Anda di halaman 1dari 43

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Sistem Rujukan

2.1.1

Defenisi Sistem Rujukan


Adapun yang dimaksud dengan sistem rujukan di Indonesia, seperti yang

telah dirumuskan dalam SK Menteri Kesehatan RI No. 001 tahun 2012 ialah
suatu

sistem

penyelenggaraan

pelayanan

kesehatan

yang

melaksanakan

pelimpahan tanggung jawab timbal balik terhadap suatu kasus penyakit atau
masalah kesehatan secara vertical dalam arti dari unit yang berkemampuan kurang
kepada unit yang lebih mampu atau secara horizontal dalam arti antar unit-unit
yang setingkat kemampuannya .
Notoatmodjo (2008) mendefinisikan sistem rujukan sebagai suatu sistem
penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang melaksanakan pelimpahan tanggung
jawab timbal balik terhadap satu kasus penyakit atau masalah kesehatan secara
vertikal (dari unit yang lebih mampu menangani), atau secara horizontal (antar
unit-unit yang setingkat kemampuannya). Sederhananya, sistem rujukan mengatur
darimana dan harus kemana seseorang dengan gangguan kesehatan tertentu
memeriksakan keadaan sakitnya.
Sistem rujukan upaya keselamatan adalah suatu sistem jaringan fasilitas
pelayanan kesehatan yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab
secara timbal-balik atas masalah yang timbul baik secara vertikal (komunikasi
antara unit yang sederajat) maupun horizontal (komunikasi inti yang lebih tinggi

10

11

ke unit yang lebih rendah) ke fasilitas pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau,
rasional dan tidak dibatasi oleh wilayah administrasi (Syafrudin, 2009).
2.1.2

Macam Rujukan
Sistem Kesehatan Nasional membedakannya menjadi dua macam yakni :

1. Rujukan Kesehatan
Rujukan ini terutama dikaitkan dengan upaya pencegahan penyakit dan
peningkatan derajat kesehatan. Dengan demikian rujukan kesehatan pada
dasarnya berlaku untuk pelayanan kesehatan masyarakat (public health
service). Rujukan kesehatan dibedakan atas tiga macam yakni rujukan
teknologi, sarana, dan operasional (Azwar, 1996). Rujukan kesehatan yaitu
hubungan dalam pengiriman, pemeriksaan bahan atau specimen ke fasilitas
yang lebih mampu dan lengkap. Ini adalah rujukan uang menyangkut masalah
kesehatan yang sifatnya pencegahan penyakit (preventif) dan peningkatan
kesehatan (promotif). Rujukan ini mencakup rujukan teknologi, sarana dan
opersional (Syafrudin, 2009).
2. Rujukan Medik
Rujukan ini terutama dikaitkan dengan upaya penyembuhan penyakit serta
pemulihan kesehatan. Dengan demikian rujukan medik pada dasarnya berlaku
untuk pelayanan kedokteran (medical service). Sama halnya dengan rujukan
kesehatan, rujukan medik ini dibedakan atas tiga macam yakni rujukan
penderita, pengetahuan dan bahan bahan pemeriksaan (Azwar, 1996). Menurut
Syafrudin (2009), rujukan medik yaitu pelimpahan tanggung jawab secara
timbal balik atas satu kasus yang timbul baik secara vertikal maupun

12

horizontal kepada yang lebih berwenang dan mampu menangani secara


rasional. Jenis rujukan medic antara lain:
a. Transfer of patient.
Konsultasi penderita untuk keperluan diagnosis, pengobatan, tindakan
operatif dan lain lain.
b. Transfer of specimen
Pengiriman bahan (spesimen) untuk pemeriksaan laboratorium yang lebih
lengkap.
c. Transfer of knowledge / personal.
Pengiriman tenaga yang lebih kompeten atau ahli untuk meningkatkan
mutu layanan setempat.
2.1.3

Manfaat Rujukan
Menurut Azwar (1996), beberapa manfaat yang akan diperoleh ditinjau

dari unsur pembentuk pelayanan kesehatan terlihat sebagai berikut :


1. Sudut pandang pemerintah sebagai penentu kebijakan
Jika ditinjau dari sudut pemerintah sebagai penentu kebijakan kesehatan
(policy maker), manfaat yang akan diperoleh antara lain membantu
penghematan dana, karena tidak perlu menyediakan berbagai macam peralatan
kedokteran pada setiap sarana kesehatan; memperjelas sistem pelayanan
kesehatan, karena terdapat hubungan kerja antara berbagai sarana kesehatan
yang tersedia; dan memudahkan pekerjaan administrasi, terutama pada aspek
perencanaan.

13

2. Sudut pandang masyarakat sebagai pemakai jasa pelayanan


Jika ditinjau dari sudut masyarakat sebagai pemakai jasa pelayanan (health
consumer), manfaat yang akan diperoleh antara lain meringankan biaya
pengobatan, karena dapat dihindari pemeriksaan yang sama secara berulangulang dan mempermudah masyarakat dalam mendapatkan pelayanan, karena
diketahui dengan jelas fungsi dan wewenang sarana pelayanan kesehatan.
3. Sudut pandang kalangan kesehatan sebagai penyelenggara pelayanan
kesehatan.
Jika ditinjau dari sudut kalangan kesehatan sebagai penyelenggara pelayanan
kesehatan (health provider), manfaat yang diperoleh antara lain memperjelas
jenjang karir tenaga kesehatan dengan berbagai akibat positif lainnya seperti
semangat kerja, ketekunan, dan dedikasi; membantu peningkatan pengetahuan
dan keterampilan yakni melalui kerjasama yang terjalin; memudahkan dan
atau meringankan beban tugas, karena setiap sarana kesehatan mempunyai
tugas dan kewajiban tertentu.
2.1.4

Tata Laksana Rujukan


Menurut Syafrudin (2009), tatalaksana rujukan diantaranya adalah internal

antar-petugas di satu rumah; antara puskesmas pembantu dan puskesmas; antara


masyarakat dan puskesmas; antara satu puskesmas dan puskesmas lainnya; antara
puskesmas dan rumah sakit, laboratorium atau fasilitas pelayanan kesehatan
lainnya; internal antar-bagian/unit pelayanan di dalam satu rumah sakit; antar
rumah sakit, laboratoruim atau fasilitas pelayanan lain dari rumah sakit.

14

2.1.5

Kegiatan Rujukan
Menurut Syafrudin (2009), kegiatan rujukan terbagi menjadi tiga macam

yaitu rujukan pelayanan kebidanan, pelimpahan pengetahuan dan keterampilan,


rujukan informasi medis:
1. Rujukan Pelayanan Kebidanan

Kegiatan ini antara lain berupa pengiriman orang sakit dari unit kesehatan
kurang lengkap ke unit yang lebih lengkap; rujukan kasus-kasus patologik
pada kehamilan, persalinan, dan nifas; pengiriman kasus masalah reproduksi
manusia lainnya, seperti kasus-kasus ginekologi atau kontrasepsi yang
memerlukan penanganan spesialis; pengiriman bahan laboratorium; dan jika
penderita telah sembuh dan hasil laboratorium telah selesai, kembalikan dan
kirimkan ke unit semula, jika perlu diserta dengan keterangan yang lengkap
(surat balasan).
2. Pelimpahan Pengetahuan dan Keterampilan

Kegiatan ini antara lain :


a. Pengiriman tenaga-tenaga ahli ke daerah untuk memberikan pengetahuan
dan keterampilan melalui ceramah, konsultasi penderita, diskusi kasus, dan
demonstrasi operasi.
b. Pengiriman petugas pelayanan kesehatan daerah untuk menambah
pengetahuan dan keterampilan mereka ke rumah sakit yang lebih lengkap
atau rumah sakit pendidikan, juga dengan mengundang tenaga medis
dalam kegiatan ilmiah yang diselenggarakan dengan tingkat provinsi atau
institusi pendidikan.

15

3. Rujukan Informasi Medis

Kegiatan ini antara lain berupa :


a. Membalas secara lengkap data-data medis penderita yang dikirim dan
advis rehabilitas kepada unit yang mengirim.
b. Menjalin kerjasama dalam sistem pelaporan data-data parameter pelayanan
kebidanan, terutama mengenai kematian maternal dan prenatal. Hal ini
sangat berguna untuk memperoleh angka secara regional dan nasional.
2.1.6

Sistem Informasi Rujukan


Informasi kegiatan rujukan pasien dibuat oleh petugas kesehatan pengirim

dan di catat dalam surat rujukan pasien yang dikirimkan ke dokter tujuan rujukan,
yang berisikan antara lain:nomor surat, tanggal dan jam pengiriman, status pasien
pemegang kartu Jaminan Kesehatan atau umum, tujuan rujukan penerima, nama
dan identitas pasien, resume hasil anamnesa, pemeriksaan fisik, diagnose,
tindakan dan obat yang telah diberikan, termasuk pemeriksaan penunjang,
kemajuan pengobatan dan keterangan tambahan yang dipandang perlu.
2.1.7

Organisasi dan Pengelolaan dalam Pelaksanaan Sistem Rujukan


Agar sistem rujukan ini dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien,

maka perlu diperhatikan organisasi dan pengelolanya, harus jelas mata rantai
kewenangan dan tanggung jawab dari masing-masing unit pelayanan kesehatan
yang terlibat didalamnya, termasuk aturan pelaksanaan dan koordinasinya.

16

2.1.8

Kriteria Pembagian Wilayah Pelayanan Sistem rujukan


Karena terbatasanya sumber daya tenaga dan dana kesehatan yang

disediakan, maka perlu diupayakan penggunaan fasilitas pelayanan medis yang


tersedia secara efektif dan efisien. Pemerintah telah menetapkan konsep
pembagian wilayah dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat. Dalam sistem
rujukan ini setiap unit kesehatan mulai dari Polindes, Puskesmas pembantu,
Puskesmas dan Rumah Sakit akan memberikan jasa pelayanan kepada masyarakat
sesuai dengan ketentuan wilayah dan tingkat kemampuan petugas atau sama.
Ketentuan ini dikecualikan bagi rujukan kasus gawat darurat, sehingga
pembagian wilayah pelayanan dalam sistem rujukan tidak hanya didasarkan pada
batas-batas wilayah administrasi pemerintahan saja tetapi juga dengan kriteria
antara lain:
1. Tingkat kemampuan atau kelengkapan fasilitas sarana kesehatan,
misalnya fasilitas Rumah Sakit sesuai dengan tingkat klasifikasinya.
2. Kerjasama Rumah Sakit dengan Fakultas Kedokteran
3. Keberadaan jaringan transportasi atau fasilitas pengangkutan yang
digunakan ke Sarana Kesehatan atau Rumah Sakit rujukan.
4. Kondisi geografis wilayah sarana kesehatan.
Dalam melaksanakan pemetaan wilayah rujukan, faktor keinginan pasien/
keluarga pasien dalam memilih tujuan rujukan perlu menjadi bahan pertimbangan.

17

2.1.9

Keuntungan Sistem Rujukan


Menurut Syafrudin (2009), keuntungan sistem rujukan adalah :

1. Pelayanan yang diberikan sedekat mungkin ke tempat pasien, berarti bahwa


pertolongan dapat diberikan lebih cepat, murah dan secara psikologis memberi
rasa aman pada pasien dan keluarga.
2. Dengan adanya penataran yang teratur diharapkan pengetahuan dan
keterampilan petugas daerah makin meningkat sehingga makin banyak kasus
yang dapat dikelola di daerahnya masing masing.
3. Masyarakat desa dapat menikmati tenaga ahli
2.1.10 Rujukan Maternal dan Neonatal
Rujukan maternal dan neonatal adalah sistem rujukan yang dikelola secara
strategis, proaktif, pragmatis dan koordinatif untuk menjamin pemerataan
pelayanan kesehatan maternal dan neonatal yang paripurna dan komprehensif bagi
masyarakat yang membutuhkannya terutama ibu dan bayi baru lahir, dimanapun
mereka berada dan berasal dari golongan ekonomi manapun, agar dapat dicapai
peningkatan derajat kesehatan ibu hamil dan bayi melalui peningkatan mutu dan
ketrerjangkauan pelayanan kesehatan internal dan neonatal di wilayah mereka
berada (Depkes, 2006).
Sistem rujukan pelayanan kegawatdaruratan maternal dan Neonatal
mengacu pada prinsip utama kecepatan dan ketepatan tindakan, efisien, efektif
dan sesuai dengan kemampuan dan kewenangan fasilitas pelayanan. Setiap kasus
dengan kegawatdaruratan obstetrik dan neonatal yang datang ke puskesmas

18

PONED harus langsung dikelola sesuai dengan prosedur tetap sesuai dengan buku
acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan neonatal.
Setelah dilakukan stabilisasi kondisi pasien, kemudian ditentukan apakah
pasien akan dikelola di tingkat puskesmas mampu PONED atau dilakukan rujukan
ke RS pelayanan obstetrik dan neonatal emergensi komprehensif (PONEK) untuk
mendapatkan

pelayanan

yang

lebih

baik

sesuai

dengan

tingkat

kegawatdaruratannya (Depkes RI, 2007) dengan alur sebagai berikut:


1. Masyarakat dapat langsung memanfaatkan semua fasilitas pelayanan
kegawatdaruratan obstetric dan neonatal.
2. Bidan desa dan polindes dapat memberikan pelayanan langsung terhadap ibu
hamil, ibu bersalin, ibu nifas baik yang dtang sendiri atau atas rujukan
kader/masyarakat. Selain menyelenggarakan pelayanan pertolongan persalinan
normal, bidan di desa dapat melakukan pengelolaan kasus dengan komplikasi
tertentu sesuai dengan tingkat kewenangan dan kemampuannya atau
melakukan rujukan pada puskesmas, puskesmas mampu PONED dan RS
PONEK sesuai dengan tingkat pelayanan yang sesuai.
3. Puskesmas non-PONED sekurang-kurangnya harus mampu melakukan
stabilisasi pasien dengan kegawatdaruratan obstetri dan neonatal yang datang
sendiri maupun yang dirujuk oleh kader/dukun/bidan di desa sebelum
melakukan rujukan ke puskesmas mampu PONED dan RS POINEK.
4. Puskesmas mampu PONED memiliki kemampuan untuk memberikan
pelayanan langsung kepada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru
lahir baik yang datang sendiri atau atas rujukan kader/masyarakat, bidan di

19

desa dan puskesmas. Puskesmas mampu PONED dapat melakukan


pengelolaan kasus dengan komplikasi tertentu sesuai dengan tingkat
kewenangan dan kemampuannya atau melakukan rujukan pada RS PONEK.
5. RS PONEK 24 jam memiliki kemampuan untuk memberikan pelayanan
PONEK langsung terhadap ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru
lahir baik yang datang sendiri atau atas rujukan kader/masyarakat, bidan di
desa dan puskesmas, puskesmas mampu PONED.
a. Pemerintah provinsi/kabupaten melalui kebijakan sesuai dengan tingkat
kewenangannya memberikan dukungan secara manajemen, administratif
maupun kebijakan anggaran terhadap kelancaran PPGDON (Pertolongan
Pertama Kegawatdaruratan Obstetri dan Neonatus)
6. Ketentuan tentang persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan dapat
dituangkan dalam bentuk peraturan daerah sehingga deteksi dini kelainan pada
persalinan dapat dilakukan lebih awal dalam upaya pencegahan komplikasi
kehamilan dan persalinan.
7. Pokja/ satgas GSI merupakan bentuk nyata kerjasama liuntas sektoral
ditingkat propinsi dan kabupaten untuk menyampaikan pesan peningkatan
kewaspadaan masyarakat terhadap komplikasi kehamilan dan persalinan serta
kegawatdaruratan

yang

mungkin

timbul

olkeh

karenanya.

Dengan

penyampaian pesan melalui berbagai instansi/institusi lintas sektoral, maka


dapat diharapkan adanya dukungan nyata massyarakat terhadap sistem rujukan
PONEK 24 jam.

20

8. RS swasta, rumah bersalin, dan dokter/bidam praktek swasta dalam sistem


rujukan PONEK 24 jam, puskesmas mampu PONED dan bidan dalam jajaran
pelayanan rujukan. Institusi ini diharapkan dapat dikoordinasikan dalam
kegiatan pelayanan rujukan PONEK 24 jam sebagai kelengkapan pembinaan
pra RS.
2.1.11 Persiapan Rujukan
Kaji ulang rencana rujukan bersama ibu dan keluarganya. Jika terjadi
penyulit, seperti keterlambatan untuk merujuk ke fasilitas kesehatan yang sesuai,
dapat membahayakan jiwa ibu dan atau bayinya. Jika perlu dirujuk, siapkan dan
sertakan dokumentasi tertulis semua asuhan dan perawatan hasil penilaian
(termasuk partograf) yang telah dilakukan untuk dibawa ke fasilitas rujukan
(Syafrudin, 2009).
Jika ibu datang untuk mendapatkan asuhan persalinan dan kelahiran bayi
dan ia tidak siap dengan rencana rujukan, lakukan konseling terhadap ibu dan
keluarganya tentang rencana tersebut. Bantu mereka membuat rencana rujukan
pada saat awal persalinan (Syafrudin, 2009).
Kesiapan untuk merujuk ibu dan bayinya ke fasilitas kesehatan rujukan
secara optimal dan tepat waktu menjadi syarat bagi keberhasilan upaya
penyelamatan. Setiap penolong persalinan harus mengetahui lokasi fasilitas
rujukan yang mampu untuk penatalaksanaan kasus gawatdarurat Obstetri dan bayi
baru lahir dan informasi tentang pelayanan yang tersedia di tempat rujukan,
ketersediaan pelayanan purna waktu, biaya pelayanan dan waktu serta jarak
tempuh ke tempat rujukan. Persiapan dan informasi dalam rencana rujukan

21

meliputi siapa yang menemani ibu dan bayi baru lahir, tempat rujukan yang
sesuai, sarana tranfortasi yang harus tersedia, orang yang ditunjuk menjadi donor
darah dan uang untuk asuhan medik, tranfortasi, obat dan bahan. Singkatan
BAKSOKUDO (Bidan, Alat, Keluarga, Surat, Obat, Kendaraan, Uang, Dokumen)
dapat di gunakan untuk mengingat hal penting dalam mempersiapkan rujukan
(Dinkes, 2009).
2.1.12 Tahapan Rujukan Maternal dan Neonatal
1. Menentukan kegawatdaruratan penderita
a. Pada tingkat kader atau dukun bayi terlatih ditemukan penderita yang tidak
dapat ditangani sendiri oleh keluarga atau kader/dukun bayi, maka segera
dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang terdekat, oleh karena itu
mereka belum tentu dapat menerapkan ke tingkat kegawatdaruratan.
b. Pada tingkat bidan desa, puskesmas pembantu dan puskesmas. Tenaga
kesehatan yang ada pada fasilitas pelayanan kesehatan tersebut harus dapat
menentukan tingkat kegawatdaruratan kasus yang ditemui, sesuai dengan
wewenang dan tanggung jawabnya, mereka harus menentukan kasus mana
yang boleh ditangani sendiri dan kasus mana yang harus dirujuk.
2. Menentukan tempat rujukan
Prinsip dalam menentukan tempat rujukan adalah fasilitas pelayanan yang
mempunyai kewenangan dan terdekat termasuk fasilitas pelayanan swasta
dengan tidak mengabaikan kesediaan dan kemampuan penderita.
3. Memberikan informasi kepada penderita dan keluarga

22

Kaji ulang rencana rujukan bersama ibu dan keluarga. Jika perlu dirujuk,
siapkan dan sertakan dokumentasi tertulis semua asuhan, perawatan dan hasil
penilaian (termasuk partograf) yang telah dilakukan untuk dibawa ke fasilitas
rujukan. Jika ibu tidak siap dengan rujukan, lakukan konseling terhadap ibu
dan keluarganya tentang rencana tersebut. Bantu mereka membuat rencana
rujukan pada saat awal persalinan.
4. Mengirimkan informasi pada tempat rujukan yang dituju
a. Memberitahukan bahwa akan ada penderita yang dirujuk.
b.

Meminta petunjuk apa yang perlu dilakukan dalam rangka persiapan dan
selama dalam perjalanan ke tempat rujukan.

c. Meminta petunjuk dan cara penangan untuk menolong penderita bila


penderita tidak mungkin dikirim.
5. Persiapan penderita (BAKSOKUDO)
6. Pengiriman Penderita
7. Tindak lanjut penderita :
a. Untuk penderita yang telah dikembalikan (rawat jalan pasca penanganan)
b. Penderita yang memerlukan tindakan lanjut tapi tidak melapor harus ada
tenaga kesehatan yang melakukan kunjungan rumah
2.2

Program Kesehatan Ibu dan Anak

2.2.1

Pengertian Program KIA


Upaya kesehatan ibu dan anak adalah upaya di bidang kesehtan yang

menyangkut pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil, ibu bersalin, ibu menyusui,
bayi dan anak balita serta anak prasekolah. Pemberdayaan masyarakat bidang KIA

23

dalam upaya mengatasi situasi gawat darurat dari aspek non klinik terkait
kehamilan dan persalinan. Sistem kesiagaan merupakan sistem tolong-menolong,
yang dibentuk dari, oleh dan untuk masyarakat, dalam hal penggunaan alat
transportasi atau komuinikasi (telepon genggam, telepon rumah), pendanaan,
pendonor darah, pencatatan pemantauan dan informasi KB. Dalam pengertian ini
tercakup pula pendidikan kesehatan kepada masyarakat, pemuka masyarakat serta
menambah keterampilan para dukun bayi serta pembinaan kesehatan di taman
kanak-kanak.
2.2.2

Tujuan Program KIA


Tujuan program kesehatan ibu dan anak adalah tercapainya kemampuan

hidup sehat melalui peningkatan derajat kesehatan yang optimal, bagi ibu dan
keluarganya untuk menuju Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS)
serta meningkatnya derajat kesehatan anak untuk menjamin proses tumbuh
kembang optimal yang merupakan landasan bagi peningkatan kualitas manusia
seutuhnya.
Tujuan khusus dari program ini adalah:
1. Meningkatnya kemampuan ibu (pengetahuan, sikap dan perilaku), dalam
mengatasi kesehatan diri dan keluarganya dengan menggunakan teknologi
tepat guna dalam upaya pembinaan kesehatan keluarga dan masyarakat
sekitarnya.
2. Meningkatnya upaya pembinaan kesehatan balita dan anak prasekolah secara
mandiri di dalam linkgungan keluarga dan masyarakat.

24

3. Meningkatnya jangkauan pelayanan kesehatan bayi, anak balita, ibu hamil, ibu
bersalin, ibu nifas dan ibu meneteki.
4. Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas,
ibu meneteki, bayi dan anak balita.
5. Menningkatnya kemampuan dan peran serta masyarakat, keluarga dan seluruh
anggotanya untuk mengatasi masalah kesehatan ibu, balita, anak prasekolah,
tertama melalui peningkatan peran ibu dan keluarganya.
2.2.3

Pelayanan dan Indikator Program KIA

2.2.3.1 Pelayanan Program KIA


Adapun pelayanan Program KIA meliputi:
1. Pelayanan antenatal:
Adalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu selama masa
kehamilannya sesuai dengan standar pelayanan antenatal.
Standar minimal 5T untuk pelayanan antenatal terdiri dari:
a. Timbang berat badan dan ukur tinggi badan
b. Ukur tekanan darah
c. Pemberian imunisasi TT lengkap
d. Ukur tinggi fundus uteri
e. Pemberian tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan
Frekuensi pelayanan antenatal adalah minimal 4 kali selama kehamilan
dengan ketentuan waktu minimal 1 kali pada triwulan pertama, minimal 1 kali
pada triwulan kedua, dan minimal 2 kali pada triwulan ketiga.

25

2. Pertolongan Persalinan
Jenis tenaga yang memberikan pertolongan persalinan kepada masyarakat:
a. Tenaga professional: dokter spesialis kebidanan, dokter umum, bidan,
pembantu bidan dan perawat.
b. Dukun bayi:
Terlatih: ialah dukun bayi yang telah mendapatkan latihan tenaga
kesehatan yang dinyatakan lulus.
Tidak terlatih: ialah dukun bayi yang belum pernah dilatih oleh tenaga
kesehatan atau dukun bayi yang sedang dilatih dan belum dinyatakan
lulus.
c. Deteksi dini ibu hamil berisiko:
Faktor risiko pada ibu hamil diantaranya adalah:
1) Primigravida kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
2) Anak lebih dari empat
3) Jarak persalinan terakhir dan kehamilan sekarang kurang 2 tahun atau
lebih dari 10 tahun
4) Tinggi badan kurang dari 145 cm
5) Berat badan kurang dari 38 kg atau lingkar lengan atas kurang dari
23,5 cm
6) Riwayat keluarga menderita diabetes, hipertensi dan riwayat cacat
congenital
7) Kelainan bentuk tubuh, misalnya kelainan tulang belakang atau
panggul

26

Risiko tinggi kehamilan merupakan keadaan penyimpangan dan normal


yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi.
a. Risiko tinggi pada kehamilan meliputi:
1)

Hb kurang dari 8 gram %

2)

Tekanan darah tinggi yaitu sistole lebih dari 140 mmHg dan diastole lebih
dari 90 mmHg

3)

Oedema yang nyata

4)

Eklampsia

5)

Perdarahan Pervaginam

6)

Ketuban pecah dini

7)

Letak lintang pada usia kehamilan lebih dari 32 minggu

8)

Letak sungsang pada primigravida

9)

Infeksi berat dan sepsis

10) Persalinan premature


11) Kehamilan ganda
12) Janin yang besar
13) Penyakit kronis pada ibu antara lain jantung, paru, ginjal
14) Riwayat obstetri buruk, riwayat bedah sesar dan komplikasi kehamilan
b. Risiko tinggi pada nenonatal meliputi:
1)

BBLR atau berat lahir kurang dari 2500 gram

2)

Bayi dengan tetanus neonatorum

3)

Bayi baru lahir dengan asfiksia

4)

Bayi dengan ikterus neonatorum yaitu ikterus lebih dari 10 hari setelah lahir

27

5)

Bayi baru lahir dengan sepsis

6)

Bayi lahir dengan berat lebih dari 4000 gram

7)

Bayi pre term dan post term

8)

Bayi lahir dengan cacat bawaan sedang

9)

Bayi lahir dengan persalinan dengan tindakan

2.2.3.2 Indikator Pelayanan KIA


Terdapat 6 indikator kinerja penilaian standar pelayanan minimal atau
SPM untuk pelayanan kesehatan ibu dan bayi yang wajib dilaksanakan yaitu
cakupan kunjungan ibu hamil K4.
a. Pengertian:
Kunjungan ibu hamil K4 adalah ibu hamil yang kontak dengan petugas
kesehatan untuk mendapatkan pelayanan ANC sesuai dengan standar 14T
dengan frekuensi kunjungan minimal 4 kali selama hamil, dengan syarat
trimester 1 minimal 1 kali, trimester II minimal 1 kali dan trimester III
minimal 2 kali. Menurut badan litbangkes depkes RI (2004) Standar 14T yang
dimaksud adalah:
1.

Tanyakan dan menyapa ibu dengan ramah

2.

Tinggi badan diukur dan berat badan ditimbang

3.

Pemeriksaan atau pengukuran tekanan darah

4.

Temukan kelainan/ periksa daerah muka leher, jari dan tungkai (edema),
lingkar lengan atas dan panggul.

5.

Temu wicara konseling

28

6.

Tekan/ palpasi payudara (benjolan), perawatan payudara, tekan titik (accu


pressure) peningkatan ASI

7.

Tinggi fundus uteri diukur

8.

Tentukan posisi janin dan detak jantung janin

9.

Tentukan keadaan (palpasi) liver dan limpa

10. Tentukan kadar Hb


11. Tetanus Toxoid imunisasi
12. Terapi dan pencegahan anemia (tablet Fe)
13. Tingkatkan kesegaran jasamani dan senam hamil
14. Tingkatkan pengetahuan ibu hamil tentang gizi ibu hamil dan
pengetahuan tentang tanda bahaya dalam kehamilan dan persalinan.
b. Defenisi Operasional
c. Perbandingan antara jumlah ibu hamil yang telah memperoleh ANC sesuai
standar K4 di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu dengan penduduk
sasaran ibu hamil.
d. Cara Perhitungan
Pembilang: jumlah ibu hamil yang telah memperroleh pelayanan ANC sesuai
dengan standar K4 di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
e. Sumber data:
1. Jumlah ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan ANC sesuai dengan
standar K4
2. Perkiraan penduduk sasaran ibu hamil diperoleh dari Bada Pusat Statistik
atau BPS atau Propinsi

29

f. Kegunaan
1. Mengatur mutu pelayanan ibu hamil
2. Mengukur tingkat keberhasilan perlindungan ibu hamil melalui pelayanan
standard an paripurna. Jumlah ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan
ANC sesuai dengan standar K4 perkiraan penduduk
3. Mengukur kinerja petugas kesehatan dalam penyelenggaraan pelayanan
ibu hamil
2.3

Manual Rujukan KIA

2.3.1

Pengembangan Manual Rujukan KIA


Sistem rujukan yang dibangun harus dilengkapi dengan manual supaya

bisa dilaksanakan dengan lebih tertata dan jelas. Manual rujukan sebaiknya
disusun dan dikembangkan oleh kelompok kerja/ tim rujukan di sebuah
kabupaten/kota. Tujuan manual adalah untuk menjalankan sistem rujukan
pelayanan ibu dan anak dikaitkan dengan sumber pembiayaannya. Manual
rujukan tersusun dari kejadian yang dapat dialami oleh ibu dan bayi dalam proses
kehamilan dan persalinan, dan bagaimana proses tersebut didanai.
2.3.2

Tujuan

1. Menggambarkan alur kegiatan pelayanan ibu hamil, persalinan, nifas, dan


pelayanan bayi berdasarkan continuum of care lengkap dengan pedoman dan
SOP yang terkait dengan sumber pembiayaan.
2. Menjelaskan uraian tugas ( Job description ) lembaga-lembaga dan profesi
yang terlibat dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak.

30

3. Menjadi acuan kegiatan dilapangan untuk kelompok kerja rujukan dalam


perencanaan, perencanaan, dan monitoring hasil
2.3.3

Kebijakan dan Prinsip Dasar

2.3.3.1 Prinsip Umum


1. Prinsip utama adalah mengurangi kepanikan dan kegaduhan yang tidak perlu
dengan cara menyiapkan persalinan (rujukan terencana) bagi yang
membutuhkan (pre-emptive strategy). Sementara itu bagi persalinan
emergency harus ada alur yang jelas.
2. Bertumpu pada proses pelayanan KIA yang menggunakan continuum of care
dengan sumber dana.
3. Sarana pelayanan kesehatan dibagi menjadi 3 jenis: RS PONEK 24 jam,
Puskesmas PONED dan Sarana Pelayanan Kesehatan Lainnya seperti
Puskesmas, bidan praktek, Rumah Bersalin, Dokter Praktek Umum, dan lainlain
4. Harus ada RS PONEK 24 jam dengan hotline yang dapat dihubungi 24 jam.
5. Sebaiknya ada hotline di Dinas Kesehatan 24 jam dengan sistem jaga untuk
mendukung kegiatan persalinan di RS.
6. Memperhatikan secara maksimal ibu-ibu yang masuk dalam:
a. Kelompok A. Mengalami masalah dalam kehamilan saat di ANC dan
di prediksi akan mempunyai masalah dalam persalinan yang perlu
dirujuk secara terencana;
b. Kelompok B. Ibu-ibu yang dalam ANC tidak bermasalah. Dalam
persalinan, ternyata ada yang bermasalah dalam persalinan sehingga

31

membutuhkan penanganan emergency. Di kelompok ini ada 3


golongan:
i. Kelompok B1. Ibu-ibu bersalin

yang membutuhkan rujukan

emergency ke RS PONEK 24 jam.


ii.

Kelompok B2. Ibu-ibu bersalin yang ada kesulitan namun tidak

perlu dirujuk ke RS PONEK 24 jam


iii.

Kelompok B3. Ibu-ibu yang mengalami persalinan normal.

7. Menekankan pada koordinasi antar lembaga seperti LKMD, PKK, dan pelaku
8. Memberikan petunjuk rinci dan jelas mengenai pembiayaan, khususnya untuk
mendanai ibu-ibu kelompok A dan kelompok B1 dan B2.

32

2.3.3.2 Alur Rujukan dari Hulu ke Hilir

Gambar 2.1 Alur rujukan KIA

33

1. Ibu Hamil dapat mendapatkan pelayanan ANC diberbagai Sarana Pelayanan


Kesehatan (Bidan, Puskesmas biasa, Puskesmas PONED, RB, RS biasa atau
RS PONEK)
2. Sarana Pelayanan Kesehatan mengidentifiksi jenis kehamilan dan perkiraan
jenis persalinan dari ibu-ibu yang mendapatkan pelayanan ANC dimasingmasing sarana.
3. Sarana Pelayanan Kesehatan mengelompokan jenis kehamilan dan jenis
persalinan menjadi 2 kelompok. Kelompok A: merupakan ibu-ibu yang
dideteksi mempunyai permasalahan dalam kehamilan dan diprediksi akan
mempunyai permasalahan dalam persalinan; Kelompok B: merupakan ibuibu yang dalam ANC tidak ditemukan permasalahan.
4. Sarana Pelayanan Kesehatan akan merujuk Ibu Hamil Kelompok A ke RS
PONEK (kecuali ibu hamil tersebut sudah ditangani di RS PONEK sejak
ANC)
5. Sarana Pelayanan Kesehatan akan menangani persalinan ibu Hamil
Kelompok B
6. Pada saat persalinan Sarana Pelayanan Kesehatan akan mengidentifikasi
kemungkinan terjadinya penyulit pada persalinan menggunakan proses dan
tehnik yang baik (misalnya penggunaan partogram)
7. Sarana pelayanan kesehatan mengelompokkan jenis persalinan menjadi 3
kelompok: Kelompok B1: Ibu-ibu yang mengalami permasalahan di dalam
persalinan dan harus dirujuk emergency (dirujuk dalam keadaan in-partu);
Kelompok B2: Ibu-ibu yang mengalami permasalahan di dalam persalinan

34

tapi tidak memerlukan rujukan; Kelompok B3: Ibu-ibu dengan persalinan


tidak bermasalah
8. Ibu Bersalin Kelompok B1 akan dirujuk ke RS PONEK (kecuali persalinan
memang sudah ditangani di RS PONEK
9. Ibu Besalin Kelompok B2 dapat ditangani di Puskesmas PONED
10. Ibu Bersalin Kelompok B3 dapat ditangani di seluruh jenis sarana pelayanan
kesehatan/persalinan (Puskesmas, RB, RS)
11. Bayi baru lahir yang dimaksud dalam manual ini adalah neonatus berusia
antara 0-28 hari.
12. Bayi baru lahir tanpa komplikasi dapat ditangani di seluruh jenis sarana
pelayanan kesehatan termasuk RS PONEK apabila sang ibu bersalin di RS
PONEK tersebut (karena masuk kelompok A dan B1)
13. Bayi baru lahir dengan komplikasi dapat lahir dari ibu dengan komplikasi
persalinan maupun dari ibu yang melahirkan normal, baik di Rumah Sakit
PONEK atau di sarana pelayanan kesehatan primer
14. Bayi baru lahir yang telah pulang pasca kelahiran dan kemudian kembali lagi
ke fasilitas kesehatan karena menderita sakit juga termasuk dalam manual
rujukan ini.
15. Bayi baru lahir kontrol ke sarana pelayanan kesehatan sesuai dengan surat
kontrol yang diberikan oleh fasilitas kesehatan di tempat kelahiran
16. Pengelompokan tingkat kegawatan bayi baru lahir dilakukan berdasarkan
algoritme MTBS. Bayi baru lahir dengan sakit berat dirujuk ke Rumah Sakit
PONEK, bayi baru lahir dengan sakit sedang-berat dirujuk ke Puskesmas

35

PONED, sementara bayi baru lahir sakit ringan ditangani di sarana pelayanan
kesehatan primer atau di sarana pelayanan kesehatan tempat bayi kontrol
2.4

Puskesmas

2.4.1

Pengertian Puskesmas
Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disebut Puskesmas adalah

fasilitas

pelayanan

kesehatan

yang

menyelenggarakan

upaya

kesehatan

masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih


mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya. Upaya Kesehatan
Masyarakat yang selanjutnya disingkat UKM adalah setiap kegiatan untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menanggulangi
timbulnya masalah kesehatan dengan sasaran keluarga, kelompok, dan
masyarakat. (Depkes, 2014)
2.4.2

Tugas dan Fungsi Puskesmas


Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk

mencapai tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka


mendukung terwujudnya kecamatan sehat.
Dalam melaksanakan tugasnya Puskesmas menyelenggarakan fungsi:
1. Penyelenggaraan upaya kesehatan masyarakat (UKM) tingkat pertama di
wilayah kerjanya; dan
2. Penyelenggaraan uapaya kesehatan perorangan (UKP) tingkat pertama di
wilayah kerjanya.

36

2.4.3

Azas Puskesmas
Sebagai sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama, pengelolaan program

kerja Puskesmas berpedoman pada empat asas pokok yaitu:


1. Azas pertanggungjawaban wilayah, yaitu Puskesmas harus bertanggung
jawab atas pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya, artinya bila terjadi
masalah kesehatan di wilayah kerjanya, Puskesmas yang harus bertanggung
jawab untuk mengatasinya.
2. Azas peran serta masyarakat, maksudnya Puskesmas dalam melakukan
kegiatannya harus memandang masyarakat sebagai subjek pembangunan
keshatan dan berupaya melibatkan masyarakat dalam menyelenggarakan
program kerja Puskesmas.
3. Azas

keterpaduan,

yaitu

Puskesmas

dalam

melaksanakan

kegiatan

pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya harus melakukan kerjasama


dengan berbagai pihak, bermitra dan berkoordinasi dengan lintas sektor, lintas
program dan lintas unit agar terjadi perpaduan kegiatan di lapangan.
4. Azas rujukan, yaitu Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan
tingkat pertama yang bila tidak mampu mengatasi masalah karena berbagai
keterbatasan, bisa melakukan rujukan baik secara vertikal maupun horizontal
ke Puskesmas lainnya (Mubarak, 2009).

37

2.5

PONED ( Pelayanan Obstetri dan Emergensi Dasar)

2.5.1 Pengertian PONED


PONED (Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar) menurut
Kementerian Kesehatan RI (2013) merupakan pelayanan yang menanggulangi
kasus-kasus kegawatdaruratan obstetri dan neonatal yang meliputi segi:
1. Pelayanan Obstetri: pemberian oksitosin parenatal, antibiotika parenatal dan
sedative parenatal, pengeluaran plasenta manual/kuret serta pertolongan
persalinan menggunakan vakum ekstraksi/ forcep ekstraksi.
2. Pelayanan Neonatal: Resusitasi untuk bayi asfiksia, pemberian antibiotic
parenteral, pemberian bicnat intraumbilitical/Phenobarbital untuk mengatasi
ikterus, pemeriksaan thermal control untuk mencegah hipotermia dan
penanggulangan gangguan pemberian nutrisi.
2.5.2 Puskesmas PONED
Puskesmas PONED memiliki kemampuan untuk memberikan pelayanan
langsung terhadap ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, bayi baru lahir baik yang
datang sendiri atau atas rujukan kader/ masyarakat, bidan desa dan puskesmas.
Puskesmas mampu PONED adalah Puskesmas rawat inap yang mampu
menyelenggarakan pelayanan obstetri dan neonatal emergensi/komplikasi tingkat
dasar dalam 24 jam sehari dan 7 hari seminggu (Kementerian Kesehatan, 2013).
2.5.3

Kebijaksanaan PONED
Kebijaksanan pembentukan puskesmas PONED disebabkan karena

komplikasi obstetrik harus segera ditangani dalam waktu kurang dari 2 jam,
misalnya perdarahan yang harus ditangani kurang dari 2 jam, sehingga perlu

38

adanya

fasilitas

kesehatan

yang

mudah

dijangkau.

Menurut

pedoman

penyelenggaraan puskesmas mampu PONED (Kementerian Kesehatan RI, 2013)


disebutkan mengenai kebijaksanaan puskesmas mampu PONED yaitu:
1. Kriteria
a. Puskesmas dengan sarana pertolongan persalinan diutamakan puskesmas
dengan tempat perawatan/ puskesmas dengan ruang rawat inap.
b. Puskesmas sudah berfungsi untuk pertolongan persalinan
c. Mempunyai fungsi sebagai subcenter rujukan:
1) Melayani sekitar 50.000-100.000 penduduk yang tercakup oleh
puskesmas (termasuk penduduk di luar wilayah kerja puskesmas
mampu PONED).
2) Jarak tempuh dari lokasi pemukiman sasaran pelayanan dasar dan
puskesmas mampu PONED paling lama 1 jam dengan transportasi
umum setempat mengingat waktu pertolongan hanya 2 jam untuk
kasus perdarahan.
2. Jumlah dan jenis tenaga kesehatan yang perlu tersedia, sekurang-kurangnya
seorang dokter dan seorang bidan yang terlatih GDON dan seorang perawat
terlatih PPGDON. Tenaga tersebut bertempat tinggal disekitar lokasi
puskesmas mampu PONED.
3. Jumlah dan jenis sarana kesehatan yang perlu tersedia sekurang-kurangnya:
a. Alat dan obat pendukung
b. Ruangan tempat menolong persalinan
1) Luas minimal 3x3 m

39

2) Ventilasi dan penerangan yang memenuhi persyaratan


3) Sarana aseptik bisa dilaksanakan
4) Tempat tidur minimal 2 buah dan dapat dipergunakan untuk
melaksanakan tindakan.
4. Air bersih tersedia
5. Kamar mandi/ wc tersedia
6. Jenis pelayanan yang diberikan dikaitkan dengan kematian ibu yang utama
yaitu perdarahan, eklampsia, infeksi, partus lama, abortus dan sebab kematian
neonatal yang utama yaitu assfiksia, tetanus neonatorum dan hipotermi.
a. Penanggungjawab PONED
Penanggungjawab puskesmas PONED adalah seorang dokter
b. Dukungan pihak terkait
Pihak terkait dalam pengembangan PONED yaitu Dinas Kesehatan
kabupaten/kota, RS kabupaten/kota, organisasi profesi yaitu IDI,IBI,
POGI, IDAI dan lembaga swadaya masyarakat.
c. Distribusi PONED
Tiap kabupaten minimal ada 4 puskesmas mampu PONED dengan sebaran
yang merata. Jangkauan pelayanan kesehatan diutamakan gawat darurat
obstetric dan neonatal diseluruh wilayah kabupaten/kota.
d. Kerjasama PONED
Pada lokasi yang berbatasan dengan kabupaten/ kota perlu dilakukan
kerjasama antara kedua kabupaten/kota tersebut.

40

2.5.4

Pelaksanan PONED

1. Persiapan pelaksaan
Dalam tahap ini ditentukan biaya operasional PONED, lokasi pelayanan
emergensi di puskesmas, pengaturan petugas dalam memberikan pelayanan
gawat darurat obstetric dan neonatal, format-format rujukan, pencatatan dan
pelaporan.
2. Sosialisasi
Dalam sosialisasi yang perlu diketahui oleh masyarakat antara lain adalah
jenis pelayanan yang diberikan dan biaya pelayanan. Pemasaran sosial dapat
dilaksanakan antara lain oleh petugas kesehatan dan sektor terkait dari tingkat
kecamatan sampai desa antara lain dukun, kader, satgas GSI melalui bebagai
forum yang ada seperti rapat koordinasi tingkat kecamatan/ desa, lokakarya
mini , dan lain-lain.
3. Pelaksanaan rujukan
b. Masyarakat dapat langsung ke fasilitas pelayanan untuk mendapatkan
pelayanan PPGDON. Bidan di desa atau bidan praktek swasta memberikan
pelayanan langsung kepada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas baik yang
datang sendiri atau yang dirujuk oleh kader maupun dukun. Setelah
memberikan pertolongan persalinan bidan di desa dapat merujuk ke
puskesmas, puskesmas mampu PONED, RS mampu PONEK dengan
persiapan memadai.
c. Puskesmas yang belum mampu PONED, sekurang-kurangnya mampu
memberikan PPGDON terhadap ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas yang

41

datang secara langsung atau dirujuk oleh kader atau dukun dan bidan desa
serta mempersiapkan rujukan ke puskesmas mampu PONED dan RS
mampu PONEK.
d. Puskesmas yang mampu PONED dapat memberikan pelayanan kepada
ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas yang datang sendiri atau dirujuk oleh
kader atau dukun, bidan desa dan puskesmas. Komplikasi yang tidak bisa
ditangani di puskesmas mampu PONED dirujuk ke RS mampu PONEK.
e. RS PONEK memberikan pelayanan kepada ibu hamil, ibu bersalin, ibu
nifas yang datang sendiri atau yang dirujuk oleh kader atau dukun,
puskesmas, puskesmas mampu PONED. Bila memungkinkan RS PONEK
diberitahu tentang kedatangan kasus yang dirujuk.
Setiap kasus emergensi yang datang ke puskesmas mampu PONED harus
langsung ditangani setelah itu baru pengurusan administrasi (pendaftaran,
pembayaran, mengikuti alur pasien. Pelayanan gawat darurat Obstetri dan
Neonatal yang diberikan harus mengikuti prosedur tetap (protap). Adapun
mekanisme rujukan PONED dijelaskan Gambar 2.2

42

Rumah Sakit PONEK

Puskesmas PONED

Puskesmas

Bidan di Desa

Ibu hamil/ Ibu


bersalin/Bayi baru
lahir
Masyarakat
Kader/ Dukun

Keterangan:
Rujukan
Umpan Balik Rujukan
Gambar 2.2 Mekanisme Alur Rujukan Puskesmas Mampu PONED

43

2.6

Rumah Sakit PONEK

2.6.1

Pengertian
Sesuai SK Menkes RI, No: 1051/Menkes/SK/XI/2008 tentang: Pedoman

Penyelenggaraan Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Komprehensif


(PONEK) 24 jam di RS, disebutkan bahwa yang dimaksud RS PONEK 24 jam
adalah rumah sakit yang menyelenggarakan pelayanan kedaruratan maternal dan
neonatal secara komprehensif dan terintegrasi 24 jam.
Rumah Sakit PONEK umumnya adalah Rumah Sakit Umum Kabupaten/
Kota yang telah mempunyai dokter spesialis kandungan (Dokter SpOG) dan
dokter spesialis anak (Dokter Sp.A).Lingkup pelayanan kesehatan ibu dan bayi
baru lahir yang dilakukan di Rumah Sakit PONEK adalah meliputi semua
pelayanan Obstetri Neonatal Komprehensif, termasuk pemberian transfusi darah,
bedah sesar dan perawatan neonatal intensif.
2.6.2 Kriteria Rumah Sakit PONEK
1. Ada dokter jaga yang terlatih di UGD untuk mengatasi kasus emergensi dasar
baik secara umum maupun Emergency Neonatal.
2. Dokter atau bdan yang telah mengikuti pelatihan tim PONEK di rumah sakit
meliputi resusitasi neonatus, kegawatdaruratan Obstetrik Neonatal.
3. Mempunyai standar operating prosedur penerimaan dan penanganan pasien
dengan kegawat daruratan obstretrik Neonatal.
4. Kebijakan tidak ada uang muka bagi pasien kegawatdaruratan obstretri dan
Neonatal.
5. Mempunyai prosedur pendelegasian wewenang.

44

6. Mempunyai standar respon time di UGD selama 10 menit, di kamar bersalin


kurang dari 30 menit, pelayanan darah kurang dari 1 jam.
7. Tersedia kamar operasi siap siaga 24 jam untuk melakukan operasi,bila ada
kasus emergensi obstretrik dan umum.
8. Tersedia kamar bersalin yang mampu menyiapkan operasi kurang dari 30
menit.
9. Memiliki kru /awak yang siap melakukan operasi atau melaksanakan tugas
sewaktu waktu meskipun harus oncall.
10. Adanya dukungan semua pihak dalam tim pelayanan PONEK antara lain
dokter kebidanan, dokter anak,dokter/petugas anastesi, dokter penyakit dalam,
dokter spesialis lainnya serta dokter umum,bidan dan perawat
11. Tersedianya pelayanan darah yang siap 24 jam
12. Tersedianya pelayanan penunjang lain yang berperan dalam PONEK, seperti
laboratorium,dan radiologi selama 24 jam, recovery room 24 jam, obat dan
alat penunjang yang selalu siap dan tersedia.
13. Bahan harus tersedia dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan
dan berkualitas tinggi.
14. Sumber daya manusia adalah 1 Dokter spesialis kebidanan, 1 Dokter spesialis
anak, 1 Dokter umum di UGD, 3 orang bidan (koordinator dan 2 penyelia) dan
2 orang perawat. Tim PONEK idealnya ditambah 1 Dokter spesialis
anastesi/perawat anasthesi, 6 Bidan pelaksana, 10 Perawat jaga (tiap sift 2 -3
orang), 1 Petugas laboratorium, Pekarya kesehatan dan 1 Petugas adminitrasi.

45

2.7

Audit Maternal Neonatal


Menurut Kementerian Kesehatan RI Audit Maternal Perinatal (AMP)

adalah proses penelaahan bersama kasus kesakitan dan kematian ibu dan perinatal
serta

penatalaksanaanya,

dengan

menggunakan

berbagai

informasi

dan

pengalaman dari kelompok terkait, untuk mendapatkan masukan mengenai


intervensi yang paling tepat dilakukan dalam upaya peningkatan kualitas
pelayanan KIA di suatu RS atau wilayah.
AMP merupakan suatu kegiatan untuk menelusuri sebab kesakitan dan
kematian ibu dan perinatal dengan maksud mencegah kesakitan dan kematian
dimasa yang akan datang, penelusuran ini memungkinkan tenaga kesehatan
menentukan hubungan antara faktor penyebab yang dapat dicegah dan kesakitan/
kematian yang terjadi.
Kegiatan ini membantu tenaga kesehatan untuk menentukan pengaruh
keadaan dan kejadian yang mendahului kesakitan/ kematian.
Dari kegiatan ini dapat ditentukan:
1. Sebab dan faktor terkait dalam kesakitan/ kematian ibu dan perinatal
2. Dimana dan mengapa berbagai sistem dan program gagal dalam mencegah
kematian.
3. Jenis intervensi dan pembinaan yang diperlukan
AMP juga dapat berfungsi sebagai alat pemantauan dan evaluasi sistem rujukan.
Agar fungsi ini dapat berjalan baik maka dibutuhkan:
1. Pengisian rekam medis yang lengkap dan benar di semua tingkat pelayanan
kesehatan

46

2. Pelacakan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan puskesmas dengan cara


otopsi verbal, yaitu wawancara kepada keluarga atau orang lain yang
mengetahui riwayat penyakit atau gejala serta tindakan yang diperoleh
sebelum penderita menninggal, sehingga dapat diketahui perkiraan sebab
kematian.
2.8

Program EMAS (Expanding Maternal and Neonatal Survival)

2.8.1

Pengertian
EMAS adalah sebuah program kerjasama antara USAID dengan perjanjian

no. AID-497-A-11-00014 dengan Kementerian Kesehatan Indonesia dalam upaya


menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir. Program ini diluncurkan di
Jakarta pada tanggal 26 Januari 2012 dan dicanangkan akan berjalan selama lima
tahun mulai tahun 2012 sampai 2016.
Program EMAS mendukung pemerintah pusat, propinsi dan kabupaten
untuk berjejaring dengan organisasi masyarakat sipil, fasilitas kesehatan public
dan swasta, asosiasi rumah sakit, organnisasi profesi dan sektor-sektor lain.
2.8.2

Tujuan EMAS
Program EMAS diluncurkan untuk mendukung Pemerintah Republik

Indonesia dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir sebesar
25%. Adapun tujuan EMAS adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan kualitas pelayanan PONED dan PONEK
Hal ini diwujudkan dengan cara:
a. Memastikan intervensi medis prioritas yang mempunyai dampak besar
pada penurunan kematian diterapkan di RS dan Puskesmas.

47

Hal ini dapat dilakukan melalui kegiatan:


i. Adaptasi standar kinerja pelayanan kegawatdaruratan obstetri neonatal
ii. Kompetensi tenaga kesehatan dalam pelayanan kegawatdaruratan
obstetri neonatal
iii. Pemanfaatan teknologi informasi komunikasi untuk pembelajaran dan
pencapaian kinerja
iv. Melengkapi perlengkapan esensial
v. Penyebarluasan bukti ilmiah dalam jaringan vanguard
b. Pendekatan tata kelola klinis (clinical governance) diterapkan di RS dan
Puskesmas.
Hal ini dapat dilakukan melalui kegiatan:
i. Peningkatan kinerja pelayanan kegawatdaruratan obstetri neonatal
sesuai standar klinis secara berkesinambungan
ii. Sistem monitoring evaluasi dan pelaporan berjalan efektif di fasilitas
pelayanan kesehatan
iii. Berjalannya mekanisme umpan balik bagi puskesmas/ RS
iv. Penyebarluasan praktek tata kelola klinis
2. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi sistem rujukan antar puskesmas dan RS
Hal ini dapat diwujudkan dengan cara:
a. Penguatan sistem rujukan berfungsi secara optimal
Hal ini dapat dilakukan melalui kegiatan:
i. Adaptasi dan implementasi standar kinerja sistem rujukan
ii. Koordinasi dan kolaborasi failitas public dan swasta meningkat

48

iii. Teknologi

informatika

dan

komunikasi

dimanfaatkan

untuk

pertukaran informasi dan peningkatan sistem rujukan


iv. Kinerja bidan koordinator meningkat
v. Audit Maternal Perinatal (AMP) berfungsi
b. Meningkatkan

peran

serta

masyarakat

dan

organisasi

sosial

kemasyarakatan dalam menjamin akuntabilitas dan kualitas tenaga


kesehatan, fasilitas pelayanan dan pemerintah daerah.
Hal ini dapat dilakukan melalui kegiatan:
i. Mekanisme umpan balik menggunakan media sosial
ii. Pendekatan hak-hak konsumen yang inovatif ( citizen gateway)
iii. Duta KIA khusus pelayanan emergensi berperan aktif dapat
mempengaruhi masyarakat dan pengambil kebijakan
c. Meminimalkan hambatan keuangan kelompok miskin dan rentan dalam
mengakses dan memanfaatkan pelayanan kesehatan.
Hal ini dapat dilakukan melalui kegiatan:
i. Masyarakat miskin dan rentan memahami haknya atas jaminan sosial
kesehatan
ii. Peran serta masyarakat meningkat
iii. Partisipasi pihak swasta meningkat
2.8.3

Fokus Kerja EMAS


Selama lima tahun EMAS menitikberatkan pada perbaikan yang luas

dalam pelayanan untuk mengurangi angka kematian ibu dan bayi dengan cara
melibatkan pemerintah di semua tingkatan serta penyedia layanan, pimpinan

49

fasilitas swasta, organisasi profesi, sektor swasta, organisasi masyarakat sipil dan
masyarakat. EMAS akan memiliki fokus pada beberapa area kunci, yaitu:
1. Mengatasi penyebab utama kematian ibu dan bayi baru lahir (perdarahan, preeklamsia/eklamsia, sepsis, asfiksia, prematuria/ berat badan lahir rendah)
2. Pemeliharaan praktik tata kelola klinik yang kuat di fasilitas kesehatan dan
sistem rujukan, dengan fokus pada peningkatan kualitas.
3. Membina hubungan yang kuat antara fasilitas publik dan swasta dan
peningkatan akuntabilitas, baik secara internal maupun kepada masyarakat,
untuk memberikan jaminan perawatan yang berkualitas.
4. Meningkatkan peran warga dan organisasi sipil (OMS) dalam pengawasan
fasilitas kesehatan publik dan swasta dan lembaga pemerintahan daerah dalam
penyediaan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak.
5. Memperbaiki mekanisme keuangan (jaminan sosial ) untuk meningkatkan
akses dan pemanfaatan layanan kesehatan ibu dan anak bagi masyarakat
miskin.
6. Mengembangkan dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi
yang efektif, efisien, dan inovatif untuk mendukung penyediaan layanan
kesehatan ibu dan bayi baru lahir, serta meningkatkan partisipasi aktif
masyarakat.
2.9

Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah suatu tindakan atau pelaksanaan dari sebuah rencana

yang sudah disusun secara matang dan terperinci, implementasi biasanya


dilakukan setelah perencanaan sudah dianggap siap. Secara sederhana

50

pelaksanaan bisa diartikan penerapan. Majone dan Wildavsky mengemukakan


pelaksanaan sebagai evaluasi. Browne dan Wildavsky mengemukakan bahwa
Pelaksanaan adalah perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan. Pengertianpengertian di atas memperlihatkan bahwa kata pelaksanaan bermuara pada
aktivitas, adanya aksi, tindakan, atau mekanisme suatu sistem. Ungkapan
mekanisme mengandung arti bahwa pelaksanaan bukan sekedar aktivitas, tetapi
suatu kegiatan yang terencana dan dilakukan secara sungguh-sungguh
berdasarkan norma tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan.
Pelaksanaan merupakan aktifitas atau usaha-usaha yang dilaksanakan
untuk melaksanakan semua rencana dan kebijaksanaan yang telah dirimuskan dan
ditetapkan dengan dilengkapi segala kebutuhan, alat-alat yang diperlukan, siapa
yang melaksanakan, dimana tempat pelaksanaannya mulai dan bagaimana cara
yang harus dilaksanakan, suatu proses rangkaian kegiatan tindak lanjut setelah
program atau kebijaksanaan ditetapkan yang terdiri atas pengambilan keputusan,
langkah yang strategis maupun operasional atau kebijaksanaan menjadi kenyataan
guna mencapai sasaran dari program yang ditetapkan semula.
Dari pengertian yang dikemukakan di atas dapatlah ditarik suatu
kesimpulan bahwa pada dasarnya pelaksanaan suatu program yang telah
ditetapkan oleh pemerintah harus sejalan dengan kondisi yang ada, baik itu di
lapangan maupun di luar lapangan. Yang mana dalam kegiatannya melibatkan
beberapa unsur disertai dengan usaha-usaha dan didukung oleh alat-alat penujang.
(Muninjaya, 2010)

51

2.10 Kerangka Pikir


Kerangka pikir penelitian ini dijelaskan pada gambar 2.3.
INPUT

PROSES

1. Tenaga Kesehatan
2. Sarana dan
prasarana
3. Pendanaan

1. Proses
pengambilan
keputusan
rujukan KIA
2. Proses
pelaksanaan
rujukan KIA

OUTPUT
Pelaksanaan
Rujukan
KIA

Gambar 2.3 Kerangka Pikir


Kerangka pikir penelitian ini menggambarkan tentang pelaksana rujukan
KIA di Puskesmas PONED yang dilakukan oleh pelaksana layanan KIA adalah
bidan desa, perawat dan dokter di Puskesmas serta pengambilan keputusan dan
menentukan tempat rujukan, sampai dengan proses pelaksaan rujukan. Dengan
pendekatan sistem yang menjadi variabel penelitian:
1) Input
Input adalah Ketersediaan SDM atau tenaga kesehatan pelaksana layanan
KIA yang teridri dari Bidan Koordinator, Tenaga kesehatan terlatih
PONED, dan juga Bidan Desa. Ketersediaan . Ketersediaan sarana dan
prasarana di Puskesmas yaitu

peralatan kesehatan, obat dan sarana

transportasi. Serta ketersediaan dana dalam pelaksanaan rujukan.

52

2) Proses
Proses yang dilakukan adalah 2 tahap yaitu proses dalam pengambilan
keputusan yaitu proses komunikasi dan proses pelaksanaan rujukan yaitu
proses informasi dan proses transportasi. Proses rujukan dilakukan dari
bidan desa, puskesmas, sampai ke rumah sakit.
3) Output
Output adalah Pelaksanaan rujukan KIA yang sesuai dengan SOP.