Anda di halaman 1dari 28

Journal Reading

EFEKTIVITAS DEXAMETASON
INTRAVENA VS
PROPOFOL UNTUK TATALAKSANA NYERI PADA
SAKIT KEPALA MIGREN : PROSPEKTIF DOUBLE
BLIND RCT

Pembimbing :
Dr.Edy Raharjo,Sp.S
Disusun Oleh :
Rizma Alfiani Rachmi, S.Ked
KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015

EFEKTIVITAS
DEXAMETASON
INTRAVENA
VS
PROPOFOL UNTUK TATALAKSANA NYERI PADA SAKIT
KEPALA MIGREN : PROSPEKTIF DOUBLE BLIND RCT

LATAR BELAKANG
SAKIT KEPALA

Keluhan yang paling


umum (> common cold)
Prevalensi > 3 juta
kunjungan ke ED di AS

Pengobatan simptomatik

Sakit kepala tipe migrain


dimulai dekade ke 2 kehidupan
puncak usia pertengahan

Prevalensi
perempuan (18%) >
laki-laki (6%)

Prevalesi
migrain semasa
hidup < 18%

Penelitian yg melibatkan 450 orang dg


sakit kepala kronik primer didapatkan :
95% dg TTH dan 4% migrain kronik

MIGRAIN MENURUT THE


INTERNATIONAL HEADACHE SOCIETY
(IHS)
A.Sekurang kurangnya 5 serangan yang memenuhi kriteria B, C, D, dan E
B.Serangan berlangsung 4 72 jam dengan atau tanpa pengobatan
C.Sakit kepala sekurang kurangnya memenuhi 2 kriteria dibawah ini :
1. Lokasi : Unilateral
2. Kualitas : berdenyut denyut
3. Intensitas : sedang - berat
4.Diperburuk dengan naik tangga atau aktivitas fisik lain yang serupa

D. Selama sakit kepala, sekurangnya ada 1 gejala berikut :


1. Mual atau muntah (atau keduanya)
2. Fotopobia dan fonopobia
E. Riwayat, pemeriksaan fisik dan neurologi, yang tepat untuk menyingkirkan
kelainan organik

IHS
Migrain ringan hingga sedang asetaminofen dan NSAID
Migrain yang lebih berat selektif reseptor agonis 5HT (kategori triptan)
dan steroid

Penelitian terbaru : Propofol (2 dan 6 di isopropyl


phenol) dg mekanisme kerja :
Agonis reseptor GABA,
Menghambat aktifitas aferen simpatis
Menurunkan sensitivitas refleks baroreseptor
jantung
Menstimulasi produksi NO vasodilatasi

TUJUAN PENELITIAN
Menginvestigasi peran dan efek pemberian propofol intravena dalam mengatasi
migrain dibandingkan dengan obat intravena lain (dexametason intravena)
pada pasien yang datang ke ED Rumah sakit Pendidikan Imam Reza,
Tabriz, Iran

METODE PENELITIAN
Studi Randomised clinical trial pada pasien yang datang ke ED RSP Imam Reza,
Iran
Double blinded

Pencatatan mulai dari vital sign, tanda lain seperti mual muntah, fotopobia,
fonopobia.
Penilaian intensitas nyeri menggunakan VAS

Melibatkan 90 orang pasien dengan kriteria inklusi :


Umur > 18 tahun
Keluhan utama sakit kepala, yang diperkuat dengan riwayat dan pemeriksaan fisik
yang lengka (PF umum dan neurologis)
Memenuhi kriteria migrain IHS

Kriteria Eksklusi :
Riwayat penggunaan opioid atau triptan seperti
vasokonstriktor dihidroergotamine 24 jam sebelum datang
ke ED
Pasien yg diobati dengan kortikosteroid sistemik
Alergi terhadap propofol dan dexametason, atau telur dan
kacang kacangan
Pasien dengan riwayat DM, ulkus peptik, Infark Miokard
sekurangnya 1 minggu dan paralisis periodik hipokalemi
familial (untuk dexamethasone)
Izin diperoleh dari Ethics Committee of Tabriz
University of Medical Sciences dan inform consent dari
pasien

Kelompok I propofol (Lipuro- B.Braun) 1 % diinjeksikan setiap 5 hingga 10


menit dengan dosis bolus 10mg (dosis max 80mg) secara lambat (kecepatan
1 ml lebih dari 10 detik)

Kelompok II dexametason (decardol) 4mg/ml dengan dosis 0,15mg/kgBB (dosis


max 16mg) diinjeksikan pelan dengan kecepatan 1 ml > 10 detik

ANALISIS STATISTIK
Data terkumpul di analisis deskriptif analitik (mean SD)
Statistik menggunakan SPSS 16
Bermakna jika nilai p < 0,05

HASIL PENELITIAN
Berdasarkan Umur
Umur rata rata

Kelompok I propofol : 35.65 12.55 tahun


Kelompok II dexametason : 36.27 13.38 tahun
o Uji T independent Tidak ada perbedaan bermakna
rata rata umur pd kedua kelompok uji (p = 0,832)

Berdasarkan Jenis Kelamin


Kelompok I Propofol : 30 (66,6%) perempuan ; 15
(33,3%) laki laki
Kelompok II dexametason : 28 (62,22%) perempuan
; 17 (37,77%) laki laki

Uji Chi Square tidak ada perbedaan bermakna


distribusi jenis kelamin pd kedua kelompok uji (p =
0,577)

Berdasarkan gejala berhubungan


Mual : Prevalensi mual pd kelompok dexametason 95.55% dan kelompok propofol
93,33%
Muntah : 17 (37,77%) kelompok dexamethason dan 18 (40%) kelompok propofol
Fotopobia : 14 (31,1%) pasien kelompok dexametason dan 17 (37,77%) pasien
kelompok propofol
Fonopobia : 9 (20%) pasien kelompok dexametason dan 8 (17,7%)
kelompok propofol
Uji Chi Square tidak ada perbedaan signifikan keempat gejala pada kedua
kelompok uji (p > 0,05)

pasien

Uji T independen tidak ada perbedaan bermakna


keparahan nyeri pada kedua kelompok uji sebelum
pengobatan (p = 0,712)
Penurunan level nyeri pada semua waktu penilaian lebih
bermakna pd kelompok propofol (p < 0,001)
Pengurangan nyeri propofol selalu < dexamethason

Level nyeri tertinggi didapatkan pada perbandingan nyeri propofol menit 20


dibanding dexamethasone 10 menit

Level nyeri tertinggi didapatkan pada perbandingan dexamethason menit 30


dibanding propofol 20 menit

Tidak ada perbedaan secara signifikan respon pengobatan pada kedua kelompok
uji berdasarkan jenis kelamin (p > 0,05)
Tidak ada perbedaan signifikan rata rata tekanan darah, frekuensi nadi,
saturasi O2 pada kedua kelompok uji
Kedua kelompok pasien di follow up dan didapatkan :
20 pasien (44%) yang mendapat propofol mengalami sedasi ringan
1 pasien bicara cadel
2 pasien mengalami penurunan ringan saturasi oksigen (O2 saturation 89%)

PEMBAHASAN
Banyak uji yg menilai efikasi dari dexametason, dan banyak pula uji yg
mengkonfirmasi hasil uji sebelumnya tapi banyak jg yg menolak efikasi
dexametason dalam pengobatan migrain
Friedman et al membandingkan dexametason dg plasebo tidak ada perbedaan
signifikan kedua group pada 1 jam pertama dalam menurunkan nyeri (p =
0,03) dan tidak dianjurkan penggunaan rutin dexametason intravena.

Uji lain menunjukkan dexametason menurunkan relaps migrain 50% dibandingkan


NSAID dan triptan serta menurunkan intensitas nyeri.
Tidak seperti dexametason, hanya sedikit uji yang menilai peran propofol,
karena lebih umum digunakan untuk induksi anestesi di OK dari pada untuk
pengobatan migrain.
Studi 2002, 2 kasus migrain diobati dg propofol iv
100/100 jadi 10/100 dan 92/100 jadi 40/100

dg skor nyeri kepala

Uji lain, 8 pasien menunjukkan kemaknaan propofol dlm menurunkan migrain


Rata rata VAS menurun dari 8/10 jadi 1/10
Laporan lain mempublikasikan dosis propofol intravena yg digunakan dalam
dosis sub-hipnotik berguna untuk migrain refractory
Hasil dari penelitian lain mengenai peran propofol dalam pengobatan sakit
kepala menunjukkan 82% dari 77 pasien dengan sakit kepala berat (VAS 7
10) dapat menurunkan nyeri 50-90%.

Alasan utama propofol efektif dalam mengurangi nyeri dikaitkan dg kerja


propofol dlm mempengaruhi reseptor GABA yg merangsang proses fisiologis
penyakit ini.
Penelitian lain menyebutkan perangsangan reseptor GABA yg potensial dlm
mengobati migrain butuh penelitian lebih lanjut
Mempengaruhi kanal klorin dalam subunit 1 reseptor GABA

KETERBATASAN PENELITIAN
Kemungkinan bias seleksi
Tidak mempersiapkan standar kombinasi obat bagi pasien gagal pengobatan
karena tidak semua pasien berespon sama dg regimen standar
Tidak ada follow up setelah pasien keluar dari ED
Tidak menilai dan membandingkan tingkat kekambuhan antara kedua kelompok
Tidak membahas penurunan rekurensi sakit kepala

KESIMPULAN
Kecepatan dan tingkat respon pengobatan lebih tinggi pada kelompok propofol
Nyeri berdasarkan VAS lebih cepat meningkat pada kelompok propofol
Propofol memiliki efek samping yg rendah dan efektif digunakan untuk sakit
kepala migrain.

TERIMA KASIH