Anda di halaman 1dari 3

Prinsip-prinsip Ekologi pada Kejadian ISPA di Daerah Padang Bulan Medan

Secara umum, Pengertian Ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan saling
ketergantungan dan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungan tak hidup
dalam satu ekosistem. Istilah Ekologi berasal dari kata yunani yaitu Oikos yang berarti habitat,
dan logos yang berarti ilmu. Secara harfiah, Pengertian Ekologi adalah ilmu mengenai interaksi
makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem merupakan suatu sistem yang terjadi
hubungan (interaksi) dengan saling ketergantungan antara komponen-komponen di dalamnya,
baik makhluk hidup maupun tidak hidup.
Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup
maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Istilah ekologi pertama kali
dikemukakan oleh Ernst Haeckel (1834 - 1914).Dalam ekologi, makhluk hidup dipelajari sebagai
kesatuan atau sistem dengan lingkungannya.
Menurut Otto Soemarwoto, pengertian ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbal
balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya
Hubungan keterkaitan dan ketergantungan antara seluruh komponen ekosistem harus
dipertahankan dalam kondisi yang stabil dan seimbang (homeostatis). Perubahan terhadap salah
satu komponen akan memengaruhi komponen lainnya. Homeostatis adalah kecenderungan
sistem biologi untuk menahan perubahan dan selalu berada dalam keseimbangan.Ekosistem
merupakan kumpulan dari bermacam-macam dari alam tersebut, contoh hewan, tumbuhan,
lingkungan, dan yang terakhir manusia.
Kejadian ISPA yang meningkat di daerah Padang Bulan Medan di karenakan oleh
bencana erupsi gunung sinabung yang terjadi di Tanah Karo menyebabkan ketidakstabilan antara
manusia dan lingkungannya.Akibat erupsi yang terjadi abu vulkanik yang disemburkan oleh
erupsi gunung Sinabung terbang terbawa oleh angin ke berbagai daerah termaksud kota
Medan .Meningkat volume debu abu vulkanik menyebabkan meningkatnya penderita ISPA di
Puskesmas Padang Bulan Medan.
Beberapa komposisi kimia yang dihasilkan erupsi tersebut, seperti karbon dioksida
(CO2), sulfur oksida (SO2), hydrogen dan helium (He), yang pada konsentrasi tertentu

menyebabkan sakit kepala, pusing, diare, bronchitis (radang saluran nafas), bronchopneumonia
(radang jaringan paru),iritasi selaput lendir saluran pernafasan. Gejala pernapasan akut yang
sering dilaporkan oleh masyarakat setelah gunung mengeluarkan abu adalah iritasi selaput lender
dengan keluhan bersin, pilek dan beringus, iritasi dan sakit tenggorokan (kadang disertai batuk
kering), batuk dahak, mengi, sesak napas, dan iritasi pada jalur pernapasan. Gangguan ini akan
lebih berat bila terkena pada orang atau anak yang sebelumnya mempunyai riwayat alergi saluran
napas dan abu vulkanik yang terhirup dapat merangsang peradangan di paru-paru serta luka di
saluran napas.

Upaya Pengurangan Dampak


Upaya untuk menghindari dampak negatif abu negatif terhadap lingkungan bisa
dikatakan sangat terbatas dan yang dapat dilakukan adalah penanganan pascabencana untuk
meminimalkan dampak negative susulan yang mungkin ditimbulkan. Bagi masyarakat, untuk
menghindari dampak negatif abu vulkanik terhadap kesehatan, maka paparan abu vulkanik
tersebut harus dicegah dengan berada sejauh mungkin dengan lokasi letusan. Mereka harus
menghentikan konsumsi air dari sumber air yang telah tercemar. Selain itu aktivitas di luar perlu
dikurangi, rumah harus dalam keadaan tertutup untuk mencegah masuknya abu dan gas ke dalam
rumah. Penggunaan masker adalah hal mutlak dilakukan.

Sumber :
Hutagalung RA. 2010. Ekologi Dasar. Jakarta. Hlm: 20-27.
ITB. 2004. Ekosistem sebagai lingkungan hidup manusia. Diakses pada 30 Maret 2016