Anda di halaman 1dari 35

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Pemakaian tenaga listrik saat ini telah menjadi kebutuhan yang sangat

penting bagi manusia. Sarana dan prasarana yang menggunakan tenaga listrik
sudah menjadi andalan dalam pelaksanaan proses kerja baik dirumah tangga
sampai dengan di industri. Dalam dunia pembangkitan generator sinkron
merupakan salah satu mesin listrik yang paling banyak dipakai.Karena mesin ini
tidak memiliki slip seperti mesin AC lainnya.Generator sinkron (sering disebut
alternator) adalah mesin sinkron yang digunakan untuk mengubah daya mekanik
menjadi daya listrik. Generator sinkron dapat berupa generator sinkron tiga fasa
atau generator sinkron AC satu fasa tergantung dari kebutuhan
Generator sinkron sering kita jumpai pada pusat-pusat pembangkit tenaga
listrik (dengan kapasitas yang relatif besar). Misalnya, pada PLTA, PLTU, PLTD
dan lain-lain. Selain generator dengan kapasitas besar, kita mengenal juga
generator dengan kapasitas yang relatif kecil, misalnya generator yang digunakan
untuk penerangan darurat yang sering disebut Generator Set atau generator
cadangan.
1.2

Maksud dan Tujuan


Maksud dilaksanakannya praktikum ini adalah sebagai salah satu syarat

untuk memenuhi seluruh praktikum jurusan Teknik Elektro di Institut Teknologi


Nasional (ITENAS) Bandung. Sedangkan tujuannya antara lain:
1. Mempelajari cara kerja genarator sinkron.
2. Mempelajari cara pengendalian operasinya generator sinkron.
1.3

Pembatasan Masalah
Agar pembahasan tidak meluas dan tidak menimbulkan penyimpangan,

maka penulis membatasi permasalahan pada prinsip kerja dari generator sinkron
dan karakteristiknya.Selain itu dapat memahami cara pengoperasian generator
sinkron dalam keadaan beban nol

1.4

Teknik Pengumpulan Data


Dalam penyusunan laporan praktikum Dasar Energi Elektrik ini

menggunakan beberapa metode pengumpulan data, diantaranya sebagai berikut :


a. Metode Observasi
Pengumpulan data dengan mengamati secara langsung objek yang diteliti.
b. Metode Dokumen
Informasi di peroleh lewat fakta yang tersimpan dalan bentuk buku atau
modul, hasil diskusi , internet dan sebagainya.
1.5

Sistematika Pembahasan

BAB I Pendahuluan
Bab ini merupakan pendahuluan yang berisikan tentang latar belakang,
maksud dan tujuan, batasan masalah, teknik pengumpulan data, dan
sistematika pembahasan.
BAB II Teori Dasar
Bab ini menguraikan teori tentang generator sinkron.
BAB III Landasan Teori
Bab ini membahas alat-alat yang digunakan dalam praktikum, prosedur
percobaan, data hasil praktikum, dan pengolahan data.
BAB IV Analisa dan Tugas Akhir
Bab ini menguraikan proses pengambilan data hingga didapat hasil yang
ingin dicapai. Menguraikan tentang analisa dari hasil percobaan dan
pengolahan data yang dilakukan..
BAB IV Kesimpulan dan Saran
Bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran dari hasil analisis data-data
yang telah diperoleh.

BAB II
TEORI DASAR

2.1

Pengertian Generator Sinkron


Generator sinkron (alternator) merupakan jenis mesin listrik yang

berfungsi untuk menghasilkan tegangan bolak-balik dengan cara mengubah energi


mekanis menjadi energi listrik. Energi mekanis diperoleh dari putaran rotor yang
digerakkan oleh penggerak mula (prime mover), sedangkan energi listrik
diperoleh dari proses induksi elektromagnetik yang terjadi pada kumparan stator
dan rotornya.
Generator sinkron dengan definisi sinkronnya, mempunyai makna bahwa
frekuensi listrik yang dihasilkannya sinkron dengan putaran mekanis generator
tersebut. Rotor generator sinkron yang diputar dengan penggerak mula (prime
mover) yang terdiri dari belitan medan dengan suplai arus searah akan
menghasilkan medan magnet putar dengan kecepatan dan arah putar yang sama
dengan putaran rotor tersebut. Hubungan antara medan magnet pada mesin
dengan frekuensi listrik pada stator ditunjukan pada persamaan dibawah ini:

ns
120 o

f = p.
Keterangan : p = jumlah kutub generator
= putaran n s generator
f
2.2

= frekuensi tegangan keluar

Konstruksi Generator Sinkron


Generator sinkron mengkonversi energi mekanik menjadi energi listrik

bolak-balik secara elektromagnetik. Energi mekanik berasal dari penggerak mula


yang memutar rotor, sedangkan energi listrik dihasilkan dari proses induksi
elektromagnetik yang terjadi pada kumparan-kumparan stator.
Pada Gambar 2.1 dapat dilihat bentuk penampang sederhana dari sebuah
generator sinkron.

Gambar 2.1 Konstruksi Generator Sinkron

Secara umum generator sinkron terdiri atas stator, rotor, dan celah
udara. Stator merupakan bagian dari generator sinkron yang diam sedangkan rotor
adalah bagian yang berputar dimana diletakkan kumparan medan yang disuplai
oleh arus searah dari Eksiter. Celah udara adalah ruang antara stator dan rotor.
2.2.1. Stator
Stator terdiri dari beberapa komponen utama, yaitu :
a. Rangka Stator
Rangka stator merupakan rumah (kerangka) yang menyangga inti jangkar
generator.
b. Inti Stator
Inti stator terbuat dari laminasi-laminasi baja campuran atau besi magnetik khusus
yang terpasang ke rangka stator.
c. Alur (slot) dan Gigi
Alur dan gigi merupakan tempat meletakkan kumparan stator. Ada 3 (tiga) bentuk
alur stator yaitu terbuka, setengah terbuka, dan tertutup.
d. Kumparan Stator (Kumparan Jangkar)
Kumparan jangkar biasanya terbuat dari tembaga. Kumparan ini merupakan
tempat timbulnya ggl induksi.
2.2.2. Rotor
Rotor terdiri dari tiga komponen utama yaitu :
a. Slip Ring
Slip ring merupakan cincin logam yang melingkari poros rotor tetapi dipisahkan
oleh isolasi tertentu. Terminal kumparan rotor dipasangkan ke slip ring ini
kemudian dihubungkan ke sumber arus searah melalui sikat (brush) yang letaknya
menempel pada slip ring.
b. Kumparan Rotor (kumparan medan)

Kumparan medan merupakan unsur yang memegang peranan utama dalam


menghasilkan medan magnet. Kumparan ini mendapat arus searah dari sumber
eksitasi tertentu.
c. Poros Rotor
Poros rotor merupakan tempat meletakkan kumparan medan, dimana pada poros
rotor tersebut telah terbentuk slot-slot secara paralel terhadap poros rotor.
Rotor pada generator sinkron pada dasarnya adalah sebuah elektromagnet
yang besar. Kutub medan magnet rotor dapat berupa salient pole (kutub menonjol)
dan non salient pole (kutub silinder).
a. Jenis Kutub Menonjol (Salient Pole)
Pada jenis salient pole, kutub magnet menonjol keluar dari permukaan rotor.
Belitan-belitan medannya dihubung seri. Ketika belitan medan ini disuplai oleh
Eksiter, maka kutub yang berdekatan akan membentuk kutub berlawanan. Bentuk
kutub menonjol generator sinkron tampak seperti pada Gambar 2.3 berikut :
Gambar 2.2
Rotor Kutub
Menonjol

Rotor

kutub

menonjol
umumnya
digunakan
pada
generator
sinkron
dengan
kecepatan
putar

rendah

dan sedang (120-400 rpm). Generator sinkron tipe seperti ini biasanya dikopel
oleh mesin diesel atau turbin air pada sistem pembangkit listrik. Rotor kutub
menonjol baik digunakan untuk putaran rendah dan sedang karena:

Kutub menonjol akan mengalami rugi-rugi angin yang besar dan bersuara bising
jika diputar dengan kecepatan tinggi.
Konstruksi kutub menonjol tidak cukup kuat untuk menahan tekanan mekanis
apabila diputar dengan kecepatan tinggi.
b. Jenis Kutub Silinder (Non Salient Pole)
Pada jenis non salient pole, konstruksi kutub magnet rata dengan permukaan rotor.
Jenis rotor ini terbuat dari baja tempa halus yang berbentuk silinder yang
mempunyai alur-alur terbuat di sisi luarnya. Belitan-belitan medan dipasang pada
alur-alur di sisi luarnya dan terhubung seri yang dienerjais oleh Eksiter. Gambaran
bentuk kutub silinder generator sinkron tampak seperti pada Gambar 2.4 berikut :
Gambar 2.3 Rotor
Kutub Silinder

Rotor

silinder

umumnya
digunakan

pada

generator sinkron
dengan kecepatan
putar tinggi (1500
atau 3000 rpm)
seperti

yang

terdapat

pada

pembangkit listrik
tenaga uap. Rotor
silinder baik digunakan pada kecepatan putar tinggi karena :
- Konstruksinya memiliki kekuatan mekanik yang baik pada kecepatan putar
tinggi
- Distribusi di sekeliling rotor mendekati bentuk gelombang sinus sehingga lebih
baik dari kutub menonjol.
2.3

Prinsip Kerja Generator Sinkron


7

Adapun prinsip kerja dari generator sinkron secara umum adalah sebagai
berikut :
1. Kumparan medan yang terdapat pada rotor dihubungkan dengan sumber
eksitasi tertentu yang akan mensuplai arus searah terhadap kumparan medan.
Dengan adanya arus searah yang mengalir melalui kumparan medan maka
akan menimbulkan fluks yang besarnya terhadap waktu adalah tetap.
2. Penggerak mula (Prime Mover) yang sudah terkopel dengan rotor segera
dioperasikan sehingga rotor akan berputar pada kecepatan nominalnya.
3. Perputaran rotor tersebut sekaligus akan memutar medan magnet yang
dihasilkan oleh kumparan medan. Medan putar yang dihasilkan pada rotor,
akan diinduksikan pada kumparan jangkar sehingga pada kumparan jangkar
yang terletak di stator akan dihasilkan fluks magnetik yang berubah-ubah
besarnya terhadap waktu. Adanya perubahan fluks magnetik yang melingkupi
suatu kumparan akan menimbulkan ggl induksi pada ujung-ujung kumparan
tersebut.
Untuk generator sinkron tiga 120 o phasa,

digunakan

tiga

kumparan

jangkar yang ditempatkan di stator yang disusun dalam bentuk tertentu, sehingga
susunan kumparan jangkar yang sedemikian akan membangkitkan tegangan
induksi pada ketiga kumparan jangkar yang besarnya sama tapi berbeda fasa satu
sama lain.Setelah itu ketiga terminal kumparan jangkar siap dioperasikan untuk
menghasilkan energi listrik.
2.4

Kecepatan Putar Generator Sinkron


Frekuensi elektris yang dihasilkan generator sinkron adalah sinkron

dengan kecepatan putar generator. Rotor generator sinkron terdiri atas rangkaian
elektromagnet dengan suplai arus DC. Medan magnet rotor bergerak pada
arahputaran rotor. Hubungan antara kecepatan putar medan magnet pada mesin
dengan frekuensi elektrik pada stator adalah:

yang mana:
fe = frekuensi listrik (Hz)
8

nr = kecepatan putar rotor = kecepatan medan magnet (rpm)


p = jumlah kutub magnet
Oleh karena rotor berputar pada kecepatan yang sama dengan medan
magnet, persamaan diatas juga menunjukkan hubungan antara kecepatan putar
rotor dengan frekuensi listrik yang dihasilkan. Agar daya listrik dibangkitkan tetap
pada frekuensi 50Hz atau 60 Hz, maka generator harus berputar pada kecepatan
tetapdengan jumlah kutub mesin yang telah ditentukan. Sebagai contoh untuk
membangkitkan 60 Hz pada mesin dua kutub, rotor arus berputar dengan
kecepatan 3600 rpm. Untuk membangkitkan daya 50 Hz pada mesin empat kutub,
rotor harus berputar pada 1500 rpm.
2.5

Generator Sinkron Tanpa Beban


Dengan memutar alternator pada kecepatan sinkron dan rotor diberi arus

medan (IF), maka tegangan (Ea ) akan terinduksi pada kumparan jangkar stator.
Bentuk hubungannya diperlihatkan pada persamaan berikut.
Ea = c.n.
yang mana: c = konstanta mesin
n = putaran sinkron
= fluks yang dihasilkan oleh IF
Dalam keadaan tanpa beban arus jangkar tidak mengalir pada stator, karenanya
tidak terdapat pengaruh reaksi jangkar. Fluks hanya dihasilkan oleh arus medan
(IF). Apabila arus medan (IF) diubah-ubah harganya, akan diperoleh harga Ea
seperti yang terlihat pada kurva sebagai berikut

gambar 2.4 Karakteristik tanpa beban generator sinkron


2.6

Generator Sinkron Berbeban


Dalam keadaan berbeban arus jangkar akan mengalir dan mengakibatkan

terjadinya reaksi jangkar. Reaksi jangkar besifat reaktif karena itu dinyatakan
sebagai reaktansi, dan disebut reaktansi magnetisasi (Xm ). Reaktansi pemagnet
(Xm ) ini bersama-sama dengan reaktansi fluks bocor (Xa ) dikenal sebagai
reaktansi sinkron (Xs) . Persamaan tegangan pada generator adalah:
Ea = V + I.Ra + j I.Xs
Xs = Xm + Xa
yang mana:

Ea = tegangan induksi pada jangkar


V = tegangan terminal output
Ra = resistansi jangkar
Xs = reaktansi sinkron

Karakteristik pembebanan dan diagram vektor dari alternator berbeban induktif


(faktor kerja terbelakang) dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Gambar 2.5 Karakteristik alternator berbeban induktif


2.7

Rangkaian Ekivalen Generator Sinkron


Tegangan induksi Ea dibangkitkan pada fasa generator sinkron. Tegangan

ini biasanya tidak sama dengan tegangan yang muncul pada terminal generator.

10

Tegangan induksi sama dengan tegangan output terminal hanya ketika tidak ada
arus jangkar yang mengalir pada mesin. Beberapa faktor yang menyebabkan
perbedaan antara tegangan induksi dengan tegangan terminal adalah:
1. Distorsi medan magnet pada celah udara oleh mengalirnya arus pada
stator, disebut reaksi jangkar.
2. Induktansi sendiri kumparan jangkar.
3. Resistansi kumparan jangkar.
4. Efek permukaan rotor kutub sepatu.
Rangkaian ekuivalen generator sinkron perfasa ditunjukkan pada gambar di
bawah ini :

Gambar 2.6 Rangkaian ekuivalen generator sinkron perfasa

11

BAB III
LANDASAN PRAKTIKUM
3.1

3.2

Alat-Alat Praktikum
1. Generator Sinkron

1 unit

2. Amperemeter

1 unit

3. Variac

1 unit

4. Beban-beban listrik

1 unit

5. Voltmeter

2 buah

6. Tachometer

1 buah

7. Jumper

secukupnya

Prosedur Percobaan

3.2.1 Percobaan beban nol


1. Menyiapkan alat-alat yang akan digunakan, memastikan alat yang
digunakan dalam keadaan baik.
2. Membuat rangkaian seperti gambar 3.1 dalam keadaan sumber mati

jangkar

R
S
T
N

G
V

Eksitasi

Eksitasi

Gambar 3.1 Rangkaian percobaan beban nol

3. Meminta persetujuan asisten


4. Setelah mendapat persetujuan asisten, menyalakan sumber
12

5. Menaikkan tegangan eksitasi


6. Kemudian menaikkan tegangan pada jangkar secara bertahap
7. Setelah motor berputar, menunggu hingga putaran motor hingga 1500
8.

rpm (gunakan tachometer)


Mengatur besar arus medan (If) dari nol hingga 2A secara bertahap

(pertambahan bertahap setiap 0.5A)


9. Mengukur setiap tegangan output dan putaran motor (n) (untuk setiap
pertambahan 0.5A)
10. Menulis data hasil pengamatan pada tabel
11. Setelah mencatat hasil pengamatan pada table, menurunkan perputaran
motor dengan menurunkan teganan jangkar secara bertahap hingga
berhenti
12. Kemudian mematikan tegangan eksitasi
13. Selesai praktikum, mencabut rangkaian dan membereskan alat-alat
praktikum kembali
3.2.2 Percobaan berbeban
1. Menyiapkan alat-alat yang akan digunakan, memastikan alat yang
digunakan dalam keadaan baik.
2. Membuat rangkaian seperti gambar 3.1 dalam keadaan sumber mati

Gambar 3.2 Rangkaian percobaan berbeban

3.
4.
5.
6.

Meminta persetujuan asisten


Setelah mendapat persetujuan asisten, menyalakan sumber
Menaikkan tegangan eksitasi
Kemudian menaikkan tegangan pada jangkar secara bertahap

13

7. Setelah motor berputar, menunggu hingga putaran motor hingga 1500


8.

rpm (gunakan tachometer)


Mengatur besar arus medan (If) dari nol hingga 2A secara bertahap

(pertambahan bertahap setiap 0.5A)


9. Mengukur setiap tegangan output dan putaran motor (n) (untuk setiap
pertambahan 0.5A)
10. Menulis data hasil pengamatan pada tabel
11. Setelah mencatat hasil pengamatan pada table, menurunkan perputaran
motor dengan menurunkan teganan jangkar secara bertahap hingga
berhenti
12. Kemudian mematikan tegangan eksitasi
13. Selesai praktikum, mencabut rangkaian dan membereskan alat-alat
praktikum kembali
3.3 Data dan Hasil Pengamatan Praktikum
3.3.1

Name plate
Tabel 3.1 Name Plate Generator Sinkron

Daya

3 KVA

Tegangan / If

220 / 380 . 14 / 8

Phase

3 Error: Reference
source not found

Frekuensi

50 Hz

Exitasi / If

40 V / 4 A

RPM

1500 RPM

Cos Error: Reference


source not found

0,8

Tabel 3.2 Name Plate Motor DC

Daya

3 HP

Tegangan / If

180 V / 10 A

Exitasi

200 V / 2 A
14

Frekuensi

50 Hz

RPM

1500 RPM

Cos Error: Reference


source not found

0,8

3.3.2 Data Percobaan Beban Nol


Tabel 3.3. Data pengamatan beban nol

No
1
2
3
4
5

I motor (A)
0,8
0,8
0,8
0,8
0,8

n (rpm)
1500
1478
1455
1442
1424

If (A)
0
0,5
1
1,5
2

VLL
29,3
271
462
538
585

VLN
18
162
273
317
346

3.3.3 Data Percobaan Berbeban


Tabel 3.4. Data pengamatan berbeban

No

I motor

n (rpm)

If (A)

VLL

VLN

BEBAN(W)

(A)
0,8

1431

0,5

281

166,8

100

0,8

1439

0,6

274

161

200

0,8

1420

0,65

267

154

300

0,8

1393

441

259

100

0,8

1380

1,18

441

257

200

0,8

1333

427

249

300

0,8

1406

1,54

523

308

100

0,8

1343

1,6

463

295

200

0,8

1317

1,65

483

282

300

3.4

Pengolahan Data
A. Beban Nol
3.4.1 Daya Pada Line To Netral
P = VLN x If x cos Error: Reference source not found
1. P(If = 0)
= 18 x 0 x 0,8
= 0
Watt
15

2.
3.
4.
5.

P(If = 0,5)
P(If = 1)
P(If = 1,5)
P(If = 2)

= 162 x 0,5 x 0,8


= 273 x 1 x 0,8
= 317 x 1,5 x 0,8
= 346 x 2 x 0,8

= 64,8
= 218,4
= 380,4
= 553,6

Watt
Watt
Watt
Watt

3.4.2 Daya Pada Line To Line


P = Error: Reference source not found x If x cos Error: Reference
source not found
1. P(If = 0)
= x0x
0,8
= 0 Watt
2. P(If = 0,5)
= x 0,5 29,3 x 0,8 = 62,58 Watt
3. P(If = 1)
= x 1 x 271
= 213,38 Watt
3 0,8
4. P(If = 1,5)
= x 1,5 462 x 0,8 = 372,73 Watt
3 Reference source not found x 2 x
5. P(If = 2)
= Error: 538
3
0,8
= 540.39 Watt
3

3.4.3 Torka
T = Error: Reference source not found
0
1500
2
60

1.

T(If = 0)
=

2.

Nm
T(If = 0,5)

= 0
=

Error: Reference source not found = 0,42 Nm


3. T(If = 1)
= Error: Reference source not found = 1,43 Nm
4. T(If = 1,5)
=
= 2,52 Nm
5. T(If = 2)
380,4
1442
=
Error:
2
60
Reference source
not found
T=

= 3,71 Nm
PLL
0n
2
1500
2 60
60

1.

T(If = 0)
=

2.

Nm
T(If = 0,5)

= 0
=

Error: Reference source not found = 0,40 Nm


3. T(If = 1)
= Error: Reference source not found = 1,40 Nm
4. T(If = 1,5)
= Error: Reference source not found = 2,47 Nm
5. T(If = 2)
= Error: Reference source not found = 3,62 Nm
16

B. Berbeban
3.4.4 Daya Pada Line To Netral
P = VLN x If x cos Error: Reference source not found
1. P(100) = 166,8 x 0,5 x 0,8 = 66,72 Watt
P(200) = 161 x 0,6 x 0,8
= 77,28 Watt
P(300) = 154 x 0,65 x 0,8
= 80,08 Watt
2. P(100)
P(200)
P(300)

= 259x 1 x 0,8
= 257 x 1,18 x 0,8
= 249 x 1 x 0,8

= 207,20 Watt
= 242,6 Watt
= 199,2 Watt

3. P(100)
P(200)
P(300)

= 308 x 1,54 x 0,8


= 295 x 1,6 x 0,8
= 282 x 1,65 x 0,8

= 379,45
= 377,60
= 372,24

Watt
Watt
Watt

3.4.5 Daya Pada Line To Line


P = Error: Reference source not found x If x cos Error: Reference
source not found
1. P(100) = x 0,5 x 0,8 =
64,89 Watt
281
P(200) = Error:
Reference source not found x 0,6 x 0,8
= 75,93 Watt
3
P(300) = Error:
Reference source not found x 0,65 x
0,8
= 80,20 Watt
2. P(100)
P(200)
240,35
P(300)
3. P(100)
P(200)
0,8
P(300)
0,8

= Error: Reference source not found x 1 x 0,8

203,69 Watt
= Error: Reference source not found x 1,18 x 0,8 =
Watt
= x 1 x 0,8
= 197,22 Watt
427
= x 1,54 x 0,8 3 = 372
Watt
523 Reference source not found x 1,6 x
= Error:
= 342,16
3 Watt
= Error:
Reference source not found x 1,65 x
= 368,09 Watt

3.4.6 Torka
T = Error: Reference source not found
66,72
1431
2
60

1.

T(100)

= 0,46 Nm
T(200) = Error:
Reference source not

found = 0,51 Nm
T(300) = Error: Reference source not found = 0,54 Nm
17

207,20
1393
2
60

2.

T(100)

= 1,42 Nm
T(200) = Error:

Reference source not found


= 1,67 Nm
T(300) = Error: Reference source not found
3. T(100) = Error: Reference source not found
T(200) = Error: Reference source not found
T(300) = Error: Reference source not found

= 1,43
= 2,57
= 2,68
= 2,70

Nm
Nm
Nm
Nm

T = Error: Reference source not found


64,89
1431
2
60

1.

T(100)

= 0,43 Nm
T(200)
=
Error: Reference

source not found= 0,5 Nm


T(300)
= Error: Reference source not found = 0,54 Nm
2. T(100)
=
203,69
= 1,4 Nm
1393
T(200)
=
2
60
Error: Reference
source not found= 1,66 Nm
T(300)
= Error: Reference source not found = 1,41 Nm
3. T(100)
= Error: Reference source not found = 2,53 Nm
T(200)
= Error: Reference source not found = 2,43 Nm
T(300)
= Error: Reference source not found = 2,67 Nm

3.5

Wiring Diagram

18

Gambar 3.3 Wiring Diagram beban nol

19

Gambar 3.4 Wiring Diagram berbeban

BAB IV
ANALISA DAN TUGAS AKHIR
20

4.1 Analisa
Pada saat generator berputar pada kecepatan sinkron dan rotor diberi arus
medan (IF), maka tegangan (Ea ) akan terinduksi pada kumparan jangkar stator.
Bentuk hubungannya diperlihatkan pada persamaan berikut.
Ea = c.n.
yang mana:
c = konstanta mesin
n = putaran sinkron
= fluks yang dihasilkan oleh IF
Dalam keadaan tanpa beban arus jangkar tidak mengalir pada stator,
karenanya tidak terdapat pengaruh reaksi jangkar. Fluks hanya dihasilkan oleh
arus medan (IF). Apabila arus medan (IF) diubah-ubah harganya, akan diperoleh
harga Ea seperti yang terlihat pada kurva sebagai berikut.

Gambar 4.1 Kurva If terhadap Vln tanpa beban

21

Apabila dilihat dari rumus


(V) juga naik. Dan nilai n turun

Ea diatas jika nilai (If) naik maka nilai


c. karena

Pada kondisi berbeban saat pengukuran If naik sedikit maka n turun dan V
turun hal itu dikarenakan bahwa untuk menyeimbangkan adanya suatu beban yang
masuk kepada generator dengan kata lain adanya gaya lawan dari beban tersebut.
Vt = Ea Ia.Ra
Keterangan:
Vt = tegangan yang keluaran
Ea = tegangan yang dihasilkan generator
IaRa = beban
Dilihat dari rumus di atas maka apabila beban ditambahkan maka tegangan
keluaran pun akan menurun.seperti data yang didapat dari praktikum dapat
didlihat dari kurva di bawah

Gambar 4.2 Kurva If terhadap Vln berbeban

4.2 Tugas Akhir


1. Apa yang dimaksud dengan motor dan generator ?
Jawab :
- Motor adalah alat unutk mengubah energi listrik menjadi mekanik.
- Generator adalah alat untuk mengubah mekanik menjadi energi
listrik.
22

2. Jelaskan prinsip kerja generator sinkron ( sehingga diketahui


perbedaannya dengan jenis mesin induksi atau mesin DC ) dan cara
pengendalian oprasinya ?
Jawab :
Pada mesin sinkron mempunyai kumparan jangkar pada stator adan
kumparan medan pada rotor. Kumparan jangkarnya berbentuk sama
dengan mesin induksi, sedangkan kumparan pada mesin sinkron dapat
berbentuk kutub sepatu (salient) atau kutub dengan celah udara sama
rata (rotor silinder). Arus searah (dc) untuk menghasilkan fluks pada
kumparan medan dialirkan ke rotor melalui . Apabila kumparan jangkar
dihubungkan dengan sumber tegangan tiga fasa akan timbul medan
putar pada stator. Kutub medan rotor yang diberi penguat arus searah
mendapatkan tarikan dari kutub medan putar stator hingga turut
berputar dengan kecepatan sama (sinkron).
3. Jelaskan prosedur percobaan praktikum generator sinkron beban nol
dan berbeban ?
Jawab :
Percobaan Beban Nol
1. Memeriksa kelengkapan alat praktikum, dan test alat-alat ukur
listriknya.
2. Membuat rangkaian seperti rangkaian dibawah ini.
Gambar 4.3 Rangkaian percobaan beban nol

jangkar

R
S
T
N

G
V

Eksitasi

Eksitasi

23

3. Melaporkan kepada asisten.


4. Menyalakan MCB pada tegangan jala-jala, pastikan semua knob
variac pada posisi 0.
5. Menyalakan MCB pada variac.
6. Mengatur knob variac bagian arus eksitasi motor DC kepada posisi
penuh secara perlahan ( Ifm = 0,8 A ).
7. Mengatur knob variac bagian arus jangkar motor DC sampai
putaran motor mencapai 1500 rpm ( secara perlahan ).
8. Mengatur knob variac bagian eksitasi generator dengan 0 A.
9. Mencatat hasil kecepatan motor dengan tachometer dan tegangan
keluaran VLL dan VLN generator dengan voltmeter.
10. Mengulangi langkah 8-9 dengan arus eksitasi ( 0, 0.5, 1, 1.5, 2 ).
11. Mengurangi knob variac eksitasi generator sampai 0.
12. Mengurangi knob variac jangkar motor sampai motor berhenti
13.
14.
15.
16.
17.

berputar.
Mengurangi knob variac eksitasi motor sampai 0.
Menurunkan MCB pada variac.
Menurunkan MCB pada tegangan jala-jala.
Menggambar wiring percobaan.
Merapikan kembali alat-alat yang telah digunakan.

Percobaan Berbeban
1. Memeriksa kelengkapan alat praktikum, dan test alat-alat ukur
2.

listriknya.
Membuat rangkaian seperti rangkaian dibawah ini.
Gambar 4.4 Rangkaian percobaan beban nol

3.

Melaporkan kepada asisten.


24

4.

Menyalakan MCB pada tegangan jala-jala, pastikan semua knob

5.
6.

variac pada posisi 0.


Menyalakan MCB pada variac.
Mengatur knob variac bagian arus eksitasi motor DC kepada posisi

7.

penuh secara perlahan ( Ifm = 0,8 A ).


Mengatur knob variac bagian arus jangkar motor DC sampai

putaran motor mencapai 1500 rpm ( secara perlahan ).


8. Mengatur knob variac bagian eksitasi generator dengan 0,5 A.
9. Menghubungkan dengan beban 100 W.
10. Mencatat hasil kecepatan motor dengan tachometer, tegangan
keluaran VLL dan VLN generator dengan voltmeter, arus serta arus
pada eksitasi motor dan eksitasi generator dengan menggunakan
11.
12.
13.
14.
15.

ampere meter.
Mengulangi langkah 9-10 dengan beban ( 100, 200, 300 ) W.
Mengulangi langkah 8-10 dengan arus eksitasi ( 0.5, 1, 1.5 ).
Melepas semua beban.
Mengurangi knob variac eksitasi generator sampai 0.
Mengurangi knob variac jangkar motor sampai motor berhenti

16.
17.
18.
19.
20.

berputar.
Mengurangi knob variac eksitasi motor sampai 0.
Menurunkan MCB pada variac.
Menurunkan MCB pada tegangan jala-jala.
Menggambar wiring percobaan.
Merapikan kembali alat-alat yang telah digunakan.

4. Gambarkan kurva karakteristik antara If dengan V generator dan If


dengan putaran generator ns ( pada percobaan beban nol ).
Jawab :

25

Gambar 4.5 Kurva If terhadap Vln tanpa beban

Gambar 4.6 Kurva If terhadap n tanpa beban

5. Gambarkan kurva karakteristik antara Ia generator dengan beban, Ia


generator dengan V generator, Ia generator dengan putaran generator, Ia
generator dengan P generator, V generator dengan beban, V generator
dengan putaran generator, putaran generator dengan beban dan putaran
generator dengan P generator! ( pada percoban berbeban )
Jawab :
26

Gambar 4.7 Kurva If terhadap Beban

Gambar 4.8 Kurva If terhadap Vln Berbeban

27

Gambar 4.9 Kurva If terhadap Vll berbeban

Gambar 4.10 Kurva If terhadap n berbeban

28

Gambar 4.11 Kurva If terhadap Pln

Gambar 4.12 Kurva If terhadap Pll

29

Gambar 4.13 Kurva Vln terhadap Beban

Gambar 4.14 Kurva Vll terhadap Beban

30

Gambar 4.15 Kurva Vln terhadap n

Gambar 4.16 Kurva Vll terhadap n

31

Gambar 4.17 Kurva n terhadap Beban

Gambar 4.18 Kurva n terhadap Pln

32

Gambar 4.19 Kurva n terhadap Pll

6. Sebutkan aplikasi dan jelaskan dari percobaan praktikun generator


sinkron?
Jawab :
Pada percobaan ini generator sinkron digerakan oleh sebuah motor.
Pada beban nol generator tidak menghasilkan ggl karena hanya
menghasilkan fluksi pada kumparan medan rotor. Pada percobaan
berbeban dihasilkan ggl karena terjadi reaksi jangkar antara fluksi
medan rotor dan fluksi jangkar stator. Semakin besar beban maka
semakin rendah putaran generator dan semakin rendah pula daya yang
dihasilkan.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1

Kesimpulan

33

Generator sinkron (altenator) merupakan jenis mesin listrik yang berfungsi


untuk menghasilkan tegangan bolak-balik dengan cara mengubah energi mekanis
menjadi energi listrik. Energi mekanis diperoleh dari putaran rotor yang
digerakkan oleh penggerak mula (prime mover), sedangkan energi listrik
diperoleh dari proses dari proses induksi elektromagnetik yang terjadi pada
kumparan stator dan rotornya.
Prinsik kerja Generator sinkron:
1. Kumparan medan yang terdapat pada rotor dihubungkan dengan sumber
eksitasi tertentu yang akan mensuplai arus searah terhadap kumparan medan.
Dengan adanya arus searah yang mengalir melalui kumparan medan maka akan
menimbulkan fluks yang besarnya terhadap waktu adalah tetap.
2. Penggerak mula (Prime Mover) yang sudah terkopel dengan rotor segera
dioperasikan sehingga rotor akan berputar pada kecepatan nominalnya.
n

120. f
P

dimana :
n = Kecepatan putar rotor (rpm)
p = Jumlah kutub rotor
f = frekuensi (Hz)
3. Perputaran rotor tersebut sekaligus akan memutar medan magnet yang
dihasilkan oleh kumparan medan. Medan putar yang dihasilkan pada rotor, akan
diinduksikan pada kumparan jangkar sehingga pada kumparan jangkar yang
terletak di stator akan dihasilkan fluks magnetik yang berubah-ubah besarnya
terhadap waktu. Adanya perubahan fluks magnetik yang melingkupi suatu
kumparan akan menimbulkan ggl induksi pada ujung-ujung kumparan tersebut,
hal tersebut sesuai dengan persamaan :
e N

d
dt

Untuk generator sinkron

tiga phasa, digunakan tiga kumparan jangkar yang ditempatkan di stator yang
disusun dalam bentuk tertentu, sehingga susunan kumparan jangkar yang
34

sedemikian akan membangkitkan tegangan induksi pada ketiga kumparan


jangkar yang besarnya sama tapi berbeda fasa 120 satu sama lain. Setelah itu
ketiga terminal kumparan jangkar siap dioperasikan untuk menghasilkan energi
listrik.
Cara pengoprasian :
1. Pastikan semua sudah terpasang dengan benar.
2. Ketika sudah dinyalakan, naikkan eksitasi motor terlebih dahulu.
3. Setelah eksitasi motor barulah jangkar motor.\
4. Terakhir baru manaikkan eksitasi jangkar.
5. Cara mematikan diawali dengan eksitasi jangkar, jangkar motor,
barulah eksitasi motor terakhir.
5.2

Saran
Sebaiknya assiten terus mendampingi mahasiswa saat melakukan

praktikum, kemudian untuk panel jala jala listrik mohon diperbaiki karena
beberapa sudah kendor

DAFTAR PUSTAKA
Tim Asisten.2016.Modul Praktikum Mesin Elektrik AC. Bandung: Laboratorium
Teknik Energi Elektrik Itenas.
Chapman, Stephen J. (2002). Electric machinery and power system fundamentals.
New York : McGraw-Hill.
Zuhal.1991. Dasar Tenaga Listrik, Bandung: Penerbit ITB.

35