Anda di halaman 1dari 56

STRUKTUR BENTANGAN LEBAR

Sebelum mengenal lebih jauh struktur bentang lebar, perlu


dipahami dulu kata-kata yang selalu mengikut di depannya, yaitu
kata Struktur dan konstruksi. Dua kata ini merupakan hal
sederhana,

namun

kesalahpahaman

sering

harus

penggunaan

diulang

kata.

untuk

Dalam

menghindari

suatu

bangunan,

struktur merupakan sarana untuk menyalurkan beban dan akibat


penggunaan dan atau kehadiran bangunan ke dalam tanah.
Struktur juga dapat didefinisikan sebagai suatu entitas fisik yang
memiliki sifat keseluruhan yang dapat dipahami sebagai suatu
organisasi unsur-unsur pokok yang ditempatkan dalam suatu
ruang yang didalamnya karakter keseluruhan itu mendominasi
interelasi

bagian-bagiannya(

Shodek,

1998:3).

Struktur

merupakan bagian bangunan yang menyalurkan beban-beban


(Macdonald, 2001:1).
Struktur dianggap sebagai alat untuk mewujudkan gayagaya ekstern menjadi mekanisme pemikulan beban intern untuk
menopang dan memperkuat suatu konsep arsitektural.Sedangkan
konstruksi

adalah

pembuatan

atau

rancang

bangun

serta

penyusunannya bangunan. Ervianto, 2002: 9, menjelaskan bahwa


konstruksi merupakan suatu kegiatan mengolah sumber daya
proyek menjadi suatu hasil kegiatan yang berupa bangunan.
Dalam artian sederhananya struktur adalah susunannya dan
konstruksi adalah penyusunan dari susunan-susunan, sehingga
dari pengertian tersebut dapat diambil sustu kesimpulan bahwa
konsruksi mencakup secara keseluruhan bangunan dan bagian
terkecil atau detail dari tersebut adalah struktur.
Penafsiran yang lebih luas tentang struktur adalah yang
didalamnya alat-alat penopang dan metode-metode konstruksi
dianggap sebagai faktor intrinsik dan penentu bentuk dalam
proses perancangan bangunan. (Snyder&Catanese,1989:359)
Berdasarkan buku Sistem Bentuk Struktur Bangunan (Frick, 1998:
28), struktur dan konstruksi dibedakan berdasarkan fungsinya
sebagai berikut:

Fungsi

konstruksi:

mendayagunakan

konstruksi

dalam

hubungannya dengan daya tahan, masa pakai terhadap gayagaya dan tuntutan fisik lainnya.
Struktur:

Menentukan

aturan

yang

mendayagunakan

hubungan antara konstruksi dan bentuk. Struktur berpengaruh


pada teknik dan estetika. Pada teknik, struktur berpengaruh pada
kekukuhan gedung terhadap pengaruh luar maupun bebannya
sendiri

yang

robohnya

dapat

mengakibatkan

bnagunan.

Sedangkan

perubahan

estetika

bentuk

dilihat

dari

atau
segi

keindahan gedung secara intergral dan kualitas arsitektural.


A. Pengertian Struktur Bentangan Lebar
Bangunan

bentang

lebar

merupakan

bangunan

yang

memungkinkan penggunaan ruang bebas kolom yang selebar dan


sepanjang

mungkin.

digolongkan

secar

Bangunan

umum

bentang

menjadi

yaitu

lebar

biasanya

bentang

lebar

sederhana dan bentang lebar kompleks. Bentang lebar sederhana


berarti bahwa konstruksi bentang lebar yang ada dipergunakan
langsung pada bangunan berdasarkan teori dasar dan tidak
dilakukan modifikasi pada bentuk yang ada. Sedangkan bentang
lebar kompleks merupakan bentuk struktur bentang lebar yang
melakukan

modifikasi

dari

bentuk

dasar,

bahkan

kadang

dilakukan penggabungan terhadap beberapa sistem struktur


bentang lebar.
B. Contoh Bentangan Lebar

Guna dan

fungsi

bangunan

bentang

lebar.
Berdasarkan

gambar-gambar

di

atas,

bangunan

bentang

lebar

dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan yang membutuhkan ruang bebas


kolom yang cukup besar, seperti untuk kegiatan olah raga berupa gedung
stadion, pertunjukan berupa gedung pertunjukan, audiotorium dan
kegiatan pameran atau gedung exhibition.
Struktur bentang lebar, memiliki tingkat kerumitan yang berbeda
satu dengan lainnya. Kerumitan yang timbul dipengaruhi oleh gaya yang
terjadi pada struktur tersebut.
Dalam Schodek 1998, struktur bentang lebar dibagi ke dalam
beberapa sistem struktur yaitu :
1. Struktur Rangka Batang dan Rangka Ruang.
2

2. Struktur Furnicular, yaitu kabel dan pelengkung


3. Struktur Plan dan Grid
4. Struktur Membran meliputi Pneumatik dan struktur tent (tenda) dan
net (jarring)
5. Struktur Cangkang
STRUKTUR RANGKA BATANG DAN RANGKA RUANG

Struktur rangka batang adalah susunan elemen-elemen linier yang


membentuk segitiga atau kombinasi segitiga, sehingga menjadi bentuk
rangka yang tidak dapat berubah bentuk apabila diberi beban eksternal
tanpa adanya perubahan bentuk pada satu atau lebih pada batangnya.
Setiap elemen tersebut secara umum dianggap tergabung pada titik
hubungnya dengan sambungan sendi. Batang-batang disusun sedemikian
rupa sehingga semua beban dan reaksi hanya terjadi pada titik hubung
tersebut.
Prinsip utama yang mendasari penggunaan rangka batang sebagai
struktur pemikul beban adalah penyusunan elemen menjadi konfigurasi
segitiga yang menghasilkan bentuk stabil.
3

Setiap deformasi yang terjadi pada struktur stabil relatif kecil dan
dikaitkan dengan perubahan panjang batang yang diakibatkan oleh gaya
yang timbul di dalam batang sebagai akibat dari gaya eksternal.
Kerangka ruang ( space frame) adalah tiga dimensi yang mencakup
sistem diikat dalam dua arah dimana anggota berada dalam ketegangan
atau kompresi saja. Sedangkan istilah bingkai mengacu pada struktur
dengan sambungan kaku, istilah space frame seperti yang sering
digunakan meliputi koneksi terjepit dan kaku. sebagian besar terdiri dari
kerangka ruang identik, modul berulang, dengan sejajar lapisan atas dan
bawah (yang sesuai dengan akord truss).
Sementara ruang geometri frame bisa sangat beragam (Pearce,
1978; Borrego, 1968), ada yang setengah oktahedron (empat sisi
piramida) dan tetrahedron ( tiga sisi piramida ) modul polyhedral
digunakan secara luas untuk bangunan (gambar 5.1). Meskipun sering
digunakan untuk menutupi ruang besar dengan atap datar horizontal,
rangka ruang disesuaikan untuk berbagai konfigurasi, termasuk dinding
dan atap miring serta melengkung.
Kedalaman

kerangka

ruang

serendah

persen

bentangan

dimungkinkan, namun kedalaman yang paling ekonomis adalah sekitar 5


persen dari bentangan atau 11 persen dari rentang penopang. Ukuran
modul yang paling ekonomis adalah antara 7 dan 14 persen dari rentang
waktu, dengan mempertimbangkan bahwa jumlah anggota (dan biaya
tenaga kerja) akan naik secara dramatis sebagai ukuran modul berkurang
(Gugliotta, 1980). Kedalaman Space frame kurang dari sistem yang
sebanding gulungan (yang mencakup arah utama) dan purlins (balok atau
gulungan kecil yang membentang ke arah yang berlawanan).
Bahkan dengan kelebihan ini, kegagalan beberapa bingkai ruang
spektakuler telah terjadi. 300 ft (90 mx 110 m) bingkai ruang atap pusat
perkantoran Hartford (1972; Hartford, CT; Vincent kling, arsitek: faroli,
blum, dan yeselman, insinyur struktur) semakin runtuh. Dimulai dengan
perimeter tekuk dari anggota yang di sini tidak cukup silang menguatkan
(retribusi dan Salvadori, 1992).

Secara historis, ruang multilayer bingkai berevolusi langsung keluar


dari pesawat gulungan dari abad kesembilan belas. Tahun 1881). Foppl
Agustus menerbitkan risalah ruang bingkai, yang membentuk dasar bagi
Gustave Eiffel's analis untuk menara paris (meskipun sebenarnya menara
Eiffel terdiri dari pesawat majelis gulungan). Allexander graham bel secara
luas diakui sebagai penemu bingkai ruang dan mencuci sibuk dengan
bentuk tetrahedral untuk memperoleh kekuatan dengan minimum berat
material sebagai bagian dari penelitian untuk mengembangkan struktur
yang cocok untuk penerbangan. Ruang awal termasuk struktur kerangka
layangan, penahan angin, dan sebuah menara (Schueller, 1996).
Dua perkembangan penting dalam rangka ruang terjadi di awal
1940-an. pada tahun 1942, Charles Attwood develoved dan mempatenkan
sistem unistrut, yang terdiri dari baja stamfed node (konektor) dan
anggota

(Wilson, 1987).

Pada

tahun 1943,

sistem Mero

pertama

ditemukan dan diproduksi oleh Dr Ing. Max Mengeringhausen, terdiri dari


pipa baja runcing member yang sekrup baja bulat bening (Borrego, 1968).
Khususnya, sistem akan terus diproduksi hari ini.
Karena susunan anggota kerangka ruang adalah tiga-dimensi,
simpul yang bergabung secara inheren ini kompleks. Mencakup kecil,
simpul dapat dicap keluar dari pelat baja dan berlari sampai ke ujung
anggota. Anggota ini biasanya penampang persegi panjang dalam
memfasilitasi lampiran penghiasan sederhana, langit lampu, kaca, dan
komponen lainnya.
Cangkang adalah bentuk struktural berdimensi tiga yang kaku dan
tipis serta mempunyai permukaan lengkung. Permukaan cangkang dapat
mempunyai bentuk sembarang. Bentuk yang umum adalah permukaan
yang berasal dari kurva yang diputar terhadap suatu sumbu (misalnya,
permukaan bola, elips, kerucut dan parabola), permukaan translasional
yang dibentuk menggeserkan kurva bidang di atas kurva bidang lainnya
(misalnya permukaan parabola eliptik dan silindris), permukaan yang
dibentuk dua ujung segmen garis pada dua kurva bidang (misalnya
permukaan hiperbolik paraboloid dan konoid), dan berbagai bentuk yang
5

merupakan kombinasi dari yang telah disebutkan di atas. bentuk


cangkang tidak harus selalu memenuhi persamaan matematis sederhana.
Segala bentuk cangkang mungkin saja digunakan untuk suatu struktur.
Bagaimanapun, tinjauan konstruksional mungkin akan membatasi hal ini.
Sebagai akibat cara elemen struktur ini memikul beban dalam
bidang (terutama dengan cara tarik dan tekan), struktur cangkang dapat
sangat tipis dan mempunyai bentang yang relatif besar. Perbandingan
bentang-tebal sebesar 400 atau 500 dapat saja digunakan [misalnya tebal
3 in. (8cm) mungkin saja digunakan untuk kubah yang berbentang 100
sampai 125 ft (30 sampai 38 m)]. Cangkang setipis ini menggunakan
material yang relatif baru dikembangkan, misalnya beton bertulang yang
didesain khusus untuk membuat permukaan cangkang. Bentuk-bentuk
tiga dimensi lain, misalnya kubah pasangan (bata), mempunyai ketebalan
lebih besar, dan tidak dapat dikelompokkan sebagai struktur tebal seperti
ini, momen lentur sudah mulai dominan.
Bentuk tiga dimensional juga dapat dibuat dari batang-batang kaku
dan pendek. Struktur seperti ini pada hakekatnya adalah struktur
cangkang karena perilaku strukturalnya dapat dikatakan sama dengan
permukaan cangkang menerus, hanya saja tegangannya tidak lagi
menerus seperti pada permukaan cangkang, tetapi terpusat pada setiap
batang. Struktur demikian baru pertama kali digunakan pada awal abad
XIX. Kubah Schwedler, yang terdiri atas jaring-jaring batang bersendi tak
teratur, misalnya, diperkenalkan pertama kali oleh Schwedler di Berlin
pada tahun 1863, pada saat ia mendesain kubah dengan benteng 132 ft
(48 m). Struktur baru lainnya adalah menggunakan batang-batang yang
diletakkan pada kurva yang dibentuk oleh garis membujur dan melintang
dari satu permukaan putar. Banyak kubah besar di dunia ini yang
menggunakan cara demikian.
Pelengkung dengan tiga sendi dapat berupa struktur yang terdiri
atas dua bagian kaku yang saling dihubungkan oleh sendi dan mempunyai
tumpuan sendi. Apabila kedua segmen tidak membentuk funicular untuk
satu kondisi beban, dan ini juga umum terjadi, sebutan pelengkung
tentunya agak keliru. Meskipun demikian, sebutan pelengkung pada
6

struktur tiga sendi ini masih secara umum digunakan, baik untuk yang
bentuknya funicular maupun yang tidak.
Struktur pelengkung tiga sendi dikembangkan oleh rekayasawan Prancis
dan Jerman

pada

pertengahan

abad

ke-19,

khususnya

untuk

mengatasi kesulitan perhitungan pada jenis pelengkung sebelumnya


(pelengkung jepit). Adanya sendi pada puncak dan fondasi struktur
memungkinkan adanya gaya internal maupun gaya vertikal dihitung
secara tepat sehingga bentuk funicular untuk setiap bagian dapat dengan
tepat ditentukan.
Secara sepintas dapat dikatakan (dengan analogi tali terdefleksi)
bahwa struktur tersebut tidak secara funicular dibentuk. Dalam hal ini
tidak ada akibat apapun. Perhatikan bahwa sifat hubungan di B adalah
sedemikian rupa sehingga ujung segmen AB bebas berotasi apabila
dibebani (gambar 1). Titik hubungan ini tidak mempunyai tahanan rotasi.
Hal ini berarti bahwasegmen BC tidak berpartisipasi dalam menahan
rotasi ujung AB. Ujung- ujung batang yang bertemu dititik hubung ini tidak
dapat berotasi dengan bebas dan independen.
Pelengkung dengan dua sendi lengkungan diatas dua landasan
engsel adalah statis tidak tertentu satu gandu. Kedua reaksi landasan
engsel

diuraikan

dalam

dua

komponen

tegak

lurus

pada

garis

penghubung antara kedua landasan.


Sejalan dengan perkembangan zaman, suatu seni arsitektur pun
mengalami suatu perubahannya sendiri, mulai dari gaya pada kulit
bangunan sampai pada strukturalnya. Dewasa ini banyak gaya yang
mengekspos strukturalnya, mulai dari struktur lengkung, kabel sampai
membrane

atau

yang

biasa

dikenal

pneumatic

structure.

Dalam

pembahasan ini kita akan membedah kasus tentang Pneumatic Structure.


Pneumatic Structure merupakan salah satu sistem struktur yang
termasuk dalam kelompok Soft Shell Structure yang memiliki ciri khas
semua gaya yang terjadi pada membran-nya berupa gaya tarik. Pada
Pneumatic, gaya tarik terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara di
dalam struktur pneumatic dengan tekanan udara diluar struktur ini.
Pneumatic Structure dibagi dalam dua kelompok besar yaitu Air Inslated
7

Structure dan Air Supported Structure. Dari kedua kelompok ini masingmasing dikembangkan dari sisi; olah bentuk yangbermacam-macam,
fungsinya dalam sebuah bangunan, bahkan kini telah dikembangkan
secara vertikal.
Pneumatic Structure pada mulanya hanya dikembangkan sebagai
bidang penutup atap dan untuk bangunan berbentang lebar, sekarang
mulai dipikirkan untuk memikul beban lantai pada bangunan bertingkat
sedang (Medium Rise Building). Mencermati perkembangan pneumatic
structure sebagai sistem struktur yang memiliki bentuk dan sistem kerja
yang khas ini, sangatlah menatik. Walaupun pengembangannya tidak
secepat sistem struktur lain yang lebih sederhana, namun sistem struktur
ini ternyata menarik perhatian untuk dikembangkan karena kekhasannya
prinsip kerjanya dan bentuknya yang inovatif.
Tujuan

utama

makalah

ini

adalah

memperkenalkan

struktur

pneumatik sebagai salah satu altematif struktur non konvensional yang


dapat digunakan di Indonesia untuk mengatasi masalah-masalah yang
berkaitan dengan kecepatan membangun, kemudahan dalam transportasi
dan harga yang bersaing, khususnya dal= kazanah struktur bentang lebar.
Sistem Struktur yang ada pada akhir dasa warsa ini semakin
menunjukkan perkembangan yang pesat. Sistem struktur yang inovatif
menciptakan kekayaan desain bagi dunia arsitektur. Keragaman bentuk
struktur tidak hanya pada sisi olah bentuknya saja, melainkan juga
keragaman sistem bekerjanya struktur tersebut. Heino Engel dalam
bukunya Structure Systems mengelompokkan struktur dalam 5 kelompok
besar berdasarkan kesamaan cara bekerjanya dari masing-masing sistem
struktur.
Salah satu struktur yang unik untuk dicermati adalah Pneumatic
Structure, karena sistem struktur ini memanfaatkan gaya tarik, namun
berusaha

menentang

hukum

alam

dari

bentuk

struktur

yang

memanfaatkan gaya tarik ini. Semua struktur yang memanfaatkan gaya


tarik akan membentuk bentuk dasar dan primer berupa garis lengkung
atau parabola yang membuka ke atas. Hal ini disebabkan bahan dari
struktur yang memanfaatkan gaya tarik adalah lentur dan lemas,
8

sehingga akan membuat garis lengkung atau parabola yang membuka ke


atas. Hal ini disebabkan bahan dari struktur yang memanfaatkan gaya
tarik adalah lentur dan lemas, sehingga akan membuat garis lengkung
membuka ke atas (seperti kalung). Namun pneumatik ingin membentuk
satu bentuk dasar berupa garis lengkung yang membuka ke bawah.
Bentuk ini diilhami oleh bentuk shell, sedangkan shell banyak
memanfaatkan gaya tekan. Sisi usaha membuat bentuk yang menentang
hukum alam ini dilakukan dengan menciptakan semacam shell yang
ditiup. Tekanan udara di dalam diterima olej membrane penutup dan
bidang membrane ini menegang dan menderita gaya tarik. Maka tidak
berlebihan jika ada yang mengelompokkan pneumatik ini dalam Soft Shell
Structure. Tentunya bentuk struktur pneumatik ini banyak memiliki
kelemahan yang terus menerus disempurnakan. Problem terbesar dari
sistem ini adalah kebocoran udara yang ada didalamnya. Bahan
pembuatnya

diperbaiki

terus

dan

diusahakan

cara-cara

penanggulangannya.
Pada akhir-akhir ini pneumatik dikembangkan untuk menahan beban
secara vertikal. Baik sebagai penerima beban langsung maupun tidak
langsung. Perkembangan desain dari struktur pneumatik dapat dikatakan
sangat cepat, walaupun secara sepintas merupakan sistem struktur yang
kelihatan lemah, penuh resiko dan banyak kelemahannya, namun
pengembangan fungsi dan bentuk terus diupayakan. Hal inilah yang
menarik untuk dicermati dan diambil satu pengamatan yang mendalam
untuk olah inovasi di bidang arsitektur.
Membran adalah suatu lembaran bahan tipis sekali dan hanya dapat
menahan gaya tarik murni. Soap film adalah membran yang paling tipis,
kira-kira 0,25 mm yang dapat membentang lebar. struktur permukaan
fleksibel tipis yang memikul beban terutama melalui proses tegangan
tarik.
Struktur pneumatik adalah suatu sistem struktur yang memperoleh
kestabilannya dari tekanan internal yang lebih tinggi dibandingkan
dengan tekanan eksternal. Media yang digunakan dapat bermacammacam, diantaranya zat cair, busa atau butiran. Namun yang paling
9

banyak digunakan adalah media

udara. Prinsip ini berlaku seperti pada

balon udara, dimana tekanan udara internal di dalam balon lebih tinggi
dibandingkan tekanan udara di luarnya.
Meskipun struktur- struktur yang tersusun atas batang-batang yang
dihubungkan telah lama digunakan, tetapi mengenai keuntungan yang
didapat dari batang linier yang digabung membentuk pola- pola segitiga
belum lama ada. Struktur yang demikian disebut rangka batang. Rangka
batang sederhana yang menggunakan beberapa batang sering dijumpai
pada atap
Namun setelah Andrea Palladio (1518 1580 ) seorang arsitek Italia
memberikan

ilustrsi

struktur

batang

berpola

segitiga

yang

benar

menunjukan bahwa ia memiliki pengetahuan tentang potensi dan cara


struktur rangka batang memikul beban, setelah itu Rangka batang
kadang-kadang

digunakan

pada

gedung

gedung

setelah

itu

perkembangan sistem rangka batang berlanjut pada jembatan jembatan


yang dipelopori oleh para ahli jembatan pada abad ke 19 yang mulai
secara matematis mempelajari dan bereksperimen dengan rangka batang
Struktur adl bagian bangunan yang berfungsi sebgai sarana untuk
menyalurkan

beban dari sebuah bangunan kedalam tanah. Struktur

Rangka Batang adl struktur yang terdiri dari gabungan elemen batang
yang disambung untuk membentuk geometric (pola segitiga) tertentu
sedemikian

sehingga

apabila

diberi

beban

pada

titik

buhul

(titik

pertemuan antara batang) maka struktur tersebut akan menyalurkan


beban ketumpuan melalui gaya aksial (tarik atau tekan) pada batangbatangnya.

10

STRUKTURAL FUNICULAR
KABEL DAN PELENGKUNG
1.1 PENGANTAR STRUKTUR FUNICULAR
Ada

jenis-jenis

perencana

gedung

menggantung.

struktur
yaitu

Kedua

yang

struktur

jenis

struktur

telah

banyak

pelengkung
yang

dan

berbeda

digunakan
struktur
ini

oleh
kabel

mempunyai

karakteristik dasar struktural yang sama. Khususnya dalam hal perilaku


strukturnya.
Kabel yang mengalami beban eksternal tentu akan mengalami
deformasi yang bergantung pada besar dan lokasi beban eksternal.
Bentuk yang dapat khusus untuk beban itu ialah bentuk funicular
(sebutan funicular berasal dari bahasa latin yang berarti tali). Hanya
gaya tarik yang dapat timbul pada kabel. Dengan membalik bentuk
struktur yang diperoleh tadi, kita akan mendapat struktur baru yang
11

benar-benar analog dengan struktur kabel hanya gaya yang dialami


adalah gaya tekan, bukan tarik. Secara teoritis bentuk yang terakhir ini
dapat diperoleh dengan menumpuk elemen-elemen yang dihubungkan
secara tidak kaku (rantai tekan) dan struktur yang diperoleh akan stabil.
Akan tetapi, sedikit variasi pada beban akan berarti bahwa strukturnya
tidak lagi merupakan bentuk funicular sehingga akan timbul momen
lentur dan gaya geser akibat beban yang baru ini. Hal ini dapat
mengakibatkan terjadinya keruntuhan pada struktur tersebut sebagai
akibat dari hubungan antara elemen-elemen yang tidak kaku dan tidak
dapat memikul momen lentur. Karena bentuk struktur tarik dan tekan
yang disebutkan di atas mempunyai hubungan dengan tali tergantung
yang dibebani, maka kedua jenis struktur disebut sebagai struktur
funicular.
1.2 PRINSIP-PRINSIP UMUM BENTUK FUNICULAR
Hal penting yang mendasar dalam mempelajari pelengkung dan
kabel ialah pengetahuan mengenai kurva atau kumpulan segmen elemenelemen garis lurus yang membentuk funicular untuk pembebanan yang
diberikan. Secara alami bentuk funicular akan diperoleh apabila kabel
yang bebas berubah bentuk, kita bebani. Kabel yang berpenampang
melintang dan hanya memikul berat, dengan sendirinya akan mempunyai
bentuk catenary. Kabel yang memikul beban vertikal yang terdistribusi
secara horizontal di sepanjang kabel. Kabel yang memikul beban-beban
terpusat (dengan mengabaikan berat sendirinya) akan mempunyai
segmen-segmen garis lurus.
Hanya

ada

satu bentuk

struktur

yang funicular

untuk

satu

pembebanan yang diberikan. Akan tetapi, ada banyak kelompok struktur


yang

mempunyai

bentuk

umum

sama

untuk

sembarang

kondisi

pembebanan. Sebagai contoh semua struktur dalam satu kelompok


mempunyai bentuk sama, tetapi dimensi fisiknya berbeda. Di dalam satu
kelompok, proporsi relatif dari semua bentuk identik. Contoh seperti ini
dapat diperoleh secara mudah dengan menggunakan sederetan kabel
12

fleksibel yang berbeda panjangnya. Semuanya akan berdeformasi dengan


cara serupa dengan aksi bebannya, tetapi besar aktual deformasi tersebut
akan berbeda-beda.
Besar gaya yang timbul pada pelengkung ataupun kabel tergantung
pada tinggi relatif bentuk funicular dibandingkan dengan panjangnya.
Selain itu, besarnya juga tergantung pada lokasi dan besar beban yang
bekerja. Semakin tinggi pelengkung atau kabel, berarti semakin kecil gaya
yang akan timbul pada struktur, begitu pula sebaliknya. Gaya reaksi yang
timbul

ujung-ujung

pelengkung

atau

kabel

juga

tergantung

pada

parameter-parameter tersebut. Reaksi ujung mempunyai komponen


vertikal dan horizontal yang harus ditahan oleh fondasi atau oleh elemen
struktural lainnya, misalnya batang tarik.
Pada

struktur

funicular,

bentuk

strukturnya

selalu

berubah

tergantung pada beban eksternal. Apabila dibebani maka struktur


tersebut akan tetap lurus. Bentuk funicular yang cocok untuk beban
kontinu juga harus berubah secara kontinu. Dengan cara yang sama,
apabila bentuk struktur berubah tanpa adanya perubahan beban, maka
lentur akan terjadi. Dicatat bahwa apabila bentuk struktur funicular di
gambar bersama dengan bentuk struktur aktual yang sedang ditinjau,
maka besar deviasi struktur aktual dari bentuk funicular umumnya
menunjukkan besar momen lentur pada struktur aktual.
1.3 ANALISIS DAN DESAIN STRUKTUR KABEL
1.3.1 Pendahuluan
Struktur kabel banyak digunakan pada gedung, misalnya struktur
kabel yang menggunakan tali. Sekalipun kabel telah lama digunakan,
pengertian teoritisnya masih belum lama dikembangkan. Teori mengenai
struktur ini pertama kali dikembangkan pada tahun 1595, yaitu sejak
Fauso Veranzio menerbitkan gambar jembatan gantung. Selanjutnya pada
tahun 1741 dibangun jembatan rantai di Durhan County Inggris. Jembatan
ini mungkin merupakan jembatan gantung pertama di Eropa.

13

Titik balik penting dalam evolusi jembatan gantung terjadi pada


awal abad ke-19 di Amerika, yaitu pada saat James Findley membangun
jembatannya untuk pertama kali pada tahun 1810 di Jacobs Creek.
Banyak jembatan gantung terkenal, misalnya jembatan Clinton di
Inggris (oleh Isombard Brunel) dan jembatan Brooklyn (oleh John
Roebling). Banyak pula jembatan modern yang dibangun setelah itu.
Penggunaan kabel pada gedung tidak begitu cepat karena pada saat itu
belum ada kebutuhan akan bentang yang sangat besar. Shookhov pada
tahun 1896 dianggap sebagai awal mulainya aplikasi kabel pada gedung
modern. Struktur-struktur yang dibangun berikutnya adalah paviliun
lokomotif pada Chicago Worlds Fair pada tahun 1933 dan Livestock
Judging yang dibangun di Raleigh, North Carolina pada sekitar tahun
1950. Sejak itu sangat banyak dibangun gedung yang menggunakan
struktural kabel.
1.3.2 Struktur Kabel Gantung Beban-beban Terpusat
Reaksi-reaksi akan timbul pada tumpuan kabel agar keseluruhan
kabel

berada

dalam

keseimbangan.

Kabel

itu

sendiri

biasanya

memberikan gaya pada tumpuan yang berarah ke dalam dan ke bawah.


Gaya reaksi yang terjadi sama besar dan berlawanan arah dengan gaya
tersebut. Biasanya tidak mungkin untuk menghitung reaksi ini secara
langsung hanya dengan meninjau keseimbangan seluruh kabel. Gaya
reaksi biasanya dinyatakan dalam komponen horizontal dan vertikal.
Karena setiap reaksi mempunyai dua komponen, maka total anu ada
empat, sementara hanya ada dua persamaan keseimbangan independen
untuk mencarinya.
Hal yang juga perlu ditentukan adalah geometri kabel secara akurat.
Bentuk akurat dari kabel yang dibebani tergantung pada kondisi
pembebanan yang ada dan tidak boleh ditentukan sembarang oleh
perencana. Saat maksimum dapat saja ditentukan terlebih dahulu, bukan
bentuk kabel itu sendiri. Mencari bentuk akurat dari kabel merupakan
tujuan utama dalam prosedur analisis.

14

Gaya dalam elemen kabel selalu berupa tarik murni. Fungsi suatu
struktur antara lain adalah pemikul momen dan gaya geser yang
ditimbulkan oleh beban eksternal. Pada kabel maupun pelengkung
funicular gaya geser eksternal pada setiap potongan diimbangi oleh gaya
geser tahanan internal yang diberikan oleh komponen vertikal dari gaya
aksial kabel atau pelengkung. Begitu pula halnya dengan momen lentur
eksternal. Momen ini diimbangi oleh momen lentur tahan internal yang
merupakan kopel dari komponen horizontal gaya aksial pada elemen
struktur funicular dan reaksi horizontal. Gaya horizontal yang disebut
terakhir ini dapat merupakan gaya pada fondasi atau gaya internal pada
batang tarik atau tekan (apabila batang ini ada) pada struktur pelengkung
atau kabel, berturut-turut.
1.3.3 Kabel Tergantung Beban-beban Terdistribusi Merata
Kabel atau pelengkung yang memikul beban terbagi rata dapat
dianalisis dengan

menggunakan cara-cara yang telah disebutkan untuk

beban terpusat. Akan tetapi karena bebannya berbeda, maka perlu ada
modifikasi sedikit pada metode potongan dalam analisis akibat beban
terbagi rata.
1.3.4 Persamaan Funicular Umum
Dalam analisis kabel kita dapat menggunakan cara yang lebih
umum daripada yang telah dijelaskan sebelum ini. Cara umum ini dapat
diterapkan pada struktur yang lebih kompleks misalnya yang tidak
dibebani secara sistematis atau tumpuan kabel tidak terletak pada level
yang sama.
1.3.5 Panjang Kabel
Panjang kabel dapat dihitung dengan meninjau ekspresi dasar
bentuk kabel terdeformasi. Untuk kabel yang dibebani terbagi rata dan
mempunyai titik tumpuan selevel, misalkan Ltotal adalah panjang total
15

kabel Lh adalah bentang dan h adalah sag maksimum. Panjang total kabel
dapat dibuktikan mendekati nilai:
h h h total Lh L h L L 4 4 2 2 / 5 32 / 38 1
1.3.6 Efek Angin
Masalah kritis dalam desain setiap struktur atap yang menggunakan
kabel adalah efek dinamis yang diakibatkkan oleh angin, yang tidak
begitu berpengaruh kepada struktur pelengkung. Apabila angin bertiup di
atas atap, akan timbul gaya isap. Apabila besar isapan akibat angin ini
melampaui beban mati struktur atap itu sendiri, maka permukaan atap
akan mulai naik. Pada saat atap mulai naik dan bentuknya menjadi sangat
berubah, gaya di atas atap akan berubah karena besar dan distribusi gaya
angin pada suatu benda tergantung pada bentuk benda tersebut. Karena
gaya angin berubah, maka struktur fleksibel tersebut akan berubah
bentuk lagi sebagai respons terhadap beban yang baru ini. Proses ini akan
terus berulang terus. Atap tersebut tidak mempunyai bentuk yang tetap,
tetapi akan bergerak, atau bergetar, selama angin ada.
Cara yang lebih teliti untuk memahami efek angin adalah dengan
mempelajari fenomena getaran pada kabel.
Semua

struktur

gantungan

(dan

juga

struktur-struktur

lain)

mempunyai frekuensi alami getaran apabila mengalami gaya eksternal.


Apabila gaya dinamis eksternal yang bekerja pada struktur memiliki
frekuensi dalam jangkauan frekuensi alamiah struktur tersebut, maka
akan timbul getaran dimana pada keadaan tersebut frekuensi gaya
pemaksa dan frekuensi alami struktur sama, kondisi yang disebut
resonansi. Pada keadaan resonansi, struktur mengalami getaran yang
sangat besar dan dapat menyebabkan kerusakan pad struktur.
Frekuensi alami kabel gantung diberikan oleh , dengan L adalah
panjang kabel, N adalah bilangan bulat, adalah beban per satuan panjang,
T adalah gaya tarik kabel, dan g adalah percepatan gravitasi bumi. /g T
LNn/

16

a.

Tiupan

angin

di

atas

menyebabkan terjadinya

permukaan
gaya

atap

isapan.

yang
Gayai

melendut
isapan

ini

menyebabkan atap fleksibel cembung ke atas.


b. Pada saat atap berubah bentuk sebagai akibat gaya isapan, efek
angin
terhadap bentuk baru menjadi gaya tekan (bukan isap). Hal ini
menyebabkan
c.

atap bergerak ke bawah lagi.

Pada saat atap bergerak ke atas dan ke bawah, efek angin

adalah tekan dan

isap secara bergantian. Sebagai akibatnya

terjadi getaran konstan pada atap.


Resonansi pada kabel akan terjadi apabila gaya pemaksa eksternal
mempunyai frekuensi yang benar-benar sama dengan frekuensi alami
kabel. Pada struktur kabel, frekuensi gaya angin sering kali dekat dengan
frekuensi struktur kabel. Ada beberapa cara untuk mengatasi masalah
getaran akibat gaya angin. Salah satunya adalah memperbesar beban
mati pada atap, sehingga memperbesar gaya tarik kabel dan mengubah
frekuensi alaminya. Cara lain dengan memberikan kabel guy sebagai
angket pada titik-titik tertentu untuk mengikat struktur ke dalam tubuh
tanah. Ada pula yang menggunakan kabel menyilang atau sistem kabel
ganda.
1.4 DESAIN STRUKTUR KABEL
Struktur kabel lebih tepat dikategorikan sebagai struktur gantungan
(suspension structure) atau cable-stayed structure. Struktur gantungan
umumnya dapat dibagi atas beberapa kelompok, yaitu (1) struktur
berkelengkungan tunggal, yaitu yang dibuat dengan meletakkan kabelkabel sejajar, menggunakan permukaan yang dibentuk oleh balok-balok
atau

plat

yang

membentang

di

antara

kabel-kabel;

(2)

struktur

kelengkungan ganda, yaitu menggunakan kabel-kabel menyilang dan


berkelengkungan saling berlawanan serta membentuk permukaan atap
utama;

dan

(3)

struktur

kabel

ganda,

yaitu

kabel

ganda

yang
17

berkelengkungan saling berlawanan digunakan pada satu bidang vertikal.


Cable-stayed structure pada umumnya menggunakan elemen struktur
vertikal atau miring dengan kabel lurus membentang ke titik-titik kritis,
atau ke elemen struktur yang membentang secara horizontal.
1.4.1 Kabel Gantung Sederhana
Prinsip-Prinsip Umum. Sistem kabel gantung dapat mempunyai
bentang sangat besar. Untuk kondisi pembebanan dan bentang yang
diberikan, masalah desain paling utama adalah penentuan proporsi
geometri kabel yang dinyatakan dalam rasio (perbandingan) sag banding
bentang. Gaya-gaya kabel, panjang, dan diameter tergantung pada rasio
ini.

Gaya-gaya

pada

struktur

penutupan

kabel,

juga

ukurannya,

dipengaruhi rasio tersebut. Sistem kabel gantung sederhana peka


terhadap getaran akibat angin, yang di masa silam telah menyebabkan
gagalnya beberapa struktur kabel. SAG KABEL. Gaya-gaya kabel pada
struktur, juga ukurannya, sangat tergantung pada besar sag (simpangan)
atau tinggi relatif terhadap bentang struktur.
Penentuan sag pada kabel atau tinggi pada pelengkung merupakan
masalah

optimisasi.

Apabila

hmaks

bertambah,

gaya

pada

kabel

berkurang sehingga luas penampang yang diperlukan juga berkurang.


Sekalipun demikian, sag atau peninggian selalu tergantung pada
kandungan menyeluruh seperti kabel itu ketika digunakan (meliputi juga
desain struktur penumpunya). Kebanyakan struktur tabel yang digunakan
dalam gedung mempunyai perbandingan sag/bentang antara 1:8 dan 1 :
10.
ELEMEN-ELEMEN PENUMPU. Selain kabel atap aktual, elemen struktural
lain (misalnya masts, dan kabel guy) diperlukan untuk membuat struktur
gedung.
Pada desain elemen penumpu, kita dapat menggunakan fondasi
yang langsung menyerap reaksi horizontal atau dengan menggunakan
batang tekan tambahan yang memikul gaya tersebut. Meskipun desain
fondasi yang dapat menyerap gaya vertikal dan horizontal merupakan
18

masalah yang tidak mudah, hal ini dapat dilakukan, tergantung pada
kondisi tanah dan kondisi-kondisi fondasi lainnya. Penggunaan batang
horizontal tidak banyak dilakukan karena panjangnya tak menumpu
(unbraced) batang tersebut yang lebih memungkinkan terjadinya tekuk.
Sebagai akibatnya ukuran batang tekan menjadi sangat besar sehingga
penggunaannya menjadi tidak efisien.
1.4.2 Sistem Kabel Ganda
Sistem kabel ganda adalah desain yang menarik dan merupakan
jawaban atas kesulitan yang ada dalam mengontrol getaran akibat angin
pada sistem kabel gantung sederhana. Suatu struktur kabel ganda
umumnya terdiri atas dua pasang kabel struktur dan elemen tekan atau
tarik yang berperan bersama dalam memikul gaya eksternal. Pada sistem
cekung ganda, pemberian pratarik dilakukan dengan melalui kabel tieback. Pada sistem cembung, kabel atas dan bawah diberi pratarik secara
internal.
Frekuensi alami sistem kabel itu berkaitan dengan kombinasi setiap
frekuensi kabel, dan nilainya lebih besar dari nilai setiap frekuensi. Apabila
frekuensi kombinasi ini dapat dijadikan sedemikian besar dengan desain
yang benar, maka akan timbul efek peredam yang dapat meredam
getaran akibat angin tanpa terjadi bahaya sedikit pun pada sistem
struktur.
1.4.3 Struktur Cable-Stayed
Struktur cable-stayed adalah struktur yang mempunyai sederetan
kabel linier dan memikul elemen horizontal kaku (misalnya balok atau
rangka batang).
Pada struktur cable-stayed, beban eksternal dipikul bersama oleh
sistem kabel dan elemen primer yang membentang dan berfungsi sebagai
balok atau rangka batang. Jumlah kabel yang digunakan tergantung pada
ukuran dan kekakuan batang yang terbentang. Kabel dapat berjarak
19

dekat, sehingga balok atau rangka batang yang digunakan dapat


berukuran relatif kecil. Atau, jarak antara kabel tersebut lebih jauh
sehingga balok atau rangka batang yang lebih besar dan lebih kaku harus
digunakan. Umumnya, struktur cable-stayed digunakan apabila bentang
yang ada melebihi yang mungkin untuk pemakaian balok atau rangka
batang dalam memikul berat sendiri.
Pendekatan awal yang berguna untuk mendesain kabel dan sistem
penyangga adalah dengan mengabaikan kekakuan balok atau rangka
batang dan menganggap sistem kabel yang memikul seluruh beban.
Sudut yang dibentuk antara kabel dan arah beban memegang peranan
penting.

Sudut

yang

dangkal

perlu

dihindari

karena

kabel

tidak

memberikan kekakuan yang cukup dalam memikul balok, dan gaya yang
timbul dalam kabel akan menjadi sangat besar.
1.5 ANALISIS DAN DESAIN PELENGKUNG
1.5.1 Pelengkung Bata
Pelengkung mempunyai riwayat perkembangan sendiri. Pelengkung
bata mendasarkan kemampuan pikul bebannya pada bentuk geometri
yang lengkung, yang hanya menyebabkan terjadinya gaya tekan pada
balok-balok yang berdekatan. Bata secara alami tidak mampu menahan
tegangan tarik, yang pada akhirnya dapat menyebabkan retak mendadak
dan ketidakstabilan pada seluruh struktur. Untuk mencapai keruntuhan
pelengkung bata, perlu ada mekanisme runtuh yang terdiri atas lebih dari
satu retak.Perubahan bentuk secara nyata akan menyertai mekanisme
runtuh tersebut. Banyak keruntuhan yang disebabkan oleh gerakan lateral
pada dasar pelengkung yang dipengaruhi oleh gaya horizontal pada
pelengkung.
Analogi umum pelengkung adalah kabel terbalik yang berarti
struktur pelengkung tersebut adalah kabel terbaik. Akan tetapi bentuk
pelengkung bata jarang yang benar-benar mengikuti bentuk funicularnya.
Tentu saja, pelengkung bata setengah lingkaran bukan parabolik. Hal ini
akan menyebabkan terjadinya lentur beserta perubahan bentuk pada
20

struktur dan pada gilirannya menimbulkan tegangan tarik, dan akhirnya


retak.
Beban utama pada pelengkung bata umumnya berupa berat bata
itu sendiri. Beban tak biasa pada pelengkung,dapat menyebabkan lentur
yang membahayakan. Pembebanan seperti ini harus dihindari, kecuali
apabila pelengkung tersebut memang didesain secara khusus untuk
memikulnya.
1.5.2 Pelengkung Kaku Parabolik: Beban Terdistribusi Merata
Dengan adanya bahan baja dan beton bertulang, kekakuan elemen
bahan tersebut memungkinkan adanya pelengkung dengan bentuk yang
beraneka ragam dan dapat memikul beban tak terduga tanpa runtuh.
Pelengkung

kaku

modern

sering

dibentuk

berdasarkan

responsnya

terhadap kondisi pembebanan dan memikul beban secara tekan apabila


beban tersebut benar-benar bekerja. Pelengkung kaku sangat berbeda
dengan kabel fleksibel.
Untuk kondisi beban terdistribusi merata, bentuk pelengkung kaku
idealnya adalah parabolik. Jenis kondisi tumpuan yang ada (sendi atau
jepit) juga sangat mempengaruhi besar lentur yang terjadi. Pelengkung
jepit menimbulkan momen lentur di tumpuan yang relatif sulit dihitung
besarnya.
1.5.3 Pelengkung Funicular: Beban Terpusat
Bentuk eksak struktur funicular yang dapat memikul semua beban
secara aksial tekan dapat ditentukan untuk kondisi pembebanan lain.
Untuk sederetan beban terpusat, bentuk strukturnya dapat ditentukan
dengan metode yang telah dibahas untuk mencari bentuk kabel. Tinggi
maksimum ditentukan, dan tinggi tinggi lain sehubungan dengan beban
beban lainnya dihitung berdasarkan efek rotasional pada potongan
benda bebas terhadap sembarang titik pada lengkung sama dengan nol
(karena tidak ada momen).

21

1.5.4 Pelengkung Tiga Sendi


Cara mempelajari perilaku struktur pelengkung, sangat berguna
untuk meninjau terlebih dahulu bentuk khusus jenis struktur tersebut,
yaitu pelengkung tiga sendi. Struktur ini bisa dapat dan tidak bisa dapat
berupa struktur funicular, tergantung pada bentuknya . Pelengkung dan
kabel yang kita periksa sebelum semua diasumsikan berbentuk funicular.
Karena tidak ada momen lentur internal, jumlah momen momen
rotasional oleh gaya eksternal yang bekerja dan reaksi reaksi pada
sembarang bagian batang (elemen) pada struktur berbentuk funicular
harus total nol. Jika tidak berbentuk funicular, kondisi keseimbangan
momen di bawah aksi gaya eksternal yang bekerja dan reaksi-reaksi
hanya ada pada sendi-sendi di mana rotasi bebas dibolehkan terjadi.
Contohnya adalah kasus dengan pelengkung tiga sendi.
Pelengkung tiga sendi dapat berupa struktur yang terdiri atas dua
bagian kaku yang saling dihubungkan oleh sendi dan mempunyai
tumpuan sendi. Apabila kedua segmen tidak membentuk funicular untuk
satu kondisi beban, dan ini juga memang umum terjadi. Sebutan
pelengkung

tentunya

agak

keliru.

Meskipun

demikian,

sebutan

pelengkung pada struktur tiga sendi ini masih secara umum digunakan,
baik untuk yang bentuknya funicular maupun yang tidak.
1.5.5 Desain Struktur Pelengkung
MASALAH BENTUK UMUM. Sebagaimana telah disebutkan ada
hubungan yang erat antara bentuk struktur dan kondisi beban dan
tumpuan apabila strukturnya berperilaku secara funicular (maksudnya
memikul gaya internal tarik atau tekan saja). Apabila bentuk struktur
berkaitan dengan bentuk funicular untuk pembebanan yang ada, tidak
ada

lentur

signifikan

yang

tidak

diinginkan

pada

batang.

Suatu

pelengkung yang memikul beban terdistribusi merata harus berbentuk


parabolik apabila diinginkan untuk berperilaku secara funicular. Bentukbentuk lain untuk beban-beban lain juga dapat saja dicari. Hal ini tidak
22

berarti bahwa bentuk nonfunicular tidak dapat digunakan. Bentuk


nonfunicular boleh saja digunakan dengan konsekuensi bahwa lentur
terjadi dan ukuran serta bentuk elemen struktur harus diperbesar.
MASALAH TIGA SENDI. Prinsip-prinsip yang disebutkan di atas
berlaku untuk pelengkung tiga sendi juga. Sekalipun demikian, adalah
berguna apabila kita memandang struktur ini dari sudut pandang yang
sedikit berbeda dalam rangka mempelajari hal-hal yang ada di dalamnya.
Bergantung pada beban yang bekerja, struktur itu dapat didesain untuk
memikul momen lentur yang timbul. Meskipun demikian, dari tinjauan
desain kita lebih menginginkan desain yang meminimumkan atau bahkan
mengeliminasi momen lentur.
DESAIN TERHADAP VARIASI BEBAN. Salah satu dari aspek penting
pada pelengkung modern adalah bahwa struktur dapat di desain untuk
menahan sejumlah tertentu variasi beban tanpa terjadi perubahan bentuk
yang mencolok maupun kerusakan. Hanya pelengkung yang di desain
dengan material kaku, seperti bahan atau beton bertulang, yang
mempunyai

kemampuan

demikian.

Bentuk

pelengkung

biasanya

ditentukan terlebih dahulu berdasarkan kondisi beban utama (misalnya


parabolik untuk beban terdistribusi merata). Apabila ada beban lain yang
bekerja pada pelengkung, akan timbul momen lentur sebagai tambahan
pada gaya aksial.
Aspek penting yang perlu diketahui ialah bahwa merancang elemen
struktur kaku untuk memikul momen lentur biasanya akan menghasilkan
ukuran elemen struktur yang sangat sensitive terhadap momen lentur
yang timbul. Semakin besar momen lentur, maka desain tersebut tidak
layak lagi. Dengan demikian, tinjauan desain yang perlu dilakukan adalah
menentukan kembali bentuk pelengkung yang dapat memberikan momen
lentur minimum untuk segala kondisi pembebanan yang mungkin.
Bagaimana pun, momen lentur selalu ada karena satu bentuk hanya
merupakan funicular untuk satu kondisi beban, juga bahwa besar momen
lentur yang timbul pada suatu titik struktur semula berbanding langsung
dengan deviasi titik tersebut ke bentuk funicular. Hal ini sangat penting
diperhatikan dalam desain.
23

ELEMEN-ELEMEN PENUMPU. Seperti pada kabel, masalah dasar


dalam desain pelengkung ialah apakah sistem yang memikul gaya
horizontal pada ujung-ujungnya itu batang horizontal atau fondasi.
Apabila mungkin, penggunaan batang horizontal sering lakukan. Karena
batang horizontal pada struktur ini merupakan batang tarik, maka batang
ini sangat efisien dalam memikul gaya horizontal ke luar yang tadi pada
ujung pelengkung yang dibebani. Dengan demikian, fondasi hanya
diperlukan untuk memikul reaksi vertikal dan dapat di desain dengan cara
yang relatif lebih sederhana dibandingkan dengan yang harus memikul
juga gaya horizontal.
Elemen vertikal sebagai sistem penumpu pada pelengkung sangat
jarang dilakukan, tidak seperti pada kabel. Apabila mungkin, pelengkung
langsung diletakkan di atas tanah tanpa harus ada elemen vertikal dulu.
Batang yang ditanam di dalam tanah dapat digunakan yang memudahkan
desain pondasi. Apabila pelengkung harus digunakan di atas elemen
vertikal, maka elemen vertikal ini harus mampu momen akibat gaya
horizontal dari pelengkung.
PEMILIHAN KONDISI UJUNG. Pada desain struktur pelengkung kaku,
penentuan bagaimana kondisi pada ujung adalah hal yang cukup penting.
Ada tiga jenis utama pelengkung berdasarkan kondisi ujungnya, yaitu
pelengkung tiga sendi, pelengkung dua sendi, dan pelengkung jepit (lihat
Gambar 5-22). Pembahasan kita lebih banyak terpusat pada pelengkung
tiga sendi karena jenis pelengkung inilah yang statis tertentu. Reaksi,
gaya-gaya

pada

titik

hubung,

momen

serta

gaya

internal

pada

pelengkung tiga sendi dapat diperoleh dengan menerapkan secara


langsung persamaan keseimbangan. Sedangkan analisis pelengkung dua
sendi serta pelengkung jepit hanya didasarkan atas keseimbangan statis.
Analisisnya di luar jangkauan buku ini.
Apabila di desain sebagai bentuk yang funicular untuk suatu jenis
beban, perilaku ketiga jenis struktur pelengkung kaku sama saja terhadap
beban tersebut. Perbedaan yang ada hanyalah pada kondisi ujung
(tumpuan) yang dipakai. Gaya tekan internal yang timbul sama saja.
Sekalipun demikian, apabila faktor-faktor lain ditinjau, akan muncul
24

perbedaan nyata. Faktor-faktor yang penting meliputi efek settlement


(penurunan) tumpuan, efek perpanjangan atau perpendekan elemen
struktur akibat perubahan temperatur, dan besar relatif defleksi akibat
beban..
Perbedaan kondisi ujung dikehendaki untuk menghadapi fenomena
yang berbeda. Adanya sendi pada struktur sangat berguna apabila
settlement tumpuan dan efek termal diperhitungkan karena ujung sendi
itu memungkinkan struktur tersebut berotasi terhadap titik sendi tersebut
secara bebas. Apabila pada tumpuan yang digunakan adalah jepit,
fenomena itu akan menyebabkan terjadinya momen lentur. Sekalipun
demikian, pelengkung jepit dapat melendut lebih kecil dibandingkan
dengan jenis pelengkung lainnya apabila dibebani.
Penentuan kondisi tumpuan yang akan digunakan harus dilakukan
berdasarkan kondisi desain yang ada dan dengan memperhitungkan
mana kondisi yang dominan. Yang sering digunakan adalah pelengkung
dua sendi karena jenis struktur ini menggabungkan keuntungan yang ada
pada kedua jenis pelengkung lainnya tanpa menggabungkan kerugian
kedua-duanya.
PERILAKU LATERAL PADA PELENGKUNG. Tinjauan desain utama
adalah bagaimana mengatasi perilaku pelengkung pada arah lateral. Jelas
bahwa pada umumnya pelengkung yang terletak pada satu bidang
vertikal harus dicegah dari goyangan lateral. Ada dua mekanisme yang
umum dipakai untuk mencegah hal ini. Salah satunya adalah dengan
menggunakan tumpuan jepit.
Penggunaan tumpuan jepit untuk mencegah ketidakstabilan lateral
juga memerlukan fondasi pasif agar guling tidak terjadi. Cara lain
memperoleh kestabilan lateral ialah dengan menggunakan elemen
struktur lain yang dipasang secara transversal terhadap pelengkung
tersebut. Sepasang pelengkung di tepi-tepi struktur lengkap dapat
distabilkan dengan menggunakan elemen-elemen diagonal. Pelengkung
interior dapat distabilkan dengan cara menghubungkannya dengan
pelengkung lainnya dengan menggunakan elemen struktur transversal.

25

Struktur Membran meliputi Pneumatik dan struktur tent (tenda)


dan net (jarring)
STRUKTUR MEMBRAN

Definisi
Struktur

membran

adalah

sebuah

struktur

yang

mempunyai

permukaan fleksibel tipis yang memikul beban terutama melalui proses


tegangan tarik.
Prinsip Selalu mengalami gaya tarik emerlukan struktur lain untuk
mempertahankan bentuk permukaanya, yaitu:
a. Rangka penumpu dalam yang kaku
b. Prategang pada permukaan yang memberikan gaya eksternal yang
menarik membrane (jika bentuknya lembaran)
c. Tekanan internal (apabila bentuknya volume tetutup (pneumatic)

Pokok pokok permasalahan


Kelemahan

- Sangat peka terhadap efek aerodinamika sehingga mudah mengalami


getaran
- Tidak dapat menahan beban vertikal
Kelebihan
- Struktur ini bisa digunakan untuk membuat bentukan bentukan mulai
dari yang sederhana sampai yang kompleks, contoh: seperti permukaan
bola
- Struktur ini sifatnya ringan sehingga tidak memberatkan bangunan,
26

contoh:

tenda

- Sangat cocok untuk bangunan yang tidak permanen atau semi


permanen
- Bisa untuk bentang yang lebar
Klasifikasi
Berdasarkan tegangan tarik yang dapat dilakukan dengan system
prategang
- Membran berbentuk bidang pelana
- Membran berbentuk bidang kerucut dengan setengah tiang tenda
- Membran yang dikombinasikan secara bebas dengan hasil tenda gergaji
atau atap
gantungan
Berdasarkan penopangnya
- Kabel, contoh: struktur tenda
- Udara, contoh: struktur pneumatis
Pembahasan sistem struktur tenda biasanya dimasukkan ke dalam
kelompok struktur membran, bersama dengan dua jenis struktur yang
lain, yaitu pneumatis dan jaring. Membran adalah struktur permukaan
yang fleksibel dan tipis yang memikul beban dengan mengalami terutama
tegangan tarik. Gelembung sabun adalah contoh klasik yang dapat
dipakai untuk mengilustrasikan apakah struktur membran itu dan
bagaimana

perilakunya.

Struktur

membran

cenderung

dapat

menyesuaikan diri dengan cara struktur tersebut dibebani. Selain itu,


struktur ini sangat peka terhadap efek aerodinamika dari angin. Efek ini
dapat menyebabkan terjadinya fluttering (getaran). Dengan demikian,
membran yang digunakan pada gedung harus distabilkan dengan cara
tertentu hingga bentuknya dapat tetap dipertahankan pada saat memikul
berbagai kondisi pembebanan.
Terdapat beberapa cara dasar untuk menstabilkan membran.
Rangka penumpu dalam yang kaku, misalnya, dapat digunakan, atau
dapat

juga

penstabilan

dengan

menggunakan

pra-tegang

pada

permukaan membran. Hal ini dapat dilakukan baik dengan memberikan


27

gaya eksternal yang menarik membran, maupun dengan menggunakan


tekanan

internal

apabila

membrannya

berbentuk

volume

tertutup.

Contoh pemberian pra-tegang yang menggunakan gaya eksternal adalah


struktur tenda.

Akan tetapi ada pula tenda yang tidak mempunyai

permukaan yang benar-benar ditarik oleh kabel sehingga dapat bergerak


apabila dibebani. Sekalipun dapat memikul beban angin normal, banyak
permukaan tenda yang dapat bergetar sebagai akibat efek aerodinamika
dari angin kencang. Karena itulah tenda banyak digunakan sebagai
struktur

sementara,

bukan

sebagai

struktur

permanen.

Sekalipun

demikian, kita dapat memberi pra-tegang pada membran dengan


memberikan gaya jacking yang cukup untuk menegangkan membran
pada berbagai kondisi pembebanan. Biasanya, membran itu diberi
tegangan dalam arah tegak lurus di seluruh permukaannya.
STRUKTUR CANGKANG

Definisi
Pada dasarnya shell diambil dari beberapa bentuk yang ada dialam
seperti kulit telur, tempurung buah kelapa, cangkang kepiting, cangkang
keong, dan sebagainya (Curt Siegel).
Shell adalah bentuk struktural tiga dimensional yang kaku dan tipis
yang mempunyai permukaan lengkung. Shell harus didirikan dari material
yang dapat dilengkungkan seperti beton bertulang, kayu, logam, bata,
batu,

atau

plastik.

Cara yang baik untuk mempelajari perilaku permukaan shell yang


dibebani adalah dengan memandangnya sebagai analogi dari membran,
28

yaitu elemen permukaan yang sedemikian tipisnya hingga hanya gaya


tarik yang timbul padanya. Membran yang memikul beban tegak lurus
dari permukaannya akan berdeformasi secara tiga dimensional disertai
adanya gaya tarik pada permukaan membran. Yang terpenting adalah
adanya dua kumpulan gaya internal pada permukaan membran yang
mempunyai arah saling tegak lurus. Hal yang juga penting adalah adanya
tegangan

geser

tangensial

pada

berfungsi

permukaan

membran

memikul

yang

juga

beban.

Pada shell, gaya-gaya dalam bidang yang berarah mereditional


diakibatkan oleh beban penuh. Pada shell, tekanan yang diberikan oleh
gaya-gaya melingkar tidak menyebabkan timbulnya momen lentur dalam
arah meredional. Dengan demikian cangkang dapat memikul variasi
beban

cukup

dengan

tegangan-tegangan

bidang.

Variasi pola beban yang ada, bagaimanapun, harus merupakan transisi


perlahan (perubahan halus dari kondisi beban penuh kekondisi sebagian
agar momen lentur tidak timbul). Pada pelengkung, beban seperti ini
dapat menimbulkan lentur yang besar, sedangkan pada cangkang lentur
dengan cepat dihilangkan dengan aksi melingkar. Cangkang adalah
struktur yang unik. Cangkang dapat bekerja secara funicular untuk
banyak jenis beban yang berbeda meskipun bentuknya tidak benar-benar
funicular.
Struktur Shell di Alam Organisme yang hidup secara konstan
merubah dan menyesuaikan dengan tekanan eksternal yang baru; mereka
bertransformasi dalam waktu dan ruang. Respon formal mereka selalu
menarik perhatian desainer dan sumber konstan untuk penemuan baru,
walaupun mereka tidak pernah secara tuntas mengetahui kakuatan dan
prinsip yang membentuk organisme.
Ada banyak struktur pemukaan di alam yang tidak hanya ditemukan
dalam

skala

mikroskopis;

Persyaratan Struktur Shell Suatu struktur shell harus mempunyai tiga


syarat, yaitu sebagai berikut:
29

1. Harus memiliki bentuk lengkung, tunggal, maupun ganda (single or


double

curved)

2. harus tipis terhadap permukaan atau bentangannya


3. harus dibuat dari bahan yang keras, kuat, ulet dan tahan terhadap
tarikan

dan

tekanan.

Klasifikasi Permukaan (Surface) Untuk memprediksikan perlakuan


struktur membran sebaik kemungkinan konstruksinya, tidak hanya saja
yang harus kita tahu, tetapi juga fisik alamiah dari permukaan dan
karakteristik perlakuan yang lain. Kurva merupakan properti fundamental
dari permukaan. Sebuah permukaan dapat didefinisikan oleh banyak
kurva berbeda, oleh karena itu beberapa lengkungan (curvature) khusus
harus diidentifikasi: lengkung utama, lengkung Gaussian, dan lengkung
tengah. Lengkungan ini memberi karakteristik permukaan sebagai sistem
lengkung tunggal atau ganda, dimana permukaan lengkung ganda secara
lebih jauh dibagi menjadi permukaan synclastik dan anticlastic
Sesuai dengan terjadinya bentuk shell, maka shell digolongkan
dalam

tiga

macam:

1.
Adalah bidang yang diperoleh bilamana suatu garis lengkung yang datar
diputar terhadap suatu sumbu. Shell dengan permukaan rotasional dapat
dibagi tiga yaitu Spherical Surface, Eliptical Surface, Parabolic Surface.

30

Spherical Surface Eliptical Surface Parabolic Surface


2. Ruled Surface,
Adalah bidang yang diperoleh bilamana ujung-ujung suatu garis lurus
digeser pada dua bidang sejajar. Shell dengan permukaan transasional
dibagi dua yaitu cylindrical surface dan eliptic paraboloid.

cylindrical surface eliptic paraboloid


3. Translational surface
Adalah bidang yang diperoleh jika suatu garis lengkung yang datar
digeser sejajar diri sendiri terhadap garis lengkung yang datar lainnya.
Shell dengan permukaan ruled ada dua macam, yaitu Hyperbolic
Paraboloid dan Conoid.

31

Hyperbolic Paraboloid Conoid


1 Single Curved Shell
Shell dengan single curvature yang arah lengkungannya dalam satu arah
serta permukaannya tidak diputar/digeser, dan dibentuk oleh konus yang
sama.
Single curved dibentuk oleh:
1. Konus
2. Silinder
Contoh : Lengkung Barrel

2 Double Curved Shell


Yaitu shell dengan double curvature yang arah lengkungannya dalam dua
arah. Terdiri dari 2 macam:
1. Double Curved Shells yang arah lengkungnya ke satu arah (Synclastic
shells)
Contoh: Spherical Dome Shell
2. Double Curved Shells yang arah lengkungnya ke arah yang berbeda
(Anticlastic)
Contoh : Conoid

32

33

SHELL SILINDRIS
Shell silindris dengan lengkungaan tunggal dapat tersusun dari berbagai
tipe kurva yang berbeda. Kurva dasar mulai dari bentuk geometri tertentu
dari tembereng lingkaran, parabola, elips, hiperbola dan cycloid sampai
dengan bentuk geometri yang luwes dari garis funicular. Bentuk-bentuk
dasar ini dapat digabungkan dengan banyak cara untuk menghasilkan
potongan melintang dari bentuk-bentuk yang bervariasi, yang mana dapat
dikenali sebagai berikut :

Shell tunggal yang dikonstruksi dari segmen tunggal atau banyak


segmen

Shell tunggal melawan banyak shell (bentuk berombak)

Bertulang melawan unit yang tidak bertulang

Cembung melawan cekung melawan bentuk berombak-ombak

Menerus melawan bentuk terputus (bentuk Y, bentuk S miring, dll)

Shell simetris melawan shell asimetris

34

Unit-unit shell silindris dapat disusun secara parallel, radial atau


saling menyilang satu sama lain, shelll bisa lurus, berlipat, atau
dibengkokkan.
Perilaku dari sebuah unit silindris linear sederhana tergantung dari
geometrinya, materialnya, keadaan muatan (beban), dan tipe dan letak
penyokongnya. Pengarah dari letak penyokong sungguh tampak nyata .
sebaiknya

didukung

secara

menerus

sepanjang

sisi

longitudinal

(membujur)-nya oleh balok-balok yang kuat, rangka-rangka, dindingdinding atau pondasi-pondasi, gaya-gaya dialirkan secara langsung pada
arah transversal (melintang) menuju penyokongnya.
Perilakunya dapat digambarkan sebagai reaksi lingkungan paralel,
masing-masing selebar satu kaki. Lingkungan ini harus relatif tebal
sebagai respon terhadap gaya-gaya dengan melengkung mengikuti aksi
gaya aksial. Karena lengkungan merupakan pertimbangan desai dasar,
struktur permukaan dengan lengkungan tunggal ini tidak betul-betul
dipertimbangkan sebagai shell, karena respon structural dasar mereka
bukan merupakan aksi tipe membrane. Mereka disebut kubah, dan
mungkin didesain kira-kira sebagaimana lengkungan.
Di sisi lain jika tidak terdapat penyokong pada arah longitudinal,
tetapi hanya pada arah transversal, shell tentunya berperilaku seperti
balok yang merentang pada arah longitudinal, gaya-gaya tidak bisa terlalu
lama

diteruskan

pada

aksi

lengkungan

secara

langsung

ke

arah

penyokong longitudinal. Untuk shell silindris dengan lebar chord kecil bila
dibandingkan dengan bentangnya, respon dasarnya akan menjadi aksi
balok. Jenis shell seperti ini disebut shell panjang atau shell balok, mereka
bisa digambarkan sebagai balok dengan perpotongan kurvilinear. Mereka
diasmsikan untuk tidak mengubah dibawah aksi muatan sehingga
distribusi

tekanan

linear

bisa

digunakan.

35

Pendekatan desain shell balok beton


Ketiga struktur permukaan linear lengkung tunggal vault, short,
dan long shell bisa dipelajari lebih lanjut dengan menyelidiki transisi dari
slab yang didukung balok satu arah hingga shell beam. Untuk kasus
dimana slab horizontal disokong oleh balok-balok, muatan pertama-tama
disalurkan pada aksi slab secara melintang dan kemudian pada aksi balik
secara membujur. Jika slab bengkok , aksi slab digantikan oleh aksi
lengkung, dianggap bahwa balok sisi membujur sangat kaku bila
dibandingkan dengan shell, jadi kondisi tersebut mirip dengan kubah yang
disokong secara membujur. Bagaimanapun, jika bagian tepi relatif
fleksibel, barulah tepi balok dan shell bisa bertindak bersama sebagai satu
kesatuan : kekuatan dasar pada shell ini dengan tepi balok adalah aksial
natural, sebagaimana disebabkan oleh aksi balok pada arah longitudinal
daripada membengkok ke arah aksi lengkung pada arah tranversal
B.

Pengelompokan Struktur Bentang Lebar

Secara umum bangunan bentang lebar terbagi atas empat sistem


struktur, yaitu :
a. Form Active Structure System
1.

Cable System (Sistem Struktur Kabel)


Prinsip dasar dari struktur kabel adalah penahanan beban oleh

sebuah elemen yang berfungsi sebagai penarik. Gaya yang bekerja pada
kabel adalah gaya vertikal dan gaya horizontal dengan asumsi bahwa
kabel selalu berada dalam keadaan miring. Gaya vertikal yang bekerja
36

pada berbagai macam jenis kabel dengan berbagai bentangan yang sama
dan

tinggi

yang

berada

adalah

selalu

sama,

sedangkan

gaya

horizontalnya akan selalu berubah tergantung tingginya. Semakin tinggi


tiangnya, semakin kecil sudut kabel terhadap tiang utamanya, maka
semakin kecil gaya horizontalnya.
2. Tent System (Sistem Struktur Tenda)
Tenda atau membran adalah struktur permukaan fleksibel tipis yang
memikul beban dengan mengalami terutama tegangan tarik. (Sumber:
Struktur. Daniel L. Schodek:431)
Struktur membran sangat sensitif terhadap tekanan angin yang
dapat mengakibatkan kibaran pada permukaan dan perubahan bentuk
yang terjadi.
Supaya tidak terjadi kibaran, dilakukan cara dengan memberikan
tekanan dari dalam membran (internal rigid structures) dengan cara
memberikan volume dalam membran sampai pada batas maksimal yang
juga didukung oleh sistem- sistem peregangan sehingga sifat permukaan
struktur membrann menjadi kaku.
3. Pneumatic System
Struktur pneumatik biasanya digunakan untuk konstruksi pneumatik
khusus yang digunakan pada gedung. Ada dua kelompok utama pada
struktur pneumatik: struktur yang ditumpu udara (air-suported structure)
dan struktur yang digelembungkan udara (air-infalated structure). Struktur
yang ditumpu udara terdiri atas satu membran (menutup ruang yang
beguna secara fungsional) yang ditumpu oleh perbedaan tekanan internal
kecil.
Struktur yang digelembungkan udara ditumpu oleh kandungan
udara bertekanan yang menggelembungkan elemen-elemen gedung.
Volume internal udara gedung tetap sebesar tekanan udara Struktur yang
37

digelembungkan udara mepunyai mekanisme pikul beban yang lain.


Uadara yang ditekan digunakan untuk menggelembungkan bentuk-bentuk
(misalmya pelengkung, dinding, ataukolom) yang digunakan untuk
penutup gedung.
Ada dua jenis utama dari struktur yang digelembungkan udara yang
banyak digunakan, yaitu struktur rib tergelembung dan struktur dinding
rangkap. Untuk mendapat kestabilan, struktur yang digelembungkan
udara biasanya memerlukan tekanan tekanan yang lebih besar dari pada
yang dbutukkan oleh struktur yang ditumpu udara. Hal ini karena karena
tekanan internal tidak dapat langsung digunakan untuk mengimbangi
beban eksternal, tetapi harus digunakan untuk memberi bentuk pada
struktur. Pada umumnya,sistem struktur yang ditumpu udara dapat
mempunyai bentang lebih besar daripada struktur yang digelembungkan.
4. Arch System
Sistem struktur busur termasuk golongan struktur funikular karena
telah digunakan bangsa Romawi dan Yunani, terutama untuk membuat
bangunan yang memerlukan bentangan yang besar/luas. Pada zaman itu
maupun saat ini sistem struktur busur dibuat dengan bahan padat yaitu
batu,

atau

batu

buatan/bata/masonry.

Juga

dikembangkan

dengan

menggunakan bahan bangunan yang modern dari kayu, besi/baja.


Busur menggunakan sendi lebih dari tiga sudah tidak stabil laggi
dan dapat mengakibatkan keruntuhan. Oleh karena itu jika ingin
memperoleh struktur busur dengan kekuatan struktur yang baik tanpa
mengalami tekuk (bending) dapat digunakan pengikat (bracing) pada
bagian dasarnya. Bahan pengikat tergantung dari dimensi ketebalan
busur dan luas bentang busur dapat dibuat dari kabel, baja, besi, kayu
maupun beton.
b. Bulk Active Structure System
1. Beam System
38

Struktur yang dibentuk dengan cara meletakkan elemen kaku


horisontal di atas elemen kaku vertikal. Elemen horizontal (balok) memikul
beban yang bekerja secara transversal dari panjangnya dan menyalurkan
beban tersebut ke elemen vertikal (kolom) yang menumpunya. Kolom
dibebani secara aksial oleh balok, dan akan menyalurkan beban tersebut
ke tanah. Balok akan melentur sebagai kibat dari beban yang bekerja
secara transversal, sehingga balok sering disebut memikul beban secara
melentur.
Kolom tidak melentur ataupun melendut karena pada umumnya
mengalami gaya aksial saja. Pada suatu bangunan struktur balok dapat
merupakan balok tungga di atas tumpuan sederhana ataupun balok
menerus. Pada umumnya balok menerus merupakan struktur yang lebih
menguntungkan dibanding balok bentangan tunggal di atas dua tumpuan
sederhana.
2. Frame System
Frame system atau sistem struktur rangka adalah sistem struktur
yang terdiri dari batang-batang yang panjangnya jauh lebih besar
dibandingkan dengan ukuran penampangnya Bentuk kontruksi rangka
adalah perwujudan dari pertentangan antara gaya tarik bumi dan
kekokohan; dan kontruksi rangka yang modern adalah hasil penggunaan
baja dan beton secara rasional dlm bangunan.
Kerangka ini terdiri atas komposisi dari kolom-kolom dan balokbalok. Unsur vertikal, berfungsi sebagai penyalur beban dan gaya menuju
tanah, sedangkan balok adalah unsur horizontal yg berfungsi sebagai
pemegang dan media pembagian lentur. Kemudian kebutuhan-kebutuhan
terhadap lantai, dinding dan sebagainya untuk melengkapi kebutuhan
bangunan untuk hidup manusia, dapat diletakkan dan ditempelkan pada
kedua elemen rangka bangunan tsb diatas.
Jadi dapat dinyatakan disini bahwa rangka ini berfungsi sebagai
struktur bangunan dan dinding-dinding atau elemen lainnya yg menempel
39

padanya merupakan elemen yg tidak struktural. Bahan- bahan yg dapat


dipakai pada struktur ini adalah kayu, baja, beton atau lain-lain bahan yg
tahan terhadap gaya tarik, tekan, punter, dan lentur. Umtuk masa kini
banyak digunakan baja dan beton yg mampu menahan gaya-gaya tsb
dalam skala besar.
3. Beam Grid and Slab System
Struktur balok grid terdiri atas balok-balok yang saling bersilangan,
dengan jarak yang relatif rapat, yang menumpu pelat atas yang tipis.
Sistem ini dimaksudkan untuk mengurangi berat sendiri pelat, sehingga
lendutan dari pelat yang besar dapat dikurangi. Sistem ini dinilai efisien
untuk bentangan besar dan juga dapat didesain sesuai selera.
a) Struktur Plat
(1) Struktur Plat Satu Arah
Beberapa hal perlu menjadi perhatian dalam pembahasan struktur plat
satu arah, yaitu:
Beban Merata
Struktur plat berperilaku hampir sama dengan struktur grid.
perbedaannya adalah bahwa pada struktur plat, berbagi aksi terjadi
secara kontinu melalui bidang slab, bukan hanya pada titik- titik tumpuan.
Plat tersebut dapat dibayangkan sebagai sederetan jalur balok yang
berdekatan dengan lebar satu satuan dan terhubung satu sama lain di
seluruh bagian panjangnya.
Beban Terpusat
Plat yang memikul beban terpusat berperilaku lebih rumit. Plat
tersebut

dapat

dibayangkan

sebagai

sederetan

jalur

balok

yang

berdekatan dengan lebar satu satuan dan terhubung satu sama lain di
seluruh bagian panjangnya. Karena adanya beban yang diterima oleh jalur
40

balok, maka balok cenderung berdefleksi ke bawah. Kecenderungan itu


dikurangi dengan adanya hubungan antara jalurjalur tersebut. Torsi juga
terjadi pada jalur tersebut. Pada jalur yang semakin jauh dari jalur dimana
beban terpusat bekerja, torsi dan geser yang terjadi akan semakin
berkurang di jalur yang mendekati tepi plat. Hal ini berarti momen internal
juga berkurang. Jumlah total reaksi harus sama dengan beban total yang
bekerja pada seluruh arah vertikal. Jumlah momen tahanan internal yang
terdistribusi di seluruh sisi plat juga harus sama dengan momen eksternal
total. Hal ini didasarkan atas tinjauan keseimbangan dasar.

Plat Berusuk
Plat berusuk adalah sistem gabungan balok-slab. Apabila slab
mempunyai kekakuan yang relatif kaku, maka keseluruhan susunan ini
akan berperilaku sebagai slab satu arah, bukan balok- balok sejajar. Slab
transveral dianggap sebagai plat satu arah menerus di atas balok. Momen
negatif akan terjadipada slab di atas balok.
(2) Struktur Plat Dua Arah
Bahasan atas struktur plat dua arah akan dijelaskan berdasarkan
kondisi tumpuan yang ada, yaitu sebagai berikut:
Plat sederhana di atas kolom
Plat yang ditumpu sederhana di tepi-tepi menerus
Plat dengan tumpuan tepi jepit menerus
Plat di atas balok yang ditumpu kolom
b) Struktur Grid
Pada struktur grid, selama baloknya benar-benar identik, beban
akan sama di sepanjang sisi kedua balok. Setiap balok akan memikul
setengah dari beban total dan meneruskan ke tumpuan. Apabila balokbalok tersebut tidak identik maka bagian terbesar dari beban akan dipikul
41

oleh balok yang lebih kaku. Apabila balok mempunyai panjang yang tidak
sama, maka balok yang lebih pendek akan menerima bagian beban yang
lebih besar dibandingkan dengan beban yang diterima oleh balok yang
lebih panjang. Hal ini karena balok yang lebih pendek akan lebih kaku.
Kedua balok tersebut akan mengalami defleksi yang sama di titik
pertemuannya karena keduanya dihubungkan pada titik tersebut.
Agar defleksi kedua balok itu sama, maka diperlukan gaya lebih
besar pada balok yang lebih pendek. Dengan demikian, balok yang lebih
pendek akan memikul bagian beban yang lebih besar. Besar relatif dari
beban yang dipikul pada struktur grid saling tegak lurus, dan bergantung
pada sifat fisis dan dimensi elemen-elemen grid tersebut. Pada grid yang
lebih kompleks, baik aksi dua arah maupun torsi dapat terjadi. Semua
elemen

berpartisipasi

dalam

memikul

beban

dengan

memberikan

kombinasi kekuatan lentur dan kekuatan torsi. Defleksi yang terjadi pada
struktur grid yang terhubung kaku akan lebih kecil dibandingkan dengan
defleksi pada struktur grid terhubung sederhana.
C. Vector Active Structure System
1. Flat Truss System (rangka batang bidang)
Susunan elemen-elemen linear yang membentuk segitiga atau
kombinasi segitiga yang secara keseluruhan berada di dalam satu bidang
tunggal.
2.Curved Truss System
Merupakan kombinasi dari struktur rangka batang rata yang
membentuk lengkungan. Sistem struktur rangka bentang lengkung ini
sering disebut juga sistem fame work. Sistem ini dapat mendukung beban
atap smpai denganbentang 75 meter, seperti pada hanggar bangunan
pesawat, stadion olah raga, bangunan pabrik, dll.
3. Space Truss System (rangka batang ruang)
42

Susunan elemen-elemen linear yang membentuk segitiga atau


kombinasi segitiga yang secara keseluruhan membentuk volume 3
dimensi (ruang).Sering disebut juga sebagai space frame.
Space frame

atau sistem rangka ruang adalah sistem struktur

rangka tiga dimensi yang membentang dua arah, di mana batangbatangnya hanya mengalami gaya tekan atau tarik saja. Sistem tersebut
merupakan salah satu perkembangan sistem struktur batang.
Struktur rangka ruang merupakan susunan modul yaang diatur dan
disusun berbalikan antara modul satu dengan modul lainnya sehingga
gaya-gaya yang terjadi menjalar mengikuti modul-modul yang tersusun.
Modul ini satu sama lain saling mengatkan, sehingga sistem struktur ini
tidak mudah goyah.

D. Surface Active Structure System


1.Prismatic Folded Structure System
Struktur bidang lipat merupakan bentuk struktur yang memiliki
kekakuan satu arah yang diperbesar dengan menghilagkan permukaan
planar sama sekali dan membuat deformasi besar pada pelat sehingga
tinggi struktural pelat semakin besar.
Karakteristik suatu struktur bidang lipat adalah masing- masing
elemen pelat berukuran relatif rata (merupakan sederetan elemen tipis
yang saling dihubungkan sepanjang tepinya).
Struktur bidang lipat akan mengusahakan sebanyak mungkin
material terletak jauh dari bidang tengah stuktur. Elemen pelat lipat ini
43

mempunyai kapasitas pikul beban besar hanya jika tekuk lateral daerah
yang tertekan dapat dicegah sehingga daerah tekan pada setiap pelat
akan selalu dapat dikekang pelat sebelahnya.
Bentuk bidang lipat mempunyai kekuatan yang lebih besar dari
bidang datar karena momen energinya lebih besar.
2.Pyramidal Folded Structure System
Bentuk piramidal yaitu bentuk lipatan yang

terdiri dari bidang

lipatan yang berbentuk segitiga.


3.Rotational Shell System
Rotational Shell System adalah bidang yang diperoleh bilamana
suatu garis lengkung yang datar diputar terhadap suatu sumbu. Shell
dengan permukaan ratisional dapat dibagi tiga yaitu, Spherical Surface,
Elliptical Surface, Parabolic Surface.
4.Anticlastic Shell System
Struktur bidang

lengkung rangkap berbalikan merupakan suatu

bentuk pelana dengan arah lengkungan yang berbeda pada setiap


arahnya. Struktur bidang lengkung rangkap berbalikan dapat dibagi
menjadi beberapa macamtipe.
6. Struktur dan Konstruksi ditinjau dari segi Islam
Struktur dan konstruksi merupakan suatu bagian dari ilmu arsitektur
dengan fungsi seperti yang dikemukakan sebelumnya sebagai pendukung
pencapaian bentuk dalam arsitektur. Sebagai sebuah ilmu, merupakan
suatu hal yang penting untuk menpelajari dan mendalaminya. Dalam Al.
Alaq ayat 1, Allah memerintahkan kita untuk membaca. Ayat ini sudah
ditafsirkan dengan berbagai versi yang intinya satu, untuk terus belajar di
dalam hidup.
Penguasaan struktur dan konstruksi sangat penting, mengingat
peranannya sebagai penentu kekuatan bangunan. Bangunan yang lemah,
44

dapat menjadi musibah bagi penghuni yang ada di dalamnya. Apalagi


mengingat bentang lebar dengan perkiraan minimal orang yang diwadahi
sekitar dua ribu orang. Belajar ilmu struktur bentang lebar, berarti belajar
untuk menghargai hidup orang lain. Bangunan yang kokoh akan
memberikan ketenangan bagi orang yang ada di dalamnya. Dengan
penguasaan ilmu struktur dan konstruksi juga, manusia bisa lebih
berhemat dan tidak menjadi mubatsir dalam mengaplikasikan sistem
struktur dan konstruksinya, guna pemenuhan target kearsitekturalannya.
Struktur Rangka Batang

Rangka

batang

adalah

susunan

elemen-elemen

linier

yang

membentuk segitiga atau kombinasi segitiga, sehingga menjadi bentuk


rangka yang tidak dapat berubah bentuk bila diberi beban eksternal tanpa
adanya perubahan bentuk pada satu atau lebih batangnya. Setiap elemen
tersebut dianggap tergabung pada titik hubungnya dengan sambungan
sendi. Sedangkan batang-batang tersebut dihubungkan sedemikian rupa
sehingga semua beban dan reaksi hanya terjadi pada titik hubung.
Prinsip prinsip Umum Rangka Batang
a. Prinsip Dasar Triangulasi

45

Prinsip utama yang mendasari penggunaan rangka batang sebagai


struktur pemikul beban adalah penyusunan elemen menjadi konfigurasi
segitiga yang menghasilkan bentuk stabil. Pada bentuk segiempat atau
bujursangkar, bila struktur tersebut diberi beban, maka akan terjadi
deformasi masif dan menjadikan struktur tak stabil. Bila struktur ini diberi
beban, maka akan membentuk suatu mekanisme runtuh (collapse),
sebagaimana diilustrasikan pada gambar berikut ini. Struktur yang
demikian dapat berubah bentuk dengan mudah tanpa adanya perubahan
pada panjang setiap batang. Sebaliknya, konfigurasi segitiga tidak dapat
berubah bentuk atau runtuh, sehingga dapat dikatakan bahwa bentuk ini
stabil.
Pada struktur stabil, setiap deformasi yang terjadi relatif kecil dan
dikaitkan dengan perubahan panjang batang yang diakibatkan oleh gaya
yang timbul di dalam batang sebagai akibat dari beban eksternal. Selain
itu, sudut yang terbentuk antara dua batang tidak akan berubah apabila
struktur stabil tersebut dibebani. Hal ini sangat berbeda dengan
mekanisme yang terjadi pada bentuk tak stabil, dimana sudut antara dua
batangnya berubah sangat besar.
Pada struktur stabil, gaya eksternal menyebabkan timbulnya gaya
pada batang-batang. Gaya-gaya tersebut adalah gaya tarik dan tekan
murni. Lentur (bending) tidak akan terjadi selama gaya eksternal berada
pada titik nodal (titik simpul). Bila susunan segitiga dari batang-batang
adalah bentuk stabil, maka sembarang susunan segitiga juga membentuk
struktur stabil dan kukuh. Hal ini merupakan prinsip dasar penggunaan
rangka batang pada gedung. Bentuk kaku yang lebih besar untuk
sembarang geometri dapat dibuat dengan memperbesar segitiga-segitiga
itu. Untuk rangka batang yang hanya memikul beban vertikal, pada
batang tepi atas umumnya timbul gaya tekan, dan pada tepi bawah
umumnya timbul gaya tarik. Gaya tarik atau tekan ini dapat timbul pada
setiap batang dan mungkin terjadi pola yang berganti-ganti antara tarik
dan tekan.

46

Penekanan pada prinsip struktur rangka batang adalah bahwa


struktur hanya dibebani dengan beban-beban terpusat pada titik-titik
hubung agar batang-batangnya mengalami gaya tarik atau tekan. Bila
beban bekerja langsung pada batang, maka timbul pula tegangan lentur
pada batang itu sehingga desain batang sangat rumit dan tingkat efisiensi
menyeluruh pada batang menurun.
b. Analisa Kualitatif Gaya Batang
Perilaku gaya-gaya dalam setiap batang pada rangka batang dapat
ditentukan dengan menerapkan persamaan dasar keseimbangan. Untuk
konfigurasi rangka batang sederhana, sifat gaya tersebut (tarik, tekan
atau nol) dapat ditentukan dengan memberikan gambaran bagaimana
rangka

batang

tersebut

memikul

beban.

Salah

satu

cara

untuk

menentukan gaya dalam batang pada rangka batang adalah dengan


menggambarkan bentuk deformasi yang mungkin terjadi. Mekanisme
gaya yang terjadi pada konfigurasi rangka batang sederhana dapat dilihat
pada Gambar 4.2. Metode untuk menggambarkan gaya-gaya pada rangka
batang adalah berdasarkan pada tinjauan keseimbangan titik hubung.
Secara umum rangka batang kompleks memang harus dianalisis secara
matematis agar diperoleh hasil yang benar.
Analisa Rangka Batang
a. Stabilitas
Langkah pertama pada analisis rangka batang adalah menentukan
apakah rangka batang itu mempunyai konfigurasi yang stabil atau tidak.
Secara umum, setiap rangka batang yang merupakan susunan bentuk
dasar segitiga merupakan struktur yang stabil. Pola susunan batang yang
tidak segitiga, umumnya kurang stabil. Rangka batang yang tidak stabil
dan akan runtuh apabila dibebani, karena rangka batang ini tidak
mempunyai jumlah batang yang mencukupi untuk mempertahankan
hubungan geometri yang tetap antara titik-titik hubungnya.
47

Penting untuk menentukan apakah konfigurasi batang stabil atau


tidak stabil. Keruntuhan total dapat terjadi bila struktur tak stabil
terbebani. Pola yang tidak biasa seringkali menyulitkan penyelidikan
kestabilannya. Pada suatu rangka batang, dapat digunakan batang
melebihi jumlah minimum yang diperlukan untuk mencapai kestabilan.
Untuk

menentukan

kestabilan

rangka

batang

bidang,

digunakan

persamaan yang menghubungkan banyaknya titik hubung pada rangka


batang dengan banyaknya batang yang diperlukan untuk mencapai
kestabilan (lihat sub bab 3.6).
Aspek lain dalam stabilitas adalah bahwa konfigurasi batang dapat
digunakan untuk menstabilkan struktur terhadap beban lateral. Gambar
4.4 menunjukan cara menstabilkan struktur dengan menggunakan
batangbatang kaku (bracing). Kabel dapat digunakan sebagai pengganti
dari batang kaku, bila gaya yang dipikul adalah gaya tarik saja. Tinjauan
stabilitas sejauh ini beranggapan bahwa semua elemen rangka batang
dapat memikul gaya tarik dan tekan dengan sama baiknya. Elemen kabel
tidak dapat memenuhi asumsi ini, karena kabel akan melengkung bila
dibebani gaya tekan. Ketika pembebanan datang dari suatu arah, maka
gaya tekan atau gaya tarik mungkin timbul pada diagonal, sesuai dengan
arah diagonal tersebut. Suatu struktur dengan satu kabel diagonal
mungkin tidak stabil. Namun bila kabel digunakan dengan sistem kabel
silang, dimana satu kabel memikul seluruh gaya horisiontal dan kabel
lainnya menekuk tanpa menimbulkan bahaya terhadap struktur, maka
kestabilan dapat tercapai.
b. Gaya Batang
Prinsip yang mendasari teknik analisis gaya batang adalah bahwa
setiap struktur atau setiap bagian dari setiap struktur harus berada dalam
kondisi seimbang. Gaya-gaya batang yang bekerja pada titik hubung
rangka batang pada

semua

bagian struktur harus berada dalam

keseimbangan, seperti pada Gambar 4.5. Prinsip ini merupakan kunci


utama dari analisis rangka batang.
48

c. Metode Analisis Rangka Batang


Beberapa metode digunakan untuk menganalisa rangka batang.
Metode-metode

ini

pada

prinsipnya

didasarkan

pada

prinsip

keseimbangan. Metode-metode yang umum digunakan untuk analisa


rangka batang adalah sebagai berikut :
1. Keseimbangan Titik Hubung pada Rangka Batang
Pada analisis rangka batang dengan metode titik hubung (joint),
rangka batang dianggap sebagai gabungan batang dan titik hubung. Gaya
batang diperoleh dengan meninjau keseimbangan titik-titik hubung.
Setiap titik hubung harus berada dalam keseimbangan.
2. Keseimbangan Potongan
Prinsip yang mendasari teknik analisis dengan metode ini adalah
bahwa

setiap

bagian

dari

suatu

struktur

harus

berada

dalam

keseimbangan. Dengan demikian, bagian yang dapat ditinjau dapat pula


mencakup

banyak

titik

hubung

dan

batang.

Konsep

peninjauan

keseimbangan pada bagian dari suatu struktur yang bukan hanya satu
titik hubung merupakan cara yang sangat berguna dan merupakan dasar
untuk analisis dan desain rangka batang, juga banyak desain struktur lain.
Perbedaan antara kedua metode tersebut di atas adalah dalam
peninjauan keseimbangan rotasionalnya. Metode keseimbangan titik
hubung, biasanya digunakan apabila ingin mengetahui semua gaya
batang. Sedangkan metode potongan biasanya digunakan apabila ingin
mengetahui hanya sejumlah terbatas gaya batang.
Gaya Geser dan Momen pada Rangka Batang Metode ini merupakan
cara khusus untuk meninjau bagaimana rangka batang memikul beban
yang melibatkan gaya dan momen eksternal, serta gaya dan momen
tahanan internal pada rangka batang.

49

Agar keseimbangan vertikal potongan struktur dapat dijamin, maka


gaya geser eksternal harus diimbangi dengan gaya geser tahanan total
atau gaya geser tahanan internal (VR), yang besarnya sama tapi arahnya
berlawanan dengan gaya geser eksternal. Efek rotasional total dari gaya
internal tersebut juga harus diimbangi dengan momen tahanan internal
(MR) yang besarnya sama dan berlawanan arah dengan momen lentur
eksternal. Sehingga memenuhi syarat keseimbangan, dimana :
E R M = M atau ? = 0 E R M M (4.1)

d. Rangka Batang Statis Tak Tentu


Rangka batang statis tak tentu tidak dapat dianalisis hanya dengan
menggunakan

persamaan

kesimbangan

statika,

karena

kelebihan

banyaknya tumpuan atau banyaknya batang yang menjadi variabel. Pada


struktur statis tak tentu, keseimbangan translasional dan rotasional (????
Fx=0, Fy=0, dan Mo=0) masih berlaku. Pemahaman struktur statis tak
tentu adalah struktur yang gaya-gaya dalamnya bergantung pada sifatsifat fisik elemen strukturnya.
e. Penggunaan Elemen (Batang) Tarik Khusus : Kabel
Selain elemen batang yang sudah dibahas di atas, ada elemen lain
yang berguna, yaitu elemen kabel, yang hanya mampu memikul tarik.
Secara fisik, elemen ini biasanya berupa batang baja berpenampang kecil
atau kabel terjalin. Elemen ini tidak mampu memikul beban tekan, tetapi
sering digunakan apabila hasil analisis diketahui selalu memikul beban
tarik. Elemen yang hanya memikul beban tarik dapat mempunyai
penampang melintang yang jauh lebih kecil dibanding dengan memikul
beban tekan.

50

f. Rangka Batang Ruang


Kestabilan yang ada pada pola batang segitiga dapat diperluas ke
dalam tiga dimensi. Pada rangka batang bidang, bentuk segitiga
sederhana merupakan dasar, sedangkan bentuk dasar pada rangka
batang ruang adalah tetrahedron. Prinsip-prinsip yang telah dibahas pada
analisis rangka batang bidang secara umum dapat diterapkan pada
rangka batang ruang. Kestabilan merupakan tinjauan utama. Gaya-gaya
yang timbul pada batang suatu rangka batang ruang dapat diperoleh
dengan meninjau keseimbangan ruang potongan rangka batang ruang
tersebut. Jelas bahwa persamaan statika yang digunakan untuk benda
tegar tiga dimensi, yaitu
Apabila diterapkan langsung pada rangka batang ruang yang cukup
besar, persamaan-persamaan ini akan melibatkan banyak titik hubung
dan batang. bahkan tidak dikehendaki. Apabila kondisi titik hubung aktual
sedemikian rupa sehingga ujung-ujung batang tidak bebas berotasi, maka
momen lentur lokal dan gaya aksialnya dapat timbul pada batang-batang.
Apabila momen lentur itu cukup besar, maka batang tersebut harus
didesain agar mampu memikul tegangan kombinasi akibat gaya aksial
dan momen lentur.
Besar tegangan lentur yang terjadi sebagai akibat dari titik hubung
kaku umumnya ?? 20% dari tegangan normal yang terjadi. Pada desain
awal, biasanya tegangan lentur sekunder ini diabaikan. Salah satu efek
positif dari adanya titik hubung kaku ini adalah untuk memperbesar
kekakuan rangka batang secara menyeluruh, sehingga dapat mengurangi
defleksi. Merencanakan titik hubung yang kaku biasanya tidak akan
mempengaruhi pembentukan akhir dari rangka batang.
Desain Rangka Batang
a. Tujuan

51

Kriteria yang digunakan untuk merancang juga menjadi sangat


bervariasi. Ada beberapa tujuan yang menjadi kriteria dalam desain
rangka batang, yaitu :
1. Efisiensi Struktural
Tujuan efisiensi struktural biasa digunakan dan diwujudkan dalam
suatu prosedur desain, yaitu untuk meminimumkan jumlah bahan yang
digunakan dalam rangka batang untuk memikul pembebanan pada
bentang yang ditentukan. Tinggi rangka batang merupakan variabel
penting

dalam

meminimumkan

persyaratan

volume

material,

dan

mempengaruhi desain elemennya.


2. Efisiensi Pelaksanaan (Konstruksi)
Alternatif lain, kriteria desain dapat didasarkan atas tinjauan
efisiensi pelaksanaan (konstruksi) sehubungan dengan fabrikasi dan
pembuatan rangka batang. Untuk mencapai tujuan ini, hasil yang
diperoleh seringkali berupa rangka batang dengan konfigurasi eksternal
sederhana, sehingga diperoleh bentuk triangulasi yang sederhana pula.
Dengan membuat semua batang identik, maka pembuatan titik hubung
menjadi lebih mudah dibandingkan bila batang-batang yang digunakan
berbeda.
b. Konfigurasi
Beberapa bentuk konfigurasi eksternal rangka batang yang umum
digunakan seperti ditunjukan pada Gambar 4.6. Konfigurasi eksternal
selalu berubah-ubah, begitu pula pola internalnya. Konfigurasi-konfigurasi
ini

dipengaruhi

oleh

faktor

eksternal,

tinjauan

struktural

maupun

konstruksi. Masing-masing konfigurasi mempunyai tujuan yang berbeda.


Beberapa hal yang menjadi bahasan penting dalam konfigurasi rangka
batang adalah :
1. Faktor Eksternal
Faktor-faktor

eksternal

memang

bukanlah

hal

yang

utama

dalam

menentukan konfigurasi rangka batang. Namun faktor eksternal juga


dapat mempengaruhi bentuk-bentuk yang terjadi.
52

2. Bentuk-bentuk Dasar
Ditinjau dari segi struktural maupun konstruksi, bentukbentuk dasar yang
digunakan

dalam

rangka

batang

merupakan

respon

terhadap

pembebanan yang ada. Gaya-gaya internal akan timbul sebagai respon


terhadap momen dan gaya geser eksternal. Momen lentur terbesar pada
umumnya terjadi di tengah rangka batang yang ditumpu sederhana yang
dibebani merata, dan semakin mengecil ke ujung. Gaya geser eksternal
terbesar terjadi di kedua ujung, dan semakin mengecil ke tengah.
3. Rangka Batang Sejajar
Pada rangka batang dengan batang tepi sejajar, momen eksternal ditahan
terutama oleh batang-batang tepi atas dan bawah. Gaya geser eksternal
akan dipikul oleh batang diagonal karena batangbatang tepi berarah
horisontal dan tidak mempunyai kontribusi dalam menahan gaya arah
vertikal. Gaya-gaya pada diagonal umumnya bervariasi mengikuti variasi
gaya geser dan pada akhirnya menentukan desain batang.
4. Rangka Batang Funicular
Rangka batang yang dibentuk secara funicular menunjukan bahwa secara
konsep, batang nol dapat dihilangkan hingga terbentuk konfigurasi bukan
segitiga, namun tanpa mengubah kemampuan struktur dalam memikul
beban rencana. Batang-batang tertentu yang tersusun di sepanjang garis
bentuk funicular untuk pembebanan yang ada merupakan transfer beban
eksternal ke tumpuan. Batangbatang lain adalah batang nol yang
terutama berfungsi sebagai bracing. Tinggi relatif pada struktur ini
merupakan fungsi beban dan lokasinya.
c. Tinggi Rangka Batang
Penentuan tinggi optimum yang meminimumkan volume total
rangka batang umumnya dilakukan dengan proses optimasi. Proses
optimasi ini membuktikan bahwa rangka batang yang relatif tinggi
terhadap bentangannya merupakan bentuk yang efisien dibandingkan
53

dengan rangka batang yang relatif tidak tinggi. Sudut-sudut yang


dibentuk oleh batang diagonal dengan garis horisontal pada umumnya
berkisar antara 300 600 dimana sudut 450 biasanya merupakan sudut
ideal. Berikut ini pedoman sederhana untuk menentukan tinggi rangka
batang berdasarkan pengalaman. Pedoman sederhana di bawah ini hanya
untuk pedoman awal, bukan digunakan sebagai keputusan akhir dalam
desain.
d. Masalah-masalah pada Desain Elemen
Beberapa permasalahan yang umumnya timbul pada desain elemen
menyangkut faktor-faktor yang diuraikan berikut ini.
1. Beban Kritis
Pada rangka batang, setiap batang harus mampu memikul gaya
maksimum (kritis) yang mungkin terjadi. Dengan demikian, dapat saja
terjadi setiap batang dirancang terhadap kondisi pembebanan yang
berbeda-beda.
2. Desain Elemen, meliputi :

Batang Tarik

Batang Tekan
Untuk batang tekan, harus diperhitungkan adanya kemungkinan

keruntuhan tekuk (buckling) yang dapat terjadi pada batang panjang yang
mengalami gaya tekan. Untuk batang tekan panjang, kapasitas pikulbeban berbanding terbalik dengan kuadrat panjang batang. Untuk batang
tekan yang relatif pendek, maka tekuk bukan merupakan masalah
sehingga luas penampang melintang hanya bergantung langsung pada
besar gaya yang terlibat dan teganagan ijin material, dan juga tidak
bergantung pada panjang batang tersebut.
3. Batang Berukuran Konstan dan/atau Tidak Konstan
Bila batang tepi atas dirancang sebagai batang yang menerus dan
berpenampang melintang konstan, maka harus dirancang terhadap gaya
maksimum yang ada pada seluruh batang tepi atas, sehingga penampang
54

tersebut akan berlebihan dan tidak efisien. Agar efisien, maka penampang
konstan yang dipakai dikombinasikan dengan bagian-bagian kecil sebagai
tambahan luas penampang yang hanya dipakai pada segmen-segmen
yang memerlukan.
4. Pengaruh Tekuk terhadap Pola
Ketergantungan

kapasitas

pikul

beban

suatu

batang

tekan

pada

panjangnya serta tujuan desain agar batang tekan tersebut relatif lebih
pendek seringkali mempengaruhi pola segitiga yang digunanakan, seperti
ditunjukan pada Gambar 4.7 berikut.
5. Pengaruh Tekuk Lateral pada desain batang dan susunan batang.
Jika rangka berdiri bebas seperti pada Gambar 4.8, maka ada
kemungkinan struktur tersebut akan mengalami tekuk lateral pada
seluruh bagian struktur. Untuk mencegah kondisi ini maka struktur rangka
batang yang berdiri bebas dapat dihindari. Selain itu penambahan balok
transversal pada batang tepi atas dan penggunaan rangka batang ruang
juga dapat mencegah tekuk transversa.
e. Rangka Batang Bidang dan Rangka Batang Ruang
Rangka batang bidang memerlukan material lebih sedikit daripada
rangka batang tiga dimensi untuk fungsi yang sama. Dengan demikian,
apabila rangka batang digunakan sebagai elemen yang membentang satu
arah, sederetan rangka batang bidang akan lebih menguntungkan
dibandingkan dengan sederetan rangka batang ruang (tiga dimensi).
Sebaliknya, konfigurasi tiga dimensi seringkali terbukti lebih efisien
dibandingkan beberapa rangka batang yang digunakan untuk membentuk
sistem dua arah. Rangka batang tiga dimensi juga terbukti lebih efisien
bila dibandingkan beberapa rangka batang yang digunakan sebagai
rangka berdiri bebas (tanpa balok transversal yang menjadi penghubung
antar rangka batang di tepi atas).

55