Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA

PEMBUATAN EKSTRAK DENGAN MASERASI

Disusun Oleh kelompok R-1

Kinanthi Putri Rizki

122210101015

Marsalita Irine Prabandari

132210101002

Qurnia Wahyu Fatmasari

132210101004

Wirawan Deni

132210101006

Fikriatul Hidayah

132210101010

Zulfiah Nur Fajriani

132210101012

Ayunda Nur Hidayatingingsih

132210101014

Mia Rahmaniah

132210101016

Elok Faiqo Hasani

132210101018

Erlita Dinda N. I.

132210101020

Fergi Rizkhaltum F.

132210101022

Wilda Yuniar

132210101024

Meylani Nur Riskiana

132210101026

LABORATORIUM BIOLOGI FARMASI


FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS JEMBER
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

1.2

Tujuan
-

Mahasiswa dapat mengetahui cara pembuatan ekstrak nabati dengan maserasi.

Mahasiswa dapat mengetahui cara pembuatan ekstrak nabati dengan maserasi.

Latar Belakang
Tumbuhan memiliki banyak komponen kimia yang dibutuhkan oleh keperluan hidup

manusia, baik untuk digunakan untuk keperluan industri maupun bahan obat-obatan. Salah satu
cara untuk mengambil komponen kimia yang dibutuhkan adalah ekstraksi. Ekstraksi sendiri
merupakan proses penarikan suatu zat dengan pelarut sehingga zat tersebut terpisah dari
serbuk/simpilisia dan larut dalam pelarut yang sesuai.
Ekstraksi memiliki beberapa macam. Secara garis besar, ekstraksi terdiri dari dua macam
yaitu ekstraksi cara dingin dan ekstraksi cara panas. Esjtraksi cara dingin merupakan metode
yang tidak melibatkan proses pemanasan selama proses ekstraksi. Metode ekstraksi cara dingin
ada dua, yaitu :
a. Maserasi : Proses ekstraksi menggunakan pelarut diam atau dengan pengocokan pada
suhu ruang. Cara ekstraksi dengan maserasi merupakan pengerjaan yang paling
sederhana. Namun, lama dan hasil ekstraksi tidak baik atau kurang sempurna.
b. Perkolasi : Proses ekstraksi dengan mengalirkan pelarut melalui bahan sehingga
komponen dalam bahan ikut terlarut dalam pelarut. Keuntungan teknik yang baik bagi
senyawa termolabil.
Sedangkan ekstraksi cara panas merupakan ekstraksi yang melibatkan panas dalam
prosesnya. Cara ekstraksi panas adalah :
a. Refluks
b. Soxhlet

c. Digesti
d. Infudasi
Daun jambu biji sendiri telah banyak dilakukan sebagai bahan pengobatan tradisional.
Daun jambu biji banyak digunakan sebagai obat luka memar, peradangan, antikolesterol,
antioksidan dan obat demam berdarah. Untuk mendapatkan senyaawa-senyawa yang memiliki
manfaat tersebut maka perlu dilakukan ekstraksi dari daun jambu biji.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Tanaman Jambu Biji (Psidium guajava L.)


Divisi

: Spermatophyta

Subdivisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledonae

Bangsa

: Myrales

Suku

: Mytaceae

Marga

: Psidium

Jenis

: Psidium guajava L. (Anonim, 1986)

Kandungan kimia, khasiat dan manfaat


a. Kandungan kimia
Menurut Sudarsono dkk (2002), daun jambu biji mengandung flavonoid, tanin
(17,7%), fenolat (573,3 mg/g) dan minyak atsiri. Daun jambu biji (Psidium guajava L.),
mengandung flavonoid yang dinyatakan sebagai kuersetin. Kuersetin memiliki aktivitas
menghambat enzim reverse transcriptase yang berarti menghambat pertumbuhan virus
RNA dan memiliki titik lebur 31oC, sehingga kuersetin tahan terhadap pemanasan.

Gambar 1. Kuersetin
b. Khasiat dan Manfaat
Daun jambu biji dimanfaatkan sebagai salah satu sumber bahan obat. Daun jambu
berkhasiat untuk mengobati sariawan, diare dan radang lambung. Efek farmakologis dari
daun jambu biji yaitu antiinflamasi, antidiare, analgesik, antibakter, antidiabetes,
antihipertensi dan penambah trombosit. Indarini (2006) menunjukkan bahwa ekstrak daun
jambu biji yang mempunyai potensi antioksidan adalah daun jambu biji berdaging buah
putih yang diekstrak dengan etanol 70 % secara maserasi.
2.2

Simplisia
Simplisia adalah bahan alami yang digunakan untuk obat dan belum mengalami

perubahan proses apapun dan kecuali dinyatakan lain umumnya berupa bahan yang telah
dikeringkan. Simplisia tumbuhan obat merupakan bahan baku proses pembuatan ekstrak baik
sebagai bahan obat atau produk. Berdasarkan hal tersebut, maka simplisia dibagi menjadi tiga
golongan, yaitu simplisia nabati, simplisia hewani dan simplisia pelikan atau mineral. Untuk
menghasilkan simplisia yang bermutu dan terhindar dari cemaran. Pada umumnya melakukan
tahapan kegiatan seperti sortasi basah, pencucian, peranjangan pengeringan, sortasi kering dan
penyimpanan
2.3

Ekstraksi
Ekstraksi atau penyarian merupakan peristiwa perpindahan massa zat aktif yang semula

berada di dalam sel tanaman ditarik oleh cairan hayati. Metode ekstraksi dipilih berdasarkan
beberapa faktor seperti sifat dari bahan mentah tanaman dan daya penyesuaian dengan tiap
macam metode ekstraksi dan kepentingan dalam memperoleh ekstrak dari tanaman. Sifat dari
bahan mentah tanaman merupakan faktor utama yang harus dipertimbangkan dalam memperoleh
metode ektraksi ( Harbone.J.B,1999 ). Pada umumnya peyarian akan bertambah baik apabila

permukaan serbuk simplisia yang bersentuhan dengan penyari luas. Metode penyarian yang
umum digunakan yaitu maserasi, perkolasi, soxhcletasi, dan sebagainya. Pemilihan disesuaikan
dengan kepentingan dalam memperoleh sari yang baik ( Anonim, 1986 ).
2.4

Ekstrak
Ekstrak adalah sediaan kering, kental, atau cair yang dibuat dengan menyari simplisia

menurut cara yang cocok, diluar pengaruh cahaya langsung. Ekstrak kering harus mudah digerus
menjadi serbuk. Penyari dengan etanol dengan cara maserasi atau perkolasi (Anonim, 1979).
Ekstrak tumbuhan obat yang dibuat dari simplisia nabati dapat dipandang sebagai bahan awal,
bahan antara atau bahan produk jadi. Ekstrak sebagai bahan antara masih perlu diproses lagi
menjadi fraksi-fraksi, isolat tunggal atau campuran ekstrak lain. Ekstrak sebagai produk jadi
berarti ekstrak yang berada dalam sediaan obat yang siap digunakan oleh konsumen (Anonim,
2000).

2.5

Metode Ekstraksi

2.5.1 Perkolasi
Perkolasi adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut yang selalu baru hingga semua
pelarut tertarik dengan sempurna ( exhaustive extraction ), umumnya dilakukan pada suhu kamar.
Tahapn perkolasi yaitu penetesan pelarut serta penampungan perkolatnya hingga didapat volume
1 sampai 5 kali jumlah bahan. Proses keberhasilan ekstraksi dengan cara perkolasi dipengaruhi
selektifitas pelarut, kecepatan alir pelarut dan suhunya, ukuran simplisia tidak boleh terlalu halus
karena dapat pori-pori saringan perkolator (Depkes RI,2000).
Perkolasi dilakukan dalam wadah berbentuk silindris atau kerucut (perkolator) yang
memiliki jalan masuk dan keluar yang sesuai. Bahan pengekstraksi yang dialirkan secara
kontinyu dari atas akan mengalir turun secara lambat melintasi simplisia yang umumnya berupa
serbuk kasar. Melalui penyegaran bahan pelarut secara kontinyu, akan terjadi proses maserasi
bertahap banyak. Jika pada maserasi sederhana tidak terjadi ekstraksi sempurna dari simplisia,
maka pada perkolasi memungkinkan terjadinya ekstraksi total (Voight, 1995).
Cara perkolasi lebih baik dibandingkan cara maserasi, karena :

a. Aliran cairan penyari menyebabkan adanya pergantian larutan yang terjadi dengan larutan
yang konsentrasinya lebih rendah sehingga meningkatkan derajat perbedaan konsentrasi.
b. Ruangan diantara serbuk-serbuk simplisia membentuk saluran tempat mengalir cairan
penyari. Karena kecilnya saluran kapiler tersebut, maka kecepatan pelarut cukup untuk
mengurangi lapisan batas, sehingga dapat meingkatkan perbedaan konsentrasi.
2.5.2 Maserasi
Maserasi adalah metode ekstraksi dengan prinsip pencapaian kesetimbangan konsentrasi,
menggunakan pelarut yang direndam pada simplisia dalam suhu kamar, bila dibantu
pengadukan secara konstan maka disebut maserasi kinetik. Cairan penyari akan menembus
dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif. Zat aktif akan larut dan
karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan yang diluar
sel, maka larutan yang terpekat didesak keluar, sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi.
Kekurangan metode ini, butuh waktu yang lama dan memerlukan pelarut dalam jumlah banyak.
Sedangkan keuntungannya adalah cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana dan
mudah diusahakan.
Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif yang mudah
larut dalam cairan penyari, tidak mengandung benzoin, stirak dan bahan sejenis yang mudah
mengembang. Bila cairan penyari yang digunakan air maka untuk mencegah timbulnya kapang,
dapat ditambahkan pengawet pada awal penyarian.
Maserasi dapat dimodifikasi dengan beberapa metode yaitu digesti, maserasi dengan
pengaduk, remaserasi, maserasi melingkar.
2.5.3 Soxhlet
Soxhlet adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya dilakukan
dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinu dengan jumlah pelarut relatif konstan
dengan adanya pendingin balik. Soxhlet dilakukan dengan cara bahan yang akan diekstraksi
diletakkan dalam kantung ekstraksi. Wadah gelas yang mengandung kantung diletakkan
diantara labu penyulingan dengan pendingin aliran balik dan dihubungkan dengan pipa. Labu
tersebut berisi bahan pelarut yang menguap dan mencapai kedalam pendingin aliran balik
melalui pipet yang berkondensasi di dalamnya. Larutan berkumpul di dalam wadah gelas dan
setelah mencapai tinggi maksimalnya, secara otomatis dipindahkan ke dalam labu. Dengan

demikian zat yang terekstraksi terakumulasi melalui penguapan bahan pelarut murni berikutnya
(Voight, 1995).
2.5.4 Refluks
Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya, selama waktu
tertentu dan jumlah pelarut yang terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik.
Umumnya dilakukan pengulangan proses pada residu pertama sampai 3-5 kali sehingga dapat
termasuk proses ekstraksi sempurna (Depkes RI, 2000).

BAB III

METODE KERJA
3.1

Alat dan Bahan

Alat

Maserator
Corong Buchner
Cawan Porselen
Penangas Air
Rotavapour (Penguap berputar)
Pipa Penghisap
Seperangkat Alat gelas

Bahan
Simplisia Daun Jambu Biji
Etanol

3.2

Cara Kerja
250 mg serbuk kering dimasukkan ke dalam maserator, ditambahkan etanol 96
% sebanyak 7 kali bobot serbuk dan diaduk

Dibiarkan termaserasi selama 5 hari dalam maserator tertutup dengan


pengadukan setiap hari

Maserat disaring dari ampas dengan corong buchner, lalu maserat di


endapkan selama 2 hari

Maserat dipisahkan dari endapan dengan hati-hati. Maserat di uapkan dalam


cawan porselen diatas penangas air atau dengan penguap berputar (rotavapour)
sehingga diperoleh ekstrak kental

Ekstrak kental di endapkan kembali dengan ditambahkan etanol berlebih dan


didiamkan selama 2 hari

Disari dengan bantuan pipa penghisap

BAB IV
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

4.1

Hasil Percobaan
Data yang diperoleh pada pembuatan ekstrak dengan maserasi :

MEDIA

JUMLAH

Berat Cawan

51,97 gram

Berat Cawan + Ekstrak

65, 16 gram

Berat Ekstrak

12,19 gram

Perhitungan Rendemen :

Rendemen=

Berat ekstrak
x 100
Berat simplisia

12,19 gram
x 100
100 gram

12,19

4.2

Pembahasan
Tujuan ekstraksi adalah untuk menarik semua komponen kimia yang terdapat dalam

simplisia. Ekstraksi ini didasarkan pada perpindahan massa komponen zat padat ke dalam pelarut
dimana perpindahan mulai terjadi pada lapisan antar muka, kemudian berdifusi masuk ke dalam
pelarut. Proses pengekstraksian komponen kimia dalam sel tanaman yaitu pelarut organik akan
menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan
larut dalam pelarut organik di luar sel, maka larutan terpekat akan berdifusi keluar sel dan proses

ini akan berulang terus sampai terjadi keseimbangan antara konsentrasi cairan zat aktif di dalam
dan di luar sel.
Prinsip dari maserasi yaitu penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara merendam
serbuk simplisia dalam cairan penyari yang sesuai selama lima hari pada temperatur kamar
terlindung dari cahaya, cairan penyari akan masuk ke dalam sel melewati dinding sel. Isi sel akan
larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan di dalam sel dengan di luar sel. Larutan
yang konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar dan diganti oleh cairan penyari dengan
konsentrasi rendah (proses difusi). Peristiwa tersebut berulang sampai terjadi keseimbangan
konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel. Selama proses maserasi dilakukan
pengadukan dan penggantian cairan penyari setiap hari. Endapan yang diperoleh dipisahkan dan
filtratnya dipekatkan.
Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan yang
digunakan sederhana dan mudah diusahakan. Kerugian cara maserasi adalah pengerjaannya lama
dan penyariannya kurang sempurna.
Pada praktikum kali ini, ekstraksi yang dilakukan dengan metode maserasi memiliki
beberapa tahapan diantaranya perendaman simplisia, pengadukan, penyaringan dan penguapan
maserat. Perendaman simplisia dilakukan dengan cara merendam 250 gram serbuk dengan etanol
96% dalam maserator. Pelarut yang digunakan adalah etanol 96% karena zat aktif yang akan
diambil larut dalam pelarut polar sehingga maserasi yang dilakukan menggunakan pelarut polar.
Perendaman dilakukan selama 5 hari bertujuan agar pelarut dapat menarik senyawa yang akan
diambil ke luar dinding sel dan larut dalam pelarut etanol 96%. Perendaman dilakukan dengan
cara pengadukan yang bertujuan untuk memperbesar luas permukaan yang bersentuhan dengan
serbuk sehingga semua serbuk dapat terkena pelarut dan senyawa aktif dalam larut dalam pelarut
yang digunakan. Tujuan lain dari pengadukan adalah untuk memperluas kontak antara serbuk
simplisia dengan cairan penyari sehingga timbul gaya adhesi antara serbuk simplisia dan cairan
penyari. Adanya gaya adhesi ini menyebabkan cairan dapat membasahi simplisia sehingga
melarutkan zat aktif yang terkandung di dalamnya.
Maserasi dilakukan selama 5 hari dan kemudian dilakukan penyaringan menggunakan
corong Buchner. Penyaringan dilakukan untuk memisahkan maserat dengan endapan sehingga
akan didapatkan maserat yang telah mengandung zat aktif. Maserat kemudian diuapkan dengan

rotavapour. Proses ini dilakukan hingga seluruh cairan penyari menguap dan diperoleh ekstrak
kental. Prinsip rotary evaporator adalah proses pemisahan ekstrak dari cairan penyarinya dengan
pemanasan yang dipercepat oleh putaran dari labu, cairan penyari dapat menguap 5-10 C di
bawah titik didih pelarutnya disebabkan oleh karena adanya penurunan tekanan. Dengan bantuan
pompa vakum, uap larutan penyari akan menguap naik ke kondensor dan mengalami kondensasi
menjadi molekul-molekul cairan pelarut murni yang ditampung dalam labu penampung. Prinsip
ini membuat pelarut dapat dipisahkan dari zat terlarut di dalamnya tanpa pemanasan yang tinggi.
Hasil persen rendemen yang yang didapatkan pada percobaan kali ini sebesar 12,19%.
Persen rendemen dapat dihitung dengan membagi berat ekstrak dengan berat simplisia dikali 100
persen. Serbuk sebelum diekstraksi daun jambu biji adalah 100 gram dan berat ekstrak
didapatkan 12,19 gram.
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan langkah kerja dalam
pembuatan ekstrak dengan maserasi meliputi :

Pengadukan atau Pengocokan


Pengadukan atau pengocokan yang dilakukan sebaiknya dilakukan dengan arah, goncangan,
dan kecepatan yang konstan..

Pemerasan yang maksimal


Pemerasan yang maksimal mampu mendapatkan hasil ekstrak yang banyak dan mengurangi
penambahan air dari luar.

ukuran simplisia yang sesuai


Apabila serbuk terlalu kecil maka proses penyaringan tidak maksimal sehingga
mempengaruhi hasil ekstrak.

Dalam pengerjaannya harus tetap dijaga


Agar dapat mencatat data yang akurat.

BAB V
PENUTUP

5.1

Kesimpulan
Tujuan ekstraksi adalah untuk menarik semua komponen kimia yang terdapat dalam

simplisia. Ekstraksi ini didasarkan pada perpindahan massa komponen zat padat ke dalam pelarut
dimana perpindahan mulai terjadi pada lapisan antar muka, kemudian berdifusi masuk ke dalam
pelarut.
Maserasi adalah metode ekstraksi dengan prinsip pencapaian kesetimbangan konsentrasi,
menggunakan pelarut yang direndam pada simplisia dalam suhu kamar, bila dibantu pengadukan
secara konstan maka disebut maserasi kinetik. Cairan penyari akan menembus dinding sel dan
masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif. Zat aktif akan larut dan karena adanya
perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan yang diluar sel, maka larutan
yang terpekat didesak keluar, sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi.
Serbuk sebelum diekstraksi daun jambu biji adalah 100 gram dan berat ekstrak didapatkan
12,19 gram dengan persentase ekstrak (%) rendamen adalah 12,19%.
5.2

Saran
Untuk metode penyarian dengan cara maserasi, pengadukan atau pengocokan yang

dilakukan sebaiknya dilakukan dengan goncangan dan kecepatan yang konstan.Suhu pada saat
pemanasan harus sesuai dengan pedoman yaitu sekitar 600C agar hasil yang didapatkan bisa
optimal. Pemerasan yang maksimal mampu mendapatkan hasil ekstrak yang banyak dan
mengurangi penambahan air dari luar. Serbuk simplisia sebaiknya sesuai dengan ayakan, apabila
serbuk terlalu kecil maka proses penyaringan tidak maksimal sehingga mempengaruhi hasil
ekstrak. Dalam pengerjaannya harus tetap dijaga dan diperhatikan, agar dapat mencatat data yang
akurat. Air dalam waterbath harus selalu terisi, karena air waterbath sangat berperan penting
terhadap pemanasan cairan ekstrak, sehingga waterbath harus selalu terisi air.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim 1999 : Senna siamea a widely used legume tree. Fact Sheet
J. B. Harbone. 1987. Metode Fitokimia : Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan.
Penerbit ITB. Bandung.
Senjaya, Y. A dan Surakusumah, W. 2008. Potensi Ekstrak Daun Pinus (Pinus merkusii jungh. et
de Vriese) Sebagai Bioherbisida Penghambat Perkecambahan Echinochloa colonum l. dan
Amaranthus viridis.Jurnal Perennial. 4(1) : 1-5.
Tobo, Fachruddin, (2001), Buku Pegangan Laboratorium Fitokimia, Laboratorium Fitokimia
Jurusan Farmasi Unhas, Makassar.

LAMPIRAN

Simplisisa daun jambu biji

Serbuk kering daun jambu biji dengan etanol


96%

ekstrak yang sudah disaring

Hasil Hasil ekstrak yang sudah di saring di


masukkan kedalam wadah untuk rotavapor

Dilakukan proses rotavapor