Anda di halaman 1dari 46

Penjelasan DNA, RNA, Sintesis Protein dan Kode Genetika - Hampir semua

produk perdagangan disertai barcode (kode garis), untuk menyampaikan


informasi tentang harga, nama produk, hingga jumlah stok.

Manusia juga mempunyai barcode, pada manusia barcode itu berupa profil
DNA. Profil DNA dapat diperoleh melalui tes profil DNA. Tes ini dapat
digunakan untuk mengungkap suatu misteri misalnya peristiwa
pembunuhan. Jika di tempat kejadian perkara (TKP) ditemukan sel, seperti
sel darah, ahli forensik akan melakukan tes profil DNA. Hasil inilah yang akan
dicocokkan dengan tersangka. Jika barcode ini cocok dengan milik tersangka,
dia tidak bisa mengelak lagi.

Komponen terkecil penyusun makhluk hidup disebut sel. Setiap sel memiliki
nukleus yang mengandung kromosom. Setiap makhluk hidup memiliki
jumlah kromosom tertentu. Dalam kromosom ditemukan DNA yang berperan
penting dalam menentukan sifat genetik setiap individu. Sifat genetik itu
dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Oleh karena setiap individu
memiliki DNA yang khas, maka DNA dapat digunakan untuk identifikasi
makhluk hidup.

Substansi dasar nukleus terdiri atas nukleoprotein yang dibangun oleh


senyawa protein dan asam nukleat. Ada dua jenis asam nukleat yang
berkaitan dengan hereditas, yaitu DNA dan RNA. Keduanya bertanggung
jawab terhadap sintesis protein serta mengontrol sifat-sifat keturunan.

1. DNA (Deoxyribonucleic Acid = Asam Deoksiribo Nukleat)

DNA memiliki beberapa fungsi di antaranya membawa informasi genetik,


membentuk RNA, dan mengontrol aktivitas sel baik secara langsung maupun
tidak langsung. DNA juga berperan penting dalam proses sintesis protein.

Rumus Bangun Deoksiribosa dan Fosfat


Rumus Bangun Deoksiribosa dan Fosfat

a. Struktur DNA

Molekul DNA pertama kali diisolasi oleh F. Miescher pada tahun 1869 dari sel
spermatozoa. Ia tidak dapat mengenali sifat zat kimia tersebut secara pasti,

kemudian menyebutnya sebagai nuklein. Nuklein ini berupa senyawa


kompleks yang mengandung unsur fosfor sangat tinggi. Nuklein selanjutnya
dikenal sebagai gabungan asam nukleat dan protein sehingga sering disebut
nukleoprotein.

Dalam kedua jenis asam nukleat ini (DNA dan RNA) terdapat dua basa
nitrogen yaitu purin dan pirimidin. Keduanya ditemukan oleh Fischer pada
tahun 1880.

http://www.materisma.com/2014/10/penjelasan-dna-rna-sintesis-proteinkode-genetika.html
Rumus bangun purin

Pada penelitian selanjutnya, Kossel menemukan dua jenis pirimidin, yaitu


sitosin dan timin serta dua jenis purin, yaitu adenin dan guanin. Selain basa
purin dan pirimidin, dalam asam nukleat Levine (1910) mengenali gula
berkarbon lima, yaitu ribosa dan deoksiribosa. Ia juga menyatakan adanya
asam fosfat dalam asam nukleat.

W.T. Atsbury merupakan orang pertama yang mengemukakan gagasan


tentang struktur tiga dimensi DNA. Ia menyimpulkan bahwa DNA sangat
padat, polinukleotida penyusunnya berupa timbunan nukleosida pipih yang
teratur tegak lurus terhadap sumbu memanjang. Apakah nukleotida dan
nukleosida itu? Uraian berikut akan membahas kedua hal tersebut.

Rumus bangun pirimidin


Rumus bangun pirimidin

James Watson dan Francis Crick (1953) mengemukakan suatu model struktur
DNA yaitu double helix (tangga berpilin). Menurut mereka, DNA memiliki
struktur sebagai berikut.

1) Gula dan fosfat sebagai rantai atau tangga utama.

2) Basa nitrogen sebagai anak tangga dengan pasangan tetap, yaitu:

a) guanin dengan sitosin (dihubungkan oleh tiga atom H),

b) timin dan adenin (dihubungkan oleh dua atom H).

Berdasarkan hasil penelitian Watson dan Crick dapat disimpulkan bahwa DNA
terdiri atas gula pentosa (deoksiribosa), fosfat (PO4), dan basa nitrogen
yaitu purin meliputi guanin (G) dan adenin (A) serta pirimidin yang meliputi
timin (T) dan sitosin (C = Cytosin).

Struktur DNA
Struktur DNA

Rangkaian kimia antara deoksiribosa dengan purin dan pirimidin disebut


nukleosida (deoksiribonukleosida). Nukleosida tersebut akan berikatan
dengan fosfat membentuk nukleotida (deoksiribonukleotida). Gabungan dari
nukleotidanukleotida akan membentuk suatu DNA. Jadi, molekul DNA
merupakan polimer panjang dari nukleotida yang dinamakan polinukleotida.
Perhatikan Gambar di samping.

DNA dapat menentukan sifat genetik suatu individu karena setiap makhluk
hidup mempunyai urutan pasangan basa yang spesifik dan berbeda dengan
yang lain. Perbedaan urutan pasangan basa antarindividu dapat dilihat pada
saat sequence (proses pengurutan basa) dalam analisis DNA. DNA dapat
berfungsi sebagai heterokatalitik (mensintesis molekul lain seperti RNA) dan

otokatalitik (replikasi diri). Berikut ini Anda akan mempelajari fungsi DNA
sebagai otokatalitik.

b. Replikasi DNA

Replikasi DNA akan menghasilkan DNA baru. Ada tiga hipotesis yang
menjelaskan terjadinya replikasi DNA. Hipotesis pertama menyatakan bahwa
bentuk double helix DNA yang lama tetap dan langsung menghasilkan
double helix yang baru disebut konservatif.

Hipotesis kedua menyatakan double helix akan terputus-putus, selanjutnya


segmen-segmen tersebut akan membentuk segmen-segmen baru yang
bergabung dengan segmen lama membentuk DNA baru. Hipotesis ini disebut
dispersif. Hipotesis ketiga menyatakan dua pita spiral dari double helix
memisahkan diri dan setiap pita tunggal mencetak pita pasangannya disebut
semikonservatif.

Teori replikasi DNA oleh Watson dan Crick menyatakan bahwa proses
replikasi terjadi secara semikonservatif. Hipotesis ini mendapat dukungan

kuat dari M.S. Meselson dan F.W. Stahl. Mereka menggunakan bakteri
Escherichia coli sebagai organisme percobaan.

Replikasi DNA menurut Meselson dan Stahl


Replikasi DNA menurut Meselson dan Stahl

E. coli dapat hidup pada garam anorganik jika dalam garam tersebut
terdapat sumber atom nitrogen untuk pembuatan protein dan asam nukleat.
Meselson dan Stahl memakai ion amonium (NH4+) dalam penelitiannya.

Meskipun isotop nitrogen yang paling lazim 14N, tetapi mereka


menggunakan ion amonium yang mengandung isotop nitrogen yang lebih
berat, yaitu 15N. Perhatikan Gambar disamping.

Pertama-tama Meselson dan Stahl memelihara E. coli selama beberapa


generasi dalam media yang mengandung 15NH4+.

Pada akhir periode ini, mereka menemukan DNA sel lebih berat dari normal.
Selanjutnya, mereka memindahkan sel-sel itu ke media yang mengandung
ion amonium normal (14NH4+) dan membiarkan sel tersebut hanya sekali
membelah diri. DNA pada generasi baru ini memiliki berat di antara berat
DNA normal dari DNA generasi sebelumnya. Hal ini menggambarkan bahwa
pengaruh dari atom nitrogen dalam DNA baru yaitu 14N dan separuh 15N.

Namun, apabila bakteri itu dibiarkan membelah diri lagi dalam ion amonium
normal (14NH4+) maka terbentuklah dua jenis DNA dengan berat yang
berbeda. Separuh dari DNA mempunyai berat normal dan separuh DNA
lainnya mempunyai berat di tengah-tengah. Hal tersebut membuktikan
bahwa molekul DNA tidak mengalami pemecahan dan penyusunan kembali
di antara pembelahan sel-sel, tetapi tiap pita induk tidak mengalami
perubahan saat ia membentuk pita komplementer. Berdasarkan uraian di
atas maka hipotesis yang paling tepat yaitu hipotesis semikonservatif.

Selain memerlukan deoksiribonukleotida, dalam proses replikasi DNA juga


memerlukan beberapa enzim berikut.

1) Helikase, enzim ini berfungsi menghidrolisis rantai ganda polinukleotida


menjadi dua rantai tunggal polinukleotida.

2) Polimerase, berfungsi merangkai rantai-rantai mononukleotida


membentuk DNA baru.

3) Ligase, berfungsi menyambung nukleotida ulir tunggal DNA yang baru


terbentuk.

Fungsi DNA sebagai heterokatalitik yaitu mensintesis molekul lain seperti


RNA. RNA merupakan hasil transkripsi DNA. Sel prokariotik dan eukariotik
mengandung asam inti yang disebut asam ribonukleat (RNA).

2. RNA (Ribonucleic Acid = Asam Ribonukleat)

http://www.materisma.com/2014/10/penjelasan-dna-rna-sintesis-proteinkode-genetika.html
Struktur RNA

RNA tersusun seperti DNA, yaitu molekul-molekul gula D-ribosa, gugus fosfat,
tetapi basa nitrogennya terdiri atas basa purin (meliputi adenin (A) dan
guanin (G)) serta pirimidin (meliputi urasil (U) dan sitosin (C)). Perhatikan
disamping

a. Struktur RNA

Berbeda dengan DNA yang memiliki rantai ganda, RNA hanya memiliki rantai
tunggal. Setiap pita RNA merupakan polinukleotida dari RNA.

b. Tipe-Tipe RNA

Berbeda halnya dengan DNA yang terletak dalam nukleus, RNA banyak
terdapat dalam sitoplasma terutama ribosom walaupun ada pula beberapa di
antaranya dalam nukleus. Dalam sitoplasma, kadar RNA berubah-ubah. Hal
ini dipengaruhi oleh aktivitas sintetis protein.

Ketika suatu protein akan disintetis, kandungan RNA dalam sel meningkat
begitu pula sebaliknya. RNA memiliki komponen gula berupa D-ribosa
(pentosa). RNA juga memiliki basa nitrogen yang serupa dengan DNA, hanya
saja basa timin pada pirimidin diganti dengan urasil.

RNA mempunyai tiga tipe berikut.

1) rRNA (ribosom RNA)

rRNA yaitu RNA yang terdapat dalam sitoplasma tepatnya di ribosom dan
berfungsi mengatur dalam proses sintesis protein. rRNA dapat mencapai
80% dari jumlah RNA sel. Molekul rRNA berupa pita tunggal tidak bercabang
dan fleksibel.

2) mRNA (messenger RNA)

mRNA dibentuk dalam nukleus, merupakan RNA terbesar dan terpanjang.


mRNA berfungsi membawa kode genetik dari DNA ke ribosom. mRNA sering
disebut kodon karena urutan basa N penyusunnya merupakan kode genetik
untuk sintesis protein. mRNA dicetak oleh DNA dalam inti, kemudian dikirim
ke ribosom. Sintesis mRNA dicetak oleh DNA saat diperlukan saja dan tidak
terus-menerus dicetak melainkan tergantung pada macam protein yang akan
disintesis dalam sitoplasma.

3) tRNA (transfer RNA)

tRNA merupakan RNA yang terdapat dalam sitoplasma dengan rantai


terpendek yang bertugas menerjemahkan kodon dari mRNA. rRNA berfungsi
mengangkut asam amino ke tempat sintesis protein, yaitu ribosom melalui
penerjemahan kode-kode yang dibawa mRNA. DNA dan RNA memiliki
komponen yang hampir sama tetapi keduanya memiliki perbedaan struktur,
fungsi, dan beberapa materi penyusun. Perhatikan tabel berikut.

Tabel Perbandingan Struktur, Fungsi, dan Materi Penyusun DNA dan RNA

DNA

RNA

1. Ditemukan dalam nukleus yaitu dalam kromosom, mitokondria, dan


kloroplas.

1. Ditemukan dalam sitoplasma, terutama dalam ribosom, dan juga dalam


nukleus.

2. Berupa rantai panjang dan ganda (double helix).

2. Berupa rantai pendek dan tunggal.

3. Fungsinya berhubungan erat dengan penurunan sifat dan sintesis protein.

3. Fungsinya berhubungan erat dengan sintesis protein.

4. Kadarnya tidak dipengaruhi oleh aktivitas sintesis protein.

4. Kadarnya dipengaruhi oleh aktivitas sintesis protein

5. Basa nitrogen terdiri atas purin: adenin (A) dan guanine (G), pirimidin:
timin (T) dan sitosin (C).

5. Basa nitrogen terdiri atas purin: adenin (A) dan guanin (G), pirimidin: urasil
(U) dan sitosin (C).

6. Komponen gulanya deoksiribosa, yaitu ribose yang kehilangan satu atom


oksigen pada atom C nomor 2.

6. Komponen gulanya D-ribosa (pentosa).

3. Sintesis Protein

Pada uraian mengeni DNA telah disebutkan bahwa DNA berfungsi sebagai
heterokatalis (mensintesis molekul lain). Uraian berikut merupakan salah
satu contoh fungsi DNA tersebut. DNA yang terletak di dalam nukleus
merupakan suatu cetakan kode genetik yang menghasilkan informasi
genetik. Kode genetik disusun oleh urutan basa nitrogen (A, T, G, dan C).
Dalam sintesis protein, kode-kode genetik dalam DNA disalin menjadi mRNA.
Proses ini disebut transkripsi.

Proses ini diawali dengan melekatnya RNA polimerase pada molekul DNA
sehingga sebagian rantai double helix DNA membuka. Akibatnya, salah satu
rantai DNA yang membuka tersebut mencetak RNA. Rantai DNA yang
mengandung kode-kode genetik (kodon) dan dapat mencetak mRNA disebut
rantai sense. Rantai DNA yang tidak mencetak mRNA disebut rantai
antisense. Misalnya urutan basa N pada rantai DNA terdiri atas TAC, GCT,

CGA, dan CTA maka urutan basa N pada rantai mRNA yaitu AUG, CGA, GCU,
dan GAU. Perhatikan susunan DNA dan RNA berikut.

susunan DNA dan RNA


susunan DNA dan RNA

Setelah disalin, mRNA keluar dari nukleus menuju sitoplasma. mRNA tidak
dapat mengenali suatu asam amino secara langsung. Oleh karena itu,
diperlukan tRNA untuk dapat membaca kode-kode yang dibawa mRNA. Di
dalam sitoplasma banyak terdapat tRNA, asam amino dan enzim amino asil
sintetase. Asam amino tersebut diaktifkan menggunakan ATP (Adenosin
Trifosfat) dan enzim amino asil sintetase sehingga dihasilkan Amino asil
Adenosin monofasfat (AA-AMP) dan fosfat organik.

Selanjutnya Aminoasil Adenosin monofosfat diikat oleh t-RNA dan dibawa ke


ribosom. Setiap tRNA memiliki tiga basa N dan asam amino, tiga basa N
tRNA akan berpasangan dengan tiga basa N mRNA yang sesuai. mRNA
merupakan susunan kodon yang panjang. Setiap tRNA akan menerjemahkan
tiga basa.

Setelah tRNA pertama melepaskan diri, datang tRNA selanjutnya, begitu


terus-menerus sampai kodon pada mRNA habis. Asam amino yang terbentuk
selama penerjemahan oleh tRNA akan membentuk suatu ikatan. Bagian basa
N pada tRNA yang menerjemahkan kode yang dibawa mRNA disebut
antikodon.

Sementara itu, tiga bagian basa N pada mRNA tersebut di atas yang memiliki
kode untuk menspesifikasikan asam amino disebut kodon. Proses
penerjemahan kode yang dibawa mRNA oleh tRNA disebut translasi. Asam
amino-asam amino akan berjajar membentuk urutan sesuai dengan kode
yang dibawa mRNA sehingga terbentuklah protein. Protein tersebut
merupakan enzim yang berfungsi mengatur metabolisme sel.

4. Kode Genetik

Anda telah mengetahui bahwa dalam DNA terdapat empat basa nitrogen
meliputi adenin (A), timin (T), sitosin (C), dan guanin (G). Anda juga telah
mengetahui RNA mengandung 4 basa nitrogen tersebut, tetapi urasil (U)
menggantikan timin (T).

Nirenberg dan Matthaei (1960) mengadakan percobaan untuk memecahkan


masalah kode genetik dengan mencampurkan urasil dengan enzim
pembentuk RNA. Dari percampuran ini dihasilkan RNA yang hanya terdiri
atas urasil dan dinamakan poli-Urasil (poli-U). Apabila poli-U dimasukkan ke
dalam campuran berbagai asam amino, akan terbentuk rangkaian
fenilalanin, yaitu protein yang terdiri atas satu macam asam amino.

Hal ini merupakan cara manusia pertama kali mampu memecahkan peristiwa
kehidupan melalui tabung reaksi kimia. Sampai saat ini pun manusia terus
melakukan penelitian untuk mengetahui proses-proses yang terjadi dalam
sel makhluk hidup. Rumitnya susunan tubuh makhluk hidup menunjukkan
betapa pandainya sang Pencipta. Kita hendaknya bersyukur kepada Tuhan
karena diberi akal sehingga mampu mengungkap rahasia kehidupan.

Kode genetik yang dipakai saat ini yaitu kode yang tersusun oleh 3 basa N
yang disebut kodon triplet. Kodon triplet ini merupakan bagian 3 basa N yang
terdapat pada mRNA. Apabila suatu urutan tiga basa memberikan kode
untuk satu asam amino, akan terjadi 43= 64 kemungkinan kombinasi dari
basa sehingga dapat memperinci 64 macam kode genetika.

Asam amino yang dikenal sampai saat ini sebanyak 20 macam. Adanya 64
macam kodon dan 20 macam asam amino menyebabkan satu asam amino
dapat memiliki lebih dari satu kodon. Kodon yang sesuai untuk setiap asam
amino dapat dilihat dalam tabel berikut.

Tabel Kodon Beberapa Asam Amino

Basa Pertama

Basa Kedua

Basa Ketiga

UUU

UUC

UUA

UUG

Phe

Phe

Leu

Leu

UCU

UCC

UCA

UCG

Ser

Ser

Ser

Ser

UAU

UAC

UAA

UAG

Tyr

Tyr

Term

Term

UGU

UGC

UGA

UGG

Cys

Cys

Term

Tryp

CUU

CUC

CUA

CUG

Leu

Leu

Leu

Leu

CCU

CCC

CCA

CCG

Pro

Pro

Pro

Pro

CAU

CAC

CAA

CAG

His

His

GluN

GluN

CGU

CGC

CGA

CGG

Arg

Arg

Arg

Arg

AUU

AUC

AUA

AUG

Ileu

Ileu

Ileu

Met

ACU

ACC

ACA

ACG

Thr

Thr

Thr

Thr

AAU

AAC

AAA

AAG

AspN

AspN

Lys

Lys

AGU

AGC

AGA

AGG

Ser

Ser

Arg

Arg

GUU

GUC

GUA

GUG

Val

Val

Val

Val

GCU

GCC

GCA

GCG

Ala

Ala

Ala

Ala

GAU

GAC

GAA

GAG

Asp

Asp

Glu

Glu

GGU

GGC

GGA

GGG

Gly

Gly

Gly

Gly

Keterangan :

U = Urasil

G = Guanin

Ala = Alanin

Cys = Cystein

His = Histidin

Lys = Lysin

Pro = Prolin

Tryp = Tryptofan

C = Sitosin

Term = Kodon terminasi

Arg = Arginin

GluN = Glutamin

Ileu = Isoleusin

Met = Methionin kodon start

Ser = Serin

Tyr = Tyrosin

A = Adenin

AspN = Aspargin

Gly = Glycine

Leu = Leusin

Phe = Phenylalanin

Thr = Threonin

Val = Valin

Glu = Glutamat acid

Kode genetik berlaku universal, artinya kode yang sama berlaku untuk
semua organisme. Bila terjadi kesalahan penerjemahan, protein yang
disusun juga keliru sehingga enzim yang dihasilkan tidak sesuai. Hal ini akan
mengakibatkan terjadinya gangguan metabolisme. Kekeliruan tRNA
menafsirkan kode-kode genetik yang diterima dari DNA juga merupakan
salah satu mekanisme mutasi gen. www.materisma.com
Pengertian DNA & RNA

Asam nukleat adalah polinukleotida yang terdiri dari unit-unit


mononukleotida, jika unit-unit pembangunnya dioksinukleotida maka asam
nukleat itu disebut dioksiribonukleat(DNA) dan jika terdiri dari unit-unit
mononukleotida disebut asam ribonukleat(RNA).

DNA dan RNA mempunyai sejumlah sifat kimia dan fisika yang sama sebab
antara unit-unit mononukleotida terdapat ikatan yang sama yaitu melalui
jembatan fosfodiester antara posisi 3 suatu mononukleotida dan posisi 5
pada mononukleotida lainnya(Harpet, 1980).

Asam-asam nukleat seperti asam dioksiribosa nukleat (DNA) dan asam


ribonukleat (RNA) memberikan dasar kimia bagi pemindahan keterangan di
dalam semua sel. Asam nukleat merupakan molekul makro yang memberi
keterangan tiap asam nukleat mempunyai urutan nukleotida yang unik sama
seperti urutan asam amino yang unik dari suatu protein tertentu karena
asam nukleat merupakan rantai polimer yang tersusun dari satuan monomer
yang disebut nukleotida(Dage, 1992).

Dua tipe utama asam nukleat adalah asam dioksiribonukleat(DNA) dan asam
ribonukleat(RNA). DNA terutama ditemui dalam inti sel, asam ini merupakan
pengemban kode genetik dan dapat memproduksi atau mereplikasi dirinya
dengan tujuan membentuk sel-sel baru untuk memproduksi organisme itu
dalam sebagian besar organisme, DNA suatu sel mengerahkan sintesis
molekul RNA, satu tipe RNA, yaitu messenger RNA(mRNA), meninggalkan inti
sel dan mengarahkan tiosintesis dari berbagai tipe protein dalam organisme
itu sesuai dengan kode DNA-nya(fessenden, 1990).

Meskipun banyak memiliki persamaan dengan DNA, RNA memiliki perbedaan


dengan DNA, antara lain yaitu(Poedjiati, 1994):

1. Bagian pentosa RNA adalah ribosa, sedangkan bagian pentosa DNA adalah
dioksiribosa.

2. Bentuk molekul DNA adalah heliks ganda, bentuk molekul RNA berupa
rantai tunggal yang terlipat, sehingga menyerupai rantai ganda.

3. RNA mengandung basa adenin, guanin dan sitosin seperti DNA tetapi tidak
mengandung timin, sebagai gantinya RNA mengandung urasil.

4. Jumlah guanin dalam molekul RNA tidak perlu sama dengan sitosin,
demikian pula jumlah adenin, tidak perlu sama dengan urasil.

Selain itu perbedaan RNA dengan DNA yang lain adalah dalam hal(Suryo,
1992):

1. Ukuran dan bentuk

Pada umumnya molekul RNA lebih pendek dari molekul DNA. DNA berbentuk
double helix, sedangkan RNA berbentuk pita tunggal. Meskipun demikian
pada beberapa
virus tanaman, RNA merupakan pita double namun tidak
terpilih sebagai spiral.

2. Susunan kimia

Molekul RNA juga merupakan polimer nukleotida, perbedaannya dengan


DNA yaitu:

a. Gula yang menyusunnya bukan dioksiribosa, melainkan ribosa.

b. Basa pirimidin yang menyusunnya bukan timin seperti DNA, tetapi urasil.

3. Lokasi

DNA pada umumnya terdapat di kromosom, sedangkan RNA tergantung dari


macamnya, yaitu:

a. RNA d(RNA duta), terdapat dalam nukleus, RNA d dicetak oleh salah satu
pita DNA yang berlangsung didalam nukleus.

b. RNA p(RNA pemindah) atau RNA t(RNA transfer), terdapat di sitoplasma.

c. RNA r(RNA ribosom), terdapat didalam ribosom.

4. Fungsinya

DNA berfungsi memberikan informasi atau keterangan genetik, sedangkan


fungsi RNA tergantung dari macamnya, yaitu:

a. RNA d, menerima informasi genetik dari DNA, prosesnya dinamakan


transkripsi, berlangsung didalam inti sel.

b. RNA t, mengikat asam amino yang ada di sitoplasma.

c. RNA t, mensintesa protein dengan menggunakan bahan asam amino,


proses ini berlangsung di ribosom dan hasil akhir berupa polipeptida.

Ada beberapa cara untuk menentukan DNA dan RNA, yaitu(Frutan and Sofia,
1968):

1. Jaringan hewan dan alkali hangat

RNA akan terpecah menjadi komponen-komponen nukleotida yang larut


dalam asam. DNA sulit dipecah atau dirusak oleh alkali.

2. Metode Schnider

Jaringan dan asam trikloro asetat panas dan diperkirakan DNA dapat diuji
oleh reaksi kalorimetri dengan difenilanin, yang mana akan bereaksi dengan
purin dioksiribosa dan tidak bereaksi dengan purin ribosa.

3. Metode Feligen

Fuchsin sulfurous acid akan berwarna merah dengan DNA, dan tidak dengan
RNA. Reaksi ini diterapkan untuk mempelajari distribusi RNA dan DNA
didalam bagian-bagian sel.

4. Secara Spektroskopi

Pengaukuran absorbsi cahaya oleh RNA dan DNA pada 260nm dimana
spektra cincin purin dan pirimidin asam nukleat menunjukkan maksimal.

Tiga bentuk utama RNA yang terdapat didalam sel adalah mRNA(messenger
RNA), rRNA(ribosa RNA), dan tRNA(transfer RNA). Tiap bentuk RNA ini
mempunyai berat molekul dan komposisi yang berlainan, tetapi khas untuk
tiap macam bentuk RNA. Semua RNA terdiri dari rantai tunggal
poliribonukleotida. Pada sel bakteri, hampir semua RNA ada di dalam
sitoplasma. Disel hati kira-kira 11% terdapat dalam nukleus(terutama
mRNA), sekitar 15% dalam mitokondria, lebih dari 50% dalam ribosom, dan
kira-kira 24% dalam strosol

RNA (Asam Ribonukleat)

Struktur RNA

Struktur dasar RNA mirip dengan DNA. RNA merupakan polimer yang
tersusun dari sejumlah nukleotida. Setiap nukleotida memiliki satu gugus

fosfat, satu gugus gula ribosa, dan satu gugus basa nitrogen (basa N).
Polimer tersusun dari ikatan berselang-seling antara gugus fosfat dari satu
nukleotida dengan gugus gula ribosa dari nukleotida yang lain.

Perbedaan RNA dengan DNA terletak pada satu gugus hidroksil tambahan
pada cincin gula ribosa (sehingga dinamakan ribosa). Basa nitrogen pada
RNA sama dengan DNA, kecuali basa timin pada DNA diganti dengan urasil
pada RNA. Jadi tetap ada empat pilihan: adenin, guanin, sitosin, atau urasil
untuk suatu nukleotida.Selain itu, bentuk konformasi RNA tidak berupa pilin
ganda sebagaimana DNA, tetapi bervariasi sesuai dengan tipe dan
fungsinya.

Tipe-tipe RNA

RNA hadir di alam dalam berbagai macam/tipe. Sebagai bahan genetik, RNA
berwujud sepasang pita (Inggris double-stranded RNA, dsRNA). Genetika
molekular klasik mengajarkan adanya tiga tipe RNA yang terlibat dalam
proses sintesis protein:

1. RNA-kurir (bahasa Inggris: messenger-RNA, mRNA),

2. RNA-ribosom (bahasa Inggris: ribosomal-RNA, rRNA),

3. RNA-transfer (bahasa Inggris: transfer-RNA, tRNA).

Pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 diketahui bahwa RNA hadir
dalam berbagai macam bentuk dan terlibat dalam proses pascatranslasi.
Dalam pengaturan ekspresi genetik orang sekarang mengenal RNA-mikro

(miRNA) yang terlibat dalam peredaman gen atau gene silencing dan
small-interfering RNA (siRNA) yang terlibat dalam proses pertahanan
terhadap serangan virus.

Fungsi RNA

Pada sekelompok virus (misalnya bakteriofag), RNA merupakan bahan


genetik. Ia berfungsi sebagai penyimpan informasi genetik, sebagaimana
DNA pada organisme hidup lain. Ketika virus ini menyerang sel hidup, RNA
yang dibawanya masuk ke sitoplasma sel korban, yang kemudian ditranslasi
oleh sel inang untuk menghasilkan virus-virus baru.

Namun demikian, peran penting RNA terletak pada fungsinya sebagai


perantara antara DNA dan protein dalam proses ekspresi genetik karena ini
berlaku untuk semua organisme hidup. Dalam peran ini, RNA diproduksi
sebagai salinan kode urutan basa nitrogen DNA dalam proses transkripsi.
Kode urutan basa ini tersusun dalam bentuk triplet, tiga urutan basa N,
yang dikenal dengan nama kodon. Setiap kodon berelasi dengan satu asam
amino (atau kode untuk berhenti), monomer yang menyusun protein. Lihat
ekspresi genetik untuk keterangan lebih lanjut.

Penelitian mutakhir atas fungsi RNA menunjukkan bukti yang mendukung


atas teori dunia RNA, yang menyatakan bahwa pada awal proses evolusi,
RNA merupakan bahan genetik universal sebelum organisme hidup memakai
DNA.

Intereferensi RNA

Suatu gejala yang baru ditemukan pada penghujung abad ke-20 adalah
adanya mekanisme peredaman (silencing) dalam ekspresi genetik. Kode
genetik yang dibawa RNA tidak diterjemahkan (translasi) menjadi protein
oleh tRNA. Ini terjadi karena sebelum sempat ditranslasi, mRNA
dicerna/dihancurkan oleh suatu mekanisme yang disebut sebagai
interferensi RNA. Mekanisme ini melibatkan paling sedikit tiga substansi
(enzim dan protein lain). Gejala ini pertama kali ditemukan pada nematoda
Caenorhabditis elegans tetapi selanjutnya ditemukan pada hampir semua
kelompok organisme hidup.

DNA (Asam Deoksiribonukleat)

Asam deoksiribonukleat, lebih dikenal dengan DNA (bahasa Inggris:


deoxyribonucleic acid), adalah sejenis asam nukleat yang tergolong
biomolekul utama penyusun berat kering setiap organisme. Di dalam sel,
DNA umumnya terletak di dalam inti sel.

Secara garis besar, peran DNA di dalam sebuah sel adalah sebagai materi
genetik; artinya, DNA menyimpan cetak biru bagi segala aktivitas sel. Ini
berlaku umum bagi setiap organisme. Di antara perkecualian yang menonjol
adalah beberapa jenis virus (dan virus tidak termasuk organisme) seperti HIV
(Human Immunodeficiency Virus).

Karateristik Kimia

DNA merupakan polimer yang terdiri dari tiga komponen utama,

1. gugus fosfat

2. gula deoksiribosa

3. basa nitrogen, yang terdiri dari :

1. Adenina (A)

2. Guanina (G)

3. Sitosina (C)

4. Timina (T)

DNA as structure
DNA as structure

Sebuah unit monomer DNA yang terdiri dari ketiga komponen tersebut
dinamakan nukleotida, sehingga DNA tergolong sebagai polinukleotida.

Rantai DNA memiliki lebar 22-24 , sementara panjang satu unit nukleotida
3,3 [2]. Walaupun unit monomer ini sangatlah kecil, DNA dapat memiliki

jutaan nukleotida yang terangkai seperti rantai. Misalnya, kromosom


terbesar pada manusia terdiri atas 220 juta nukleotida[3].

Rangka utama untai DNA terdiri dari gugus fosfat dan gula yang berselangseling. Gula pada DNA adalah gula pentosa (berkarbon lima), yaitu 2deoksiribosa. Dua gugus gula terhubung dengan fosfat melalui ikatan
fosfodiester antara atom karbon ketiga pada cincin satu gula dan atom
karbon kelima pada gula lainnya. Salah satu perbedaan utama DNA dan RNA
adalah gula penyusunnya; gula RNA adalah ribosa.

DNA terdiri atas dua untai yang berpilin membentuk struktur heliks ganda.
Pada struktur heliks ganda, orientasi rantai nukleotida pada satu untai
berlawanan dengan orientasi nukleotida untai lainnya. Hal ini disebut
sebagai antiparalel. Masing-masing untai terdiri dari rangka utama, sebagai
struktur utama, dan basa nitrogen, yang berinteraksi dengan untai DNA
satunya pada heliks. Kedua untai pada heliks ganda DNA disatukan oleh
ikatan hidrogen antara basa-basa yang terdapat pada kedua untai tersebut.
Empat basa yang ditemukan pada DNA adalah adenin (dilambangkan A),
sitosin (C, dari cytosine), guanin (G), dan timin (T). Adenin berikatan
hidrogen dengan timin, sedangkan guanin berikatan dengan sitosin.

Pada replikasi DNA, rantai DNA baru dibentuk berdasarkan urutan nukleotida
pada DNA yang digandakan.

Replikasi

Replikasi merupakan proses pelipatgandaan DNA. Proses replikasi ini


diperlukan ketika sel akan membelah diri. Pada setiap sel, kecuali sel gamet,
pembelahan diri harus disertai dengan replikasi DNA supaya semua sel
turunan memiliki informasi genetik yang sama. Pada dasarnya, proses
replikasi memanfaatkan fakta bahwa DNA terdiri dari dua rantai dan rantai
yang satu merupakan konjugat dari rantai pasangannya. Dengan kata lain,
dengan mengetahui susunan satu rantai, maka susunan rantai pasangan
dapat dengan mudah dibentuk. Ada beberapa teori yang mencoba

menjelaskan bagaimana proses replikasi DNA ini terjadi. Salah satu teori
yang paling populer menyatakan bahwa pada masing-masing DNA baru yang
diperoleh pada akhir proses replikasi; satu rantai tunggal merupakan rantai
DNA dari rantai DNA sebelumnya, sedangkan rantai pasangannya
merupakan rantai yang baru disintesis. Rantai tunggal yang diperoleh dari
DNA sebelumnya tersebut bertindak sebagai cetakan untuk membuat
rantai pasangannya.

Proses replikasi memerlukan protein atau enzim pembantu; salah satu yang
terpenting dikenal dengan nama DNA polimerase, yang merupakan enzim
pembantu pembentukan rantai DNA baru yang merupakan suatu polimer.
Proses replikasi diawali dengan pembukaan untaian ganda DNA pada titiktitik tertentu di sepanjang rantai DNA. Proses pembukaan rantai DNA ini
dibantu oleh enzim helikase yang dapat mengenali titik-titik tersebut, dan
enzim girase yang mampu membuka pilinan rantai DNA. Setelah cukup
ruang terbentuk akibat pembukaan untaian ganda ini, DNA polimerase
masuk dan mengikat diri pada kedua rantai DNA yang sudah terbuka secara
lokal tersebut. Proses pembukaan rantai ganda tersebut berlangsung disertai
dengan pergeseran DNA polimerase mengikuti arah membukanya rantai
ganda. Monomer DNA ditambahkan di kedua sisi rantai yang membuka
setiap kali DNA polimerase bergeser. Hal ini berlanjut sampai seluruh rantai
telah benar-benar terpisah.

Proses replikasi DNA ini merupakan proses yang rumit namun teliti. Proses
sintesis rantai DNA baru memiliki suatu mekanisme yang mencegah
terjadinya kesalahan pemasukan monomer yang dapat berakibat fatal.
Karena mekanisme inilah kemungkinan terjadinya kesalahan sintesis amatlah
kecil.

Penggunaan DNA Dalam Tehnologi.

1. DNA dalam forensik

Ilmuwan forensik dapat menggunakan DNA yang terletak dalam darah,


semen, kulit, liur atau rambut yang tersisa di tempat kejadian kejahatan
untuk mengidentifikasi kemungkinan tersangka, sebuah proses yang disebut
fingerprinting genetika atau pemrofilan DNA (DNA profiling). Dalam
pemrofilan DNA panjang relatif dari bagian DNA yang berulang seperti short
tandem repeats dan minisatelit, dibandingkan. Pemrofilan DNA
dikembangkan pada 1984 oleh genetikawan Inggris Alec Jeffreys dari
Universitas Leicester, dan pertama kali digunakan untuk mendakwa Colin
Pitchfork pada 1988 dalam kasus pembunuhan Enderby di Leicestershire,
Inggris. Banyak yurisdiksi membutuhkan terdakwa dari kejahatan tertentu
untuk menyediakan sebuah contoh DNA untuk dimasukkan ke dalam
database komputer. Hal ini telah membantu investigator menyelesaikan
kasus lama di mana pelanggar tidak diketahui dan hanya contoh DNA yang
diperoleh dari tempat kejadian (terutama dalam kasus perkosaan antar
orang tak dikenal). Metode ini adalah salah satu teknik paling terpercaya
untuk mengidentifikasi seorang pelaku kejahatan, tetapi tidak selalu
sempurna, misalnya bila tidak ada DNA yang dapat diperoleh, atau bila
tempat kejadian terkontaminasi oleh DNA dari banyak orang.

2. DNA dalam Komputasi

DNA memainkan peran penting dalam ilmu komputer, baik sebagai masalah
riset dan sebagai sebuah cara komputasi.

Riset dalam algoritma pencarian string, yang menemukan kejadian dari


urutan huruf di dalam urutan huruf yang lebih besar, dimotivasi sebagian
oleh riset DNA, dimana algoritma ini digunakan untuk mencari urutan
tertentu dari nukleotida dalam sebuah urutan yang besar. Dalam aplikasi
lainnya seperti editor text, bahkan algoritma sederhana untuk masalah ini
biasanya mencukupi, tetapi urutan DNA menyebabkan algoritma-algoritma
ini untuk menunjukkan sifat kasus-mendekati-terburuk dikarenakan jumlah
kecil dari karakter yang berbeda.

Teori database juga telah dipengaruhi oleh riset DNA, yang memiliki masalah
khusus untuk menaruh dan memanipulasi urutan DNA. Database yang

dikhususkan untuk riset DNA disebut database genomik, dam harus


menangani sejumlah tantangan teknis yang unik yang dihubungkan dengan
operasi pembandingan kira-kira, pembandingan urutan, mencari pola yang
berulang, dan pencarian homologi.

3. Sejarah

NA pertama kali berhasil dimurnikan pada tahun 1868 oleh ilmuwan Swiss
Friedrich Miescher di Tubingen, Jerman, yang menamainya nuclein
berdasarkan lokasinya di dalam inti sel. Namun demikian, penelitian
terhadap peranan DNA di dalam sel baru dimulai pada awal abad 20,
bersamaan dengan ditemukannya postulat genetika Mendel. DNA dan
protein dianggap dua molekul yang paling memungkinkan sebagai pembawa
sifat genetis berdasarkan teori tersebut.

Dua eksperimen pada dekade 40-an membuktikan fungsi DNA sebagai


materi genetik. Dalam penelitian oleh Avery dan rekan-rekannya, ekstrak
dari sel bakteri yang satu gagal men-transform sel bakteri lainnya kecuali
jika DNA dalam ekstrak dibiarkan utuh. Eksperimen yang dilakukan Hershey
dan Chase membuktikan hal yang sama dengan menggunakan pencari jejak
radioaktif (radioactive tracers).

Misteri yang belum terpecahkan ketika itu adalah: bagaimanakah struktur


DNA sehingga ia mampu bertugas sebagai materi genetik? Persoalan ini
dijawab oleh Francis Crick dan koleganya James Watson berdasarkan hasil
difraksi sinar-x DNA oleh Maurice Wilkins dan Rosalind Franklin. Crick,
Watson, dan Wilkins mendapatkan hadiah Nobel Kedokteran pada 1962 atas
penemuan ini. Franklin, karena sudah wafat pada waktu itu, tidak dapat
dianugerahi hadiah ini.

Konfirmasi akhir mekanisme replikasi DNA dilakukan lewat percobaan


Meselson-Stahl yang dilakukan tahun 1958.