Anda di halaman 1dari 6

BAB III

BIT
Bit atau pahat merupakan bagian terdepan drillstring yang menembus formasi. Pemilihan bit
yang sesuai dengan kondisi lubang sumur merupakan suatu keputusan penting yang akan
mempengaruhi biaya sumur secara keseluruhan. Metoda praktis dalam pemilihan bit adalah
berdasarkan histori pada sumur offset. Bit yang memberikan penetrasi yang optimum pada suatu
sumur akan di gunakan kembali pada sumur berikut nya, terutama jika kondisi lubang dan formasi nya
sama atau tipikal.

Jenis Bit
Jenis- jenis bit secara umum adalah sebagai berikut :

BakerHughes

1. Drag Bit

Gambar 1.1 Drag Bit

Petroskill

Drag bit digunakan sejak lama dalam industri pengeboran. Bit berputar searah dengan arah
drillstring berputar, dan bekerja dengan menggerus formasi. Drag bit saat ini dibuat dengan berbagai
disain pada jumlah cutter dan blade nya, serta pemilihan ukuran nozzle untuk efek hidraulik yang
maksimum.

Gambar 1.2 Cutter PDC

Bit

Petroskill

Teknologi generasi baru bit dimulai tahun 1973 saat General Electric Co. mengenal kan konsep teknologi
bit PDC (Polycrystalline Diamond Compact). Saat ini PDC merupakan bit yang umum dipakai dalam
pemboran.

Petroskill

Gambar 1.3 Blade Count dan Cutter Density

Gambar 1.4 Drag Bit Element

2. Roller Cone Bit

Petroskill

Rolling cutter bit adalah bit yang mempunyai kerucut-kerucut (cone) yang berputar untuk
menghancurkan batuan. Bit ini pertama kali dibuat dengan 2 cone. Barulah pada permulaan tahun 1930
dibuat bit dengan 3 cone (three cone bit) yang bekerja dengan mencongkel formasi

Gambar 1.5 Roller Cone Bit

Teknik Pemboran I - STT Migas Balikpapan

38

Bit

Tipe dari rolling cutter bit dibagi menjadi :


Milled tooth cutter
Gigi milled tooth bit dibuat dengan me-milling baja hingga berbentuk kerucut. Milled tooth bit didesain
untuk formasi lunak, biasanya dilapisi dengan material yang kuat seperti tungsten carbide. Milled tooth
bit yang digunakan untuk membor formasi keras dibuat dengan proses khusus dan pemanasan (heat
treating).
Tungsten carbide insert bit

Petroskill

Gigi bit ini dibuat dari tungsten carbide kemudian ditekan dalam mesin yang mempunyai lubang
berbentuk cone. Untuk membor formasi yang lunak digunakan tungsten carbide yang bergigi panjang
dan ujungnya berbentuk pahat (chisel-shape end) Sedangkan untuk formasi yang lebih keras digunakan
tungsten carbide yang bergigi pendek dan ujungnya berbentuk hemispherical.

Petroskill

Gambar 1.6 Carbide Insert Design

Gambar 1.7 Roller Cone Bit Element

Teknik Pemboran I - STT Migas Balikpapan

39

Bit

Bit Dull Grading

Gambar 1.8 IADC Dull Bit Grading System

Teknik Pemboran I - STT Migas Balikpapan

40

Bit

Bit setelah di run di dalam lubang pemboran, setiap di cabut selalu di amati dan di catat tingkat
ketumpulannya atau disebut dengan bit dull grading. Tingkat ketumpulan ini selain memberikan info
tentang bit itu sendiri juga memberikan gambaran dan informasi tentang lubang dan karakteristik dari
formasi yang telah di bor oleh bit tersebut seperti tingkat kekerasan formasi yang tercermin dari tingkat
kerusakan cutter bit (yang dibaca dari bit dull grading).
IADC (International Association of Drilling Contractors) memberikan standar dalam penilaian tingkat
ketumpulan pahat atau bit dull garding seperti pada gambar 1.8.

Cost Per Feet


Salah satu cara pemilihan bit untuk pengeboran dilakukan dengan menggunakan metoda cost
per feet (cpf). Yang dipilih adalah yang memberikan nilai cost per feet terendah.

C=

($/ft)

(3.1)

Dimana :
CPF

= Biaya pemboran per feet ($/ft)

= Harga bit ($)

= Biaya operating rig per hari ($)

= Rotating time/ waktu atau lamanya bit membor suatu kedalaman (hours)

= Trip time/ waktu untuk menempatkan bit pada suatu kedalaman sebelumnya atau jumlah trip
in (masuk), trip out (cabut), termasuk circulating time, reaming, dan ganti BHA (hours)

= Footage/ panjang formasi yang di bor oleh bit terkait (ft)

Contoh :

Bit dibawah ini telah digunakan pada pemboran sumur dengan data pada table. Dengan menggunakan
metoda cost per feet, tentukan bit yang ekonomis untuk digunakan pada sumur berikut nya pada
formasi yang sama.

Sumur

Tipe Bit

Bit Cost
($)

Depth
in (ft)

Depth out
(ft)

Footage
yang di bor
(ft)

Rotating
Time
(hours)

Trip
Time
(hours)

Rig Cost
($/hr)

Bromo-1

XX

15,000

5,468

8,138

2,670

144

900

Bromo-2

XY

15,000

4,973

7,795

2,822

180

900

Teknik Pemboran I - STT Migas Balikpapan

41

Bit

Solution:

Bit XX
C

($/ft)

= 56.9 $/ft

Bit XY
C

($/ft)

= 65.3 $/ft

Dari hasil perhitungan dengan metoda cost per feet, didapat bit XX lebih ekonomis dibanding bit XY,
sehingga bit XX akan dipakai pada sumur berikut nya.

DAFTAR PUSTAKA

1.
2.
3.
4.

Neal Adams, "Drilling Engineering", Penn Well Publishing Company, Tulsa-Oklahoma, 1985
Petroskills, WDE training material
Rudi Rubiandini RS, Bahan Kuliah Teknik Pemboran, 2009
Rabia. H., "Well Engineering & Construction".

Teknik Pemboran I - STT Migas Balikpapan

42