Anda di halaman 1dari 45

PSIKOLOGI INDUSTRI

PERSEPSI

NAMA

: MUHAMMAD YOGA PRATAMA

NIM

: 122130186

KELAS

:D

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
YOGYAKARTA
2016

1.

Pengertian Persepsi
Persepsi (dari bahasa Latin perceptio, percipio) adalah tindakan menyusun,

mengenali, dan menafsirkan informasi sensoris guna memeberikan gambaran dan


pemahaman tentang lingkungan. Persepsi meliputi semua sinyal dalam sistem saraf,
yang merupakan hasil dari stimulasi fisik atau kimia dari organ pengindra. Seperti
misalnya penglihatan yang merupakan cahaya yang mengenai retina pada mata,
pencium yang memakai media molekul bau (aroma), dan pendengaran yang melibatkan
gelombang suara. Persepsi bukanlah penerimaan isyarat secara pasif, tetapi dibentuk
oleh pembelajaran, ingatan, harapan, dan perhatian. Persepsi bergantung pada fungsi
kompleks sistem saraf, tetapi tampak tidak ada karena terjadi di luar kesadaran.
Sejak ditemukannya psikologi eksperimen pada abad ke-19, pemahaman
psikologi terhadap persepsi telah berkembang melalui penggabungan berbagai teknik.
Dalam bidang psikofisika telah dijelaskan secara kuantitatif hubungan antara sifat-sifat
fisika dari suatu rangsangan dan persepsi. Ilmu saraf sensoris mempelajari tentang
mekanisme otak yang mendasari persepsi. Sistem persepsi juga bisa dipelajari melalui
komputasi, dari informasi yang diproses oleh sistem tersebut. Persepsi dalam filosofi
adalah sejauh mana unsur-unsur sensori seperti suara, aroma, atau warna ada dalam
realitas objektif, bukan dalam pikiran perseptor.

1.1 Pengertian persepsi menurut para ahli


Berikut beberapa pengertian persepsi menurut para ahli
Wagner dan Hollenbeck (1995:136) mengemukakan pendapatnya bahwa: We
human beings have five senses through which we experience the world around
us; sight, hearing, touch, smell and taste. Perception is the process by which
individuals select, organize, store and interpret the information gathered from
these senses. Pendapat tersebut kurang lebih mempunyai arti bahwa kita
manusia memiliki lima indera dimana lewat indera-indera tersebut kita bisa
mengalami dunia yang ada disekitar kita; yaitu lewat indera penglihatan,
pendengaran, perasa, penciuman dan pengecap. Persepsi merupakan proses
dimana seseorang memilih, mengelola, menyimpan dan menginterpretasikan
informasi yang dikumpulkan dari indera-indera tersebut.
Menurut Slameto (2010:102), yaitu persepsi adalah proses yang menyangkut
masuknya pesan atau informasi kedalam otak manusia, melalui persepsi manusia
1

terus menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya. Hubungan ini


dilakukan lewat inderanya, yaitu indera pengelihat, pendengar, peraba, perasa,
dan pencium.
Menurut Robbins (2003:97), yaitu yang mendeskripsikan bahwa persepsi
merupakan kesan yang diperoleh oleh individu melalui panca indera kemudian
di analisa (diorganisir), diintepretasi dan kemudian dievaluasi, sehingga individu
tersebut memperoleh makna.
Menurut Purwodarminto (1990: 759), yaitu tanggapan langsung dari suatu
serapan atau proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pengindraan.
Menurut Bimo Walgito, yaitu proses pengorganisasian, penginterpretasian
terhadap rangsang yang diterima oleh organisme atau individu sehingga
merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang integrated dalam
diri individu.
Menurut Maramis, yaitu daya mengenal barang, kualitas atau hubungan, dan
perbedaan antara hal ini melalui proses mengamati, mengetahui, atau
mengartikan setelah pancaindranya mendapat rangsang.
Menurut Desirato, yaitu pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubunganhubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan
pesan. Pesan dapat dikatakan sebagai pemberian makna pada stimuli indrawi
(sensory stimuli).
Menurut Joseph A. Devito, yaitu proses menjadi sadar akan banyaknya stimulus
yang memengaruhi indra kita.
Dalam kamus besar psikologi, persepsi diartikan sebagai suatu proses
pengamatan seseorang terhadap lingkungan dengan menggunakan indra-indra
yang dimiliki sehingga ia menjadi sadar akan segala sesuatu yang ada
dilingkungannya.
Menurut

Davidoff,

yaitu

merupakan

proses

pengorganisasian

dan

penginterpretasian terhadap stimulus oleh organisme atau individu sehingga


didapat sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang terintegrasi dalam
diri individu.
Menurut Bower, yaitu interpretasi tentang apa yang diinderakan atau dirasakan
individu.

Menurut Gibson, yaitu merupakan suatu proses pengenalan maupun proses


pemberian arti terhadap lingkungan oleh individu.
Menurut Lindzey & Aronson, yaitu mencakup konteks kehidupan sosial,
sehingga dikenallah persepsi sosial. Persepsi social merupakan suatu proses
yang terjadi dalam diri seseorang yang bertujuan untuk mengetahui,
menginterpretasi, dan mengevaluasi orang lain yang dipersepsi, baik mengenai
sifatnya, kualitasnya, ataupun keadaan lain yang ada dalam diri orang yang
dipersepsi sehingga terbentuk gambaran mengenai orang lain sebagai objek
persepsi tersebut.
Menurut Krech, yaitu proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh seorang
individu.
Menurut Wolberg, 1967, yaitu suatu proses yang dimulai dari penglihatan
hingga terbentuk tanggapan yang terjadi dalam diri individu sehingga individu
sadar akan segala sesuatu dalam lingkungannya melalui indera-indera yang
dimilikinya. Manusia sebagai makhluk sosial yang sekaligus juga makhluk
individual, maka terdapat perbedaan antara individu yang satu dengan yang
lainnya.
Menurut Young (1956), yaitu aktivitas mengindera, mengintegrasikan dan
memberikan penilaian pada obyek-obyek fisik maupun obyek sosial, dan
penginderaan tersebut tergantung pada stimulus fisik dan stimulus sosial yang
ada di lingkungannya. Sensasi-sensasi dari lingkungan akan diolah bersamasama dengan hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya baik hal itu berupa
harapan-harapan,nilai-nilai, sikap, ingatan dan lain-lain.
Menurut Branca (1965), yaitu Perceptions are orientative reactions to stimuli.
They have in past been determined by the past history and the present attitude of
the perceiver.
Menurut Polak 1976, yaitu proses persepsi individu dituntut untuk memberikan
penilaian terhadap suatu obyek yang dapat bersifat positif/negatif, senang atau
tidak senang dan sebagainya. Dengan adanya persepsi maka akan terbentuk
sikap, yaitu suatu kecenderungan yang stabil untuk berlaku atau bertindak secara
tertentu di dalam situasi yang tertentu pula.
Menurut Crow 1972, yaitu A percept is an organized totality rather than the sum
total of individual sensory experinces. In perception, an individual first gains a
3

general impression of the outline of on ogject or situation, (which is) the


percepts quality of organized totality.
Menurut Eytonck 1972, yaitu merupakan suatu fungsi biologis (melalui organorgan sensoris) yang memungkinkan individu menerima dan mengolah
informasi

dari

lingkungan

dan

mengadakan

perubahan-perubahan

di

lingkungannya.
Menurut Mangkunegara (dalam Arindita, 2002), yaitu suatu proses pemberian
arti atau makna terhadap lingkungan. Dalam hal ini persepsi mecakup penafsiran
obyek, penerimaan stimulus (Input), pengorganisasian stimulus, dan penafsiran
terhadap stimulus yang telah diorganisasikan dengan cara mempengaruhi
perilaku dan pembentukan sikap.
Menurut Kotler (2000), yaitu proses bagaimana seseorang menyeleksi, mengatur
dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi untuk menciptakan
gambaran keseluruhan yang berarti.
Menurut Leavitt (dalam Rosyadi, 2001) membedakan persepsi menjadi dua
pandangan, yaitu pandangan secara sempit dan luas. Pandangan yang sempit
mengartikan persepsi sebagai penglihatan, bagaimana seseorang melihat sesuatu.
Sedangkan pandangan yang luas mengartikannya sebagai bagaimana seseorang
memandang atau mengartikan sesuatu. Sebagian besar dari individu menyadari
bahwa dunia yang sebagaimana dilihat tidak selalu sama dengan kenyataan, jadi
berbeda dengan pendekatan sempit, tidak hanya sekedar melihat sesuatu tapi
lebih pada pengertiannya terhadap sesuatu tersebut.
Menurut Taniputera (2005), yaitu persepsi berarti analisis mengenai cara
fmengintegrasikan penerapan kita terhadap hal-hal di sekeliling individu dengan
kesan-kesan atau konsep yang sudah ada, dan selanjutnya mengenali benda
tersebut. Untuk memahami hal ini, akan diberikan contoh sebagai berikut:
individu baru pertama kali menjumpai buah yang sebelumnya tidak kita kenali,
dan kemudian ada orang yang memberitahu kita bahwa buah itu namanya
mangga. Individu kemudian mengamati serta menelaah bentuk, rasa, dan lain
sebagainya, dari buah itu secara saksama. Lalu timbul konsep mengenai mangga
dalam benak (memori) individu. Pada kesempatan lainnya, saat menjumpai buah
yang sama, maka individu akan menggunakan kesan-kesan dan konsep yang
telah kita miliki untuk mengenali bahwa yang kita lihat itu adalah mangga.

2.

Jenis-Jenis Persepsi
Proses pemahaman terhadap rangsang atau stimulus yang diperoleh oleh indera

menyebabkan persepsi terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

Persepsi visual, persepsi visual didapatkan dari indera penglihatan. Persepsi ini
adalah persepsi yang paling awal berkembang pada bayi, dan memengaruhi bayi
dan balita untuk memahami dunianya. Persepsi visual merupakan topik utama
dari bahasan persepsi secara umum, sekaligus persepsi yang biasanya paling
sering dibicarakan dalam konteks sehari-hari. Persepsi kaum muslimin harus
mengacu pada Al-Qur'an dan As-Sunnah, ini yang kemudian disebut Islamic
Worldview. Persepsi visual merupakan hasil dari apa yang kita lihat baik
sebelum kita melihat atau masih membayangkan dan sesudah melakukan pada
objek yang dituju. Persepsi visual memainkan peranan yang sangat penting
dalam belajar di sekolah, terutama membaca. Anak dengan gangguan persepsi
visual akan mengalami kesulitan untuk membedakan bentuk-bventuk geometri,
huruf-huruf atau kata-kata. Ada lima jenis persepsi visual, yaitu :
o

Hubungan keruangan (spatial relation), menunjuk pada persepsi tentang


posisi

berbagai

objek

dalam

ruang.

Dimensi

fungsi

visual

ini

mengimplikasikan persepsi tentang tempat suatu objek atau simbol (gambar,


huruf, angka) dan hubungan keruangan yang menyatu dengan sekitarnya.
Dalam membaca, kata-kata harus dilihat sebagai keseluruhan yang terpisah
yang dikelilingi oleh ruang. Kemampuan hubungan keruangan merupakan
bagian yang sangat penting dalam belajar matematika.
o

Diskriminasi visual (visual discrimination), menunjuk pada kemampuan


membedakan suatu objek dari objek yang lain. Dalam tes kesiapan belajar
misalnya, anak mungkin diminta menemukan gambar kelinci yang
bertelinga satu dari sederetan kelinci yang bertelinga dua. Jika anak diminta
membedakan huruf n dengan m, ia harus mengetahui jumlah bongkol pada
tiap huruf tersebut. Keterampilan memasangkan gambar, bentuk, atau katakata yang sama adalah bentuk tugas diskriminasi visual yang lain. Berbagai
objek mungkin dibedakan oleh warna, bentuk, pola, ukuran, posisi atau
kecemerlangan mereka. Kemampuan membedakan berbagai huruf dan kata
secara visual merupakan bagian yang esensial dalam belajar.
5

Diskriminasi bentuk dan latar belakang (figure-ground discrimination),


menunjuk pada kemampuan membedakan suatu objek dari latar belakang
yang mengelilingi. Anak yang memiliki kekurangan dalam bidang ini tidak
dapat memusatkan perhatian pada suatu objek karena sekeliling objek
tersebut ikut mempengaruhi perhatiannya. Akibat dari keadaan semacam ini
anak menjadi terkecoh perhatiannya oleh berbagai rangsangan yang berada
di sekitar objek yang harus diperhatikan.

Visual

colsure,

menunjuk

pada

kemampuan

mengingat

dan

mengidentifikasi suatu objek meskipun objek tersebut tidak diperlihaykan


secara keseluruhan. Seotrang pembaca yang baik misalnya, ia dapat
membaca kalimat secara utuh meskpun ada sebagian yang ditutup.bagi dia,
ada cukup kata atau huruf sebagai petunjuk untuk memecahkan masalah
pada bagian kalimat yang tersisa.
o

Mengenal objek (object recognition), menunjuk pada kemampuan mengenal


sifat berbagai objek pada saat mereka memandang. Pengenalan tersebut
mencakup berbagai bentuk geometri, hewan, huruf, angka, kata, dan
sebagainya.

Suatu analisis tentang persepsi visual telah dibuat oleh Money pada tahun 11966
(Lerner, 1981:216) berkenaan dengan hubungan dunia perseptual berbagai objek
dengan dunia perseptual huruf dan kata. Suatu generalisasi perseptual yang
dibuat oleh anak pada taha perkembangan sebelum belajar membaca adalah
melalui hukum ketetapan objek. Berdasarkan hukum ini anak menyimpulkan
bahwa suatu objek tetap masih sama nama maupun artinya tanpa memperhatikan
posisi keberadaannya, arah mukanya, atau adanya sedikit perubahan melalui
penambahan atau pengurangan. Sebuah meja, misalnya, tetap sebuah meja tanpa
menghiraukan apakah meja itu berkaki satu atau berkaki empat, berada di ruang
makan atau di ruang tamu, atau apakah dilapisi kaca atau tudak.

Persepsi auditori, persepsi auditori didapatkan dari indera pendengaran yaitu


telinga. Pendengaran adalah kemampuan untuk mengenali suara. Dalam manusia
dan binatang bertulang belakang, hal ini dilakukan terutama oleh sistem
pendengaran yang terdiri dari telinga, syaraf-syaraf, dan otak. Tidak semua suara
dapat dikenali oleh semua binatang. Beberapa spesies dapat mengenali
amplitudo dan frekuensi tertentu. Manusia dapat mendengar dari 20 Hz sampai
6

20.000 Hz. Bila dipaksa mendengar frekuensi yang terlalu tinggi terus menerus,
sistem pendengaran dapat menjadi rusak. Sebagaimana yang dikemukakan
Lerner (1988:285) berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak anak
yang berkesulitan belajar membaca memiliki kesulitan auditoris, linguistik, dan
fonologis. Anak-anak tersebut tidak memiliki masalah dalam ketajaman
pendengaran, tetapi memiliki ketidak mampuan dalam persepsi auditoris, yaitu
kemampuan untuk memahami dan menginterpretasikan segala sesuatu yang
didengar. Persepsi auditoris dapat dibagi menjadi lima bagian, yaitu :
o

Kesadaran fonologis, adalah kesadaran bahwa bahasa dapat dipecah ke


dalam kata, suku kata, dan fonem (bunyi huruf). Mereka tidak bisa
mengingat atau membedakan bunyi berbagai kata dan juga tidak dapat
mengingat jumlah bunyi dalam satu kata. Konsekuansi dari tidak adanya
kesadaran fonoogis tersebut adalah anak menjadi tidak dapat memahami dan
tidak dapat menggunakan prinsip alfabetik yang diperlukan untuk belajar
fonik dan membaca kata-kata.

Diskriminasi auditoris, adalah kemampuan mengingat perbedaan antara


bunyi-bunyi fonem dan mengidentifikasi kata-kata yang sama dengan katakata yang berbeda. Anak yang memiliki kesulitan dalam diskriminasi
auditoris mungkin akan sulit membedakan antara kata kakak dengan bapak
atau antara ibu dengan abu.

Ingatan auditoris merupakan kemampuan untuk menyimpan dan mengingat


sesuatu yang didengar. Sebagai contoh, anak dapat diminta untuk
melakukan tiga aktifitas, seperti menutup jendela, membuka pintu, dan
meletakkan kotak di atas meja. Perintah-perintah semacam ini dapat
digunakan untuk mengetahui ingatan auditoris seorang anak.

Urutan auditoris merupakan kemampuan memngingaturutan hal-hal yang


disampaikan secara lisan. Urutan alfabet, nama-nama hari, dan nama-nama
bulan adalah contoh urutan penting yang perlu dikuasai oleh anak.

Perpaduan auditoris, adalah kemampuan memaduka elemen-elemen fonik


tunggal atau berbagai fonem menjadi suatu kata yang utuh. Anak dengan
ketidakmampuan dalam perpaduan auditoris akan mengalami kesulitan
untuk memadukan fonem-fonem m-a-i-n untuk membentuk kata main.

Persepsi perabaan, persepsi pengerabaan didapatkan dari indera taktil yaitu kulit.
Persepsi perabaan didapatkan dari indera taktil yaitu kulit. Kulit dibagi menjadi
3 bagian, yaitu bagian epidermis, dermis, dan subkutis. Kulit berfungsi sebagai
alat pelindung bagian dalam, misalnya otot dan tulang; sebagai alat peraba
dengan dilengkapi bermacam reseptor yang peka terhadap berbagai rangsangan;
sebagai alat ekskresi; serta pengatur suhu tubuh. Sehubungan dengan fungsinya
sebagai alat peraba, kulit dilengkapi dengan reseptor reseptor khusus. Reseptor
untuk rasa sakit ujungnya menjorok masuk ke daerah epidermis. Reseptor untuk
tekanan, ujungnya berada di dermis yang jauh dari epidermis. Reseptor untuk
rangsang sentuhan dan panas, ujung reseptornya terletak di dekat epidermis.

Persepsi penciuman, persepsi penciuman atau olfaktori didapatkan dari indera


penciuman yaitu hidung. Penciuman, penghiduan, atau olfaksi, adalah
penangkapan atau perasaan bau. Perasaan ini dimediasi oleh sel sensor
tespesialisasi pada rongga hidung vertebrata, dan dengan analogi, sel sensor
pada antena invertebrata. Untuk hewan penghirup udara, sistem olfaktori
mendeteksi zat kimia asiri atau, pada kasus sistem olfaktori aksesori, fase cair.
Pada organisme yang hidup di air, seperti ikan atau krustasea, zat kimia
terkandung pada medium air di sekitarnya. Penciuman, seperti halnya
pengecapan, adalah suatu bentuk kemosensor. Zat kimia yang mengaktifkan
sistem olfaktori, biasanya dalam konsentrasi yang sangat kecil, disebut dengan
bau.

Persepsi pengecapan, persepsi pengecapan atau rasa didapatkan dari indera


pengecapan yaitu lidah. Pengecapan atau gustasi adalah suatu bentuk
kemoreseptor langsung dan merupakan satu dari lima indra tradisional. Indra ini
merujuk pada kemampuan mendeteksi rasa suatu zat seperti makanan atau
racun. Pada manusia dan banyak hewan vertebrata lain, indra pengecapan terkait
dengan indra penciuman pada persepsi otak terhadap rasa. Sensasi pengecapan
klasik mencakup manis, asin, masam, dan pahit. Belakangan, ahli-ahli psikofisik
dan neurosains mengusulkan untuk menambahkan kategori lain, terutama rasa
gurih (umami) dan asam lemak. Pengecapan adalah fungsi sensoris sistem saraf

pusat. Sel reseptor pengecapan pada manusia ditemukan pada permukaan lidah,
langit-langit lunak, serta epitelium faring dan epiglotis.

Persepsi selektif, Persepsi selektif menginterpretasikan secara selektif apa yang


dilihat seseorang yang berdasarkan minat, latar belakang, pengalaman, dan sikap
seseorang.

3.

Dinamika Persepsi
Persepsi perception merupakan konsep yang sangat penting dalam psikologi,

kalau bukan dikatakan yang paling penting. Melalui persepsilah manusia memandang
dunianya. Apakah dunia terlihat berwarna cerah, pucat, atau hitam, semuanya adalah
persepsi manusia yang bersangkutan. Persepsi harus dibedakan dengan sensasi
(sensation). Yang terakhir ini merupakan fungsi fisiologis, dan lebih banyak tergantung
pada kematangan dan berfungsinya organ-organ sensoris. Sensasi meliputi fungsi
visual, audio, penciuman dan pengecapan, serta perabaan, keseimbangan dan kendali
gerak. Kesemuanya inilah yang sering disebut indera.
Jadi dapat dikatakan bahwa sensasi adalah proses manusia dalam dalam menerima
informasi sensoris (energi fisik dari lingkungan) melalui penginderaan dan
menerjemahkan informasi tersebut menjadi sinyal-sinyal neural yang bermakna.
Misalnya, ketika seseorang melihat (menggunakan indera visual, yaitu mata) sebuah
benda berwarna merah, maka ada gelombang cahaya dari benda itu yang ditangkap oleh
organ mata, lalu diproses dan ditransformasikan menjadi sinyal-sinyal di otak, yang
kemudian diinterpretasikan sebagai warna merah.
Berbeda dengan sensasi, persepsi merupakan sebuah proses yang aktif dari
manusia dalam memilah, mengelompokkan, serta memberikan makna pada informasi
yang diterimanya. Benda berwarna merah akan memberikan sensasi warna merah, tapi
orang tertentu akan merasa bersemangat ketika melihat warna merah itu.

4.

Perbedaan Persepsi dengan Sensasi


Istilah persepsi sering dikacaukan dengan sensasi. Sensasi hanya berupa kesan

sesaat, saat stimulus baru diterima otak dan belum diorganisasikan dengan stimulus
lainnya dan ingatan-ingatan yang berhubungan dengan stimulus tersebut. Misalnya meja
yang terasa kasar, yang berarti sebuah sensasi dari rabaan terhadap meja.
9

Sebaliknya persepsi memiliki contoh meja yang tidak enak dipakai menulis, saat
otak mendapat stimulus rabaan meja yang kasar, penglihatan atas meja yang banyak
coretan, dan kenangan di masa lalu saat memakai meja yang mirip lalu tulisan menjadi
jelek.

Pengertian sensasi, sensasi pada dasarnya merupakan tahap awal dalam


penerimaan informasi. Sensasi, atau dalam bahasa inggrisnya sensation, berasal
dari kaca latin, sensatus, yang artinya dianugerahi dengan indra, atau intelek.
Secara lebih luas, sensasi dapat diartikan sebagai aspek kesadaran yang paling
sederhana yang dihasilkan oleh indra kita, seperti temperatur tinggi, warna hijau,
rasa nikmatnya sebatang coklat.sebuah sensasi dipandang sebagai kandungan
atau objek kesadaran puncak yang privat dan spontan. Benyamin B. Wolman
(1973, dalam rakhmat, 1994) menyebutkan sensasi sebagai pengalaman
elementer yang segera, yang tidak memerlukan penguraian verbal, simbolis, atau
konseptual, dan terutama sekali berhubungan dengan kegiatan alat indra.Apa
pun definisi sensasi, fungsi alat indra dalam menerima informasi dari lingkungan
sangat penting. Melalui alat indra, manusia dapat memahami kualitas fisik
lingkungannya. Lebih dari itu, melalui alat indralah, manusia memperoleh
pengetahuan dan semua kemapuan untuk berinteraksi dengan dunianya. Tanpa
alat indra, manusia sama, bahkan mungkin rendah lebih dari rumput-rumputan,
karena rumput dapat juga mengindra cahaya dan humiditas ( Lefrancois, 1974,
dalam rahmat, 1994 ).

Pengertian persepsi, manusia sebagai makhluk sosial yang sekaligus juga


makhluk individual, maka terdapat perbedaan antara individu yang satu dengan
yang lainnya (Wolberg, 1967). Adanya perbedaan inilah yang antara lain
menyebabkan mengapa seseorang menyenangi suatu obyek, sedangkan orang
lain tidak senang bahkan membenci obyek tersebut. Hal ini sangat tergantung
bagaimana individu menanggapi obyek tersebut dengan persepsinya. Pada
kenyataannya sebagian besar sikap, tingkah laku dan penyesuaian ditentukan
oleh persepsinya. Hasil interaksi antara dua faktor, yaitu faktor rangsangan
sensorik yang tertuju kepada individu atau seseorang dan faktor pengaruh yang
mengatur atau mengolah rangsangan itu secara intra-psikis. faktor-faktor
10

pengaruh itu, dapat bersifat biologis, sosial, dan psikologis. Karena adanya
proses pengaruh-mempengaruhi antara kedua faktor tadi, di mana di dalamnya
bergabung pula proses asosiasi, maka terjadilah suatu hasil interaksi tertentu
yang bersifat "gambaran psikis". Persepsi sosial (social perception), yaitu suatu
proses ( tepatnya, proses-proses ) yang kita gunakan untuk mencoba memahami
kehidupan, kita sering kali melakukan hal ini. Menghabiskan banyak waktu dan
usaha untuk mencoba mengarti perilaku orang lain apa yang mereka sukai
sebagai individu, mengapa mereka bertingkah laku ( atau tidak bertingkah laku )
tertentu dalam suatu situasi dan bagaimana prilaku mereka nanti dalam situasi
yang berbeda.

5.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi


Thoha (1993) berpendapat bahwa persepsi pada umumnya terjadi karena dua

faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor-faktor yang mempengaruhi
persepsi pada dasarnya dibagi menjadi 2 yaitu Faktor Internal dan Faktor Eksternal.

a. Faktor Internal yang mempengaruhi persepsi, yaitu faktor-faktor yang terdapat


dalam diri individu, yang mencakup beberapa hal antara lain :
Fisiologis, Informasi masuk melalui alat indera, selanjutnya informasi yang
diperoleh ini akan mempengaruhi dan melengkapi usaha untuk memberikan
arti terhadap lingkungan sekitarnya. Kapasitas indera untuk mempersepsi pada
tiap orang berbeda-beda sehingga interpretasi terhadap lingkungan juga dapat
berbeda.
Perhatian, Individu memerlukan sejumlah energi yang dikeluarkan untuk
memperhatikan atau memfokuskan pada bentuk fisik dan fasilitas mental yang
ada pada suatu obyek. Energi tiap orang berbeda-beda sehingga perhatian
seseorang terhadap obyek juga berbeda dan hal ini akan mempengaruhi
persepsi terhadap suatu obyek.
Minat, Persepsi terhadap suatu obyek bervariasi tergantung pada seberapa
banyak energi atau perceptual vigilance yang digerakkan untuk mempersepsi.
Perceptual

vigilance

merupakan

kecenderungan

seseorang

untuk

memperhatikan tipe tertentu dari stimulus atau dapat dikatakan sebagai minat.

11

Kebutuhan yang searah, Faktor ini dapat dilihat dari bagaimana kuatnya
seseorang individu mencari obyek-obyek atau pesan yang dapat memberikan
jawaban sesuai dengan dirinya.
Pengalaman dan ingatan, Pengalaman dapat dikatakan tergantung pada ingatan
dalam arti sejauh mana seseorang dapat mengingat kejadian-kejadian lampau
untuk mengetahui suatu rangsang dalam pengertian luas.
Suasana hati, Keadaan emosi mempengaruhi perilaku seseorang, mood ini
menunjukkan bagaimana perasaan seseorang pada waktu yang dapat
mempengaruhi

bagaimana

seseorang

dalam

menerima,

bereaksi

dan

mengingat.

b. Faktor Eksternal yang mempengaruhi persepsi, merupakan karakteristik dari


linkungan dan obyek-obyek yang terlibat didalamnya. Elemen-elemen tersebut
dapat mengubah sudut pandang seseorang terhadap dunia sekitarnya dan
mempengaruhi bagaimana seseoarang merasakannya atau menerimanya.
Sementara itu faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi persepsi adalah :
Ukuran dan penempatan dari obyek atau stimulus, Faktor ini menyatakan
bahwa semakin besrnya hubungan suatu obyek, maka semakin mudah untuk
dipahami. Bentuk ini akan mempengaruhi persepsi individu dan dengan
melihat bentuk ukuran suatu obyek individu akan mudah untuk perhatian pada
gilirannya membentuk persepsi.
Warna dari obyek-obyek, Obyek-obyek yang mempunyai cahaya lebih banyak,
akan lebih mudah dipahami (to be perceived) dibandingkan dengan yang
sedikit.
Keunikan dan kekontrasan stimulus, Stimulus luar yang penampilannya dengan
latarbelakang dan sekelilingnya yang sama sekali di luar sangkaan individu
yang lain akan banyak menarik perhatian.
Intensitas dan kekuatan dari stimulus, Stimulus dari luar akan memberi makna
lebih bila lebih sering diperhatikan dibandingkan dengan yang hanya sekali
dilihat. Kekuatan dari stimulus merupakan daya dari suatu obyek yang bisa
mempengaruhi persepsi.

12

Motion atau gerakan, Individu akan banyak memberikan perhatian terhadap


obyek yang memberikan gerakan dalam jangkauan pandangan dibandingkan
obyek yang diam.
Dijelaskan oleh Robbins (2003) bahwa meskipun individu-individu memandang
pada satu benda yang sama, mereka dapat mempersepsikannya berbeda-beda. Ada
sejumlah faktor yang bekerja untuk membentuk dan terkadang memutar-balikkan
persepsi. Faktor-faktor ini dari :
a. Pelaku persepsi (perceiver)
Apabila seseorang melihat sesuatu dan

berusaha memberikan

interpretasi

tentang apa yang dilihatnya itu, ia akan dipengaruhi oleh karakterisktik


individual yang dimilikinnya seperti

sikap, motif, kepentingan,

minat,

pengalaman, pengetahuan, dan harapannya.


b. Objek atau yang dipersepsikan
Sasaran dari persepsi dapat berupa orang, benda, ataupun peristiwa. Sifat-sifat
itu biasanya berpengaruh terhadap pe rsepsi orang yang melihatnya. Persepsi
terhadap sasaran bukan merupakan sesuatu yang dilihat secara teori melainkan
dalam kaitannya dengan orang lain yang terlibat. Hal tersebut yang
menyebabkan seseorang cenderung mengelompokkan orang, benda, ataupun
peristiwa sejenis dan memisahkannya dari kelompok lain yang tidak serupa.
c. Konteks dari situasi dimana persepsi itu dilakukan
Persepsi harus dilihat secara kontekstual yang berarti situasi dimana persepsi
tersebut timbul, harus mendapat perhatian. Situasi me rupakan faktor yang turut
berperan dalam proses pem bentukan persepsi seseorang.

Berbeda dengan persepsi terhadap benda mati seperti meja, mesin atau gedung,
persepsi terhadap individu adalah kesimpulan yang berdasarkan tindakan orang tersebut.
Objek yang tidak hidup dikenai hukum-hukum alam tetapi tidak mempunyai keyakinan,
motif atau maksud seperti yang ada pada manusia. Akibatnya individu akan berusaha
mengembangkan penjelasan-penjelasan mengapa berperilaku dengan cara-cara tertentu.
Oleh karena itu, persepsi dan penilaian individu terhadap seseorang akan cukup banyak
dipengaruhi oleh pengandaian-pengadaian yang diambil mengenai keadaan internal
orang itu (Robbins, 2003). Gilmer (dalam Hapsari, 2004) menyatakan bahwa persepsi
dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor belajar, motivasi, dan pemerhati
perseptor atau pemersepsi ketika proses persepsi terjadi. Dan karena ada beberapa faktor
13

yang bersifat yang bersifat subyektif yang mempengaruhi, maka kesan yang diperoleh
masing-masing individu akan berbeda satu sama lain. Oskamp (dalam Hamka, 2002)
membagi empat karakteristik penting dari faktor-faktor pribadi dan sosial yang terdapat
dalam persepsi, yaitu:
a. Faktor-faktor ciri dari objek stimulus.
b. Faktor-faktor pribadi seperti intelegensi, minat.
c. Faktor-faktor pengaruh kelompok.
d. Faktor-faktor perbedaan latar belakang kultural.
Karena

persepsi

lebih

bersifat

psikologis

daripada

merupakan

proses

penginderaan saja maka ada beberapa faktor yang mempengaruhi:


a. Perhatian yang selektif, dalam kehidupan manusia setiap saat akan menerima
banyak sekali rangsangan dari lingkungannya. Meskipun demikian ia tidak harus
menanggapi semua rangsangan yang diterimanya untuk itu individunya
memusatkan perhatiannya pada rangsangan-rangsangan tertentu.
b. Ciri-ciri rangsangan, rangsangan yang bergerak diantara rangsangan yang diam
akan lebih menarik perhatian. Demikian juga rangsangan yang paling besar
diantara yang paling kecil; yang kontras dengan latar belakangnya dan intensitas
rangsangannya yang paling kuat.
c. Nilai dan kebutuhan individu, seseorang seniman pasti punya pola dan cita rasa
yang berbeda dalam pengamatannya dibanding seorang yang bukan seniman.
d. Pengalaman dahulu, pengalaman-pengalaman terdahulu sangat mempengaruhi
bagaimana seseorang mempose dunianya.
Menurut Harvey & Smith (dalam Wibowo, 1988:2.10) terdapat beberapa faktor
yang mempengaruhi persepsi sosial yaitu:
a. Variabel Obyek
Karakteristik atau ciri-ciri yang melekat pada obyek persepsi dapat
mempengaruhi persepsi kita terhadap obyek itu sendiri. Misalnya kita
menangkap obyek-stimulus melalui indera penglihatan, ini disebut sebagai
persepsi visual. Sedangkan persepsi auditif adalah jika obyek-stimuli-nya adalah
melalui indera pendengaran. Persepsi sosial menjangkau lebih jauh yakni emosi,
sifat dan juga motif yang melandasi perbuatan yang dilakukan oleh seseorang,
kepribadian serta watak seseorang. Dalam persepsi ini apa yang akan
dipersepsikan adalah tergantung pada petunjuk-petunjuk yang tertangkap oleh
penginderaan kita seperti gerak-gerik, ekspresi wajah, cara duduk dan lain14

lainnya. Melalui berbagai petunjuk yang didapat kita mengkonstruksikan hal-hal


apa saja yang masuk dalam penginderaan kita sehingga kita dapat menarik
kesimpulan seperti misalnya si A sedang sedih, si B adalah orang yang berhati
jahat, si C adalah orang yang berwatak dingin dan sebagainya. Tetapi apa yang
kita inderai dapat mengecoh kita. Salah satu kesulitan yang dapat ditemui adalah
kenyataan bahwa obyek dalam persepsi sosial khususnya orang-orang bukanlah
obyek yang pasif atau statis. Mereka mampu menyembunyikan perasaan,
pikiran, niatnya dan sebagainya atau lazim disebut dengan pengelolaan kesan
(impressions management), yang kadangkala menipu kita. Orang dapat
mengendalikan sikap dan respons orang lain atau lingkungan terhadap dirinya.
Pengendalian kesan ini juga mempunyai hubungan yang erat dengan harapanharapan sosial (social expectation) yang dilekatkan pada suatu peran (role)
tertentu. Seorang atasan yang selalu dianggap baik sekali waktu perlu memarahi
bawahannya di hadapan banyak orang untuk menunjukkan bahwa dia
menghargai adanya kedisiplinan waktu di tempat kerja dan juga bahwa dia perlu
menunjukkan kewibawaannya, misalnya. Hal ini bisa menimbulkan adanya rasa
penghargaan dari para pegawainya meskipun kelihatarmya sikap atasan yang
biasanya diam dan tiba-tiba marah besar menimbulkan adanya persepsi bahwa
dia tidak konsisten dalam perilakunya.
b. Variabel Latar dan Suasana yang mengiringi kehadiran obyek
Latar dan suasana atau situasi yang mengiringi kehadiran obyek-stimulus
mempunyai pengaruh tertentu terhadap persepsi sosial karena berhubungan erat
dengan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku dalam suatu kelompok,
organisasi dan masyarakat. Selaras atau tidaknya perilaku yang diperagakan
seseorang dengan hal-hal yang sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai dalam
masyarakat akan dengan cepat mempengaruhi corak persepsi kita terhadap orang
lain.
c. Variabel Perseptornya sendiri
Terdapat beberapa faktor dalam hal ini yaitu:
o

Faktor Pengalaman, semakin banyak pengalaman yang dimiliki seseorang


mengenai obyek-stimulusnya (sebagai hasil dan seringnya terjadi kontak
antara perseptor dengan obyeknya, terutama obyek yang serupa) maka
semakin tinggi pula veridikalitasnya.
15

Faktor Intelegensia, dimana semakin tinggi intelegensinya semakin obyektif


penilaiannya terhadap apa raja yang dipersepsi, akan cenderung lebih berhatihati

dan

mengumpulkan

informasi

sebanyak-banyaknya

sebelum

menyimpulkan sesuatu serta tidak mudah terpengaruh.


o

Faktor Kemampuan Menghayati Stimuli, adanya kemampuan berempati atau


turut menghayati perasaan orang lain sebagaimana yang dialaminya sendiri.
Semakin besar kemampuan ini semakin besar pula kemampuan untuk dapat
menangkap stimuli sosial sesuai kenyataan yang sesungguhnya.

Faktor Ingatan (Memory), menghindarkan adanya distorsi atau penyimpangan


dalam persepsi. Pengalaman-pengalaman atau kejadian-kejadian masa lampau
yang tersimpan dalam ingatan, akan menentukan veridikalitas persepsinya.

Faktor Disposisi Kepribadian, kecenderungan kepribadian yang relatif


menetap pada diri seseorang akan turut pula menentukan persepsinya atas
sesuatu. Seseorang yang memiliki kepribadian yang otoriter misalnya, akan
cenderung bersikap kaku, berpandangan sempit dan merasa dirinya selalu
benar.

Faktor Sikap terhadap Obyek, sikap secara umum dapat dinyatakan sebagai
suatu kecenderungan yang ada pada diri seseorang untuk berpikir atau
berpandangan, berperasaan dan berkehendak serta berbuat secara tertentu
terhadap obyek. Pengaruh sikap ini seringkali dinyatakan sebagai halo effect
yang menyebabkan persepsi seseorang menjadi berat sebelah dan mengalami
distorsi.

Faktor Kecemasan, seseorang yang dihinggapi kecemasan karena berkaitan


dengan obyek-stimulinya akan mudah dihadapkan pada hambatan-hambatan
dalam mempersepsikan obyek tersebut.

Faktor Pengharapan (Expectations), merupakan kumpulan dari beberapa


bentuk pengharapan yang bersumber dari adanya asumsi-asumsi tertentu
mengenai manusia, perilaku dan ciri-cirinya, sampai pada taraf tertentu yang
diyakini kebenarannya. Pertama, hal ini berkaitan erat dengan pandangan
hidup atau nilai-nilai utama yang dianut seseorang. Misalnya seseorang yang
berperilaku altruistik atau suka menolong dan menjaga keharmonisan dalam
hidupnya, akan cenderung dipersepsikan secara positif. Kedua, adanya
hubungan yang kuat antara ciri-ciri seseorang dengan kelompok dari mana is
berasal. Ciri-ciri tersebut dapat merupakan ciri-ciri yang dianggap negatif
16

maupun positif, yang secara keseluruhan merupakan generalisasi mengenai


orang-orang yang berasal dan kelompok yang sama. Hasil dari generalisasi ini
biasanya disebut- sebagai stereotip sosial. Misalnya, adanya anggapan bahwa
orang Batak itu adalah kasar, agresif, berwatak keras dan lain-lain. Sementara
orang Jawa loyal, penurut, kurang tegas, percaya hal-hal gaib dan lain-lain.
Menurut Bimo Walgito (2004: 70) faktor-faktor yang berperan dalam persepsi
dapat dikemukakan beberapa faktor, yaitu:
o Objek yang dipersepsi Objek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera
atau reseptor. Stimulus dapat datang dari luar individu yang mempersepsi, tetapi
juga dapat datang dari dalam diri individu yang bersangkutan yang langsung
mengenai syaraf penerima yang bekerja sebagai reseptor.
o Alat indera, syaraf dan susunan syaraf Alat indera atau reseptor merupakan alat
untuk menerima stimulus, di samping itu juga harus ada syaraf sensoris sebagai
alat untuk meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke pusat susunan syaraf,
yaitu otak sebagai pusat kesadaran. Sebagai alat untuk mengadakan respon
diperlukan motoris yang dapat membentuk persepsi seseorang.
o Perhatian untuk menyadari atau dalam mengadakan persepsi diperlukan adanya
perhatian, yaitu merupakan langkah utama sebagai suatu persiapan dalam rangka
mengadakan persepsi. Perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari
seluruh aktivitas individu yang ditujukan kepada sesuatu sekumpulan objek.
Menurut Makmuri Muchlas ( 2008: 119) ada beberapa faktor yang mempengaruhi
persepsi, yaitu :
Pelaku persepsi, penafsiran seorang individu pada suatu objek yang dilihatnya
akan sangat dipengaruhi oleh karakteristik pribadinya sendiri, diantaranya sikap,
motif, kepentingan atau minat, pengalaman masa lalu, dan pengharapan.
Kebutuhan atau motif yang tidak dipuaskan akan merangsang individu dan
mempunyai pengaruh yang kuat pada persepsi mereka. Contoh-contoh seperti
seorang tukang rias akan lebih memperhatikan kesempurnaan riasan orang
daripada seorang tukang masak, seorang yang disibukkan dengan masalah
pribadi akan sulit mencurahkan perhatian untuk orang lain, dll, menunjukkan
bahwa kita dipengaruhi oleh kepentingan/minat kita. Sama halnya dengan
ketertarikan kita untuk memperhatikan hal-hal baru, dan persepsi kita mengenai
orang-orang tanpa memperdulikan ciri-ciri mereka yang sebenarnya.
17

Target atau obyek persepsi, gerakan, bunyi, ukuran, dan atribut-atribut lain dari
target akan membentuk cara kita memandangnya. Misalnya saja suatu gambar
dapat dilihat dari berbagai sudut pandang oleh orang yang berbeda. Selain itu,
objek yang berdekatan akan dipersepsikan secara bersama-sama pula.
Contohnya adalah kecelakaan dua kali dalam arena ice skating dalam seminggu
dapat membuat kita mempersepsikan ice skating sebagai olah raga yang
berbahaya. Contoh lainnya adalah suku atau jenis kelamin yang sama,
cenderung dipersepsikan memiliki karakteristik yang sama atau serupa.
Situasi, situasi juga berpengaruh bagi persepsi kita. Misalnya saja, seorang
wanita yang berparas lumayan mungkin tidak akan terlalu terlihat oleh lakilaki bila ia berada di mall, namun jika ia berada dipasar, kemungkinannya sangat
besar bahwa para lelaki akan memandangnya.
Menurut Rakhmat (1994): Krech dan Crutchfield (1975) (dalam Sobur:460)
faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi dapat dikategorikan menjadi:
a. Faktor fungsional
Faktor fungsional dihasilkan dari kebutuhan, kegembiraan (suasana hati),
pelayanan, dan pengalaman masa lalu seseorang individu.
b. Faktor-faktor struktural
Faktor-faktor struktural berarti bahwa faktor-faktor tersebut timbul atau
dihasilkan dari bentuk stimuli dan efek-efek netral yang ditimbulkan dari sistem syaraf
individu.
c. Faktor-faktor situasional
Faktor ini banyak berkaitan dengan bahasa nonverbal. Petunjuk proksemik,
petunjuk kinesik, petunjuk wajah, petunjuk paralinguistik adalah beberapa dari faktor
situasional yang mempengaruhi persepsi.
d. Faktor personal
Faktor psikologis lain yang juga penting dalam persepsi adalah berturut-turut:
emosi ,impresi dan konteks.
Sholeh (2009:128) menjelaskan persepsi lebih bersifat psikologis daripada
merupakan proses penginderaan saja maka ada beberapa faktor yang mempengaruhi:
Perhatian yang selektif, individu memusatkan perhatiannya pada rangsangrangsang tertentu saja.

18

Ciri-ciri rangsang, rangsang yang bergerak di antara rangsang yang diam akan
lebih menarik perhatian.
Nilai dan kebutuhan individu.
Pengalaman dahulu, pengalaman terdahulu sangat mempengaruhi bagaimana
seseorang mempersepsi dunianya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi dapat berupa suasana hati (mood),
sistem dan pertukaran zat dalam tubuh, pengalaman, nilai-nilai yang dianut oleh
individu yang bersangkutan, serta bentuk-bentuk stimulus yang mempengaruhi proses
selektif terhadap stimulus.

6.

Aspek-Aspek Persepsi
Ada berbagai macam aspek-aspek dari persepsi yaitu:
Sensation (sensasi)
Sensasi adalah suatu proses penyerapan informasi mengenai suatu produk yang
melibatkan panca indra kastemer (pendengaran, penglihatan, penciuman dan
peraba). Pada tahap ini, customer akan menyerap dan menyimpan segala
informasi yang diberikan ketika suatu produk ditawarkan atau dicoba. Misalnya
ketika customer menonton iklan sebuah produk telepon selular terbaru di
televisi. Customer akan memperhatikan segala informasi mengenai spesifikasi
dan fungsi produk, termasuk fitur-fitur yang ditawarkan produk tersebut. Pada
kasus ini, customer menggunakan indra penglihatan dan pendengaran dalam
proses penerimaan informasi.
Organization (Organisasi)
Organisasi adalah tahap dimana customer mengolah informasi yang telah ia
dapatkan pada tahap sensasi. Customer akan membandingan antara informasi
baru tersebut dengan informasi atau pengetahuan yang telah ia miliki
sebelumnya mengenai produk telepon selular (informasi dan pengetahuan
tersebut bisa didapat dari pengalaman atau media iklan lainnya seperti majalah,
Koran). Kemudian customer akan mendapatkan kelebihan dan kekurangan yang
dimiliki produk tersebut serta nilai tambah yang bisa didapat.

19

Interpretation (Interpertasi)
Interpretasi adalah pengambilan citra atau pemberian makna oleh customer
terhadap suatu produk. Seperti pada contoh kasus sebelumnya mengenai suatu
produk telepon genggam baru. Setelah pada tahap organisasi kastemer
mendapatkan kelebihan dan kekurangan serta nilai tambah produk, maka akan
tercipta citra atau makna khas yang melekat pada produk. Misalnya handphone
Sony Ericsoson seri W identik dengan handphone Walkman.

Menurut Allport (dalam Mar'at, 1991) ada tiga yaitu:

Komponen kognitif, yaitu komponen yang tersusun atas dasar pengetahuan atau
informasi yang dimiliki seseorang tentang obyek sikapnya. Dari pengetahuan ini
kemudian akan terbentuk suatu keyakinan tertentu tentang obyek sikap tersebut.

Komponen Afektif, afektif berhubungan dengan rasa senang dan tidak senang.
Jadi sifatnya evaluatif yang berhubungan erat dengan nilai-nilai kebudayaan atau
sistem nilai yang dimilikinya.

Komponen Konatif, yaitu merupakan kesiapan seseorang untuk bertingkah laku


yang berhubungan dengan obyek sikapnya.

Baron dan Byrne, juga Myers (dalam Gerungan, 1996) menyatakan bahwa sikap
itu mengandung tiga komponen yang membentuk struktur sikap, yaitu:

Komponen kognitif (komponen perseptual), yaitu komponen yang berkaitan


dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan, yaitu hal-hal yang berhubungan
dengan bagaimana orang mempersepsi terhadap objek sikap.

Komponen afektif (komponen emosional), yaitu komponen yang berhubungan


dengan rasa senang atau tidak senang terhadap objek sikap. Rasa senang
merupakan hal yang positif, sedangkan rasa tidak senang merupakan hal yang
negatif.

Komponen konatif (komponen perilaku, atau action component), yaitu


komponen yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak terhadap objek
sikap. Komponen ini menunjukkan intensitas sikap, yaitu menunjukkan besar
kecilnya kecenderungan bertindak atau berperilaku seseorang terhadap objek
sikap.

20

Rokeach (Walgito, 2003) memberikan pengertian bahwa dalam persepsi


terkandung komponen kognitif dan juga komponen konatif, yaitu sikap merupakan
predisposing untuk merespons, untuk berperilaku. Ini berarti bahwa sikap berkaitan
dengan perilaku, sikap merupakan predis posisi untuk berbuat atau berperilaku. Batasan
ini juga dapat dikemukakan bahwa persepsi mengandung komponen kognitif,
komponen afektif, dan juga komponen konatif, yaitu merupakan kesediaan untuk
bertindak atau berperilaku. Sikap seseorang pada suatu obyek sikap merupakan
manifestasi dari kontelasi ketiga komponen tersebut yang saling berinteraksi untuk
memahami, merasakan dan berperilaku terhadap obyek sikap. Ketiga komponen itu
saling berinterelasi dan konsisten satu dengan lainnya. Jadi, terdapat pengorganisasian
secara internal diantara ketiga komponen tersebut.

7.

Proses Persepsi dan Sifat Persepsi


Alport (dalam Marat, 1991) proses persepsi merupakan suatu proses kognitif

yang dipengaruhi oleh pengalaman, cakrawala, dan pengetahuan individu. Pengalaman


dan proses belajar akan memberikan bentuk dan struktur bagi objek yang ditangkap
panca indera, sedangkan pengetahuan dan cakrawala akan memberikan arti terhadap
objek yang ditangkap individu, dan akhirnya komponen individu akan berperan dalam
menentukan tersedianya jawaban yang berupa sikap dan tingkah laku individu terhadap
objek yang ada.
Walgito (dalam Hamka, 2002) menyatakan bahwa terjadinya persepsi merupakan
suatu yang terjadi dalam tahap-tahap berikut:
a. Tahap pertama, merupakan tahap yang dikenal dengan nama proses kealaman
atau proses fisik, merupakan proses ditangkapnya suatu stimulus oleh alat indera
manusia.
b. Tahap kedua, merupakan tahap yang dikenal dengan proses fisiologis,
merupakan proses diteruskannya stimulus yang diterima oleh reseptor (alat
indera) melalui saraf-saraf sensoris.
c. Tahap ketiga, merupakan tahap yang dikenal dengan nama proses psikologik,
merupakan proses timbulnya kesadaran individu tentang stimulus yang diterima
reseptor.
d. Tahap ke empat, merupakan hasil yang diperoleh dari proses persepsi yaitu
berupa tanggapan dan perilaku.
21

Berdasarkan pendapat para ahli yang telah dikemukakan, bahwa proses persepsi
melalui tiga tahap, yaitu:
a. Tahap penerimaan stimulus, baik stimulus fisik maupun stimulus sosial melalui
alat indera manusia, yang dalam proses ini mencakup pula pengenalan dan
pengumpulan informasi tentang stimulus yang ada.
b. Tahap pengolahan stimulus sosial melalui proses seleksi serta pengorganisasian
informasi.
c. Tahap perubahan stimulus yang diterima individu dalam menanggapi
lingkungan melalui proses kognisi yang dipengaruhi oleh pengalaman,
cakrawala, serta pengetahuan individu.
Menurut Newcomb (dalam Arindita, 2003), ada beberapa sifat yang menyertai
proses persepsi, yaitu:
a. Konstansi (menetap), dimana individu mempersepsikan seseorang sebagai orang
itu sendiri walaupun perilaku yang ditampilkan berbeda-beda.
b. Selektif, persepsi dipengaruhi oleh keadaan psikologis si perseptor. Dalam arti
bahwa banyaknya informasi dalam waktu yang bersamaan dan keterbatasan
kemampuan perseptor dalam mengelola dan menyerap informasi tersebut,
sehingga hanya informasi tertentu saja yang diterima dan diserap.
c. Proses organisasi yang selektif, beberapa kumpulan informasi yang sama dapat
disusun ke dalam pola-pola menurut cara yang berbeda-beda.

8.

Prinsip-Prinsip Persepsi
Prinsip-Prinsip Persepsi Berdasarkan Teori Gestalt:
Sebagian besar dari prinsip-prinsip persepsi merupakan prinsip pengorganisasian

berdasarkan teori Gestalt. Teori Gestalt percaya bahwa persepsi bukanlah hasil
penjumlahan bagian-bagian diindera seseorang, tetapi lebih dari itu merupakan
keseluruhan (the whole). Teori Gestalt menjabarkan beberapa prinsip yang dapat
menjelaskan bagaimana seseorang menata sensasi menjadi suatu bentuk persepsi.
Gambar berikut menunjukkan bahwa persepsi manusia bukanlah hasil
penjumlahan unsur-unsurnya. Segitiga terbalik ditambah bujursangkar biru yang
terpotong, tetapi seseorang dapat melihat ada segitiga putih di tengah walau tanpa garis
yang membentuk segitiga tersebut. Prinsip persepsi yang utama adalah prinsip figure
and ground. Prinsip ini menggambarkan bahwa manusia, secara sengaja maupun tidak,
22

memilih dari serangkaian stimulus, mana yang menjadi fokus atau bentuk utama
(figure) dan mana yang menjadi latar (ground).
Contoh gambar gadis dan nenek diatas, menunjukkan bahwa seseorang dapat
menjadikan bentuk gadis sebagai figure, dan detil yang lain sebagai ground, atau
sebaliknya. Dalam kehidupan sehari-hari, secara sengaja atau tidak, kita akan lebih
memperhatikan stimulus tertentu dibandingkan yang lainnya. Artinya, kita menjadikan
suatu informasi menjadi figure, dan informasi lainnya menjadi ground. Salah satu
fenomena dalam psikologi yang menggambarkan prinsip ini adalah, orang cenderung
mendengar apa yang dia ingin dengar, dan melihat apa yang ingin dia lihat.

Persepsi sosial adalah proses menangkap arti obyek-obyek sosial dan kejadiankejadian yang kita alami dalam lingkungan kita. Persepsi sosial ini lebih pada persepsi
terhadap manusia. Persepsi terhadap manusia lebih kompleks dan rumit dibandingkan
persepsi terhadap lingkungan fisik. Manusia bersifat emosional, penilaian terhadapnya
mengandung akibat. Persepsi saya terhadap anda mempengaruhi persepsi anda terhadap
saya dan pada gilirannya persepsi anda terhadap saya juga mempengaruhi persepsi saya
terhadap anda.

Prinsip-prinsip dalam persepsi sosial yaitu:


a. Persepsi berdasarkan pengalaman
Untuk mengartikan makna dari seseorang, objek atau peristiwa kita harus
memiliki dasar untuk melakukan interpretasi. Persepsi manusia terhadap seseorang,
obyek atau kejadian dan reaksi mereka hal-hal tersebut berdasarkan pengalaman dan
pembelajaran masa lalu mereka berkaitan dengan orang, obyek atau kejadian serupa.
Tanpa

landasan

pengalaman

sebagai

pembanding,

tidak

mungkin

untuk

mempersepsikan suatu makna, sebab ini akan membawa kita pada suatu kebingungan.
b. Persepsi bersifat selektif
Adanya faktor internal yang mempengaruhi atensi. Atensi dipengaruhi oleh
faktor biologis (lapar, haus); faktor fisiologis (tinggi, pendek, gemuk, kurus, sehat, lelah
, penglihatan dan pendengaran kurang sempurna, cacat tubuh dll). Faktor-faktor sosial
seperti gender, agama, tingkat pendidikan, pekerjaan,penghasilan, peranan, status sosial,
dan kebiasaan. Faktor-faktor psikologis seperti kemauan, keinginan, motivasi dan
pengharapan. Semakin besar perbedaan aspek-aspek tersebut secara antar individu,
semakin besar perbedaan persepsi mereka mengenai realitas.
23

c. Persepsi bersifat dugaan dan kesimpulan


Proses psikologis dari persepsi mencakup penarikan kesimpulan melalui suatu
proses induksi secara logis. Interpretasi terhadap data yang kita peroleh mengenai obyek
lewat pengindraan tidak pernah lengkap, persepsi merupakan loncatan langsung dari
dugaan pada kesimpulan. Hal ini terjadi karena kita tidak mungkin memperoleh
seperangkat rincian yang lengkap lewat kelima indra kita. Proses persepsi yang bersifat
dugaan itu memungkinkan kita menafsirkan suatu obyek dengan makna yang lebih
lengkap dari suatu sudut pandang manapun. Oleh karena informasi yang lengkap tidak
pernah tersedia, dugaan diperlukan untuk membuat suatu kesimpulan berdasarkan
informasi yang tidak lengkap lewat penginderaan itu.
d. Persepsi tidak akurat
Setiap persepsi yang kita lakukan, akan mengandung kesalahan dalam prosedur
tertentu. Hal ini antara lain disebabkan oleh pengaruh pengalaman masa lalu, selektifitas
dan penyimpulan yang terlalu mudah atau menyamaratakan. Adakalanya persepsi tidak
akurat karena orang-orang menganggap sama, sesuatu yang sebenarnya hanya mirip.
Dan semakin jauh jarak antara orang yang mempersepsi dengan objeknya, maka
semakin tidak akurat persepsinya. Meskipun demikian biasanya kita sering
mengabaikan ketidakakuratan terebut dalam kegiatan persepsi kita sehari-hari, dan
ketidak akuratan persepsi tidak selalu menimbulkan masalah dalam komunikasi antar
pribadi.
e. Persepsi bersifat evaluatif
Tidak ada persepsi yang pernah obyektif. Persepsi diproses berdasarkan
pengalaman masa lalu dan dugaan-dugaan subyektif kita. Persepsi adalah suatu proses
kognitif psikologis dalam diri anda yang mencerminkan sikap, kepercayaan, nilai dan
pengharapan

yang

anda

gunakan

untuk

memaknai

obyek

persepsi.

Fisher

mengemukakan persepsi bukan hanya mrupakan proses intrapribadi, tetapi juga sesuatu
yang sangat pribadi, dan tidak terhindarkannya keterlibatan pribadi dalam tindak
persepsi menyebabkan persepsi sangat subjektif.
f. Persepsi bersifat kontekstual
Unsur ini merupakan yang paling potensial. Bukan berarti bahwa system
kognitif kita seperti nilai, sikap dan keyakinan, atau harapan kita tidak cukup
berpengaruh. Tapi konteks dimana kita mempersepsikan suatu objek, sngat kuat
pengaruhnya. Sehingga cenderung mengarhkan struktur kognitif dan harapan kita dan
pada girlirannya persepsi kita. Dalam hal ini, konteks selalu terdiri dari seperangkat
24

fenomena yang sama dengan objek persepsi kita. Jadi jika kita mempersepsi seseorang,
konteks yang mempengaruhi persepsi kita terdiri dari orang-orang lainnya. Tidak ada
interpretasi atas suatu pesan, baik verbal ataupun non verbal dan tidak ada makna dari
suatu hubungan yang dapat diperoleh tanpa menempatkannya dalam suatu konteks dan
mengkonstruksi suatu pola interaksi. Ketiadaan suatu pola berarti ketiadaan makna atau
berarti kebingungan karena terlalu banyak makna. Interpretasi makna dalam konteksnya
adalah suatu faktor penting dalam memahami komunikasi dan hubungan sosial.

9.

Prinsip Pengorganisasian
Sebagai

contoh

dalam

kehidupan

sehari-hari,

kebanyakan

orang

akan

mempersepsikan beberapa orang yang sering terlihat bersama-sama sebagai sebuah


kelompok / peer group. Untuk orang yang tidak mengenal dekat anggota kelompok
itu, bahkan akan tertukar identitas satu dengan yang lainnya, karena masing-masing
orang (sebenarnya ada 4 lajur titik) terlabur identitasnya dengan keberadaan orang lain
(dipersepsi sebagai 2 kelompok titik).
a. Prinsip similarity, seseorang akan cenderung mempersepsikan stimulus yang
sama sebagai satu kesatuan.
b. Prinsip continuity, prinsip ini menunjukkan bahwa kerja otak manusia secara
alamiah melakukan proses melengkapi informasi yang diterimanya walaupun
sebenarnya stimulus tidak lengkap.
Menurut teori Gestalt secara alamiah manusia memiliki kecenderungankecenderungan

tertentu

dan

melakukan

penyederhanaan

struktur

di

dalam

mengorganisasikan objek-objek persepsual (Brennan, 1991;Hayes, 1978). Stimulus dari


lingkungan cenderung diklasifikasikan menjadi pola-pola tertentu dengan cara-cara
yang sama oleh kebanyakan orang. Teori Gestalt mengajukan beberapa prinsip tentang
kecenderungan-kecenderungan orang didalam pengenalan pola yang berkaitan dengan
dengan objek atau informasi visual, antara lain
a. Prinsip kedekatan (proximity), objek-objek visual yang terletak berdekatan atau
tampil didalam waktu yang bersamaan cenderung dipersepsikan sebagai satu
kesatuan.
b. Prinsip kemiripan (similarity), objek-objek visual yang memiliki struktur sama
atau mirip cenderung di persepsi atau dilihat sebagai satu kesatuan (kelompok).
c. Prinsip searah (direction), objek-objek visual cenderung dipersepsikan sebagai
satu kesatuan apabila berada di dalam satu arah pandangan.
25

d. Prinsip ketutupan (closure), elemen-elemen objek stimulus yang kurang lengkap


cenderung dilihat secara lengkap.
e. Prinsip pragnan, tata letak sejumlah objek meski kurang beraturan cenderung
dipersepsikan secara baik, sederhana dan bermakna tertentu.
Dalam kehidupan sehari-hari, contohnya adalah fenomena tentang bagaimana
gosip bisa begitu berbeda dari fakta yang ada. Fakta yang diterima sebagai informasi
oleh seseorang, kemudian diteruskan ke orang lain setelah dilengkapi dengan
informasi lain yang dianggap relevan walaupun belum menjadi fakta atau tidak
diketahui faktanya.

10.

Determinasi Persepsi
Di samping faktor-faktor teknis seperti kejelasan stimulus (mis. suara yang jernih,

gambar yang jelas), kekayaan sumber stimulus (mis. media multi-channel seperti audiovisual), persepsi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologis. Faktor psikologis ini
bahkan terkadang lebih menentukan bagaimana informasi/pesan/stimulus dipersepsikan.
Faktor yang sangat dominan adalah faktor ekspektansi dari si penerima informasi
sendiri. Ekspektansi ini memberikan kerangka berpikir atau perceptual set atau mental
set tertentu yang menyiapkan seseorang untuk mempersepsi dengan cara tertentu.
Mental set ini dipengaruhi oleh beberapa hal.
a. Ketersediaan informasi sebelumnya, ketiadaan informasi ketika seseorang
menerima stimulus yang baru bagi dirinya akan menyebabkan kekacauan dalam
mempersepsi. Oleh karena itu, dalam bidang pendidikan misalnya, ada materi
pelajaran yang harus terlebih dahulu disampaikan sebelum materi tertentu.
Seseorang yang datang di tengah-tengah diskusi, mungkin akan menangkap hal
yang tidak tepat, lebih karena ia tidak memiliki informasi yang sama dengan
peserta

diskusi

lainnya.

Informasi

juga

dapat

menjadi

cues

untuk

mempersepsikan sesuatu.
b. Kebutuhan, seseorang akan cenderung mempersepsikan sesuatu berdasarkan
kebutuhannya saat itu. Contoh sederhana, seseorang akan lebih peka mencium
bau masakan ketika lapar daripada orang lain yang baru saja makan.
c. Pengalaman masa lalu, sebagai hasil dari proses belajar, pengalaman akan sangat
mempengaruhi bagaimana seseorang mempersepsikan sesuatu. Pengalaman
yang menyakitkan ditipu oleh mantan pacar, akan mengarahkan seseorang untuk
mempersepsikan orang lain yang mendekatinya dengan kecurigaan tertentu.
26

Contoh lain yang lebih ekstrim, ada orang yang tidak bisa melihat warna merah
(dia melihatnya sebagai warna gelap, entah hitam atau abu-abu tua) karena
pernah menyaksikan pembunuhan. Di sisi lain, ketika seseorang memiliki
pengalaman yang baik dengan bos, dia akan cenderung mempersepsikan bosnya
itu sebagai orang baik, walaupun semua anak buahnya yang lain tidak senang
dengan si bos.
Faktor psikologis lain yang juga penting dalam persepsi adalah berturut-turut:
emosi, impresi dan konteks.
a. Emosi, akan mempengaruhi seseorang dalam menerima dan mengolah informasi
pada suatu saat, karena sebagian energi dan perhatiannya (menjadi figure)
adalah emosinya tersebut. Seseorang yang sedang tertekan karena baru
bertengkar

dengan

pacar

dan

mengalami

kemacetan,

mungkin

akan

mempersepsikan lelucon temannya sebagai penghinaan.


b. Impresi, stimulus yang salient / menonjol, akan lebih dahulu mempengaruhi
persepsi seseorang. Gambar yang besar, warna kontras, atau suara yang kuat
dengan pitch tertentu, akan lebih menarik seseorang untuk memperhatikan dan
menjadi fokus dari persepsinya. Seseorang yang memperkenalkan diri dengan
sopan dan berpenampilan menarik, akan lebih mudah dipersepsikan secara
positif, dan persepsi ini akan mempengaruhi bagaimana ia dipandang
selanjutnya.
c. Konteks, walaupun faktor ini disebutkan terakhir, tapi tidak berarti kurang
penting, malah mungkin yang paling penting. Konteks bisa secara sosial, budaya
atau lingkungan fisik. Konteks memberikan ground yang sangat menentukan
bagaimana figure dipandang. Fokus pada figure yang sama, tetapi dalam ground
yang berbeda, mungkin akan memberikan makna yang berbeda.

11.

Perhatian
Perhatian adalah bagaimana kita memperhatikan suatu objek tertentu sehingga

kita bisa menyikapi obyek tersebut, sesuai sisi mana yang kita perhatikan. Sudut
pandang dalam memperhtikan suatu objek mempengaruhi hasil akhir kesimpulan yang
akan kita ambil nantinya.
Perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu
yang ditujukan kepada suatu atau sekumpulan objek. Perhatian merupakan penyeleksian
27

terhadap stimulus. Perhatian dan kesadaran mempunyai korelasi positif. Makin di


perhatikan suatu objek akan makin disadari objek itu dan makin jelas bagi individu.
11.1Daerah perhatian
Daerah pusat perhatian (disadari sepenuhnya)
Daerah peralihan (samar-samar)
Daerah tidak diperhatikan (tidak disadari)
11.2Perhatian menurut timbulnya
Perhatian spontan yaitu perhatian yang timbul dengan sendirinya. Berhubungan
dengan minat individu. Misalnya : minat musik, secara spontan perhatiannya
tertuju pada musik walaupun lagi mengerjakan sesuatu.
Perhatian tidak spontan yaitu perhatian yang ditimbulkan dengan sengaja karena
itu harus ada kemauan untuk menimbulkannya. Misalnya : mahasiswa mau tidak
mau harus memperhatikan mata kuliah tertentu, walaupun ia tidak menyukainya.
11.3Perhatian menurut banyaknya objek
Perhatian sempit yaitu individu pada suatu waktu hanya dapat memperhatikan
sedikit objek.
Perhatian luas yaitu individu pada suatu waktu dapat memperhatikan banyak
objek pada suatu waktu sekaligus. Mis : kepasar malam, ada orang yang dapat
menangkap banyak objek sekaligus, tetapi sebaliknya ada orang tidak dapat
berbuat demikian.
11.4Perhatian menurut fokus objek
Perhatian terpusat yaitu individu pada suatu waktu hanya dapat memusatkan
perhatiannya pada satu objek. Sejalan dengan perhatian sempit.
Perhatian terbagi-bagi yaitu individu pada suatu waktu dapat memperhatikan
banyak hal/objek.
11.5Perhatian menurut fluktuasinya
Perhatian statis yaitu individu dalam waktu tertentu dapat dengan statis atau tetap
perhatiannya tertuju pada objek tertentu. Perhatian semacam ini sukar
memindahkan perhatiannya dari satu objek ke objek lainnya.
Perhatian dinamis yaitu individu dapat memindahkan perhatiannya secara lincah
dari suatu objek ke objek lainnya.

28

11.6Tes perhatian
Tes bourdon berwujud sekumpulan titik-titik yang tertentu jumlahnya.
Tes kraepelirr berwujud sederetan angka-angka, dan tesete ditugaskan untuk
menjumlahkan angka-angka yang berdekatan.
Kedua tes ini untuk mengetahui :
Pengaruh gangguan terhadap perhatian.
Macam perhatian apa yang ada pada individu.
Ritme dan tempo individu bekerja.
Ketelitian individu bekerja.
Informasi Lain yang Berkaitan:
Aplikasi teknologi fisioterapi dan efek fisiologis teknologi fisioterapi pada
hemiparese dextra oleh karena stroke non haemorhagik.
Good postur and poor postur.
Komunikasi teraupetik pada usia akhir.
Perkembangan otak dan susunan saraf pusat.
Konsep penyebab penyakit.

12.

Faktor Penarik Perhatian


Perhatian adalah proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi

menonjol dalam kesdaran pada saat stimuli lainnya melemah (Kenneth E. Andersen)
a. Faktor Eksternal Penarik Perhatian, hal ini ditentukan oleh faktor-faktor
situasional personal. Faktor situasional terkadang disebut sebagai determinan
perharian yang bersifat eksternal atau penarik perhatian (attention getter) dan
sifat-sifat yang menonjol, seperti :

Gerakan (Movement) secara visual tertarik pada objek-objek yang bergerak.

Intensitas Stimuli (Stimulus Intensity), kita akan memerharikan stimuli yang


menonjol dari stimuli yang lain.

Kebaruan (Novelty), hal-hal yang baru dan luar biasa, yang beda, akan menarik
perhatian.

Perulangan (Repeatation), hal-hal yang disajikan berkali-kali bila deisertai


sedikit variasi akan menarik perhatian.

29

b. Faktor Internal Penarik Perhatian, apa yang menjadi perhatian kita lolos dari
perhatian orang lain, atau sebaliknya. Ada kecenderungan kita melihat apa yang
ingin kita lihat, dan mendengar apa yang ingin kita dengar. Perbedaan ini timbul
dari faktor-faktor yang ada dalam diri kita. Contoh-contoh faktor yang
memengaruhi perhatian kita adalah :

Faktor-faktor Biologis.

Faktor-faktor Sosiopsikologis.

Motif Sosiogenis, sikap, kebiasaan , dan kemauan, memengaruhi apa yang kita
perhatikan.
Kenneth E. Andersen, menyimpulkan dalil-dalil tentang perhatian selektif yang

harus diperhatikan oleh ahli-ahli komunikasi.


i.

Perhatian itu merupakan proses aktif dan dinamis, bukan pasif dan refleksif.

ii.

Kita cenderung memerhatikan hal-hal tertentu yang penting, menonjol, atau


melibatkan kita.

iii.

Kita menaruh perhatian kepada hal-hal tertentu sesuai dengan kepercayaan,


sikat, nilai, kebiasaan, dan kepentingan kita.

iv.

Kebiasaan sangat penting dalam menentukan apa yang menarik perhatian, tetapi
juga apa yang secara potensial akan menarik perhatian kita.

v.

Dalam situasi tertentu kita secara sengaja menstrukturkan perilaku kita untuk
menghindari terpaan stimuli tertentu yang ingin kita abaikan. W

vi.

Walaupun perhatian kepada stimuli berarti stimuli tersebut lebih kuat dan lebih
hidup dalam kesadaran kita, tidaklah berarti bahwa persepi kita akan betul-betul
cermat.

vii.

Perhatian tergantung kepada kesiapan mental kita, tenaga-tenaga motivasional


sangat penting dalam menentukan perhatian dan persepsi.

viii.

Intesitas perhartian tidak konstan.

ix.

Dalam hal stimuli yang menerima perhatian, perhatian juga tidak konstan.

x.

Usaha untuk mencurahkan perhatian sering tidak menguntungkan karena usaha


itu sering menuntut perhatian.

xi.

Kita mampu menaruh perhatian pada berbagai stimuli secara serentak.

xii.

Perubahan atau variasi sangat penting dalam menarik dan memertahankan


perhatian

30

13.

Faktor-faktor Fungsional yang Menentukan Persepsi


Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal lain yang

termasuk apa yang ingin kita sebut sebagai faktor-faktor personal. Yang menentukan
persepsi bukan jenis atau bentuk stimuli, tetapi karakteristik orang yang memeberikan
respons pada stimuli itu.

14.

Kerangka Rujukan (Frame of Reference)


Sebagai kerangka rujukan. Mula-mula konsep ini berasal dari penelitian

psikofisik yang berkaitan dengan persepsi objek. Dalam eksperimen psikofisik, Wever
dan Zener menunjukan bahwa penilaian terhadap objek dalam hal beratnya bergantung
pada rangkaian objek yang dinilainya. Dalam kegiatan komunikasi kerangka rujukan
memengaruhi bagaimana memberi makna pada pesan yang diterimanya.

15.

Faktor-faktor Struktural yang Menentukan Persepsi


Faktor-faktor struktural berasal semata-mara dari sifat stimuli fisik dan efek-efek

saraf yang ditimbulkanny pada system saraf individu. Para psikolog Gestalt, seperti
Kohler, Wartheimer, dan Koffka, merumuskan prinsip-prinsip persepsi yang bersifat
structural. Prinsip-prinsip ini kemundian terkenal dengan nama teori Gestalt. Menurut
teori Gestalt, mempersepsi sesuatu, kita mempersepsikannya sebagai suatu keseluruhan.
Dengan kata lain, kita tidak melihat bagian-bagiannya. Jika kia ingin memahami suatu
peristiwa, kita tidak dapat meneliti fakta-fakta yang terpisah; kita harus memandangnya
dalam hubungan keseluruhan.
Krech dan Crutchfield merumuskan dalil persepsi, menjadi empat bagian :
Dalil persepsi 1, persepsi bersifat selektif secara fungsional. Berarti objek-objek
yang mendapatkan tekanan dalam persepsi kita biasanya objek-objek yang
memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi.
Dalil persepsi 2, medan perceptual dan kognitif selalu diorganisasikan dan diberi
arti. Kita mengorganisasikan stimuli dengan melihat konteksnya. Walaupun
stimuli yang kita terima itu tidak lengkap, kita akan mengisinya dengan
interprestasi yang konsisten dengan rangkaian stimuli yang kita persepsi.
Dalil persepsi 3, sifat-sifat perseptual dan kognitif dari substruktur ditentukan
pada umumnya oleh sifat-sifat struktur secara keseluruhan. Jika individu
dianggap sebagai anggota kelompok, semua sifat individu yang berkaitan
31

dengan sifat kelompok akan diperngaruhi oleh keanggotaan kelompolmua


dengan efek berupa asimilasi atau kontras.
Dalil persepsi 4, objek atau peristiwa yang berdekatan dalam ruang dan waktu
atau menyerupai satu sama lain, cenderung ditanggapi sebagai bagian dari
struktur yang sama. Dalil ini umumnya betul-betul bersifat structural dalam
mengelompokkan objek-objek fisik, seperti titik, garis, atau balok.
Pada persepsi sosial, pengelompokan tidak murni struktural; sebab apa yang
dianggap sama atau berdekatan oleh seorang individu, tidaklah dianggap sama atau
berdekatan dengan individu yang lainnya. Dalam komunikasi, dalil kesamaan dan
kedekatan ini sering dipakai oleh komunikator untuk meningkatkan kredibilitasnya, atau
mengakrabkan diri dengan orang-orang yang punya prestise tinggi. Jadi, kedekatan
dalam ruang dan waktu menyebabkan stimuli ditangapi sebagai bagian dari struktur
yang sama. Kecenderungan untuk mengelompokan stimuli berdasarkan kesamaan dan
kedekatan adalah hal yang universal.

16.

Memori
Dalam komunikasi intrapersonal, memori memegang peranan penting dalam

memengaruhi baik persepsi maupun berpikir. Memori adalah system yang sangat
berstruktur, yang menyebabkan organisme sanggup merekam fakta tentang dunia dan
menggunakan pengetahuannya untuk membimbing perilakunya (Schlessinger dan
Groves). Memori meleawai tiga proses:
Perekaman (encoding), pencatatan informasi melalui reseptor inera dan sirkit
saraf internal.
Penyimpanan (strorage), menentukan berapa lama informasi itu berada berserta
kita, dalam bentuk apa, dan di mana.
Pemanggilan (retrieval), dalam bahasa sehari-hari, mengingat lagi, adalah
menggunakan informasi yang disimpan

17.

Jenis-jenis Memori
Pemanggilan diketahui dengan empat cara :
Pengingatan (Recall), Proses aktif untuk menghasilkan kembali fakta dan
informasi secara verbatim (kata demi kata), tanpa petunjuk yang jelas.

32

Pengenalan (Recognition), sedikit sukar untuk mengingat kembali sejumlah


fakta;lebih mudah mengenalnya.
Belajar lagi (Relearning), menguasai kembali pelajaran yang sudah kita peroleh
termasuk pekerjaan memori.
Redintergrasi (Redintergration), merekontruksi seluruh masa lalu dari satu
petunjuk memori kecil.

18.

Mekanisme Memori
Ada tiga teori yang menjelaskan memori:
a. Teori Aus (Disuse Theory), memori hilang karena waktu. William James, juga
Benton J. Underwood membuktikan dengan eksperimen, bahwa the more
memorizing one does, the poorer ones ability to memorize makin sering
mengingat, makin jelek kemampuan mengingat.
b. Teori Interferensi (Interference Theory), Memori merupakan meja lilin atau
kanvas. Pengalaman adalah lukisan pada menja lilin atau kanvas itu. Ada 5 hal
yang menjadi hambatan terhapusnya rekaman : interferensi, inhibisi retroaktif
(hambatan kebelakang), inhibisi proaktif (hambatan kedepan), hambatan
motivasional, dan amnesia.
c. Teori Pengolahan Informasi (Information Processing Theory), menyatakan
bahwa informasi mula-mula disimpan pada sensory storage (gudang inderawi),
kemudian masuk short-term memory (STM, memory jangka pendek; lalu
dilupakan atau dikoding untuk dimasukan pada Long-Term Memory (LTM,
memori jangka panjang).

33

DAFTAR PUSTAKA

Anonim., 2013, Jenis-jenis Persepsi, https://kabarpendidikanluarbiasa.wordpress.com


/2013/03/28/jenis-jenis-persepsi/,
Diakses pada jam 21:13 tanggal 17 Maret 2016.
Anonim., 2011, Jenis-Jenis Persepsi, Dinamika Persepsi, Prinsip-Prinsip & Determinasi
Persepsi,
http://www.psychologymania.com/2011/09/jenis-jenis-persepsi
dinamika-persepsi.html,
Diakses pada jam 21:20 tanggal 17 Maret 2016.
Anonim., Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi, http://tulisanterkini.com/artikel
/artikel-ilmiah/9165-faktor-faktor-yang-mempengaruhi-persepsi.html,
Diakses pada jam 21:25 tanggal 17 Maret 2016.
Anonim, 2016, Pengertian Persepsi, Syarat Proses dan Faktor yang Mempengaruhi
Persepsi, http://ainamulyana.blogspot.co.id/2016/01/pengertian-persepsi-syaratproses-dan.html,
Diakses pada jam 21:38 tanggal 17 Maret 2016.
Icha.,

2011, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi, http://chatifanaima.


blogspot.co.id/2011/11/faktor-faktor-yang-mempengaruhi.html,
Diakses pada jam 21:41 tanggal 17 Maret 2016.

Joseph. A. J., 2010, Pengertian Persepsi dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi,


https://jessicaatriajoseph.wordpress.com/2010/10/18/235/,
Diakses pada jam 21:29 tanggal 17 Maret 2016.
Kato. L., 2015, Pengertian Persepsi, Faktor, dan Jenis Persepsi Menurut Para Ahli,
http://www.ilmupsikologi.com/2015/09/pengertian-persepsi-faktor-danjenisnya-menurut-ahli.html,
Diakses pada jam 21:10 tanggal 17 Maret 2016.
Murni. R, S., 2011, Catatan Kuliah Sensasi dan Persepsi Psikologi Dalam Komunikasi,
http:// rika-silviana.blogspot.co.id/2011_10_01_archive.html,
Diakses pada jam 21:00 tanggal 17 Maret 2016.
Putri., 2013, Persepsi Konsumen, http://putrirhm.blogspot.co.id/2013/11/persepsi
konsumen.html,
Diakses pada jam 21:32 tanggal 17 Maret 2016.
Thomas. E., 2013, Konsep Persepsi, http://ekwadothomasfikes.blogspot.co.id/,
Diakses pada jam 21:46 tanggal 17 Maret 2016.
Wahyudi. F. P. S., Persepsi, http://pantisa16.blogspot.co.id/2012/09/persepsi.html,
Diakses pada jam 21:51 tanggal 17 Maret 2016.

34

PERTANYAAN

1.

Definisi tentang persepsi dapat dilihat dari definisi secara etimologis maupun

definisi yang diberikan oleh beberapa orang ahli. Sebutkan definisi persepsi secara
etimologis!
Jawab :
Secara etimologis, persepsi atau dalam bahasa inggris perception berasal dari
bahasa latin perceptio, dan percipere, yang artinya menerima atau mengambil.

2.

Sebutkan definisi persepsi kesimpulan dan definisi-definisi persepsi dari para

ahli!
Jawab :
Persepsi adalah proses pemahaman ataupun pemberian makna atas suatu
informasi terhadap stimulus diterima rangsang (objek, kualitas, hubungan antar gejala,
maupun peristiwa). Stimulus didapat dari proses penginderaan terhadap objek,
peristiwa, atau hubungan-hubungan antar gejala yang selanjutnya diproses oleh otak.
Proses kognisi dimulai dari persepsi. Persepsi seseorang atau kelompok dapat jauh
berbeda dengan persepsi orang atau kelompok lain sekalipun situasinya sama.
Perbedaan persepsi dapat ditelusuri pada adanya perbedaan-perbedaan individu,
perbedaanperbedaan dalam kepribadian, perbedaan dalam sikap atau perbedaan dalam
motivasi. Pada dasarnya proses terbentuknya persepsi ini terjadi dalam diri seseorang,
namun persepsi juga dipengaruhi oleh pengalaman, proses belajar, dan pengetahuannya

3.
Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis persepsi!
Jawab :
Proses pemahaman terhadap rangsang atau stimulus yang diperoleh oleh indera
menyebabkan persepsi terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

Persepsi visual, persepsi visual didapatkan dari indera penglihatan. Persepsi ini
adalah persepsi yang paling awal berkembang pada bayi, dan memengaruhi bayi
dan balita untuk memahami dunianya. Persepsi visual merupakan topik utama
dari bahasan persepsi secara umum, sekaligus persepsi yang biasanya paling
sering dibicarakan dalam konteks sehari-hari. Persepsi kaum muslimin harus
mengacu pada Al-Qur'an dan As-Sunnah, ini yang kemudian disebut Islamic
Worldview. Persepsi visual merupakan hasil dari apa yang kita lihat baik
sebelum kita melihat atau masih membayangkan dan sesudah melakukan pada
objek yang dituju. Persepsi visual memainkan peranan yang sangat penting
1

dalam belajar di sekolah, terutama membaca. Anak dengan gangguan persepsi


visual akan mengalami kesulitan untuk membedakan bentuk-bventuk geometri,
huruf-huruf atau kata-kata. Ada lima jenis persepsi visual, yaitu :
o

Hubungan keruangan (spatial relation), menunjuk pada persepsi tentang


posisi

berbagai

objek

dalam

ruang.

Dimensi

fungsi

visual

ini

mengimplikasikan persepsi tentang tempat suatu objek atau simbol (gambar,


huruf, angka) dan hubungan keruangan yang menyatu dengan sekitarnya.
Dalam membaca, kata-kata harus dilihat sebagai keseluruhan yang terpisah
yang dikelilingi oleh ruang. Kemampuan hubungan keruangan merupakan
bagian yang sangat penting dalam belajar matematika.
o

Diskriminasi visual (visual discrimination), menunjuk pada kemampuan


membedakan suatu objek dari objek yang lain. Dalam tes kesiapan belajar
misalnya, anak mungkin diminta menemukan gambar kelinci yang
bertelinga satu dari sederetan kelinci yang bertelinga dua. Jika anak diminta
membedakan huruf n dengan m, ia harus mengetahui jumlah bongkol pada
tiap huruf tersebut. Keterampilan memasangkan gambar, bentuk, atau katakata yang sama adalah bentuk tugas diskriminasi visual yang lain. Berbagai
objek mungkin dibedakan oleh warna, bentuk, pola, ukuran, posisi atau
kecemerlangan mereka. Kemampuan membedakan berbagai huruf dan kata
secara visual merupakan bagian yang esensial dalam belajar.

Diskriminasi bentuk dan latar belakang (figure-ground discrimination),


menunjuk pada kemampuan membedakan suatu objek dari latar belakang
yang mengelilingi. Anak yang memiliki kekurangan dalam bidang ini tidak
dapat memusatkan perhatian pada suatu objek karena sekeliling objek
tersebut ikut mempengaruhi perhatiannya. Akibat dari keadaan semacam ini
anak menjadi terkecoh perhatiannya oleh berbagai rangsangan yang berada
di sekitar objek yang harus diperhatikan.

Visual

colsure,

menunjuk

pada

kemampuan

mengingat

dan

mengidentifikasi suatu objek meskipun objek tersebut tidak diperlihaykan


secara keseluruhan. Seotrang pembaca yang baik misalnya, ia dapat
membaca kalimat secara utuh meskpun ada sebagian yang ditutup.bagi dia,
ada cukup kata atau huruf sebagai petunjuk untuk memecahkan masalah
pada bagian kalimat yang tersisa.
2

Mengenal objek (object recognition), menunjuk pada kemampuan mengenal


sifat berbagai objek pada saat mereka memandang. Pengenalan tersebut
mencakup berbagai bentuk geometri, hewan, huruf, angka, kata, dan
sebagainya.

Suatu analisis tentang persepsi visual telah dibuat oleh Money pada tahun 11966
(Lerner, 1981:216) berkenaan dengan hubungan dunia perseptual berbagai objek
dengan dunia perseptual huruf dan kata. Suatu generalisasi perseptual yang
dibuat oleh anak pada taha perkembangan sebelum belajar membaca adalah
melalui hukum ketetapan objek. Berdasarkan hukum ini anak menyimpulkan
bahwa suatu objek tetap masih sama nama maupun artinya tanpa memperhatikan
posisi keberadaannya, arah mukanya, atau adanya sedikit perubahan melalui
penambahan atau pengurangan. Sebuah meja, misalnya, tetap sebuah meja tanpa
menghiraukan apakah meja itu berkaki satu atau berkaki empat, berada di ruang
makan atau di ruang tamu, atau apakah dilapisi kaca atau tudak.

Persepsi auditori, persepsi auditori didapatkan dari indera pendengaran yaitu


telinga. Pendengaran adalah kemampuan untuk mengenali suara. Dalam manusia
dan binatang bertulang belakang, hal ini dilakukan terutama oleh sistem
pendengaran yang terdiri dari telinga, syaraf-syaraf, dan otak. Tidak semua suara
dapat dikenali oleh semua binatang. Beberapa spesies dapat mengenali
amplitudo dan frekuensi tertentu. Manusia dapat mendengar dari 20 Hz sampai
20.000 Hz. Bila dipaksa mendengar frekuensi yang terlalu tinggi terus menerus,
sistem pendengaran dapat menjadi rusak. Sebagaimana yang dikemukakan
Lerner (1988:285) berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak anak
yang berkesulitan belajar membaca memiliki kesulitan auditoris, linguistik, dan
fonologis. Anak-anak tersebut tidak memiliki masalah dalam ketajaman
pendengaran, tetapi memiliki ketidak mampuan dalam persepsi auditoris, yaitu
kemampuan untuk memahami dan menginterpretasikan segala sesuatu yang
didengar. Persepsi auditoris dapat dibagi menjadi lima bagian, yaitu :
o

Kesadaran fonologis, adalah kesadaran bahwa bahasa dapat dipecah ke


dalam kata, suku kata, dan fonem (bunyi huruf). Mereka tidak bisa
mengingat atau membedakan bunyi berbagai kata dan juga tidak dapat
mengingat jumlah bunyi dalam satu kata. Konsekuansi dari tidak adanya
kesadaran fonoogis tersebut adalah anak menjadi tidak dapat memahami dan
3

tidak dapat menggunakan prinsip alfabetik yang diperlukan untuk belajar


fonik dan membaca kata-kata.
o

Diskriminasi auditoris, adalah kemampuan mengingat perbedaan antara


bunyi-bunyi fonem dan mengidentifikasi kata-kata yang sama dengan katakata yang berbeda. Anak yang memiliki kesulitan dalam diskriminasi
auditoris mungkin akan sulit membedakan antara kata kakak dengan bapak
atau antara ibu dengan abu.

Ingatan auditoris merupakan kemampuan untuk menyimpan dan mengingat


sesuatu yang didengar. Sebagai contoh, anak dapat diminta untuk
melakukan tiga aktifitas, seperti menutup jendela, membuka pintu, dan
meletakkan kotak di atas meja. Perintah-perintah semacam ini dapat
digunakan untuk mengetahui ingatan auditoris seorang anak.

Urutan auditoris merupakan kemampuan memngingaturutan hal-hal yang


disampaikan secara lisan. Urutan alfabet, nama-nama hari, dan nama-nama
bulan adalah contoh urutan penting yang perlu dikuasai oleh anak.

Perpaduan auditoris, adalah kemampuan memaduka elemen-elemen fonik


tunggal atau berbagai fonem menjadi suatu kata yang utuh. Anak dengan
ketidakmampuan dalam perpaduan auditoris akan mengalami kesulitan
untuk memadukan fonem-fonem m-a-i-n untuk membentuk kata main.

Persepsi perabaan, persepsi pengerabaan didapatkan dari indera taktil yaitu kulit.
Persepsi perabaan didapatkan dari indera taktil yaitu kulit. Kulit dibagi menjadi
3 bagian, yaitu bagian epidermis, dermis, dan subkutis. Kulit berfungsi sebagai
alat pelindung bagian dalam, misalnya otot dan tulang; sebagai alat peraba
dengan dilengkapi bermacam reseptor yang peka terhadap berbagai rangsangan;
sebagai alat ekskresi; serta pengatur suhu tubuh. Sehubungan dengan fungsinya
sebagai alat peraba, kulit dilengkapi dengan reseptor reseptor khusus. Reseptor
untuk rasa sakit ujungnya menjorok masuk ke daerah epidermis. Reseptor untuk
tekanan, ujungnya berada di dermis yang jauh dari epidermis. Reseptor untuk
rangsang sentuhan dan panas, ujung reseptornya terletak di dekat epidermis.

Persepsi penciuman, persepsi penciuman atau olfaktori didapatkan dari indera


penciuman yaitu hidung. Penciuman, penghiduan, atau olfaksi, adalah
4

penangkapan atau perasaan bau. Perasaan ini dimediasi oleh sel sensor
tespesialisasi pada rongga hidung vertebrata, dan dengan analogi, sel sensor
pada antena invertebrata. Untuk hewan penghirup udara, sistem olfaktori
mendeteksi zat kimia asiri atau, pada kasus sistem olfaktori aksesori, fase cair.
Pada organisme yang hidup di air, seperti ikan atau krustasea, zat kimia
terkandung pada medium air di sekitarnya. Penciuman, seperti halnya
pengecapan, adalah suatu bentuk kemosensor. Zat kimia yang mengaktifkan
sistem olfaktori, biasanya dalam konsentrasi yang sangat kecil, disebut dengan
bau.

Persepsi pengecapan, persepsi pengecapan atau rasa didapatkan dari indera


pengecapan yaitu lidah. Pengecapan atau gustasi adalah suatu bentuk
kemoreseptor langsung dan merupakan satu dari lima indra tradisional. Indra ini
merujuk pada kemampuan mendeteksi rasa suatu zat seperti makanan atau
racun. Pada manusia dan banyak hewan vertebrata lain, indra pengecapan terkait
dengan indra penciuman pada persepsi otak terhadap rasa. Sensasi pengecapan
klasik mencakup manis, asin, masam, dan pahit. Belakangan, ahli-ahli psikofisik
dan neurosains mengusulkan untuk menambahkan kategori lain, terutama rasa
gurih (umami) dan asam lemak. Pengecapan adalah fungsi sensoris sistem saraf
pusat. Sel reseptor pengecapan pada manusia ditemukan pada permukaan lidah,
langit-langit lunak, serta epitelium faring dan epiglotis.

Persepsi selektif, Persepsi selektif menginterpretasikan secara selektif apa yang


dilihat seseorang yang berdasarkan minat, latar belakang, pengalaman, dan sikap
seseorang.

4.
Jelaskan perbedaan antara persepsi dengan sensasi
Jawab :
Sensasi hanya berupa kesan sesaat, saat stimulus baru diterima otak dan belum
diorganisasikan dengan stimulus lainnya dan ingatan-ingatan yang berhubungan dengan
stimulus tersebut. Misalnya meja yang terasa kasar, yang berarti sebuah sensasi dari
rabaan terhadap meja. Sebaliknya persepsi memiliki contoh meja yang tidak enak
dipakai menulis, saat otak mendapat stimulus rabaan meja yang kasar, penglihatan atas

meja yang banyak coretan, dan kenangan di masa lalu saat memakai meja yang mirip
lalu tulisan menjadi jelek.
5.
Sebutkan dan jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi
Jawab :
Thoha (1993) berpendapat bahwa persepsi pada umumnya terjadi karena dua
faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor-faktor yang mempengaruhi
persepsi pada dasarnya dibagi menjadi 2 yaitu Faktor Internal dan Faktor Eksternal.

c. Faktor Internal yang mempengaruhi persepsi, yaitu faktor-faktor yang terdapat


dalam diri individu, yang mencakup beberapa hal antara lain :
Fisiologis, Informasi masuk melalui alat indera, selanjutnya informasi yang
diperoleh ini akan mempengaruhi dan melengkapi usaha untuk memberikan
arti terhadap lingkungan sekitarnya. Kapasitas indera untuk mempersepsi pada
tiap orang berbeda-beda sehingga interpretasi terhadap lingkungan juga dapat
berbeda.
Perhatian, Individu memerlukan sejumlah energi yang dikeluarkan untuk
memperhatikan atau memfokuskan pada bentuk fisik dan fasilitas mental yang
ada pada suatu obyek. Energi tiap orang berbeda-beda sehingga perhatian
seseorang terhadap obyek juga berbeda dan hal ini akan mempengaruhi
persepsi terhadap suatu obyek.
Minat, Persepsi terhadap suatu obyek bervariasi tergantung pada seberapa
banyak energi atau perceptual vigilance yang digerakkan untuk mempersepsi.
Perceptual

vigilance

merupakan

kecenderungan

seseorang

untuk

memperhatikan tipe tertentu dari stimulus atau dapat dikatakan sebagai minat.
Kebutuhan yang searah, Faktor ini dapat dilihat dari bagaimana kuatnya
seseorang individu mencari obyek-obyek atau pesan yang dapat memberikan
jawaban sesuai dengan dirinya.
Pengalaman dan ingatan, Pengalaman dapat dikatakan tergantung pada ingatan
dalam arti sejauh mana seseorang dapat mengingat kejadian-kejadian lampau
untuk mengetahui suatu rangsang dalam pengertian luas.
Suasana hati, Keadaan emosi mempengaruhi perilaku seseorang, mood ini
menunjukkan bagaimana perasaan seseorang pada waktu yang dapat
6

mempengaruhi

bagaimana

seseorang

dalam

menerima,

bereaksi

dan

mengingat.

d. Faktor Eksternal yang mempengaruhi persepsi, merupakan karakteristik dari


linkungan dan obyek-obyek yang terlibat didalamnya. Elemen-elemen tersebut
dapat mengubah sudut pandang seseorang terhadap dunia sekitarnya dan
mempengaruhi bagaimana seseoarang merasakannya atau menerimanya.
Sementara itu faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi persepsi adalah :
Ukuran dan penempatan dari obyek atau stimulus, Faktor ini menyatakan
bahwa semakin besrnya hubungan suatu obyek, maka semakin mudah untuk
dipahami. Bentuk ini akan mempengaruhi persepsi individu dan dengan
melihat bentuk ukuran suatu obyek individu akan mudah untuk perhatian pada
gilirannya membentuk persepsi.
Warna dari obyek-obyek, Obyek-obyek yang mempunyai cahaya lebih banyak,
akan lebih mudah dipahami (to be perceived) dibandingkan dengan yang
sedikit.
Keunikan dan kekontrasan stimulus, Stimulus luar yang penampilannya dengan
latarbelakang dan sekelilingnya yang sama sekali di luar sangkaan individu
yang lain akan banyak menarik perhatian.
Intensitas dan kekuatan dari stimulus, Stimulus dari luar akan memberi makna
lebih bila lebih sering diperhatikan dibandingkan dengan yang hanya sekali
dilihat. Kekuatan dari stimulus merupakan daya dari suatu obyek yang bisa
mempengaruhi persepsi.
Motion atau gerakan, Individu akan banyak memberikan perhatian terhadap
obyek yang memberikan gerakan dalam jangkauan pandangan dibandingkan
obyek yang diam.
Dijelaskan oleh Robbins (2003) bahwa meskipun individu-individu memandang
pada satu benda yang sama, mereka dapat mempersepsikannya berbeda-beda. Ada
sejumlah faktor yang bekerja untuk membentuk dan terkadang memutar-balikkan
persepsi. Faktor-faktor ini dari :
d. Pelaku persepsi (perceiver).
Apabila seseorang melihat sesuatu dan

berusaha memberikan

interpretasi

tentang apa yang dilihatnya itu, ia akan dipengaruhi oleh karakterisktik


7

individual yang dimilikinnya seperti

sikap, motif, kepentingan,

minat,

pengalaman, pengetahuan, dan harapannya.


e. Objek atau yang dipersepsikan.
Sasaran dari persepsi dapat berupa orang, benda, ataupun peristiwa. Sifat-sifat
itu biasanya berpengaruh terhadap pe rsepsi orang yang melihatnya. Persepsi
terhadap sasaran bukan merupakan sesuatu yang dilihat secara teori melainkan
dalam kaitannya dengan orang lain yang terlibat. Hal tersebut yang
menyebabkan seseorang cenderung mengelompokkan orang, benda, ataupun
peristiwa sejenis dan memisahkannya dari kelompok lain yang tidak serupa.
f. Konteks dari situasi dimana persepsi itu dilakukan.
Persepsi harus dilihat secara kontekstual yang berarti situasi dimana persepsi
tersebut timbul, harus mendapat perhatian. Situasi me rupakan faktor yang turut
berperan dalam proses pem bentukan persepsi seseorang.

Berbeda dengan persepsi terhadap benda mati seperti meja, mesin atau gedung,
persepsi terhadap individu adalah kesimpulan yang berdasarkan tindakan orang tersebut.
Objek yang tidak hidup dikenai hukum-hukum alam tetapi tidak mempunyai keyakinan,
motif atau maksud seperti yang ada pada manusia. Akibatnya individu akan berusaha
mengembangkan penjelasan-penjelasan mengapa berperilaku dengan cara-cara tertentu.
Oleh karena itu, persepsi dan penilaian individu terhadap seseorang akan cukup banyak
dipengaruhi oleh pengandaian-pengadaian yang diambil mengenai keadaan internal
orang itu (Robbins, 2003). Gilmer (dalam Hapsari, 2004) menyatakan bahwa persepsi
dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor belajar, motivasi, dan pemerhati
perseptor atau pemersepsi ketika proses persepsi terjadi. Dan karena ada beberapa faktor
yang bersifat yang bersifat subyektif yang mempengaruhi, maka kesan yang diperoleh
masing-masing individu akan berbeda satu sama lain. Oskamp (dalam Hamka, 2002)
membagi empat karakteristik penting dari faktor-faktor pribadi dan sosial yang terdapat
dalam persepsi, yaitu:
e. Faktor-faktor ciri dari objek stimulus.
f. Faktor-faktor pribadi seperti intelegensi, minat.
g. Faktor-faktor pengaruh kelompok.
h. Faktor-faktor perbedaan latar belakang kultural.
Menurut Bimo Walgito (2004: 70) faktor-faktor yang berperan dalam persepsi
dapat dikemukakan beberapa faktor, yaitu:
8

o Objek yang dipersepsi Objek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera
atau reseptor. Stimulus dapat datang dari luar individu yang mempersepsi, tetapi
juga dapat datang dari dalam diri individu yang bersangkutan yang langsung
mengenai syaraf penerima yang bekerja sebagai reseptor.
o Alat indera, syaraf dan susunan syaraf Alat indera atau reseptor merupakan alat
untuk menerima stimulus, di samping itu juga harus ada syaraf sensoris sebagai
alat untuk meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke pusat susunan syaraf,
yaitu otak sebagai pusat kesadaran. Sebagai alat untuk mengadakan respon
diperlukan motoris yang dapat membentuk persepsi seseorang.
o Perhatian untuk menyadari atau dalam mengadakan persepsi diperlukan adanya
perhatian, yaitu merupakan langkah utama sebagai suatu persiapan dalam rangka
mengadakan persepsi. Perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari
seluruh aktivitas individu yang ditujukan kepada sesuatu sekumpulan objek.
Sholeh (2009:128) menjelaskan persepsi lebih bersifat psikologis daripada
merupakan proses penginderaan saja maka ada beberapa faktor yang mempengaruhi:
Perhatian yang selektif, individu memusatkan perhatiannya pada rangsangrangsang tertentu saja.
Ciri-ciri rangsang, rangsang yang bergerak di antara rangsang yang diam akan
lebih menarik perhatian.
Nilai dan kebutuhan individu.
Pengalaman dahulu, pengalaman terdahulu sangat mempengaruhi bagaimana
seseorang mempersepsi dunianya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi dapat berupa suasana hati (mood),
sistem dan pertukaran zat dalam tubuh, pengalaman, nilai-nilai yang dianut oleh
individu yang bersangkutan, serta bentuk-bentuk stimulus yang mempengaruhi proses
selektif terhadap stimulus.
6.
Sebutkan dan jelaskan tiga komponen yang membentuk struktur sikap
menurut Baron dan Byrne, juga Myers
Jawab :
Baron dan Byrne, juga Myers (dalam Gerungan, 1996) menyatakan bahwa sikap
itu mengandung tiga komponen yang membentuk struktur sikap, yaitu:

Komponen kognitif (komponen perseptual), yaitu komponen yang berkaitan


dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan, yaitu hal-hal yang berhubungan
dengan bagaimana orang mempersepsi terhadap objek sikap.
9

Komponen afektif (komponen emosional), yaitu komponen yang berhubungan


dengan rasa senang atau tidak senang terhadap objek sikap. Rasa senang
merupakan hal yang positif, sedangkan rasa tidak senang merupakan hal yang
negatif.

Komponen konatif (komponen perilaku, atau action component), yaitu


komponen yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak terhadap objek
sikap. Komponen ini menunjukkan intensitas sikap, yaitu menunjukkan besar
kecilnya kecenderungan bertindak atau berperilaku seseorang terhadap objek
sikap.

7.
Apa yang dimaksud dengan memori dan sebutkan tiga proses yang dilewati
memori
Jawab :
Memori adalah system yang sangat berstruktur, yang menyebabkan organisme
sanggup merekam fakta tentang dunia dan menggunakan pengetahuannya untuk
membimbing perilakunya (Schlessinger dan Groves). Memori meleawai tiga proses:
Perekaman (encoding), pencatatan informasi melalui reseptor inera dan sirkit
saraf internal.
Penyimpanan (strorage), menentukan berapa lama informasi itu berada berserta
kita, dalam bentuk apa, dan di mana.
Pemanggilan (retrieval), dalam bahasa sehari-hari, mengingat lagi, adalah
menggunakan informasi yang disimpan

10