
: 870 kali/tahun
FrekuensiKe
Norma
Isi Kerja Jabatan Pemroses
(Frekuensi X Norma
rja
Waktu
Waktu)
870

2610

2610
: Mengendalikan temperatur inlet dan outlet
: Mengatur udara panas yang akan dialirkan
: 870 kali/tahun
Frekuensi
Norma
Isi Kerja Jabatan Pemroses
(Frekuensi X Norma
Kerja
Waktu
Waktu)
870

2,5

2175

2175

Lanjutan lampiran 3
1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi
No

1.

: Menjaga kebersihan dan hygienitas mesin dan ruangan


: Menghasilkan bubuk teh yang hygienitas dan
berkualitas baik
: 290 kali/tahun
Frekuensi
Norma Isi Kerja Jabatan Pemroses
Kerja
Waktu
(Frekuensi X Norma
Waktu)

PROSES

Sesudah proses pengeringan


mesin dan ruangan
dibersihkan sehingga
menjaga kebersihan mesin
dan alat-alat
Jumlah

1. Tugas

Debu yang berserakan


dikumpul dengan cara
disapu, lalu dimasukkan
ke dalam karung untuk
selanjutnya dibuang
Jumlah

1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi
No
PROSES

1.

1450

1450

: Menangani limbah debu pengeringan sesuai


standar
: Ruangan terhindar dari limbah debu
: 870 kali/tahun
Frekuensi
Norma
Isi Kerja Jabatan Pemroses
Kerja
Waktu
(Frekuensi X Norma
Waktu)

2. Produk
3. Frekuensi
No
PROSES

1.

290

870

870

180
: Bertanggung jawab kepada Mandor Pengeringan
: Laporan kerja
: 2030 kali
Jumlah
Norma
Isi Kerja Jabatan Pemroses
(Beban Kerja X Norma
Beban
Waktu
Waktu)
Kerja

Melaporkan sampel
bubuk teh hasil
pengeringan
Jumlah

2030

0,5

1015
1015

FORMULIR PBK II
PROSEDUR/RANGKAIAN PROSES
UNIT SORTASI
1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi

: Mengoperasikan mesin sortasi, melaksanakan sortasi


teh
: Mesin dapat berjalan dengan baik
: 870 kali/tahun

Lanjutan lampiran 3
No

1.

PROSES

Menjalankan mesin dan


secara berkala diperiksa
agar dapat tetap berjalan
sebagaimana harusnya

Frekuensi
Kerja

Norma
Waktu

Isi Kerja Jabatan Pemroses


(Frekuensi X Norma
Waktu)

870

0,75

652,5

Jumlah

652,5

1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi
PROSES

1.

Mengamati proses
jalannya sortasi mulai dari
bubuk teh dimasukkan ke
mesin midleton untuk
memisahkan fraksi kasar
dan fraksi halus. Lalu
masuk ke mesin Vibro
blank untuk memisahkan
serat dari bubuk teh
kering
Jumlah

1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi
No
PROSES

1.

Secara berkala laporan


hasil sortasi teh bubuk
dilaporkan kepada
mandor sortasi dan
mandor besar
Jumlah

: Melaksanakan sortasi teh kering sesuai dengan skema


sortasi yang ditetapkan
: Memisahkan fraksi kasar dan halus serta memisahkan
serat dan bubuk teh
: 870 kali/tahun
Frekuensi
Norma
Isi Kerja Jabatan Pemroses
(Frekuensi X Norma
Kerja
Waktu
Waktu)
870

2610

2610
: Menyerahkan hasil sortasi kepada mandor sortasi dan
mandor besar untuk diperiksa dan ditimbang
: Mengetahui jumlah total bubuk teh berdasarkan jenis
masing-masing
: 2030 kali/tahun
Frekuensi
Norma
Isi Kerja Jabatan Pemroses
Kerja
Waktu
(Frekuensi X Norma
Waktu)
2030

1,17

2375,1

2375,1

Lanjutan lampiran 3
1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi
No
PROSES

1.

Bubuk teh dimasukkan ke


dalam drum-drum besar
untuk selanjutnya
ditimbang dan dibawa ke
peti miring
Jumlah

1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi
No
PROSES

1.

Setelah proses produksi.


Mesin, alat-alat dan
rungan di bersihkan untuk
menjga hygienitas bubuk
teh
Jumlah

1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi
No
PROSES

1.

Bubuk teh yang


berserakan ke lantai
dibersihkan dengan cara
disemprot oleh kompresor
gas yang bertekanan
tinggi
Jumlah

1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi

: Menyimpan hasil sortasi ke dalam peti miring


: Menyiapkan bubuk teh yang akan di pak
: 2320 kali/tahun
Frekuensi
Norma
Isi Kerja Jabatan Pemroses
(FrekuensiX Norma Waktu)
Kerja
Waktu
2320

2320

2320
: Menjaga hygienitas mesin atau alat-alat dan ruangan
: Menjaga agar bubuk teh tetap baik
: 290 kali/tahun
Frekuensi
Norma
Isi Kerja Jabatan Pemroses
(Frekuensi X Norma
Kerja
Waktu
Waktu)
290

1450

1450
: Menangani debu dan bubuk hasil sortasi agar tidak
mencemari lingkungan
: Menghindari pencemaran lingkungan agar tidak
mengganggu aktivitas bekerja
: 870 kali/tahun
Frekuensi
Norma
Isi Kerja Jabatan Pemroses
(Frekuensi X Norma
Kerja
Waktu
Waktu)
870

0,25

217,5

217,5
: Bertanggung jawab kepada Mandor Sortasi
: Laporan kerja
: 290 kali/tahun

Lanjutan lampiran 3
No

1.

PROSES

Frekuensi
Kerja

Norma
Waktu

Isi Kerja Jabatan Pemroses


(Frekuensi X Norma
Waktu)

290

0,33

95,7

Melaporkan hasil sortasi


keseluruhan kepada
mandor sortasi
Jumlah

95,7

FORMULIR PBK II
PROSEDUR/RANGKAIAN PROSES
UNIT PENGEPAKAN
1. Tugas
: Mempersiapkan paper sack yang sesuai dengan standar
2. Produk
: Paper sack yang sesuai dengan standar
3. Frekuensi
: 2320 kali/tahun
No
PROSES
Frekuensi
Norma
Isi Kerja Jabatan Pemroses
Kerja
Waktu
(Frekuensi X Norma
Waktu)
1.

1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi
No
PROSES

1.

2320

Paper sack dipilih dan


diperiksa untuk
menghindari kebocoran
atau sobek pada paper
sack
Jumlah

0,08

185,6

185,6
: Mempersiapkan teh dalam bulker siap untuk di pak
: Teh siap untuk di pak
: 2900 kali/tahun
Frekuensi
Norma
Isi Kerja Jabatan Pemroses
Kerja
Waktu
(Frekuensi X Norma
Waktu)

Setelah dari peti miring


kemudian dimasukkan ke
tea bulker sehingga teh
siap untuk di pak

2900

0,5

1450

Jumlah

1450

1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi
No

1.

PROSES

: Mengopersikan mesin pengepakan dan mengambil teh


untuk contoh
: Teh siap diberi kode berdasarkan kualitas teh
: 2320 kali/tahun
Frekuensi
Norma
Isi Kerja Jabatan Pemroses
Kerja
Waktu
(Frekuensi X Norma
Waktu)

Mengambil contoh bubuk teh


untuk beri kode berdasarkan
kualitas teh yang dihasilkan
Jumlah

2320

0,17

394,4
394,4

Lanjutan lampiran 3
1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi
No
PROSES

1.

Bubuk teh yang telah di


pak kemudian di bawa ke
gudang penyimpanan,
layout pada gudang telah
ditentukan untuk
menyimpan teh sesuai
dengn kualitas yang
dihasilkan
Jumlah

1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi
No
PROSES

1.

Sebelum, selama dan


sesudah proses
pengepakan, mesin atau
alat-alat dan ruangan
pengepakan dibersihkan
Jumlah

1. Tugas
2. Produk
3. Frekuensi
No
PROSES

1.

Melaporkan jumlah teh


yang telah di pak
berdasarkan kualitas
masing-masing
Jumlah

: Menyusun paper sack atau karung hasil pengepakan


sesuai dengan aturan penyimpanan paper sack atau
karung yang ditetapkan
: Memudahkan pengambilan teh berdasarkan kualitas
dari gudang
: 2320 kali/tahun
Frekuensi
Norma
Isi Kerja Jabatan Pemroses
Kerja
Waktu
(Frekuensi X Norma
Waktu)
2320

9280

9280
: Menjaga dan memelihara mesin atau alat-alat dan
ruangan pengepakan
: Menjaga hygienitas teh yang telah di pak
: 580 kali/tahun
Frekuensi
Norma
Isi Kerja Jabatan Pemroses
Kerja
Waktu
(Frekuensi X Norma
Waktu)
870

2610

2610
: Bertanggung jawab kepada mandor pengepakan
: Laporan kerja
: 290 kali/tahun
Frekuensi
Norma
Isi Kerja Jabatan Pemroses
(Frekuensi X Norma
Kerja
Waktu
Waktu)
290

0,5

145

145