Anda di halaman 1dari 31

1.

PENGERTIAN KEPAILITAN

Berasal dari kata dasar Pailit (Failite bahasa Perancis, atau


Bankrupt bahasa Inggris) yaitu segala sesuatu yang
berhubungan dengan peristiwa keadaan berhenti membayar
utang debitur yang telah jatuh tempo (kemacetan melakukan
pembayaran utang)

JB Huizink : sita umum barang barang debitur untuk kepentingan


semua kreditur secara bersama sama.

Poerwadarminta : Pailit artinya bangkrut

Blacks Law Dictionary : the state or condition of


a person (individual, partnership,corporation,
municipality) who is unable to pay its debt as they
are, or become due (suatu keadaan ketidak
mampuan untuk membayar dari seorang
debitur atas utang utang nya yang telah
jatuh tempo)
UU no 37 tahun 2004 (pasal 1 angka 1) :
Sita umum atas semua harta kekayaan debitur
pailit, yang
pengurusan dan pemberesanya dilakukan oleh
Kurator,
Dibawah pengawasan Hakim pengawas,
Sebagaimana diatur dalam undang undang ini

2. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ATURAN


KEPAILITAN DI INDONESIA
Sejarah masuknya aturan aturan kepailitan di
Indonesia sejalan dengan masuknya WvK/KUHD ke
Indonesia
Peraturan peraturan kepailitan sebelumnya terdapat
dalam Buku ke III KUHD, pasal 749-910, tapi
kemudian di cabut dan di atur tersendiri dalam,
Faillissements veordering/FV (Staatblad 1905: 217
Jo staatblad 1906:348)
FV yang merupakan peraturan peningalan HB
sebagian besar materinya sudah tidak sesuai lagi
dengan kebutuhan dan perkembangan hukum
masyarakat untuk penyelesaian hutang piutang,
maka lahirlah :

Perpu nomor 1 tahun 1998 tentang Perubahan atas UU


Kepailitan yang kemudian ditetapkan menjadi UU nomer
4 tahun 1998.
UU no 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan
Penundaan Pembayaran Utang. Tanggal 18 Oktober
2004
3. SUMBER HUKUM KEPAILITAN
UU Nomer 37/2004
Pasal 1 ayat 3, pasal 5 ayat 1, pasal 20, 24 dan pasal 33
ayat 4 UUD 45
Reglegment Indonesia yang diperbaharui (RIB)
Reglegment hukum Acara untuk daerah luar jawa dan
madura/Rechtsreglement Buiten gewesten (Stb 1927 :
227)
UU tentang MA
UU tentang Peradilan Umum
UU tentang Kekuasaan Kehakiman

4. PENGERTIAN PENGERTIAN
Kreditur : orang yang mempunyai piutang karena
perjanjian atau undang undang, yang dapat di tagih
dimuka pengadilan
Debitur : orang yang mempunyai utang karena
perjanjian atau undang undang yang pelunasan nya
dapat di tagih dimuka pengadilan
Debitur pailit : debitur yang sudah dinyatakan pailit
dengan keputusan pengadilan
Utang :
Kewajiban keajiban yang dinyatakan/dapat
dinyatakan dalam jumlah uang baik rupiah/mata
uang asing
Langsung maupun yang akan timbul dikemudian
hari atau kontinjen

Yang timbul karena perjanjian atau undang


undang dan wajib dipenuhi debitur
Bila tidak dipenuhi akan memberikan hak kepada
kreditur untuk mendapatkan pemenuhanya dari
harta kekayaan debitur

Kurator : adalah BHP atau perorangan yang


diangkat pengadilan untuk membereskan harta
debitur pailit
Pengadilan : adalah Pengadilan Niaga dalam
lingkungan peradilan umum

5. ASAS ASAS KEPAILITAN (asas asas yang

mendasari UU nomer 37/2004)


a) Asas keseimbangan : yaitu kententuan

untuk dapat mencegah terjadinya penyalah gunaan


pranata dan lembaga kepailitan oleh debitur yang tidak
jujur,

dilain pihak oleh kreditur yang tidak beritikad baik

b) Asas kelangsungan usaha : yaitu ketentuan yang


memungkinkan perusahaan debitur yang prospektip tetap
dapat dilangsungkan

c) Asas keadilan : yaitu ketentuan


kepailitan dapat memenuhi rasa keadilan bagi
pihak pihak yang berkepentingan
Asas ini mencegah terjadinya kesewenang
wenangan pihak penagih terhadap debitur yang
mengusahakan pembayaran atas tagihan
masing masing dengan tidak memperdulikan
kreditur kreditur yang lain

d) Asas integrasi : yaitu ketentuan yang


menyatakan sistem hukum formil dan hukum
materil merupakan satu kesatuan yang utuh
dari sistem hukum perdata dan hukum acara
nasional

6. TUJUAN KEPAILITAN
untuk mengatur kepentingan bersama para
kreditur dalam sita umum, penyelesaian utang
piutang dan menghindari kecurangan
kecurangan debitur ataupun kreditur
Kepailitan merupakan penjabaran/ perwujudan
dari pasal 1131 dan 1132 KUHPer

Pasal 1131 : semua harta kekayaan debitur


menjadi jaminan pembayaran utang utangnya
Prinsip Paritas Creditorium ini mengandung
makna semua kekayaan debitur baik bergerak/
tidak bergerak, baik yang ada/yang akan ada
terikat pada penyelesaian kewajiban debitur

Pasal 1132: pada dasar nya pembagian

kekayaan debitur harus dilakukan secara pari


passu prorata parte, kecuali ada hak yang
didahulukan
Prinsip pari passu prorata parte : harta
kekayaan tersebut merupakan jaminan
bersama untuk para kreditur dan hasilnya
harus dibagikan secara proporsional
diantara kreditur kecuali ada hak untuk
didahulukan

7. MACAM MACAM KREDITUR


Prinsip structured creditors : prinsip yang
mengklasifikasi
dan mengelompokan macam macam kreditur sesuai
klasnya
masing masing.
Kreditur Konkuren
Para kreditur dengan hak PARI PASSU DAN PRO RATA
Kreditur konkuren mempunyai kedudukan yang sama
atas
Kreditur Preferen
Kreditur yang karena UU, mendapatkan pelunasan
terlebih dahulu
Mempunyai hak istimewa yaitu hak yg oleh UU
diberikan kpd seorang berpiutang sehingga tingkatnya
lbh tinggi drpda orang berpiutang lainnya
Lihat kembali pasal 1139 dan 1149 BW

Kreditur Separatis
Kreditur pemegang hak jaminan kebendaan
Hak yang dipunyai kreditur ini adalah hak kewenangan
sendiri menjual / mengeksekusi objek agunan, tanpa
putusan pengadilan (parate eksekusi)
4 jaminan kebendaan
Hipotek (pasal 1162 s.d pasal 1232 BW)
Gadai (pasal 1150 s.d pasal 1160 BW)
Hak tanggungan (UU No.4/1196)
Fidusia (UU No.42/1999)

8. SYARAT UTAMA UNTUK DAPAT DINYATAKAN

PAILIT/ PERSYARATAN KEPAILITAN


Seorang debitur mempunyai palaing sedikit 2
orang kreditur,
Tidak mampu membayar lunas salah satu
hutangnya yang sudah jatuh tempo dan dapat
ditagih

Syarat : cukup satu utang yang telah jatuh


tempo dan dapat ditagih
Utang harus lahir dari perikatan yang sempurna
Misal ; utang yang lahir dari perjudian tidak
dapat mengajukan permohonan pailit

Adanya Dua kreditur atau lebih


(ConcursusCreditorum)
Jika debitur mempunyai 1 kreditur, maka seluruh
harta kekayaan debitur otomatis mnjd jaminan
atas pelunasan utang debitur dan tidak
diperlukan pembagian secara pro rata dan pari
passu
Debitur tidak dapat dituntut pailit, jika debitur
tersebut hanya mempunyai 1 kreditur

9. PIHAK PIHAK YANG DAPAT


MENGAJUKAN PERMOHONAN PAILIT
(pasal 2 ayat 1)
Debitur Sendiri
Seorang kreditur atau lebih
Kejaksaan
Bank Indonesia
Badan Pengawas Pasar Modal
Menteri Keuangan

Debitur Sendiri
Seorang debitur dapat mengajukan
permohonan pernyataan pailit atas dirinya
sendiri
Jika debitur masih terikat dalam
pernikahan yang sah, permohonan hanya
dpt diajukan atas persetujuan suami atau
istri
Seorang Kreditur atau lebih
Kreditur yang dapat mengajukan permohonan
pailit terhadap debiturnya adalah kreditur
konkuren, kreditur preferen, kreditur separatis

Kejaksaan
Kejaksaan dapat mengajukan permohonan
pailit demi kepentingan umum
Pengertian kepentingan umum adalah
kepentingan bangsa dan negara dan atau
kepentingan masyarakat, misalnya :
Debitur melarikan diri
Debitur menggelapkan bagian dari harta kekayaan
Debitur mempunyai utang kpd BUMN atau badan usaha
lain yg menghimpun dana dari masyarakat
Debitur mempunyai utang yang berasal dari
penhimpunan dana dari masyarakat luas
Debitur tidak beritikad baik atau tidak kooperatif dalam
menyelesaikan masalah utang piutang yang telah jatuh
waktu
Dalam hal lainnya yg menurut mrpkan kepentingan
umum

Bank Indonesia
Permohonan pailit terhadap bank hanya dapat
diajukan oleh Bank Indonesia berdasarkan penilaian
kondisi keuangan perbankan secara keseluruhan
Badan Pengawas Pasar Modal
Permohonan pailit terhadap perusahaan efek, bursa
efek, lembaga kliring dan penjaminan, lembaga
penyimpanan dan penyelesaian, hanya dapat
diajukan oleh BAPEPAM
Menteri Keuangan
Permohonan pernyataan pailit terhadap perusahaan
asuransi,perusahaan reasuransi, dana pensiun atau
badan usaha milik negara yang bergerak di bidang
kepentingan publik, hanya dapat diajukan Menteri
Keuangan.

10.PIHAK PIHAK YANG DAPAT DIMOHONKAN


PAILIT

Manusia pribadi
Badan usaha (Firma, CV)
Badan Hukum (PT, Yayasan,Koperasi dll)
Harta warisan
Harta kekayaan orang yang telah meninggal
harus dinyatakan dalam keadaan pailit bila ada
dua/lebih kreditur mengajukan permohonan
untuk itu dan dapat membuktikan bahwa utang
orang yang meninggal semasa hidupnya tidak
dibayar lunas atau pada saat meninggal harta
peningalanya tidak cukup untuk membayar
utang

11. PERMOHONAN PAILIT


Harus diajukan kepada ketua Pengadilan Niaga
yang merupakan pengadilan khusus dibidang
peniagaan
Permohonan pernyataan pailit oleh perseorangan
harus diajukan advodkat (pasal 7)
Selama putusan atas permohonan belum
ditetapkan, kreditur atau kejaksaan dapat
mengajukan permohonan untuk :
a. Meletakan sita jaminan terhadap sebagian/
seluruh harta kekayaan debitur, atau
b. Menunjuk Kurator Sementara untuk mengawasi
pengelolaan usaha debitur

Upaya hukum yang dapat diajukan terhadap


putusan atas permohonan pernyataan pailit
adalah kasasi ke Mahkama Agung (pasal 11).
Ketentuan ini sering di sebut UU kepailitan
mengkebiri hak banding

12. AKIBAT HUKUM DARI KEPAILITAN (pasal 21-25)


Kepailitan meliputi seluruh harta kekayaan debitur
Debitur demi hukum kehilangan haknya untuk
menguasai dan mengurus kekayaan nya yang
termasuk dalam harta pailit
Semua perikatan debitur yang terbit sesudah putusan
pernyataan pailit tidak lag idapat dibayar dari harta
pailit kecuali perikatan tersebut menguntungkan
harta pailit

13. PENGURUSAN HARTA PAILIT (pasal 65)


Pengurusan / pemberresan harta pailit dilakukan
oleh kurator
Kurator wajib mencocokan perhitungan piutang
yang dibuat kreditur dengan catatan yang
dibuat debitur
Pengurusan dan pemberesan harta pailit diawasi
oleh Hakim Pengawas

14. PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN


UTANG/PKPU
1. PKPU diajukan oleh debitur atau oleh kreditur
2. Debitur yang tidak dapat atau menperkirakan
tidak akan dapat, melanjutkan membayar utang
utangnya yang sudah jatuh tempo dan dapat
ditagih, dapat memohon PKPU (surceance van
betaling), dengan maksud untuk mengajukan
rencana perdamaian yang meliputi tawaran
pembayaran sebagian atau seluruh utang kepada
kreditur
3. Permohonan PKPU diajukan kepada Pengadilan
Niaga
4. Jadi PKPU diajukan bilamana debitur dalam
keadaan masih mampu membayar utang utangnya
tapi memerlukan waktu untuk membayarnya

5. Tujuan PKPU: agar dapat membayar dan


menghindari pailit (selama dalam jangka
waktu PKPU debitur tidak dapat dimohonkan
pailit atau dipaksa melunasi hutang hutangnya)
6. Debitur yang memohon penundaan
pembayaran dapat mengajukan rencana
perdamaian (akur) melalui pengadilan
7. Didalam masa PKPU debitur tidak hilang hak nya
untuk menguasai dan mengurusi harta
kekayaanya (beda dengan pailit)

PENGADILAN NIAGA
1. UU no 37/2004 tidak hanya :
a. Melakukan perbaikan perbaikan terhadap ketentuan
ketentuan tentang kepailitan sebagai upaya
mewujudkan mekanisme penyelesaian sengketa
secara adil, cepat, terbuka, dan efektif, juga
b. Menghadirkan Pengadilan Niaga sebagai suatu
Pengadilan yang khusus memeriksa dan memutus
perkara kepailitan dan PKPU

2. Sistem peradilan di Indonesia terdapat 4


lingkungan peradilan :
a. lingkungan peradilan Umum (UU no 8/2004)
membawahi antara lain peradilan HAM,
peradilan Anak, peradilan Industrial, peradilan
Perikanan, peradilan Niaga

b. Lingkup peradilan TUN (UU no 9/2000)


membawahi peradilan Pajak
c. Lingkup peradilan Agama (UU no 7/1989)
d. Lingkup peradilan Militer (UU no 31/1997)

3. Pengadilan Niaga (pasal 300)


a. Suatu pengadilan khusus yang berada
dilingkungan peradilan umum yang dibentuk dan
bertugas untuk :
Memeriksa dan memutus permohonan
pernyataan pailit
Memeriksa dan memutus permohonan PKPU
Memeriksa perkara perkara lain di bidang
perniagaan yang penetapannya ditetapkan
dengan UU

Jadi berdasarkan peraturan per UU, PN berwenang


menanganin perkara perkara :
Kepailitan dan PKPU serta hal hal yang berkaitan
denganya, termasuk kasus kasus actio pauliana
Actio pauliana : hak yang diberikan kepada seorang
kreditur untuk mengajukan pembatalan atas segala
perbuatan debitur yang tidak diwajibkan, yang
merugikan kreditur (tujuanya melindungi hak
kreditur dan membatasi perbuatan hukum debitur
pailit)
Hak Kekayaan Intelektual :
Desain Industri (UU no 31/2000)
Desain Tataletak Sirkuit Terpadu (UU no 32/2000)
Hak Paten (UU no 14/2001)
Hak Merek (UU no 15/2001)
Hak Cipta ( UU no 19/2002)


4.

Lembaga Penjamin Simpanan /LPS (UU no


24/2004)
Pembentukan pengadilan Niaga
Pembentukan PN dilakukan secara bertahap
dengan KEPRES dengan memperhatikan
kebutuhan dan kesiapan sumberdaya yang
diperlukan
PN merupakan chamber dari peradilan umum,
jadi tidak ada jabatan Ketua PN, ketua
Pengadilan Negeri merangkap Ketua PN
PN dibentuk pertama kali di Pengadilan Negeri
Jakarta Pusat
Saat ini di Indonesia ada 5 PN yaitu DKI Jakarta,
Medan, Semarang, Surabaya, dan Makasar

5. Kompetensi PN
Kompetensi Relatif : merupakan
kewenangan/kekuasaan mengadili antar PN. PN
hanya berwenang memeriksa dan memutus perkara
didaerah hukum nya masing masing (pasal 3 : 2)
Kompetensi Absolut : merupakan kewenangan
memeriksa dan mengadili antar Badan Peradilan.
PN merupakan pengadilan khusus yang diberi
wewenang untuk memeriksa dan memutus
permohonan pernyataan pailit, PKPU, dan perkara
lain dibidang perniagaan yang penetapanya
dilakukan dengan UU (pasal 300:1)
Hukum Acara yang berlaku dan diterapkan di PN
adalah Hukum Acara Perdata (HIR dan Rbg) kecuali
ditentukan lain, pada dasarnya tetap berpedoman
pada UU no 37/2004

Hukum Acara di PN dalam perkara kepailitan dan


PKPU mempunyai sifat sifat khusus :
a. Acara perdata dimuka PN berlaku dengan
tulisan atau surat
b. Kewajiban dengan bantuan ahli
c. Model liberal individualistis
d. Pembuktian sederhana
e. Waktu pemeriksaan yang terbatas
f. Putusan bersifat serta merta (UVB)
g. Klausulah Arbitrase
h. Tidak ada upaya banding

Anda mungkin juga menyukai