Anda di halaman 1dari 15

RESUME FISIKA ZAT PADAT

SIFAT TERMAL

OLEH:

PUTRI DWI SARI


1301576
PENDIDIKAN FISIKA RB

DOSEN PEMBIMBING:
Drs. HUFRI, M.Si.

JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI PADANG


2016

SIFAT TERMAL

A. Kapasitas Panas Molar


1.

Teori Klasik
Menurut fisika klasik, getaran atomatom zat padat dapat dipandang sebagai

osilator harmonik. Osilator harmonik merupakan suatu konsep/model yang secara


makroskopik dapat dibayangkan sebagai sebuah massa m yang terkait pada sebuah
pegas dengan tetapan pegas C. Untuk osilator harmonik satudimensi, energinya dapat
dirumuskan :

ene
Dengan:

v = laju getaran osilator,

x = simpangan osilator

frekuensi

sudut

getaran osilator .

Untuk osilator harmonik satu dimensi yang mempunyai dua derajad bebas
mempunyai energi ratarata :

(1)

Selanjutnya, karena atomatom dalam kristal membentuk susunan tigadimensi,


maka untuk satu mol osilator harmonik tigadimensi, energi dalamnya :

Dengan demikian kapasitas


kalornya :

dari hasil (2) ini terlihat bahwa menurut model fisika klasik, kapasitas panas zat padat
tidak bergantung suhu dan berharga 3R. Hal ini sesuai dengan hukum DulongPetit
yang hanya berlaku untuk suhu tinggi. Sedangkan untuk suhu rendah jelas teori ini
tidak berlaku.
2.

Teori Einstein
Dalam model ini, atomatom dianggap sebagai osilatorosilator bebas yang bergetar

tanpa terpengaruh oleh osilator lain di sekitarnya. Energi osilator dirumuskan secara
kuantum (berdasarkan teori kuantum) yang berharga diskrit :

(3)
dengan :

= h/2
h tetapan Planck.

Pada tingkat dasar n = 0, energi osilator 0 = 0.


Tingkat berikutnya n = 1, 2 dan seterusnya. Perbedaan energi antar tingkat adalah
lihat gambar 1.

Gambar 1.
Spektrum
energi
osilator satu
dimensi
menurut teori
kuantum.
Pada keseimbangan termal, energi ratarata osilator dinyatakan oleh :

(4
)

Faktor (bobot) Boltzmann exp(n/kT) menyatakan kebolehjadian keadaan berenergi n


tertempati. Persamaan ( 4 ) dalam bentuk deret tersebut ekuivalen dengan ungkapan :
(5)
Selanjutnya,
untuk satu mol osilator tigadimensi memiliki energi dalam :

Sehingga kapasitas kalornya:


(6)

3.

Teori Debye
Dalam model Einstein, atomatom dianggap bergetar secara terisolasi dari atom di

sekitarnya. Anggapan ini jelas tidak dapat diterapkan, karena gerakan atom akan
saling berinteraksi dengan atomatom lainnya. Seperti dalam kasus penjalaran
gelombang mekanik dalam zat padat, oleh karena rambatan gelombang tersebut atomatom akan bergerak kolektif. Frekuensi getaran atom bervariasi dari =0 sampai
dengan =D. Batas frekuensi D disebut frekuensi potong Debye.
Menurut model Debye ini, energi total getaran atom pada kisi diberikan oleh ungkapan
(7)

()

adalah energi ratarata osilator seperti pada model Einstein sedangkan g () adalah
rapat keadaan. Dalam selang frekuensi antara = 0 dan = D, g() memenuhi :
(8)

Jumlah modal getaran sama dengan jumlah 1 mol osilator tigadimensi, yang dalam
kurva pada
gambar 2.13 ditunjukkan oleh daerah terarsir. Frekuensi potong D dapat ditentukan
dengan cara memasukkan persamaan (2.19.) ke dalam persamaan (2.52.), yang
memberikan :

(9

Apabila kita menggambarkan kontur yang berhubungan dengan = D dalam ruang q


seperti pada gambar 2.4. akan diperoleh sebuah bola yang disebut bola Debye, dengan
jejari q yang disebut jejari Debye dan memenuhi
(a)

Pada suhu tinggi (T>>D), batas atas integral ( D/T) sangat kecil, demikian juga
variabel x. Sebagai pendekatan dapat diambil : ex 1 + x
sehingga integral yang bersangkutan menghasilkan :

(b)

Masukkan hasil ini kepersamaan (a)

Sesuai dengan hukum DulongPetit, sehingga pada suhu tinggi model ini cocok
dengan hasil eksperimen. Pada

suhu

rendah

(T<< D),

batas

integral

pada

persamaan menuju tak berhingga dan integral tersebut menghasilkan 44/15. Dengan
demikian

B. Konduktivitas Termal
Konduktivitas atau keterhantaran termal (k) adalah suatu besaran intensif ynag
menunjukkan kemampuannya untuk menghantarkan panas. Konduksi termal adalah
suatu fenomena transport dimana perbedaan temperatur menyebabkan transfer energi
termal dari satu daerah benda panas ke daerah yang sama pada temperatur yang lebih
rendah.

Laju perambatan panas pada padatan ditentukan oleh konduktivitas termal dan
gradien temperatur . Jika didefenisikan q sebagai jumlah kalori yang melewati satu
satuan luas (A) per satuan waktu ke arah x maka
Tanda minus menunjukkan bahwa aliran panas berjalan dari temperatur tinggi ke
temperatur rendah.
Pada temperatur kamar, metal memiliki konkoduktivitas thermal yang baik dan
konduktivitas listrik yang baik pula karena transfer panas pada metal berlangsung
karena peran elektron-bebas. Pada material dengan ikatan ion ataupun ikatan kovalen,
di mana elektron kurang dapat bergerak bebas, transfer panas berlangsung melalui
phonon. Walaupun phonon bergerak dengan kecepatan suara, namun

phonon

memberikan konduktivitas panas yang jauh di bawah yang diharapkan. Hal ini
disebabkan karena dalam pergerakannya phonon selalu berbenturan sesamanya dan
juga berbenturan dengan ketidak-sempurnaan kristal. Sementara itu dalam polimer
perpindahan panas terjadi melalui rotasi, vibrasi, dan translasi molekul.
Konduktivitas thermal dalam kristal tunggal tergantung dari arah kristalografis.
Dalam rekayasa praktis, yang disebut konduktivitas thermal merupakan nilai rata- rata
konduktivitas dari padatan polikristal yang tersusun secara acak. Tabel.1 memuat
konduktivitas panas beberapa macam material.
Tabel 1. untuk beberapa material pada 300K
Material

cal/(cm secK)

L=(volt/2

Al

0,53

2,2

Cu

0,94

2,23

Fe

0,19

2,47

Ag

1,00

2.31

C (intan)

1,5

Ge

0,14

Koefisien Konductivitas termal padat didefinisikan dengan hubungan aliran keadaan


mantap dari panas sebuah batang panjang dengan gradient suhu dT/dx

Dimana jv adalah flux energy


thermal. Implikasi dari persamaan
ini adalah proses transfer energy thermal secara acak. Dari teori kinetic gas kita
mendapatkan sebuah pendekatan bentuk dari konduktivitas thermal:
Dimana C adalah kapasitas
panas per satuan volume, v adalah
rata-rata kecepatan partikel, dan l adalah mean free path tabrakan diantara partikel.
Jika C adalah kapasitas panas sebuah partikel, kemudian bergerak dari temperature T +
T ke temperature T, sebuah partikel tersebut akan melepaskan energy C T, dengan
Dimana t adalah waktu rata
rata diantara tumbukan
Energi net flux

dT
dT
lx
vxt
dx
dx

Untuk
phonon
dengan v konstan
1
dT
jv Cv l
3
dx

dengan l = vt dan C = nc. Maka K


=1/3Cvl
1.

Resistivitas Termal
Resistivitas () adalah kemampuan suatu bahan untuk mengantarkan arus listrik

yang bergantung terhadap besarnya medan istrik dan kerapatan arus. Semakin besar
resistivitas suatu bahan maka semakin besar pula medan listrik yang dibutuhkan untuk
menimbulkan sebuah kerapatan arus.

Resistivitas Termal Untuk Gas Fonon


Phonon yang berarti free path l itu secara prinsip, ditentukan dengan 2 proses,
yaitu penghamburan geometri dan penghamburan oleh phonon lain. Jika gaya gaya
antar atom harmonic,maka tidak ada tumbukan mekanik diantara ponon ponon dan
the mean free path akan dibatasi oleh tumbukan sebuah ponon dengan ikatan Kristal
dan lattice imperfections.
Teori pasangan efek anharmonik thermal resistivity memprediksi bahwa l
proposional dengan 1/T pada temperature tinggi.
Untuk mendefinisikan sebuah konduktivitas thermal, harus ada mekanisme dalam
Kristal dimana distribusi phonon memungkinkan mencapai titik kesetimbangan
thermal.
Tanpa mekanika kita mungkin tidak dapat berbicara ponon di one end of crystal
di titik keseimbangan termal di sebuah temperature T2 dan berakhir di temperature T1.

Tidak cukup hanya dengan membatasi the mean free path, tetapi harus ada
pembangunan sebuah lokasi kesetimbangan thermal dari distribusi phonon.
Tabrakan phonon dengan ikatan Kristal tidak akan membuat kesetimbangan
thermal, karena tumbukan tidak merubah energy phonon secara individual. Ini dapat
ditandai ulang dengan proses tabrakan 3 phonon.

Keterangan gambar

a :aliran molekul gas dalam dalam keadaan menuju

kesetimbangan di dalam tabung panjang terbuka dengan dinding tanpa


gesekan.
Diantara proses tumbukan elastistas molekul gas tidak merubah momentum atau
energy flux gas karena setiap tumbukan kecepatan pusat massa dan energy yang
menumbuk partikel partikel tidak berubah.

Ket gambar b : definisi konduktivtas termal di dalm sebuah gas dapat


disamakan dengan sebuah situasi dimana aliran tak bermassa diizinkan.
Dengan sebuah pasangan pasangan tumbukan gradient suhu dengan aboveaverage kecepatan pusat massa akan mengarah ke kanan. Sedangkan untuk belowaverage kecepatannya mengarah ke kiri.
Sebuah kesetimbangan distribusi phonon pada temperature T bias menggerakkan
Kristal dengan kecepatan yang tidak terdistribusi oleh persamaan di atas. Untuk setiap
tabrakan phonon

Dikoservasikan. Karena tumbukan J berubah dengan K1 K2 K3 = 0. Nk adalah


banyaknya ponon yang memiliki gelombang vektor K.

Ket gambar c: dalam sebuah Kristal kita mungkin dapat mengatur


phonon

phonon memimpin di one end.

Di sini akan menjadi sebuah net flux phonon mengarah right end Kristal. Jika
hanya proses N terjadi, momentum tumbukan flux phonon tidak berubah.

Ket gambar d: dalam proses U, sebuah net besar merubah momentum


dalam setiap tumbukan. Inisial net flux phonon akan cepat sekali rusak. The
ends akan beraksi sebagai sumber dan sinks. Perpindahan net energi di bawah
sebuah gradient temperature terjadi.
Untuk sebuah distribusi dengan J tidak sama dengan 0, tumbukan incapable
menuju kesetimbangan thermal sempurna karena J tidak berubah.
Jika memulai phonon panas sebuah rod turun dengan J tdaksama dengan 0
distribusi akan propagate kebawah rod dengan J tidak berubah.

Hal ini bukanlah

merupakan resistansi thermal.


2.

Proses Umpklapp
Tiga phonon penting diproses menyebabkan resitivitas panas tidak dalam bentuk

K1 + K2 = K3 dengan K yang konsevatif , tetapi dalam bentuk :

K1+K2 = K3 + G
Dimana G adalah vektor reciprocal lattice . proses ini ditemukan oleh pierls , yang
dikenal dengan umklapp proses. Kita bisa menyebutnya G untuk semua momentum
konservatif dalam kristal. Kita ambil contoh dari proses interaksi gelombang dalam
kristal yang total vektor gelombangnya berubah sampai mendekati nol .

Gambar d. normal K1 + K2 = K3 dan (b) umklapp K1+K2=K3+G proses


tumbukan fonon pada kisi persegi dua dimensi .
Kisi persegi pada tiap gambar mengacu pada daerah blillouin di ruang fonon K ,
daerah ini memuat semua kemungkinan nilai tidak tetap dari vektor gelombang fonon.
Vektor K dengan arah tepat di tengah daerah yang direpresentasikan menyerap fonon
pada proses tumbukan. Seperti kita tahu bahwa arah proses umklapp dari komponen
x fluks fonon cadangan.
Vektor kisi balik G dinyatakan dengan panjang 2/a , dimana a adalah konstanta
kisi dari kisi kristal , dan sejajar dengan sumbu kx. Untuk semua proses , N atau U ,
energi harus kembali , jadi 1 + 2 = 3. Proses serupa selalu mungkin dalam kisi
priodik.
Pendapat paling kuat untuk fonon : hanya berarti fonon palsu K pada daerah
brillouin pertama , jadi tidak ada K yang dihasilkan pada tumbukan harus kembali ke

daerah pertama dengan tambahan G . A tumbukkan dari dua fonon dengan hasil yang
negatif dari kx dapat dilakukan dengan proses umklapp (G tidak sama dengan 0)
membuat ponon positif kv .
Proses umklapp juga disebut U proses. Proses tumbukkan dengan G = 0 disebut
normal proses atau N proses . Pada temperatur tinggi T > semua fonon sedang
tereksitasi karena semua tumbukan lenting sempurna akan mengalami proses U
dengan bantuan momentum tinggi yang terjadi dalam tumbukan.
Dalam keadaan ini kita dapat memperkirakan resistivitas termal tanpa perbedaan
secara tinjauan partikel antara proses N dan U , dengan anggapan awal tentang efect
non linear kita dapat memperkirakannya untuk mendapatkan hambatan termal kisi
sebanding dengan T pada temperatur tinggi.
Proses tumbukkan dengan G = 0 disebut normal proses atau N proses . Pada
temperatur tinggi T > semua fonon sedang tereksitasi karena
K bT maks
semua tumbukan lenting sempurna akan mengalami proses U dengan bantuan
momentum tinggi yang terjadi dalam tumbukan.
Dalam keadaan ini kita dapat memperkirakan resistivitas termal tanpa perbedaan
secara tinjauan partikel antara proses N dan U , dengan anggapan awal tentang efect
non linear kita dapat memperkirakannya untuk mendapatkan hambatan termal kisi
sebanding dengan T pada temperatur tinggi.
Energi dari fonon K1,K2, cocok untuk terjadinya umklapp jika saat K b ,
karena baik fonon 1 ataupun 2 harus mempunyai gelombang vektor kisaran G
sehingga tumbukkan bisa mungkin terjadi.
Jika kedua fonon mempunyai K rendah , sehingga energinyapun rendah, tidak
mungkin tumbukan antara mereka gelombang vektornya keluar dari daerah
pertama.Proses umklapp yang energinya konservatif , hanya cukup untuk proses
normal.
Pada temperature rendah bilangan fonon yang memenuhi dari energi tinggi K b
memerlukan harga expetasi extrem sebagai exp(-/2T) , menurut faktor boltzman.
bentuk eksponensial cocok dengan hasil eksperimen.

Kesimpulannya , fonon bebas pada saat memasuki (42) itu adalah saat bebas
untuk tumbukkan umklapp diantara fonon dan tidak untuk semua fonon

Gambar

konduktivitas termal pada bahan kristal murni dari sodium flurida .


3.

Imperfeksi
Efek geometri sangat penting untuk free path. Kita menganggap bahwa bagian

kecil dari kristal dibatasi oleh massa isotopic terdapat dalam elemen kimia alami, kima
pemurnian, ketidaksempurnaan pola-pola geometris dari molekul-molekul, dan
struktur benda tak berbentuk.
Pada temperatur rendah, rata-rata dari free path l menjadi sebanding dengan lebar
spesimen uji, sehingga nilai dari l tersebut dibatasi oleh lebar spesimen uji, dan
konduktivitas termalnya menjadi fungsi dari dimensi spesimen.
Efek ini ditemukan oleh De Haaz dan Biermasz. Penurunan yang tajam pada
konduktivitas termal dari kristal pada temperatur rendah dikarenakan oleh efek
ukuran.
Di temperatur rendah, proses umklapp menjadi tidak efektif dalam membatasi
konduktifitas termal, dan efek ukurannya menjadi dominan seperti yang ditunjukkan
pada gambar18. Dapat kita perkirakan free path ponon akan menjadi konstan, dengan
diameter D spesimen, dapat kita lihat

K Cv D

C merupakan konduktivitas panas dimana T nya harus temperatur rendah. Efek


ukuran akan mempengaruhi jika rata-rata free path dari ponon menjadi sebanding
dengan diameter dari spesimen.

Kristal
memiliki

dielektrik
konduktivitas

termal yang sama dengan


logam. Al2o3 adalah salah
satu kristal dielektrik yang
mempunyai konduktivitas termal yang sama tingginya dengan metal (tergantung pada
suhunya.
Pada kasus yang lain, misalnya kristal sempurna, distribusi dari isotop pada
elemen kimia sering menjadi mekanisme dalam proses bagian-bagian terkecil pada
ponon. Distribusi acak dari massa isotopik akan mengganggu kerapatan seperti yang
terlihat pada gelombang elastis. Bagian-bagian kecil pada substansi-substansi ponon
saling terkait. Hasil Germanium dapat dilihat dari gambar1 atas . Tingginya
konduktivitas termal juga pernah didapatkan untuk Silikon dan Intan.