Anda di halaman 1dari 40

Eksaserbasi

Akut
PENGUJI :
dr. Farokah, Sp. THT-KL
Disusun oleh :
Rayno Praditya 22010113220177
Halida Citra Ayu 22010113220179
Wilson Nugraha A 22010113220180

IDENTITAS PASIEN
Nama
Jenis Kelamin
TTL
Agama
Suku
Alamat
Pekerjaan
Pendidikan
No. RM

:
:
:
:
:
:
:
:
:

Tn. A.K
Laki- laki
11- 08-1970
Islam
Jawa
Jl. Samratulangi jayapura
Swasta
SMA
c554771

DAFTAR MASALAH
Masalah Aktif
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Nyeri telan 9
Tenggorokan mengganjak 9
Saat tidur mendengkur 9
Batuk 9
Saat tidur terbangun karena sesak nafas
Riw. Sering sakit tenggorokan > 5x dalam
setahun 9
7. Mukosa orofaring hiperemis 9
8. Tonsil : T2-T2, hiperemis, permukaan tidak rata,
kripte melebar, granulasi 9
9. Tonsilifaringitis Kronik Eksaserbasi Akut

Masalah Pasif

(12 Oktober 2015, pk.


11.30 WIB)
Keluhan Utama :
Rasa mengganjal di tenggorokan

(12 Oktober 2015, pk.


11.30 WIB)
2 minggu SMRS, pasien mengeluh nyeri telan dan
tenggorokan mengganjal. Nyeri dirasakan hilang timbul. Pasien
merasa lebih nyaman setelah minum air hangat.nyeri dirasakan
mengganggu aktivitas pasien, Sulit telan (-), rasa berlendir di
tenggorok (-), suara serak (-), demam (-), batuk (+) dahak (-), pilek
(-), bindeng (-), tidur mendengkur (+), sering terbangun pada
malam hari (+) karena sesak, pasien merasa nyaman bila posisi
tidur miring ke satu sisi, Pasien juga mengeluh sering mengantuk
pada siang hari, mual (-), Muntah (-). Kemudian pasien berobat ke
poli THT RSDK.

AUTOANAMNESIS
(12 Oktober 2015, pk. 11.30 WIB)

RPD
Riw. Alergi (-)
Asma (-)
Riw. sering sakit
tenggorokan dalam
setahun lebih dari
5x
Pasien merokok >1
bungkus setiap hari
sampai saat ini.

RPK
Riw. Alergi (-)
Asma (-)
Riwayat penyakit
seperti ini (-)

RSE
Pasien seorang
Karyawan yang sudah
Berkeluarga.
Biaya pengobatan
dgn umum.
Kesan sosek: cukup

PEMERIKSAAN FISIK
(12 Oktober 2015, pk. 11.35 WIB)
Status Generalis

Kesadaran: CM
Aktivitas: normoaktif
Kooperativitas:baik
Status gizi: cukup

TV : TD : 130/90 mmHg
N : 80 x/menit
reguler, isi &
tegangan cukup
RR : 20 x/menit
t : Afebris

Kulit: turgor kulit cukup


Konjungtiva: anemis (-/-)
Jantung: Tidak dilakukan
Paru: Tidak dilakukan
Hati: Tidak dilakukan
Limpa: Tidak dilakukan
Limfe: pembesaran nnll -/Anggota Gerak: edema -/-/-

PEMERIKSAAN FISIK
(12 Oktober 2015, pk. 11.35 WIB)

(12
Telinga

Mastoid: Nyeri tekan (-/-),


Nyeri ketok (-/-)
Fistel (-/-)
Pre aurikula:Nyeri tekan tragus(-/-)
fistel (-)
Retro aurikula: Fistel (-)
Aurikula: Simetris, nyeri tarik (-/-)
CAE: Edema (-/-)
hiperemis(-/-)
Discharge (- /-)
Lain-lain: Serumen (+/+)
granulasi (-/-)

MEMBRANA TIMPANI

Warna Putih
mengkilat (+)
Refl. cahaya (
(+) arah jam
5/ (+) arah
jam 7
Perforasi (-)

PEMERIKSAAN FISIK
(12 Oktober 2015, pk. 11.35 WIB)
Hidung & Sinus Paranasal

Px Luar :
Hidung:
Simetris
deformitas (-)
benjolan (-)
Saddle nose
Sinus:
nyeri tekan (-/-)
nyeri ketok (-/-)

Rhinoskopi Anterior

Discharge: (-/-)
Mukosa: Hiperemis (-/-)
Konka: Hipertrofi (-/-)
edema (-/-)
Septum: Deviasi (-/-)
Epistaksis (-/-)
Diafanoskopi

Tidak dilakukan

PEMERIKSAAN FISIK
(12 oktober 2015, pk. 11.35 WIB)
Tenggorok (Orofaring)

Palatum:
Simetris
palatum
bombans (-)
Arkus faring:
simetris,uvula
di
tengah,reflex
muntah (+/+)
Mukosa:
hiperemis (+),
granulasi (-)

Tonsil Palatina

Ukuran

: T3/T3

Warna

: hiperemis (+/+)

Permukaan: tdk rata/tdk rata


Detritus

: (+)/(+)

Membran : (-)/(-)
Kripte

: melebar/melebar

Peritonsil : abses (-)

PEMERIKSAAN FISIK
(12 Oktober 2015, pk. 11.35 WIB)
4. Kepala dan Leher
Kepala
: mesosefal
Wajah
: simetris
Leher anterior:pembesaran KGB (-), benjolan (-)
Leher latera l: pembesaran KGB (-), benjolan (-)
5. Gigi dan Mulut
Gigi-geligi
: karies (-)
Lidah
: deviasi (-)
Palatum
: simetris, palatum bombans (-)
Pipi
: simetris, edema (-/-),
nyeri tekan (-/-), nyeri ketok (-/-)

FISIK
(12 Oktober 2015, pk. 11.35 WIB)
Tes pendengaran
Jenis Tes

Auris dextra

Auris sinistra

Tes bisik

6/6

6/6

Rinne

AC>BC

AC>BC

Shcwabah

Sama dengan pemeriksa

Sama dengan pemeriksa

Weber

Lateralisasi (-)

RINGKASAN
Seorang laki- laki 45 tahun datang dengan keluhan
odinofagia,batuk disertai dahak, tenggorokan terasa mengganjal,
tidur mendengkur(+), terbangung malam hari (+) karena sesak,
merasa nyaman bila tidur miring ke posisi 1 sisi, sering
mengantuk pada siang hari, sering mengalami keluhan seperti ini
5x dalam setahun.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan Mukosa orofaring : hiperemis
(+/+); Tonsila palatina : ukuran tonsil (T3/T3), hiperemis (+/+),
permukaan tidak rata (+/+), detritus (+/+)

DIAGNOSIS
SEMENTARA
Tonsilofaringitis Kronik Eksaserbasi Akut

DIAGNOSIS BANDING
1a.Tonsilofaringitis kronik
1b.Tumor Tonsil
2a. Sleep disorder breathing
2b. Obstructive sleep apneu

RENCANA
PENGELOLAAN
Pemeriksaan Diagnostik :
- Pemeriksaan darah rutin
- PPT/ PPTK
- Swab Tenggorok
Terapi :
Pro tonsilektomi

RENCANA
PENGELOLAAN
Pemantauan
Progresitifitas penyakit
Keadaan umum dan tanda vital.
Penyuluhan
- Menjelaskan kepada pasien mengenai penyakit
yang diderita adalah tonsilofaringitis kronik
eksaserbasi akut.
- Menjelaskan pada pasien bahwa terapi yang akan
dilakukan adalah tonsilektomi
- Mengedukasi pasien agar menjaga konsumsi
makanan dengan makanan yang tidak pedas,
asam, atau mengandung vetsin, menjaga
higienitas mulut.

PROGNOSIS
Quo ad vitam
: dubia ad bonam
Quo ad sanam
: dubia ad bonam
Quo ad fungsionam: dubia ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA

TONSILITIS
Anatomi Tonsil

Tonsila Palatina :
Dibatasi oleh:
Lateral muskulus konstriktor faring superior
Anterior muskulus palatoglosus
Posterior muskulus palatofaringeus
Superior palatum mole
Inferior tonsil lingual

Tonsilitis Kronik
Peradangan tonsil yang menetap sebagai akibat infeksi akut
atau subklinis yang berulang. Tonsilitis Kronis secara umum
diartikan sebagai infeksi atau inflamasi pada tonsila palatina
yang menetap lebih dari 3 bulan.Ukuran tonsil membesar akibat
hyperplasia parenkim atau degenerasi fibrinoid dengan
obstruksikripta tonsil, namun dapat juga ditemukan tonsil yang
relatif kecil akibat pembentukan sikatrik yang kronis.

TONSILITIS
Etiologi :
1. Tonsilitis Viral
Penyebab yang sering Epstein Barr, influenza,para
influenza, coxasakie, echovirus, rhinovirus.
2. Tonsilitis Bakterial
Streptococcus haemolyticus group A, Staphilococcus
aures,kemudian diikuti oleh Streptococcus haemolyticus group A,
Haemofilus influenzae danStreptococcus pneumonia

Faktor Predisposisi
Rangsangan kronik (rokok, makanan)
Higiene mulut yang buruk
Pengaruh cuaca (udara dingin, lembab, suhu yang
berubah-ubah)
Alergi (iritasi kronik dari alergen)
Keadaan umum (kurang gizi, kelelahan fisik)
Pengobatan tonsilitis akut yang tidak adekuat.

Patofisiolgi
Infeksi berulang pada tonsil epitel dan jaringan
limfoid terkikis penyembuhan dengan jaringan
parutyang mengerut kripte melebar menembus
kapsul tonsil melekat fdi fosa tonsilaris

Gejala Klinis
1.
2.
3.
4.
5.

Nyeri tenggorok yang tidak hilang


Halitosis
gangguan menelan
Obstruksi sleep apneu
Gangguan suara

sempurna

PEMERIKSAAN FISIK

- Kripte tonsil melebar


- Pembesaran kelenjar sub angulus mandibular teraba
- Muara kripte terisi pus
- Tonsil tertanam atau membesar

Pemeriksaan Penunjang
Kultur dan uji resistensi (sensitifitas) kuman dari
sediaan apus tonsil. Biakan swab sering menghasilkan
beberapa macam kuman dengan berbagai derajat keganasan,
sepertiStreptokokus beta hemolitikus grup A, Streptokokus
viridans, Stafilokokus, atau Pneumokokus

TATALAKSANA
1. Medikamentosa
Antibiotika sesuai kultur
2. Operatif
Tonsilektomi

Indikasi Tonsilektomi Berdasarkan the American Academy of OtolaryngologyHead and Neck Surgery ( AAO-HNS) tahun 1995 indikasi tonsilektomi terbagi
menjadi :20
1. Indikasi absolut
Pembesaran tonsil yang menyebabkan sumbatan jalan napas atas,disfagia
berat,gangguan tidur, atau terdapat komplikasi kardiopulmonal.
Abses peritonsiler yang tidak respon terhadap pengobatan medik dan drainase,
kecuali jika dilakukan fase akut.
Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam.
Tonsil yang akan dilakukan biopsi untuk pemeriksaan patologi.
2. Indikasi relatif
Terjadi 3 kali atau lebih infeksi tonsil pertahun, meskipun tidak diberikan
pengobatan medik yang adekuat
Halitosis akibat tonsilitis kronik yang tidak ada respon terhadap pengobatan
medic
Tonsilitis kronik atau berulang pada pembawa streptokokus yang tidak
membaik dengan pemberian antibiotik kuman resisten terhadap -laktamas

Kontraindikasi7,21
1. Kontraindikasi relatif
Palatoschizis
Radang akut, termasuk tonsillitis
Poliomyelitis epidemica
Umur kurang dari 3 tahun
2. Kontraindikasi absolut
Diskariasis darah, leukemia, purpura, anemia aplastik,
hemophilia
Penyakit sistemis yang tidak terkontrol: DM, penyakit jantung,
dan sebagainya.

FARINGITIS

Etiologi
Virus (4060%) :Rhinovirus, Adenovirus, Parainfluenza,
Coxsackievirus, Epstein-Barr virus, Herpes virus
Bakteri (540%) :Streptococcus hemolyticus group A,
Chlamydia, Corynebacterium diphtheriae, Hemophilus
influenzae, Neisseria gonorrhoeae
Jamur -> biasa pada orang dengan imunokompromis
Alergi
Trauma
Iritan
dan lain - lain

Gejala Klinis
Faringitis viral (umumnya oleh rhinovirus) :
Diawali dengan gejala rhinitis dan beberapa hari kemudian
timbul faringitis. Gejala lain demam disertai rinorea dan mual.
Faringitis bakterial: nyeri kepala hebat, muntah, kadang
disertai demam dengan suhu yang tinggi, jarang disertai batuk.

Pemeriksaan Fisik
Faringitis viral, pada pemeriksaan tampak faring dan tonsil
hiperemis,
eksudat
(virus
influenza,
coxsachievirus,
cytomegalovirus tidak menghasilkan eksudat). Pada coxsachievirus
dapat menimbulkan lesi vesikular di orofaring dan lesi kulit berupa
maculopapular rash.

Faringitis bakterial, pada pemeriksaan tampak tonsil membesar,


faring dan tonsil hiperemis dan terdapat eksudat dipermukaannya.
Beberapa hari kemudian timbul bercak petechiae pada palatum dan
faring. Kadang ditemukan kelenjar limfa leher anterior membesar,
kenyal dan nyeri pada penekanan.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan kultur memiliki sensitivitas 9095% dari diagnosis, sehingga
lebih diandalkan sebagai penentu penyebab faringitis yang diandalkan.
Jika hasil yang diperoleh positif maka pengobatan diberikan antibiotik
dengan tepat namun apabila hasilnya negatif maka pengobatan antibiotik
dihentikan kemudian dilakukan follow-up.
Pengambilan apus tenggorok dilakukan pada daerah tonsil dan dinding
faring posterior.
Kultur tenggorok sangat penting bagi penderita yang lebih dari sepuluh
hari.

Penatalaksanaan
Analgetik jika perlu
Penderita dianjurkan untuk beristirahat di rumah dan minum
yang cukup. Faringitis yang disebabkan oleh virus dapat sembuh
sendiri tanpa pengobatan.
Faringitis bakterial -> Amoksisilin 50 mg/kgBB dosis dibagi 3
kali/hari selama 10 hari dan pada dewasa 3 x 500mg selama 6-10
hari, Eritromisin 4x500 mg/hari.
Kumur dengan antiseptic .

Obstructive Sleep Apneu


Syndrome
Suatu sindrom obstruksi komplit atau parsial jalan napas
yang menyebabkan gangguan fisiologis yang bermakna dengan
dampak klinis yang bervariasi.
Ditandai dengan timbulnya henti napas sewaktu tidur
(sleep apnea) yang berlangsung paling sedikit selama 10 detik.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan polisomnografi akan merekam aktivitas
anak selama tidur dengan menilai frekuensi dan lama
mendengkur, henti napas, aktivitas listrik jantung, saturasi
oksigen dan aktivitas listrik otak.

TERIMA KASIH