Anda di halaman 1dari 12

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Ikan adalah hewan berdarah dingin, ciri khasnya adalah mempunyai tulang
belakang, insang dan sirip, dan terutama ikan sangat bergantung atas air sebagai
medium dimana tempat mereka tinggal. Ikan memiliki kemampuan di dalam air
untuk bergerak dengan menggunakan sirip untuk menjaga keseimbangan
tubuhnya sehingga tidak tergantung pada arus atau gerakan air yang disebabkan
oleh arah angin. Dalam keluarga hewan bertulang belakang/ vertebrata, ikan
menempati jumlah terbesar, sampai sekarang terdapat sekitar 25.000 species yang
tercatat, walaupun perkiraannya ada pada kisaran 40.000 spesies, yang terdiri dari
483 famili dan 57 ordo. Jenis-jenis ikan ini sebagian besar tersebar di perairan laut
yaitu sekitar 58% (13,630 jenis) dan 42% (9870 jenis) dari keseluruhan jenis ikan.
Jumlah jenis ikan yang lebih besar di perairan laut, dapat dimengerti karena
hampir 70% permukaan bumi ini terdiri dari air laut dan hanya sekitar 1%
merupakan perairan tawar (Burhanuddin, 2008).
Organime akuatik tidak bisa dipisahkan dalam lingkungannya terutama
lingkungan perairannya banyak yang mempengaruhi lingkunnya tersebut dalam
waktu ke waktu terutama dalam hal variabel lingkungan (biologi,fisika, kimia).
Organisme tersebut tidak lepas dari organ anatominya yang secara langsung
membantu dalam organisme tersebut beradaptasi maupun bertahan dalam
lingkungan tersebut terutama bagian otot jantung. Oleh karena itu dalam hal ini
akan melakukan percobaan dalam seberapa kuat organisme tersebut bertahan
terutama dalam mengamati anatominya bagian jantungnya tersebut, seperti apa
anatominya tersebut dan berapa lama anatomi itu bisa bertahan (Permana, 2012).
Jantung merupakan suatu pembesaran otot yang spesifik dari pembuluh
darah atau suatu struktur muskular yang bentuknya menyerupai kerucut yang
dilingkupi atau diselimuti oleh kantung perikardial (perikardium). Pada ikan
terdapat di bagian restral dari hati dan bagian ventral dari rongga mulut. Jantung
pada makhluk hidup berbeda-beda berdasarkan strukturnya. Jantung pada
vertebrata misalnya ikan, mempunyai jantung yang terdiri dari dua ruang, yakni
satu serambi (atrium) dan satu bilik (ventrikel). Jantung pada ikan amphibia dan

reptil mempunyai 3 ruang utama yang terdiri dari 2 atrium dan 1 ventrikel
(Hidayat, 2011).
Ikan mas tergolong ikan mas teleostei. Oleh karena itu, jantung ikan mas
memiliki conus arterious yang sudah tereduksi menjadi suatu struktur yang sangat
kecil dan memiliki bulbus arterious yang berkembang dengan baik. Denyut
jantung pada ikan mas termasuk tipe jantung meogenik, yaitu jantung yang tetap
berdetak ritmis meskipun hubungan dengan saraf telah terputus. Rata-rata
kecepatan denyut jantung ikan mas dengan berat tubuh 200-500 gram adalah 3540 tiap menit. Jantung ikan mas teleostei umumnya terdapat di belakang insang di
bagian depan rongga badan dan di atas ithmus. Organ jantung ini dilapisi oleh
selaput tipis yang disebut lapisan perikardium (Gonawi, dkk., 2008).
Secara umum sistem peredaran darah pada ikan mirip sistem hidraulis
yangcterdiri atas sebuah pompa, pipa, katup, dan cairan. Meskipun, jantung
teleostei terdiri atas empat bagian. Namun pada kenyataanya mirip dengan satu
silinder atau pompa piston tunggal. Untuk menjamin aliran darah terus
berlangsung, maka daerah dipompa dengan perbedaan tekanan. Tekanan jantung
lebih besar dari tekanan arteri, dan tekanan arteri lenih besar dari tekanan
arterionale. Akibat adanya perbedaan tekanan maka aliran darah dapat terjadi
(Yulianto, dkk., 2013).
Jantung ikan mas terdiri atas dua ruang, yaitu atrium (aurticle) yang
berdinding tipis dan ventrikel yang berdinding tebal. Pada jantung terdapat ruang
tambahan berdinding tipis yang disebut sinus venosus. Organ ini berfungsi
sebagai penampung darah dari ductus curvieri dan vena hepaticus serta
mengirimkannya ke atrium. Antara sinus venosus dengan atrium terdapat katup
sinustrial. Darah kemudian dikirim ke ventrikel. Untuk mencegah darah tersebut
kembali ke atrium, ada katup antrioventricular. Setelah ventrikel terdapat conus
arterious. Pada elasmobranchii, conus arterious berkembang dengan baik tetapi
tidak mempunyai bulbus arterious (Gonawi, dkk., 2008).
NaCl 0,9% (normal saline) dapat dipakai sebagai cairan resusitasi
(replacement therapy), terutama pada kasus seperti kadar Na+ yang rendah,
dimana RL tidak cocok untuk digunakan (sepertipada alkalosis, retensi kalium).
NaCl 0,9% merupakan cairan pilihan untuk kasus trauma kepala, sebagai
pengencer sel darah merah sebelum transfusi. Cairan ini memiliki beberapa
kekurangan, yaitu tidak mengandung HCO3-, tidak mengandung K+, dapat

menimbulkan asidosis hiperkloremik karena mempunyai komposisi klorida sama


dengan natrium, serta menyebabkan asidosis dilusional (Novara, 2009).
Larutan fisiologis digunakan karena larutan ini mirip dengan lingkungan
dari jantung itu sendiri. Larutan fisiologis yang bersifat hipoosmotis menyebabkan
cairan dari larutan masuk ke sel-sel otot jantung sehingga jantung menjadi
mengembang. Sehingga cairan dalam sel mengalami dialisis, yaitu pecahnya selsel jantung sehingga proses metabolisme dan kerja jantung tergangggu. Larutan
fisiologis yang bersifat hiperosmotik menyebabkan cairan akan keluar dari sel-sel
jantung secara difusi sehinngga jantung mengerut dan berat jenisnya semakin
besar dan akan mempengaruhi kerja otot jantung (Affandi dan Tang 2002).
Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1) Untuk mengetahui bagian jantung ikan mas (Cyprinus carpio).
2) Untuk mengetahui jenis denyut jantung pada ikan mas (Cyprinus carpio).
3) Untuk mengetahui perbandingan kontraksi otot jantung ikan mas besar dan
Ikan mas kecil.
Manfaat Praktikum
Laporan ini diharapkan

dapat

memberikan

manfaat

menambah

pengetahuan tentang kontraksi otot jantung ikan mas serta dapat menjadikan
laporan ini sebagai sumber informasi bagi mahasiswa maupun masyarakat yang
membaca.

TINJAUAN PUSTAKA
Ikan Mas (Cyprinus carpio)
Secara umum, karakteristik ikan mas memiliki bentuk tubuh yang agak
memanjang dan sedikit memipih ke samping (compressed). Sebagian besar tubuh
ikan mas ditutupi oleh sisik. Pada bagian dalam mulut terdapat gigi kerongkongan
(pharynreal teeth) sebanyak tiga baris berbentuk geraham. Sirip punggung ikan
mas memanjang dan bagian permukaannya terletak berseberangan dengan
permukaan sirip perut (ventral). Sirip punggungnya (dorsal) berjari-jari keras,
sedangkan di bagian akhir bergerigi. Sirip ekornya menyerupai cagak memanjang

simetris. Sisik ikan mas relatif besar dengan tipe sisik lingkaran (cycloid) yang
terletak beraturan (Purba, 2011).
Ikan mas (Cyprinus carpio Linn.) termasuk kelas Pisces, Ordo
Cyprinoidea, famili Cyprinidae dan Genus Cyprinus. Ikan mas mempunyai bentuk
badan agak panjang dan agak pipih, mulut dapat disembulkan dengan tipe
terminal. Mempunyai 3 helai sungut yang menempel dirahang atas. Insang
terletak tepat dilbelakang rongga mulut di dalam pharynx. Jumlah lengkung
insang ada lima pasang. Tetapi hanya empat yang berfilamen insang. Kepala
simetris, sisik berbentuk cycloid. Garis rusuk lengkap dan berada di atas dari sirip
dada. Tidak memiliki jari-jari sirip yang keras. Jari-jari punggung yang kedua
bergigi seperti gergaji. Warna tubuh ikan mas pada umumnya keemasan, tetapi
ada juga yang berwarna hijau, merah, dan biru belang. gelembung renang terbagi
menjadi dua bagian, dan bagian yang belakang lebih kecil dari pada bagian yang
depan (Mudlofar, 2012).
Kontraksi Otot Jantung Ikan Mas
Otot secara umum dibagi atas tiga jenis yaitu, otot rangka, otot jantung,
dan otot polos; meskipun otot polos bukan satu kategori tunggal homogen. Otot
rangka merupakan massa yang besar yang menyusun jaringan otot somatik.
Gambaran garis-lintang sangat jelas, tidak berkontraksi tanpa adanya rangsang
dari saraf, tidak ada hubungan anatomik dan fungsional antara sel-selnya, dan
secara umum dikendalikan oleh kehendak (volunter). Otot jantung juga berpola
garis-lintang, tetapi membentuk sinsitium fungsional. Dapat berkontraksi ritmis
walaupun tanpa persarafan eksternal, karena adanya sel-sel picu di miokardium
yang mencetuskan impuls spontan. Otot polos tidak memperlihatkan gambaran
garis-lintang. Jenis seperti itu, ditemukan hampir di semua alat visera yang
berongga, membentuk sinsitium fungsional dan memiliki sel-sel picu yang
melepaskan impuls tidak teratur. Jenis yang ada dimata dan beberapa tempat
lainnya, tidak mempunyai kegiatan spontan dan menyerupai otot rangka
(Munawwarah, 2010).
Ikan mempunyai organ sirkulasi darah dalam tubuh yang disebut jantung
dan terletak pada ruang perikardial di sebelah posterior insang, memiliki dua
ruang yaitu atrium (diding yang tipis) dan ventrikel (dinding yang tebal).Darah
dipompa keluar selam kontraksi ventrikel (systole) dan diikuti periode relaksasi

dan pengisian kembali (diatole).Sinus venosus dan atrium membantu mengisi


ventrikel, dan bulbus yang memilki katub elastis menjaga aliran selama
ventrikular berelaksasi.Kontraksi otot jantung ikan merupakan sarana untuk
mengkonversi energi kimiawi menjadi energi mekanik dalam bentuk tekanan dan
aliran

darah.

Praktikum

kontraksi

otot

jantung

bertujuan

untuk

mengamatibagaimana kerja otot jantung tanpa pengaruh organ tubuh lain dan
membuktikan bahwa otot jantung adalah otot lurik tetapi bekerja seperti otot
polos, serta mengetahui ketahanan jantung ikan di luar tubuh (Sofa, 2008).
Kontraksi otot jantung ikan merupakan salah satu sarana untuk
mangkonversi energi kimia manjadi energi mekanik dalam bantuk tekanan dalam
aliran darah. Secara garis besar jalannya aliran darah pada jantungikan yaitu
ductus cuvieri, vena hepaticus, sinus venosus, atrium, ventrikel, dan corus
arteiosus. Sistem kerja jantung ikan memiliki dua mekanisme gerak yaitu sistole
dan diastole. Sinus venosis secara fungsional memiliki pace maker untuk
mengatur kerja otot jantung (Hidayat, 2011).
Denyut jantung dibagi menjadi dua tipe yaitu neurogenik dan jantung
meugenik. Jantung neuregonik adalah jantung pada hewan tingkat rendah
(avertebrata) yang aktivitasnya diatur oleh sistem saraf sehingga jika hubungan
saraf dan jantung diputuskan makajantung akan berhenti berdenyut. Jantung
miogenik denyutnya akanselalu ritmis meskipun hubungan dengan saraf
diputuskan. Bahkan bila jantung tekak diambil selagi masih hidup dan ditaruh
dalam larutan fisiologis yang sesuai akan tetap berdenyut (Permana, 2011)
Ketahanan jantung di luar tubuh ikan menurun namun berfluktuasi dan
diiringi oleh fase istirahat. Kondisi larutan fisiologis yang hipoosmotis
menyebabkan cairan dari larutan masuk ke sel-sel otot jantung sehingga jantung
akan mengembang. Dengan demikian, cairan didalam sel akan mengalami dialisis,
yaitu proses pecahnya sel-sel jantung sehingga proses metabolisme dankerja
jantung terganggu. Pada larutan yang hiperosmotik, cairan akan keluar darisel-sel
jantung secara difusi sehingga jantung mengkerut dan berat jenisnya semakin
besar yang selanjutnya akan tenggelam secara perlahan-lahan. Karena jantung
tenggelam maka jantung akan mendapatkan tekanan hidrostatik yang lebih besar
dari posisi semula yang akan mempengaruhi kerja otot jantung. Waktu bertahan
otot jantung ikan besar di luar tubuh lebih lama daripadaikan kecil. Perbedaan

waktu dikarenakan ukuran ikan dan jenis ikan sendiri. Pada ikan besar lebih
banyak energi yang terkandung dalam darah dibanding ikan kecil.Energi yang
disalurkan ke darah ada energi kinetik dan energi potensial. Jumlah kedua energi
tersebut pada ikan besar lebih besar daripada ikan kecil sehingga aliran darah dan
tekanannya juga lebih besar (Septiana, 2012).
Larutan Fisiologis
Larutan fisiologis digunakan karena larutan ini mirip dengan lingkungan
dari jantung itu sendiri. Larutan fisiologis yang bersifat hipoosmotis menyebabkan
cairan dari larutan masuk ke sel-sel otot jantung sehingga jantung menjadi
mengembang. Sehingga cairan dalam sel mengalami dialisis, yaitu pecahnya selsel jantung sehingga proses metabolisme dan kerja jantung tergangggu. Larutan
fisiologis yang bersifat hiperosmotik menyebabkan cairan akan keluar dari sel-sel
jantung secara difusi sehinngga jantung mengerut dan berat jenisnya semakin
besar dan akan mempengaruhi kerja otot jantung (Affandi dan Tang 2002).
Larutan fisiologis adalah larutan isotonik yang terbuat dari NaCl 0,9%
yang sama dengan cairan tubuh atau darah. Penggunaan larutan fisiologis yang
mengandung NaCl dan urea karna dapat mempertahankan daya hidup
spermatozoa antara 20-25 menit. larutan fisiologis lebih kecil dari NaCl 0,9 %
(0,8 %; 0,6 %; 0,3 %; 0,1 %) disebut hipotonis. Larutan fisiologis lebih besar dari
NaCl 0,9 % ( 1 %; 2 %) disebut hipertonis. Darah bila dimasukkan ke dalam
larutan hipotonis maka membran akan mengembang karena larutan hipotonis
masuk ke dalam sel darah merah, kemudian pecah di satu tempat sehingga Hb
keluar disebut dengan hemolisis. Darah bila dimasukkan ke dalam larutan
hipertonis maka membran akan di tarik kesegala arah sehinga pecah di banyak
tempat sehingga sel darah merah mengkerut akibatnya Hb juga keluar dan disebut
krenasis (Jatilaksono, 2007).
Cairan hipertonik adalahosmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum,
sehingga menarik cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh
darah. Mampu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan produksi urin, dan
mengurangi edema (bengkak). Penggunaannya kontradiktif dengan cairan
hipotonik. Misalnya Dextrose 5%, NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5%+RingerLactate, Dextrose 5%+NaCl 0,9%, produk darah (darah), dan albumin
(Aso, 2012).

Cairan

Isotonik

adalahosmolaritas

(tingkat

kepekatan)

cairannya

mendekati serum (bagian cair dari komponen darah), sehingga terus berada di
dalam pembuluh darah. Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi
(kekurangan cairan tubuh, sehingga tekanan darah terus menurun). Memiliki
risiko terjadinya overload (kelebihan cairan), khususnya pada penyakit gagal
jantung kongestif dan hipertensi. Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat (RL),
dan normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%) (Hidayat, 2011).

METODOLOGI
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 22 Maret 2016 pada
pukul 10.00 WIB sampai selesai yang terletak di Laboratorium Terpadu
Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera
Utara, Medan.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah cawan petri berfungsi sebagai wadah untuk
meletakkan jantung ikan, timbangan berfungsi untuk menimbang bobot ikan,
gunting di gunakan untuk memotong bagian ikan yang akan diamati, nampan
digunakan untuk tempat ikan yang akan di amati, kamera digital untuk mengambil
gambar ikan yang diamati, dan modul praktikum sebagai pedoman didalam
melakukan praktikum fisiologi hewan air dan alat tulis sebagai pelengkap dalam
mencatat hasil praktikum.
Bahan yang digunakan

pada

praktikum

ini

adalah

ikan

mas

(Cyprinus carpio), dan larutan fisiologis berupa NaCl 0,9% sebanyak 50 ml yang
digunakan untuk mengetahui ketahanan denyut jantung ikan yang diamati serta
tisu gulung sebagai alat untuk membersihkan kotoran pada saat praktikum.
Prosedur Praktikum

1. Dipersiapkan alat dan bahan yang diperlukan.


2. Diambil 2 ekor ikan dengan ukuran yang berbeda kemudian timbang ikan
tersebut.
3. Dipingsankan kedua ikan yang masih hidup dengan cara menusuk bagian
saraf di otak.
4. Dibedah kedua ikan mulai dari anus kearah depan hingga insang, kemudian
dipisahkan organ jantung ikan tersebut dan diletakkan pada larutan
fisiologis (NaCl sebanyak 0,9 % atau 50 ml).
5. Diamati dan dihitung detak jantung kedua ikan tersebut tiap menit hingga
jantung kedua ikan tersebut tidak berdetak lagi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Hasil yang diperoleh dari praktikum adalah sebagai yaitu:

Gambar 1.Ikan Mas Kecil

Gambar 2.Ikan Mas Besar

Gambar 3. Jantung Ikan Mas Kecil


Gambar 4. Jantung Ikan Mas Besar
Tabel 1. Morfometrik Ikan Mas (Cyprinus carpio)

Ikan
Ikan Kecil
Ikan Besar

Panjang
24 cm
26 cm

Berat
0,02 kg
0,2 kg

Tabel 2. Pengamatan Denyut Jantung Ikan Mas (Cyprinus Carpio)


Waktu/ Menit
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Ikan Mas Kecil


49
52
54
54
56
53
50
45
30
27
18
15

Ikan Mas Besar


-

Pembahasan
Pada praktikum yang telah dilakukan, jantung dapat bertahan lama diluar
tubuh dengan bantuan larutan NaCl 0,9%. Karena larutan NaCl 0,9% merupakan
larutan fisiologis atau larutan isotonik yang berarti hampir sama dengan cairan
tubuh atau darah. Hal ini sesuai dengan Jatilaksono (2007) yang menyatakan
bahwa larutan fisiologis adalah larutan isotonik yang terbuat dari NaCl 0,9% yang
sama dengan cairan tubuh atau darah. Penggunaan larutan fisiologis yang
mengandung NaCl dan urea karna dapat mempertahankan daya hidup
spermatozoa antara 20-25 menit.
Denyut jantung terbagi atas dua yaitu neuorogenik dan miogenik. Jantung
pada ikan mas tergolong dalam miogenik. Hal ini sesuai dengan Putri (2007) yang
menyatakan bahwa jantung neurogenik adalah jantung pada hewan tingkatan
rendah (invertebrata), yang aktivitasnya diatur oleh sistem syaraf sehingga jika
hubungan syaraf dengan jantung diputuskan maka jantung akan berhenti
berdenyut. Jantung miogenik denyutnya akan tetap ritmis meskipun hubungan
dengan syaraf diputuskan. Bahkan bila jantung katak diambil selagi masih hidup
dan ditaruh dalam larutan fisiologis yang sesuai akan tetap berdenyut.
Jantung merupakan suatu organ yang menjadi pusat aliran darah yang.
Pada jantung juga terjadi proses pengumpulan serta perngaliran darah. Jantung

10

melaksanakan fungsi tersebut dengan mengumpulkan darah yang kekurangan


oksigen dari seluruh tubuh dan memompanya ke dalam paru-paru, dimana darah
akan mengambil oksigen dan membuang karbondioksida. Hal ini sesuai dengan
Sanjoyo (2005) yang menyatakan bahwa jantung merupakan suatu organ otot
berongga yang terletak di pusat dada. Bagian kanan dan kiri jantung masingmasing memiliki ruang sebelah atas (atrium yang mengumpulkan darah dan ruang
sebelah bawah (ventrikel) yang mengeluarkan darah.
Pada pengukuran denyut jantung ikan mas (Cyprinus carpio) diketahui
bahwa frekuensi denyut jantung dari ikan kecil memiliki frekuensi yang lebih
besar dibanding dengan ikan yang besar. Karena jantung yang berukuran yang
besar memerlukan banyak energi agar jantung tetap berdetak. Hal ini sesuai
dengan Putri (2007) yang menyatakan bahwa Frekuensi denyut jantung berbanding
terbalik dengan bobot tubuh hewan. Meskipun frekuensi denyut ikan kecil lebih cepat
namun energi di dalam jantung lebih banyak pada ikan besar sehingga ikan besar
mampu berdetak lebih lama tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat . Semakin

besar bobot ikan, maka ukuran jantung juga semakin besar sehingga darah yang
terkandung atau yang dialirkan oleh jantung pun semakin banyak.
Pada saat jantung diletakkan di larutan fisiologis denyut jantung dari ikan
mas (Cyprinus carpio) mampu bertahan namun tidak dapat bertatahn lama. Serta
denyut jantung yang terjadi per satuan waktunya berfluktuasi. Hal ini sesuai
dengan literatur Putri (2007) yang menyatakan bahwa Jantung adalah otot lurik
dan bekerja tanpa pengaruh saraf sadar atau bekerja tanpa sadar. Jantung terus
berdenyut walaupun semua syaraf yang menuju kepadanya dipotong. Hal ini
disebabkan oleh adanya jaringan permanen khusus dalam jantung yang berfungsi
membangkitkan potensial aksi yang berulang (pace maker). Ketahanan jantung di
luar tubuh ikan menurun namun berfluktuasi dan diiringi oleh fase istirahat.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut:
1. Bagian jantung ikan mas yaitu terdiri dari dua ruang yaitu atrium yang
berdinding tipis dan ventrikel yang berdinding tebal. Organ jantung

11

dilapisi dengan perikardium, dan ada juga ruang tambahan yang


berdinding tipis yang disebut sinus venosus.
2. Jenis jantung pada ikan mas (Cyprinus carpio) yaitu jantung miogenik.
3. Semakin besar tubuh ikan maka denyut jantungnya lebih kecil dibandingkan
ikan yang memiliki ukuran tubuh yang kecil.
Saran
Saran dari praktikum ini adalah di dalam melakukan praktikum kontraksi
otot jantung pada ikan ini memerlukan ketelitian baik dalam proses pembedahan
ikan untuk mengambil jantung ikan juga membutuhkan kesabaran dalam
mengamati detak jantung pada ikan yang diletakkan di cawan petri yang berisi
larutan fisiologis.

DAFTAR PUSTAKA

Affandi, R dan Tang U.M. 2002. Fisiologi Hewan Air. Unri Press.Pekanbaru
Armen, W., Nofrizal., Isnanniah. 2013. Condition Of Physicology Fish Tilapia
(Oreochromis niloticus) Arrest in The Process Of Using Tools to Capture
Actively Monitored Electrocardiograph (ECG). University of Riau, Riau.
Burhanuddin, A. I. 2008. Peningkatan Pengetahuan Konsepsi Sistematika dan
Pemahaman System Organ Ikan yang Berbasis SCL pada Matakuliah
Ikhtiologi. Universitas Hasanuddin. Makassar.

12

Gonawi, G.R., Mardia, Siska, A., Fitriana, I. P., dan Henry, K. S. Studi Kontraksi
Otot Jantung Ikan Mas (Cyprinus Carpio), dalam Upaya Peningkatan
Komoditas Perikanan Darat. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Jatilaksono, M. 2007. Kontraksi Otot Jantung Ikan. Penebar Swadaya, Jakarta.
Mudlofar, M. 2012. Analisis Usaha Pembesaran Ikan Mas (Cyprinus Carpio)
Pada Keramba Jaring Apung di Kelurahan Parit Mayor camatan Pontianak
Timur. [Tesis]. Universitas Terbuka, Jakarta.
Novara, T. 2009. Perbandingan Antara Laktat Hipertonik dan Nacl 0,9% Sebagai
Cairan Pengganti Perdarahan pada Bedah Caesar: Kajian Terhadap
Hemodinamik, dan Strong Ions Difference. [Tesis]. Universitas
Diponegoro, Semarang.
Permana, E. 2012. Kontraksi Otot Jantung Ikan. Program Pendidikan D4
Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik Dan Tenaga Kependidikan
(PPPPTK) Pertanian Vedca Cianjur Politeknik Negeri, Jember.
Putri, E, F., G. F. Arddhiagung, S.J. Nugrofo, S. 2009. Kontraksi Otot Jantung
Ikan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Rudiyanti, S dan A. S. Ekasari. 2009.Pertumbuhan dan Survival Rate Ikan Mas
(Cyprinus Carpio Linn) pada Berbagai Konsentrasi Pestisida Regent 0,3
G. Jurnal Saintek Perikanan, 5 (1): 49-54.
Sanjoyo, R. 2005. Sistem Kardiovaskuler. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Setiorini, F. 2008. Analisis Efesiensi Pemasaran Ikan Mas di Kecamatan
Pagelaran, Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung. Skripsi. Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Wihartyas, V. F. 2015. Efektivitas Pemberian Ikan Mas (Cyprinus Carpio) dalam
Menurunkan Jumlah Jentik dan Persepsi Masyarakatnya (Studi Kasus di
RW 06 Kelurahan Sukorejo Kecamatan Gunungpati Kota Semarang).
[Skripsi]. Universitas Negeri Semarang, Semarang.
Yulianto, R., Adiputra, Y.T., Wrdiyanto dan Agus, S. 2013. Perubahan Jaringan
Organ Ikan Komet (Carrasius Auratus) Yang Di Infeksi Dengan
Aeromonas Hydrophila. Jurnal Rekayasa Dan Teknologi Budidaya
Perairan. Volume (2) : 1.