Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

BIOLOGI PERIKANAN
KONSERVASI SUMBERDAYA IKAN

OLEH
CHOIRUL ANWAR
CDC 114 017

JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
2016

KATA PENGANTAR

Puji beserta syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan kesehatan dan rahmat-Nya kepada penulis sehingga penulis bisa
menyelesaikan makalah yang berjudul Konservasi Sumberdaya Ikan tepat pada
waktunya. Shalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada Nabi besar
yakni Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada :
1. Ibu Tutwuri Handayani, S.Pi, M.Si, Selaku dosen mata kuliah biologi Perikanan
yang telah memberikan dan pengarahan atas penyusunan makalah ini.
2. Serta teman teman yang telah bekerjasama dalam penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari dalam penulisan makalah ini banyak terdapat kekurangan
karena penulis masih dalam tahap pembelajaran. Namun, penulis tetap berharap
agar makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca.
Kritik dan saran dari penulisan makalah ini sangat penulis harapkan untuk
perbaikan dan penyempurnaan pada makalah penulis berikutnya. Untuk itu
penulis ucapkan terima kasih.

Palangka Raya, 01 Januari 2016

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang..............................................................................................1
1.2. Rumusan Masalah.........................................................................................1
1.3. Tujuan............................................................................................................2
II. PEMBAHASAN
2.1. Faktor-faktor Penyebab Kerusakan Habitat Ikan..........................................3
2.3. Usaha-usaha Dalam Melestarikan Sumberdaya Perikanan...........................5
III. PENUTUP
3.1. Kesimpulan..................................................................................................11
3.2. Saran............................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................13

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia sebagai negara kepulauan (Archipelagic State) memiliki potensi


sumberdaya ikan yang sangat besar dan memiliki keaneragaman hayati yang
tinggi, dimana perairan Indonesia memiliki 27,2% dari seluruh spesies flora dan
fauna yang terdapat di dunia yang meliputi 12,0% mammalia, 23,8% amphibia,
31,8% reptilia, 44,7% ikan, 40,0% moluska dan 8,6% rumput laut.

Sumber daya ikan adalah potensi semua jenis ikan yaitu segala jenis
organisme yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di dalam
lingkungan perairan. Sumber daya ini penting baik untuk keseimbangan
ekosistem, sumber pangan, sumber obat, sumber mata pencaharian dan lainnya.
Potensi sumberdaya ikan meliputi : SDI pelagis besar, SDI pelagis kecil,
sumberdaya udang peneid dan krustacea lainya, SDI demersal, sumberdaya
molusca dan teripang, sumberdaya cumi-cumi sumberdaya benih alam komersial,
sumberdaya karang, sumberdaya ikan konsumsi perairan karang, sumberdaya ikan
hias, sumberdaya penyu laut, sumberdaya mammalia laut, dan sumberdaya
rumput laut.

Konservasi sumberdaya ikan dapat didefinisikan sebagai upaya perlindungan,


pelestarian, dan pemanfaatan sumberdaya ikan, termasuk ekosistem, jenis, dan
genetik untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungannya dengan
tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragaman
sumberdaya ikan. (KKJI, 2013)

Sayangnya, penangkapan lebih dan tidak terkontrol, kerusakan habitat, dan


gangguan lain dapat mengancam kelestarian biota perairan.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas yang menjadi rumusan masalah dalam


penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Apa faktor-faktor yang menyebabkan kerusakan habitat ikan?

2. Bagaimana usaha-usaha yang dilakukan dalam melestarikan sumberdaya


perikanan?

3. Bagaimana pengembangan sistem pengelolaan kawasan konservasi perikanan?


1.3. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menegtahui faktorfaktor yang menyebabkan kerusakan habitat ikan dan untuk mengetahui usahausaha dalam melestarikan sumberdaya perikanan berserta pengembangan dalam
sistem pengelolaan kawasan konservasi perikanan

II. PEMBAHASAN

2.1. Faktor-faktor Penyebab Kerusakan Habitat Ikan

Kehancuran keaneragaman hayati baru-baru ini terjadi karena perubahan


habitat yang disebabkan oleh keperluan-keperluan manusia, fragmentasi hutan,
dan

hilangnya

habitat.

Bertambahnya

populasi

dan

aktivitas

manusia

menyebabkan biota akutik juga terkena dampaknya termasuk ikan. Ikan sering
dijadikan indikator spesies untuk biodiversitas perairan karena ikan dapat hidup
di berbagai habitat perairan dengan berbagai kerentanannya. Ikan tawar dan
habitatnya lebih banyak hilang dibandingkan dengan ikan air laut.

Kerusakan habitat ikan air tawar dapat disebabkan oleh berbagai faktor, tetapi
dapat dibagi menjadi 6(enam) kategori (Reid dan Miller, 1989 ; Moyle dan Leidy
1992 ; Dudgeon, 2000) yaitu :

1. Perubahan habitat atau hilangnya habitat.

2. Overfishing atau eksploitasi komersial.

3. Introduksi spesies eksotik.

4. Populasi.

5. Kompetisi dengan manusia penggunaan air (pembuatan kanal pertanian,


kontruksi bendungan).

6. Pemanasan global atau global warning

Kondisi faktor-faktor tersebut dapat merusak habitat dan populasi ikan


(Dudgeon, 2000).

Pembalakan hutan di hulu dan daerah tangkapan air sungai dapat merusak
ekosistem sungai seperti yang terjadi di Indonesia dan Malaysia (Dudgeon, 2000).

Sumatra adalah salah satu pulau di Indonesia yang tidak lebih dari 40% sisa
hitanya dan saat ini masih termasuk yang mempunyai kerusakan tertinggi per
tahun lebih dari 2,5% (Supriatna, 2002). Sebagai contoh adalah Taman Nasional
Kerinci Seblat yang sudah banyak mengalami kerusakan hutan di kawasan daerah
tangkapan air. Kerinci Seblat merupakan sumber air untuk dua sungai besar di
Sumatra yaitu Sungai Musi dan Sungai Batang Hari. Deforestasi di kawasan
tangkapan air menyebabkan erosi tanah dan banjir yang masuk sungai, akibatnya
turbiditas air sangair tinggi. Turbiditas ini membatasi produktivitas primer sungai,
sehingga ikan berkurang karena kekurangan makanan. Erosi tanah pada sungan
Hitam (Blackwater river) yang bersifat asam dan berubah yang akibatnya ikan
endimik di tempat asam akan punah. Sedimentasi dari erosi tanah dapat
menyebabkan tempat peteluran ikan rusak, kerusakan makanan benthik dan
mengahalangi pencairan pakan oleh ikan-ikan tertentu yang memerlukan
turbiditas rendah.

Overfishing adalah sauatu fenomena umum pada ikan-ikan laut dan jarang
terjadi di perairan tawar kecuali di beberapa danau seperti di Danau Singkarak,
Sumatra Barat, terhadap ikan Bilis (Wargasamita, 1987). Introduksi ikan eksotik
menyebabkan penurunan keaneragaman ikan di danau-danau di Indonesia

(Whitten dkk, 1991). Biota eksotik termasuk ikan dapat merusak biota di danau
dan sungai. Sampai saat ini paling tidak adal 16 jenis eksotik ikan dari luar negeri
yang secara sengaja dimasukkan ke danau dan sungai-sungai Indonesia (Schuster
1950 ; Welcome, 1988 ; Kottelat, 1993). Sebagian ikan eksotik tersebut tidak
berdampak nyata terhadap ikan lokal. Contoh seperti ikan mujair bukan hanya
ditemukan di dekat peruamahan atau di dekat kampung, tetapi sudah menjalar ke
sungai-sungai yang jauh dari perkampungan, seperti yang ditemukan penulis di
Sungai Mamberamo Papua yang sangat jauh dari perkampungan bahkan hanya
sekitar 6000 penduduk dalam area hutan 4 juta ha. Begitu juga pada ikan lele
dumbo telah menyingkirkan dua jenis ikan lele yaang umum ditemukan di
Indonesia seperti Clarias batrachus dan Clarias melanoderma di sungai dan
danau-danau di Indonesia, Kerusakan lingkungan dan habitat ikan yang
disebabkan oleh introduksi ikan eksotik dapat berupa disintegrasi komunitas ikan
lokal, kerusakan genitik ikan lokal karena terjadi hibridisasim transfer penyakit
dan dampak sosial ekonami masyarakat sekitar perairan yang rusak (Welcome,
1998).

Manusia adalah perusak habitat dan merupakan kompetitor terbesar ikan dan
biota perairan. Dapaknya bukan saja berlangsung seperti overharvesting,
mengubah ekosisitem dengan pembuatan kanalm dam, persawahan, pengerukan
untuk perumahan dan mengalirkan buangan pabrik. Pembentukan bendungan
sungai yang besar juga dapat menghancur beberapa jenis ikan yang beruaya ke
hulu (Dudgeon, 2000) ; Mcallister el al, 2001). Sebagai contoh adalah bendungan
di Sungai Mekong yang menyebabkan ikan Pangasiodon gigas tidak dapat
memijah dan ikan kecil yang akan ke laut pun terhalang oleh bendungan
(Dudgeon, 2000). Pembuangan sampah pabrik pengolahan CPO di seberida, Riau,
Sumatra, Kalimantan dan ekspansi kelapa sawit merupakan ancaman terbesar bagi
rawa dan sungai di sekitarnya. Air buangan dari pabrik tersebut mengalir ke
sungai yang merupakan tempat air minum masyarakat dan juga ikan menjadi
sumber protein masyarakat. Sehingga ikan mulai menghilang di sungai yang
diakibatkan hal tersebut (Skarbovik, 1993).
5

2.3. Usaha-usaha Dalam Melestarikan Sumberdaya Perikanan

Penerbitkan Peraturan Menteri tentang Larangan Penangkapan Ikan di


Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) Negara Republik Indonesia seperti pada
WPP 714 atau lebih dikenal dengan perairan Laut Banda, Kepulauan Maluku yang
terhubung dengan Teluk Tolo di Sulawesi Tengah. Maksud utama dari penetapan
legislasi ini adalah untuk mengembalikan kelestarian sumberdaya ikan khususnya
tuna sirip kuning di perairan tersebut. Hal ini dikarenakan hasil penelitian
Balitbang KP kondisi perairan tersebut sudah mengalami overfishing, sehingga
diperlukan adanya upaya pelestarian kembali dengan cara menghentikan segala
jenis kegiatan penangkapan ikan, baik oleh nelayan asing maupun lokal.
Berdasarkan permasalahan tersebut, apakah benar kondisi sumberdaya ikan yang
sudah habis terkuras di suatu perairan akan pulih kembali apabila kegiatan
berburu ikan yang dilakukan oleh manusia dihentikan?

Tokoh Lingkungan Hidup (Naturalist) abad ke-18 asal Perancis yang bernama
Jean-Baptiste de Lamarck dan ahli Biologi abad ke-19 asal Inggris bernama
Thomas Henry Huxley sependapat bahwa ikan merupakan makhluk yang
memiliki fekunditas paling tinggi, sehingga akan sulit untuk punah apabila secara
terus menerus dieksploitasi. Nyatanya, kedua ilmuwan tersebut mengoverestimate keadaan tersebut, sehingga dampak yang terjadi adalah permintaan
akan kebutuhan ikan semakin meningkat dan eksploitasi besar-besaran semakin
menjadi-jadi hingga pada akhirnya keadaan sumberdaya ikan di suatu perairan
menjadi habis tak bersisa atau dikenal dengan sebutan depleted akibat tidak
terkendalinya kompetisi penangkapan ikan yang dilakukan selama bertahun-tahun
tanpa adanya regulasi yang jelas. Maka pada akhir tahun 1960 tragedy of the
commons menjadi topik di seluruh dunia. Permasalahan overfishing pernah
diperkenalkan oleh Fisheries Technical Committee FAO yang pertama pada tahun
1946 dan topik tersebut diangkat kembali di beberapa konferensi FAO yang
diselenggarakan di Vancouver (1973), Roma (1984) dan Reykjavik (2002).
Kemudian isu depletion diangkat kembali pada tahun 2002 pada pertemuan The
6

State of World Fisheries and Aquaculture yang membahas tentang kondisi


sumberdaya ikan yang menjadi komoditas penting di dunia telah mengalami
kondisi tangkap berlebih sehingga sulit untuk memulihkan kembali ke kondisi
lestari apabila tidak segera dilakukan upaya pelestarian.

Demi menjaga kelestarian sumberdaya ikan di alam, maka dikeluarkanlah


regulasi

penangkapan

ikan

seperti

membatasi

jumlah

tangkapan

yang

diperbolehkan, dan mengatur jadwal penangkapan ikan berdasarkan musim.


Selain itu, upaya lain yang bisa dilakukan adalah:

Mereduksi jumlah kematian ikan dengan mencegah hasil tangkapan sampingan


(bycatch reduction) atau bahkan melakukan moratorium izin berlayar apabila
para pelaku usaha sulit untuk diatur dan diawasi;

Melestarikan kembali lingkungan yang rusak melalui aksi konservasi dan ;

Meningkatkan faktor pertumbuhan dengan cara menyimpan bibit ikan sebagai


sumberdaya cadangan dan merehabilitasi habitat.

Pendekatan ekosistem merupakan langkah awal untuk membangun dan


merehabilitasi kembali sumberdaya perikanan yang rusak. Pemulihan kembali
biasanya diartikan sebagai upaya mengurangi kegiatan eksploitasi ikan secara
drastis dan menerapkan pengelolaan laut yang baik guna mencegah terjadinya
eksploitasi sumberdaya secara berlebihan yang berakibat akan hilangnya
sumberdaya ikan.

Selama masa pemulihan ekosistem perairan, penegakan hukum dan


pengawasan merupakan kunci penting. Harapannya, ketika upaya pemulihan telah
berhasil, hukum dan pengawasan yang telah dijalankan akan mampu

mengendalikan kegiatan penangkapan ikan yang dilakukan para nelayan.


Sehingga kasus overfishing tidak akan terjadi lagi.

Moratorium kegiatan penangkapan ikan seperti yang telah ditetapkan


Kementerian Kelautan dan Perikanan merupakan solusi langkah yang tepat.
Hasilnya, setelah moratorium izin kapal diberlakukan beberapa waktu yang lalu,
seperti pada perikanan di daerah Muncar, Banyuwangi telah mengalami surplus
30.000 ton (Kompas 12 Januari 2015). Artinya, upaya untuk memulihkan kembali
ekosistem yang rusak telah mulai menunjukkan hasil yang positif.

3.3. Upaya-Upaya Dalam Membentuk Kawasan Konservasi Perairan Untuk


Perikanan Berkelanjutan

Prinsip prinsip yang digunakan dalam pengembangan sistem pengelolaan


kawasan konservasi perairan adalah melalui keterpaduan, partisipasi, multi
stakeholders, dengan fokus pada pengelolaan sumberdaya ikan secara
berkelanjutan. Adapun kriteria yang digunakan untuk menetapkan kawasan
konservasi perairan, antara lain adalah: Memiliki keterwakilan ekosistem;
Memiliki kemampuan daya pulih; Memiliki jenis ikan langka, endemik dan/atau
terancam punah; Memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi; Merupakan
wilayah ruaya bagi biota perairan; Mengandung resiko pengulangan; Kondisi
biota dan fisik lingkungan perairannya masih alami; Mengandung aspek sosial,
ekonomi regional dan pragmatik serta potensi biofisik.

Naskah kebijakan yang dikeluarkan oleh DKP jelas menyebutkan tentang


status perikanan tangkap Indonesia. Dalam kondisi stok perikanan tangkap yang
sudah menipis dan hampir kolaps, tidak saja di Indonesia tetapi juga di dunia,
maka usaha terus-menerus untuk mengembangkan perikanan tangkap secara tidak
terkontrol dan tidak terkelola secara baik jelas merupakan kebijakan yang kurang
tepat. Sebagai gantinya, kita memerlukan suatu kebijakan yang betul-betul sega

untuk memulihkan stok sumberdaya perikanan (Mous et al 2005). Naskah


kebijakan

tersebut

menyarankan

untuk

menciptakan,

membangun,

dan

meningkatkan kesadaran dalam usaha untuk merubah persepsi dan pemikiran


masyarakat bahwa sumberdaya laut kita, terutama perikanan, tidak akan pernah
habis (PCI, 2001a). Alternatif pengelolaan perikanan sebagai pelengkap dari
pendekatan MSY yang banyak diterapkan akhir-akhir ini adalah pengelolaan
berbasis ekosistem melalui pembentukan suatu jejaring KKP (Gell & Roberts,
2002; National Research Council, 2001; Roberts & Hawkins, 2000; Ward,
Heinemann & Evans, 2001). Definisi IUCN (International Union for the
Conservation of Nature and Natural Resources) tentang KKP adalah suatu
wilayah perairan pasang surut bersama badan air di bawahnya dan terkait dengan
flora, fauna, dan penampakan sejarah serta budaya, dilindungi secara hukum atau
cara lain yang efektif, untuk melindungi sebagian atau seluruh lingkungan di
sekitarnya. Selain fungsinya sebagai alat untuk konservasi keanekaragaman
hayati, KKP juga banyak dinyatakan sebagai alat pengelolaan perikanan tangkap
yang diintegrasikan kedalam perencanaan pengelolaan pesisir terpadu (Gell &
Roberts, 2002; National Research Council, 2001; Roberts & Hawkins, 2000;
Ward, Heinemann & Evans, 2001).

Sebagai sarana pengelolaan perikanan, kawasan konservasi laut memiliki dua


fungsi: (1) Limpahan ikan komoditi pasar dari wilayah perlindungan ke dalam
wilayah penangkapan. (2) Ekspor telur dan larva ikan dari wilayah perlindungan
ke wilayah penangkapan yang dapat meningkatkan kuantitas penangkapan di
wilayah penangkapan. Selain itu, sebagai sarana pengelolaan, kawasan konservasi
laut memberikan manfaat tidak langsung berikut: (1) melindungi habitat yang
sangat penting bagi perkembangbiakan jenis ikan komersial, dan (2) memberikan
tempat berlindung ikan yang tidak dapat diberikan oleh sarana pengelolaan
lainnya sehingga dapat mencegah penurunan secara drastis persediaan ikan
komersial. Kawasan konservasi perairan yang terlindungi dengan baik, secara
ekologis akan mengakibatkan beberapa hal berikut terkait dengan perikanan: (1)
habitat yang lebih cocok dan tidak terganggu untuk pemijahan induk; (2)
9

meningkatnya jumlah stok induk; (3) ukuran (body size) dari stok induk yang
lebih besar; dan (4) larva dan recruit hasil reproduksi lebih banyak. Sebagai
akibatnya, terjadi kepastian dankeberhasilan pemijahan pada wilayah kawasan
konservasi. Keberhasilan pemijahan di dalam wilayah Kawasan Konservasi
perairan dibuktikan memberikan dampak langsung pada perbaikan stok
sumberdaya perikanan di luar wilayah kawasan konservasi laut (Gell & Robert,
2002; PISCO, 2002). Peran Kawasan Konservasi perairan adalah melalui: (1)
ekspor telur dan larva ke luar wilayah KKP yang menjadi wilayah Fishing Ground
nelayan; (2) kelompok recruit; (3) penambahan stok yang siap ambil di dalam
wilayah penangkapan. Indikator keberhasilan yang bisa dilihat adalah peningkatan
hasil tangkapan nelayan di luar kawasan konservasi setelah beberapa saat setelah
dilakukan penerapan KKP secara konsisten. Seberapa jauh efektivitas Kawasan
Konservasi Perairan mampu memenuhi fungsi (peran) tersebut akan sangat
tergantung pada pembatasan yang diterapkan pada kegiatan perikanan dan jenis
pemanfaatan lainnya, model, bentuk maupun posisi/letak wilayahnya, khususnya
ukuran zona/wilayah yang dijadikan perlindungan (no take area) dibandingkan
dengan zona pemanfaatan (penangkapan).

Sebagai langkah tindaklanjut dari pencadangan kawasan konservasi perairan


yang dilakukan, maka dilakukan upaya pengelolaan berupa: (1) penyusunan
rencana pengelolaan kawasan, (2) pembentukan kelembagaan pengelola kawasan
dan (3) pendanaan kawasan konservasi perairan. Langkah-langkah tersebut
sebagai perwujudan dalam rangka menjamin ketersediaan sumberdaya ikan bagi
generasi kini dan mendatang. Dalam menyusun management plan, diupayakan
telah

ada

rekomendasiupaya

pengelolaan

kawasan

yang

meliputi:

(a)

Perlindungan habitat dan populasi biota perairan; (b) Rehabilitasi habitat dan
populasi biota perairan; (c) Penelitian dan Pengembangan; (d) Pemanfaatan
sumberdaya ikan dan jasa lingkungan; (e) Pengembangan sosial ekonomi
masyarakat; (f) Pengawasan dan pengendalian; (g) Monitoring dan Evaluasi; serta
(h) Pengembangan Program kerjasama / Jejaring Konservasi. Selain itu, bentuk

10

kelembagaan dan pengelolaanya juga perlu direkomendasikan dalam rencana


pengelolaan.

Pengelolaan kawasan konservasi perairan tidak terlepas dari pengelolaan


sumberdaya ikan secara keseluruhan. Konservasi sumberdaya ikan adalah upaya
melindungi melestarikan dan memanfaatkan sumberdaya ikan untuk menjamin
keberadaan, ketersediaan dan kesinambungan jenis ikan bagi generasi sekarang
maupun yang akan datang. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang
Perikanan antara lain mengatur tentang konservasi sumber daya ikan yang
dilakukan melalui konservasi ekosistem, konservasi jenis dan konservasi genetik.
Upaya konservasi sumberdaya ikan pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dengan
pengelolaan sumberdaya ikan dan lingkungannya secara keseluruhan, mengingat
karakteristik sumber daya ikan dan lingkungannya mempunyai sensitivitas yang
tinggi terhadap pengaruh iklim global maupun iklim musiman serta aspek-aspek
keterkaitan (connectivity) ekosistem antarwilayah perairan baik lokal, regional.
maupun global, yang kemungkinan melewati batas-batas kedaulatan suatu negara,
maka dalam upaya pengembangan dan pengelolaan konservasi sumber daya ikan
harus berdasarkan prinsip kehati-hatian dengan dukungan bukti-bukti ilmiah.
Dalam rangka konservasi sumberdaya ikan pemerintah Republik Indonesia telah
mengundangkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi
Sumberdaya Ikan. Peraturan Pemerintah tentang Konservasi Sumber Daya Ikan
mengatur lebih rinci tentang upaya pengelolaan konservasi ekosistem atau habitat
ikan termasuk didalamnya pengembangan Kawasan Konservasi Perairan sebagai
bagian dari konservasi ekosistem. Selain itu Peraturan Pemerintah ini juga
memuat aturan-aturan untuk menjamin pemanfaatan berkelanjutan dari jenis-jenis
ikan serta terpeliharanya keanekaragaman genetik ikan. Terkait dengan upaya
konservasi sumberdaya ikan, secara jelas dalam peraturan pemerintah nomor 60
tahun 2007 telah menyebutkan bahwa management authority untuk pengelolaan
sumberdaya ikan adalah departemen/kementerian yang bertanggungjawab di
bidang perikanan. Kedepan, melalui Peraturan Pemerintah ini diharapkan segala

11

urusan mengenai konservasi sumberdaya ikan termasuk berbagai ekosistem yang


terkait di dalamnya dapat terwadahi.

III. PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Kehancuran keaneragaman hayati baru-baru ini terjadi karena perubahan


habitat yang disebabkan oleh keperluan-keperluan manusia, fragmentasi hutan,
dan hilangnya habitat. Kerusakan habitat ikan air tawar dapat disebabkan oleh
berbagai faktor seperti ; perubahan habitat atau hilangnya habitat, overfishing atau
eksploitasi komersial, introduksi spesies eksotik, populasi, kompetisi dengan
manusia penggunaan air (pembuatan kanal pertanian, kontruksi bendungan), dan
pemanasan global atau global warning.

Demi menjaga kelestarian sumberdaya ikan di alam, maka dikeluarkanlah


regulasi atau upaya dalam melestaraikan sumberdaya ikan seperti membatasi
jumlah tangkapan yang diperbolehkan, dan mengatur jadwal penangkapan ikan
berdasarkan musim. Selain itu, upaya lain yang bisa dilakukan seperti ; Mereduksi
jumlah kematian ikan dengan mencegah hasil tangkapan sampingan (bycatch
12

reduction) atau bahkan melakukan moratorium izin berlayar apabila para pelaku
usaha sulit untuk diatur dan diawasi, melestarikan kembali lingkungan yang rusak
melalui aksi konservasi, dan meningkatkan faktor pertumbuhan dengan cara
menyimpan bibit ikan sebagai sumberdaya cadangan dan merehabilitasi habitat.
Adapun pengembangan kawasan konservasi perikanan menggunakan prinsipprinsip keterpaduan, partisipasi, multi stakeholders, dengan fokus pada
pengelolaan sumberdaya ikan secara berkelanjutan.
3.2. Saran

Dengan dibuatnya makalah Biologi Perikanan yang berjudul Konservasi


Sumberdaya Ikan. Saya berharap dengan dibuatnya makalah ini, dapat lebih
memahami dan mengetahui tentang faktor dalam penentapan konservasi
sumberdaya ikan maupun upaya-upaya yang dilakukan dalam mengelola
sumberdaya perikanan yang berkelanjutan

Oleh sebab itu, saya selaku penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran
dari Dosen mata kuliah Biologi Perikanan serta teman-teman yang bersifat
membangun guna untuk kesempurnaan makalah ini dan dapat memberi manfaat
bagi para pembaca

13

14

DAFTAR PUSTAKA

Sumitro, Sutiman B. 2015. Konservasi Biodiversitas Raja Ampat. Papua : FPPK


UNIPA. Hal 1.
Mallawa, Achmar. 2006. Pengelolaan Sumberdaya Ikan Yang Berkelanjutan Yang
Berbasis Masyarakat. Disajikan pada lokakarya agenda penelitian
program COREMAP II Kabupaten Selayar.
Salim, Amil. 2008. Keaneragaman Ikan dan Pemanfaatan Lestari. Jakarta :
Yayasan Obor Indonesia. Hal 394-395.
Mulyana, Yaya dan Dermawan, Agus. 2008. Konservasi Kawasan Perairan
Indonesia Bagi Masa Depan Dunia. Jakarta : Direktur Jenderal Kelautan,
Pesisir dan Pulau-pulau Kecil
Baruno. 2015. Perlunya Upaya Memulihkan Kembali Ekosistem Demi Menjaga
Kelestarian Laut. www.pusluh.kkp.go.id.

15

16