Anda di halaman 1dari 21

PENGUJIAN DAN EVALUASI BAHAN INDUSTRI

FAKTOR PENGUAT BAHAN INDUSTRI


MEKANISME SLIP DAN DISLOKASI

DISUSUN OLEH

KELOMPOK 1

FATMA CAHYANI

( 0615 4041 1554 )

HERLIFIA

( 0615 4041 1555 )

KELAS

: 2 EG.A

DOSEN PEMBIMBING

: Ir. FATRIA,M.T.

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA PALEMBANG


TAHUN PELAJARAN 2015-2016

PENGUJIAN DAN EVALUASI BAHAN INDUSTRI


Sifat sifat khas bahan industri perlu dikenal secara baik, karena dipergunakan
untuk berbagai keperluan. Sifat yang diinginkan seperti ; sifat-sifat mekanik, sifat-sifat
listrik, sifat-sifat magnet, sifat-sifat thermal, sifat-sifat kimia, sifat-sifat fisik dan masih
banyak lainnya.

Peta Konsep
BAHAN

Deformasi
Sifat
elastis

plastis

Bentuk

tekan

tarik

Teganga
n tarik

Reganga
n tarik
Modulus
elastisitas

geser

Teganga
n geser

Teganga
n tekan

Reganga
n tekan

Modulus
elastisitas

Reganga
n geser

Modulus
geser

I.

PENGUJIAN TARIK STATIK


Deformasi bahan disebabkan oleh beban tarik statik adalah dasar dari pengujian
dan studi mengenai kekuatan bahan.
1. Daerah Elastik.

Gambar 1.1. menunjukkan keadaan apabila beban yang diberikan kepada batang
uji. Daerah tegangan yang tidak meninggalkan deformasi apabila beban dihilangkan
disebut daerah elastik.
P

l
l0

Gambar 1.1. Deformasi disebabkan oleh beban tarik


Deformasi di daerah elastik menunjukkan sifat proporsional atau sebanding lurus
dengan tegangan. Hubungan lurus ini disebut dengan modulus elastik.yang menyatakan
kekuatan atau ketahanan bahan dalam menerima deformasi elastis, semakin besar nilai
modulusnya semakin kuat bahan tersebut.

Tanpa beban
Tegangan

slope = Modulus Elastisitas


beban

Regangan

2. Mulur
Apabila diberikan tegangan melampui batas elastik, maka terjadi perpanjangan
permanen dan dinamakan deformasi plastis, dan tegangan terendah dimana deformasi
plastis terjadi tersebut dinamakan tegangan mulur. Dua unsur mulur yang utama dalam
kristal adalah pergeseran (slip) dan kembaran (twin).
3. Pengerasan Regangan
Kalau bahan dideformasikan pada temperature sangat rendah dibandingkan
dengan titik cairnya, maka pengerasan terjadi mengikuti deformasinya. Gejala ini
dinamakan pengerasan regangan atau pengerasan kerja. Sebagai contoh : kekuatan
mulur baja lunak sekitar 180 MPa, yang dapat ditingkatkan sampai sekitar 900 MPa
oleh pengerasan regangan.
4. Keliatan
Keliatan suatu bahan diinginkan lebih besar, karena makin besar berarti lebih
aman terhadap kemungkinan patah, dan lebih mudah untuk diolah melalui pengerolan,
penarikan dan seterusnya. Pada umumnya keliatan dinyatakan oleh regangan teknis
sampai titik patah dari suatu pengujian tarik.
5. Keuletan
Keuletan bahan menyatakan energi yang diabsorb oleh bahan tersebut sampai
titik patah, yaitu merupakan luas bidang dibawah kurva tegangan regangan.

II. PENGUJIAN STATIK UNTUK TEKAN, BENGKOK DAN PUNTIR


2.1. Pengujian tekan statik
Pada umumnya kekuatan tekan lebih tinggi dari kekuatan tarik, sehingga pada
perencanaan cukup menggunakan kekuatan tarik.. Tetapi untuk komponen yang hanya
menerima beban tekan saja dan dirancang berdasarkan kekuatan tarik, kadang-kadang
perhitungan menghasilkan dimensi yang berlebihan sehingga pengujian tekan masih
diperlukan.

Gambar 2.1. Pengujian tekan (ASTM)


2.2. Pengujian bengkok
Pengujian bengkok dapat dilakukan terhadap bahan getas, maka pengujian
bengkok dapat menentukan mampu deformasi untuk ukuran tertentu dengan radius
bengkok tertentu sampai sudut bengkok tertentu , dengan diberi deformasi tertentu
2.3. Pengujian puntir
Puntiran adalah suatu pembebanan yang penting, sebagai contoh : kekuatan
puntir menjadi permasalahan pada poros, rangkain drillstring dll.

III. KEULETAN DAN PATAH ULET


Kelakuan dinamik dari kekuatan logam adalah sangat penting, ini berarti ada
variasi sifat-sifat karena temperatur dan laju regangan. Dalam hal ini menimbulkan
persoalan serius kalau mengeksplitasi daerah dengan temperatur tinggi, misalnya pada
industri panasbumi.

Gambar 1.19. Pengaruh laju regangan pada berbagai temperatur


Pada tegangan mulur besi murni berkristal satu.

1. Transisi liat-getas
Beberapa bahan tiba-tiba menjadi getas dan patah karena perubahan temperatur
dan regangan, walaupun pada dasarnya bahan tersebut liat. Gejala ini disebut dengan
transisi liat-getas. Bahan tersebut adalah logam bcc seperti : Fe, W, Mo, Ta dan logam
hcp seperti : Zn serta paduannya. Patah getas bersifat getas sempurna yaitu tanpa adanya
deformasi plastis sama sekali.

2. Keuletan patah
Seperti telah diketahui dari hasil pengujian patah getas terjadi pada pangkal
takikan batang uji, jadi bahan tiba-tiba patah tanpa deformasi plastis. Secara praktis
patahan seperti ini tidak akan terjadi pada peralatan, tetapi peralatan selalu mempunyai
bagian dimana terjadi konsentrasi tegangan dan mungkin terjadi cacat pada lasan, jadi
tidak bisa dihindari.
IV. PENGUJIAN KEKERASAN
Pada pengujian kekerasan yaitu diukur ketahanan terhadap deformasinya, tetapi
ukuran penekan, beban dan ukuran penekanan, derajat pengerasan, berbeda. Maka tidak
ada cara lain dengan melakukan eksperimen. Jadi kekerasan yang diperoleh dengan
berbagai cara. Tetapi perlu diketahui nilai kekerasan akan berbeda untuk setiap bahan
yang berlainan.
Pengujian yang banyak dipakai adalah :
Menekankan penekan tertentu kepada benda uji dengan beban tertentu dan dengan
mengukur ukuran bekas penekan yang terbentuk di atasnya, kekerasan ini dinamakan
cara kekerasan penekanan.
Menjatuhkan bola dengan ukuran tertentu dari ketinggian tertentu di atas benda uji dan
diperoleh tinggi pantulannya
Metoda mengujian kekerasan :
Kekerasan Brinell , merupakan pengujian secara standard industri, tetapi karena
penekanannya dibuat dari bola baja yang berukuran besar, maka bahan lunak atau keras
sekali tidak bisa diukur kekerasannya.
Kekerasan Rockwell, cocok untuk material yang lunak maupun yang keras,
penggunaannya sederhana dan penekannya dapat leluasa. Skala kekerasan B,C dan A
untuk bahan logam, skala A untuk bahan yang sangat keras seperti tungsten dan skala D
untuk batu gerinda dan plastik.
Rockwell superficial, menggunakan bahan yang ringan untuk memperbaiki ketelitian
sebelumnya.
Vickers
Kekerasan mikro
Shore

V.

PENGUJIAN MELAR (CREEP)

Beberapa bagian dari struktur dapat berdeformasi secara kontinu dan perlahanlahan dalam waktu yang lama apabila dibebeni secara tetap. Deformasi macam ini
tergantung pada waktu dianamakn melar/creep.Kalau kekuatan lelah dihubungkan
dengan kekuatan melar, dimana kekuatan melar rendah pada temperatur rendah dan
kekuatan melar tinggi pada temperatur tinggi. Oleh karena itu pada perencanaan struktur
pada temperatur rendah didasarkan pada kekuatan lelah, sedangkan pada temperatur
tinggi didasarkan pada kekuatan melar. Laju melar yang diperbolehkan di industri
adalah 10-7-10-40/0/jam.

Gambar 1.29. Kurva regangan-waktu dari melar

VI. PENGUJIAN KELELAHAN


Patahan lelah disebabkan oleh tegangan berulang, dan juga dijumpai

pada

tegangan kurang dari 1/3 kekuatan tarik statik pada bahan struktur tanpa konsentrasi
tegangan. Dalam keadaan dimana pemusatan tegangan diperhitungkan , mungkin bahan
akan putus pada tegangan yang lebih rendah.
Semua patahan yang disebabkan oleh patahan melalui tahapan proses :
Terjadinya retakan lelah
Perambatan retakan lelah
Patahan statik terhadap luas penampang sisa.
Menghindari patahan statik pada tahap akhir tidaklah effektif

didalam

proses

pencegahan, karena patahan pada tahap ini tidak stabil. Terjadinya retakan tidak dapat
dielakkan

apabila pemusatan tegangan didalam struktur dan komponen tidak

terhindarkan, jadi yang perlu dipelajari adalah memperlambat perambatan retakan.


VI. CACAT BAHAN DAN PENGUJIAN TAK MERUSAK
Dengan pengujian ini dimaksudkan supaya cacat bahan sangat kecil tetapi tidak
mungkin mempunyai bahan yang bebas dari cacat. Pengujian ini juga memberi jaminan
kualitas dan jaminan tidak ada cacat yang membahayakan penggunaan. Cara-cara
pengujian yang ada sbb :
Pengujian pewarnaan.
Cara ini dipakai utnuk mendeteksi cacat dengan penembusan zat pada celah cacat di
permukaan. Cairan flourecence atau cairan pewarna dipakai untuk maksud lain. Yang
pertama diamati dibawah sinae UV dengan panjang gelombang 330-390 mm, dan yang
terakhir diamati dibawah sinar yang terang.

Pengujian dengan bubuk magnet.


Kalau bahan yang dapat diamgnetkan berada dalam medan magnet, fluks magnet pada
baja akan terputus oleh adanya retakan atau inklusi disekitar permukaan jadi bubuk
magnet akan diabsorbs.

Pengujian dengan arus Edy.


Kalau batang uji ditempatkan dalam lilitan yang dialiri arus listrik frekuensi tinggi,
maka arus Edy yang mengalir

pada batang uji berubah kalau ada cacat, yang

memberikan induksi perubahan tegangan listrik oleh impedansi lilitan atau dalam lilitan
sendiri, jadi dihasilkan signal listrik.

Pengujian penyinaran
Dengan mempergunakan sinar X, sianr gamma dan netron yang memiliki daya tembus
melalui benda, memungkinkan untuk mengetahui adanya cacat dari bayangan pada film
yang ditempatkan dibelakang benda, yang menunjukkan variasi intensitas, karena
perbedaan absorbsi sinar oleh rongga dan kepadatan di dalam benda.

Pengujian ultrasonik
Gelombang ultrasonik 1-5 MHz merambat dalam bahan dan memantul ditempat cacat,
dari deteksi gelombang pantulan dapat diketahui adanya cacat.

Pengujian pancaran akustik


Pengujian ini mempunyai cara yang sama dengan pengujian ultrasonik, tetapi
membutuhkan kesempurnaan maka dapat mendeteksi adanya retak lelah atau retak
korosi regangan dalam komponen.

VII. TABULASI SIFAT FISIKA BAHAN

Sifat Mekanik Bahan


Sifat Bahan
Tegangan

Lamban

Definisi

SI

Gaya persatuan luas (F/A)

Satuan
Inggri

Pasca

Psi

Lb/in2

N/m2
Regangan

Besarnya

deformasi

persatuan

Regangan

panjang ( L/L)
regangan linier yang mampu balik

Elastik

(bahan dapat kembali

Regangan

semula)/modulus young
Regangan tetap tak mampu balik

Plastik
Kekuatan

Ukuran besar gaya yang diperlukan

ke keadaan

untuk mematahkan atau merusak statu

Kekuatan
Luluh
Kekuatan

SY

vahan
Ketahanan terhadap deformasi plastik

Pasca

Psi

St

l
Kekuatan maksimum (berdasarkan Pasca

Psi

Tarik

ukuran mula ) dibagi luas penampang l

Keuletan

semula
Besarnya deformasi plastik sampai

Ketangguha

patah
Energi yang diperlukan sehingga Youle

n
Kekerasan

perpatahan
Ketahanan bahan terhadap penetrasi

Modulus

pada permukaannya
Perbandingan tegangan

elastisitas

Ft-lb

terhadap

regangan elastik

Sifat-Sifat Thermal
Sifat Bahan

Lamban
g

Definisi

SI

Kapasitas

Perubahan kandungan kalor setiap

kalor
Panas Jenis

perubahan temperatur
Perbandingan kapasitas kalor suatu

Muai Panas

bahan dengan kapasitas kalor air


Pemuaian bahan yang dipanaskan
disebabkan oleh peningkatan getaran

Koefisien

thermal atom-atomnya
Perbandingan
perubahan

muai

muai

terhadap panjang mula-mula dengan

panjang
Koefisien

perubahan temperatur
Perbandingan
perubahan

muai

muai volume

terhadap volume mula-mula dengan

Daya hantar Q

perubahan temperatur
Kemampuan
bahan

panas

menyalurkan kalor

untuk

Satuan
Inggri
s

Sifat-sifat Kelistrikan
Sifat Bahan

Lamban

Definisi

bahan

SI

Daya hantar

Kemampuan

untuk

listrik
Sifat

menghantarkan arus listrik


Bahan yang bersifat isolator listrik

dielektrik

FAKTOR PENGUAT BAHAN INDUSTRI

Satuan
Inggri
s

Bagi pesawat terbang, mempunyai komponen struktur yang ringan adalah suatu
keharusan. Demikian juga pada beberapa penggunaan biasa seperti pada kapal laut,
kereta api dan lainnya. Tenaga dan bahan bakar dapat dihemat apabila mereka itu
ringan. Bahkan untuk yang hanya memerlukan ketahan terhadap beban, juga diinginkan
bahan ringan. Disamping memperbaiki efisiensi dan menghemat sumber melalui
berbagai cara, dalam banyak hal penggunaan praktis hanya dapat dilaksanakan apabila
bahan dibuat ringan.
Oleh karena itu salah satu objektif yang dituju dalam teknologi bahan adalah
memperbaiki kekuatannya.
2.1. Penguatan dengan Penghalusan Butir
Pada umumnya kekuatan bahan industri dapat ditingkatkan dengan memperkecil
unit strukturnya. Bagi bahan logam dilakukan pertama dengan memperhalus
butirstruktur mikronya. Bagi kebanyakan logam ukuran butir mempunyai hubungan
dengan tegangan mulur. Sebagai kekuatan mulur, apabila mulur terjadi secara tidak
kontinu maka pada umumnya dipakai kekuatan mulur yang terendah dan apabila mulur
terjadi kontinue maka dipakai tegangan uji 0,2 %. kalau konstanta bahan dperbesar tak
terhingga suku kedua menjadi nol jadi tegangan mulur dapat dikatakan kekuatan mulur
kristal tunggal dari bahan yang sama.
2.2. Pengerasan Larutan Padat
Pada pembahasan kristal tunggal, jelas bahwa logam murni mempunyai
kekuatan rendah. Oleh karena itu untuk memperkuat

bahan dilakukan juga usaha

menambahkan unsur paduan. Akan dikemukakan kemudian bahwa terdapat fasa padat
yang disebut larutan padat, yang dibuat dengan menambahkan berbagai unsur. Unsur
yang ditambahakan disebut unsur terlarut. Larutan padat jauh lebih kuat dari logam
murninya. Bagi atom terlarut diketahui mempunyai banyak faktor seperti : perubahan
dimensi, dimana diameter atom berbeda dengan diameter atom matriks, sesuai dengan
itu modulus kekuan yang disebabkan medan renggangan elastik mendorong
peningkatan modulus elastik dimedan antar aksi dengan atom terlarut, faktor lain
adalah faktor elektrokimia dan lainnya.

Penguatan presipitasi dan dispersi menyatakan penguatan dalam perbandingan dengan


mudulus kekakuan dari matriks per perbandingan atom. Pengulangan dapat dibagi
menjadi dua kelompok yang tidak digolongkan oleh keadaan pencampuran dari atom
yang ditambahkan tetapi oleh perbedaan cacat yang terjadi karena penambahan dari
atom yang berbeda seperti regangan yang telah dihasilkan oleh cacat tidaklah isotropik.
Antara kedua kelompok ada perbedaan dan kira-kira tingkat maksimum dari penguatan.
2.3 Penguatan Presipitasi dan Dispersi
Perlakuan dimana atom terlarut ditambahkan melampaui kelarutannya, untuk
membuat larutan padat pada temperatur tinggi, perlakuan ini dinamakan perlakuan
pelarutan. Setelah perlakuan ini, dengan memanaskan pada berbagai temperatur
umumnya timbul fasa presipitat. Presipitat berbeda dalam ukuran dari mulai yang sangat
kecil yang hanya terlihat dibawah mikroskop optik dengan pembesaran yang rendah.
Presipitat bentuknya bermacam macam, ada yang seperti bola, seperti pelat atau seperti
jarum. Karena tegangan mulur meningkat sangat presipitat terdispersi didalam larutan
padat, maka disebut juga penguatan dispersi. Gambar 1.38 menunjukkan hasil dari
pengerasan dispersi pada baja.
Penguatan dispersi telah dikembangkan lanjut untuk menghasilkan beberapa
bahan yang diperkuat oleh campuran bubuk buatan, serat dsb, yang menjadi kuat secara

efektif. Bahan tersebut dinamakan bahan komposit, yang lebih banyak dilakukan bagi
bahan polimer dan keramik.
Untuk bahan logam, satu contoh dapat dikemukakan dalam bahan tahan panas.
Disarankan paling baik untuk memperkuat larutan padat yang berkekuatan super pada
temperatur tinggi dengan dispersi yang tidak bereaksi dengan matriks. Untuk maksud
tersebut fase terdispersi yang dipakai yang melebihi kekuatan pada temperatur tinggi
dan stabil berupa oksida seperti Al2O3 dan ThO2 yang dibuat dari teknik metalurgi
bubuk.

2.4 Struktur yang Diperkuat


Besi dan baja sering diberi perlakuan panas agar memiliki struktur mikro yang
kuat. Baja berkekuatan tinggi dapat diperoleh dengan mengubah fasa austenit yang
mengandung karbon dalam bentuk larutan pada temperatur tinggi menjadi fasa
martensit dengan pencelupan dingin pada temperatur rendah. Martensit adalah larutan
pada karbon yang dipaksakan, mempunyai bentuk kisi tetragonal. Dengan pencelupan
dingin baja yang berkadar 0.4% C atau lebih memperoleh kekuatan mulur 1700 Mpa
atau lebih, tetapi bersifat getas dan baru dapat dipakai setelah diadakan penemperan
untuk memperoleh keliatan walaupun kekuatannya agak menurun. Yang memberi
kekuatan pada martensit terutama unsur karbon. Penambaha Mn, Si, Ni, Cr, Mo dan
unsur lainnya akan memperbaiki keras serta keuletannya.

Menahan austenit dalam keadaan kurang stabil pada temperatur antara 400500oC

yang dideformasikan sangat sebelum terjadi transformasi dan kemudian

didinginkan tiba-tiba; maka akan menghasilkan martensit yang sangat halus dan
mempunyai sejumlah kisi sehingga memiliki kekuatan tinggi. Metode ini dinamakan
ausforming dan pada umumnya perlakuan yang serupa dinamakan perlakuan
termomekanik. Ausforming tidak dapat dilakukan terhadap baja karbon biasa, sehingga
baja harus dipadu dengan Cr, Ni, Si dan lainnya. dengan penemperan yang cocok
setelah proses ausforming maka baja akan mencapai kekuatan maksimum 3100 Mpa
dan masih mempunyai keuletan cukup.
Baja setelah diproses dengan metode diatas mendapat kekerasan yang ekstrim,
oleh karena itu keburukannya adalah tidak dapat dimesin atau dilas.
Baja maraging yang berkadar karbon minimum dapat dikeraskan melalui
presipitasi senyawa antar logam. Baja tersebut mempunyai kadar paduan antara Ni 1825% dan kadar karbon kurang dari 0,03 % an dipadu pula dengan unsur sekunder
lainnya. Martensit kubus memiliki kekuatan yang ekstrim dengan keuletan yang baik
pada atau sebelum tahap presipitasi senyawa antarlogam dilakukan. Kekuatan
maksimum diperoleh kira kira 3000 Mpa. Dalam pengelasan tidak mendapat kesukaran
karena tidak mengandung banyak karbon. Pesawat jumbo 747 dikembangkan dengan
mempergunakan bahan ini pada komponen struktur rodanya.

MEKANISME SLIP DAN DISLOKASI


Deformasi bahan disebabkan oleh slip pada bidang kristal tertentu. Hal ini telah
dikemukakan terdahulu. Kalau gaya yang menyebabkan slip ditentukan dengan
pengandaian bahwa seluruh atom pada bidang slip kristal serempak bergeser maka gaya
tersebut akan besar sekali. Dalam kristal terdapat cacat kisi yang dinamakan dislokasi.
Dengan pergerakan dislokasi pada bidang slip maka terjadilah slip yang menyebabkan
deformasi dengan memerlukan tegangan yang sangat kecil.
Kalau kristal dipotong menjadi plat tipis dan dipoles, dipoles secara elektrolisa,
maka akan terlihat dibawah mikroskop elektron sejumlah cacat yang disebut dislokasi.
Dislokasi merupakan cacat kisi yang menentukan kekuatan bahan berkristal.
Seandainya suatu kristal logam dapat dibuat tanpa dislokasi, maka kekuatan
mulurnya kira-kira 1/6 dari modulus elastiknya atau 1000-10000 kali kekuatan mulur
kristal yang sesungguhnya. Kristal berbentuk serat (filament) yang dinamakan Wisker
telah dibuat dari berbagai bahan logam, kekuatannya seperti yang diperkirakan dari teori
di atas. Kristal logam biasa mengandung dislokasi kira kira 10 5-108 cm/cm3 meskipun
setelah dianil. Kalau logam diberi deformasi plastis dengan pengerjaan dingin yang
kuat, maka dislokasi meningkat mencapai 1011-1013 cm/cm3
3.1 Dislokas dan Vektor Burger

Gambar 1.39 menunjukkan dua macam dislokasi dalam kristal berkisikubus, yang
bererak dalam kisi kristal dan keluar. Pergerakan dislokasi menyebabkan satu tahap
karena ada pergeseran (slip) b. Arah danukuran b adalah tetap menurut geometri kristal,
b dinamakan vektor burgers. Seperti dijelaskan pada gambar (a), kalau pada dislokasi
tersebut garis dislokasinya tegak lurus pada b, dislokasi ini disebut dislokasi ujung.
Sedangkan pada gambar (b) garis dislokasi sejajar dengan b, dislokasi ini disebut
dislokasi sekerup. Jenis dislokasi lain ialah garis dislokasinya membentuk sudut tertentu
dengan b yang disebut dislokasi campuran. Seperti dijelaskan dalam gambar kadang
kadang dislokasi melintas kristal, tetapi pada umumnya umumnya merupakan suatu lup
dan garis dislokasi berbah sifatnya dari dislokasi sekerup ke dislokasi campuran ke
dislokais ujung dan seterusnya, atau vektor burgernya serupa disetiap bagian.
3.2 Medan Tegangan di sekitar Dislokasi
Kisi

keristal

disekitar

gars

dislokasi

mengalami

deformasi

sehingga

terdapattegangan dan regangan . Hal ini mudah dimengerti dengan membayangkan


dislokasi didalam kisi kristal. Dislokasi bergerak pada bidang slip . Umpamakan bidang
slip dipotong, bagian atas dan bagian bawah kristal bidag slip dan begerak sejauh b dan
kristal bersatu lagi pada bidang slip itu, akhirnya menghasilkan dislokasi yang bergerak
sampai keujung kristal.
3.3. Pelipat Gandaan Dislokasi
Apabila ada bagian dislokasi yang dapat bergerak, karena tegangan garis
dislokasi akan melengkung berbentuk setengah lingkaran pada bidang slip, yang tidak
stabil dan seterusnya berubah menjadi suatu lup meninggalkan garis dislokasi sepanjang
l. Mekanisme ini disebut mekanisme pelipat gandaan dislokasi Frank-Read, dan garis
dislokasi asal dinamakan sumber dislokasi Frank-Read.
Tahapan slip pada permukaan kristal yang dapat dilihat dibawah mikroskop
optik sebagai garis slip, kira kira sejarak 1000 kali panjang vektor burger. Sumber
dislokasi berlipat ganda, lup satu menyusul lup terdahulu membentuk lebih dari 1000
lup dan akhirnya timbul ke permukaan membentuk tahapan slip yang dapat terlihat di
bawah mikroskop.

KESIMPULAN
Dari pembahasan makalah ini kami dapat emnimpulkan bahwa :
1. Pengujian dan evalusi bahan industri meliputi beberapa komponen yakni
pengujian tarik statik, pengujian statik untuk tekan, bengkok dan puntir, keuletan
dan patah ulet, pengujian kekerasan dan pengujian melar (Creep)
2. Beberapa faktor penguatan bahan industri yakni penguatan dengan penghalusan
butir, pengerasan larutan padat, penguatan presipitasi dan dispersi serta struktur
yang diperkuat.
3. Dislokasi adalah cacat kisi yang menentukan kekuatan bahan berkristal.

DAFTAR PUSTAKA

Mariastella, http://www.scribd.com/doc/293522564/Material-Pengujian-DanEvaluasi#scribd. Di download pada tanggal 1 maret 2016.


Lestari, Cahyati, http://www.scribd.com/doc/286873127/554-pengetahuan-bahan-teknik
-pdf#scribd. Didownload pada tanggal 2 Maret 2016.

LAMPIRAN

Alat Penguji Tarik Statik

Alat Penguji Tekan Statik

Alat Pengujian Puntir

Pengujian Bengkok