Anda di halaman 1dari 9

Patologi Post Partum

Masa puerpurium atau postpartum pada hewan adalah periode tertentu setelah hewan
mengalami partus atau melahirkan. Pada periode ini normalnya induk hewan akan mengalami
perubahan-perubahan, yakni aktifitas siklus ovari kembali normal, involusi uteri, regenerasi
endometrium dan eliminasi bakteri kontaminan. Namun terkadang masa puerpurium tidak
berjalan normal karena adanya gangguan yang bersifat patologis, sehingga menyebabkan
terjadinya abnomalitas pada induk. Beberapa patologi post partum dapat dijelaskan sebagai
berikut :
1. Retensio Secundinae
Retensi plasenta atau retensi membran fetus merupakan kondisi umum yang terjadi
pada hewan terutama sapi perah. Secara fisiologis membran fetus dikeluarkan pada waktu 3-8
jam post partus. Jika plasenta menetap lebih lama dari 8-12 jam maka kondisi ini dianggap
patologis dan terjadilah retensi plasenta.
Pada dasarnya retensi plasenta adalah kegagalan pelepasan villi kotiledon fetal dari
kripta karunkula maternal. Sesudah fetus keluar dari korda umbilikalis putus, tidak ada darah
yang mengalir ke villi fetal dan villi tersebut berkerut dan mengendur. Uterus terus
berkontraksi dan sejumlah darah yang tadinya mengalir ke uterus sangat berkurang.
Karunkula meternal mengecil karena suplai darah berkurang dan kripta pada karunkula
berdilatasi. Pada retensi plasenta, pemisahan dan pelepasan villi fetalis dari kripta maternal
terganggu dan terjadi pertautan.
Etiologi
Penyebab terjadinya retensi menurut Toeliehere (1985) adalah adanya infeksi
uterus selama kebuntingan. Jasad-jasad renik seperti Brucella abortus, Tuberculosis,
Camphylobacter foetus dan sebagian jamur menyebabkan Plasentitis Cotyledonitis
yang mengakibatkan abortus atau kelahiran patologis dengan retensio secundinae.
Adanya kelemahan dan atoni uterus karena berbagai penyakit juga mengakibatkan
retensi plasenta. Penyebab lain terjadinya retensi plasenta menurut Partodiharjo
(1980) adalah gangguan mekanis yaitu selaput fetus yang sudah terlepas dari dinding
uterus, tetapi tidak dapat terlepas, dan keluar dari alat kelamin karena masuk ke dalam
kornu uteri yang tidak bunting, kurangnya kekuatan untuk mengeluarkan sekundinae
setelah melahirkan dan gangguan pelepasan sekundinae dan karunkula dari induknya.
Gejala klinis

Gejala pertama yang sering terlihat adalah selaput fetus yang menggantung di
luar vulva 12 jam atau lebih sesudah kelahiran normal, abortus atau distokia. Kadang
selaput fetus tidak keluar melewati vulva tetapi menetap di dalam uterus dan vagina.
Sekundinae sering menggantung sampai jauh ke bawah, sehingga dapat terinjak sapi
lain. Kadang-kadang ada rasa sakit perut, ekor digerak-gerakkan, bagian belakang
kaki menjadi kotor dan terlihat kontraksi uterus yang lemah. Ada bau spesifik dari alat
kelamin yaitu bau sekundinae yang mulai mengalami pembusukan. Kotoran berwarna
coklat keluar dari kelamin yang mengotori ekor, pantat, dan kaki belakang. Induk
kelihatan depresi, produksi air susu menurun karena nafsu makan menurun, respirasi
cepat, suhu tubuh meningkat.
Pemeriksaan
Pemeriksaan terhadap selaput fetus sebaiknya dilakukan sesudah partus untuk
mengetahui terjadinya retensi atau tidak. Pemeriksaan melalui uterus harus dilakukan
dalam waktu 2436 jam. Sesudah 48 jam biasanya sulit atau tidak mungkin
memasukkan tangan ke dalam uterus kalau tidak ada selaput fetus di dalam servik.
Adanya selaput fetus dalam servik cenderung menghambat kontraksi servik.
Pengobatan
Pertolongan terhadap retensi menurut Hardjopranjoto (1995) ditujukan pada
pengeluaran sekundinae atau plasenta dari alat kelamin secepat-cepatnya dan
diupayakan agar kesuburan induk penderita tetap baik. Penyuntikan subkutan atau
intramuskuler horman oksitosin dengan dosis 100 IU untuk hewan besar. Tujuannya
untuk mendorong kontraksi uterus. Pertolongan lain yang dapat dilakukan dengan
pengeluaran sekundinae secara manual. Dianjurkan pelepasan ini dilakukan sebelum
48 jam pasca lahir. Bila ada infeksi, setelah selesai mengeluarkan sekundinae,
diadakan pencucian dengan larutan antiseptik intrauterin seperti rivanol 1%.
Pengobatan umum yang harus diberikan pada induk yang menderita retensio
secundinarum adalah memberi ransum pakan yang baik dan mudah dicerna, kandang
yang bersih, udara bersih, bebas dan cukup terang.

Gambar 1. Gejala klinis Retensio Secundinae


2. Prolapsus Uteri
Prolapsus uteri adalah mukosa uterus keluar dari badan melalui vagina secara total ada
pula yang sebagian. Pada umumnya terjadi pada sapi perah yang berumur lebih 4 tahun.
Prolapsus atau pembalikan uterus sering terjadi segera sesudah partus dan jarang terjadi
beberapa jam sesudah itu.
Pada sapi perah prolapsus uteri sering terjadi pada hewan yang selalu dikandangkan
dan melahirkan di kandang dengan bagian belakang lebih rendah daripada bagian depan.
Prolapsus uteri sering terjadi pada sapi yang sudah sering melahirkan dan hewan yang telah
berumur tua dan makanan yang kurang baik selama hewan itu dipelihara dalam kandang,
menyebabkan keadaan ligamenta penggantung uterus menjadi kendor, lemah dan tidak cepat
kembali ke posisi sebelum bunting. Predisposisi terhadap prolapsus uteri menurut Toeliehere
(1985) adalah pertautan mesometrial yang panjang, uterus yang lemah, atonik dan
mengendur, retensi plasenta pada apek uterus bunting dan relaksasi daerah pelvis yang
berlebihan.
Tanda-tanda prolapsus uteri cukup jelas. Hewan biasanya berbaring tetapi dapat pula
berdiri dengan uterus menggantung ke belakang. Selaput fetus dan atau selaput mukosa
uterus terbuka dan biasanya terkontaminasi dengan feses, jerami, kotoran atau gumpalan
darah. Uterus biasanya membesar dan udematus terutama bila kondisi ini telah berlangsung
4-6 jam atau lebih. Pada kebanyakan kasus dimana kondisi terlihat cukup awal dan segera
dimintakan pertolongan dokter hewan, hewan masih dapat berdiri dan uterus tidak mengalami
cidera berat maka prognosa cukup baik, angka kematian kurang dari 5%. Prognosa jelek
biasnya berlaku pada sapi yang dilepas di lapangan rumput dan prolapsus uteri tidak dapat
diamati dan tidak dilaporkan secara cepat.

Jika prolapsus hanya sebagian saja maka besarnya penonjolan mukosa uterus
mungkin hanya sebesar tinju, mungkin sebesar kepala atau dapat pula lebih besar lagi. Bila
prolapsus ini total maka sampai servik pun ikut tertarik keluar oleh beratnya uterus yang telah
keluar dan memberikan pandangan yang sangat mengejutkan seolah-olah ada sekarung beras
20-30 kg tergantung di belakang sapi, berwarna merah tua dan kotor karena sekundinae yang
masih melekat pada karunkula.
Penanganan prolapsus dipermudah dengan handuk atau sehelai kain basah. Uterus
dipertahankan sejajar vulva sampai datang bantuan. Uterus dicuci bersih dengan air yang
dibubuhi antiseptika sedikit. Uterus direposisi. Sesudah uterus kembali secara sempurna
ketempatnya, injeksi oksitosin 30-50 ml intramuskuler. Kedalam uterus dimasukkan larutan
tardomisol (TM) atau terramisin. Dilakukan jahitan pada vulva dengan jahitan Flessa atau
Buhner. Jahitan vulva dibuka dalam waktu 24 jam. Dalam waktu tersebut servik sudah
menutup rapat dan tidak memungkinkan terjadinya prolapsus. Penyuntikan antibiotik secara
intramuskuler diperlukan untuk membantu pencegahan infeksi uterus.
3.MilkFever

Milk fever dapat disebut juga paresis puerpuralis, hypocalcaemia, calving paralysis,
parturient paralysis, dan parturient apoplexy. Milk fever adalah penyakit metabolisme pada
hewan yang terjadi pada waktu atau segera setelah melahirkan yang manifestasinya ditandai
dengan penderita mengalami depresi umum, tak dapat berdiri karena kelemahan bagian tubuh
sebelah belakang dan tidak sadarkan diri (Hardjopranjoto 1995).
Hewan Target
Biasanya kejadian ini menyerang sapi pada masa akhir kebuntingan atau pada
masa laktasi. Kasus ini sering dialami sapi yang sudah melahirkan yang ketiga
kalinya sampai yang ketujuh (Girindra 1988). Tetapi di beberapa daerah ternyata
penyakit ini ditemui juga pada sapi-sapi dara yang produksi tinggi dan terjadi
ditengah-tengah masa laktasi. Hardjopranjoto (1995) mengatakan bahwa biasanya
kasus ini terjadi pada sapi perah setelah beranak empat kali atau lebih tua, jarang
terjadi pada induk yang lebih muda atau sebelum beranak yang ketiga. Subronto
(2001) mengatakan bahwa beberapa kejadian disertai syndrom paresis yang terjadi
dalam beberapa minggu atau beberapa bulan sesudah melahirkan.
Etiologi
Penyebab terjadinya milk fever antara lain :
a. Adanya gangguan produksi vitamin D. Pengambilan pakan yang berlebihan dalam
mineral, kalsium dan fosfor akan mampu menurunkan produksi vitamin D

b. Hormon estrogen dan steroid kelenjar adrenal dapat menurunkan absorpsi kalsium
dari usus dan mobilisasi mineral tersebut dari tulang.
c. Mobilisasi mineral Ca dan P ke dalam colostrum secara tiba-tiba pada saat sapi
menjelang melahirkan. Kadar kalsium turun dari normalnya 9-12 mg menjadi 3-7
mg dan kadar fosfor turun dari normalnya 5-6 mg/dl menjadi 1 mg/dl.
d. Teori defisiensi hormon paratiroid merupakan efek dari hormon tirokalsitonin.
Hormon tirokalsitonin mampu mengatur mukosa sel-sel usus dalam menyerap dan
mengatur kadar Ca dalam darah. Hormon ini terbiasa mengatur penyerapan
kalsium dalam jumlah kecil saja.
e. Adanya gangguan absorbsi Ca dan ketersediaan mineral tersebut dalam darah.
f. Pada sapi yang mengalami penurunan nafsu makan maka jumlah kalsium yang
diserap juga berkurang.
g. Absorbsi kalsium yang rendah mungkin disebabkan oleh PH yang tinggi, kadar
lemak pakan yang tinggi dan kemampuan yang rendah dalam menyerap Ca pada
usus sapi tua.
h. Rendahnya kemampuan sapi tua untuk memobilisasi Ca dari tulang.
Gejala Klinis
Hardjopranjoto (1995) mengatakan gejala pertama yang terlihat pada penderita
adalah induk sapi mengalami sempoyongan waktu berjalan atau berdiri dan tidak
adanya koordinasi gerakan dan jatuh. Biasanya hewan itu selalu berusaha untuk
berdiri.
Gejala klinis yang ditemukan dilapangan yaitu sapi mulai ambruk kemarin tapi
masih dapat berdiri kembali dan pada hari berikutnya tidak dapat berdiri walaupun
sudah diinduksi dengan menggunakan elektrocoxer. Temperatur tubuh 39.60 C.
Temperatur tubuh ini sedikit naik, dimana suhu tubuh untuk sapi dewasa 38.5-39.2 0 C.
Ekspresi wajah sapi lesu dengan kepala terkulai di tanah dijulurkan ke arah atas kedua
kaki depan, mata terbuka lebar, pupil berdilatasi dan vasa injeksio yang kelihatan jelas
pada sklera mata.
Cuping hidung kering dan kusam, pada gusi atas dan bawah serta lidah terdapat
lepuh/ulkus seperti kejadian sariawan dengan mukosa mulut rose. Auskultasi terhadap
terhadap paru-paru didapatkan hasil bahwa suara vesikuler pada inspirasi lebih
dominan, keadaan ini berhubungan dengan kondisi sapi yang berbaring. Frekuensi
pernafasan juga naik drastis 3 kali lipat yaitu sebanyak 106 x/menit dimana pada
keadaan yang normal hanya 10-30 x/menit.
Pemeriksaan

Prognosa terhadap kasus hypocalcaemia yaitu fausta-infausta. Fausta jika


kejadian hypocalcaemia cepat ditangani (95% sembuh) dan infausta jika penanganan
yang lambat dan pengobatan pertama yang tidak menunjukkan perubahan ke arah
kondisi yang membaik
Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan terhadap sapi ini adalah melakukan
pemeriksaan darah. Darah dapat diambil lewat vena jugularis. Darah yang diambil
diperiksa terhadap kadar kalsium darah.
Pengobatan
Pengobatan dengan injeksi preparat-preparat Ca secara intravenous 500 cc,
dengan larutan calsium gluconate 20 %. Pengobatan dilakukan dengan cara
menyuntikkan garan kalsium. Sediaan kalsium yang dipakai antara lain: Larutan
kalsium khlorida 10% disuntikkan secara intra vena, pemberian yang terlalu banyak
atau terlalu cepat dapat mengakibatkan heart block. Larutan kalsium boroglukonat 2030% sebanyak 1:1 terhadap berat badan disuntikkan secara intra vena jugularis atau
vena mammaria selama 10-15 menit. Campuran berbagai sediaan kalsium seperti
Calphon Forte, Calfosal atau Calcitad-50
4. Ketosis (Acetonaemia)
Ketosis merupakan penyakit metabolisme pada sapi perah yang mempunyai produksi
susu tinggi dan selalu berada dalam kandang, terjadi beberapa hari sampai beberapa minggu
setelah kelahiran yang normal. Selain terjadi pada sapi juga terjadi pada kambing dan domba.
Penyakit ini ditandai dengan adanya penurunan berat badan induk yang terus menerus
disertai penurunan produksi susu secara drastis, hipoglikemia, ketonaemia, ketonuria, dan
penderita tidak dapat berdiri, selalu dalam keadaan berbaring.
Gejala Klinis
Gejala klinis adalah depresi umum, konstipasi dengan feses yang terbungkus
lemak, berat badan menurun, produksi susu cepat menurun, pergerakan yang
sempoyongan, tubuh menjadi lemah (paresis), mudah terangsang (sensitif), pernafasan
dangkal dan pada ketosis yang berat tercium bau aseton dari nafasnya. Pemeriksaan
darahmenunjukkan hipoglikemia dan pemeriksaan urine menunjukkan adanya
ketonurea, dan adanya eosinofil yang tinggi dalam darah. Ketosis dapat terjadi pada
induk sapi yang mengalami malnutrisi atau induk yang diberi pakan yang kaya protein
tetapi kurang karbohidrat.

5. Paraplegia Pasca Melahirkan


Paraplegia adalah suatu keadaaan pada induk hewan yang sedang bunting tua atau
beberapa hari sesudah partus tidak dapat berdiri, selalu dalam keadaan berbaring pada salah
satu sisi tubuhnya karena adanya kelemahan pada bagian belakang tubuh. Terutama terjadi
pada sapi perah, kuda dan babi jarang terjadi.
Etiologi penyakit
Adanya kelemahan badan akibat menerima beban terlalu berat misalnya pada
waktu bunting anak terlalu besar, anak kembar, atau induk yangmenderita hidrop
allantois. Dapat juga terjadi pada induk yang menderita ascities. Penyebab lain adalah
kandang yang terlalu sempit sehingga induk tidak dapat bergerak, kecapaian berdiri
kemudian tidak dapat berdiri setelah berbaring terlalu lama. Patah tulang femur,
sacrum, atau lumbal dan melesetnya persendian panggul, adanya osteomalasia karena
defisiensi vitamin D juga dapat menjadi penyebab.
Gejala
Secara tiba-tiba hewan yang baru saja melahirkan terlihat jatuh dan tidak dapat
berdiri. Gejala ini terlihat 2-3 hari selama partus. Keadaan umum dari tubuhnya tidak
terganggu.
6. Paralisa Pasca Melahirkan
Paralisa dapat terjadi pada salah satu atau kedua kaki belakang, disebabkan oleh
gangguan saraf obturatoria pada waktu bunting tua dan pada saat setelah melahirkan,
menyebabkan ketidakmampuan hewan untuk berdiri. Biasanya terjadi pada sapi perah
produksi susu tinggi tapi juga dapat terjadi pada kuda, domba, dan anjing. Luka saraf
obturatoria disebabkan oleh fraktura tulang pelvis, adanya pertumbuhan tulang (callus) dari
pelvis yang menderita fraktura atau adanya tumor pada tulang pelvis. Penyebab lain adalah
fraktura ligamentum pelvis atau distokia dimana fetus lama berada di jalan kelahiran
sehingga menekan saraf. Jika paralisa terjadi pada waktu yang lama akan diikuti atropi
muskularis pada bagian paha. Apabila masih akut, kondisi tubuh tidak terpengaruh, nafsu
makan, denyut jantung, dan pernafasan masih normal.
7. Eklamsia Puerpuralis
Suatu penyakit pada induk hewan terutama anjing dan sapi dengan ditandai adanya
kekejangan dari anggota badan yang terjadi setelah melahirkan atau pada permulaan
laktasi. Sebab-sebab tidak jelas, gejalanya akan terlihat lebih jelas bila induk penderita

disuntik dengan garam kalsium atau dengan bahan narkotik secara intravenous.
Gejala
Penyakit ini menyerupai gejala-gejala paresis puerpuralis, yaitu adanya
kehilangannafsu makan (anoreksia) disertai rasa sakit, tidak tenang, pernafasan lebih
cepat, kekejangan terus menerus atau dengan interval tertentu. Suhu tubuh mencapai
40-42C, suhu tubuh tinggi terasa pada alat kelamin dan ambingnya.

DAFTAR PUSTAKA
Girindra, A. 1988. Biokimia Patologi Hewan. PAU-IPB. Bogor.
Harjopranjoto, S. 1995. Ilmu Kemajiran Pada Ternak. Airlangga University Press. Surabaya.
Partodihardjo, S. 1980. Ilmu Reproduksi Ternak. Produksi Mutiara. Jakarta

Subronto. 2001. Ilmu Penyakit Ternak II. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Toelihere, M.R. 1981. Fisiologi Reproduksi Pada Ternak. Edisi pertama. Angkasa, Bandung.
Tooelihere, M. R. 1985. Inseminasi Buatan Pada Ternak. Penerbit Angkasa. Bandung