Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
SinarX ditemukan pertama kali oleh fisikawan berkebangsaan Jerman
Wilhelm C. Roentgen pada tanggal 8 November 1895. Saat itu Roentgen bekerja
menggunakan tabung Crookes di laboratoriumnya di Universitas Wurzburg. Dia
mengamati nyala hijau pada tabung yang sebelumnya menarik perhatian Crookes.
Roentgen selanjutnya mencoba menutup tabung itu dengan kertas hitam dengan
harapan agar tidak ada cahaya tampak yang dapat lewat. Namun setelah ditutup
ternyata masih ada sesuatu yang dapat lewat. Roentgen menyimpulkan bahwa ada
sinar

tidak

tampak

yang

mampu

menerobos

kertas

hitam

tersebut.

Pada saat Roentgen menyalakan sumber listrik tabung untuk penelitian sinar
katoda, beliau mendapatkan bahwa ada sejenis cahaya berpendar pada layar yang
terbuat dari barium platino cyanida yang kebetulan berada di dekatnya. Jika
sumber listrik dipadamkan, maka cahaya pendar pun hilang. Roentgen segera
menyadari bahwa sejenis sinar yang tidak kelihatan telah muncul dari dalam
tabung sinar katoda. Karena sebelumnya tidak pernah dikenal, maka sinar ini
diberi nama sinarX. Namun untuk menghargai jasa beliau dalam penemuan ini
maka seringkali sinarX itu dinamai juga sinar Roentgen. Nyala hijau yang terlihat
oleh Crookes dan Roentgen akhirnya diketahui bahwa sinar tersebut tak lain
adalah gelombang cahaya yang dipancarkan oleh dinding kaca pada tabung
sewaktu elektron menabrak dinding itu, sebagai akibat terjadinya pelucutan listrik
melalui gas yang masih tersisa di dalam tabung. Pada saat yang bersamaan
elektron itu merangsang atom pada kaca untuk mengeluarkan gelombang
elektromagnetik yang panjang gelombangnya sangat pendek dalam bentuk sinarX.
Sejak saat itu para ahli fisika telah mengetahui bahwa sinarX dapat dihasilkan bila
elektron dengan kecepatan yang sangat tinggi menabrak atom. Tergiur oleh
penemuannya yang tidak sengaja itu, Roentgen memusatkan perhatiannya pada
penyelidikan sinarX. Dari penyelidikan itu beliau mendapatkan bahwa sinarX
dapat memendarkan berbagai jenis bahan kimia. SinarX juga dapat menembus
berbagai materi yang tidak dapat ditembus oleh sinar tampak biasa yang sudah
dikenal pada saat itu. Di samping itu, Roentgen juga bisa melihat bayangan tulang
tangannya pada layar yang berpendar dengan cara menempatkan tangannya di
1

antara tabung sinar katoda dan layar. Dari hasil penyelidikan berikutnya diketahui
bahwa sinarX ini merambat menempuh perjalanan lurus dan tidak dibelokkan baik
oleh medan listrik maupun medan magnet. Penemuan SinarX ternyata mampu
mengantarkan ke arah terjadinya perubahan mendasar dalam bidang kedokteran.
Dalam kegiatan medik, SinarX dapat dimanfaatkan untuk diagnosa maupun
terapi. Dengan penemuan sinarX ini, informasi mengenai tubuh manusia menjadi
mudah diperoleh tanpa perlu melakukan operasi bedah.
Seiring berjalannya waktu, dibuatlah alat canggih yang sering kita dengar
yaitu pesawat Sinar-X. Untuk menunjang kinerja pesawat ini adalah sebuah film
radiodiagnostik. Di dalam makalah ini, akan dibahas mengenai beberapa hal
tentang film radiodiagnoostik dan ketergantungannya terhadap Ma, kV, ataupun
energi dari keluaran pesawat Sinar-X.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimakasud film radiodiagnostik?
2. Bagaimana struktur bagian film radiodiagnostik?
3. Bagiamana komponen penyusun film radiodiagnostik?
4. Bagaimana pemrosesan film?
5. Bagaimana sensitifitas film?
6. Bagaimana pengaruh ketergantungan film Sinar-X terhadap mA, kV,
ataupun energi dari keluaran pesawat Sinar-X?
1.3 Tujuan
1. Untuk menjelaskan film radiodiagnostik.
2. Untuk mengetahui struktur bagian film radiodiagnostik.
3. Untuk mengetahui komponen penyusun film radiodiagnostik.
4. Untuk menjelaskan pemrosesan film.
5. Untuk menjelaskan sensitifitas film.
6. Untuk mengetahui pengaruh ketergantungan pesawat Sinar-X terhadap
mA, kV, ataupun energi dari keluaran pesawat Sinar-X.
7.

Bab II
PEMBAHASAN
I.

Film Radiodignostik
Film Sinar X
Film untuk pencitraan diagnostik dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :
1) Film yang hanya diekspose oleh sinar x (direct-exposure film) atau
kombinasi dari sinar x dan cahaya tampak (screen film) yang disebut
dengan film sinar x. Film pada jenis ini mempunyai dua emulsi pada
kedua permukaannya, tetapi juga ada yang mempunyai satu emulsi
pada salah satu permukaannya.
2) Film yang hanya diekspose oleh cahaya saja. Film pada jenis ini
mempunyai satu emulsi (John Ball, 1990).

II. Struktur Bagian Film Sinar-X


Struktur bagian film sinar x adalah :
1. Supercoat, adalah lapisan dasar yang melindungi film yang umumnya disebut
dengan lapisan anti gores. Supercoat terbuat dari gelatin yang dikeraskan. Fungsi
dari supercoat untuk melindungi emulsi film terhadap gesekan dalam pemrosesan
film.
2. Emulsi film, adalah lapisan yang rentan terhadap cahaya. Lapisan ini sensitif
terhadap radiasi dan tersusun atas butiran perak halida, misalnya AgBr dan AgCl.
Butiran perak halida terikat dalam gelatin murni dengan tebal antara 5-10
m. Gelatin tersebut berfungsi untuk mengikat perak halida dan mencegah
penggumpalan perak halida. Tebal emulsi film adalah 0,001 inci (0,0025 cm).
3. Substratum, adalah lapisan perekat antara emulsi film dengan dasar film. Fungsi
dari substratum adalah untuk mencegah adanya gelembung udara atau perubahan
bentuk

film

dalam

pemrosesan

film

(Carlton

and

Adler,

2001).

Alas film (film base), adalah lapisan dasar film. Film base ini terdiri atas polyester
base setebal 0,2 mm. Fungsi dari film base adalah sebagai penyangga emulsi film
dengan lapisan-lapisan lainnya. Sifat-sifat film base adalah fleksibel, kuat, tidak
mudah terbakar, berwarna bening yang diberi warna biru untuk memberi

kenyamanan dalam pembacaan hasil radiograf dan kaku sehingga dapat dipasang
pada viewer.

Gambar 2. Susunan film sinar x (Meredith and Massey, 1977)

III. Komponen Penyususn Film


Perak Bromida (AgBr)
Perak Bromida (AgBr) merupakan komponen penyusun emulsi film yang
paling banyak dipakai. Penggunaannya biasanya dikombinasikan dengan sejumlah
kecil perak iodida. Perak iodida jumlahnya sekitar 2-4 % dari keseluruhan yang
dapat meningkatkan sensitifitas film sehingga mengubah spektrum sensitifitasnya.
Campuran perak iodida dan bromida sering disebut sebagai emulsi iodo-bromida.
Perak Bromida (AgBr) dalam emulsi film berbentuk butiran dan
mempunyai dua bentuk butiran utama, yaitu :

1. Butiran Globular

Butiran AgBr berbentuk globular sering digunakan pada film yang blue
sensitive. Karena pada film yang blue sensitive kemampuan butiran AgBr untuk
mengabsorbsi cahaya hanya mengabsorbsi sampai pada panjang gelombang
cahaya biru. Untuk emulsi yang memerlukan kecepatan yang tinggi, misalnya
untuk meningkatkan sensitifitas maka digunakan butiran AgBr yang berbentuk
bola padatan yang biasa disebut globular. Bentuk globular mampu meningkatkan
absorbsi cahaya yang tinggi tanpa menghasilkan ketidaktajaman terhadap film.
Untuk meningkatkan kemampuan butir globular AgBr hingga mampu
mengabsorbsi sampai pada panjang gelombang hijau atau merah perlu
ditambahkan bahan yang disebut dye sensitising. Dye sensitising ini akan
mengabsorbsi hingga panjang gelombang yang lebih panjang sehingga elektron
yang terabsorbsi akan membentuk gambaran pada film.

2. Butiran Tabular
Butiran tabular bukanlah suatu bentuk yang baru pada emulsi film. Bentuk
butiran ini telah ada sejak 1963 dan biasanya digunakan pada film dengan resolusi
warna tinggi. Butiran tabular mempunyai susunan seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 4. Adanya luas permukaan yang lebar dibandingkan dengan permukaan
butiran globular sehingga dapat meningkatkan jumlah radiasi yang diserap.
Penggunaan butiran tabular mampu meningkatkan resolusi film, karena
penggunaan butir tabular dapat menurunkan jumlah crossover film sinar x.
Butiran tabular mempunyai dua bentuk utama, yaitu:
a.

T-Mat Emulsions
Film sinar x merek Kodak adalah yang pertama kali memperkenalkan dan
kemudian menggunakan bentuk butiran tabular T-Mat pada emulsi filmnya. T-Mat
emulsions merupakan emulsi dengan butiran tabular yang homogen, berbeda
dengan emulsi film menggunakan butiran tabular yang umumnya masih terdapat
butiran globular pada emulsinya. Keuntungan menggunakan T-Mat emulsions

adalah butiran AgBr mempunyai kemampuan mengabsorbsi cahaya yang lebih


baik jika dibandingkan dengan butiran globular (Robert and Smith, 1988).
b.

Structured Twin Emulsions


Structured Twin (ST) banyak digunakan pada film sinar x merek
Agfa. Pada emulsi ini dilakukan penambahan area permukaan kristal AgBr dengan
menggunakan dua kombinasi butiran tabular, oleh karena itu dinamakan
Structured Twin. Keuntungan menggunakan structured twin emulsions adalah
mampu meningkatkan ketajaman film sinar x (Robert and Smith, 1988).
Pertimbangan dalam memilih film sinar x yang akan digunakan untuk pencitraan
diagnostik, antara lain:

1.

Kontras Film
Banyak produsen film yang menawarkan film sinar x dengan berbagai
tingkatan kontras film. Biasanya informasi mengenai kontras film dicantumkan
pada kemasan film sinar x, misalnya medium contrast film, high contrast film,
atau higher contrast film. Film sinar x dengan kontras tinggi akan menghasilkan
perbedaan gambaran hitam dan putih yang jelas, sedangkan film dengan kontras
rendah gambarannya akan terlihat abu-abu. Perbedaan tingkat kontras film
tergantung pada nilai gamma pada kurva karakteristik. Kontras film yang tinggi
akan mengandung AgBr dengan ukuran relatif lebih kecil jika dibandingkan
dengan kontras film yang rendah.

2.

Kecepatan Film (Speed)


Pada film sinar x ukuran dan bentuk AgBr akan menentukan kecepatan
film. Kecepatan film ini akan berpengaruh pada sensitifitas film sinar x. Untuk
mengoptimalkan kecepatan film, film sinar x biasanya menggunakan emulsi pada
kedua sisi yang biasa disebut double emulsion. Speed dipengaruhi oleh ketebalan
emulsi sehingga film sinar x dengan emulsi yang tebal maka film tersebut lebih
sensitif, penggunaan emulsi pada dua sisi (double emulsion) lebih sensitif
daripada penggunaan emulsi pada satu sisi (single emulsion), ukuran kristal AgBr,

konsentrasi kristal AgBr, kesesuaian spektrum, daerah sensitivity speck per


kristal, dan penyerapan energi radiasi oleh emulsi film.
3.

Crossover
Crossover merupakan penyinaran pada emulsi film sinar x oleh cahaya
yang berasal dari intensifying screen sisi yang berlawanan. Crossover dapat
mengakibatkan gambaran yang menumpuk sehingga dianggap merugikan dalam
pendiagnosaan

oleh

ahli

radiologi.

Crossover

dapat

dihindari

dengan

menggunakan film sinar x dengan emulsi yang mengandung butiran AgBr


berbentuk tabular.
4.

Spectral matching
Penggunaan intensifying screen harus disesuaikan dengan jenis film sinar
x yang digunakan, karena film sinar x mempunyai sensitifitas yang spesifik
terhadap warna-warna tertentu. Apabila menggunakan green emitting screen maka
film sinar x yang digunakan jenis green sensitive.

5.

Reciprocity law
Hukum Resiprositas menyatakan densitas optik suatu radiograf sebanding
dengan total energi radiasi yang diberikan pada film (Bushong, 2001), sehingga
nilai densitas tergantung pada energy radiasi yang terserap dalam emulsi dan tidak
tergantung pada waktu. Reciprocity law akan berpengaruh terhadap kecepatan
film (speed) apabila waktu penyinaran yang digunakan sangat panjang, seperti
pada mammografi atau sangat pendek, seperti pada angiografi. Oleh karena itu
pemilihan film sinar x harus disesuaikan dengan penggunaannya kemudian.

6.

Safelights
Safelights yang digunakan sebagai penerangan dalam kamar gelap harus
sesuai dengan jenis film sinar x yang digunakan. Umumnya cahaya merah
digunakan sebagai safelights dalam kamar gelap, karena mampu mentransmisikan
cahaya hingga panjang gelombang 600 nm sehingga aman digunakan pada film
sinar x jenis blue sensitive maupun green sensitive.

Bahan dasar penyusun film adalah perak bromida (AgBr) yang berbentuk
butiran dalam emulsi film. Apabila radiasi sinar x mengenai AgBr, maka elektron
dari ion Br- akan terlepas dan terbentuk atom Br yang akan meninggalkan kristal
AgBr dan tetap berada dalam emulsi film. Elektron yang terbebas akan
menetralkan Ag+ menjadi atom Ag. Atomatom Ag akan menumpuk dalam kristal
AgBr sehingga membentuk bayangan laten dalam film yang berfungsi sebagai
latent image center pada sensitivity speck.
IV. Pemrosesan Film
Film yang telah terkena sinar x, agar dapat menjadi gambar yang
permanen perlu diproses secara kimia. Adapun tahapan pemrosesan film meliputi:
1.

Tahap Pembangkitan (Developer)


Pada proses ini terjadi perubahan ion Ag+ menjadi atom Ag yang akan
menimbulkan warna hitam pada gambar, artinya sudah terbentuk bayangan yang
masih rentan terhadap cahaya. Proses pembangkitan ini terjadi dalam cairan
developer. Bahan utama cairan developer ini adalah kombinasi dari Phenidone dan
Hydroquinone ( PQ ).
Sifat dari phenidone adalah mereduksi dengan cepat dan segera
membangkitkan seluruh butir AgBr yang terkena sinar x termasuk yang hanya
menerima sedikit radiasi dan kemungkinan menimbulkan dermatitis lebih kecil.
Sifat dari hydroquinone adalah kemampuan mereduksinya rendah
sehingga tidak mereduksi AgBr yang memperoleh radiasi sedikit.

2.

Tahap Pembilasan (Rinsing)


Proses ini berfungsi untuk menghentikan kegiatan pembangkitan yang
berkelanjutan dan mencegah agar cairan developer tidak terbawa ke dalam cairan

fixer. Bahan pada proses rinsing ini adalah air ditambah asam 3 %, yang berfungsi
untuk menetralkan kembali film.
3.

Tahap Penetapan (Fixer)


Berfungsi untuk membuat bayangan laten menjadi gambar yang
permanen, melarutkan AgBr yang belum terkena sinar x, dan menghentikan
proses yang berkelanjutan oleh cairan developer yang diserap emulsi film dan
sekaligus mengeraskan kembali emulsi film. Bahan utama cairan fixer ini adalah
Sodium Thiosulfat atau Amonium Thiosulfat.

4.

Tahap Pembersihan (Washing)


Proses ini berfungsi untuk menghentikan pemrosesan film secara
keseluruhan sekaligus membersihan film dari cairancairan pemrosesan film.
Bahan pada proses washing ini adalah air biasa.

5.

Tahap Pengeringan (Drying)


Proses ini berfungsi untuk mengeringkan film dari cairancairan prosesing
film, dengan cara meniupkan uap panas pada permukaan film.

V.

Sensitifitas Film
Merupakan tingkat kepekaan film sinar x terhadap radiasi. Untuk
mengetahui tingkat sensitifitas film sinar x terhadap radiasi dilakukan dengan
metode sensitometri. Metode ini untuk melihat hubungan antara eksposi dengan
tingkat kehitaman film setelah melalui proses pencucian (processing film). Metode
sensitometri merupakan pengukuran respon karakteristik atas eksposi dan
pemrosesan film serta mengevaluasi densitas yang dihasilkan (Carlton and Adler,
2001). Metode ini memerlukan emulsi fotografi pada film sinar x di ekspose
dengan cahaya tertentu pada rentang waktu tertentu dan kemudian diproses
dengan kondisi terkontrol (Robert and Smith, 1988).
Ada dua metode yang dipakai dalam sensitometri, yaitu:
1. Dengan cahaya sinar tampak

Pada metode ini film sinar x diekspose dengan sinar tampak yang
intensitasnya diatur sedemikian rupa sehingga akan menghasilkan tingkatan
densitas yang berbeda. Metode ini dilakukan dengan menggunakan sensitometer.
2. Dengan sinar x
a. Sensitometri dengan step wedge
Yaitu dengan cara meletakkan step wedge di atas kaset, kemudian kaset
diekspose dengan sinar x. Setelah dilakukan pemrosesan film, maka dihasilkan
film strip dengan tingkatan densitas. Langkah selanjutnya adalah mengukur
densitas dan membuat grafik step wedge yang terbuat dari aluminium yang
dikalibrasi sehingga intensitas sinar x yang menembus masing-masing tingkatan
akan memiliki perbedaan yang konstan (Carlton and Adler, 2001).

Gambar 1. Hasil keluaran sensitometri 21 step wedge (Robert and Smith, 1988)
b. Sensitometri skala waktu
Yaitu dengan cara mengekspose film dengan faktor eksposi yang diubahubah. Faktor eksposi yang diubah adalah besaran waktu, sementara besaran jarak,

10

arus, dan tegangan tidak diubah. Hasil dari metode ini berupa film strip yang
menunjukkan tingkatan-tingkatan densitas.

Parameter-parameter yang berpengaruh terhadap sensitifitas adalah:


1.

Speed film
Speed film merupakan kemampuan film untuk merespon suatu nilai
eksposi untuk menghasilkan densitas yang diinginkan (John, 1989) sehingga
speed dapat dikatakan sebagai ukuran dari kepekaan film. Speed film
mempengaruhi film sinar x dalam menerima faktor eksposi. Film sinar x dengan
speed yang tinggi akan mencapai densitas dengan nilai faktor eksposi yang lebih
rendah daripada film sinar x dengan speed rendah. Speed dipengaruhi oleh
ketebalan emulsi sehingga film sinar x dengan emulsi yang tebal maka film
tersebut lebih sensitif, penggunaan emulsi pada dua sisi (double emulsion) lebih
sensitif daripada penggunaan emulsi pada satu sisi (single emulsion), ukuran
kristal AgBr, konsentrasi

kristal AgBr, kesesuaian spektrum, dan daerah

sensitivity speck per kristal.


2.

Bentuk AgBr
Perak bromida (AgBr) dalam emulsi film sinar x berbentuk butiran, yaitu
butiran globular dan tabular. Butir tabular berukuran relatif lebih besar dari
butiran globular, dengan permukaan yang lebih rata sehingga mampu
meningkatkan sensitifitas film. Emulsi film dengan butir AgBr yang heterogen
menyebabkan menurunnya sensitifitas film.

11

3.

Ukuran AgBr
Emulsi film sinar x dengan ukuran butir AgBr kecil akan mengakibatkan
jumlah radiasi yang lolos atau tidak mengenai AgBr lebih sedikit daripada ukuran
butir AgBr yang besar, sehingga mengurangi jumlah absorbsi radiasi sinar x.

4.

Distribusi AgBr dalam emulsi film


Distribusi AgBr dalam emulsi film akan berpengaruh terhadap speed film
yang akan mempengaruhi sensitifitas film sinar x. Emulsi film dengan jumlah
AgBr yang banyak akan mengakibatkan jumlah radiasi yang lolos lebih banyak
daripada emulsi film dengan jumlah AgBr sedikit.

5.

Penambahan bahan sensitizing dye


Penambahan sensitizing dye dapat meningkatkan sensitifitas film sinar x.
Seperti pada Film Kodak yang menambahkan optical sensitizing dye sehingga
mampu mengabsorbsi hingga panjang gelombang magenta (John Ball, 1990).
Pada butir globular ditambahkan suatu bahan yang disebut dye sensitising
sehingga AgBr mampu mengabsorbsi sampai pada panjang gelombang hijau atau
merah (Robert and Smith, 1988).

VI.

Pengaruh Ketergantungan Film Sinar-X Terhadap Ma, Kv, Ataupun


Energi Dari Keluaran Pesawat Sinar-X.
Salah satu jenis radiasi yang banyak dimanfaatkan yaitu radiasi sinarX.

SinarX yaitu sinar yang memiliki spektrum diantara Sinar UV dan Sinar Gamma.
Spektrum Cahaya
SinarX dapat terbentuk apabila partikel bermuatan misalnya elektron oleh
pengaruh gaya inti atom bahan mengalami perlambatan. SinarX yang tidak lain
adalah gelombang elektromagnetik yang terbentuk melalui proses ini disebut
sinarX bremsstrahlung. SinarX yang terbentuk dengan cara demikian mempunyai
energi paling tinggi sama dengan energi kinetik partikel bermuatan pada waktu

12

terjadinya perlambatan. Andaikata mulamula ada seberkas elektron bergerak


masuk kedalam bahan dengan energi kinetik sama, elektron mungkin saja
berinteraksi dengan atom bahan itu pada saat dan tempat yang berbedabeda.
Karena itu berkas elektron selanjutnya biasanya terdiri dari elektron yang
memiliki energi kinetik berbeda-beda. Ketika pada suatu saat terjadi perlambatan
dan menimbulkan sinarX, sinarX yang terjadi umumnya memiliki energi yang
berbeda-beda sesuai dengan energi kinetik elektron pada saat terbentuknya sinarX
dan juga bergantung pada arah pancarannya. Berkas sinarX yang terbentuk ada
yang berenergi rendah sekali sesuai dengan energy elektron pada saat
menimbulkan sinarX itu, tetapi ada yang berenergi hampir sama dengan energi
kinetik elektron pada saat elektron masuk kedalam bahan. Dikatakan berkas sinarX yang terbentuk melalui proses ini mempunyai spektrum energi nirfarik. SinarX
dapat juga terbentuk dalam proses perpindahan elektronelektron atom dari tingkat
energi yang lebih tinggi menuju ke tingkat energi yang lebih rendah, misalnya
dalam proses lanjutan efek fotolistrik. SinarX yang terbentuk dengan cara seperti
ini mempunyai energi yang sama dengan selisih energi antara kedua tingkat energi
yang berkaitan. Karena energi ini khas untuk setiap jenis atom, sinar yang
terbentuk dalam proses ini disebut sinarX karakteristik, kelompok sinarX
demikian mempunyai energi farik. SinarX karakteristik yang timbul oleh
berpindahnya elektron dari suatu tingkat energi menuju ke lintasan k, disebut
sinarX garis K, sedangkan yang menuju ke lintasan l, dan seterusnya. SinarX
bremsstrahlung dapat dihasilkan melalui pesawat sinarX atau pemercepat partikel.
Pada dasarnya pesawat sinarX terdiri dari tiga bagian utama, yaitu tabung sinarX,
sumber tegangan tinggi yang mencatu tegangan listrik pada kedua elektrode
dalam tabung sinarX, dan unit pengatur. Bagian pesawat sinarX yang menjadi
sumber radiasi adalah tabung sinarX. Didalam tabung pesawat sinarX yang
biasanya terbuat dari bahan gelas terdapat filamen yang bertindak sebagai katode
dan target yang bertindak sebagai anode. Tabung pesawat sinarX dibuat hampa
udara agar elektron yang berasal dari filamen tidak terhalang oleh molekul udara
dalam perjalanannya menuju ke anode. Filamen yang di panasi oleh arus listrik
bertegangan rendah (If) menjadi sumber elektron. Makin besar arus filamen If,
akan makin tinggi suhu filamen dan berakibat makin banyak elektron dibebaskan

13

persatuan waktu. Elektron yang dibebaskan oleh filamen tertarik ke anode oleh
adanya beda potensial yang besar atau tegangan tinggi antara katode dan anode
yang dicatu oleh unit sumber tegangan tinggi (potensial katode beberapa puluh
hingga beberapa ratus kV atau MV lebih rendah dibandingkan potensial anode),
elektron ini menabrak bahan target yang umumnya bernomor atom dan bertitik
cair tinggi (misalnya tungsten) dan terjadilah proses bremsstrahlung. Khusus pada
pemercepat partikel energi tinggi beberapa elektron atau partikel yang dipercepat
dapat agak menyimpang dan menabrak dinding sehingga menimbulkan
bremsstrahlung pada dinding. Beda potensial atau tegangan antara kedua
elektrode menentukan energi maksimum sinarX yang terbentuk, sedangkan fluks
sinarX bergantung pada jumlah elektron persatuan waktu yang sampai ke bidang
anode yang terakhir ini disebut arus tabung It yang sudah barang tentu bergantung
pada arus filamen It. Namun demikian dalam batas tertentu, tegangan tabung juga
dapat mempengaruhi arus tabung. Arus tabung dalam sistem pesawat sinarX
biasanya hanya mempunyai tingkat besaran dalam milliampere (mA), berbeda
dengan arus filamen yang besarnya dalam tingkat ampere.Spektrum energi sinarX
pada pesawat sinarX jenis ortho menunjukkan adanya sinar-X karakteristik.
Pesawat sinarX yang tidak dinyalakan atau tidak diberikan tegangan tinggi tidak
memancarkan sinarX. Dari uraian diatas kita ketahui bahwa bidang target dalam
tabung sinarX itulah sumber radiasi yang sebenarnya. Bidang ini disebut bidang
fokus.
Pada proses bremsstrahlung sinarX mempunyai kemungkinan dipancarkan
kesegala arah. Namun demikian bagian dalam tabung atau di sekitar tabung,
misalnya logam penghantar anode gelas tabung dan juga rumah tabung yang
biasanya terbuat dari logam berat menyerap sebagian besar sinarX yang
dipancarkan sehingga sinarX yang keluar dari rumah tabung, kecuali yang
mengarah ke jendela tabung sudah sangat sedikit. SinarX yang dimanfaatkan
adalah berkas yang mengarah ke jendela bagian yang tipis dari tabung. Pesawat
sinarX energi tinggi (s/d tingkat MV) biasanya lebih dikenal dengan nama
pemercepat partikel. Dalam pesawat ini percepatan elektron dilaksanakan
bertingkattingkat sehingga pada waktu mencapai target mempunyai energi sangat
tinggi, misalnya ada yang sampai setinggi 20 MV atau lebih. Energi sinarX yang
14

dipancarkan sudah tentu juga sangat tinggi. SinarX yang dipancarkan dari pesawat
pemercepat partikel memiliki energi yang lebih seragam dibandingkan dengan
yang dipancarkan melalui pesawat sinarX energi rendah. Sasaran pada pesawat
pemercepat partikel biasanya sangat tipis, karena ketika mencapai target elektron
mempunyai energi yang sama, energi sinarX yang dipancarkan juga hampir sama.
Selain itu arah berkas sinarX hampir seluruhnya kedepan. SinarX bisa dihasilkan
oleh seperangkat alat yang desebut pesawat sinar X. Pesawat sinar X banyak
digunakan di bidang kesehatan untuk keperluan diagnostik dan terapi dan di
bidang industri, antara lain untuk radiografi. SinarX ditemukan pertama kali oleh
fisikawan berkebangsaan Jerman Wilhelm Conrad Roentgen pada tanggal 8
November 1895. Saat itu Roentgen bekerja menggunakan tabung Crookes di
laboratoriumnya diUniversitas Wurzburg. Dia mengamati nyala hijau pada tabung
yang sebelumnya menarik perhatian Crookes. Roentgen selanjutnya mencoba
menutup tabung itu dengan kertas hitam dengan harapan agar tidak ada cahaya
tampak yang dapat lewat. Namun setelah ditutup ternyata masih ada sesuatu yang
dapat lewat. Roentgen menyimpulkan bahwa ada sinarsinar tidak tampak yang
mampu menerobos kertas hitam tersebut.
Pengaruh kV terhadap gambaran penggunaan kV yan tidak tepat maka
akan terjada kesalahan pada gambar radiograf yaitu over ekspouse (gambaran
dengan densitas terlalu tinggi akibat factor eksposi terlalu tinggi) dan under
ekspouse (gambaran dengan densitas terlalu rendah akibat penggunaan factor
eksposi terlalu rendah).
Penggunaan kV yang terlalu tinggi akan menyebabkan radiasi hambur
(scatter radiation). Hal ini di karenakan sinar yang di hasilkan dari kV yang tinggi
akan memiliki intensitas yang tinggi pula. Saat berinteraksi dengan objek, sinar x
yang memiliki intensitas yang tinggi akan di teruskan dan ada pula yang
dipantulkan. Sinar x yang di pantulkan ini dapat menyebabkan penghitaman pada
film sehingga gambaran yang dihasilkan akan memiliki densitas yang tinggi.
Untuk mencegah hal ini maka di perlukan grid. Sedangkan pengaruh mA terhadap
hasil pencitraan pada film yaitu apabila ada peningkatan mA akan menambah
intensitas sinar-x, dan penurunan mA akan mengurangi intensitas. Oleh sebab itu,

15

derajat terang dapat diatur dengan mengubah mA.Waktu pemaparan biasanya di


buat sesingkat mungkin untuk mengurangi kekaburan pada radiograf akibat
pergerakan pasien.
Pengaruh energi keluaran dari pesawat sinar x terhadap film radiografi
yaitu dapa dilihat dari faktor exsposi. Salah satu faktor exsposi yang berpengaruh
terhadap proses pencitraan terhadap film radiografi yaitu densitas. Bila citra
radiografi berbatas/berbentuk jelas, benda densitas masih dapat diamati, walau
tingkat densitasnya sedikit (ketajaman baik walau dengan kontras yang sangat
rendah). Jika citra radiografi dengan perbedaan densitas tinggi, struktur masih
dapat terlihat jelas walau dengan batas yang tidak begitu tegas (ketajaman masih
dapat dilihat, walaupun detail struktur tidak optimal). Energi keluaran dari
pesawat sinar-x mempengaruhi densitas masing-masing jaringan yang dilaluinya.

16

BAB III
PENUTUP
3.1.
1.

Kesimpulan
Film sinar x adalah film yang hanya diekspose oleh sinar x (directexposure film) atau

kombinasi dari sinar x dan cahaya tampak

(screen film).
2.

Strukutr bagian dari film sinar x:


a. Supercoat :Lapisan dasar sebagai pelindung anti gores.
b. Emulsi film :Lapisan tengah yang rentan terhadap cahaya
c. Substratum : Lapisan perekat antara emulsi film dengan
dasar film yang berfungsi untuk
mencegah adanya glembung udara dalam
pemrosesan film.

3.

Komponen penyusun film sinar x yang utama adalah perak


bromida (AgBr), yang terdiri dari 2 jenis perak bromida yaitu
butiran globular dan butiran tabular, untuk perak bromida
berbentuk butiran tabular terdiri dari 2 jenis yaitu T-Mat emulsion
dan structures twin emulsions.

4.

Tahap pemerosesan film sinar x


a. Tahap pembangkitan
Tahap perubahan ion Ag+ menjadi Ag yang menimbulkan
warna hitam pada gambar.
b. Tahap Pembilasan
Tahap pembangkitan berkelanjutan untuk mencegah agar
cairan developer tidak terbawa ke dalam cairan fixer dan
sebagai penetral film.
c. Tahap penetapan
Tahap pembuatan bayangan laten menjadi gambar yang
permanen sekaligus mengeraskan kembali emulsi film.
d. Tahap pembersihan
Tahap pemberishan film dari cairan-cairan hasil processing
film.
e. Tahap pengeringan
Tahap mengeringan film dengan cara meniupkan
uap panas ke atas permukaan film.

17

5.

Sensivitas cahaya film sinar x


Merupakan tingkat kepekaan silm sinar x terhadap radiasi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu sebagai berikut :
a. Speed film
kemampuan film dalam merespon suatu nilai
exsposi.
b. Bentuk AgBr
Bentuk AgBr yang lebih rata mampu meningkatkan
nilai sensifitas film.
c. Ukuran AgBr
Ukuran AgBr yang lebih kecil mengurangi jumlah
adsorbsi radiasi sinar x.
d. Distribusi AgBr
Emulsi film dengan AgBr yang banyak
mengakibatkan jumlah radiasi yang lolos lebih
banyak dan seblaiknya.
e. Penambahan bahan sensitizena dye
Dye sensitizeng mampu mengadsorbsi hingga
panjang gelombang magenta.

6.

Pengaruh ketergantungan film sinar-X terhadap mA, kV,


ataupun energi dari keluaran pesawat Sinar-X.
Efek yang terjadi akibat kenaikan tegangan listrik (kV)
adalah energi radiasi sinar-x akan meningkat, sehingga densitas
pada film akan menigkat. Energi keluaran dari pesawat sinar-x
mempengaruhi densitas masing-masing jaringan yang dilaluinya,
apabila citra radiografi dengan perbedaan densitas tinggi, struktur
masih dapat terlihat jelas walau dengan batas yang tidak begitu
tegas, dan sebalinya. Sedangkan pengaruh mA terhadap hasil
pencitraan pada film yaitu apabila ada peningkatan mA akan
menambah intensitas sinar-x, dan penurunan mA akan mengurangi
intensitas.

18

Daftar Pustaka
Nicholas,Tsoulfanidis.1983.Measurement and Detection of Radiation.London:
Publishing Corporation
Glen F, Knoll.1989. Radiation Detection and Measurement, 2nd edition, John
Wiley and sons, Singapore
J.U, Burnham. 1992. Radiation Protection. New Brunswick Power Corporation,
J.S, Lilley. 2001. Nuclear Physics Principles and Applications, John Willey and
Sons, Singapore
Cember,Herman.1983. Introduction to Health Physics, edisi bahasa indonesia,
Sydney: Pergamon Press
Ridwan, Mohammad, Prayoto dkk.1978. Pengantar Ilmu Pengetahuan
Teknologi Nuklir. Jakarta: Badan Tenaga Atom Nasional
Edwards, Cris, M.A. Statkiewicz S., E. Russel Ritenour.1990. Radiation
Protection for Dental Radiographers, edisi bahasa indonesia. Indonesia:
Widya Medika

Kata Pengantar

19

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ilmiah tentang limbah dan manfaatnya untuk masyarakat.
Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah
ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
telah

berkontribusi

dalam

pembuatan

makalah

ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar

kami

dapat

memperbaiki

makalah

ilmiah

ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah untuk praktikum radiodiagnostik


tentang film radiognosik & ketergantungannya pada mA, kV, dan energi keluaran
dari pesawat sinar-X ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap
pembaca.
Surabaya, 30

Maret

2016

Penyusun

20

Anda mungkin juga menyukai